Pendekar Buta ~ Jilid 14

Li Eng memang bukan seorang pemurung. Semenjak gadisnya, ia amat periang, kocak dan jenaka. Sekarang pun hanya sebentar ia digerumuti rasa kecewa dan duka. Di lain saat sambil tersenyum manis ia berkata,

“Hemm, dunia kang-ouw tentu bakal geger dan heboh karena munculnya kakek!”

Kong Bu juga tersenyum. “Tentu saja, boleh kita pastikan itu! Kita dengar-dengar saja, tentu terjadi keonaran. Memang kakekku itu tukang mencari geger. Ha-ha-ha!” Mereka tertawa-tawa dan seketika lenyaplah awan mendung yang mengancam sinar kebahagiaan mereka.

Benar dugaan Kong Bu. Kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun memang sudah pergi dari Min-san. Kekesalan hatinya karena belum juga dia dapat menimang seorang buyut yang dinanti-nantikan, membangkitkan rindunya akan dunia ramai, membuat penyakitnya suka merantau kambuh kembali. Seperti telah menjadi wataknya semenjak dahulu, dia selalu pergi tanpa pamit dan pulang tanpa memberitahukan.

Tapi, tidak seperti dugaan Kong Bu “Bahwa di dunia ramai kakeknya tentu akan menimbulkan kegemparan, kali ini Song-bun-kwi melakukan perjalanan dengan tenteram, Tidak mempunyai nafsu untuk mencari perkara. Hal ini adalah karena hatinya sudah menjadi dingin karena mengingat bahwa tokoh-tokoh setingkat dengannya seperti Siauw-ong-kui, Pak-thian Lo-cu, atau Hek-hwa Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo, semua sudah mati. Kalau ada mereka, terutama Siauw-ong-kui, tentu dia akan mencarinya dan diajak berkelahi sampai tiga hari tiga malam!

Hanya tinggal seorang tokoh yang setingkat, atau setidaknya hampir setingkat dengannya, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, itu tokoh besar pantai timur. Karena teringat akan orang tua inilah maka kini Song-bun-kwi melakukan perjalanan ke timur, ke pantai timur untuk mencari Tai-lek-sin. Keperluannya hanya satu, mencari orang tua itu dan kalau sudah berjumpa, diajak berkelahi mengadu ilmu!

Pada suatu hari kakek ini memasuki sebuah kota pelabuhan di pantai timur yang cukup ramai, karena kota ini selain menjadi pusat perdagangan para pedagang laut yang datang dari selatan dan utara, juga terkenal sebagai pintu mengeluarkan hasil-hasil bumi dan akar-akar obat. Sayangnya seringkali kota ini diganggu bajak laut Jepang sehingga sebagian besar pedagangnya datang dari lain kota dan jarang yang mendirikan bangunan di situ. Dan sudah menjadi kebiasaan setiap orang pedagang keliling yang membawa banyak barang berharga, selalu mesti ada saja pengawal-pengawalnya terdiri dari jagoan-jagoan pengawal bayaran yang lajim disebut piauw-su. Pengawal-pengawal bayaran dan para pedagang inilah yang meramaikan restoran-restoran yang banyak dibuka di situ sehingga begitu memasuki kota ini, Song-bun-kwi segera mengembang kempiskan hidungnya karena mencium bau masakan sedap dan gurih.

“Gurih……. gurih……. wah sedapnya…….!” dia menggerutu berkali-kali kemudian matanya mencari-cari dan akhirnya dia melangkah lebar memasuki sebuah restoran yang paling besar yang berada di pinggir jalan besar dekat tempat pemberhentian perahu-perahu. Bau amis perahu-perahu yang membawa muatan ikan malah menambah sedap.

Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang. Betapa tidak. Seorang kakek yang usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek pula dan kaku, sebagian besar sudah putih. Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang pendeta, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian pendeta. Pakaian yang membungkus tubuh tinggi besar kokoh kuat itu adalah pakaian petani yang kumal dan longgar, lengan bajunya lebar sekali seperti lengan baju tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya.

“Heee, pelayan!” suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran itu. “Bawa ke sini cepat seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging babi panggang dan tiga empat macam masakanmu yang paling terkenal. Lekas kataku, perutku lapar nih!” Sambil menarik napas panjang dengan nikmat kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang mengeluarkan bunyi mengenaskan karena hampir tidak kuat menadahi tubuhnya yang besar dan berat itu, lalu jari-jari tangan kanannya mengetruk-ngetruk meja di depannya sampai meja itu bergoyang-goyang.

Semua tamu yang duduk di situ menoleh dan memandang heran. Di mana di dunia ini ada orang yang begitu gembul? Tiga kati mi ditambah dua kati daging dan tiga macam masakan, masih didorong masuk oleh seguci besar arak, bukankah itu jumlahnya lebih sepuluh kati? Perut manusia biasa mana kuat dimasuki sepuluh kati makanan sekaligus? Juga pelayan-pelayan saling pandang, tidak ada yang menyanggupi karena mereka ragu-ragu. Selain aneh, juga harga masakan-masakan yang dipesan itu bukanlah sedikit uangnya!

Kakek itu merasa juga akan keraguan Muka pelayan ini. Dia menggereng dan tangannya menekan meja di depannya yang tiba-tiba, ambles ke bumi sampai setengahnya lebih! “Heh, pelayan-pelayan. Kalian ini manusia-manusia ataukah patung? Kalau patung tunggu kublesekkan kalian ke dalam tanah seperti meja ini!”

Kagetlah semua orang, kaget dan jerih. Juga para pelayan berseliweran dan separuh lari menyediakan pesanan kakek itu. Mereka tidak perduli lagi apakah kakek itu nanti bisa bayar atau tidak, itu urusan pengurus restoran. Paling perlu cepat-cepat sediakan pesanannya agar mereka selamat! Dengan senyum-senyum manis dibuat-buat sehingga senyum itu pringas-pringis mengandung takut, para pelayan berantri mengantarkan makanan-makanan yang dipesan Song-bun-kwi dan mengaturnya di atas meja yang rendah itu. Begitu selesai mereka terbirit-birit menjauhkan diri. Juga para tamu yang nyalinya kurang besar, cepat-cepat menghabiskan makanan, membayar dan meninggalkan tempat di mana terdapat kakek yang menyeramkan itu. Akan tetapi yang nyalinya besar, malah menjadi girang dan diam-diam ingin menyaksikan perkembangan lebih lanjut dan menikmati keanehan yang jarang mereka lihat. Di antara mereka itu terdapat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang duduk seorang diri di sudut restoran, laki-laki yang bermata tajam berhidung betet berpakaian mentereng.

Mencium bau arak dari sebuah guci besar yang berada di atas sebuah meja di depannya, sepasang mata Song-bun-kui bersinar-sinar. Dia sudah amat rindu melihat arak, kini begitu bertemu dia segera menyambar guci, mengangkatnya ke atas dan terdengarlah suara bergelogok seperti suara air pancuran jatuh dikolam. Tak setetes pun terbuang. Setelah agak lama mulut-mulut orang yang menyaksikan ini melongo, baru Song-bun-kwi meletakkan guci itu kembali ke atas meja dan setengah isinya sudah ia pindah ke dalam perutnya. Tanpa memperdulikan mata orang-orang yang berada di situ, dia menyambar sumpitnya dan segera menyikat masakan-masakan di depannya. Seperti mesin saja sumpit-sumpitnya bergerak, seperti disulap, mi, daging dan masakan-masakan itu terbang ke dalam mulutnya, dikunyah sebentar lalu masuk ke dalam lubang di kerongkongannya. Kadang-kadang masakan itu menyesakkan kerongkongan karena terlalu dijejal, dan terpaksa harus didorong arak menggelogok.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar disusul orang lari berserabutan ke sana ke mari. Ramai orang berteriak-teriak, “Bajak laut…………! Bajak laut!”

Di dalam restoran itu sendiri terjadi keributan luar biasa. Para tamu lari ke luar berserabutan, pelayan-pelayan lari pula sambil membawa barang-barang yang dianggap berharga, pengurus restoran membawa lari uang. Semua lari berserabutan meninggalkan tempat itu. Nelayan-nelayan, pedagang-pedagang dan mereka yang merasa mempunyai barang berharga cepat-cepat lari meninggalkan tempat itu. Hanya mereka yang merasa tidak mempunyai apa-apa, tidak lari, hanya bersembunyi dengan muka pucat ketakutan.

Sejenak Song-bung-kwi menengok, lalu makan terus tanpa memperdulikan kegaduhan di sekelilingnya. Restoran itu sekarang kosong kecuali orang laki-laki yang berpakaian mentereng tadi. Tapi laki-laki ini pun nampak tegang dan beberapa kali meraba gagang golok yang tersembunyi di balik jubah panjangnya. Matanya memandang ke luar, ke arah laut.

Dengan kecepatan luar biasa, beberapa buah perahu kecil runcing berlayar ke pantai. Perahu-perahu ini agaknya diturunkan dari sebuah perahu besar yang berlabuh beberapa li dari pantai dan di setiap kepala perahu kecil ini berkibar bendera putih dengan gambar tengkorak hitam. Itulah perahu-perahu bajak laut yang datang menyerbu kota pelabuhan ini. Jumlah perahu kecil ada sembilan buah, masing-masing ditumpangi lima orang anak buah bajak. Seorang laki-laki gemuk pendek berdiri di kepala perahu terdepan, tangannya memegang sebatang pedang yang besar dan panjang, pedang bengkok model Jepang.

“Bajak laut Jepang………..!”
“Si Tengkorak Hitam……….,!” Demikian telinga Song-bun-kwi mendengar teriakan mereka yang lari ketakutan. Namun dia pura-pura tidak mendengar dan makan terus.

Para pedagang besar yang membawa banyak barang dagangan dan dikawal oleh jagoan-jagoan pengawal, sibuk mengumpulkan jagoan-jagoannya untuk melindungi barang mereka. Hanya pengawal-pengawal yang merasa dirinya berkepandaian dan mempunyai banyak teman, sedikitnya belasan orang anak buah saja yang berani menjaga barang yang dipercayakan mereka.

Begitu bajak-bajak itu mendarat, terdengar teriakan-teriakan mereka yang menyeramkan. Golok dan pedang mereka angkat tinggi-tinggi dan dengan pekik dan sorak-sorai, para bajak ini menyerbu ke darat. Segera terjadi pertempuran dengan para jagoan pengawal yang jumlahnya semua tidak kurang dari tiga puluh orang. Hiruk-pikuk suara yang bertempur, bunyi senjata tajam beradu mendencing-dencing, pekik kesakitan dan sorak kemenangan mulai terdengar bersama muncratnya darah dan robohnya tubuh manusia.

Lima orang anak buah bajak lari ke dalam restoran besar. Mereka berteriak-teriak girang karena membayangkan pesta pora. Alangkah heran hati mereka ketika melihat betapa di dalam restoran besar itu terdapat dua orang tamu yang masih belum pergi. Seorang kakek gundul berusia lanjut enak-enakan saja makan, sedikit pun tidak melirik kepada lima orang bajak yang memasuki restoran. Malah ketika seorang bajak memekik-mekik sambil menendang meja sampai terguling, dia malah mengangkat guci araknya dan minum seenaknya. Orang ke dua adalah laki-laki berpakaian mewah yang duduk tenang-tenang saja, dengan tangan di gagang goloknya.

Para bajak itu memang sudah terlalu lama berada di lautan dan kini melihat kakek itu makan minum, mereka menjadi mengilar. Maka berebutanlah empat orang lari menghampiri Song-bun-kwi, sedangkan seorang di antara mereka tertarik akan pakaian mewah laki-laki yang duduk di pojok, maka dia lari kepada orang itu.

Sambil mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Song-bun-kwi, empat orang bajak itu menyerbu, ada yang menghantam kepala gundul kakek itu, ada yang membacok lehernya dengan golok, ada pula yang menyambar guci arak untuk merampasnya.

Kesudahannya hebat sekali. Kakek itu tanpa menoleh barang sedikit, menggerakkan tangan yang memegang sumpit, perlahan saja tapi cepat seperti kilat menyambar. Empat orang bajak seketika seperti orang terlongong, lalu membalikkan tubuh dan berjalan terhuyung-huyung ke pintu restoran, mulut mereka bergerak-gerak hendak memekik akan tetapi yang keluar hanya suara mengorok seperti babi disembelih! Dan sebelum mereka tiba di tempat teman-teman mereka di luar, robohlah mereka, terkulai satu-satu, dan hampir berbareng mereka mengeluarkan suara jeritan ngeri!

Kepala bajak yang gemuk pendek itu hebat sekali. Pedangnya yang panjang dan bengkok menyambar-nyambar dan banyaklah jagoan pengawal roboh dengan leher putus atau dada robek oleh pedangnya. Akan tetapi selagi enak dia mengamuk, seorang temannya berteriak sambil menuding ke arah empat orang anak buah yang roboh tanpa diserang lawan itu. Si kepala bajak sekali melompat sudah tiba di situ. Dengan kaki kirinya dia membalik-balikkan tubuh empat orang anak buahnya dan……….. ternyata mereka telah putus nyawanya dengan mata mendelik, mulut berdarah sedangkan leher mereka nampak bolong sebesar jari tangan! Mata kepala bajak itu menjadi merah saking marahnya. Dia juga heran karena tidak melihat lawan di dekat empat orang anak buahnya ini. Matanya lalu mencari-cari dan terlihatlah olehnya cucuran-cucuran darah merah yang tercecer sepanjang jalan dari tempat itu ke pintu restoran. Dilihatnya seorang kakek duduk di dalam restoran dan tampak pula seorang anak buahnya tengah bertempur dengan seorang laki-laki yang mainkan golok. Jelas bahwa anak buahnya itu terdesak hebat.

Sambil memekik dengan suara yang keluar dari dasar perut, kepala bajak berjuluk Tengkorak Hitam ini lalu berlari, pedangnya teracung ke depan, mulutnya memekik panjang “Yaaaaaaa!!!” Dua orang jagoan pengawal mengira bahwa kepala bajak itu hendak menerjang mereka, berbareng dua orang ini memapakinya dengan pedang mereka. Akan tetapi bukan main hebatnya kepala bajak ini. Tanpa menghentikan larinya ke arah restoran, pedang panjangnya berkelebat dan……….. dua orang jagoan pengawal itu rebah dengan perut robek dan isi perutnya berantakan ke luar! Si kepala bajak terus berlari tanpa menghentikan pekiknya yang panjang menyeramkan itu.

Akan tetapi begitu sampai di ambang pintu restoran, tiba-tiha dari dalam ada bayangan menubruknya. Si Tengkorak Hitam yang baru saja berhenti memekik panjang, kini membentak, “Yaaatt” dan pedangnya yang bengkok panjang itu bergerak ke depan berkelebat menyilaukan mata.

“Craaaatttt!” Pedang yang amat tajam itu membabat pinggang bayangan itu yang……….. putus menjadi dua. Darah menyembur-nyembur mengerikan dibarengi suara terbahak-bahak si kepala bajak yang tertawa girang. Tiba-tiba suara ketawanya berhenti ketika dia mendengar suara mendengus penuh ejekan di dalam restoran. Ketika dia menundukkan muka memandang, tiba-tiba muka Tengkorak Hitam menjadi pucat. Kiranya bayangan yang dibacoknya putus menjadi dua tadi adalah anak buahnya sendiri yang agaknya telah dilemparkan lawan.

Dia mengarahkan pandang matanya yang berapi-api ke dalam restoran. Kakek itu masih duduk makan minu

sedangkan laki-laki bergolok yang tadi bertempur melawan anak buahnya sekarang berdiri dengan golok melintang di depan dada. Tengkorak Hitam tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali lagi dia memekik panjang dan lari menyerbu ke dalam restoran, langsung menerjang si pemegang golok. Biasanya, tiap sabetan pedangnya tak pernah gagal, kalau tidak merobohkan lawan, sedikitnya melukai atau mematahkan senjatanya. Akan tetapi sekali ini dia salah duga. Pedangnya bertemu dengan sebuah golok yang kuat dan terdengar suara berdencing nyaring dibarengi muncratnya bunga api berhamburan. Cepat kedua lawan ini menarik senjata masing-masing, memeriksa sebentar. Lega mendapat kenyataan bahwa senjata masing-masing tidak rusak.

Tengkorak Hitam lagi-lagi menerjang, kini gerakannya lebih kuat dan cepat sekali, pedangnya berkelebat tanpa berhenti, membobat-babit dari kanan kembali ke kiri, dari atas ke bawah seperti seorang akrobat mainkan dua obor api. Laki-laki bergolok itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja pertahanannya bobol, namun dia melawan sedapat mungkin dengan permainan goloknya.

Song-bun-kwi tidak perdulikan itu semua, masih saja makan minum. Melirik pun tidak dia. Akan tetapi ketika araknya habis, dia melingukan ke sana ke mari, lalu mulutnya mendamprat, “Pelayan keparat! Ke mana kalian? Hayo tambah lagi arak seguci penuh!”

Tentu saja tidak ada setan yang menjawabnya karena semua pelayan sudah melarikan diri jauh dari tempat itu. Song-bun-kwi marah-marah, digebraknya meja sampai mangkok-mangkok yang kosong bergulingan. “Pelayan ke mana kalian pergi?”

Tiba-tiba si pemegang golok yang menjawab, “Lo-cianpwe, semua pelayan lari ketakutan karena bajak ini!”

Baru sekarang Song-bun-kwi menengok dan melihat pertempuran itu. Dia melihat seorang laki-laki pendek gemuk berkepala botak kelimis tapi di sebelah pinggir dan belakang berambut gemuk hitam. Laki-laki pendek gemuk ini tidak berbaju, hanya bercelana panjang yang komprang (kebesaran). Tubuhnya kelihatan kuat sekali, dan permainan pedangnya aneh bukan main, namun tak boleh dibilang lemah. Si pemegang golok yang sepintas lalu dapat dinilai oleh Song-bun-kwi permainannya sebagai ilmu golok selatan yang tidak lemah, agaknya tidak kuat menandingi ilmu pedang aneh bajak pendek itu. Timbul kemarahan Song-bun-kwi kepada bajak itu. Benar-benar tidak memandang mata kepadanya. Sedang enak-enak makan berani datang mengacau sampai semua pelayan lari. Dengan langkah lebar dia menghampiri tempat pertempuran.

“Heh, babi buntung! Berani kau membikin kacau sampai semua pelayan pergi, ya? Hayo kau gantikan pekerjaan mereka, layani aku baik-baik!”

Si pemegang golok yang melihat cara Song-bun-kwi tadi mengalahkan empat orang bajak, dapat mengerti bahwa kakek itu adalah seorang sakti, maka sekarang melihat kakek itu mau turun tangan, dia pun cepat memutar goloknya lalu melompat ke samping menjauhi kepala bajak yang lihai. Tengkorak Hitam kaget mendengar bentakan Song-bun-kwi. Agaknya dia sudah sering kali menjelajah pantai timur ini sehingga dia mengerti juga bahasa daerah itu. Dengan kaku dia membentak sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi,

“Iblis tua bangka, kau memaki siapa?”

“Memaki kau, siapa lagi? Hayo lekas ambilkan arak seguci!” Song-bun-kwi membentak.

Bukan main marahnya Tengkorak Hitam. Dia adalah seorang kepala bajak yang sudah terkenal. Hanya di seberang sini saja dia menjadi kepala bajak, kalau sudah pulang ke seberang sana membawa barang-barang rampasan, dia adalah seorang yang memiliki gedung indah, dihormati semua orang. Sekarang dia dihina oleh seorang tua bangka, padahal biasanya di seberang sana dia amat ditakuti orang, tentu saja dia marah sekali. Pedangnya diobat-abitkan ke atas kepala, kata-katanya tidak jelas tercampur bahasa Jepang, “Bakeiroo………..! Kau mau mampus, ya?”

Pedang itu menyambar ke arah leher Song-bun-kwi, agaknya dengan sekali tebas Si Tengkorak Hitam hendak menjadikan kakek itu setan tanpa kepala. Song-bun-kwi mendengus sambil bangkit berdiri, tangan kirinya membabat dari samping memapaki pedang.

“Krekkk!” Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong saking hebatnya gempuran tangan kakek ini. Si kepala bajak seketika pucat, terbelalak memandang pedang yang tinggal gagangnya saja itu. Namun dia seorang bajak laut yang buas dan tak kenal takut. Sambil menyumpah-nyumpah dia membanting gagang pedangnya dan segera kaki tangannya bergerak-gerak mempergunakan ilmu gulat yang amat dia andalkan. Jari-jari tangannya terbuka seperti cengkeraman, siap untuk menangkap lawan dan diangkat serta dibantingkan. Biasanya tak pernah dia gagal dalam membantingkan lawan mempergunakan ilmu ini. Malah lawan yang jauh lebih muda dan lebih tinggi besar daripada kakek itu pernah dia permainkan, dia banting-banting seperti penatu membanting cuciannya.

Song-bun-kwi tidak mengenal ilmu berkelahi semacam ini, namun melihat kuda-kuda yang diberatkan ke bawah dan melihat kedua tangan yang siap mencengkeram, dia dapat menduga bahwa ilmu ini tentulah semacam Ilmu Kim-na-chiu, ilmu tangkap atau ilmu gulat. Dia terkekeh lalu mengulurkan tangan kirinya, sengaja dia berikan untuk ditangkap lawan! Seorang ahli silat tentu akan ragu-ragu dan tidak berani menerima umpan selunak ini. Akan tetapi Tengkorak Hitam agaknya tidak mengenal istilah umpan dalam ilmunya berkelahi, atau memang dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga umpan itu dia caplok mentah-mentah. Cepat laksana bintang jatuh dia menerkam maju dan di lain saat lengan kiri Song-bun-kwi sudah ditangkapnya, diputar dengan gaya selicin belut, tubuhnya menyelinap dan membalik sehingga kedudukan lengan Song-bun-kwi terbalik dan dilandaskan di atas pundaknya, kemudian dia mengerahkan tenaga dari perut sambil memekik keras, menggentak lengan kiri kakek itu dengan gaya melemparkan tubuh si kakek ke atas melewati punggung dan pundaknya.

Tubuh itu terlempar ke atas sampai membentur langit-langit rumah lalu jatuh menimpa meja makan yang belum keburu dibereskan sehingga kuah masakan dalam mangkok memercik ke atas menyiram muka orang yang jatuh itu. Tapi bukan tubuh Song-bun-kwi yang terlempar, melainkan tubuh Tengkorak Hitam sendiri! Kepala bajak ini gelagapan, cepat menyusuti mukanya, terengah-engah meloncat turun dari kursi, kepalanya digoyang-goyang keras seperti laku seekor anjing habis kecemplung kolam, matanya terbeliak memandang kakek itu seakan-akan dia tidak percaya bahwa yang baru saja dia alami bukanlah mimpi buruk.

Sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya kembali dia menggereng dan menubruk. Kaki ini dia menangkap kaki Song-bun-kwi. Kakek itu hanya berdiri dan tunduk memandang orang pendek yang nekat itu. Tengkorak Hitam berkutetan, mengerahkan tenaga untuk mengangkat kaki itu agar dia mendapat peluang untuk melontarkan si kakek. Namun kaki itu tak bergeming sedikit pun juga. Sampai payah dia mengerahkan semua tenaga perut, ah-uh-ah-uh mulutnya terengah-engah. Mendadak kaki itu terangkat sedikit. Girang hatinya. Mampus kau sekarang tua bangka, pikirnya. Tubuhnya menyelinap ke bawah selakang kakek itu, kaki itu di pundaknya dan kini dia mengerahkan seluruh tenaganya sambil menggentak.

“Bull!” Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali lagi menghantam langit-langit sampai jebol kemudian terbanting ke bawah membikin remuk bangku yang ditimpanya. Juga kali ini tubuh Tengkorak Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen.

Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apalagi ketika dia melihat betapa mulai berdatangan orang menonton. Dia menjadi nekat dan kini hendak menggunakan ilmu pukulan. Dia menerjang lagi dengan tangan terkepal. Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti laku seekor domba hendak menanduk ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di muka kakek itu. Kepalanya tertahan sesuatu. Matanya melirik dan alangkah marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan telapak tangan. Dia mengumpat caci, kedua tangannya menghantam bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim tendangan-tendangan maut.

Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau tegasnya, tidak sampai di tubuh si kakek. Seperti diketahui, bajak laut itu tubuhnya pendek, kedua lengannya pun pendek-pendek sekali, demikian pula kedua kakinya. Tentu saja setelah kakek itu yang bertubuh tinggi besar dan berlengan panjang menahan kepalanya dengan lengan diluruskan, semua pukulan dan tendangannya gagal, tidak sampai ke sasarannya.

Terdengar suara ketawa di sana-sini. Bajak itu marah sekali, kini menghantam lengan yang menahan kepalanya. Sia-sia, malah kedua tangannya sakit-sakit seperti menghantam baja layaknya. Tiba-tiba dia merasa betapa telapak tangan yang menahan kepalanya itu menjadi panas sekali. Dia berusaha menarik kepalanya yang botak, namun alangkah kagetnya ketika merasa betapa botaknya itu lengket pada telapak tangan lawan. Dan panasnya tak dapat dia menahannya lebih lama, seakan-akan botaknya ditempel arang merah! Dia mulai mengerling ke luar restoran dan tanpa malu-malu lagi mulutnya berteriak-teriak memanggil anak buahnya supaya membantunya melawan kakek yang aneh ini. Akan tetapi, begitu matanya mengerling ke luar, seketika wajahnya pucat. Apa yang dilihatnya? Anak buahnya sudah tidak kelihatan batang hidungnya seorang pun, malah sebuah perahunya pun tidak tampak lagi. Pantas saja banyak orang berdatangan menonton pertunjukkan di dalam restoran, kiranya sekarang di luar restoran sudah tidak ada bajak laut lagi!

Apakah sebetulnya yang telah terjadi di luar restoran? Seperti telah kita ketahui, pada saat kepala bajak itu beraksi di depan Song-bun-kwi, para bajak laut itu sedang bertempur menyerbu para jagoan pengawal yang melawan mati-matian. Namun karena kalah banyak jumlahnya, para pengawal itu kena desak dan mulai mundur tak teratur. Mulai banyaklah berjatuhan korban di kedua fihak, terutama sekali di fihak para pengawal.

Pada saat itu, terdengar bentakan mengguntur, disusul suara nyaring,

“Keparat jahanam! Beginikah perbuatan kalian di sini? Dari rumah mengaku berdagang kiranya melakukan perampokan. Bajak-bajak keparat, membikin malu saja kalian ini. Hayo pergi!”

Yang membentak ini adalah seorang laki-laki muda yang bertubuh tegap kokoh kuat, wajahnya membayangkan kegagahan, bajunya tipis terbayang dadanya yang bidang. Rambutnya hitam panjang dan gemuk, digelung ke atas dengan model yang asing, dijepit di bagian atas dengan hiasan rambut perak. Sebatang pedang yang panjang sekali dan bentuknya agak melengkung tergantung di pinggang. Pedang ini sarung dan gagangnya berukir kembang-kembang indah, merah warnanya, dengan ronce-ronce merah pula, gagangnya agak panjang.

Para bajak laut kaget mendengar suara bangsanya sendiri, karena pemuda itu tadi menggunakan bahasa Jepang. Ketika menengok, mereka lebih kaget lagi karena dari dandanan, sikap, dan pedang pemuda itu, mudah diterka bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar Samurai, yaitu golongan pendekar pedang yang amat terkenal di Jepang.

Akan tetapi karena pendekar itu masih amat muda, paling banyak dua puluh tahun usianya, apalagi karena bajak laut itu mengandalkan banyak teman dan bukan berada di daratan sendiri, mereka tidak takut.

“Berhenti dan pulang semua kataku!” Pendekar Samurai muda itu berseru lagi, suaranya benar-benar nyaring dan wibawa.

Ketika para bajak itu tidak memperdulikannya, tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan, sinar kemerahan berkelebat-kelebat menyambar bagaikan kilat di musim hujan. Terdengar pekik dan jerit di sana-sini dan di mana sinar kemerahan itu tiba, tentu ada bajak yang roboh dengan senjata mereka terlempar atau patah!

“Hayo siapa tidak menurut, akan kubasmi di sini juga. Memalukan orang-orang macam kalian ini!” lagi-lagi si pemuda berteriak. “Samurai Merah tak mengijinkan kalian merusak nama kehormatan bangsa!”

Melihat sepak terjang pemuda itu dan mendengar nama sebutan Samurai Merah, para bajak kaget dan ketakutan, Itulah nama pendekar yang amat terkenal kebengisannya terhadap para penjahat. Mereka segera membuang senjata masing-masing, menyambar tubuh teman-teman yang luka atau tewas, lalu berserabutan lari ke perahu masing-masing. Dalam sekejap mata saja bajak-bajak itu sudah berlayar pergi, tidak merampok apa-apa hanya meninggalkan korban-korban di fihak pengawal dan saking bingung dan takutnya mereka tadi lupa bahwa kepala mereka, Tengkorak Hitam masih tertinggal di dalam restoran!

Para pengawal kagum dan berterima kasih kepada pendekar Jepang itu. Akan tetapi berbareng dengan kaburnya para bajak laut, pendekar muda Jepang itu pun lenyap dari situ. Apakah dia ikut dengan perahu-perahu bajak atau tidak, tak seorang pun mengetahui karena tadi keadaannya kacau-balau. Akan tetapi ketika orang-orang ini mendengar adanya pertempuran lain di dalam restoran, segera mereka mendatangi tempat ini dan ternyata mereka menjadi saksi akan pertandingan yang lebih menarik lagi karena lucu sekali. Juga para jagoan pengawal itu diam-diam kaget dan kagum ketika mengenal bahwa yang sedang dipermainkan kakek tua itu bukan lain adalah Tengkorak Hitam, si kepala bajak yang terkenal akan kekejaman, keganasan dan juga kesaktiannya.

Pertempuran di dalam restoran itu memang lucu sekali, terutama bagi para penonton yang kesemuanya membenci si kepala bajak. Tengkorak Hitam seperti seekor cecak terjepit pintu. Kepalanya yang botak menempel pada telapak tangan kakek itu yang diluruskan ke depan. Pukulan dan tendangannya gagal semua tidak mengenai sasaran, malah dia sekarang mulai meringis-ringis dan keluar air mata dari kedua matanya tanpa dia sengaja. Air mata ini keluar saking nyerinya ketika dari telapak tangan itu keluar hawa panas seperti api yang membakar kepalanya yang botak. Akhirnya dia tak tahan lagi, menjerit-jerit dan melolong-lolong minta ampun dengan suaranya yang pelo (cedal),

“Ampun, orang tua gagah……….. ampun………..”

Song-bun-kwi mendengus. Dia pun tidak suka dijadikan tontonan. “Aku sedang makan kau membikin ribut saja, menyebalkan sekali! Hayo lekas kau ambilkan tambahan arak!” Sekali dia mendorongkan lengannya, kepala bajak itu terlempar ke belakang menabrak bangku. Dengan muka pucat dan tubuh menggigil kepala bajak yang biasanya ditakuti orang ini merangkak bangun, sedangkan Song-bun-kwi dengan tenang duduk kembali ke bangkunya menghadapi meja makan. Dengan kening berkerut dia mengomel panjang pendek,

“Menyebalkan! Makanan ini sudah dingin semua, araknya sudah habis!”

Tiba-tiba para pelayan berdatangan membawakan arak dan masakan-masakan baru. Seperti menyulap saja tukang-tukang masak berlomba membuatkan masakan untuk kakek yang gagah perkasa ini.

Adapun kepala bajak Si Tengkorak Hitam tadi sudah menjadi bulan-bulan kemarahan para penduduk dan para jagoan pengawal. Dia diseret keluar dan digebuki sampai terkencing-kencing dan orang-orang baru menyudahi penyiksaan mereka setelah kepala bajak yang sudah membunuh ribuan itu tak bernapas lagi. Setelah itu barulah ramai-ramai mereka mengubur para korban dan merawat para pengawal yang terluka. Sebentar saja kota pelabuhan itu menjadi ramai lagi seperti biasa. Kali ini memang sepatutnya mereka bergembira karena bukankah bajak laut-bajak laut yang menyerbu itu selain dapat dihancurkan, juga kepalanya dapat ditewaskan? Jarang terjadi hal ini dan patut mereka bergembira.

Song-bun-kwi menoleh ke arah laki-laki yang tadi merupakan orang satu-satunya yang tidak lari dari restoran. Kebetulan laki-laki itu juga memandang kepadanya dan laki-laki itu cepat berdiri membungkuk dengan hormat lalu berkata,

“Saya merasa tunduk dan kagum sekali atas kegagahan locianpwe,”

Song-bun-kwi mengerutkan keningnya yang mulai beruban, lalu dia melambaikan tangan, “Hayo kau ikut makan dengan aku. Biarpun kepandaianmu tidak seberapa, tetapi keberanianmu membikin kau cukup berharga untuk makan bersamaku.”

Laki-laki itu tidak merasa tersinggung atau tak senang mendengar kata-kata yang angkuh ini. Cepat dia datang sambil membungkuk-bungkuk menyatakan terima kasihnya. Dengan lagak amat sopan dia lalu menarik bangku dan duduk di depan Song-bun-kwi. Menyaksikan sikap merendah-rendah ini diam-diam Song-bun-kwi mendapat kesan tak baik dan menganggap laki-laki ini sikapnya terlalu menjilat-jilat. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia lalu menyilahkan laki-laki itu menikmati minuman dan masakan yang sudah disediakan oleh para pelayan yang merasa amat berterima kasih kepada dua orang itu karena sesungguhnya apabila tidak ada dua orang tamu itu, tentu restoran mereka sudah habis dan rusak oleh para bajak.

Akhirnya Song-bun-kwi merasa kenyang juga. Dengan lengan bajunya yang lebar dia mengusapi mulutnya dan tangan kirinya mengelus-elus perut. Laki-laki di depannya itu membungkuk sambil tersenyum dan berkata,

“Locianpwe yang gagah perkasa, saya bernama Teng Cun Le dari kota raja, seorang pelancong biasa. Bolehkah kiranya saya mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

Sebal hati Song-bun-kwi mendengar ini. Dia sudah menyesal dan kecewa mengapa dia tadi mengundang orang ini yang kiranya hanya mendatangkan kesebalan di hatinya dan mengganggu ketenteramannya seorang diri. Dengan gerakan tangan tak sabar dia menjawab, “Aku she Kwee……….. sudahlah.” Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan cepat berkata,

“Kau tentu tahu akan semua bajingan di daerah pantai timur ini, bukan?”

Orang itu terkejut, gugup bagaimana harus menjawab. Tapi segera dia dapat menguasai hatinya. “Apakah yang Locian-pwe maksudkan? Kalau yang dimaksudkan bangsat-bangsat cilik tiada nama, tentu saja saya tidak kenal. Akan tetapi tokoh-tokoh besar di pantai timur ini banyak juga yang saya ketahui.”

Wajah Song-bun-kwi yang biasanya seperti kedok itu kini membayangkan kegirangan, “Bagus, kalau begitu, hayo lekas kau tunjukkan di mana tempat tinggal si iblis bangkotan Thai-lek-sin Swi Lek Ho-siang?”

“Tentu saja aku tahu, Locianpwe. Akan tetapi pada waktu ini hwesio tua itu tidak berada di kelentengnya. Saya mendengar dari teman-teman bahwa dia seringkali berkunjung dan tinggal di tempat lain………..”

“Sayang sekali!” Song-bun-kwi membanting kakinya sehingga tanah dalam rumah makan itu tergetar. Kembali laki-laki yang mengaku bernama Teng Cun Le itu tercengang kagum. “Jauh-jauh kucari iblis bangkotan itu, akan kuajak dia bertanding selama tiga malam, kiranya dia minggat dan kabur! Huh, Thai-lek-sin iblis tua bangka, apakah kau sudah menduga akan kunjunganku ke Sini lalu kabur? Sayang……..!” Setelah berkata demikian, Song-bun-kwi bangkit dari bangkunya, kemudian tanpa pamit kepada siapa pun juga meninggalkan restoran itu!

Para pelayan berikut para pengurus semua mengantar sambil membungkuk-bungkuk dan mulut mereka berdendang, “Selamat jalan, pendekar tua yang gagah perkasa!”

Namun Song-bun-kwi tidak memperdulikan mereka dan tidak perduli pula bahwa dia tidak membayar makanan, tidak perduli betapa orang-orang memandangnya dengan kagum dan penuh hormat. Dia terus saja melangkah lebar keluar dari restoran, tidak mau tahu biarpun dapat dia melihat betapa laki-laki yang mengajaknya bicara tadi melemparkan beberapa keping uang perak ke atas meja makan dan betapa para pengurus restoran berusaha menolak pembayaran yang royal ini.

Akan tetapi sebal juga hati Song-bun-kwi ketika dia mendapat kenyataan bahwa Teng Cun Le itu mengejarnya sambil berlari-lari cepat! Setibanya di luar kota pelabuhan itu, Song-bun-kwi membalikkan tubuh, tangannya mendorong dan………. Teng Cun Le roboh terjungkal! Baiknya Song-bun-kwi yang berwatak aneh itu biarpun marah masih ingat akan kegagahannya ketika melawan para bajak tadi, maka tidak bermaksud mengambil nyawanya. Maka dia hanya merasa terdorong oleh tenaga raksasa sehingga orang itu tidak mampu mempertahankan diri lagi dan roboh. Dengan kaget dan muka pucat Teng Cun Le merangkak bangun karena seketika dia merasa tubuhnya lemas dan kakinya lumpuh. Tahu-tahu kakek itu sudah berdiri di depannya dengan muka merah.

“Cacing busuk! Kau berani mengikuti dan mengganggu aku?” bentak Song-bun-kwi.

Melihat kemarahan kakek itu, Teng Cun Le tidak jadi berdiri, malah terus saja berlutut dan mengangguk-angguk. “Mohon beribu ampun, Locianpwe. Bukan sekali-kali maksud saya untuk mengikuti atau mengganggu Locianpwe, hanya saya amat terdorong oleh rasa kagum……….. dan pula, teringat bahwa Locianpwe jauh-jauh datang mencari Thai-lek-sin Swi Lek

Hosiang, agaknya saya dapat menunjukkan di mana adanya hwesio itu sekarang ini agaknya………..”

“Hemm, kenapa tidak dari tadi kau bilang? Kalau tadi-tadi kau bilang, aku takkan curiga padamu dan takkan membikin kau roboh. Orang she Teng, mari tunjukkan aku di mana adanya hwesio bangkotan itu dan kau boleh ikut dengan aku menonton pertempuran menarik antara aku dan dia,” Song-bun-kwi benar-benar gembira mendengar ada orang bisa mengantar dia kepada Thai-lek-sin. Bagus untungnya, baru saja makan lezat sekenyangnya dan sedikit “berlatih” dengan Tengkorak Hitam bajak Jepang, sekarang akan dapat berkelahi sepuasnya melawan seorang tokoh setingkat!

Teng Cun Le dengan wajah berseri segera bangkit dan berkata gembira, “Wah, kalau Locianpwe hanya hendak mencari lawan tangguh, kiraku kali ini Locianpwe akan mendapat kepuasan. Menurut pendengaran saya, seringkali Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang mengunjungi Pek-tiok-lim, tempat tinggal sahabatnya.”

“Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih)? Di mana itu? Tempat tinggal siapa?” Song-bun-kwi mendesak gembira.

“Heran sekali bahwa Locianpwe belum mendengar tentang Pek-tiok-lim! Di sana adalah tempat tinggal seorang tokoh besar yang tidak kalah terkenalnya kalau dibandingkan dengan Thai-lek-sin. Dia itu adalah Sin-kiam-eng (Si Pendekar Pedang Sakti), ilmu pedangnya hebat dan anak perempuannya juga bukan main. Pendeknya, kalau Locianpwe dapat bertanding melawan dia, tentu akan puas betul. Akan tetapi, saya benar-benar merasa ragu-ragu apakah saya akan mampu membawa Locianpwe ke sana.”

“Kenapa?” Song-bun-kwi bertanya penasaran hatinya sudah panas mendengar orang ini memuji-muji majikan dari Pek-tiok-lim itu.

“Pek-tiok-lim adalah daerah yang penuh deggan rahasia. Jalan-jalannya amat sukar dan kabarnya, orang yang memasukinya berarti mengantar nyawa karena jangan harap akan dapat keluar kembali dengan nyawa masih di badan.”

Song-bun-kwi tidak menjawab, tangan kanannya bergerak memukul dan kakinya menyapu, serangan ini dia tujukan kepada sebatang pohcm besar, sebesar tubuh manusia batangnya dan sekali kena dihajar tangan dan kaki kakek itu, terdengar suara keras dan pohon itu seketika tumbang berikut akar-akarnya terjebol dari tanah. Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa pohon itu roboh dan orang she Teng itu buru-buru melompat jauh karena khawatir tertimpa cabang-cabang pohon itu.

“Ha-ha-hi, apakah pohon-pphon bambu putih itu melebihi pohon ini kuatnya?” Song-bun-kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya pucat dan lidahnya terjulur keluar.

“Hebat……….. luar biasa……….. Locianpwe seperti malaikat ……….!” Teng Cun Le memuji, benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang. “Saya percaya bahwa Locianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-tiok-lim!”

Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri pantai timur itu menuju ke utara. Pek-tiok-lim itu terletak di dekat pantai Laut Po-hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun dijadikan tempat tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari mendiang Raja Pedang Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan. Nama tokoh ini adalah Tan Beng Kui berjuluk Sin-kiam-eng. Seperti telah disebut di bagian depan dari cerita ini, Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari ketua Thai-san-pai, dan bukan lain adalah ayah daripada si dara lincah Tan Loan Ki yang sudah kita kenal baik itu.

Benarkah Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang seringkali datang ke Pek-tiok-lim?

Kenyataannya tidak demikian dan sebetulnya tanpa disadarinya, Song-bun-kwi sitokoh yang ditakuti dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu itu terkena bujukan halus. Apakah kehendak Teng Cun Le dan mengapa dia melakukan hal ini?

Teng Cun Le sebetulnya adalah seorang mata-mata dari istana. Dia adalah seorang di antara banyak kepercayaan kaisar baru untuk melakukan penyelidikan ke daerah-daerah melihat reaksi para tokoh daerah atas pengangkatan diri Pangeran Kian Bun Ti menjadi kaisar, menggantikan kaisar tua yang meninggal dunia. Teng Cun Le ini mendapat tugas memata-matai daerah pantai timur. Tentu saja seorang yang sudah dipercayai tugas seperti ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan hal ini sudah terbukti ketika dia menyaksikan penyerbuan para bajak laut. Selain berkepandaian silat, juga orang yang diangkat menjadi mata-mata tentu saja orang yang cerdik dan memang Teng Cun Le ini cerdik sekali orangnya.

Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang dara lincah yang amat menarik perhatiannya. Dara itu bukan lain adalah Loan Ki. Melihat seorang gadis muda seorang diri melakukan perjalanan, Teng Cun Le maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian. Dia menjadi curiga dan diam-diam melakukan pengintaian. Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu benar-benar amat lihai sehingga diam-diam Loan Ki tahu bahwa dirinya diintai orang! Dasar ia seorang anak yang memiliki watak nakal dan suka mempermainkan orang, maka sengaja gadis ini di dalam kamarnya membuka buntalannya, memamerkan bekal uang dan tiga buah mutiara Ya-beng-cu yang mengeluarkan cahaya di dalam gelap! Ia lakukan ini karena tahu bahwa di luar kamar ada orang itu yang selalu mengintainya selama ini!

Teng Cun Le menjadi terkejut dan girang bukan main melihat tiga butir mutiara ini. Sebagai seorang kaki tangan kaisar, tentu saja dia mengenal mutiara itu yang tadinya menjadi penghias mahkota kuno yang telah hilang. Memang termasuk tugasnya untuk mencari jejak bekas pembesar Tan Hok karena menurut perintah rahasia yang dia terima, mahkota itu mengandung rahasia hebat dan harus dirampas kembali ke istana. Sekarang dia melihat mutiara-mutiara itu, tentu saja girangnya bukan kepalang. Kalau ada mutiara itu tentu ada pula mahkotanya, dan kalau ada mahkotanya tentu ada pula pengkhianat Tan Hok.

Loan Ki yang nakal itu pura-pura tidak tahu bahwa ia selalu diikuti, malah dengan enak-enakan ia berjalan pulang ke Pek-tiok-lim seperti sengaja menunjukkan kepada orang itu di mana ia tinggal. Melihat betapa dengan berani mati orang itu menguntitnya terus memasuki Pek-tiok-lim, diam-diam ia tertawa geli dan sebentar saja ia lenyap di jalan rahasia dalam hutan wilayah ayahnya itu. Celakalah Teng Cun Le. Hampir saja binasa di dalam hutan ini. Untungnya dia sudah mulai curiga dan sebelumnya sudah mencari keterangan tentang keadaan di situ. Dia sudah mendengar tentang Pek-tiok-lim, tempat kediaman tokoh besar Sin-kiam-eng dan puterinya. Maka melihat keadaan hutan yang penuh bambu putih ini, dia segera sadar dengan tengkuk meremang bahwa yang dia ikuti selama ini adalah puteri Sin-kiam-eng. Inilah yang menolongnya karena dia segera meninggalkan hutan itu dan kabur tanpa berani menoleh lagi.

Demikianlah pengalaman Teng Cun Le. Hatinya masih merasa penasaran. Segera dia mengadakan hubungan dengan kurir yang berkuda cepat ke kota raja. Alangkah kagetnya ketika dia mendengar berita bahwa memang mahkota kuno itu yang tadinya sudah terampas oleh panglima istana Souw Ki, telah dirampas kembali oleh seorang gadis liar puteri Sin-kiam-eng. Dia girang bercampur bingung. Girang karena tahu betul bahwa mahkota itu tentu berada di Pek-tiok-lim, namun bingung bagaimana dia dapat merampasnya kembali.

Dia hendak mengirim utusan ke istana, mengusulkan agar secara resmi kaisar mengutus rombongan meminta kembali mahkota itu secara baik-baik dari Sin-kiam-eng. Kalau kaisar yang minta, sudah tentu akan dikembalikan dan tidak akan terjadi sesuatu keributan. Andaikata Sin-kiam-eng berani menolak, berarti dia memberontak dan boleh saja digempur menggunakan pasukan.

Sambil menanti keputusan, Teng Cun Le iseng-iseng mendatangi kota pelabuhan dan secara tak disengaja bertemu dengan Song-bun-kwi. Dia masih belum dapat menduga siapa adanya kakek yang hebat ini, akan tetapi segera otaknya yang cerdik bekerja ketika mendapat kenyataan betapa kakek sakti ini seperti gatal-gatal tangannya hendak mencari lawan yang setingkat. Maka dia sekarang hendak mempergunakan kesaktian kakek ini untuk memasuki Pek-tiok-lim, menggunakan kesaktian kakek ini untuk merampas kembali mahkota. Dengan cara ini, selain lebih cepat juga semua pahala akan terjatuh ke dalam tangannya.

******

“Heh, keparat! Tua bangka gila dari mana berani merusak bambu peliharaan di Pek-tiok-lim………..?” bentak dua orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata pedang. Tentu saja mereka ini marah sekali melihat betapa seorang kakek tinggi besar, sambil tertawa-tawa mencabut, menendang, dan melempar-lemparkan bambu-bambu putih di hutan itu begitu mudah seperti seorang mencabuti dan membuang-buang rumput kering saja!

Semenjak Pek-tiok-lim dimiliki oleh majikan mereka, jangankan manusia, setan pun kiranya takkan berani merusak tanaman di situ. Eh, tahu-tahu sekarang ada seorang kakek tua ini seperti seorang gila merusak tanaman dan di belakang kakek itu berdiri seorang laki-laki berpakaian mentereng yang tertawa-tawa juga. Kakek itu bukan lain adalah Song-bun-kwi. Dia sudah mulai merusak bambu-bambu yang berada di luar hutan, dalam usahanya menyerbu Pek-tiok-lim untuk mencari Thai-lek-sin, menantangnya dan sekalian menantang pemilik hutan ini, yang menurut orang she Teng itu adalah seorang tokoh besar berjuluk Sin-kiam-eng. Sengaja Song-bun-kwi mencari perkara. Hatinya yang mengkal terbawa dari Min-san belum mencair dan dia harus mendapatkan sesuatu untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.

Melihat munculnya dua orang penjaga yang memakinya, kakek itu diam saja seperti tak mendengar dan melanjutkan pekerjaannya merusak tanaman di situ. Tentu saja dua orang penjaga itu marah sekali. Sambil membentak dan memaki mereka menerjang kakek itu dengan kepalan tangan. Akan tetapi biarpun tak kompak kakek itu bergerak menangkis atau memukul, tahu-tahu dua orang itu sendirilah yang terjengkang ke belakang dengan kepala benjol-benjol karena terbanting ke atas tanah yang berbatu! Mereka kaget, heran berbareng marah. Sambil mengutuk keras mereka mencabut pedang.

“Kakek gila, kau sudah bosan hidup!” teriak mereka sambil menerjang, kini dua batang pedang itu menyambar dari kanan kiri. Namun Song-bun-kwi terus saja merobohkan dan mencabuti bambu-bambu putih tanpa memperdulikan sambaran kedua pedang. Seperti juga tadi, dia tidak tampak bergerak menangkis atau mengelak apalagi memukul, tapi tahu-tahu dua orang itu terjengkang ke kanan kiri dan pedang mereka terlepas dari tangan. Celakanya kini mereka jatuh menyusup ke tumpukan bambu yang sudah dicabut sehingga pakaian mereka robek semua dan tubuh mereka juga babak-bundas berdarah karena tertusuk batang-batang bambu.

“Ha-ha-ha, anjing-anjing rendah. Apa mata kalian buta berani menyerang lo-cianpwe ini? Lebih baik lekas panggil ke sini majikan kalian untuk bicara.” Teng Cun Le menggunakan kesempatan ini untuk memancing keluar Sin-kiam-eng.

Dua orang itu merangkak bangun lalu tiba-tiba seorang di antara mereka meniup sebuah terompet kecil yang berbunyi nyaring. Song-bun-kwi terus saja melangkah maju sambil merusak pohon-pohon bambu di kanan kiri. Teng Cun Le mengikuti jejak langkahnya, sama sekali tidak berani menyeleweng karena tahu bahwa di situ banyak tempat rahasia. Sebentar saja mereka telah memasuki hutan.

Tiba-tiba terdengar suara keras, tanah yang diinjak Song-bun-kwi melesak ke bawah dan tubuh kakek itu tergelincir masuk! Teng Cun Le menjadi pucat wajahnya. Baiknya tanah yang melesak ke bawah itu belum diinjaknya dan tepat pinggirnya berada di depan kakinya sehingga dia dapat menyaksikan betapa tubuh kakek tinggi besar itu tergelincir. Hebat dan ngerinya, dari bawah tanah menyambar puluhan batang bambu runcing seakan-akan dilontarkan ke atas, tentu saja tubuh kakek yang sedang tergelincir itu seperti dihujani bambu runcing dari bawah!

Akan tetapi Song-bun-kwi tidak kaget, malah mengeluarkan suara ketawa mengejek. Kedua kakinya menendang ke kanan kiri, lengan bajunya juga mengebut ke sekeliling tubuhnya dan ketika empat buah bambu runcing yang tepat menyambar di bawah tubuhnya sudah mendekati kaki, dia malah……….. menerima ujung bambu runcing itu dengan kedua kakinya! Teng Cun Le hampir meramkan mata saking ngerinya karena kalau kakek ini tewas, bukankah berarti dia sendiri juga terancam malapetaka? Akan tetapi, anehnya, bambu runcing empat buah itu sama sekali tidak menembus kaki si kakek, malah seperti tangan-tangan orang mendorong kakek itu mencelat kembali ke atas dan di lain saat kakek itu sudah melompati sumur besar yang terjadi karena tanah ambles itu! Dari tepi lain, kakek itu menoleh kepadanya dan memberi isyarat supaya dia melompat. Teng Cun Le cepat menggunakan ginkang melompati sumur itu dan bergidiklah dia melihat betapa ujung-ujung bambu runcing itu tampak hitam kehijauan, tanda bahwa ujungnya diberi racun!

Kini makin tebal kepercayaannya akan kelihaian si kakek. Dia kini dapat menduga bahwa kakek itu tadi telah mempergunakan ginkang yang luar biasa sekali untuk menerima serangan bambu runcing dan rnempergunakan sebagai landasan untuk melompat ke atas. Betapa hebatnya! Menggunakan landasan benda runcing untuk menggenjot tubuh ke atas hanya dapat dilakukan oleh ahli-ahli silat kelas tertinggi. Diam-diam dia mulai menduga-duga siapa adanya kakek yang sakti ini dan kadang-kadang Teng Cun Le merasa bulu tengkuknya berdiri. Dia maklum bahwa dia telah memasuki pintu perjalanan yang amat berbahaya.

Belum seratus langkah mereka maju, dari depan dan kanan kiri muncullah belasan orang bersenjata pedang atau tombak. Mereka segera mengurung dan seorang di antara mereka membentak,

“Kalian berdua menyerah saja untuk kami bawa menghadap majikan kami.”

Teng Cun Le melirik dan melihat betapa orang-orang itu makin banyak saja, juga kini beberapa orang muncul di belakangnya dan sebentar saja mereka dikurung lebih dari tiga puluh orang yang dikepalai oleh empat orang yang kelihatannya gagah dan kuat. Diam-diam dia bersiap sedia dan meraba gagang goloknya.

Song-bun-kwi tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Teng Cun Le sambil berkata, “Kau bilang majikan Pek-tok-lim tokoh yang gagah? Huh, agaknya hanya seorang kaya yang memelihara banyak anjing-anjing pemakan tahi belaka!” Hebat hinaan ini. Empat orang penjaga tanpa diperintah pemimpinnya lalu, membentak marah dan mengerjakan tombak mereka. Mereka adalah orang pemain tombak yang kuat karena mereka menerima latihan dari majikan mereka sendiri. Ujung tombak-tombak itu tergetar saking besarnya tenaga yang menggerakkan ketika menusuk ke arah Song-bun-kwi dari empat jurusan.
“Tua bangka mau mampus masih amat sombong!” bentak seorang di antara mereka. Melihat cara mereka menerjang dengan tombak, Teng Cun Le masih berdebar gelisah karena benar-benar kali ini puluhan orang yang mengurung mereka adalah orang-orang yang kuat dan tak boleh dipandang rendah seperti halnya dua orang penyerang pertama tadi. Melihat getaran ujung tombak itu dia sendiri merasa sangsi apakah dia akan dapat menangkan empat orang lawan ini sekaligus.

Akan tetapi dengan amat tenang sambil mengeluarkan suara mendengus, Song-bun-kwi menggerakkan kedua lengan bajunya. Hebat kesudahannya. Terdengar suara pletak-pletak terpatahkannya gagang-gagang tombak itu mata tombak itu secara aneh cepat sekali menyambar ke arah tuan masing-masing. Empat orang itu memekik ngeri dan tak seorang pun di antara mereka yang dapat membebaskan diri dari serangan mata tombak mereka sendiri itu yang menancap ke dada atau perut mereka sampai tak tampak lagi. Keempatnya roboh terjengkang, berkelojotan dan sebentar kemudian tak bergerak lagi untuk selamanya.

Hebat akibat sepak terjang kakek ini. Teng Cun Le sendiri sampai mengkirik ngeri dan memandang dengan mata terbelalak. Celaka, pikirnya, tidak dinyana sama sekali bahwa kakek ini begini ganas, sekali turun tangan membunuh empat orang. Maksudnya memancing kakek itu ke Pek-tiok-lim sebetulnya hanya hendak dia “boncengi” saja, dan hendak dia pergunakan kepandaian kakek ini untuk memaksa Sin-kiam-eng mengembalikan mahkota kuno. Siapa kira sekarang kakek itu agaknya hendak berpesta seperti tadi di restoran, kalau tadi berpesta makan minum, sekarang hendak berpesta membunuhi orang. Kalau begini caranya, kecil harapannya untuk minta kembali mahkota, karena perkelahian ini akan menjadi permusuhan hebat dan dia mau tidak mau akan terlibat di dalamnya. Celaka sekali!
Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh Cun Le itu. Para anak buah Sin-kiam-eng menjadi kaget dan marah bukan main ketika menyaksikan tewasnya empat orang teman mereka. Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu dan di lain saat terjadilah pertempuran hebat. Song-bun-kwi dikeroyok oleh puluhan orang, dipimpin oleh empat orang gagah itu yang hebat pula ilmu pedangnya. Akan tetapi, Song-bun-kwi melayani meraka sambil tertawa bergelak-gelak seperti Seorang anak kecil mendapat permainan bagus. Harus diketahui bahwa Song-bun-kwi ini dahulu merupakan manusia berwatak iblis yang amat jahat dan kejam di samping perangainya yang aneh, kesukaannya hanya satu, yaitu berkelahi dan mengalahkan orang lain. Maka tidak aneh kalau sekarang, dalam kemarahannya terhadap cucunya, dia pergi dengan tangan dan hatinya gatal-gatal untuk mencari permusuhan dengan siapa pun juga. Tentu saja dia kurang gembira kalau bertemu dengan lawan yang rendah tingkat kepandaiannya, dan barulah dia bergembira kalau bertanding melawan jagoan yang setingkat. Makin kosen lawannya, makin gembiralah hatinya. Karena sifat yang aneh ini pula maka dia mati-matian mencari Thai-lek-sin.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: