Pendekar Buta ~ Jilid 23

“Keluarga Kwee……? Kaya raya…….? Ehmm, di mana, ya? Nona, di sini banyak sekali keluarga Kwee. Yang kaya raya juga banyak, apalagi yang miskin. Keluarga mana yang Nona maksudkan? Siapa nama hartawan itu?”

Mendengar ini saja Hui Kauw sudah kecewa. Mana dia bisa tahu namanya? Kalau ia sendiri tahu yang ia maksudkan, tentu ia takkan bertanya-tanya lagi, pikirnya mengkal. “Aku tidak tahu namanya, yang kuketahui hanya bahwa dia adalah seorang hartawan she Kwee.”

Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gepeng. “Wah, susah kalau begitu, Nona. Di sini banyak hartawan she Kwee, entah ada berapa puluh orang!”

Hui Kauw menggerakkan tangan dan di lain saat ia telah nnemperlihatkan dua potong uang emas. “Kau suka menerima hadiah ini?”

Pelayan itu bengong, tak dapat segera menjawab, hanya kalamenjing di lehernya yang kecil itu bergerak naik turun. Setahun bekerja penuh di penginapan itu, tak mungkin bisa mendapatkan emas dua potong itu, pikirnya mengilar. Saking kacau hatinya, dia tidak dapat menjawab, hanya mengangguk-angguk seperti ayam mematuki beras.

Hui Kauw menahan senyum. “Aku tidak mempunyai kenalan di kota raja ini, oleh karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Kau carilah keterangan tentang keluarga hartawan Kwee yang pernah diculik anak perempuannya belasan tahun yang lalu. Nah, emas ini menjadi milikmu kalau kau bisa mendapatkan keterangan itu, malah akan kutambah kalau kelak ternyata bahwa keteranganmu tidak keliru.”

“Boleh……. baik, Nona……. akan segera saya kerjakan perintah Nona setelah selesai pekerjaan saya nanti.” Akhirnya si pelayan dapat juga menjawab dan cepat-cepat dia keluar dari kamar itu.

Hui Kauw juga melangkah ke luar kamar dan matanya bersinar-sinar ketika ia melihat berkelebatnya sesosok bayangan yang agaknya mempunyai niat tidak baik. Akan tetapi karena berada di tempat asing, ia diam saja, hanya bersiap menjaga diri daripada segala kemungkinan.

Malam itu sehabis makan sekedarnya, Hui Kauw merebahkan diri di atas pembaringan. Jengkel juga hatinya menanti-nanti pelayan yang tak kunjung datang. Akan tetapi ia menghibur hati sendiri dengan pikiran bahwa tentu tidak mudah melakukan penyelidikan tentang seorang yang tak diketahui betul keadaannya di dalam kota sebesar itu. Ia menutup kelambu, akan tetapi sengaja ia tidak membuka pakaian, malah ia berbaring dengan pakaian lengkap dan pedang di dekat bantal. Lilin sudah ia tiup padam karena memang ia ingin mengaso sambil menenteramkan pikirannya yang risau.

Sukar sekali ia tidur. Pikirannya kacau-balau, sebagian besar berpikir tentang Kun Hong dengan hati duka, sebagian lagi membayangkan pertemuannya dengan ayah bundanya. Masih hidupkah mereka? Andaikata masih hidup dan dapat bertemu muka dengannya, sukakah mereka menerimanya sebagai anak? Bagaimana nanti sikap mereka terhadapnya? Masih adakah kasih sayang? Dan bagaimana nanti sikapnya sendiri terhadap mereka? Semua ini membuat dadanya berdebar-debar dan membuat kedua matanya terbuka lebar tidak mau dimeramkan.

Menjelang tengah malam, suara-suara di dalam rumah penginapan besar itu telah lenyap. Keadaan sunyi menandakan bahwa para tamu sudah tidur. Dari dalam kamarnya, Hui Kauw dapat mendengar suara orang-orang mendengkur dari kamar lain. Hal ini makin memusingkan kepalanya dan menjengkelkan hatinya. Jemu sekali ia di dalam penginapan ini. Seribu kali ia lebih suka bermalam di sebuah hutan, di atas dahan pohon besar, lebih segar dan nikmat, dapat mengaso betul-betul. Hawa di dalam kamar itu pengap, membuat napas menjadi sesak.

Tiba-tiba ia tersentak kaget. Ada suara di jendela kamarnya. Tapi, sebagai seorang gadis pendekar yang berilmu tinggi, hanya beberapa detik saja ia tegang, selanjutnya sambil tersenyum mengejek ia tenang-tenang rebah sambil menanti apa yang akan datang. Hatinya geli mendengar betapa daun jendela dikorek-korek dengan senjata tajam. Agaknya pencuri yang hendak membuka jendela, pikirnya. Akan tetapi ketika ia mencurahkan perhatian dan menggunakan pendengarannya, terdengar lebih daripada dua buah kaki yang berpijak di lantai. Hemm, apakah di kota raja yang begini ramainya terdapat juga perampok-perampok? Benar-benar berani mati penjahat-penjahat ini, pikirnya. Rumah penginapan adalah tempat umum dan di situ banyak terdapat tamu, bagaimana mereka ini berani datang melakukan kejahatan di sini? Kalau ketahuan, apakah mereka tak akan dikeroyok mampus?

“Kraaakkk!” Akhirnya daun jendela terbuka dan tiga sosok bayangan yang ringan gerakannya meloncat memasuki kamar melalui jendela itu. Diam-diam Hui Kauw kaget karena gerakan tiga orang itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah merupakan penjahat-penjahat biasa, melainkan orang-orang yang memiliki kepandaian lumayan. Akan tetapi ia tetap rebah saja sambil mempersiapkan pedangnya, lalu Hui Kauw membentak halus.

“Tiga orang tikus kecil apakah sudah bosan hidup? Hayo lekas keluar lagi sebelum nonamu habis sabar!” Memang ia tidak mau mencari perkara di kota raja yang asing baginya ini.

Tiga orang itu tidak bergerak, malah seorang di antaranya menyalakan lilin sehingga Hui Kauw dapat melihat bahwa mereka adalah tiga orang tinggi besar yang siang tadi duduk di ruangan tengah.

“Nona muka hitam, jangan sombong,” cela seorang di antara mereka.

“Hemm, benar-benar tidak tahu telah diberi kelonggaran,” kata orang ke dua.

Orang ke tiga yang menyalakan lampu itu berkata sambil memandang Hui Kauw yang sudah bangun dan duduk di pinggir pembaringannya, “Nona, kami bertiga sudah banyak mengalah, sengaja tidak membikin ribut di depan umum agar kau tidak mendapatkan malu. Karena itulah maka kami diam-diam mendatangimu di waktu malam begini agar orang-orang tidak ada yang tahu.”

Hui Kauw mengerutkan kening, membentak, “Orang-orang kurang ajar, kalian bicara apa? Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, hayo lekas minggat dari sini!” Gadis ini sekarang sudah marah dan sudah turun dari pembaringan, berdiri tegak dengan sikap keren dan dengan pedang di tangan.

Seorang di antara mereka yang matanya juling tertawa mengejek, lalu cengar-cengir berkata, “Nona, agaknya kau belum tahu siapa kami, maka sikapmu kasar. Ketahuilah, kami adalah petugas-petugas dari istana, kami mata-mata dan penyelidik yang bertugas di rumah penginapan ini. Entah sudah berapa banyaknya mata-mata pengkhianat dan pemberontak kami tangkap! Nah, lebih baik sekarang simpan pedangmu dan kau baik-baik membiarkan kami menggeledah dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.”

“Siapa peduli tentang keadaan kalian? Siapa pun juga kalian, tidak patut memasuki kamar orang seperti pencuri-pencuri busuk. Kalau ada keperluan datanglah besuk dengan cara yang sopan. Aku bukan pengkhianat, bukan pula pemberontak, perduli apa dengan kedudukan kalian? Hayo minggat!”
“Ha-ha-ha, galak benar” orang ke dua yang kumisnya panjang tertawa, “Biarpun mungkin bukan pemberontak, akan tetapi setidaknya tentu sebangsa perampok atau maling tunggal yang datang dari luar kota raja hendak mengacau atau mencuri di sini. Nona, tangan panjang, kau menyelidiki keadaan seorang hartawan di kota raja, apa maksudmu selain hendak memindahkan sebagian hartanya ke tanganmu?”

“Keparat, berani kalian menghina orang!” Tubuh Hui Kauw bergerak dan terdengarlah suara “plak-plak, bluk, nngek!” disusul pekik tiga orang itu mengaduh-aduh diakhiri dengan melayangnya tiga tubuh mereka keluar lubang jendela. Mereka masih terdengar mengaduh-aduh, lalu merangkak-rangkak kemudian terdengar langkah mereka berderap-derap lagi meninggalkan tempat itu!

Hui Kauw tersenyum mengejek dan merasa geli hatinya. Begitu sajakah penyelidik-penyelidik dari istana? Ia membersihkan kedua tangannya dengan taplak meja di kamar itu. Kedua tangannya baru saja “makan” muka dan kepalannya menjotos dada orang-orang itu. Dengan tenang Hui Kauw menutupkan daun pintu jendelanya kembali, menyimpan pedangnya lalu merebahkan diri di atas pembaringan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Menjelang pagi nona itu tiba-tiba terbangun. Enak juga ia tidur dari tengah malam tadi. Tidur pulas tiga empat jam baginya cukup sudah. Sekarang ia terbangun karena mendengar suara di luar kamarnya. Banyak orang berkumpul di luar kamarnya, sedikitnya ada sepuluh orang. Mendengar suara “di sini kamarnya!” Hui Kauw cepat turun dari pembaringan, menggosok-gosok mukanya dengan sapu tangan, membereskan rambut dan pakaiannya yang kusut, mengikatkan pedang di pinggangnya mengencangkan tali sepatunya, malah untuk menjaga segala kemungkinan ia mengikatkan pula buntalan pakaian di atas punggungnya.

“Duk-duk-duk, buka pintu!” Pintunya mulai digedor orang. “Buka pintu! Kami pengawal istana hendak memeriksa!”

Huh, menyebalkan, pikir Hui Kauw. Kiranya di kota raja berkeliaran segala anjing istana yang kerjanya hanya mengganggu orang. Hemm, lihat mereka mau apa terhadapku. Kakinya melangkah ringan dan sekali tangannya bergerak, pengganjal daun pintu terlepas dan daun-pintu terbuka lebar-lebar. Dengan tenang Hui Kauw berdiri tegak dengan sikap gagah dan mata tajam menatap keluar kamar. Kiranya di luar kamarnya telah berkumpul sedikitnya selosin orang, dikepalai laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang bersikap gagah dan sombong, sebuah senjata ruyung baja yang besar tergantung di pinggangnya. Melihat pakaian orang ini lebih mewah dan berbeda dari orang-orang yang lain, dapatlah Hui Kauw menduga bahwa orang ini tentu pimpimpin mereka itu. Dengan tenang ia melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut berhadapan dengan selosin laki-laki yang tampaknya tinggi-tinggi besar dan gagah-gagah itu.

“Hemm, kiranya orang-orang lelaki di kota raja, hanya kelihatannya saja gagah dan sombong,” kata Hui Kauw perlahan akan tetapi suaranya mengandung penuh penyesalan dan ejekan, “Malam tadi tiga ekor anjing menggonggong dan berlagak membuat orang sukar tidur enak, dan sekarang pagi-pagi sekali serombongan orang kasar menggedor pintu. Apa kehendak kalian?” Hui-Kauw sengaja berkata demikian ketika melihat bahwa tiga orang laki-laki malam tadi berada di dalam rombongan ini pula.

Tiga orang laki-laki itu menjadi merah mukanya, mata mereka melotot lebar akan tetapi jelas mereka kelihatan gentar. Siapa orangnya tidak menjadi gentar kalau malam tadi mengalami hal seperti mereka? Tanpa mereka ketahui bagaimana caranya, semalam gadis bermuka hitam itu telah membuat mereka kalang-kabut dan babak-belur sehingga dalam keadaan hampir pingsan tahu-tahu mereka mendapatkan diri telah berada di luar kamar! Tentu saja mereka merasa seperti telah bertemu dan melawan setan karena mereka yang terkenal sebagai orang-orang berkepandaian tinggi bagaimana bisa mengalami hal seperti itu anehnya. Semalam dengan tubuh sakit-sakit dan semangat terbang melayang, mereka menyeret kedua kaki melarikan diri dan langsung melaporkan hal aneh itu kepada seorang pengawal istana yang menjadi kepala mereka.

Pengawal istana yang sekarang membawa sebelas anak buahnya, pagi-pagi sekali mendatangi kamar tamu hotel yang aneh dan mencurigakan itu, bukan lain adalah Tiat-jiu Souw Ki yang sudah kita kenal lama! Seperti telah kita ketahui, semenjak masih pangeran, kaisar yang sekarang, yaitu dahulunya Pangeran Kian Bun Ti, sudah banyak mempunyai kaki tangan terdiri dari jago-jago silat. Dahulu dia terkenal mempunyai tujuh orang pengawal jagoan yang terdiri dari orang-orang gagah, di antaranya adalah Tiat-jiu Souw Ki itulah. Setelah Kian Bun Ti menjadi kaisar, hanya tiga orang di antara tujuh jagoannya. yang masih ada dan yang masih dia pergunakan tenaganya sebagai pengawal istana. Mereka ini adalah Tiat-jiu Souw Ki, Bhong Lo-koai dan Ang Mo-ko. Dua orang kakek ini ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada Tiat-jiu Souw Ki, akan tetapi karena watak mereka yang aneh, jarang sekali mereka keluar kalau tidak menghadapi urusan besar. Mereka lebih suka bertugas di dalam istana menjaga keselamatan kaisar, berbeda dengan Tiat-jiu Souw Ki yang lebih suka berkeliaran di luar karena baginya, bertugas di luar istana mempunyai kesempatan lebih banyak untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, mudah mencari “rejeki” dengan jalan memeras dan merampas, mudah pula mempermainkan anak isteri orang yang menjadi sebuah di antara hobbynya (kegemarannya)!

Di bagian cerita ini sudah dituturkan betapa Tiat-jiu Souw Ki yang tadinya berhasil merampas kembali mahkota kuno yang dicuri oleh Tan Hok dari dalam istana kemudian “bertemu batunya” ketika nona Tan Loan Ki Si Walet Jelita mempermainkannya, mengalahkannya dan merampas kembali mahkota itu. Hati Souw Ki amat penasaran. Dia, seorang pengawal kaisar, berjuluk Tiat-jiu (Si Tangan Besi), ahli main ruyung baja, masih dibantu anak buah perampok-perampok Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang dan si tosu bopeng Ban Kwan Tojin, kalah oleh seorang dara jelita yang masih setengah kanak-kanak! Mulai saat itu Tiat-jiu Souw Ki menaruh hati benci pada wanita-wanita kang-ouw.

Maka begitu mendengar dari anak buahnya bahwa di dalam penginapan di kota raja itu terdapat seorang wanita kang-ouw yang mencurigakan akan tetapi berilmu tinggi, hatinya tertarik dan penasaran. Mana bisa di dunia ini ada wanita ke dua yang boleh begitu saja menghinanya? Demikianlah, pagi-pagi benar dia mengajok sebelas orang anak buahnya yang pilihan mendatangi penginapan itu dan menggedor pintu kamar Hui Kauw.
Melihat sikap Hui Kauw yang menantang dan keren, Tiat-jiu Souw Ki menjadi panas perutnya. Dia seorang mata keranjang dan agaknya kalau nona yang terbentuk tubuh menggairahkan ini tidak hitam mukanya, agaknya siang-siang kemarahannya sudah akan mencair kembali. Akan tetapi kehitaman muka Hui Kauw memang menyembunyikan kecantikannya dan hal ini agaknya membuat Souw Ki makin panas perutnya sehingga meledaklah suaranya membentak.

“He, monyet betina muka hitam! Siapa kau berani bersikap sombong di depan Tiat-jiu Souw Ki? Mendengar laporan anak buahku, kukira kau seorang tokoh kang-ouw yang bernama besar sehingga pagi-pagi aku datang sendiri untuk melihat. Siapa tahu kiranya hanya seekor monyet hitam, lutung hitam. Hayo lekas berlutut menyerah!”

Hui Kauw adalah seorang yang sebenarnya memiliki watak penyabar dan luas pandangan. Semalam sudah ia buktikan betapa wataknya amat halus dan pemurah sehingga tiga orang laki-laki kasar yang sudah menghinanya itu masih dia ampuni dan hanya memberi hajaran sedikit dan tidak mengakibatkan luka-luka parah. Namun, sesabar-sabarnya hati wanita, kalau dimaki dan diperolok tentang keburukan mukanya, ia tentu akan marah juga. Demikian pula Hui Kauw. Ia maklum bahwa mukanya memang hitam dan buruk, akan tetapi bukan untuk diperolok oleh seorang laki-laki macam Souw Ki ini. Dengan kilatan mata berbahaya, gadis itu menudingkan telunjuknya yang runcing ke muka Souw Ki sambil berkata.

“Bangsat rendah bermulut kotor, mukamu sendiri hitam dan buruk, masih berani memaki orang lain? Tidak peduli kau siapa, aku adalah seorang baik-baik yang tidak pernah dan tidak akan melakukan kejahatan. Tentang maksud kedatanganku di kota raja, adalah urusanku sendiri, siapa berhak mencampuri? Malam tadi aku masih mengampuni tiga ekor anjing kecil, akan tetapi sekarang kalau ada anjing besar berani menggonggong tak tahu malu, agaknya aku takkan puas kalau belum mampu menghajar moncongnya sampai tanggal semua giginya!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya Tiat-jiu Souw Ki mendengar kata-kata menghina ini. Jelas bahwa gadis muka hitam ini memakinya sebagai anjing besar yang hendak dihajar moncongnya dan ditanggalkan giginya.

“Bangsat betina, tidak biasa aku, Tiat-jiu Souw Ki Si Tangan Besi bertempur melawan perempuan, akan tetapi karena kau terlalu kurang ajar sudah semestinya mengenal tangan besiku.”

“Hemm, kau mau mengeroyok? Aku tidak takut!” kata Hui Kauw, masih tenang sikapnya dan sama sekali ia tidak meraba gagang pedangnya. Ia tahu bahwa kepandaian seseorang dapat diukur dari sikapnya. Sikap Souw Ki yang sombong ini sama sekali tidak mencerminkan ilmu yang tinggi sehingga tak perlu pula ia berkhawatir.

“Wah-wah, kau benar-benar memandang rendah, keparat! Agaknya kau memiliki sedikit kepandaian maka berani malang-melintang di kota raja. Siapa hendak mengeroyokmu? Dua buah jari tanganku saja sanggup membuat kau berkeok-keok minta ampun. Mari……. mari…….. boleh kita bertanding di tempat yang lapang!” Dia melangkah lebar ke ruangan dalam di mana terdapat ruangan yang lapang setelah meja kursi didorong ke pinggir tembok. Dengan lagak gagah dibuat-buat Souw Ki berdiri di tengah ruangan ini, menanti dengan sikap jagoan yang sudah pasti akan mendapat kemenangan, sama sekali tidak sadar bahwa sikapnya ini saja sudah menunjukkan sikap pengecut besar karena sebagai jago, yang menanti bukanlah jago lain melainkan seekor ayam betina!

Hui Kauw dengan senyum dikulum dan menahan kemengkalan hati, melangkah pula ke ruangan ini. Ia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada pemimpin orang istana ini agar selanjutnya ia tidak mendapat banyak gangguan lagi. Panas juga hatinya melihat betapa laki-laki tinggi besar itu sudah memasang kuda-kuda, mulutnya menyeringai penuh ejekan dan cemooh, matanya melirik memandang rendah. Menurutkan gelora hati panas Hui Kauw menggenjot tubuhnya dan melayangkan tubuhnya itu ke tengah ruangan, tepat berhadapan dengan Souw Ki. Pengawal istana ini kaget, maklum bahwa lawannya ini kiranya benar-benar memiliki kepandaian tinggi, buktinya memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lumayan. Bagus, pikir si pongah, makin tinggi ilmunya makin baik sehingga aku takkan ditertawai anak buahku, disangka hanya pandai mengalahkan wanita cantik dan lemah saja. Biarlah iblis betina ini kutundukkan dengan kepandaian, pikirnya.

Betapapun juga, setelah berhadapan dengan calon lawannya, Hui Kauw yang berhati lembut itu sudah merasa menyesal. Ia sedang berusaha mencari orang tuanya. Kedatangannya di kota raja adalah untuk urusan itu, bukan untuk berkelahi! Sekarang, belum apa-apa ia sudah mendatangkan keonaran dan sudah hendak bentrok dengan petugas-petugas istana!
“Tiat-jiu Souw Ki,” katanya dengan suara lembut karena penyesalan ini. “Terus terang saja, aku sebenarnya tidak suka ribut-ribut karena kedatanganku di kota raja ini bukan untuk mencari keributan dengan siapapun juga. Anak buahmu kuhalau pergi karena mereka malam-malam mengganggu dan memasuki kamarku. Melihat julukanmu, kau tentulah seorang kang-ouw yang tahu akan sopan-santun di dunia kang-ouw, dan biarkanlah aku melanjutkan urusanku sendiri dan kita tidak saling ganggu.”

Belasan tahun yang lalu, sebelum bintangnya naik menjadi pengawal pangeran, Tiat-jiu Souw Ki adalah seorang bajak sungai yang terkenal. Tentu saja dia tahu akan peraturan dunia persilatan, dunia perantauan dan dunia kaum hitam. Maka dia tertawa bergelak mendengar ucapan Hui Kauw ini dan menjawab.

“Ha-ha-ha, ucapanmu seperti kau ini seorang tokoh kang-ouw yang hebat saja! Bocah, aku Tiat-jiu Souw Ki sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw dan andaikata kau seorang tokoh sekalipun, kau masih harus menghormati aku, apalagi kau sama sekali tidak kukenal dan kau seorang pelonco dalam dunia kang-ouw, mana bisa aku berlaku sungkan lagi? Kecuali kalau kau mau berterus terang menyatakan siapa namamu, dari mana kau datang dan apa niatmu memasuki kota raja, baru aku mau timbang-timbang untuk mengampunimu.”

Ucapan ini benar-benar amat sombong dan memandang rendah. Akan tetapi karena Hui Kauw benar-benar tidak menghendaki terjadinya keributan tanpa sebab penting, ia menahan kemendongkolan hatinya, menjura dan berkata,

“Tiat-jiu Souw ki, baiklah aku memperkenalkan diri. Namaku Hui Kauw dan aku datang ke kota raja ini untuk urusan pribadi, mencari keluargaku. Nah, sekali lagi harap kau dan orang-orangmu jangan mengganggu dan aku berjanji takkan mengganggu kalian di mana saja kalian berada.”

Orang yang sombong selalu tidak mau mengalah, sempit pandangan dan tidak menimbang keadaan. Sikap Hui Kauw ini diterima keliru oleh Souw Ki yang mengira bahwa gadis muka hitam itu merasa jerih terhadap dia!

“Ha-ha-ha, mana bisa begitu gampang? Kau telah bersikap garang terhadap orang-orangku, nah, sekarang kau harus berlutut tujuh kali minta ampun kepadaku, baru aku Tiat-jiu Souw Ki mau sudah!”

“Kau memang terlalu sombong’.” Hui Kauw membentak.

“Ha-ha-ha, majulah kalau hendak merasai kelihaianku!” Souw Ki menantang.

Hui Kauw maklum bahwa tak mungkin bersilat lidah dengan seorang manusia macam ini sombongnya. “Lihat serangan!” ia membentak dan cepat laksana burung menyambar tubuhnya sudah bergerak maju dan kedua tangannya bergerak melakukan penyerangan.
Souw Ki yang memandang rendah, melihat datangnya tusukan dengan jari tangan kiri ke arah lehernya, cepat menggerakkan tangan kanan untuk menangkap pergelangan tangan lawan dan bermaksud untuk mengalahkan dalam segebrakan ini karena kalau dia berhasil menangkap tangan kecil itu berarti dia akan menang. Hatinya girang bukan main melihat tangan kiri itu masih terus melakukan tusukan, agaknya sama sekali tidak perduli akan gerakan tangan kanannya yang hendak menangkap pergelangan tangan. Wah, begini gampang? Dia sudah tertawa dalam hatinya karena yakin bahwa pergelangan tangan kiri yang kecil itu sudah pasti akan dapat dia tangkap.

“Ayaaaaa……. celaka…….!” Tubuh Souw Ki terjengkang dan roboh terus bergulingan ketika dia sengaja membanting diri ke belakang. Dia meloncat bangun lagi dengan muka sebentar pucat sebentar merah sedangkan keringat dingin membasahi lehernya. Dia sebentar marah, sebentar malu karena harus bersikap seperti itu di depan orang banyak. Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya ketika dalam gebrakan pertama tadi saja dia sudah hampir celaka. Kiranya tusukan tangan kiri Hui Kauw memang sengaja dilakukan sebagai umpan. Gadis itu membiarkan tangan kirinya disambar pergelangannya, akan tetapi tangan kanannya sudah cepat “memasuki” lowongan kedudukan lawan dan menyodok ke arah lambung di bawah iga. Andaikata Souw Ki tidak cepat-cepat membanting diri ke belakang, biarpun tangan kanannya akan berhasil menangkap pergelangan tangan kiri lawan, namun dia sendiri akan terkena Pukulan maut yang akan mengguncangkan jantungnya dan banyak kemungkinan akan menewaskannya!

Hui Kauw sekarang tersenyum mengejek. “Tiat-jiu Souw Ki, sudah kukatakan bahwa aku tidak suka berkelahi mencari keributan. Masih belum terlambat kalau kau sudahi saja pertempuran tiada guna ini.”

Tiat-jiu Souw Ki adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman bertempur dan kepandaiannya pun tinggi tentu saja dia tidak menjadi gentar menghadapi bahaya yang hampir mengalahkannya tadi. Dia maklum bahwa hal tadi dapat terjadi bukan semata-mata karena lawan terlalu lihai, melainkan karena kesalahannya sendiri. Dia tadi terlalu memandang rendah lawannya, sama sekali tidak mengira bahwa lawannya, seorang perempuan muda, memiliki kecepatan dan kelihaian seperti itu. Dia sekarang menjadi penasaran dan marah. Dibantingnya kaki kanannya dan dia membentak.

“Bocah sombong, jangan banyak mulut. Lihat pukulan!” Tanpa sungkan-sungkan lagi kini Tiat-jiu Souw Ki menerjang Hui Kauw dengan kedua kepalan tangannya yang kuat terlatih sehingga dia mendapat, julukan Tiat-jiu atau Si Tangan Besi. Pukulannya sampai mendatangkan angin saking keras dan cepatnya.

Namun Hui Kauw memiliki keanehan yang sudah matang. Sebagai puteri Ching-toanio yang sudah mewarisi kepandaian manusia iblis Siauw-coa-ong Giam Kin, tentu saja Hui Kauw memiliki dasar ilmu silat yang tinggi. Menghadapi penyerangan Souw Ki yang biarpun ganas namun sebagian besar hanya berdasarkan tenaga kasar itu, ia tidak menjadi gugup. Dengan tenang namun cepat nona ini menggeser kakinya, mengelak dengan cekatan sekali sambil mengayun kaki kiri membalas dengan sebuah tendangan perlahan namun berbahaya karena yang dijadikan sasaran ujung sepatu adalah pusar lawan! Tiat-jiu Souw Ki menggeram dan tangan kirinya menyambar kaki dengan maksud mencengkeramnya hancur, sedangkan tangan kanannya menjotos kepala nona yang besarnya sebanding dengan kepalan tangannya. Serangan balasan yang dahsyat ini dihadapi oleh Hui Kauw dengan memperlihatkan ginkangnya yang mengagumkan. Tanpa menarik kakinya yang menendang itu Hui Kauw sudah menjejakkan kaki kanannya ke atas tanah sehingga tubuhnya mumbul ke atas, lalu bergerak miring untuk membebaskan diri dari pukulan Souw Ki dan otomatis kaki yang menendang juga menyamping, akan tetapi bukan berarti membatalkan tendangan karena kaki itu masih terus menendang dari arah yang berlainan dengan sasaran berubah pula, kini dari “udara” nona itu menendang ke arah belakang telinga kanan lawan.

“Setan!” Souw Ki memaki dan terpaksa dia merendahkan tubuhnya karena tendangan dari atas itu tidak sempat untuk dia tangkis lagi. Dia hendak menyusuli serangan berikutnya, namun gadis itu lebih cepat lagi. Ketika tendangannya luput ia melayang turun dan langsung sambil meloncat turun ini ia mengirim pukulan dengan jari tangan terbuka. Pukulan kedua tangannya yang kecil itu cepat dan bertubi-tubi datangnya, seperti sebuah kitiran angin sehingga kelihatan seakan-akan kedua lengannya berubah menjadi belasan buah banyaknya yang menghujankan pukulan-pukulan ke pelbagai sasaran berbahaya.

Souw Ki terpaksa meloncat ke sana ke mari sambil kedua tangannya sibuk bergerak melindungi bagian tubuh yang lemah. Dia sampai berkeringat ketika lawannya sudah menerjangnya sebanyak belasan jurus, karena dia benar-benar kalah cepat sehingga sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang, jangankan balas menyerang, bernapas pun agaknya hampir tidak ada kesempatan. Tubuh Hui Kauw bergerak-gerak makin lama makin cepat, mengitari dirinya sehingga matanya menjadi berkunang dan dia sudah melihat empat lima orang Hui Kauw menari-nari di sekelilingnya!

“Plak-plak-plak!” Tiga kali telapak tangan Hui Kauw menampar pipi, leher dan pundak. Panas rasanya dan membuat pandang mata Souw Ki berkunang. Memang kembali Hui Kauw telah memperlihatkan kemurahan hatinya. Tiga kali pukulan ini sudah menjadi bukti cukup bahwa dalam ilmu silat tangan kosong, ia jauh lebih lihai dan lebih cepat. Kalau ia mau, sebagai seorang ahli silat tinggi, sekali menjatuhkan tangan tentu dapat mencari sasaran yang mematikan, akan tetapi sampai tiga kali ia hanya menampar saja. Souw Ki mengeluh dan cepat dia melompat ke belakang sehingga menabrak kursi yang menjadi remuk! Dua orang anak buahnya cepat menghampiri nya untuk menolong pemimpin mereka yang terhuyung itu, akan tetapi Souw Ki membentak, “Pergi kalian!” Kakinya melayang dan……. dua orang pembantu yang sial itu terlempar dan mengaduh-aduh. Kiranya saking marah dan mendongkolnya, Si Tangan Besi ini melampiaskan kepada dua orang anak buah yang hendak menolongnya.

“Tiat-jiu Souw Ki, kiranya sudah cukup sekarang.” Hui Kauw kembali membujuk untuk menyudahi saja pertempuran yang tiada gunanya itu.
“Wuuuttttt!” Ruyung baja yang berat itu sudah berada di tangan kanan Souw Ki.

“Iblis betina, jangan kira kau sudah mampu mengalahkan aku! Hemmm, memang kau menang cepat, akan tetapi cobalah kecepatanmu dengan ruyungku, akan hancur kepalamu. Hayo, cabut pedangmu itu!” Terdengar suara berkerotan ketika Souw Ki menggertak gigi saking marah dan malunya karena dia telah ditelan mentah-mentah oleh seorang dara yang masih hijau. Tidak sampai tiga puluh jurus dikalahkan. Hebat ini! Ketika dia dikalahkan Bi-yan-cu Tan Loan Ki dalam memperebutkan mahkota, dia masih sanggup menghadapi Walet Jelita itu sampai hampir seratus jurus. Masa sekarang terhadap gadis muka hitam ini, belum tiga puluh jurus dia sudah kena dikemplang tiga kali. Kekalahannya terhadap Bi-yan-cu Tan Loan Ki masih dapat dia maklumi setelah dia mendengar bahwa dara lincah itu adalah puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Akan tetapi kekalahan terhadap seorang gadis muka hitam yang tidak ternama sama sekali? Benar-benar bisa membikin dia muntah darah segar saking dongkolnya!

Hui Kauw makin gelisah. Celaka, pikirnya, monyet tua ini benar tidak tahu diri. Kepandaiannya hanya sekian saja mau digunakan untuk menjual lagak. Tidak dilayani tidak mungkin, kalau dia dilayani dan bertempur menggunakan senjata, tentu lebih hebat ekornya. Maka ia berdiri dan memandang ragu ketika Souw Ki memutar-mutar ruyung berat itu di atas kepala dengan sikap beringas.

Melihat keraguan Hui Kauw, kembali Souw Ki si pengung (si tolol) itu salah tafsir, mengira nona ini takut menghadapi senjatanya yang menyeramkan itu. “Tidak lekas mencabut senjatamu? Nah, rasakan ini ruyung pencabut nyawa!”

“Weerrr!” Ruyung yang beratnya tidak kalah dengan tiga perempat karung beras itu melayang dan angin pukulannya saja sudah membuat rambut halus di kepala Hoi Kauw berkibar.

“Singgggg!” Senjata itu lewat di atas telinga Hui Kauw yang cepat menundukkan kepala untuk mengelak. Nona ini maklum bahwa biarpun lawannya hanya mengandalkan tenaga besar dan senjata berat, namun ruyung itu dapat merupakan bahaya juga baginya. Tangannya bergerak dan di lain detik pedangnya telah terhunus dan berada di tangan kanan. Kakinya menggeser ke belakang membentuk kuda-kuda yang ringan, kaki kanan berdiri lurus dengan tumit diangkat, kaki kiri menyilang lutut, tangan kiri dikepal dan hanya jari telunjuk dan jari tengah menuding ke atas di belakang kepala, pedang di tangan kanan melintang dada dari kiri ke kanan dengan pergelangan tangan ditekuk membalik. Kuda-kuda yang sukar akan tetapi memperlihatkan sikap yang gagah dan manis.

Tiat-jiu Souw Ki mendapat hati ketika gadis itu tadi mengelak dan sekarang mencabut pedang. Terang bahwa gadis itu menganggap ruyungnya ampuh dan berbahaya. Sambil berseru keras dia kembali menggerakkan ruyungnya sekuat tenaga. Kalau gadis ini berani menangkis, aku akan membikin pedangnya patah atau terpental, pikirnya sombong.
Namun tentu saja Hui Kauw bukanlah sebodoh yang disangka Souw Ki. Gadis ini sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, maklum pula akan bahayanya kalau ia mengadu senjatanya secara keras melawan keras dengan ruyung lawan, karena ia kalah tenaga dan senjatanya pun kalah berat. Ia mengandalkan kelincahannya untuk menghindarkan diri daripada semua amukan ruyung itu, sedangkan pedangnya berkelebat merupakan sinar yang bergulung-gulung mencari kesempatan baik untuk menggores kulit lawan.

Memang hebat juga permainan ruyung dari Tiat-jiu Souw Ki ini. Kalau dalam hal ilmu silat tangan kosong ia adalah seorang nekat yang hanya mengandalkan kekuatan otot-ototnya, kini dalam permainan ruyungnya, dia benar-benar memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tidak hanya mempergunakan tenaga otot namun juga mempergunakan kecerdikan otaknya sesuai dengan siasat ilmu ruyungnya. Ruyung itu biarpun merupakan senjata berat, namun di tangan Souw Ki berubah menjadi senjata ringan dan cepat sekali diputarnya, mendatangkan angin dan mengeluarkan bunyi.

Hui Kauw melayaninya dengan ilmu pedang yang ia pelajari dari ibunya, yaitu dari Ching-toanio. Ilmu pedang dari Ching-toanio ini pada dasarnya adalah Ilmu Pedang Kong-thong-pai, karena nyonya ini dahulu pernah belajar ilmu pedang dari seorang tokoh Kong-thong-pai yang merahasiakan namanya. Akan tetapi karena semenjak mudanya Ching-toanio berkecimpung dalam dunia golongan hitam, tentu saja ia mempelajari banyak macam ilmu silat dan juga termasuk ilmu pedang. Oleh karena inilah, terdorong pula oleh bakat dan kecerdikannya, ia dapat menggabungkan beberapa macam jurus ilmu pedang menjadi satu dengan Ilmu Pedang Kong-thong-pai, malah sesudah ia menjadi kekasih Siauw-coa-ong Giam Kin si manusia iblis yang banyak mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dari Giam Kin, ia mencampuri pula ilmu pedangnya dengan ilmu yang ia dapat dari kekasihnya ini. Tidaklah heran apabila ilmu pedang yang kini dimainkan oleh Hui Kauw merupakan ilmu pedang campuran yang selain lihai, juga amat sukar untuk dikenal oleh Souw Ki.

Setelah lewat tiga puluh jurus dan selama itu Hui Kauw hanya mengambil kedudukan mempertahankan dan menjaga diri saja, mulailah Souw Ki kaget dan gentar. Dia maklum bahwa ternyata gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, malah agaknya lebih hebat daripada si dara lincah Loan Ki, buktinya kalau dulu Loan Ki melawannya dengan keras dan balas menyerang, adalah gadis ini seenaknya saja mempertahankan diri tanpa balas menyerang. Kadang-kadang malah gadis ini membenturkan pedangnya dengan ruyung, bukan untuk mengadu senjata atau tenaga, melainkan untuk mempermainkannya saja karena begitu bertemu, pedang itu menyelinap di antara gulungan bayang ruyung lalu menyambar dekat bagian-bagian berbahaya seperti leher, ulu hati, lambung dan tempat-tempat yang sekali tusuk tentu akan menghentikan perjalanan napas!

Memang demikianlah kehendak Hui Kauw, Ia ingin memperlihatkan kepada Tiat-jiu Souw Ki bahwa kalau ia menghendaki, sudah sejak tadi ia dapat merobohkan orang itu. Akan tetapi, dasar lawannya yang hendak menang sendiri saja. Tiat-jiu Souw Ki pantang mengalah, apalagi dia berada di kota raja di mana berkumpul banyak sekali anak buahnya dan juga atasan-atasannya serta teman-teman sekerjanya yang lebih lihai daripadanya. Bukannya mengaku kalah, dia malah penasaran dan memutar ruyungnya lebih ganas lagi.

“Manusia tak tahu diri, lepaskan ruyung!” tiba-tiba Hui Kauw membentak, pedangnya berkelebat menyerang dan……. Tiat-jiu Souw Ki berteriak kesakitan, meloncat mundur sambil terpaksa melepaskan senjatanya karena lengan kanannya serasa terbabat pedang! Dengan muka pucat dia memeriksa lengannya yang mengeluarkan darah dari siku sampai ke pergelangan, takut kalau-kalau lengannya akan menjadi buntung atau cacad, akan tetapi lega hatinya melihat bahwa lengannya itu hanya luka ringan tergurat ujung pedang, akan tetapi memanjang dari siku sampai pergelangan sehingga mengeluarkan banyak sekali darah. Sebetulnya macam dari lukanya ini saja cukup menjadikan bukti lawannya si gadis muda itu adalah seorang yang amat lihai dan juga yang telah menaruh hati kepadanya. Akan tetapi membutakan matanya terhadap kenyataan, bahkan rasa malu dan penasaran membuat dia berseru keras.

“Serbu! Tangkap pemberontak ini!!” Sebelas orang anak baahnya serentak maju mengeroyok dengan senjata mereka. Hui Kauw marah sekali dan terpaksa ia mengangkat pedangnya menangkis dan melakukan perlawanan. Dengan kecepatannya, belum sepuluh jurus ia berhasil melukai lengan dan pundak dua orang pengeroyok sehingga mereka ini terpaksa melepaskan senjata masing-masing, lalu menendang roboh seorang lagi. Akan tetapi keributan ini menarik datang penjaga sehingga pertempuran di ruangan rumah penginapan itu makin ramai.

Hui Kauw merasa makin marah, penasaran, juga menyesal. Tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam keadaan yang sulit sekali. Mencari orang tua belum ketemu, tahu-tahu berada dalam keadaan sesulit ini. Tiba-tiba terdengar seruan keras dan semua pengeroyok itu melompat mundur, memberi jalan kepada dua orang yang baru tiba. Hui Kauw merasa lega hatinya, akan tetapi ia tetap waspada. Ketika ia melirik, ia melihat dua orang laki-laki yang baru datang memasuki ruangan itu, dipandang oleh para pengeroyoknya tadi dengan sikap menghormat. Ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentulah orang lihai yang memiliki kedudukan tinggi sehingga ia makin memperhatikan. Seorang diantara mereka adalah pemuda yang berpakaian gagah dan berwajah tampan dan halus gerak-geriknya, senyumnya menarik dan matanya tajam, namun Hui Kauw yang berperasaan halus itu dapat menangkap sesuatu yang menyeramkan di balik senyum dan kerling menarik ini, sesuatu yang tak dapat ia mengerti apa adanya akan tetapi yang membuat ia waspada, seperti kalau orang melihat keindahan pada muka dan kulit harimau atau ular yang menyembunyikan sesuatu yang menyeramkan dan mengancam di balik keindahannya itu.

Orang ke dua adalah seorang kakek kurus kecil, usianya lima puluhan, pakaiannya sederhana tapi penutup kepalanya mewah dan berhias permata, mukanya biasa seperti orang kurang tidur sehingga mata itu nampaknya hendak meram saja saking ngantuknya, tangan kanannya memagang sebatang tongkat bengkok. Melihat orang ini, diam-diam Hui Kauw menduga bahwa tentu kakek ini memiliki kepandaian tinggi, sedangkan orang muda tampan itu sebaliknya malah ia pandang rendah, mungkin hanya seorang putera bangsawan yang berlagak dan sombong.
Pemuda itu bukanlah sembarang orang seperti yang diduga Hui Kauw, karena sebetulnya dia bukan lain adalah The Sun, jago muda Go-bi-pai yang amat lihai itu. Kebetulan dia lewat di jalan raya depan rumah penginapan itu bersama katek yang bukan lain orang adalah Bhong Lo-koai, seorang di antara para pengawal kaisar. Pada saat itu mereka berdua bertemu dengan Tiat-jiu Souw Ki yang dengan muka pucat dan lengan berdarah berlari ke luar dari rumah penginapan untuk mencari bala bantuan. Mendengar bahwa di dalam rumah penginapan ada seorang gadis lihai sedang dikeroyok, The Sun tertarik dan mengajak Bhong Lo-koai untuk melihat. Begitu memasuki ruangan dan melihat sepak-terjang Hui Kauw yang luar biasa dan yang jelas menyatakan sebagai seorang ahli silat tinggi. The Sun segera membentak dan menyuruh mundur semua pengeroyok, Tentu saja mereka semua mengenal “The-kongcu” ini, orang yang boleh dibilang duduk di tingkat tinggi daripada deretan orang-orang yang dijadikan tangan kanan kaisar baru.

Kini pemuda itu tersenyum-senyum sambil memandang Hui Kauw yang cepat membuang muka, tidak sudi bertemu pandang lebih lama lagi dengan pemuda tampan yang cengar-cengir menjual lagak itu. “Nona yang gagah perkasa, agaknya kau masih amat asing di kota raja ini sehingga tidak mengenal siapa para pengeroyokmu ini dan siapa pula aku dan Lo-enghiong ini. Andaikata kau mengenal kami, baik kau datang dari golongan hitam ataupun putih, agaknya kau tidak nekat membuat ribut.” Ucapan ini halus, akan tetapi penuh teguran dan mengandung sikap memperlihatkan kekuasaan.

Hui Kauw bukanlah tergolong wanita galak, malah sebaliknya ia mempunyai watak halus dan penyabar. Akan tetapi karena ia sudah mengalami pengeroyokan yang memanaskan hatinya, juga karena pertemuan pertama dengan The Sun mendatangkan kesan yang tidak sedap di hatinya maka ia pun tidak mau tunduk begitu saja dan menjawab dengan sama dinginnya.

“Memang aku seorang asing di sini, akan tetapi apakah ini merupakan alasan bagi orang-orangmu untuk berlaku sewenang-wenang? Aku tidak mencari keributan, adalah orang-orangmu dan si Tiat-jiu Souw ki yang sombong tadilah yang memaksaku. Sekarang juga aku minta kalian pergilah dari sini, tinggalkan jangan ganggu aku, aku pun tidak ingin bertempur dengan siapa pun juga!”

Kembali The Sun tersenyum-senyum, yang amat mencurigakan hati Hui Kauw pemuda ini tentu saja sudah mendengar semua persoalannya dari Souw Ki bahwa gadis ini amat mencurigakan, menyuruh pelayan menyelidiki tentang seorang hartawan she Kwee yang dahulu kehilangan anak perempuannya.

“Nona harus tahu bahwa di kota raja ini, kami para petugas yang berkuasa dan berhak mengawasi keamanan kota raja. Kau seorang asing datang-datang melakukan penyelidikan tentang seorang hartawan, bukankah hal itu amat mencurigakan? Tapi yang sudah biarlah lalu, sekarang kuharap kau suka memperkenalkan diri dan mengaku terus terang apa maksudmu melakukan penyelidikan itu dan apa pula maksud kedatangaan Nona di Kota raja ini?”
Hui Kauw bukan seorang bodoh. Ia dapat mengerti kebenaran dalam ucapan orang muda ini akan tetapi karena ia sudah terlanjur dikeroyok tadi, ia tidak dapat menekan kemendongkolan hatinya begitu saja. “Sudah kukatakan tadi bahwa namaku Hui Kauw, dan bahwa aku datang untuk urusan pribadi mencari keluarga, tidak menyinggung siapa pun juga dan tidak berniat membikin ribut. Sudahlah, harap kalian pergi meninggalkan aku!”

“Heh-heh, anak ini memiliki kepandaian, tentu dia mengandalkan kepandaiannya dan perguruannya,” tiba-tiba kakek dengan tongkat bengkok itu berkata perlahan dengan mata masih mengantuk. “Nona, kau murid siapa? Tentu gurumu sudah mengenal aku Bhong Lo-koai.”

“Betul, Nona. Katakan siapa gurumu, mungkin aku The Sun pernah pula mendengar namanya,” sambung The Sun.

“Aku tidak mempunyai guru, sudahlah, aku tidak ingin diganggu,” jawab Hui Kauw yang merasa gemas bukan main karena nama-nama itu tidak ada artinya sama sekali baginya.

The Sun dari Bhong Lo-koai adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, semua penjaga kota raja menaruh hormat kepada mereka. Sekarang, di depan para penjaga itu, gadis ini tidak memandang mata kepada mereka, tentu saja mereka menjadi gemas juga. Hemm, kau mengandalkan apamu? Demikian The Sun berpikir gemas. Mukamu hitam buruk, siapa yang tertarik? Kepandaianmu setinggi langit, mana mampu melawanku.

“Bhong-lo-enghiong, dapatkah kau mencari tahu dari perguruan mana nona ini?’

Bhong Lo-koai tertawa, lalu melangkah maju menghadapi Hui Kauw sambil berkata, “Nona, pedangmu masih di tangan. Nah, kau boleh coba hadapi tongkat bututku, dalam sepuluh jurus kalau kau belum kalah berarti kau termasuk orang pandai. Dan kau boleh balas menyerangku, aku bukan Bhong Lo-koai kalau tidak dapat mengenal ilmu pedangmu.”

Hui Kauw makin mendongkol. Tua-tua sudah kurang tidur begitu masih bisa berlagak, pikirnya, “Aku hanya mau membela diri, sama sekali tidak sudi rnencari ribut dengan siapa pun juga. Kalau kau mau mengganggu aku, silakan, aku tidak takut. Kalau tidak, jangan banyak bicara, pergilah tinggalkan aku!”

“Heh-heh-heh, lihat serangan!” Bhong Lo-koai menggerakkan tongkatnya dan Hui Kauw membenarkan dugaannya tadi bahwa kakek ini adalah seorang yang “berisi”, tidak seperti Tiat-jiu Souw Ki. Sambaran tongkat bengkok itu tidak mengeluarkan suara, namun ujung tongkat menggetar-getar dan tusukannya mengandung tenaga dalam yang hebat.

Cepat ia mengubah kedudukan kakinya, miring untuk menghindarkan tusukan sambil mengelebatkan pedang mencari kesempatan membalas. Tiga kali Bhong Lo-koai menyerang hebat dan tiga kali Hui Kauw mengelak, namun belum juga Bhong Lo-koai dapat mengenal gerakan mengelak sampai tiga kali ini. Memang tidak gampang mengenai ilmu silat Hui Kauw karena seperti telah diterangkan tadi, ilmu silat nona ini adalah ciptaan Ching-toanio yang mengawinkan banyak macam ilmu silat.

Karena penasaran, Bhong Lo-koai tidak berani memandang rendah lagi, kini tongkatnya menyambar-nyambar laksana seekor ular terbang, mengurung diri Hui Kauw dari empat jurusan! Kalau tidak dapat mengenal ilmu nona ini, setidaknya dia harus dapat merobohkannya! Namun benar-benar perhitungannya meleset ilmu tongkat dari Bhong Lo-koai memang aneh sehingga dia memperoleh julukan Koai-tung (Si Tongkat Aneh), akan tetapi betapapun hebatnya ilmu tongkatnya, dia tidak mampu menembus dinding sinar pedang Hui Kauw yang amat kokoh kuat, Di lain pihak, Hui Kauw masih saja mainkan ilmu pedang warisan ibu angkatnya, karena dengan ilmu pedang ini pun ia masih mampu menandingi ilmu tongkat kakek itu. Ia tidak menghendaki pertumpahan darah, tidak mau sembarangan melukai apalagi membunuh orang, maka juga ia tidak sampai mempergunakan ilmu pedang simpanannya yang bersifat ganas dan yang ia tahu amat ampuh dan sekali turun tangan mungkin akan menjatuhkan korban itu.

Lima puluh jurus telah lewat. Tiba-tiba kakek itu berseru keras sekali ketika pedang Hui Kauw membentur tongkatnya dan tahu-tahu melenting ke atas dan dengan gerakan aneh berlenggang-lenggok mengarah lehernya. Sambil berseru ini Bhong Lo-koai menarik tongkatnya dan melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri daripada tusukan pedang.

“Tahan dulu!” demikian teriaknya dan sepasang mata yang biasanya ngantuk itu kini terbuka agak lebar karena herannya. “Nona, jawablah yang betul, kau masih terhitung apa dengan Siauw-coa-ong Giam Kin?”

Hui Kauw maklum bahwa agaknya kakek ini mengenalnya dari ilmu pedang yang memang mengandung pula inti sari ilmu silat ayah angkatnya itu, malah dahulu pernah pula ia langsung mendapat petunjuk dan latihan dari ayah angkatnya itu.

“Dia adalah ayah angkatku, apa sangkut-pautnya denganmu?” jawabnya dengan suara masih tetap dingin.

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan menoleh kepada The Sun yang juga kelihatan girang. “Aha, The-kongcu, kiranya orang sendiri! Nona, kalau begitu kau she Giam pula! Ha-ha-ha, kalau tidak bertempur mana kenal? Nona yang baik, aku adalah kenalan baiknya, malah sahabat baik.”
The Sun menjura dengan sikap hormat. “Kiranya Giam-Taihiap adalah putera angkat mendiang Giam-lo-enghiong. Pantas begini lihai. Aku The Sun mengharap supaya kau sudi memaafkan orang-orangku yang salah mata. Tentu saja terhadap puteri angkat Giam lo-enghiong, kami tidak menganggap musuh dan sama sekali tidak berani menaruh curiga. Sesungguhnya di antara kita masih ada hubungan persahabatan!” The Sun lalu mengusir semua penjaga, malah segera memerintah para pengurus rumah penginapan itu untuk menyediakan hidangan untuk menghormati Nona Giam Hui Kauw. Ruangan yang tadinya dijadikan arena pertempuran, dalam sekejap mata saja diubah menjadi tempat pesta, dengan meja yang ditilami kain merah berkembang dan sebentar kemudian berdatanganlah arak wangi dan masakan-masakan lezat yang masih panas, diambilkan cepat-cepat dari restoran terbesar yang berdekatan.

Hui Kauw merasa tak enak sekali. Jangan dikira hatinya menjadi girang karena permusuhan berubah menjadi persahabatan, karena makin rendah saja nilai orang-orang ini di dalam pandangannya. Ia sendiri sudah cukup tahu orang apa adanya Giam Kin ayah angkatnya itu, maka kalau orang-orang ini mengaku sahabat ayah angkatnya, terang bahwa mereka ini biarpun memiliki kedudukan tinggi di kota raja, juga bukan terdiri dari orang-orang yang baik.

Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menolak uluran tangan mereka, dan tidak dapat menolak pula penghormatan berupa hidangan itu. Diam-diam ia lega juga bahwa ia tidak jadi menimbulkan keonaran di kota raja dan dapat mencari orang tuanya dengan leluasa.

Beberapa kali The Sun dengan sikap menghormat dan manis menuangkan arak dan mengajak nona itu minum, kemudian dalam percakapan itu The Sun bertanya,

“Nona, saya mendengar dari Souw Ki bahwa kau mencari keluargamu dan kau menyelidiki tentang seorang hartawan she Kwee yang dahulu kehilangan puterinya. Sebetulnya, kau mencari siapakah? Kau percayalah kepadaku, kalau orang yang kau cari itu betul-betul berada di kota raja, aku The Sun pasti akan dapat menemukannya. Anak buahku tersebar di seluruh kota dan mengenal setiap orang penduduk.”

“Betul ucapan The Sun ini, Nona,” sambung pula Bhong Lo-koai. “Kami pasti akan dapat mencarikan orang itu, tidak baik kalau Nona sendiri pergi mencari dn khawatir akan terjadinya hal-hal tidak enak karena salah mengerti.”

Diam-diam Hui Kauw mempertimbangkan hal ini. Tentu saja ia tidak bermaksud untuk membuka rahasianya sendiri, akan tetapi agaknya kalau dibantu oleh The Sun, lebih mudahlah untuk dapat bertemu dengan ayah bundanya. Ia meneguk araknya lalu berkata manis, .

“Terima kasih banyak, ji-wi (kalian berdua) baik sekali. Sebetulnya aku masih keluarga jauh dari seorang she Kwee yang tinggal di kota raja semenjak belasan tahun yang lalu. Sayangnya, karena aku hanya mendengar hal ini dari mendiang kakekku, aku yang sejak kecil tak pernah bertemu muka dengan keluarga Kwee itu hanya tahu bahwa di kota raja dan belasan tahun yang lalu, keluarga ini kehilangan seorang anak perempuan. Tentu saja aku tidak bermaksud untuk menyusahkan dan merepotkan ji-wi, akan tetapi kalau ji-wi dapat mencarikan keluarga ini untukku aku akan berterima kasih sekali.”

The Sun menoleh kepada Bhong Lo-koai yang tampak termenung. “Lo-eng-hiong kau yang lebih lama tinggal di sini daripada aku, apakah tidak mengenal orang yang dimaksudkan oleh Nona Giam?”

“Nanti dulu……. nanti dulu…..” kakek itu meraba-raba keningnya kemudian mengangkat mukanya memandang Hui Kauw. “Kau maksudkan hartawan Kwee yang kehilangan anak perempuannya? Anak perempuan yang diculik penjahat belasan tahun yang lalu? Ah……. ahh ……. jangan-jangan yang kau maksudkan adalah Kwee-taijin (pembesar Kwee) yang sekarang menjabat pegawai tinggi bagian benda-benda pusaka di istana. Aku ingat betul kejadian itu, kurang lebih tujuh belas tahun atau delapan belas tahun yang lalu, pada suatu malam kota raja gempar karena puteri Kwee-wangwe (hartawan Kwee) yang pada masa itu belum menjadi pembesar namun sudah menjadi kenalan baik dari pangeran mahkota, kabarnya diculik seorang penjahat wanita yang amat lihai. Banyak penjaga dan pengawal melakukan pengejaran namun banyak yang jatuh menjadi korban penjahat wanita yang lihai itu. Aku ikut pula mengejar akan tetapi sayang tidak bertemu dengan penjahat itu. Kabarnya, penjahat wanita itu akhirnya kena dikepung oleh para pengawal, akan tetapi secara aneh dapat meloloskan diri karena tertolong oleh seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri. Benar aneh……. dan……. jangan-jangan dia itu orang yang kau maksudkan?”

Hui Kauw menahan debaran jantungnya. Tidak salah lagi tentu mereka itulah ayah-bundanya. Anak kecil yang diculik itu, siapa lagi kalau bukan dia? Penculik itu, penjahat wanita yang lihai, siapa lagi kalau bukan ibu angkatnya, Ching-toanio yang dahulu masih bernama Liu bwee Lan? Dan penolong sakti itu, sudah tentu mendiang Giam Kin! Dengan kekuatan batinnya ia menekan perasaan agar mukanya tidak menyatakan sesuatu, kemudian ia berkata dengan sikap gembira.

“Tentu dia orangnya! Dia masih pamanku, paman jauh……. ah, Bhong lo-enghiong, tolonglah, dapatkah kau menunjukkan kepadaku, di mana rumahnya?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: