Pendekar Buta ~ Jilid 13

“Ibu, apakah cici Cui Bi juga di bulan? dengan kata-kata lucu dan tidak jelas anak itu bertanya sambil merebahkan kepala di atas pangkuan ibunya dan matanya yang lebar bening itu terbelalak memandang bulan.

Sejenak Li Cu bertukar pandang dengan suaminya. “Betul, nak, cicimu juga di bulan.” Li Cu memeluk dan menciumi dahi puterinya itu.

“Ibu, aku juga ingin terbang ke bulan…….” Cui Sian merengek. Ibunya menghibur dan memelukinya, diam-diam berdoa mohon kepada kakek bulan agar supaya kelak Cui Sian lebih bahagia dalam cinta kasihnya, tidak seperti Cui Bi.

Pada saat itu tangan Beng San menyentuh lengannya penuh arti. Li Cu menengok dan memandang ke arah pandangan suaminya. Hatinya berdebar tegang. Jelas sekali, diudara sebelah barat, meluncur ke atas sepucuk sinar merah, berulang-ulang sampai tiga kali. Tak salah lagi, itulah panah api yang dilepas orang sebagai tanda rahasia. Belum hilang kagetnya, di sebelah utara meluncur lain sinar, kini kehijauan, lebih terang daripada tadi.

“Bawa dia masuk…….” kata Beng San perlahan kepada isterinya, nada suaranya tenang.

Li Cu bangkit, memondong anaknya. Cui Sian tidak mau dan menangis ingin menonton bulan.

“Mari masuk, Sian-ji, di luar banyak angin,” ibunya menghibur dan membawanya masuk ke rumah, lalu menyerahkan anak itu kepada inang pengasuh, bibi Cang. Cui Sian tetap menangis dan rewel, akan tetapi Li Cu memaksa anak itu dibawa masuk dan dihibur bibi Cang dan para pelayan yang berada di pondok itu. Ia sendiri setelah mengambil pedangnya, lalu kembali keluar. Ia melihat suaminya berdiri sambil memandang ke arah barat. Ia segera berdiri di sisi suaminya, melayangkan pandang ke arah barat dan utara di mana tadi tampak panah-panah api berwarna merah dan hijau.

“Siapakah yang datang? Apa maksud mereka?” bisiknya.

Beng San menggeleng kepala, mengerutkan kening. “Entah, belum pernah mendengar tokoh menggunakan panah api. Biasanya panah-panah api dipergunakan oleh rombongan yang memberi tanda rahasia…….”

Tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking dari arah barat, disusul suara hampir sama dari arah utara. Tubuh suami istcri itu menegang.

“Li Cu, aku harus turun dari sini melakukan pemeriksaan ke bawah. Siapa tahu murid-murid kita menghadapi musuh.” Tanpa menanti persetujuan Li Cu, Beng San menggerakkan kaki hendak lari turun. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang Li Cu yang menahannya. Dia heran, dan menoleh.

“Kau di sini saja, menjaga Cui Sian, biarkan aku sendiri.”

“Jangan…….!” pinta Li Cu.

Beng San terheran-heran. Baru kali ini selama menjadi isterinya, Li Cu memperlihatkan keraguan yang amat mengherankan ini. Dia memegang kedua pundak isterinya, pandang matanya mencari-cari ke dalam mata isterinya, lalu tanyanya heran,

“Li Cu…….! Jangan bilang bahwa kau……. takut?”

Wanita itu menarik napas panjang, mengandung isak. “Entahlah…….. aku……. tak enak sekali hatiku. Kau di sinilah saja bersamaku, menjaga keselamatan Cui Sian.”

Beng San memandang dengan mata terbelalak. Hampir dia tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Kemudian dia tertawa bergelak, “Ha-ha-ha, isteriku, kau seperti anak kecil merengek-rengek! Alangkah lucunya! Siapakah berani mengganggu anak kita? Pula, biar aku turun puncak, kau berada di sini dan siapa dapat mengganggu Cui Sian kalau kau berada di sini? Huh, cacing busuk dari mana berani menghadapi isteriku! Pedangmu akan mampu membasmi seratus orang lawan, pula, jalan ke puncak ini tidak mudah, tak sembarangan orang dapat melewati jalan rahasia kita.”

“Tidak, suamiku……. sekali ini saja……. kau bersamaku menjaga Cui Sian.”

Beng San mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilat ketika Liong-cu-kiam tercabut. Sekali berkelebat pedang itu.telah membelah sebuah batu besar di depannya, hampir tanpa bersuara!

“Li Cu!” Suara Beng San terdengar tegas dan keren. “Baiknya hanya batu ini yang mendengar ucapanmu tadi. Karena dia sudah mendengarkan suara isteriku, maka kubinasakan! Bagaimana kalau ada manusia yang mendengar isteri ketua Thai-san-pai bicara seperti itu? Kau tahu, aku adalah ketua Thai-san-pai, dan perkumpulan ini harus kupertahankan dengan nyawaku kalau perlu! Mana mungkin Thai-san-pai kedatangan musuh,ketuanya bersembunyi saja di sini membiarkan anak-anak murid Thai-san-pai menghadapi bahaya tanpa pimpinan? Li Cu, insyaflah, tak mungkin kita berubah menjadi pengecut!”

Ucapan suaminya ini agaknya merupakan air dingin yang menyadarkan Li Cu. Ia terisak, menundukkan kepalanya, lalu berkata perlahan, “Maafkan aku……. kau pergilah, kau benar. Tapi……. hatiku tidak enak……. aku khawatir anakku, bukan keselamatan kita…….”

“Li Cu, perlihatkanlah keberanianmu sebagai seorang gagah!” Beng San menuntut.

“Srattt!” Kembali sinar berkelebat ketika pedang Liong-cu-kiam yang pendek tercabut. Sinar pedang menyambar dan batu yang tadi terbabat menjadi dua potong kini terbabat menjadi empat potong oleh pedang Li Cu, hanya sedikit menimbulkan suara dan bunga api!

“Aku siap menjaga puncak ini dengan taruhan nyawa!”

Beng San tersenyum, mendekatkan muka mencium pipi isterinya, lalu sekali berkelebat dia sudah melompat jauh dan lari turun puncak, dipandang oleh isterinya yang tanpa terasa menitikkan dua butir air mata. Li Cu lalu menjaga di depan pondok, menyesali diri sendiri yang hampir saja kehilangan pegangan, kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Ini semua karena kekhawatirannya kehilangan Cui Sian. Ia menjadi penakut setelah satu kali ia kehilangan Cui Bi.

Melalui jalan rahasia, Beng San cepat tiba di lereng gunung. di mana dia melihat dari jauh banyak obor menyala dan malah terdengar suara senjata beradu. Kagetnya bukan kepalang dan cepat dia mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke tempat itu. Diam-diam dia menyesal mengapa dia datang terlambat. Baiknya pertempuran itu baru saja dimulai, buktinya di kedua belah fihak belum jatuh korban. Dia melihat belasan orang muridnya menghadapi serbuan puluhan orang, malah masih banyak terdapat kelompok orang-orang yang berjajar di sebelah barat dan sekelompok lagi di sebelah utara. Matanya menyapu cepat melihat bahwa kelompok di utara itu adalah orang-orang Kong-thong-pai yang dipimpin oleh seorang tosu tua.

Adapun di sebelah barat dengan kaget dia kenal beberapa orang dari Pek-lian-pai. Hatinya berubah lega. Orang-orang sendiri, pikirnya. Tapi mengapa terjadi pertempuran? Tentu salah paham! Cepat dia berseru keras,

“Saudara-saudara, harap suka menahan senjata dulu!!”

Para anak murid Thai-san-pai dengan girang mengenal. suara guru mereka, cepat mereka melompat mundur dan menahan pedang masing-masing, lalu berkumpul dan berdiri di belakang Beng San. Dari fihak lawan terdengar tosu Kong-thong-pai menyuruh anak muridnya berhenti, juga di fihak Pek-lian-pai yang dipimpin oleh dua orang tosu pula.

“Bagus! Ketua Thai-san-pai sendiri keluar. Urusan ini harus diselesaikan!” kata seorang tosu tua yang kurus kering, bongkok, dan memegang pedang.

Melihat tosu ini, kembali Beng San terkejut dan cepat-cepat menjura.

“Ah kiranya totiang Seng Tek Cu yang datang berkunjung. Juga kalau tidak keliru sangka, totiang yang lain ini tentulah seorang tokoh Kong-thong-pai yang terhormat. Malah aku mengenal beberapa saudara dari Pek-lian-pai di sini. Maaf-maaf ……. tamu-tamu terhormat datang, aku tidak tahu dan tidak mengadakan penyambutan.” Kemudian Beng San menoleh kepada para anak muridnya dan membentak keren. “Kalian ini bagaimana tidak bisa membedakan siapa kawan siapa lawan? Mengapa berani berlaku kurang ajar terhadap tamu-tamu terhormat?? Kau……. Ki Han! Jawablah, kau yang memimpin saudara-saudaramu melakukan penjagaan. Bagaimana bisa terjadi hal ini?”

Su Ki Han adalah murid tertua dari Thai-san-pai, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, seorang gagah yang sudah dipercaya oleh Beng San. Dia cepat berlutut di depan Beng San dan menjawab,

“Mana teecu (murid) berani tidak mentaati aturan suhu? Sama sekali murid dan para adik seperguruan tidak berani bersikap kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi orang-orang ini tidak memberi kesempatan kepada kami untuk bicara. Datang-datang mereka menyerang kami dan sudah tentu saja kami terpaksa mempertahankan diri dan mempertahankan nama besar Thai-san-pai. Harap suhu sudi menyelidiki dan kalau teecu dan adik-adik seperguruan salah, kami sanggup menerima hukumannya.”

Lega hati Beng San dan dia percaya penuh kepada murid-muridnya ini. Dia lalu menoleh lagi kepada Seng Tek Cu, memandang penuh kekhawatiran dan pertanyaan sambil berkata. “Totiang mendengar sendiri ucapan muridku. Sebetulnya apakah yang terjadi dan mengapa Totiang membawa serta pasukan yang terdiri dari saudara-saudara Pek-lian-pai dan malah ada rombongan Kong-thong-pai, lalu datang-datang menyerang murid-muridku?”

Seng Tek Cu, tosu kurus kering bongkok dari Bu-tong-pai ini, mendengar dan tertawa mengejek. “Huh, alangkah lucunya kenyataan yang tidak lucu! Pinto dan semua murid Bu-tong-pai, semua orang gagah yang selama hidup menjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan, semua tokoh dunia kang-ouw memandang tinggi kepada ketua Thai-san-pai yang dianggap seorang berilmu yang berjiwa pendekar. Sebulan lewat yang lalu, kalau ada orang bilang bahwa ketua Thai-san-pai seorang pengecut yang tidak mengenal pribudi, pasti pinto (aku) akan turun tangan memukul rusak mulut orang yang bilang demikian itu. Sekarang pinto menyaksikan sendiri betapa kabar orang tentang kehebatan ketua Thai-san-pai ternyata bohong belaka!”

Diam-diam Beng San kaget, namun dia tidak heran. Jawabnya dengan suara masih tenang, “Totiang, dunia ini memang makin lama makin kotor oleh perbuatan manusia-manusia yang tidak benar. Banyak kejahatan dilakukan orang, akan tetapi kejahatan yang paling keji adalah fitnah. Dalam urusan ini pun saya rasa ada fihak yang melakukan fitnah terhadap Thai-san-pai, harap Totiang suka berhati-hati menghadapi fitnah dan menyelidiki terlebih dulu dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan.”

“Ho-ho, ketua Thai-san-pai! Mata pinto masih belum buta! Tidak hanya pinto melihat dengan kedua mata sendiri, bahkan pinto merasai pukulan-pukulan anak murid Thai-san-pai yang gagah perkasa, he-he, terlalu gagah sehingga sombong dan galak. Kejadian satu setengah bulan yang lalu di lereng ini bukanlah impian buruk, melainkan kenyataan yang pinto alami sendiri. Maka tak perlu kau berpura-pura tidak tahu. Apakah kau begitu pengecut untuk menyangkal kejadian yang disaksikan oleh puluhan pasang mata? Mayat-mayat masih belum hancur di dalam kuburannya, orang-orang yang terluka masih belum sembuh, semua akibat sepak terjang Thai-san-pai, dan kau masih ada muka untuk menyangkal?”

Berubah wajah Beng San. Inilah hebat! Teringat dia akan keadaan di lereng barat, di mana terdapat mayat dua orang tak dikenal dan bekas-bekas pertempuran besar.

“Totiang, dan cu-wi (tuan-tuan sekalian), harap dengarkan keteranganku! Dalam hal ini pasti terjadi salah pengertian yang besar! Memang pada satu setengah bulan yang lalu, aku dan para murid Thai-san-pai melihat bekas pertempuran di lereng barat dan menemukan dua mayat yang tidak kami kenal, dalam keadaan rusak teraniaya. Kami sendiri masih bingung memikirkan siapa adanya dua mayat yang sudah kami kubur itu, tapi……”

“Jahanam! Itulah dua orang murid pinto, Lok-yang Siang-houw Kam-heng-te! Hayo kau ganti nyawa dua orang murid pinto!” tiba-tiba tosu tua yang memimpin rombongan Kong-thong-pai berseru sambil mencabut sebatang golok tipis dari pinggangnya. Tosu ini bukan lain adalah Yang Ki Cu, seorang tosu tokoh Kong-thong-pai yang terkenal dengan ilmu goloknya, seorang bekas pejuang. Golok di tangannya ini istimewa sekali, tipis dan mudah melengkung, akan tetapi jangan dipandang rendah karena golok tipis ini amat kuat dan tajam sehingga mampu membabat putus senjata lain yang terbuat daripada baja. Semua anak murid Ko-thong-pai juga mencabut golok mereka dan sikap mereka sudah mengancam sekali.

Beng San makin kaget. Kiranya mayat-mayat itu adalah mayat Lok-yang Siang-houw yang sudah dia kenal nama harumnya. Dia mengangkat tangan mencegah terjadinya pertempuran karena murid-muridnya juga menjadi panas menghadapi fitnah keji terhadap Thai-san-pai ini.

“Ji-wi Totiang dan saudara semua, harap suka bicara dulu sebelum turun tangan! Sebetulnya, apakah yang telah terjadi di sini satu setengah bulan yang lalu?”

Sekarang Seng Tek Cu yang bicara, “Ketua Thai-san-pai, sebetulnya tidak perlu diulang lagi karena buktinya sudah cukup kuat. Akan tetapi karena pada waktu itu engkau tidak muncul, biarlah kau sekarang mempertanggung jawabkan perbuatan murid-muridmu yang biadab, dibantu oleh mertuamu si iblis Song-bun-kwi. Dengar! Waktu itu pinto dan Koai To-jin ini, juga beberapa saudara Pek-lian-pai, dibantu oleh Lok-yang Siang-houw, mengantar saudara Tan Hok untuk menemuimu dan minta bantuanmu tentang perkara perjuangan yang penting. Akan tetapi, ketika saudara Tan Hok naik ke puncak seorang diri, dia bertemu dengan murid-murid Thai-san-pai yang langsung memaki dan menyerangnya. Siapa tahu Thai-san-pai telah dijadikan kaki tangan kaisar baru sehingga mengkhianati perjuangan yang tadinya kau aku sebagai kakak angkatmu itu. Saudara Tan Hok lalu turun dikejar murid-muridmu yang jahat, tentu saja kami lalu menghadapi murid-muridmu, terjadi pertempuran mati-matian dan muncullah mertuamu si iblis laknat itu membuat kami menderita kekalahan. Saudara Tan Hok tewas di tangan Song-bun-kwi, dan kedua saudara Kam juga tewas, di samping banyak saudara Pek-lian-pai yang gugur. Nah, sekarang kau mau bilang apa lagi?”

Kalau ada kilat menyambar dirinya di saat itu, kiranya Beng San tidak akan sekaget ketika mendengar kata-kata ini. Mukanya berubah pucat kehijauan dan dia menoleh kepada murid-muridnya. Serentak para muridnya berseru, “Bohong! Fitnah belaka! Bohong semua itu, Suhu. Teecu sekalian tidak pernah bertempur dengan mereka ini!”

Beng San merasa seperti dalam sebuah mimpi buruk sekali. Kakak angkatnya, Tan Hok, tewas di tempat ini dalam perjalanan hendak menemuinya? Dan yang membunuh Tan Hok adalah kakek Song-bun-kwi?

“Tak mungkin ini…….,” dia berkata keras-keras akan tetapi tidak ditujukan kepada siapa-siapa karena kata-katanya ini adalah suara hatinya yang keluar melalui mulutnya, “……. terang tak mungkin murid-muridku malah mengeroyok Tan-twako! Andaikata gakhu (ayah mertua) Song-bun-kwi membunuh Tan-twako dan Lok-yang Siang-houw, tentu di sana terjadi kesalah pahaman di antara mereka.”

“Ketua Thai-san-pai! Setelah kau mendengar semuanya, bagaimana tanggung jawabmu? Ataukah kau akan membela murid-muridmu dan memaksa kami turun tangan menghancurkan Thai-san-pai?” Suara Seng Tek Cu ini menyadarkan Beng San daripada lamunannya. Dia mengerutkan kening dan mukanya yang kehijauan sudah pulih kembali karena keyakinannya bahwa murid-muridnya pasti tidak melakukan perbuatan seperti difitnahkan orang itu.

“Totiang dan cu-wi sekalian. Sudah terang bahwa terjadi hal hebat dan curang di sini. Agaknya ada fihak-fihak hendak merusakkan nama baikku dan Thai-san-pai. Karena anak muridku bukanlah orang-orang jahat, apalagi memusuhi Tan-twako yang menjadi kakak angkatku yang kukasihi. Pertanggungan jawab bagaimana yang cu-wi kehendaki?”

“Kau harus menghukum pembunuh-pembunuh, kau harus membunuh murid-muridmu yang pada malam hari itu mengeroyok kami, membunuh mereka sekarang juga di depan kami. Kalau kau mau melakukan hal itu, barulah pinto dan saudara-saudara di sini suka menghabiskan perkara ini dan menganggap saja bahwa kau tetap seorang pendekar besar yang tidak tahu-menahu akan perbuatan keji murid-muridmu di waktu itu,” jawab Seng Tek Cu yang diiringi anggukan kepala para anggauta Pek-lian-pai.

“Thai-san Ciang-bun-jin, kau harus dapat pula mengantarkan kepala si iblis Song-bun-kwi kepadaku sebagai pembalasan atas kematian dua orang muridku yang tidak berdosa, barulah pinto mau menyudahi perkara ini!” kata pula Yang Ki Cu, tosu tua Kong-thong-pai yang suaranya tinggi melengking.

Beng San tertegun. Benar-benar pertanggungan jawab yang hebat dan gila. Mana mungkin dia menghukum mati murid-muridnya yang sama sekali tidak bersalah, yang dia yakin sama sekali tidak tahu-menahu dengan peristiwa di lereng barat itu? Apalagi permintaan tosu Kong-thong-pai itu, mana bisa dia mengantarkan kepala ayah mertuanya, Song-bun-kwi, kepada tosu ini?

“Gila!” bentaknya marah karena merasa tersinggung kehormatan dan kewibawaannya. “Kalian menetapkan sendiri syarat-syarat yang tak mungkin! Mana bisa ini dianggap keputusan orang-orang gagah? Pertanggungan jawab yang kalian ajukan itu gila dan sewenang-wenang, mana bisa dibilang adil?”

“Hemm, kalau menurut pikiranmu, bagaimana seharusnya pertanggungan jawab itu?” tanya Seng Tek Cu menahan marah.

“Totiang, sebetulnya aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang peristiwa di lereng sebelah barat itu. Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi di wilayah Thai-san, apalagi karena malapetaka itu menimpa Tan-twako dan Lok-yang Siang-houw, juga saudara-saudara Pek-lian-pai, maka sudahlah menjadi kewajibanku untuk membersihkan nama baik Thai-san-pai, membalaskan penasaran Tan-twako dengan jalan mencari sampai dapat pembunuh-pembunuh yang sebenarnya. Tentang gak-hu Song-bun-kwi, biarlah aku mencarinya dan menanyakan hal itu, karena aku masih ragu-ragu apakah betul-betul beliau yang melakukannya.”

“Ketua Thai-san-pai! Telingaku sendiri mendengar betapa Tan Hok sicu menyebut-nyebut nama Song-bun-kwi sebelum tewas, dan kedua mataku sendiri melihat iblis tua itu mengamuk. Dan sekarang kau masih hendak menyangkal lagi?” bentak Seng Tek Cu.

“Pinto juga minta pertanggungan jawab sekarang juga! Kematian murid-murid pinto harus dibalas!” Yang Ki Cu juga berseru marah.

“Ganyang penjahat-penjahat Thai-san-pai! Balaskan saudara-saudara kita!” teriak para anggauta Pek-lian-pai yang masih mendendam karena kematian banyak saudara mereka.

Beng San masih bersabar, akan tetapi murid-muridnya yang tidak dapat menahan diri lagi. “Suhu, orang menghina Thai-san-pai semaunya. Kesabaran ada batasnya. Teecu tidak takut melayani mereka!” kata Su Ki Han dengan tangan di gagang pedangnya.

Beng San mengangkat tangan mencegah! “Nanti dulu, Ki Han. Mereka itu bukanlah musuh, ada orang-orang jahat yang sengaja hendak mengadu domba antara kita dengan mereka…..”

Akan tetapi Beng San tak dapat melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terdengar jerit-jerit mengerikan dan robohlah tiga orang dalam rombongan Pek-lian-pai dibarengi robohnya dua orang dirombongan Kong-thong-pai. Ribut keadaan di situ, apalagi ketika mereka mendapat kenyataan bahwa lima orang itu telah tewas dengan leher atau ulu hati tertusuk pisau-pisau kecil yang agaknya disambitkan orang-orang secara menggelap.

“Thai-san-pai curang! Serbu dan ganyang Thai-san-pai!” Orang-orang di kedua rombongan itu berteriak-teriak dan tanpa menanti komando lagi orang-orang Kong-thong-pai dan Pek-lian-pai menyerbu ke arah Beng San dengan senjata di tangan!

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat laksana burung terbang, ketua Thai-san-pai ini sudah lenyap dari tempatnya berdiri sehingga penyerangan orang-orang itu disambut oleh murid-murid Thai-san-pai yang sudah marah. Terjadilah pertempuran hebat di antara mereka. Murid-murid Thai-san-pai yang pada saat itu berada di situ hanya ada delapan belas orang, akan tetapi mereka ini adalah murid-murid yang bertempat tinggal di Thai-san-pai dan mereka sudah berada di situ semenjak Thai-san-pai berdiri empat tahun yang lalu. Oleh karena itu mereka ini rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang tinggi sehingga permainan pedang mereka pun lihai.

Su Ki Han murid kepala Thai-san-pai menyambut golok tosu Yang Ki Cu karena dia melihat tosu ini hebat betul permainan goloknya. Murid Thai-san-pai ke dua yang bernama Liok Sui menyambut pedang Seng Tek Cu tosu Bu-tong-pai sedangkan murid ke tiga yang bernama Coa Bu Heng menghadapi Koai To-jin yang amat berbahaya cambuk dan papan caturnya.

Adapun lima belas orang anak murid Thai-san-pai yang lain menghadapi pengeroyokan puluhan orang musuh sehingga rata-rata seorang harus menghadapi empat lima orang lawan! Benar-benar keadaan Thai-san-pai terancam sekali karena segera kelihatan betapa fihak mereka terdesak hebat. Tiga orang murid kepala itupun terdesak oleh tiga orang tosu lihai yang tingkatnya jauh melebihi mereka.

Mengapa Beng San malah melenyapkan diri? Kiranya pendekar ini tadi dengan kaget melihat berkelebatnya pisau-pisau terbang yang merobohkan lima orang dan maklum bahwa hal ini dilakukan oleh orang-orang yang hendak mengadu domba, maka secepat kilat dia melompat dan menerobos gerombolan pohon dari mana pisau-pisau itu beterbangan dan hanya terlihat olehnya.

Di bawah sinar bulan purnama dia melihat bayangan tiga orang yang bertubuh kecil langsing. Bayangan-bayangan itu gesit sekali dan sedang berlari meninggalkan tempat itu.

“Perlahan dulu…….!” dia membentak sambil melompat dan mengulur tangan hendak menangkap seorang di antara mereka. Tiba-tiba terdengar suara mengejek, bayangan itu melejit dan cengkeraman Beng San menangkap angin!

Ketua Thai-san-pai ini terkejut. Tidak sembarang orang dapat menghindarkan cengkeramannya tadi, maka dari gebrakan ini saja dapat diduga bahwa orang-orang ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia segera menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar orang ke dua yang datang hendak membantu orang pertama. Orang ke tiga menggerakkan tangan dan angin berciutan ke arahnya.

Beng San terkejut bukan main. Pukulannya tertangkis lengan kecil berkulit halus namun memiliki tenaga Iweekang yang hebat. Biarpun dia dapat membuat lawan itu terhuyung oleh peraduan lengan itu, dia merasa betapa lengannya sendiri panas, tanda bahwa tenaga lawan ini, benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Cengkeramannya kepada orang ke dua juga meleset, malah orang itu mengirim tendangan yang aneh gerakannya ke arah bawah pusarnya. Serangan yang singkat namun mematikan. Dan pada saat itu, orang ke tiga mengirim serangan dengan telunjuk menuding dan yang mengeluarkan angin berciutan ke arah lehernya. Cepat Beng San menggerekkan tangan kiri berusaha menangkap kaki yang menendang. Dia berhasil menangkapnya tapi cepat-cepat melepaskannya kembali ketika tangannya merasa memegang sebuah kaki bersepatu yang kecil, kaki seorang wanita! Adapun pukulan aneh yang mendatangkan angin berciutan itu, dia sampok dengan tangan sambil mengerahkan hawa pukulan Pek-in-hoat-sut. Karena tidak mengira akan kehebatan pukulan ini, dia mendiamkan saja ketika pukulan meleset mengenai ujung lengan bajunya. “Brettt!” Ujung lengan baju itu robek seperti ditusuk pedang!

“Hebat…….!” serunya kagum, maklumlah dia bahwa tiga orang ini agaknya tiga wanita yang sakti.
“Siapakah kalian? Mengapa datang-datang memusuhi aku?” Dia berusaha untuk mengenal muka mereka, akan tetapi ternyata muka mereka tertutup sutera hitam, hanya pakaian mereka berwarna merah berkembang.

“Hi-hi-hik!” tiga orang wanita itu hanya tertawa. Tampak gigi-gigi putih mengkilap tertimpa cahaya bulan, disusul berkilatnya tiga batang pedang yang mereka cabut berbareng.

Beng San berseru keras ketika tiga batang pedang itu seperti terbang menyerangnya dari tiga jurusan. Dia mengerti bahwa tiga orang lawan sakti ini tak mungkin dihadapi dengan tangan kosong, maka dia cepat menggerakkan tangan dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam dihunus. Dia harus dapat merobohkan mereka, atau setidaknya menangkap seorang di antara mereka. Mereka inilah yang tahu akan fitnah yang menimpa Thai-san-pai Namun merobohkan tiga orang ini benar-benar tidak mudah. Ilmu pedang mereka amat aneh dan lihai, malah pedang di tangan mereka berani membentur Liong-cu-kiam tanpa rusak.

Beng San penasaran. Diputarnya pedangnya sedemikian rupa dan mulailah dia mainkan Im-yang-sin-kiam. Beberapa kali terdengar tiga orang wanita itu berteriak kaget dan menjerit. Im-yang-sin kiam benar-benar terlampau sakti bagi mereka. Tiba-tiba terdengar mereka bersuit aneh dan sinar-sinar putih berkelebatan menyambar dari tubuh mereka ke arah Beng San. Hebat sekali senjata ini dan agaknya ini adalah pisau-pisau kecil yang tadi merobohkan lima orang. Beng San memutar pedang menyampok, terdengar suara nyaring berkali-kali dan pisau-pisau itu beterbangan ke kanan kiri. Akan tetapi ketika dia memandang ke depan, tiga orang wanita itu sudah lenyap ditelan bayangan-bayangan gelap. Dia hendak meloncat dan mengejar, akan tetapi niat itu diurungkan ketika dia mendengar teriakan-teriakan dan senjata beradu di sebelah belakangnya. Teringatlah dia akan anak-anak murid Thai-san-pai tentu sedang menghadapi penyerbuan mereka itu, maka hatinya menjadi amat gelisah. Mana mungkin murid-muridnya yang hanya delapan belas orang itu dapat mengatasi bahaya yang mengancam? Dia tahu pula bahwa tiga orang tosu itu saja takkan bisa dilawan, baik oleh murid kepala Thai-san-pai sekalipun. Kalau dia mengejar tiga orang wanita aneh tadi, tentu murid-muridnya akan terancam bahaya maut. Membiarkan tiga orang itu lari, dia akan kehilangan bukti akan kebersihan Thai-san-pai. Dia merasa serba salah. Akhirnya dia mengambil keputusan membantu murid-muridnya yang terancam bahaya. Kalau memang Thai-san-pai bersih, tak usah takut menghadapi fitnah, pikirnya. Mudah kelak mencari rahasia dan mengejar orang-orang jahat yang menimbulkan fitnah.

Ketika dia berlari dan melompat ke tempat pertempuran, hatinya berduka sekali dan perasaannya terpukul. Banyak di antara para penyerbu menggeletak tak bernyawa terkena bacokan pedang murid-muridnya, juga beberapa orang muridnya menggeletak tak bernyawa. Yang masih bertempur telah luka-luka hebat pula. Su Ki Han melawan Yang Ki Cu dengan mati-matian namun terdesak hebat, pundak kirinya sudah robek berdarah. Coa Bu Heng muridnya ke tiga yang berusia dua puluh lima tahun, murid yang berbakat, didesak hebat oleh Koai To-jin dari pakaiannya sudah compang-camping berikut kulit tubuhnya pecah-pecah terhajar cambuk. Liok Sui muridnya yang sebaya dengan Su Ki Han juga sudah payah, darah mengalir dari pahanya yang terluka oleh pedang Seng Tek Gu tosu Bu-tong-pai. Sebentar lagi, tiga orang muridnya ini tentu akan roboh berikut murid-murid yang lain.

“Tahan semua……!” Dia membentak.

“Kita terhasut fitnah! Orang-orang yang jahat berada di sini…….”

Akan tetapi fihak penyerbu yang sudah marah dan merasa berada di ambang kemenangan itu sama sekali tidak mau berhenti. Beng San menjadi marah sekali. Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat, berubah menjadi segulung sinar yang menerjang ke sana ke mari. Terdengar teriakan kaget berturut-turut ketika Koai To-jin terhuyung ke belakang, papan caturnya pecah dua dan cambuknya putus disusul Seng Tek Cu yang pedangnya terputus dan Yang Ki Cu yang golok terbang entah ke mana. Mereka berundur dengan muka pucat, memandang orang-orangnya yang kacau-balau diterjang gulungan sinar itu. Pedang dan golok beterbangan, orang-orang terlempar karena dorongan atau tendangan.

“Hayo, siapa tidak mau berhenti? Manusia-manusia tolol kalian! Berhenti! Siapa tidak berhenti akan kurobohkan!” Beng San berteriak sambit menerjang ke sana ke mari. Sehentar saja orang-orang itu mundur dengan jerih. Bukan main hebatnya sepak terjang Beng San ketua Thai-san-pai ini. Sekarang dia tampak berdiri tegak dengan pedang Liong-cu-kiam di tangan, menghadapi mereka dengan mata berapi-api.

“Siapa masih berkepala batu? Majulah!” tantangnya penuh kemarahan.

Seng Tek Cu melangkah maju, tersenyum pahit. “Ketua Thai-san-pai, hebat memang kepandaianmu. Kami tak mampu melawanmu. Akan tetapi, jangan kira bahwa kami akan menerima begini saja dan ……”

“Tutup mulut! Sudah banyak jatuh korban sia-sia. Kukatakan tadi bahwa kalian kena hasut fitnah dan orang-orang yang mengakibatkan itu berada di sini, merekalah tadi yang diam-diam menyerang lima orang-orangmu secara menggelap. Kalian benar-benar bodoh dan tidak bisa mendengarkan alasanku!”

Kaget sekali Seng Tek Cu. Mulai dia meragu. Juga Yang Ki Cu yang segera bertanya.

“Mana mereka? Siapa mereka itu? Buktikan!”

“Mereka orang-orang lihai. Tadi hampir tertangkap, tapi gagal. Ahh……. akibat ketololan kalian banyak jatuh korban…….” Beng San sedih bukan main melihat mayat bergelimpangan di sana-sini.

Tiba-tiba Su Ki Han mengeluh, “…….Suhu……. di sana……. apa itu…….?”

Suara murid kepala ini membuat tengkuk Beng San meremang. Cepat dia menoleh dan……. wajahnya berubah pucat kehijauan ketika dia melihat api menyala-nyala di puncak, didahului asap hitam mengebul tinggi.

“Celaka…….!” Dia memekik keras dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Tahu-tahu dia sudah jauh lari ke puncak, diikuti semua murid yang masih dapat berjalan. Terpincang-pincang dan terhuyung-huyung murid-murid yang terluka ikut berlari ke puncak. Koai Tojin, Seng Tek Cu, dan Yang Ki Cu ikut pula mengejar, mengikuti para murid Thai-san-pai. Wajah mereka pucat, jantung berdebar keras. Murid-murid Thai-san-pai yang rata-rata gugup dan gelisah itu membiarkan mereka bertiga mengikuti ke puncak melalui jalan rahasia. Orang-orang Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai berdiri kebingungan, tidak berani ikut ke puncak tanpa diperintah. Lalu mereka mulal menolong orang-orang yang terluka, termasuk orang-orang Thai-san-pai. Banyak jatuh korban. Sembilan orang murid Thai-san-pai tewas, empat luka-luka berat, sisanya ikut naik ke puncak. Fihak Kong-thong-pai termasuk dua orang yang tewas oleh senjata rahasia, menderita kerugian enam orang tewas dan lima luka-luka berat. Fihak Pek-lian-pai tewas tujuh orang yang terkena senjata rahasia, dua belas luka-luka!

Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San lari secepat terbang ke puncak. Ketika tiba di puncak, ngeri hatinya menyaksikan betapa pondoknya telah terbakar semua. Api menjilat-jilat langit dan atap rumah itu sudah menyala seluruhnya. Tapi hanya sedetik dia memandang ke arah api, matanya kelihatan mencari ke sana ke mari. Akhirnya dia mendengar suara isterinya di sebelah belakang pondok. Cepat dia meloncat ke sana dilihatnya isterinya dengan pedang di tangan muka pucat rambut awut-awutan mata terbelalak menjerit-jerit, “Cui Sian…….! Cui Sian…….”

Seakan terhenti detak jantung Beng San. Tanpa bertanya lagi dia lalu meloncat ke depan, menerjang dinding pondoknya. Sekali terjang bobollah dinding itu. Tanpa memperdulikan panasnya api dan bahaya keruntuhan atap rumahnya, dia mencari-cari. Dilihatnya empat orang sudah menggeletak tak bernyawa dengan luka pada dada. Dia mencari terus, tapi tak melihat bayangan Cui San. Tiba-tiba atap rumah ambruk ke bawah dan hanya dengan kecepatan luar biasa saja Beng San dapat meloncat ke luar rumah. Ketika dia tiba di luar, murid-murid dan tiga orang tosu sudah tiba pula di situ. Mereka memandang bengong ke arah Beng San yang rupanya mengerikan di saat itu. Muka pendekar ini hitam, pakaiannya hangus di sana-sini, sepasang matanya menyaingi panasnya api itu sendiri. Isterinya seperti orang tak sadar masih menjerit-jerit memanggil nama Cui Sian.

Seng Tek Cu terharu bukan main. Dia melangkah maju, menjura dalam sekali dan berkata, “Sicu, maafkan pinto……. maafkan pinto…….”

Beng San tak peduli, melainkan menghampiri isterinya. Li Cu yang dipegang pundaknya oleh Beng San seperti baru sadar. Matanya tetap terbelalak dan melihat suaminya memegang pundaknya, ia cepat menjerit pergi dan menudingkan pedangnya ke muka suaminya, “Kau…..! Kalau tidak pergi……. takkan terjadi begini……. kau……. kau…….! Dan wanita ini menangis tersedu-sedu sambil berdiri tegak, tidak berusaha mengusap air matanya, hanya menatap wajah Beng San penuh kebencian!

Ucapan ini makin menusuk hati Seng Tek Cu, Koai Tojin, dan juga Yang Ki Gu. Tahulah mereka sekarang bahwa semua ini adalah jebakan musuh yang sengaja mengadu domba dan akhirnya, karena kebodohan mereka, Beng San terpaksa turun puncak dan inilah agaknya yang dimaksudkan oleh para penjahat gelap itu. Memancing harimau ke luar sarang, kemudian selagi Beng San bersitegang dengan mereka penjahat-penjahat itu mengobrak-abrik sarang!

“Tai-hiap, maafkan pinto……. pinto semua bodoh sekali……. pinto semua yang menyebabkan malapetaka ini…….” kata pula Seng Tek Cu. Pedang Beng San berkelebat dan sebuah batu besar di dekat tiga orang tosu itu menjadi bulan-bulanan. Beberapa kali pedang berkelebat dan batu itu berubah seperti tahu dicacah-cacah!

“Pergi…….! Pergi kalian dari sini….! Demi Tuhan……. pergi sebelum kubunuh……!” Telunjuk tangan kiri Beng San menuding ke luar. Tiga orang tosu itu menunduk, lalu berjalan pergi dengan langkah-langkah gontai.

“Antar mereka ke luar, urus jenazah adik-adikmu,” kata Beng San kepada Su Ki Han yang cepat menjalankan perintah suhunya, mendahului tiga orang tosu menjadi penunjuk jalan. Hatinya gelisah, murid ini sama sekali tidak merasakan lukanya. Murid-murid yang lain tanpa diperintah juga pergi mengikuti twa-suheng mereka, maklum bahwa guru dan ibu guru mereka tak mau diganggu orang lain.

Setelah semua orang pergi, Beng San menengok ke arah isterinya. Jantungnya merasa ditusuk pedang oleh pandangan mata isterinya yang penuh penyesalan, penuh penderitaan dan penuh kebencian.

Seakan-akan dari pandang mata Beng San terungkap seribu satu macam pertanyaan dan otomatis Li Cu berkata, suaranya lirih seperti suara orang menangis,

“Mereka datang……. lima orang mengeroyokku……. yang lain membakar rumah……. kulihat Cui Sian dibawa lari…….” Tiba-tiba ia menangis menggerung-gerung. “Anakku…….! Ia berteriak-teriak memanggilku……. anakku……. Cui Sian…….. Cui Sian…….!!”

Beng San makin hancur hatinya, dia melangkah maju, hendak memeluk isterinya. “Li Cu……. kenalkah kau siapa mereka? Biar kucari mereka, kurampas kembali anak kita…….”

“Jangan sentuh!” Pedangnya berkelebat dan hampir saja lengan tangan Beng San terbabat putus kalau dia tidak cepat-cepat menariknya. “Aku tidak kenal mereka. Perduli apa dengan kau! Kau lebih mementingkan Thai-san-pai! Nah, uruslah Thai-san-paimu itu. Aku akan pergi mencari anakku!!” Setelah berkata demikian, Li Cu berlari pergi menuruni puncak.

“Li Cu…….! Tunggu dulu…….!”

Beng San melompat melampaui isterinya, menghadangnya. “Kau maafkanlah aku……. mari kita bicara baik-baik……”

“Jangan dekat!” Kembali pedang Li Cu berkelebat. “Kau uruslah Thai-san-pai, jangan perdulikan aku dan anakku. Aku bersumpah……. dengarlah Beng San, aku bersumpah takkan sudi melihat mukamu lagi tanpa adanya Cui Sian!” Pedangnya membabat ke depan dan selagi Beng San meloncat minggir, ia berlari terus meninggalkan suaminya.

Beng San menggigit bibir, menahan suaranya yang hendak menjerit-jerit. Hampir tak kuat dia menahan gelora hatinya yang kalang-kabut menghadapi malapetaka ini. Seluruh batinnya diliputi kemarahan hebat. Kemudian kakinya menendang. Sebuah batu besar terlempar bergulingan. Pedangnya dikerjakan. Pohon-pohon roboh malang melintang. Beng San terus menyerbu pondoknya yang masih terbakar. Ditendangnya, dihantamnya, dibabatnya sehingga hiruk-pikuk suara pondok itu roboh. Batu-batu beterbangan, tidak ada sebatang pun pohon utuh, semua dibabat rata dengan tanah! Dia mengarnuk terus, dari kerongkongannya terdengar suara menggereng-gereng, matanya liar dan semalam itu dia membuat puncak yang tadinya indah menjadi tempat yang rusak binasa. Tanam-tanaman bunga ludas, pondok habis, pohon-pohon ambruk, batu-batu malang melintang, banyak yang hancur.

Dalam keadaan seperti inilah tiga orang murid kepala mendapatkan gurunya. Beng San masih berdiri sepcrti patung, pedang di tangan, muka beringas mata liar.

“Suhu…..!” tiga orang murid itu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar mereka terisak menangis.

Beng San menoleh, menunduk, matanya dikejap-kejapkan mengusir dua butir air mata yang sejak tadi menggantung tak mau jatuh. Seperti orang baru sadar dari mimpi buruk dia menengok ke kanan kiri, melihat kerusakan yang diakibatkan oleh kemarahannya. Diam-diam dia bersyukur bahwa tidak ada seorang pun manusia di situ malam tadi. Kalau ada, entah apa akan jadinya. Dia menarik napas panjang, terasa sakit di dada. Tahu bahwa dia terluka oleh hawa amarahnya sendiri! Cepat dia menyalurkan hawa murni ke dada, bernapas panjang-panjang memulihkan tenaga dan kesehatan. Dia insyaf akan kegilaannya. Boleh jadi Li Cu tak dapat menahan hantaman nasib seperti ini. Dia tidak menyalahkan isterinya. Seorang wanita bagaimanapun juga lebih lemah daya tahan batinnya. Apalagi pernah kehilangan Cui Bi, kini kehilangan Cui San. Amat berat tentu. Tapi dia seorang laki-laki. Hampir lima puluh tahun hidupnya. Banyak sudah pengalaman. Masa belum juga matang jiwanya oleh gemblengan pengalaman hidup yang pahit getir? Kesadaran tak boleh tertutup kegelapan nafsu. Dia harus tetap berpendirian. Seorang gagah takkan mudah goyah imannya. Sekali lagi dia menarik napas panjang.
“Ki Han, siapa saja di antara adikmu yang tewas dan berapa yang terluka?” tanyanya, suaranya sudah biasa kembali. Beng San sudah pulih menjadi ketua Thai-san-pai yang berwibawa.

Sambil menangis Ki Han menyebutkan nama sembilan orang adik seperguruannya yang tewas dan empat orang yang luka-luka. Kembali Beng San menarik napas panjang untuk menyedot hawa murni guna menguatkan batinnya yang kembali terpukul kedukaan.

“Murid-muridku, kuharap kalian suka mengubur jenazah adik-adikmu baik-baik. Kemudian bubarlah kalian, pulang ke rumah masing-masing. Mereka yang tak mempunyai rumah boleh saja tinggal di pegunungan ini. Akan tetapi ingat, mulai saat ini tidak ada Thai-san-pai lagi……”

“Suhu……!” Ki Han terisak. “Di mana subo (ibu guru) dan adik Cui Sian?”

“Adikmu diculik orang. Subomu pergi mengejar. Aku pun akan turun gunung menyusul mereka. Ingat, Thai-san-pai tidak ada lagi…….”

“Suhu…….!” Kini terdengar seruan mereka serentak menyatakan keberatan hati.

“Atau……. biarlah untuk sementara ini Thai-san-pai dibekukan. Tunggu sampai aku pulang. Kalau aku tidak pulang selamanya, berarti Thai-san-pai tidak akan bangun lagi. Beri tahu kepada semua adikmu yang tidak tinggal di sini. Terserah kalian mencari jalan hidup masing-masing. Aku tidak akan mengurus sepak terjang kalian selama kalian tidak menggunakan nama Thai-san-pai. Akan tetapi, percayalah akan kemurahan Thian. Kalau Thian menghendaki, aku akan kembali membangun lagi Thai-san-pai yang rusak binasa di hari ini. Nah, selamat tinggal, murid-muridku…….” Suara terakhir ini mengandung isak dan semua murid menangis. Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan suhu mereka berkelebat pergi dan lenyap. Murid-murid itu saling rangkul dan bertangisan. Keadaan di pagi hari itu amat menyedihkan. Thai-san-pai yang dibangun selama empat tahun dan tadinya terkenal sebagai partai baru yang kuat dan disegani, dalam semalam runtuh dan hancur binasa!

Kita tinggalkan dulu keadaan Thai-san-pai yang rusak binasa dan ketuanya yang rusak pula ketenteraman rumah tangganya. Mari kita menengok keadaan di puncak Min-san. Telah dituturkan di bagian depan bahwa Tan Kong Bu putera Tan Beng San bersama isterinya, Kui Li Eng dan kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun, setelah menikah lalu pindah ke Min-san di mana dia dibantu oleh isterinya menerima murid-murid yang berbakat dan berusaha mendirikan sebuah perkumpulan baru, yaitu Min-san-pai.

Belum banyak murid yang diterima oleh suami isteri ini karena mereka masih muda, lagi pula mereka tidak mau menerima sembarangan murid. Kalau ada anak yang benar-benar berbakat barulah mereka mau menurunkan ilmu silat sehingga dalam waktu empat tahun, baru mempunyai murid sebanyak dua belas orang saja, terdiri dari anak-anak muda laki perempuan berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun. Suami isteri ini hidup rukun saling mencinta dan di samping mengajar silat kepada murid-murid cilik ini mereka hidup sebagai petani, bercocok tanam sayur-sayur dan buah-buahan yang dapat hidup subur di Min-san.

Song-bun-kwi juga hidup tenang tenteram di Min-san. Kakek ini sekarang menjadi gemuk dan sehat. Akan tetapi lewat empat tahun, dia mulai mengeluh dan menjadi malas karena kerjanya hanya makan tidur belaka. Berkali-kali dia mengeluh dan menyatakan ketidak puasan dan kebosanan hatinya di depan cucunya dan cucu mantunya.

Pagi hari itu dia nampak marah-marah dan gelisah. Sejak subuh tadi Kong Bu dan isterinya melihat dengan cemas betapa kakek itu tidak hentinya berlatih silat di kebun belakang. Dan tidak seperti biasanya, terdengar suara keras. Ketika mereka lari menengok, kiranya dua batang pohon besar roboh dipukul dan ditendang kakek itu! Masih saja Song-bun-kwi bersilat. Angin pukulannya mendesir-desir dan dia sama sekali tidak perdulikan munculnya cucu dan cucu mantunya. Wajahnya cemberut matanya sayu.

Kong Bu saling pandang dengan Li Eng. Menarik napas panjang lalu menggandeng tangan isterinya diajak masuk rumah. Dia masgul sekali, duduk bertopang dagu, teringat akan percekcokan dengan kakek itu semalam. Seperti biasa, malam tadi Song-bun-kwi makan bersama Kong Bu dan Li Eng yang juga melayani suami dan kakeknya. Song-bun-kwi sudah berbeda daripada biasanya, menenggak arak dan selalu minta tambah.

Akhirnya, selesai makan Song-bun-kwi menggebrak meja sampai mangkok-mangkok menari-nari di atas meja.

“Kau anak sial! Tidak becus!!!” dia memaki Kong Bu.

Tidak heran Kong Bu melihat kakeknya seperti itu. Sudah sejak kecil dia tahu akan keanehan watak kakek ini yang mudah marah dan mudah gembira, kadang-kadang bagi yang tidak tahu tentu disangka gila. Dengan tenang dia tersenyum dan bertanya,

“Apalagi yang tak menyenangkan hatimu, Kong-kong (kakek)? Kesalahan apakah kali ini yang kulakukan?”

“Kesalahan apa? Bocah tolol! Aku ingin punya buyut, kau dengar? Aku ingir punya buyut dan kau tidak becus!!” Mendengar omongan ini seketika wajah Li Eng menjadi merah dan dengan pura-pura membawa mangkok-mangkok kotor ia cepat-cepat lari ke belakang, namun telinga kakek dan cucu yang lihai itu masih dapat mendengar isaknya tertahan-tahan.

Kong Bu mengerutkan heningnya. Terlalu kakeknya ini. Sudah melewati batas sekarang. Sudah berkali-kali kakeknya ini marah-marah kepadanya, memakinya tidak becus, tidak mampu segala macam, hanya karena dia dan Li Eng sampai sekarang belum juga punya keturunan, belum punya anak! Kakeknya memang orang aneh, ini dia tahu. Akan tetapi kalau sudah mencelanya tentang tak punya anak di depan Li Eng, tentu saja isterinya merasa tersinggung sekali.

“Kakek, lagi-lagi kau ribut-ribut soal cucu buyut!” tegurnya dengan suara agak kasar. “Soal keturunan adalah soal yang ditentukan oleh Thian. Manusia mana dapat menentukan? Mengapa kakek ribut-ribut saja urusan buyut? Apakah tidak tahu bahwa ucapanmu tadi amat menyakiti hati Li Eng?”

“Aaahh, dasar kau yang tidak becus! Laki-laki goblok kau, sudah menikah empat tahun belum juga punya anak. Uuhhh!” kakek itu mencak-mencak dengan amat berangnya.

Kong Bu tak dapat menahan kesabarannya. Suara kakeknya terlalu keras sehingga biarpun Li Eng berada di belakang, tentu isterinya itu dapat mendengar jelas.

“Kong-kong, kau terlalu sekali! Kau ingin punya cucu buyut untuk apa sih?”

“Wah, untuk apa katanya? Tentu saja untuk kuwarisi kepandaian yang kulatih puluhan tahun ini. Untuk apalagi? Aku takkan mati meram sebelum kepandaianku kuwariskan kepada buyutku. Tahu kau?”

Kong Bu tertawa, berusaha mendinginkan hati kakeknya. “Ah, kalau hanya untuk itu saja, mengapa Kong-kong susah-susah menanti buyut yang tak tentu kapan datangnya? Bukankah cucu muridmu ada dua belas orang di sini, boleh kau pilih mana yang kau sukai untuk dijadikan murid-muridmu. Bukankah ini baik sekali, Kong-kong?”

“Murid-murid tahi kerbau!!” Kakek itu makin marah. “Kalau memang mau cari murid, aku bisa cari sendiri. Ah, sudahlah, dasar kau yang tolol dan tidak becus!”

Demikianlah keributan malam tadi, keributan berdasarkan soal yang itu-itu juga yang membuat Song-bun-kwi Kwee Lun murung. Pagi itu sejak subuh dia sudah bersilat dan dengan pukulan saktinya merobohkan pohon besar.

Biasanya, setelah matahari terbit, kakek ini tentu akan masuk ke ruangan depan, berjemur sinar matahari melalui jendela ruangan itu sambil menghadapi minuman hangat yang disediakan oleh Li Eng. Dia akan duduk di bangku panjang ah berbaring, meram melek nikmat seperti seekor singa tua bermalasan.

Akan tetapi pagi itu dia tidak masuk ke ruangan. Sampai matahari naik tinggi, kakek itu tidak nampak pulang. Kong Bu merasa heran dan mencari ke belakang. Tidak ada. Ke depan lalu ke sekeliling tempat itu. Tidak ada. Kakek itu tidak nampak bayangannya lagi.

Isterinya ikut mencari dan memanggil-manggil. Namun kakek itu tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Kong Bu mendekati isterinya. Mereka saling pandang.

“Dia kumat penyakitnya, dasar berdarah perantauan!” kata Kong Bu.

Li Eng mengerutkan kening, menunduk. “Karena aku…….”

Kong Bu kaget, memandang isterinya. Dilihatnya dua titik air mata membasahi pipi Li Eng. Dia merangkulnya. “Hushh, siapa bilang karena kau? Tentang itu, tak perlu kita pikirkan, isteriku. Kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: