Pendekar Buta ~ Jilid 2

Kun Hong menjura ke arah Ban Kwan Tojin. “Maaf, kiranya seorang tosu. Ban Kwan Tojin tadi bertanya tentang Toat-beng Yok-mo? Dia terhitung guruku karena aku mendapatkan ilmu pengobatan ini dari kitab-kitabnya.”

Tidak hanya Ban Kwan Tojin yang berseru kaget, bahkan Lauw Teng dan anak buahnya menjadi kaget sekali, juga girang. Siapa tidak mengenal nama mendiang Toat-beng Yok-mo yang bukan saja terkenal sebagai setan obat, akan tetapi juga sebagai seorang sakti yang luar biasa? Di samping kekagetan, keheranan dan kegirangan ini, kembali timbul keraguan dan tidak percaya. Apalagi Ban Kwan Tojin yang tahu betul bahwa belum pernah Toat-beng Yok-mo mempunyai seorang murid buta.

“Siauw-sinshe, bolehkah pinto mengetahui namamu yang terhormat?” dia bertanya, suaranya menghormat karena betapapun juga, pemuda buta ini sudah membuktikan kepandaiannya tentang ilmu pengobatan.

“Namaku Kwa Kun Hong, Totiang.”

“Hemm, serasa belum pernah mendengar nama ini ………..”

“Tentu saja belum, apa sih artinya nama seorang tabib buta?” Kun Hong tersenyum polos.

“Kwa-sinshe, kalau kau betul murid Toat-beng Yok-mo, tahukah kau di mana sekarang gurumu itu berada?” Pertanyaan dari tosu ini terdengar oleh Kun Hong sebagai pancingan, kata-kata penuh nafsu menyelidiki.

“Dia sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu,” jawabnya bersahaja.

“Ah, jadi kau tahu bahwa tiga tahun yang lalu dia tewas dalam pertempuran di puncak Thai-san, ketikaThai-san-pai didirikan? Dan kau diam saja tidak berusaha membalas dendam? Tahukah kau siapa yang membunuhnya, Sinshe?” Pertanyaan yang bertubi-tubi dari tosu itu hanya diterima dengan senyum saja. Sudah tentu saja dia tahu bagaimana tewasnya Toat-beng Yok-mo karena kakek iblis itu tewas ketika bertanding melawan dia sendiri. Kakek berhati iblis yang amat jahat itu tewas karena bertindak curang kepadanya dalam pertempuran itu dan boleh dibilang tewasnya adalah karena perbuatannya sendiri.

“Tentu saja aku tahu siapa yang membunuhya. Yang membunuhnya adalah dia sendiri, ya ……. dia membunuh diri sendiri.”

Hati Kun Hong mulai tidak enak. Jangan-jangan tosu ini tiga tahun yang lalu hadir pula di Thai-san dan melihat betapa Toat-beng Yok-mo tewas ketika berhadapan dengan dia sebelum dia buta dan sekarang tosu ini sengaja memancing-mancing.

“Totiang, kalau tiga tahun yang lalu kau sendiri hadir di sana, mengapa mesti bertanya-tanya?” jawabnya pendek.

Tosu itu tertawa. “Ha-ha-ha, kalau pinto hadir tidak nanti bertanya lagi. Sayangnya pinto tidak hadir ketika itu, hanya mendengar berita dari kawan-kawan bahwa gurumu itu telah tewas dalam pertempuran. Kau yang menjadi muridnya tentu tahu lebih jelas bukan?”

“Sudah kujelaskan bahwa dia mati karena perbuatannya sendiri.”

“Jadi kau tidak ada niat untuk mencari musuh-musuh gurumu itu dan membalas dendam? Hemm, murid yang baik kau itu, Kwa-sinshe.” Ban Kwan Tojin mengejek.

“Toat-beng Yok-mo terkenal jahat. Biarpun dia guruku, hanya guru dalam ilmu pengobatan saja. Dia boleh bermusuhan dengan orang lain, akan tetapi aku tidak berniat bermusuhan. Kepandaianku menyembuhkan orang sakit supaya sehat, bukan menjadikan orang sehat supaya sakit. Sudahlah, Lauw-pangcu, setelah selesai tugasku di sini, aku mohon diri hendak melanjutkan perjalananku.” Dia menjura ke depan ke kanan kiri, lalu membereskan buntalan obatnya dan bersiap-siap untuk pergi. Ketika mengerjakan semua ini, juga ketika tadi melakukan pengobatan, Kun Hong tidak lupa menyelipkan tongkatnya di punggung. Bagi seorang buta seperti dia, tongkat merupakan pengganti mata dalam melakukan perjalanan, apalagi kalau tongkat itu seperti tongkatnya, tongkat yang berisi pedang pusaka Ang-hong-kiam, tongkat yang sengaja dibuat oleh kakek sakti Song-bun-kwi (Setan Berkabung) untuknya (baca cerita Rajawali Emas).

Pada saat itu terdengar suara seorang wanita, “Ayah ………..!”

Lauw Teng menengok dan keningnya berkerut ketika dia melihat anaknya, seorang gadis berusia dua puluh tahun, gadis yang berdandan secara mewah, muncul dari pintu samping. Gadis ini perawakannya tinggi besar, cukup manis dan gerak-geriknya kasar dan genit, pakaiannya serba indah dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terhias ronce-ronce merah, berkibar di dekat rambutnya yang disanggul tinggi dan dihias kupu-kupu emas bertabur mutiara.

“Swat-ji, ada keperluan apa kau datang ke sini?” tegur Lauw Teng marah. Seharusnya anaknya itu berdiam bersama ibunya dan keluarga Hiu-houw-pang di perkampungan, biarpun dia menjadi kepala para perampok namun dia tidak senang melihat anak perempuannya bergaul dengan para perampok yang kasar dan biasa mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan tak sopan. Memang beginilah watak orang seperti Lauw Teng, biarpun dia sendiri sudah biasa tidak menghormati kaum wanita, namun dia tidak suka melihat wanita-wanita keluarganya tidak dihormati orang!

Dengan lagak genit, tersenyum-senyum, dan melirik-lirik gadis itu menjawab, “Ayah, kau dan semua orang sibuk berobat, kabarnya ada tabib pandai di sini, mengapa tidak menyuruh tabib itu datang ke kampung? Ibu menderita batuk, bibi masuk angin dan aku sendiri sering merasa dingin kalau malam. Suruh dia ke kampung Ayah.” Mendengar ucapan terakhir ini di sana-sini sudah terdengar suara orang terkekeh-kekeh, akan tetapi segera berhenti ketika Lauw Teng dengan mata tajam menengok ke arah suara orang-orang tertawa itu.

“Huh, dasar perempuan, baru sakit batuk dan masuk angin saja sudah ribut-ribut. Pulanglah, biar nanti kumintakan obat kepada siauw-sinshe.”

Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat anaknya itu berdiri di dekat, Kun Hong, memandang bengong kepada pemuda buta yang sedang membereskan buntalannya.

“Swat-ji, lekas pulang!” tegur ayahnya.
Swat-ji, gadis itu, seperti baru sadar, menengok kepada ayahnya dan berkata. “Ayah, dia inikah tabibnya? Masih muda benar dan……. dan agaknya dia……. dia buta, Ayah.”

Mendengar gadis itu bicara dekat di depannya Kun Hong merasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia segera bangkit berdiri, menjura dan berkata sambil tersenyum ramah. “Bukan agaknya lagi, Nona, memang aku seorang buta.”

Sejenak Swat-ji berdiri bengong memandang wajah Kun Hong. Belum pernah ia melihat seorang pemuda setampan ini, apalagi ketika tersenyum, benar-benar membuat Swat-ji seperti kena pesona. Mata yang buta itu bahkan menambah rasa kasihan yang mendalam.

“Swat-ji, pulang kataku!” Lauw Teng membentak marah.

“Ayah, kulihat kau dan para paman sudah sembuh. Tentu sinshe buta ini yang menolong kalian. Setelah ditolong, kenapa tidak berterima kasih? Sepatutnya kita membawanya ke kampung, menjamunya dengan pesta tanda terima kasih. Ayah, kalau sekarang kau membiarkan penolong pergi begiuu saja, bukankah Hui-houw-pang akan ditertawai orang dan dianggap tak kenal budi?”

“Ha-ha-ha, tepat sekali ucapan Nona! Lauw-sicu, benar-benar pinto tidak pernah mengira bahwa kau mempunyai seorang anak perempuan yang begini cantik lahir batinnya. Benar-benar pinto kagum dan terpaksa pinto berfihak kepada puterimu, Lauw-sicu.”

Mendapat bantuan omongan tosu itu, Swat-ji tersenyum dan melirik. Kun Hong diam-diam merasa muak mendengar ucapan si tosu, apalagi dia dapat menangkap getaran dalam suara itu dan dapat menduga bahwa tosu ini biarpun tua tentulah seorang mata keranjang. Nona bernama Swat-ji itu tentu seorang gadis yang cantik dan dia dapat tahu pula bahwa gadis itu berwatak genit.

Cepat-cepat Kun Hong menjura. “Tidak usah……. tidak usah, aku tidak dapat tinggal lama, Nona. Malah tadi aku sudah berpamit kepada ayahmu, aku harus segera pergi melanjutkan perjalananku.”

“Ah, mana bisa begitu? Sinshe, kau harus menerima pernyataan terima kasih kami, terutama dari aku sendiri yang amat berterima kasih karena kau telah menyembuhkan ayah. Mari, mari kuantar kau, Sinshe. Biar kutuntun tongkatmu.”

Pada saat Kun Hong berdiri bingung menghadapi desakan gadis yang “nekat” ini, tiba-tiba semua orang terkejut melihat datangnya seorang di antara mereka yang berlari-lari dalam keadaan luka parah.

“Musuh……….. musuh……….. telah menyerbu ………..!” katanya dan dia roboh terguling. Keadaan menjadi panik di situ, semua orang berlari-lari untuk melakukan persiapan menyambut serbuan musuh.

Lauw Teng tidak perdulikan anaknya lagi, dia sibuk memberi perintah dan mengatur anak buahnya dan enam puluh orang lebih banyaknya itu untuk melakukan penjagaan di sana-sini. Hanya tosu itu yang kelihatan tenang-tenang saja.

“Lauw-sicu, jangan gugup. Biarlah kita menanti kedatangan mereka di sini, hendak pinto lihat apakah orang she Bhe itu mempunyai tiga kepala dan enam lengan?”

Sementara itu, tiba-tiba Kun Hong merasa betapa telapak tangan yang halus telah memegang tangannya dan terdengar bisikan gadis itu, “Sinshe, mari kita bersembunyi ke sudut sana sambil menonton. Biar kuceritakan kepadamu nanti jalannya pertandingan, sebentar lagi akan terjadi pertempuran hebat.”

Sedianya Kun Hong akan menolak dan pergi. Akan tetapi karena dia amat tertarik ingin mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi dan siapakah pula musuh Hui-houw-pang ini, pula dia ingin seberapa bisa mencegah terjadinya pertempuran dan bunuh-membunuh, maka dia diam saja dan menurut ketika gadis itu menuntunnya pergi dari situ. Malah dia mengharapkan untuk mendapatkan keterangan dari gadis ini tentang sebab-sebab permusuhan.

Karena semua orang sedang sibuk mengatur penjagaan, Swat-ji mengajak Kun Hong duduk di atas bangku panjang yang tersembunyi di sudut ruangan muka. Gadis itu tetap menggandeng tangan Kun Hong dan baru setelah mereka duduk di atas bangku, Kun Hong menarik tangannya dan bertanya,

“Nona, ada apakah ribut-ribut ini? Siapa yang menyerbu dan mengapa terjadi permusuhan?”

Gadis itu tertawa merdu dan genit. “Ah, biasa saja berebutan mangsa! Akan tetapi kali ini yang diperebutkan adalah barang yang amat berharga sehingga ayah membelanya mati-matian. Mereka yang datang menyerbu adalah orang-orang Kiang-liong-pang (Perkumpulan Naga Sungai).”

“Kiang-liong-pang? Perkumpulan apakah itu dan perkumpulan ayahmu yang bernama Hui-houw-pang ini pun perkumpulan apakah sebetulnya?”

“Iihh, kiranya kau tidak tahu apa-apa! Hui-houw-pang amat terkenal di Propinsi Santung, setidaknya tidak kalah terkenal dengan Kiang-liong-pang. Semua perampok di wilayah ini tunduk kepada Hui-houw-pang, dan ayah merupakan penarik pajak jalan yang paling adil di dunia ini.”

“Apa itu pekerjaan penarik pajak jalan? Kau maksudkan perampok?”

“Sebaliknya dari perampok! Anggauta-anggauta kami menjaga jalan-jalan sunyi di gunung dan hutan, dan sama sekali tidak merampok rombongan pedagang atau pelancong yang lewat, karena itu mereka harus memberi pajak jalan kepada kami. Bukankah itu adil? Kalau mereka memberi pajak jalan, mereka takkan diganggu.”

Kun Hong mengangguk-angguk, dalam hati dia mencela. Apa bedanya pemerasan dengan perampokan?

“Adapun Kiang-liong-pang adalah perkumpulan para bajak air atau bajak sungai yang menguasai semua bajak di Yang-ce dan Huang-ho sampai ke muara. Memang seringkali terjadi perebutan kekuasaan antara darat dan sungai ini dan memang orang-orang Kiang-liong-pang amat kurang ajar. Belum lama ini kami terpaksa menyita rombongan bekas pembesar yang mengundurkan diri karena pembesar sombong itu tidak mau membayar pajak jalan. Pertempuran terjadi dan kami berhasil melukai pembesar itu dan membunuh orang-orangnya. Akan tetapi, tiba-tiba muncul orang-orang Kiang-liong-pang yang segera, turun tangan pula, menyatakan bahwa pembesar itu sedang menawar perahu dan karenanya menjadi mangsa mereka. Terjadi perang lebih hebat lagi memperebutkan harta pusaka yang ternyata amat banyak. Banyak orang kami luka-luka termasuk ayah yang kau obati tadi. Akan tetapi barang-barang pusaka yang paling berharga dapat kami bawa pulang, di antaranya sebuah mahkota emas penuh permata yang tak ternilai harganya, mahkota yang dibawa oleh bekas pembesar itu dari istana. Kabarnya itu adalah bekas mahkota yang dipakai oleh permaisuri kaisar di jaman Kerajaan Tang dahulu.”

Muak rasa hati Kun Hong mendengar penuturan ini. Tidak salah dugaannya yang mengecewakan hatinya tadi bahwa baik perkumpulan Hui-houw-pang maupun lawannya, yaitu Kiang-liong-pang, adalah perkumpulan golongan hitam. Kiranya mereka adalah perampok-perampok yang sekarang sedang bertengkar dengan para bajak!

“Sebenarnya, biarpun saling bersaingan, kalau hanya untuk urusan harta benda biasa saja tak mungkin kedua fihak sampai bertempur.” gadis itu melanjutkan penuturannya. “Akan tetapi untuk mahkota ini kami tidak mau mengalah begitu saja.”

“Apakah karena terlalu berharga?” Kun Hong tertarik.

“Bukan, tapi karena mahkota itu dapat menjadi jalan agar kami dapat mendekati kaisar baru, mengambil hatinya dan memperoleh kedudukan tinggi dalam kerajaan. Kabarnya kaisar muda yang baru ini amat mudah diambil hatinya.”

“Kaisar baru? Kaisar muda? Apa maksudmu?!” Kun Hong menahan gelora hatinya mendengar kata-kata ini.

“Iihhh, kau benar-benar buta!” Gadis itu tertawa.

“Memang aku buta, siapa pernah membantah?” Kun Hong terpaksa melayani kelakar ini agar si gadis suka melanjutkan ceritanya yang mulai menarik hatinya.
Dengan lagak genit Swat-ji mencubit lengan Kun Hong. “Kau memang buta, tapi kau tampan dan pandai ……. eh, aku suka padamu, kau lucu …….”

Tentu saja Kun Hong tidak mau melayani kegenitan gadis itu, tapi dia pun tidak mencelanya, hanya berkata halus. “Nona, aku ingin sekali mendengar penjelasanmu tentang kaisar baru tadi.”

“Kau benar-benar belum mendengarnya? Kaisar tua sudah meninggal tiga bulan yang lalu, dan sekarang di kota raja terjadi keributan dalam menentukan siapa yang akan menggantinya. Akan tetapi sudah tentu calon kaisar adalah Pangeran Kian Bun Ti, cucu kaisar yang tercinta, sebagai anak dari pangeran sulung yang telah tiada. Nah, kau tahu sekarang dan tentang mahkota itu, sebetulnya telah dilarikan oleh bekas pembesar dari kota raja yang agaknya mempergunakan saat kota raja ribut-ribut, lalu lari membawa mahkota kuno yang tak ternilai harganya itu. Sekarang mahkota itu berada di tangan kami, dan tentu akan membawa ayah ke depan kaisar untuk menerima anugerah dan kedudukan.”

Diam-diam Kun Hong kaget juga. Selama tiga tahun ini dia merantau tidak pernah memperhatikan persoalan dunia.

Kiranya Kaisar Thai-cu, yaitu pendiri Kerajaan Beng, seorang pahlawan yang sejak dahulu sering dipuji-puji ayahnya, kini telah meninggal dunia dan singgasana kerajaan agaknya dijadikan bahan perebutan oleh para pangeran. Mengingat bahwa Pangeran Kian Bun Ti dicalonkan menjadi kaisar diam-diam Kun Hong menarik napas panjang. Dia sudah pernah bertemu dengan pangeran ini (baca cerita Rajawali Emas), dan dia sudah mengenal watak yang kurang baik dari pangeran itu yang dahulu tidak segan-segan untuk mencoba memaksa dua orang keponakannya, yaitu Thio Hui Cu dan Kui Li Eng, untuk menjadi selir-selirnya!

Tiba-tiba dia sadar dari lamunannya ketika kembali lengannya dicubit dan suara gadis itu terkekeh,

“Hi-hik, kenapa kau termenung setelah mendengar tentang kaisar? Apakah kau ingin menjadi kaisar? Hi-hi-hi, alangkah lucu dan bagusnya, kaisar buta! Sinshe yang baik, kau tidak usah melamun menjadi kaisar, biarlah kau menjadi tabib kami saja di sini, malam nanti kau boleh memijati tubuhku yang lelah. Kau pandai memijatkan?” Gadis itu menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya yang hangat itu kepada Kun Hong.

Kun Hong tidak memperdulikan hal ini karena pikirannya sedang bekerja keras. Telinganya sudah dapat menangkap derap kaki orang banyak menuju ke tempat itu. Berdebar dia kalau teringat betapa sebentar lagi akan terjadi pertempuran, bunuh-membunuh di depan matanya yang buta.

“Nona, sebentar lagi musuh-musuhmu menyerbu, melihat betapa ayahmu dan anak buahnya terluka, tentu musuh itu amat kuat. Apakah kau tidak takut?”

“Ihh, mengapa takut? Dengan pedangku aku mampu menjaga diri. Malah aku ingin mencobai kelihaian jahanam tua she Bhe itu dengan pedangku!”

“Tapi ……. tapi mereka datang untuk mahkota itu. Bagaimana kalau mereka menyerbu ke rumah ayahmu dan merampas mahkota? Kupikir, mahkota itu harus disembunyikan dulu …….”

“Ah, kau pintar juga!” Tangan yang halus itu mengusap dagu Kun Hong, membuat pemuda buta ini merasa dingin di belakang punggungnya. “Tapi ayah dan aku lebih pintar. Mahkota itu tak pernah terpisah dari tubuhku.” kata-kata ini dibisikkan di dekat telinga Kun Hong sehingga pemuda buta ini dapat merasa betapa napas Swat-ji panas-panas meniup pipinya.

Cepat laksana kilat Kun Hong menggerakkan tangannya dan tahulah dia pada detik lain bahwa mahkota yang dimaksudkan itu berada dalam buntalan yang digendong oleh gadis ini.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan nyaring dan Kun Hong mendengar suara kaki beberapa orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh memasuki ruangan depan tempat Swat-ji berbisik, “Mereka sudah datang, Bhe Ham Ko sendiri yang memimpin …….”

Gadis inipun tidak berani main-main lagi sekarang, ia mengalihkan perhatiannya dari tabib buta yang menarik hatinya itu kepada para musuh yang telah berada di situ. Yang kelihatan berada di luar halaman saja sedikitnya ada dua puluh orang Kiang-liong-pang.

Adapun yang sudah meloncat memasuki pekarangan adalah seorang tua tinggi kurus yang memegang sebatang dayung kuningan. Swat-ji menduga bahwa tentu inilah orangnya yang bernama Bhe Ham Ko, ketua dari Kiang-liong-pang yang telah melukai ayahnya. Di samping kakek ini berdiri lima orang laki-laki tinggi besar yang menilik pakaiannya tentulah tokoh-tokoh dalam perkumpulan bajak itu. Di belakang mereka, berdiri acuh tak acuh, tampak seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, berusia empat puluh tahun lebih. Berbeda dengan Bhe Ham Ko dan lima orang pembantunya yang berdiri dengan senjata di tangan, laki-laki ini membiarkan ruyung bajanya tergantung di pinggang dan tidak memperlihatkan muka yang serius, malah menengok ke sana ke mari seperti seorang pelancong melihat-lihat pemandangan indah.

“Hui-houw-pangcu Lauw Teng, kami dewan pengurus Kiang-liong-pang sudah datang mengunjungimu. Keluarlah agar kita dapat merundingkan perkara sampai beres!” kakek she Bhe itu mengeluarkan suaranya. “Kamipun membawa obat dan ahli untuk menyembuhkan luka-luka para sahabat dari Hui-houw-pang!”

Jelas terdengar dalam suara ini bahwa ketua Kiang-liong-pang ini mengandung ancaman dan bujukan. Membujuk untuk berbaik di samping mengingatkan bahwa pertempuran hanya akan mendatangkan kerusakan dan kerugian pada fihak Hui-houw-pang!

“Kiang-liong-pangcu Bhe Ham Ko, luka-luka yang kecil tiada artinya itu tidak perlu dibicarakan. Kami sudah siap menanti kedatanganmu!” Muncullah Lauw Teng diiringi tujuh orang pembantunya dengan langkah gagah dan senjata siap ditangan kanan!

Berubah wajah Bhe Ham Ko melihat bekas lawannya itu kelihatan sehat benar, malah para pembantunya yang tadinya terkena pukulannya yang mengandung hawa beracun kini sudah muncul dalam keadaan sehat! Akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia melirik dan melihat seorang tosu berjalan keluar dari samping. Dia tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang tipis.

“Ha-ha-ha, kiranya Lauw-pangcu mendapat bantuan orang pandai. Pantas saja tidak membutuhkan obat-obatan dari kami lagi. Ataukah engkau hendak mempelajari kitab To-tik-keng bersama anak buahmu, memang pantas kalau gedung ini diubah menjadi kuil.” Inilah ucapan menghina dan menyindir karena fihak Hui-houw-pang terdapat seorang tosu tua.

Merah wajah Lauw Teng, juga dia menjadi heran sekali. Biasanya, seperti yang dia ketahui, ketua Kiang-liong-pang ini adalah seorang yang amat hati-hati dan bukan seorang kasar yang sembrono. Kenapa hari ini menjadi begini sombong, berani sekali menghinanya dan malah berani mengejek Ban Kwan Tojin? Tentu ada sebabnya, pikirnya dan ketika dia melihat sikap acuh tak acuh dari orang tinggi besar muka hitam di belakang rombongan ketua Kiang-liong-pang itu, dapatlah dia menduga bahwa tentu orang itu yang dijadikan andalan.

“Bhe-pangcu, tak perlu banyak bicara lagi kiranya. Kita sudah lama tahu apa maksudmu datang mengunjungiku pada saat ini, lengkap dengan anak buah dan senjata. Nah, keluarkan isi hatimu. Bagi kami, tetap kami tidak akan suka mengalah, oleh karena kami merasa bahwa pembesar she Tan itu adalah mangsa kami di daratan. Barang-barang bekalnya yang terampas oleh kami menjadi hak kami dan tak seekor setanpun boleh mengambilnya begitu saja dari tangan kami!”

Bhe Ham Ko tertawa menyeringai dan menggerak-gerakkan dayungnya. “Aku tahu akan kekerasan hati Lauw-pangcu, tahu pula bahwa benda pusaka itu kau kukuhi bukan karena harganya, melainkan karena pentingnya guna membuka pintu kota raja. Bukankah begitu?”

Kembali wajah Lauw Teng menjadi merah. “Apapun yang akan kulakukan dengan benda hakku itu, bukan menjadi urusanmu, Bhe-pangcu. Dan kiranya ……. setiap orang berhak untuk mencari kemajuan dalam hidupnya …….” Dia merasa segan dan sungkan untuk bicara terus terang dengan hasratnya mencari kedudukan di kota raja.

“Jadi kau berkukuh hendak memiliki mahkota pusaka kerajaan itu?” Bhe Ham Ko membentak.

“Memang! Dan kami akan mempertahankannya dengan senjata kami!” jawab Lauw Teng berani. Ketua Hui-houw-pang ini tentu saja menjadi besar hatinya karena dia mengandalkan bantuan Ban Kwan Tojin dan tiga orang gagah lain yang menjadi tamu undangannya, yang sekarangpun telah memasuki pekarangan dan berdiri dengan sikap gagah di dekat Ban Kwan Tojin.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Tua bangka she Bhe jangan menjual lagak di sini!” Bayangan merah berkelebat dan ternyata Swat-ji sudah melompat ke depan rombongan lawan dengan pedang di tangan, sikapnya gagah.

“Swat-ji…….!” Lauw Teng menegur kaget, bukan melihat puterinya hendak menentang lawan, melainkan kaget karena tidak melihat buntalan di pungung Swat-ji, buntalan mahkota yang sengaja dia suruh bawa anak gadisnya yang dia tahu memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi. Dalam hal ilmu silat, puteri ini tidak kalah lihai daripadanya sendiri.

“Ayah, biarkan aku mengusir anjjng tua ini agar jangan banyak menjual lagak di sini.” Gadis yang galak ini segera menggerakkan pedangnya menyerang Bhe Ham Ko.

Ketua Kiang-liong-pang tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bapaknya harimau liar anaknyapun sama juga. Biarlah aku orang tua menjinakkan macan betina liar ini!” Dengan tenang orang she Bhe ini menggerakkan dayungnya menangkis, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga Iweekangnya untuk membuat pedang gadis itu terlempar dengan sekali tangkis.

Swat-ji tidak bodoh. Tentu saja ia sudah mendengar tentang tenaga Iwee-kang yang tangguh dari kakek ini, maka dengan gerakan pergelangan tangannya ia menyelewengkan pedangnya menghindarkan benturan senjata lawan lalu dengan cepat dari samping pedangnya mengirim tusukan miring ke arah lambung.

“Aiiih, tidak jelek …….!” Bhe Ham Ko berseru dan cepat melompat mundur sambil mengelebatkan dayungnya yang menyambar dari atas ke arah kepala Swat-ji. Namun gadis itu dengan gerakan yang lincah dapat pula mengelak sambil meneruskan dengan serangan berantai. Gerakannya memang cepat dan agaknya dengan kecepatan ini ia hendak mencapai kemenangan. Pedangnya menyambar-nyambar dan sama sekali ia tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk membentur senjatanya.

“Bagus! Lauw-pangcu, kepandaian anakmu bagus juga!” Bhe Ham Ko berseru dan terpaksa kakek ini memutar dayungnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya daripada hujan tusukan dan bacokan.

Dengan menggunakan ketajaman pendengarannya Kun Hong dapat menduga bahwa biarpun Swat-ji memiliki gerakan yang amat cepat, namun ia takkan menang menghadapi lawannya yang memiliki gerakan antep, bertenaga, dan tenang itu. Dia mengerutkan keningnya. Pertandingan besar-besaran dan mati-matian tentu takkan dapat dicegah lagi. Sebetulnya dia boleh tak usah ambil perduli karena kedua fihak yang akan bertanding bunuh-membunuh adalah golongan hitam atau Orang-orang yang mempunyai pekerjaan merampok dan membunuh. Mereka adalah orang-orang jahat. Akan tetapi, pemuda buta ini merasa tidak tega untuk membiarkan sesama manusia saling bunuh, hanya untuk memperebutkan sebuah benda mati yang oleh Swat-ji dititipkan kepadanya dan kini berada di buntalan pakaiannya itu. Alangkah bodohnya manusia. Untuk mencari harta atau kedudukan, rela mengorbankan nyawa, malah tega untuk membunuh sesama manusia. Kun Hong berpikir keras, mencari akal untuk mencegah permusuhan antara kedua golongan itu.

Akan tetapi, baru saja dia bangkit berdiri untuk mencegah menghebatnya perkelahian, mendadak di sana-sini terdengar seruan heran dan marah. Sesosok bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu dayung di tangan Bhe Ham Ko terpental ke belakang, sedangkan Swat-ji terhuyung-huyung. Ketika mereka memandang, di situ telah berdiri seorang gadis cantik jelita masih muda sekali, berpakaian serba hitam yang ringkas dan sikapnya gagah, sepasang matanya yang jeli memandang ke kanan-kiri. Alisnya yang hitam panjang itu berkerut, mulut yang kecil dengan bibir merah segar membayangkan kekerasan hati dan keangkuhan.

Dengan sekali gerakan saja dapat mengundurkan Bhe Ham Ko dan Swat-ji, dapat dibayangkan bahwa gadis jelita ini memiliki kepandaian yang hebat. Swat-ji yang terhuyung-huyung itu amat marah, akan tetapi sebelum ia sempat mengembalikan keseimbangan tubuhnya, bagaikan seekor burung walet, gadis baju hitam itu bergerak, tubuhnya menyambar dan tahu-tahu Swat-ji merasa dirinya diangkat ke atas. Kiranya tengkuknya telah dicengkeram oleh gadis itu dan betapapun ia berusaha melepaskan diri, ia tidak mampu bergerak, bahkan pedang yang masih dipegangnya itu tak dapat pula ia gerakkan seakan-akan seluruh tubuhnya menjadi lumpuh!

“Kaum kotor dari Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang dengarlah! Hari ini nonamu datang untuk mengambil mahkota pusaka, kalian tidak boleh ribut-ribut lagi dan harus mengalah kepada nonamu!”

Sikap yang amat sombong ini menimbulkan kemarahan, juga kegelian. Apalagi Lauw Teng yang melihat anaknya ditangkap seperti itu, kemarahannya memuncak dan dia membentak,

“Gadis liar dari mana datang mengacau? Kau siapa berani membuka mulut besar di sini?”

Gadis muda itu tersenyum mengejek. Manis sekali ia kalau tersenyum sehingga banyak di antara para anak buah kedua fihak itu terpesona melihat cahaya gigi gemerlapan di balik bibir yang merah dan berbentuk indah itu.

“Kau ketua dari Hui-houw-pang, tak perlu banyak cakap. Aku tahu bahwa mahkota berada di tanganmu, lekas serahkan kepada nonamu, kalau tidak, akan kubanting hancur anak perempuanmu yang tak tahu malu ini!”

Hemmm, kiranya bocah ini hendak memaksaku dengan menangkap anakku, pikir Lauw Teng yang segera menjawab dengan tersenyum mengejek. “Boleh kau banting anak tiada guna itu, mana bisa aku memberikan mahkota pusaka kepadamu? Gadis liar, lebih baik lekas mengaku kau siapa dan siapa menyuruhmu datang mencampuri urusan kami?”

Gadis pakaian hitam itu nampak kecewa, lalu melemparkan tubuh Swat-ji sambil mengomel, “Gadis sialan, sampai ayah sendiri tidak sayang kepadamu!” Swat-ji terlempar dan jatuh bergulingan, tapi ia cepat melompat lagi dengan mata berapi-api dan muka merah sekali. Kalau saja ia tidak ingat bahwa tingkat kepandaian gadis baju hitam itu jauh lebih tinggi darinya, tentu akan diserangnya mati-matian, bukan main marahnya pada saat itu.

“Pangcu dari Hui-houw-pang, juga kalian orang-orang Kiang-liong-pang. Kalian mau tahu siapa nonamu ini? Dunia kang-ouw menyebutku Bi-yan-cu (Si Walet Jelita). Nama aseliku tak perlu kuberitahu, kalian kurang berharga untuk mengenalnya. Ayahku adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui.”

Ketika nona muda itu memperkenalkan julukannya, para penjahat itu saling pandang sambil tersenyum-senyum karena memang nama itu tidak terkenal. Akan tetapi ketika gadis itu menyebut nama Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sebagai ayahnya, berubah wajah mereka. Bahkan kedua pangcu itu dan para tamu undangan nampak kaget sekali. Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang jarang muncul di dunia Kang-ouw, namun namanya dikenal sebagal seorang tokoh besar yang berilmu tinggi, yang sekarang hidup sebagai seorang “raja kecil” di pantai Laut Pohai, di lembah muara Sungai Kuning. Karena kepandaiannya yang tinggi tak seorang pun bajak laut atau perampok berani mengganggu perkampungan raja kecil ini. Sekarang tahu-tahu seorang gadis jelita yang datang ini mengaku sebagai puterinya dan bermaksud merampas mahkota pusaka yang sedang diperebutkan oleh golongan itu.

Swat-ji yang masih merasa penasaran, ketika mendengar ini segera tahu bahwa gadis yang dibencinya itu tentu akan dimusuhi oleh kedua fihak, maka keberaniannya timbul kembali. Baginya yang belum banyak merantau, ia tidak mengenal siapa itu Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) Tan Beng Kui.

“Budak liar jangan menjual lagak di sini!” Swat-ji memaki dan cepat menyerbu dengan pedangnya, dari belakang langsung menyerang gadis yang berjuluk Bi-yan-cu itu.

Si Walet Jelita, gadis yang cantik itu, mengeluarkan suara mengejek dan ketika tubuhnya bergerak dengan amat indahnya ternyata ia telah dapat mengelak tanpa mengubah kedudukan kakinya dan selagi pedang lawannya menyambar lewat, tangan kirinya mendorong. Tak dapat tertahankah lagi tubuh Swat-ji terdorong ke depan, apalagi dari belakang ditambah sebuah tendangan ke tubuh belakang yang mengeluarkan bunyi “plok!” membuat tubuh Swat-ji terperosok ke depan, pedangnya mencelat dan hidungnya yang mencium tanah dengan keras itu mengeluarkan darah.

“Tangkap gadis liar ini!” terdengar Hui-houw-pangcu Lauw Teng memberi aba-aba.

“Bunuh saja dia!” terdengar ketua Kiang-liong-pang berseru. Dua fihak yang tadinya bermusuhan, untuk sementara melupakan permusuhan mereka dan tanpa berunding sudah bersekutu untuk mengalahkan gadis berbahaya itu.

Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengikuti semua peristiwa itu. Hatinya berdebar ketika dia mendengar pengakuan gadis yang baru datang itu. Nama Tan Beng Kui tentu saja dikenalnya baik sungguhpun belum pernah dia bertemu muka dengan orangnya. Dia sudah banyak mendengar dari ayah bundanya tentang Tan Beng Kui karena orang ini dahulu juga seorang pejuang gagah, murid pertama dari Raja Pedang Cia Hui Gan. Bukan itu saja, malah Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari Tan Beng San yang sekarang menjadi ketua Thai-san-pai. Kun Hong amat kagum dan takluk kepada Tan Beng San, orang yang amat dia hormati karena kegagahannya, apalagi kalau dia ingat bahwa Tan Beng San adalah ayah dari mendiang kekasihnya, Tan Cui Bi, Malah boleh dibilang dia adalah murid langsung dari Tan Beng San Si Raja Pedang itu, yang ketika dia menjadi buta, telah membisikkan rahasia dari Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun-hoat (Baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).

Sekarang gadis yang mengaku berjuluk Bi-yan-cu Si Walet Jelita ini, yang bukan lain adalah keponakan dari Tan Beng San, berada di sini dan terancam bahaya pengeroyokan dua fihak yang tadinya bertentangan. Angin gerakan gadis itu tadi membuktikan bahwa ia berkepandaian tinggi, tentu telah mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat dari ayahnya. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan demikian banyaknya orang, tentu berbahaya juga. Seorang gadis yang menurut suaranya takkan lebih dari delapan belas tahun usianya itu mana boleh mati dikeroyok, juga amat tidak baik kalau mengamuk dan menjadi pembunuh puluhan orang manusia. Dia harus segera turun tangan, demikian Kun Hong mengambil keputusan.
Sudah terdengar olehnya suara senjata beradu disusul pekik kesakitan banyak orang. Ah, jelas bahwa gadis lihai itu tentu sudah mengamuk, pikirnya. Cepat Kun Hong melompat berdiri, tongkatnya siap di tangan kanan dan tangan kirinya mengeluarkan mahkota itu, diangkatnya tinggi-tinggi lalu dia berseru nyaring,

“Heeii, kalian semua berhentilah bertempur dan lihat apa yang berada di tanganku ini!!”

Karena ketika berseru ini Kun Hong mengerahkan sedikit tenaga khikang dari dalam perutnya, tentu saja suaranya nyaring sekali mengatasi semua kegaduhan dan mendadak semua pertempuran berhenti ketika mereka melihat benda emas mengkilap terhias permata berkilauan berada di tangan kiri pemuda buta itu.

“Mahkota pusaka …….!” terdengar teriakan di sana-sini.

“Kalian bertempur untuk memperebutkan benda ini, bukan? Benar-benar kalian tak tahu malu. Benda ini bukanlah milik kalian, terang bahwa benda ini dirampok dari tangan seorang pembesar. Sungguh tak baik kalian. Rakyat sudah cukup penderitaannya, kalian orang-orang kuat dan memiliki kepandaian, mengapa justeru mempergunakan kekuatan itu untuk menambah kekacauan dan memperberat penderitaan rakyat? Sekarang benda ini sudah berada di tanganku, hendak kukembalikan kepada yang berhak. Siapa saja tidak boleh merampas benda ini dan kalian tidak perlu saling bermusuhan lagi!”

Semua orang itu berdiri melongo. Siapa yang takkan terheran-heran menyaksikan aksi orang buta itu? Dan akhirnya meledaklah suara ketawa saking geli di samping marah dan mendongkol. Yang paling marah dan mendongkol adalah Lauw Teng. Dia marah sekali kepada puterinya. Benda itu dia suruh simpan atau bawa puterinya agar tidak diketahui orang, siapa duga oleh puterinya dititipkan kepada sinshe buta ini.

“Kwa-sinshe, apakah ……. apakah kau sudah gila?” bentaknya marah.

Yang lebih dulu bergerak adalah Swat-ji. Gadis ini kaget dan takut sekali akan kemarahan ayahnya ketika melihat orang buta itu begitu saja memperlihatkan mahkota kepada semua orang. Ia cepat meloncat ke depan dengan hidung masih berdarah, menyambar dengan tangannya untuk merampas mahkota itu dari tangan Kun Hong.

“Sinshe, kau kembalikan titipanku!” katanya. Akan tetapi aneh sekali, sambarannya tidak mengenai sasaran sehingga ia terhuyung-huyung ke depan. Ia membalik dan dengan suara merayu ia membujuk, “Sinshe yang baik, kau kembalikan benda itu kepadaku.”

“Nona Lauw mahkota ini bukan milikmu, menyesal sekali tak dapat kuberikan kepada siapapun juga.”

Swat-ji marah dan menyerbu untuk merampas mahkota, namun tiba-tiba ia terjungkal dan untuk kedua kalinya ia mencium tanah. Kini hidung yang tadinya berdarah, berubah menjadi bengkak.

“Aduh …….” ia mengeluh, “kau ……. keterlaluan……. kau kejam. Tadi kau begitu baik ……. sinshe, bukankah malam nanti kau mau memijati badanku? Kenapa sekarang merampas mahkota?”

Kembali beberapa orang tertawa mendengar ini dan muka Kun Hong yang berkulit putih itu menjadi kemerahan. “Nona, jangan keluarkan omongan bukan-bukan!, Seharusnya sebagai seorang gadis kau tidak bertingkah seperti ini …….”

Tapi pada saat itu Lauw Teng sudah menerjang maju, tangan kanan menghantam dada Kun Hong sedangkan tangan kiri berusaha merampas mahkota sambil berseru.

“Sinshe buta, kiranya kau hendak mengacau!”

Seperti halnya Swat-ji, pukulan ini tidak mengenai sasaran, juga mahkota tidak terampas, sebaliknya entah mengapa dan cara bagaimana, tahu-tahu tubuh ketua Hui-houw-pang itu terjungkal ke bawah! Inilah hebat! Ketua Hui-houw-pang ini terkenal seorang yang cukup kosen, berkepandaian tinggi. Bagaimana ketika menyerang sinshe muda buta itu seperti tersandung batu kakinya dan terjungkal begitu mudah? Orang-orang tidak ada yang dapat mengikuti gerakan Kun Hong dan bagi mereka seakan-akan pemuda buta itu tidak bergerak apa-apa kecuali mengangkat mahkota itu tinggi-tinggi seperti takut dirampas! Hanya beberapa orang saja yang menjadi tertegun dan berubah air mukanya. Mereka ini adalah Lauw Teng sendiri, ketua Kiang-liong-pang, Bhe Ham Ko, tosu dan Kwan Tojin, laki-laki tinggi besar muka hitam, beberapa orang tamu undangan Lauw Teng, dan juga, nona baju hitam yang baru datang. Mereka itu melihat betapa ketua Hui-houw-pang tadi roboh oleh gerakan tangan yang perlahan dan hampir tidak kelihatan dari sinshe buta itu! Keadaan menjadi gempar dan kini segala kemarahan dan perhatian ditumpahkan semua kepada si buta! Lupalah semua orang akan urusan yang tadi, lupa akan pertengkaran antara Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang, lupa pula akan si nona baju hitam yang tadinya hendak mereka keroyok. Sekarang mahkota berada di tangan sinshe buta, tentu saja dia inilah yang menjadi sasaran. Dan hal ini tepat seperti yang dikehendaki oleh Kun Hong.

Setelah menyaksikan betapa dengan aneh Lauw Teng roboh sendiri ketika hendak merampas mahkota, orang-orang tidak berani bertindak sembrono. Mereka memandang orang buta itu dengan heran dan ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan. Kun Hong juga berdiri tak bergerak, siap untuk membela diri dari setiap serangan.

Seorang anggauta Kiang-liong-pang maju perlahan. Tangan kanannya memegang sebuah ruyung besi yang berat, Sejak tadi dia mengincar Kun Hong dan dia tidak percaya kalau tidak mampu menjatuhkan si buta ini. Apa sih sukarnya mengalahkan orang buta? Sekali pukul beres. Agaknya si buta ini pandai silat, pikirnya, maka harus digunakan akal. Dengan amat hati-hati dia melangkah terus maju sampai dekat sekali dengan Kun Hong, dalam jarak satu meter. Pemuda itu tetap tidak, bergerak seakan-akan tidak tahu bahwa dia, didekati lawan dari depan yang kini sudah menggeletar seluruh urat di tubuhnya untuk menghantamnya. Tanpa mengeluarkan kata-kata, orang itu kini mengangkat ruyungnya tinggi-tinggi, menghimpun tenaga lalu “wherrrr!” ruyungnya menimpa ke arah kepala Kun Hong yang agaknya akan pecah berantakan tertimpa ruyung besi yang berat itu. Seperti tadi, tanpa menggeser kakinya Kun Hong miringkan kepala dan sekali jari tangannya bergerak, lawan itu jatuh tersungkur, mengaduh-aduh kesakitan karena ruyungnya mencium kepalanya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa.

Seorang anak buah Hui-houw-pang dari belakang Kun Hong berindap-indap menghampiri dengan tombak runcing di tangan. Setelah dekat tiba-tiba dia menusuk.

Tombak menusuk angin, terdengar suara keras, tombak patah menjadi tiga dan orang itu terlempar ke belakang.

Sekarang barulah semua orang tahu atau menduga bahwa si buta itu kiranya bukanlah seorang sembarangan, melainkan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa! Akan tetapi karena dialah yang kini memegang mahkota yang amat diinginkan itu, semua orang kini mulai mendekat dengan sikap mengancam.

Dengan kepala dimiringkan Kun Hong dapat mendengar betapa orang-orang itu mendekat dan mengepungnya, malah yang mengurungnya kini bukanlah orang-orang biasa seperti tadi telah menyerangnya. Agakhya tokoh-tokoh penting dari kedua fihak mulai hendak turun tangan secara mengeroyoknya, juga dari sebelah kirinya dia tahu bahwa gadis yang berjuluk Bi-yan-cu itupun hendak menyerbu dan merampas mahkota. Kun Hong memegang tongkatnya erat-erat di tangan kanannya.

Dia tidak menanti lama. Segera didengarnya angin menyambar, angin senjata yang menyerang dari kanan-kiri, depan dan belakang. Cepat dia menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara “cring-cring-cring” berulang-ulang disusul dengan suara gaduh dan jerit kesakitan. Orang-orang yang belum ikut menyerbu memandang dengan mata terbelalak keheranan. Mereka tadi melihat orang-orang pilihan dari kedua fihak menyerbu dan hanya tampak kilat berkelebatan, tapi……….. tahu-tahu banyak pedang, golok dan tombak beterbangan dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan lima orang sekaligus roboh bergulingan, menjerit-jerit karena tangan atau lengan mereka berdarah, luka tergores benda tajam! Hebatnya, ketika mereka melihat lagi ke arah sasaran, si buta itu masih berdiri seperti biasa, dengan tangan kiri memegang mahkota tinggi dan tangan kanan membawa tongkat!

“Minggir ………..!” Bentakan ini keluar dari mulut ketua Kiang-liong-pang dan kakek ini dengan dayungnya menerjang hebat.

Lauw Teng yang tidak ingin melihat ketua fihak saingan ini dapat merampas mahkota, cepat mencabut golok besarnya dan hampir berbarengan menyerbu pula ke depan. Gerakannya ini diikuti oleh Ban Kwan Tojin yang sudah mencabut sepasang pedangnya karena tosu ini yang berpemandangan tajam sudah mengetahui bahwa pemuda buta ini bukan orang sembarangan dan memiliki kepandaian yang hebat. Apalagi kalau diingat keterangan pemuda ini yang mengaku sebagai murid Toat-beng Yok-mo, tentu saja patut miliki ilmu silat yang luar biasa.

Sementara itu, gadis baju hitam berjuluk Bi-yan-cu, semenjak tadi menahan senjatanya. Ia seorang gadis yang mewarisi ilmu kepandaian tinggi, pandang matanya awas dan tajam. Melihat gerak-gerik si buta ini, jantungnya berdebar. Segera ia dapat mengenal dasar-dasar gerakan yang aneh dan luar biasa, dasar ilmu silat yang sakti. Oleh karena itu, biarpun ia ikut mendekat, namun ia tidak berani sembrono melakukan penyerangan. Ia masih belum tahu apa kehendak orang buta yang aneh itu, tidak tahu apakah dia itu kawan atau lawan dan apa pula yang hendak dilakukan dengan perampasan mahkota itu. Akan tetapi melihat si buta menentang dua perkumpulan penjahat sekaligus, di dalam hati gadis itu sudah menganggap Kun Hong sebagai kawan. Maka ia bersikap waspada, pedang di tangan untuk siap membantu si buta kalau-kalau terancam bahaya pengeroyokan puluhan orang banyaknya itu.

Dalam waktu hampir bersamaan pelbagai senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan terlatih itu menyambar ke arah tubuh Kun Hong. Yang terdahulu sekali adalah dayung di tangan Bhe Ham Ko yang menyambar ke arah kepalanya, mengeluarkan suara mengiung saking kerasnya. Dayung ini menyambar dari kanan ke kiri. Lalu disusul berkelebatnya golok besar di tangan Lauw Teng. Sambaran golok ini mengarah leher, juga cepat dan bertenaga sehingga mengeluarkan suara mendesing. Kemudian sepasang pedang di tangan Ban Kwan Tojin pembantu Lauw Teng itu pun meluncur datang, yang kiri menusuk lambung yang kanan menyerampang kaki. Gerakan ini dilakukan oleh tosu itu dengan menekuk lutut, cepat dan berbahaya sekali datangnya pedang, hampir tak dapat diikuti pandangan mata.

Diam-diam gadis jelita baju hitam mengeluarkan keringat dingin. Ia harus mengaku bahwa tiga orang ini bukanlah merupakan lawan yang lunak dan andaikata ia sendiri yang diserang secara berbareng seperti itu, hanya dengan meloncat jauh mengandalkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) saja agaknya akan dapat menyelamatkan dirinya. Akan tetapi orang buta itu tidak kelihatan bergerak sama sekali, masih berdiri tegak dengan tangan kiri yang memegang mahkota diangkat tinggi sedangkan tangan kanan memegangi tongkat melintang di depan dada.

Akan tetapi tiba-tiba kelihatan sinar merah berkilat menyambar-nyambar, merupakan gulungan sinar merah yang menyilaukan mata, disusul suara nyaring berdencingnya senjata tajam saling bertemu dan……….. tiga orang pengeroyok ini berseru kaget dan masing-masing melompat mundur sampai tiga meter lebih.

Ketika semua orang yang tadi menjadi silau matanya oleh sinar merah yang bergulung-gulung itu kini dapat memandang penuh perhatian, mereka melihat bahwa Bhe Ham Ko bengong memandang dayungnya yang sudah patah menjadi dua potongan kecil di kedua tangannya, Lauw Teng melongo menatap tangan kanannya yang hanya memegangi gagang golok sedangkan Ban Kwan Tojin merah mukanya karena pedangnya yang kanan terbang entah ke mana sedangkan yang kiri sudah semplok (patah) ujungnya!

Apabila semua orang memandang kepada pemuda buta itu, ternyata si buta ini masih saja berdiri seperti tadi dengan tangan kiri tinggi-tinggi di atas kepala memegang mahkota emas sedangkan tangan kanan masih memegang tongkat melintang! Apakah pemuda buta ini main sihir? Demikian para anak buah kedua perkumpulan penjahat itu bertanya-tanya dan merasa bingung, juga kaget, heran dan gentar. Akan tetapi tentu saja dugaan ini tidak betul dan para pengeroyok tadi, juga si gadis baju hitam tahu belaka betapa secara hebat pemuda buta itu tadi menggerakkan tongkatnya yang butut dan tampaklah sinar merah bergulung-gulung yang menangkis dan merusak semua senjata itu. Yang membikin heran mereka adalah kehebatan tongkat itu yang demikian ampuhnya sehingga dapat mematahkan senjata-senjata tajam dan berat. Bukankah tongkat itu hanya tongkat kayu belaka?
Tentu saja tidak demikian keadaan yang sesungguhnya. Biarpun hanya tongkat kayu, akan tetapi di sebelah dalamnya adalah pedang Ang-hong-kiam, pedang pusaka yang ampuh sekali. Apalagi digerakkan oleh tangan yang memiliki tenaga dan kepandaian sakti seperti Kun Hong, sudah tentu para kepala penjahat itu bukanlah tandingannya!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: