Pendekar Buta ~ Jilid 30

Hek Lojin nampak uring-uringan. “Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!” Setelah berkata demikian, kakek hitam ini melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.

Demikianlah, dengan hati marah.Hek Lojin keluar dari kota raja untuk mengejar Kun Hong. Dia hendak membuktikan kesanggupannya, hendak membuktikan omongannya. Dia yakin bahwa dengan mudah dia akan dapat membunuh burung rajawali dan lebih mudah lagi menawan pemberontak buta yang sudah amat takut terhadapnya itu. Karena mendongkol kepada sutenya yang menjadi tosu, mendongkol pula kepada Bhok Hwesio, maka di sepanjang jalan dia menyanyikan sajak-sajak Agama To dan Buddha sambil mengejek dan kebetulan sekali dia bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng.

Suami isteri muda itu menjadi marah sekali setelah mendengar bahwa kakek ini memusuhi Kun Hong. Setelah mereka berdua serentak maju menyerang menggunakan pedang mereka, barulah Hek Lojin menjadi kaget. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ilmu pedang kedua orang muda ini begitu hebat, menyambar-nyambar seperti sepasang burung garuda sakti. Gaya permainan kedua suami isteri itu jauh berbeda dan inilah yang membuat dia terheran dan kagum. Jelas bahwa suami isteri ini memiliki ilmu pedang dari dua macam sumber yang sama tingginya. Kalau tadinya Hek Lojin bersikap main-main dan bermaksud melayani kedua orang itu dengan memandang rendah, kini dia bersungguh-sungguh. Cepat dia pun menggerakkan tongkat hitam yang panjang itu, sekaligus menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya. Sekali bertemu senjata, baik Li Eng maupun Kong Bu terkejut karena tenaga kakek hitam ini benar-benar dahsyat bukan main. Hampir saja pedang mereka terlempar ketika beradu dengan tongkat hitam panjang. Mereka berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa apabila pertempuran diandalkan tenaga, mereka akan kalah jauh.

Di laln fihak, kakek itu pun kagum ketika pada pertemuan pertama antara senjata mereka tadi, dia masih belum mampu memukul jatuh pedang-pedang lawan. Ini saja menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya yang masih amat muda-muda itu benar-benar murid-murid orang sakti. Kiranya dalam hal kepandaian, suami isteri ini setingkat dengan muridnya, The Sun. Padahal, tadinya dia mengira bahwa di dunia ini belum tentu dapat dicari keduanya seorang muda dengan kepandaian setingkat muridnya itu.

Pertempuran itu berjalan cepat sekali. Dua puluh jurus telah lewat dan masih saja mereka bertempur mempergunakan kecepataan, suami isteri itu memang sengaja mengerahkan ginkang dan hendak mencari kemenangan mempergunakan kelincahan. Siapa kira, kakek hitam itu pun ternyata seorang ahli ginkang yang hebat sehingga ketika kakek ini menandingi mereka, maka bayangan tiga orang itu lenyap terbungkus sinar senjata. Tiba-tiba Hek Lojin tertawa. Setelah dua puluh jurus, barulah dia mengenal ilmu pedang Li Eng. Kiranya ilmu pedang wanita muda ini adalah Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat. Akan tetapi baru sekarang dia menghadapi ilmu pedang Hoa-san-pai yang sehebat ilmu pedang yang dulu dimainkan oleh mendiang Lian Bu Tojin tokoh Hoa-san-pai yang mengasingkan diri.

Ia tidak tahu bahwa memang orang tua Li Eng adalah murid Lian Ti Tojin yang telah mewariskan ilmu pedangnya kepada mereka.

“Wah, kau masih apanya Lian Ti Tojin dari Hoa-san-pai?” Kakek itu sempat menegur dengan gembira. “Dan kau ini bocah, dari mana kau memperoleh ilmu pedang aneh ini!” tegurnya kepada Kong Bu.
Li Eng kaget juga mendengar disebutnya kakek gurunya yang memang menjadi pewaris ilmu pedangnya. Adapun Kong Bu yang ingin menggertak segera menjawab, “Kakekku Song-bun-kwi yang mengajar kepadaku!”

“Wuuuuuttttt…tranggggg……. !” Tidak dapat dihindarkan lagi, pedang Kong Bu bertemu dengan tongkat, sedangkan Li Eng dapat cepat mengelak. Kong Bu merasa betapa telapak tangannya seperti dibakar, maka cepat-cepat dia mengerahkan Iweekang untuk melawan hawa itu. Kakek itu sudah berdiri tertawa dan tongkatnya berdiri pula di depannya.

“Ha-ha-ha-heh-heh-heh, kiranya kau cucu setan bangkotan itu? Ha-ha-ha, ketika kakekmu masih muda, pernah dia bertekuk lutut di depan kakiku, tahukah kau? Ha-ha-ha, Song-bun-kwi, dahulu kau kalah, sekarang kau mewakilkan kepada cucumu untuk menderita kekalahan kedua kalinya. Dan Lian Ti Tojin, dulu belum sanggup mengalahkan aku, apalagi sekarang bocah perempuan yang mengandung ini, heh-heh-heh!”

“Sombong!!” Li Eng dan Kong Bu berteriak hampir berbareng. Mereka berdua marah sekali mendengar ejekan-ejekan dan hinaan ini. Betapapun juga, tadi mereka belum kalah, malah belum terdesak hanya baru kalah tenaga saja. Mereka tidak takut dan setelah berteriak demikian, keduanya menyerbu lagi mengirimi serangan-serangan maut.

Akan tetapi sekarang kakek itu mengubah gerakannya. Tongkatnya yang panjang itu terputar seperti kitiran angin, cepat dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat. Cara kakek itu menyerang bukan seperti ilmu silat lagi, melainkan seperti sebuah kitiran angin besar yang tiada hentinya berputar dan menerjang mereka dengan kekuatan yang dahsyat !

Kong Bu dan Li Eng adalah keturunan orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi mereka ini ketinggalan jauh kalau dibanding dengan kakek ini dalam hal pengalaman bertempur. Menghadapi cara bertempur kakek ini, mereka menjadi repot dan bingung. Berusaha menangkis dengan pedang, akan tetapi setiap kali bertemu tongkat, pedang mereka terpental dan mereka terpaksa meloncat ke sana ke mari agar jangan terkena sambaran tongkat yang luar biasa itu. Sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang!

Tiba-tiba, seperti juga mulainya, kakek itu menghentikan pemutaran tongkatnya dan bersilat lagi, malah seperti sengaja memberi lowongan-lowongan kepada dua orang lawannya. Girang hati Kong Bu dan Li Eng melihat ini, mengira bahwa kakek itu tentu lelah memutar tongkat seperti itu dan kini hendak beristirahat dan bersilat biasa. Kesempatan baik ini mereka pergunakan dan cepat mereka menyerbu, membalas dengan serangan-serangan maut yang amat berbahaya.

Mendadak kakek itu berseru keras dan tongkatnya kembali diputar secara tiba-tiba dan tidak terduga. Terdengar suara “trang-trang!” keras sekali dan tidak dapat dicegah lagi pedang Kong Bu dan Li Eng terpental, terlepas dari pegangan. Pedang Kong Bu melesat ke kanan dan pedang Li Eng melesat ke kiri, menancap sampai amblas sebatas gagang pada tanah beberapa meter jauhnya!

“Ha-ha-ha-he-he-he, baru kenal kelihaianku, ya?” Kakek itu mengejek dan kembali tongkatnya berputaran menerjang suami isteri yang sudah tidak bersenjata lagi itu! Namun dua orang muda itu bukanlah orang-orang lemah, biarpun mereka sudah tidak bersenjata lagi, tidaklah mudah merobohkan mereka.

Biarpun tongkat itu berputar seperti kitiran, namun tubuh mereka melesat dan menyelinap di antara bayangan tongkat, ginkang mereka amat hebatnya sehingga tubuh mereka seakan-akan bayang-bayang yang sukar dipukul tongkat.

“Bagus, bagus……. ! Orang-orang muda cukup mengagumkan……. ha-ha, tetapi harus roboh oleh Hek Lojin!” Kakek itu menerjang terus, kini dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh. Memang hebat ilmu tongkat kakek ini. Tongkat yang diputar oleh kedua tangannya itu, kadang-kadang-kadang bisa dioper dengan tangan kanan saja, malah ada kalanya tongkat berputar cepat mendesing ke atas, dilepas oleh kedua tangan yang melakukan pukulan-pukulan ke depan dan tongkat itu tanpa dipegang lagi terus berputaran di atas kepala, dan disambut lagi dengan enaknya.

Payah juga Kong Bu dan Li Eng menghadapi penyerangan kakek kosen. Mereka sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri karena tidak sanggup melawan lagi, akan tetapi tiba-tiba kakek itu membentak keras, tongkatnya melayang dan menyerang kedua orang muda itu tanpa dia pegang, sedangkan tubuhnya mengikuti tongkatnya, kedua tangannya melakukan tamparan-tamparan disertai tenaga Iweekang.

Melihat Li Eng terpeleset ketika mengelak tongkat dan terdorong angin pukulan lawan, Kong Bu kaget, cepat dia menghadang desakan kakek itu. Dengan mengerahkan tenaga dia menangkis dengan tangan kiri. “Krakkk” lengannya patah ketika bertemu dengan tangan si kakek, dan sebuah tendangan membuat Li Eng terjungkal! Kong Bu marah bukan main, dengan nekat dia, menggunakan tangan kanannya menerjang, tetapi dia pun harus terjungkal ketika kakek itu mendarong dengan kedua tangannya dari samping.

Kepalanya pening sekali, namun Kong Bu masih dapat melompat ke tempat di mana isterinya roboh. Dengan tubuhnya dia melindungi Li Eng, siap mengadu nyawa dengan kakek sakti itu. Hek Lojin meringis, terkekeh-kekeh dan menghampiri dua orang itu sambil menyeret tongkatnya.

Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, suara seperti orang menangis terdengar dari jauh. Mendengar ini, Kong Bu kaget dan juga girang, lalu dia mengerahkan khikang dan mengeluarkan teriakan panjang pula yang bergema di seluruh hutan.

Kakek itu berhenti, menengadah lalu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-heh-heh-heh, itu si tua bangka Song-bun-kwi agaknya! Ha-ha-ha, biar dia datang sekalian kubereskan!”

Bayangan putih berkelebat dan benar saja, di situ telah berdiri Song-bun-kwi Kwee Lun dengan sikapnya yang garang! Melihat betapa kedua suami isteri itu rebah di bawah pohon, kemarahannya memuncak. Dengan sepasang mata seperti berapi-api dia memandang kakek hitam itu lalu memaki,

“Keparat jahanam si tua bangka Hek Lojin! Jadi kau belum mampus? Berpuluh tahun kucari, kau mengumpet, bersembunyi. Sekarang sudah tua bangka mau mampus berani muncul mengantarkan nyawa! Mengapa kau tidak langsung mencariku, tua sama tua, melainkan mengganggu anak-anak muda? Tidak tahu malu!”

“Heh-heh-heh, Song-bun-kwi, bagus sekali kau sendiri datang, kau mbahnya (kakeknya) pemberontak! Kau mengajar anak-anak menjadi pemberontak, ya? Dasar iblis! Bagus kau sudah datang, dulu kau pernah kalah tetapi belum mampus, biar sekarang kutamatkan riwayatmu!”

Dua orang kakek itu sudah mulai bertempur sebelum ucapan ini habis. Song-bun-kwi sudah mengeluarkan suling dan pedangnya, menerjang dengan ilmu pedangnya yang paling dia andalkan, yaitu Yang-sin Kiam-sut, sedangkan sulingnya juga mainkan ilmu silatnya sendiri yang luar biasa. Hek Lojin maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maklum pula bahwa semenjak kekalahannya puluhan tahun yang lalu, tentu Song-bun-kwi telah mempersiapkan diri dan telah mendapatkan ilmu-ilmu baru. Begitu merasai hawa panas dari pedang kakek Song-bun-kwi, dia terkejut dan cepat dia memutar tongkatnya.

Sebaliknya Song-bun-kwi juga cukup mengenal Hek Lojin. Empat puluh tahun yang lalu memang dia pernah bertemu dengan kakek hitam itu dan dalam pertandingan yang hebat, dia telah dilukai dan terpaksa dia mengaku kalah. Semenjak itu, tidak pernah lagi dia bertemu dengan Hek Lojin yang memang mengasingkan diri karena terlalu banyak musuh. Sekarang, tidak disangka-sangka dia bertemu dengan musuh lamanya, tentu saja dia lalu ngepia (berusaha sungguh-sungguh) untuk membalas kekalahannya puluhan tahun yang lalu.

Sesungguhnya Hek Lojin masih belasan tahun lebih tua daripada Song-bun-kwi, termasuk tokoh lama yang sudah tua sekali. Akan tetapi karena kakek ini memang luar biasa dan hidup di alam terbuka jauh daripada dunia ramai, agaknya dia memiliki kekuatan yang lebih daripada manusia biasa. Selain tenaganya tidak normal, juga kepandaiannya aneh dan bersifat liar dan ganas. Memang dia mempunyai banyak ilmu silat yang dikenal di dunia kang-ouw sebagai ilmu-ilmu silat kelas tinggi, seperti yang dia turunkan kepada The Sun. Akan tetapi di samping ini, dia masih memiliki ilmu berkelahi yang hanya dia miliki sendiri dan yang jarang dia pergunakan di dalam pertempuran dan tidak pernah dia turunkan kepada siapa pun juga. Ilmu ini adalah ilmu berkelahi yang menyimpang daripada ilmu silat yang timbul dari perasaan dan naluri, seperti ilmu berkelahi yang dimiliki para binatang buas di dalam hutan. Oleh karena itu, tadi ketika dia memutar-mutar tongkatnya secara liar, Kong Bu dan Li Eng yang tidak biasa menghadapi ilmu berkelahi seperti ini menjadi kebingungan dan mudah dikalahkan. Sekarang, menghadapi Song-bun-kwi, kakek hitam ini berlaku amat hati-hati dan karenanya dia malah tidak mau ngawur seperti tadi, melainkan menggunakan jurus-jurus ilmu silatnya yang beraneka ragam dan rata-rata dari tingkat tinggi itu.

Hebat pertandingan ini. Tenaga Iwee-kang Hek Lojin sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya. Akan tetapi kali ini dia menemukan tandingan, karena Song-bun-kwi adalah seorang kakek yang dijuluki iblis dan nama julukan Song-bun-kwi saja artinya Setan Berkabung! Biarpun Song-bun-kwi diam-diam harus mengakui bahwa dia masih belum dapat menandingi tenaga kakek tenaga dalam kakek hitam itu, namun setidaknya tingkatnya tidak kalah jauh seperti ketika tadi kakek itu menghadapi Kong Bu dan Li Eng.

Sebetulnya Hek Lojin adalah seorang ahli agama, oleh karena itulah maka tadi Kong Bu dan Li Eng mendengar nyanyian-nyanyian agama yang merupakan ayat-ayat suci daripada Agama Buddha dan Agama To. Akan tetapi, agama-agama pada waktu itu banyak disalahgunakan orang. Banyaklah kaum persilatan yang mempelajari agama bukan karena pelajaran hidupnya yang baik, bukan karena untuk mencari jalan pendekatan dengan Tuhan, melainkan mereka ini bermaksud untuk mengambil bagian-bagian mistik dan gaib daripada agama itu. Oleh karena inilah maka timbul banyak aliran yang mempergunakan agama itu untuk mempelajari segala macam ilmu gaib yang mereka gabungkan dengan ilmu silat sehingga terkenallah ilmu-ilmu silat yang disebut ilmu silat hitam. Demikian pula, tenaga mujijat yang dimiliki kakek hitam itu bukan semata-mata tenaga sinkang murni dari dalam tubuh yang memang dimiliki oleh semua orang, akan tetapi juga diperkuat oleh tenaga dari ilmu hitam yang dia dapatkan dengan cara bermacam-macam dan amat mengerikan.

Kong Bu dan Li Eng melihat pertempuran ini dengan hati khawatir. Apalagi setelah pertandingan itu berlangsung seratus jurus lebih, mereka merasa gelisah sekali karena tampak oleh mereka betapa keadaan Song-bun-kwi mulai terdesak. Kong Bu ingin membantu kakeknya namun tidak mungkin dia dapat bertempur dengan tangan kiri patah tulangnya dan dadanya masih sesak oleh tenaga dorongan kakek itu. Juga Li Eng sudah terluka, pahanya terkena tendangan dan terasa sakit sekali.
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan hebat dan suara nyaring beradunya senjata-senjata kedua kakek itu. Kiranya mereka telah menggunakan seluruh tenaga untuk mengadu senjata. Akibatnya, suling remuk pedang patah, akan tetapi tongkat hitam itu pun terlempar jatuh sampai beberapa meter jauhnya! Kedua orang kakek itu tertawa saling mengejek, lalu pertandingan dilanjutkan dengan dua pasang tangan kosong. Akan tetapi, sambaran angin pukulan kedua fihak membuktikan bahwa pertandingan tangan kosong ini tidak kalah, hebatnya daripada pertandingan dengan senjata tadi. Setiap pukulan yang dilancarkan adalah pukulan maut yang mengandung hawa pukulan dahsyat. Angin pukulan bersiutan, membuat daun-daun pohon di sekelilingnya rontok dan debu berhamburan dari kedua kaki mereka.

Dalam pertempuran ini, lebih-lebih lagi Song-bun-kwi terdesak. Dengan penggunaan senjata, dia masih dapat mengimbangi lawannya, akan tetapi pertandingan dengan tangan kosong semata-mata mengandalkan kecepatan gerak dan besarnya tenaga dalam. Dalam kecepatan, Song-bun-kwi sebanding dengan lawannya, namun dalam hal tenaga, karena lawannya mempunyai tenaga mujijat, dia terpaksa harus mengakui bahwa tiap kali tangannya bertemu dengan tangan lawan, jantungnya terasa sakit seperti ditusuk!

Namun, kakek ini tidak akan mendapat julukan iblis Song-bun-kwi kalau dia mau mengaku kalah. Dengan semangat menyala-nyala, Song-bun-kwi nekat terus menerjang dengan pengerahan seluruh tenaga dan gerakan-gerakannya makin cepat saja. Kakek hitam tertawa-tawa melayani dan dalam sekejap mata kedua kakek itu lenyap terbungkus debu yang mengebul dari bawah. Hebat bukan main pertarungan ini, seperti pergumulan dua ekor naga, atau perkelahian dua ekor harimau buas, pantang menyerah, pantang undur. Kong Bu dan Li Eng makin khawatir, akan tetapi keduanya tidak berdaya karena sebagai ahli-ahli silat tinggi, maklumlah mereka bahwa sekali mereka maju belum tentu mereka dapat menguntungkan Song-bun-kwi akan tetapi yang pasti mereka akan celaka. Hawa pukulan dengan tenaga dahsyat yang menyambar di sekeliling dua orang kakek itu tidak terlawan oleh mereka.

Tiba-tiba kedua orang kakek itu berhenti bersilat dan tubuh mereka mencelat ke belakang, masing-masing dua meter lebih, berdiri saling pandang dengan muka mengerikan. Hek Lojin tidak tertawa lagi, mukanya yang hitam itu berkilat-kilat penuh peluh, mulutnya menyeringai, matanya berseri-seri. Song-bun-kwi juga penuh keringat mukanya, agak pucat dia, matanya berapi-api penuh kemarahan. Kemudian keduanya melompat ke depan, saling terjang dan terdengar suara berdebugan dua tiga kali dan akibatnya, tubuh mereka terlempar ke belakang lagi. Kembali mereka saling terjang dan terdengar pukulan-pukulan yang mengakibatkan mereka terlempar lagi. Adegan seperti ini terulang sampai empat lima kali, muka Song-bun-kwi makin pucat, muka Hek Lojin makin penuh keringat.

Tiba-tiba kakek hitam itu bergelak. “Ha-ha-ha-heh-heh-heh, Song-bun-kwi tua bangka iblis! Kau benar-benar berkepala batu, sudah kalah tidak mau mengakui kekalahan. Ha-ha-ha, sudah puas hatiku dengan perkelahian hari ini, aku sudah lelah. Kalau kau masih dapat hidup, lain hari kita lanjutkan, kalau kau mampus karena perkelahian ini, mampuslah dan rasakan hukuman neraka. Ha-ha-ha!” Kakek hitam itu melangkah mundur ke tempat tongkatnya, mengambil senjata itu dan menyeretnya pergi dari situ. Masih terdengar suara ketawanya yang bergema dari jauh.

Song-bung-kwi masih berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang seperti tadi, napasnya tersengal-sengal, mukanya pucat dan hidungnya, kembang-kempis. Tiba-tiba dia menekan ulu hatinya dan kakek kosen ini muntah-muntah. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

“Kakek……!!” Kong Bu melompat menghampiri, Li Eng juga terpincang-pincang lari menghampiri.

Seakan-akan kehabisan tenaga, Song-bun-kwi sudah jatuh terduduk. Dia berusaha menghapus bibirnya dengan ujung lengan baju dan terdengar dia bergumam perlahan, “……. hebat sekali……. Hek Lojin iblis…….”

Kong Bu sudah berlutut di depannya, juga Li Eng. Kagetlah dua orang ini ketika melihat bahwa leher, pundak, dada dan lambung kakek itu terluka oleh pukulan yang meninggalkan bekas membiru Sedangkan baju pada bagian terpukul itu pun berlubang besar seperti bekas terbakar. Kiranya dalam gebrakan-gebrakan terakhir tadi, kedua kakek sakti itu telah melakukan jurus-jurus mematikan, jurus-jurus nekat yang berdasarkan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya pukulan! Empat kali Song-bun-kwi telah menerima pukulan maut Hek Lojin, sebaliknya Hek Lojin juga menerima empat kali pukulan Song-bun-kwi yang datangnya hampir pada saat yang sama itu. Pukulan Song-bun-kwi dapat diterima oleh Hek Lojin, menimbulkan luka ringan yang tidak membahayakan nyawanya. Sebaliknya pukulan-pukulan Hek Lojin demikian hebatnya sehingga membuat Song-bun-kwi sekarang muntah-muntah darah dan menderita luka yang amat parah. Akan tetapi daya tahan Song-bun-kwi dan semangatnya memang luar biasa sekali. Kalau orang lain yang menderita seperti dia, tentu tadi sudah roboh, di bawah kaki lawannya. Namun Song-bun-kwi dapat menahan diri, menahan rasa nyeri dan dengan semangat pantang mundur dia menukar pukulan sampai empat kali. Hek Lojin menjadi terkejut sekali tadi dan diam-diam merasa jerih. Dia sendiri, biarpun ringan, telah merasa terluka oleh pukulan-pukulan Song-bun-kwi, akan tetapi mengapa Song-bun-kwi agaknya tidak merasai pukulannya yang empat kali itu? Padahal pukulan-pukulannya tadi adalah pukulan maut yang mengandung tenaga mujijat!

Itulah sebabnya mengapa Hek Lojin tadi meninggalkan Song-bun-kwi, sama sekali bukan karena merasa menang, melainkan karena jerih! Setelah lawannya pergi, barulah terasa oleh Song-bun-kwi akan kehebatan bekas pukulan lawan dan sekarang dia terkulai tidak berdaya, Dia maklum bahwa dia telah menerima pukulan-pukulan maut yang meremukkan isi dadanya, dan tahu bahwa dia tidak akan tertolong lagi. Melihat Kong Bu dan Li Eng berlutut di dekatnya, timbul rasa kecewanya terhadap dua orang ini. Sampai mau mati pun dia masih kecewa karena belum mempunyai cucu buyut. Dasar kakek ini seorang yang amat aneh wataknya. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong pergi dua orang itu sambil berkata,
“Pergi……. pergi……. biar aku tidak punya cucu juga tidak apa…….!” Suaranya bernada penuh penyesalan, penuh kekecewaan karena kakek ini merasa tertikam perasaannya ketika teringat bahwa dalam menghadapi saat terakhir dalam hidupnya ini, dia masih dikecewakan oleh Kong Bu yang dia kasihi, dikecewakan karena cucunya ini tidak mempunyai keturunan!

“Kong-kong (kakek)…….!” Kong Bu mendekati kakeknya lagi, suaranya penuh keharuan. Li Eng juga mendekat lagi, air matanya mengalir.

“Sudahlah, biar sampai mati pun aku tetap kecewa padamu…….!” kata pula Song-bun-kwi ketus sambil bangkit berdiri dengan susah payah dan kakek ini sudah siap melangkah maju meninggalkan mereka.

Tiba-tiba Li Eng memegang lengannya dan dengan suara terisak-isak ia berkata, “Kong-kong……. aku……. aku……. ah, kau sudah akan mempunyai cucu buyut…….”

“Haaaaa?? Apa kau bilamg…….??”

Mata dan mulut kakek itu terbuka selebar-lebarnya ketika dia menatap wajah Li Eng yang sudah basah air mata karena ia sudah mulai menangis tersedu-sedu, sambil merangkul dan mengganduli pundak kakek itu. Melihat Li Eng tidak mungkin dapat menjawab karena menangis itu, Kong Bu yang menjawab dengan muka berseri dan mata bersinar,

“Betul, Kong-kong, Li Eng sudah mengandung. Cucu buyutmu pasti bakal terlahir!”

“Wah-wah! Betulkan ini? Li Eng, betulkan ini?” Kakek ini berteriak-teriak sambi memegang kedua pundak Li Eng dan mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya. Li Eng tersenyum dalam tangisnya, menahan air mata dengan meramkan mata, dan hanya dapat mengangguk dengan gerakan meyakinkan.

“Ha-ha-ha-ha-ha! Song-bun-kwi, kau, tua bangka goblok, kau manusia tolol! Ha-ha-ha-ha, Li Eng, kau anak baik!” Serentak tubuh Li Eng yang dia pegang pada kedua pundaknya itu dia lontarkan ke atas. Tubuh itu melayang ke atas kurang lebih tiga meter tingginya, diterima dengan penuh kasih sayang lalu dilontarkan lagi sampai tiga kali. Kemudian dia memeluk Li Eng dan menciumi rambutnya, membiarkan Li Eng terisak-isak bahagia di dadanya.

“Li Eng, mana dia? Mana cucu buyutku? Tidak bisakah kau lahirkan dia sekarang saja? Aku sudah ingin memondongnya, menimangnya, ha-ha-ha!”

“Iihhh, Kakek ini…….!” Li Eng menundukkan mukanya, jengah.

“Ha-ha-ha, Song-bun-kwi tolol, siapa bilang cucuku tidak becus dan goblok? Ha-ha-ha, Kong Bu, kau hebat…….!”

Dia sudah melepaskan Li Eng, menghampiri Kong Bu dan menepuk-nepuk pundak cucunya itu. Kalau saja bukan Kong Bu yang ditepuknya, tentu pundak itu akan remuk.

“Ha-ha-ha-ha, aku punya cucu buyut…….” Kakek itu tertawa terus terbahak-bahak, makin lama makin aneh suara ketawanya.

“Kong-kong…….!” Li Eng dan Kong Bu menjerit berbareng sambil menubruk maju. Akan tetapi Song-bun-kwi sudah terguling roboh, terlentang dengan mata melek dan mulut terbuka, wajahnya masih tertawa-tawa akan tetapi napasnya berhenti. Kakek itu sudah mati dalam keadaan tertawa bahagia. Kiranya dalam kegirangannya yang melewati batas tadi, dia telah banyak mengerahkan tenaga dan hal ini memperhebat luka-lukanya yang memang sudah parah dan akhirnya merenggut nyawanya sebelum dia sempat menghabiskan ketawanya!

Li Eng dan Kong Bu memeluki tubuh kakek itu sambil menangis. Angin yang tadi bertiup dan bermain-main di antara daun-daun pohon, sekarang berhenti. Sunyi senyap di dalam hutan itu, seakan-akan hutan, angin dan penghuni hutan ikut menyatakan bela sungkawa atas kematian kakek sakti yang hidupnya sering kali menggemparkan dunia kang-ouw itu.

******
“Kim-tiauw-ko, aku ingin sekali pergi ke Ching-coa-to. Ah, alangkah akan mudahnya kalau dapat menerbangkan aku ke pulau itu, kita tidak akan bingung menghadapi jalan-jalan rahasia. Ah, sayang. Tiauw-ko, kau tidak tahu di mana adanya pulau itu…….” kata Kun Hong sambil mengelus-elus leher burung itu. Betapapun cerdik pandainya, seekor burung hanyalah seekor binatang biasa saja, tentu saja tidak memiliki akal dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Si Pendekar Buta. Dia hanya mengeluarkan suara mencicit bingung melihat sahabatnya ini bersikap kecewa dan menyesal.

Mereka masih berada di dalam sebuah hutan dan sudah beberapa hari mereka melakukan perjalanan keluar hutan. Kun Hong bingung karena tidak bertemu manusia yang dapat dia tanyai jalan. Sebetulnya sudah banyak hal yang menghilangkan kegelisahannya. Cui Sian sudah berada di tangan orang yang boleh dipercaya dan anak itu selamat. Surat Wasiat juga sudah diantarkan ke utara, dan dia merasa yakin bahwa Sin Lee dan Hui Cu pasti akan dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. A Wan juga berada bersama paman gurunya, aman dan selamat. Tinggal dua lagi tugas yang harus dia selesaikan, pertama mencari orang-orang Ching-coa-to memberi hajaran atas kejahatan mereka terhadap Thai-san-pai. Ke dua……. ya, yang ke dua inilah yang membingungkan hatinya. Tentang Hui Kauw! Bagaimana baiknya dengan nona itu? Harus dia akui bahwa dia betul-betul mencinta Hui Kauw. Cinta kasihnya terhadap Cui Bi sekarang agaknya telah berpindah kepada Hui Kauw seluruhnya. Dia merasa kesepian, rindu, dan merasa seakan-akan hidupnya tidak lengkap, kehilangan semangat dan kegembiraan hidup, berpisah dari nona bersuara bidadari itu. Dia tahu bahwa hidupnya selanjutnya akan merana, akan kosong hampa dan tidak ada artinya tanpa Hui Kauw.

“Uhhh, urusan besar belum selesai, memikirkan yang bukan-bukan…….” Dia menepuk kepala sendiri dan rajawali emas itu menggereng perlahan.

“Kim-tiau, alangkah tidak enaknya menjadi manusia!” kembali Kun Hong mengeluh sambil duduk di atas batu besar dekat burung itu. “Tiada hentinya manusia terganggu dalam hidupnya yang terbelit-belit dan terikat oleh segala macam kewajiban, terkacau oleh segala macam perasaan. Kau inilah mahluk bahagia, kim-tiauw, karena selama hidupmu kau tidak pernah memusingkan sesuatu.”

Burung itu mengeluarkan suara panjang seakan-akan membantah pendapat ini dan sama sekali tidak menyetujuinya. Kun Hong merenung. Betulkah seperti yang dia katakan tadi? Apakah tidak sebaliknya daripada itu? Bukanlah segala ikatan dalam hidup itulah yang membuat hidup ini berisi dan pantas diderita? Bukankah kehidupan burung dan segala macam mahluk selain manusia di dunia ini yang amat menjemukan? Bayangkan saja. Hidup tanpa adanya susah, senang, puas, kecewa, dan lain-lain perasaan yang saling bertentangan, apakah tidak akan merupakan siksaan karena tiada perubahan, sunyi sepi dan seakan-akan sudah mati saja? Bagaikan samudera, apa artinya tanpa gelombang membadai yang membuat samudera nampak hidup? Apa artinya dunia ini tanpa angin, lelap lengang sunyi mati. Demikian pula hidup ini, akan sunyi membosankan kalau tidak ada ikatan-ikatan yang mengakibatkan manusia merasakan susah senang, jatuh bangun dan sebagainya.

Teringat dia akan filsafat-filsafat kuno dan dia tersenyum seorang diri. Memang hebat para budiman dan bijaksana jaman dahulu, telah dapat meneropong isi daripada hidup. Dia menepuk-nepuk leher kim-tiauw, kini wajahnya berseri dan hatinya tenang,

“Kim-tiauw, alangkah bodohku, sampai lupa akan kenyataan yang tidak terbantah lagi itu. Siapa mencari senang, dia sekali-kali tentu bertemu susah. Siapa mencari untung sekali-kali akan bertemu rugi. Siapa mencari puas, sekali-kali akan ketemu kecewa. Memang sudah semestinya begitu. Kalau tidak ada atas, mana bisa ada bawah? Kalau tidak ada senang, mana bisa bilang ada susah?
Manusialah mahluk yang paling bahagia, kim-tiauw, karena mengenal keduanya itu, mengenal dan merasakan akibat daripada kekuatan Im dan Yang (positive dan negative). Ha-ha-ha, kaulah yang patut dikasihani, kim-tiauw.”
Kini kim-tiauw itu bersuara girang, sekan-akan dia ikut bergembira mendengar sahabatnya sudah bisa tertawa-tawa. Tiba-tiba mereka berdua serentak diam memperhatikan. Terdengar suara kaki orang banyak menuju ke arah tempat itu. Rajawali emas sudah siap, bulu tengkuk burung itu sudah mulai berdiri, tanda bahwa dia telah siap menyerang lawan.

“Sssttt, jangan sembrono kim-tiauw-ko, kita lihat dulu mereka itu kawan ataukah lawan.”

Betapapun juga, Kun Hong sudah siap pula berdiri di dekat burung itu, menanti dengan penuh kewaspadaan. Dia taksir sedikitnya ada tujuh orang yang bergerak makin dekat itu. Maklum akan watak burung rajawali yang mudah curiga itu. Kun Hong sengaja merangkul lehernya untuk mencegah burung itu menerjang orang secara sembrono sebelum dia dapat mengetahui siapa mereka itu.

“Pangcu (ketua)…… kami para anggauta Hwa I Kaipang datang menghadap…..” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru dari jauh.

Kun Hong bernapas lega, “Kim-tiauw-ko, agaknya teman-teman sendiri mereka itu, jangan kau ganggu.”

Tak lama kemudian muncullah delapan orang yang serta merta berlutut di depan Kun Hong. Pendekar muda ini teringat akan tipuan yang dilakukan The Sun yang mendatangkan beberapa orang anggauta Hwa I Kaipang yang palsu, Orang-orang ini pun juga tidak dia kenal, mana dia tahu kalau mereka betul-betul anggauta perkumpulan pengemis itu?

“Apakah di antara kalian ada yang mengenal Coa-lokai?” dia memancing.

Terdengar jawaban dua orang yang berada di sebelah kanan, “Siauwte adalah murid suhu Coa-lokai.”

Tiba-tiba Kun Hong bergerak dan tahu-tahu dia telah mengirim dua serangan kepada dua orang itu. Dua orang itu otomatis, sebagai ahli-ahli silat menggerakkan tangan menangkis, akan tetapi akibatnya, keduanya terjungkal dan terlempar ke belakang sampai tiga meter jauhnya. Kagetlah semua orang itu, juga rajawali emas sudah siap membantu sahabatnya dalam pertempuran.
Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong tertawa bergelak, membuat orang-orang itu, terutama yang tadi dibikin terguling-guling, makin keheranan. “Ha-ha-ha, maafkan aku, Twako. Aku pernah dihadapkan kepada orang-orang Hwa I Kaipang yang palsu, terpaksa aku menguji. Kiranya benar ji-wi adalah murid-murid Coa-lokai sehingga aku tidak perlu ragu-ragu lagi. Maaf.”

Semua anggauta perkumpulan penggemis itu saling pandang dan makin kagumlah mereka. Tadinya mereka ragu-ragu melihat betapa orang yang amat dipuji-puji oleh para pimpinan Hwa I Kaipang hanya seorang pemuda yang buta lagi. Akan tetapi, melihat gerakan Kun Hong tadi yang sekali bergerak tidak saja mampu menjungkalkan dua orang, akan tetapi dari gerakan menangkis dua orang itu dia telah mengenal ilmu silat dari Coa-lokai. Hebat! Kembali mereka berlutut.

“Pangcu, kami datang untuk melapor bahwa Lo-pangcu kami telah tewas dalam pertempuran di kota raja.”

Kun Hong mengangguk. Dia sudah mendengar akan hal ini dari Hui Kauw,

“Aku sudah tahu dan aku menyesal sekali mengapa Hwa I Lokai sampai mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara Hwa I Kaipang untuk membantuku.”

“Bukan begitu, Pangcu. Persoalannya bukanlah semata urusan pribadi, melainkan urusan perjuangan. Hwa I Kaipang dalam hal ini bekerja sama dengan Pek-lian-pai, langsung menerima tugas-tugas dari utara.”

“Hemmm, begitukah ? Dan sekarang siapa yang menggantikan Hwa I Lokai, dan apa maksud kalian datang menemuiku di sini?”

Orang yang mengaku murid Coa-lokai tadi menjawab, “Sementara ini yang memimpin kami adalah suhu sendiri. Juga suhu yang menyuruh kami mencari Pang-cu dan memberi tahu bahwa nona Kwee Hui Kauw sekarang berada dalam bahaya.”

Terkejut hati Kun Hong. “Eh, siapakah namamu dan bagaimana kalian tahu bahwa nona Hui Kauw dalam bahaya? Apa pula sebabnya hal itu kalian ceritakan kepadaku?”

“Maaf, Pangcu. Siauwte Lauw Kin murid kepala suhu Coa-lokai. Siauwte dan semua saudara memang bertugas bergerak di dalam kota raja sehingga semua urusan kami ketahui belaka. Juga kami tahu bahwa nona itu adalah sahabat baik Pangcu, karena itulah kami datang menyampaikan warta ini.”

“Bagaimana urusannya? Hayo ceriterakan yang jelas !” Kun Hong tidak sabar lagi setelah dia mengerti duduknya perkara dan menaruh kepercayaan kepada orang yang tadi sudah dia rasakan bahwa gerakannya menangkis memang betul-betul ilmu silat Coa-lokai. Dahulu pernah dia menghadapi penyerangan Coa-lokai, maka dia mengenal gerakan muridnya ini.

“Kami sendiri tidak tahu sebabnya, akan tetapi kami melihat nona itu ditawan oleh The Sun dan Bhok Hwesio. Malah hebatnya, ayahnya sendiri, pembesar Kwee itu, agaknya juga berfihak kepada The Sun dan sama sekali tidak menolong puterinya.”

Kun Hong merasa khawatir sekali, akan tetapi dia menahan tekanan batinnya, dan bertanya tenang, “Di mana nona itu ditahan? Memang aku harus menolongnya, apakah kalian melihat cara untuk membebaskannya?”

“Harap Kwa-pangcu jangan khawatir. Kami sudah menyelidiki dengan teliti sekali dan kami yakin bahwa sementara ini mereka tidak akan mengganggu nona Hui Kauw. Ada jalan untuk menolongnya, akan tetapi hal ini membutuhkan tenaga ahli yang berilmu tinggi. Agaknya, kecuali Pangcu sendiri tidak mungkin ada yang akan mampu menolongnya.”

“Hemmm, lekas ceriterakan dengan jelas, apa yang kau maksudkan?”

“Begini, Kwa-pangcu. Kami mendengar bahwa fihak The Sun telah mengadakan hubungan dengan Ching-toanio dan kawan-kawannya. Karena nona Hui Kauw ditangkap dengan tuduhan membantu pemberontak, yaitu memberikan mahkota kepada puteri Sin-kiam-eng untuk dibawa ke utara, maka sudah semestinya dia dihukum mati. Baiknya mereka itu masih mengingat kepada Ching-toanio yang sudah mengadakan lebih dulu, mereka merasa sungkan terhadap Ching-toanio karena nona Hui Kauw adalah puteri angkatnya. Inilah yang menyelamatkan nona Hui Kauw. Pelaksanaan hukuman tertunda dan malah dia akan dibawa dalam pertemuan yang diadakan antara jagoan-jagoan istana dan fihak Ching-coa-to. Mungkin dalam pertemuan itulah nona Hui Kauw akan diberi hukuman.”

Kun Hong terkejut sekali. Sama sekali tidak ada baiknya kalau Hui Kauw dihadapkan dengan Ching-toanio, karena dia tahu betapa nyonya itu benci kepada Hui Kauw. Pertemuan itu tidak akan memperingan hukuman Hui Kauw, malah mungkin nona pujaan hatinya itu akan mengalami siksaan yang lebih hebat.

“Di manakah pertemuan itu diadakan dan kapan?” tanyanya cepat, hatinya kini tidak dapat menahan lagi kegelisahannya.

“Tiga hari lagi, Kwa-pangcu. Fihak Ching-coa-to masih belum percaya kepada para jagoan istana sehingga mereka tidak mau mengadakan pertemuan di kota raja, khawatir akan perangkap. Oleh karena itu telah diputuskan oleh kedua fihak untuk mengadakan pertemuan di luar kota raja, di lembah Sungai Huai, tempat yang mereka pilih adalah…….”

“Pusat perkumpulan Ngo-lian-kauw?” Kun Hong memotong, teringat ketika disebut lembah Sungai Huai.

“Eh, kiranya Kwa-pangcu juga sudah tahu……..!” Lauw Kin, murid Coa-lokai itu berseru terkejut.

“Aku hanya menduga saja. Lanjutkan ceritamu dan apa maksud pertemuan itu.”

“Memang, mereka memilih tempat Ngo-lian-kauw, karena biarpun fihak Ngo-lian-kauw selama ini tidak ikut-ikut, namun mereka agaknya mempunyai hubungan dengan perkumpulan sesat itu dan mempercayainya. Adapun menurut hasil penyelidikan kami yang bekerja sama dengan Pek-lian-pai, maksud pertemuan itu adalah untuk merundingkan kerja sama menghadapi serbuan dari Raja Muda Yung Lo. Dalam hal ini, fihak Ching-coa-to minta jaminan dan janji-janji kedudukan yang akan diputuskan dan ditandatangani sendiri oleh kaisar.”
“Hemmm, untuk menghadapi paman sendiri, menarik bantuan tenaga orang-orang Mongol dan Mancu.” Kun Hong memotong. “Kalau begitu, kedua fihak tentu akan datang dengan kekuatan besar, belum lagi para anggauta Ngo-lian-kauw yang tentu menjaga keamanan di sana sebagai tuan rumah.”

“Memang betul, Kwa-pangcu. Akan tetapi kami dan pihak Pek-lian-pai sudah mengadakan persiapan, malah kami sebelumnya telah menghubungi pasukan-pasukan Raja Muda Yung Lo dan mengerahkan para saudara kita. Raja Muda Yung Lo sudah berjanji akan mengirim pasukan dan akan menyerbu, karena orang-orang yang akan berkumpul itu merupakan inti kekuatan pertahanan di kota raja. Dalam keributan inilah maka Pangcu dapat menolong nona Hui Kauw yang sudah pasti akan dibawa serta ke tempat itu.”

Kun Hong berpikir keras. Kekuatan fihak istana dan Ching-coa-to kalau digabung menjadi satu, merupakan kekuatan hebat yang sukar dilawan. Apalagi mengingat bahwa di sana ada orang-orang seperti Ka Chong Hoatsu, ketiga Ang Hwa Sam-ci-moi, Ching-toanio sendiri, Souw Bu Lai, dan Bouw Si Ma ditambah fihak istana yang amat kuat dibantu oleh orang-orang berilmu tinggi seperti Bhok Hwesio, Lui-kong Thian Te Cu, dan Hek Lojin. Berat sekali lawan-lawan itu, akan tetapi demi keselamatan Hui Kauw, dia harus datang menolong. Di luar istana, memang lebih leluasa dan mudah menolong nona itu, daripada di dalam istana yang dikurung pagar tembok dan di mana terdapat puluhan ribu orang tentara yang menjaga. Di samping menolong Hui Kauw, juga hitung-hitung dia membantu perjuangan mendiang pamannya Tan Hok yang membantu Raja Muda Yung Lo.

“Kalau begitu, mari kita berangkat dan biarlah siasat selanjutnya kita atur di sana,” kata Kun Hong. Dia menepuk-nepuk leher kim-tiauw dan berkata “Kim-tiauw-ko, kau tidak boleh turut karena kehadiranmu akan membuka rahasia pengepungan. Kau sekarang pergilah menyusul susiok, kelak kau boleh cari lagi padaku. Pergilah!” Dia mendorong tubuh burung itu yang mengeluarkan seruan panjang tanda kecewa, akan tetapi agaknya dia tidak berani membangkang, buktinya dia lalu melengking keras dan terbang ke angkasa raya, sebentar saja lenyap dari situ, Para anak buah Hwa I Kaipang kagum bukan main melihat burung sakti itu.

******
Apa yang diceriterakan oleh Lauw Kin anggauta Hwa I Kaipang itu, memanglah benar. Pada waktu itu, memang para anggauta Hwa I Kaipang ini bersama para anggauta Pek-lian-pai, secara lihai sekali berhasil menyelundup ke kota raja dan memasang banyak mata-mata untuk mengetahui gerak-gerik pemerintahan kaisar baru. Pemasangan mata-mata ini sampai menembus dinding istana yang tebal sehingga segala macam peristiwa diketahui belaka oleh mereka.

Kaisar muda itu melalui para penyelidik, telah dapat mengetahui akan adanya persekutuan yang hendak menjatuhkannya. Tahu pula bahwa persekutuan itu mengadakan kontak dengan Raja Muda Yung Lo, pamannya. Betapapun juga, dia hendak mempertahankan kekuasaannya dan sengaja ketika penobatannya menjadi kaisar baru dilaksanakan, dia tidak mengundang pamannya itu. Sekarang, setelah jelas olehnya bahwa diam-diam mendiang kakeknya (kaisar lama) menaruh harapan kepada Raja Muda Yung Lo, dia bertekad untuk menumpas pamannya itu.

Dengan bantuan The Sun, kaisar mengundang orang-orang pandai dan mengulurkan tangan kepada orang-orang kang-ouw yang suka membantunya. Oleh karena itulah, ketika dia mendengar bahwa para tokoh dari Ching-coa-to bersama orang-orang sakti menawarkan bantuan mereka, dia menjadi girang sekali. Akan tetapi di samping kegirangan ini juga terdapat kecurigaan di fihak kaisar dan para jagoan istana. Semenjak dahulu tidak pernah Ching-coa-to membantu kaisar dalam urusan negara, sungguhpun harus diakui pula bahwa fihak ini sama sekali tidak ada hubungan dengan para pemberontak seperti Pek-lian-pai dan Hwa I Kaipang. Lebih-lebih lagi The Sun dan jagoan-jagoan lain merasa curiga dan berhati-hati menghadapi Ching-coa-to, karena mendengar bahwa rombongan itu mempunyai anggauta tokoh-tokoh Mongol, malah yang seorang bekas pangeran Mongol pula. Jangan-jangan pangeran itu mempunyai niat buruk hendak mengembalikan kekuasaan bangsanya yang telah terusir oleh perjuangan kaisar pertama dari kerajaan Beng! Juga adanya orang Mancu dalam rombongan itu, menambahkan kecurigaan.

“Sukar diduga apa yang tersembunyi daiam maksud bantuan mereka itu,” kata The Sun ketika para jagoan diundang oleh kaisar untuk membicarakan soal ini. “Akan tetapi, mereka terdiri dari orang-orang sakti yang amat kita butuhkan bantuannya untuk menghadapi musuh-musuh kita.”

“Hemmm,” kata kaisar, “dengan mengundang mereka ke kota raja, apakah tidak berbahaya? Jangan-jangan itu berarti kita memasukan serigala-serigala ke dalam rumah.”

“Harap Paduka tidak khawatir,” The Sun menghibur, “jika mereka itu mempunyai niat buruk, para pengawal dipimpin oleh para Locianpwe yang berada di sini pasti akan dapat menghancurkan mereka. Selain itu, jika suhu telah berhasil mengejar dan menangkap pemberontak Kwa Kun Hong, tentu akan datang lagi dan keadaan kita akan menjadi lebih kuat.” Bhok Hwesio mengerutkan keningnya.

Hwesio ini suka kepada The Sun yang pandai mengambil hati dan bersikap halus, akan tetapi dia tidak suka kepada guru pemuda itu yang dianggapnya sombong. “Tanpa adanya Hek Lojin sekalipun pinceng masih sanggup mengusir perusuh-perusuh dari dalam kota raja. Akan tetapi sungguh amat tidak baik kalau sampai memanggil orang-orang yang masih mencurigakan ke dalam kota raja, sama dengan memancing datangnya kekacauan yang akan melemahkan pertahanan. Lebih baik kalau kita mengadakan pertemuan dengan mereka di luar kota raja, barulah kita melihat sikap mereka dan mendengarkan kesanggupan mereka.”

Setelah ditimbang-timbang oleh kaisar, usul Bhok Hwesio ini diterima dan diambillah keputusan untuk mengundang orang-orang Ching-coa-to itu mengadakan pertemuan. Adapun tempat yang mereka pilih adalah lembah Sungai Huai yang menjadi sarang dari perkumpulan Ngo-lian-kauw.

Tentu saja peristiwa penting ini tertangkap oleh telinga para mata-mata Pek-lian-pai dan Hwa I Kaipang yang segera mengadakan persiapan dan mengirim surat kepada Raja Muda Yung Lo, malah ada yang mencari Kun Hong dan mengabarkan hal ini. Dalam pertemuan puncak itulah para penyelidik ini mendengar tentang nasib Hui Kauw yang akan dijadikan tawanan dan dibawa ke pertemuan, dengan orang-orang Ching-coa-to untuk dimintakan keputusan hukumannya. Rahasia Hui Kauw terbongkar ketika gadis ini merampas mahkota dan menyerahkannya kepada Loan Ki dan Nagai Ici tanpa ia sadari bahwa peristiwa itu terlihat oleh seorang mata-mata istana yang kebetulan berada di tempat itu dan bersembunyi. Ia segera ditangkap dan dengan gagah berani nona ini mengaku bahwa ia sama sekali tidak perduli akan urusan negara, tidak perduli siapa yang akan menjadi kaisar, akan tetapi bahwa ia melakukan itu semata-mata untuk membantu Kwa Kun Hong, suaminya! Ayahnya, bangsawan Kwee, marah-marah dan tidak mengakuinya sebagai puteri lagi. Ia dijebloskan ke dalam penjara menanti keputusan hukuman, dan akhirnya ia hendak dipergunakan oleh The Sun untuk mengambil hati ibu angkatnya, Ching-toanio. The Sun memang cerdik. Dia cukup mengerti bahwa Hui Kauw bukanlah pemberontak, melainkan seorang yang mencinta Si Pendekar Buta dan perbuatannya itu hanya terdorong oleh cinta dan kesetiaan. Kalau Hui Kauw dibunuh, bukan saja tidak ada artinya, malah mungkin sekali hal itu akan mematahkan hubungan baik dengan Ching-coa-to. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Ching-toanio sebetulnya membenci Hui Kauw pula. Maka dia hendak “mengambil hati” orang-orang Ching-coa-to dan menyerahkan Hui Kaow kepada mereka, sebagai umpan!

Pada waktu itu, telah terjadi perubahan besar pada perkumpulan Ngo-lian-kauw. Dahulu, lima tahun yang lalu, perkumpulan ini dipimpin oleh Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) murid Hek Hwa Kui-bo. Di bawah pimpinan Kim-thouw Thian-li yang direstui pula oleh iblis wanita Hek Hwa Kui-bo, perkumpulan itu maju pesat. Ngo-lian-kauw atau perkumpulan Agama Lima Teratai, adalah semacam agama sesat atau agama klenik yang memuja kekuasaan iblis dan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Tidaklah mengherankan apabila pada waktu itu ketuanya terkenal sebagai seorang ahli racun kembang dan jahatnya malahan melebihi gurunya. Setelah guru dan murid yang jahat itu tewas (baca Rajawali Emas), perkumpulan Ngo-lian-kauw menjadi morat-marit. Terjadilah perebutan-perebutan kekuasaan, karena ketua Ngo-lian-kauw itu meninggalkan banyak harta benda di samping kedudukan dan pengaruh. Para anggauta Ngo-lian-kauw yang terdiri dari para pendeta-pendeta Ngo-lian-kauw dan wanita-wanita, terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok untuk memilih ketua masing-masing dan terjadilah pertempuran-pertempuran. Akan tetapi kemudian muncullah tiga orang wanita sakti dari barat, yaitu Ang Hwa Samci-moi, tiga orang kakak beradik Ngo Kui Ciau, Ngo Kui Biauw dan Ngo Kui Siauw yang selalu berpakaian serba merah. Tiga orang wanita yang usianya baru tiga empat puluh tahun ini adalah adik-adik seperguruan Hek Kwa Kui-bo, jadi masih terhitung bibi-bibi guru daripada mendiang Kim-thouw Thian-li bekas ketua Ngo-Lian-kauw. Tentu saja dengan kepandaian mereka, dengan mudah Ang Hwa Sam-ci-moi ini menundukkan semua anggauta Ngo-lian-kauw dan semenjak itu, kurang lebih empat tahun sesudah ketua Ngo-lian-kauw tewas, perkumpulan ini mengakui Ang-hwa Sam-ci-moi sebagai ketua mereka.

Setelah Sam-ci-moi (tiga kakak beradik) ini menjadi ketua Ngo-lian-kauw, terjadilah perubahan hebat. Tiga orang wanita ini tidak suka akan ilmu klenik, tidak suka akan ilmu sihir dan penggunaan racun. Mereka telah mewarisi ilmu silat dan ilmu pedang yang amat lihai, kepandaian mereka semenjak mereka merantau ke barat telah mengalami kemajuan yang amat hebat sehingga mereka tidak suka mengandalkan diri kepada segala macam ilmu hitam. Juga, melihat para pendeta laki-laki yang sudah tua-tua mereka tidak suka melihatnya dan membubarkan para anggauta pria dari Ngo-lian-kauw, tidak mengakui mereka sebagai anggauta lagi. Sebaliknya, mereka menerima anggauta-anggauta baru yang terdiri daripada wanita-wanita muda dan cantik. Dan semenjak dipimpin oleh Ang-hwa Sam-ci-moi inilah perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan wanita cabul! Kalau ada laki-laki terlihat di situ, sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki ini seorang pemuda tampan yang telah diculik dan orang itu selama hidupnya tidak akan dapat melihat dunia ramai lagi karena begitu dia sudah diapkir (tidak dibutuhkan lagi) dia akan dibunuh! Ang-hwa Sam-ci-moi memilih anggauta-anggauta yang berbakat dan mereka ini tidaklah banyak jumlahnya. Kalau dulu anggauta Ngo-lian-kauw ada ratusan orang, sekarang hanya tinggal kurang lebih lima puluh orang lagi, semua wanita akan tetapi mereka ini rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, malah tiga orang ketua baru ini telah memperhebat barisan Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai) yang dahulu diciptakan oleh Kim-thouw Thian-li. Semua anggauta-anggauta itu adalah ahli-ahli barisan Ngo-lian-tin sehingga biarpun kini anggautanya hanya lima puluh orang saja dan tidak sebanyak dulu, dan wanita semua, namun apabila dibandingkan dengan dahulu, perkumpulan ini malah lebih kuat !

Seperti telah kita ketahui, Ang-hwa Sam-ci-moi juga merupakan orang-orang yang mempunyai ambisi untuk mendapatkan kemuliaan di kota raja di samping usaha mereka mencari teman-teman yang pandai untuk membalas dendam mereka atas kematian Hek Hwa Kui-bo di Thai-san. Oleh karena itu tiga orang saudara ini menjadi tamu-tamu terhormat dari Ching-toanio di Ching-coa-to. Seperti telah dapat kita duga, adalah tiga orang wanita sakti inilah yang banyak membantu Ching-toanio dan teman-temannya sehingga siasat mereka di Thai-san berhasil dan mengakibatkan hancurnya perkumpulan Thai-san-pai yang mereka benci itu.

Dan tidaklah aneh pula kalau fihak Ching-coa-to mengajukan sarang Ngo-lian-kauw sebagai tempat pertemuan dan perundingan antara fihak mereka dan fihak jagoan-jagoan istana, karena seperti juga fihak istana, mereka sendiri masih ragu-ragu dan sangsi apakah jagoan-jagoan istana itu benar-benar mau menerima uluran tangan mereka dan mau memberi janji kedudukan.

Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, orang-orang Ngo-lian-kauw telah siap sedia. Sebagai nyonya rumah, Ang-hwa Sam-ci-moi telah mengatur tempat mereka sebaik-baiknya untuk menghormati para jagoan istana yang akan menjadi tamu-tamu agung. Semua anggauta Ngo-lian-kauw diberi tugas, ada yang mengatur penjagaan di sekeliling tempat itu untuk menjaga keamanan, ada yang bertugas melayani para tamu. Akan tetapi pada hari itu mereka semua, yang sebagian besar terdiri daripada wanita-wanita muda yang cantik, berdandan dengan mewah, memakai pakaian baru dan muka mereka memakai bedak dan yanci (pemerah) lebih tebal daripada biasanya. Namun setiap orang anggauta menggantungkan pedang pada punggung masing-masing, sehingga mereka ini kelihatan cantik manis, centil genit, akan tetapi juga gagah.

Untuk menyenangkan hati jagoan-jagoan dari istana yang akan mewakili kaisar dalam pertemuan dan perundingan ini, bangunan besar yang biasanya menjadi tempat tinggal ketua Ngo-lian-kauw, kini dikosongkan dan dihias menjadi tempat perundingan yang cukup luas dan menyenangkan. Para pemasak sudah sejak pagi hari sibuk di dapur dan banyaklah itik dan ayam dipotong lehernya, di samping dua ekor babi disembelih. Untuk keperluan ini malah didatangkan dua orang tukang masak pria dari kota raja, dua orang laki-laki gemuk bermuka buruk akan tetapi yang sepasang tangannya pandai sekali menyulap masakan-masakan lezat. Arak wangi tidak ketinggalan, dipilihnya arak tua yang baik. Pendeknya, fihak Ching-coa-to melalui Ngo-lian-kauw telah mempersiapkan penyambutan hebat dan besar-besaran.

Semenjak kemarin, fihak Ching-coa-to dan teman-temannya telah hadir di situ. Mereka ini terdiri dari belasan orang terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi yang penting disebut adalah Ching-toanio, Souw Bu Lai si jago Mongol dan gurunya, si pendeta Ka Chong Hoatsu pentolan Mongol yang terkenal sakti. Tampak pula Bouw Si Ma, jagoan Mancu murid tunggal Pak Thian Locu. Bouw Si Ma ini terkenal dengan julukannya Si Tangan Maut dan tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh Souw Bu Lai maupun Ching-toanio sendiri! Tentu saja patut disebut Ang-hwa Sam-ci-moi, karena tiga orang wanita ini benar-benar sakti dan kepandaian mereka masing-masing jauh melampaui tingkat Ching-toanio dan teman-temannya, kecuali Ka Chong Hoatsu. Tiga orang sumoi (adik seperguruan) Hek Hwa Kui-bo ini memang masing-masing tidak setinggi Ka Chong Hoatsu kesaktiannya, akan tetapi kalau mereka itu maju bertiga, kiranya Ka Chong Hoatsu sendiri akan sukar menandingi mereka!

Sesungguhnya mereka ini tidaklah sejujurnya hendak membantu pemerintah Beng-tiauw. Seperti telah kita ketahui, mereka ini terdiri dari orang-orang yang berambisi (berpamrih), terutama sekali Souw Bu Lai atau Pangeran Sublai yang mengaku masih keturunan dari Jenghis Khan. Kalau kali ini mereka mengulurkan tangan hendak membantu Kaisar Beng-tiauw dengan dalih mencari kedudukan dan kemuliaan, sebetulnya adalah karena mereka sekarang belum merasa cukup kuat untuk merampas kerajaan. Mereka hendak membaiki pemerintah dan menguasai kedudukan-kedudukan penting sehingga kelak lebih mudah lagi mereka untuk menggulingkan Kerajaan Beng-tiauw dan membangun kembali Kerajaan Mongol. Ini termasuk cita-cita Souw Bu Lai yang didukung oleh gurunya, yaitu Ka Chong Hoatsu, dan juga Ang-hwa Sam-ci-moi. Akan tetapi cita-cita Bouw Si Ma si tokoh Mancu lain lagi. Tokoh ini bercita-cita untuk mempergunakan kekuatan bangsanya untuk mencoba menguasai kerajaan besar itu, karena sesungguhnya sudah amat lama Bangsa Mancu mengincar untuk berkuasa apabila kesempatan baik tiba. Dan cita-cita itu disetujui dan didukung oleh Ching-toanio yang diam-diam telah lama mengadakan hubungan rahasia dengan Bouw Si Ma.

Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali rombongan dari kota raja sudah memasuki lembah Sungai Huai. Lima puluh orang perajurit pilihan termasuk pasukan pengawal kerajaan, berbaris memanjang dipimpin oleh dua orang pengawal istana, yaitu Ang Moko dan Bhong-lokai, mengiringkan para tokoh istana yang dikepalai oleh The Sun. Para tokoh istana itu adalah Lui-tong Thian Te Cu yang berpakaian kuning, Bhok Hwesio dengan pakaiannya tetap sederhana dengan bagian dada setengah terbuka, Bhewakala si jagoan dari Nepal yang berkulit hitam dengan anting-antingnya yang besar bergantungan di kedua telinganya, It-to-kiam Gui Hwa yang pendiam dan bersifat galak, dan The Sun sendiri. Di tengah rombongan berkuda ini juga naik kuda diapit oleh The Sun dan Lui-tong Thian Te Cu, kelihatan Hui Kauw si gadis muka hitam! Gadis ini menunggang kuda dengan muka tunduk. Ia menjadi seorang tawanan yang biarpun ia tidak dibelenggu dan naik kuda sendiri secara bebas, namun ia maklum bahwa di tengah orang-orang sakti ini ia sama sekali tidak berdaya. Melawan tidak ada artinya. Ia memang tidak mengharapkan diampuni, tidak mengharapkan diberi hidup oleh mereka ini atau oleh ibu angkatnya, akan tetapi ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan rasa takut, tidak sudi pula minta ampun, dan hatinya malah berdebar penuh kebahagiaan kalau ia ingat bahwa semua penderitaan ini ia pikul demi membantu usaha Kun Hong, suaminya. Mati baginya bukanlah apa-apa asalkan Kun Hong selamat dan tugas yang dipikulnya terlaksana. Gadis ini ketika ditangkap dan diperiksa, dengan terus terang mengaku bahwa ia sengaja memberikan mahkota kepada Loan Ki untuk membantu tugas “suaminya”, Kwa Kun Hong, untuk menyampaikan mahkota itu kepada Raja Muda Yung Lo di utara. Memang sesungguhnya The Sun dan kawan-kawannya tentu saja tidak membutuhkan pengawalan karena mereka terdiri dari orang-orang sakti, akan tetapi pengawalan itu dilakukan bukan sekali-kali untuk menjaga keselamatan mereka melainkan untuk menambah keangkeran mereka sebagai utusan-utusan kaisar. Mereka semua datang berkuda dan sebetulnya malam tadi mereka sudah harus sampai di lembah Sungai Huai, akan tetapi oleh karena musim hujan sudah tiba dan malam tadi hujan turun amat lebat, mereka terpaksa menunda perjalanan dalam sebuah hutan dan baru pada pagi hari itu mereka dapat melanjutkan perjalanan ke lembah Sungai Huai. Setelah hujan semalam, pagi hari itu hawanya amat nyaman dan sejuk, pemandangan segar menyenangkan, akan tetapi sayang, tanah yang mereka lalui becek dan berlumpur. Pakaian seragam indah barisan itu banyak yang terkena lumpur yang memercik-mercik dari kaki kuda.

Kedatangan rombongan ini disambut penuh hormat dan manis budi oleh Ching-toanio sebagai wakil rombongannya dan oleh Ang-hwa Sam-ci-moi sebagai nyonya-nyonya rumah. Juga para tokoh undangan Ching-toanio yang sudah berkumpul keluar untuk menyambut. Tokoh berhadapan dengan tokoh, jago dengan jago sehingga pertemuan itu amat menggembirakan, dipenuhi kata-kata saling memuji dan saling merendahkan diri. Rombongan itu lalu dipersilakan masuk ke dalam bangunan yang sudah disediakan. Adapun para anggauta pasukan diperbolehkan beristirahat. Mereka ini pun tidak melewatkan kesempatan baik dan bergembiralah mereka melihat betapa para penyambut mereka adalah wanita-wanita cantik, yaitu para anggauta Ngo-lian-kauw. Suasana menjadi amat meriah, baik di dalam bangunan di mana para tamu terhormat disambut, maupun di luar bangunan dan di tempat-tempat sekelilingnya di mana para anggauta pasukan telah dapat mencari dan memilih pasangan masing-masing.

Karena para anggauta pasukan dari istana itu bersama para anggauta Ngo-lian-kauw bersenang-senang dalam kesempatan yang amat baik ini, maka mereka menjadi lalai dan penjagaan yang seharusnya dilakukan menjadi kurang ketat. Keadaan inilah yang menguntungkan Kun Hong dan tiga orang pengantarnya, yaitu Lauw Kin dan dua orang anggauta Hwa I Kaipang lain lagi. Mereka ini adalah murid-murid Hwa I Kaipang yang penuh semangat, gagah dan berani. Karena mereka tahu bahwa tanpa diantar, sukarlah bagi seorang buta seperti Kun Hong untuk dapat menyelundup masuk ke dalam sarang Ngo-lian-kauw, maka tiga orang ini dengan nekat lalu menyediakan diri untuk menjadi pengantar. Lemahnya penjagaan memudahkan mereka untuk dapat menerobos masuk dan dengan kepandaian mereka, empat orang ini dengan mudah membekuk empat orang anggauta pasukan, merampas pakaian mereka dan di lain saat Kun Hong dan tiga orang pengantarnya telah menyamar sebagai empat orang anggauta pasukan istana! Dalam pakaian ini, mereka lebih leluasa sehingga akhirnya mereka berempat dapat menyelinap kedalam bangunan, mencari tempat untuk mengintai dan mendengarkan percakapan.

Di dalam ruangan yang luas itu, kedua fihak telah lengkap untuk mengelilingi meja yang diatur berjajar berbentuk bundar. Hui Kauw berdiri di tengah-tengah, seakan-akan dijadikan barang tontonan. Gadis itu sekarang tidak tunduk lagi seperti ketika naik kuda tadi. Ia berdiri tegak dengan pandang mata berapi-api menyapu para tokoh yang duduk di sekelilingnya. Dengan sikap gagah dan lantang ia berkata,

“Tidak perlu lagi banyak bicara. Kalian adalah orang-orang terkenal di dunia kang-ouw dan kalau terjatuh ke dalam tangan kalian, sampai mati pun aku tidak penasaran. Ibu angkatku atau penculikku membenciku, ayah sendiri membenci, ibu kandung tidak berdaya. Apalagi artinya hidup? Mau hukum boleh hukum, mau bunuh, siapa takut mati? Mau menganggap aku pengkhianat atau pemberontak, terserah, pokoknya bagiku sama saja, aku telah melakukan hal yang kuanggap membantu tugas suamiku, Kwa Kun Hong. Habislah, aku tidak mau bicara lagi dan apa yang kalian hendak lakukan atas diriku, terserah!”

Bukan main terharunya hati Kun Hong mendengar suara ini. Suara bidadari yang biasanya halus merdu penuh getaran jiwa kini lantang dan nyaring penuh wibawa sehingga keadaan di ruangan itu seketika hening. Agaknya semua orang yang berada di dalam ruangan itu terpengaruh oleh sikap yang amat berani dari gadis itu. Kun Hong sedang memutar otak, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan untuk dapat menolong Hui Kauw. Dia cukup maklum bahwa keadaan amatlah berbahaya, bahwa di dalam ruangan itu terdapat tokoh-tokoh sakti yang sukar dilawan dan bahwa dia seorang diri tidak mungkin dapat menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi dia pun tidak dapat membiarkan Hui Kauw terancam bahaya maut, dan untuk menolong nona ini dia siap mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ketawa terkekeh-kekeh. Semua Orang di dalam ruangan itu menengok dan tahu-tahu berkelebat bayangan orang yang setelah tiba di situ berubah menjadi seorang kakek berkulit hitam. Hek Lojin. “Ha-ha-ha-heh-heh-heh, The Sun, percuma saja kau membawa puluhan orang pengawal, Mereka itu manusia-manusia tidak becus, datang ke sini bukan melakukan penjagaan melainkan bermain gila dengan perempuan-perempuan tidak tahu malu, Ngo-lian-kauw, malah ada yang mengintai ke sini seperti mata-mata. Benar-benar tiada guna, ha-ha-ha, heh-heh-heh!” Sambil berkata demikian, tiba-tiba tubuhnya berkelebat mendekati tempat persembunyian Kun Hong berempat, tongkat hitamnya menyambar empat kali, terdengar suara keras tembok jebol disusul menjeritnya Lauw Kin dan dua orang saudara seperguruannya yang roboh dengan kepala pecah berhamburan! Kun Hong tadi pun terkejut karena merasa betapa ujung tongkat menembus tembok menghantam kepalanya, maka cepat dia miringkan kepala sehingga tongkat itu tidak mengenai sasaran.

“Iiihhh, kenapa yang seorang tidak roboh?” Hek Lojin berseru kaget dan heran sambil melompat mundur.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: