Pendekar Buta ~ Jilid 16

Perih rasa hati Kun Hong. Dia menunduk, dahinya berkerut dan dia berkata, “Aku tahu, Nona tanpa kusadari, aku telah melukai hati dan perasaanmu, aku telah menimpakan hinaan besar kepada dirimu. Aku tak hendak menyangkal lagi. Kau maafkanlah aku, Nona.”

Hui Kauw memandang tajam. “Apa maksudmu? Kau……. kau……. tahukah kau apa yang menyakitkan hatiku?”

Dengan kepala masih tunduk Kun Hong menjawab, suaranya lirih dan lambat, satu-satu seakan-akan amat sukar keluar dari lubuk hatinya, “Aku tahu, Nona, atau setidak-tidaknya aku dapat menduga. Karena bujukan dan tipuan, kau mau menjalani upacara sembahyangan perkawinan dengan aku, mengira bahwa akupun sudah tahu dan sudah setuju akan hal itu. Kemudian, di depan banyak orang, aku seakan-akan menolakmu. Inilah hinaan yang tiada taranya, yang paling besar yang dapat menimpa diri seorang gadis seperti Nona.”

Tiba-tiba Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, pedangnya berkerontangan jatuh dan ia menangis terisak-isak. Sedih sekali tangis ini dan Kun Hong maklum betapa perasaan gadis itu amat sakit, dendam dan penuh rasa malu, tertahan-tahan di dalam dada bagaikan api dalam sekam. Inilah berbahaya sekali bagi kesehatan, dan jalan terbaik untuk memberi jalan keluar adalah melalui tangis dan air mata. Karena itu, biarpun dia amat terharu dan berduka mendengar tangis ini, dia diam saja tak bergerak, hanya perlahan dia duduk bersila dan tunduk mendengarkan dengan kerut merut di antara kedua matanya yang buta.

Lama nona itu menangis. Sengaja derita dan sakit hati yang ia tahan selama bertahun-tahun di dalam dadanya, sekarang bagaikan gunung berapi meletus dan hawa panas dapat mengalir keluar melalui tangisnya itu. Tiada hentinya air matanya bercucuran, terisak-isak dan sesenggukan sampai napasnya terasa sesak. Akhirnya reda juga desakan hawa dari dada melalui tangisnya ini, dadanya terasa ringan kosong, dan seluruh tubuhnya menjadi lelah sekali. Tangisnya terhenti, tinggal isak kecil-kecil dan jarang. Ia mengangkat muka memandang laki-laki yang duduk bersila dengan tubuh diam tak bergerak bagaikan patung, muka dengan mata meram itu kelihatan kerut merut amat menyedihkan.

“Siapa orangnya dapat menahan semua ini?” ia berkata lirih seperti kepada diri sendiri, suaranya sudah tenang tapi masih terputus-putus menahan isak. “Perbuatanmu yang kau lakukan tanpa maksud menyakiti hatiku itu hanya merupakan pukulan terakhir yang mematikan kesabaranku dan membangkitkan perlawanan dalam hatiku. Tadinya aku sudah putus asa. Ibu memaksa aku supaya menikah dengan pangeran Mongol yang kubenci itu. Kemudian muncul engkau yang mengakibatkan serangkaian peristiwa di pulau. Hampir aku mati disiksa ibu, kau melupakan keselamatan sendiri membela dan melindungi aku. Malah akhirnya kau pula yang memulihkan kesehatanku. Setelah apa yang terjadi di dalam kamar ketika kau mengobatiku, aku tak dapat menolak ketika ibu membujukku menikah denganmu. Kata ibu kaupun sudah setuju, dan semua ini dilakukan demi menjaga baik namaku dan nama keluarga ibu. Tiada pilihan lain bagiku. Daripada menjadi isteri pangeran Mongol yang kubenci, dan pula…… kau amat baik kepadaku, dan seorang pendekar sejati…….. maka aku pun menurut. Siapa tahu…….” kembali gadis itu menangis.

“Aku sudah dapat menduga semua itu, Nona. Memang terlalu sekali ibumu, anak sendiri dibujuk dan ditipu, dibantu oleh orang-orang seperti Ka Chong Hoatsu. Benar-benar aneh sekali. Kenapa pula ibumu mau mengambil aku sebagai…….. eh, sebagai mantu, padahal aku seorang buta tiada guna dan malah mendatangkan keributan di pulaunya?”

“Kau pandai, ilmu silatmu tinggi dan luar biasa. Ibu dapat mempergunakan tenaga dan kepandaianmu………..”

“Hemmm, benar-benar jahat, demi kepentingan diri sendiri sampai hati mengorbankan anaknya. Nona, aku tidak percaya seorang ibu sejahat itu dapat mempunyai anak seperti kau.”

Hening sejenak, kemudian terdengar suara nona itu lirih, “Memang dia bukan ibu kandungku………..” Ia menahan isak lalu melanjutkan, “Biarpun kau orang luar, kau adalah penolongku dan kuanggap orang sendiri, biarlah rahasia ini kubuka padamu. Dahulu ketika aku masih kecil, ibu menculikku dari rumah ayah bundaku yang aseli dan semenjak itu aku dijadikan anaknya. Ia amat kasih dan sayang kepadaku……….. sampai Hui Siang terlahir.

Memang mereka itu baik kepadaku, tapi kadang-kadang……….. ah, entah mengapa, aku tersiksa batin……….. tak perlu kuceritakan sejelasnya, Sampai kau muncul dan……….. penolakanmu itu merupakan pukulan terakhir. Aku tak kuat lagi, lalu aku lari. Aku hendak mencari orang tuaku, menurut penuturan seorang pelayan tua, orang tuaku seorang hartawan di kota raja, she Kwee!”

“Baik sekali niatmu itu, Nona, kuharap saja kau akan dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan orang tuamu,” kata Kun Hong sejujurnya, suaranya mengandung iba.

“Tapi ada ganjalan di hatiku………..” gadis itu melanjutkan, suaranya gemetar,

“ganjalan terhadap kau. Aku merasa sangat terhina oleh penolakanmu……….. betapa tidak……….. karena itu, menurutkan nafsu hati dan kemarahan, aku sengaja menantimu, untuk membuat perhitungan. Maksudku, lebih baik seorang diantara kita tewas………. takkan menjadi kenangan yang memalukan lagi………..”

Kun Hong bangkit berdiri, wajahnya membayangkan kedukaan. “Kau keliru, Nona. Kita berdua menjadi korban fitnah. Kau sekarang tahu, bahwa sama sekali tiada niat di hatiku untuk menghinamu, juga kau tidak pernah menghinaku. Kita hanya menjadi korban. Akan tetapi kalau kau memang merasa terhina olehku, nah, kau tancapkan pedangmu itu di dadaku, aku Kwa Kun Hong sanggup menerima kematian di tanganmu!”

“Tidak…….. tidak…….. sekarang aku sudah insyaf. Kau sama sekali bukan menghina atau mempermainkan, melainkan karena……. kau memang……. ah, siapa sih yang akan tertarik hatinya……. inilah yang meragukan hatiku, ayah ibu sendiri andaikata melihat, belum tentu sudi mengakui……….”

“Apa maksudmu, Nona?” tanya Kun Hong kaget mendengar betapa suara yang halus itu menggetar-getar penuh kesedihan.

“Tidak apa-apa. Nah, selamat tinggal saudara Kwa Kun Hong, aku hendak pergi mencari orang tuaku di kota raja.” Terdengar gadis, itu menggeser kaki hendak ke luar dari kuil itu. Mendengar disebutnya “kota raja” ini, teringatlah Kun Kong akan mahkota kuno, maka cepat sekali dia berseru memanggil,

“Nona Hui Kauw, tunggu dulu…….!”

Gadis itu serentak berhenti dan cepat sekali sudah kembali ke depan Kun Hong, seakan-akan memang ia mengharapkan pemuda buta itu memanggilnya kembali.

“Ada apakah?” tanya Hui Kauw, suaranya penuh harapan aneh.

“Nona, aku ingin mohon sesuatu darimu, mohon bantuanmu, sekiranya kau tidak akan keberatan.”

“Tentu saja tidak keberatan! Beberapa kali kau telah menolong dan menyelamatkan nyawaku daripada maut, tentu saja aku siap sedia membantumu!”

Tak enak hati Kun Hong ketika nona itu menyebut-nyebut tentang pertolongannya, Cepat-Cepat dia berkata untuk menghabisi hal itu, “Aku hanya ingin kau memberi petunjuk kepadaku, menjadi penunjuk jalan ke Ching-coa-to, Nona.”

Hui Kauw kaget dan memandang dengan mata melebar, “Apa? Kau minta aku mengantarkan kau kembali ke pulau?” lalu menghapus kebimbangannya dengan pertanyaan, “Kun Hong, apa kehendakmu hendak kembali ke sana?” Berdebar hati Kun Hong mendengar betapa nona itu memanggil namanya begitu saja seakan-akan seorang sahabat lama yang sudah biasa saling menyebut nama tanpa banyak peraturan lagi.

“Aku harus kembali ke sana untuk mengambil mahkota yang dirampas mereka dari tangan Loan Ki,” katanya dengan suara biasa.

“Tapi mahkota kuno itu dirampas oleh Ka Chong Hoatsu! Dia lihai sekali, belum yang lain-lain. Biarpun aku suka membantumu, agaknya kita berdua takkan menangkan mereka, mana bisa kembali mahkota?” Kemudian gadis menyambung cepat-cepat,

“Jangan salah duga bahwa aku takut, sama sekali tidak, aku suka membantumu. Akan tetapi, aku hanya mengkhawatirkan bahwa usahamu tidak akan berhasil dan malah kau akan tertimpa malapetaka.”

Kun Hong menjura, penuh rasa terima kasih. “Biarpun menghadapi bahaya, akan kutempuh karena hal ini penting sekali, lebih penting daripada nyawaku.” Ucapan ini keluar begitu saja sebagai gema dari ucapan Tan Hok. “Aku tidak berani mengharapkan tenagamu untuk melawan mereka, Nona. Dan andaikata aku dapat pergi ke sana sendiri, sudah tentu aku pun tidak berani minta bantuanmu karena aku maklum betapa berat memintamu kembali ke tempat yang telah menimpakan banyak kesengsaraan padamu itu. Akan tetapi apa dayaku, aku seorang buta, tak mungkin dapat masuk ke pulau itu tanpa bantuanmu.” Dia berhenti sebentar, tersenyum-senyum dan memukul-mukulkan tongkatnya di atas lantai di depannya. “Sebelum sampai di sana mungkin aku sudah terjungkal ke dalam selokan!”

Akan tetapi kelakar ini diterima oleh Hui Kauw dengan alis berkerut, sama sekali tidak lucu baginya. “Marilah, Kun Hong, mari kuantarkan kau ke Pulau Ching-coa-to!” katanya dan seketika hati Kun Hong berdebar tidak karuan ketika tangannya dipegang oleh gadis itu dan ditarik keluar dari kuil. Telapak tangan yang halus itu seakan-akan menyalurkan getaran yang membuat jantungnya meloncat-loncat seperti katak kepanasan. Segera dia menekan perasaannya dan diam-diam dia memaki-maki diri sendiri, “Kau betul mata keranjang, hidung belang seperti yang dikatakan Loan Ki padamu! Gadis ini dengan hati jujur dan bersih menuntun tanganmu karena mengingat kebutaanmu, kenapa hatimu jadi geger tidak karuan?”

Tidaklah aneh apabila dengan bantuan Hui Kauw, Kun Hong dengan mudah dapat memasuki Pulau Ching-coa-to. Hui Kauw dikenal oleh para anak buah dan penjaga sebagai puteri Ching-toanio. Memang mereka sudah mendengar desas-desus tentang keributan yang terjadi antara nona ini dengan ibunya, akan tetapi tetap saja mereka tidak berani memperlihatkan sikap berbeda terhadap Hui Kauw. Apalagi mereka tahu betul betapa lihai nona ini, bahkan selain lihai, juga nona ini merupakan satu-satunya orang Ching-coa-to yang disegani oleh semua anak buah karena sikapnya yang selalu baik, sabar, dan suka menolong. Seperti bumi dan langit bedanya antara nona ini dengan ibu dan saudaranya yang kejam dan mudah saja membunuhi anak buah yang bersalah.

Hui Kauw mudah mendapatkan perahu dan bersama Kun Hong ia mendayung perahu itu cepat-cepat ke darat. Ia tidak memperdulikan pandang mata para anak buah ibunya yang terheran-heran melihat ia datang bersama Kun Hong, orang buta yang tadinya dianggap musuh yang datang mengacau Ching-coa-to. Akan tetapi keheranan inipun hanya sebentar saja. Para anak buah Ching-coa-to sudah terlalu sering menyaksikan keanehan-keanehan di antara para tamu pulau itu, keanehan orang-orang kangouw sehingga kejadian kali ini di pulau juga tidak begitu mereka perdulikan.

Setelah menyeberangi telaga dan tiba di pulau, Hui Kauw mengajak Kun Hong mendarat. Tegang juga hati Kun Hong ketika kakinya sudah menginjak daratan pulau itu dan hidungnya segera mencium bau aneka bunga.

“Apakah kita tiba di taman……….?” tanyanya perlahan.

“‘Betul, tempat ini terbaik untuk mendarat dan dari sini mudah kita pergi menyelidiki tentang benda itu.”

“Hui Kauw,” Kun Hong memegang tangan gadis itu tanpa ragu-ragu lagi karena dia merasa amat berterima kasih dan pula sikap gadis itu yang ramah dan sewajarnya membuat dia tidak menjadi sungkan dan malu lagi, “Kau tunggulah saja di sini, jangan sampai ada yang melihatmu. Biar aku sendiri yang akan mencari Ka Chong Hoatsu dan terang-terangan minta kembali mahkota itu. Kalau sudah berhasil, baru aku minta bantuanmu lagi untuk mengajak aku menyeberangi telaga.”

Mau tidak mau Hui Kauw tersenyum kali ini dan menarik tangannya. “Kun Hong, kau benar-benar berlaku sungkan kepadaku. Jangan kau kira bahwa aku demikian pengecut, membiarkan kau sendiri menghadapi mereka yang lihai. Tidak, Kun Hong. Aku sudah sanggup dan hanya ada dua pilihan bagiku. Berhasil merampas kembali mahkota dan dengan selamat bersamamu meninggalkan pulau ini atau kita gagal dan mati bersama di sini.”

Terharu hati Kun Hong. Dia menjura sampai dalam dan berkata lirih, “Kau baik sekali, kau benar-benar bidadari lahir batin. Aku berterima kasih kepadamu…”

“Husshhh, diam, ada orang-orang datang” Hui Kauw cepat menarik tangan Kun Hong diajak menyusup ke dalam gerombolan pohon kembang. Tentu saja Kun Hong dapat mendengar pula suara orang, hanya tadi karena dia terharu, maka dia kurang perhatian dan kalah dulu oleh nona itu yang selain mendengar juga dapat melihat.

Yang datang adalah dua orang, mereka berjalan perlahan sambil bercakap-cakap. Setelah jarak antara mereka dengan tempat persembunyian Kun Hong tinggal sepuluh meter kurang lebih, Kun Hong mengenal suara mereka yang bukan lain adalah Hui Siang dan Bun Wan putera ketua Kun-lun-pai. Tadinya dia sama sekali tidak merasa heran karena dia memang sudah tahu bahwa putera Kun-lun-pai itu menjadi tamu di Ching-coa-to. Akan tetapi setelah dia mendengar percakapan dua orang muda yang kini berhenti dan duduk di atas rumput tebal tak jauh dari situ, dia kaget dan tiba-tiba mukanya menjadi merah. Dia merasa segan dan sungkan sekali terpaksa harus mencuri dengar percakapan antara dua orang muda yang agaknya sedang bercumbu berkasih mesra!

Terdengar suara Hui Siang yang merdu merayu, suaranya penuh kemanjaan dan mengandung kegenitan. “Kanda Bun Wan, kau sudah tahu dan tentu sudah yakin akan cintaku yang suci murni terhadapmu. Akan tetapi, sebaliknya………. mana bisa aku tahu akan isi hatimu? Mana bisa aku yakin bahwa cintamu kepadaku pun sama sucinya? Kanda Bun Wan, kalau sekarang kau tinggalkan pulau ini………. ah, bagaimana kalau kau tidak akan kembali kepadaku?”

Kun Hong mendengar ini merasa bulu tengkuknya meremang dan dia sudah bergerak hendak pergi diam-diam dari tempat itu, menjauhi mereka dan tidak sudi mencuri dengar percakapan semacam itu. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh tangan Hui Kauw yang mencengkeram erat-erat, diguncang-guncang sedikit seperti memberi isyarat agar dia jangan bergerak. Kun Hong merasa heran sekali mengapa tangan nona itu dingin dan gemetar. Tentu saja dia tidak tahu betapa dengan muka pucat gadis ini melihat betapa adiknya itu membujuk rayu, memeluk-meluk dengan sikap yang tidak tahu malu. Tiba-tiba Kun Hong merasa dadanya sakit. Teringatlah dia ketika dahulu mencuri dengar percakapan antara Hui Kauw dan ibu angkatnya. Ching-toanio pernah memakinya tergila-gila kepada Bun Wan! Hemm, apakah sekarang Hui Kauw menjadi cemburu dan iri hati melihat pemuda Kun-lun yang digilainya itu bercumbu rayu dengan Hui Siang? Aneh sekali, pikiran ini yang menimbulkan rasa perih di hatinya, sekaligus membuat dia mengambil keputusan untuk mendengarkan terus dan melihat Hui Kauw tersiksa karena cemburu dan iri! Memang aneh sekali watak orang muda kalau sudah terbius asmara!

“Hui Siang, kau begini manis, begini cantik jelita. Mana bisa aku tidak cinta kepadamu dengan seluruh hatiku?” terdengar oleh Kun Hong suara Bun Wan, akan tetapi aneh baginya, dia menangkap nada suara agak mengkal.

“Ah, kanda Bun Wan, mana aku bisa percaya begitu saja? Cinta kasihku sudah aku buktikan, aku sudah menyerahkan raga dan kesucianku kepadamu. Tapi kau? Wan-koko, kau bersumpahlah……..”

Suara Bun Wan menghibur, akan tetapi tetap saja kemengkalan yang tadi, masih tertangkap oleh pendengaran Kun Hong yang amat tajam. “Hui Siang…….. yang sudah-sudah mengapa kau tonjol-tonjolkan kembali? Kau tahu benar bahwa bukan salahku semata, tapi kau……. ah, kenapa kau begini cantik dan kau pula yang mendorongku dengan sikapmu? Aku cinta padamu, tak perlu bersumpah.”

“Aku percaya, kau seorang laki-laki gagah, tentu takkan menjilat ludah sendiri. Tapi………. kau tentu segera mengajak orang tuamu datang untuk melamarku kepada ibu, bukan? Betul ya, Koko? Jangan terlalu lama, ya?”

“Hemm…….. soal itu…….. aku belum berani memastikan, kekasihku. Ayahku amat keras hati………..”

Terdengar isak tangis tertahan. “Kau harus dapat membujuknya, Koko……. kau harus dapat…….. kalau kau tidak lekas datang kembali, aku akan menyusulmu ke Kun-lun, aku tidak perduli…….!”

“Baiklah……. kau tenang dan sabarlah. Dan jangan menangis, sayang pipimu yang halus menjadi basah. Sekarang, buktikan bahwa kau benar-benar cinta padaku. Malam tadi kau berjanji hendak mengambil benda itu dan memberikan kepadaku. Mana?”

Suara Hui Siang tiba-tiba berubah manja ketika ia menjawab sambil memeluk leher Bun Wan, “Koko yang nakal, kau masih tidak percaya setelah semua yang kulakukan padamu? Badan dan nyawa sudah kuserahkan, apalagi hanya benda macam ini. Sudah sejak tadi kubawa.”

Kiranya gadis itu mengeluarkan sebuah benda yang bukan lain adalah mahkota kuno itu dan diberikannya kepada Bun Wan! Pemuda itu menerimanya, memandangi dan menarik napas panjang. “Heran, benda macam ini saja diperebutkan orang. Hui Siang, andaikata ibumu dan orang-orang lain tidak pergi meninggalkan pulau, kiraku kau tidak akan berani mengambilkan benda ini untukku.”

“Ihh, siapa bilang? Sebaliknya, mana kau berani datang dan malam-malam mencari aku? Hi-hik, agaknya kau sudah amat rindu kepadaku, ya? Dapat kulihat dari pandang matamu ketika kau datang dahulu…….”

“Hemmm, sebaliknya kaupun selalu mengharapkan kedatanganku. Hayo sangkal kalau berani!” Kedua orang itu tertawa-tawa kini, diselingi cumbu rayu yang memanaskan telinga Kun Hong dan membuatnya tidak betah tinggal di tempat persembunyiannya itu.

“Hui Siang, kalau aku sudah membawa pergi mahkota ini dan ibumu kembali, bagaimana kalau ia tanya tentang mahkota ini padamu?” Mendengar pertanyaan Bun Wan ini, seketika Kun Hong menaruh perhatian penuh. Eh, kiranya mahkota yang dia cari-cari itukah yang tadi disebut-sebut sebagai benda oleh mereka? Baru sekarang dia tahu dan perhatiannya tertarik pula.

Hui Siang yang tadi menangis sekarang tertawa-tawa genit. “Apa sukarnya mencari jawaban itu? Aku bilang saja bahwa enci Hui Kauw yang datang dan memaksaku minta mahkota itu. Habis perkara!”

“Enak saja kau membohong, apa ibumu bisa percaya? Kalau hanya ia yang datang, apa kau tidak bisa melawan? Sedikitnya kepandaianmu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya,” bantah Bun Wan. “Ibumu tentu tidak percaya.”

“Koko yang tampan tapi bodoh. Kalau aku bilang bahwa enci Hui Kauw datang bersama si setan buta yang membantunya, tentu ibu percaya.”

Tiba-tiba Kun Hong merasa betapa tubuh Hui Kauw menggigil, napasnya agak memburu, tanda bahwa gadis itu marah bukan main. Benar saja dugaannya, karena Hui Kauw segera meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan membentak,

“Hui Siang apa yang kau lakukan ini? Ke mana harga dirimu sebagai seorang wanita? Kau membiarkan dirimu dipermainkan nafsu dan tiada hentinya kau hendak melakukan fitnah! Kau manusia Bun, sungguh kurang ajar berani kau melanggar susila di sini, keparat!”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati dua orang muda yang sedang tenggelam dalam permainan nafsu, ketika tiba-tiba Hui Kauw muncul sambil membentak marah itu. Lebih-lebih lagi Hui Siang yang merasa amat malu, kaget dan heran. Perasaan-perasaan itu berkumpul menjadi satu dan berubah menjadi kemarahan besar.

“Budak hitam, tutup mulutmu! Ibu sudah tidak mengakui lagi kau sebagai anak angkatnya, kau bukan apa-apa denganku, mau apa kau mencampuri urusanku? Hayo minggat, kau hanya mengotori pulau ini dengan telapak kakimu!” Sambil berkata demikian Hui Siang sudah mencabut pedang dan serta menyerang bekas enci angkatnya itu dengan tusukan kilat.

Hui Kauw tenang saja menghindar sambil berkata, “Hui Siang, betapapun juga, aku masih mengingat hubungan antara kita semenjak kecil. Kau telah tersesat……….” suaranya mengandung kedukaan besar.

“Siapa sudi nasihatmu? Tengok dirimu sendiri, berjina dengan jembel buta masih hendak rnengganggu orang bercinta. Wan-koko, kau bantu aku bunuh mampus setan betina ini!” Kembali Hui Siang menyerang, kini lebih hebat lagi. Dasar ia memang memiliki ilmu pedang yang ganas dan gerakan yang lincah, maka serangan ini tak boleh dipandang ringan. Hui Kauw maklum pula betapa lihainya adik angkat ini, maka sambil melompat menjauhi ia pun mencabut pedangnya. Ia tidak berlaku sungkan lagi dan segera mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yang selama ini dirahasiakan. Kaget bukan main Hui Siang karena tiba-tiba lawannya itu menggerakkan pedang secara aneh dan membingungkan, sama sekali tak dikenalnya dan hebatnya, semua serangannya tenggelam tanpa bekas menghadapi sinar pedang Hui Kauw yang aneh itu. Malah tidak demikian saja, selewatnya sepuluh jurus segulungan sinar pedang Hui Kauw sudah menyelimuti dirinya, menghadang semua jalan keluar dan ia terkurung rapat tanpa dapat balas menyerang lagi.

Tiada habis keheranan menekan hati Hui Siang. Selama ini, biarpun ia tidak berani menyatakan bahwa kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya daripada Hui Kauw yang pendiam dan tidak suka pamer, akan tetapi jika dibilang ia lebih rendah juga tidak mungkin, Sering kali mereka berlatih dan dalam latihan ini tak pernah ia terdesak, biarpun mereka sudah berlatih pedang sampai seratus jurus lebih. Akan tetapi mengapa baru belasan jurus saja ia sudah tidak berdaya oleh jurus-jurus yang amat aneh ini? Mungkinkah ibu menurunkan ilmu istimewa kepadanya tanpa kuketahui? Tak mungkin, pikirnya. Malah beberapa macam ilmu warisan ayahnya telah ia pelajari, di antaranya ilmu menguasai ular-ular, sedangkan Hui Kauw tidak suka mempelajari ilmu ini kecuali ilmu untuk menolak ular.

“Wan-koko……….. kau bantulah aku……….!” Tanpa malu-malu lagi Hui Siang berseru minta tolong kepada kekasihnya.

Sementara itu, Bun Wan tadi berdiri terlongong dengan muka merah padam. Sama sekali dia tidak pernah menyangka bahwa adegan antara dia dengan Hui Siang disaksikan orang. Malunya bukan main, apalagi terhadap Hui Kauw yang sudah dia ketahui wataknya yang halus dan budi pekertinya yang jauh berbeda kalau dibandingkan dengan Hui Siang atau ibunya. Sudah beberapa kali dia datang berkunjung ke pulau ini dan diam-diam dia selalu merasa kagum kepada Hui Kauw, nona bermuka hitam itu. Siapa kira nona yang dia segani dan kagumi ini sekarang menjadi saksi akan perbuatannya bersama Hui Siang yang melanggar susila.

“Bun Wan koko, hayo kau bantu aku!” kembali Hui Siang berseru, kini suaranya penuh penyesalan mengapa kekasihnya itu masih saja bengong dan tidak cepat-cepat membantunya yang sudah amat terdesak oleh gelombang sinar pedang Hui Kauw yang amat aneh.

Bun Wan sadar dari lamunannya dan ketika dia memandang, dia kaget menyaksikan betapa Hui Siang yang ilmu pedangnya sudah amat lihai itu tidak berdaya menghadapi gempuran-gempuran Hui Kauw. Cepat dia mencabut pedangnya dan ketika tubuhnya berkelebat ke depan, sinar pedangnya yang amat kuat itu bergulung bagaikan naga mengamuk.

“Nona Hui Kauw harap mundur!” bentaknya dengan suara nyaring.

Dua gulungan sinar pedang bertemu dan keduanya melompat mundur tiga langkah dengan kaget. Masing-masing mengagumi getaran hebat yang keluar dari pedang lawan. Ilmu pedang Bun Wan adalah Kun-lun Kiam-sut yang sudah terkenal di seluruh permukaan bumi akan kehebatannya. Juga pemuda ini adalah putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja dapat diketahui betapa hebat kepandaiannya apalagi kalau diingat bahwa semenjak kecil memang pemuda ini amat suka berlatih silat dan memang dia memiliki bakat yang baik. Tadi ketika dia menerjang maju untuk mengundurkan Hui Kauw dan menolong kekasihnya yang terdesak, dia hanya mengeluarkan jurus sederhana dengan penggunaan tenaga setengah bagian saja. Namun, kagetlah dia ketika dia merasa betapa pedangnya membentur hawa pedang yang amat ampuh dan luar biasa sehingga memaksa dia melompat mundur tiga langkah.

Sebaliknya, Hui Kauw kaget dan kagum sekali ketika ia dipaksa mundur oleh sinar pedang pemuda Kun-lun ini dalam segebrakan saja. Masing-masing berdiri dalam jarak enam tujuh langkah dan saling pandang seperti hendak mengukur keadaan dan kekuatan masing-masing. Akan tetapi Hui Siang yang sudah amat marah itu segera menerjang lagi, menyerang Hui Kauw dengan besar hati karena ia kini mengandalkan bantuan kekasihnya.

“Hui Siang, kedatanganku ini bukan untuk bertempur denganmu, juga tidak ada urusanku dengan orang Kun-lun ini. Akan tetapi menyaksikan perbuatan kalian yang tak tahu malu, benar-benar aku prihatin. Hui Siang, kau dengarkan kata-kataku…….!” Hui Kauw coba menyabarkan adiknya dan menghindarkan diri dari beberapa tusukan.

“Tutup mulut, budak hitam. Kau harus mampus! Wan-koko, hayo kita binasakan budak hitam kurang ajar ini!” Hui Siang memaki sambil menerjang terus dengan terpaksa Hui Kauw mengangkat pedangnya dan kembali dua orang gadis itu bertempur hebat. Bun Wan sudah menggerakkan pedang hendak membantu, akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dari belakang tubuhnya. Cepat dia membabitkan pedangnya ke belakang, membalikkan tubuh dan mengganti kedudukan kaki sekaligus melakukan tusukan ke arah belakang dengan lengan diputar. Hebat gerakan ini dan seorang lawan yang membokongnya pasti akan dapat dirobohkan dengan jurus yang hebat ini karena tidak akan menduganya. Akan tetapi, matanya hanya melihat bayangan berkelebat lenyap. Begitu cepat gerakan bayangan ini. Tahu-tahu dia merasa punggungnya dilanggar tangan. Cepat bagaikan kilat Bun Wan membalikkan tubuh dan kakinya mendahului dengan tendangan maut ke bawah pusar dan pedangnya berkelebat dari atas pundak menyambar ke arah leher. Dia merasa yakin bahwa serangannya kali ini pasti berhasil. Memang hebat bukan main gerakan pemuda Kun-lun ini, “Bagus…..!” terdengar suara orang memuji dan bayangan itu melompat mundur lima langkah menghindarkan jurus dahsyat dari Bun Wan ini. Kiranya bayangan itu adalah Kun Hong yang kini berdiri dengan tongkat di tangan kanan dan……. mahkota kuno di tangan kiri, tersenyum-senyum dan matanya yang buta tak berbiji itu menggetar.

Berdetak hati Bun Wan ketika melihat siapa orangnya yang tadi diserangnya itu, apalagi ketika melihat mahkota itu. Otomatis tangan kirinya meraba punggung di mana buntalannya tersimpan. Mahkota kuno yang dia terima dari Hui Siang tadi disimpannya di dalam buntalan pakaiannya. Tangan kirinya meraba-raba dan hatinya mengeluh. Mahkota itu sudah lenyap dan terang bahwa yang dipegang Kun Hong itulah mahkota tadi. Wajahnya seketika menjadi pucat. Dia cukup maklum akan kesaktian Kun Hong yang pernah dia saksikan beberapa tahun yang lalu di puncak Thai-san, akan tetapi setelah orang ini menjadi buta, bagaimana agaknya malah lebih lihai daripada dahulu? Betapapun juga, Bun Wan tidak takut dan dia melangkah maju sambil membentak,

“Kwa Kun Hong! Berkali-kali kau menghinaku dan agaknya sengaja hendak menjadi perintang jalan hidupku.”

Kun Hong tersenyum pahit dan menggeleng kepala sambil menarik napas. “Saudara Bun Wan. Memang hidup ini ada kalanya aneh sekali. Agaknya jalan hidup kita sudah ditakdirkan oleh Thian selalu saling memotong. Dahulu aku bersalah padamu, tapi kesalahan yang tidak disengaja sama sekali dan untuk kesalahan itu pun aku sudah mengorbankan banyak sekali. Nyawa orang yang paling kusayang di dunia ini dan anggauta badan yang paling kusayang pula kukorbankan. Akan tetapi sekarang lain lagi, saudara Bun Wan. Aku berdiri di depanmu dan menentangmu bukan tidak sengaja malah, karena kau yang berada di jalan sesat!”

Wajah yang pucat itu menjadi merah lagi, merah padam. Ucapan ini merupakan ujung pedang yang seakan-akan menancap dl ulu hatinya.

“Kwa Kun Hong, agaknya kau memang seorang laki-laki yang tidak suka melihat orang lain bahagia. Aku berbaik dengan seorang gadis cantik, ada hubungan apakah urusan ini denganmu? Apakah kau iri hati dan berusaha hendak merampas lagi seperti dulu? Ho-ho, belum tentu bisa sekarang, sahabat, karena matamu yang buta itu tidak menarik lagi dipandang!”

Kun Hong menggeleng kepala, suaranya terdengar keren, “Bun Wan, biarpun urusanmu dengan orang-orang wanita tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi aku mengingat akan hubungan antara orang-orang tua kita, maka sudah sepatutnya pula kalau aku menegur sikapmu yang tidak baik. Bukanlah seorang gagah kalau suka mempermainkan wanita secara rendah! Meminang dan berjodoh sudah ada aturan-aturannya sendiri dan kau maklum bahwa siapa yang melakukan hubungan di luar nikah, dia adalah manusia berwatak rendah seperti binatang! Akan tetapi, kali ini aku tidak ada waktu mengurus hal itu. Yang kumaksudkan tadi adalah mengenai mahkota ini. Benda ini bukan milikmu, juga bukan milik penghuni Ching-coa-to. Aku tahu siapa yang berhak memiliki mahkota ini, oleh karena itu harus kuambil kembali.”

“Kun Hong, kau terlalu menghinaku! Kembalikan mahkota itu!” bentak Bun Wan sambil menerjang dengan pedangnya.

Kun Hong cepat mengelak dan diam-diam dia mengagumi gerakan pedang yang hebat ini. Terpaksa diapun menggunakan tongkatnya untuk menghadapi lawan tangguh ini. Tiga belas kali berturut-turut dia menangkis sambil berkata,

“Bun Wan, aku tidak ingin bertempur denganmu, tidak ingin bermusuh denganmu. Percayalah, mahkota ini akan kuserahkan kepada yang berhak menerima. Kau biarkan aku pergi dengan aman dari pulau ini.”

Akan tetapi mana Bun Wan mau mengalah begitu saja? Dia menghendaki mahkota itu bukan semata-mata karena ingin memilikinya atau untuk dijadikan tanda cinta kasih Hui Siang, sama sekali bukan. Ada alasan yang lebih kuat baginya untuk memiliki mahkota itu, maka dia sekarang menjadi nekat dan melawan.

Pedang di tangan Bun Wan meluncur dengan gerakan miring dari samping kiri, menjurus ke arah tubuh bagian bawah lengan atau iga kanan Kun Hong. Gerakan ini selain miring juga agak memutar sehingga sekelebatan hawa tusukannya akan terasa datang mengarah punggung, sedangkan kaki kanan Bun Wan dibanting ke depan untuk disusul tendangan kaki kiri ke arah sambungan lutut lawan. Inilah gerak tipu dalam jurus Sin-seng-kan-goat (Bintang Sakti Mengejar Bulan) dari Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut. Cepat dan kuatnya bukan kepalang!

Kun Hong yang hanya mengandalkan pendengaran dan perasaannya, kaget juga akan perubahan angin tusukan pedang yang berubah-ubah itu, cepat dia menekuk lutut mendoyongkan tubuh ke belakang, mencokel dengan tongkatnya ke arah ujung pedang lawan, kemudian maklum akan gerak susulan tendangan itu, siku lengannya memapaki untuk menotok pergelangan kaki lawan dengan ujung siku. Aneh dan cepat gerakannya Kun Hong ini dan hampir saja kaki Bun Wan kena dihajar. Pemuda Kun-lun ini mengeluarkan seruan kaget dan heran, cepat dia menahan kakinya dan menggeser kaki itu ke kanan untuk meluputkan diri dari serangan susulan lawan. Akan tetapi ternyata Kun Hong tidak menyerangnya. Orang buta ini hanya diam tidak bergerak, siap sedia menanti penyerangan berikutnya.

Bun Wan mengeluarkan bentakan nyaring, mengumpulkan seluruh tenaga dalam dan pedangnya berputaran cepat berubah menjadi gulungan sinar seperti payung, kemudian dari gulungan sinar itu menyambar cahaya tiga kali berturut-turut, sekali mengarah tenggorokan, kedua kali mengarah ulu hati dan ketiga kalinya mengarah pusar. Kiranya pemuda Kun-lun itu dalam penasarannya telah mempergunakan jurus-jurus simpanannya. Gerakan pertama tadi adalah jurus yang disebut Kim-mo-sam-bu (Payung Emas Menari Tiga Kali) disusul gerakan menyerang Lian-cu-sam-kiam (Tiga Kali Tikaman Berantai).

“Hebat……….!” Kun Hong memuji dan terpaksa diapun mengeluarkan kepandaian simpanannya untuk menghadapi serangan yang amat dahsyat ini. Dari angin serangan saja dia maklum bahwa jangankan ujung pedang, baru angin yang datang oleh gerakan menikam ini saja mengandung bahaya besar karena mampu membolongi baju menembus kulit daging. Dia berseru keras dan tongkat di tangannya berubah menjadi kemerahan yang bergulung-gulung dan mengeluarkan hawa dingin. Tidak terdengar suara benturan senjata, namun tahu-tahu pedang di tangan Bun Wan itu tiga kali terpental balik, malah yang ketiga kalinya hampir saja melanggar pundak pemuda itu sendiri. Hampir saja senjata makan tuan kalau Bun Wan tidak cepat-cepat melepaskan pegangannya dan membiarkan pedangnya terpukul runtuh! Dia berdiri dengan muka pucat, memandang pedangnya di atas tanah dan bergantian memandang pemuda buta yang kini berdiri tegak di depannya dengan tongkat melintang di depan dada. Dada Bun Wan serasa akan meledak. Dahulu pernah dia terhina oleh Kun Hong dalam urusan tunangannya, Cui Bi, yang “diserobot” pemuda ini. Sekarang, untuk kedua kalinya dia menerima penghinaan, malah lebih hebat lagi.

Sementara itu, Hui Siang juga mati kutunya menghadapi Hui Kauw. Kalau Hui Kauw mau sudah sejak tadi ia dapat merobohkan adiknya. Akan tetapi ia tidak tega dan sekarang melihat betapa Bun Wan sudah kalah iapun berseru nyaring, terdengar suara keras dan pedang di tangan Hui Siang mencelat dan terbang entah ke mana! Gadis cantik jelita yang galak itu, seperti juga Bun Wan, telah dilucuti. Kini iapun berdiri tegak di depan Hui Kauw dengan mata mendelik penuh kebencian. Akan tetapi Hui Kauw tidak perduli kepadanya, melainkan bergerak melangkah ke depan Bun Wan. Matanya mengeluarkan sinar berapi-api yang membuat Bun Wan bergidik. Ada sesuatu dalam sikap nona muka hitam ini yang membuat dia tunduk dan bergidik.

“Orang she Bun! Tanpa sengaja aku tadi sudah mendengar semua perbuatanmu yang tak senonoh dan merusak kehormatan nama penghuni Ching-coa-to. Ingat baik-baik ucapanku ini. Biarpun mulai sekarang aku tidak menjadi penghuni Ching-coa-to lagi, akan tetapi kalau kelak aku mendengar bahwa kau tidak bertanggung jawab dan tidak mau menikah dengan adikku Hui Siang secara sah, aku bersumpah akan mencarimu, dan mengadu nyawa!”

“Saudara Bun Wan, ucapan nona Hui Kauw ini memang betul. Sebagai laki-laki sudah berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” kata pula Kun Hong.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: