Pendekar Buta ~ Jilid 24

The Sun dan Bhong Lo-koai saling bertukar pandang. Kwee-taijin adalah seorang yang penting kedudukannya, pemegang kunci gudang benda-benda pusaka istana. Dalam keadaan politik sekacau itu, mana bisa menaruh kepercayaan begitu saja kepada gadis lihai ini untuk mendatangi Kwee-taijin? Siapa tahu gadis ini mengandung maksud buruk terhadap pembesar itu?

The Sun tersenyum. “Mudah saja, Nona. Kami mengenal baik kepada Kwee-taijin. Marilah, sekarang juga kami antar kau menghadap Kwee-taijin di rumahnya.”

Seorang yang berperasaan halus seperti Hui Kauw, tentu saja dapat menangkap kecurigaan yang terkandung dalam sikap dan pandang mata The Sun dan Bhong Lo-koai, akan tetapi ia tidak memperdulikannya karena hatinya sudah terlampau girang mendengar keterangan tentang ayah bundanya ini. Soal ayahnya menjadi pembesar atau bukan, itu urusan nanti. Yang penting baginya, ia dapat bertemu dengan ayah bundanya yang aseli, yang dikenangnya dan dirindukan semenjak ia mendengar penuturan pelayan tua di Ching-coa-to.

“Aku tidak bermaksud, merepotkah ji-wi, tapi…….” ia bersungkan.

“Ah, tidak apa, Nona. Bukankah di antara kita adalah di antara orang segolongan sendiri? Tidak usah sungkan, apalagi memang kami adalah kenalan baik Kwee-taijin. Marilah.”

Tiga orang itu segera meninggalkan penginapan, diantar oleh anggukan dan sikap menghormat oleh para pelayan dan pengurus rumah penginapan. Kiranya di depan rumah penginapan sudah tersedia sebuah kereta kuda dan The Sun mempersilakan Hui Kauw naik bersama dia dan Bhong Lo-koai. Hui Kauw merasa sungkan sekali, akan tetapi karena hatinya dipenuhi kegembiraan dan ketegangan hendak bertemu orang tuanya, ia tidak banyak menolak dan berangkatlah mereka sebagai pembesar-pembesar yang berkendaraan di kota raja!

Rumah Kwee-taijin amat besar dan mewah sehingga begitu memasuki pekarangan depan itu, hati Hui Kauw sudah berdebaran dan ia merasa dirinya amat kecil. Rumah Ching-toanio di Ching-coa-to memang juga besar dan indah, akan tetapi dibandingkan dengan bangunan-bangunan di kota raja, benar-benar tidak ada artinya. Rumah depannya itu dijaga beberapa orang perajurit yang memberi hormat ketika melihat The Sun dan Bhong Lo-koai. Otomatis mereka menghormat Hui Kauw pula karena gadis ini datang bersama dua orang tokoh itu.

Apalagi melihat gadis muka hitam ini membawa pedang di pinggang, para penjaga maklum bahwa gadis ini tentulah seorang tokoh kang-ouw yang banyak berkeliaran di kota raja karena dibutuhkan bantuan mereka oleh kaisar.

Penjaga pintu depan segera melapor ke dalam setelah mempersilakan tiga orang tamu ini duduk di ruang tamu yang berada di depan, sebuah ruangan lebar yang penuh gambar-gambar indah dan tulisan-tulisan sajak bergantungan di sepanjang dinding tebal yang dikapur putih. Diam-diam Hai Kauw membandingkan lukisan dan sajak-sajak itu dengan milik ibu angkatnya di Ching-coa-to dan merasa bahwa lukisan-lukisan yang berada di sini tidak mampu melawan keindahan kumpulan ibu angkatnya.

Tak lama kemudian terdengar derap kaki dari dalam. Hati Hui Kauw sudah berdegupan tidak karuan, akan tetapi ia terheran ketika melihat bahwa yang muncul dari pintu dalam adalah dua orang muda. Yaitu seorang gadis dan seorang pemuda. Mereka masih muda benar, kurang lebih tujuh belas atau enam belas tahun, akan tetapi sikap mereka gesit dan lincah, pakaian mereka mewah dan wajah mereka tampan dan cantik.

“The-kongcu…….!” dara remaja itu menegur sambil memberi hormat, suaranya berirama manja dan manis. Diam-diam Hui Kauw mengerutkan keningnya. Gadis ini terlalu dimanja dan agaknya tergila-gila kepada The Sun yang tampan! Bukan hal yang pantas kalau seorang dara remaja seperti dia itu keluar mcnyambut tamu pria dengan sikap semanis itu.

“Nona Kwee, sepagi ini kau sudah begini gembira dan segar cantik. Hendak ke manakah?” The Sun menegur dan diam-diam Hui Kauw dapat merasa betapa sikap The Sun ini dibuat-buat manis, seperti sikap seorang dewasa terhadap anak-anak. Hemm, agaknya pemuda berpengaruh ini tidak seceriwis yang disangkanya, pikir Hui Kauw.

“Aku hendak pergi berburu dengan Kian-koko (kakak Kian)! Ah, kalau saja kau bisa ikut, The-kongcu, tentu akan banyak hasilnya. Panahmu selalu tepat mengenai sasaran!” Dara lincah dan jelita itu berkata pula.

The Sun tersenyum dan menggeleng kepala. “Lain kali saja, sekarang aku banyak urusan. Adik Kian, hati-hati kalau berburu, jangan terlalu jauh meninggalkan tembok kota,” pesannya kepada pemuda remaja itu yang sejak tadi memandang kepada Hui Kauw.

“Pelayan memberi tahu bahwa ada Bhong-Locianpwe dan The-kongcu bersama seorang nona mencari ayah,” katanya dengan suaranya yang besar dan keras. “Ayah sedang mandi, kami dipesan supaya mempersilakan kalian bertiga menanti sebentar.”

“Baik, baik……. tidak apa, ada sedikit urusan” kata The Sun.

Sementara itu, pelayan datang membawa hidangan minuman dan Hui Kauw merasa canggung sekali karena dua orang muda itu tiada hentinya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik. Ia merasa tidak enak, juga bingung, hatinya menduga-duga. Dari percakapan ini ia dapat menduga bahwa dara remaja itu tentu adik si pemuda, apalagi kalau dilihat wajah mereka memang terdapat persamaan. Akan tetapi pemuda ini menyebut Kwee-taijin sebagai ayahnya. Kalau ayah mereka, Kwee-taijin yang dimaksudkan itu, benar-benar adalah ayahnya yang sejati, dengan sendirinya kedua orang muda ini adalah adik-adiknya! Berpikir sampai di sini, hatinya berdebar tidak karuan dan ia pun balas memandang penuh perhatian.

Makin berdebar hatinya ketika muncul pelayan yang berkata hormat.

“Taijin menanti para tamu di ruangan depan. Silakan sam-wi masuk.”

The Sun dan Bhong Lo-koai bangkit berdiri, Hui Kauw juga mengikuti gerakan dua orang itu. Dua orang anak muda tadi pun berdiri dan sambil tersenyum manis dara remaja itu berkata kepada The Sun,

“Kami juga akan berangkat, The-kongcu. Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu dan ada waktu, kami akan girang sekali jika kau menyusul kami ke hutan sebelah selatan.”

The Sun hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memandang dua orang muda itu yang berlarian ke luar rumah di mana telah menanti para pelayan yang telah mempersiapkan dua ekor kuda besar. Sebentar kemudian terdengarlah derap kuda mereka meninggalkan tempat itu. The Sun memberi isyarat kepada Hui Kauw untuk ikut memasuki ruangan depan yang ternyata lebih luas dan lebih mewah daripada ruangan tamu. Dengan mata tak berkedip Hui Kauw memandang laki-laki setengah tua yang bangun dari kursinya menyambut kedatangan mereka bertiga. Laki-laki ini usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, rambutnya sudah berwarna dua, akan tetapi yang amat menarik adalah alisnya yang sudah putih seluruhnya. Wajahnya kurus, lebih kurus daripada badannya yang berkerangka besar, tampan dan gerak-geriknya halus. Jari-jari tangan yang diangkat ke dada untuk memberi hormat itu memiliki kuku-kuku yang panjang terawat, kuku seorang sasterawan di jaman itu, senyumnya melebar menyembunyikan sinar duka yang tergores di mukanya sebagai bekas kepahitan hidup.

“Ah, kiranya The-kongcu dan Bhong-losu yang datang berkunjung. Tidak tahu siapa Nona ini?” pembesar itu menyambut dengan suaranya yang halus. Sikap yang tidak angkuh dan halus itu serta merta mendatangkan kesan baik dan mengharukan di hati Hui Kauw yang cepat-cepat memberi hormat bersama The Sun dan Bhong Lo-koai.

“Kwee-taijin,” kata Bhong Lo-koai setelah mereka dipersilakan duduk, “Justeru kedatangan kami berdua ini untuk mengantar Nona ini yang katanya masih terhitung keluarga dengan Kwee-taijin.”

Hening sejenak, hening yang mencekam hati Hui Kauw, mendatangkan heran bagi Kwee-taijin dan kedua orang jagoan itu hanya menanti sambil memandang penuh perhatian.

“Nona siapakah…….?” Sepasang mata itu mengeluarkan sinar menyusuri wajah dan bentuk tubuh Hui Kauw, lalu kembali ke wajah gadis itu dan menjadi ragu-ragu dan malah curiga ketika melihat muka yang menghitam itu.

Rasa kecewa memenuhi hati Hui Kauw, membuat ia ingin sekali menangis. Kalau benar dia ini ayahnya, mengapa tidak mengenalnya lagi? Bagaimana ia mungkin mengaku begitu saja sebagai puterinya? Puteri seorang bangsawan kaya raya? Apakah orang takkan menyangka dia seorang penipu? Apa buktinya bahwa ia anak pembesar ini? Dan bagaimana pula kalau ternyata bukan anaknya?

Suaranya gemetar ketika ia berkata, “Mohon maaf sebanyaknya, Taijin. Sesungguhnya, urusan ini mengharuskan kehadiran Nyonya Taijin. Apabila diijinkan, saya mohon agar Nyonya Taijin dipersilakan datang, baru saya akan bicara tentang urusan ini…….”

Berubah wajah Kwee-taijin, agaknya dia akan marah, akan tetapi karena yang mengajukan permintaan yang aneh ini adalah seorang gadis, dia dapat menahan kesabarannya. Adapun Bhong Lo-koai dan The Sun tidak heran mendengar ini malah The Sun segera berkata,

“Kwee-taijin, Nona ini tahu bahwa belasan tahun yang lalu puteri taijin lenyap diculik orang……”

“Ahhh…….!” Pembesar itu berseru kaget. “Kau tahu…..? Di mana dia itu sebenarnya? Di mana anakku…….?”

Kemudian pembesar ini sadar akan kegugupannya, maka dia segera bertepuk tangan memanggil pelayan, lalu katanya, “Pergi menghadap nyonya besar dan katakan bahwa aku minta ia datang ke ruangan depan sekarang juga.”

Pelayan pergi dan keadaan hening kembali. Kini Kwee-taijin menatap wajah Hui Kauw penuh perhatian dan seperti tadi dia menjadi curiga dan ragu-ragu melihat wajah yang hitam itu karena sepanjang ingatannya, dia tidak mempunyai keluarga atau anak kemenakan yang berwajah hitam seperti nona ini.

“Kau betul-betul tahu tentang puteriku yang diculik orang itu?”

“Saya tahu betul, Taijin,” jawab Hui Kauw perlahan dan di dalam hatinya nona ini berdoa semoga nyonya pembesar ini kalau memang betul-betul ibu kandungnya, akan mengenalnya.

Sementara itu, diam-diam The Sun dan Bhong Lo-koai telah siap siaga menjaga segala kemungkinan untuk melindungi pembesar itu dan isterinya, karena mereka pun merasa curiga kepada nona muka hitam itu. Dengan pandang mata tajam The Sun menatap wajah Hui Kauw dan melihat betapa wajah nona yang kehitaman itu menjadi pucat tiba-tiba ketika terdengar langkah ringan dan halus dari sebelah dalam, langkah seorang wanita. Benar saja, tak lama kemudian muncullah seorang wanita setengah tua yang masih amat cantik dan halus gerak-geriknya, tapi bermata sayu tanda penderitaan batin dan wajahnya yang pucat menandakan kesehatan yang buruk. Begitu melihat wajah nyonya ini, seketika Hui Kauw memandang dengan mata terbelalak dan ia seperti terkena pesona. Inilah wajah yang seringkali ia lihat di dalam mimpi, dan sekaligus hatinya jatuh. Kasih sayang dan keharuan memenuhi hatinya, membuat kedua matanya tak dapat menahan lagi bertitiknya dua air mata, mulutnya serasa kering, lehernya serasa tercekik dan jantung di dalam dada meloncat-loncat.

Juga nyonya itu seperti tercengang melihat Hui Kauw, keningnya berkerut mengingat-ingat karena ia merasa seperti pernah melihat wajah gadis ini. Hanya muka yang kehitaman itu membuat ia ragu-ragu karena seingatnya belum pernah ia mengenal seorang nona bermuka hitam seperti nona ini. Melihat adanya The Sun dan Bhong Lo-koai yang sudah dikenalnya, ia segera menjura dengan hormat yang cepat dibalas oleh kedua orang tamu itu, kemudian ia menghadapi suaminya sambil berkata halus,
“Ada keperluan apakah maka aku dipanggil ke sini?”

Karena hatinya masih merasa tegang, Kwee-taijin hanya menuding ke arah Hui Kauw sambil berkata, “Nona ini……. dia bilang tahu tentang……. Ling-ji (anak Ling)…….. Seketika wajah yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat dan mata yang sayu itu memandang terbelalak kepada Hui Kauw, kedua kakinya yang kecil melangkah maju sampai dekat. “Kau tahu……. kau tahu……. mana dia Ling Ling anakku…….?”

Hati Hui Kauw seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia terharu sekali dan diam-diam ia merasa bahagia karena ibu ini ternyata amat kasih kepada puterinya yang hilang diculik orang. Akan tetapi ia tidak boleh Sembrono, tidak boleh begitu saja mengaku sebagai anak mereka, karena biarpun hubungan darah di antara mereka telah menggetarkan jiwanya, akan tetapi ia tidak mempunyai bukti yang sah. Bagaimana kalau wanita ini bukan ibunya?

“Nyonya…….” suaranya gemetar dan sukar keluarnya, “Dapatkah Nyonya katakan, apakah anakmu yang hilang itu mempunyai tanda-tanda atau ciri-ciri sehingga dapat dikenal kembali?”

Nyonya itu meramkan kedua matanya, seakan-akan hendak membayangkan kembali anak kecil yang lenyap di waktu malam itu, ingat ketika dengan amat gembira dan penuh bahagia ia memandikan anak itu setiap hari, anak tunggal yang amat disayanginya. Dengan jelas tampak dalam bayangan ini betapa anak-nya itu mempunyai sebuah tanda merah di belakang leher, seperti tahi lalat tapi merah, dan dulu seringkali ia menggosok-gosok agar tanda itu hilang. Malah suaminya menghiburnya bahwa tanda tahi lalat seperti itu tidaklah buruk, apalagi kalau anak itu sudah besar kelak tentu akan tertutup oleh rambutnya, pula tanda sekecil itu kiranya malah menjadi penambah manis pada leher yang berkulit putih.

“Ada……. ada…….” katanya sambil membuka mata dan memandang suaminya. “……. kau tentu masih ingat, tahi lalat merah di belakang leher…….”

Kwee-taijin mengerutkan kening mengingat-ingat, kemudian berkata sambil tersenyum penuh harapan, “Betul, ada tahi lalat merah di tengkuk, ibunya selalu meributkan hal itu……”

Mendengar ini menggigil kedua kaki Hui Kauw dan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan nyonya itu, memeluk kedua kakinya sambil menangis! The Sun dan Bhong Lo-koai sudah mencelat dari tempat duduk masing-masing karena tadinya mengira bahwa gadis aneh itu hendak melakukan penyerangan, akan tetapi melihat Hui Kauw hanya menangis sambil memeluk dan menciumi kaki nyonya itu, mereka saling pandang dan berdiri bengong. Juga Kwee-taijin berdiri dari kusinya dan memandang dengan penuh keheranan.

“Nyonya……. kau periksalah ini…….”

Hui Kauw sambil menangis dan dengan kepala tunduk menyingkap rambutnya memperlihatkan tengkuk. Nyonya Kwee, suaminya dan juga dua orang tamu itu memandang dan karena Hui Kauw berlutut di atas lantai, mudah bagi mereka untuk melihat betapa kulit yang kuning halus dari tengkuk itu ternoda oleh sebuah tahi lalat merah sebesar kedele.

Hening sejenak, semua orang seperti kena sihir, kemudian Nyonya Kwee mengeluh, membungkuk meraba tengkuk, memandang lagi, mulutnya berbisik-bisik, “……. ah, mungkinkan ini…….? Kau……. Ling Ling…….? Kau anakku……?”

Juga Kwee-taijin tak dapat menahan diri berseru, “Mungkinkah ini? Tidak kelirukah…….?”

Mendengar keraguan suami isteri itu, dengan terisak Hui Kauw bangkit berdiri, tegak memandang suami isteri itu dan berkata, suaranya tegas.
“Taijin dan Nyonya, memang amatlah berat bagiku untuk memperkenalkan diri setelah melihat bahwa ayah dan ibuku adalah orang-orang kaya raya dan orang bangsawan berpangkat. Alangkah akan mudahnya aku dituduh penipu! Lihatlah baik-baik mukaku, mataku, diriku, andaikata Taijin berdua tidak mengenalku sebagai anak yang diculik orang belasan tahun yang lalu, biarlah aku pergi dari sini.”

Keadaan tegang sekali. The Sun dan Bhong Lo-koai merasai ketegangan ini dan mereka hanya berdiri tegak menjadi penonton. Kwee-taijin nampak bingung, ragu-ragu dan pandang matanya tidak pernah lepas daripada wajah Hui Kauw. Harus dia akui bahwa wajah ini cantik sekali dan mirip wajah isterinya di waktu muda, akan tetapi mengapa hitam sehingga tampak buruk? Dia ingat betul bahwa dahulu Ling-ji tidak berwajah hitam, malah kulit muka anaknya dahulu itu putih sekali. Bagaimana dia dapat menerima gadis yang bermuka hitam, yang menjadi seorang gadis kang-ouw dengan pedang selalu di pinggang ini sebagai puterinya?

Nyonya Kwee mengejar maju dan memegang tangan kiri Hui Kauw dengan kedua tangannya yang dingin dan gemetar, bibirnya berbisik, “……. lihat tanganmu……. aku ingat betul……. di bawah jari manis kiri terdapat guratan seperti huruf THIAN…….” Ia membalikkan tangan gadis itu, menariknya dekat dan memandang penuh perhatian. Benar saja, di situ terdapat di antara guratan-guratan telapak tangan itu, guratan yang mirip dengan huruf THIAN, yaitu dua tumpuk garis melintang dipotong garis tegak lurus yang di bawahnya bercabang dua!

“…… ahh …… kau betul Ling Ling…… kau anakku……!”

“…… ibuuuu……!” Dua orang wanita itu berpelukan, berciuman dan mereka bertangis-tangisan. Pertemuan yang amat mengharukan.

“Ling Ling…… inilah Ayahmu……… berilah hormat kepada Ayahmu……”

Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di depan Kwee-taijin sambil terisak berkata, “…… Ayahhhh……”

Kwee-taijin mengerutkan kening. Diam-diam dia kecewa sekali melihat nona ini yang ternyata adalah puterinya sendiri yang dahulu diculik orang. Kecewa melihat anaknya bermuka hitam seperti ini. Dia menarik napas dan mengelus rambut Hui Kauw setelah menerima sambaran pandang mata isterinya yang seakan-akan mencelanya, “Ling-ji…… anakku, alangkah banyaknya kau telah mendatangkan sengsara dalam hati ibumu……”

Sementara itu, The Sun dan Bhong Lo-koai juga tercengang, kemudian menjadi girang sekali bahwa nona yang kosen itu ternyata adalah puteri Kwee-taijin yang hilang! Cepat keduanya lalu menjura dan menghaturkan selamat kepada Kwee-taijin.

“Kionghi (selamat), Kwee-taijin, kionghi! Siapa kira hari ini amat baik sehingga tanpa dinyana puterimu telah kembali!” kata The Sun.

“Tidak hanya telah kembali, malah membawa kepandaian yang hebat. Kionghi, Taijin, selamat bahwa kau mempunyai puteri yang menjadi anak angkat Siauw-coa-ong Giam Kin yang sakti. Ha-ha-ha!” Bhong Lo-koai juga memberi selamat.

Kekecewaan Kwee-taijin agak terhibur ketika mendengar bahwa puterinya ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi. Apalagi nama besar Siauw-coa-ong tentu saja pernah dia mendengarnya. Maka ketika dua orang tamunya itu berpamit hendak pergi, dia cepat menahan mereka dan berkata,

“Ji-wi yang membawa datang puteri kami, sudah sepantasnya saya menghaturkan terima kasih dengan tiga cawan arak.”

Dua orang itu tertawa-tawa dan tak dapat menolak. Hidangan disiapkan di meja, sedangkan Kwee-hujin segera mengajak puterinya itu ke dalam sambil memeluknya dan menciuminya.

Setelah berada di rumah ayah bundanya yang aseli, Hui Kauw atau Kwee Ling mendengar banyak, Ternyata ibunya hanya mempunyai anak dia seorang saja, adapun dua orang remaja yang dilihatnya itu adalah anak dari isteri muda Kwee-taijin. Sebagai seorang kaya raya dan bangsawan yang mempwnyai pangkat tinggi pula, Kwee-taijin mempunyai tiga orang isteri di samping beberapa orang selir yang dianggap sebagai pelayan. Isteri pertama yang disebut Kwee-Huijin adalah ibu Hui Kauw itulah, isteri ke dua atau Ji-Huijin (nyonya ke dua) tidak mempunyai anak sedangkan Sam-Huijin (nyonya ke tiga) mempunyai anak dua orang yaitu yang bernama Kwee Kian seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dan yang ke dua adalah seorang dara remaja bernama Kwee Siok. Dua orang inilah yang berjumpa dengan Hui Kauw pada waktu ia pertama datang di rumah orang tuanya.

Hui Kauw dapat merasakan betapa kecuali ibu kandungnya, kehadirannya di rumah gedung itu amat tidak disuka oleh keluarga Kwee. Terutama sekali Sam-hujin dan dua orang anaknya. Hal ini mudah sekali dimengerti karena sebelum hadir Hui Kauw, maka Kwee Kian dan Kwee Siok merupakan dua orang keturunan keluarga Kwee yang menjadi ahli waris. Sekarang datang Hui Kauw yang ternyata adalah anak dari isteri pertama, tentu saja mereka merasa dirugikan dan merasa terancam kedudukan mereka!

Hal ini karena dapat dimengerti oleh Hui Kauw, maka tidak mendatangkan rasa sesal di hatinya. Yang membuat gadis ini murung dan tak enak hati adalah sikap ayahnya. Ayahnya itu adalah ayah kandung, kenapa terhadap dia dingin saja, tidak semanis sikapnya terhadap Kwee Kian dan Kwee Siok? Juga sikap ayahnya terhadap ibunya tidak semanis sikapnya terhadap dua orang isterinya yang lain. Hui Kauw merasa amat kasihan kepada ibunya dan diam-diam ia tidak puas kepada ayahnya. Agaknya perasaan tidak puas inilah yang membuat Hui Kauw menyatakan kepada ayah bundanya bahwa ia lebih suka bernama Hui Kauw daripada Kwee Ling, karena nama ini sudah dipakainya semenjak kecil, maka ia minta supaya nama Hui Kauw dijadikan nama alias atau nama sehari-hari. Hanya ibu kandungnya sajalah yang tetap menyebutnya Ling Ling, sedangkan orang lain menyebutnya Hui Kauw, juga ayahnya sendiri.

Pada suatu hari Hui Kauw diajak ayahnya menghadiri pesta yang diadakan di dalam istana oleh kaisar! Kejadian yang luar biasa, apalagi kalau diingat bahwa kehadiran Hui Kauw itu adalah kehendak kaisar sendiri yang mendengar tentang kelihaian gadis itu dari The Sun.

“Ayah, perlu benarkah itu sehingga saya yang harus ikut ke istana? Saya tidak senang dengan pesta-pesta besar,” kata Hui Kauw kepada ayahnya.

Aneh ayahnya kali ini, sikapnya manis sekali dan kini ayahnya tersenyum. “Hui Kauw, anak baik, kau tidak tahu. Adalah kaisar sendiri yang minta supaya kau ikut datang karena beliau telah mendengar bahwa anakku yang diculik dahulu telah pulang dan selain beliau hendak memberi selamat kepadaku, juga ingin berjumpa sendiri denganmu. Ini merupakan hal baik sekali dan merupakan kehormatan besar, anakku. Baiklah kita berdua menggunakan kesempatan ini untuk menghaturkan selamat kepada kaisar atas pilihan beberapa orang selir baru.”

Diam-diam Hui Kauw merasa muak di dalam hatinya. Banyak sudah ia mendengar dongeng tentang kaisar-kaisar dan pembesar-pembesar tinggi yang selalu mengumpulkan sebanyak mungkin gadis-gadis cantik untuk dijadikan selir. Kejadian ini amat memanaskan hatinya. Laki-laki yang mempunyai kedudukan tinggi benar-benar merupakan manusia-manusia yang mau menang sendiri saja, yang bertindak sewenang-wenang dan menganggap wanita-wanita hanya sebagai benda permainan belaka! Sebenarnya tak sudi ia harus menghadapi semua ini, tak sudi ia harus menghadiri pesta itu, akan tetapi bagaimana ia dapat membantah kehendak ayahnya? Baru beberapa hari ia berkumpul dengan ayahnya, tak mungkin ia mengecewakan hati orang tua itu. Apalagi dalam kesempatan ini, ayahnya juga mengajak Kwee Kian dan Kwee Siok yang kelihatannya gembira bukan main. Pemuda dan gadis remaja ini berdandan dengan pakaian terbaru. Hui Kauw tidak dapat meniru ini, biarpun ia telah diberi banyak pakaian indah oleh orang tuanya. Gadis ini berpakaian sederhana saja, apalagi ia maklum bahwa mukanya yang hitam itu membuat semua pakaian dan hiasan badan tetap tidak patut.

Bukan main meriahnya pesta yang diadakan di taman bunga istana itu. Kaisar baru muncul setelah para undangan memenuhi taman dan semua orang termasuk Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut ketika kaisar berjalan dengan sikap agung menuju ke tempat duduk kehormatan yang telah disediakan untuknya.

Dengan kerling matanya Hui Kauw melihat bahwa kaisar ini masih muda, berwajah tampan bersikap gagah dengan mulut selalu memperlihatkan senyum yang menyembunyikan keangkuhannya. Setelah semua orang diperkenankan duduk, Kwee Siok menyentuh tengannya dan berkata, “Hui Kauw cici, lihat di sana itu duduk rombongan pengawal-pengawal istana dan jagoan-jagoan undangan, semua adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tertinggi.”

Kwee Kian juga tidak mau ketinggalan berkata lirih. “Dan yang duduk di sebelah kiri itu, yang berpakaian serba merah, orang tua yang tinggi kurus dan tersenyum-senyum itu, dialah suhu (guru) kami. Dialah tokoh besar berilmu tinggi yang berjuluk Ang Mo-ko!”
Diam-diam Hui Kauw menaruh perhatian. Memang seorang kakek yang aneh, sudah tua tapi pakaiannya merah semua, duduknya tak jauh dari The Sun yang kelihatan berpakaian serba indah. Ia tahu bahwa dua orang adik tirinya ini belajar ilmu silat dari seorang tokoh pengawal istana yang berjuluk Ang Mo-ko, akan tetapi baru sekarang ia melihat orangnya.

“Cici,” kata pula Kwee Siok, “diantara tujuh orang pengawal ketika kaisar masih menjadi pangeran mahkota, suhu adalah orang yang paling lihai di antara mereka.”

“Mungkin tidak kalah oleh The-kong-cu,” kata Kwee Kian.

“Wah, kalau dibandingkan dengan The-kongcu mungkin masih kalah setingkat,” kata Kwee Siok. “Kian-koko, kau tahu bahwa The-kongcu adalah seorang tokoh muda dari Go-bi yang memiliki kesaktian luar biasa, masa di dunia ada keduanya? Akan tetapi, kalau hanya dengan Bhong Lo-koai saja sudah pasti suhu lebih menang!”

Hui Kauw tersenyum di dalam hatinya mendengar perdebatan antara kedua adik tirinya ini dan sekaligus ia dapat menduga bahwa adik tirinya Kwee Siok ini tergila-gila kepada The Sun. Ia termenung dan diam-diam ia berdoa semoga adik ini tidak akan mengalami nasib buruk dalam percintaan seperti ia sendiri. Betapapun adik tirinya ini di dalam hatinya tidak suka kepadanya, namun Hui Kauw memang memiliki watak yang penuh welas asih, dan pribudi yang mulia. Dahulu pun di Pulau Ching-coa-to, biarpun ia tahu bahwa Hui Siang diam-diam membencinya, namun ia selalu menaruh iba kepada adik angkat ini. Apalagi sekarang, dua orang ini betapapun juga adalah adik tirinya, anak-anak dari ayah kandungnya!

Ternyata menurut percakapan yang ia dengar, Hui Kauw tahu bahwa kali ini kaisar telah memilih lima orang selir baru di antara puluhan orang gadis yang didatangkan dari pelbagai daerah. Seperti telah seringkali terjadi, gadis-gadis yang tidak diterima tentu saja menjadi bagian dari para pembesar yang mengurusnya. Tidaklah mengherankan apabila mereka kini berpesta pora amat gembira, selain untuk memberi selamat kepada kaisar, juga untuk memberi selamat kepada diri mereka sendiri! Hui Kauw merasa lega bahwa ayahnya tidak termasuk pembesar yang mengurus tentang penarikan gadis-gadis ini sehingga kali ini ayahnya tidak ikut bergembira karena mendapatkan selir baru pula! Anehnya, selir-selir baru itu tidak hadir di tempat pesta dan yang tampak hanyalah para pengunjung yang membanjirkan hadiah-hadiah berupa benda-benda berharga untuk para selir baru itu! Tentu saja hal ini dilakukan untuk menjilat kaisarnya, karena benda-benda berharga yang dikeluarkan itu hanya merupakan umpan untuk memancing ikan yang jauh lebih berharga daripada umpannya, yaitu berupa kenaikan pangkat dan lain-lain.

Hui Kauw sudah merasa lega bahwa kaisar agaknya tidak akan melihat dan mengenalnya, juga agaknya ayahnya tidak akan menyinggung-nyinggung tentang dirinya. Siapa kira tak lama kemudian, seorang pembesar mendatangi ayahnya dan berbisik-bisik. Wajah orang tua itu seketika menjadi berseri-seri gembira dan dengan suara bangga dia berkata,

“Hui Kauw……. eh, Ling-ji……. Kaisar memanggil aku dan kau menghadap. Mari…….!” Ayah yang bangga ini berdiri, menggandeng tangan puterinya dan menjatuhkan diri berlutut di tempat itu juga untuk menghormat panggilan kaisar, kemudian dia mengajak Hui Kauw berdiri dan berjalan perlahan menuju ke tempat duduk kaisar. Di depan kaisar, ayah dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut lagi, menunduk tanpa berani mengangkat muka untuk memandang kaisar.

“Aha, inikah Nona yang lihai ilmu silatnya itu?”

Betapapun juga, keadaan dan suara kaisar ini demikian berwibawa sehingga menekan perasaan Hui Kauw dan membuat nona ini merasa mulutnya kaku dan tenggorokannya kering. Tak dapat ia mengeluarkan suara untuk menjawab!

“Betul, Yang Mulia, inilah anak hamba Kwee……. Hui Kauw yang bodoh, hamba berdua menghaturkan selamat atas hari baik ini semoga Yang Mulia bertambah kebahagiaan dan dikurniai panjang usia selaksa tahun!”

Kaisar ini tertawa senang. “Kwee Lai Kin, tak kusangka kau mempunyai seorang anak perempuan yang lihai ilmu silatnya, yang katanya malah menjadi murid dan anak angkat Siauw-coa-ong Si Raja Ular! Ha-ha-ha! Eh, kau……. Kwee Hui Kauw, benarkah kau diangkat anak oleh Si Raja Ular?”
Tanpa berani mengangkat mukanya, Hui Kauw yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya menjawab, “Tidak salah, Yang Mulia…….”

“Bagus! Karena ayahmu adalah pembantuku, berarti kau pun pembantu istana pula. Hayo kau mainkan beberapa jurus ilmu silat agar dinilai oleh para pengawal dan agar menambah kegembiraan pesta ini.”

Bingung dan mengkal hati Hui Kauw. Betapa ceriwisnya kaisar ini, pikirnya, akan tetapi suasana di situ benar-benar amat berwibawa sehingga ia hampir kehilangan ketenangan hatinya, “Mohon ampun sebesarnya, Yang Mulia, hamba tidak berani memperlihatkan ilmu silat yang dangkal di hadapan Yang Mulia.”

Semua orang yang hadir di situ kaget dan khawatir. Setiap penolakan kehendak kaisar dapat dianggap sebagai pembangkangan yang sama artinya dengan pemberontakan! Wajah Kwee-taijin sudah berubah pucat seperti kertas kosong. The Sun mengerutkan keningnya akan tetapi pemuda yang cerdik ini segera berlutut dan berkata,

“Mohon Yang Mulia sudi mengampuninya. Sebagai seorang gadis yang baru kali ini berhadapan dengan Yang Mulia, dan baru kali ini menghadiri pertemuan agung, tentu saja Nona Kwee Hui Kauw merasa malu-malu dan canggung sekali. Hamba usulkan agar supaya seorang di antara para pengawal suka mengawaninya sehingga selain Nona Kwee tidak akan sungkan, juga akan lebih indah ditonton dan lebih mudah dijadikan ukuran bagi kepandaian Nona Kwee yang hebat!” Kaisar tertawa girang dan bertepuk tangan. “Bagus, kau memang pintar sekali, The Sun! Kau yang memuji Nona ini kepadaku, tentu kau sudah tahu sampai di mana tingkatnya dan aku beri ijin kepadamu untuk melakukan pemilihan di antara para pengawal itu.”

The Sun tentu saja dapat menduga sampai di mana tingkat kepandaian Hui Kauw karena pernah dia melihat gadis itu bertanding melawan Bhong Lo-koai. Tadinya dia hendak mengusulkan supaya Bhong Lo-koai maju melayani nona ini, akan tetapi dia ragu-ragu karena siapa tahu kalau-kalau Bhong Lo-koai akan kalah. Biarpun pertandingan kali ini hanya sebagai iseng-iseng dan menguji kepandaian belaka, namun kalau sampai pihak istana kalah, bukankah hal ini akan merendahkan nama besar kaisar sendiri yang dianggap mempunyai pengawal yang tidak becus? Oleh karena itu, dia segera memandang Ang Mo-ko, tersenyum dan berkata,

“Menurut pendapat hamba, hanya Ang Mo-ko lo-enghiong yang patut untuk melayani Nona Kwee, mengingat bahwa kepandaian Nona Kwee sudah amat tinggi dan kalau lain orang yang melayaninya, akan sukarlah dapat digunakan sebagai ukuran.”

Semua orang terkejut mendengar ini, sedangkan Bhong Lo-koai menjadi merah mukanya. Terang bahwa The Sun tidak percaya kepadanya, maka mengajukan Ang Mo-ko yang dianggap lebih pandai. Memang semua pengawal di istana juga maklum bahwa sebelum datang The Sun dan para tokoh undangan, di antara para pengawal lama, Ang Mo-ko merupakan tenaga yang paling boleh diandalkan karena memang hebat ilmu kepandaiannya. Akan tetapi, banyak di antara para pengawal istana merasa penasaran. Untuk menguji kepandaian seorang nona yang begitu muda, mengapa mesti mengajukar Ang Mo-ko? Agaknya beberapa orang pengawal muda saja sudah cukuplah. Benar-benar The-kongcu sekali ini keterlaluan, pikir mereka. Malah diam-diam Kwee-taijin juga kaget sekali dan melirik ke arah orang muda itu. Apa yang dikehendaki oleh orang muda ini, pikirnya tak enak. Masa anakku harus diadu dengan Ang Mo-ko yang lihai? Hemm, apakah dia sengaja hendak membikin malu kepada Hui Kauw dan aku?

Akan tetapi The Sun tidak memperdulikan semua pandang mata yang ditujukan kepadanya penuh pertanyaan itu. Juga kaisar yang tadinya terkejut pula, setelah memandang wajah The Sun yang bersungguh-sungguh, diam-diam merasa amat kagum. Benarkah gadis ini memiliki kepandaian begitu tinggi sehingga patut dipertemukan dalam pertandingan melawan Ang Moko? Dia tertawa dan menjawab,

“The Sun, kau lebih tahu dalam hal ini. Usulmu diterima, lakukanlah!”

The Sun lalu menghampiri Ang Mo-ko, berkata sambil tersenyum, “Ang lo-enghiong harap suka turun tangan menggembirakan suasana pesta. Akan tetapi hati-hatilah, Nona Kwee benar-benar lihai.”

Ang Mo-ko bangkit berdiri, mengangguk-angguk dan berkata, cukup keras sehingga dapat terdengar oleh Hui Kauw, “Mendapat kehormatan besar untuk berkenalan dengan kelihaian anak angkat Siauw-coa-ong Giam Kin yang sakti.”

Yang paling merasa tegang di saat itu adalah Kwee Kian dan Kwee Siok. Dua orang muda ini saling pandang dan muka mereka berubah sebentar pucat sebentar merah. Memang dari ayah mereka, mereka telah mendengar bahwa kakak tiri mereka itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi mereka sendiri yang menjadi murid tokoh besar di istana, Ang Mo-ko, diam-diam memandang rendah kepada Hui Kauw. Malah diam-diam mereka mencari kesempatan baik untuk “mencoba” kepandaian nona muka hitam itu. Siapa tahu sekarang dalam pesta agung, di depan kaisar, kakak tiri itu akan dipertandingkan dengan guru mereka!

Karena yang memerintahnya adalah kaisar sendiri, Hui Kauw tentu saja tidak berani membantah. Setelah memberi hormat dengan berlutut, ia lalu memenuhi isyarat The Sun, bangkit berdiri dan berjalan tenang ke tengah ruangan, di mana terdapat tempat yang agak tinggi dan memang sengaja dikosongkan. Kaisar dan para tamu duduknya mengelilingi tempat ini di dalam taman itu sehingga tempat itu menjadi pusat perhatian. Ang Mo-ko yang bertubuh tinggi kurus sudah berdiri di situ, menanti dengan sikap tenang.

Kaisar memerintahkan sesuatu kepada pengawal pribadinya yang cepat lari menghampiri The Sun. Pemuda ini tersenyum mengangguk-angguk, lalu berlari pula ke arena pertandingan, berkata kepada Hui Kauw dan Ang Mo-ko yang sudah bediri berhadapan.

“Menurut perintah Kaisar, karena di antara para tamu banyak yang tidak tahu ilmu silat, maka untuk menjaga kesusilaan dan mencegah persentuhan tangan, ji-wi (kalian) diperintahkan menggunakan senjata dalam pertandingan persahabatan ini. Silakan Nona Kwee memilih senjata apa yang dikehendaki, akan saya sediakan.”

Hui Kauw memandang Ang Mo-ko untuk mengetahui pendapat orang tua yang diharuskan menjadi lawannya itu. Ia melihat kakek itu sambil tersenyum lebar telah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang huncwe (pipa tembakau) yang putih kemilau seperti perak. Hun-cwe ini panjangnya ada tiga perempat meter, ujungnya meruncing dan beberapa sentimeter sebelum ujungnya terdapat “buahnya” merupakan tempat tembakau yang biasanya dinyalakan. Tahulah Hui Kauw bahwa lawannya adalah seorang ahli totok yang berbahaya karena senjata seperti itu memang tepat untuk menotok jalan darah, bentuknya meruncing tapi ujungnya tumpul.

“Aku tidak ingin berkelahi sungguh-sungguh, mengapa harus bersenjata?” katanya ragu-ragu. “Pula, aku tidak membawa pedangku.” Memang semua pengunjung tidak diperbolehkan membawa senjata, tentu saja kecuali para pengawal yang sudah dipercaya penuh. Aturan ini belum lama diadakan setelah terjadi perebutan kekuasaan dan makin lama makin banyak terdapat mata-mata dari fihak yang anti kaisar berkeliaran di kota raja.

The Sun tersenyum dan mencabut pedangnya, “Kalau kau biasa berpedang, kau boleh mempergunakan pedangku, Nona.”

“Terima kasih.” Hui Kauw terpaksa menerima pedang The Sun.

“Nah, Kaisar telah memberi tanda. Kalian boleh mulai,” kata The Sun yang segera mundur dan berdiri di pinggiran. Para tamu menahan napas, apalagi Kwee-taijin ketika melihat betapa anak perempuannya sudah berdiri dengan pedang terhunus di depan Ang Mo-ko yang masih tersenyum-senyum itu.

Dengan gaya lucu Ang Mo-ko sekali lagi berlutut memberi hormat kepada kaisar, lalu berdiri dan berkata, “Nona Kwee, aku yang tua banyak mengharapkan petunjuk darimu.”

“Ah, lo-enghiong mengapa berlaku sungkan? Lekaslah bergerak dan lekas pula akhiri permainan ini, aku mana bisa menang dibandingkan dengan seorang tokoh tua?” jawab Hui Kauw hati-hati, pedangnya sudah melintang di depan dadanya.

Ang Mo-ko tertawa lagi, lalu menggerakkan huncwenya sambil berseru, “Awas Nona, aku mulai!”

Hui Kauw maklum bahwa lawannya bukanlah orang lemah, hal ini tidak hanya dapat ia duga dari sikap kakek itu, juga sekarang jelas dapat dilihat dari dahsyatnya sambaran huncwe yang melakukan totokan ke arah leher dan lambungnya. Dua bagian tubuh ini letaknya tidak berdekatan namun ujung huncwe itu dapat menotok secara beruntun dengan cepat sekali sehingga sukar diduga bagian mana yang akan diserang lebih dahulu karena seakan-akan ujungnya berubah menjadi dua menyerang dengan berbareng!

“Tring! Tranggggg!” Bunga api berhamburan menyilaukan mata ketika pedang yang diputar Hui Kauw itu sekaligus bertemu dua kali dengan huncwe itu. Karena ia menggunakan pedang orang lain, Hui Kauw dengan tabah berani menangkis sekalian hendak menguji tenaga lawan. Ia merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi dengan pengerahan hawa murni ia dapat mengusir getaran itu. Di lain fihak, Ang Mo-ko berseru keras dan melompat mundur, cepat menarik huncwenya dan diamat-amati dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.

“Wah-wah-wah, untungnya huncwe yang menjadi jimat hidupku ini tidak rusak!” katanya kemudian sambil tertawa. Tadi dia memang takut kalau-kalau huncwe kesayangannya ini lecet. Dengan lagak lucu kakek ini menerjang maju lagi mengirim serangan-serangan kilat.

Hui Kauw juga mainkan pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar putih. Makin cepat kakek itu menyerangnya, makin cepat pula ia menggerakkan pedangnya, kini tidak hanya untuk mempertahankan diri, juga untuk balas menyerang. Hebat pertandingan itu dan juga indah sekali karena sambaran huncwe yang bagaikan kilat menyambar itu selalu lenyap digulung awan putih sinar pedang Hui Kauw, Kadang-kadang dari dalam gulungan awan itu muncrat bunga api dibarengi suara nyaring seakan-akan halilintar menyambar dari gulungan awan mendung.

Tentu saja Ang Mo-ko maklum akan maksud pertandingan ini. Tadinya dia hanya bermaksud menguji, tentu saja dia tidak akan menyerang sungguh-sungguh puteri Kwee-taijin yang juga menjadi kakak daripada kedua orang muridnya Akan tetapi makin lama penyerangannya menjadi makin dahsyat ketika dia mendapat kenyataan bahwa nona ini ilmu pedangnya sungguh tak boleh dipandang ringan. Dia harus memeras keringat dan mengerahkan tenaga dan kepandaian kalau tidak mau dikalahkan dan mendapat malu di dalam pertandingan agung itu! Setelah bertanding lima puluh jurus lebih, Ang Mo-ko tidak berani main-main lagi dan terpaksa dia mengeluarkan kepandaiannya agar jangan sampai kalah.

Di lain fihak, Hui Kauw juga hendak menjaga namanya, selain juga hendak menjaga muka ayahnya. Kalau ia mudah saja dikalahkan, bukan hanya dia yang akan ditertawakan orang, apalagi oleh kedua orang adik tirinya, juga ayahnya tidak luput daripada ejekan. Namun, ia tetap tidak mau mempergunakan ilmu silatnya yang ia rahasiakan. Ia sengaja hanya mainkan ilmu pedang yang ia pelajari dari ibu angkatnya dan ternyata ilmu pedang itu sudah cukup untuk menandingi huncwe di tangan Ang Mo-ko.

Kaisar menjadi amat gembira menyaksikan pertandingan pedang tingkat tinggi melawan huncwe maut ini dan berkali-kali dia bertepuk tangan memuji karena kaisar ini pun seorang yang suka sekali akan ilmu silat. Setelah seratus jurus lewat, Ang Mo-ko menjadi gelisah dan dia merasa khawatir sekali kalau-kalau akan ditertawai kaisar dan karena pertandingan ini akan diturunkan pangkatnya kalau dia tidak lekas-lekas dapat mengalahkan nona muda ini. Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan keras dan tangan kirinya bergerak melakukan serangan pukulan yang aneh sekali, dengan jari tangan terbuka dan dilakukan dari bawah ke atas. Akan tetapi pukulan ini membawa angin panas yang amat hebat. Kiranya inilah ilmu pukulan simpanan dari Ang Mo-ko atau Iblis Merah, karena sebutan ini bukan saja menyindir pakaiannya yang serba merah, namun juga ilmu pukulannya Ang-tok-jiu (Tangan Racun Merah). Ilmu pukulan ini bukan main hebatnya, apabila dilakukan, tangan kirinya berubah menjadi merah seperti kepiting direbus dan dari tangan ini selain keluar hawa pukulan yang panas dan dapat meremukkan tulang membakar kulit daging, juga mengandung hawa beracun!

Hui Kauw kaget bukan main ketika merasai hawa pukulan yang amat panas ini. Ia adalah puteri angkat dari Ching-toanio dan semenjak kecil ia tinggal di Pulau Ular Hijau, tentu saja ia tahu akan racun-racun berbahaya. Ia dapat menduga bahwa pukulan lawan ini tentu mengandung racun, maka ia tidak berani menerimanya dan cepat mengelak. Ang Mo-ko makin penasaran, huncwenya terus mendesak diselingi pukulan-pukulan Ang-tok-jiu. Kali ini dia sama sekali tidak mau memberi hati dan niat satu-satunya adalah menjatuhkan atau mengalahkan gadis ini, baik secara halus maupun kasar. Hal ini dianggapnya penting sekali untuk menjaga nama dan kedudukannya di hadapan kaisar.

Setelah Ang Mo-ko mempergunakan ilmu pukulan Ang-tok-jiu ini, segera Hui Kauw menjadi terdesak hebat. Gadis ini tak dapat mempertahankan diri lagi karena ia harus selalu mengelak daripada pukulan tangan kiri lawan sehingga permainan pedangnya tak mampu lagi membendung banjir serangan huncwe yang bertubi-tubi mendesaknya dengan totokan-totokan berbahaya. Celaka, pikirnya, kakek merah ini agaknya tidak main-main lagi dan terlalu bernafsu untuk mengalahkanku, pikirnya. Dan ia tahu bahwa kalau kali ini ia kalah, itu akan terjadi dalam keadaan yang amat berbahaya karena sekali terkena totokan huncwe atau terkena pukulan beracun, ia akan terluka parah. Baginya, kalah dari kakek ini di depan kaisar bukanlah hal yang terlalu ditakuti, akan tetapi tentu saja ia tidak sudi kalau harus menyerahkan diri untuk ditotok atau dipukul sampai terluka parah.

Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan nyaring dan ilmu pedangnya segera berubah hebat. Kalau tadinya ilmu pedangnya bagaikan ombak-ombak kecil yang amat cepat menggelora, sekarang berubah tenang seperti gelombang lautan besar yang tampaknya tenang dan lambat, namun yang menelan segala yang dihadapinya. Gerakannya menjadi lambat dan aneh sekali akan tetapi bagi Ang Mo-ko amat hebat kesudahannya karena kakek ini tiba-tiba saja melihat betapa tangan kirinya berhadapan dengan pedang yang mengandung tenaga dalam yang dahsyat. Kalau dia melanjutkan serangannya, berarti tangan kirinya akan buntung! Cepat dia menarik tangan kirinya, akan tetapi pedang itu dengan gerakan lambat dan aneh namun mengandung tenaga menempel yang luar biasa, tahu-tahu telah menghantam huncwenya. Terdengar suara nyaring dan……. huncwe itu terlepas dari tangan Ang Mo-ko yang tiba-tiba merasa betapa tangan kanannya setengah lumpuh! Ang Mo-ko kaget sekali, mengeluarkan suara keras dan melompat ke belakang, keringat dingin membasahi lehernya karena maklum bahwa tadi kalau lawannya berniat buruk, tentu dia akan terluka. Ternyata pedang itu tidak mengejarnya dan Hui Kauw hanya berdiri dengan pedang melintang di depan dada.

“Kiam-hoat bagus…….!!” Terdengar pujian dari seorang di antara mereka yang tempat duduknya di dekat The Sun, seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan tampan, yang bermata tajam bersinar-sinar.

Terdengar tepuk tangan, ternyata kaisar sendiri yang bertepuk tangan memuji. Semua orang lalu mengikuti gerakan ini dan meledaklah tepuk tangan dan pujian di taman itu. Kaisar mengangkat tangan dan semua suara itu berhenti.

“Kwee Hui Kauw, sebagai seorang gadis muda, ilmu silatmu hebat bukan main. Kalau sampai mendapat pujian dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, itu berarti bahwa ilmu pedangmu sudah mencapai tingkat tinggi. Bagus sekali!” kata kaisar dengan suara gembira.

Hui Kauw baru teringat bahwa ia berada di dalam pertemuan agung di mana kaisar hadir dan melihat betapa Ang Mo-ko sudah menjatuhkan diri berlutut, ia pun segera berlutut menghadap kepada kaisar dengan penuh hormat. Diam-diam ia mencatat ucapan kaisar tadi bahwa orang setengah tua yang memujinya itu adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang amat tersohor sebagai juara ilmu pedang!

“Kwee Hui Kauw, menyaksikan kepandaianmu, kami mengangkatmu sebagai pembantu komandan pengawal istana. The Sun yang akan membagi tugas kepadamu. He, The Sun kau perkenalkan Nona perkasa ini kepada para enghiong yang hadir!” Dengan sikap gembira sekali kaisar itu lalu melanjutkan makan minum dan suasana pesta makin gembira.

Hui Kauw hanya dapat menghaturkan terima kasih sambil berlutut, kemudian ia mengiringkan The Sun yang mengajaknya untuk berkenalan dengan beberapa orang tokoh yang duduk di bagian tamu kehormatan. Pertama-tama ia diperkenalkan dengan orang setengah tua yang tadi memujinya, yaitu Sin-kiam-eng Tan Beng Kui! Tokoh pedang ini memandangnya dengan tajam penuh selidik, kemudian mengangguk dan berkata,

“Nona Kwee, sebagai puteri angkat Giam Kin, aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan ilmu pedang yang hebat tadi. Lain waktu bila ada kesempatan aku ingin sekali mengajak kau bercakap-cakap tentang ilmu pedangmu itu.”

Suara itu terdengar manis memuji, akan tetapi mengandung sesuatu yang mendebarkan jantung Hui Kauw, karena jelas terasa olehnya bahwa tokoh pedang ini nampak tidak puas. Ia tidak dapat memperhatikan tokoh pedang ini lebih lanjut karena The Sun sudah memperkenalkan dia kepada tokoh-tokoh lain yang banyak terdapat di bagian itu. Orang ke dua yang diperkenalkan oleh The Sun kepadanya adalah seorang kakek yang berpakaian seperti tosu tua, bertubuh pendek gemuk akan tetapi mempunyai sepasang lengan yang panjang sekali, usianya sudah lebih dari lima puluh tahun namun mukanya halus seperti muka kanak-kanak. Tosu ini adalah seorang undangan dan dia bukanlah orang sembarangan karena dia ini bukan lain adalah paman guru The Sun sendiri! Tosu pendek ini adalah seorang pertapa Go bi, adik seperguruan Hek Lojin yang terkenal dengan sebutan Kui-kong atau Malaikat Guntur! Adapun julukan atau nama pendetanya adalah Thian Te Cu. Menilik sebutan dan julukan ini, Lui-kong Thian Te Cu, sudah membuktikan bahwa betapa tokoh ini mempunyai watak jumawa. Akan tetapi kejumawaannya tidaklah kosong belaka karena dia memang memiliki kepandaian yang amat luar biasa dan dia bahkan pernah membikin ribut di Go-bi-pai, yaitu partai persilatan Go-bi-san yang amat tersohor. Berbeda dengan watak suhengnya, Hek Lojin, yang lebih suka menyembunyikan diri di puncak gunung, tosu pendek ini menerima undangan The Sun dengan gembira karena sesungguhnya dia masih suka bersenang-senang menikmati kemuliaan duniawi.

“Heh-heh, Nona Kwee masih amat muda hebat ilmunya,” kata Lui-kong Thian Te Cu sambil memandang dengan matanya yang sipit dan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang panjang. “Muka yang cantik jelita disembunyikan di balik kehitaman yang disengaja. Heh-heh, Giam Kin si iblis cilik benar-benar luar biasa, sudah mati meninggalkan keturunan begini hebat!”

Bukan main mengkalnya hati Hui Kauw mendengar ini dan diam-diam ia pun terkejut karena kakek pendek itu benar-benar awas pandang matanya sehingga secara menyindir sudah membuka rahasia mukanya yang hitam, agaknya dapat menduga bahwa mukanya menjadi hitam karena racun. Lebih-lebih kagetnya ketika suara ketawa terkekeh yang terakhir dari kakek itu membuat ia hampir roboh karena badannya serasa tertekan hebat membuat kedua kakinya seperti lemah tak bertenaga. Cepat-cepat nona ini mengerahkah hawa murni di dalam tubuh melindungi jantung karena ia maklum bahwa dengan suara ketawa itu, si kakek aneh telah menyerangnya atau menguji tenaga dalamnya. Itulah semacam ilmu khikang yang hebat sekali, yang dapat mempergunakan suara ketawa untuk menyerang seseorang yang dikehendaki tanpa mempengaruhi orang lain di sekelilingnya. Hanya seorang yang Iweekangnya sudah tinggi sekali dapat melakukan hal ini! Cepat ia menjura kepada kakek itu dan mengucapkan kata-kata merendah,

“Saya yang muda dan bodoh mana berani menerima pujian Locianpwe?”

Orang ke tiga yang diperkenalkan oleh The Sun adalah seorang yang tidak kalah aneh dan menariknya. Dia ini seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar, berjubah sederhana dengan dada setengah terbuka sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat. Usianya tentu tidak kurang dari lima puluh tahun, kepalanya gundul kelimis dan besar sekali sesuai dengan tubuhnya, matanya lebar bundar tapi jarang dibuka karena seringkali meram, alisnya tebal berbentuk golok. Wajah hwesio ini tampak angker dan berwibawa, tidak mencerminkan sifat welas asih melainkan mendatangkan rasa segan dan hormat karena jelas dari pribadinya bersinar sifat keras dan kuat yang sukar ditundukkan. Berbeda dengan para tamu lain, hwesio ini menghadapi meja kecil di mana terdapat hidangan dari sayur-sayuran tanpa daging, tanda bahwa dia seorang yang ciak-jai (pantang daging) akan tetapi suka minum arak, terbukti dari guci besar arak yang disediakan untuknya.

“Nona Kwee, losuhu ini adalah Bhok Hwesio, tokoh besar dari Siauw-lim, seorang patriot sejati yang siap mengorbankan tenaga dan jiwa untuk mempertahankan negara. Pernahkan kau mendengar tentang Heng-san Ngo-lo-mo (Lima Iblis Tua dari Heng-san)? Nah, begitu Bhok losuhu ini menginjakkan kaki ke Heng-san dan turun tangan, lima iblis tua terbasmi habis, sarangnya dibakar dan semua dilakukan oleh Bhok tosuhu seorang diri saja!”

Hui Kauw terkejut. Pernah ia mendengar ketika masih berada di Ching-coa-to tentang Heng-san Ngo-lo-mo ini, yang terkenal kejam dan amat tinggi kepandaiannya, apalagi kalau maju berlima. Ibu angkatnya sendiri pernah menyatakan rasa jerihnya kalau harus menghadapi lima orang iblis tua itu dan sekarang hwesio tua ini seorang diri saja mampu membasminya!

“Omitohud, kaum pemberontak dan pengacau negara kalau tidak dibasmi, tentu membikin sengsara rakyat,” komentar hwesio itu tanpa membuka matanya, akan tetapi senyum yang membayang di bibirnya yang tebal itu menjadi tanda bahwa dia merasa senang akan pujian The Sun. “Syukur Nona Kwee sudah terlepas dari ayah angkat macam Giam Kin yang jahat, seterusnya harap meneladani ayah sendiri yang mengabdi kepada negara.” Hwesio itu selanjutnya menutup mata dan mulut tidak perduli lagi kepada Hui Kauw.

Masih banyak tokoh-tokoh diperkenalkan oleh The Sun kepada Hui Kauw, akan tetapi selain dua orang yang sudah disebutnya tadi, hanya ada dua orang lagi yang menarik perhatian Hui Kauw, yaitu seorang laki-laki tinggi kurus berambut keriting berkulit hitam yang diperkenalkan sebagai Bhewakala, seorang pendeta Hindu yang tadinya adalah seorang pertapa di puncak Anapurna di Himalaya. Dia seorang bangsa Nepal yang berilmu tinggi dan dalam perantauannya di timur akhirnya dia bertemu dengan The Sun dan dapat dibujuk membantu kaisar baru dalam menghadapi musuh-musuhnya. Seorang lagi tokoh wanita yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, seorang ahli pedang dari Kun-lun-pai. Sebetulnya tokoh wanita ini adalah seorang pelarian dari Kun-lun-pai beberapa tahun yang lalu karena sebagai anak murid Kun-lun ia telah melakukan pelanggaran susila dan ketika ditegur oleh ketua Kun-lun-pai pada waktu itu, ialah Pek Gan Siansu, ia melawan dan akhirnya ia dikalahkan dan diusir oleh Pek Gan Siansu. Semenjak itu, ia melakukan perantauan dan tidak berani kembali ke Kun-lun-pai, akan tetapi dalam perantauannya ini ia malah mendapat penambahan ilmu kepandaian yang hebat sehingga kini ia merupakan tokoh yang lihai sekali. Wanita ini bernama Gui Hwa dan berjuluk It-to-kiam (Setangkai Pedang).

“Demikianlah, Kun Hong,” kata Hui Kauw mengakhiri penuturannya kepada Kun Hong. “Selanjutnya aku tinggal bersama orang tuaku. Karena tidak berani menolak perintah kaisar, aku terpaksa membantu The Sun, akan tetapi bukan membantu di dalam istana, hanya aku berjanji kepada The Sun akan membantu setiap kali tenagaku dibutuhkan. Dia amat baik kepadaku dan memang keadaan di kota raja amat kuat, banyak terdapat tokoh-tokoh pandai. Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa ada seorang buta dikeroyok, hatiku kaget bukan main. Cepat-cepat aku keluar dan menuju ke tempat pertempuran untuk mencegah mereka yang mengeroyokmu, akan tetapi, ternyata kau telah dapat melarikan diri dan aku tak berdaya melihat penyembelihan yang dilakukan para pengawal terhadap orang-orang Hwa I Kaipang. Aku menyusul dan mencarimu dengan diam-diam dan aku melihat jejak The Sun di rumah ini…….” Hui Kauw memandang kepada mayat janda Yo yang tak bergerak sambil menarik napas panjang. “Karena salah sangka setelah melihat The Sun dilayani janda ini aku menjadi marah, menghinanya dan merampasmu, Ah, aku menyesal sekali, Kun Hong.”

Selama Hui Kauw berceritera, Kun Hong hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Terutama sekali penuturan Hui Kauw tentang orang-orang kosen di kota raja amat menarik hatinya. Agaknya hwesio yang sanggup menghadapi jurusnya “Sakit Hati” tentulah Bhok Hwesio jago tua Siauw-lim itu. Wah, berat kalau begini. Dia merasa bersyukur bahwa mahkota kuno itu tidak terampas oleh mereka. Teringat akan ini, Kun Hong berkata heran. “Ah, kenapa A Wan begini lama belum kembali?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: