Pendekar Buta ~ Jilid 25

Karena tadi Hui Kauw asyik berceritera, nona ini pun seperti lupa kepada A Wan. Sekarang ia pun merasa heran dan curiga. “Biar aku mencarinya di belakang rumah.” Ia bangkit berdiri dan melompat ke luar dari pondok itu melalui pintu belakang.

Baru beberapa menit seperginya Hui Kauw, tiba-tiba Kun Hong memiringkan kepalanya. Dia mendengar suara banyak, kaki dengan gerakan ringan sekali di sekeliling rumah! Otomatis tangan kanannya menggenggam tongkatnya erat-erat dan seluruh tubuhnya tegang dalam persiapan. Luka-lukanya biarpun masih terasa sakit, namun sudah tidak berbahaya lagi, punggungnya masih kaku. Dia masih tetap duduk bersila di atas tikar dengan sikap tenang tapi dengan hati tegang.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya, ketawa The Sun! “Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong, kiranya benar kau yang secara pengecut bersembunyi di balik selimut janda muda, pura-pura menjadi seorang kakek. Ha-ha-ha!”

Berbareng dehgan ucapan itu, tubuh The Sun melayang masuk ke dalam pondok, tertawa-tawa lagi. “Perempuan keparat, berani kau menipuku, ya?”

Kun Hong mendengarkan penuh perhatian, namun dia sudah bersiap sedia membela diri. Terdengar The Sun hampiri jenazah janda Yo, kemudian pemuda itu menahan pekik. “……. ahhh..”

Kun Hong tersenyum mengejek. “The Sun manusia keparat, kau lihat baik-baik wanita tak berdosa yang menjadi korbanmu!” Sehabis mengeluarkan ejekan ini, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah The Sun dan tongkatnya sudah mengirim tusukan maut. The Sun kaget dan cepat membanting diri ke kanan sehingga dinding pondok yang tidak kuat itu menjadi jebol, terus tubuhnya menggelinding ke luar.

Kun Hong mengejar terus, juga melalui dinding yang jebol itu. Setibanya di luar pondok, Pendekar Buta ini berhenti karena dia tidak dapat mengenali lagi di mana adanya The Sun. Di depan pondok itu ternyata telah menanti banyak orang yang kini menghadapinya setengah mengurung.

“Omitohud……. sayang pemuda berilmu tinggi menjadi pemberontak.” Suara ini mengejutkan hati Kun Hong karena dia mengenalnya sebagai suara hwesio kosen yang pernah memukul punggungnya. Tentu inilah yang oleh Hui Kauw diceriterakan sebagai Bhok Hwesio, pikirnya. Entah ada berapa orang tokoh lihai lagi di samping hwesio ini dan The Sun. Namun dia tidak takut, hanya dia amat khawatir kalau-kalau mahkota kuno yang tadi sedang diambil oleh A Wan itu terampas musuh.

Kun Hong tidak dapat melihat bahwa selain Bhok Hwesio dan The Sun, di situ terdapat banyak pengawal dan masih ada lagi seorang kosen, yaitu si pertapa dari Nepal bernama Bhewakala yang berdiri tegak sambil memandang dengan sepasang matanya yang mengandung pengaruh sihir! Mendengar pujian Bhok Hwesio kepada pemuda buta ini, Bhewakala menaruh perhatian besar karena dia sudah cukup maklum akan kesaktian Bhok Hwesio.

“Mata buta tidak mengapa, kalau hati yang buta benar-benar amat sayang sekali,” katanya dengan suaranya yang besar dan bahasanya yang kaku. Mendengar suara ini, Kun Hong dapat menduga siapa tokoh ke dua ini karena dia sudah pula mendengar nama orang itu dari penuturan Hui Kauw.

“Bhok Hwesio dan pendeta Bhewakala adalah tokoh-tokoh tua yang memiliki ilmu tinggi, sudah tahu aku seorang muda yang buta mengapa masih memusuhiku tanpa sebab? Apa perbuatan ini tidak merendahkan derajat dan mencemarkan nama besar ji-wi (kalian)?” katanya dengan suara keras.

Bhok Hwesio melengak, lebih-lebih Bhewakala yang seketika menjadi pucat mukanya. Pendeta Nepal ini datang dari Himalaya di mana kepercayaan akan keajaiban dan tahyul masih amat tebal. Sekarang mendengar seorang buta mengenal namanya begitu saja, tentu dia menjadi heran dan takut-takut. Siapa tahu pemuda ini adalah sebangsa “dewa” yang menjelma menjadi manusia sehingga biarpun matanya buta akan tetapi tahu akan segala kejadian di dunia ini? Hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut untuk minta maaf kalau saja The Sun tidak membentak marah.

“Kwa Kun Hong! Jangan coba-coba kau mempengaruhi dua orang Locianpwe yang terhormat dengan ucapanmu yang beracun! Kau ternyata diakui sebagai ketua oleh pemberontak-pemberontak Hwa I Kaipang, jelas bahwa kau adalah seorang pemberontak. Lebih baik kau menyerah dan kami berjanji akan mintakan ampun kepada kaisar, asal kau suka berjanji untuk bekerja sama membela negara daripada rongrongan musuh. Melawan pun tiada gunanya, kau sudah terluka dan apa artinya kepandaianmu menghadapi kesaktian Bhok Lo-suhu dan Bhewakala?”

“The Sun, kau maklum dalam hatimu bahwa kalau mau bicara tentang ucapan beracun dan perangai binatang, maka kaulah orangnya. Selama hidupku aku tak pernah memusuhimu, mengapa kau mendesakku dan malah kau menjadi sebab kematian seorang janda tak berdosa?”

“Tak usah banyak cakap, lebih baik surat rahasia yang kau terima dari Tan Hok kau serahkan kepadaku, kalau tidak jangan harap dapat meninggalkan kota raja dalam keadaan hidup!” The Sun membentak.

“Manusia rendah, sudah kukatakan bahwa aku tidak membawa surat apa-apa. Terserah kepadamu.”

“Saudara The, biarlah aku mencoba menangkap tuna netra yang amat bandel ini!” kata Bhewakala yang amat tertarik mendengar percakapan itu dan ingin sekali dia menguji kepandaian si buta ini yang tadi sudah dipuji-puji oleh Bhok Hwesio.

Bhok Hwesio tertawa. “Saudara Bhewakala, berhati-hatilah kau, dia benar-benar lihai sekali.” Pendeta Nepal itu tersenyum. Dia adalah seorang pertapa Himalaya yang berilmu tinggi, dalam hal kepandaian dan kesaktian, dibandingkan dengan Bhok Hwesio kiranya hanya kalah setingkat, masa dia harus merasa jerih menghadapi seorang muda lagi buta seperti Kun Hong ini?

“Orang muda, menyerahlah, atau kalau tidak, bersiaplah kau kutangkap dan kujadikan tawananku!” katanya dan tiba-tiba tubuhnya sudah bergerak secara aneh, kedua kakinya diangkat ujungnya sehingga tubuhnya doyong ke belakang seperti orang akan terjengkang. Benar-benar gerakan ini merupakan kuda-kuda yang amat aneh dan lucu, apalagi karena kedua lengannya diulur ke depan seperti seorang bapak hendak memondong anaknya, atau lebih mirip seorang yang akan jatuh ke belakang sedang minta tolong.

Kun Hong tak dapat melihat gerakan ini namun dia dapat mendengarkan dan maklum bahwa orang yang akan menangkapnya ini memiliki kepandaian luar biasa dan berbeda dengan orang-orang lain, maka dia pun tidak mau memandang rendah, tubuhnya sudah bergerak pula dengan perlahan, memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati. Kali ini dia tidak mau memusingkan lagi tentang kesabaran, karena maklum bahwa dia telah terkurung dan berada dalam keadaan hidup atau mati. Apalagi kalau teringat akan janda Yo, hatinya sakit sekali dan mau rasanya dia sekali pukul membunuh The Sun, sedangkan semua orang yang membantu The Sun tentu saja akan dilawannya mati-matian.

Ketika Bhewakala melihat Pendekar Buta itu memasang kuda-kuda dan tidak menjawab permintaannya supaya menyerah, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan panjang dalam bahasa asing, sepasang matanya menjadi lebar dan bercahaya seakan-akan mengeluarkan sinar kilat, lalu tubuh yang doyong ke belakang itu tiba-tiba bergerak maju dengan kedua tangan mencengkeram ke arah pundak dan dada Kun Hong. Serangan ini hebat bukan main, terbukti dari hawa pukulan yang menggetarkan dada Kun Hong, jauh sebelum kedua tangan orang Nepal itu datang dekat. Juga bentakan Bhewakala itu mendatangkan perasaan aneh di kepalanya, terdapat dorongan yang hendak memaksa dia menjadi lumpuh, Kun Hong terkejut dan teringatlah dia akan ilmu “merampas semangat” yang pernah dia pelajari dari paman gurunya, Sin-eng-cu Lui Bok. Dahulu sebelum dia buta, dia dapat mempergunakan ilmu ini untuk mengalahkan lawan, yaitu dengan kekuatan batin dan Iweekang yang disalurkan melalui pandangan matanya. Sekarang setelah buta, tentu saja dia tidak dapat melakukan ilmu itu. Teringat ini, dia menduga bahwa lawannya yang aneh ini agaknya mempergunakan ilmu itu pula. Dia bersyukur bahwa kebutaan matanya membuat dia kebal terhadap penyerangan ilmu ini, karena ilmu ini menundukkan lawan melalui pandangan mata pula. Dengan pengerahan tenaga batinnya, Kun Hong menghadapi serangan ini dengan jurus Sakit Hati, tongkatnya berkelebat kemerahan dari kanan atas sedangkan tangan kirinya menyambar dengan jari-jari terbuka dari kiri bawah.

“Siuuuuuttttt!” Inilah jurus Sakit Hati yang hebatnya bukan kepalang, sejurus ilmu pukulan gabungan dari Ilmu Silat Im-yang-sin-hoat dan Kim-tiauw-kun-hoat, gabungan aneh dari dua macam serangan yang memiliki dua tenaga gaib pula, yaitu Yang-kang dan Im-kang.

Bhewakala menjerit ngeri menyaksikan betapa serangannya dihadapi oleh Si Pendekar Buta dengan serangan pula yang luar biasa anehnya sehingga bulu tengkuknya berdiri semua karena kedua tangannya tanpa sebab telah terpental oleh semacam hawa yang tidak kelihatan, yang keluar dari gerakan Pendekar Buta itu. Tubuhnya yang tinggi kurus secepat kilat ditekuk ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat yang memiliki hawa panas seperti baja membara ini, sedangkan kedua tangannya cepat dia gerakkan untuk menangkis sambil mencengkeram pukulan tangan kiri lawan yang menyambar dari bawah.

“Weeeeerrrrr…… desssss!! Auuuuuhh…….!” Seperti sebuah layangan putus talinya, tubuh Bhewakala melayang, terlempar sampai lima meter lebih, sebagian rambut kepalanya hangus terlanggar tongkat sedangkan kedua tangannya bertemu dengan tangan kiri Kun Hong tadi, membuat tubuhnya terpental jauh. Dia roboh terguling, tetapi cepat bangun lagi dengan kedua mata terbelalak keheran-heranan, mukanya merah padam. Dia berusaha mempertahankan diri tetapi tidak kuat karena tiba-tiba dia muntahkan segumpal darah merah dari mulutnya. Dalam segebrakan tadi dia telah terluka!

Melihat Pendekar Buta itu masih memasang kuda-kuda Sakit Hati, tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan berjungkit, kaki kiri di belakang dan ditekuk lututnya, tangan kanan memegang tongkat diangkat ke atas melintang, tangan kiri terbuka seperti cakar dan tergantung ke bawah, tokoh Nepal ini menjadi penasaran dan malu sekali. Selama dua bulan dia berada di kota raja sebagai seorang tokoh undangan. Belum pernah dia melakukan sesuatu jasa sungguhpun dia telah mendemonstrasikan kepandaiannya kepada para pengawal. Sekarang, sekali turun tangan, menghadapi seorang pengacau muda lagi buta saja, dalam segebrakan dia sudah muntah darah! Dengan dada panas penuh hawa amarah, Bhewakala merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang ujungnya kecil dan panjang sekali. Cambuk ini tadinya digulung kecil dan dimasukkan saku, sekarang setelah berada di tangannya berubah menjadi cambuk panjang sekali, tidak kurang dari tiga meter panjangnya! Dia merasa penasaran dan hendak membalas kekalahannya. Sambil mengeluarkan bentakan aneh, dia sudah memutar cambuknya di atas kepala, makin lama makin cepat dan terdengarlah suara seperti suling ditiup orang. Aneh, makin cepat saja dia memutar cambuk, maka suara seperti suling itu menjadi makin keras seperti suara sirene!

Kun Hong masih memasang kuda-kuda tanpa bergerak, seluruh inderanya tegang dan dia siap menanti setiap serangan dengan jurus mautnya itu. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut ketika ada hawa serangan ujung cambuk yang mengeluarkan suara mengaung aneh itu. Maklum bahwa tiada gunanya menangkis serangan senjata lemas seperti ini, dia menggerakkan kedua kakinya dan dengan mudah saja mengelak. Namun ujung cambuk tetap mengejarnya dengan kecepatan kilat, seakan-akan cambuk itu bermata pada ujungnya, dapat mengejar ke mana jua pun dia bergerak. Hebat ilmu cambuk dari orang Nepal ini, aneh dan berbahaya.

Baiknya Kun Hong memiliki ilmu langkah ajaib yang dinamai Hui-thian-jip-te, kalau tidak, tentu dia akan celaka menghadapi penyerangan ilmu cambuk aneh itu. Untuk membalas dengan serangan lagi, sukar, karena lawannya yang memegang cambuk berada dalam jarak tiga meter sedangkan ujung senjata itu terus mengancamnya. Terpaksa dia mempergunakan langkah ajaib dan berkali-kali orang Nepal itu mengeluarkan seruan heran dan bingung karena melihat betapa orang yang diserangnya itu enak-enakan saja berloncatan, kadang-kadang terhuyung-huyung dan jongkok berdiri, namun semua penyerangannya tidak pernah menyentuh kulit lawan! Saking bingung dan herannya, dia marah-marah dan mengira bahwa Pendekar Buta itu memang sengaja mengejek dan mempermainkannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sikap Kun Hong itu sama sekali bukan mengejek, melainkan mati-matian menyelamatkan diri dari kurungan ujung cambuk, karena memang langkah ajaib itu kelihatan aneh dan lucu.

Kemarahan membuat Bhewakala tidak hati-hati lagi. Dia tidak tahu bahwa dalam melakukan langkah ajaib menghindarkan ujung cambuk, Kun Hong dengan cara memutar makin mendekatinya dan begitu ada kesempatan, pemuda buta ini cepat membalas serangan lawan dengan jurus Sakit Hatinya.

“Haaaaaiiiii!!!!!” Dengan amat hebat Kun Hong sudah menerjang lawannya dengan jurus mautnya itu.

Bhewakala kaget sekali akan tetapi dia sudah siap. Cambuknya tiba-tiba melingkar pendek dan memapaki tongkat lawan, sedangkan tangan kirinya sengaja dia kerahkan dengan tenaga penuh untuk memapaki tangan Si Pendekar Buta.

“Saudara Bhewakala, jangan…….!” terdengar Bhok Hwesio berseru kaget. Namun terlambat.

“Deeeeesssss! Blukkkkk!” Cambuk itu putus berhamburan bertemu tongkat dan tubuh Bhewakala untuk ke dua kalinya melayang ke belakang, lalu roboh dan kali ini sampai lama dia tidak dapat bangkit, dari mulutnya mengalir darah segar dan napasnya terengah-engah. Bhok Hwesio menghampirinya.

“Omitohud……….” seru hwesio Siauw-lim yang kosen ini sambil mengurut dada orang Nepal itu beberapa kali. Diam-diam dia merasa kagum juga kepada Bhewakala karena beberapa menit kemudian tokoh Nepal ini sudah dapat bangun dan duduk bersila untuk memulihkan tenaganya. Agaknya dia tidak terluka terlalu hebat sehingga tidak membahayakan keselamatan nyawanya.

“Uuuuhhh-uuuhhh……. aku tidak dapat mempengaruhinya dengan pandangan mataku……. uh-uh-uh, dia hebat……. Bhok losuhu…….” katanya dengan suara bernada kecewa. Memang hatinya kecewa sekali karena dia harus menderita kekalahan. Andaikata lawannya itu, biarpun memiliki ilmu silat luar biasa tingginya, tidak buta seperti sekarang, belum tentu dia akan kalah seperti sekarang ini. Dengan pandang matanya dia dapat mengerahkan kekuatan batin, dapat mempergunakan ilmu sihirnya untuk membuat lawannya bertekuk lutut tanpa mengulurkan tangan. Akan tetapi, apa daya, justeru lawannya tidak mempunyai mata sehingga kekuatan batinnya tidak mendapatkan “pintu” untuk memasuki tubuh lawan.

Di lain pihak, diam-diam Kun Hong mengeluh. Dia telah menderita luka dalam akibat pukulan Bhok Hwesio di punggungnya, sedangkan luka di pangkal pahanya biarpun tidak berbahaya lagi, namun belum sembuh dan masih terasa nyeri dan perih, juga sebagian tenaganya sudah banyak dipergunakan untuk mengusir racun dan untuk menambah daya tahan terhadap luka-luka itu, sekarang dia harus menghadapi lawan tangguh. Tadi, dalam dua kali bertemu tenaga dengan Bhewakala, sungguhpun dia berada di fihak unggul berkat sinkang di tubuhnya dan jurus luar biasa itu, namun tenaga yang dia pergunakan amatlah merugikan dirinya sendiri. Luka dalam di punggungnya menjadi makin nyeri sampai menyesakkan dada, luka di pangkal paha mengucurkan darah baru karena dorongan dari dalam ketika dia mengerahkan tenaga.

Namun pemuda perkasa ini tidak menyatakan sesuatu, tetap memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati menghadapi segala kemungkinan, tidak bergerak seperti patung. Dia harus mempertahankan nyawanya dan untuk ini, mau tidak mau dia harus berani merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya! Setelah banyak mengalami hal-hal penasaran di dunia kang-ouw, mulai terbukalah pengertian Kun Hong mengapa tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa dan dia kagumi itu sering kali melakukan pembunuhan. Kiranya di dunia ini memang terdapat banyak orang-orang yang sudah sepatutnya dibunuh karena hidupnya hanya mengotorkan dunia dan menjadi sumber segala kejahatan! Sekarang dia tidak rela menyediakan nyawanya untuk dibunuh orang lain, karena hidupnya masih memiliki banyak tugas penting sekali. Pertama, mencari musuh-musuh Thai-san-pai dan membantu paman Beng San membalas sakit hati. Ke dua, membantu mencari adik Cui Sian yang hilang diculik orang. Ke tiga, melanjutkan tugas paman Tan Hok untuk menyampaikan surat rahasia itu kepada yang berhak, yaitu Raja Muda Yung Lo di utara. Ke empat, mendidik A Wan sebagai muridnya agar dia dapat membalas budi mendiang Yo-twaso. Ke lima……. Hui Kauw!
Ya, karena adanya Hui Kauw maka dia tidak mau mati dan harus mempertahankan hidupnya. Biarpun pikirannya melayang-layang seperti itu, namun Kun Hong tidak sedikit pun mengurangi kesiap siagaannya menghadapi para lawan yang sudah mengurungnya.

“Omitohud……….. orang muda buta benar-benar lihai sekali. Pinceng kagum………. sayang kalau harus membunuhnya. The-kongcu dan Tan-sicu, mari bersama-sama pinceng menangkapnya hidup-hidup!”

Mendengar kata-kata ini, Kun Hong mengerutkan keningnya. Hemmm, kiranya Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sudah berada di situ pula. Inilah berbahaya, pikirnya. Tertawan oleh orang-orang ini sama dengan mati. Kalau dia sudah tertawan, bagaimana mungkin melepaskan diri? Dahulu ketika dia belum buta, pernah pula dia ditawan di kota raja, akan tetapi dengan ilmu sihirnya dia dapat melarikan diri (baca Rajawali Emas). Sekarang, sekali dia tertawan, apa bedanya dengan mati? Tidak, dia tidak mau ditawan!

Begitu mendengar deru angin dari tiga jurusan, Kun Hong cepat menggunakan langkah-langkah ajaibnya Untuk menyelamatkan diri, sedangkan kedua tangannya sudah siap selalu mencari kesempatan membalas. Sayang baginya, jurus Sakit Hati itu hanya sejurus saja, dan pula, hanya amat ampuh kalau dipergunakan untuk menghadapi seorang lawan yang menyerang menjadi serangan balasan yang tak terhindarkan. Sekarang, menghadapi serangan tiga orang yang demikian tinggi ilmu silatnya, Dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mempergunakan jurusnya ini. Pedang di tangan Sin-kiam-eng seperti seekor garuda saja menyambar-nyambar dari tempat yang tidak terduga-duga. Bukan main hebatnya Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini sehingga dalam menghadapinya, timbul keinginan aneh di hati Kun Hong untuk dapat mempergunakan mata melihat permainan pedang ini! Tongkatnya sudah repot dipergunakan menangkis serangan Sin-kiam-eng, sehingga tinggal sedikit kesempatan untuk menangkis pedang The Sun yang juga amat ganas menyambar-nyambar. Berkali-kali dia berusaha memukul runtuh pedang The Sun yang dia tahu mengandung racun berbahaya, lebih-lebih dari keinginan dan nafsu hatinya untuk mendapat kesempatan menerjang The Sun dan merenggut nyawa pemuda halus ini untuk membalas sakit hati janda Yo. Akan tetapi selagi menghadapi dua pedang ini saja dia sudah repot, ditambah lagi sambaran-sambaran aneh dan kuat bukan main dari kedua tangan Bhok Hwesio yang berusaha menangkapnya, mana mungkin dia melakukan serangan balasan?

Kalau sekarang Kun Hong kewalahan menghadapi lawan-lawannya, hal ini bukanlah terlalu aneh. Pertama, dia telah terluka hebat sehingga tenaganya hanya tinggal tiga per empat bagian. Ke dua, tiga orang lawannya yang tergolong jagoan-jagoan kelas satu ini mengeroyoknya. Ke tiga, hatinya sudah gelisah sekali karena sampai saat itu dia tidak tahu ke mana perginya A Wan dan Hui Kauw, dan apa jadinya dengan mahkota yang menyimpan surat rahasia penting itu.

Pada saat itu pedang The Sun menyambar ke arah kakinya dengan babatan cepat sekali. Kun Hong melompat ke atas dan cepat sekali menggunakan tongkatnya untuk menindih pedang ini, dengan maksud mempergunakan kesempatan ini dia memukul The Sun dengan tangan kiri. Akan tetapi pada saat itu pedang Sin-kiam-eng sudah menusuknya, menusuk ke arah leher. Cepat dia miringkan tubuh dari tangan kirinya sudah siap melanjutkan pukulan kepada The Sun yang masih berkutetan hendak menariknya tapi tidak sanggup itu.

“Robohlah…….” tiba-tiba terdengar bentakan Bhok Hwesio yang mendorong dari samping. Hebat tenaga dorongan hwesio ini, seperti angin puyuh saja datangnya. Kun Hong terkejut, terpaksa membatalkan pukulannya pada The Sun, sebaliknya dia lalu menggunakan tangan kirinya itu mendorong ke arah Bhok Hwesio.

“Deeeeesssss!!!!!” Tangan kiri Kun Hong bertemu dengan tangan Bhok Hwesio, dari kedua lengan ini mengalir hawa dorongan yang luar biasa saktinya. Bhok Hwesio berteriak perlahan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, sedangkan Kun Hong merasa dadanya sesak dan dia pun terpaksa melompat ke belakang dan berusaha memulihkan napasnya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika merasa betapa punggungnya yang masih luka itu makin nyeri, membuat dia sukar bernapas Kun Hong gugup, bingung, kecewa dan marah bukan main. Haruskah dia mati dalam keadaan begini? Haruskah dia mati sebelum menunaikan tugasnya? Terlintas pikiran aneh pula. Haruskah dia mati sebelum menyampaikan cinta kasihnya kepada Hui Kauw? Tidak! Sekali-kali tidak boleh! Dan terdengarlah pekik melengking tinggi keluar dari kerongkongannya, pekik yang mengerikan dan mendirikan bulu roma, dibarengi dengan melesatnya tubuhnya dengan jurus Sakit Hati. Hampir saja Sin-kiam-eng Tan Beng Kui menjadi korban karena jago tua ini yang berada di tempat terdekat. Kun Hong tidak perduli siapa lagi yang berada di dekatnya, tentu terus saja diterjang dengan jurus Sakit Hati sambil mengeluarkan pekik melengking tinggi itu. Tan Beng Kui terkejut dan cepat melompat jauh menghindarkan diri, juga The Sun kaget bukan main sampai mukanya menjadi pucat dan dia pun menjauhkan diri. Hanya Bhok Hwesio yang tetap berdiri di tempatnya, memandang dengan penuh kekaguman.

“Dia sudah seperti harimau terluka, tinggal merobohkan saja!” kata hwesio itu membesarkan hati The Sun dan Tan Beng Kui mendesak maju lagi, menggerakan pedang. Keadaan Kun Hong benar-benar terancam hebat, kalau tidak akan roboh tewas, sedikitnya tentu dia akan tertawan seperti yang dia khawatirkan.

Mendadak terdengar lengking panjang dari atas, lengking yang hampir sama dengan pekik yang keluar dan mulut Kun Hong, akan tetapi lebih panjang dan nyaring. Mendengar ini, Kun Hong terkejut dan mukanya berubah berseri-seri, lalu dia memekik lagi sambil mengamuk terus, menggerakkan tongkatnya dengan sehingga tubuhnya tertutup sinar pedang kemerahan. Untuk menjaga dirinya dari desakan tiga orang lawannya yang amat tangguh, tiadai lain ilmu kecuali ilmu Pedang Im-yang-sin-kiam yang dapat melindungi tubuhnya.

Lengking panjang itu makin keras dan tiba-tiba terdengar kelepak sayap di udara. Bhok Hwesio berseru kagum, “Omitohud………. apalagi ini……?

Kiranya yang datang ini adalah seekor burung rajawali yang besar sekali. Indah dan gagah burung itu. Seekor burung rajawali yang jarang kelihatan oleh manusia, bulunya kuning bersih, paruh dan kuku kakinya seperti emas, matanya merah menyala. Inilah kim-tiauw si rajawali emas yang datang karena tertarik oleh pekik melengking dari mulut Kun Hong tadi. Agaknya burung ini mengenal pekik sahabatnya dan begitu tiba di situ melihat Kun Hong dikeroyok, dia segera mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya yang keemasan itu menyambar turun dengan kekuatan ribuan kati!

“Awas……….!” Bhok Hwesio memperingatkan kedua orang temannya, juga para pengawal yang mengurung tempat itu. Namun tetap saja empat orang pengawal roboh terguling terkena sambaran sayap yang memukul ke depan, dan paruh yang kuat itu menerjang Tan Beng Kui. Pendekar pedang yang berilmu tinggi ini cepat mengelak sambii membacokkan pedangnya pada leher burung. Akan tetapi siapa kira, burung itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggunakan cakarnya untuk menyambar pedang yang membacoknya! Andaikata bukan Tan Beng Kui yang menyerangnya, pasti pedang itu akan terampas oleh kim-tiauw. Akan tetapi Sin-kiam-eng Tan Beng Kui cepat menarik pedangnya, malah melompat mundur tiga langkah untuk menghindarkan diri dari serangan cakar ke dua yang menerjangnya.

“Kim-tiauw-ko (kakak rajawali emas)!” seru Kun Hong girang ketika mendengar sepak terjang burung itu. Burung itu bukan lain adalah burung kesayangannya, sahabat yang telah berpisah darinya lama sekali (baca Rajawali Emas). Kegirangan mendatangkan tenaga berlipat ganda sehingga dengan bentakan hebat dia berhasil memukul pedang The Sun terlepas dari tangan pemuda itu.

“Serbu!?” terdengar The Sun memberi aba-aba kepada para pengawal, akan tetapi burung rajawali itu telah menyambar ke depan dan di lain detik Kun Hong sudah melompat ke atas punggungnya, merangkul lehernya dan membiarkan dirinya dibawa terbang meninggi. Puluhan batang anak panah diiringi caci maki melayang mengejar burung itu, namun tak sebuah pun mengenainya. Yang menyambar dekat dengan mudah diruntuhkan dengan gerakan cakar kaki yang menangkis! Benar-benar seekor burung yang amat tangguh dan kosen.

“Kim-tiauw ajaib……….. omitohud…….!” Bhok Hwesio memuji dan saking kagum dan herannya, kakek sakti ini tadi sampai terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini menguntungkan Kun Hong dan rajawali emas, karena kalau kakek ini tidak terpaku dan menjadi pikun lalu tadi turun tangan, agaknya tidak semudah itu kim-tiauw dapat menolong dan melarikan Kun Hong dari tempat yang berbahaya itu.

Kun Hong hampir pingsan saking lelahnya ketika dia duduk di atas punggung rajawali sambil memeluk lehernya. Dengan terharu dia berbisik, “Tiauw-ko……. ah, kau baik sekali, terima kasih, tiauw-ko…….”

Burung itu mengeluarkan bunyi perlahan seakan-akan dapat menerima ucapan Kun Hong, dan terbangnya makin pesat membubung tinggi di udara sampai kelihatan kecil sekali, kemudian menukik ke barat dengan kecepatan kilat.

Belasan li di sebelah barat, di luar tembok kota raja, terdapat sebuah hutan besar. Daerah ini termasuk kaki Pegunungan Tapie-san. Burung rajawali emas yang membawa terbang Kun Hong itu menukik ke bawah, ke arah hutan ini dan tak lama kemudian dia sudah turun ke atas tanah di antara pohon-pohon besar di tengah hutan itu, lalu mendekam. Kun Hong segera melompat turun dari punggung kim-tiauw.

“Bagus, A-tiauw, kau berhasil menolong Kun Hong!” terdengar suara orang, halus dan tenang. Kun Hong tercengang, mengingat sebentar kemudian dengan girang dia menjatuhkan diri berlutut sambil berseru.

“Susiok (paman guru)…….”

Kakek itu tertawa. Memang dia ini bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok, adik seperguruan manusia sakti Bu Beng Cu, guru Kwa Kun Hong yang tak pernah dia lihat orangnya itu. Dalam cerita Rajawali Emas dituturkan bahwa Kun Hong dahulu sebelum buta, pernah dibawa oleh rajawali emas ini ke puncak Gunung Liong-thouw-san (Gunung Kepala Naga) dan di tempat rahasia inilah dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang ditinggalkan oleh Bu Beng Cu sehingga dengan bantuan rajawali emas, pemuda ini dapat mewarisi ilmu silat yang dia namakan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Dalam ceritera Rajawali Emas pula, pernah dia bertemu dengan adik seperguruan Bu Beng Cu, seorang aneh yang sakti pula, yaitu bukan lain adalah Sin-eng-cu (Si Garuda Sakti) Lui Bok inilah yang pernah mengajarnya ilmu sihir yang disebut ilmu merampas semangat.

Pada saat itu, selagi Kun Hong berlutut penuh keharuan karena tidak mengira bahwa yang menyuruh rajawali emas menolongnya ternyata adalah susioknya sendiri ini, terdengar kaki-kaki kecil berlari mendekati dan suara yang amat dikenalnya berseru, “Suhu…….!”

“A Wan, kau di sini?” Kun Hong memeluk anak itu, girang dan juga heran. “Dan anak ini……. siapakah?” Dia menoleh ke kiri karena telinganya dapat menangkap gerakan seorang anak kecil lagi yang agaknya tadi digandeng oleh A Wan dan sekarang duduk pula di dekatnya.

“Suhu, dia adalah Cui Sian, adik kecil yang baik dan lucu……”

“Cui San? Anak paman Beng San…….??” Kun Hong sampai berteriak keras saking heran dan kagetnya sehingga A Wan yang tidak tahu apa-apa menjadi bingung. Dengan penuh keharuan tangannya meraih dan di lain saat anak perempuan berusia empat tahun itu telah dipeluknya.

Terdengar suara anak perempuan itu, nyaring dan jelas suaranya, tidak seperti anak-anak kecil lain yang sebaya. “Paman buta, kau ini menangis ataukah tertawa? Karena aku tidak dapat membedakannya.”

Kun Hong tertawa, pertanyaan kanak-kanak yang bodoh tetapi mengandung makna demikian dalamnya, sedalam lautan, meliputi rahasia hidup karena kehidupan di dunia ini memang hanya berisi dua hal, tangis dan tawa!

“Anak baik……. anak baik……. aku menangis dan juga tertawa saking girangku mendengar kau selamat…….” Tiba-tiba dia teringat dan setelah melepaskan Cui Sian dari pelukan, dia bangkit berdiri, menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok. Keningnya berkerut-kerut ketika dia berkata,

“Susiok……. Cui Sian di sini bersama Susiok…….? Bagaimanakah ini? Bukankah Cui Sian diculik orang dari Thai-san? Apakah Susiok…….” dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sungguhpun hatinya penuh kecurigaan yang bukan-bukan.

Kakek itu tertawa lembut. “Kenapa tidak kau lanjutkan, Kun Hong? Tak baik mengandung curiga di dalam hati, karena kecurigaan yang dipendam dapat menimbulkan fitnah tanpa disengaja. Kecurigaanmu keliru, Kun Hong. Aku bersama kim-tiauw ingin menjengukmu di Thai-san dan kulihat Thai-san diserang banyak orang. Di puncak kulihat nyonya ketua Thai-san yang gagah perkasa dikeroyok dan bangunan dibakar. Karena anak ini terancam bahaya, maka aku berlancang tangan membawanya pergi dari sana.”

Mendengar ini, merah muka Kun Hong. Tak dapat disangkal lagi, sebelum mendengar penjelasan ini, tadi dia telah menaruh curiga kepada susioknya. Dia segera menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata, nada suaranya penuh permohonan dan juga penuh dendam,
“Siapakah mereka itu, Susiok? Si…siapakah mereka yang menyerang Thai-san?”

Kembali kakek itu tertawa geli seakan-akan mendengar sesuatu yang amat lucu.

“Susiok, kenapa Susiok mentertawakan teecu (murid)?” Kun Hong merasa heran dan penasaran. Apakah pertanyaannya itu dianggap lucu? Tak mengerti dia mengapa dalam urusan yang demikian pentingnya, orang tua itu malah tertawa-tawa dan seakan-akan mentertawakannya.

“Kau hendak apakah menanyakan mereka yang menyerang Thai-san?”

“Keparat-keparat itu telah berlaku keji terhadap paman Beng San, tentu saja teecu harus membalas dendam sakit hati ini!”

“Ha-ha-ha, sudah kuduga! Sudah kukhawatirkan akan beginilah jadinya. Sayang…….” Kakek itu tertawa lagi.

“Balas-membalas, dendam-mendendam, roda karma berputar tiada hentinya….”

Kun Hong terkejut, lalu cepat bertanya, “Susiok, salahkah sikap teecu ini?” Setelah berpikir sebentar dia melanjutkan, “Susiok sudah sampai di Thai-san dan melihat semua itu, sudah berhasil menyelamatkan adik Cui Sian, kenapa Susiok tidak membantu paman Beng San membasmi orang-orang jahat itu?”

“Hemmm, aku tidak mempunyai urusan dengan mereka, sudah terlalu lama aku membebaskan diri daripada libatan karma, Anakku. Sikapmu ini tidaklah salah, hanya aku menjadi geli hatiku mendengar kata-kata dan melihat sikapmu ini. Agaknya kau sudah lupa sama sekali beberapa tahun yang lalu ketika kau menasehati seorang kakek seperti aku ini ketika aku hendak mencari dan membunuh Sin-chio The Kok atau Hwa I Lokai. Ha-ha-ha!”

Kun Hong tertegun dan seketika dia termenung. Terbayanglah sekarang semua pengalamannya dahulu, ketika dia masih belum buta. Pertemuannya pertama dengan Sin-eng-cu Lui Bok terjadi amat aneh, yaitu kakek itu menyatakan hendak mencari dan membunuh musuh besarnya, Sin-chio The Kok yang menyembunyikan diri dan mengubah nama menjadi Hwa I Lokai. Dialah yang menasehati orang tua ini agar jangan membalas dan membunuh, agar jangan terikat oleh tali-temali yang amat kusut dan sulit, yaitu tali dendam-mendendam. Dan sekarang, persis seperti beberapa tahun yang lalu (baca Rajawali Emas), sekarang di depan kakek itu dia bersikeras hendak membalas dendam Thai-san-pai kepada orang-orang yang menyerbu Thai-san. Seketika mukanya menjadi merah dan dia tidak dapat berkata sesuatu.

Kakek itu menarik napas panjang, maklum akan isi hati Kun Hong. “Kau masih ingatkah, Kun Hong, betapa dahulu aku pernah datang ke Thai-san dan membujuk kau supaya ikut dengan aku menjadi pertapa, hidup bahagia membebaskan diri daripada ikatan karma? Kau tidak mau dan aku hanya dapat tunduk akan kehendak Thian (baca Rajawali Emas). Aku tidak menyalahkan engkau. Pengertianmu tentang rahasia hidup memang sudah cukup, akan tetapi pengertian itu hanya menjadi pengetahuan dari teori buku-buku lama, namun kau belum dapat menguasai ilmu yang kau ketahui teorinya itu. Betapapun juga, teori yang kau nasehatkan kepadaku dahulu itu telah menolongku, sebaliknya tak mampu menolong dirimu sendiri. Ini tidak aneh karena kau memang masih muda, masih suka melibatkan diri dengan dunia beserta sekalian isi dan peristiwanya, kau masih belum mampu menguasai perasaan muda.”

Kun Hong menunduk dan diam-diam dia dapat menangkap kebenaran kata-kata kakek ini.

“Kau masih terlalu muda untuk dapat menyelami semua teori tentang filsafat dan rahasia kehidupan, Anakku. Karena jiwamu belum masak, belum cukup kuat menghadapi gejolak perasaan sehingga mudah terpengaruh keadaan dan hawa nafsu. Sekarangpun karena bertemu dengan anak pamanmu, seluruh perasaanmu terpenuhi oleh urusan Thai-san-pai sehingga kau lupa akan tugas yang kau ikatkan dengan dirimu, mengenai mahkota…….” Kakek itu tertawa lagi. Suara ketawanya lebih keras ketika tiba-tiba Kun Hong seperti orang tersentak kaget meraih A Wan dan serta merta bertanya,

“A Wan, di mana adanya mahkota itu? Sudah dapat kau ambilkah?” Suaranya penuh harapan dan seperti yang tadi dikatakan oleh Sin-eng-cu Lui Bok, kini seluruh perhatiannya terpusat kepada benda rahasia itulah sehingga boleh dibilang dia lupa sama sekali akan urusan Thai-san-pai!

Sambil berlutut anak itu berkata, suaranya takut-takut, “……. ampun, Suhu, mahkota itu……. benda itu……. telah dirampas orang…….”

“Apa katamu??” Kun Hong marah dan kecewa sekali, kemudian sambungnya agak tenang setelah dia ingat bahwa seorang anak kecil seperti A Wan, mana sanggup melindungi mahkota itu? “Siapakah yang merampasnya?”

Dengan suara mengandung takut kalau-kalau gurunya akan marah kepadanya, A Wan menuturkan pengalamannya. “Tadinya benda itu teecu sembunyikan dan kubur di belakang rumah dekat sumur. Ketika Suhu menyuruh teecu mengambilnya, teecu segera pergi ke tempat itu dan menggalinya. Akan tetapi baru saja teecu mengambil benda itu dan teecu bersihkan dari tanah lumpur yang masuk ke dalam mahkota, teecu dibentak orang dan mahkota itu hendak dirampas.”

”Hemmm, siapa dia? Laki-laki atau wanita?” tanya Kun Hong,

“Seorang laki-laki, akan tetapi karena keadaan gelap, teecu tidak mengenal wajahnya. Teecu mempertahankan mahkota itu, akan tetapi dia menggunakan kekerasan, teecu didorong dan benda itu dapat dirampas. Pada saat itu muncul pula seorang wanita muda dan seorang laki-laki gagah dan masih muda pula. Serta merta orang muda itu menyerang orang yang tadi merampas mahkota tadi, adapun wanita muda itu menolong teecu. Akan tetapi segera teecu ditinggalkan seorang diri ketika wanita itu melihat teecu tidak apa-apa, kemudian wanita itu membantu temannya mengeroyok laki-laki yang merampas mahkota. Entah bagaimana jadinya karena mereka bertempur sambil berlari dan berkejaran. Teecu ikut mengejar sambil berteriak-teriak minta dikembalikan benda itu. Tiba-tiba muncul banyak orang yang galak-galak. Teecu ditangkap dan dipaksa menyerahkan mahkota. Untung segera datang Kakek perkasa (Locianpwe) ini yang menolong teecu dan membawa teecu pergi seperti terbang cepatnya.”

Kun Hong termenung mendengar ini. Kembali paman gurunya yang menolong A Wan, akan tetapi kenapa tidak sekalian merampas mahkota itu? Dia menjadi amat kecewa.

“Jadi mahkota itu dirampas orang?” katanya lambat-lambat dengan nada sedih.

“Suhu, apa sih gunanya benda mengkilap itu? Kalau memang amat perlu dan amat berharga bagi Suhu, biarlah teecu menyelundup masuk kota raja lagi dan pergi menyelidikinya.” A Wan berkata dengan suara sedih pula melihat suhunya demikian kecewa.

Kata-kata ini menyadarkan Kun Hong dan seketika mukanya berubah biasa lagi. “Ah, kau mana tahu, A Wan? Bukan benda emas itu yang berharga, melainkan surat yang tersembunyi di dalamnya…”

“Surat? Bertulis? Wahhh, kebetulan sekali Suhu! Teecu sudah menduga-duga surat apa ini. Surat yang disembunyikan di dalam mahkota ada pada teecu.” Sambil berkata demikian A Wan mengeluarkan segulung surat kekuning-kuningan dari dalam saku bajunya. Kun Hong cepat menyambar surat itu dan meraba-raba dengan jari-jari tangannya, wajahnya berseri gembira dan bibirnya tersenyum.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Di dalam mahkota katamu?”

“Benar, Suhu, Ketika teecu membersihkan mahkota itu, teecu menggosok-gosok sebelah dalamnya yang kotor. Tiba-tiba terdengar bunyi berdetak dan tersembullah kertas di sudut dalam mah-kota. Kemudian ketika mahkota itu hendak dirampas orang dan teecu pertahankan, tanpa sengaja teecu yang memegangi mahkota dengan sebelah tangan di dalamnya, mencengkeram keluar kertas ini. Baru teecu ketahui bahwa kertas ini berada dalam genggaman teecu setelah mahkota itu dibawa lari orang.”

Kun Hong mengangguk-angguk, meraba-raba kertas bergulung yang kecil itu, kemudian dia menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok yang semenjak tadi hanya berdiri sambil membelai leher burung rajawali, sama sekali tidak memperdulikan percakapan antara Kun Hong dan A Wan.

“Susiok, tolonglah Susiok periksa gulungan kertas ini. Betulkah ini berisi perintah rahasia mendiang kaisar?”

Terdengar kakek itu tertawa lirih, lalu bergumam, “Terlalu dalam kau terjerumus ke dalam persoalan dunia.” Akan tetapi diterimanya juga gulungan kertas kecil itu, dibukanya dan dibacanya sebentar, lalu digulung kembali dan diangkatnya tinggi-tinggi surat itu di atas kepala sambil berkata, “Memang betul dan mendiang kaisar adalah seorang manusia yang telah berbuat banyak jasa selama hidupnya untuk bangsa. Seorang pejuang perkasa, seorang manusia berjiwa besar.” Dia mengembalikan gulungan kertas itu kepada Kun Hong yang segera menyimpannya di saku baju sebelah dalam. Lenyap semua kekecewaannya. Mahkota kuno itu sendiri baginya tidak mempunyai harga, yang penting adalah surat rahasia inilah.

“A Wan, kau anak baik! Kau telah berjasa besar…….”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: