Pendekar Remaja ~ Jilid 10

Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dengan wajah berubah, dan alangkah kaget, heran dan girang hati mereka ketika melihat di atas sebuah puncak berdiri Lili bersama Hong Beng dan seorang anak laki-laki lain lagi!

Lin Lin berlari seperti terbang cepatnya ke arah anaknya itu sambil menangis. Cin Hai juga berlari mengejar isterinya, akan tetapi kali ini ia kalah cepat! Kegirangan agaknya telah membuat nyonya muda itu seakan-akan terbang saja dan ilmu berlari cepatnya makin hebat.

Juga Lili dan Hong Beng berlari turun dari puncak. Setelah berhadapan, Lin Lin lalu menubruk Lili sambil mencium anaknya itu dan menangis tersedu-sedu.

“Lili… Lili… anak nakal… kau selamat, Nak?” dengan megap-megap Lin Lin bertanya.

Lili juga menangis saking girangnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia menengok kepada ayahnya yang juga sudah datang ke situ lalu tersenyum!

“Ayah dan Ibu tidak marah…?” tanyanya.

“Mengapa marah? Tidak, anakku, tidak!” jawab Cin Hai.

“Kenapa Kong-kong tidak ikut datang?” tanya lagi Lili dan mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Lin Lin menangis lagi.

Hong Beng maju mendekati ibunya dan melihat ibunya menangis sedih kali ini, ia lalu menyentuh pundak ibunya yang masih berlutut memeluk Lili. “Ibu, apakah yang terjadi dengan Kong-kong?”

Karena Lin Lin tidak dapat menjawab, Cin Hai yang maju dan berkata tenang, “Kong-kongmu telah ditewaskan oleh orang-orang yang menculik Lili. Maka kalian belajarlah baik-baik agar kelak dapat mencari musuh besar ini.”

Lili yang amat sayang kepada engkongnya, menjerit ketika mendengar berita ini. “Apa…?” Ia memandang kepada ayahnya dengan mata bernyala. “Engkong di… dibunuh oleh bangsat itu…?”

Ketika Cin Hai menganggukkan kepalanya, Lili merangkul ibunya dan menangis keras. Adapun Hong Beng yang juga amat sayang kepada kong-kongnya itu, berdiri dengan muka muram dan pemuda cilik ini mengepal tinju dan membanting-banting kakinya sambil berkata perlahan,

“Jahanam…! Jahanam…!” Akan tetapi ia tidak mengeluarkan air mata.

Diam-diam Cin Hai menjadi bangga melihat ketenangan dan kekuatan hati puteranya ini, maka ia lalu menarik tangan Lili, mendekapnya dan berkata halus,

“Lili, lihat kakakmu itu. Kau tidak boleh berhati lemah dan menangis seperti seorang anak cengeng! Kewajibanmulah untuk kelak membalas sakit hati kong-kongmu.”

Mendengar ucapan ayahnya, bangkit semangat Lili dan dengan muka masih basah air mata ia berkata, “Ayah, aku bersumpah untuk mencari keparat Bouw Hun Ti dan menghancurkan kepalanya!”

Lin Lin juga sudah dapat menguasai keharuan hatinya dan nyonya muda ini teringat kepada pemuda cilik yang tadi bersama kedua anaknya. Ternyata pemuda itu masih berdiri tak jauh dari mereka dan hanya diam saja sambil memandang dengan mata berduka. Anak ini adalah Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang menjadi murid Sin-kai Lo-sian atau kini menjadi suheng dari Lili. Melihat betapa Lili dan Hong Beng bertemu kembali dengan kedua orang tua mereka, hatinya menjadi perih dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri yang sudah ditinggal mati oleh ayah ibunya.

“Eh, anak itu siapakah?” tanya Lin Lin kepada Lili.

Baru Lili teringat kepada suhengnya ini dan ia lalu melambaikan tangan kepadanya.

“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”

“Kam Seng, kau kesinilah bertemu dengan ayah bundaku!”

Dengan malu-malu Kam Seng lalu bertindak maju dan memberi hormat sambil menjura kepada Cin Hai dan Lin Lin.

“Dia bernama Thio Kam Seng, murid dari Suhu,” kata Lili.

“Suhu? Siapakah Suhumu?” tanya Cin Hai terheran.

Lili lalu menceritakan pengalamannya semenjak ia diculik oleh Bouw Hun Ti, lalu tertolong oleh Sin-kai Lo sian dan dibawa ke atas Gunung Beng-san ini dan kemudian dilatih oleh Mo-kai Nyo Tiang Le, suheng dari Lo Sian atau supek mereka.

Cin Hai dan Lin Lin merasa girang sekali mendengar penuturan iin dan mereka amat berterima kasih kepada Sin-kai Lo Sian, pengemis sakti yang sudah mereka dengar namanya itu.

“Di mana dia, penolong dan suhumu itu? Kami harus bertemu dengan dia untuk menghaturkan terima kasih,” kata Lin Lin.

“Dia sudah turun gunung, Ibu. Katanya hendak pergi ke Shaning untuk mencari Ayah dan Ibu, melaporkan keadaanku yang sudah tertolong.”

Pada saat itu, dari puncak gunung nampak bayangan orang yang cepat sekali berlari mendatangi.

“Nah, itu dia Supek datang!” kata Kam Seng ketika melihat bayangan itu. Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dan mereka melihat seorang yang berpakaian pengemis datang berlari cepat sekali dari atas.

Mo-kai Nyo Tiang Le biarpun sudah seringkali mendengar nama Pendekar Bodoh akan tetapi belum pernah bertemu muka, maka ia tidak mengenal siapa adanya dua orang itu. Dari atas ia tadi melihat seorang laki-laki dan seorang wanita bercakap-cakap dengan tiga orang anak itu, maka cepat ia menghampiri karena ia berkhawatir kalau-kalau kedua orang itu adalah orang-orang jahat. Ketika melihat dua orang itu bersikap gagah dan berwajah elok, ia lalu bertanya kepada Lili,

“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”

“Supek, mereka ini adalah ayah bundaku!” kata Lili dengan girang dan tersenyum, sama sekali lenyap rasa dukanya yang tadi! Memang watak gadis cilik ini benar-benar sama dengan ibunya.

Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali mendengar pengakuan ini. Ia memandang dengan penuh perhatian kepada Cin Hai yang sementara itu bersama isterinya telah menjura kepadanya untuk memberi hormat.

“Ah, jadi kau ini adalah Pendekar Bodoh yang bernama Sie Cin Hai? Maaf, maaf! Aku tidak mengenal orang pandai!” Nyo Tiang Le cepat menjura dan membalas penghormatan itu.

“Nyo Loheng (Saudara Tua Nyo) terlalu sungkan!” jawab Cin Hai merendah. “Sesungguhnya kami berdua yang harus menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan hatimu, terutama sekali kepada adikmu yang telah menolong nyawa puteri kami. Mudah-mudahan saja budi ini akan terbalas oleh Thian apabila kami tiada kesempatan untuk membalasnya.”

Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa terbahak-bahak dengan gembira sekali, sehingga Lili dan Kam Seng memandang karena jarang mereka menyaksikan supek mereka ini sedemikian gembiranya.

“Pendekar Bodoh, kau seperti anak kecil saja!” kata Pengemis Iblis Mo-kai Nyo Tiang Le setelah tertawa bergelak. “Di antara kita masih perlukah bicara tentang budi? Sekarang Lili telah bertemu dengan kalian, suami isteri pendekar yang kepandaiannya tinggi sekali, maka sudah cukup lama kiranya aku tinggal di tempat ini mengganggu Pok Pok Sianjin! Lili, yang baik-baiklah kau belajar ilmu kepandaian agar kelak jangan sampai terculik orang lagi. Ha-ha-ha! Kam Seng, kauikutlah padaku turun gunung!” Setelah berkata demikian, Mo-kai menyambar lengan tangan Kam Seng dan berlari pergi dari situ dengan cepat.

Lili tertegun menyaksikan sikap ini, akan tetapi Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata, “Memang orang-orang kang-ouw selalu mempunyai watak yang aneh sekali. Kita harus catat nama Mo-kai Nyo Tiang Le itu sebagai seorang sahabat baik. Marilah kita naik ke puncak untuk menghadap Pok Pok Sianjin!”

Mereka beramai-ramai lalu pergi ke atas puncak dan menghadap Pok Pok Sianjin yang menerima kedatangan mereka dengan girang.

“Pendekar Bodoh, kebetulan sekali kau dan isterimu datang! Apakah kalian sudah bertemu dengan Sin-kai Lo Sian?”

Setelah memberi hormat, Cin Hai menjawab, “Belum, Locianpwe.” Ia lalu menceritakan perjalanannya mencari Lili, dan betapa mereka bertemu pula dengan Swie Kiat Siansu yang meninggal dunia karena penyakit dan usia tua. Pok Pok Sianjin menarik napas panjang. “Aah, semua kawan-kawan telah meninggalkan aku! Mereka sudah bebas dan senang! Tinggal aku seorang tua bangka yang harus mengalami penderitaan entah beberapa tahun lagi.”

Cin Hai dan Lin Lin tidak lama tinggal di tempat itu, hanya tiga hari, ini pun karena Hong Beng selalu menahan mereka. Akhirnya mereka turun gunung bersama Lili, setelah memesan kepada Hong Beng untuk belajar ilmu dari Pok Pok Sianjin dengan giat dan rajin. Pemuda cilik ini diam-diam merasa amat kesepian setelah adik perempuannya turun gunung mengikuti ayah ibunya, akan tetapi Hong Beng memang seorang pemuda pendiam dan selain tenang, juga ia memiliki kekuatan batin yang cukup tabah. Kesunyiannya ini ia tutup dengan ketekunannya belajar ilmu silat sehingga Pok Pok Sianjin merasa makin gembira menurunkan ilmu-ilmunya kepada pemuda yang berbakat ini.

Demikianlah, kalau Sie Hong Beng dengan rajin mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin, Lili juga menerima latihan ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan ia menerima pula Ilmu Silat Kipas Maut yang diwariskan oleh Swie Kiat Siansu untuknya. Biarpun Lili mempunyai watak yang lincah dan tidak dapat tekun belajar, akan tetapi apabila ia teringat akan kematian kakeknya, ia lalu mengerahkan semangatnya dan mempelajari ilmu silat dengan giatnya sehingga ayah bundanya merasa girang juga melihat perubahan ini.

***

Seperti telah dikatakan oleh Swie Kiat Siansu, waktu memang berlari amat pesatnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun terbang lalu dengan cepatnya sehingga kita sendiri tidak merasakan sesuatu, tahu-tahu usia selalu bertambah tua! Memang aneh kalau direnungkan, apabila kita memperhatikan jalannya waktu, jangan kata setahun, sebulan maupun sehari, baru satu jam saja kalau kita menanti datangnya sesuatu, nampaknya amat lama. Akan tetapi siapakah orangnya yang setiap saat memperhatikan jalannya waktu? Kita semua tidak merasa dan sungguhpun masa kanak-kanak kadangkala masih suka di depan mata, peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu masih terbayang nyata, namun kalau dihitung-hitung kita telah menjadi makin tua. Belasan tahun itu kalau tidak kita rasakan, tahu-tahu telah lewat bagaikan baru kemarin saja! Siapa bilang kalau hidup ini lama? Benarkah kata para pujangga bahwa hidup yang singkat ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna agar kita tidak menyesal kalau sudah terlambat!

Tak terasa lagi, sepuluh tahun telah berlalu cepat semenjak terjadinya peristiwa di atas. Telah sepuluh tahun anak-anak itu belajar ilmu silat dengan rajinnya. Lili telah berusia delapan belas tahun dan ia kini menjadi seorang gadis yang amat cantik jelita berwatak gembira suka tertawa, bermata kocak dan selalu berseri, bibirnya selalu tersenyum manis, gerakannya lincah sekali dan pendek kata, ia sama benar dengan ibunya, Lin Lin, di waktu muda!

“Kalau aku melihat anak kita, aku teringat kepada dara yang bernama Lin Lin!” kata Cin Hai sambil menengok kepada isterinya yang duduk di dekatnya.

Lin Lin yang biarpun sudah berusia hampir empat puluh tahun masih nampak cantik itu, mengerling sambil cemberut manja.

“Ah, kau ini memang tukang memuji! Lili memang hampir sama dengan aku, akan tetapi, siapa bilang dia cantik? Ibunya buruk rupa, bagaimana anaknya bisa cantik?”

Cin Hai tertawa karena ia sudah maklum bahwa isterinya ini biarpun di mulutnya mengomel namun di dalam hatinya merasa girang sekali. Mereka duduk di kebun belakang memandang Lili yang sedang berlatih ilmu silat.

Lin Lin memandang kagum lalu menghela napas. “Betapapun juga, ada satu hal yang menyusahkan hatiku. Dia sudah berusia delapan belas tahun, akan tetapi bertunangan pun belum! Sampai usia berapakah ia kelak menikah?”

“Hal itu tak perlu tergesa-gesa,” jawab suaminya dengan tenang, “ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi, harus mendapat jodoh yang sesuai!”

Lin Lin mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang, satu hal sudah pasti bahwa ketika aku masih gadis, ilmu silatku tidak setinggi tingkat kepandaiannya. Lihat alangkah indahnya gerakan Sian-li-san-hwa (Bidadari Menyebar Bunga) yang ia mainkan itu!”

Cin Hai memandang lagi ke arah Lili yang masih bersilat. Memang, gadis itu sedang melatih Ilmu Silat Sianli Utauw (Ilmu Silat Bidadari) yang amat indah dan cepat dan gerakan Sianli-san-hwa adalah sebuah di antara tipu-tipu ilmu silat ini. Melihat gerakan puterinya itu, Cin Hai menjadi kagum dan diam-diam ia membandingkan puterinya ini dengan Ang I Niocu dan Lin Lin. Anak gadisnya ini benar-benar mengagumkan dan pikiran Cin Hai mulai mencari-cari pemuda manakah gerangan yang patut menjadi mantunya. Ia merasa puas dengan ikatan jodoh antara puteranya, Hong Beng, dengan Goat Lan, puteri dari Kwee An. Akan tetapi untuk Lili, ia belum dapat memilih seorang calon mantu yang cukup sesuai dan cocok.

Sementara itu, Lili sudah menghentikan permainannya dan seperti merasa bahwa kedua orang tuanya sedang memandangnya dan membicarakannya, ia lalu menengok dan berlari-lari menghampiri ayah ibunya. Dengan sikap manja ia duduk di dekat ibunya sambil memeluk pundak Lin Lin yang menggunakan saputangannya untuk menghapus peluh yang membasahi jidat dan leher puterinya dengan penuh kasih sayang.

“Ibu, sekarang kau dan Ayah harus memberi perkenan kepadaku untuk pergi mengunjungi Enci Goat Lan, dan aku ingin sekali melakukan perjalanan seorang diri.”

“Tak baik bagi seorang gadis muda untuk melakukan perjalanan seorang diri,” kata Cin Hai.

Lili merengut. “Aah, Ayah selalu berkata demikian untuk mencegah keinginan hatiku. Bukankah Ayah dan lbu sering bercerita betapa Ibu dulu juga seringkali merantau menambah pengalaman? Lagi pula, aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan seorang gadis muda yang masih bodoh, usiaku sudah delapan belas tahun, Ayah!”

Cin Hai memandang dengan muka bersungguh-sungguh. “Lili, dulu lain lagi, karena keadaan negara tidak sekacau ini. Orang jahat dahulu tidak sebanyak sekarang. Pula, ayah dan ibumu dahulu telah banyak membasmi penjahat sehingga banyak orang-orang jahat memusuhi kita. Kalau mereka tahu bahwa kau adalah anakku, mereka pasti akan turun tangan dan mengganggumu.”

Lili berdiri dan dengan sikap menantang berkata keras, “Aku tidak takut! Aku bukan puteri ayah dan ibu, bukan anak Pendekar Bodoh dan cucu murid Pendekar Sakti Bu Pun Su kalau aku takut! Ayah, apa perlunya aku semenjak kecil mempelajari segala macam ilmu silat itu tanpa mengenal lelah kalau sekarang aku takut mendengar tentang orang-orang jahat? Bukankah ayah sendiri sering berkata bahwa kepandaian yang dipelajari dengan susah payah tak akan ada artinya kalau tidak dipergunakan demi kepentingan orang banyak? Seorang ahli silat yang tidak mengulurkan tangan mempergunakan kepandaiannya menolong orang tertindas, bukanlah pendekar namanya!”

Cin Hai tersenyum. Ia merasa betapa puterinya yang cerdik ini seringkali menggunakan ujar-ujar dan pelajaran yang ia berikan untuk melawan dia sendiri!

“Sudah, bicara dengan kau takkan ada orang bisa menang! Kalau kau hanya rindu kepada calon Sosomu (Kakak Iparmu) Goat Lan, tunggulah beberapa hari lagi, nanti kita bertiga dapat melakukan perjalanan ke sana.”

Lili makin cemberut. “Tidak, aku ingin pergi seorang diri, bebas seperti burung di udara. Aku ingin merantau menambah pengalaman, ingin mempergunakan kepandaian yang kupelajari untuk menolong orang-orang lemah yang tertindas. Di samping itu, aku ingin mencari si jahanam Bouw Hun Ti untuk membalas perhitungan lama! Kalau Ayah tidak boleh, aku… aku akan minggat!”

Cin Hai melongo dan Lin Lin segera memegang tangan puterinya.

“Hush, Lili! Jangan kau berkata begitu!”

Lili memandang kepada ibunya dan matanya berseri nakal ketika ia berkata memperingatkan, “Ibu, lupakah kau bahwa kau dulu pernah minggat pada malam hari bersama Ang I Niocu? Ibu sendiri yang menceritakan hal itu kepadaku!”

Lin Lin tak dapat menjawab, hanya memandang kepada suaminya dengan bohwat (tak berdaya). “Lili,” kata Cin Hai menolong isterinya, “Ibumu lain lagi. Ketika itu ibumu bercita-cita untuk menyusulku dalam usaha membalas dendam kepada musuh-musuh yang telah membasmi keluarga ibumu.”

“Apa bedanya? Sekarang pun aku hendak pergi untuk membalas dendam kepada keparat Bouw Hun Ti!” Kemudian, dara yang manja ini lalu membanting kaki dengan muka merah dan berkata, “Ah, sudahlah! Ibu dan Ayah tidak sayang kepadaku! Tidak ingin melihat aku senang, Kalau Beng-ko lain lagi. Dia anak laki-laki, dicinta dan dimanja, semenjak kecil ikut berguru di Beng-san dan boleh merantau sesuka hatinya! Ah, aku ingin menjadi seorang anak laki-laki!”

Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan bengong. Celaka dua belas, pikir Cin Hai di dalam hatinya. Anak ini lebih keras kepala daripada ibunya! Akan tetapi Lin Lin berpikir lain. Hebat bisik hatinya, anak ini malah lebih gagah dan bersemangat daripada ayahnya!

“Sudahlah, Lili jangan marah-marah seperti kucing terinjak buntutnya!” kata Cin Hai. “Baiklah, kami akan merundingkan hal ini.”

Setelah Lili kembali ke dalam kamarnya, suami isteri ini masih duduk di tempat itu.

“Bagaimana baiknya?” tanya Lin Lin dengan gelisah “Kalau ia memaksa dan pergi, apakah kiranya tidak berbahaya?”

“Berbahaya sih tidak,” jawab suaminya setelah berpikir keras. “Kepandaian Lili sudah lebih dari cukup, bahkan kiranya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Ang I Niocu ketika dia merantau dahulu. Tak mudah anak kita itu dirobohkan lawan. Akan tetapi, kau tahu sendiri akan bahayanya perantauan di dunia kang-ouw. Tidak hanya kepandaian silat tinggi saja yang dapat menjaga keselamatan tubuh. Banyak akal-akal busuk yang jauh lebih berbahaya daripada kepandaian silat lawan.”

“Kalau begitu, kita harus melarangnya pergi!” kata Lin Lin cepat dan penuh kekuatiran.

Pendekar Bodoh menggelengkan kepalanya. “Melarang pun tidak benar. Anak itu lebih keras kepala daripada engkau!”

“Hm, jadi aku keras kepala, ya? Mengapa kau dulu suka padaku yang keras kepala ini?”

Cin Hai tertawa. “Justeru kekerasan kepalamu itulah yang membuat aku suka kepadamu. Sudahlah, jangan kita bercekcok karena urusan ini, kita sudah cukup tua bukan anak-anak lagi.”

“Kau yang mulai!”

“Begini saja baiknya. Mulai sekarang kita memberi pelajaran baru kepada Lili, membeberkan semua rahasia penjahat-penjahat di dunia kang-ouw agar terbuka matanya terhadap tipu-tipu muslihat yang keji. Kalau ia sudah tahu akan segala hal itu, barulah kita memberi perkenan kepadanya untuk merantau dengan dibatasi waktunya. Pergi ke Tiang-an takkan lebih dari dua bulan pulang pergi, dan kalau memberi waktu tiga atau empat bulan saja, ia takkan berani pergi terlalu jauh.”

Karena tidak dapat mencari jalan lain yang lebih baik terpaksa Lin Lin menyatakan persetujuannya. Lili merasa girang sekali ketika mendengar keputusan orang tuanya ini. Ia segera menyatakan kesanggupannya untuk mempelajari semua tipu-tipu busuk dari orang-orang golongan hek-to (jalan hitam, yaitu para penjahat). Sampai hampir dua pekan ia menerima wejangan dan nasihat, memperhatikan semua cerita dari ayah bundanya tentang kekejaman orang-orang jahat. Kemudian ia mempelajari pula peta perjalanannya, yaitu dari Shaning di Propinsi An-hui tempat tinggal mereka, melalui Propinsi Ho-nan dan memasuki Propinsi Hopei menuju ke Tiang-an yang terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho.

Lin Lin yang amat sayang kepada puterinya itu memberi bekal yang cukup banyak, sambil tiada hentinya memberi nasihat-nasihat agar dara itu berlaku hati-hati. Seekor kuda yang amat kuat dan baik menjadi tunggangan Lili, dan gadis itu membawa bungkusan besar berisi pakaian, uang, bahkan obat-obat untuk menjaga diri. Pedangnya Liong-coan-kiam, pemberian ayahnya tergantung di pinggangnya. Bajunya berkembang merah dengan pinggiran biru, celananya putih bersih dari sutera mahal. Sepatunya berkembang dan ia nampak cantik jelita dan gagah sekali. Kedua orang tuanya memandang dengan bangga ketika mereka melihat puteri mereka duduk di atas kuda bulu putih dengan sikap demikian gagahnya.

“Ayah, Ibu, aku berangkat!” katanya sekali lagi setelah duduk di atas kudanya.

“Hati-hatilah di perjalananmu,” kata Cin Hai.

“Sampaikan salam kami kepada Kwee pekhu sekeluarga,” pesan Lin Lin.

Kemudian berangkatlah Lili. Ia membalapkan kudanya yang kuat itu keluar dari Shaning lalu langsung menuju ke utara. Ia merasa gembira sekali, wajahnya yang manis berseri-seri, sepasang matanya bersinar gemilang. Ia benar-benar merasa seperti seekor burung yang terbang bebas merdeka di angkasa raya.

Apakah ia akan langsung menuju ke Tiang-an sebagaimana yang berkali-kali dipesankan oleh ayah ibunya? Ah, tidak! Dia bukan Lili yang nakal kalau ia menurut nasihat orang tuanya dan langsung menuju ke tempat tinggal pekhunya (uwaknya) di Tiang-an. Tidak, maksud tujuannya dengan perantauannya ini sesungguhnya adalah untuk mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti! Pergi mengunjungi Goat Lan di Tiang-an hanya menjadi alasan saja yang dipergunakan di hadapan orang tuanya agar ia diperbolehkan pergi!

Oleh karena inilah maka ia lalu membelok ke barat setelah keluar dari kota Shaning! Bukan Tiang-an yang ditujunya, melainkan Tong-sin-bun, dusun tempat tinggal Ban Sai Cinjin! Ia hendak mencari Bouw Hun Ti di dalam kelenteng besar dalam hutang kelenteng milik Ban Sai Cinjin di mana dulu ia dan Sin-kai Lo Sian menolong Thio Kam Seng! Dulu ia suka menggigil ngeri kalau teringat akan Ban Sai Cinjin, orang tua yang aneh dan lihai itu, akan tetapi sekarang, jangankan baru Ban Sai Cinjin biarpun raja iblis sendiri muncul di depannya, belum tentu Lili akan merasa takut!

Keadaan Lili yang demikian mewah pakaiannya, cantik jelita, gadis muda yang melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi melihat cara ia naik kuda dan melihat gagang pedangnya yang tergantung pada pinggangnya, membuat orang-orang maklum bahwa nona cantik ini tentulah seorang perantau yang pandai ilmu silat dan tak seorang pun berani mencoba-coba untuk mengganggunya.

Hanya satu kali terjadi gangguan ketika ia masuk ke kota Lok-yang. Di kota ini terdapat seorang jagoan muda bermuka kuning yang berjuluk Oei-bin-liong (Naga Muka Kuning) bernama Lok Ceng. Ia adalah seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pai, berwatak sombong dan berlagak tinggi. Kebetulan sekali Lok Ceng sedang duduk di depan restoran terbesar di Lok-yang, ketika Lili menghentikan kudanya di depan restoran itu, melompat turun dan memanggil seorang pelayan.

Seorang pelayan berlari menghampiri. Lili menyerahkan kendali kudanya sambil berkata,

“Kau urus baik-baik kudaku sewaktu aku makan. Berilah dia makan dan sikat bulunya sampai bersih. Hati-hati jangan sampai ada orang jahat mengganggu buntalanku di atas kuda itu dan jangan khawatir, hadiahnya akan besar!”

Pelayan itu tersenyum dan mengangguk dengan hormat. “Tentu saja, Siocia. Akan kulakukan pesanmu baik-baik.” Ia lalu menuntun kuda itu ke pinggir restoran.

“Kuda yang bagus!” tiba-tiba terdengar suara parau dan keras sehingga Lili menengok ke arah orang yang memuji kudanya. Orang ini bukan lain adalah Lok Ceng sendiri. Melihat seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar, bermuka kuning dan bermata kurang ajar itu, Lili berlaku hati-hati dan segera membuang pandangan matanya. Tanpa mempedulikan orang itu, Lili terus saja memasuki restoran itu dan memesan makanan kepada pelayan yang cepat datang menghampirinya. Restoran itu besar sekali dan para tamu yang makan di situ tidak kurang dari duapuluh orang banyaknya. Mereka makan sambil bercakap-cakap gembira. Ketika Lili memasuki restoran itu, hampir semua mata menengok memandang kagum. Akan tetapi Lili tidak mempedulikan semua ini karena semenjak keluar dari rumah, ia telah menjadi biasa dengan pandangan kagum dari mata laki-laki. Ia telah menganggap hal ini biasa saja. Ibunya telah menasihatinya untuk bersikap dingin dan jangan mempedulikan hal ini.

“Lili, kau seorang gadis muda yang cantik manis,” kata ibunya memberi nasihat, “akan banyak sekali gangguan kauhadapi di perjalanan. Laki-laki memang bermata minyak, selalu tidak dapat menjaga mata mereka kalau melihat seorang gadis cantik. Akan tetapi, kalau mereka itu memandangmu dengan mata kagum dan kurang ajar, janganlah kauhiraukan mereka. Asal mereka tidak mengganggumu dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar, anggap saja mereka itu sebagai patung-patung hidup yang tak perlu dilayani.”

Oleh karena itu, maka Lili selalu menganggap sepi mata laki-laki yang memandangnya dengan kagum bahkan orang-orang yang tersenyum-senyum dengan penuh arti kepadanya, dianggapnya sebagai lalat saja!

Akan tetapi, pada saat ia sedang menikmati hidangan yang telah dikeluarkan oleh pelayan, tiba-tiba telinganya yang tajam dapat menangkap perubahan yang terjadi di dalam warung itu. Suara yang tadinya riuh gembira, tiba-tiba terhenti dan ketika ia mengerling, ternyata orang muda bermuka kuning yang tadi memuji kudanya, telah memasuki ruang itu dengan langkah dibuat-buat dan dada diangkat!

Diam-diam Lili merasa heran mengapa semua orang agaknya takut kepada pemuda ini, apalagi ketika ia mendengar betapa setiap meja yang dilalui oleh pemuda itu, selalu ada orang yang menawarkan makan dengan sikap menghormat sekali. Akan tetapi pemuda tinggi besar muka kuning itu menolak semua penawaran dengan gerakan tangan, lalu ia tersenyum-senyum menghampiri meja dekat meja di mana Lili sedang makan! Ia lalu mengambil tempat duduk dan memandang kepada Lili dengan cara yang amat menjemukan. Mulutnya menyeringai bagaikan seekor kuda kelaparan dan terdengarlah ia berkata keras,

“Kudanya besar dan bagus, pemiliknya lebih bagus lagi!”

Semua orang yang duduk di situ maklum siapakah yang dimaksudkan oleh Lok Ceng ini. Lili juga maklum bahwa pemuda itu sedang berusaha mengganggunya, akan tetapi oleh karena ucapannya itu masih belum bersifat kurang ajar, ia pura-pura tidak mengerti dan melanjutkan makannya. Melihat betapa gadis manis itu tidak menengok dan tidak mempedulikan pujiannya, Lok Ceng menjadi makin berani. Dengan sikap kurang ajar sekali dan tertawa haha-hihi ia lalu menggeser kursinya dan duduk di dekat meja Lili, menghadapi gadis itu dan memandang dengan mata kurang ajar dan mulut menyeringai. Semua orang diam-diam tersenyum, ada yang merasa geli, ada yang merasa gembira, akan tetapi ada pula yang diam-diam merasa kuatir akan nasib gadis cantik jelita itu.

Semenjak tadi Lili menahan sabarnya, karena ia selalu masih teringat akan nasihat ibunya agar menjauhkan diri dari setiap permusuhan. Akan tetapi karena orang itu kini duduk dekat di depannya tentu saja ia merasa amat terganggu dan masakan yang tadinya nikmat itu, kini tidak enak lagi rasanya.

“Lalat kuning sungguh menjemukan!” Ia lalu menunda makanannya dan dengan perlahan Lili menggebrak mejanya sambil mengerahkan tenaga khi-kang ke arah mangkok masakan yang banyak kuahnya. Air kuah di dalam mangkok itu tiba-tiba memercik ke arah Lok Ceng dan tak dapat terelakkan lagi mengenai bajunya!

Semua orang terkejut mendengar gadis itu berkata demikian, karena siapa pun tentu akan maklum bahwa dengan sebutan lalat kuning, gadis itu telah memaki Lok Ceng! Mana ada lalat yang berwarna kuning? Yang kuning ialah muka dari Lok Ceng!

Akan tetapi, tidak seorang pun tahu bahwa air kuah yang memercik ke atas dan membasahi baju Lok Ceng itu adalah perbuatan yang disengaja oleh Lili. Mereka mengira bahwa hal itu kebetulan saja. Bahkan Lok Ceng sendiri pun tidak menyangka bahwa gadis itu memiliki kepandaian tinggi sehingga dapat menggerakkan tenaga khi-kang untuk membuat air kuah itu muncrat ke arahnya. Oleh karena itu, pemuda ini hanya tersenyum-senyum saja dan biarpun ia tahu bahwa dirinya dimaki “lalat kuning”, ia tidak menjadi marah. Ia lebih suka melihat seorang gadis yang melawan apabila diganggunya, daripada seorang gadis yang akan tersenyum-senyum melayani gangguannya.

“Aku ingin sekali menjadi potongan-potongan daging itu, untuk berkenalan dengan bibir dan mulut yang manis!” katanya lagi tak kenal malu dan orang-orang yang mendengar ucapannya ini lalu tertawa untuk mengambil hati jagoan muda yang disegani ini.

Mendengar ucapan dan melihat sikap orang muka kuning itu, Lili maklum bahwa kegagahan orang itu hanya pada lagaknya saja, akan tetapi sebetulnya tidak memiliki kepandaian tinggi. Hal ini mudah saja diduga. Seorang yang berkepandaian tinggi, tentu akan tahu akan demonstrasi tenaga khikang yang diperlihatkannya tadi. Akan tetapi, Si Muka Kuning ini agaknya tidak tahu akan hal ini, bahkan mengeluarkan ucapan yang demikian kurang ajar.

Lili sudah kehabisan kesabarannya.

“Lalat kuning, kau lapar dan ingin makan daging? Nah, ini makanlah!” Secepat kilat tangannya menyambar mangkok yang berisi masakan penuh kuah dan sebelum Si Muka Kuning sempat mengelak, isi mangkok itu telah menyiram mukanya, bahkan sepotong daging mengenai mulutnya demikian keras sehingga ia merasa sakit!

Suara tertawa dari para tamu tadi tiba-tiba tak terdengar lagi dan mereka kini memandang dengan muka pucat. Belum pernah ada orang yang berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng sedemikian hebatnya! Sementara itu, untuk sesaat Lok Ceng merasa kedua matanya pedas dan tak dapat dibuka sehingga ia menjadi gelagapan dan mempergunakan kedua tangannya untuk membersihkan mukanya. Keadaannya amat lucu dan para penonton menahan suara ketawa mereka karena sungguhpun mereka merasa geli melihat orang yang ditakuti itu berada dalam keadaan demikian lucunya, akan tetapi mereka tidak berani memperdengarkan suara ketawa.

Kini kegembiraan Lok Ceng lenyap sama sekali. Mukanya yang berwarna kuning menjadi kemerah-merahan karena marah dan berminyak karena siraman kuah tadi. Matanya yang sudah bebas dari kepedasan kuah kini memandang dengan melotot.

“Gadis liar, apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng?” Ia membentak dan melangkah maju.

“Eh, eh, cacing muka kuning!” Lili mengejek dan sengaja mengganti sebutan naga menjadi cacing. “Apakah kau masih belum kenyang?” Sambil berkata demikian, kembali tangannya bergerak dan kini lain masakan penuh kecap berwarna merah yang masih ada setengah mangkok melayang cepat ke arah muka Lok Ceng. Si Naga Muka Kuning cepat mengelak akan tetapi kurang cepat dan tahu-tahu mukanya telah tersiram oleh masakan kecap ini! Untung baginya ia cepat-cepat meramkan kedua matanya yang tadi melotot sehingga kecap itu tidak memasuki kedua matanya. Akan tetapi celaka sekali, ia tidak dapat menutup kedua lubang hidungnya sehingga kedua lubang hidungnya yang lebar itu diserbu oleh kecap membuat ia tersedak dan berbangkis-bangkis beberapa kali seakan-akan hendak copot!

Kini para tamu di restoran itu terpakga mendekap mulut masing-masing untuk menahan ketawa, karena melihat Lok Ceng berbangkis-bangkis, sambil mencak-mencak sungguh merupakan pemandangan yang amat lucu dan menggelikan. Lok Ceng memaki-maki dan kemarahannya memuncak. Ia mencabut golok yang terselip pada pinggangnya dan kini mengamuk hebat. Beberapa kali ia membacok ke kanan kiri dan meja kursi yang terkena bacokan golok itu menjadi terbelah. Ia masih menggerakkan kedua kakinya menendang ke sana ke mari sehingga meja kursi beterbangan ke mana-mana.

Para tamu yang tadinya menahan ketawa, menjadi ketakutan dan segera mereka menyingkirkan diri ke tempat jauh, mepet pada dinding, berjajar merupakan pagar. Muka mereka menjadi pucat karena sekarang keadaan bukan main-main lagi. Gadis itu pasti akan menjadi korban golok Lok Ceng yang amat tajam.

Akan tetapi, Lili tidak mau membu ang banyak waktu untuk melayani Si Muka Kuning yang sombong itu. Biarpun Lok Ceng mengobat-abitkan golok dengan ganas sekali, ia tidak menjadi gentar dan dengan senyum mengejek tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah berada di depan si pengamuk itu.

“Gadis liar, kupenggal lehermu!” teriak Lok Ceng.

“Manusia tak tahu diri, kau harus diberi rasa sedikit!” Lili balas membentak dan dengan gerak tipu Sianli-jip-pek-to (Bidadari Memasuki Ratusan Golok) sebuah gerakan dari Ilmu Silat Sianli-utauw, ia melompat maju dan dengan tubuh lincah sekali ia dapat masuk diantara gotok itu dan langsung menggerakkan tangan kanan ke arah iga lawannya.

“Duk!” dengan tepat sekali jari tangannya mengirim tiam-hwat (totokan) yang mengenai jalan darah hong-twi-hiat dengan jitu sekali. Terdengar Lok Ceng memekik kerasa dan aneh…! Orang muka kuning yang tinggi besar ini tak dapat bergerak lagi. Tubuhnya menjadi kaku dan dalam keadaan masih berdiri dengan golok terpegang erat-erat di tangan kanannya!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Mereka masih tidak mengerti mengapa Lok Ceng berdiri kaku seperti patung. Lili yang semenjak kecil memang telah mempunyai kesukaan berkelahi dan memang wataknya nakal dan jenaka itu, tersenyum-senyum dan dengan mata berseri-seri ia lalu mengambil semua mangkok di atas meja yang masih terisi masakan, lalu ia membalikkan mangkok itu ke atas kepala Lok Ceng, sehingga Lok Ceng kini memakai topi mangkok yang isinya tumpah dan mengalir di sepanjang hidungnya!

Semua orang yang merasa lebih heran daripada lucu itu, tak dapat tertawa dan masih memandang dengan bengong, bahkan pelayan yang dipanggil oleh Lili seakan-akan tak mendengar panggilan gadis itu dan masih berdiri bengong sambil memandang ke arah Lok Ceng.

“He, aku mau membayar! Mana pelayan?” teriak Lili.

Barulah pelayan itu berlari menghampiri sambil membungkuk-bungkuk.

“Nah, ini untuk membayar masakan yang telah kumakan. Lebihnya untuk mengganti kerugian rumah makan ini karena barang-barang yang dirusak oleh lalat kuning ini!” Ia melemparkan sepotong uang perak yang berat ke atas meja, lalu keluar dari restoran itu, sama sekali tidak mempedulikan Lok Ceng yang masih berdiri seperti patung batu.

Pelayan yang mengurus kudanya mendapat hadiah yang lumayan pula.

“Eh, Siocia…” kata pelayan ini, “bagaimana dengan Oei-bin-liong? Tubuhnya kaku dan ia tidak dapat menggerakkan kaki pergi dari rumah makan kami.”

Lili tertawa geli. “Biarlah, bukankah ia menjadi sebuah patung yang baik sekali untuk menarik perhatian langganan sehingga restoran selalu akan penuh dengan tamu?”

“Akan tetapi… tentu ia akan marah dan… bagaimana kalau ia mati?”

Lili berkata dengan sungguh-sungguh, “Jangan kuatir. Aku sengaja memberi hukuman kepadanya. Dalam waktu pendek ia akan dalam keadaan demikian, nanti kesehatannya akan pulih kembali.” Setelah berkata demikian, Lili lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kudanya itu cepat-cepat meninggalkan Lok-yang.

***

Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama dua pekan akhirnya sampailah Lili di tempat yang menjadi tujuan utamanya, yaitu dusun Tong-sin-bun. Ia lalu memilih rumah penginapan dan menyewa sebuah kamar. Kudanya ia serahkan kepada pelayan untuk dirawat baik-baik.

Tanpa bertanya kepada orang lain, Lili dapat mencari rumah Ban Sai Cinjin dengan mudah, oleh karena di dalam dusun yang tak berapa besar itu, hanya satu-satunya gedung yang besar dan mewah yang menjadi tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Bahkan ketika ia bertanya kepada pelayan, hotel di mana ia bermalam juga milik dari Ban Sai Cinjin yang kayaraya dan berpengaruh besar.

“Nona datang dari mana dan apakah hendak bertemu dengan Ban Sai Cinjin Loya?”

Lili tersenyum dan maklum bahwa semua pekerja di dalam hotel ini adalah anak buah Ban Sai Cinjin, maka ia menjawab, “Ah, tidak. Aku hanya seorang pelancong yang tertarik melihat keadaan di dusun ini yang amat ramai.”

Pada senja hari itu diam-diam tanpa diketahui oleh seorang pun, Lili mengenakan pakaian yang ringkas, menggantungkan pedangnya di pinggang, lalu keluar dari penginapan itu untuk mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti. Ia menduga bahwa musuh besarnya itu tentu berada di kelenteng yang dulu pernah dilihatnya dengan Sin-kai Lo Sian, yaitu dalam sebuah hutan tak jauh dari dusun Tong-sin-bun itu.

Akan tetapi sebelum menuju ke hutan itu, ia sengaja menyelidiki dulu gedung besar tempat tinggal Ban Sai Cinjin yang nampak sunyi dari luar. Ketika ia hendak melompat ke atas pagar tembok yang tinggi dan yang mengelilingi gedung itu, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang tampan bersama seorang setengah tua berjalan keluar dari gedung itu dengan tindakan cepat. Lili cepat bersembunyi di tempat gelap dan memandang tajam. Bukan main heran dan terkejutnya ketika ia melihat pemuda itu. Tak salah lagi, pemuda itu tentulah Thio Kam Seng, anak laki-laki yang dulu pernah ditolong oleh suhunya, Sin-kai Lo Sian, atau yang boleh juga disebut suhengnya, karena mereka keduanya pernah menjadi murid Sin-kai Lo Sian.

Lili menjadi girang sekali dan hampir saja ia memanggil pemuda itu. Akan tetapi ia dapat menahan keinginannya ini karena teringat bahwa pemuda ini baru saja keluar dari gedung Ban Sai Cinjin. Hal ini benar-benar aneh sekali. Kam Seng pernah hampir dibunuh oleh seorang murid Ban Sai Cinjin, bagaimana sekarang ia bisa keluar masuk demikian leluasa di gedung Ban Sai Cinjin itu? Hal ini menimbulkan kecurigaannya dan ia tidak memanggil pemuda itu, bahkan lalu diam-diam mengikuti perjalanan Kam Seng dan orang tua itu yang berjalan cepat menuju ke hutan di mana terdapat kelenteng besar kepunyaan Ban Sai Cinjin.

Bagaimanakah Kam Seng dapat berada di tempat itu dan keluar dari gedung Ban Sai Cinjin dengan enaknya? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Pendekar Bodoh dan isterinya naik ke Gunung Beng-san dan bertemu kembali dengan Lili, pemuda ini dibawa pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le.

Sesungguhnya, Thio Kam Seng tidak mempunyai riwayat hidup yang baik. Dulu ketika ditolong oleh Sin-kai Lo Sian, ia memang menceritakan riwayatnya bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena kemiskinan dan kelaparan, akan tetapi sesungguhnya tidak demikian halnya. Thio Kam Seng ini adalah anak tunggal dari seorang tokoh persilatan tinggi yang bernama Song Kun. Para pembaca dari cerita Pendekar Bodoh tentu masih ingat bahwa Song Kun adalah sute (adik seperguruan) dari Lie Kong Sian, dan bahwa karena kejahatannya hendak mengganggu Lin Lin akhirnya Song Kun tewas dalam tangan Cin Hai, Si Pendekar Bodoh. Pada waktu hal ini terjadi, Cin Hai belum menikah dengan Lin Lin, akan tetapi Song Kun telah meninggalkan seorang gadis yang dipeliharanya sebagai isteri tidak sah, dan isterinya ini telah mengandung tiga bulan. Karena Song Kun terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang yang jahat sekali, maka ia mempunyai banyak bini peliharaan di mana-mana, baik yang ia dapatkan karena ketampanannya maupun yang ia ambil secara paksa, bahkan yang diculiknya dari rumah orang tua gadis itu!

Setelah Song Kun tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, Thio Kui Lin hidup terlunta-lunta. Untuk kembali ke rumah orang tuanya ia merasa malu, dan hanya untuk kepentingan anak dalam kandungannya belaka ia masih mempertahankan hidupnya. Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan yang amat sengsara, terlahirlah seorang anak laki-laki yang ia beri nama Kam Seng. Karena Thio Kui Lin sesungguhnya amat benci kepada suaminya yang mengambilnya secara paksa maka ia memberi nama keturunan Thio kepada puteranya ini.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: