Pendekar Buta ~ Jilid 18

Song-bun-kwi memandang dengan mata bersinar-sinar saking kagum dan gembira hatinya. Matanya sampai dipaksa supaya jangan berkedip agar dia dapat mengikuti semua gerakan pemuda itu dengan baik.

Kun Hong mengumpulkan seluruh tenaganya, tapi merasa betapa dua macam tenaga yang berlawanan berkumpul dan berputaran di dada, membuat dadanya sesak. Dia hendak memaksa tenaga itu keluar melalui kedua lengannya, akan tetapi sukar sekali dan akhirnya dia menarik kembali tenaganya, menurunkan kedua tangan, tidak jadi menyerang ke depan.

“Eh, kenapa??” Song-bun-kwi berteriak, kecewa dan marah. “Kenapa tidak kau teruskan? Sudah bagus sekali tadi!”

Kun Hong menarik napas panjang dan menggeleng kepala. “Saya tidak bisa, Locianpwe. Tidak bisa memaksa hati membenci pohon apalagi kalau membayangkan bahwa pohon ini adalah pengganti seorang manusia, hati menjadi ngeri………”

Song-bun-kwi membanting-banting kakinya. Benar-benar seorang pemuda yang berhati lemah dan berwatak halus. Masa terhadap sebatang pohon saja tidak tega menjatuhkan tangan maut?

“Bodoh kau! Ini penting untuk latihan. Anggap saja bahwa pohon itu musuhmu!”

“Saya tidak punya musuh, Locianpwe.”

“Apa? Kau bisa bilang tidak punya musuh? Sudah lupa lagikah kau betapa Thai-san-pai dibakar orang, adikmu Cui Sian diculik orang dan rumah tangga pamanmu Beng San menjadi rusak berantakan? Yang berdiri di depanmu itu bukan lagi pohon biasa, dia adalah musuhmu yang telah berlaku keji dan jahat terhadap Thai-san-pai.”

Mendadak Kun Hong mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya bergerak seperti tadi, lalu seperti kilat nyambar kedua tangannya itu menyerang dengan berbareng, melakukan gerak jurus yang maha dahsyat itu. Tongkat berkelebat menjadi sinar merah menembus pohon, tangan kiri mencengkeram dan……. pohon itu masih tetap berdiri tanpa bergoyang sedikitpun sedangkan Kun Hong sudah melompat ke belakang dengan berjungkir balik beberapa kali.

“Hebat……….. hebat………..!” kakek itu bersorak. Angin datang bertiup menggerakkan daun-daun pohon itu dan……… lambat pohon itu tumbang, patah di tengah-tengah di mana tadi dilalui sinar merah, roboh mengeluarkan suara hiruk-pikuk dan batang sebelah atas remuk-remuk terkena cengkeraman tangan kiri Kun Hong tadi. Kiranya tadi hanya kelihatannya saja tidak apa-apa, padahal batang pohon itu telah patah-patah dan bagian yang dicengkeram telah remuk di bagian dalam!
“Bagus sekali, Kun Hong! Dengan jurus ini agaknya kau yang akan dapat membalaskan sakit hati pamanmu. Mudah diduga bahwa musuh yang dapat mengacau dan merusak ketenteraman di Thai-san-pai, pasti adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau kau berhasil bertemu dengan mereka dan tak dapat mengalahkan mereka dengan ilmu silat biasa, kau pergunakanlah jurus ini.”

“Saya akan mencari mereka, Locianpwe,” kata Kun Hong dengan suara penuh dendam. “Saya akan mencari pembunuh paman Tan Hok, mencari mereka yang melakukan fitnah dan mengadu domba antara Thai-san-pai dengan orang-orang gagah, mencari penculik adik Cui Sian.”

“Jurus tadi hanya kau seorang yang mampu melakukan, tapi karena tercipta di luar kesadaranmu dan aku yang pertama kali melihatnya, maka aku yang hendak memberi nama,” kata kakek itu sambil tertawa bergelak, nampaknya puas sekali.

“Terserah kepada Locianpwe.”

“Jurusmu tadi tercipta karena peluapan rasa duka dan amarah, jurus yang hanya dapat dilakukan tanpa membahayakan diri sendiri dengan landasan dendam, maka kuberi nama jurus serangan Sakit Hati. Bagaimana pikirmu, cocok tidak?”

Di dalam hatinya Kun Hong tidak setuju. Sejak dahulu dia menganggap bahwa asas dendam dan sakit hati amatlah berlawanan dengan pribudi dan kebajikan. Kalau sekarang dia hendak mencari orang-orang yang merusak Thai-san-pai, mencari penculik Cui Sian, kalau perlu memhukum atau membasmi mereka, semata-mata karena dia menganggap orang-orang itu amatlah jahat dan kalau dibiarkan dan tidak ditentang tentu akan makin merajalela dan mendatangkan banyak malapetaka di dunia ini. Sekali-kali bukan karena dendam dan sakit hatinya. Akan tetapi, oleh karena dia sendiri maklum bahwa tanpa adanya Song-bun-kwi, dia sendiri tidak akan dapat menemukan jurus hebat ini, maka dia anggap bahwa jurus itu adalah hasil ciptaan Song-bun-kwi, maka kakek itulah yang berhak memberi nama.

“Saya setuju, Locianpwe.” Kemudian dtsambungnya, “Locianpwe, karena paman Beng San tertimpa malapetaka hebat, saya rasa hal yang paling dahulu harus dilakukan adalah memberi tahu kepada putera-puteranya.”

Betul katamu, memang harus demikianlah. Biarpun Kong Bu goblok, akan tetapi dia putera Beng San dan wajib dia membantu untuk mencari adiknya serta membalas sakit hati ini. Juga Sin Lee di Luliang-san harus diberi tahu. Kun Hong, biarlah aku sendiri yang akan memberi tahu kepada dua orang itu, ini termasuk kewajibanku. Kau sendiri hendak ke mana sekarang?”

“Saya adalah seorang buta, Locianpwe. Tentu amatlah sukar untuk melakukan penyelidikan seorang diri. Oleh karena itu, saya bermaksud pergi ke kota raja untuk mencari para anggauta kaipang (perkumpulan pengemis), karena dari mereka ini agaknya saya akan dapat mencari keterangan tentang orang-orang jahat yang memusuhi Thai-san-pai. Selain itu, juga saya mempunyai urusan penting yang ada hubungannya dengan mahkota ini, untuk saya sampaikan kepada yang berhak.”

Song-bun-kwi sebetulnya amat suka dekat dengan Kun Hong dan bercakap-cakap dengan si buta ini. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar, tentu, saja dia tidak suka melakukan perjalanan berkawan. Apalagi sekarang mereka mempunyai tujuan masing-masing, maka dia segera menepuk-nepuk pundak Kun Hong dan berkata,

“Kita berpisah di sini. Ingat, Kun Hong, lekas kau mencari jodoh dan jangan lupa, anakmu kelak akan menjadi muridku!”

Kun Hong tersenyum pahit dan mukanya menjadi merah. Dia tidak dapat menjawab, hanya mengangguk-angguk, lalu menjura dalam ketika dia mendengar betapa kakek itu berkelebat cepat pergi dari situ. Hanya suara ketawanya saja terdengar dari tempat yang sudah jauh. Dia menarik napas panjang dan kagum sekali. Kakek itu memang aneh, kadang-kadang amat kejam seperti iblis kata orang, akan tetapi Kun Hong maklum bahwa pada dasarnya kakek ini hanyalah seorang manusia biasa yang mempunyai kelemahan-kelemahannya. Diapun lalu berjalan perlahan, meraba-raba dengan tongkatnya dengan tujuan bertanya orang jalan ke kota raja.

*****

Loan Ki adalah seorang gadis yang berdarah perantau. Tak dapat ia bertahan untuk terlalu lama tinggal di rumah. Semenjak kecil sudah biasa ia melakukan perjalanan jauh, merantau bersama ayahnya. Bahkan semenjak ia berusia lima belas tahun, ketika ayahnya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya sudah cukup tinggi, dara lincah ini sudah melakukan perantauan seorang diri!

Telah dituturkan di bagian depan betapa Pek-tiok-lim, tempat tinggal Tari Beng Kui di tepi laut Po-hai, didatangi Song-bun-kwi sehingga menimbulkan kekacauan, malah beberapa orang anak buah Pek-tiok-lim tewas dan akhirnya oleh kecerdikan dan kepandaian bicara Loan Ki, Song-bun-kwi suka pergi dari tempat itu.

Tan Beng Kui adalah seorang yang memiliki ambisi (cita-cita) besar. Di dalam cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas dapat kita baca betapa beberapa kali tokoh ini berusaha untuk mencari kedudukan tinggi, akan tetapi selalu usahanya hanya gagal. Sekarang, biarpun usianya sudah agak tua, ketika dia mendengar tentang perebutan kekuasaan dan tentang kekacauan di kota raja, timbul lagi penyakit lama ini.

“Loan Ki,” katanya, sehari setelah keributan terjadi karena kedatangan Song-bun-kwi, “sekarang kau harus tinggal dan berjaga di rumah. Kedatangan Song-bun-kwi yang dibawa oleh seorang kaki tangan kota raja, tentu ada sebabnya dan aku ingin sekali ke kota raja untuk menyelidiki dan melihat, apakah yang terjadi di sana.” Maka pergilah Tan Beng Kui dari Pek-tiok-lim, meninggalkan anak gadisnya seorang diri, tentu saja bersama para anak buah Pek-tiok-lim yang puluhan orang banyaknya. Biarpun tidak berhasil menduduki pangkat di kota raja, Tan Beng Kui telah berhasil menjadi seorang yang kaya raya dan hidup sebagai raja kecil di Pek-tiok-lim itu, dengan rumah-rumah gedung mewah dan besar di tengah hutan dan mempunyai anak buah yang kuat-kuat. Di dalam rumah gedung, Loan Ki dilayani oleh para pelayan yang banyak pula jumlahnya, hidup sebagai seorang puteri. Adapun ibu anak ini sudah lama meninggal ketika Loan Ki masih kecil.

Baru beberapa hari setelah ayahnya pergi, Loan Ki sudah tidak dapat tahan lagi tinggal di rumah seorang diri. Maka, tanpa memperdulikan pencegahan para pelayan tua yang mengingatkannya bahwa ayahnya tentu akan marah kalau pulang tidak melihatnya, Loan Ki memaksa diri pergi meninggalkan Pek-tiok-lim. Beberapa jam kemudian ia sudah meninggalkan Pek-tiok-lim seorang diri, menggendong sebungkus pakaian, membekal potongan-potongan emas dan perak, tidak ketinggalan tiga butir mutiara itu dibawanya serta. Pakaiannya serba hitam, terbuat daripada kain yang mengkilap seperti sutera, potongan pakaiannya ringkas dan ketat, di pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek. Rambutnya yang hitam dan panjang itu ia gelung ke atas dan ditutup dengan kain kepala berwarna hitam pula, ikat pinggangnya dari sutera kurung emas, demikian pula warna saputangan yang mengikat lehernya serta sepatunya. Dari jauh ia seperti seorang pemuda saja, namun segala gerak-geriknya secara menyolok menyatakan bahwa ia adalah seorang muda kang-ouw yang melakukan perjalanan mengandalkan perlindungan pedang dan ilmu silatnya.

Siapapun dia yang menyaksikan Loan Ki melakukan perjalanan pasti akan ikut gembira. Gadis yang berwajah cantik jelita ini selalu berseri mukanya, mulut yang manis itu selalu tersenyum dan sepasang matanya bersinar-sinar. Memang sudah biasa bagi Loan Ki untuk memandang segala keadaan di dunia ini dari sudut yang menggembirakan. Ia gadis jenaka yang tak pernah mau mengenal susah.

Beberapa jam setelah keluar dari Pek-tiok-lim, ia sudah tampak berjalan ke selatan, kadang-kadang berloncatan dan berlari cepat, kadang-kadang berjalan lambat-lambat menikmati keindahan tamasya alam di sepanjang jalan. Kalau sudah melakukan perjaianan seorang diri seperti ini, baru gadis ini merasakan kebahagiaan hidup bebas. Sekerat roti kering rasanya jauh lebih lezat daripada bermacam masakan yang biasa dihidangkan di rumahnya. Air pancuran di gunung rasanya lebih segar daripada air teh wangi di rumahnya. Tidur di atas cabang pohon besar lebih nikmat daripada tidur di atas ranjang dalam kamarnya yang mewah.

Tiga hari semenjak ia meninggalkan Pek-tiok-lim, tibalah ia di dalam hutan Pegunungan Shan-tung yang amat lebat dan liar. Hutan besar itu sama sekali tidak menakutkan hati Loan Ki, sebaliknya malah mendatangkan kegembiraannya. Alangkah indahnya sinar matahari menerobos di antara daun-daun pohon yang rindang. Terdengar suara auman binatang-binatang buas yang bagi gadis perkasa ini malah menambah gembiranya suasana. Tiba-tiba ia mendengarkan penuh perhatian. Sebagai seorang gadis perantau yang sudah sering kali menghadapi bahaya serangan binatang buas di tengah hutan, ia dapat mengenal suara harimau yang sedang marah dan bertemu lawan. Gadis ini kuatir kalau-kalau binatang buas itu sedang mengancam keselamatan seorang manusia, maka cepat ia lalu berlari menuju ke arah suara itu.

Benar saja dugaannya. Ia melihat seekor harimau besar sekali, sebesar anak lembu sedang menghadapi seorang laki-laki yang kelihatan tenang-tenang saja. Harimau itu berindap-indap maju dengan perut diseret di atas tanah, kadang-kadang mengeluarkan auman yang dapat membuat seorang penakut menggigil ketakutan. Akan tetapi laki-laki itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, matanya tajam menentang, sikapnya tenang waspada, malah mulutnya agak tersenyum seakan-akan ia merasa gembira.

Loan Ki dapat menduga bahwa laki-laki yang berpakaian aneh itu tentu seorang kuat, maka ia cepat meloncat ke atas sebatang pohon besar, duduk di atas cabang pohon itu dan diam-diam ia mempersiapkan diri untuk melayang turun dan menolong andaikata orang itu terancam bahaya. Dengan mata kagum ia memperhatikan orang itu. Usianya masih muda, kira-kira sebaya dengan Kun Hong Si Pendekar Buta. Akan tetapi tubuh orang ini jauh lebih tegap dan nampak kuat sekali. Pakaiannya aneh. Bajunya telah dibuka dan baju itu kini tergantung di pundaknya. Agaknya dia tadi merasa panas dan membuka bajunya. Tinggal celananya berwarna kebiruan, ringkas dan di bagian bawahnya tertutup pembalut kaki sebagai pengganti kaos kaki. Sepatunya dari kulit. Tubuh atas yang telanjang itu berkilat-kilat karena peluh, urat-uratnya melingkar-lingkar membayangkan tenaga yang dahsyat. Rambut laki-laki itu aneh pula. Digelung ke atas, di tengah-tengah rambut ditusuk dengan sebuah tusuk konde hitam, ujung rambut dibiarkan terurai ke belakang. Seperti bentuk rambut seorang pendeta tosu, tapi lain lagi. Pendeknya, aneh dalam pandangan Loan Ki dan belum pernah ia melihat seorang laki-laki dengan gelung rambut seperti itu. Di pinggang laki-laki itu tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang indah, terukir dan berwarna keemasan. Demikian pula gagang pedang itu. Akan tetapi anehnya, sarung pedang itu agak melengkung dan gagang pedang itu terlalu panjang menurut ukuran dan anggapan Loan Ki. Wajah laki-laki itu gagah dan tampan, pendeknya, dalam pandangan Loan Ki, laki-laki itu amat menarik hati dan aneh sekali.

Ketika harimau itu sudah dekat, laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti orang berkata-kata dan tertawa-tawa. Tampaklah kadang-kadang giginya yang putih berkilau ketika dia tertawa. Loan Ki makin tertarik. Jelas bahwa laki-laki ini seorang yang memiliki kepandaian. Kalau tidak, mana mungkin bisa tertawa-tawa seenak itu menghadapi seekor harimau yang amat besar dan buas ini. Kekhawatirannya berkurang, biarpun ada keraguan di dalam hatinya. Harimau itu adalah harimau betina yang amat galak, dan ia cukup mengenal kehebatan harimau seperti ini. Tidak sembarang orang akan dapat mengalahkannya. Benarkah laki-laki aneh itu memiliki kepandaian cukup tinggi untuk menyelamatkan diri? Ataukah, jangan-jangan dia seorang yang miring otaknya? Ucapan yang keluar dari mulutnya tadi seperti ucapan orang gila, sama sekali ia tidak mengerti artinya.

Ketika melihat betapa laki-laki itu menghentak-hentakkan kakinya dan berteriak-teriak seperti orang menghardik dan mengancam, wajahnya berseri-seri kelihatan gembira sekali, Loan Ki mengerutkan kening. Agaknya benar telah gila orang ini, kenapa mengajak harimau itu bermain-main, tidak lekas mencabut pedangnya? Anehnya, harimau itupun agaknya selama hidupnya baru kali ini bertemu dengan seorang manusia seberani itu, maka tampak ragu-ragu, ekornya yang panjang bergerak perlahan. Harimau itu tiba-tiba mendekam dan Loan Ki berdebar jantungnya. Ia tahu apa artinya itu. Harimau itu hendak melompat dan menerkam, dan biasanya gerakan ini amat hebat, kuat dan cepat sekali. Dan laki-laki itu masih tenang-tenang saja berdiri mengejek, seakan-akan tidak akan terjadi sesuatu.

Harimau itu mengeluarkan gerengan yang hebat, seakan-akan menggetarkan seluruh hutan dan tubuhnya yang besar itu menerkam dengan loncatan yang tak dapat dibayangkan cepatnya, menubruk dengan dua cakar kaki depan dan taring mulut yang terbuka lebar.

Celaka, pikir Loan Ki, menolong pun terlambat sekarang. Mengapa dia begitu sombong sehingga aku enggan menolongnya? Agak ngeri ia, akan tetapi dasar gadis pendekar yang tabah, matanya terbelalak memandang penuh perhatian.

Ia melihat betapa dengan cekatan orang muda itu melompat ke kiri, disusul kilatan sinar pedang dan jeritan, “Yaaatt………..! Yaaat!!” dua kali sinar pedang berkelebat dua kali menyilaukan mata dan……….. tubuh harimau besar itu terbanting roboh tak bergerak lagi, lehernya hampir putus dan perutnya terobek berantakan!

Loan Ki melongo. Ilmu pedang apa itu? Pemuda itu masih memegangi pedangnya yang berkilauan saking tajamnya cara memegangnya aneh, dengan kedua tangan memegangi gagang pedang yang panjang dan pedang itu agak melengkung bentuknya. Bukan main! Ilmu pedang yang amat aneh dan lucu, akan tetapi ganas luar biasa. Yang amat mengagumkan hati Loan Ki adalah kehebatan tenaga orang itu, di samping ketabahan dan ketenangannya yang patut dipuji.

Dengan tenang dan muka berseri, pemuda aneh itu membersihkan pedangnya dari darah dengan cara menggosok-gosok senjata itu pada kulit harimau yang berbulu indah, baru dia memasukkan pedang di dalam sarungnya lagi. Lalu dengan muka gembira sekali dia mencabut sebatang pisau pendek yang amat tajam, tangannya bekerja cepat dan tahu-tahu dia telah mengiris putus paha kanan sebelah belakang dari binatang itu, terus dipanggulnya pergi ke arah sebatang anak sungai yang mengalir tak jauh dari tempat itu. Sisa bangkai harimau itu dia tinggalkan begitu saja.

Loan Ki dalam keheranan dan kekagumannya terus mengikuti dari jauh. Ia bersembunyi di balik gerombolan pohon, mengintai dan ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan pemuda aneh itu. Tadi ketika melihat pemuda itu menggunakan pisau, ia mengira bahwa pemuda itu seorang pemburu. Akan tetapi kemudian perkiraan ini ia bantah sendiri. Tak mungkin seorang pemburu akan meninggalkan kulit harimau yang begitu berharga dan hanya pergi membawa sebuah paha.

Pemuda aneh itu berjongkok di pinggir anak sungai menyalakan api, membuat gantungan di kanan kiri api dan ternyata dia mulai memanggang paha harimau itu. Dia tertawa senang dan hidungnya kembang-kempis, beberapa kali dia bicara dengan bahasa yang tak dimengerti Loan Ki. Gadis ini pun hidungnya mulai kembang-kempis ketika mencium bau sedap dan gurih dari daging harimau yang dipanggang itu. Perutnya memang sudah lapar, sekarang mencium bau daging panggang, alangkah sedapnya!

Tiba-tiba keningnya berkerut, matanya terbelalak, kemudian mendadak ia membuang muka dan meramkan mata. Apa yang terjadi? Pernuda itu ternyata menanggalkan semua pakaiannya dan dengan bertelanjang bulat pemuda itu terjun ke dalam air anak sungai yang amat jernih.

“Anak setan!” Loan Ki memaki, geli sendiri. “Kurang ajar betul dia, berani bertelanjang di depan mataku?” Kemudian ia teringat bahwa pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa ada orang mengintai, maka tentu saja tidak bisa dibilang kurang ajar. Wajahnya memerah karena sebetulnya ia sendirilah yang kurang ajar, mengintai orang mandi. Kemudian timbul pikiran yang amat nakal. Memang Loan Ki seorang gadis remaja yang nakal sekali.

Ia memandang lagi dengan lega hatinya melihat bahwa orang itu mandi dengan naerendam tubuh sebatas dada, jadi leluasa ia memandang. Ia melihat betapa pemuda itu dengan tubuhnya yang berotot kekar berkali-kali menyelam ke dalam air. Cepat ia menyelinap di antara pepohonan menanti saat baik. Sementara itu, daging paha harimau itu agaknya sudah matang, baunya membuat ia tak kuat menahan laparnya lagi. Pada saat pemuda itu sekali lagi menyelam, cepat laksana kijang melompat, Loan Ki keluar dari tempat sembunyinya dan sekali sambar kayu yang menusuk paha itu telah berada di tangannya dan ia cepat melompat dan lenyap menyelinap di balik semak-semak belukar.
Di lain saat, gadis itu telah duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon yang tinggi, repot sendiri. Sibuk ia meniup-niup daging yang panas, menggigit, mengunyah dan tertawa-tawa ditahan sambil mendesis-desis kepanasan dan keenakan. Gurih dan sedap bukan main paha harimau yang setengah matang itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara banyak orang di bawah. Kiranya ada dua puluh orang lebih lewat di bawah pohon dan kagetlah ia ketika mengenal bahwa yang lewat itu adalah para perampok, anak buah Hui-houw-pang. Ia mengenal mereka karena yang mengepalai rombongan ini bukan lain adalah ketua Hui-Houw-pang yang bernama Lauw Teng, si kepala rampok gemuk pendek bermuka kuning yang pernah ia permainkan dahulu itu. Orang-orang itu agaknya sudah melihat si pemuda aneh yang sedang mandi, buktinya mereka berseru dan pergi ke tempat itu.

Sekali lagi terpaksa Loan Ki meramkan mata. Kali ini ia tidakk menbuang muka karena sedang asyik menggerogoti paha harimau, akan tetapi ia meramkan mata rapat-rapat ketika melihat betapa laki-laki itu meloncat ke luar dari dalam air sambil mengeluarkan suara yang tak dimengertinya, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang itu tentu memaki-maki. Geli juga hatinya dan sejenak kemudian ia mengintai dari balik bulu matanya yang panjang. Belum berani ia membuka matanya dan mata kiri yang dibuka sedikit saja itu siap ditutup kembali cepat-cepat kalau orang aneh itu masih juga belum berpakaian.

Akan tetapi setelah mengintai dari balik bulu mata, ia menjadi lega dan dibukanya sepasang mata yang lebar dan jelita itu terbelalak. Ia melihat betapa laki-laki aneh itu sudah berpakaian, malah bajunya sedang dipakai. Dia marah-marah memaki-maki dengan bahasa asing itu, menuding-nuding ke arah rombongan Lauw Teng dan ke arah api unggun yang sudah mulai padam di mana tadi paha harimau dipanggangnya.

Lauw Teng dan rombongannya agaknya juga bingung menghadapi orang yang tidak dimengerti bahasanya itu. Tiba-tiba seorang anak buah perampok itu berseru,

“Wah, dia orang Jepangl Dia tentu bajak laut Jepang, entah bagaimana bisa kesasar ke sini!”

Ramai mereka bicara dan semua orang sudah mencabut senjata untuk mengeroyok bajak laut Jepang yang selalu dimusuhi oleh semua orang itu.

Mendadak orang aneh itu bicara dalam bahasa daerah yang kaku, akan tetapi cukup jelas dan lancar, “Tutup mulut! Enak saja kalian menyangka orang. Aku memang orang Jepang, akan tetapi sama sekali bukan bajak laut!”

Tiba-tiba matanya memandang ke arah belakang rombongan di mana terdapat beberapa orang wanita yang dibelenggu kedua tangannya dan ujung rantai panjang dipegang oleh beberapa orang pula seperti orang-orang menuntun domba saja. Orang itu memaki-maki lagi dalam bahasa Jepang, lalu menudingkan telunjuknya ke arah orang-orang perempuan itu dan bertanya,
“Siapa mereka itu? Kalian ini mau apa menangkapi mereka? Heh, kalian menyebut aku bajak laut, agaknya kalian inilah bangsa penjahat yang menculik gadis-gadis orang!”

Lauw Teng melangkah maju, suaranya keren, “Hei, orang asing, jangan kau berlancang mulut! Ketahuilah, kau berhadapan dengan Hui-houw-pang, dan akulah Hui-houw-pangcu Lauw Teng. Hayo menyerah menjadi tawanan kami, agar sekalian kami bawa ke kota raja, daripada kau menjadi makanan golokku yang takkan mengenal ampun lagi.”

Laki-laki Jepang itu tertawa pendek, lalu menepuk dada dengan tangan kiri dan menepuk gagang pedangnya dengan tangan kanan “HuH, kiranya kalian ini hanya ular-ular tanah biasa. Wah, memang nasibku, jauh-jauh datang dari negeriku untuk mencari guru yang pandai di sini, kiranya yang kujumpai sama sekali bukan guru-guru pandai, melainkan penjahat-penjahat biadab. Eh, Lauw Teng, tentang menangkap aku menjadi tawanan mudah saja, akan tetapi katakan dulu siapakah wanita-wanita itu dan mengapa kau menculiknya? Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan perbuatannya.”

Lauw Teng tertawa bergelak. Agaknya ucapan ini menggelikan hatinya. Dia mengangkat dada dan berkata, “Orang gila… dengarlah baik-baik. Memang pekerjaan kami adalah penjaga gunung dan hutan, akan tetapi bukanlah, tukang-tukang menculik gadis-gadis cantik. Ketahuilah, gadis-gadis ini akan kami bawa ke kota raja, karena kaisar baru sedang mengadakan pemilihan gadis-gadis cantik untuk menambah jumlah selir-selir barunya. Yang dengan suka rela hendak memasuki pemilihan itu tentu diangkut dengan tandu, akan tetapi gadis-gadis kepala batu yang menolak ini terpaksa kami belenggu dan kami bawa dengan paksa.”

Laki-laki itu menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jepang, membanting kaki kanannya, lalu berkata, “Keparat………. Kiranya di mana-mana sama saja. Orang-orang besar hanya memuaskan nafsu jahatnya, tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan. Aha, penjahat-penjahat rendah. Untuk perbuatan kalian mencuri daging panggangku, aku mau memberi ampun. Akan tetapi untuk perbuatan menculik gadis itu, jangan harap aku dapat mengampuni kalau kalian tidak segera membebaskan mereka!”

“Aduh………..!” Loan Ki baiknya dapat menahan jeritnya sambil menutup mulut dengan tangan. Ia tadi makan daging sambil seluruh perhatiannya tertuju ke bawah, amat kagum mendengar ucapan orang asing yang ternyata seorang Jepang itu. Begitu asyik ia mendengarkan sampai-sampai beberapa kali ia kena menggigit tulang paha, malah baru saja ia salah menggigit bibir sehingga tanpa terasa ia mengeluarkan keluhan mengaduh!

“Huh, dasar daging curian, dimakan pun mendatangkan celaka!” gerutunya sambil melempar paha yang tinggal tulang-tulangnya saja itu. Bibirnya agak menyendol oleh gigitan tadi. Ia kini nongkrong di atas cabang dan mengintai terus, hatinya tertarik sekali dan kegembiraan memenuhi hatinya karena ia merasa yakin akan menyaksikan pertandingan yang menarik.

Sementara itu, ketua Hui-houw-pang sebetulnya kagum melihat pemuda Jepang yang bertubuh kokoh kuat dan bersikap gagah itu. Diam-diam dia merasa sayang dan alangkah baiknya kalau dia dapat menarik orang ini menjadi anak buahnya, karena selain dia dapat menggunakan tenaganya, juga orang ini tentu akan dapat dijadikan perantara untuk berhubungan dengan para bajak Jepang yang terkenal itu untuk menambah kekuatan Hui-houw-pang. Maka dia lalu berkata,

“Orang muda Jepang, kau benar-benar sombong. Kalau kau hendak mencari guru, tak usah jauh-jauh, sekarang juga kau sudah berhadapan dengan seorang guru. Siapakah namamu dan kalau kau mau, aku suka menerima kau sebagai muridku.”

Pemuda itu mengerutkan alisnya yang tebal panjang berbentuk golok, memandang tajam. “Kau………..? Kepala tukang culik gadis menjadi guruku? Hemm, aku Nagai Ici di negeriku terkenal dengan julukan Samurai Merah! Orang yang patut menjadi guruku harus dapat mengalahkan pedang samuraiku lebih dulu!”

“Buaya Jepang, jangan menjual lagak di sini!” bentak seorang anak buah Hui-houw-pang yang menjadi kaki tangan Lauw Teng. Perampok itu bcrtubuh tinggi besar dan terkenal akan tenaganya yang seperti gajah. Melihat betapa seorang pemuda Jepang yang tubuhnya hanya sedang saja besarnya berani menghina dan menantang kepalanya, dia tak dapat menahan sabar lagi. “Pangcu (ketua), biarlah saya menghajarnya!”

Lauw Teng menganggukkan kepala. Memang dia ingin menguji kepandaian orang Jepang ini agar dia dapat menilai sampai di mana kemampuannya. Pembantunya itu sambil berseru keras lalu menyerbu dengan tangan kosong, melakukan penyerangan dengan kedua lengannya yang besar dan kuat. Kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu menyambar, bertubi-tubi menghantam ke arah leher dan dada Nagai Ici.

Nagai Ici yang berjuluk Samurai Merah itu seperti semua pendekar dinegerinya, sama pula dengan para pendekar di Tiongkok, tidak mau sembarangan menggunakan pedang kalau tidak terpaksa. Melihat datangnya penyerangan yang biarpun amat kuat namun lamban ini, dia bersikap tenang-tenang saja. Begitu kepalan tangan itu menyambarnya, dia tidak mengelak mundur, malah melangkah maju sambil miringkan tubuhnya, lalu secepat kilat dari pinggir ia mencengkeram, sekaligus dia berhasil mencengkeram belakang siku kanan lawan dan belakang leher. Kakinya digeser memasuki selangkangan lawan, tubuhnya direndahkan dan………..sekali gentak tubuh yang tinggi besar dari lawannya itu terbang ke atas sampai tiga meter tingginya lalu terbanting roboh seperti pohon tumbang. Orang itu terbanting keras dan tidak mampu bangun kembali!

Nagai Ici tersenyum mengejek. “Begini saya kemampuan orangmu? Hemmm, pantas pekerjaannya menculik gadis-gadis lemah!”

Dari tempat yang tinggi di atas pohon Loan Ki menonton dengan penuh perhatian. Ia kagum karena ilmu gulat yang dipergunakan orang Jepang itu benar-benar cepat dan tangkas. Itulah ilmu yang mengandung tenaga Iweekang dengan cara meminjam tenaga lawan, sekali gentak dapat membikin lawan terlempar dan terbanting. Benar-benar cerdik sekali gerakan tadi dan ia dapat menduga bahwa menghadapi orang Jepang ini amatlah tidak baik kalau lawan sampai kena terpegang.

Lauw Teng juga kagum dan gembira. Ternyata dugaannya tidak keliru. Orang muda Jepang ini kuat dan tangkas, cukup berharga untuk dijadikan pembantunya. Akan tetapi dia belum yakin betul, maka dia memberi tanda kepada tiga orang pembantunya untuk maju mengeroyok. Tiga orang pembantu ini meloncat ke depan dan menghunus golok mereka. Mereka ini adalah tiga orang yang boleh diandalkan karena termasuk murid-murid pilihan dari Lauw Teng yang sudah menerima pelajaran ilmu golok ketua Hui-houw-pang itu,

“Eh-eh, beginikah kegagahan Hui-houw-pang? Ha-ha, macan terbang macam apa ini, beraninya melakukan pengeroyokan?” Nagai Ici mengejek. Hui-houw-pang berarti Perkumpulan Macan Terbang, maka ejekan ini benar-benar memanaskan hati orang-orang Hui-houw-pang. Akan tetapi Lauw Teng, yang mempunyai maksud menarik pemuda Jepang itu untuk memperkuat kedudukan perkumpulannya tidak marah melainkan menjawab,

“Kau kalahkan dulu tiga orang pembantuku ini, kalau bisa mengalahkan mereka baru kau cukup berharga untuk melawanku.” Dengan ucapan ini, sekaligus Lauw Teng menangkis ejekan itu dan malah mengangkat kedudukan dirinya sendiri.

“Bagus! Majulah!” Nagai Ici menantang tiga orang perampok itu tanpa mencabut pedangnya, akan tetapi kuda-kudanya yang kokoh kuat membayangkan bahwa setiap saat ia siap mencabut senjata itu karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka berdiri lurus di depan dada sedangkan tangan kanannya melintang di pinggang mendekati gagang pedang.

“Jepang sombong, cabut pedangmu!” bentak seorang di antara tiga pembantu Lauw Teng itu. Mereka ini terkenal sebagai tukang-tukang pukul ketua Hui-houw-pang, ditakuti orang ilmu golok mereka, masa sekarang sekaligus maju bertiga menghadapi seorang Jepang yang bertangan kosong?

“Heh, tidak biasa Samurai Merah diperintah orang untuk mencabut samurai atau tidak. Samurai dicabut untuk dipergunakan, bukan untuk pameran seperti golok kalian. Kalau saatnya tiba, tak usah kalian minta, samurai tentu akan kucabut dan kalau sudah begitu, menyesal pun kalian sudah terlambat!”

Ucapan ini gagah dan tabah, akan tetapi juga memanaskan hati. Tiga orang itu menjadi marah sekali. Sambil berteriak memaki lalu menggerakkan golok masing-masing. Sinar golok berkilauan menyambar dan mengurung diri Samurai Merah. Pendekar muda dari Jepang itu berusaha untuk mempergunakan kegesitannya menghindar dan mencari kesempatan untuk menangkap lengan lawan. Akan tetapi diam-diam dia terkejut. Pendekar ini belum lama datang dari Jepang, belum banyak dia bertanding melawan jago-jago silat di Tiongkok sehingga dia tidak begitu mengerti akan sifat ilmu silat yang asing baginya ini. Ilmu silat mengutamakan kecepatan, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Apalagi ilmu golok adalah ilmu permainan senjata yang paling cepat gerakannya, yang mengutamakan bacokan, guratan dan tusukan sehingga mata golok yang amat tajam serta ujungnya yang runcing itu tiada hentinya menyambar mencari kulit dan daging lawan. Melihat betapa tiga batang golok itu rnengurungnya dari semua penjuru, sibuk jugalah Nagai Ici, Baiknya dia memang memiliki kegesitan yang luar biasa sehingga biarpun dia harus montang-manting, melejit dan berjumpalitan ke sana ke mari, dapat juga dia menyelamatkan dirinya. Dia berteriak keras dan tubuhnya mencelat lima meter jauhnya keluar dari kalangan pertempuran.

Tiga orang pengeroyoknya mendapat hati, mengira bahwa jago Jepang itu terdesak dan ketakutan hingga melarikan diri. Sambil memaki dan tertawa mengejek ketiganya menyerbu sekaligus dan menghujani serangan kepada Nagai Ici Si Samurai Merah.

Tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dari mulut jago Jepang itu, pekik berbunyi “yaaaaat!” tiga kali disusul menyambarnya sinar kemerahan tiga kali pula. Terdengar pekik kesakitan, golok jatuh berdencing dan pertempuran kacau-balau. Ketika keadaan hening kembali, si jago muda dari Jepang itu sudah berdiri dengan kuda-kudanya yang gagah, yaitu kedua kaki dipentang lebar, tubuh merendah, tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala dengan jari-jari terbuka lurus ke atas, tangan kanan di atas gagang pedang samurai yang ternyata kini telah bersarang kembali ke dalam sarung pedang di pinggangnya. Sepasang matanya yang tajam berkilau itu menyapu kanan kiri. Sikapnya garang dan gagah seperti seekor harimau menghadapi bahaya!

Loan Ki kagum bukan main. Ini merupakan pemandangan baru baginya. Tiga orang pengeroyok tadi kini terhuyung-huyung ke belakang memegangi lengan kanan masing-masing yang sudah tidak bertangan lagi! Kiranya tangan kanan mereka sudah putus sebatas pergelangan dan jatuh berikut golok yang dipegangnya. Hebat sekali gerakan samurai tadi. Di samping kekagumannya, Loan Ki juga gembira sekaii. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan sikap dan gerak-gerik seorang jago silat seperti orang itu. Setiap orang jago silat yang ia ketahui, mengandalkan kecepatan yang wajar, mengambil inti sari ilmu silat yang praktis dan langsung dipergunakan dalam pertandingan untuk mencapai kemenangan mendahului lawan. Akan tetapi jago Jepang ini lain lagi. Dia nampak tenang dan diam, seperti ayam jantan kalau lagi berlagak, diam tapi menanti saat untuk merobohkan lawan seperti yang dia perbuat tadi. Samurai telah dicabut dan benar seperti katanya tadi, sekali mencabut samurai pasti akan dipergunakan dengan hasil baik dan sekarang, sebelum pulih mata yang menjadi silau oleh kelebatan samurai, pedang itu sendiri telah bersarang kembali di tempatnya!

Lauw Teng juga kagum dan biarpun tiga orang pembantunya menjadi orang-orang tiada guna lagi karena tangan kanan mereka buntung. Namun dia tidak kehilangan kegembiraannya. Makin besar hasratnya menarik jago Jepang itu menjadi pembantunya, dan dia merasa bahwa dia takkan kalah dalam hal ilmu silat melawan jago Jepang ini.
“Bagus, Nagai Ici. Kau benar-benar gagah perkasa. Makin suka aku untuk menerimamu sebagai murid atau pembantuku. Lebih baik kita sudahi saja pertentangan ini dan kau kuangkat menjadi pembantuku, juga muridku. Bagaimana?”

Pandang mata Nagai Ici melayang ke arah lima orang gadis tawanan itu, mukanya menjadi merah dan dia berkata marah “Siapa sudi menjadi penculik gadis-gadis.”

Lauw Teng tersenyum, memberi isyarat kepada orang-orangnya. Lima orang gadis tawanan yang ternyata amat cantik-cantik itu digiring maju, juga dua orang memanggul dua buah peti kayu hitam. Lauw Teng menghampiri dua peti kayu itu, lalu dibukanya. Kiranya terisi barang-barang perhiasan terbuat daripada perak dan emas terhias batu-batu permata yang berkilauan!

“Nagai Ici, kau lihat ini. Indah dan berharga sekali, bukan? Nah, dua peti benda berharga ini kuhadiahkan kepadamu kalau kau suka menjadi pembantuku dan seterusnya kau akan hidup dalam kemewahan!”

Pemuda Jepang itu mendengus seperti kuda mencium asap. “Heh! Samurai Merah tidak tamak akan harta benda!” jawabnya dengan suara keren. “Lauw Teng, tidak perlu kau membujukku dengan pameran emas permata. Biar kau tambah sepuluh kali itu, aku tidak sudi!”

Lauw Teng menutupkan kembali dua peti emas itu, lalu menarik tangan seorang gadis tawanan yang paling cantik di antara kelima orang gadis itu. Gadis ini masih muda, paling tua lima belas tahun usianya, tubuhnya ramping wajahnya cantik jelita. Sayang gadis itu nampak berduka, matanya sayu dan mukanya agak pucat, kain penutup leher terbuka sehingga terbayang kulit lehernya yang putih kuning berkulit halus.

“Eh, Nagai Ici, kau lihat gadis ini. Cantik jelita dan molek! Pantas ia menjadi selir baru terkasih dari kaisar. Akan tetapi, biarlah kuberikan ia kepadamu! Atau, kau boleh pilih di antara mereka ini, biar kuberikan kepadamu asal kau suka membantu kami. Apa katamu? Kau gagah dan masih muda, patut mempunyai kekasih secantik ia ini, ha-ha-ha!”

Sepasang mata pemuda Jepang itu memandangi gadis itu, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi untuk kemudian berhenti menatap. wajah gadis itu. Yang dipandang menunduk saja. Kemudian pandang mata Nagai Ici beralih kembali kepada Lauw Teng yang memandangnya dengan senyum penuh harap.

“Lauw-pangcu, aku suka menjadi muridmu asal kau dapat memenuhi tiga macam syaratku.”

Lauw Teng sama sekali bukan terlalu ingin menarik pemuda Jepang itu sebagai murid. Maksud sebenarnya daripada keinginan hatinya ini berdasarkan kepada perhitungan agar melalui orang Jepang ini dia dapat mengadakan hubungan baik dan saling bantu dengan para bajak laut Jepang yang terkenal kuat. Hatinya tentu saja mendongkol sekali melihat sikap Nagai Ici yang demikian “jual mahal”. Akan tetapi dia tersenyum dan menjawab.

“Boleh…….. boleh…….., katakan apa syarat-syaratmu yang tiga itu.”

Loan Ki yang masih mengintai dan mendengarkan dari atas pohon, tertarik sekali dan alangkah kecewa, mendongkol dan marah hatinya ketika ia mendengar jawaban Nagai Ici yang mengemukakan syarat-syaratnya.

“Syarat pertama, dua peti harta itu diberikan kepadaku………..”

“Ha-ha-ha, boleh ……. boleh…….! Memang tadipun hendak kuberikan kepadamu!” jawab Lauw Teng sambil tertawa bergelak.

“Syarat ke dua, lima orang nona itu semua diserahkan kepadaku………..”

Sepasang mata Lauw Teng terbelalak melotot, kemudian dia tertawa berkakakan sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang. “…… ha-ha, ha-ha, waduh lahapnya! Lima sekaligus? Ha-ha, tak kusangka kau begini………. begini………. Ha-ha-ha-ha!”

“Setuju tidak dengan syarat kedua ini?” desak Nagai Ici tanpa perdulikan kelakar orang. Wajahnya masih keren dan sikapnya sungguh-sungguh.

“……….. eeehmmm, sebetulnya susah……….. mereka ini untuk kaisar………… tetapi biarlah, kami akan cari penggantinya. Nah, kau boleh ambil semua gadis ini, memang cantik-cantik mereka, masing-rnasing memiliki keindahan khas. Ha-ha, boleh kau ambil semua, Nagai Ici. Sekarang katakan, apa syarat ke tiga?”

“Nanti dulu, aku akan membereskan yang sudah diberikan kepadaku,” kata pemuda Jepang itu sambil tersenyum. Wajahnya yang gagah tampan itu berseri ketika dia menghampiri lima orang gadis tawanan itu. Gadis-gadis itu memandang kepadanya dengan pelbagai perasaan. Ada yang nampak girang penuh harapan, ada yang takut-takut, akan tetapi rata-rata mereka merasa lebih senang terjatuh kedalam tangan pemuda asing yang ganteng ini daripada berada di tangan para perampok yang kasar dan bermulut kotor itu.

Loan Ki merasa mukanya panas dan dadanya penuh hawa amarah. Ingin ia meloncat turun dan menyerang orang Jepang yang tamak dan mata keranjang itu. Masa lima orang gadis dimintanya semua? Ini sudah keranjingan namanya! Akan tetapi ia menahan diri dan memandang terus, kali ini pandang matanya terhadap pemuda Jepang itu tidak bersinar kagum seperti tadi, melainkan bersinar panas berapi-api!

Nagai Ici dengan muka berseri-seri dan mulut tersenyum mendekati gadis pertama, tangannya bergerak maju seperti orang hendak memeluk, mukanya mendekat seperti orang. hendak mencium! Gadis itu menjadi merah mukanya dan mundur selangkah, akan tetapi Nagal Ici maju terus dan di lain saat tali yang membelenggu kedua tangan gadis itu sudah putus oleh sekali renggutan tangan Nagai Ici yang amat kuat. Gadis itu tercengang, melihat kedua tangannya yang sudah bebas dan dengan bingung kini memandang pemuda asing yang sudah menghampiri gadis ke dua, melepaskan belenggu, lalu maju untuk menolong gadis-gadis yang lain. Setelah lima orang gadis itu bebas semua, dia mundur dan membungkuk dengan dalam di depan lima orang gadis itu yang kini hanya bisa berdiri melongo memandangnya dengan sinar mata bingung, heran, dan juga terima kasih bercampur keraguan.

Nagai Ici lalu menghampiri dua kotak tadi, membukanya dan mengambil perhiasan-perhiasan berharga itu, membagi-bagi kepada lima orang gadis tadi sekuat tenaga mereka membawa, malah dia bantu mengalung-ngalungkan perhiasan pada leher dan lengan mereka. Semua ini ditonton oleh Lauw Teng yang tertawa-tawa, juga para perampok tertawa-tawa karena merasa geli melihat tingkah laku pemuda Jepang yang agaknya hendak mengambil hati para gadis itu sebelum memaksa mereka menjadi selir-selirnya. Benar-benar seorang pemuda yang cerdik, pikir mereka. Hal pertama yang dilakukannya adalah membanjiri gadis-gadis itu dengan barang-barang hadiah untuk merebut hati dan kasih! Yang paling mendongkol adalah Loan Ki. Hatinya memaki-maki, “Laki-laki ceriwis! Pemuda gila perempuan! Si mata keranjang menyebalkan!”

Akan tetapi semua orang menjadi terheran-heran, juga Loan Ki, ketika melihat Samurai Merah itu sekali lagi menjura dalam sampai kepalanya hampir menyentuh tanah di depan para gadis itu sambil berkata, “Sekarang, Nona sekalian silakan pulang ke rumah masing-masing. Kalian kubebaskan!”

Lima orang gadis itu lebih heran dan bingung lagi, mereka saling pandang, tak kuasa mengeluarkan kata-kata saling terharu dan bingungnya, hanya nampak mereka menggeleng kepala, malah ada yang mulai menangis. Nagai Ici memandang dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya yang tebal, menggeleng-geleng kepala dan berkata,

“Ah, agaknya Nona sekalian tidak berani pulang sendiri? Baiklah, silakan kalian mengaso di sana, di bawah pohon besar itu, biar aku menyelesaikan urusanku dengan orang-orang ini. Nanti saya yang akan mengantar Nona semua pulang ke kampung dan rumah masing-masing.

Lima orang gadis itu menjadi girang sekali dan mulailah wajah mereka berseri-seri dan senyum-senyum manis tersembul di balik keharuan dan air mata, menambah jelita wajah dara-dara muda itu. Dengan langkah halus dan gontai karena terlampau berat beban barang-barang berharga itu, mereka mentaati permintaan Nagai Ici dan pergi ke bawah pohon besar, lalu duduk bersimpuh di atas akar pohon. Loan Ki yang bersembunyi di atas pohon itu, diam-diam menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri yang tadi memaki-maki pemuda Jepang itu dengan tuduhan yang bukan-bukan. Kini ia kembali mencurahkan perhatiannya kepada pendekar muda dari Jepang itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: