Pendekar Buta ~ Jilid 9

“Bouw-sicu, pinceng (aku) datang ke sini atas undangan majikan Ching-coa-to. Mengapa sekarang Ching-toanio tidak kelihatan mata hidungnya malah mengajukan orang-orang lain untuk menyambut pinceng? Apa artinya penghormatan seperti ini?”

Jelas bahwa biarpun dia seorang pendeta, namun sikapnya sombong sekali dan dia tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, terang kepada Bouw Si Ma tidak juga terhadap tiga orang wanita baju merah berkembang itu pun tidak. Agaknya dia merasa kecewa sekali sebagai seorang tokoh besar yang diundang oleh Ching-toanio untuk membicarakan urusan rahasia yang amat besar, tahu-tahu kini di tempat itu dia bertemu dengan orang-orang asing.

Kalau Ching-toanio membawa-bawa orang seperti Bouw Si Ma masih mending karena dia mengetahui orang macam apa adanya Si Mancu murid Pak Thian Lo-cu ini. Akan tetapi tiga orang wanita ini, yang sikapnya sombong dan juga mudah diduga bahwa mereka itu orang-orang undangan atau tamu, benar-benar membuat hwesio itu merasa tak senang hatinya.

Tiga orang wanita itu tersenyum lebar dan saling pandang, kemudian seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya, orang yang tertua, berkata,

“Tai-su tentulah Ka Chong Hoatsu dan tuan muda itu tentu Pangeran Souw Bu Lai seperti tadi telah diberitahukan kepada kami oleh Bouw Si Ma-enghiong. Jiwi adalah orang-orang besar dan ternama, mana bisa disamakan dengan kami ketiga enci adik yang tidak ada kepandaian, juga tidak ada kedudukan? Akan tetapi, betapa rendah pun, kami adalah undangan dari Ching-toanio, maka berhak berada di sini. Kurasa yang tidak berhak hadir adalah yang tidak diundang, bukankah begitu anggapanmu, Tai-su? Hemm, dia itulah yang tak diundang, maka wajib disingkirkan.”

Loan Ki kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin berbunyi sampai berciutan di dalam ruangan itu. Ia tadinya menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan “tamu tak diundang” oleh wanita itu tentulah ia dan ia sudah siap menghadapi serangan. Akan tetapi serangan yang dilakukan oleh wanita itu benar-benar membuat hatinya berdebar dan matanya terbelalak heran.

Ia tidak tahu pukulan apakah itu, yang dilihatnya hanya lengan tangan wanita itu bergerak ke depan dengan telunjuk menuding, lalu terdengar angin kecil kuat menyambar ke depan, mengeluarkan bunyi mengerikan. Loan Ki lega hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan dia yang diserang, melainkan seekor cecak yang tadinya merayap di atas jendela, Ketika ia memandang lebih teliti ke arah cecak itu, ia bergidik. Cecak itu masih berada di tempat semula, akan tetapi sudah tak bergerak lagi dan dua titik darah menetes dari perutnya!

“Omitohud…….! Bukankah itu yang disebut Hui-seng-kiam-sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang)?” Kemudian hwesio tua itu berpaling kepada Souw Bu Lai, pangeran yang menjadi muridnya sambil berkata, “Ilmu pedang ini datangnya dari seorang hoan-ceng (pendeta asing) di Thian-tiok (India). Ilmu pedang yang dicampur dengan hoat-sut (ilmu sihir), amat berbahaya dan kalau sudah tinggi tingkatnya, hawa pukulannya sudah dapat dipakai untuk merobohkan lawan tanpa menggunakan pedang sekalipun. Melihat toanio ini dapat menggunakan hawa pukulan tanpa pedang, benar-benar mengagumkan dan sudah sepantasnya kalau mereka bertiga diundang oleh Ching-toanio, “Aha, siapa kira orang-orang muda sekarang mendapat kemajuan begini hebat? pinceng orang tua benar-benar sudah pikun, tak sadar bahwa dunia ini makin lama tentu akan dikuasai oleh yang muda-muda….. ha-ha-ha-ha!”

Melihat perubahan sikap ini, Bouw Si Ma girang sekali. Dia lalu berkata sambil tersenyum, “Benar pendapat Tai-su. Sam-wi li-hiap ini bukan lain adalah Ang Hwa Sam-cimoi (Tiga Enci Adik Bunga Merah).”

“Benarkah? Oho, pinceng girang sekali. Pernah mendengar bahwa Ang Hwa Sam-cimoi adalah sumoi (adik seperguruan) dari Hek-hwa Kui-bo yang pinceng kenal baik. Sayang Hek-hwa Kui-bo telah terbang terlampau tinggi sehingga tersandung puncak Thai-san dan roboh.”

Orang tertua dari Ang Hwa Sam-cimoi mengerutkan keningnya. “Sekali waktu kami bertiga yang bodoh hendak berusaha menggugurkan puncak Thai-san yang telah merobohkan mendiang Hek-hwa suci (kakak seperguruan).”

Ka Chong Hoatsu, hwesio itu, hanya terbahak-bahak lalu bersama muridnya mengambil tempat duduk. Di luar jendela, Loan Ki memandang dan mendengar semua ini dengan hati berdebar. Setelah mereka duduk, dia memandang penuh perhatian kepada enam orang itu yang mulai minum-minum dilayani oleh pelayan-pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik dan berpakaian sutera seragam berwarna indah. Dia tahu bahwa didalam ruangan itu terdapat orang-orang lihai dan makin berkhawatirlah ia karena sekarang makin sulit baginya untuk dapat mencari Kun Hong dan bersama pemuda buta itu meninggalkan pulau berbahaya ini.

Kekhawatiran Loan Ki memang beralasan. Enam orang itu memang merupakan tokoh-tokoh besar yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Bouw Si Ma orang Mancu itu bukanlah orang sembarangan karena dia adalah murid dari tokoh nomor satu di utara, yaitu Pak Thian Lo-cu yang juga menemui kematiannya di puncak Thai-san (baca Rajawali Emas). Seperti juga Ang Hwa Sam-cimoi yang mendendam atas kematian suci mereka juga Bouw Si Ma ini menaruh dendam kepada Thai-san-pai atas kematian gurunya. Sebagai murid Pak Thian Lo-cu, tentu saja dia mengenal Giam Kin yang menjadi murid Siauw-ong-kwi karena Siauw-ong-kwi adalah sute (adik seperguruan) Pak Thian Lo-cu sehingga antara Bouw Si Ma dan Giam Kin terhitung saudara seperguruan pula.

Bouw Si Ma sebagai saudara tingkat tua dalarn perguruan, tentu saja mengenal pula Ching-toanio dan seringkali mengunjungi pulau ini, apalagi sejak Giam Kin tewas di puncak Thai-san. Dalam banyak hal terdapat persesuaian faham antara Bouw Si Ma dan Ching-toanio. Mereka sama-sama menaruh dendam terhadap Thai-san-pai, dan keduanya adalah orang-orang yang memiliki ambisi yang tinggi maka seringkali mereka mengincar kedudukan di kota raja semenjak terjadinya kerusuhan dan perebutan kekuasaan setelah kaisar pertama dari Ahala Beng meninggal dunia.

Tiga orang wanita itu, Ang Hwa Sam-cimoi, juga merupakan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Mereka ini tergolong tokoh-tokoh dari ilmu golongan hitam dan selama belasan tahun mereka merantau ke See-thian (dunia barat) sehingga mereka tidak tahu akan nasib suci mereka yaitu Hek Hwa Kui-bo yang tewas pula di Thai-san. Kini tiga orang enci adik ini pulang dari See-thian dengan kulit agak kehitaman akan tetapi selain ilmu kepandaian yang hebat mereka pelajari, juga seperti halnya Hek Hwa Kui-bo, tiga orang wanita yang usianya sudah mendekati lima puluhan tahun ini masih nampak cantik manis dan muda-muda tidak lebih dari tiga puluh tahun! Setelah merantau ke See-thian dan menjumpai guru mereka, seorang pendeta di Thian-tiok yang bertapa di Pegunungan Himalaya, kini kepandaian Ang Hwa Sam-cimoi meningkat hebat sehingga melampaui tingkat kepandaian Hek Hwa Kui-bo sendiri. Mereka she Ngo dan nama mereka adalah Kui Ciau, Kui Biau, dan Kui Sian. Dengan amat cerdiknya Bouw Si Ma yang dalam hal mencari oraug pandai untuk sekutu mewakili Ching-toa-nio, segera menggandeng tiga orang enci adik ini, apalagi mengingat bahwa mereka juga mempunyai dendam yang sama di Thai-san atas kematian kakak seperguruan mereka. Tentang kelihaian tiga orang wanita ini, tadi baru saja didemonstrasikan ilmu pukulan yang amat hebat, merupakan inti daripada Ilmu Pedang Hwa-seng-kiam-sut, yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dengan kekuatan hoat-sut, hawa pukulan saja sudah sama bahayanya dengan sambaran pedang.

Orang berusia tiga puluhan tahun yang disebut pangeran itu sebetulnya memang masih keturunan Pangeran Mongol. Di dalam cerita Raja Pedang terdapat seorang Pangeran Mongol bernama Souw Kian Bu yang tampan dan cabul, mengandalkan kekuasaan dan kepandaian melakukan pelbagai kejahatan. Pangeran Mongol yang kini berada di ruangan itu adalah seorang keturunan dari Pangeran Souw Kian Bu ini, bernama Sublai dalam Bahasa Mongol dan dalam dunia kangouw dia menggunakan nama Han dan disebut Souw Du Lai. Kepandaiannya juga tinggi, malah lebih tinggi kalau dibandingkan dengan orang-orang Mongol kebanyakan, karena gurunya adalah tokoh Mongol nomor satu. Sebagai seorang yang bercita-cita tinggi untuk memulihkan kembali kekuasaan bangsanya atas daratan Tiong-kok, Souw Bu Lai tekun mempelajari segala ilmu silat sehingga dia sekarang menjadi seorang yang luas pengalamannya dalam ilmu silat, pandai mainkan delapan belas macam senjata, pandai pula menunggang kuda melepaskan anak panah dan senjata-senjata rahasia, sedangkan tenaganya pun besar.

Pendeta tinggi besar itulah guru Souw Bu Lai, berjuluk Ka Chong Hoatsu, seorang pendeta Buddha yang pernah merantau ke Thian-tiok dan malah di Tibet pernah menerima hadiah tongkat kependetaannya. Sayang seribu kali sayang bahwa Ka Chong Hoatsu yang puluhan tahun mempelajari ilmu dan agama, ternyata mengandung cita-cita duniawi yang membikin kotor semua usaha. Dahulu dia bercita-cita menjadi orang tertinggi kedudukannya di samping kaisar melalui keagamaan, sekarang melihat betapa Kerajaan Mongol sudah jatuh, dia bercita-cita membangunnya kembali bersama Pangeran Souw Bu Lai yang menjadi muridnya.

Seringkali dia bermimpi betapa akan tinggi kedudukannya di dunia ini kalau muridnya menjadi kaisar. Tentu dia akan menjadi guru besar negara dan mempunyai kekuasaan yang malah melebihi kaisar sendiri! Pendeta ini mempunyai kepandaian yang hebat, kiranya tidak akan kalah tinggi daripada tingkat si empat besar yang dahulu ditonjolkan di dunia kangouw yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun si tokoh barat, Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang si tokoh timur, Siauw-ong-kwi si tokoh utara, dan Hek Hwa Kui-bo si tokoh selatan. Tongkat pendeta di tangannya itulah yang merupakan senjata utamanya, ampuhnya bukan kepalang, sukar ditandingi karena selain terbuat daripada baja pilihan di Himalaya, Juga amat berat dan kalau dia yang mainkan seakan-akan bulu ringannya, maka dapat bergerak cepat sekali!

Pokoknya enam orang yang berkumpul di pulau Ching-coa-to itu telah mempunyai kepentingan bersama, termasuk Ching-toanio sendiri, yaitu usaha membalas dendam kepada Thai-san-pai dan usaha membangun kembali Kerajaan Mongol yang sudah runtuh.

Setelah beberapa lama enam orang itu makan minum di ruangan itu sambil menanti datangnya Ching-toanio yang sudah diberitahu oleh seorang pelayan, muncullah Ching-toanio dari pintu depan. Begitu masuk wanita berpakaian hijau ini cepat menjura dengan hormat sekali sambil berkata,

“Harap cu-wi (anda sekalian) sudi memaafkan atas kelambatanku menyambut cu-wi. Ada sedikit gangguan di pulau ini. Dua orang yang belum diketahui betul maksudnya telah mencuri masuk dan membikin kacau anak buahku. Mereka adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda, dan aku amat khawatir kalau-kalau mereka itu merupakan mata-mata fihak musuh yang menaruh curiga kepada kita.”

Mendengar ucapan nyonya rumah ini, otomatis enam orang itu mengerling ke sana ke mari dengan pandang mata penuh selidik.

“He-he-he, gadis cilik berpakaian basah?” tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata.

“Iblis betina berambut kusut?” kata pula Ngo Kui Biau sambil tersenyum mengejek.

Sebelum yang lain tahu apa yang mereka maksudkan, tiba-tiba Ka Chong Hoatsu mendorongkan tangan kanan ke arah jendela diikuti gerakan Ngo Kui Biau yang mencelat ke arah jendela pula.

“Brakkkkk!” Angin dorongan tangan hwesio itu membuat daun jendela menjadi pecah dan di lain saat Ngo Kui Biau telah meloncat masuk kernbali sambil melemparkan tubuh seorang gadis yang pakaiannya basah dan rambutnya kusut, bukan lain orang adalah Loan Ki! Gadis ini berjungkir balik dengan gerakan indah sehingga tubuhnya tidak terbanting di atas lantai, lalu berdiri tegak memandang penuh ketabahan, sungguhpun kedua matanya masih terbalalak lebar saking heran dan kagetnya. Tadi ia mendengar pula ucapan dua orang itu dan tiba-tiba ada angin besar menyambar ke arah jendela.

Cepat ia merendahkan diri untuk mengelak akan tetapi angin pukulan itu membuat daun jendela pecah dan tiba-tiba berkelebat bayangan merah menyambarnya. Loan Ki berusaha mengelak namun gerakan bayangan itu bukan main cepatnya sehingga tahu-tahu tengkuknya telah ditangkap dan ia merasa tubuhnya melayang ke dalam ruangan! Dari dua kejadian itu saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang di dalam ruangan itu.

Loan Ki maklum bahwa tak mungkin ia dapat menang menghadapi tujuh orang kosen ini, akan tetapi tidak memperlihatkan muka takut, malah ia tersenyum-senyum kecil dengan mata bermain, menatap wajah mereka seorang demi seorang dengan nakal.

“Bocah liar, siapa suruh kau memata-matai pulau kami?” Ching-toanio menghardik, suaranya penuh ancaman.

Loan Ki mengerling kepada nyonya baju hijau itu dan tersenyum. “Aku bukan mata-mata. Aku sengaja datang ke Ching-coa-to untuk bertemu dengan pemiliknya, tidak punya maksud buruk. Yang mana di antara kalian pemilik pulau ini?” Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara ringan dan wajar, membuat Ka Chong Hoatsu terkekeh kagum. Bukan main bocah ini, pikir pendeta itu, masuk ke sarang harimau gua naga masih saja begitu tenang dan berani. Dari sikap ini saja dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini puteri seorang tokoh besar atau setidaknya murid orang pandai.

“Akulah pemilik pulau ini. Kau mau apa!” Ching-toanio membentak.

“Wah, tentu kau yang disebut toanio. Kau cantik, Toanio, tetapi galak. Pantas saja orang-orangmu takut setengah mampus kepadamu. Dengar, Toanio. Aku datang bersama seorang temanku perlu bertemu denganmu untuk minta maaf karena kelaparan aku telah merampas makanan dan minuman dari tangan orang-orangmu. Nah, sudah kulaksanakan desakan temanku yang buta itu. Adapun aku sendiri ingin sekali melihat kau memaksa kokimu menyelam untuk mencari ikan yang kurampas dan melihat kau memukuli kepala jagalmu. Hi-hik!”

Tiga orang laki-laki yang berada di situ tersenyum, malah Ka Chong Hoatsu tertawa bergelak. Akan tetapi Ang Hwa Sam-cimoi yang merasa bahwa kedatangan gadis lincah dan cantik ini menyuramkan “sinar” mereka, memandang acuh tak acuh, sedangkan Ching-toanio marah sekali.

“Budak! Kau berani kurang ajar di depan nyonya besarmu, apakah kau sudah bosan hidup?” teriak Ching-toanio dan bagaikan seekor harimau nyonya ini menerjang maju, menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram muka dan memukul ulu hati. Serangan ini hebat bukan main, mendatangkan sambaran angin yang dari jauh sudah terasa oleh Loan Ki. Hampir saja Loan Ki tak dapat menghindarkan diri kalau ia tidak cepat-cepat mempergunakan gerakan Bidadari Turun ke Bumi, suatu gerakan yang amat sukar dari ilmu silat keturunannya Sian-li-kun-hoat. Tubuhnya mencelat bagaikan dilemparkan ke atas, lalu menukik ke bawah sambil mengembangkan kedua lengannya. Gerakan yang cepat ini menyelamatkannya, namun angin pukulan yang dilontarkan nyanya itu tetap saja menyerempet buntalan pakaian yang berada di punggungnya. Terdengar suara “brett!” dan buntalan pakaian itu terlepas dari punggung, jatuh ke atas tanah, terbuka dan tampaklah pakaian gadis itu dan sebuah mahkota indah. Akan tetapi dengan amat cepatnya pula Loan Ki sudah menyambar bungkusan itu dan menutupkan kainnya kembali.

“Oho, bukankah itu mahkota yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh pembesar she Tan?” terdengar suara parau dari Souw Bu Lai. Sebagai seorang keturunan pangeran dia pernah melihat mahkota ini di gudang pusaka kerajaan, maka sekali lihat dia telah mengenalnya, apalagi karena hilangnya mahkota kuno itu sudah terdengar oleh dunia kangouw.

Akan tetapi gurunya, Ka Chong Hoat-su, lebih terheran-heran melihat cara Loan Ki bergerak menyelamatkan diri dari terjangan Ching-toanio tadi, maka ketika dia melihat Ching-toanio yang merasa penasaran hendak menyerang pula, pendeta ini berseru “Toanio, tahan dulu!” Tentu saja nyonya itu tidak melanjutkan serangannya dan memandang heran dengan alis berkerut. Ka Chong Hoatsu melangkah setindak maju dan bertanya kepada Loan Ki,

“Nona cilik, bukankah gerakanmu tadi jurus dari Sian-li-kun-hoat (Ilmu Silat Bidadari)?”

“Hemmm, bagus kau mengenal jurusku yang lihai, hwesio tua! Maka lebih baik kau menyuruh nyonya galak ini mundur dan biarkan aku pergi dengan aman sebelum kalian berkenalan dengan ilmu pedangku Sian-li Kiam-sut dan kemudian menyesal pun sudah terlambat!” Loan Ki sengaja membuka mulut besar karena ia maklum bahwa betapapun juga ia takkan mampu melawan, baru nyanya galak itu saja sudah begitu hebat, apalagi yang lain-lain dan terutama hwesio tua ini yang sekali lihat sudah mengenai jurusnya. Daripada terhina kemudian kalah, lebih baik menghina dan memandang rendah dahulu, jadi menang angin, demikian pikir dara lincah yang berhati baja ini.

“Aha, bagus!” Ka Chong Hoatsu berseru. “Kalau begitu, kau masih ada hubungan apakah dengan mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan ?”

Dara itu makin angkuh. Sambil mengangkat dada mengedikkan kepala dan meraba gagang pedangnya, ia memandang mereka seorang demi seorang dengan pandang mata seakan-akan berkata,

“Huh, kalian ini orang-orang tingkatan rendah mana bisa disamakan dengan aku?”

Akan tetapi mulutnya berkata bangga. “Hwesio tua, masih baik kau mengetahui nama mendiang kakek guruku. Dengan mengingat nama besar beliau yang kau kenal, biarlah nona kecilmu mengampunimu satu kali ini.”

Souw Bu Lai tertawa bergelak menyaksikan sikap gadis ini dan hatinya yang memang berwatak mata keranjang sejak tadi sudah berdebar penuh berahi. Akan tetapi alangkah kagetnya hati Loan Ki ketika ia melihat berkelebatnya senjata-senjata yang menyilaukan mata, membuatnya berkejap beberapa kali. Ketika ia membuka mata, kiranya Ching-toanio, Bouw Si Ma dan Ang Hwa Sam-cimoi tiga wanita itu sudah berdiri di depannya dengan senjata masing-masing di tangan, sikap mereka penuh ancaman.

“Budak liar! Hayo katakan kau ini apanya ketua Thai-san-pai?” bentak Ching-toanio, suaranya mengandung ancaman maut.

Biarpun lincah jenaka, Loan Ki bukanlah seorang anak bodoh, malah ia tergolong cerdik dan otaknya tajam. Ia seringkali mendengar dari ayahnya tentang pamannya Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai itu, tahu bahwa ketua Thai-san-pai itu banyak dimusuhi orang-orang kangouw, apalagi dari golongan hitam.

Setelah berpikir beberapa detik lamanya, ia lalu tertawa dengan nada sombong sekali.

“Hi-hi-hik, biarpun nama Raja Pedang Tan Beng San ketua Thai-san-pai membuat kalian ketakutan setengah mampus, aku tidak sudi mempergunakan namanya untuk menakut-nakuti kalian dengan namanya. Dengarlah baik-baik, aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia, malah dia masih hutang beberapa jurus serangan dengan pedangku. Belum tiba saatnya aku akan berhadapan dengan dia mengadu nyawa di ujung pedang. Kenapa kalian ini menodongkan senjata kepada seorang muda sepertiku? Apakah kalian hendak mengeroyokku? Cih, tidak tahu malu!”

Kembali Ka Chong Hoatsu yang tertawa bergelak dan Souw Bu Lai tersenyum-senyum, makin tertarik kepada dara lincah yang tabah dan cantik ini.

“He, bocah nakal! Kalau begitu tentu kau ada hubungan dengan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui?” Tanya Ka Chong Hoatsu.

“Hemm, hwesio tua. Kaulah seorang di antara mereka ini yang paling cerdik. Majikan yang menjadi raja di pantai Po-hai, si Pendekar Pedang Sakti Tan Beng Kui adalah ayahku, dan nonamu ini Tan Loan Ki adalah puteri tunggalnya. Hayo, siapa berani menentang ayahku?”

“Ha-ha-ha-ha, Ching-toanio dan saudara-saudara yang lain, simpan senjata kalian. Kiranya nona cilik ini adalah orang segolongan sendiri. Ha-ha-ha!” kata hwesio tua itu dan semua orang yang berada di situ memang sudah mengenal Tan Beng Kui. Mereka menarik napas lega dan menyimpan senjata masing-masing sambil mundur. Ching-toanio mengerutkan alisnya karena ia masih marah dan penasaran, akan tetapi ia juga tidak mau memusuhi puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Tentu saja ia tidak mau bukan karena takut, melainkan karena pada waktu itu ia membutuhkan orang-orang kosen yang sehaluan dan boleh dibilang Tan Beng Kui mempunyai kepentingan serupa dengan dia. Pertama, ia tahu bahwa Tan Beng Kui menaruh dendam sakit hati terhadap adik kandungnya sendiri, Tan Beng San yang juga menjadi musuh besarnya. Ke dua, dalam urusan usaha merebut kekuasaan, kiranya Tan Beng Kui boleh diakui bersekutu.

Sebagai seorang yang amat cerdik, ia segera dapat menangkap maksud hati Ka Chong Hoatsu, maka ia segera memaksa senyum manis kepada Loan Ki dan berkata,

“Nona cantik, hampir saja kita saling bentrok. Akan tetapi tidak mengapa, bukankah orang bilang bahwa tidak bertempur dulu takkan saling mengenal? Ayahmu dengan kami adalah segolongan, maka tidak bisa kami memusuhimu. Soal makanan dan minuman boleh dihabiskan sampai di sini saja. Nona Tan, bagaimana kau bisa mendapatkan mahkota kuno itu?”
Loan Ki tidak goblog untuk mempertahankan sikap bermusuhan. Iapun tersenyum ramah dan berkata, “Wah, ayah tentu girang sekali kalau mendengar bahwa anaknya sudah berkenalan dengan orang-orang gagah di dunia kangouw. Bagus, karena cuwi (tuan sekalian) adalah orang-orang sendiri, biarlah aku mengaku terus terang. Mahkota ini dirampas oleh Hui-houw-pang dari tangan si pembesar yang mencurinya dari istana, kemudian aku merampasnya dari Hui-houw-pang untuk kuberikan kepada ayah yang suka mengumpulkan barang-barang kuno seperti ini. Mereka itu beramai-ramai mengeroyokku dan mengejar, tapi mana mereka mampu merampas kembali dari tanganku? Hemm, biar ditambah sepuluh kali jumlah mereka takkan sanggup mereka itu! Aku lari sampai di daerah sini dan karena kesalahan merampas makanan, maka aku akhirnya masuk ke Ching-coa-to.” Seperti lagak anak kecil Loan Ki menyombongkan hal yang tak pernah terjadi tentang pengeroyokan. Padahal kalau tidak ada Kun Hong, mana ia bisa mendapatkan mahkota itu?

“Ho-ho, memang tidak mudah, tapi pinceng bolehkah melihat sebentar?” Tongkat hwesio itu menyelonong ke depan, Loan Ki kaget sekali dan cepat miringkan tubuhnya. Celaka, tahu-tahu tangan kiri hwesio itu diulur maju dan di lain detik buntalan pakaian sudah berpindah tangan!

“Ha-ha-ha, tenang, Nona. Pinceng hanya ingin melihat sebentar, untuk membuktikan apakah benar-benar ini mahkota yang aseli.” Dengan enak hwesio itu mengambil mahkota, melihat-lihat dan bergantian dengan orang-orang yang berada di situ, mengagumi keindahan mahkota kuno ini. Loan Ki hanya berdiri dengan muka merah dan mata berapi-api penuh kemendongkolan hati. Akan tetapi diam-diam ia pun kaget sekali karena ternyata hwesio tua itu sepuluh kali lipat lebih lihai daripadanya.

Setelah semua orang melihat, buntalan dan mahkota dikembalikan kepada Loan Ki oleh hwesio itu. Loan Ki menerimanya, mengikatkan buntalan kembali ke punggungnya dengan muka cemberut.

“Orang tua mengakali anak muda, awas kau hwesio, lain kali aku balas!”

Ka Chong Hoatsu hanya tertawa bergelak dan Souw Bu Lai sambil cengar-cengir mendekati Loan Ki, sepasang matanya yang lebar itu seakan-akan hendak menelan gadis ini bulat-bulat. Loan Ki mengerutkan kening menyaksikan mata seperti mata harimau kelaparan itu.

“Kau mau apa?” tanya Loan Ki dengan alis berkerut.

Souw Bu Lai tersenyum, giginya yang putih ! berkilat di balik kumis panjang, kumis model Mongol, “Nona manis namanya pun manis. Aku tidak akan menyusahkanmu, sudah lama kudengar nama besar ayahmu. Perkenalkan aku…….”

“……. kau Sublai, mengaku-aku Pangeran Mongol, ya? Tapi aku masih belum mau percaya!” tukas Loan Ki galak.
Souw Bu Lai tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya kau tadi sudah mengintai cukup lama? Memamg, aku bernama Souw Bu Lai, seorang pangeran dari Mongol. Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, pantas puterinya seperti kau, Nona.”

“Wah, sudahlah, aku tidak ingin mendengar pidatomu. Toanio, aku pamit hendak pergi dari sini, mencari sahabatku kemudian kuharap kau suka memberi pinjam sebuah perahumu untuk mengantar kami berdua menyeberang, kembali ke darat.”

“Kau datang tak diundang, pulang pun tak usah minta diantar,” jawab Ching-toanio cemberut.

“Hi-hik, kalau begitu biar aku pergi sendiri. Kalau butuh perahu, tidak boleh pinjam, curi pun masih bisa.” Dengan lagak seperti kanak-kanak Loan Ki melambaikan tangan ke arah orang-orang itu lalu kakinya melangkah hendak keluar dari pondok itu.

Hampir saja ia bertumbukan dengan seorang yang berlari-lari dari luar dan yang amat cepat gerakannya. Loan Ki meliukkan tubuhnya ke kiri sedangkan orang yang lari itu pun tiba-tiba berhenti, begitu tiba-tiba dan cepat berhentinya sehingga Loan Ki memandang heran dan kagum karena cara berhenti seperti itu hanya mampu dilakukan oleh orang pandai. Keduanya berpandangan dan tak terasa lagi mulut Loan Ki berseru memuji, “Aduh cantiknya……”

Orang itu bukanlain adalah Giam Hui Siang, gadis cantik jelita yang usianya sebaya dengan Loan Ki, yaitu antara tujuh belas dan delapan belas tahun. Memang Hui Siang luar biasa cantik jelitanya, ditambah orangnya pesolek lagi, wajahnya terawat baik dengan bantuan pelayan-pelayan ahli, pakaiannya selalu mentereng sehingga biarpun ia puteri seorang pemilik pulau, namun sekali melihat orang akan menyangka bahwa ia tentulah seorang puteri keluarga kaisar di istana! Maka tidaklah heran apabila Loan Ki segera memujinya, sungguhpun ia sendiri adalah seorang gadis lincah yang cantik manis pula. Mungkin Loan Ki sendiri takkan kalah baik bentuk wajah maupun bentuk tubuhnya jika dibandingkan dengan Hui Siang, akan tetapi karena Loan Ki adalah seorang dara pendekar yang suka merantau dan kurang memperhatikan perawatan badannya, tentu saja kulitnya kalah putih, kalah halus, dan pakaiannya juga kalah baik.

Hui Siang adalah seorang dara manja dan wataknya amat galak dan sombong. Karena hampir saja bertumbukan dengan Loan Ki, ia amat marah dan segera memaki,

“Budak hina! Apakah matamu buta? Eh, kau pelayan barukah? Belum pernah aku melihatmu. Minggir kau, aku ada urusan penting!”

Loan Ki mendongkol sekali, ia meloncat ke pinggir akan tetapi mulutnya sudah siap untuk balas memaki. Pada saat itu Hui Siang sudah lari ke depan dan berkata, “Ibu, celaka sekali, Ibu. Enci Hui Kauw telah membikin malu kita, kali ini kalau Ibu tidak turun tangan, bisa-bisa nama keluarga kita diseret ke dalam lumpur!” Gadis ini mengerling ke kanan kiri seakan-akan tidak memperdulikan orang-orang yang berada di situ. Sepasang mata Souw Bu Lai berkilat-kilat sekali lagi ketika ia melihat Hui Siang.
“Hui Siang, kau bicara apa? Apa yang telah terjadi?” Ching-toanio berkata, kemarahannya terhadap Hui Kauw yang tadi belum padam sekarang bangkit dan bernyala kembali.

“Ibu ingat tentang dua orang asing yang memasuki pulau ini? Nah, yang seorang kudapati berada di taman, dia seorang laki-laki jembel buta, akan tetapi celakanya……. dia berpacaran dengan enci Hui Kauw!”

“Hui Siang! Jangan sembarangan bicara! Bohong kau!” ibunya membentak marah. Biarpun di dalam hatinya ia tidak suka kepada anak pungutnya itu, akan tetapi ia cukup mengenal tabiat Hui Kauw dan ia rasa tak mungkin Hui Kauw berpacaran dengan seorang jembel buta.

Hui Siang cemberut dan mendengus, agaknya ngambek karena dikata-katai kasar oleh ibunya yang biasanya memanjakan. “Ibu, apakah anakmu ini biasa membohong? Biar aku mampus kalau aku bohong. Enci Hui Kauw memberikan saputangan suteranya kepada si jembel buta itu, dan kulihat dengan kedua mataku sendiri si jembel menciumi saputangan itu. Aku marah dan menyerangnya, eh……. kiranya dia pandai dan dapat menghindarkan seranganku. Lalu muncul enci Hui Kauw dan……. enci Hui Kauw malah membela jembel buta itu. Coba, apakah ini bukan merupakan bukti-bukti yang cukup jelas …….?”

“Waaaaahhhhh, mata keranjang! Tidak punya mata tapi bisa mata keranjang, apa yang lebih aneh daripada ini? Dasar laki-laki!” Yang berkata demikian adalah Loan Ki yang cepat melompat keluar hendak mencari Kun Hong. Hatinya mendongkol sekali mendengar penuturan nona cantik tadi dan ia sendiri pun tidak mengerti mengapa ia merasa iri, gemas, dan marah sekali mendengar betapa Kun Hong berpacaran dengan seorang gadis di dalam taman. Menciumi saputangan sutera? Terbayanglah di depan mata Loan Ki semua pengalamannya dengan Kun Hong di dalam sumur, teringat betapa dalam keadaan bahaya maut dan setengah pingsan ia dipeluk oleh pemuda buta itu, dihibur, dielus-elus rambutnya, diciumi rambutnya…….

“Dasar tukang cium…….!” Terloncat kata-kata ini keluar langsung dari hatinya yang mengkal.

Tiba-tiba ada angin berkesiur di sebelahnya dan tahu-tahu di depannya sudah menghadang tubuh laki-laki tinggi besar.

Kiranya Souw Bu Lai Pangeran Mongol itu yang memandangnya sambil tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang putih dan besar.

“Nona, kau tidak boleh pergi. Kau harus bersama kami untuk membicarakan hal yang amat penting,” katanya sambil mendekat.

Loan Ki yang sedang jengkel terhadap Kun Hong itu sudah mau menyerangnya, akan tetapi ketika ia melirik, ia melihat betapa semua orang tadi kini sudah keluar dan berada di belakangnya. “Aku tidak sudi!” katanya setengah membentak. “Biarkan aku jalan sendiri!”

“Tidak bisa, Nona. Kami sudah mengambil keputusan untuk menahanmu karena kau yang akan menghubungkan kami dengan ayahmu,” kata pula Souw Bu Lai.

Sebelum Loan Ki menjawab, tiba-tiba ia mendengar sambaran angin dari belakangnya, cepat ia miringkan tubuh membalik. Kiranya tongkat Ka Chong Hoatsu yang menyambar dan menyerangnya. Ia kaget sekali, menggerakkan kaki meloncat, akan tetapi tiba-tiba saja kedua lengannya sudah ditangkap orang dan ditelikung ke belakang lalu dibelenggu! Gerakan Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu yang melakukan menangkapan ini benar-benar cepat dan hebat, membuat seorang gadis berkepandaian hebat seperti Loan Ki sekali pun sama sekali tidak berdaya, seperti anak kecil di tangan seorang dewasa.

“Monyet-monyet tua muda, kalian mau apa membelenggu dan menangkap aku? Kalian curang, pengecut, tak tahu malu! Kalau berani, hayo bertempur sampai seribu jurus!” ia memaki-maki.

“Cih, budak hina macam ini kenapa tidak dilempar ke dalam sumur untuk makan ular-ular kita, Ibu?” Hui Siang berkata sambil memandang Loan Ki dengan mata mendelik. Bergidik juga Loan Ki mendengar ini. Ia memang tidak takut mati, akan tetapi kalau harus dijadikan umpan atau kurban di dalam sumur dikeroyok ratusan ular, ia benar-benar merasa ngeri dan kali ini ia tidak berani banyak bicara lagi, takut-takut kalau ia benar-benar dilempar ke dalam sumur penuh ular yang amat menjijikkan!

“Ha-ha-ha, dia puteri Sin-kiam-eng, mana boleh dibunuh?” Ka Chong Hoatsu berkata. “Pinceng curiga terhadap sahabat yang buta itu, maka sementara ini pinceng membelenggunya agar nanti dia tidak menimbulkan kerewelan. Ching-toanio, mari kita ke taman menemui orang buta itu.”

Beramai mereka lari ke taman bunga mengambil jalan rahasia yang berliku-liku. Loan Ki tadinya membandel tidak mau turut, akan tetapi ketika ujung tali pengikat kedua tangannya diseret oleh Souw Bu Lai, terpaksa ia ikut lari juga sambil mengomel dan menyumpah-nyumpah Pangeran Mongol itu yang hanya tertawa saja. Diam-diam gadis ini harus mengagumi jalan rahasia di pulau ini, akan tetapi karena hatinya lagi jengkel sekali, ia hanya ikut lari tanpa memperhatikan kanan kiri. Kejengkelan bertumpuk di hati Loan Ki. Pertama karena mendengar berita bahwa Kun Hong berpacaran dan menciumi saputangan seorang gadis bernama Hui Kauw, ke dua kalinya karena ia merasa kecil tak berdaya menghadapi orang-orang di dalam pulau ini, dan ke tiga kalinya sekarang ia menjadi seorang tawanan, dibelenggu seperti seekor domba! Awas kalian, demikian ia menyumpah-nyumpah, sekaii ayahku kuberitahu tentang penghinaan ini, pulau ini akan diobrak-abrik, dihancurkan, dan dibasmi oleh ayah! Kalian semua berikut ular-ular laknat akan dibasmi habis, pulau ini dibumi hanguskan, tak seorang pun manusia atau seekor pun mahluk diberi hidup! Akan tetapi, di balik ancamannya ini, ia sendiri ragu-ragu apakah ayahnya akan mampu menang melawan musuh-musuh yang begini tangguh, terutama sekali hwesio tua itu.

Akhirnya mereka tiba di taman bunga itu dan begitu melihat Kun Hong berdiri berhadapan dengan seorang gadis bermuka hitam, Loan Ki tak dapat menahan mulutnya lagi berteriak-teriak! Seperti telah dituturkan di bagian depan, Loan Ki berseru menegur Kun Hong,

“Haaiii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang akan tetapi kali ini kau salah pilih, Hong-ko!”

Tentu saja Kun Hong menjadi girang dan lega bukan main hatinya mendengar suara Loan Ki ini. Ia tidak perdulikan ocehan dara nakal itu tentang mata keranjang, melainkan segera melangkah maju dan berkata dengan wajah berseri-seri,

“Ki-moi! Kau selamat? Syukurlah!”

“Hong-ko, kau benar-benar tak punya liangsim (pribudi)! Aku terjerumus ke dalam jurang, hampir mampus, menerima hinaan orang, tapi kau……. kau malah berpacaran dan enak-enak senang-senang di sini. Wah, sahabat macam apa kau ini?”

Muka Kun Hong merah sekali sampai ke telinganya. “Ki-moi, jangah kau percaya akan fitnah orang. Tidak ada yang berpacaran di sini! Dan kau, siapakah orangnya yang berani menghinamu?”

Sebelum Loan Ki dan Kun Hong dapat melanjutkan percakapan mereka terdengar bentakan marah dari Ching-toanio yang mengagetkan mereka dan memaksa mereka mengalihkan perhatian.Ching-toanio ternyata telah memaki-maki Hui Kauw dengan suara penuh kemarahan,

“Bocah keparat! Semenjak kecil aku bersusah-payah memeliharamu, beginikah sekarang balasanmu? Berjina dengan seorang jembel buta, mengotorkan taman dan mencemarkan nama baik keluargaku? Keparat, perempuan hina!”

Terdengar oleh Kun Hong suara “plak-plak-plak!” tiga kali, diikuti keluhan perlahan. Biarpun tak dapat melihat, dia dapat menduga bahwa dara bersuara bidadari itu telah ditampar tiga kali mukanya oleh si ibu yang galak.

“Ibu……. maafkan. Aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu dan……. dan aku sama sekali tidak melakukan perbuatan tidak sopan. Hanya kebetulan saja saudara yang buta ini memasuki taman menemukan saputanganku yang tertinggal di sini. Harap ibu jangan mempercayai segala fitnah keji…….”

“Setan, kau malah balik menuduh Hui Siang membohong? Perempuan tak bermalu kau! Adik sendiri bertempur dengan si buta ini, kenapa kau malah membela si buta memusuhi adikmu? Hui Kauw, aku tidak terima! Hari ini kau akan membayar lunas hutang-hutangmu kepadaku, hutang budi yang hanya dapat kau bayar dengan nyawamu!”

“Srrrrrttt! Singgggg!” Bunyi pedang berdesing memecah angin, menyambar ganas menimbulkan cahaya berkilauan. Tak seorang pun di antara para tamu berani mencampuri urusan antara ibu dan anak. Loan Ki membelalakkan matanya yang lebar, ngeri betapa pedang ditangan nyonya yang galak dan lihai itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah leher si nona muka hitam yang hanya menundukkan muka, sedikit pun tidak bergerak seakan-akan sudah rela menerima hukuman itu dan menanti datangnya pedang yang akan memenggal lehernya dan maut yang akan merenggut nyawanya.

Pada detik berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Kauw itu, tiba-tiba sinar kemerahan berkelebat. “Criinggggg” Pedang di tangan Ching-toanio tahu-tahu sudah buntung, ujungnya melayang ke atas entah ke mana sedangkan sisanya masih terpegang Ching-toanio, menggetar dan mengeluarkan bunyi! Ching-toanio berdiri seperti patung, terbelalak kaget, juga orang-orang yang berada di situ, kecuali Loan Ki yang memandang marah, mengeluarkan seruan heran dan terkejut.

“Wah, kau betul-betul membelanya, Hong-ko! Celaka, kau telah tergila-gila oleh seorang gadis muka hitam!” Loan Ki berteriak-teriak penuh kegemasan.

Akan tetapi Kun Hong yang sudah mendekati Hui Kauw, tidak memperdulikan teriakan Loan Ki ini, melainkan dia berkata halus kepada gadis yang masih berdiri menundukkan mukanya itu. “Nona, kenapa kau diam saja membiarkan orang sewenang-wenang hendak membunuhmu?” Ucapan ini selain mengandung perasaan kasihan, juga merupakan teguran. Memang jantung Kun Hong masih berdebar kalau teringat betapa gadis bersuara bidadari ini hampir saja tewas. Ngeri dia memikirkan ini. Baiknya tadi dia bertindak cepat.

“Saudara Kwa, ia……. ia ibuku…….” jawab nona itu dengan suara lemah mengandung isak tertahan. Kagum hati Kun Hong. Nona ini sekuat tenaga menahan tangisnya. Nona berbudi mulia, berhati baja. Tapi dia penasaran mengapa ibunya seperti itu?

“Dia bukan ibumu!” Suaranya ketus dan tiba-tiba karena meluapnya perasaan hatinya.

“Heeeee? Saudara Kwa……. bagaimana kau bisa tahu akan hal ini…….?”

“Dia tidak mungkin ibumu! Seekor harimau atau binatang yang paling liar sekali pun takkan mungkin membunuh anaknya, apalagi seorang ibu. Akan tetapi ia tadi benar-benar hampir membunuhmu. Ia bukan ibumu!” suara Kun Hong lantang.

Sementara itu, cara Kun Hong menangkis dan sekaligus mematahkan pedang di tangan Ching-toanio dengan tongkatnya, benar-benar membuat semua orang melongo. Bahkan Ka Chong Hoatsu sendiri terheran-heran. Kakek ini maklum sampai di mana kelihaian ilmu pedang Ching-toanio yang sudah jarang dapat di tandingi oleh kebanyakan ahli silat ternama. Akan tetapi orang muda itu yang buta matanya lagi, dengan sekali tangkis dapat mematahkan pedang Ching-toanio, benar-benar membuat hwesio tua ini tidak mengerti. Padahal yang dipakai untuk menangkis hanya sebatang tongkat, dan gerakannya ketika menangkis tadi pun hanya cepat saja, tidak luar biasa.

Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar. Ching-toanio sudah dapat menguasai kekagetannya dan mukanya berubah merah saking malu dan marahnya. Dibuntungkannya pedang di tangannya dengan sekali tangkis oleh orang muda buta itu, benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi nyonya jagoan ini. Masa ia kalah oleh seorang muda yang buta? Benar-benar tak masuk di akal. Ia tidak tahu bagaimana caranya pedangnya sampai patah tadi, akan tetapi ia tidak perduli dan mengira hal itu hanya kebetulan saja, atau mungkin sekali memang pedangnya yang sudah bercacat di luar pengetahuannya.

Dengan mata mendelik ia membentak dan melangkah maju, “Jembel buta, kau siapakah berani mencampuri urusanku?”

Kun Hong menarik napas panjang. Dia maklum bahwa wanita ini adalah seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi, malah kalau tidak keliru, menurut pendengarannya, orang-orang yang ikut datang bersama nyonya ini juga orang-orang yang berkepandaian tinggi. Dengan hormat dia menjura ke depan, lalu berkata halus,

“Harap Toanio dan Cuwi sekaiian sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak berani mencampuri urusan orang lain, hanya saja, sebagai seorang manusia biasa, mana bisa aku membiarkan seorang ibu membunuh anaknya sendiri? Toanio harap insyaf sebelum bertindak gegabah. Sesungguhnya nona Hui Kauw ini sama sekali tidak melakukan perbuatan seperti yang difitnahkan tadi.”

“Ching-moi (adik Ching), kenapa banyak memberi hati kepada seorang buta macam ini? Biar kuwakili kau membereskannya!” bentak Bouw Si Ma yang juga ikut marah sekali karena wanita bekas kekasih sutenya ini tadi mengalami penghinaan. Dia adalah seorang Mancu yang berangasan, dan dia pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi lebih tinggi daripada Ching-toanio, murid dari Pak Thian Lo-cu, tentu saja dia memandang rendah kepada Kun Hong seorang muda buta.

“Bocah buta, kau benar-benar tak tahu diri, lancang memasuki tempat tinggal orang berani bertingkah dan menjual lagak. Hayo kau mengaku siapa kau dan siapa pula ayah atau gurumu sebelum aku Bouw Si Ma Si Tangan Maut mengambil nyawamu!”

Kun Hong cepat menjura. Gerakan orang ini mengandung tenaga berat dan dia maklum bahwa orang ini tentu lebih lihai daripada Ching-toanio, maka dia berhati-hati.

“Bouw-enghiong harap suka bersabar. Siauwte (aku yang muda) bernama Kwa Kun Hong, tentang orang tua dan guru tak usah dibawa-bawa dalam urusan ini. Aku mengakui bahwa aku telah lancang memasuki Ching-coa-to, akan tetapi aku menyangkal kalau dianggap bertingkah atau menjuai lagak. Sesungguhnya, aku tidak mempunyai niat yang tidak baik dan kalau kalian sudi memaafkan, biarlah sekarang juga aku pergi dan tidak akan mencampuri urusan orang lain.”

Ucapan ini amat merendah, dan oleh Bouw Si Ma dianggap bahwa orang buta itu menjadi jerih dan ketakutan mendengar namanya dengan julukan Si Tangan Maut. Dia tertawa menyeringai dan membentak lagi,

“Kau memperlihatkan kepandaian tadi, apa kau kira di sini tidak ada orang yang mampu memberi hajaran kepadamu? Nah, kau rasakan pukulan Si Tangan Maut merenggut nyawamu!” Serta merta Bouw Si Ma menerjang, pukulannya lambat dan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan menderu menyerang ke arah dada Kun Hong.

Orang muda ini sudah siap, maklum akan kehebatan pukulan itu. Hal ini tidak membuat dia jerih atau bingung. Yang membuat dia bingung adalah bahwa dia kini telah terlibat dalam urusan besar, mendatangkan permusuhan pada orang-orang lihai penghuni Ching-coa-to. Inilah yang membingungkannya, karena sesungguhnya tiada niat di hatinya meski sedikit juga untuk bermusuhan dengan siapa pun juga. Sekarang karena menuruti Loan Ki, memasuki pulau ini dia bertemu dengan Hui Kauw yang menarik hatinya dan karena dia ingin melindungi nona bidadari itu, dia terseret dalam pertempuran.

Dengan hati sedih dia menggunakan langkah-langkah rahasia dari Kim-tiauw-kun sehingga lima kali pukulan bertubi dari Bouw Si Ma hanya mengenai angin belaka. Bouw Si Ma berhenti sebentar sambil melongo. Pukulan-pukulannya tadi bertingkat, makin lama makin berat dan hebat. Namun, orang yang diserangnya bergerak aneh dan dia merasa seakan-akan menyerang bayangan sendiri saja, sudah tentu tidak berhasil.

“Bouw-loenghiong, aku tidak ingin berkelahi…….”

Terpaksa Kun Hong mengelak lagi karena belum juga dia habis bicara, lawannya sudah mengirim lagi penyerangan sebanyak tujuh jurus menggunakan pukulan-pukulan tangan dan tendangan-tendangan kaki yang lebih gencar dan berat lagi. Setiap pukulan atau tendangan ini mengandung tenaga Iweekang tersembunyi cukup kuat untuk mengirim nyawa lawannya ke akhirat. Kun Hong mengerutkan keningnya. Kejam sekali orang ini. Untuk urusan kecil saja sudah menurunkan tangan maut, menghendaki nyawa orang. Untuk memberi peringatan, pada jurus ke tujuh selagi kepalan tangan Bouw Si Ma berkelebat ke dekat lehernya, Kun Hong menyentil dengan telunjuk kanannya ke arah belakang atau punggung kepalan kiri orang Mancu itu.

“Aduh…….. keparat…….!” Orang-orang yang berada di situ, kecuali Ka Chong Hoatsu, terheran-heran karena tidak ada yang dapat melihat perbuatan Kun Hong ini. Mereka hanya melihat pemuda buta itu terhuyung ke sana ke mari dengan kedua tangannya bergerak-gerak seperti mengimbangi badan agar tidak jatuh. Kenapa Bouw Si Ma yang penuh semangat menyerang membabi buta itu malah mengaduh-aduh sendiri dan tubuhnya mendadak menggigil seperti orang terserang demam malaria? Akan tetapi karena Bouw Si Ma memang seorang ahli silat tingkat tinggi, hanya sebentar saja dia menggigil dan segera dia dapat menguasai dirinya kembali dengan jalan menyalurkan Iweekang untuk melawan getaran hebat dari sentilan si buta yang tepat menyinggung jalan darahnya itu.

“Bocah buta she Kwa, kau sudah bosan hidup!” teriaknya sambil mencabut pedangnya yang berwarna hitam, terus saja menyerang hebat.

Kun Hong kaget sekali. Desing pedang ketika dicabut dan desir angin serangan senjata itu membuat dia maklum bahwa ternyata dalam hal ilmu pedang, orang Mancu ini jauh lebih lihai daripada ilmu silat tangan kosongnya. Pedang yang digunakannya pun sebatang pedang yang ampuh, sedangkan tenaga Iweekang yang terkandung dalam gerakan pedang amat kuat dan matang. Kiranya orang Mancu ini seorang ahli pedang, pikirnya. Dia tidak berani gegabah, tidak mau memandang rendah dan cepat sambil miringkan tubuh dan menekuk lutut ke belakang, tongkatnya dia gerakkan untuk menghalau serangan lawan. Benar saja dugaannya, ketika tongkatnya terbentur dengan pedang lawan, pedang itu tergetar dan dari getaran ini langsung menyeleweng menjadi serangan lanjutan yang lebih ganas!

Kun Hong berlaku hati-hati sekali. Gerakan lawan ini selain cepat dan bertenaga, juga amat aneh, belum dikenalnya karena merupakan ilmu pedang dari utara yang beraneka ragam. Dengan Kim-tiauw-kiam-hoat, yaitu Ilmu Pedang Rajawali Emas yang gerakannya gesit dan kelihatan aneh pula, dia selalu berhasil menghindarkan diri menggunakan langkah-langkah rahasia sambil menggerakkan tongkat untuk membentur pedang lawan.

Orang-orang di situ menjadi makin terheran-heran. Pemuda buta ini terhuyung ke sana ke mari seperti orang mabuk, cara dia menghadapi serangan-serangan Bouw Si Ma amat aneh dan kacau, tidak seperti ilmu silat, akan tetapi mengapa semua serangan Bouw Si Ma selalu mengenai tempat kosong belaka? Lebih heran lagi adalah Ka Chong Hoatsu, karena hwesio tua ini melongo menyaksikan Kim-tiauw-kun, lalu terdengar dia berbisik,

“Apa setan tua Bu Beng Cu menurunkan ilmunya kepada bocah buta ini?” pikirannya melayang-layang kepada masa lampau, ketika dia masih muda pernah bertempur melawan kakek Bu Beng Cu sampai ribuan jurus dan akhirnya dia harus menerima kekalahan dengan tulang pundak patah ketika Bu Beng Cu mempergunakan ilmu silat seperti gerakan burung yang amat aneh. Semenjak itu dia tak pernah bertemu pula dengan kakek Bu Beng Cu, malah selama berpuluh tahun merantau, belum pernah dia melihat ilmu silat aneh itu dimainkan orang. Kenapa sekarang tiba-tiba bocah buta ini bisa mainkan ilmu membela diri yang tampaknya sama benar dengan gerakan-gerakan Bu Beng Cu dahulu?

Sementara itu, ketika melihat betapa Bouw Si Ma belum juga mampu menjatuhkan si buta, Souw Bu Lai si Pangeran Mongol mengeluarkan gerengan keras dan menerjang maju sambil membentak, “Setan buta, kau benar-benar hendak menjual lagak di sini!” Sekaligus Pengeran Mongol ini menggerakkan senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu sehelai sabuk baja digandeng-gandeng saling mengait dan setiap mata kaitan mengandung duri meruncing. Inilah senjata semacam joan-pian baja yang amat berbahaya karena lawan yang terkena ujungnya saja tentu akan terluka hebat!

Sambaran senjata mengerikan itu lewat di atas kepala Kun Hong ketika pemuda buta itu mengelak sambil merendahkan tubuh. Dari suara desir anginnya Kun Hong tahu bahwa penyerangnya yang baru ini memiliki tenaga gajah sehingga sekali lagi hatinya mengeluh. Dia harus menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh dan siapa tahu kalau pertempuran ini tidak akan menjadi makin hebat jika yang lain-lain maju pula.

“Aku tidak ingin berkelahi……. ah, kenapa kalian berdua mendesakku?”

“Sublai, gunakan Liok-coa-kun!” tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata kepada muridnya. Souw Bu Lai menyanggupi dan segera ruyung lemas di tangannya bergerak cepat sekali, menyambar-nyambar seperti enam ekor ular yang mengeroyok seekor katak.

Liok-Coa-Kun atau Ilmu Silat Enam Ekor Ular adalah ciptaan Ka Chong Hoatsu sendiri yang berdasarkan penyerangan dan mempertahankan dari enam penjuru, yaitu dari kanan kiri muka belakang dan atas bawah. Gerakan-gerakannya meniru gaya gerakan ular yang sukar sekali diduga oleh lawan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat ini. Ka Chong Hoatsu yang merasa curiga menyaksikan gerakan permainan silat Kun Hong sengaja menyuruh muridnya menggunakan ilmu simpanan itu karena dia hendak memaksa Kun Mong mengeluarkan kepandaiannya sehingga dia dapat mengenal betul dari aliran manakah bocah buta yang amat lihai dan masih muda sudah memiliki ilmu kesaktian ini.

Tingkat kepandaian Pangeran Souw Bu Lai sebetulnya tidak lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bouw Si Ma. Malah boleh dibilang orang Mancu murid Pak Thian Lo-cu ini lebih matang dan lebih banyak pengalamannya karena memang lebih tua. Akan tetapi karena senjata yang dipergunakan oleh pangeran itu lebih jahat dan ganas, maka bantuannya ini memiliki daya penyerangan yang tidak kalah hebatnya sehingga Kun Hong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya. Lebih banyak lagi jurus-jurus Kim-tiauw-kun harus dia keluarkan untuk menyelamatkan dirinya, karena dua orang ini benar-benar mengarah nyawanya. Tongkatnya berkelebatan, kadang-kadang tampak cahaya kemerahan dari pedangnya Ang-hong-kiam yang tersembunyi di dalam tongkat.

Sementara itu, Ching-toanio menjadi makin marah melihat betapa dua orang tamu yang amat diandalkan itu tetap juga belum dapat merobohkan si buta yang telah mendatangkan kekacauan di pulau. Ia menoleh ke arah Hui Kauw dan makin panas hatinya melihat anak pungutnya ini memandang kagum dan penuh kekhawatiran kepada Kun Hong yang dikeroyok. Malah ia mendengar suara gadis itu perlahan.

“Curang……. curang……. matanya sudah buta masih dikeroyok…….”

Ching-toanio meloncat ke depan Hui Kauw, matanya menyinarkan cahaya bengis. “Hui Kauw, betul-betulkah kau tidak main gila dan berjina dengan bocah buta itu?”

“Tidak, Ibu.”

“Kalau begitu, hayo kau bantu Pangeran Souw dan pamanmu Bouw untuk merobohkan dan membikin mampus setan buta itu!”

Hening sejenak, kecuali suara beradunya senjata-senjata mereka yang sedang bertempur. Lalu lirih terdengar “…….tapi……. kedua orang yang begitu lihai masih tak mampu mengalahkannya, apalagi aku, Ibu? Kepandaianku amat rendah, mana bisa menangkan dia…….”

“Perduli dengan kepandaianmu! Aku hanya ingin melihat apakah kau ini benar-benar pacarnya atau bukan. Kalau kau berani mengeroyoknya dan kemudian membunuhnya dengan pedangmu, aku baru mau percaya bahwa kau bukan pacar si buta itu!”

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Hui Kauw mendengar ini. Sebetulnya, di luar tahu ibunya, ia telah memiliki ilmu silat yang amat tinggi yang ia pelajari secara rahasia. Ia dapat mengira-ngira bahwa kalau dibandingkan dengan ibunya sendiri bahkan dengan Pangeran Sublai atau malah dengan Bouw Si Ma kiranya ia takkan kalah! Dan melihat ilmu silat aneh dari Kun Hong, biarpun amat lihai akan tetapi kalau ia maju lagi mengeroyok, orang buta itu takkan mampu menahan lagi. Akan tetapi, orang buta itu tidak mempunyai dosa. Malah ialah orangnya yang berdosa, karena si buta ini menghadapi bahaya maut karena ia!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: