Pendekar Buta ~ Jilid 7

Hening sejenak, lalu gadis itu berkata perlahan, “Orang bilang aku cantik, tapi belum tentu secantik puteri pemakai mahkota ini. Pula, ia terkenal sebagai Puteri Harum, mana aku bisa sama? Ih, tadi keringatku tentu membasahi bajumu, Hong-ko……”

“Aku pun berkeringat sampai basah semua pakaianku, Ki-moi, dan tentang keharuman itu, hemmm……. kurasa keringatmu pun……. sedap …….” Kun Hong setengah berbohong. Mana ada keringat sedap di dunia ini? Akan tetapi memang baginya, keringat Loan Ki tidak berbau tak enak. Dia sengaja melebih-lebihkan dan mengatakan sedap hanya untuk menambah kegembiraan hati gadis kekanak-kanakan ini agar semangatnya tidak menurun. Gadis itu tidak berkata apa-apa, malah suara ketawanya terhenti dan ia diam saja sampai agak lama setelah ucapan Kun Hong terakhir ini. Kun Hong heran, miringkan kepala dan bertanya,

“Ki-moi, kenapa diam saja, kau?” Dia mengulur tangan ke depan, menyentuh tangan gadis itu dan memegangnya. Akan tetapi Loan Ki cepat merenggutnya terlepas dan terdengar suaranya agak gemetar.

“Buntalan pakaian sudah kubawa, mahkota sudah kupakai. Bagaimana kita akan naik?” Sesekali Kun Hong tak pernah menduga di dalam hatinya bahwa ucapan-ucapan yang bersifat kelakar baginya itu ternyata mendatangkan kesan luar biasa bagi Loan Ki, membekas amat dalam dihatinya.

“Kau duduklah di pundak kananku, pedangmu siap menghalau perintang di atas. Aku akan merayap naik.” Kun Hong lalu berjongkok untuk memudahkan Loan Ki duduk di pundaknya.

Tapi gadis itu tidak segera duduk. Dengan mata terbelalak kagum gadis itu memandang Kun Hong. Ia tahu bahwa agaknya si buta ini hendak mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-chong yang mengandalkan ginkang dan Iweekang yang amat tinggi sehingga membuat orang dapat merayap seperti seekor cecak pada dinding yang terjal. Kalau si buta ini sudah dapat melakukan ilmu ini, berarti bahwa tingkat kepandaian si buta ini jauh melampauinya, malah jauh lebih lihai daripada ayahnya sendiri, Sin-kiam-eng! Di samping kekaguman ini, juga jantungnya berdebar-debar mengingat bahwa ia harus duduk di atas pundak orang, suatu perasaan yang belum pernah ia rasai sebelumnya dan Hal ini tanpa ia sadari disebabkan oleh kelakar pujian tadi.
Ia pun maklum mengapa pemuda buta itu menyuruh ia duduk di atas pundaknya. Memang hanya itulah jalan satu-satunya yang paling baik. Dengan duduk di pundak, selain ia dapat ikut “membonceng” naik, juga ia bertugas sebagai mata pemuda itu, dengan mahkota di atas kepala itu sebagai pengganti obor penerangan, Memang begini lebih aman daripada si buta itu harus merayap naik seorang diri, sungguhpun harus diakui bahwa untuk dapat mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-chong dengan diboncengi pundaknya, benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali.

“Hayo, lekas kau duduk, tunggu apa lagi?” Kun Hong bertanya heran ketika belum juga Loan Ki duduk di pundaknya. Tanpa berkata apa-apa gadis itu lalu duduk di atas pundak kanan Kun Hong yang segera bangkit berdiri. “Hati-hati jangan banyak bergerak, tapi awas melihat rintangan di atas,”

Mulailah Kun Hong merayap ke atas. Memang hebat tenaga dalam pemuda buta ini, dengan punggungnya menempel dinding, dia menggunakan tangan kanan dan kedua kaki untuk merayap naik, kedua kakinya bergantian mendorong dinding sebelah depan, tangan kanannya mencari pegangan batu menonjol untuk menarik tubuhnya ke atas, sedangkan punggungnya dipergunakan sebagai alat penahan tubuhnya supaya tidak merosot ke bawah! Tangan kiri yang memegangi tongkat tetap siap menjaga datangnya bahaya serangan.

Kagum sekali Loan Ki. Sedikit demi sedikit mereka naik dan akhirnya sampai juga ke pinggiran sumur. Dengan girang Loan Ki melihat bahwa di situ tidak ada ular. Ia lalu meloncat ke luar, dan menarik tangan Kun Hong untuk membantu pemuda ini ke luar pula, bantuan yang sebetulnya tidak perlu bagi pemuda lihai itu.

“Tidak ada ular di sini…….” bisik Loan Ki. “Entah ke mana mereka pergi.”

“Agaknya ular-ular itu takut kepada cahaya mutiara Ya-beng-cu, Ki-moi. Bagus sekali, dengan mahkota ini kita akan ke luar tanpa khawatir diganggu ular-ular berbisa itu.”

“Kalau begitu mari kita ke luar sekarang juga, Hong-ko. Kita mencari tempat istirahat lain, tadi kita telah tersesat memasuki tempat ini.”

Mereka lalu merangkak ke luar, Loan Ki yang mengenakan mahkota merangkak di depan. Batu penutup lubang disingkirkan dan benar saja, tidak ada ular berani menghadang mereka. Agaknya ular-ular itu ketakutan melihat cahaya mutiara itu dan pergi meninggalkan lubang. Setelah tiba di luar, Loan Ki meloncat turun, diikuti oleh Kun Hong. Girang hati mereka mendapat kenyataan bahwa di situ sunyi sekali, tak tampak seorang pun manusia. Dan lebih girang lagi hati Loan Ki melihat adanya bulan yang cukup terang di angkasa. Begitu menginjak tanah dan berada di udara terbuka, kedua orang muda ini merasa nyaman sekali sehingga berkali-kali mereka menarik napas panjang, menyedot hawa seperti orang kehausan mendapat minum air segar!

“Hong-ko, bulan bersinar, aku dapat melihat jalan. Lebih baik kita tinggalkan daerah ini.”

Kun Hong tidak membantah dan demikianlah, di bawah sinar bulan tiga perempat itu kedua orang muda ini dengan hati lapang meninggalkan tempat yang penuh pengalaman mengerikan tadi langsung menuruni puncak yang penuh batu karang.

Kurasa tidak baik kita berkeliaran di malam hari, apalagi tempat ini agaknya mengandung banyak rahasia. Lebih baik kita mengaso malam ini dan besok pagi kita berusaha keluar dan kembali ke daratan.

“Mana ada tempat bermalam yang baik di tempat ular ini, Hong-ko?”

“Paling baik di atas pohon besar. Bahaya satu-satunya hanya ular, akan tetapi dcngan adanya mahkota pusaka itu, kita tak usah khawatir.”

Demikianlah, dua orang muda itu meloncat ke atas pohon besar, memilih cabang besar yang enak diduduki dan beristirahat melewatkan malam. Kun Hong duduk bersila di atas cabang pohon, tak bergerak seperti patung. Tahu bahwa orang muda yang sakti itu duduk bersamadhi, Loan Ki tidak mau mengganggunya, hanya memandang bayangan orang buta itu dengan penuh kekaguman. Berkali-kali ia mendengar bisikan hatinya sendiri, “……. sayang matanya buta……. sayang dia buta……. sayang…….” Ia merasa jengkel akan bisikan perasaan ini karena ia benar-benar tak mengerti mengapa ia merasa sayang akan kebutaan Kun Hong.

“Orang seperti dia tidak seharusnya dikasihani,” ia menghibur diri, “biarpun buta, dia melebihi sepuluh orang pendekar melek (dapat melihat)…….” Akhirnya ia tertidur juga di atas cabang pohon. Seorang ahli silat tinggi seperti Loan Ki memang tidak khawatir akan terjatuh di waktu tidur, karena ia sudah terlatih akan kebiasaan ini dan sudah banyak ia merantau dan seringkali tidur di dalam hutan seorang diri.

***

“Hong-ko……. bangun, Hong-ko……. tuh di sana kumelihat air telaga!” pagi-pagi sekali Loan Ki sudah berteriak-teriak membangunkan Kun Hong yang sebetulnya memang sudah sadar atau terjaga daripada tidur dan samadhinya. Beberapa ekor burung sampai kaget oleh teriakan Loan Ki dan beterbangan sambil berbunyi keras. Gadis itu tertawa geli menyaksikan tingkah burung-burung itu. Akan tetapi Kun Hong sebaliknya geli mendengar suara Loan Ki.

“Bagus, kalau begitu kita tinggal menuju ke sana, mencari perahu untuk menyeberang.” jawab Kun Hong sambil meluncur turun dari batang pohon itu.

Loan Ki juga meloncat turun, lalu tertawa. “Wah, kelihatan sekarang betapa kotor pakaian kita, Hong-ko. Penuh tanah lempung!”

“Tidak apa, pakaian kotor dapat dicuci, Ki-moi.”

“Ah, malu kalau bertemu orang. Aku hendak menukar pakaian dulu, Hong-ko. Kan padaku ada bekal pakaian bersih. Wah, di mana ya bisa bertukar pakaian?”

Gadis itu berjalan ke sana ke mari, agaknya mencari gerombolan tanaman yang dapat ia pergunakan untuk sembunyi dan bertukar pakaian.

“Hong-ko,” terdengar suaranya dari depan agak jauh, “kau menghadaplah ke sana dulu, membelakangi aku!”

Hampir-hampir tidak dapat Kun Hong menahan ketawanya. Dia tersenyum lebar dan mengacungkan tangan seperti hendak menampar kepala temannya itu. “Bocah nakal, apakah aku kurang buta sehingga kau suruh menghadap ke lain jurusan? Andaikata kau bertukar pakaian di depan mataku, aku pun tak dapat melihatmu, Ki-moi.” Akan tetapi tetap saja dia memutar tubuhnya menghadap ke lain jurusan.

Setelah selesai berpakaian, Loan Ki menghampiri Kun Hong dan berkata,

“Hong-ko, kau selalu mengajak aku kembali ke daratan, seakan-akan kau takut berada di pulau ini. Malah kau kemarin menyebut apakah aku melihat seorang kakek yang buntung lengan dan telinga kiri, mata kiri buta, siapakah orang itu?”

“Sebetulnya orang itu sudah mati, Ki-moi. Yang kumaksudkan itu adalah seorang tokoh jahat bernama Siauw-coa-ong Giam Kin. Karena aku mendengar suling dan berkumpulnya ular-ular itu, aku jadi teringat kepada tokoh ini yang juga seorang ahli memelihara ular.”

“Kau aneh, Hong-ko. Kalau dia sudah mati, kenapa kau takut?”

“Aku hanya terheran-heran mendengar ular-ular yang digembalakan orang. Ki-moi, dan aku dapat menduga bahwa pemilik-pemilik pulau ini pasti adalah orang-orang pandai seperti Giam Kin itu. Kalau kita berdua membikin onar di sini, alangkah tidak baiknya. Inilah sebabnya maka aku mengusulkan agar kita kembali saja dan jangan menimbulkan keonaran di tempat orang.”

“Baiklah, malam tadi pun aku sudah merasa menyesal datang ke pulau iblis ini. Mari kita pergi ke pantai telaga yang kulihat dari atas pohon tadi, Hong-ko.”

Loan Ki menggandeng tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu berlari cepat ke arah pantai telaga yang ia lihat tadi, yaitu ke sebelah, timur dari mana cahaya matahari memerah membakar angkasa raya. Mahkota yang semalam telah menyelamatkan mereka itu kini telah aman berada dalam buntalan pakaian yang tergantung di punggung Loan Ki lagi. Biarpun yang seorang adalah orang buta, namun mereka lari cepat sekali. Memang inilah cara satu-satunya untuk mengajak Kun Hong berlari cepat, yaitu dengan menggandeng tangannya. Tanpa dituntun, biarpun pemuda itu memiliki kesaktian, tak mungkin dia akan dapat berlari cepat, tentu akan menabrak-nabrak.

“He, Ki-moi, kenapa belum juga sampai dan kenapa kau bawa aku menikung-nikung tidak karuan begini?”

Loan Ki berhenti, lalu menghela napas panjang. “Pulau ini benar-benar aneh, Hong-ko. Pulau iblis! Terdapat jalan yang rata, akan tetapi heran sekali, mengikuti jalan ini agaknya akan membawa kita terputar-putar tidak karuan. Kulihat seakan-akan keadaan tempat di mana kita berdiri ini serupa benar dengan tempat di mana kita berangkat tadi…….” Ia berseru kaget, lari ke depan meninggalkan Kun Hong, lalu kembali lagi sambil berkata, “Wah, benar-benar ini tempat yang tadi, Hong-ko! Tuh, di sana adanya gerombolan pohon kembang di mana aku bertukar pakaian tadi, pengikat rambutku yang terjatuh di sana masih ada.”

Kun Hong mengangguk-anggukkan kepala, kulit di antara kedua matanya berkerut.

“Kurasa pemilik pulau ini adalah seorang ahli dalam alat-alat rahasia dan sengaja mengatur pulaunya penuh rahasia agar menyukarkan orang asing memasukinya, seperti keadaan di Thai-san. Ki-moi, kau lihat dari atas pohon tadi, pantai berada di jurusan manakah?”

“Di timur karena kulihat cahaya matahari di sana pula.”

“Nah, kalau begitu, sekarang kita harus langsung menuju ke timur, jangan menggunakan jalan yang sengaja dibuat untuk menyesatkan kita. Kita ambil jalan liar, kalau perlu menerabas hutan, asal terus ke timur. Pasti akan sampai di pantai itu.”

Akan tetapi hal itu ternyata lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jalan menuju ke timur ini ternyata harus melalui hutan-hutan liar yang penuh alang-alang, melalui rawa dan malah melalui hutan kecil penuh duri. Jalannya menanjak dan pada akhirnya mereka tiba di tebing yang curam. Ketika Loan Ki menjenguk ke bawah, memang tampak air telaga di bawah sana, namun dalamnya dari tebing itu tidak kurang dari seratus meter!

Loan Ki melepaskan tangan Kun Hong, berjalan ke sana ke mari mencari jalan untuk menuruni tebing curam itu. “Wah, sampai di sini buntu, Hong-ko. Biar kucari jalan untuk turun. Tuh, di bawah sudah kelihatan telaganya, dan jauh ke depan itu menyeberangi telaga akan sampai di darat kembali. Agaknya jalan menurun di alang-alang itu…… heeii, aduhhh……. Hong-ko……. tolong…….!”

Kun Hong terkejut sekali, cepat dia bergerak maju dengan didahului tongkatnya, ke arah suara Loan Ki. Dia mendengar batu-batu banyak sekali menggelinding dan lenyaplah suara Loan Ki. Kagetnya bukan kepalang ketika dia sampai di tempat dari mana suara gadis itu terdengar, tongkatnya meraba tempat kosong! Kiranya dia berdiri di tepi tebing yang entah berapa dalamnya dan tongkatnya yang meraba gugusan batu yang pecah, agaknya Loan Ki yang tadi berdiri di situ telah terperosok dan jatuh ke bawah bersama pecahan tanah dan batu-batu.

Kun Hong mengerahkan khikangnya dan berteriak ke bawah, “Ki-moi …….!”

Hanya gema suaranya yang menjawab.

“Loan Ki …….!!”

Kembali suaranya yang menjawab.

“Celaka…… apa yang terjadi dengan dia?” Kun Hong bingung dan menyesal sekali. Baru kali ini selama dia buta, dia menyesal akan kebutaan matanya sehingga dia tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan gadis itu dan tak dapat menolongnya. Dia mengambil sebuah batu kecil dan melepaskannya ke bawah. Kepalanya dimiringkan, bibirnya berkemak-kemik menghitung waktu. Tujuh belas kali dia menghitung, baru batu itu menyentuh air! Kun Hong bergidik. Tak mungkin dia mengikuti gadis itu terjun ke bawah. Hal ini berarti kematian baginya. Akan tetapi dia masih mempunyai harapan yang menghibur hatinya. Bukankah Loan Ki pernah bilang bahwa gadis itu pandai berenang? Kalau dasar, di bawah tebing itu air, belum tentu gadis itu tewas. Akan tetapi, kalau selamat, kenapa tidak menjawab panggilannya?

Kembali pemuda buta ini menjenguk ke depan dan memanggil. Suaranya nyaring sekali dan bergema, mengejutkan burung-burung yang beterbangan di sekeliling tempat itu. Bebarapa kali dia memanggil namun tak pernah terjawab kecuali oleh gema suaranya sendiri. Kun Hong menjadi sedih, pelupuk matanya gemetar, kulit di antara kedua matanya berkerut dalam, wajahnya agak pucat. Lalu dia meraba-raba dengan tongkatnya mencari jalan turun. Dia hendak menurupi tebing itu dan mencari Loan Ki di bawah sana.

Akhirnya dapat juga dia turun melalui celah-celah batu karang. Sukar sekali perjalanan menurun ini, merayap seperti seekor monyet, hanya berpegang pada batu-batu karang yang menonjol. Kadang-kadang Kun Hong yang meraba sana meraba sini kehabisan pegangan dan terpaksa ia menggunakan tongkatnya yang ditancapkan kepada dinding karang.

Demikianlah, sambil meraba-raba dia merayap turun terus, tidak tahu ke mana akhirnya dia akan sampai. Dia tahu bahwa jalan yang ditempuhnya ini membelok ke sana ke mari karena memang seringkali dia bertemu dengan jalan buntu yang mengharuskan dia mencari jalan memutar.

Dia merasa heran sekali karena ternyata dia tidak sampai di pinggir telaga, malah tiba-tiba alat penggandanya mencium keharuman bunga-bunga yang beraneka warna dan kakinya menginjak tanah berumput yang halus. Ketika dia meraba dengan tangannya, kiranya dia telah sampai di tengah rumput yang segar gemuk dan di sana-sini semerbak harum bunga.

“Heran sekali seakan-akan aku berada di dalam taman bunga yang amat luas penuh bermacam-macam bunga……” pikirnya dan teringatlah dia akan seruan Loan Ki pada saat kedatangan mereka di tempat itu. Gadis itu telah melihat sebuah taman bunga yang indah. Inikah taman bunga itu?

Angin semilir sejuk dan pendengarannya yang tajam menangkap suara orang bercakap-cakap, suara wanita yang halus terbawa angin. Kun Hong girang sekali, mengira bahwa tentu Loan Ki yang sedang bercakap-cakap itu. Akan tetapi dia tidak berani berlaku sembrono memanggil gadis itu karena dia belum tahu dengan siapa gadis itu bercakap-cakap dan dalam keadaan bagaimana. Dengan hati-hati dia bergerak maju ke arah suara. Setelah agak dekat dan dapat mendengar jelas, dia menyelinap di balik sebuah pohon buah yang besar, bersembunyi dan mendengarkan penuh perhatian. Besar kekecewaan hatinya ketika mendengar bahwa yang bercakap-cakap itu sama sekali bukanlah Loan Ki seperti yang diharapkannya, melainkan suara wanita-wanita yang lain, Suara wanita yang dingin dan tajam mendatangkan perasaan ngeri kepadanya karena dari suara ini dia dapat menilai orang yang memiliki watak yang aneh dan dapat kejam melebihi iblis sendiri. Akan tetapi suara ke dua membuat dia berdebar dan kagum. Suara ini halus lunak, merdu dan kiranya hanya patut dipunyai oleh bidadari, bukan wanita biasa. Suara pertama adalah suara seorang wanita yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi takkan kurang dari empat puluhan. Adapun suara “bidadari” itu adalah suara seorang gadis remaja. Bukan main suaranya, seperti nyanyian dewi malam, mengelus-elus perasaan hatinya sungguhpun dia menangkap getaran-getaran aneh pula dalam suara merdu merayu ini. Getaran yang mengandung sesuatu yang rahasia dan yang menyembunyikan watak daripada si pemilik suara.

“Hui Kauw, cukup sudah semua alasanmu itu!” terdengar suara dingin dengan nada kesal. “Jodohmu adalah Pangeran Souw Bu Lai dan kau tak boleh membantah lagi. Kau tahu, pangeran itu setelah sekarang kaisar muda yang tak becus menduduki tahta, mempunyai banyak harapan menjadi kaisar membangun lagi Kerajaan Goan, dan kau mempunyai harapan menjadi permaisuri kaisar! Orang apa itu si pemuda she Bun? Huh, hanya anak ketua Kun-lun-pai, biar tampan dan gagah, hanya orang biasa, mana boleh anakku tergila-gila kepada orang macam itu?”

“Ibu, aku tidak tergila-gila…….. aku hanya bertemu satu kali dengan Bun-enghiong, aku hanya bilang bahwa dia seorang pendekar perkasa. Bukan karena dia aku tidak sudi menjadi calon jodoh Pangeran Mongol itu, melainkan karena……. karena aku tidak suka menikah. Aku lebih senang tinggal di sini…….”

“Huh, alasan kosong. Siapa tidak tahu hati muda? Melihat wajah tampan dan watak pendekar lalu jatuh hati, hemm. Sudahlah, tak mau aku berpanjang debat, aku harus menyambut para tamu kita yang akan membicarakan soal membantu usaha Pangeran Souw Bu Lai. Dan kau harus tahu, dalam hal kegagahan, kiraku orang she Bun itu, takkan dapat menandingi Pangeran Souw.”

“Ibu…….”

Kun Hong mendengar betapa wanita bersuara dingin itu berkelebat pergi dan terkejutlah dia ketika menangkap desir angin yang amat cepat ketika wanita ini pergi. Wah, kiranya si suara dingin ini memiliki kepandaian yang hebat. Ginkangnya terang tidak di sebelah bawah kepandaian Loan Ki!

Selain dua orang wanita yang bercakap-cakap ini, Kun Hong tahu bahwa di situ terdapat sedikitnya tiga orang wanita lain yang lemah lembut gerakan-gerakannya, mungkin dayang-dayang yang melayani nona bersuara bidadari ini. Diam-diam Kun Hong merasa terharu dan juga tercengang. Tak mungkin salah lagi, yang disebut-sebut sebagai pemuda she Bun dalam percakapan tadi, tentulah bukan lain Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai! Bun Wan, bekas tunangan kekasihnya, mendiang Cui Bi. Hatinya berdebar dan telinganya serasa mengiang-ngiang. Sungguh sebuah hal yang amat kebetulan sekali, urusan yang amat cocok dengan pengalamannya dahulu. Seperti juga Cui Bi yang mencintanya dan sudah ditunangkan dengan Bun Wan (baca Rajawali Emas) juga si suara bidadari ini hendak dipaksa ibunya berjodoh dengan seorang Pangeran Mongol, padahal si bidadari ini agaknya condong hatinya kepada Bun Wan! Benar-benar hal yang terbalik. Kalau dulu (dalam cerita Rajawali Emas), Bun Wan merupakan tunangan yang tidak dipilih dan tidak disukai oleh calon jodohnya, kini rupanya dia malah terbalik memegang peranan sebagai orang yang menjadi sebab terhalangnya perjodohan orang lain! Bun Wan kini memegang peranan yang dipegangnya dahulu, peranan yang berakhir dengan pengorbanan kedua matanya untuk mengimbangi pengorbanan Cui Bi yang menyerahkan nyawanya!

Dia memperhatikan terus. Beberapa kali terdengar si bidadari itu menarik napas panjang. Dasar suara bidadari. Tarikan napas panjang saja terdengar begitu halus dan seakan-akan helaan napas itu menambah keharuman bunga-bunga di taman! Perasaan Kun Hong menggetar, penuh iba kasihan. Teringat dia akan Cui Bi. Serupa benar nasib dara bidadari ini dengan mendiang Cui Bi. Apakah ia akan mengalami nasib seperti Cui Bi pula? Gagal dalam berkasih asmara, dan berakhir mengorbankan nyawa? Tidak! Tidak boleh! Peristiwa mengenaskan itu tak boleh terulang lagi. Apa pula terhadap diri seorang dara yang bersuara bidadari ini. Dia akan berusaha menghalau bahaya itu.

Langkah-langkah kecil dan ringan terdengar, disusul suara bening. “Siocia, ini minuman susu madu yang kau pesan, dan ini pengganti saputangan sutera…….”

“A Man, kau letakkan saja di atas meja itu kemudian kau pergilah bersama semua temanmu tinggalkan aku di sini….”

“Tapi Siocia (nona), toa-nio (nyonya besar) akan marah kalau saya dan teman-teman tidak menjaga dan melayani Nona di sini…….”

“A Man, aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga setiap waktu. Aku mau berlatih pedang, apakah kau bermaksud hendak mencuri lihat?”

“Ah……. mana berani……. mana berani, Nona.”

“Nah, lebih baik kau lekas pergi keluar dari taman ini. Lebih berguna kalau kau dan teman-temanmu ikut mencari dua orang asing yang katanya telah memasuki pulau dan membunuh banyak ular. Kalau bertemu dengan mereka yang tentu lihai, kau dan teman-temanmu bisa mencoba semua kepandaian kalian. Apakah percuma saja kalian selama ini dilatih ilmu silat? Hayo, keluarlah dari sini, lekas!”

Terdengar para pelayan itu pergi sambil tertawa-tawa. Ternyata ada lima orang pelayan wanita dan agaknya yang bernama A Man itu adalah pelayan kepala atau yang paling disayang oleh nona bidadari, yang bernama Hui Kauw ini. Kun Hong mendengarkan semua itu dengan kagum. Makin indah suara nona ini ketika bercakap-cakap dengan para pelayan. Malah ucapan paling akhir itu mengandung sendau gurau yang halus. Alangkah jauh bedanya dengan Loan Ki atau Cui Bi. Loan Ki dan mendiang Cui Bi, adalah gadis-gadis yang lincah jenaka, gembira dan bebas, andaikata kembang adalah kembang mawar hutan yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan tidak takut akan angin ribut dan selalu berseri namun siap melukai siapa pun yang ingin merabanya dengan duri-duri meruncing. Adapun dara bersuara bidadari ini yang tadi oleh ibunya disebut Hui Kauw, adalah seorang dara yang lemah lembut, halus gerak-geriknya, halus pula tutur sapanya, bagaikan setangkai bunga seruni yang indah jelita, kecantikannya menenteramkan hati, suaranya bagai musik surga mengamankan jiwa.

Kemudian Kun Hong mendengar desir angin permainan pedang. Mula-mula angin sambaran itu lambat-lambat juga perlahan saja, tanda bahwa pemainnya belum mahir benar dan tenaganya kecil. Kun Hong mmengerutkan keningnya. Gadis bersuara bidadari ini kalau dalam hal ilmu pedang jauh di bawah tingkat Loan Ki, apalagi tingkat Cui Bi. Akan tetapi hawa pukulan pedangnya benar-benar aneh merupakan garis lingkaran-lingkaran. Permainan pedang dengan cara membentuk lingkaran-lingkaran seperti itu memang banyak dalam kalangan ilmu pedang tinggi, akan tetapi lingkaran ini biasanya terus menjurus ke arah lingkaran lain yang sejalan atau berubah menjadi tusukan, bacokan miring, bacokan lurus dan lain cara penyerangan lagi. Anehnya, gerakan pedang dara bersuara bidadari ini lingkarannya berubah-ubah menjadi lingkaran yang bertentangan, kadang-kadang berputar dari kanan, kadang-kadang dari kiri. Cara bermain pedang seperti ini, mana bisa dipergunakan untuk bertempur, pikir Kun Hong heran.

Tiba-tiba Kun Hong miringkan kepalanya dan wajahnya sampai berkerut-merut karena dia mencurahkan seluruh perhatiannya mempergunakan pendengarannya yang mengikuti desir angin pedang. Makin lama mukanya berubah makin merah ketika dia mengikuti terus permainan pedang itu. Gerakan yang tadinya membayangkan kecanggungan, kekakuan dan kelemahan itu lambat laun berubah, bagaikan gelombang samudera yang sedang pasang, tidak kentara perubahannya makin lama makin sigap, makin licin, makin kuat. Lingkaran-lingkaran membesar, meluas, dan masih saja mengandung pertentangan, yaitu lingkaran-lingkaran yang membalik gerakannya. Kun Hong menjadi bingung dan malu kepada diri sendiri. Kiranya dia tadi salah duga dan baru kali ini pendengarannya menipunya, baru kali ini pendengarannya kalah “awas” oleh sepasang mata. Kiranya dara bersuara bidadari ini memiliki ilmu pedang yang benar-benar luar biasa dan juga tinggi sekali tingkatnya, malah kini dia dapat mendengar betapa tenaga Iweekang yang terkandung dalam gerakan-gerakan itu amat dalam, sukar diukur dan ilmu pedang itu sendiri memiliki gerakan lingkaran yang penuh rahasia!

“Siuuuttt……. cratt!” Sebatang pedang menancap pada pohon di depan Kun Hong, batang pohon yang menutupi dan menyembunyikan tubuh pemuda buta ini. Kun Hong kaget sekali. Apakah nona itu melihatnya dan sengaja menakut-nakutinya dengan melemparkan pedang pada batang pohon itu? Dia bersikap waspada, akan tetapi tidak bergerak ke luar dari tempat sembunyinya. Dia merasa malu sekali dan sedang memutar otaknya bagaimana dia akan menjawab nanti kalau ditanya tentang kehadirannya di taman orang dan “mengintai” dengan telinganya tanpa ijin pemilik taman.

Langkah kaki yang ringan dan lesu mendekati pohon. Hidung Kun Hong kembang-kempis. Keharuman yang sedap dan aneh mengalir memasuki lubang hidungnya, bau yang luar biasa harumnya seperti……. seperti apakah gerangan?

Tidak ada bunga yang seharum ini, harum yang tidak memuakkan, tidak keras, seperti harum bunga mawar? Tidak, lain lagi. Seperti harum minyak wangi dan dupa? Juga bukan, sungguhpun memiliki daya penenteram rasa seperti keharuman dupa. Apakah bau cendana? Juga bukan, cendana terlalu wangi sehingga memusingkan kepala. Tiba-tiba wajah Kun Hong tersenyum berseri. Inikah bau sedap seperti bau anak kecil? Ya, pernah dalam perantauannya dia dimintai tolong orang supaya mengobati anak-anak dan seperti inilah anak bayi itu baunya. Sedap dan mengamankan hati!

Kun Hong berdebar hatinya. Nona ini amat dekat dengannya, hanya terpisah batang pohon. Pernapasannya saja terdengar olehnya, napas yang panjang-panjang dan halus sungguhpun desir napas itu menyatakan bahwa orangnya mengalami kelelahan. Tidak aneh setelah bermain pedang mempergunakan tenaga Iweekang seperti itu. Nona itu mencabut pedang yang tadi dilontarkan menancap pada pohon. Dari suara cabutan ini dengan kagum sekali Kun Hong mendapat kenyataan bahwa pedang itu menancap setengahnya lebih ke dalam batang pohon, hal yang membuktikan lagi akan hebatnya tenaga Iweekang nona ini.

Dengan langkah gontai, seperti langkah seorang yang baru sembuh daripada penyakit yang lama diderita, lemas dan lesu dengan kaki diseret nona itu meninggalkan pohon, kembali ke tempat tadi. Lalu terdengar oleh Kun Hong betapa dara itu duduk, menggerak-gerakkan tangan agaknya menyusut peluh dengan saputangan sutera yang dia dengar tadi di antar datang oleh A Man, Setelah itu gadis itu minum lambat-lambat, dengan teguk-teguk kecil, agaknya susu madu tadi. Tak terasa lagi Kun Hong menelan ludah dan tiba-tiba saja terasa betapa lapar perutnya dan haus kerongkongannya. Sejak kemarin sore dia tidak makan atau minum lagi, yaitu sesudah menyikat habis makanan dan minuman hasil curian Loan Ki. Loan Ki juga tentu lapar dan haus seperti aku pula pikirnya. Ah, di mana Loan Ki? Seakan-akan baru sadar daripada sebuah mimpi indah, Kun Hong teringat akan Loan Ki dan hatinya terbuka, penuh kekhawatiran. Masih hidupkah Loan Ki? Dan di mana ia?

“Benar-benar aku tiada guna…….”

Kun Hong memaki diri sendiri. “Loan Ki terjerumus dan hilang, belum tahu mati atau masih hidup dan……. dan aku…….aku terlongong saja di sini mau apa?”

Hampir marah Kun Hong kepada dirinya sendiri. Baru sekarang dia merasa betapa dia sudah seperti tergila-gila kepada nona bersuara bidadari itu. Mukanya ditengadahkan ke arah angkasa, bibirnya bergerak-gerak dalam bisikan “Cui Bi……. kau tentu suka memaafkan aku……. nona yang di depan ini memang terlalu luar biasa …….”

Setelah berbisik seperti itu dia sudah menggerakkan kaki sambil mengerahkan ginkangnya agar dapat pergi dari situ tanpa terdengar orang. Akan tetapi baru saja kakinya diangkat sambil dia membalikkan tubuh hendak pergi, kaki itu berhenti seperti tertahan oleh suara senandung di belakangnya. Suara bidadari itu bersenandung? Biarpun hanya bersenandung, tidak bernyanyi nyaring, namun suara itu bagi pendengaran Kun Hong sedemikian merdunya sehingga dia menahan napas dan miringkan kepala untuk dapat menangkap kata-kata nyanyian dalam senandung itu.
“Daun labu belum layu anak sungai masih berlagu kutunggu, tuanku. Air sungai melimpah ruah kuda betina menjerit resah kutunggu, kekasihku. Bahtera menanti kita mengantar ke pantai kita kutunggu, sahabatku!”

Lemas kedua lutut Kun Hong. Tak terasa pula dia berlutut lalu duduk bersimpuh di atas tanah. Kulit mukanya tergetar-getar, bergerak-gerak, apalagi di sekitar kedua lubang bekas mata yang tertutup kelopak (pelupuk mata). Bukan main suara itu! Tadi baru mendengar suara itu bicara saja dia sudah kagum bukan main, suara yang dapat menggetarkan dan menyinggung tali halus hatinya. Kini suara itu bersenandung, bukan main! Dada Kun Hong serasa hendak meledak oleh nikmat yang didatangkan oleh senandung itu. Dia sendiri seorang ahli sastera, seorang penggemar bacaan, baik filsafat maupun sanjak-sanjak kuno. Dan kata-kata nyanyian yang keluar bagaikan tetesan-tetesan embun mutiara di ujung daun hijau di waktu subuh itu, dia pun pernah membacanya.

Sanjak lama, amat kuno akan tetapi masih saja mempunyai arti yang membayangkan keadaan hati seseorang. Jelas, dara bersuara bidadari ini sedang dirundung malang, dibuai sedih oleh kesepian, dimabuk khayal lamunan. Mungkinkah ada hubungannya dengan percakapan tentang jodoh dengan ibunya tadi?

Masih terngiang di telinga Kun Hong suara yang nikmat itu dan dia masih juga duduk bersimpuh ketika dia mendengar betapa nona itu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah gontai. Setelah langkah itu tidak terdengar lagi dan keadaan di situ benar-benar sunyi tiada orang, Kun Hong melangkah ke luar dari tempat sembunyinya. Bagaikan didorong oleh tangan tak tampak, atau ditarik oleh besi sembrani, kedua kakinya melangkah ke arah tempat di mana dara tadi bernyanyi. Tongkatnya tertumbuk pada sebuah meja batu yang dikelilingi tiga buah bangku batu yang halus dan dingin. Bau harum yang tadi masih mengambang di udara di sekitar tempat itu, lebih terasa kini. Kun Hong meraba bangku dingin halus, lalu duduk menghadapi meja, termenung.

Tanpa disengaja tangannya yang meraba meja menyentuh sesuatu yang halus di atas meja. Saputangan sutera! Agak basah dan hangat. Air mata? Keringat? Seperti dalam mimpi Kun Hong meremas saputangan sutera itu, lalu mengendurkan tangannya, hatinya merasa khawatir kalau-kalau remasannya akan merusak benda halus lemas berbau harum itu. Kemudian, dengan tangan gemetar saputangan itu dia dekatkan ke mukanya, bau harum mengeras, tapi dia menahan tangannya. Wajah Cui Bi terbayang dan muka Kun Hong menjadi merah sekali. “Maaf, Cui Bi……. dia terlalu luar biasa…….” setelah berkata demikian dia membenamkan mukanya ke dalam saputangan itu.

Ganda harum semerbak saputangan sutera itu membuat Kun Hong mabuk dan tenggelam di alam lamunan. Wajah Cui Bi terbayang, maka keras dia mendekap saputangan itu pada mukanya, seakan-akan yang didekap dan dibelainya itu adalah wajah Cui Bi kekasihnya. Terluaplah segenap rindu berahi yang selama bertahun-tahun dia kekang, dia bendung, dia tahan.

“Cui Bi…….. Bi-moi……. dewi pujaan……. di mana kau…….?” Kun Hong mengeluh, menciumi saputangan dan beberapa butir air mata menetes dari sepasang mata yang tak berbiji lagi itu. Sedih perih membuat dia merasa nelangsa ketika sadar bahwa kekasih yang amat dirindukannya itu telah tiada dan tak tertahankan lagi Kun Hong menitikkan air mata yang membasahi saputangan sutera berganda harum itu.

Betapapun kuat batin Kun Hong, dia tetap seorang manusia biasa. Sekali waktu tentu akan tunduk dan kalah oleh arusnya perasaan yang mencengkeram hati, mencengkam pikiran. Apalagi perasaan rindu dendam bagi seorang muda amatlah berat dilawan. Kun Hong pemuda gemblengan itu, yang biarpun sudah buta namun masih memiliki kegagahan dan kesaktian yang melebihi orang-orang melek, kini bagaikan dilolosi seluruh otot di tubuhnya, lemas dan berlutut menciumi saputangan sambil menitikkan air mata seperti laku seorang wanita berhati lemah! Saking hebatnya dia dipengaruhi perasaan sendiri, dia menjadi lengah dan pendengarannya tidak dapat menangkap suara halus dari langkah kaki yang mendekati tempat itu, bahkan yang datang menghampirinya. Langkah halus dan ringan dari sepasang kaki yang bersepatu merah, dan yang menghampirinya dari belakang.

“Pencuri busuk, berani kau memasuki tamanku? Hayo berlutut di depan nonamu!” Suara ini nyaring dan merdu, namun mengandung getaran galak dan tinggi hati Kun Hong terkejut, seakan-akan disendal dari dunia lamunannya. Dengan gugup dia mencengkeram saputangan itu dan membalikkan tubuhnya dengan siap karena dia mendengar suara pedang dicabut oleh wanita yang memakinya ini. Tongkatnya dipegang erat karena biarpun dari suaranya dia dapat mengenal seorang gadis remaja yang galak, namun gadis ini dapat datang tanpa dia ketahui, tanda bahwa ilmu kepandaiannya juga tinggi, maka dia harus siap menghadapi bahaya serangannya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: