Pendekar Remaja ~ Jilid 11

Betapapun juga, setelah Kam Seng berusia lima tahun dan sudah pandai berpikir, ketika Kam Seng bertanyakan ayahnya, Kui Lin lalu menceritakan bahwa ayahnya telah tewas dalam tangan seorang pendekar besar bernama Pendekar Bodoh!

Dalam keadaan yang amat miskin, Kui Lin hidup berdua dengan puteranya. Mereka terlunta-lunta dan hidup serba kekurangan, dan akhirnya Kui Lin jatuh sakit yang membawanya kembali ke alam baka. Semenjak itu Kam Seng menjadi yatim piatu, hidup merantau terlunta-lunta sebagai seorang pengemis cilik. Ternyata ia mempunyai otak yang cerdik sekali, dan agaknya kecerdikan ayahnya menurun kepadanya. Ia dapat berpura-pura bodoh dan jarang bicara, padahal segala sesuatu ia perhatikan betul-betul. Cerita ibunya tentang ayahnya yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh, berkesan di dalam lubuk hatinya, dan ia tak dapat melupakan nama Pendekar Bodoh ini dari ingatannya.

Demikianlah, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia tertolong oleh Sin-kai Lo Sian, diangkat menjadi muridnya dan akhirnya ia diajak pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le Si Pengemis Iblis yang lihai.

“Kita harus mencari suhumu,” kata Mo-kai Nyo Tiang Le. “Sebelum kita bertemu dengan gurumu, kau harus melatih diri baik-baik, akan kuajarkan ilmu silat-ilmu silat tinggi kepadamu agar kelak kau tak usah kalah oleh murid Pok Pok Sianjin atau puteri Pendekar Bodoh sekalipun!”

Diam-diam Kam Seng merasa girang sekali, telah lama ia menahan-nahan dendamnya ketika ia mengetahui bahwa musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya, adalah ayah Lili yang menjadi sumoinya. Dapat dibayangkan betapa menggeloranya hatinya ketika dulu ia melihat Pendekar Bodoh di puncak Gunung Beng-san. Saking terharu dan sedihnya tak berdaya membalas dendam, dulu ia telah menangis sedih. Tak seorang pun mengetahui apa yang menyebabkannya menangis. Kini mendengar ucapan Mo-kai Nyo Tiang Le supeknya, ia menjadi girang sekali dan mulai hari itu ia belajar dengan tekun dan rajinnya, membuat girang hati Mo-kai Nyo Tiang Le.

Bertahun-tahun Kam Seng pergi merantau dengan Mo-kai Nyo Tiang Le, menjelajah seluruh propinsi di daerah Tiongkok, akan tetapi mereka tak bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, bahkan mendengar beritanya pun tidak. Orang-orang kang-ouw yang mereka tanyai, tak seorang pun pernah bertemu dengan Sinkai Lo Sian yang telah menghilang untuk bertahun-tahun lamanya.

Terpaksa Mo-kai Nyo Tiang Le mewakili sutenya mendidik Kam Seng yang sesungguhnya menguntungkan pemuda itu, karena kepandaian Pengemis Iblis ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Pengemis Sakti. Sembilan tahun lamanya Mo-kai Nyo Tiang Le mengajak Kam Seng merantau, berpindah-pindah dari barat ke timur, dari utara ke selatan dan sementara itu, kepandaian Kam Seng telah maju dengan cepat sekali. Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai Nyo Tiang Le, terutama sekali permainan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat (Ilmu Silat Kitiran Angin) dan ilmu melepas senjata rahasia yang disebut Thio-tho-ci (biji buah Tho besi). Ilmu permainan tongkat dari Pengemis Iblis ini pun telah ia warisi dengan baik sekali.

“Supek,” kata Kam Seng pada suatu hari setelah supeknya itu menyatakan kekesalan hatinya karena belum juga dapat bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, “apakah tidak bisa jadi Suhu terkena celaka di tangan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin? Bagaimana kalau kita mencari di sana?”

Supeknya mengangguk-angguk. “Mungkin dugaanmu ini benar juga. Aku pun telah mempunyai dugaan demikian.” Ia menghela napas. “Memang Ban Sai Cinjin jahat dan kejam, akan tetapi ilmu kepandaiannya amat tinggi. Jangankan Sute, aku sendiri belum tentu dapat melawannya. Akan tetapi, kita harus dapat mengetahui bagaimana dengan nasib Sute. Kita berangkat ke dusun Tong-sin-bun.”

Mereka lalu menuju kembali ke barat dan tiba di dusun itu di waktu malam.

“Supek, biarlah teecu menyelidiki ke kuil itu.”

“Kau hati-hatilah, Kam Seng. Di sana terdapat banyak orang pandai,” kata Mo-kai Nyo Tiang Le yang duduk di bawah pohon sambil minum arak yang dibelinya di warung arak.

“Jangan kuatir, Supek. Tak percuma selama ini teecu mempelajari ilmu kepandaian dari Supek.”

Pemuda ini lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke hutan itu. Ia melihat kelenteng itu terang sekali, penuh dengan lampu-lampu penerangan yang besar dan mewah. Melihat keadaan kelenteng itu dan melihat betapa kain-kain sutera yang halus tergantung dijadikan tirai penutup pintu, ia menghela napas dan melirik ke arah pakaiannya sendiri. Semenjak ia pergi ikut dengan supeknya belum pernah ia berpakaian baik. Pakaiannya tambal-tambalan dan kotor sekali. Sesungguhnya tidak sukar baginya kalau ia mau mengambil pakaian dari para hartawan, akan tetapi supeknya tentu melarangnya, dan ia merasa malu untuk berpakaian bagus sedangkan supeknya berpakaian kotor penuh tambalan. Keadaannya sama seperti seorang pengemis muda!

Kam Seng menanti sampai beberapa lama, akan tetapi oleh karena ia tidak melihat seorang pun keluar dari kelenteng itu, ia lalu memberanikan diri dan menghampiri kelenteng itu. Dengan ginkangnya yang sudah terlatih baik dengan mudah ia lalu melompat ke atas genteng. Dari atas genteng ia melihat bahwa penerangan yang paling besar keluar dari ruangan belakang, maka dengan amat hati-hati ia lalu menuju ke ruang itu, mengerahkan gin-kangnya agar genteng yang diinjaknya tidak menerbitkan suara berisik.

Ketika ia mengintai ke bawah, ia melihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam ruangan itu. Ia mengenal dua orang diantara mereka yaitu Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin. Yang seorang lagi adalah seorang tosu tua yang rambutnya masih nampak hitam, demikianpun jenggotnya. Kam Seng merasa heran mendengar bahwa Ban Sai Cinjin yang berambut putih dan tua itu menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada tosu ini. Sungguh mengherankan bahwa seorang yang usianya lebih tua daripada Ban Sai Cinjin masih nampak segar dan rambutnya masih hitam. Akan tetapi pada saat itu, percakapan mereka lebih menarik hati Kam Seng, karena ia mendengar nama Pendekar Bodoh’ disebut-sebut.

“Memang Pendekar Bodoh lihai sekali,” ia mendengar tosu itu berkata sambil menganggukkan kepalanya. “Ia telah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Akan tetapi pinto (aku) tahu bagaimana harus menghadapi dan melawannya. Ia mengandalkan pengertiannya tentang pokok dan dasar gerakan ilmu silat sehingga kalau ia dilawan dengan ilmu silat biasa, ia akan menang di atas angin. Akan tetapi pinto telah mempelajari ilmu silat dunia barat yang mempunyai gerakan berlainan dan dasarnya pun berbeda sehingga kalau menghadapi Pendekar Bodoh, belum tentu pinto takkan dapat merobohkannya!”

“Supek berkata benar,” Bouw Hun Ti tiba-tiba berkata, “bagaimanapun juga, Pendekar Bodoh bukan tidak dapat dilawan! Pernah teecu mendengar bahwa Pendekar Bodoh masih belum selihai Hek Pek Mo-ko (Iblis Hitam dan Iblis Putih, tokoh kang-ouw yang muncul dalam cerita Pendekar Bodoh). Pernah dia terluka oleh kedua saudara itu. Kalau kepandaian Suhu saja sudah setingkat dengan kepandaian Hek Pek Mo-ko karena dari satu cabang persilatan, mustahil kalau Supek tidak dapat menundukkan Pendekar Bodoh!”

Ketika Ban Sai Cinjin menyedot huncwenya dan hendak menjawab tiba-tiba tosu itu menengok ke arah genteng di mana Kam Seng mengadakan pengintaian dan berkata halus, “Sahabat muda yang mengintai di atas genteng, kauturunlah saja!”

Bukan main kagetnya Kam Seng mendengar ucapan ini. Semenjak tadi ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan hatinya tertarik sekali. Kalau orang-orang di bawah ini yang demikian lihai ternyata memusuhi Pendekar Bodoh, maka ia tidak sekali-kali boleh memusuhi mereka. Alangkah baiknya kalau ia bisa berkawan dengan mereka untuk membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh! Telah berkali-kali supeknya, Mo-kai Nyo Tiang Le menyatakan bahwa kepandaian Pendekar Bodoh amat tinggi, masih lebih tinggi daripada kepandaian Pengemis Iblis itu, maka sudah menipislah harapan di dalam hati Kam Seng mendengar pernyataan ini. Kini mendengar betapa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin dan tosu yang menjadi suheng kakek berhuncwe itu demikian tingginya, ia mendapat sebuah pikiran baik sekali.

Mendengar ucapan tosu itu, makin yakinlah ia bahwa tosu itu benar-benar lihai sekali, maka ia lalu menjawab,

“Maafkan teecu yang muda berlaku lancang!” Setelah berkata demikian, ia lalu meloncat ke bawah, melayang sambil menggunakan gerakan In-liong-san-hian (Naga Awan Perlihatkan Diri). Gerakan ini cukup indah dan ilmu lompatnya cukup hebat sehingga tiga orang yang berada di ruang itu memandang dengan kagum. Melihat seorang pemuda cakap berbaju tambal-tambalan dan kotor sekali, Ban Sai Cinjin lalu melangkah maju, dan bertanya,

“Orang muda, siapakah kau dan mengapa kau melakukan pengintaian di kelentengku?”

Kam Seng menjura memberi hormat dan otaknya yang cerdik diputar-putar, kemudian ia berkata dengan sikap gagah dan suara tenang,

“Tadi teecu mendengar tentang totiang ini yang hendak melawan Pendekar Bodoh. Oleh karena ada permusuhan pribadi antara teecu dan Pendekar Bodoh, maka hati teecu tertarik sekali dan ingin teecu mencoba kepandaian Totiang yang lihai. Teecu maklum bahwa teecu bukanlah lawan Totiang ini, akan tetapi kalau Totiang dapat mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, teecu akan menghambakan diri menjadi murid dan akan menceritakan sesuatu bahaya yang mengancam ketenteraman di sini. Kalau Totiang tidak dapat mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, jangah harapkan akan dapat menangkan Pendekar Bodoh!”

Kata-kata ini membuat Bouw Hun Ti menjadi marah sekali dan ia melompat ke depan, cepat mengirim pukulan keras ke arah kepala Kam Seng sambil berseru,

“Macammu hendak menantang Supek?”

Pukulan tangan kanan Bouw Hun Ti ini keras sekali dan tenaga yang terkandung dalam pukulan itu cukup untuk menghancurkan batu karang. Sudah diketahui bahwa ilmu kepandaian Bouw Hun Ti sudah mencapai tingkat tinggi, lebih tinggi dari Sin-kai Lo Sian maka dapat diduga betapa lihai dan berbahayanya pukulan ini.

Akan tetapi, Kam Seng bukanlah seorang pemuda yang bodoh. Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai Nyo Tiang Le dan kepandaiannya sekarang mungkin sudah lebih tinggi daripada Sin-kai Lo Sian! Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lwee-kang tak mungkin ia dapat melawan orang kuat ini, maka ia lalu mempergunakan kecerdikannya. Dengan lengan kanan, ia mengerahkan tenaga halus untuk menangkis pukulan lawan, sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, akan tetapi digerakkan memukul ke depan dengan ilmu silat Soan-hong-jiu (Kepalan Kitiran Angin). Bouw Hun Ti merasa terkejut sekali karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, lebih dulu pukulan lawan itu mendatangkan angin yang hebat dan berbahaya sehingga terpaksa ia miringkan tubuhnya dan pukulannya tidak keras lagi. Ketika pukulannya tertangkis oleh lengan kiri Kam Seng, keduanya terpental ke belakang!

“Bagus…!” kata tosu itu yang sesungguhnya adalah suheng dari Ban Sai Cinjin yang bernama Wi Kong Siansu. Wi Kong Siansu ini sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan adalah seorang pertapa di Hek-kwi-san dan dijuluki Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa). Oleh karena merasa kuatir menghadapi musuh-musuh yang tangguh, Ban Sai Cinjin menyuruh Bouw Hun Ti untuk mengundang dan membujuk suhengnya itu yang kemudian ternyata berhasil baik.

Melihat pukulan Soan-hon-jiu yang digerakkan oleh Kam Seng, Wi Kong Siansu menjadi tertarik dan ia lalu berdiri dari bangkunya.

“Bouw Hun Ti, biarkan anak muda ini memenuhi keinginannya.” Ia melangkah maju menghadapi Kam Seng. “Anak muda, sebelum pinto menuruti permintaanmu yang kurang ajar tadi, lebih dulu katakanlah kau siapa, anak siapa dan mengapa kau bermusuhan dengan Pendekar Bodoh?”

Semenjak dulu, Kam Seng tak pernah menyebut-nyebut nama ayahnya di depan siapapun juga. Sekarang karena maklum sepenuhnya bahwa ia berada diantara orang-orang yang menjadi musuh Pendekar Bodoh pula, ia tidak merasa ragu-ragu untuk memberitahukan nama ayahnya, bahkan ia pun merubah pula shenya yang biasanya Thio itu menjadi Song.

“Teecu bernama Kam Seng, she Song, Ayah teecu telah tewas di tangan Pendekar Bodoh, dan ayah teecu itu bernama Song Kun.”

Mendengar disebutnya nama ini, Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin saling pandang dengan terkejut sekali. “Apa? Ayahmu adalah Song Kun Si Tubuh Baja yang berjuluk Ang-ho-sian-kiam?” tanya Wi Kong Siansu dengan heran.

“Entahlah, karena ayah telah tewas sebelum teecu terlahir. Teecu hanya mendengar dari ibuku yang sekarang telah meninggal dunia pula. Hanya satu hal yang teecu ketahui, yaitu bahwa ayah teecu yang bernama Song Kun itu terbunuh oleh Pendekar Bodoh!”

“Benar, benar!” Wi Kong Siansu mengangguk-angguk. “Memang terbunuh oleh Pendekar Bodoh. Marilah, kau maju dan hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu, anak muda!”

Kam Seng memang sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus karena ia mempunyai maksud tertentu. Ia telah maklum sampai di mana tingkat kepandaiannya, apabila diukur dengan kepandaian supeknya Nyo Tiang Le. Sungguhpun ia belum dapat menyamai ilmu kepandaian supeknya itu, namun dari latihan-latihan dengan supeknya ia dapat menaksir bahwa supeknya itu tak mungkin akan dapat merobohkan dan mengalahkannya dalam tiga puluh jurus! Maka ia sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus oleh tosu itu, karena kalau hal ini memang dapat terjadi, ia tidak ragu-ragu lagi akan kepandaian tosu ini dan tidak ragu-ragu untuk mengkhianati supeknya!

Setelah tosu itu melangkah maju menghadapinya, tanpa seji (sungkan) lagi Kam Seng lalu menyerang dengan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat yang paling lihai. Ia hendak mendahului menyerang agar supaya kakek itu tidak mempunyai kesempatan untuk menyerangnya. Kalau saja ia dapat menyerang bertubi-tubi sampai sepuluh jurus, biarpun tidak dapak merobohkan tosu itu, berarti ia telah menang karena dalam sepuluh jurus kakek itu tak dapat mengalahkannya!

Wi Kong Siansu agaknya maklum akai isi pikirannya ini, maka sambil tersenyun kakek yang amat lihai ini tidak memberi kesempatan kepada Kam Seng untuk menyerang dengan susulan lain. Begitu pukulan Kam Seng mendatang dan telah dekat dengan dadanya yang sama sekali tidak terpengaruh oleh angin pukulan itu ia mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis dan tangan kanannya lalu meluncur keluar membarengi pukulan itu menotok ke arah pundak Kam Seng.

Pemuda ini terkejut sekali karena tangkisan ujung lengan baju itu ketika menimpa lengannya, tulang lengannya terasa sakit sekali bagaikan beradu dengan baja keras sedangkan totokan itu pun cepat sekali datangnya sehingga hampir saja ia menjadi korban dalam segebrakan saja! Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, berjumpalitan ke belakang dua kali, kemudian setelah berdiri ia lalu menyerang lagi. Serangan dalam jurus ke dua ini dilakukan dengan gerak tipu yang amat lihai. Ia melakukan serangan dari tiga jurusan, tangan kanan diputar merupakan kepalan yang mengarah kepala, tangan kiri dengan jari tangan terbuka menyabet lambung sedangkan kaki kanan menyusul dengan tendangan maut ke arah pusar! Inilah gerak tipu yang disebut Sam-in-koan-goat (Tiga Awan Menutup Bulan). Gerakan tiga macam pukulan ini dilakukan susul menyusul sehingga hampir boleh dibilang berbareng datangnya, dan karena yang diarah oleh ketiga pukulan ini adalah anggota-anggota tubuh yang berbahaya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan Sam-in-koan goat ini. Satu saja di antara ketiga pukulan itu mengenai sasaran, cukup untuk mengantar nyawa orang ke tempat asal!

“Bagus…!” seru Wi Kong Siansu melihat kehebatan serangan ini. Dengan amat tenang kakek ini melangkahkan kakinya dalam bentuk segitiga. Pertama- tama ia melangkah ke kanan sambil menundukkan kepala menghindarkan diri dari pukulan ke arah kepalanya, lalu melangkah lagi menyerong ke muka sambil menangkis pukulan ke arah lambungnya, sedangkan tendangan yang mengarah pusarnya itu tidak dielakkan, bahkan ia lalu mengangkat kakinya menyambut tendangan itu dengan tendangan pula.

Sungguh mengherankan. Kalau dilihat tendangan Kim Seng amat keras dan cepat datangnya sedangkan kakek itu hanya mengangkat sedikit saja kakinya untuk menyambut tendangan pemuda itu akan tetapi begitu sepatu mereka bertemu, Kam Seng berseru kaget dan tubuhnya terlempar ke belakang tiga tombak lebih! Masih baik bahwa ia mempunyai gin-kang yang sempurna sehingga ia dapat berjungkir balik dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat turun dengan kaki terlebih dulu!

Bukan main kagumnya hati Kam Seng. Ia maklum bahwa tosu ini benar-benar jauh lebih lihai daripada supeknya, maka tanpa banyak ragu-ragu lagi, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu itu. “Kalau Totiang sudi menerima teecu sebagai murid, teecu akan merasa bahagia sekali.”

Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Sayang kau ditinggal ayahmu dan tidak bertemu dengan guru yang baik. Kalau ada ayahmu, tentu kepandaianmu sudah sepuluh kali lipat lebih pandai daripada sekarang.”

Ban Sai Cinjin lalu maju dan mengebulkan huncwenya.

“Song Kam Seng, kau tadi bilang bahwa kau mempunyai rahasia yang hendak dituturkan. Apakah rahasia itu? Hayo kau berkata terus terang, karena kalau memang betul kau putera Song Kun, kita adalah orang-orang sendiri. Ketahuilah bahwa antara kami dengan ayahmu dahulu terdapat perhubungan yang baik sekali.”

“Sesungguhnya amat malu untuk menuturkan keadaan teecu,” kata Kam Seng sambil menundukkan kepalanya dan masih berlutut di depan Wi Kong Siansu. “Semenjak kecil teecu telah ditinggal mati ibu, dan ayah bahkan telah meninggalkan teecu sebelum teecu terlahir. Teecu berkelana dan bersengsara seorang diri dengan hati mengandung dendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi apa daya? Kemudian, teecu bertemu dengan Mo-kai Nyo Tiang Le yang memberi pelajaran ilmu silat kepada teecu. Sungguhpun kemudian teecu ketahui bahwa Mo-kai Nyo Tiang Le dan juga Sin-kai Lo Sian adalah kawan-kawan segolongan dengar Pendekar Bodoh sehingga hati teecu merasa segan sekali untuk belajar ilmu silat darinya, akan tetapi terpaksa teecu pertahankan juga. Karena, lebih baik menerima pelajaran ilmu silat dari siapapun juga daripada tidak berkepandaian sama sekali. Nah, kebetulan sekali hari ini teecu dibawa oleh Mo-kai Nyo Tiang Le yang sedang berusaha mencari Sin-kai Lo Sian. Dia menyangka bahwa sutenya itu tentu telah mendapat celaka dari Ban Sai Cinjin, maka ia lalu menyuruh teecu mengadakan penyelidikan ke sini!”

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Mo-kai Nyo Tiang Le pengemis kelaparan! Apa yang kutakuti terhadap orang seperti dia itu?”

“Teecu juga maklum akan hal ini, dan mulai saat ini juga, kalau kiranya Cu-wi Locianpwe sudi menerima, teecu ingin tinggal di sini mempelajari ilmu silat dan kemudian bersama Cu-wi ikut menyerbu dan membalas hukum kepada Pendekar Bodoh.”

Ban Sai Cinjin agaknya masih ragu-ragu dan menaruh hati curiga. Akan tetapi Wi Kong Siansu sambil berkedip sutenya itu, berkata kepada Kam Seng, “Anak muda, kami percaya bahwa kau memang putera Song Kun. Akan tetapi, siapa mengetahui keadaan seseorang? Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi gurumu itu ternyata hendak memusuhi sute dan menyuruh kau mengadakan penyelidikan ke sini. Bagaimanakah kalau sikapmu ini hanya sandiwara belaka agar kau dapat menyelamatkan diri dari kami? Kalau kau sekarang bisa memancing Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke sini, tanpa mengatakan bahwa pinto dan Ban Sai Cinjin berada di tempat ini, dan kemudian di depan kami kau memperlihatkan sikapmu bermusuh dengan dia, barulah kami akan percaya. Menerima murid bukanlah hal yang amat mudah, dan sebelum mengetahui betul kesetiaanmu, pinto tidak dapat menerimamu sebagai murid.”

“Baiklah, harap Cu-wi suka menanti sebentar. Malam ini juga teecu akan membawa Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke tempat ini!” Setelah berkata demikian, Kam Seng memberi hormat dan melompat keluar dari ruangan itu. Ban Sai Cinjin hendak menggerakkan tangan mencegah, akan tetapi suhengnya berkata,

“Anak itu memang betul keturunan Song Kun. Tidak lihatkah kau akan gerak matanya dan bentuk bibirnya? Sama benar dengan Song Kun. Dan andaikata sikapnya tadi hanya untuk menyelamatkan diri untuk seorang pemuda macam dia, kita takut apakah?”

Sementara itu, Kam Seng cepat kembali ke tempat supeknya yang masih menantinya. Hatinya girang sekali. Tadinya ia telah merasa putus harapan untuk dapat membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh, karena kalau Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi gurunya masih mengatakan kalah jauh oleh Pendekar Bodoh, apalagi dia? Pendekar Bodoh menurut supeknya ini mempunyai banyak orang-orang pandai. Isteri Pendekar Bodoh sendiri adalah murid Bu Pun Su dan memiliki kepandaian yang amat tinggi. Masih ada lagi Ang I Niocu dan suaminya Lie Kong Sian yang terhitung kakak seperguruan dari Pendekar Bodoh, ada lagi Kwee An yang menjadi iparnya dan isteri Kwee An yang bernama Ma Hoa dan yang memiliki kepandaian tinggi karena nyonya muda ini adalah murid terkasih dari Hok Peng Taisu yang lihai! Bagaimana ia dapat menghadapi Pendekar Bodoh seorang diri saja? Bahkan supeknya amat menghormat Pendekar Bodoh maka tak mungkin supek atau suhunya memperkenankan ia berlaku kurang ajar terhadap Pendekar Bodoh.

Kini, pertemuan dengan Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu yang amat tinggi kepandaiannya, menimbulkan pengharapan baru di dalam hatinya. Ia tadi tidak melihat Hok Ti Hwesio, hwesio kecil jahat murid Ban Sai Cinjin yang dulu hendak membelek perutnya, akan tetapi ia pun tidak takut. Andaikata Hok Ti Hwesic mengenalnya, ia rasa masih dapat melayani hwesio itu, dan apalagi kalau ia sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, tentu Hek Ti Hwesio tidak berani mengganggunya.

“Bagaimana, Kam Seng? Apakah kau melihat suhumu di sana? Dan apakah Ban Sai Cinjin berada di sana pula?”

“Teecu rasa Suhu berada di sana, Supek. Mungkin dikurung dalam sebuah kamar. Akan tetapi teecu tidak berani turun dan berlaku sembrono, karena di sana teecu melihat ada murid-murid Ban Sai Cinjin. Teecu rasa sekarang lebih baik kalau kita berdua menyerbu ke sana, karena tidak terlihat Ban Sai Cinjin, yang ada hanya Bouw Hun Ti!”

Girang sekali hati Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar kesempatan yang amat baik ini, maka ia cepat berdiri dan mengajak pemuda itu cepat berlari kembali ke hutan itu.

Kam Seng mengajak supeknya melompat ke atas genteng dan mengintai di atas ruang tadi, akan tetapi baru saja Nyo-kai Tiang Le menginjak genteng ia mendengar suara Bouw Hun Ti tertawa di bawah genteng.

“Pengemis kelaparan Nyo Tiang Le! Perlu apa mengintai seperti seorang maling? Kalau kau kelaparan tak perlu kau mencuri makanan di sini, turunlah ada makanan anjing tersedia untukmu!”

Bukan main marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan yang sangat menghina ini. Ia memang seorang pemarah yang keras hati, maka tanpa mempedulikan sesuatu lagi, ia lalu melayang turun, diikuti oleh Kam Seng. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak lantai ruangan itu, Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali melihat Ban Sai Cinjin dan seorang tosu tua muncul dari balik pintu. Ban Sai Cinjin mengebulkan asap huncwenya dan melihat asap itu berwarna hitam, tahulah Mo-kai Nyo Tiang Le bahwa ia harus melawan mati-matian.

Terdengar tosu yang tak dikenalnya itu tertawa girang dan berkata kepada Kam Seng, “Bagus, bagus, Kam Seng! Kau memang boleh dipercaya dan pinto suka menjadi suhumu.

Tentu saja Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi melongo melihat dan mendengar ucapan ini.

“Kam Seng! Apakah artinya ini?”

Akan tetapi sebelum pemuda itu menjawab, Ban Sai Cinjin sudah menegur Pengemis Iblis itu, “Orang she Nyo! Kau datang sebagai tamu tak diundang, mengapa lagakmu demikian kasar? Sebetulnya, apakah keperluanmu datang ke tempatku ini?”

“Ban Sai Cinjin, semenjak dulu kita belum pernah bermusuhan, maka harap kau suka memberi keterangan tentang suteku Lo Sian. Di manakah dia?”

Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara menghina. “Apa kaukira aku menjadi bujang pengasuh dari Lo Sian? Kaucarilah sendiri, di sini tidak ada sutemu yang gila itu!”

“Gila…? Suteku tidak gila…” kata Mo-kai Nyo Tiang Le sambil memandang tajam.

Merahlah wajah Ban Sai Cinjin karena tanpa disengaja ia hampir saja membuka rahasianya. Memang Lo Sian telah menjadi gila karena ia paksa minum obat beracun.

“Kau dan Sutemu memang orang-orang tidak waras, kalau sehat bagaimana malam-malam datang ke tempat tinggal orang lain mencari Sutemu?”

Mo-kai Nyo Tiang Le merasa segan untuk bermusuh melawan Ban Sai Cinjin yang lihai dan di situ masih ada tosu tua yang nampaknya berkepandaian tinggi itu. Juga ia masih merasa heran mendengar percakapan antara tosu itu dengan Kam Seng, maka ia pikir lebih baik mengajak pemuda itu pergi dari tempat berbahaya ini.

“Sudahlah, aku tak mau mengganggu terlebih jauh. Hayo, Kam Seng, kita pergi dari sini!” katanya mengajak pemuda itu.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan sama sekali jawaban yang ia dengar dari mulut pemuda itu, “Tidak, aku tidak pergi dari sini. Di sinilah tempatku bersama suhuku yang baru Wi Kong Siansu!”

Barulah Mo-kai Nyo Tiang Le tahu bahwa tosu itu adalah Toat-beng Lomo yang amat terkenal. Ia terkejut sekali, akan tetapi keheranannya lebih besar lagi.

“Apa katamu? Kam Seng, apa artinya ini? Apakah kau sudah gila?”

Pemuda itu memandangnya tajam. “Tidak, Mo-kai Nyo Tiang Le, kaulah yang gila kalau kaukira akan dapat memaksaku untuk menjadi pengemis, hidup berkeliaran, pakaian tidak karuan, makan tak tentu. Aku tidak mau mengikuti kau terus. Kau, pergilah dari sini!”

Marahlah Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan ini. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda yang biasanya pendiam dan penurut itu kini berubah menjadi sedemikian kurang ajar.

“Kam Seng…! Kau murid durhaka! Kalau kau tidak mau pergi, terpaksa aku harus binasakan kau lebih dulu agar kelak tidak mencemarkan namaku!”

Tiba-tiba Kam Seng tersenyum. “Hm, Mo-kai Nyo Tiang Le! Ketahuilah siapa sebenarnya aku. Aku adalah putera dari Ang-ho Sian-kiam Song Kun, dan aku telah bersumpah untuk membalas kematian ayahku kepada Pendekar Bodoh! Nah, apakah kau tidak mau lekas pergi dari sini? Aku masih mengingat akan sedikit kebaikanmu yang telah menurunkan sedikit ilmu silat tak berarti kepadaku. Kalau kau tidak lekas pergi, jangan menganggap aku keterlaluan kalau terpaksa turun tangan melawan dan mengusirmu!”

Serasa meledak dada Mo-kai Nyo Tiang Le. Sepasang matanya menjadi merah bagaikan terbakar dan rambutnya yang tidak karuan itu menjadi kaku berdiri.

“Murid durhaka! Manusia berhati rendah!”

Akan tetapi, Kam Seng dengan marah sekali telah mengeluarkan beberapa butir Thi-tho-ci dan mengayun senjata-senjata rahasia itu ke arah Mo-kai Nyo Tiang Le sambil berseru, “Kau pergilah!”

Dengan amarah yang meluap-luap Mo-kai Nyo Tiang Le menyambut datangnya senjata-senjata rahasia itu dengan gerakan tangan kirinya yang menangkis dan memukul runtuh beberapa senjata-senjata rahasia itu, kemudian sambil berseru keras ia lalu melancarkan serangannya yang hebat yaitu pukulan Soan-hong-jiu yang dilakukan dengan tenaga penuh ke arah bekas muridnya itu! Kam Seng maklum akan kelihaian pukulan ini, akan tetapi karena ia tahu pula bahwa mengelak dari pukulan ini selain sia-sia juga amat berbahaya, terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya dan melakukan gerakah pukulan yang sama. Biarpun jarak di antara mereka ada dua tombak lebih jauhnya, namun angin pukulan Soan-hong-jiu dari Mo-kai Nyo Tiang Le ini menyambar hebat sekali ke arah Kam Seng. Pemuda ini juga melakukan pukulan Soan-hong-jiu dengan tenaga khi-kang sepenuhnya untuk menangkis. Dua angin pukulan bertemu dan akibatnya Kam Seng terlempar ke belakang sampai tubuhnya menimpa dinding di belakangnya! Namun tangkisannya itu menyelamatkan jiwanya, karena sedikitnya telah membentur tenaga pukulan bekas supeknya dan ia hanya terlempar saja tanpa menderita luka.

“Kau harus mampus!” Mo-kai Nyo Tiang Le berseru sambil melompat ke arah bekas muridnya untuk memberi pukulan maut. Akan tetapi, tiba-tiba dari sebelah kiri berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Wi Kong Siansu telah berada di depannya dan tersenyum mengejek.

“Wi Kong Siansu! Jangan kau ikut-ikut! Tidak ada orang kang-ouw yang begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusan antara guru dan muridnya sendiri!” teriak Mo-kai Nyo Tiang Le marah sekali.

Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Mo-kai, kau lupa bahwa pemuda ini bukan muridmu lagi! Ia telah menyatakan tidak sudi menjadi muridmu dan kau harus ingat lagi bahwa dia kini telah menjadi murid pinto! Apakah kaukira pinto dapat berpeluk tangan saja melihat murid pinto hendak dibinasakan olehmu?”

Saking marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi nekat. “Bagus!” teriaknya “Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Toat-beng Lo-mo!”

“Ha-ha! Majulah, mari kita main-main sebentar!” jawab tosu itu.

Nyo Tiang Le menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Akan tetapi, tosu yang berilmu tinggi itu dengan tenangnya dapat mengelak dan membalas dengan serangannya. Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu ini melayani Pengemis Iblis dengan kedua ujung lengan bajunya yang panjang yang menyambar-nyambar dengan totokan-totokan ke arah jalan darah. Setiap sambaran ujung lengan baju membawa angin keras dan berat sekali. Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut ketika menyaksikan betapa angin pukulan Soan-hong-jiu yang dipergunakannya selain terpental kembali tiap kali terbentur oleh ujung lengan baju itu dan maklumlah ia bahwa dalam hal tenaga lwee-kang dan khi-kang, ia masih kalah setingkat!

Oleh karena merasa percuma saja melawan tosu lihai ini, Mo-kai Nyo Tiang Le membuat gerakan mengalah, yaitu melompat mundur beberapa tindak sambil berkata, “Toat-beng Lo-mo, kepandaianmu benar-benar mengagumkan! Perkenankan aku pergi membawa muridku yang murtad!” Sambil berkata demikian, ia melompat hendak menyambar tubuh Kam Seng yang berdiri di sudut akan tetapi Wi Kong Siansu telah mendahuluinya dan kembali menghadang di depannya.

“Mo-kai! Jangan kaulanjutkan kehendakmu yang salah ini. Kau pergilah dengan aman, dan pinto takkan mengganggumu. Akan tetapi kalau kau berkeras hendak mencelakakan muridku, terpaksa pinto harus turun tangan!”

Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi makin marah. Ia maklum bahwa ia akan sukar sekali dapat menangkan tosu ini, akan tetapi kalau ia mundur, berarti bahwa ia telah menurunkan kehormatannya dengan rendah sekali. Bagi seorang gagah, soal kehormatan lebih penting dan lebih mahal daripada nyawa. Muridnya berlaku khianat dan durhaka, sudah menjadi haknya untuk menghukum murid itu. Kalau ada orang lain yang menghalanginya, itu berarti penghinaan yang amat besar.

Sambil berseru keras, Mo-kai Nyo Tiang Le lalu mencabut tongkatnya yang tadi diselipkan di ikat pinggang depan. Kemudian ia lalu menotok ke arah leher tosu itu dengan gerak tipu Sian-jin-tit-lou (Dewa Menunjukkan Jalan).

“Bagus!” seru Wi Kong Siansu yang segera mengebut dengan ujung lengan bajunya sebelah kiri, kemudian ia lalu mengibaskan lengan baju kanan ke arah kepala lawannya dengan gerak tipu Burung Elang Menyambar Ayam. Nyo Tiang Le cepat mengelak dan ia lalu memutar tongkatnya dengan hebat sekali. Tongkat pendek itu terputar-putar bagaikan kitiran, berubah menjadi gulungan sinar yang amat kuat dan dapat berkelebatan ujungnya menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan. Inilah ilmu tongkat dari Hoa-san-pai yang lihai sekali, karena setiap serangan dapat mendatangkan maut!

Akan, tetapi Wi Kong Siansu adalah tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan kepandaiannya tinggi sekali. Ia telah tahu akan ilmu tongkat Hoa-san-pai ini, maka biarpun ia tidak menggunakan senjata, kedua ujung lengan bajunya sudah cukup untuk memunahkan semua serangan Nyo Tiang Le. Nampaknya ia hanya menggerakkan kedua ujung lengan baju itu perlahan dan lambat saja, akan tetapi angin gerakannya demikian kuat sehingga tiap kali ujung tongkat Mo-kai menyerang, selalu kena ditolak oleh ujung lengan baju itu.

Setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih belum juga dapat mendesak lawannya yang tangguh, bahkan gulungan sinar tongkatnya makin lemah, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan tubuhnya bergulingan ke atas lantai sambil melakukan penyerangan hebat dan bertubi-tubi dari bawah! Inilah ilmu tongkat Hoa-san-pai yang paling lihai dan disebut gerak tipu Naga Sakti Mempermainkan Mustika!

Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu terkejut juga melihat cara penyerangan yang hebat dan berbahaya ini. Ujung tongkat lawannya menyambar-nyambar dari bawah dibarengi dengan tubuh lawannya yang bergulung-gulung dan mengejarnya ke mana juga ia melompat. Ia telah mengenal ilmu silat ini, akan tetapi oleh karena ilmu meringankan tubuh dari Mo-kai Nyo Tiang Le memang hebat, maka kelihaian penyerangan ini sungguh mengatasi dugaannya! Ketika ia melompat untuk mengelak dari tusukan yang diarahkan kepada pusarnya, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan melompat pula, dengan cara yang amat tak terduga merubah serangannya dengan gerak tipu Monyet Tua Menyambar Bunga, langsung menusukkan tongkatnya ke arah ulu hati tosu itu! Serangan ini amat cepat dan tak terduga sehingga sukar untuk dielakkan lagi. Akan tetapi Wi Kong Siansu benar-benar mengagumkan. Ia amat tenang dan tidak menjadi gugup. Dengan ujung lengan baju sebelah kiri ia menyabet ujung tongkat itu dan lengan baju sebelah kanan untuk menyabet pula sehingga kain ini kini melibat tongkat lawannya. Sekarang dua ujung lengan baju itu telah membelit tongkat, tak dapat dilepaskan lagi. Melihat kesempatan baik ini, dengan girang Nyo Tiang Le lalu menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka ia memukul kepala tosu itu dengan pukulan Soan-hong-jiu yang hebat!

Kalau pukulan ini mengenai kepala tosu itu biarpun ia amat kuat dan lihai, agaknya ia akan mendapat luka di dalam kepala dan nyawanya takkan dapat diselamatkan lagi. Akan tetapi, dengan gerakan yang amat cepatnya, tosu itu menarik kepalanya ke bawah lalu melakukan serangan dengan kepalanya itu, diserudukkan ke arah dada Nyo Tiang Le, di bawah lengan kiri yang memukulnya! Nyo Tiang, Le terkejut sekali, menahan napas dan mengumpulkan lwee-kangnya pada dada untuk menyambut benturan kepala yang tak dapat dielakkan ataupun ditangkis lagi itu.

“Duk…!!” Tubuh Nyo Tiang Le terpental sampal dua tombak lebih, sedangkan Wi Kong Siansu nampak pucat dan terhuyung-huyung. Akan tetapi pada saat itu dapat mengatur napasnya kembali sedangkan Nyo Tiang Le setelah terguling sambil muntah darah merah dari mulut, ternyata juga dapat melompat berdiri lagi! Akan tetapi pada saat itu, dari sebelah kanannya menyambar benda hitam kekuningan ke arah kepalanya. Ia terkejut dan mengelak cepat, akan tetapi terlambat! Terdengar suara “tak!” ketika kepala huncwe di tangan Ban Sai Cinjin mengenai batok kepalanya. Seketika itu juga Nyo Tiang Le merasa kepalanya pening dan matanya gelap. Tiba-tiba ia berbangkis beberapa kali, lalu tertawa bergelak dan ia lalu melompat keluar di dalam gelap, terus melarikan diri!

Ban Sai Cinjin tertawa terbahak-bahak. “Ia telah terluka di dalam otaknya, sekarang ia hanya kehilangan ingatannya saja, akan tetapi tak lama lagi ia akan roboh dan mampus!”

Kam Seng terkejut sekali mendengar ucapan ini dan hatinya merasa ngeri. Sesungguhnya ia tidak mengira bahwa supeknya akan mengalami nasib sehebat itu. Tadinya ia hanya bermaksud untuk melepaskan diri dari Mo-kai Nyo Tiang Le untuk berguru kepada tosu itu dan untuk mendapatkan harapan baru dalam cita-citanya membalas dendam.

Juga Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu menghela napas panjang dengan menyesal. “Sute, mengapa kau menewaskannya? Permusuhan akan menjadi makin hebat.”

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Suheng, pengemis itu terlalu menghina kita, dan orang jahat dan berbahaya seperti dia sudah sepatutnya dilenyapkan agar kelak tidak menimbulkan kepusingan.”

Kam Seng lalu berlutut di depan Wi Kong Siansu dan berkata, “Suhu, betapapun juga, Mo-kai Nyo Tiang Le pernah melepas budi kepada teecu, apakah teecu boleh mengubur jenazahnya?”

Tosu itu nampak girang. “Bagus, Kam Seng. Sikapmu menyenangkan hatiku, karena boleh kuharapkan kesetiaanmu kepadaku kelak. Kaususullah dia, kurasa takkan jauh dari sini kau akan dapat menemukannya.”

Kam Seng lalu melompat keluar dan mengejar ke arah Nyo Tiang Le tadi melompat pergi. Benar saja, di tempat yang tak jauh dari kelenteng itu ia mendapatkan tubuh supeknya itu telah tak bernyawa lagi, rebah di atas tanah dalam keadaan terlentang! Kedua mata pengemis iblis itu terbuka dan di bawah sinar buIan, mata itu seakan-akan memandangnya dengan penuh penyesalan, mulut yang telah biru itu seakan-akan berbisik, “Murid durhaka!” Ia bergidik dan cepat mempergunakan saputangan untuk menutupi muka itu, lalu ia menggali lubang di tanah dekat tempat itu untuk mengubur jenazah supeknya.

Demikianlah, semenjak saat itu, Kam Seng menjadi murid Wi Kong Siansu dan menerima latihan ilmu silat yang tinggi sehingga kepandaiannya maju pesat sekali. Ketika Hok Ti Hwesio, murid Ban Sai Cinjin yang kini telah menjadi seorang hwesio muda yang cakap tiba di kelenteng itu, hwesio muda ini memandang kepada Kam Seng dan berkata,

“Sute, agaknya aku pernah melihat mukamu, entah di mana.”

Kam Seng tersenyum dan menekan debar jantungnya. “Tak bisa jadi, Suheng. Selama hidupku baru sekali ini aku bertemu dengan kau.”

Karena Kam Seng pandai membawa diri dan amat menghormat kepada semua orang sebagai orang baru, ia amat disuka. Selain Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin masih memptinyai seorang murid lain yang usianya baru empat belas tahun, yaitu putera seorang pangeran dari kota raja. Pangeran itu maklum akan kelihaian Ban Sai Cinjin, maka ia lalu memberikan puteranya untuk dididik oleh kakek lihai ini. Anak muda ini datang dua bulan setelah Kam Seng berada di kelenteng itu dan namanya adalah Ong Tek. Sebelum berguru kepada Ban Sai Cinjin, Ong Tek pernah mempelajari ilmu silat dari panglima kerajaan, sehingga ilmu silatnya pun sudah lumayang juga. Kam Seng memberi banyak petunjuk kepada sutenya yang dikasihinya ini, sebaliknya Ong Tek juga memberi pelajaran ilmu surat kepada suhengnya ini. Hubungan mereka amat erat karena dengan lain-lain orang yang berada di situ, terutama dengan Hok Ti Hwesio, kedua anak muda ini kurang merasa cocok.

Dengan amat tekun dan rajin, Kam Seng berlatih ilmu silat dari Suhunya yang baru dan tanpa terasa lagi, setahun telah lewat dengan amat cepatnya.

***

Demikianlah riwayat Kam Seng yang terlihat oleh Lili. Tentu saja Lili merasa terheran-beran melihat betapa Kam Seng dan orang tua yang berjenggot pendek itu ternyata menuju ke kelenteng di mana dulu Kam Seng akan dibelek perutnya oleh hwesio cilik murid Ban Sai Cinjin!

Sebetulnya, Kam Seng baru saja datang dari dusun Tong-sin-bun, ke rumah Ban Sai Cinjin untuk menjemput orang setengah tua yang menjadi utusan dari Parigeren Ong. Utusan ini adalah seorang guru silat yang dulu pernah pula mengajar Ong Tek di kota raja dan kini ia menerima tugas dari Pangeran Ong untuk menengok puteranya serta membawa segala macam barang kiriman berupa pakaian, uang dan lain-lain.

Kedatangan Kam Seng dan guru silat disambut oleh Ong Tek dengan girang sekali. Anak muda ini berlari menghampiri guru silat itu dan sambil memegang tangannya, ia bertanya, “Tan-kauwsu, apakah Ayah dan Ibu baik-baik saja?”

“Baik, Kongcu, semua baik. Taijin dan Hujin hanya berpesan agar supaya Kong-cu belajar dengan rajin di sini.”

Mereka bertiga lalu masuk ke ruang dalam, di mana terdapat Wi Kong Siansu dan Hok Ti Hwesio. Ban Sai Cinjin tidak berada di situ, karena kakek mewah ini lebih banyak bermalam di dusun Tong-sin-bun. Semenjak Wi Kong Siansu tinggal di kelentengnya itu, Ban Sai Cinjin tidak merasa leluasa kalau tinggal bermalam di situ pula. Ia merasa malu kepada suhengnya karena ia memiliki kesukaan yang meniadi pantangan bagi kakak seperguruannya, yaitu misalnya berminum minuman keras, main judi dengan kawan-kawannya, atau bergurau dengan perempuan-perempuan penyanyi.

Mata Lili yang tajam masih dapat mengenal Hok Ti Hwesio sebagai hwesio kecil yang dulu hampir membelek perut Kam Seng, maka makin heranlah ia melihat betapa kini Kam Seng dapat bersahabat dengan hwesio itu! Juga ia heran sekali ketika mendengar Kam Seng menyebut “Suhu” kepada tosu tua yang duduk di situ! Di manakah adanya suhu Sin-kai Lo Sian dan supek Mo-kai Nyo Tiang Le? Demikian dara perkasa ini bertanya seorang diri dengan penuh rasa bingung.

Lili mendengarkan guru silat she Tan itu bercerita tentang keadaan di kota raja dan hatinya berdebar keras ketika guru silat itu berkata,

“Agaknya keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya telah mulai datang dan mengacau pula di sekitar kota raja.”

Tidak hanya Lili yang mengintai dari atas genteng yang tertarik oleh penuturan ini, bahkan semua orang di bawah genteng juga tertarik sekali.

“Seorang pemuda keturunan Pendekar Bodoh atau entah kawan-kawannya karena menurut cerita Kam Thai-ciangkun, penjahat itu pandai ilmu-ilmu silat Pendekar Bodoh, telah mengacau di kota Tatung dan membunuh putera Kepala Daerah Tatung, yaitu Gui Kongcu. Bahkan pemuda jahat itu telah melarikan seorang gadis bangsa Haimi yang tadinya hendak menjadi bini muda Gui Kongcu!”

Kam Seng amat tertarik dan bertanya,

“Tan-kauwsu, siapakah namanya? Dan apakah ia benar-benar putera Pendekar Bodoh? Apakah namanya Hong Beng, Sie Hong Beng?”

Guru silat itu menggeleng kepalanya. “Entahlah, tentang namanya aku tidak tahu. Hanya, menurut penuturan Kam-ciangkun, pemuda jahat itu lihai sekali. Kam-ciangkun sudah terkenal memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia mengaku bahwa pemuda pengacau itu ilmu silatnya benar-benar tinggi, hampir sama dengan Pendekar Bodoh!”

Tentu saja Lili merasa heran dan juga tertegun mendengar cerita ini. Siapakah pemuda itu? Benarkah Hong Beng kakaknya? Boleh jadi, karena ia mendengar dari ayah ibunya bahwa kakaknya itu pun telah meninggalkan perguruan dan kini menuju pulang setelah merantau dulu untuk meluaskan pengalaman.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan ketika Lili memandang ke bawah, ia melihat bahwa yang tertawa itu adalah Hok Ti Hwesio, kepala gundul muda itu. Hok Ti Hwesio tertawa menyeringai dengan sikap menghina dan berkata, “Ha-ha-ha, mengapa orang selalu menyebut-nyebut nama Pendekar Bodoh dan menganggapnya seakan-akan seorang dewata? Mengapa orang agaknya memuji-muji musuh dan memperkecil semangat sendiri? Urusan Pendekar Bodoh, serahkan saja kepadaku, siapa yang takut kepadanya? Tunggulah sampai aku bertemu dengan dia!”

Semua orang tahu bahwa Hok Ti Hwesio ini selain sombong seperti gurunya juga amat lihai. Ia telah mempelajari, tidak saja ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu sihir dan ilmu-ilmu yang aneh dan mujijat. Ia memiliki ilmu kebal yang luar biasa, bukan ilmu kebal yang timbul karena tenaga lwee-kang, akan tetapi ilmu kebal yang dipelajari oleh pengaruh sihir. Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, untuk memperoleh ilmu ini, ia tidak segan-segan untuk makan jantung manusia. Selain itu, ia amat terkenal dengan kepandaiannya melempar dan mainkan pedang kecil atau pisau belati yang disebutnya sendiri “hui-kiam” (pedang terbang). Pedang kecil ini dapat ia lontarkan dengan cepat dan yang aneh, pedang ini dapat mengejar sasarannya dan dapat terbang kembali seakan-akan bersayap. Tentu saja pedang itu tidak dapat terbang sebagaimana nampaknya, melainkan karena kepandaiannya melempar yang terlatih baik dan karena bentuk pedang itu agak bengkok, ditambah dengan pengerahan tenaga yang tepat maka pedang itu seakan-akan dapat terbang kembali.

Ketika Lili mendengar ucapan hwesio muda ini, timbul kemarahannya. Hampir saja ia melompat turun untuk mengamuk dan menampar mulut hwesio yang menantang-nantang ayahnya itu, akan tetapi ia teringat akan nasihat ayahnya yang berkata, “Lili, kelemahan yang paling membahayakan diri kita sendiri, adalah rasa takut dan nafsu marah. Kalau kau takut dan marah, maka kau takkan dapat berlaku tenang dan mutu permainan silat akan menjadi turun serta keadaan menjadi lemah sekali. Oleh karena itu, baik dalam keadaan bagaimana juga kau harus dapat menguasai hatimu, dan dapat membebaskan diri dari rasa takut dan nafsu marah.”

Aku tidak boleh marah, pikirnya dan setelah dengan susah ia dapat menekan hawa amarah yang mengalun di dalam dadanya, Lili lalu memandang kembali ke bawah. Ia mendengar Tan-kauwsu masih banyak menceritakan keadaan kota raja dan melihat kepala Hok Ti Hwesio yang gundul plontos dan mengkilap tertimpa sinar tujuh batang lilin yang dipasang di atas meja, timbullah keinginan di hati Lili untuk mempermainkannya. Memang gadis ini mempunyai watak seperti ibunya, jenaka, nakal dan suka mempermainkan orang yang dibencinya.

Di atas genteng itu terdapat banyak tanah lumpur yang terjadi dari debu dan air hujan. Ia lalu menggaruk lumpur ini dari celah-celah genteng dan membuat beberapa butir pel lumpur sebesar kacang.

Lili bekerja dengan hati-hati sekali sehingga tidak menimbulkan suara sama sekali, kemudian ia meletakkan sebutir pel lumpur atau tanah liat itu di atas telapak tangan kiri, lalu menggerakkan jari tengah dan ibu jari kanan untuk menendang atau menyelentik pel itu ke bawah. Ia tidak berani menggunakan tangan menyambit karena kalau ia lakukan hal ini, tentu angin tenaga sambitannya akan terdengar dari bawah oleh telinga orang-orang yang berkepandaian tinggi itu. Ketika pel tanah liat itu terkena tendangan jari tengah, benda kecil ini meluncur turun dengan amat cepat menuju ke arah kepala Hok Ti Hwesio yang gundul licin dan mengkilap.

“Plok!” Pel tanah liat itu dengan tepat sekali mengenai kepala Hok Ti Hwesio dan menjadi gepeng serta melengket di kulit kepalanya! Akan tetapi tubuh hwesio muda itu tidak bergerak sedikit pun juga, seakan-akan serangan ini tidak terasa olehnya. Hal ini amat mengejutkan hati Lili, oleh karena ia maklum bahwa tenaga selentikannya ini cukup untuk membuat tanah liat itu melubangi batang pohon! Demikian keraskah batok kepala hwesio itu?

Sebaliknya, Hok Ti Hwesio juga terkejut sekali. Ia tidak merasa terlalu sakit, akan tetapi cukup merasa pedas kulit kepalanya. Yang membuat ia amat terkejut adalah kelihaian serangan ini. Mengapa ia tidak mendengarnya sama sekali? Bagaimana orang dapat menyambit sesuatu tanpa mengeluarkan suara? Dan lagi, kalau memang betul yang menyambitnya seorang manusia yang berada di atas genteng, mengapa ia dan yang lain-lain tidak mendengarnya? Mungkin pendengaran telinganya kurang tajam, akan tetapi Wi Kong Siansu tentu akan mendengarnya!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: