Pendekar Buta ~ Jilid 4

Kun Hong cepat menggoyang-goyang tangannya ke atas. “Tidak usah, Twa-so, tidak usah. Kalau ada pakaian, biarlah dipakai oleh A Wan ini………….. aku……. aku tidak perlu berganti pakaian.”

Ibu muda itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil. “Pakaian yang kusimpan itu adalah pakaian orang tua, mana bisa dipakai A Wan? Tunggulah sebentar.”
“Itu pakaian ayah, Paman. Kau boleh pakai!” anak itu berkata. Hati Kun Hong tidak karuan rasanya. Terang bahwa keluarga ini miskin, mungkin pakaian itu hanya satu-satunya yang menjadi simpanan ayah anak ini, bagaimana dia boleh pakai? Ah, dia mendapat akal. Perempuan ini mempunyai perasaan yang halus, terdorong oleh budinya yang baik. Tak boleh dia mengecewakan hatinya. Biarlah dia berganti pakaian dan membiarkan dia mencuci dan menambal pakaiannya sendiri yang robek-robek. Setelah itu dia boleh memakai pakaiannya sendiri lagi dan mengembalikan pakaian yang dipakai untuk sementara itu. Dengan demikian, tanpa merugikan keluarga ini banyak-banyak, ia dapat memuaskan hati nyonya rumah.

Gemersik pakaian menandakan bahwa wanita itu sudah datang lagi. “Marilah kau berganti dengan pakaian ini, In-kong, dan biarkan pakaianmu yang kotor dan robek-robek itu di sini, sebentar kucuci dan kujahit. Aku permisi hendak menyiapkan makanan. A Wan, kau temani pamanmu. Baik-baik jangan nakal, ya!”

“Tapi………. tapi……..” Kun Hong berusaha membantah.

“Harap In-kong jangan menolak, biarpun pakaian tua dan hidangan sederhana, kuharap In-kong sudi menerima tanda terima kasihku yang mendalam …………”

Suara itu mengandung permohonan yang mutlak tak dapat dia bantah lagi.

“Tapi badanku kotor semua…………. aku harus membersihkan badan dulu……. begini kotor mana boleh memakai pakaian bersih dan makan?”

Mendengar ini, ibu muda itu tertawa. Kun Hong tertarik sekali mendengar suara ketawa ini. Merdu dan sopan. Hanya orang dengan hati putih bersih dan jiwa murni yang dapat tertawa seperti itu. Anak itupun tertawa karena menganggap ucapan Kun Hong ini sebagai kelakar yang lucu. Memang sikap dan gerak-gerik seorang buta kadang-kadang nampak lucu, lucu dan mengharukan hati. Mendengar ibu dan anak itu tertawa-tawa geli, mau tidak mau Kun Hong tertawa pula sehingga di dalam rumah gubuk sepi miskin itu sekali ini penuh tawa menggembirakan seperti cahaya matahari menyinari tempat gelap.

“A Wan, kau antarkan pamanmu ini ke anak sungai di belakang dusun!” kata wanita itu sambil pergi ke belakang dengan suara ketawanya masih terdengar.

“Hayo, Paman buta!” Bocah itu menggandeng tangan Kun Hong dan pergilah keduanya ke luar dari pondok, menuju ke anak sungai. Ketika ke luar dari pondok dan berjalan ke anak sungai, Kun Hong mendengar bahwa di depan pondok berkumpul banyak orang, malah di tengah perjalanan dia mendengar pula orang-orang berjalan.

“Siapa mereka, A Wan?” tanyanya.

“Paman-paman dan bibi-bibi tetangga, penduduk dusun ini, Paman,” jawab anak itu dengan singkat. Agaknya anak ini mempunyai rasa tidak senang kepada penduduk dusun dan anehnya, tak seorang pun di antara mereka menegur anak ini!
Setelah mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan segar itu, Kun Hong segera berganti pakaian bersih dan dia malah mencuci pakaiannya sendiri, dibantu oleh A Wan. Ternyata pakaian bersih yang terbuat daripada kain kasar itu, pas betul dengan tubuhnya. Agaknya ayah anak ini sama perawakannya dengan dia.

Dalam perjalanan pulang, mereka juga bertemu dengan orang-orang dusun. Amat aneh bagi pendengaran Kun Hong, orang-orang yang tengah bercakap-cakap tiba-tiba menghentikan percakapan mereka di kala Kun Hong dan A Wan lewat. Ketika mereka sampai di dekat pondok, tiba-tiba Kun Hong berkata kepada A Wan, “Kau diam saja, A Wan, dan jangan mengeluarkan suara.” Dia lalu bersama anak itu mendekati rumah dan terdengarlah suara ibu anak itu, suaranya marah bercampur isak tertahan.

“………… perduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kuberikan kepada siapa pun juga baju suamiku, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kau…………. kau selalu mengganggu……………. saudara misan yang durhaka!”

“Huh, dasar perempuan tak tahu malu! Semua orang memandangmu dengan hina, hanya aku yang masih mau memperdulikan. Semua ini karena aku ingat bahwa di antara kita masih ada hubungan keluarga, tahukah kau? Kalau tidak ada aku, apakah kau dan anakmu tidak sudah kelaparan dan menjadi jembel pengemis? Awas kau, kulaporkan kepada Song-wang-we (hartawan Song)!” Terdengar suara laki-laki memaki.

“………….. pergi…………! Pergi…….! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lagi………!” Wanita itu berseru marah.

“Ibu……………! Apakah paman Tiu mengganggumu lagi?” A Wan tak dapat menahan suaranya dan merenggut tangannya lalu lari membuka pintu belakang.

“A Wan, kau sudah pulang?” Ibunya menegur dan Kun Hong mendengar betapa kaki seorang laki-laki dengan cepat meninggalkan tempat itu lalu dia mendengar tindakan kaki ibu A Wan dan anak itu sendiri menyambutnya.

Langkah kaki ibu anak itu secara tiba-tiba terhenti dan tidak terdengar suaranya bergerak sedikitpun juga, sedangkan A Wan berlari menghampirinya dan memegang lagi tangannya. Memang ibu A Wan kaget dan memandang ke wajah Kun Hong dengan mata terbuka lebar. Setelah wajah pemuda buta itu tercuci bersih. alangkah jauh bedanya dengan tadi. Kalau tidak datang bersama anaknya dan tidak mengenakan pakaian yang amat dikenal nya, tentu ia pangling. Wajah si buta itu berkulit putih halus, wajah yang amat tampan, wajah seorang kong-cu (tuan muda)! Kemudian ia melihat pakaian yang sudah dicuci, maka serunya penuh penyesalan,

“Aiihh, In-kong, kenapa dicuci sendiri pakaiannya? Ah, mana bisa bersih? Berikan kepadaku, biar sebentar kucuci lagi biar bersih. Syukur, kulihat pakaian itu pas benar dengan badan In-kong.”

“Terima kasih…………… terima kasih…………. aku menyusahkan saja,” kata Kun Hong dan tidak membantah ketika cucian itu diambil orang dari tangannya. Kun Hong memuji bahwa ibu muda ini benar-benar seorang yang baik. Mengenal budi, peramah, dan pandai menyimpan penderitaan hati. Dia berpura-pura tidak tahu akan persoalan yang baru saja dia dengar tadi, dan mengambil keputusan bahwa dia akan segera pergi meninggalkan tempat itu. setelah pakaiannya sendiri kering.

Tak lama kemudian nyonya rumah itu datang mengantar sebuah mangkok terisi bubur hampir penuh. Dengan ujung-ujung jarinya Kun Hong dapat mengetahui bahwa mangkok itu terbuat daripada tanah lempung dan sepasang supit dari bambu, alat-alat makan yang paling sederhana dan murah yang dapat dipergunakan manusia.

“Waduh, enak, Paman buta. Buburnya pakai ubi merah! Hi-hik, kau tahu? Ubi merah ini kucuri dari kebun paman Lui.”

“A Wan!!” ibunya menegurnya.

“Paman, ibu selalu bilang bahwa mencuri adalah perbuatan jahat. Aku tidak pernah mencuri. Tapi paman Lui ubinya begitu banyak dan aku…………… aku dan ibu sudah lama tak makan ubi merah.”

Hampir Kun Hong tersedak karena keharuan membuat hawa dari dalam dada naik ke kerongkongannya. “Ibu betul, A Wan, mencuri adalah perbuatan yang jahat. Lebih baik kau minta saja kepada pemilik ubi …………………..”

“Minta? Uhh, pernah aku minta, bukan mendapat ubi melainkan mendapat cambukan pada pantatku. Tak sudi lagi aku minta. Tapi aku pun tidak akan men-curi lagi, ibu marah-marah,” kata anak itu dengan suara manja.

Bubur yang mereka makan itu sangat encer, terlalu banyak airnya dan ini pun membuktikan betapa miskinnya keluarga itu. Setelah selesai makan, selesai sebelum kenyang, nyonya rumah menyingkirkan mangkok-mangkok itu dan menyapu tikar dengan kebutan. Senja telah lewat dan ibu anak itu menyalakan sebuah pelita kecil, dipasang di sudut pondok. A Wan duduk di pangkuan Kun Hong dan agaknya anak ini masih menderita oleh peristiwa sore tadi. Punggungnya yang kena sambaran cambuk diurut-urut oleh Kun Hong dan sebentar saja anak itu tidur di pangkuannya.

“Dia sudah tidur, Twa-so. Di mana tempat tidurnya?” tanya Kun Hong perlahan.

Sampai lama baru terjawab lirih. “……. di sini juga………. disini juga napas panjang, tangannya mengelus-elus muka anak itu, meraba dahinya, alisnya, mata, hidung, mulut dan dagu. Muka yang tampan, hidungnya mancung mulutnya kecil.

“In-kong, memang kami tidak mempunyai apa-apa. Dalam rumah ini kosong, hanya ada tikar inilah……………. tempat kami duduk, makan dan tidur …………….”
“Maaf, Twa-so, sejak tadi aku belum mendengar twa-ko (kakak) pulang. Ke manakah dia?”

Kembali sampai lama tiada jawaban, kemudian jawaban itu bercampur isak tertahan, “Dia sudah………….. sudah tidak ada……………….”

“Tidak ada? Ke mana ??” Kun Hong tidak menduga buruk.

“…………. sudah meninggal dunia …….tiga bulan yang lalu …………..”

“Ahhh………….!” Kerut di antara kedua mata yang buta itu mendalam. Ah, sekarang tahulah Kun Hong akan sikap para penghuni dusun itu. Kiranya ibu muda ini seorang janda muda. Dia tahu apa artinya menjadi janda di masa itu. Janda muda lagi. Betapa sukarnya hidup bagi seorang janda yang miskin. Penghinaan akan menimpa dari segenap penjuru, penghinaan lahir batin. Semua mata akan mengincarnya, penuh cemburu, setiap gerak dapat menimbulkan fitnah. Sedang mata pria memandangnya lain lagi, pandangan yang penuh nafsu mempermainkan. Seorang janda bagaikan sebuah biduk kehilangan layar dan kemudi, terombang-ambing di tengah samudera hidup menjadi permainan gelombang. Janda tua tentu saja lain lagi, yang pertama mengandalkan hartanya, yang belakangan mengandalkan anak-anaknya.

Kembali jari-jari tangan Kun Hong meraba-raba muka A Wan. “Twa-so, apakah wajah A Wan ini sama dengan wajahmu?”

Lama tak menjawab. Kun Hong tidak dapat melihat betapa wajah tanpa bedak yang amat manis itu menunduk dan kedua pipi yang sehat itu memerah.

“Orang-orang bilang dia mirip dengan aku.”

Hemmm, tak salah dugaanku, pikir Kun Hong. Janda muda lagi cantik. Makin berbahaya kalau begini.

“Dan kau tentu belum ada dua puluh lima tahun usiamu,” katanya pula.

“…………… baru dua puluh tiga umurku.

Kun Hong merebahkan tubuh A Wan di atas tikar, lalu dia sendiri bangkit berlutut dan berkata, “Twa-so, maaf. Tolong ambilkan pakaianku tadi, aku akan berganti pakaian dan aku harus pergi sekarang juga.”

“………… kenapa………..? In-kong, kenapa kau hendak pergi sekarang? Bajumu masih belum kering benar, dan sedang kutambal punggungnya…………..”

Kun Hong menggeleng kepala, mengulurkan kedua tangan untuk minta pakaian dan bangkit berdiri. “Aku harus pergi. Twa-so, kau janda masih baru, kau berwajah cantik dan umurmu baru dua puluh tiga tahun …………”
Wanita itu mengeluarkan jerit lirih dan sambit menangis ia menubruk kedua kaki Kun Hong! Tentu saja Kun Hong menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“In-kong …………. engkau juga begitu…………?? Ah, kalau begitu………….. kau pukulkan tongkatmu itu kepadaku…….. kau bunuh saja aku, In-kong ……….. apa artinya hidup kalau semua orang……. juga kau yang kumuliakan……….. memandang serendah itu kepadaku……..? Kau bunuhlah aku………… kau bunuhlah.”

Karena tangis ini, A Wan menjadi terbangun dan begitu melihat ibunya menangis sambil merangkul kedua kaki Kun Hong yang berdiri seperti patung serta merta anak itu ikut menangis sambil merangkul ibunya. “Ibu…………. ibu.”

“In-kong……………… kau bunuhlah kami………….. biar terbebas kami daripada penderitaan ini ………….”

Hancur perasaan hati Kun Hong mendengar ibu dan anak itu menangis dan memeluki kedua kakinya.

“Kau salah sangka………….. kau salah mengerti……..” katanya sambil duduk kembali. “Aku sama sekali tidak memandang rendah atau menyangka yang bukan-bukan terhadapmu, Twa-so……………”

“In-kong………….” wanita itu tersedu-sedu dan sejenak menangis dengan muka di atas dada Kun Hong. Pemuda buta itu membiarkannya saja, maklum betapa hancur hati wanita itu, malah dia menepuk-nepuk bahunya dengan menghibur dan mengusap-usap rambut A Wan yang menangis di atas pangkuannya.

“Tenanglah, duduklah Twa-so, dan mari kita bicara baik-baik.”

Agaknya baru wanita itu sadar akan keadaan dirinya yang menangis sambil bersandar di dada tamunya. “…………. ohhh……… maafkan aku, In-kong ………”

Ia cepat-cepat mundur dan duduk menekuk lutut, membendung air mata yang bercucuran dengan ujung lengan bajunya. A Wan diraihnya dan anak ini menidurkan kepala di atas pangkuan ibunya sekarang.

“Twa-so, agaknya kau tadi salah duga. Aku hendak pergi sekali-kali bukan karena memandang rendah kepadamu, sama sekali tidak. Malah sebaliknya. Aku sangat kagum kepadamu dan menghormatimu, karena itu aku hendak pergi agar jangan sampai nama baikmu dirusak orang dengan kehadiranku di sini semalam ini. Lebih baik aku tidur di pinggir jalan daripada tidur menginap di sini dengan akibat merusak namamu, Twa-so!”

“Tidak ada bedanya, In-kong, sebelum kau datang, namaku sudah dirusak orang setiap hari. Apa perduli dengan omongan orang asalkan kita benar-benar bersih? Dalam beberapa bulan saja aku sudah kebal terhadap fitnah-fitnah dan omongan-omongan kotor mereka, In-kong. Kalau mereka hendak melakukan fitnah dengan kehadiranmu malam ini di sini, biarlah mereka lakukan. Aku tidak perduli karena aku yakin bahwa kau yang kuhormati dan kumuliakan mengetahui akan kebersihanku.”

Kun Hong menarik napas panjang, makin kagum. Wanita ini biarpun miskin dan janda yang tak berdaya, ternyata seorang yang berpendirian.

“Twa-so, maafkan kata-kataku, akan tetapi kupikir………… akan lebih baik kiranya bagimu dan bagi anakmu kalau kau……….. menikah lagi.”

“In-kong, siapakah di dunia ini mau secara jujur menikah dengan seorang janda miskin yang mempunyai seorang anak? Kecuali laki-laki mata keranjang yang hanya bermaksud mempermainkan saja. Semua laki-laki di sekitar tempat ini memandangku seperti itu, tentu banyak yang mau memeliharaku, akan tetapi…………… mereka hanya ingin mempermainkan, In-kong. Aku tidak sudi……. apalagi Song-wangwe, aku tidak sudi, biar dia boleh suruh tukang-tukang pukulnya memaksaku.”

Kun Hong harus mengakui kebenaran kata-kata ini. Memang banyak laki-laki di dunia ini yang seperti itu wataknya. Menganggap wanita hanya sebagai barang mainan, menarik karena cantiknya, suka menikah dengan janda muda yang cantik hanya untuk dipermainkan belaka. Sudah tentu saja tidak semua laki-laki demikian karena segala sesuatu di dunia ini tentu ada pengecualiannya, akan tetapi sebagian besar laki-laki seperti itulah sifat dan wataknya.

“Susah kalau begitu. Twa-so, apakah kau tidak mempunyai keluarga?”

“Ada seorang pamanku yang tinggal jauh di kota Cin-an, akan tetapi aku tidak tahu betul di mana rumahnya. Satu-satunya orang yang tahu adalah saudara misanku yang jahat, si Tiu yang keparat membantu cepatnya maut merenggut nyawa suamiku dan yang membujuk-bujukku untuk menuruti kehendak hartawan Song!” Suara wanita itu memperdengarkan kemarahan ketika menyebut-nyebut nama Tiu dan Song.

“Orang yang datang tadi? Hemm, sebetulnya, mengapa suamimu mati di waktu masih muda? Dan apa maksud Tiu dan Song, Twa-so?”

Dengan suara menyedihkan janda muda itu lalu bercerita. Tadinya ia hidup bahagia dengan suaminya, seorang petani muda she Yo. Biarpun keadaannya tidak dapat dikata berlebihan, namun dengan milik mereka sebidang sawah, dapatlah mereka menutupi kebutuhan hidup sederhana, bertiga dengan putera mereka, si kecil Yo Wan. Mereka sebenarnya adalah suami isteri pendatang baru dari lain dusun di daerah banjir, mereka adalah korban-korban yang lari mengungsi dan akhirnya menetap di dusun itu setelah menukar seluruh barang-barang mereka dengan sebidang tanah.

Namun, malapetaka mulai mengintai mereka ketika di dusun itu datang pula Lao Tiu, saudara misan Yo Kui, petani muda itu. Lao Tiu ini orangnya licik, curang dan kerjanya hanya berjudi dan selalu terkenal sebagai seorang buaya petualang. Akhirnya si Lao Tiu ini menjadi kaki tangan tuan tanah kaya raya yang menguasai sebagian besar tanah di sekitar tempat itu dan yang pengaruh dan kekuasaannya dikenal di dusun-dusun sekitarnya. Tuan tanah hartawan ini adalah Song-wangwe (hartawan she Song)

Seorang laki-laki setengah tua yang mata keranjang dan terkenal tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapatkan wanita yang dirindukan, baik wanita itu isteri orang lain atau bukan.

Karena kelicikan dan tipu muslihat Lao Tiu ini, akhirnya Yo Kui masuk perangkap si tuan tanah. Mula-mula dia diberi hutang untuk membeli bibit padi dan kerbau, dan karena Yo Kui seorang buta huruf, maka dia tidak tahu bahwa tuan tanah dan Lao Tiu yang “berbudi” itu membuat surat perjanjian juai beli lalu menyuruh dia menanda-tangani dengan cap jempol. Dengan ditandainya surat perjanjian yang tak diketahui isinya itu, Yo Kui berarti telah menjual tanahnya, atau lebih tepat, menukar tanahnya hanya dengan kerbau seekor dan bibit padi sekarung! Semenjak itu, mulailah Lao Tiu mengerjakan lidahnya yang berbisa. Malah dengan berani mati dia membujuk Yo Kui supaya “menyerahkan” isteri yang cantik manis itu menjadi “penghibur” tuan tanah Song, dan merelakan setiap kali hartawan itu membutuhkannya.

Tentu saja Yo Kui menjadi marah sekali dan serta merta menghajar Lao Tiu saudara misannya itu sampai jatuh bangun. Akan tetapi pada beberapa hari berikutnya, lima orang tukang pukul tuan tanah itu datang kepada Yo Kui dan menagih pembayaran sewa tanah. Yo Kui memaki-maki, bilang bahwa dia mengerjakan sawahnya sendiri, mengapa harus bayar sewa? Kalau si hartawan menghendaki kembalinya kerbau dan bibit, boleh diambil kembali kerbaunya dan bibitnya akan dikembalikan kelak kalau sudah panen. Terjadi keributan dan Yo Kui disiksa oleh lima orang tukang pukul itu. Pemuda tani ini jatuh sakit, muntah-muntah darah.

Namun dia masih belum mau menyerah. Setelah penyakitnya agak sembuh, dia pergi ke kota melapor kepada pembesar setempat tentang perbuatan hartawan Song dengan kaki tangannya. Apakah yang terjadi? Mudah diduga. Di dalam negara yang masih kacau seperti Tiongkok di masa itu, jarang ada pembesar yang betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat, apalagi kepentingan rakyat kecil. Hukum diinjak-injak, peri kemanusiaan lenyap dari lubuk hati manusia, agaknya orang malah lupa kepada Tuhan, mengumbar nafsu sejadi-jadinya, mengandalkan setan yang pada waktu itu merubah diri di dalam tumpukan harta dan tingginya kedudukan dan pangkat. Yang berharta dan berpangkat, merekalah yang berkuasa, dialah yang menang, akhirnya siapa yang menang, dialah yang benar! Oleh karena inilah maka tidak mengherankan apabila pembesar yang dilaporinya itu segera turun tangan melakukan tindakan, periksa sana periksa sini, lalu keluarlah keputusan “pengadilan”, bahwa tanah itu telah menjadi milik Song-wang-we dengan sah, bahwa Yo Kui harus membayar lunas uang sewa tanah dan mengembalikan tanah itu, dan bahwa Yo Kui harus membayar biaya pengaduannya kepada pembesar itu!

Melihat dan mendengar keputusan pengadilan macam ini, kontan saja Yo Kui jatuh sakit! Memang dia telah mendapat luka di dalam tubuhnya karena pengeroyokan para tukang pukul, ditambah lagi tekanan batin hebat membuat dia tak dapat turun dari pembaringan, isterinya menjadi gelisah sekali. Kerbau dan alat pertanian terpaksa dijual, sebagian untuk membayar apa yang sudah diputuskan oleh pembesar itu, sebagian untuk pembeli obat dan makan. Akan tetapi penyakit yang diderita Yo Kui makin payah. Dia sakit sampai berbulan-bulan dan setelah semua barang yang ada di dalam rumah dijual oleh isterinya untuk obat dan makan, akhirnya dia……. mati meninggalkan isterinya yang masih muda dan anaknya yang masih kecil!

“Demikianlah, In-kong …………” Janda muda itu mengakhiri ceritanya sambil menghapus air matanya yang bercucuran. “Penderitaanku tidak hanya sampai di situ saja……….. setelah suamiku meninggal, bermunculan setan-setan berupa orang-orang lelaki mata keranjang yang seakan-akan bersaingan dan berebutan untuk membujukku menjadi……….. isteri muda atau piaraan. Terutama sekali si jahat Lao Tiu itu, dia setiap hari membujuk-bujukku untuk menyerah kepada hartawan Song………….”

Kun Hong menahan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan dadanya mendengar penuturan janda muda ini.

“…….. tapi aku bukanlah wanita rendah seperti yang mereka inginkan ………” janda itu melanjutkan, masih terisak, “bagiku, lebih baik aku mati daripada menuruti kehendak mesum mereka, In-kong……….. kalau saja aku tidak melihat A Wan……… ah ……….. agaknya sudah lama aku menyusul suamiku ……..”

Ia menangis lagi, kini lebih menyedihkan, sambil mendekap kepala puteranya di pangkuan.

“Besarkan hatimu, Twa-so, dan percayalah bahwa Thian Maha Adil Selalu akan menolong manusia yang sengsaja. Kau tidurlah sekarang dan besok masih ada waktu untuk kita mencari jalan sebaiknya. Hanya satu hal ingin kuketahui. Pamanmu yang tinggal di Cin-an itu, andaikata kau dan anakmu datang padanya, apakah kiranya dia mau menerima kalian?”

“Dia orang baik, In-kong, dia adik mendiang ibuku, agaknya dia tentu mau menerima kami, biar aku bekerja sebagai bujang tidak mengapa …………”

Percakapan terhenti dan janda muda itu biarpun berkali-kali diminta oleh Kun Hong agar supaya mengaso, tetap saja duduk di dekat lampu untuk menyelesaikan pekerjaannya menambal dan menjahit pakaian Kun Hong. Beberapa kali ia menengok dan memandang ke arah tua penolongnya, ternyata si buta itu duduk bersila tak bergerak seperti patung. “In-kong……….. kau tidurlah ………”

“Biarlah, Twa-so, aku biasa tidur sambil duduk. Kau mengasolah, kurasa sudah hampir tengah malam sekarang.”

“Aku hendak menyelesaikan ini dulu……..” jawab janda muda itu. Akan tetapi setelah selesai menambal pakaian itu, ia duduk termenung sambil menatap wajah yang tak dapat balas memandangnya itu. Hatinya penuh ketrenyuhan, iba hatinya melihat wajah tampan yang berkerut di antara kedua matanya itu. Aduh kasihan, muda belia yang malang, pikir janda muda ini. Apa bedanya bagi dia siang dan malam? Ah, mengapa aku tadi menyuruh dia tidur? Bukankah selamanya dia seperti orang tidur kedua matanya? Jantungnya serasa diiris-iris kalau ia menatap kedua pelupuk mata yang tertutup rata itu, mulut yang mengarah senyum namun membayangkan bekas penderitaan batin yang hebat. Muda belia buta yang malang………..! Memang aneh, janda muda yang sebetulnya juga amat menderita batin dalam hidupnya itu, kini duduk termenung memandang ke arah pemuda buta dengan hati penuh belas kasihan.

Hawa malam mulai dingin. Janda itu menyelimutkan sehelai karung tipis di atas tubuh puteranya, lalu menengok ke arah Kun Hong yang masih saja duduk seperti patung. Ia memperhatikan pernapasan Kun Hong yang rata dan panjang. Benarkah si buta ini bisa tidur sambil duduk? Orang aneh. Muda belia yang malang dan aneh.

“In-kong……………?” Ia berbisik untuk meyakinkan apakah dia benar-benar tidur. Ingin ia menawarkan selimut, selimutnya sendiri, juga sehelai karung tipis. Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak, tidak menjawab. Ah, dia sudah tidur, tak boleh diganggu. Janda muda itu meniup padam api penerangan dan merebahkan diri di dekat anaknya, mendekap anaknya, meringkuk seperti udang di atas tikar rombeng yang dingin.

Kun Hong tidak tidur. Dia tengah bersamadhi. Dia mendengar suara janda itu tadi, akan tetapi sengaja tidak menjawab. Baru lega hatinya ketika janda itu memadamkan api penerangan yang baginya tiada bedanya itu, karena hal itu berarti si janda akan tidur dan dia dapat bersamadhi dengan bebas.

Ayam telah berkokok menyambut datangnya fajar ketika Kun Hong sadar dari tidurnya. Dia segera menggosok-gosokkan jari tangan kepada jalan darah di sekeliling kepalanya untuk menyegarkan perasaan. Pernapasan ibu dan anak yang tidur di depannya itu membuktikan bahwa mereka masih pulas. Kun Hong tersenyum merasai perbedaan keadaan mereka berdua itu antara hari kemarin dan sekarang ini. Duka maupun suka sebetulnya hanya bersifat sementara saja, seperti halnya hidup ini sendiri. Kedukaan yang betapapun besarnya akan lenyap di kala tidur, seperti halnya ibu dan anak di saat itu, tentu sama sekali lupa akan segala penderitaan hidup, lupa akan segala ancaman-ancaman bahaya, lupa bahwa mereka hidup serba kekurangan, malah kalau dikaji (dipikirkan masak-masak) benar, dalam keadan sepulas mereka itu, apa sih bedanya hidup kaya atau miskin, apa bedanya tidur diranjang berkasur atau di atas tikar rombeng?

Kun Hong merasa segar badannya. Kokok ayam jantan saling sahut menyegarkan perasaan dan membangkitkan semangatnya. Malam tadi sudah diambilnya keputusan. Dia harus menolong ibu dan anak ini dan dia harus memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang menindas penghidupan orang-orang miskin di dusun itu.

Mendadak Kun Hong miringkan kepalanya. Dia mendengar derap banyak kaki orang menuju ke rumah gubuk ini! Mencurigakan juga kalau sepagi itu ada serombongan orang laki-laki mendatangi tempat itu, malah dari suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa itu dapat diduga bahwa orang-orangnya sedang marah!

“Perempuan tak tahu malu! Kau benar-benar membikin kotor dusun kami!” terdengar bentakan suara laki-laki yang segera dikenal oleh Kun Hong sebagai suara Lao Tiu yang kemarin sore diusir oleh janda muda itu.

“Dung! Dung-dung!” Pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar. Janda muda itu dan anaknya terkejut dan bangun. A Wan segera menangis ketakutan. Janda muda itupun ketakutan, akan tetapi amatlah terharu hati Kun Hong ketika janda itu berbisik.

“Celaka, In-kong…………., mereka tentu akan mencelakakan kau dengan fitnah……..”

Benar-benar seorang ,berpribudi, pikir Kun Hong. Jelas orang-orang itu beralamat tidak baik bagi sijanda itu sendiri, namun yang dikhawatirkan oleh janda itu adalah diri tamunya, bukan dirinya sendiri!

“Tenanglah, Twa-so…………. tenang dan jangan takut. Orang yang benar akan dilindungi Thian. Nanti kalau aku berdiri dan keluar, kau gendonglah A Wan dan kau harus ikut di belakangku, jangan terlalu jauh. Kau percayalah kepadaku, tak seorang pun akan berani mengganggu kau atau A Wan.”

“Dung-dung-brakk!” Pintu itu hampir roboh oleh pukulan-pukulan dari luar.

“Sundal! Perempuan hina! Keluarlah bersama pacarmu, laki-laki hina si jembel buta itu …………. kalau tidak rumah ini akan kurobohkan!” teriakan Lao Tiu terdengar pula. “Dipelihara Song-wangwe tidak mau malah memasukkan jembel buta, benar-benar seperti anjing menolak roti mencari tai!”

“Kreeeeettttt…………..!” Pintu dibuka oleh Kun Hong dari dalam. Semua mata mereka yang merubung depan pintu pondok itu memandang. Si buta itu berdiri tegak di ambang pintu, tongkatnya melintang di depan dada, wajahnya tenang mulutnya tersenyum tapi kerut merut di antara kedua matanya makin dalam. Di belakangnya tampak janda itu berdiri sambil memondong anaknya, jelas bahwa janda itu amat ketakutan, rambutnya awut-awutan mukanya pucat.

“Wah, tak tahu malu………….. tak tahu malu……….. berjina dengan jembel buta………… kawan-kawan, hayo hajar mampus si buta, seret perempuan hina ini ke depan kaki Song-wangwe!” Sementara itu tanpa memperdulikan Lao Tiu mencak-mencak, Kun Hong berbisik kepada janda tadi menanyakan siapa mereka itu.

Janda itu berbisik menjawab, “Lao Tiu dan lima orang tukang pukul Song-wangwe ………..”

Panas rasa seluruh tubuh Kun Hong. Apalagi setelah Lao Tiu memberi aba-aba kepada lima orang kawannya untuk turun tangan dan lima orang itu bergerak menyerbu. Kun Hong tak dapat menahan sabar lagi. Enam orang itu, Lao Tiu dan lima orang tukang pukul, hanya melihat bayangan berkelebat, sinar hitam menyambar-nyambar ke sekitar diri mereka dan tahu-tahu mereka mengalami rasa sakit yang hebat. Seorang demi seorang menjerit, roboh bergulingan di atas tanah seperti cacing terkena abu panas, mengaduh-aduh kesakitan tanpa dapat mengerti sebetulnya bagian mana dari tubuh mereka yang nyeri. Sungguh aneh dan lucu mereka itu, kadang-kadang menekan perut, lalu kepala, pundak, dada dan lain-lain seperti orang dikeroyok ribuan ekor semut. Adapun Lao Tiu sendiri tahu-tahu sudah dicengkeram tengkuknya oleh tangan yang amat kuat. Dia berusaha memberontak, namun tengkuknya serasa hendak hancur dan panas seperti terbakar.

“Aduh………. a ……… a …………. aduhh……….. lepaskan……….” dia menjerit-jerit seperti seekor babi disembelih, mukanya menengadah dan dapat ditundukkan. Dia masih belum dapat melihat siapa orangnya yang mencengkeram tengkuknya karena dia tidak mampu menggerakkan lehernya, hanya matanya melirik ke sana ke mari penuh rasa takut karena kini dia dapat menduga bahwa yang mencekik tengkuknya pasti si buta itu, juga yang merobohkan lima orang kawan yang dia andalkan. Sementara itu, para penduduk dusun yang tadi beramai-ramai mengikuti rombongan ini dan hendak menonton, memandang dengan mata terbelalak, malah rumah-rumah gubuk itu sekarang terbuka semua pintunya dan berbondong-bondong penghuninya keluar untuk menonton ramai-ramai di waktu fajar ini.

“Manusia berhati iblis! Manusia bermulut kotor!” Berkali-kali Kun Hong berkata perlahan, lalu memaksa Lao Tiu untuk membungkuk, terus membungkuk sampai mukanya menyentuh tanah. Beberapa kali Kun Hong menggosok-gosok muka itu dengan mulut di depan kepada tanah, memukul-mukulkannya perlahan. Lao Tiu hanya bisa bersuara ah-ah-uh saja dan ketika Kun Hong mengangkat kembali, mukanya penuh tanah dan mulutnya berdarah, beberapa buah giginya copot!

“Mulutmu harus dirobek biar lebih mudah kau buka lebar-lebar mencaci maki orang!” kata pula Kun Hong yang masih diracuni kemarahan itu. Tongkatnya digerakkan ke arah mulut Lao Tiu.

“In-kong, jangan……… kasihan dia……..” janda itu berseru penuh kengerian.

Kun Hong makin gemas. Tongkatnya tidak jadi merobek mulut, melainkan menampar pipi kanan kiri sehingga kedua pipi itu menggembung. “Manusia keparat! Dengarlah kau? Dia yang kau caci maki, kau hina, kau fitnah, kau bikin sengsara hidupnya, dia malah mintakan ampun untukmu! Ah, kalau kau masih ada sedikit saja sifat manusia, tak malukah engkau? Manusia keji, ah, alangkah inginku merobek mulutmu dari telinga kiri sampai ke telinga kanan!”

“M……M… ampun………. ampun……..” dengan seluruh tubuh menggigil ketakutan Lao Tiu meratap.
Kun Hong menengok ke kanan kiri, bahwa orang-orang dusun itu berkumpul semua di situ, menonton. “Dengarlah kalian, sahabat-sahabat penghuni dusun ini! Kalian adalah orang-orang bernyali kecil yang karena sifat pengecut kalian itu memang sudah patut dijadikan orang-orang tertindas! Kalian tahu betapa jahatnya manusia-manusia macam ini dan gembongnya yang merupakan diri hartawan dan tuan tanah Song, akan tetapi kalian tidak menaruh kasihan kepada Yo-twaso yang tertindas ini, malah ikut menghinanya hanya untuk menyenangkan hati Song-wangwe dan kaki tangannya! Hemmm, hari ini kebetulan aku lewat di sini dan mendengar urusan penasaran ini, harap kalian jadikan contoh agar lain kali kalian dapat bersatu padu melawan penindas yang membuat sengsara hidup kalian!”

Kun Hong menjambak rambut Lao Tiu dan didorongnya orang itu untuk berjalan. “Hayo antar aku ke rumah majikanmu!” Kepada para penduduk yang berdiri terpaku keheranan itu Kun Hong berkata,

“Kubiarkan lima orang tukang pukul ini menderita sebentar di sini, biar mereka merasakan betapa sakitnya orang disiksa sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk mengingat dan mengenangkan roh dari mendiang Yo Kui. Sahabat-sahabat semua tunggu saja di sini jangan ikut aku ke rumah Song-wang-we. Aku hanya titip Yo-twaso dan anaknya!”

Setelah berkata demikian, dia mendorong tubuh Lao Tiu yang karena ketakutan lalu mengantarkannya ke rumah gedung keluarga Song yang amat megah dan besar. Di depan pintu gerbang gedung itu, Kun Hong memaksa Lao Tiu untuk minta menghadap Song-wangwe karena urusan yang sangat penting. Lao Tiu sudah mati kutunya, tidak berani membantah dan minta kepada penjaga untuk , menyampaikan kepada Song-wangwe bahwa dia minta bertemu untuk urusan “si janda Yo”!

Kiranya kalau bukan urusan ini yang diajukan oleh Lao Tiu, hartawan mata keranjang itu belum tentu mau turun dari tempat tidurnya yang hangat. Sambil mengomel panjang pendek mengapa si Lao Tiu itu begitu kurang ajar membangunkannya sepagi itu, dia keluar juga karena memang sudah amat lama si bandot tua ini merindukan isteri Yo Kui yang cantik manis yang seperti bandot mengilar ingin mendapatkan daun muda yang segar kehijauan.

Akan tetapi kemarahannya lenyap seketika, terganti harapan dan kegembiraan ketika dia melihat Lao Tiu di tempat yang agak gelap itu datang bersama seorang lain. Keadaan masih remang-remang dan mata tuanya sudah agak lamur maka hartawan mata keranjang ini menyangka bahwa Lao Tiu datang bersama si janda cantik!

“Aiih, Lao Tiu, kau pagi-pagi sudah memaksa aku meninggalkan ranjangku yang empuk. Eh, kau datang dengan janda manis yang kurindukan? Heh-heh, mari masuk, manis, kebetulan sekali.”

Tiba-tiba kata-kata yang ramah itu terhenti, terganti seruan kaget yang hanya berbunyi “eh-eh, ah-ah, oh-oh” saja karena seperti halnya Lao Tiu tadi, tengkuknya sudah dicekik oleh Kun Hong yang bergerak cepat menyerbunya.

Kun Hong menyeret Song-wangwe dan Lao Tiu dengan kedua tangannya. Beberapa orang penjaga datang memburu dan memaki, “Penjahat kurang ajar, apakah kau sudah gila? Lepaskan Song-wangwe!”

Akan tetapi kata-kata makian ini hanya sampai di situ saja karena si pemakinya bersama seorang kawannya yang lain sudah terlempar sejauh tiga meter lebih oleh tendangan kaki Kun Hong. Penjaga-penjaga lain datang dengan senjata di tangan.

“Mundur semua!” Kun Hong membentak. “Kalau tidak, lebih dulu akan kupatahkan leher majikanmu. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membereskan urusan penasaran janda Yo!” Setelah mengancam demikian, Kun Hong mendorong terus dua orang tawanannya itu kembali ke tempat tinggal janda Yo Kui. Para penjaga menjadi bingung dan tentu saja tidak berani turun tangan untuk menjaga keselamatan majikan mereka. Penjaga-penjaga itu berkumpul dan hanya berani mengikuti di belakang Kun Hong, sambil berunding bagaimana harus menyerang si buta yang menawan majikan mereka.

“Jangan serang……………. uh-uhh……. jangan serang………….. goblok…………..!” Song-wangwe berkali-kali berteriak mencegah kaki tangannya karena dia betul-betul ketakutan dan sama sekali tidak dapat berkutik dalam cengkeraman yang amat kuat dan menyakitkan leher itu.

Para penduduk dusun berseru keheranan, penuh kekagetan dan kekaguman ketika mereka melihat si buta itu datang lagi, kini menyeret Lao Tiu dan Song-wangwe sedangkan di belakangnya berjalan banyak penjaga tanpa berani bergerak menyerang sehingga dipandang sepintas lalu seakan-akan mereka ini malah menjadi anak buah Kun Hong si buta!

Setibanya di depan pondok janda Yo, Kun Hong melemparkan tubuh Lao Tiu ke bawah. Lao Tiu bergulingan saling tindih dengan lima orang tukang pukul yang masih merintih-rintih seperti ikan dilempar ke darat. Lao Tiu terlampau takut dan terlampau sakit-sakit mukanya, sehingga diapun tidak sanggup bangkit lagi. Kedua pipinya membengkak besar membiru, matanya merah, mukanya kotor dan mulutnya berdarah, bibirnya bengkak-bengkak tebal, giginya banyak yang copot.

“Song-wangwe, apakah kau tahu apa sebabnya aku menawanmu dan menyeretmu ke tempat ini?” tanya Kun Hong, suaranya tegas berwibawa.

Hartawan itu diam saja. Kun Hong memperkeras cengkeramannya dan membentak, “Hayo jawab!”

“Tidak…………… ti……….. tidak tahu……..” suaranya gemetar tubuhnya menggigil.
“Hayo kau ceritakan tentang urusanmu dengan mendiang Yo Kui dan tentang kehendakmu yang kotor terhadap nyonya janda Yo. Tentang Lao Tiu yang kau suruh membujuk-bujuk, tentang penipuanmu menggunakan surat perjanjian tanah, tentang cara kotormu menyogok pembesar yang melakukan pengadilan, tentang lima orangmu yang mengeroyok dan memukul mendiang Yo Kui. Hayo ceritakan, kalau ada yang kau lewatkan satu saja………… hemmm, aku benar-benar akan mematahkan batang lehermu yang lapuk ini!”

Karena nyawanya benar-benar terancam maut di tangan kuat pemuda buta itu, dengan suara tersendat-sendat si tua Song terpaksa menceritakan semua tipu muslihatnya terhadap mendiang Yo Kui, dan betapa dengan bantuan tukang pukulnya dan Lao Tiu, dia berusaha keras untuk menarik diri janda Yo menjadi kekasihnya. Kata-katanya yang terputus-putus ini didengar oleh semua orang tanpa ada yang berani mengeluarkan suara, hanya terdengar isak tangis nyonya janda muda itu yang merasa terharu dan juga bangga karena sekali ini selain ia dapat membalas sakit hati, membuat roh suaminya tidak penasaran, juga sekaligus ia dapat mencuci bersih namanya di depan umum.

Sebetulnya, hal ini bukanlah rahasia bagi para penduduk dusun itu, karena mereka semua sudah tahu macam apa adanya tuan tanah itu dengan sekalian kaki tangannya. Akan tetapi baru kali ini mereka mendengar hal ini dibongkar dan diceritakan oleh si tuan tanah sendiri. Benar-benar hal yang amat luar biasa!

Setelah selesai membuat pengakuan, dengan suara serak tuan tanah itu meratap, “…………. ampunkan saya, Tai-hiap (pendekar besar), ampunkan saya………… saya berjanji……… tidak berani lagi………..”

Gatal-gatal tangan para penjaga dan kaki tangan tuan tanah itu, namun mereka tak berdaya dan tidak berani bergerak karena maklum bahwa si buta itu tak boleh dipandang ringan. Buktinya, lima orang tukang pukul yang pandai silat itupun sekarang masih merintih-rintih tak dapat bangun. Pula, kalau mereka hendak mengeroyok, tentu tuan tanah itu akan terbunuh lebih dulu.

“Mudah saja mengampunkan orang macam kamu, tapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati karena perbuatanmu? Bagaimana dengan wanita-wanita yang sudah kau hina?” Kun Hong membentak.

“Ampun………… ampun………..”

“Hayo kau suruh seorang di antara kaki tanganmu untuk mengambil lima ratus tail perak untuk mengganti kerugian nyonya Yo, sediakan sebuah gerobak berikut kudanya. Cepat! Hanya itu yang akan menjadi pengganti nyawamu.”

Tanpa ayal lagi tuan tanah itu menyuruh seorang kepercayaannya yang berdiri melongo di tempat itu untuk segera memenuhi permintaan Kun Hong ini. Para penduduk ramai membicarakan hal ini, ada yang terheran-heran, ada yang kagum, ada yang iri hati kepada nyonya janda yang sekarang berdiri dengan muka pucat dan bingung, terlalu kaget menghadapi semua kejadian yang sekaligus mengubah jalan hidupnya ini.

Dengan berdiri tegak Kun Hong menanti sampai pesuruh tuan tanah itu datang kembali membawa sebuah gerobak berikut kudanya yang cukup baik, terisi lima ratus tail perak! Semua penduduk memandang dengan melongo. Belum pernah mereka melihat uang perak sebanyak itu, jangankan melihat, mimpi pun belum pcrnah!

“Twa-so, gerobak dan uang ini milikmu. Dengan gerobak ini kau dan anakmu bisa mencari pamanmu ke Cin-an dan uang ini dapat kau pakai sebagai modal hidup.

“……….. ah…………. terlalu…………. terlalu banyak untuk apa ……?” Janda itu berkata gagap.

Kun Hong tersenyum. “Untuk apa, terserah kepadamu karena uang ini milikmu yang sah!”

Janda itu memandang ke kanan kiri, melihat betapa para penduduk memandangnya dengan mata terbelalak, dengan wajah mereka yang kurus-kurus dan pakaian mereka yang tambal-tambalan. Mendadak janda muda itu sambil memondong anaknya lari ke arah gerobak, melihat lima kantong uang perak bertumpuk di situ, lalu berpaling kepada seorang dusun yang sudah tua.

“Chi-lopek (uwak Chi), kau turunkan tiga karung dan kau bagi-bagikan rata kepada semua saudara penduduk dusun kita,”

Hampir saja semua orang tak dapat percaya apa yang mereka dengar ini, kemudian setelah janda itu mengulangi perkataannya, terdengar mereka bersorak sorai dan memuji-muji nyonya Yo. Malah beberapa orang wanita lari menghampiri, memeluknya, menciuminya sambil menangis. Yang lelaki pada tertawa lebar, wajah yang kurus-kurus itu berseri-seri timbul harapan baru dengan adanya tambahan bantuan uang yang tidak sedikit itu.

Kun Hong mengangguk-angguk, diam-diam dia kagum sekali dan benar-benar dia puas telah menolong seorang yang memiliki pribadi setinggi nyonya janda itu. Biarpun seorang dusun, ternyata wanita ini benar-benar seorang bidadari, pikirnya dan terbayanglah wajah Cui Bi di depan mukanya. Setelah selesai tiga karung diturunkan, Kun Hong lalu melepaskan tuan tanah, dengan jari tangannya dia menotok punggung dan pangkal paha. Tuan tanah itu berteriak dan roboh, dari mulutnya keluar darah.

“Kau tidak akan mati,” kata Kun Hong “akan tetapi ingat, sekali lagi kau melakukan gangguan kepada orang-orang tak bersalah, aku akan datang kembali dan membikin perhitungan yang lebih hebat denganmu. Pulanglah!” Tuan tanah itu merangkak bangun, segera dituntun dan diangkat oleh orang-orangnya, Dia tidak tahu bahwa, semenjak saat itu dia takkan mampu lagi melakukan perbuatan hina, tidak akan dapat mengganggu wanita lagi karena dengan kepandaiannya, Kun Hong telah membuatnya menjadi seorang laki-laki lemah. Kemudian Kun Hong menyembuhkan lima orang tukang pukul tadi, akan tetapi mereka inipun mendapat bagian. Dengan memijat urat darah terpenting Kun Hong membuat mereka berlima itu kehilangan tenaga pada kedua lengannya, sehingga selanjutnya mereka takkan dapat menjadi tukang pukul lagi!

“Karena kau masih saudara misan Yo-twaso, kau kuampuni. Akan tetapi kau harus mengantar Yo-twaso ke Cin-an sampai bertemu dengan pamannya. Awas, jangan kau main-main karena sekali kau menyeleweng, nyawamu takkan tertolong lagi,” kata Kun Hong kepada Lao Tiu sambil cepat-cepat dia menyentuh jalan darah di dadanya. Lao Tiu merintih, merasa betapa jantungnya berdetak keras dan ada rasa nyeri dan perih di dekat lehernya.

“Kau terancam maut oleh luka di dadamu,” kata Kun Hong, “dan obatnya hanya akan dimengerti oleh Yo-twaso. Kalau kau sudah mengantarkan ia dengan selamat sampai di Cin-an dan bertemu dengan pamannya, baru dia akan memberi tahu kepadamu cara pengobatannya sampai kau sembuh. Nah, dengan jaminan ini, sekali kau menyeleweng, kau akan mampus dan tubuhmu akan menjadi busuk sebelum nyawamu melayang.” Kun Hong sengaja mengeluarkan ancaman ini, padahal yang dia lakukan itu hanyalah totokan biasa saja dan sama sekali tidak ada bahayanya, dalam waktu sebulan rasa tak enak itu akan hilang sendiri. Akan tetapi dia perlu mengancam dan menakut-nakuti orang berwatak buruk seperti Lao Tiu.

“Yo-twaso, mari kita masuk pondok. Akan kuberi tahu rahasia pengobatan dia itu dan aku akan menukar pakaianku.”

Dengan tongkat meraba-raba ke depan Kun Hong memasuki pondok Nyonya Janda Yo sambil menggandeng tangan A Wan berlari mengikuti. Sampai di dalam pondok, janda muda ini tak dapat menahan lagi hatinya yang penuh perasaan haru, girang, dan bahagia. Sambil terisak menangis ia menubruk Kun Hong dan merangkulnya, menangis tersedu-sedu.

“In-kong…………. ah, In-kong……….. kau telah menyelamatkan hidupku………. menyelamatkan nama baikku………. In-kong, budimu setinggi gunung…… dan………….. kau seorang buta …………! Ah, betapa inginku membalas budimu ………. In-kong, andaikata dapat, aku rela memberikan kedua mataku untukmu!”

Dengan penuh perasaan nyonya muda itu menarik leher Kun Hong dan tanpa malu-malu karena perasaan terima kasih yang meluap-luap ia lalu menciumi kedua mata yang buta itu!

“Twa-so, jangan…………..!” Suara Kun Hong tersedak karena dia menahan perasaannya dan kedua tangannya memegang pundak wanita itu, didorong menjauh. Sejenak wanita itu menatap wajahnya, melihat betapa mata yang buta itu bergerak-gerak, celah-celah belahan pelupuk membasah, hidung yang mancung itu kembang-kemping, bibirnya bergerak-gerak gemetar.

“In-kong………..!” wanita itu lalu menjatuhkan dirinya, kini memeluk kedua kaki Kun Hong dan menciumi sepatu yang kotor, membasahi dengan air mata dan menggosok-gosoknya dengan rambut.

“In-kong, selama hidupku takkan dapat aku bertemu dengan manusia seperti In-kong………… apa artinya menempuh hidup baru di Cin-an kalau aku takkan dapat bertemu dengan orang sepertimu lagi? In-kong, biarlah aku membalas budimu dengan menghambakan diri…………. biarlah aku menjadi bujangmu. A Wan juga………….. biarkan kami berdua merawatmu, biarkan aku menuntunmu …………”

“Yo-twaso, diam…………..!” Kun Hong mengeluarkan suara bentakan dan sekali tarik dia membuat wanita itu berdiri. “Kau wanita baik-baik, kau seorang suci dan mulia hatimu. Thian pasti akan memberkatimu. Hayo kita keluar, kau harus berangkat sekarang juga. Mana pakaianku?”

Dengan masih terisak wanita itu berkata sedih, “Tidak akan kukembalikan, In-kong. kalau tak dapat berkumpul dengan orangnya, biarlah pakaiannya menjadi kenang-kenangan. Kuganti dengan pakaian suamiku pula………….. pergi meninggalkan kami berdua ……………” ia terisak lagi.

Kun Hong maklum bahwa paling berat adalah mempertahankan nafsu hati, oleh karena itu dia tidak mau banyak ribut tentang pakaian, segera dia menuntun tangan A Wan keluar dari pintu, diikuti oleh janda itu. Sambil terisak janda itu minta diri dari semua tetangganya, lalu ia naik gerobak bersama A Wan. Lao Tiu sudah duduk di depan, orang ini sekarang taat benar.

“Aku akan mengantar sampai keluar dusun,” kata Kun Hong dan berangkatlah mereka. Gerobak ditarik kuda berjalan perlahan meninggalkan kampung, di belakang gerobak, Kun Hong berjalan sambil memegang tongkat, Di belakangnya, orang-orang dusun mengantar sampai ke pinggir dusun, melambaikan tangan kepada A Wan dan ibunya.

Setelah gerobak meninggalkan dusun itu sejauh sepuluh li dan tiba di jalan simpang empat, Kun Hong berkata,

“Lao tiu, berhenti dulu.” Gerobak berhenti dan dia berkata kepada janda Yo, “Yo-twaso, nah, sampai di sini kita berpisah. Selamat jalan dan semoga kau bahagia. A Wan, jaga ibumu baik-baik, ya? Sudah, Lao Tiu, sekarang kau balapkan kudamu.”

“Nanti dulu ……….!” Nyonya janda itu melompat begitu saja turun dari gerobak, lari menghampiri Kun Hong dan berlutut di depannya. “Sekali lagi, In-kong……….. bolehkan aku dan A Wan menghambakan diri padamu? Biar kami ikut ke mana kau pergi………….” Suaranya penuh permohonan.

“Bodoh, kau orang baik. Aku seorang buta, seorang pengemis…………….”

“Tidak apa, aku masih bermata. Mataku sama dengan matamu, dan aku………. aku sanggup bekerja untukmu……….. andaikata mengemis sekalipun……………. aku yang akan mengemis, In-kong ………..”

“Cukup semua ini! Twa-so, jangan lemah, ingatlah anakmu. Aku berjanji, kelak akan kucari kau dan A Wan di Cin-an.”

“Betulkah?” Terdengar suara mengandung harapan. “In-kong, sampai kini belum kuketahui namamu yang mulia,”

Kun Hong tersenyum pahit, “Apa artinya nama? Kenalilah aku sebagai sibuta……… dan eh, jangan lupa ……….” Ia mendekatkan mukanya sambil mengangkat janda itu bangun berdiri.

“…… si Lao Tiu tidak kuapa-apakan, kelak bilang saja obatnya minum abu hio, sehari satu sendok sampai sebulan. Nah, selamat jalan!” Kun Hong yang tak ingin wanita itu menunda-nunda perjalanannya, tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu dan………….. melontarkannya ke depan.

Janda itu menjerit lirih, tubuhnya melayang dan………… jatuh dalam keadaan duduk di atas gerobak, di dekat A Wan yang tertawa-tawa melihat ibunya “terbang” tadi.

Gerobak dijalankan cepat. Kun Hong berdiri tegak sampai lama menghadap ke arah gerobak. Sudah lama gerobak itu menikung dan penumpangnya tidak melihatnya lagi, namun telinganya masih dapat mendengar derap kaki kuda yang makin menjauh. Dia menarik napas panjang, lega hatinya karena tadi dia benar-benar gelisah ketika menghadapi bujukan dan permohonan janda muda itu.
“Berbahaya………… !” pikirnya, dia masih terharu kalau mengenangkan janda muda dan puteranya itu. Akan tetapi dia segera mengusir perasaan ini dan melanjutkan perjalanannya sambil bernyanyi.

“Wahai kasih, aku di sini …………..! Menyongsong sinarmu yang hangat…..”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: