Pendekar Buta ~ Jilid 20

Inilah yang membuat Nagai Ici menjadi penurut. Biasanya, di negerinya kaum wanita tidaklah mendapat tempat terlalu tinggi, dianggap sebagai mahkluk lemah yang tugasnya hanya menjadi penghibur kehidupan pria belaka. Kini dia bertemu “batunya”, seorang dara lincah yang hebat, yang sekaligus membangkitkan harapannya untuk mendapatkan guru pandai di samping sekaligus menjatuhkan hatinya pula, membuat dia bertekuk lutut di dalam hati, tak kuasa menentang sinar mata jeli dari si juita itu.

Anehkah kalau jago muda dari Jepang itu tersenyum-senyum gembira, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar ketika dia mengendarai kuda di samping Loan Ki?

******

Setelah Kian Bun Ti menduduki singgasana menjadi kaisar dan terkenal juga dengan nama Hui Ti (pada tahun 1399), timbullah persaingan hebat di kota raja untuk memperebutkan kedudukan. Sebagian banyak pangeran tua merasa tidak puas melihat Hui Ti menjadi kaisar, karena mereka sudah mengenal Pangeran Kian Bun Ti sebagai seorang muda yang hanya mengejar kesenangan belaka. Akan tetapi, para pangeran muda dan para pembesar yang mendapat kedudukan baik setelah Kian Bun Ti naik tahta, tentu saja mati-matian membela kaisar baru ini. Dengan demikian, maka diam-diam terjadilah permusuhan. Keadaan kota raja seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu tentu akan meletus.

Biarpun kaisar Hui Ti yang muda itu sendiri adalah seorang yang keahliannya hanya mengejar wanita cantik dan bersenang-senang, namun para pembantunya yang juga mempertahankan kedudukan mereka masing-masing, adalah orang-orang pandai yang banyak pengalaman. Karena itu, untuk memperkuat kedudukan kaisar baru ini, para menteri dan pembesar tinggi, terutama golongan bu (militer) segera memperkuat penjagaan, memperkuat barisan dan mendatangkan banyak ahli-ahli dari luar. Selain itu, setiap hari diadakan pembersihan untuk membasmi mereka yang dianggap sebagai lawan, mereka yang dianggap membahayakan kedudukan Hui Ti dan para pembesar pendukungnya.

Seperti sudah lazim terjadi, bilamana angin puyuh bertiup, yang rontok bukan hanya daun-daun kering dan buah-buan busuk, juga daun-daun segar dan buah-buah muda bisa saja terlanda angin puyuh dan rontok semua. Dalam keadaan negara pun demikian. Bilamana keributan terjadi, yang menjadi korban bukan hanya mereka yang memang tersangkut, juga yang tidaktahu apa-apa bisa saja menjadi korban. Sudah tentu saja menurut rencana para pembesar yang mengatur ini semua, yang harus dibersihkan adalah mereka yang berbahaya, mereka yang diam-diam mempunyai niat untuk melawan dan menumbangkan kekuasaan kaisar baru untuk diganti dengan kaisar pilihan mereka sendiri. Akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak sekali terjadi penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan sehingga terjadilah pemerasan, penyelewengan dan kejahatan yang berdasafkan fitnah. Bisa saja terjadi seorang petugas kecil mendatangi seorang hartawan dan melancarkan fitnah keji bahwa hartawan itu termasuk anti kaisar baru. Kemudian dengan alasan “melindungi”, si petugas kecil itu menerima “uang jasa” yang jumlahnya melebihi besarnya jumlah upahnya sepuluh tahun! Ini baru contoh kecil-kecilan saja, banyak terjadi hal yang lebih hebat daripada contoh itu.

Kota raja goncang karena pertentangan-pertentangan ini. Penduduk kota raja dicekam kekuatiran. Banyak malah yang pergi mengungsi keluar daerah, memilih tempat tinggal di dusun-dusun jauh dari kota raja, di mana rakyatnya tidak sedikit pun merasai akibat ketegangan politik di kota raja. Akan tetapi ketenteraman ini pun hanya sementara saja mereka rasakan, karena tak lama kemudian pembersihan dilakukan sampai ke dusun-dusun pula di mana tangan-tangan iseng dari manusia-manusia berbatin rendah itu menyebar fitnah ke sana ke mari sambil mencari kesempatan mengeduk kekayaan sebanyak mungkin.
Kota raja dijaga ketat. Semua pintu gerbang kota raja dijaga oleh para pasukan pilihan, dan di dalam kota raja sendiri penuh dengan mata-mata yang melakukan penyelidikan agar jangan sampai kota raja diselundupi kaki tangan lawan. Memang paling repot menghadapi lawan yang tidak diketahui dari mana datangnya ini. Lawan-lawan yang bisa saja menyelundup ke dalam golongan pedagang, pengemis, buruh, seniman, malah bisa jadi menyelundup ke dalam golongan pembesar dan perajurit sendiri.

Pada suatu pagi, pagi-pagi sekali di luar pintu gerbang sebelah utara, tampak seorang laki-laki muda yang pakaiannya sederhana tapi bersih, berdiri dengan tongkat di tangan dan kepala tunduk. Orang ini bukan lain adalah Si Pendekar Buta, Kwa Kun Hong. Telah kita ketahui bahwa setelah berpisah dari Song-bun-kwi, Pendekar Buta ini pergi ke kota raja. Banyak hal yang harus dia selidiki, selain persoalan yang menyangkut Thai-san-pai juga soal mahkota kuno yang mengandung rahasia kenegaraan besar itu, yang kini berada dalam bungkusan pakaian yang digendongnya. Biarpun dia buta, namun karena kepandaiannya yang tinggi, dia dapat juga melakukan perjalanan cepat. Sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan, akhirnya dia sampai juga di luar pintu gerbang sebelah utara. Baru saja dia mendengar keterangan bahwa tidaklah mudah untuk memasuki kota raja, karena setiap orang dicurigai dan pintu gerbang dijaga keras. Sedikit saja menimpulkan kecurigaan para penjaga, tentu akan ditangkap dan dimasukkan tahanan. Inilah yang membuat Kun Hong ragu-ragu dan hati-hati. Dia tidak takut dicurigai, tidak takut pula ditangkap. Akan tetapi karena mahkota kuno itu berada padanya, amatlah tidak baik kalau sampai dia tertawan. Mahkota itu harus dia jaga, kalau perlu berkorban nyawa.

Betapapun juga, Kun Hong sudah mempunyai dasar Watak berhati-hati, tidak mau sembarangan mempercaya berita yang didengamya tentang keburukan seseorang. Dia sudah mendengar dari Tan Hok tentang Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang sudah menjadi kaisar dan bahwa hal ini amatlah buruk akibatnya, karena pangeran itu bukanlah seorang yang patut menjadi kaisar. Karena itulah maka mendiang kaisar tua telah meninggalkan surat rahasia yang disimpan di dalam mahkota kuno itu, surat rahasia yang memberi kuasa kepada Pangeran Tua Yung Lo di utara untuk bertindak terhadap kaisar baru. Akan tetapi, Kun Hong tidak merasa puas kalau tidak mendengar sendiri keadaan di kota raja. Karena ini, dia sengaja pergi ke kota raja hendak melakukan penyelidikan dan mencari sahabat-sahabatnya, yaitu perkumpulan Hwa I Kaipang. Dia dapat mempercayai Hwa I Kaipang, karenanya dia hendak minta bantuan mereka ini, selain menyelidiki tentang keadaan kaisar baru, juga menyelidiki tentang musuh-musuh Thai-san-pai itu.

Selagi Kun Hong berdiri ragu-ragu di luar pintu gerbang tembok kota raja, menimbang-nimbang bagaimana dia dapat memasuki kota raja yang terjaga kuat itu, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki dua orang mendekatinya dari arah belakang.

Dia mengira bahwa dua orang itu tentulah orang-orang yang lewat dan akan memasuki pintu gerbang, maka dia tidak menaruh perhatian. Baru dia kaget dan heran ketika dua orang itu berhenti di depannya dan terdengar suara halus seorang laki-laki muda,

“Aduh kasihan, semuda ini menanggung derita, tak pandai melihat! Saudara yang buta, kau hendak pergi ke manakah? Biarlah aku menunjukkan jalan yang hendak kau tuju.”

Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pria muda, paling banyak beberapa tahun lebih tua daripadanya, seorang yang gerak-gerik dan tutur bahasanya halus, pantasnya seorang muda terpelajar, akan tetapi di dalam suara itu juga terkandung tenaga seorang ahli tenaga dalam, seorang yang biasa melakukan samadhi dan menguasai peraturan bernapas. Dia cepat-cepat menjura dengan hormat dan berkata sambil tersenyum,

“Terima kasih banyak. Anda baik hati benar, sudi memperhatikan seorang buta seperti saya.”

Orang itu tertawa, suara ketawanya lembut seperti ketawa wanita. “Aku dapat menduga bahwa kau bukanlah seorang buta biasa saja. Wajah dan pakaianmu menunjukkan bahwa kau seorang yang berpengetahuan dan terdidik. Kata-kata yang kau ucapkan memperkuat dugaanku. Sahabat, jangan kau curiga. Aku The Sun bermaksud baik terhadap seorang buta yang menarik hatiku. Apakah kau hendak memasuki kota raja? Hayo, boleh bers-maku dan aku tanggung kau takkan diganggu para penjaga goblok itu. Aku sudah mereka kenal baik.”

Berdebar hati Kun Hong, dia memang tadinya menaruh hati curiga, akan tetapi mendengar penawaran ini, dia benar-benar bersyukur di dalam hati. Kesempatan terbaik baginya. Cepat-cepat dia menjura lagi dan berkata,

“Saudara The benar-benar budiman. Aku Kwa Kun Hong seorang buta amat berterima kasih kepadamu. Sesungguhnyalah, aku bermaksud memasuki kota raja mengadu untung, siapa tahu di kota raja aku dapat menolong banyak orang dan mendapat banyak rejeki.”

Hening sejenak, agaknya The Sun itu mengamat-amatinya baik-baik, lalu terdengar dia berkata, “Ah, saudara Kwa, apakah kau seorang tukang gwamia (ahli nujum)!” Memang banyak terdapat orang-orang buta yang membuka praktek sebagai ahli nujum, menceritakan nasib orang-orang dengan meraba telapak tangan mereka. Tentu saja, seperti biasa, ahli-ahli nujum ini sebagian besar hanya tukang bohong belaka, mencari korban di antara orang-orang bodoh yang mudah “dikempongi” dan ditarik uangnya.

Kun Hong menggeleng kepala. “Bukan, aku hanyalah seorang tukang obat biasa, saudara The.”

“Ah, begitukah? Baiklah, mari kita memasuki kota raja dan kau akan kuantarkan di pusat kota yang paling ramai. Mudah-mudahan saja kau akan dapat menyembuhkan banyak orang sakit dan mendapatkan banyak rejeki seperti yang kau harapkan.”

Sambil berkata demikian, orang itu menggerakkan tangan hendak menangkap tongkat Kun Hong, akan tetapi ternyata dia hanya menangkap angin karena seperti tanpa disengaja, Kun Hong sudah lebih dahulu menarik tongkatnya sambil tertawa, “Terima kasih atas kebaikanmu. Marilah, aku akan mengikuti di belakangmu.”

The Sun tertawa, lalu berjalanlah dia perlahan-lahan menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh Kun Hong. Dengan pendengaran telinganya Kun Hong tahu bahwa orang ke dua juga berjalan di samping The Sun dan diam-diam dia terkejut juga karena orang itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat, akan tetapi masih juga tidak mampu menandingi kepandaian The Sun yang muda karena jejak kaki The Sun ini sama sekali tidak mengeluarkan suara dan oleh pendengarannya yang amat tajam sekalipun hanya terdengar sedikit seperti langkah seekor kucing saja. Mulailah dia menaruh curiga. Terang bahwa orang yang mengaku bernama The Sun bersama temannya yang tidak diperkenalkan kepadanya ini adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat tinggi. Kebetulankah The Sun ini seorang yang berbudi dan menaruh kasihan kepadanya? Ataukah memang sengaja hendak mendekatinya? Dia harus berhati-hati. Karena kehati-hatiannya pula inilah maka tadi dia sengaja tidak membiarkan tongkatnya dipegang orang itu. Tongkatnya adalah senjata yang paling diandalkan.

Ketika mereka melewati pintu gerbang memasuki kota raja, Kun Hong melangkah dengan hati-hati dan telinganya mendengarkan penuh perhatian. Tidak terjadi sesuatu, kecuali seorang di antara para penjaga agaknya yang menegur dengan suara menghormat.

“Sepagi ini The-kongcu (tuan muda The) baru pulang, agaknya mendapatkan kesenangan malam tadi. Selamat pagi, Kongcu!”

Lalu disusul suara penjaga ke dua, “Lo-ji, kau benar lancang mulut! Seorang siucai (lulusan pelajar) seperti The-kongcu mana bisa kau samakan dengan kau yang suka keluyuran di waktu malam? Kongcu, kalau Kongcu kehendaki, biar saya mewakili Kongcu menampar muka Lo-ji yang kurang ajar ini!”

The Sun itu tertawa perlahan, agaknya dia amat dihormat, disegani, juga disukai para penjaga, terbukti dari keramahannya dan dari sikap para penjaga yang biarpun amat menghormatinya dan amat takut kepadanya, namun berani pula bermain-main. “Sudahlah, sepagi ini sudah berkelakar. Jaga saja baik-baik sampai kalian diganti penjaga baru. Aku mengajak sahabat buta tukang obat ini memasuki pintu gerbang, aku yang menanggung dia.”

“Silakan……….. silakan………..” bak mulut penjaga berkata ramah.

Setelah mereka berhasil melewati pintu gerbang dan tiga lapis penjagaan, Kun Hong mendengar The Sun berkata, “Mulai sekarang tidak ada penjagaan lagi.”

Kun Hong menjura dengan hormat, “Saudara ternyata adalah seorang kongcu dan seorang siucai pula, harap suka memaafkan karena mata saya buta, saya tidak tahu dan telah berlaku kurang hormat. Budi Kongcu amat besar, Kongcu amat baik kepada saya dan terima kasih saya ucapkan.”

“Ah, saudara Kwa Kun Hong, kenapa begini banyak sungkan? Biarpun kau seorang yang menderita kebutaan, akan tetapi aku pun dapat menduga bahwa kau bukan seorang biasa yang tidak tahu apa-apa, Sikapmu penuh sopan dan kau tahu aturan, tanda bahwa kau pun seorang yang pernah mempelajari kebudayaan. Marilah, mari kuantar kau ke tempat yang ramai agar di sana kau dapat mulai dengan pekerjaan itu.”

Kembali Kun Hong menjura, di dalam hati dia merasa amat curiga, akan tetapi di luarnya dia pura-pura bersikap tidak enak. “Mana saya berani mengganggu Kongcu lebih lama lagi? Budi Kongcu membawa saya masuk saja sudah amat besar. Harap Kongcu meninggalkan saya di sini saja, biar saya berjalan perlahan mencari-cari langganan. Dengan tanya-tanya agaknya saya akan sampai juga ke tempat ramai.”

“Ih, mana bisa begitu? Aku pun hendak menuju sejalan denganmu. Marilah, tak usah sungkan.”

Telinga Kun Hong yang tajam mendengar betapa orang ke dua yang sejak tadi berjalan bersama The Sun, kini berjalan cepat sekali meninggalkan tempat itu. Dia heran, akan tetapi tidak bertanya dan pura-pura tidak tahu.

Karena The Sun mendesaknya, tak dapat pula dia menolak dan terpaksa Kun Hong mengikuti pemuda itu menuju ke tengah kota. Makin lama makin ramailah orang hilir-mudik dan makin ramai orang bercakap-cakap. Biarpun sepasang mata Kun Hong tak dapat melihat lagi, akan tetapi dahulu sebelum dia menjadi buta kedua matanya, pernah dia datang ke kota raja, malah pernah dia menjadi tamu dari Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang menjadi kaisar (baca Rajawali Emas). Oleh karena itu, sekarang dia dapat membayangkan keadaan kota raja ini dengan hanya mendengar keramaian di sekelilingnya dengan pendengaran saja.

“Saudara Kwa, mari kita masuk rumah makan ini dulu. Makan dulu sebelum bekerja adalah hal yang paling baik,” kata The Sun sambil tertawa gembira.

Kun Hong mengerutkan keningnya. Terlalu baik orang ini. Apakah dia benar-benar baik terhadapnya, ataukah ada sesuatu tersembunyi di balik keramahan ini? Mana ada seorang siucai yang agaknya kaya raya dan berpengaruh di kota raja, suka menolong, malah sekarang hendak menjamu seorang buta seperti dia? Akan tetapi, semua ini baru dugaan dan amatlah tidak baik kalau dia menolak tawaran dan keramahan orang, apalagi memang dia merasa tertarik hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang menjadi dasar keramahan orang ini. Sambil mengangguk-angguk dan berucap terima kasih dia mengikuti The Sun memasuki rumah makan yang sudah menyambut mereka dengan asap dan uap yang gurih dan sedap. Diam-diam timbul pula harapannya untuk dapat bertemu dengan seorang anggauta Hwa I Kaipang, karena bukankah sudah lazim kalau pengemis-pengemis berada di dekat rumah makan untuk mengemis sisa makanan?

Pesanan masakan The Sun cepat dilayani oleh para pelayan yang juga menyebutnya kongcu dan melayaninya dengan sikap hormat,

“Mari silakan, saudara Kwa,” kata pemuda itu sambil mengisi cawan arak dan menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong. Orang buta ini dengan berterima kasih tetapi tetap berhati-hati segera mulai makan minum dengan pengundangnya yang aneh dan ramah.

Rumah makan itu tidak banyak didatangi tamu pada saat itu. Kun Hong mendengar ada beberapa orang tamu saja di meja sebelah kanannya. Tiba-tiba dia mendengar beberapa orang memasuki rumah makan itu. Dari bunyi derap langkah mereka tahulah dia bahwa orang-orang ini adalah ahli-ahli silat, malah beberapa orang di antaranya adalah ahli silat tinggi. Dia mulai waspada. Sukar menghitung tepat di tempat gaduh itu, akan tetapi dia tahu bahwa sedikitnya tentu ada lima orang yang datang ini. Lalu terdengar ribut-ribut di sebelah kanannya, dan terdengar suara keren berkata, “Diam semua, duduk di tempat. Buka semua buntalan, kami datang melakukan penggeledahan!”

Kun Hong mengerutkan keningnya dan bertanya lirih kepada The Sun, “Saudara The Sun, apakah yang terjadi di sana?”

The Sun tertawa, “Ah, tidak apa-apa biasa saja terjadi di kota raja. Penggeledahan, apalagi? Di kota raja sekarang ini banyak terdapat orang-orang jahat, dan semenjak kaisar muda menggantikan mendiang kaisar tua, banyak terjadi keributan. Hampir setiap hari ada orang ditangkap dan dihukum mati karena dia menjadi mata-mata musuh dan pengkhianat.”

Kun Hong kaget sekali, “Kalau begitu, kita nanti juga akan digeledah?” Dia tahu bahwa kalau buntalannya digeledah dan mahkota itu dilihat oleh para pemeriksa, tentu dia akan ditangkap. Ini tidak hebat, lebih celaka lagi mahkota itu tentu akan dirampas dan dengan demikian, surat rahasia itu terampas pula sehingga segala yang telah dia lakukan selama ini untuk mendapatkan kembali mahkota itu sia-sia belaka!

“Ah, terhadap aku mereka takkan menggeledah,” kata The Sun tertawa, “karena mereka semua sudah mengenalku. Hanya orang-orang asing yang datang ke kota raja dan orang-orang yang mencurigakan saja yang digeledah.”
Biarpun Kun Hong tidak gentar menghadapi para penggeledah itu, akan tetapi dia juga merasa tidak enak kalau belum apa-apa dia harus menimbulkan keributan di kota raja. Sebelum dia dapat menemukan orang-orang Hwa I Kaipang dan masih membawa mahkota itu, tidak baik menimbulkan keributan dan menjadi perhatian para penjaga kota. Dia segera bangkit berdiri dan berkata,

“Saudara The, banyak terima kasih atas segala kebaikanmu. Aku sudah kenyang dan hendak pergi saja, mulai dengan pekerjaanku.”

The Sun memperdengarkan suara kaget, “Eh, saudara Kwa. Kenapa tergesa-gesa? Apakah kau takut digeledah? Kau kan hanya tukang obat, yang kau bawa di buntalanmu, tentu hanya pakaian dan obat-obatan. Mengapa takut kelihatannya?”

“Tidak……….. tidak takut. Akan tetapi segan juga aku kalau harus digeledah. Siapa tahu obat-obatku bisa hilang sebagian.”

Tiba-tiba The Sun memegang tangan kiri Kun Hong. “Saudara Kwa, percayalah kepadaku. Aku akan melindungimu dari tangan anjing-anjing itu,” bisiknya. Kun Hong berdebar hatinya. Tak salahkah pendengarannya? Siapa yang menyebut para pembantu kaisar dengan sebutan “anjing” atau “anjing penjilat”, berarti orang itu termasuk golongan anti kaisar? Betulkah The Sun ini seorang yang segolongan dengan Tan Hok? Segolongan dengan Pek-lian-pai dan para orang gagah yang menentang kaisar baru yang dikatakan tidak tepat menduduki singgasana karena wataknya yang tidak baik? Dia tidak mau percaya begitu saja karena suara orang muda ini mengandung getaran yang sukar ditangkap dasarnya.

The Sun meneriaki pelayan dan cepat membayar harga makanan sambil memberi persen besar kepada pelayan. Kemudian dia menggandeng tangan Kun Hong diajak keluar. Bisiknya perlahan, “Saudara Kwa, apakah kau membawa sesuatu yang kau tidak suka dilihat oleh anjing-anjing itu?”

Sukar bagi Kun Hong untuk menjawab, maka dia diam saja. Selagi mereka berdua berjalan menuju ke pintu, tiba-tiba terdengar oleh Kun Hong orang membentak,

“Hei, orang buta! Berhenti dulu kau, tidak boleh ke luar sebelum digeledah!”

Kun Hong berhenti, siap melawan untuk menyelamatkan surat rahasia di dalam mahkota. The Sun segera berkata, nyaring, “Sahabat Kwa yang buta ini datang bersamaku, apa kalian tidak lihat? Dia tamuku, seorang ahli pengobatan yang hanya akan membawa pakaian dan obat-obatan. Apa perlunya digeledah kalau aku sudah menanggungnya?”

Terdengar oleh Kun Hong suara pimpinan para penggeledah itu yang keras dan mengandung tenaga, “Maaf The-kongcu. Kami mendapat perintah atasan agar hari ini kami menggeledah setiap orang yang belum pernah kami geledah. Orang buta ini belum pernah kami lihat, terpaksa kami tidak berani lepaskan sebelum digeledah karena kalau kami lakukan hal ini, tentu kami akan mendapat hukuman.”

The Sun berkata mengejek, “Hemmm, kalau begitu lekas selesaikan penggeledahan orang-orang itu, kami menanti di sini.” Dia menarik tangan Kun Hong diajak duduk di atas bangku di pojok. Lalu berbisik.

“Lekas, kau titipkan surat rahasia itu kepadaku!”

Kun Hong kaget dan heran bukan main. Apa yang dimaksudkan oleh The Sun? Apakah yang dimaksudkan surat rahasia yang berada di dalam mahkota?

Bagaimana orang ini bisa tahu? Dia sendiri yang selalu membawa mahkota itu, tidak tahu di mana disimpannya surat itu.

“Apa maksudmu?” bisiknya tak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. “Aku tidak membawa surat apa-apa.”

“Ah, Saudara Kwa yang baik, masih tidak percayakah kau kepadaku?” bisik The Sun, lalu ditambahkan lebih lirih lagi, “Aku segolongan denganmu…… aku membantu perjuangan……. aku membantu utara……”

Kun Hong lebih tidak mengerti lagi. Dia sendiri pun tidak tahu dia itu termasuk golongan mana karena biarpun dia mendengar dari Tan Hok tentang pergerakan dan pertentangan di kota raja, namun kalau dia belum mendapat kepastian siapa yang tidak benar dalam hal ini, bagaimana dia bisa membantu satu fihak? Hanya dia dapat menduga bahwa agaknya pemuda she The ini adalah sependukung Raja Muda Yung Lo di utara. Padahal surat yang disimpan di dalam mahkota itupun adalah surat rahasia dari mendiang kaisar untuk diserahkan kepada Raja Muda Yung Lo. Tidak akan kelirukah dia kalau mahkota itu dia berikan kepada pemuda ini agar disampaikan kepada yang berhak menerimanya?

Karena keraguan Kun Hong ini, dia terlambat. Terdengar derap langkah menghampiri dan bentakan orang tadi. “He, orang buta. Hayo turunkan buntalanmu itu dan buka. Juga pakaian luarmu, biarkan kami menggeledahmu!”

Kun Hong berdebar, lalu menjawab, “Saya hanya seorang tukang obat biasa saja, tidak membawa sesuatu, harap kalian jangan mengganggu aku seorang buta….”

“Ha-ha-ha, kau kira akan mampu ngelabui aku Bhe Hap Si Malaikat Bumi? Ha-ha-ha, orang buta, kau menyerahlah!” Angin cengkeraman yang amat dahsyat menuju dada Kun Hong. Dia merasa kaget sekali. Ini bukanlah serangan orang biasa, melainkan jurus yang dikeluarkan oleh seorang ahli silat kelas tinggi! Masa kalau pangkatnya hanya tukang geledah saja memiliki kepandaian begini tinggi?

Pada saat itu juga dari kanan dan kiri menyambar pula angin pukulan yang jeias membuktikan bahwa penyerang-penyerangnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat. Kun Hong cepat menggerakkan kedua kakinya dan dengan langkah ajaib dia dapat menghindarkan tiga serangan sekaligus itu.

“Ha-ha, kau bilang seorang buta biasa?” Bhe Hap berseru mengejek dan merasa penasaran sekali, lalu menerjang dengan hebat. Kun Hong diam-diam mengeluh karena mau tidak mau, belum apa-apa dia sudah menimbulkan keributan yang tentu akan berekor tidak baik. Dia sudah siap menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan orang-orang ini ketika tiba-tiba The Sun membentak,

“Orang-orang tak tahu aturan. Kalian berani menghina tamuku?” Kun Hong merasa betapa angin menyambar di sampingnya ketika pemuda yang ramah itu berkelebat ke depannya. Terdengar suara gaduh disusul keluhan orang.

“The-kongcu jangan ikut campur!” Bhe Hap membentak, akan tetapi The Sun menjawab. “Menyerang tamuku sama dengan menghinaku!”

“The-kongcu, kami bukan bermaksud begitu……” Bhe Hap membantah.

“Sudahlah, bebaskan saudara Kwa ini dari pemeriksaan, kalau tidak, terpaksa aku melawan kalian.”

“Hemmm, terpaksa pula kami menggunakan kekerasan!” bantah Bhe Hap.

Terjadilah pertandingan hebat di rumah makan itu. Kun Hong bingung. Haruskah dia membantu? Dengan pendengaran telinganya, dia dapat menangkap betapa gerakan Bhe Hap dan empat orang pembantunya yang lain amat kuat, cepat dan juga memiliki tenaga Iweekang yang tinggi. Akan tetapi agaknya orang muda she The ini benar-benar memiliki kepandaian hebat seperti telah diduga oleh Kun Hong. Buktinya tadi dalam segebrakan saja telah merobohkan seorang lawan dan kini dikeroyok lima tidak terdesak. Meja kursi beterbangan dan secara kebetulan agaknya beberapa kali dengan amat kerasnya meja dan kursi melayang ke arah tubuh Kun Hong. Terpaksa pemuda ini mengelak dan hal ini tentu saja mengherankan mereka yang melihatnya. Seorang buta bagaimana bisa mengelak dari sambaran meja kursi itu?

Kun Hong yang berdiri tegak dan diam memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi terheran-heran ketika tiba-tiba Bhe Hap dan teman-temannya meloncat keluar rumah makan dan orang itu berkata, “Hebat kepandaianmu, The-kongcu. Akan tetapi, si buta itu pasti akan dapat tertawan oleh kami!” Lalu terdengar mereka itu berlarian pergi.

The Sun menangkap tangan Kun Hong. “Lekas,” bisiknya, “mereka itu hanya untuk sementara saja dapat kuusir. Mereka tentu akan datang kembali dengan teman yang lebih banyak, malah tokoh-tokoh pengawal yang lebih kosen datang, kita bisa celaka. Mari cepat kau ikut denganku”
Kun Hong tidak mendapat jalan lain kecuali ikut berlarian cepat bersama The Sun, Dia tidak tahu ke mana dia dibawa, jalannya berliku-liku dan lebih satu jam lamanya mereka melarikan diri.

Akhirnya mereka berhenti di tempat yang sunyi dan The Sun mengajak Kun Hong memasuki sebuah rumah tua di pinggir kota yang sunyi ini.

“Di manakah kita ini?” Kun Hong bertanya, tongkatnya meraba lantai yang sudah bolong-bolong dan dinding yang tua dan retak-retak.

“Dalam sebuah bangunan bekas kuil tua yang tak dipakai lagi. Di sini kita aman, takkan ada yang menduga bahwa kau akan bersembunyi di tempat ini. Mari masuklah saja, di belakang ada sebuah kamar yang cukup bersih, kau boleh bersembunyi di sana.”

“Saudara The Sun, kau baik sekali…….” Kun Hong menangkap lengan tangan kanan orang muda itu. Gerakannya ini cepat sekali dan memang amat mengherankan bagaimana seorang yang tidak pandai melihat dapat menangkap lengan orang hanya dengan mendengarkan gerakan orang itu.

“Ah…….!” Kun Hong menghentikan kata-katanya tadi dan kini dia berseru kaget sambil meraba-raba lengan kanan The Sun. “Saudara The, kau……. kau terluka…….?”

“Wah, hebat sekali kau, Kwa-lote! Begitu memegang lenganku kau sudah tahu bahwa aku terluka. Benar-benar ilmu pengobatan yang kau miliki amat tinggi!” The Sun berseru kaget dan heran.

Tapi Kun Hong tidak memperdulikan pujian ini, melainkan segera memeriksa lengan kanan sampai ke pundak, “Luka ini baru saja. The-kongcu……. kau terluka ketika bertempur tadi!” Suara Kun Hong agak gemetar saking terharu mengingat betapa orang yang baru saja bertemu dengannya ini telah membelanya sampai terluka.

“Kwa-lote, jangan panggil kongcu kepadaku, bikin aku tidak enak saja. Aku sedikit lebih tua darimu, sebut saja twako kepadaku. Tentang luka…….” dia menarik napas panjang. “Memang anjing-anjing itu amat lihai, maka untung tadi kita sempat melarikan diri. Kalau datang tokoh yang lebih sakti, celaka…..”

Kun Hong terheran. “Tapi……. bukankah kau tadi berhasil mengusir mereka? Bagaimana kau bisa terluka?”

The Sun tertawa mengejek. “Kadang-kadang kepandaian silat saja tidak cukup untuk mencapai kemenangan, Kwa-lote. Sering kali terjadi, kecerdikan dan akal dapat mengalahkan kepandaian silat. Di antara para petugas istana tadi, terdapat seorang ahli pukulan Gin-kong-jiu (Tangan Sinar Perak) yang lihai, karena selain ilmu pukulan ini mengandung hawa beracun, juga dilakukan dengan pengerahan tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati), Tadi dalam pengeroyokan dia menyerangku dengan pukulan itu. Karena menghadapi pengeroyokan orang-orang berkepandaian tinggi, aku tidak mempunyai kesempatan mengelak lagi, terpaksa aku menyambut pukulan itu dengan tangan kananku. Aku tahu bahwa pada saat itu aku menderita luka dalam, akan tetapi kalau kalau hal itu kuperlihatkan, kita tentu sudah celaka tadi. Aku pura-pura tidak merasa akan hal ini, malah menyerang mereka kalang-kabut. Hal inilah yang membuat mereka kaget dan jerih, mengira bahwa pukulan hebat itu sama sekali tidak mempengaruhiku dan ini pula yang menyebabkan mereka mengaku kalah dan melarikan diri. Ha-ha, Kwa-lote, kau pikir, bukankah sekali ini ilmu silat kalah oleh akal dan kecerdikan?”

“The-twako benar-benar gagah dan berbudi. Untuk aku seorang buta, kau sudah mengorbankan diri menderita luka, membuat aku merasa tidak enak sekali.”

“Kwa-lote, di antara kita, perlu apa bicara sungkan seperti itu? Sekali bertemu muka aku tahu bahwa kau bukanlah seorang tukang obat buta biasa saja. Malah aku hampir merasa yakin bahwa kaulah orangnya yang disebut-sebut para teman seperjuangan yang mendesas-desuskan bahwa surat rahasia itu berada di tanganmu.”

“Surat rahasia ? Apa maksudmu ?”

The Sun terdengar kecewa. “Ah, sampai sekarang kau agaknya masih belum mau percaya kepadaku, Kwa-lote. Semua orang di antara para pejuang tahu bahwa surat rahasia peninggalan mendiang kaisar tua berada di tangan bekas pembesar Tan Hok, kemudian dikabarkan bahwa kaulah yang agaknya menguasai surat itu. Kalau memang betul demikian, akulah orangnya yang akan membawa dan mengantarkannya kepada Raja Muda Yung Lo di utara.”

Berdebar jantung Kun Hong. Ah, kiranya pemuda gagah ini adalah utusan atau pembantu dari raja muda dari utara itu! Sungguh kebetulan. Memang dia sedang mencari orang yang berhak menerima mahkota kuno berikut rahasianya itu untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo. Akan tetapi, kehati-hatiannya membuat dia berpikir lebih jauh lagi. Baru sekarang ini dia berkenalan dengan The Sun. Bagaimana dia dapat menyerahkan mahkota demikian saja ?

“The-twako, nanti saja kita bicara tentang itu. Sekarang biarkan aku mengobati lukamu,” katanya sambil menotok dan mengurut jalan-jalan darah di seluruh lengan dan pundak The Sun, kemudian menyalurkan hawa murni melalui telapak tangan kanan pemuda itu. The Sun terkejut dan berkali-kali mengeluarkan suara memuji. Setelah luka dalam itu sembuh oleh pengobatan Kun Hong yang mempergunakan sinkang di tubuhnya, The Sun menarik napas panjang dan berkata,

“Aahhh, ternyata biarpun aku bermata, aku lebih buta daripada kau, Kwa-lote. Aku hanya mengira bahwa kau seorang di antara saudara-saudara seperjuangan menentang kekuasaan kaisar muda yang talim. Tidak tahunya kau adalah seorang ahli yang memiliki kesaktian seperti ini! Benar-benar amat memalukan kalau kuingat betapa tadi aku memperlihatkan kebodohan dan kedangkalan ilmu silatku di depan seorang sakti!”
Kun Hong tersenyum dan menjura. “The-twako, kau seorang yang lihai, tidak perlu merendah seperti ini. Aku bukan apa-apa hanya mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Terus terang saja, aku bukanlah anggauta pejuang, aku tidak bisa disamakan dengan kau seorang patriot. Secara kebetulan saja aku mempunyai tugas yang ada hubungannya dengan perjuangan menentang kaisar baru.”

“Sudah kuduga, sudah kuduga sebelumnya, kau tentu bukan seorang biasa. Betulkah desas-desus itu bahwa kau menerima surat rahasia dari bekas pembesar Tan Hok? Atau……. masih belum percayakah kau kepadaku?”

Bimbang hati Kun Hong, pikirannya bekerja keras dan dia mendapat akal.

“Bukan begitu, The-twako, akan tetapi soalnya karena aku harus berhubungan dengan orang yang berhak. Sesungguhnya, biarpun aku mempunyai hubungan dengan paman Tan Hok, akan tetapi aku tidak diserahi sebuah pun surat rahasia, hanya aku merampasnya kembali sebuah mahkota kuno yang terampas dari tangan paman Tan Hok.”

“Mahkota kuno? Ah, segala benda berharga, apa artinya diperebutkan?” terdengar suara The Sun kecewa. Diam-diam Kun Hong mengambil kesimpulan bahwa pemuda pejuang ini ternyata belum tahu akan rahasia mahkota kuno yang menjadi tempat penyimpanan surat rahasia yang diperebutkan itu. “Ah sayang sekali kau tidak tahu tentang surat itu, Kwa-lote. Surat itu luar biasa pentingnya bagi perjuangan dan kalau sampai terjatuh ke tangan musuh, celaka.”

“Surat apakah yang kau maksudkan itu, The-twako?” Kun Hong memancing.

The Sun tidak segera menjawab, dari gerakannya tahulah Kun Hong bahwa pemuda itu pergi mendekati pintu, agaknya menyelidik kalau-kalau ada orang yang mendengarkan di tempat itu. Namun dengan ketajaman telinganya Kun Hong yakin bahwa di tempat itu, selain mereka berdua, tidak ada orang lain lagi.
Kemudian The Sun datang lagi mendekati Kun Hong dan berkata lirih. “Surat itu adalah surat peninggalan mendiang kaisar tua yang diserahkan kepada bekas pembesar Tan Hok. Isi surat itu mengatakan bahwa kaisar tua memberi kekuasaan penuh kepada Raja Muda Yung Lo dari utara untuk mewakilinya memberi hukuman kepada kaisar muda yang baru ini andaikata kaisar baru ini menyeleweng. Nah, bukankah amat penting surat itu? Jika surat itu diperlihatkan kepada para menteri dan pembesar yang berada di kota raja, tentu menimbulkan keributan besar karena sebagian besar tentu saja tunduk kepada pesan terakhir kaisar tua pendiri Kerajaan Beng. Sebaliknya kalau terjatuh ke tangan musuh dan dibasmi, tentu amat merugikan perjuangan.”

Mendengar ini, makin menipis keraguan hati Kun Hong. Tak salah lagi, pemuda gagah ini tentulah seorang pejuang yang diberi kepercayaan dari Raja Muda Yung Lo. Memang patut diberi kepercayaan karena orang ini amat cerdik. Kalau tidak cerdik, mana mungkin seorang yang bertugas mata-mata dapat seenaknya tinggal di kota raja, malah dikenal oleh para penjaga dan pengawal istana sebagai seorang kongcu dan siucai? Ingin sekali dia tahu murid siapakah pemuda ini dan sampai di mana tingkat ilmu silatnya. Tentu saja Kun Hong tidak berani bertanya tentang ini, apalagi menguji kepandaiannya, namun diam-diam dia sudah menjadi makin kagum saja.

“Wah, kalau begitu benar-benar amat penting surat rahasia itu, The-twake. Sayang aku tidak tahu akan hal itu.”

Tentang mahkota kuno ini, aku bermaksud untuk menyerahkan kepada seorang sahabat baikku. Maka kuharap kau sudi menolongku mencarikan sahabatku itu. Dia seorang pejuang kawakan dan tentu kau mengenalnya.”

“Siapakah dia?”

“Dia adalah Hwa I Lokai ketua dari perkumpulan pengemis Hwa I Kaipang.”

“Ah, dia…..?” Suara The Sun terdengar seperti orang kaget. Akan tetapi menjadi tenang kembali ketika berkata. “Tentu saja aku, mengenalnya dengan baik. Siapa yang tidak mengenal Hwa I Lokai yang amat lihai? Akan tetapi, mencari Hwa I Lokai kiranya lebih sukar daripada mencari iblis sendiri. Perkumpulan pengemis itu adalah perkumpulan rahasia, sama pengaruhnya seperti perkumpulan Pek-lian-pai yang juga menentang kaisar.”

Kun Hong mengangguk-angguk. “Kurasa kalau kau dapat mencari seorang dua orang anggauta Hwa I Kaipang dan dapat mengajak mereka, tentu akan mudah menjumpai Hwa I Lokai. Tolonglah cari dia dan ajak Hwa I Lokai datang ke sini menemuiku. Asal kau katakan bahwa Kwa Kun Hong yang minta dia datang, pasti dia akan datang ke sini.”

“Wah-wah, kiranya kau begini berpengaruh, Kwa-lote? benar-benar membuat aku makin tunduk dan kagum.”

“Bukan, bukan…….. sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan. Soalnya karena……. beberapa tahun yang lalu aku pernah mencampuri urusan dalam mereka, urusan Hwa I Kaipang dan akhirnya aku diangkat mereka menjadi ketua kehormatan. Itulah, tidak ada sebab lain.”

The Sun diam sampai lama, agaknya bimbang dan ragu apakah dia akan mampu mencari kakek itu. Kemudian katanya lagi, “Kwa-lote, daripada susah-susah mencari Hwa I Lokai, apakah bedanya kalau kau serahkan saja tugas itu kepadaku? Disuruh ke mana pun aku akan pergi, asal saja urusan itu penting untuk perjuangan.”

“Maaf, The-twako, soalnya bukan tidak percaya kepadamu, akan tetapi aku harus tidak mengecewakan paman Tan Hok yang sudah menaruh kepercayaan kepadaku.”

Akhirnya The Sun pergi setelah berkata, “Baik akan kucari Hwa I Lokai. Kau tunggulah saja di sini, lote.”

Ternyata Kun Hong harus menanti sehari penuh. Hari telah mulai sore dan Kun Hong sudah kehabisan sabar. Selain merasa lelah menunggu dan lapar, dia juga tidak suka berada dalam keadaan yang serba tiada ketentuan itu. Dia sudah hampir pergi meninggalkan tempat itu untuk mencoba mencari sendiri ketika terdengar derap langkah beberapa orang memasuki bangunan tua ini. Kun Hong cepat berdiri tegak menanti dengan sikap tenang namun penuh kesiap siagaan. Kiranya The Sun yang datang itu, bersama tiga orang kakek pengemis.

“Kwa-lote, tidak mungkin bertemu dengan Hwa I Lokai karena dia sedang pergi keluar kota, agaknya ke utara. Akan tetapi aku bertemu dengan tiga orang tokoh Hwa I Kaipang, kuajak mereka ke sini.”

Adapun tiga orang pengemis tua yang pakaiannya berkembang-kembang itu begitu, melihat Kun Hong lalu serentak menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata,

“Ah, kiranya Kwa-pangcu (ketua pengemis Kwa) berada di sini! Kami bertiga pengemis tua menyampaikan hormat kepada Kwa-pangcu.”

“Sam-wi lokai (Saudara pengemis tua bertiga) tidak usah berlutut dan terlalu sungkan, akan tetapi aku tidak mengenal suara sam-wi. Maaf, sam-wi siapakah dan apa kedudukan sam-wi di Hwa I Kai-pang?”

“Tidak aneh kalau Kwa-pangcu belum mengenal kami karena sudah bertahun-tahun Kwa-pangcu tidak pernah datang mengunjungi Hwa I Kaipang. Kami bertiga adalah pembantu-pembantu Lo-pang di samping Coa Lokai, sebagai pengganti dari Sun Lokai dan Beng Lokai yang telah diusir. Kami bertiga tahu semua akan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Kwa-pangcu datang dan membereskan keruwetan yang terjadi pada Hwa I Kaipang.”

Kun Hong mengangguk-angguk. Teringat dia akan pengalaman-pengalamannya beberapa tahun yang lalu sebelum dia menjadi cacat kedua matanya. Memang, karena dia berhasil membereskan keributan yang terjadi karena perebutan kedudukan ketua di perkumpulan Hwa I Kaipang, dia malah diangkat menjadi ketua mereka (baca Rajawali Emas)! Dengan menggunakan akal untuk mencegah terjadinya keributan, dia menerima kedudukan ketua, akan tetapi dia mewakilkannya kembali kepada Hwa I Lokai yang dia angkat menjadi ji-pangcu (ketua ke dua). Tiba-tiba muka Kun Hong mengerut di bagian antara kedua matanya yang buta. Kenapa ketiga orang pengemis tua ini menyebut Hwa I Lokai sebagai lo-pangcu, tidak ji-pangcu?

“Lo-pangcu kami sedang pergi ke utara untuk tugas perjuangan, dan pangcu telah memesan kepada kami apabila ada orang mencarinya untuk menyampaikan pesan rahasia atau surat rahasia, boleh kami mewakilinya. Oleh karena itu, setelah mendengar keterangan tentang Kwa-pangcu dari The-kongcu, kami segera datang menghadap ke sini. Sekarang, kami menanti perintah dan petunjuk Kwa-pangcu.”

Tiba-tiba Kun Hong membuat gerakan kilat dan tahu-tahu tangannya telah menangkap pergelangan lengan pengemis terdekat, lalu dia membentak.

“Siapakah kalian? Jangan coba-coba mengelabui seorang buta! Kalian bukanlah pembantu-pembantu Hwa I Lokai!”

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar bangunan itu dan ternyata banyak sekali orang berpakaian pengawal istana berlompatan masuk. Di antara suara mereka, Kun Hong mengenal suara Tiat-jiu Souw Ki yang berseru, “Betul dia si buta yang merampas mahkota kuno. Hati-hati dia lihai!”

Pengemis yang dipegang pergelangan tangannya oleh Kun Hong itu berseru keras dan meronta. Kun Hong terpaksa melepaskan pegangannya karena dia harus menghadapi bahaya baru yang datang dari luar. Dia taksir bahwa yang datang ini belasan orang banyaknya dan segera terdengar suara senjata tajam dicabut dan digerakkan.

“Kwa Kun Hong, kau sudah terkepung! Lebih baik menyerah dan serahkan mahkota serta surat rahasia yang dipercayakan Tan Hok kepadamu!” terdengar suara seorang laki-laki tua yang suaranya tinggi melengking.

Dari gerak-gerik mereka itu tahulah Kun Hong bahwa dia dikepung oleh orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi. Namun dia tidak gentar, siap mempertahankan mahkota kuno itu dengan taruhan nyawanya. Hanya satu hal yang membuat dia gelisah, yaitu keselamatan The Sun. Kasihan kalau sampai pemuda itu ikut celaka karena menolongnya. Dia ingin memancing pertempuran agar semua orang mengeroyoknya dan memberi kesempatan kepada The Sun dalam keributan itu untuk melarikan diri. Dia lalu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing penjilat kaisar lalim! Kalau memang kaisar muda yang baru ini seorang yang benar, mengapa takut akan segala surat rahasia peninggalan kaisar tua? Aku tidak tahu di mana surat yang kalian cari-cari itu, akan tetapi kalau mahkota kuno memang berada padaku. Akan tetapi jangan harap aku sudi menyerah dan memberikan mahkota kuno itu kepada siapa pun juga di antara kalian! Kalau kalian dapat, boleh tangkap aku!”

Tentu saja para pengawal istana itu marah sekali mendengar betapa seorang buta menantang mereka. Mereka itu memaki-maki dan mulai mendesak maju untuk berlomba menangkap atau merobohkan Kun Hong.

Tiba-tiba tiga orang berpakaian pengemis itu yang berdiri paling dekat dengan Kun Hong dan yang diam-diam telah mempersiapkan senjata mereka, yaitu masing-masing sebatang tongkat, serentak menyerang……. Kun Hong!

Kalau saja Kun Hong tadinya tidak menaruh hati curiga kepada tiga orang ini, agaknya dia akan terkena serangan gelap, atau setidaknya akan terkejut sekali. Akan tetapi dia tadi memang sudah menduga bahwa tiga orang pengemis ini adalah anggauta-anggauta Hwa I Kaipang yang palsu, yang agaknya sengaja menyamar sebagai anggauta-anggauta Hwa I Kaipang untuk menipunya. Maka sekarang menghadapi penyerangan mereka, dia malah tertawa mengejek, tubuhnya berkelebat cepat dan aneh, kedua tangannya bekerja dan……. berturut-turut tubuh tiga orang pengemis tua itu melayang ke arah para pengawal yang maju hendak mengeroyoknya.

Akan tetapi Kun Hong segera harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi pengereyokan para pengawal istana yang mulai dengan penyerangan mereka itu. Mula-mula dia hanya mempergunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari setiap sambaran senjata, akan tetapi karena para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi, Kun Hong mulai menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.

“The-twako, harap lekas kau pergi!” Kun Hong sempat berseru beberapa kali karena dia benar-benar nnerasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan terbawa-bawa. Akan tetapi tak mungkin dia dapat memperhatikan dan mencari tahu keadaan pemuda itu karena kepungan dan pengeroyokan ketat para pengawal istana itu benar-benar membuat dia sangat sibuk. Telah ada beberapa buah senjata lawan dapat dia pukul dan terlepas dari pegangan, sedangkan tangan kirinya sudah merobohkan tiga orang yang terkena dorongannya. Akan tetapi serbuan para pengeroyok makin hebat sehingga terpaksa Kun Hong kini mainkan Ilmu Pedang Im-yang-sin-kiam sambil tidak lupa mencelat ke sana ke mari mempergunakan langkah sakti dari ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Ributlah para pengeroyok itu, terdengar seruan-seruan kaget dan beberapa orang roboh lagi. Akan tetapi mereka itu roboh hanya untuk sejenak saja karena Kun Hong sama sekali tidak mau mempergunakan pukulan maut, cukup baginya kalau dapat mendorong orang roboh atau membuat senjatanya terlempar.

“The-twako, tinggalkan aku……!” Dia sempat berseru lagi sambil berusaha membuka jalan ke luar dari rumah itu. Dia dapat menduga bahwa waktunya sekarang tentu hampir malam, karena dia tadi telah menunggu sehari penuh dan hawa siang yang panas telah mulai menghilang tadi.

“The-twako, pergilah, biar aku menghadapi sendiri anjing-anjing ini!” serunya lagi. Dia pikir bahwa kalau hari sudah menjadi gelap dan dia sudah berhasil ke luar dari kepungan dan lari ke luar rumah, agaknya akan lebih mudah baginya untuk melarikan diri. Tentu saja dia akan dikejar, akan tetapi dia dapat merobohkan setiap orang pengejar dan mencoba untuk lari keluar dari tembok kota raja, atau mencari tempat sembunyi yang lebih baik.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: