Pendekar Buta ~ Jilid 28

“Minggirlah, kau sudah terluka…….” pinta Loan Ki sambil mendorong pemuda itu ke pinggir. Ia sendiri menghadapi Gui Hwa yang kini menyerangnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Semua jurus yang ia lancarkan dalam penyerangan ini adalah jurus yang mengandung hawa maut, tidak main-main lagi seperti tadi.

Loan Ki berusaha mempertahankan diri, namun pada suatu saat ia kurang Cepat dan “breett!” ujung bajunya terbabat putus sebagai pengganti lengannya! Ia menjadi pucat, tetapi tetap melawan terus, biarpun ia didesak hebat.

Kembali Nagai lci meloncat dan menerkam Gui Hwa karena melihat betapa Loan Ki hampir kalah. Dia khawatir sekali kalau-kalau gadis pujaan hatinya itu akan terluka hebat, maka dengar nekat dia menerjang lagi tanpa memperdulikan larangan Loan Ki. Gui Hwa sudah siap, begitu melihat tubuh pemuda itu maju selagi pedangnya bertemu dengan pedang Loan Ki, ia memapaki dengan tendangan. “Bleeeggg!” tubuh Nagai Ici terjengkang dan pemuda ini muntahkan darah segar. Namun dia bangkit lagi, menekan dada dan dengan nekat dia hendak maju menerjang lagi untuk membantu Loan Ki.

Sementara itu Loan Ki yang melihat Nagai Ici tertendang, kaget dan marah sehingga perasaan ini membuat langkah-langkah ajaibnya menjadi kacau. Pedang Gui Hwa menyambar, tak dapat ia mengelak lagi, terpaksa menerima dengan pedangnya. Dua pedang menempel dan kedudukan Loan Ki sudah terjepit. Gui Hwa sudah mengulur tangan kiri hendak merobek pakaian gadis itu.

“Tahan….!” terdengar bentakan mengguntur dan tiba-tiba Gui Hwa terjengkang ke belakang, terhuyung dan cepat menarik pedangnya bersiap-sedia. Kiranya Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang mendorongnya tadi untuk menolong puterinya. Semua orang memandang ke arah ayah dan anak yang kini berhadapan muka.
“Ayah, kau membiarkan anakmu dihina orang, sekarang kau mau apa? Aku tidak tahu menahu tentang surat, dan aku tidak sudi digeledah, lebih baik mati!” Loan Ki berkata dengan sikap menantang, lehernya tegak, kepala dikedikkan, sepasang mata bersinar-sinar akan tetapi air mata mengalir turun ke atas kedua pipinya, bibirnya pucat tetapi digigitnya sendiri untuk memperkuat kenekatan hatinya.

“Loan Ki, berani kau bersumpah bahwa kau tidak tahu menahu akan surat rahasia itu?” bentak ayahnya.

“Aku bersumpah, demi arwah Ibu!”

Terpukullah hati Beng Kui mendengar sumpah ini, diingatkan dia bahwa puterinya ini semenjak kecil tidak lagi ditunggui ibunya. Hatinya perih sekali dan tiba-tiba dia menoleh kepada Nagai Ici yang masih berdiri tegak dengan muka pucat, tetapi dengan sikap nekat membela Loan Ki.

“Siapa dia?” tanya Sin-kiam-eng.

“Dia sahabat baikku, Ayah, tadinya hendak kubawa kepadamu agar menjadi muridmu. Dia bernama Nagai Ici.”

“Apa…….? Seorang Jepang? Bajak laut…….?” Tan Beng Kui kaget sekali, kaget dan kecewa.

“Siapa bilang dia bajak laut?” Loan Ki juga berteriak, tidak kalah nyaringnya dengan suara ayahnya. “Dia adalah seorang pendekar, berjuluk Samurai Merah! Dia seorang gagah yang datang ke sini dengan maksud mencari guru yang pandai. Dia sahabatku, Ayah, dan buktinya tadi, kalau ayahku sendiri tidak perduli akan keadaanku, dia membantuku mati-matian!”

Tan Beng Kui menundukkan kepala, menarik napas panjang, lalu berpaling kepada Bhok Hwesio. “Bhok-losuhu, anakku tidak membawa surat itu. Aku minta supaya dia dan sahabatnya dilepas dan jangan diganggu lagi.”

“Hemmm, mana mungkin begitu, Sicu? Pinceng pernah mendengar dari pengawal istana Tiat-jiu Souw Ki bahwa yang merampas mahkota dahulu dari tangannya adatah puterimu inilah, dibantu oleh Kun Hong si pemberontak buta. Jelas bahwa anakmu ini membantu para pemberontak. Mana bisa pinceng percaya bahwa surat itu tidak berada padanya? Kalau memang sudah digeledah tidak ada, biarlah pinceng memandang persahabatan di antara kita dan pinceng perbolehkan dia pergi.”

“Bhok-losuhu, apakah kau tidak percaya kepadaku?”

Kembali hwesio itu tertawa dengan tenang. “Tan-sicu, memang biasanya, seorang gagah di dunia kang-ouw paling memegang teguh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Akan tetapi sekarang kedudukan kita lain lagi. Kita bekerja demi keselamatan negara, dan karenanya peraturan yang berlaku juga peraturan negara, bukan peraturan kang-ouw. Sebagai petugas, mau tidak mau pinceng harus mendahulukan kepentingan negara.
Pinceng kira bagimu juga seharusnya demikian, kepentingan tugas lebih tinggi daripada kepentingan antara ayah dan anak. Biarkan It-to-kiam Gui Hwa memeriksanya, kalau memang dia tidak membawa surat, itu, boleh dia pergi.”

“Aku tidak sudi! Lebih baik mati daripada menyerah di bawah penghinaan kalian!” Loan Ki berseru marah.

“Jangan takut, Loan Ki. Aku membantumu, kalau perlu kita mati bersama!” kata pula Nagai Ici dengan tabah dan gagah.

Sin-kiam-eng Tan Beng Kui kembali menghadapi puterinya, memandang tajam kepada dua orang muda itu sampai lama-, kemudian suaranya terdengar menggetar, “Nagai Ici, kau siap melindunginya dengan jiwa ragamu?”

“Siap!” seru Nagai Ici dengan sikap tegak.

“Kau……. kau mencinta Loan Ki dengan seluruh jiwa ragamu?”

“Ya!” jawab pemuda itu pula, tanpa ragu-ragu. “Aku siap mati untuk Loan Ki !”

Tan Beng Kui tersenyum getir, kemudian berkata kepada Loan Ki, “Anakku, kau merasa bahagiakah di samping Nagai Ici?”

Merah muka yang pucat itu seketika dan air matanya deras mengalir.

“Ayah……. dia baik sekali…….” jawabnya perlahan.

“Cukup! Nagai Ici, mulai saat ini aku menyerahkan keselamatan anakku ke tanganmu. Nah, pergilah jauh-jauh dan jangan mencampuri urusanku, jangan mencampuri urusan negara lagi.”

“Pergilah! Cepat!” Agaknya Nagai Ici maklum akan isi hati pendekar pedang ini, dia lalu menggandeng tangan Loan Ki dan diajaknya gadis itu pergi dari tempat itu.

“He, jangan pergi dulu!” seru Lui-Thian Te Cu.

“Sing!!” Sinar pedang berkelebat dan tahu-tahu Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sudah menghadang Thian Te Cu dengan pedang di tangan dan sikapnya keren serta gagah menantang. Sepasang matanya menyala-nyala ketika dia menatap tiga orang di depannya, Bhok Hwesio, Thian Te Cu dan Gui Hwa.

“Aku mengganti mereka dengan nyawaku! Siapa yang mengejar mereka akan berhadapan dengan pedangku.” Suaranya nyaring dan bergema, terdengar pula oleh Loan Ki yang menoleh dan menoleh lagi sambil terisak menangis, akan tetapi Nagai Ici terus menyeretnya pergi.

“Omitohud! Tan-sicu apakah hendak memberontak?”

“Bhok Hwesio, baru kali ini kau muncul dalam urusan negara, tetapi sudah hendak membuka mulut besar bicara tentang pemberontakan? Huh, kau mau bersikap sebagai pahlawan? Dengarlah kalian bertiga!! Di jamannya mendiang kaisar ketika masih menjadi pejuang Ciu Goan Ciang, aku Tan Beng Kui sudah menjadi pejuang mengusir penjajah Mongol. Kalian tahu apa tentang perjuangan? Sekarang kalian hanya datang dan enak-enak mendapatkan kedudukkan tinggi dan kemuliaan, sudah akan bersikap sombong menganggap diri sendiri benar? Menjemukan sekali !”

“Tan Beng Kui, kau bicara apa ini?” Bhok Hwesio marah. “Kalau kau memang tidak mempunyai hati memberontak terhadap kaisar kiranya kau akan mementingkan urusan tugas, tidak memberatkan anakmu. Kau membiarkan anakmu terlepas, apa kau kira pinceng tak dapat mengejarnya?”

“Harus melalui pedang dan mayatku!” teriak Tan Beng Kui marah. “Anakku sudah bersumpah demi arwah ibunya. Ini jauh lebih kuat, lebih penting daripada segala urusan tetek-bengek. Selama aku masih dapat menggerakkan pedang, jangan harap kalian akan dapat mengganggu Loan Ki!”

“Kau memang pemberontak ! Dahulu pun pernah menjadi pemberontak, siapa tidak tahu?”‘ Lui-kong Thian Te Cu berseru marah dan senjatanya tanduk rusa sudah bergerak menyerang. Juga It-to-kiam Gui Gwa sudah menerjang dengan pedangnya. Sambil memutar pedang, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui maju menghadapi dua orang itu. Ilmu pedangnya bukan main hebatnya. Ilmu Pedang Sin-li Kiam-sut yang sudah dikuasainya benar sehingga baik It-to-kiam Gui Hwa mau-pun Lui-kong Thian Te Cu yang lihai merasa terkesiap dan terdesak oleh sinar pedang yang bergulung-gulung itu,

“Omitohud, semua pemberontak harus dibasmi, baru aman negara!” seru Bhok Hwesio sambil melangkah maju. Dia bertempur dengan tangan kosong saja, akan tetapi jangan dikira bahwa dia boleh dipandang ringan karena tidak bersenjata. Sepasang ujung lengan bajunya merupakan sepasang senjata yang amat ampuh, kalau digunakan memukul melebihi kerasnya ruyung baja dan kalau menotok tiada ubahnya senjata toya. Juga kibasan kedua tangannya sama ampuhnya dengan tabasan pedang tajam, baru angin pukulannya saja sudah mendatangkan angin dingin dan terasa tajam menusuk kulit.

Sesungguhnya ilmu pedang dari Tan Beng Kui amat hebat. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dia adalah murid tertua dari mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-tek-kiam-ong (Raja Pedang Tanpa Tanding). Kalau mau bicara tentang ilmu pedang, kiranya tiga orang lawan yang mengeroyoknya ini tidak akan mampu menandinginya, biarpun It-to-klam Gui Hwa juga memiliki ilmu pedang tingkat tinggi dari Kun-lun-pai. Akan tetapi, ilmu pedang saja bukan merupakan ilmu yang mutlak dapat menentukan kemenangan, karena dalam banyak hal lain, dia kalah ampuh oleh tiga orang lawannya. It-to-kiam Gui Hwa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, setingkat lebih tinggi daripada ilmunya sendiri sehingga dengan keringanan tubuhnya itu, It-to-kiam Gui Hwa dapat menutupi kekurangannya dalam hal ilmu pedang. Lui-kong Thian Te Cu memiliki khi-kang yang hebat, sehingga tiap kali mengeluarkan bentakan dalam pertempuran, membuat jantung Sin-kiam-eng Tan Beng Kui tergetar dan mengacaukan permainan pedangnya. Lebih hebat lagi adalah Bhok Hwesio karena hwesio ini benar-benar kosen dan gagah sekali. Hwesio Siauw-lim ini memiliki tenaga dalam yang hebat. Dorongan kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan yang selalu dapat memukul miring pedang di tangan Tan Beng Kui.

Tan Beng Kui mempertahankan diri mati-matian. Dia maklum bahwa kalau dia terlalu cepat jatuh, keselamatan Loan Ki masih terancam bahaya besar. Dia rela mengorbankan diri asal anaknya itu sudah lari jauh dan tidak akan dapat dikejar lagi oleh tiga orang ini. Dia tadi sudah menyaksikan kesetiaan dan kecintaan hati pemuda Jepang itu dan hatinya lega. Betapapun juga, dia merasa yakin bahwa sepeninggalnya, Loan Ki sudah terjamin hidupnya, sudah ada orang yang menggantikan kedudukannya, bahkan yang agaknya lebih mencintainya dengan segenap jiwa raganya. Kenyataan bahwa pemuda itu seorang Jepang tidak mengecewakan hatinya, karena dia sudah sering kali mendengar betapa bangsa di seberang lautan itu dahulunya juga serumpun dengan bangsanya, malah dia mendengar bahwa bangsa itu memiliki kecerdikan tinggi.

“Siaaattttt!” Ujung lengan baju sebelah kiri dari Bhok Hwesio menghantamnya dari pinggir, biarpun dia sudah berhasil mengelak, namun angin pukulannya memanaskan telinga membuat dia agak nanar. Pada saat itu, pedangnya beradu dengan pedang It-to-kiam Gui Hwa dan pada detik berikutnya, tanduk rusa di tangan Thian Te Cu sudah menusuk ke arah perut.

“Siiiinggggg!” Tarikan pedang Tan Beng Kui membuat It-to-kiam menjerit kesakitan karena pedangnya sendiri tergetar hebat dan telapak tangannya terasa panas sehingga dia terpaksa melompat mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tan Beng Kui untuk membabat ke depan menangkis tanduk rusa, kemudian mementalkan pedangnya ke kanan untuk mengirim tusukan maut ke arah leher Bhok Hwesio yang sudah mendekatinya.

“Omitohud, kau bosan hidup…….” seru hwesio itu. Ujung lengan bajunya yang kanan menyambar, bertemu dengan ujung pedang, membuat Tan Beng Kui kaget sekali karena tahu-tahu ujung lengan baju itu sudah melibat pedangnya, tidak dapat dia tarik kembaii. Dia masih mampu merendahkan tubuh mengelak daripada sambaran pedang Gui Hwa yang mengarah lehernya, juga serangan Thian Te Cu dia gagalkan dengan sebuah tendangan kilat ke arah pergelangan tangan yang memegang tanduk rusa. Namun pada saat itu, tangan kiri dengan telapak tangan yang besar lebar dari Bhok Hwe-sio sudah menyambar dan tidak dapat dia hindari lagi punggungnya kena ditampar. “Plaakkkk…….!” Tan Beng Kui mengaduh, pedangnya terlepas dari tangan dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, mukanya pucat sekali. Dia telah menerima tamparan maut yang mengandung tenaga Iweekang dan yang telah merusak isi dadanya. Akan tetapi dia benar-benar gagah perkasa karena begitu merasa bahwa dadanya terluka hebat sebelah dalam, dengan nekat dia lalu menerjang maju, mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah Bhok Hwesio sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Bhok Hwesio tersenyum mengejek, menerima pukulan ini dengan tangan yang dibuka. Kedua tangan itu bertumbukan di udara, akibatnya tubuh Tan Beng Kui kembali mental ke belakang, akan tetapi Bhok Hwesio juga terhuyung-huyung ke belakang. Kagetlah hwesio ini, tidak disangkanya bahwa dalam keadaan terluka hebat, lawan itu masih memiliki tenaga demikian besarnya.

Tan Beng Kui roboh dan bangkit lagi sambil muntahkan darah segar dari mulutnya, malah masih sempat mengelak dari sambaran tanduk rusa dan membalas serangan Thian Te Cu ini dengan sebuah pukulan tangan kiri. Namun tenaganya sudah hampir habis sehingga begitu Thian Te Cu menangkisnya, dia kembali roboh. Pada saat itu It-to-kiam Gui Hwa sudah meloncat maju dan pedangnya berkelebat menusuk dada.

“Criiiinggggg…….!” Gui Hwa menjerit sambil meloncat mundur ketika terlihat berkelebatnya sinar kilat disusul suara keras dan patahnya pedang di tangannya. Tiga orang itu terkejut memandang dan tahu-tahu di situ sudah berjongkok seorang laki-laki gagah perkasa yang memeluk leher Beng Kui dengan tangan kiri, sedangkan sebatang pedang yang berkilauan terpegang di tangan kanan.

“Omitohud……. bukankah ciangbunjin (ketua) Thai-san-pai, Tan Beng San tai-hiap yang datang ini…….?” seru Bhok Hwesio terkejut ketika mengenal laki-laki itu.

Memang tidak salah. Laki-laki itu adalah Tan Beng San, ketua dari Thai-san-pai yang tadi menggunakan pedang Liong-cu-kiam menyelamatkan Tan Beng Kui dari tusukan It-to-kiam Gui Hwa sehingga sekaligus mematahkan pedang nyonya itu. Dia tidak menjawab kata-kata Bhok Hwesio, melainkan cepat mengangkat kepala Beng Kui dan dipangkunya. Dengan sedih dia mendapat kenyataan bahwa keadaan kakaknya ini sudah tidak dapat ditolong lagi karena menderita luka dalam yang amat parah. Beng Kui membuka matanya, terbelalak seperti orang terheran-heran dan tidak percaya, kemudian dia tersenyum dan mengedipkan mata lalu merangkul Beng San.

“Aduh, kau Beng San……. kau adikku……. siapa kira kau malah orangnya yang akan menunggui kematianku…….” Dia lalu tertawa terbahak-bahak dan terpaksa berhenti ketawa karena kembali dia muntahkan darah. Beng San cepat mengurut dadanya dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan muntah darah ini dan mengurangi rasa nyeri. Mendadak Beng Kui mendapatkan kembali tenaganya dan dia mendorong Beng San minggir, lalu berdiri dengan susah payah. Kembali dia tertawa menghadapi tiga orang lawannya itu.
“Beng San, adikku, terima kasih……. jangan kau mencampuri urusanku.”

“Kui-koko, mereka ini orang-orang tak tahu malu, melakukan pengeroyokan atas dirimu…….”

“Tidak! Mereka adalah orang-orang kaisar yang hanya melakukan tugas dan aku……. ha-ha-ha, aku sekarang berani menentang mereka, demi anakku….. ahh……. Beng San, aku titip Loan Ki kepadamu……. dia dan sahabat baiknya, pemuda perkasa Jepang, Nagai……. eh, Nagai Ici, ha-ha-ha ! Hayo, Bhok Hwesio, Thian Te Cu, dan It-to-kiam, aku bilang tadi, kalian baru dapat mengejar Loan Ki melalui mayatku. Aku belum menjadi mayat dan……. anakku sudah pergi jauh……. tidak mungkin kalian kejar, ha-ha-ha !” Mendadak dia menubruk maju, mengirim pukulan kilat kepada tiga orang itu secara mengawur.

Melihat adegan itu, tiga orang tokoh ini sudah merasa tidak enak hati. Kini serangan Tan Beng Kui tentu saja tidak mereka layani, berbereng mereka melompat mundur dan Beng Kui terjungkal dengan sendirinya, tidak mampu bangun kembali. Beng San cepat menghampirinya, berlutut.

“Beng San……. kau melupakan semua kesalahanku dahulu……. bagus, beginilah adikku sejati……. huh……. aku titip Loan Ki……. Loan……. Ki…….” Dan pendekar pedang ini menghembuskan napas terakhir dalam rangkulan adik kandungnya yang sejak dahulu dimusuhinya ( baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas ).

Sambil menghela napas panjang Beng San meletakkan tubuh kakak kandungnya di atas tanah, kemudian dia bangkit perlahan, berdiri sambil menatap wajah tiga orang itu berganti-ganti. Kemudian terdengar suaranya, jelas, lambat-lambat, namun nyaring berwibawa.

“Aku mentaati permintaan terakhir kakakku, tidak mencampuri urusan kalian bertiga dengannya. Akan tetapi, aku melarang kalian melanjutkan pengejaran kepada Loan Ki puteri kakakku. Kalau kalian tidak terima, hayo kalian maju mengeroyokku seperti yang kalian bertiga lakukan kepadanya!” Dengan pedang melintang di depan dada, Beng San menantang, sikapnya garang, kemarahannya ditahan-tahan.

“Omitohud…….!” Bhok Hwesio merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Selamanya Siauw-lim tidak pernah bermusuhan dengan Thai-san……”

“Losuhu tidak usah membawa-bawa nama partai. Ini urusan pribadi antara Tan Beng San dan tiga orang tokoh yang baru saja mengeroyok dan membunuh kakakku!”

Lui-kong Thian Te Cu dan It-to-kiam Gui Hwa nampak ragu-ragu, jelas bahwa mereka merasa jerih terhadap ketua Thai-san-pai ini. Sudah sering kali mereka mendengar nama besar Raja Pedang ini, apalagi tadi sekali gebrak saja Raja Pedang ini berhasil mematahkan pedang It-to-kiam Gui Hwa. Hanya Bhok Hwesio yang masih tenang, lalu dia tersenyum tawar.

“Tugas pinceng adalah mengamankan negara, membasmi para pemberontak yang membikin kacau negara, sama sekali bukan menanam permusuhan dengan siapa pun juga, Tan-taihiap, selamat berpisah.” Dia lalu membalikkan tubuhnya, mengambil dua keping potongan mahkota lalu meninggalkan tempat itu, diikuti oleh kedua temannya. Beng San masih berdiri tegak dengan pedang melintang di dada. Besar keinginan hatinya untuk melompati mereka, untuk menyerang mereka, mengajak mereka memperhitungkan kematian kakak kandungnya. Biarpun kakak kandungnya ini selalu memusuhinya, banyak sudah mendatangkan derita dalam hidupnya, namun dia tetap mengasihi kakak kandungnya. Akan tetapi perasaan itu dia tahan-tahan karena masih berdengung di telinganya pesan terakhir kakaknya itu, pula, ia pun meragu apakah orang sakti seperti Bhok Hwesio itu berada di fihak yang salah.

Setelah tiga orang itu tidak tampak bayangannya lagi, kembali ke jurusan kota raja, dia lalu berjongkok dan dengan perasaan berat sekali dia lalu memondong jenazah kakaknya, mencarikan tempat yartg baik tanahnya di dalam hutan sebelah timur kota raja, lalu menguburnya dengan penuh hormat dan khidmat.

Tubuh pendekar pedang ini tampak kurus dan agak pucat. Memang dia telah menderita tekanan batin yang hebat. Anaknya, Cui Sian, diculik orang, Thai-san-pai dirusak binasakan musuh, banyak anak murid yang tewas, isterinya marah-marah dan melarikan diri mencari Cui Sian. Dia sendiri sudah berkelana mencari jejak isteri dan menyelidiki tentang musuh-musuh yang telah menyerbu Thai-san dan yang telah menculik anaknya. Dari beberapa orang kenalan di dunia kang-ouw, dia dapat mendengar bahwa tiga orang wanita yang berilmu tinggi itu sangat boleh jadi adalah Ang Hwa Sam-ci-moi yang belum pernah dia dengar namanya karena tiga orang tokoh ini baru beberapa tahun saja memasuki pedalaman, datang dari See-thian. Akan tetapi ketika mendengar bahwa tiga orang kakak beradik ini adalah para sumoi (adik seperguruan) Hek Hwa Kui-bo, kecurigaannya menebal. Kalau mereka itu sumoi-sumoi dari Hek Hwa Kui-bo, sangat boleh jadi mereka melakukan perbuatan itu untuk membalas dendam terhadap suci (kakak seperguruan) mereka. Akan tetapi kiranya mereka tidak bekerja bertiga saja, tentu ada orang-orang lain. Sukarnya, tidak seorang pun tahu di mana adanya Ang Hwa Sam-ci-moi itu. Dia seakan-akan meraba di dalam gelap dan perantauannya membawanya ke kota raja karena dia berpendapat bahwa segala sesuatu mengenai keadaan orang-orang besar di dunia kang-ouw, lebih mudah diselidiki di kota raja. Apalagi karena urusan di Thai-san ini agaknya ada hubungannya dengan kematian Tan Hok, berarti ada hubungan urusan kerajaan, karena semenjak dahulu Tan Hok adalah seorang pejuang dan bahkan akhir-akhir ini menjadi pembesar yang dipercaya oleh kaisar pertama Ahala Beng.

Demikianlah, secara kebetulan sekali, di luar kota raja dia melihat pengeroyokan atas diri Tan Beng Kui. Sayang dia terlambat sehingga kakak kandungnya itu tewas dalam pertempuran. Setelah dia selesai mengubur jenazah kakaknya, Beng San ragu-ragu untuk memasuki kota raja.

Kemudian dia teringat akan Loan Ki. Setelah pertemuan terakhir dengan kakak kandungnya, timbullah secara tiba-tiba kerinduan hatinya untuk bertemu dengan keturunan kakaknya ini, dengan keponakan tunggalnya. Semenjak berpisah dengan kakaknya belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah bertemu lagi dan tidak tahu keadaan kakaknya itu. Sekarang pertemuan terakhir membangkitkan kembali kasih sayang lama. Loan Ki, Tan Loan Ki, demikian nama keponakannya. Dengan pemuda Jepang? Pesan terakhir kakaknya terngiang di telinganya. Ledih baik sekarang menyusul Loan Ki. Mengapa tidak?  Selain dia dapat bertemu dengan keponakannya itu dan dapat menjaganya serta memberi petunjuk, juga dari keponakannya itu dia dapat mendengar banyak tentang kakaknya, tentang keadaan kota raja. Siapa tahu keponakannya itu akan mendengar pula tentang Thai-san-pai. Maklumlah puteri seorang pendekar seperti kakaknya tentu tidak asing pula dengan keadaan dunia kang-ouw.
Berpikir demikian, Beng San lalu melompat dan berlari cepat sekali, menyusul keponakannya yang agaknya lari ke arah timur seperti yang tadi ditunjuk oleh kakaknya. Ilmu lari cepat yang dipergunakan oleh Beng San ini adalah Ilmu Lari Cepat Liok-te-hui-teng-kang-hu, ilmu lari cepat yang dilakukan sambii melompat-lompat dan kecepatannya seperti terbang saja.

******
“Kanda Bun Wan…….!” Seruan girang ini mengagetkan Bun Wan yang sedang berjalan dengan kepala tunduk dan hati penuh kekecewaan. Dia mengangkat mukanya dan kaget meiihat bahwa yang memanggilnya dengan suara merdu dan gembira itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis dari Pulau Ching-coa-to itu! Pertemuan ini sama sekali tidak pernah diduga-duganya. Dia berada jauh dari Ching-coa-to, di sebuah hutan di luar kota raja. Baru saja dia mengalami kekecewaan dan penyesalan karena dia kalah dalam perebutan mahkota kuno.

“Hui Siang! Kau dari mana, bagaimana bisa berada di sini?” tanyanya, tersenyum dan mengusap rambut kepala gadis yang telah merangkulnya dengan sikap manja dan penuh cinta kasih itu.

“Kanda Bun Wan, kau benar-benar tidak tahu dicinta orang.” Hui Siang berkata manja. “Kenapa kau tinggalkan aku di Ching-coa-to? Kenapa kau pergi secara diam-diam? Aku kesepian di sana, Ibu belum pulang dan karena kau bilang ingin pergi ke kota raja, aku lalu menyusulmu. Sungguh kebetulan sekali kita bertemu di sini, bukankah ini tanda bahwa kita benar-benar berjodoh, kanda Bun Wan?”

Bun Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. “Hui Siang, kau seperti anak kecil saja. Apakah kau tidak percaya bahwa aku akan datang kembali ke sana menjemputmu?”

Hui Siang merengut dan mukanya yang cantik itu kelihatan susah. “Wan-koko, banyak sudah kudengar laki-laki yang tidak memegang teguh janjinya dalam hubungan mereka dengan wanita. Hanya bermanis mulut menjual madu di bibir kalau berhadapan, akan tetapi begitu berpisah lalu bercabang hati dan lupa akan sumpah dan janji. Banyak sudah contohnya. Ibu sendiri bertahun-tahun menderita karena Ayah. Kata Ibu, di dunia ini tidak ada lelaki yang beleh dipercaya janjinya terhadap wanita.”

“Hui Siang, kau kira aku ini laki-laki macam apa?” Bun Wan berseru keras dan penasaran. “Sungguhpun hubungan kita ini tadinya kuanggap karena kau yang membujuk, akan tetapi akhirnya aku insyaf bahwa aku pun bersalah terlampau menuruti nafsu hati. Aku seorang laki-laki, aku keturunan tunggal dari Kun-lun-pai, tidak mungkin aku menyia-nyiakan wanita yang sudah kujatuhi cinta, tidak mungkin aku mengingkari pertanggungan jawabku. Hui Siang, sudah kukatakan kepadamu bahwa apapun yang terjadi, kau tetap akan menjadi isteriku, hanya aku harus menyelesaikan lebih dulu tugasku yang maha penting.”

“Kanda Bun Wan, bukan sekali-kali aku tidak percaya kepadamu. Akan tetapi setelah kau meninggalkan aku, aku kesepian dan amat khawatir. Biarkan aku ikut denganmu, Koko, dan biarlah aku membantu tugasmu sampai selesai.”

“Tugasku berat, mungkin mempertaruhkan nyawa, Moi-moi,” kata Bun Wan halus karena dia terharu pula menya-sikan besarnya cinta kasih gadis jelita ini.

“Apalagi kalau harus mempertaruhkan nyawa, tidak boleh aku melepaskan kau, Koko. Biarlah pertanggungan itu kita pikul berdua, akan lebih ringan.”

Bun Wan menggandeng tangan Hui Siang, dituntunnya gadis itu dan diajak duduk di tempat teduh, di bawah pohon yang tinggi dan besar. Mereka duduk bersanding di atas akar pohon itu dan dengan sikap manja dan mesra Hui Siang tidak pernah melepaskan tangan kekasihnya.

“Hui Siang, lebih baik kau pulang ke Ching-coa-to dan kau tunggulah aku di sana. Hatiku akan lebih tenteram mengingat bahwa kekasihku menanti di sana, daripada harus melihat kau terancam bahaya bersamaku.”

“Tidak, aku tidak mau. Biar bahaya atau mati sekali pun asal bersamamu,” kata gadis itu dengan nekat.

“Wah, repot kalau kau rewel begini,” Bun Wan menggerutu, lalu berkata lagi sambil memandang wajah yang cantik itu, “Hui Siang, ketahuilah bahwa tugasku ini bertentangan sama sekali dengan ibumu, malah mungkin sekali aku akan menjadi lawan ibumu.”

Agak kaget Hui Siang mendengar kata-kata ini. Ia balas memandang, agaknya tidak percaya, akan tetapi melihat kesungguhan wajah Bun Wan, ia pun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh, “Kalau sampai Ibu memusuhimu, aku pun akan berada di fihakmu.”

Kembali Bun Wan menarik napas panjang, “Kau mana tahu urusannya ? Tidak ada urusan pribadi yang membuat ibumu mungkin memusuhiku. Akan tetapi, semata-mata urusan tugas. Ketahuilah, Hui Siang, aku yang kau jadikan pilihan hatimu, aku adalah seorang utusan Raja Muda Yung Lo di utara.” Sambil berkata demikian, pemuda itu dengan penuh selidik menatap wajah kekasihnya.

Sejenak Hui Siang terpukul. Inilah hebat. Kalau begitu, kekasihnya ini adalah seorang mata-mata pemberontak! Betapa beraninya, sudah menggabungkan diri pula dengan Ching-coa-to. Betapa berani, pandai dan sama sekali tidak disangka-sangka. Akan tetapi ia segera menjawab mesra.
“Kau adalah laki-laki pilihanku, kau suamiku. Andaikata kau ternyata seorang utusan dari neraka sekali pun, aku akan tetap menyertai dan membantumu. Aku tidak perduli urusan negara.”

Bun Wan terharu dan merangkul leher Hui Siang. Hatinya mulai besar dan bangga. Tidak keliru dia mencintai gadis ini. Kecantikan Hui Siang luar biasa dan jarang bandingannya. Kepandaiannya lumayan dan ternyata sekarang memiliki kesetiaan pula, “Hui Siang, aku girang mendengar pernyataanmu ini. Ketahuilah, semenjak dahulu aku adalah” keturunan orang-orang pejuang. Kun-lun-pai terkenal sebagai sumber pahlawan-pahlawan pejuang dan dahulu banyak tokoh-tokoh Kun-lun-pai membantu perjuangan mendiang kaisar pendiri Kerajaan Beng. Oleh karena itu, Raja Muda Yung Lo yang menjadi keturunan kaisar menaruh kepercayaan penuh kepada Kun-lun-pai. Sekarang sedang terjadi pergolakan setelah kaisar tua meninggal dunia. Kaisar muda agaknya tidak benar dan Raja Muda Yung Lo merasa lebih berhak untuk menggantikan kedudukan kaisar daripada keponakannya, kaisar muda sekarang ini. Aku dipiiih sebagai orang kepercayaan dan utusan untuk menyelidiki keadaan di selatan dan mengadakan hubungan dengan paman Tan Hok. Sebetulnya aku harus mendapatkan surat wasiat yang kabarnya oleh mendiang kaisar diberikan kepada paman Tan Hok yang sudah meninggal pula. Kuduga surat itu berada di dalam mahkota kuno itu, maka aku ikut pula memperebutkan. Sayang gagal……”

Tiba-tiba pemuda ini berhenti bicara, menarik tangan Hui Siang dan cepat melompat dari tempat yang tadi diduduki itu sambil mengangkat muka memandang ke atas. Hui Siang juga memandang dan……. alangkah kaget hati mereka melihat seorang laki-laki tua berkulit hitam seluruhnya, duduk di atas cabang pohon itu dengan kedua kaki tergantung. Kakek ini sudah tua sekali, wajahnya penuh keriput, pakaiannya sederhana berwarna kuning sehingga kehitaman kulitnya makin nyata. Muka yang hitam itu hampir tidak kelihatan di antara daun-daun pohon, yang tampak jelas hanyalah biji matanya. Kakek tua renta berkulit hitam itu kini terkekeh-kekeh dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah. Kagetlah hati Bun Wan dan Kui Siang ketika melihat betapa kakek itu jatuh seperti sebatang balok. Terpelanting dan kaku dengan kepala lebih dahulu! Akan tetapi, kekagetan hati mereka berubah kagum dan terheran-heran ketika kepala itu mcnyentuh tanah dengan enaknya, sama sekali tidak bersuara seakan-akan kepala yang tenyata gundul pacul itu terbuat daripada karet yang lembek dan lunak. Sejenak kakek itu berjungkir seperti itu, kemudian dia tertawa pula dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas dan kini dia berdiri di atas kedua kakinya.

Kiranya dia seorang yang tinggi dan kulitnya memang hitam semua, memegang sebatang tongkat yang berwarna hitam pula, lucunya, biarpun usianya sudah ada tujuh puluh tahun, namun mulutnya masih bergigi penuh, gigi yang putih berkilau di balik kulitnya yang kehitaman ftu.

“Heh-heh-heh, orang-orang Kun-lun-pai memang semenjak dahulu pemberontak semua! Mendiang Pek Gan Siansu juga pemberontak, cucu-cucu muridnya sekarang juga pemberontak. Heh-heh-heh!”
Bun Wan cukup maklum bahwa kakek hitam ini adalah seorang yang memiliki kesaktian seorang yang berilmu tinggi. Akan tetapi mendengar betapa Kun-lun-pai dicela, betapa kakek gurunya dimaki pemberontak, dia menjadi penasaran dan mendongkol juga. Namun dia mempertahankan kesabarannya dan dengan hormat dia menjura dan bertanya.

“Locianpwe ini siapakah, dan apa dosanya Locianpwe memaki Kun-lun-pai sebagai pemberontak ?”

“Heh-heh-heh, bocah berlagak pahlawan, mana kau tahu namaku. Aku orang biasa saja, bukan pahlawan macam orang-orang Kun-lun-pai, dan aku dipanggil orang Hek Lojin dari Go-bi-san. Heh-heh-heh, kau penasaran karena kukatakan bahwa Pek Gan Siansu dan semua anak murid Kun-lun adalah pemberontak hina? Hemmm, bocah berlagak patriot. Setiap orang yang melawan kekuatan pemerintah yang ada dialah pemberontak!” Dahulu melawan kekuasaan Pemerintah Goan (Mongol), kakek-kakekmu adalah pemberontak. Kau sekarang hendak melawan kekuasaan kaisar yang berkuasa, kau pun pemberontak. Dan akulah orang yang paling benci kepada pemberontak. Hayo kalian berdua pemberontak cilik ini menyerah, menjadi tawananku dan kubawa ke kota raja.”

Sekarang Bun Wan marah sekali. Dia memang tidak pernah mendengar nama Hek Lojin, karena memang tokoh sakti dari Go-bi-san ini jarang muncul di dunia kang-ouw dan sudah mengasingkan diri. Biarpun dia tahu bahwa yang dia hadapi adalah seorang sakti, mana dia sudi dijadikan tawanan ?

Sementara itu, Hui Siang sudah tidak dapat menahan kemarahannya karena kekasihnya dimaki-maki. Ia seorang gadis manja yang selalu mengandalkan kepandaian sendiri. Begitu melihat gelagat tidak baik, diam-diam ia sudah menyiapkan jarum-jarum beracun, senjata rahasia yang amat diandalkan karena mengandung racun ular di Ching-coa-to. Jarum ini amatlah ganas dan jahat, sedikit saja mengenai kulit lawan tentu akan mengancam keselamatan nyawanya.

“Kakek hitam sombong, makanlah ini!” bentaknya dan sekali kedua tangannya bergerak, puluhan batang jarum melesat keluar dari kedua tangannya, menyerang tubuh kakek itu dari kepala sampai kakinya.

“Ihh, ilmu keji !” Tiba-tiba kakek itu lenyap dari situ, kiranya dia tadi menggunakan tongkat hitamnya untuk menjejak tanah sehingga tubuhnya melesat ke atas, tangan kirinya menyambar beberapa barang jarum dan dari tengah udara dia berseru, “Nih, kau makan sendiri jarum-jarum racunmu!”

Bukan main kagetnya hati Hui Siang ketika serangkum hawa yang amat dahsyat menyambarnya. Ia dapat menduga bahwa itulah pukulan jarak jauh yang amat kuat, pula disertai sambitan jarum-jarumnya sendiri. Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, namun terlambat, masih ada tiga batang jarum dengan tepat sekali menancap di atas dadanya. Gadis itu menjerit dan roboh, tak berkutik lagi karena seketika ia menjadi pingsan.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Bun Wan. Dia mengira bahwa kekasihnya sudah terpukul tewas, maka sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menerjang kakek itu dengan pedangnya. Hek Lojin tertawa bergelak, melayani pedang Bun Wan dengan tongkat hitamnya yang ternyata amat kuat dan setiap kali bertemu pedang, Bun Wan merasa betapa tangannya tergetar dan sakit-sakit. Namun kemarahannya melihat Hui Siang roboh membuat dia menjadi nekat dan dengan kemarahan meluap-luap dia mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut dan menyerang sepenuh tenaga.

“Bagus!! Kun-lun Kiam-sut ternyata masih ampuh. Akan tetapi melawan aku si tua bangka dari Go-bi, tiada artinya, heh-heh-heh!”

Memang sesungguhnyalah, Bun Wan merasa betapa sinar pedangnya yang dia dorong dengan sepenuh semangatnya, seakan-akan menghadapi benteng hitam dari tongkat itu, malah beberapa kali membalik dengan keras sehingga pedang itu hampir terlepas dari pegangannya. Setelah lewat tiga puluh jurus, dia menjadi pening karena benteng hitam itu makin melebar dan makin mendesak sehingga akhirnya mengurungnya, membuat pandang matanya gelap dan bayangan kakek itu sendiri sudah lenyap tertelan gulungan sinar hitam. Akhirnya dia tidak tahu lagi di mana adanya kakek itu dan tahu-tahu tengkuknya telah kena tampar tangan kiri kakek itu. Perlahan saja tamparan itu, namun cukup membuat Bun Wan berteriak keras, terguling roboh pingsan di dekat tubuh Hui Siang yang juga belum dapat bergerak sama sekali.

“Heh-heh-heh, segala pemberontak hijau. Biarlah mati di sini, tidak perlu kubawa lagi, membikin repot saja.” Sambil berkata demikian, Hek Lojin menyeret tongkat hitamnya yang panjang, hendak pergi dari tempat itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar lengking panjang yang memekakkan telinga, dari atas datangnya. Dia kaget dan cepat berdongak. Mulutnya yang hitam melongo terbuka, matanya terbelalak ketika dia melihat seekor burung rajawali emas yang besar sekali menukik ke bawah ditungganggi oleh seorang laki-laki muda yang agaknya buta kedua matanya.

“Kim-tiauw-ko, jangan serang orang!” Kun Hong, pemuda yang menunggang rajawali emas itu, berseru ketika mendengar gerakan kim-tiauw, dan dia pun melompat turun ke atas tanah. Seperti kita ketahui, selama beberapa hari ini Kun Hong berada di dalam hutan bersama-sama kim-tiauw, menghibur diri dan kadang-kadang dia menunggang punggung burung itu dan menyuruhnya terbang berputaran di atas hutan. Pagi hari itu, entah mengapa kim-tiauw menukik ke bawah dan kiranya hendak menyerang orang, maka cepat dia mencegahnya dan meloncat ke atas tanah karena hidungnya mencium bau daun dan tanah, tanda bahwa burung itu sudah turun dan mendekati tanah.

Namun burung rajawali emas itu tetap saja marah-marah, memekik-mekik dan mengeluarkan suara melengking tinggi, siap untuk menyerang Hek Lo jin yang sudah hilang kagetnya dan kini kakek itulah yang berbalik menjadi marah. Dia adalah seorang sakti, biasanya ditakuti orang. Melihat mukanya yang hitam saja, orang-orang sudah pada takut, apalagi menyaksikan sepak terjangnya yang sakti. Kini ada seorang bocah buta dan burung rajawali datang-datang menimbulkan kekagetannya, tentu saja dia marah.

“Burung keparat, kau kira kau ini luar biasa gagahnya maka berani membikin kaget Hek Lojin. Apa kau sudah bosan Keparat!”

Rajawali emas adalah seekor burung sakti, yang sudah banyak bergaul dengan orang-orang sakti. Andaikata dia tidak dapat menangkap ucapan kakek itu, setidaknya, dia dapat merasa bahwa kakek, itu marah dan memaki-maki serta menantangnya. Maka dia pun lalu membuka sepasang sayapnya, matanya memandang berapi-api, siap untuk menerjang. Mulutnya mengeluarkan pekik tantangan mengagetkan Kun Hong.

“Kim-tiauw-ko, sabarlah. Locianpwe, harap suka mengalah terhadap burung sahabat baikku ini…….”

“Burung jahat ini harus dibunuh, kalau tidak hanya akan mendatangkan kekacauan belaka!” Hek Lojin yang merasa ditantang oleh burung itu, sudah menggerakkan tongkatnya memukul. Hebat pukulan ini, mendatangkan angin berdesir, agaknya dia hendak menewaskan burung itu sekali pukul! Rajawali emas itu agaknya tahu pula akan kehebatan pukulan ini, maka dia cepat melejit dan mengelak, Kun Hong yang dapat menangkap angin pukulan, dia terkejut bukan main, maklum bahwa kakek yang berangasan ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, bukan lawan burungnya. Tahu pula bahwa kakek itu benar-benar hendak membinasakan rajawali maka cepat dia menjura dan berkata,

“Locianpwe, sudahlah. Biarlah aku yang mintakan maaf kalau burungku bersalah, dan biarlah kami pergi tidak mengganggumu lagi.”

Akan tetapi Hek Lojin sudah semakin panas perutnya. Dia seorang ahli silat kelas tinggi, seorang yang kesaktiannya sudah menggemparkan Go-bi-san, masa sekarang sekali pukul tidak dapat mengenai tubuh burung celaka itu? Apalagi melihat kini kim-tiauw lincak-lincak (berloncatan) seakan-akan mengejek, hawa amarah sudah naik ke ubun-ubunnya.

“Burung iblis, mampuslah!” Tongkatnya kini diputar cepat dan sekali terjang dia sudah mengirim belasan jurus. Kagetlah Kun Hong. Lebih kaget lagi burung itu sendiri, karena biarpun dia sudah mengibaskan sayap, sudah mengelak dan menangkis dengan cakarnya, namun tetap saja punggungnya terkena gebukan satu kali, membuat dia terlempar beberapa meter dan banyak bulunya yang kuning emas rontok. Akan tetapi dasar burung sakti, pukulan itu biarpun mendatangkan rasa nyeri, namun tidak melukainya. Hai ini membuat Hek Lojin kaget dan heran, akan tetapi malah makin marah.

Ketika dia menerjang lagi, ternyata Kun Hong sudah berdiri menghadangnya. Pemuda ini maklum bahwa burungnya tidak mungkin dapat melawan kakek ini dan kalau dia diamkan saja, berbahayalah bagi kim-tiauw.

“Locianpwe, sekali lagi, harap kau suka maafkan kami. Di antara kita tidak ada permusuhan, maka untuk apakah urusan kecil ini dibesar-besarkan dan pertempuran yang tidak ada gunanya dilanjutkan?”

Melihat sikap pemuda buta ini, Hek Lojin menahan kemarahannya. Dia dapat menduga bahwa kalau burungnya demikian hebat, pemiliknya tentu bukan orang lemah pula. Hanya saja orang ini masih sangat muda, apalagi buta, kepandaian apakah yang dimilikinya? Maka dia memandang rendah dan berkata, “Kalau kau pemiliknya dan mintakan maaf, aku mau memberi ampun asal kau bisa menyuruh dia berlutut dan mengangguk tujuh kali di depanku untuk minta ampun.”

Kun Hong kaget dan bingung. Dia cukup mengenal watak kim-tiauw. Burung itu angkuh sekali, mana sudi merendahkan diri dan berlutut minta ampun seperti itu? Tidak mungkin!

“Menyesal sekali, hal itu tidak mungkin dapat kulakukan, Locianpwe, karena burung itu tidak pernah diajar berlutut, tentu tidak bisa dan tidak mengerti kalau kusuruh berlutut.” Dalam hal ini Kun Hong membohong, karena kalau dia mau, burung itu akan melakukan ini dengan amat mudahnya. Soalnya, burung itu tentu tidak sudi berlutut di depan orang ,tua galak ini.

“Hemm, burungnya jahat dan sombong, pemiliknya amat baik,” kakek itu menggerutu. “Sudahlah, kalau dia tidak bisa disuruh berlutut, biar kau yang mewakili juga tidak apa.”

Hebat kesombongan Kakek ini. Akan tetapi, memang pada dasarnya Kun Hong adalah seorang yang amat penyabar dan luas pandangannya. Apa salahnya berlutut di depan seorang kakek yang memiliki kepandaian tinggi ini, pikirnya. Kalau dia tidak mau memenuhi permintaan ini tentulah terjadi pertempuran hebat yang sama sekali tidak ada sebabnya, pertempuran yang tiada gunanya. Maka dia tersenyum dan segera menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala tujuh kali.

Kakek itu girang dan agaknya hendak menguji kelihaian Kun Hong karena dia segera mengangkat sebelah kakinya dan dilayangkan ke atas kepala Kun Hong. Penghinaan yang hebat! Kun Hong menggigit bibirnya karena biarpun matanya buta, tentu saja telinganya dapat menangkap gerakan ini dan kalau dia mau, sekali menggerakkan tangan tentu dia mampu merobohkan kakek sombong itu ketika si kakek melakukan gerakan yang menghina dan juga berbahaya bagi diri kakek itu sendiri. Dia pura-pura tidak tahu dan kakek itu tertawa bergelak-gelak sambil menyeret tongkatnya, pergi dari situ. Masih terdengar suaranya dari jauh terkekeh-kekeh dan berkata,

“Ajaib sekali, burung demikian kuatnya memiliki majikan begitu lemah, heh-heh-heh!”

Setelah suara kakek itu tidak terdengar lagi, Kun Hong bangkit dan menggerutu, “Berbahaya sekali…….” Dia maksudkan berbahaya kalau dia tidak mampu mempertahankan kesabarannya tadi, tentu akan terjadi pertempuran hebat karena dia dapat menduga bahwa ilmu kepandaian kakek itu memang amat tinggi.

“Kim-tiauw-ko, kenapa kau mencari gara-gara?” Dia menegur burung itu, Burung rajawali meloncat ke dekatnya, menyambar ujung lengan bajunya dan dengan suara menggerang panjang burung itu menariknya dari situ. Kun Hong heran dan mengikuti. Burung itu berhenti dan menarik dia supaya berjongkok. Dengan hati mengandung penuh pertanyaan Kun Hong berjongkok, tangannya meraba dan……. jari-jari tangannya menyentuh tubuh seorang laki-laki yang pingsan dan menderita luka dalam yang hebat. Tangannya meraba lagi ke kiri dan……. kali ini menyentuh tubuh seorang wanita. Dia berseru kaget karena wanita ini malah lebih hebat lagi keadaannya. Tubuhnya panas membara seperti terbakar, napasnya sesak, tanda bahwa ia menderita luka yang hampir mencabut nyawanya.

“Celaka……. ah, kim-tiauw-ko, kiranya aku benar-benar buta!” Dia menyumpahi diri sendiri karena sekarang mengertilah dia bahwa burung itu tadi menyerang seorang kakek yang baru saja merobohkan dua orang muda secara ganas dan keji!

Cepat dia memeriksa laki-laki itu. Tahu bahwa laki-laki itu menderita pukulan dengan tenaga Iweekang yang hebat pada punggungnya, dia cepat mengurut dan menotok bebprapa jalan darah. Hatinya lega karena dia mendapat kenyataan bahwa orang ini tidak berbahaya lagi sekarang keadaannya. Dia cepat mengalihkan perhatian pada wanita itu.

Hatinya berdebar karena sungkan dan ragu ketika jari-jari tangannya meraba tubuh seorang wanita yang masih muda. Apalagi setelah dia melakukan pemeriksaan teliti, dia mendapat kenyataan bahwa wanita ini terkena senjata rahasia halus di dadanya dan berada dalam keadaan yang membahayakan keselamatan nyawanya. Dia bingung dan ragu.

“Apa boleh buat, demi menolong nyawanya.” Akhirnya dia menggerutu seorang diri. Cepat diturunkannya buntalannya dan digeledahnya saku-saku bajunya, lalu dia mengeluarkan sebatang jarum perak. Tanpa ragu-ragu lagi karena maklum bahwa kelambatan akan berbahaya bagi wanita ini, dia lalu merobek baju wanita itu di bagian dadanya. Rabaan jari-jari tangannya menyatakan bahwa kulit dada itu ditembusi tiga batang jarum kecil yang rupanya mengandung bisa yang mendatangkan hawa panas.

“Hemmm, agaknya racun ular,” gumamnya sendiri setelah dia memencet luka itu, mengeluarkan sedikit darah dan diciumnya darah di jarinya. Cepat dia mengerahkan kepandaiannya, menusuki beberapa jalan darah dengan jarum peraknya untuk mencegah racun itu menjalar. Dari detak jantung dia mendapat kenyataan yang menimbulkan harapan bahwa racun itu belum menjalar sampai ke dalam jantung. Pada tusukan terakhir di dekat leher, tubuh wanita itu bergerak dan terdengar ia mengeluh perlahan sekali, akan tetapi disusul suaranya penuh kekagetan,

“Aduhhhh……. tua bangka keparat……. eh……. heeeee, siapa kau, lepaskan aku……!”

Berdebar jantung Kun Hong karena telinganya serasa mengenal suara ini, akan tetapi dia lupa lagi siapa dan di mana. “Tenanglah, Nona, aku berusaha mengobatimu,” katanya dengan suara dingin dan halus.

“Kau…….? Ah, kau……. Kwa Kun Hong Pendekar buta…….”

Kini teringatlah Kun Hong. Kiranya nona ini adalah Giam Hui Siang, “siocia” yang amat galak dari Ching-coa-to. Kalau begitu, apakah laki-laki yang pingsan ini pemuda Kun-lun-pai, Bun Wan itu? Ah, apa bedanya ? Hal itu tidak penting baginya, yang penting hanya bahwa dia harus mengobati dua orang yang terancam bahaya maut ini, siapa pun juga mereka.

“Harap kau diam, jangan bergerak, Nona. Kau telah terkena senjata rahasia yang mengandung racun ular,biar kukeluarkan tiga batang jarum ini.”

Hui Siang mengeluh, akan tetapi ia benar-benar tidak bergerak sekarang. Kedua tangannya ia pergunakan untuk menutupi mukanya karena biarpun ia tahu bahwa Kun Hong adalah seorang buta dan tidak dapat melihatnya, namun sebagai seorang gadis tentu saja ia menjadi jengah dan malu sekali karena bajunya terobek seperti itu dan Kun Hong meraba-raba kulit tubuh bagian dada!

Karena maklum bahwa dia berlomba dengan waktu untuk menolong gadis ini, Kun Hong lalu mengerahkan tenaga Iweekangnya, menggunakan hawa sinkang disalurkan ke telapak tangan, kemudian telapak tangannya dia tempelkan ke atas luka-luka di dada itu dengan tenaga “menyedot”. Dia menekan perasaan hatinya untuk melupakan perasaan tangannya yang meraba bagian tubuh yang dirahasiakan itu, membekukan perasaan ini dengan keyakinan bahwa dia tidak memiliki kehendak lain kecuali sebagai ahli obat hendak menolong nyawa seseorang.

Usahanya berhasil baik. Tiga batang jarum yang sudah menancap sampai tidak kelihatan lagi di dalam dada itu, kini tersembul dan sempat Kun Hong menjepit dan mencabuti keluar ketiganya. Akan tetapi tidak ada darah mengucur keluar. Kagetlah Kun Hong. Hal ini hanya menjadi bukti bahwa racun itu telah bekerja, darah telah membeku dan tidak dapat keluar karena tertutup oleh gumpalan darah matang yang kotor oleh racun. Kalau saja dia bisa mendapatkan beberapa macam daun obat yang mempunyai sifat menghisap, nona ini akan cepat tertolong. Akan tetapi dia tidak mempunyai daun itu dan untuk mencarinya, tidaklah mudah, apalagi dia seorang buta.

“Nona, kau maafkanlah aku, tidak ada jalan lain mengeluarkan racun dari dalam luka di dadamu kecuali dihisap dengan mulut. Kau diam sajalah, tidak lama tentu sembuh.” Terpaksa sekali, tanpa memperdulikan apa-apa lagi karena khawatir kalau-kalau racun akan makin meresap ke dalam, Kun Hong menundukkan mukanya dan menggunakan mulutnya menyedot luka-luka di dada itu sambil mengerahkan tenaga sinkang. Andaikata seorang biasa yang melakukan hal ini, kiranya akan makan waktu lama sekali. Akan tetapi Kun Hong bukanlah orang biasa, tenaga sinkangnya hebat sekali sehingga sekali sedot saja dia sudah menghisap bersih racun pada satu luka. Setelah meludahkan darah segar sudah mulai keluar dari luka kecil pertama itu, dia menyedot luka ke dua, kemudian ke tiga.

Dapat dibayangkan betapa jengah dan malunya Hui Siang. Tentu saja ia mengenal kehebatan jarum-jarumnya sendiri dan andaikata ia membekal obat penawarnya, tentu ia tidak sudi diobati secara demikian oleh Kun Hong. Akan tetapi apa daya, ia lupa membawa obat bekalnya, dan ia pun tahu bahwa jalan satu-satunya untuk menolongnya memang seperti yang dilakukan Kun Hong itulah. Teringat ia akan keadaan cici angkatnya dahulu ketika diobati oleh Kun Kong dan hatinya tertusuk. Mulailah timbul penyesalannya akan sikap-sikapnya dahulu terhadap Hui Kauw dan Kun Hong. Pendekar Buta ini kiranya benar-benar seorang manusia yang berbudi luhur, yang mengobati siapa saja tanpa pamrih sesuatu. Buktinya, sebelum ia sadar, tentu si buta ini tidak mengenalnya siapa. Betapapun juga, merasa betapa muka dan mulut orang buta itu menempel pada dadanya, Hui Siang tidak dapat menahan rasa malunya dan ia menutupi muka dengan kedua tangan, mukanya yang tadinya pucat sekarang menjadi merah seperti udang rebus.

Ketika Kun Hong sedang menghisap luka ke tiga atau yang terakhir, dan tubuhnya sedang berlutut itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan……. sebuah tendangan kilat yang amat kuat membuat tubuh Kun Hong terlempar beberapa meter jauhnya dan jatuh terguling-guling. Baiknya Kun Hong keburu mengerahkan Iweekangnya sehingga dia tidak terluka, hanya terlempar dan bergulingan saja. Tadi dia hanya mendengar bentakan itu, akan tetapi karena seluruh perhatian sedang ditujukan kepada pengobatan, sedang sinkangnya pun sedang disalurkan kepada mulut yang menyedot, dia tidak sempat membela diri.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: