Pendekar Buta ~ Jilid 6

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. Dua orang ini adalah orang-orang aneh, tapi Loan Ki benar-benar telah mengeluarkan janji yang tak masuk di akal dan seenak perutnya sendiri. Mana mungkin pencuri di “bayar” dengan janji kalau kelak dua orang itu kelaparan boleh balas mencuri di dapur rumahnya? Tak masuk di akal dan alasan anak-anak, maka dia pun lalu bangkit berdiri, menjura dengan hormat kepada dua orang itu sambil berkata,

“Jiwi Locianpwe harap sudi memaafkan kami berdua yang muda. Sesungguhnya, tadi siauwte yang kelaparan dan siauwte minta adik siauwte ini supaya mengemis makanan. Siapa kira dia tidak berani mengemis malah mencuri. Untuk hal ini, siauwte mohon sudilah kiranya jiwi Locianpwe memaafkan kami berdua.”

Dua orang itu saling pandang, wajah mereka berseri. Selama hidup baru kali ini semenjak menjadi pekerja dapur mereka menerima kata-kata yang enak sekali memasuki telinga mereka. Mereka memandang Kun Hong dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Orang muda baik, biarlah kalau memang kau kelaparan. Paling-paling aku akan dimaki twa-nio,” kata kakek itu dengan suara sabar sekali.

“Pemuda buta yang tampan, kau amat sopan. Ikan itu dapat kucarikan gantinya dengan menjala, juga daging babi dan ayam masih banyak. Siocia dapat kubujuk. Dua orang locianpwe harus bersikap sabar, bukan begitu, Sun-laote?” kata si nenek dan kakek itu pun mengangguk-angguk membenarkan.

“Hong-ko, mereka ini hanyalah seorang koki masak dan seorang tukang gajal, kenapa kau sebut-sebut mereka locianpwe segala? Wah, bisa kepala mereka menjadi makin besar dan kulit muka mereka makin tebal!” tiba-tiba Loan Ki mencela Kun Hong yang menjadi kaget sekali melihat cara temannya ini “merusak” suasana yang sudah begitu baik. Celaka, pikirnya, benar-benar bocah setan, tidak mengerti siasat damai yang dia lakukan.

Benar saja kekhawatirannya. Dua orang itu mengeluarkan seruan marah, memaki-maki lagi dan wanita itu menerjang maju, menyerang Loan Ki dengan penjepit arangnya. Loan Ki tertawa mengejek, menghindarkan serangan ini dengan menggeliatkan tubuhnya ke belakang dan tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar ke arah mukanya. Kaget juga gadis ini, karena ternyata susulan serangan kipas ini amat cepatnya. Ia menjejakkan kaki ke atas tanah, tubuhnya mencelat ke belakang dan terhindar dari hantaman kipas. Di lain saat ia telah menghadapi wanita galak itu dengan pedang di tangan dan senyum simpul menghias bibir.

Kun Hong tidak senang melihat perkembangannya menjadi pertempuran. Akan tetapi karena dari gerakan-gerakan nenek itu dia maklum bahwa kepandaian Loan Ki masih jauh lebih tinggi, maka dia mendiamkannya saja, hanya berkata halus,

“Ki-moi, sesudah mencuri, jangan kau membunuh atau melukai orang! Kalau kau melanggar aku tidak mau bicara lagi denganmu!”

Loan Ki hanya tertawa lirih dan sebentar saja nenek itu menjadi bingung dan berkunang-kunang matanya. Gerakan gadis ini benar-benar lincah sehingga baginya seakan-akan gadis itu mempunyai lima buah bayangan yang mengeroyoknya dari segala penjuru! Ilmu serangannya menjadi kacau-balau dan dengan nekat dan ngawur ia menyerang membabi-buta, menepak-nepak dengan kipas dapurnya seperti orang berusaha menepuk lalat yang terlalu gesit.

“Sun-laote, kau bantu aku menangkap bocah liar ini!” Akhirnya nenek itu berteriak minta bantuan kepada temannya.

Agaknya kakek itu ragu-ragu, lalu mengomel, “Heran benar, masa Hek-kui-nio (Iblis Betina Hitam) tak dapat menangkap seorang gadis cilik?” Kemudian dia menoleh kepada Kun Hong. “Orang muda, bukan aku Ban-gu-thouw (Selaksa Kepala Kerbau) golongan cianpwe hendak menghina yang muda, tetapi sahabatmu gadis liar itu agaknya terlalu lincah untuk Hek-kui-nio. Terpaksa aku harus menangkapnya!”
Akan tetapi pada saat itu terdengar Hek-kui-nio berteriak kesakitan dan ia berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanannya karena kakinya yang kiri kena digajul (ditendang dengan ujung sepatu) oleh Loan Ki sehingga bukan main nyerinya, ngilu dan menusuk-nusuk tulang sumsum!

Laki-laki tinggi besar yang berjuluk Ban-gu-thouw itu dengan marah lalu memutar-mutar golok pemotong babinya, atau mungkin juga pemotong kerbau sesuai dengan julukannya. Angin menderu dan diam-diam Kun-Hong menjadi kaget dan khawatir, jelas terdengar olehnya betapa Ban-gu-thouw ini memiliki tenaga dahsyat yang tak boleh dipandang ringan. Biarpun dia maklum bahwa ilmu silat pedang yang dimiliki Loan Ki jauh lebih hebat dan mempunyai dasar yang tinggi tingkatnya, namun menghadapi seorang lawan kasar yang bertenaga besar dan memegang senjata yang agaknya amat berat, tetap merupakan bahaya bagi Loan Ki.

“Locianpwe, jangan memperhebat permusuhan!” Kun Hong berseru, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah si tinggi besar itu, kedua tangannya bergerak dengan jari-jari tangan terbuka dan……. di lain saat Kun Hong sudah berhasil merampas golok pemotong kerbau itu!

Ban-gu-thouw berteriak keras saking kagetnya. Cepat dia membalikkan tubuhnya dan memandang dengan mata terbelalak. “Heeei, kalau begitu kau tidak buta!”

“Siauwte memang seorang buta,” jawab Kun Hong.

“Kalau buta bagaimana dapat merampas golokku!”

Tanpa menjawab Kun Hong mengangsurkan golok itu kepada pemiliknya.

Ban-Gu-Thouw menerima kembali goloknya dan wajahnya merah sekali karena pada saat itu Loan Ki tertawa haha-hihi. Dia menjadi marah dan berkata, “Orang muda buta, kenapa kau merampas golokku?”

“Kuharap Locianpwe tidak melanjutkan pertempuran yang tidak ada gunanya. Makanan itu sudah masuk perutku, dan aku sudah sanggup untuk minta maaf.”

“Enak saja kau bicara! Kami berdua yang akan menerima hukuman dari twa-nio dan siocia, tapi karena omonganmu tadi enak didengar, kami akan melupakannya saja dan siap menerima hukuman. Siapa tahu sahabatmu si harimau betina itu suka menghina orang dan sekarang kau malah merampas golokku. Ban-gu-thouw dan Hek-kui-nio tidak bisa menerima hinaan orang!”

Kun Hong cepat menjura. “Marap sekali lagi kalian orang-orang tua sudi memaafkan kami orang-orang muda. Kalau perlu, biarlah kami menghadap majikan kalian untuk minta maaf. Kurasa majikan kalian akan menghabiskan urusan makanan yang tak berarti ini.”

Dua orang itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Kun Hong yang tak dapat melihat itu terheran-heran. Malah nenek yang sekarang sudah tidak nyeri lagi kaki kirinya itu tertawa tak kalah kerasnya oleh temannya. Kemudian Ban-gu-thouw berkata,

“Ha-ha, bagus sekali. Kalian mau menghadap twa-nio atau siocia? Ha-ha-ha, orang muda, benar-benar lucu kalau ada orang berani begini tenangnya menyatakan hendak mcnghadap majikan kami setelah berani mencuri makanan. Tapi agaknya kalian mengandalkan kepandaian kalian, dan kau ini orang buta agaknya juga berkepandaian. Sebelum kau menghadap majikan kami, biar kucoba dulu. Bisakah kau merampas golokku sekali lagi? Awas serangan!” Dengan gerakan kuat sekali Ban-gu-thouw membacok ke arah kepala Kun Hong. Pemuda ini dengan tenang miringkan kepala, jari tangannya meluncur ke arah pergelangan tangan disusul cengkeraman ke arah gagang golok dan……. sebelum Ban-gu-thouw tahu mengapa tiba-tiba tangannya menjadi gringgingen (kesemutan), goloknya telah pindah ke tangan orang buta itu! Dan tanpa berkata apa-apa kembali Kun Hong mengangsurkan golok kepada pemiliknya.

“Hek-cici, dia ini siluman, lebih baik kita pulang siap menerima hukuman!” kata Ban-gu-thouw sambil menyambar goloknya dan berlari pergi di ikuti temannya. Loan Ki mengikuti mereka dengan suara ketawanya yang nyaring sampai mereka tidak kelihatan lagi punggung mereka.

“Hi-hik alangkah lucunya dua orang badut itu!” Loan Ki berkata sambil duduk di depan Kun Hong yang sudah duduk pula di atas akar pohon.
“Apanya yang lucu! Ki-moi, kau benar-benar keterlaluan. Sudah mencuri, memperolok mereka yang tentu akan menerima hukuman dari majikan mereka. Hanya aku amat heran, siapakah majikan yang mempunyai koki dan jagal seperti mereka itu? Kepandaian mereka itu tak patut dimiliki seorang koki dan jagal biasa. Tentu majikan itu luar biasa pula dan bukan orang sembarangan. Sudah sepatutnya kita datang ke sana minta maaf.”

Loan Ki cemberut. “Tak sudi aku minta maaf! Apalagi kepada twa-nio dan siocia yang mereka sebut-sebut tadi. Huh, lebih baik kupergunakan pedangku memberi hajaran kepada mereka.”

Kun Hong menghela napas. “Sudahlah, kalau begitu kita tidak usah pergi ke sana. Tapi tak baik pula kita tinggal bersama-sama di sini, kalau mereka datang lagi tentu hanya akan menimbulkan keributan belaka. Ki-moi, aku sungguh merasa beruntung dapat berkenalan denganmu. Adik yang baik, selanjutnya kau berhati-hatilah melakukan perjalanan, lebih baik kalau kau segera pulang dan jangan merantau seorang diri. Seorang dara remaja seperti kau ini lebih aman kalau berada di rumah orang tuamu sendiri. Jauhkan permusuhan, jangan terlalu menurut nafsu hati. Nah, Ki-moi kita berpisah di sini. Mudah-mudahan lain waktu ada kesempatan bagi kita untuk saling bertemu kembali.”

Kun Hong tidak tahu betapa gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak seperti orang kaget. Agaknya ia sama sekali tidak ingat bahwa pertemuan itu akan berakhir dengan perpisahan. Tiba-tiba ia memegang tangan Kun Hong dan ditariknya pemuda buta itu berdiri.

“Hong-ko, hayo berangkat!” ajaknya.

“Eh, ke mana? Jalan kita bersimpang di sini.”

“Iihh, siapa bilang? Kita mengejar mereka, mengunjungi majikan dua orang badut tadi.”

“Heh?” Kun Hong melengak heran, “Kau bilang tadi tak sudi ke sana, tak sudi minta maaf!”

“Sekarang aku ingin sekali ke sana! Ingin aku melihat si muka hitam kepala kerbau itu dipukuli kepalanya oleh twa-nio sampai bengkak-bengkak dan melihat si nenek setan itu menyelam di air sampai perutnya kembung, hi-hi-hik!”

Kun Hong hanya dapat menarik napas panjang karena gadis itu sudah menariknya dan diajak lari. Sebetulnya dia tidak ingin pergi berdua lebih lama lagi dengan gadis yang merupakan penggoda batinnya ini, akan tetapi dia pun tidak tega membiarkan gadis itu pergi seorang diri menemui majikan yang aneh dan mencurigakan itu. Dia tahu dengan pasti bahwa sekali menyatakan keinginan hatinya, tidak ada lautan api yang dapat menghilangkan gadis kepala batu ini.
Perumahan itu ternyata luas sekali, terdiri dari sembilan buah bangunan gedung besar dan tinggi bertingkat. Dari jauh saja sudah kelihatan catnya yang beraneka warna. Hebatnya, perumahan itu dikelilingi oleh air sehingga merupakan pulau kecil di tengah danau yang besar dan luas. Memang demikian halnya. Tadinya, di dalam hutan itu terdapat sebuah danau besar dan di tengah danau terdapat pulaunya. Sudah hampir tiga puluh tahun yang lalu danau itu dijadikan perumahan. Memang janggal kelihatannya di tempat sunyi itu, jauh dari kota, terdapat rumah-rumah gedung di tengah danau.

Penduduk dusun-dusun yang paling dekat terletak dua puluh li dari danau itu mengenal tempat itu dengan nama Ching-coa-ouw (Danau Ular Hijau) dan pulau itu pun disebut Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau). Mereka ini tidak tahu betul siapa penghuni perumahan mentereng itu, hanya tahu betul bahwa majikan daerah Ular Hijau ini mempunyai banyak pelayan yang galak-galak, aneh-aneh, dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga sekitar sepuluh li di sekeliling danau itu yang disebut “Daerah Ular Hijau” seakan-akan berada di bawah kekuasaan majikan Ular Hijau. Orang mencari kayu kering sekali pun tidak akan berani mencari nafkahnya dalam daerah Ular Hijau! Memang terdapat sebuah jalan besar yang cukup rata menuju ke danau itu dan jalan ini merupakan jalan umum, akan tetapi setibanya di danau kecil itu, mereka akan mendapatkan jalan buntu.

Para pedagang sayur-sayuran dan kebutuhan sehari-hari lainnya banyak mendapatkan untung kalau menjual dagangan mereka di tempat itu akan tetapi tak seorang pun di antara mereka pernah berurusan sendiri dengan majikan Ular Hijau karena segala urusan tentu dibereskan oleh para pelayan. Para pelayan inilah yang kemudian menyeberang ke pulau dengan perahu-perahu yang memang banyak dimiliki oleh majikan Ular Hijau.

Ada desas-desus di antara penduduk dusun di sekitarnya, desas-desus yang merupakan dongeng bahwa majikan Ular Hijau bukanlah manusia biasa, melainkan seorang dewi dan seorang puteri yang secantik bidadari dan yang pandai “berlari di atas air” dan pandai “terbang”! Sudah tentu saja hal ini merupakan dongeng dari mulut ke mulut karena kalau ditanya sungguh-sungguh, tak seorang pun pernah menyaksikan dengan mata sendiri.

“Hong-ko, keadaan mereka amat aneh,” di tengah jalan Loan Ki bercerita sambil menuntun Kun Hong. “Aku mendengar dari orang-orang dusun bahwa daerah Ching-coa itu merupakan daerah terlarang. Entah orang-orang macam apa yang menguasai daerah ini. Dari jauh kulihat rumah-rumah gedung di atas pulau kecil di tengah danau, sunyi bukan main.”

“Kalau begitu, bagaimana kau dapat pergi ke gedung itu?”

“Aku tidak pergi kesana. Tadinya aku hendak mencari makanan, siapa kira tempat ini sepi sekali, tak kulihat sebuah dusun. Akhirnya aku bertemu dengan pedagang sayur yang hendak mengantarkan sayuran kepada Ching-coa-to, maka aku ikut dengan dia. Sampai di pinggir telaga, pedagang itu berurusan dengan pelayan tempat itu. Kebetulan sekali datang gerobak yang membawa masakan-masakan lezat itu, juga arak. Aku minta beli, tapi malah dimaki-maki. Aku hilang sabar, menotok roboh empat orang pelayan dan merampas makanan dan arak.”

“Kau memang nakal.”

“Kalau perut lapar orang jadi nekat, Hong-ko. Keadaan mereka benar-benar aneh dan mencurigakan. Kita tak mungkin dapat secara berterang mengunjungi mereka.”

“Habis bagaimana?”

“Aku ada akal. Kulihat tadi ada sekumpulan perahu bercat hijau diikat di pinggir telaga. Kurasa perahu-perahu itu pun milik majikan Ching-coa-to. Kita pergunakan saja perahu itu, kita menyeberang dan melihat keadaan di sana.”

“Sesukamulah, asal kau jangan menimbulkan onar,” jawab Kun Hong yang juga mulai tertarik oleh penuturan tentang keadaan penuh rahasia itu.

Betul saja seperti diceritakan oleh Loan Ki tadi, jalan itu sunyi sekali dan sampai mereka tiba di pinggir telaga, keadaan tetap sunyi tak tampak seorang pun manusia. Dari tempat itu kelihatan tembok perumahan di atas pulau akan tetapi juga tidak kelihatan ada manusia di sekitar telaga. Hari sudah menjelang senja, matahari yang kemerahan membayangkan cahayanya di atas air telaga yang berkeriput seperti sutera biru kemerahan. Akan tetapi Loan Ki tidak memperhatikan keindahan alam di senja hari ini, sedangkan Kun Hong yang suka akan keindahan alam tidak dapat melihatnya. Gadis itu sedang mencari-cari dengan matanya dan akhirnya ia menarik Kun Hong ke dalam hutan kecil di sebelah kiri jalan, lalu menyelinap di antara pohon-pohon.

“Hong-ko, aku melihat ada perahu di pinggir sana. Hayo lekas kita pergunakan perahu itu sebelum pemiliknya datang melihat kita.”

“Huh, kau hendak mencuri lagi?”

“Ih, bukan mencuri, hanya pinjam sebentar untuk kita pakai menyeberang. Kau benar-benar terlalu suci hatimu, Hong-ko!” Loan Ki mengomel dan Kun Hohg terpaksa tersenyum.

“Baiklah. Kalau tidak dituruti kehendakmu, aku takut kau menangis.”

Loan Ki tertawa dan menarik tangan Kun Hong. Sambil bergandengan tangan mereka lari ke arah perahu kecil yang terapung-apung di pinggir telaga, tersembunyi di antara pepohonan yang tumbuh menjulang ke pinggir telaga. Perahu itu kecil mungil, bentuknya ramping dan ujungnya meruncing, terikat kepada sebatang tonggak kayu yang sengaja dipasang di situ. Di dalam perahu terdapat sebatang dayung yang gagangnya terukir indah merupakan gambar ular melingkar pada dayung itu dan terdapat ukiran huruf “Ching-coa” (Ular Hijau).

“Wah, perahu ini pun milik Ching-coa-to, Hong-ko. Mari naik.”

Kun Hong dituntun melangkah dan masuk ke dalam perahu, terus duduk. Dara itu pun masuk setelah melepaskan tali dan mendayung. Perahu kecil meluncur cepat ke tengah telaga.

“Perahu kecil tapi bagus!” Kun Hong memuji. “Imbangannya tepat, kayunya kuat dan ringan, luncurannya laju. Ditambah tenaga dalammu yang kuat, ah……. nikmat benar berperahu seperti ini. Hemm……. sayang tidak ada arak …….”

Loan Ki tertawa. “Dasar pelamun dan pemalas. Sungguh tak pantas seorang laki-laki duduk enak-enak membiarkan seorang wanita mendayung perahu.”

“Eh, mana dayungnya. Tapi aku tidak tanggung perahu ini akan meluncur ke mana. Kalau kembali ke daratan sana jangan salahkan aku yang tak bermata!”

“Tak usah, Hong-ko. Aku hanya berkelakar, masa sungguh-sungguh? Apa sih sukarnya berdayung begini, aku memang ahli dayung, semenjak kecil sudah biasa aku berlayar malah di samudera besar bersama ayah.”

Memang nyaman sekali hawanya di tengah telaga. Angin bertiup perlahan membawa keharuman aneka macam bunga yang tumbuh di tepi telaga dan di pulau, hawanya sejuk dan sunyi. Suara air terkena dayung berirama amat menyedapkan pendengaran. Suasana ini menimbulkan kegembiraan di dalam hati Kun Hong, dan otomatis pikirannya merangkai sebuah sajak yang segera disenandungkan perlahan mempergunakan suara dayung menimpa air sebagai irama pengiring nyanyian.

“Biduk kecil meluncur laju, menentang hembusan angin lalu membawa harum seribu kembang tambah nyaman ayunan gelombang membikin si buta ingin bertembang wahai kasih aku di sini!!”

Tiba-tiba suara dayung menimpa air terhenti, biduk berhenti melaju dan Loan Ki bertanya kaku, “Yang mana kasihmu itu, Hong-ko? Kau terkenang kepada si janda muda?”
Kun Hong tertawa. “Jangan membawa-bawa janda itu ke sini, semoga ia sudah berjumpa dengan pamannya dan hidup bahagia bersama anaknya. Dunianya dan duniaku jauh berpisahan, Ki-moi.”

Agaknya senang hati gadis itu mendengar jawaban ini, buktinya ia tidak lagi bertanya tentang kekasih Kun Hong, sebaliknya malah terdengar ia memuji.

“Kau pandai benar bersajak dan bertembang, Hong-ko. Kata-katamu muluk, lagunya sedap didengar, dan suaramu empuk benar.”

Kun Hong tertawa. “Kau lebih pandai lagi memuji orang, sebentar lagi bisa aku membubung tinggi ke awang-awang oleh pujianmu. Heee, Ki-moi, sudah lama sekali perahu melaju, kenapa belum juga sampai di pulau? Kalau pulau itu tadi dapat kau lihat dari darat tentu tidak sejauh ini!”

“Aku sengaja memutar, Hong-ko. Masa aku begitu bodoh mendarat di pulau itu dari depan? Ingat, kunjungan kita ini bukan kunjungan terundang. Aku akan mengitari pulau, mencari tempat yang tepat untuk mendarat sehingga mereka yang di pulau tidak melihat kedatangan kita.”

Kun Hong mengerutkan keningnya, “Sebetulnya aku tidak suka mengunjungi tempat orang dengan sembunyi seperti pencuri saja. Adik Loan Ki, apakah tidak lebih baik kalau kita secara berterang mengunjungi mereka untuk menyatakan penyesalan dan permintaan maaf kita? Mungkin majikan pulau itu akan menghabiskan urusan kecil itu dan bersikap manis.”

“Hemm, agaknya kau sudah membayangkan siocia cantik jelita dan manis menyambutmu dengan senyum di bibir dan bintang di manik mata, ya? Dasar kau ini…….”

“Bukan begitu, Ki-moi. Tapi kan lebih baik menjadi tamu terhormat daripada tamu tak diundang?”

“Apa kau lupa bahwa kita telah, memakai perahu mereka tanpa ijin? Mana ada orang datang minta maaf dengan jalan mencuri perahu pula? Jangan-jangan begitu berjumpa kita akan dicaci maki. Tidak, aku tidak ingin bertemu dengan mereka, baik toa-nio atau siocia itu, baik si iblis betina tua maupun si iblis betina muda. Aku hanya ingin menyaksikan betapa lucunya koki dan jagal tadi menerima hukuman mereka, hi-hik!”

“Kau memang nakal, Ki-moi….. heeeiii, bukan main harumnya …….!”

Loan Ki tiba-tiba memegang lengan Kun Hong dan terdengar gadis ini berseru lirih, “Aduuuuuhhh, hebat…….! Bukan main …..! Majikan pulau ini benar-benar telah menjadikan pulau ini sebagai taman surga…….!”

“Ada apa, Ki-moi? Kau melihat apa?” Penuh gairah Kun Hong bertanya, kepalanya agak dimiringkan, hidungnya kembang kempis, kerut-merut antara kedua matanya yang buta. Telinga dan hidung, dua alat pengganti mata untuk mengetahui apakah sebenarnya di depan sana, sekarang dikerahkan.

“Taman indah, penuh kembang beraneka warna, menara-menara merah dan kuning, patung ukir-ukiran di sana-sini, kolam-kolam dengan air berwarna, buah-buahan tergantung rendah……. ah, entah apa lagi di sana, sudah agak gelap, Hong-ko……. wah, kulihat banyak kijang, ada kelinci……. monyet-monyet di pohon……. burung-burung beterbangan, merak…….. aduh indahnya…….”
Wajah Kun Hong berseri gembira, kerut-merut di antara matanya makin jelas tampak, senyumnya membayangkan kepahitan. Agaknya Loan Ki menoleh dan menatap wajahnya. Gadis ini kembali memegang lengannya dan kini suaranya sudah kehilangan kegembiraan. “Ah, sebetulnya hanya taman biasa, Hong-ko. Masih tidak menang dengan taman ayahku. Tapi, merupakan tempat pendaratan yang baik bagi kita.”

Loan Ki mendayung perahunya ke pinggir. Tiba-tiba ia berseru kaget dan perahu berhenti melaju.

“Ada apa, Ki-moi?”

Dara itu menyumpah perlahan. “Gila benar! Banyak sekali teratai liar di sini, sambung-menyambung dan tebal. Perahu kita tak dapat lewat, celaka. Biar kucari jalan dari sana. Sebelah sana itu agaknya kelihatan bersih dari gangguan tanaman-tanaman ini.” Ia mendayung kembali perahunya mundur untuk melepaskan diri dari taman teratai di air ini. Agak lama ia mendayung mencari air bersih untuk meminggirkan perahunya.

Akhirnya dapat juga ia minggir. “Kita mendarat, Hong-ko.” Gadis itu memegang ujung tambang, lalu menggandeng tangan Kun Hong. Keduanya melompat ke darat dan Loan Ki mengikatkan tambang kepada sebatang pohon di pinggir telaga.

“Lho, di mana kita ini…….?” Tiba-tiba ia mengeluh. Suaranya terdengar begitu kaget dan heran sehingga Kun Hong cepat memegang tangannya.

“Ada apa lagi, Ki-moi?”

“Aneh, Hong-ko. Benar-benar aku bingung dan tidak mengerti. Ke mana lenyapnya taman surga tadi? Baru saja masih ada, aku tahu betul, malah perahu kudaratkan di pinggir taman, tampak jelas dari perahu tadi. Tapi setelah kita mendarat, kenapa kita di tempat yang buruk, liar merupakan hutan gelap begini?”

“Barangkali hutan ini merupakan bagian daripada taman tadi, Ki-moi. Mari kita cari ke depan. Anehnya, ganda harum tadi juga lenyap dan sekarang…….. hemmm, baunya amat tidak enak, Ki-moi.”

“Benar, Hong-ko. Aku pun merasa muak dan ingin muntah. Bau apa sih ini?”

Pegangan tangan Kun Hong pada lengan gadis itu tiba-tiba menjadi lebih erat.

“Ki-moi, mari kita kembali saja. Kalau aku tidak salah duga, ini bau……. amisnya ular-ular beracun! Agaknya pulau ini banyak rahasianya dan merupakan tempat amat berbahaya bagi seorang luar.”

“Tidak, Hong-ko. Aku tidak takut! Aku malah makin ingin sekali menyelidiki tempat aneh ini berikut penghuni-penghuninya. Hayo kita maju, Hong-ko.”
Dengan berhati-hati dua orang muda itu berjalan maju. Belum ada sepuluh langkah mereka memasuki hutan liar itu, tiba-tiba Kun Hong menggerakkan tongkatnya ke kiri, cepat seperti kilat menyambar. Loan Ki kaget dan menengok ke kiri dan…… ia menahan jeritnya melihat seekor ular sebesar lengan tangan telah hancur kepalanya, berkelojotan dan menggeliat-geliat di atas tanah. Ular itu kulitnya berwarna hijau mengkilap, seluruh tubuh mengeluarkan lendir berminyak ketika dia berkelojotan itu. Bau amis makin memuakkan. Dalam kengeriannya, Loan Ki diam-diam makin kagum dan heran sekali kepada pemuda buta ini. Bagaimana seorang buta malah lebih “awas” daripada ia yang selain berkepandaian tinggi, juga memiliki sepasang mata yang tajam?

“Ki-moi, daerah ini berbahaya sekali. Apakah warna kulit ular itu?”

“Hijau…….” jawab Loan Ki, suaranya masih gemetar sedikit karena tegang. Ia maklum betapa berbahayanya ular itu, ular berbisa yang amat jahat.

“Hemm, ching-coa (ular hijau)……. agaknya penghuni aseli pulau ini ……. Ki-moi, kau keluarkan pedangmu, siap-siap menghadapi segala kemungkinan. Aku khawatir kalau-kalau kita dikurung musuh.”

Mendadak dari arah belakang mereka terdengar suara yang sayup sampai dibawa angin, “Haaiiiii! Anak-anak nakal, jangan tergesa-gesa mendarat …….!”

Kun Hong dan Loan Ki terkejut, cepat membalikkan tubuh. Kun Hong memasang telinga memperhatikan tapi tidak mendengar suara apa-apa. “Apa yang kau lihat, Ki-moi? Siapa yang datang dari telaga?” bisiknya.

Loan Ki membelalakkan mata memandang. Cuaca sudah mulai gelap, akan tetapi ia dapat melihat datangnya sebuah perahu besar berlayar kuning dengan cepat menuju pantai. Ia kaget sekali dan mengira bahwa suara tadi ditujukan kepada mereka. Mungkinkah dari jarak yang begitu jauh orang di dalam perahu itu dapat melihat mereka? Ia menarik tangan Kun Hong diajak menyelinap bersembunyi di balik rumpun pohon kembang.

“Ki-moi, apakah ada perahu datang?” Sekali lagi Loan Ki heran dan kagum. Jalan pikiran Kun Hong benar-benar tajam dan cerdik biarpun pemuda ini tak dapat melihat lagi. Memang sesungguhnya Kun Hong cerdik. Kalau ada orang atau apa saja berada di darat di sekitar tempat itu yang terlihat oleh Loan Ki, tentu akan dapat ditangkap oleh telinga atau hidungnya. Terang bahwa Loan Ki melihat sesuatu, dan karena tidak mendengar apa-apa, maka dapat dia menduga bahwa suara orang tadi tentulah datang dari perahu.

“Perahu besar…….” kata Loan Ki, “berlayar kuning……. ada lima orang laki-laki berpakaian hijau di atasperahu, memegang tongkat……. eh, seperti suling. Perahu sudah minggir, Hong-ko……. kulihat benda-benda panjang kecil meloncat ke air, ke darat, seperti ranting-ranting kayu panjang……. heiii, benda-benda itu bergerak……. ohh, Hong-ko. Ular! Ular-ular besar kecil, banyak sekali, puluhan……. ah, ratusan mungkin ribuan. Dan lima orang itu berjalan di belakang mereka. Apa itu…….? Ah, mereka……. mereka agaknya menggembala ular-ular itu!”

Kun Hong miringkan kepala, hidungnya mengembang-kempis. “Ki-moi, lihat baik-baik. Apakah di antara mereka terdapat seorang tua bongkok yang bercacat, telinga kiri dan lengan kiri buntung, mata kiri buta, dan mulutnya lebar seperti robek?”

“Tidak ada, Hong-ko. Tapi……. tapi ular-ular itu menuju ke sini, Hong-ko. Celaka, mari kita lari menjauhi mereka!” Loan Ki memegang tangan kiri Kun Hong dan menariknya lari dari situ, memasuki hutan. Tangan gadis itu agak dingin, tanda bahwa ia merasa ngeri sekali.

Siapa tidak akan merasa ngeri kalau melihat ular-ular yang amat banyak itu bergerak-gerak maju seperti mengejar, dengan baunya yang amat amis? Apalagi tak lama kemudian terdengar seorang di antara lima “penggembala ular” itu berteriak keras.

“Heeiii, seekor peliharaan kita mati dengan kepala hancur di sini! Wah, ini tentu perbuatan orang. Hayo kita cari!”

“Jangan-jangan perahu kecil tadi yang membawa orang asing datang ke sini,” kata suara lain.

“Ular ini baru saja bertemu musuh, tubuhnya masih berkelojotan. Tentu pembunuhnya belum pergi jauh. Hayo kejar, pergunakan anak-anak kita!” kata suara pertama bernada memimpin. Lalu terdengar suara suling yang ditiup secara aneh sekali.

Mendengar ini, Kun Hong berkata perlahan. “Hemm, kiranya benar ular-ular terpelihara. Jangan-jangan dia di belakang ini semua.”

“Dia siapa, Hong-ko?”

Kun Hong memegang lengan gadis itu dan berkata, suaranya sungguh-sungguh,

“Ki-moi, kalau benar dugaanku, kita benar-benar telah berada di tempat yang amat berbahaya. Terang bahwa suling itu bersuara untuk memberi aba-aba kepada ular-ular itu untuk mengejar kita. Heii, awas!” Tiba-tiba Kun Hong menggerakkan tongkatnya ke kanan dua kali dan ketika-Loan Ki menoleh……. kiranya dua ekor ular sebesar paha telah putus lehernya. Darahnya menyembur-nyembur dan tubuh ular yang empat lima meter panjangnya itu berkelojotan, saling belit! Dengan hati penuh ketegangan, Loan Ki lalu menarik tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu lari lebih cepat lagi.

“Wah, suara suling itu malah memberi perintah kepada semua ular yang berada di tempat ini,” kata Kun Hong. “Hati-hati, Ki-moi!”

Benar saja dugaan Kun Hong, karena beberapa kali mereka diserang ular-ular besar kecil, Loan Xi menggunakan pedangnya membunuh beberapa ekor ular yang, rnenghadang di depan, juga Kun Hong selalu menggunakan tongkatnya untuk membunuh ular-ular yang hendak mengganggu. Mereka tidak pernah berhenti, terus berlari ke depan dan akhirnya mereka keluar dari hutan itu. Jalan mulai memburuk, penuh batu karang dan kiranya di situ terdapat pegunungan batu karang yang sukar dilalui. Karena tidak mengenal jalan kedua orang itu terpaksa maju terus dan sementara itu, cuaca sudah mulai gelap, senja telah lewat terganti datangnya malam. Suara ular-ular yang mendesis-desis beserta para penggembala yang berteriak-teriak sudah tak terdengar lagi. Dua orang itu mendaki gunung kecil.

“Kita harus mencari tempat sembunyi yang aman,” kata Loan Ki. “Dengan adanya ular-ular itu, tak mungkin kita bergerak di waktu malam gelap.”

Kun Hong menghela napas. Jalan itu benar sukar dan andaikata dia tidak dituntun oleh Loan Ki, tentu akan amat lambat dia dapat maju mencari jalan.

“Siapa kira, karena kau ingin melihat tontonan lucu, akhirnya menjadi tidak lucu. Kita menjadi buronan di pulau orang. Baiknya besok kita segera kembali saja ke daratan sana.”

“Hong-ko, bukankah pengalaman kita tadi cukup hebat, menegangkan dan lucu? Mungkin besok kita bertemu dengan pengalaman yang lebih lucu dan hebat lagi siapa tahu? Sementara ini, kita masih selamat. Nah, itu di depan kulihat banyak lubang-lubang besar di dinding karang, tentu ada gua yang dapat kita pakai tempat bersembunyi.”

Mereka mempercepat pendakian yang sukar itu. Baiknya Loan Ki memiliki ginkang yang cukup tinggi sehingga Kun Hong dapat mengikutinya dengan baik, tanpa mengkhawatirkan keadaan temannya itu. Akhirnya telah sampai di dekat dinding karang yang banyak berlubang merupakan gua-gua besar, jalannya menjadi rata.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari depan, “Siapa berani masuk Ching-coa-to tanpa ijin? Benar-benar sudah bosan hidup!” Dan muncullah seorang laki-laki pendek yang bersenjata ruyung baja. Tanpa banyak cakap lagi laki-laki itu segera menerjang maju sambil mengerahkan ruyungnya. Loan Ki marah dan dengan pedang di tangan ia memapaki. Ketika ruyung menyambar ke arah kepalanya, gadis itu meliukkan tubuh ke kiri tanpa menunda terjangannya. Sambil miring ke kiri pedangnya menyambar secepat kilat. Orang itu berteriak kaget, akan tetapi masih sempat membuang diri ke kiri sambil membabatkan ruyungnya. Dia terhindar dari bahaya, akan tetapi keringat dingin membasahi dahinya. Tak dia sangka bahwa gadis remaja itu demikian hebat ilmu pedangnya.

Gerakan Loan Ki yang sekali gebrakan saja sudah hampir dapat merobohkan lawan, membuat lawannya ragu-ragu untuk menyerang lagi. Dia bersuit keras dan terdengar suitan-suitan dari beberapa penjuru. Loan Ki terkejut, maklum bahwa mereka berdua telah terkepung. Akan tetapi Kun Hong lebih cepat lagi. Sekali bergerak pemuda buta itu sudah melompat ke arah si pendek. Dalam keadaan remang-remang itu si pemegang ruyung tidak tahu bahwa yang melompatinya adalah seorang buta. Dia kaget dan menghantamkan ruyungnya, akan tetapi tiba-tiba dia jatuh lemas dan ruyungnya terlempar entah ke mana. Tanpa dia ketahui bagaimana caranya, dia telah roboh tertotok dan lemas tak dapat bergerak maupun bersuara lagi!

“Ki-moi, lekas, cari tempat sembunyi…….!” kata Kun Hong yang tidak menghendaki terjadinya pertempuran di tempat itu. Dia benar-benar merasa tidak enak sekali telah mengganggu tempat orang dan menimbulkan keonaran.

Loan Ki adalah seorang dara remaja yang tidak pernah mengenal artinya takut dalam menghadapi lawan dalam pertempuran, maka sekarang pun biar ia tahu telah dikurung musuh, ia tidak merasa gentar. Akan tetapi karena ia sudah mulai mengenal watak temannya yang buta dan aneh, kini ia maklum pula bahwa Kun Hong tidak suka menghadapi pertempuran dengan orang-orang yang sebetulnya memang tidak mempunyai urusan apa-apa dengan mereka berdua. Maka ia lalu menggandeng tangan Kun Hong, diajak lari kembali menuruni puncak. Akan tetapi tiba-tiba ia bergidik, terdengar suara mendesis-desis dan dari bawah puncak merayap ular-ular tadi bersama penggembala-penggembalanya yang bersuit-suit. Lawan manusia biasa Loan Ki takkan undur, akan tetapi menghadapi ular-ular itu ia benar-benar merasa jijik dan ngeri. Ia cepat mengajak Kun Hong naik ke puncak lagi dan sekarang di depan mereka sudah muncul dua orang laki-laki yang memegang golok. Tanpa banyak tanya dua orang laki-laki itu segera menerjang mereka karena baru saja mereka melihat seorang kawan mereka rebah tak bergerak dan mereka kira sudah tewas.

Juga kali ini Kun Hong yang cepat bergerak. Bagaikan seekor burung rajawali sakti dia melayang ke arah dua orang itu. Dua buah golok berkelebat menyambar ke arah tubuhnya, akan tetapi golok-golok itu segera terlempar jauh dan dua orang itu memekik lemah terus roboh tak berkutik!

“Kau hebat, Hong-ko…….!” Loan Ki memuji dengan kagum sekali. Ia sendiri mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat yang terkenal amat indah gerakan-gerakannya, akan tetapi menyaksikan gerakan Kun Hong tadi ia benar-benar merasa kagum. Akan tetapi yang dipujinya sama sekali tidak memperdulikan, malah membentak,

“Hayo lekas cari tempat sembunyi, Ki-moi!”

Loan Ki kembali menarik tangan Kun Hong dan berlari ke arah dinding batu karang. Dari sebelah kanan dan kiri terdengar bentakan-bentakan orang, juga dari belakang. Gadis itu melihat banyak lubang-lubang pada dinding itu, lalu menarik Kun Hong masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup besar untuk dimasuki orang sambil merangkak. Karena didorong oleh Loan Ki, Kun Hong masuk dulu, merangkak seperti seekor tikus memasuki lubangnya, kemudian disusul oleh Loan Ki.

Lubang itu kurang lebih lima meter dalamnya, terus ke dalam, kemudian menukik ke bawah. Kun Hong berhenti merangkak ketika tangan dan kakinya meraba lubang yang menukik ke bawah.
“Terus, Hong-ko…….. terus. Mereka sudah sampai ke sini…….” bisik Loan Ki di belakang pemuda buta itu.

“Tak dapat terus, lubangnya menukik ke bawah…….” jawab Kun Hong.

“……. kau mepetlah, Hong-ko, biarkan aku lewat dan memeriksa di depan …….”

Karena merasa bahwa dia adalah seorang buta, lupa bahwa di dalam keadaan gelap pekat seperti itu sebetulnya dia tidak lebih buta daripada Loan Ki sendiri. Kun Hong lalu berbaring mepet untuk memberi jalan kepada gadis itu yang hendak melewatinya. Lubang itu tidak besar maka ketika Loan Ki merayap melewatinya, dua orang itu berhimpitan di dalam lubang. Kun Hong merasa tak enak sekali, jengah dan berdebar hatinya. Baiknya mereka berdua adalah orang-orang yang telah memiliki kepandaian tinggi sehingga dengan Ilmu Sia-kut-kang (ilmu Melemaskan Tulang) mereka berhasil bersimpang di lubang yang sempit itu. Loan Ki agaknya juga merasakan apa yang dirasai Kun Hong, buktinya gadis yang biasanya jenaka gembira itu kali ini tidak membuka suara kecuali “ah-uh” seperti orang kepanasan. Dengan hati-hati gadis itu merangkak ke depan sampai tiba di tempat yang menukik ke bawah.

“Agak lebar di bawah, Hong-ko. Seperti sumur ………..”

“Memang, karena kita tidak tahu bagaimana dasarnya, tak mungkin turun ke bawah …….”

Pada saat itu dari luar lubang terdengar suara mendesis-desis, disusul suara seorang laki-laki yang parau, “Anak-anak, hayo masuk kandang, jangan berkeliaran lagi, besok kalian harus membantu mencari dua orang musuh itu.”

Disusul lagi suara yang tinggi, “Heran, ke mana larinya dua orang tadi? Mereka itu manusia atau setan? He, Lao Siong, apakah sudah dilaporkan kepada toa-nio?”

“Tentu sudah.” Lalu mereka bercakap-cakap akan tetapi sambil menjauhi mulut lubang sehingga Kun Hong dan Loan Ki tak dapat mendengar lagi apa yang mereka bicarakan.

Akan tetapi betapa kaget hati dua orang itu ketika terdengar suara mendesis-desis dari arah belakang disusul bau yang amat amis. Kiranya lubang pada dinding batu itu adalah sarang-sarang ular atau dijadikan “kandang” untuk ular-ular itu!

“Celaka, ular-ular itu masuk ke sini…….!” Kun Hong yang berada di belakang berkata perlahan. Dia cukup tabah dan tenang, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tentu saja dia merasa ngeri juga.

“Lekas, Hong-ko, di belakangmu ada batu yang kuseret masuk tadi. Kau pergunakan itu untuk menutup lubang yang paling sempit dan……. hei, aduh, waahh……. bungkusanku jatuh ke dalam sumur, Hong-ko.”

Kun Hong mendengar suara barang berat jatuh. Dengan pendengarannya yang tajam dia mendapat kenyataan yang menggirangkan hatinya. Lubang itu ternyata dasarnya tidak keras, juga tidak begitu dalam. Hal ini tentu saja dapat dia ketahui ketika buntalan pakaian dan mahkota yang dibawa gadis itu terjatuh ke bawah. Akan tetapi pada saat itu dia sibuk mendorong batu besar untuk menutupi lubang. Tentu saja tidak tertutup rapat, akan tetapi lumayan untuk menahan membanjirnya ular-ular itu ke dalam.

Setelah itu dia segera berkata, “Ki-moi, mari kita masuk saja ke dalam sumur itu. Tempatnya tidak dalam dan dasarnya mungkin tanah tidak keras.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Bisik Loan Ki meragu.

“Buntalanmu tadi melayang ke bawah tidak terlalu lama, juga suaranya ketika menimpa dasar sumur menyatakan bahwa dasar itu tidak keras. Tapi tunggu, biar aku yang melompat masuk lebih dulu. Kau mepetlah!”

Seperti tadi, dua orang itu kembali berhimpitan untuk dapat bertukar tempat, kini Kun Hong di depan dan gadis itu di belakangnya. Akan tetapi karena perasaan mereka terlampau tegang, mereka tidak merasakan lagi kecanggungan seperti tadi. “Ki-moi, membaliklah ke belakang dan siap dengan pedangmu kalau-kalau ada ular menerobos masuk. Aku akan meluncur ke bawah dulu!”

Loan Ki mendengar suara perlahan lalu disusul suara Kun Hong dari bawah,

“Ki-moi, lekas kau turun. Tidak begitu dalam di sini dan aku akan membantumu jangan takut!”

Loan Ki merangkak mundur, ketika kakinya menyentuh sumur, hatinya berdebar juga. Siapa orangnya takkan merasa ngeri kalau harus masuk ke dalam sumur yang begitu gelap? Akan tetapi adanya Kun Hong di dalam sumur itu membesarkan hatinya dan tanpa ragu-ragu lagi ia melorot turun sambil mengerahkan ginkangnya ketika tubuhnya melayang ke bawah. Ia memegang pedangnya tinggi-tinggi dan kedua kakinya sudah siap untuk menyentuh tanah di dasar sumur. Akan tetapi tiba-tiba dua buah lengan yang kuat dan cekatan menerima tubuhnya, lalu menurunkannya ke atas tanah. Kembali ia kagum akan kehebatan Kun Hong.

“Hong-ko, sumur ini dalam juga, sedikitnya tiga kali tinggi orang. Bagaimana kita akan dapat keluar dari sini?” Loan Ki dalam gelap meraba ke sana ke mari dan hatinya kecut ketika mendapat kenyataan bahwa sumur ini pun tidak lebar, hanya cukup mereka berdua berdiri. Tak mungkin meloncat ke luar dari tempat sesempit ini.

“Jangan khawatir, aku akan dapat merayap naik,” kata Kun Hong tenang.
“Ini buntalanmu, baru kuingat bahwa kau membawa mahkota kuno itu. Ah, jangan-jangan rusak mahkota itu ketika jatuh.”

Loan Ki menerima buntalan itu dan mengikatnya di punggung. Untuk melakukan ini saja beberapa kali tangan dan sikunya menyentuh dada Kun Hong, begitu sempitnya tempat itu. Hawanya juga panas bukan main. Sumur itu dindingnya adalah batu karang, hanya dasarnya saja tanah lunak. Karena tidak ada hawa, atau kalau ada pun amat sedikit masuk dari lubang yang kini hampir tertutup rapat oleh batu tadi, di situ amat panasnya. Apalagi hawa yang masuk telah membawa bau amis dari ular-ular yang memenuhi lubang di sebelah luar, maka pernapasan mereka sesak dan sebentar saja Loan Ki menjadi pusing.

Makin lama hawa makin panas. Loan Ki dan Kun Hong biarpun memiliki hawa murni dan Iweekang yang kuat, tetap saja menderita hebat dan tubuh mereka telah penuh keringat. Pakaian mereka basah semua.

“Aduh……. Hong-ko, napasku sesak, aku muak…….. tak kuat bertahan. Kita harus keluar dari neraka ini…….” keluh Loan Ki.

Kun Hong bingung. “Bagaimana mungkin, Ki-moi? Kalau kita naik, tentu akan bertemu ular-ular itu di dalam lubang jalan ke luar. Menghadapi ular-ular itu memang bisa kita tanggulangi, akan tetapi kau dalam gelap…….ah, dan siapa tahu orang-orang itu masih menjaga di luar. Kau harus dapat bertahan, mungkin besuk pagi-pagi mereka dan ular-ular itu akan ke luar dari lubang dan kita dapat menerobos ke luar kalau memang ada jalan lain. Setidaknya kalau cuaca terang, kau bisa melihat. Bergerak di malam hari, kita sama-sama buta, tentu payah.”

“Tapi……. aduh, panas dan sesak, Hong-ko…….” Gadis itu betul-betul payah dan kini menyandarkan kepalanya yang terasa pusing berputar-putar itu kepada tubuh Kun Hong. Dahi gadis itu ternyata sudah basah semua oleh keringat dan tubuhnya panas sekali. Diam-diam Kun Hong terkejut. Kiranya Iweekang gadis ini belum begitu tinggi tingkatnya dan terang takkan dapat menahan. Dia lalu berusaha untuk berkelakar.

“Wah, kita basah oleh keringat, Ki-moi. Celakanya, keringatku tentu berbau tak enak dan kuingat kau paling tidak kuat kalau mencium bau keringat, seperti ketika kau dikeroyok tempo hari. Jangan-jangan keringatku yang membuat kau muak dan pusing.”

Kun Hong sengaja berkelakar untuk membangkitkan kegembiraan dan kejenakaan gadis ini sehingga berkurang penderitaan itu. Akan tetapi dia gagal karena dengan lemah Loan Ki menjawab, “Tidak, keringatmu tidak bau, Hong-ko……. tapi ular-ular itu……. ah, ngeri aku…….” dan gadis itu tiba-tiba saja menangis!

“Lho, kenapa menangis? Adik Loan Ki, jangan bilang bahwa kau takut…….!”

“……. tidak! Tidak takut…… kalau ular-ular itu masuk ke sini, kita akan dimakan habis……. ihhh, dan semua ini kesalahanku yang membawamu ke sini.”
Kun Hong mendekap kepala di dadanya sambil mengelus rambut yang halus basah itu dengan sikap menghibur, malah dia memaksa diri tertawa. “Ah, kau aneh-aneh saja. Ular-ular itu takkan berani menjatuhkan diri ke dalam lubang, juga tidak akan dapat merayap turun, Andaikata ada yang berani, sekali pukul juga akan remuk kepalanya. Takut apa? Tentang datang ke sini……. eh, aku sendiri pun ingin melihat badut-badut itu dihukum!”

Biarpun lemah dan pusing, bangkit juga kegembiraan Loan Ki mendengar ini dan ia berbisik, “…. kau ….. melihat??”

“Aha, sampai lupa aku bahwa aku sudah buta. Bukan melihat dengan mataku, tapi aku kan bisa meminjam matamu. Kau yang melihat dan kau ceritakan kepadaku, bukankah sama saja …….?”

Loan Ki dapat juga tertawa. “……. Hong-ko, kau……. baik sekali …….”

Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis di atas. Loan Ki merenggutkan kepalanya dan tubuhnya menegang. “Celaka……. mereka turun……. ular-ular itu…….” katanya dengan suara mengandung kengerian.

Bau amis makin menghebat, hawa panas pun tak tertahankan lagi oleh Loan Ki. Ia melepaskan buntalan pakaian dan mahkota yang membikin tubuhnya lebih panas lagi. Buntalan itu ia lemparkan begitu saja di atas tanah dan ia bersiap-siap untuk menghadapi perjuangan mati hidup melawan ular-ular itu. Buntalan jatuh dan menggelinding di atas tanah, ikatannya terbuka dan tiba-tiba saja keadaan yang amat gelap pekat itu berubah. Ada cahaya yang membuat kegelapan itu berubah remang-remang.

“Hong-ko! Aku bisa melihat! Eh, sekarang tidak segelap tadi…… heeiii, Hong-ko, kiranya mahkota itu yang mengeluarkan cahaya!” Suara Loan Ki bersemangat kembali, ia membungkuk, mengambil mahkota itu dan berseru, “Betul, Hong-ko, ada tiga batu permata di bagian depan mahkota ini yang mengeluarkan cahaya. Nah, begini baru enak hatiku, bisa melihat kalau ada ular menyerangku!” Suara gadis itu mulai gembira.

Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap hal yang lebih menggembirakan hatinya lagi. Dia tahu sekarang bahwa kelemahan dan kepusingan gadis itu tadi sebagian besar adalah pengaruh dari rasa ngeri di dalam kegelapan sehingga mengakibatkan pusing. Selain ini, dengan girang dia mendengar betapa suara mendesis-desis di atas tadi tiba-tiba saja lenyap dan bau amis tidak begitu hebat lagi, tanda bahwa ular-ular itu takut kepada batu-batu permata yang mengeluarkan cahaya. Dia dahulu pernah mendengar dongeng kakek Song-bun-kwi di puncak Thai-san bahwa di dunia ini memang banyak terdapat benda-benda mujijat dan aneh, di antaranya batu-batu mutiara yang disebut Ya-beng-cu. Mutiara Ya-beng-cu ini mengeluarkan cahaya di tempat gelap dan selain itu, juga ditakuti oleh sebagian besar binatang-binatang buas.

“Wah, agaknya Thian Yang Maha Kuasa sengaja menolong kita, Ki-moi. Kalau tidak salah, batu permata di mahkota itu adalah mutiara-mutiara Ya-beng-cu dan aku pernah mendengar bahwa binatang-binatang takut kepada sinarnya. Sekarang kau bersiaplah, kita harus keluar dari tempat ini!

“Keluar?” Loan Ki kaget. “Bukankah amat berbahaya katamu tadi, Hong-ko? Menghadapi ular-ular itu dalam terowongan sempit, belum lagi para penjaga pulau ini…….”

Kun Hong menggeleng kepala. “Sekarang tidak lagi, adikku. Tadi yang paling mengkhawatirkan hatiku adalah kalau melawan ular-ular itu, ular-ular berbisa yang amat jahat, apalagi kita harus menghadapinya dalam terowongan sempit. Akan tetapi sekarang, dengan Ya-beng-cu ada pada kita, ular-ular itu pasti takkan berani mengganggu kita. Kita keluar dan tentang para penjaga, yaaahhh, terpaksa kita menghadapi mereka. Kita jelaskan maksud kedatangan kita yang tidak mengandung maksud buruk, kalau mereka tidak mau menerimanya, kita robohkan mereka dan melarikan diri!”

Loan Ki mengangguk-angguk, tapi ketika melihat ke sekelilingnya adalah dinding batu yang licin, ia mengerutkan kening. “Hong-ko, bagaimana kita bisa naik? Meloncat begitu saja? Mungkin sanggup aku meloncat ke atas dan menangkap pinggiran sumur, akan tetapi, bagaimana kalau ada ular-ular di sana? Pula resikonya terlalu besar kalau sampai tidak berhasil menangkap pinggiran sumur, apalagi kalau di waktu meloncat kepalaku tertumbuk batu karang yang menonjol.”

“Tak usah meloncat, Kau bawa buntalanmu, pakai mahkota itu di kepalamu.”

Gadis itu terdiam, agaknya heran. Tapi diambilnya buntalan pakaian dan diikatkan ke pundak. Tiba-tiba ia tertawa, tawa jenaka seperti yang sudah-sudah sehingga Kun Hong ikut tersenyum gembira. Agaknya di dunia ini sukar mencari orang yang takkan ikut tersenyum mendengar suara yang mengandung kesegaran watak itu.

“Hi-hi-hik, Hong-ko……. mahkota ini pas betul dengan kepalaku. Menurut dongeng permaisuri Kerajaan Tang yang memakai mahkota ini adalah seorang puteri cantik jelita yang terkenal dengan julukan Puteri Harum karena tubuhnya memiliki keharuman seribu bunga. Kiranya kepalanya hanya seukuran dengan kepalaku……. hi-hik…….!”

Mendengar kegembiraan gadis itu yang berarti bahwa semangatnya telah kembali, Kun Hong girang. Perjalanan ke luar daritempat itu, bahkan keluar dari Pulau Ching-coa-to, bukanlah hal yang mudah dan mungkin akan menghadapi bahaya-bahayadan rintangan. Maka timbulnya semangat gadis ini kembali merupakan hal yang amat penting. Mengingat ini, dia segeraterjun ke dalam kegembiraan itu dan berkata,

“Apa anehnya persamaan kepala itu, Ki-moi? Memang cocok dongeng itu, kalau kepala permaisuri Kerajaan Tang itu sepertikepalamu, maka sudah semestinya dia cantik jelita dan mempunyai ukuran kepala yang tepat.”

“Eh, Hong-ko kau mana bisa melihat kepalaku?”
“Melihat sih tidak, akan tetapi tadi……. eh, meraba saja sudah cukup jelas bagiku …….”
Loan Ki teringat betapa dalam gelap tadi ia menangis dan bersandar di dada Kun Hong, malah kepalanya dielus-elus oleh pemuda buta itu, Hal ini mendebarkan jantungnya sungguhpun ia tidak mengerti mengapa dadanya berhal seperti itu, berdenyar-denyar.
“Tapi, Hong-ko, mana kau tahu aku……. cantik jelita?”

Kun Hong tertawa, geli juga mendengar ucapan kekanak-kanakan ini. “Apa susahnya? Mendengar suaramu saja sudah cukup bagiku.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: