Pendekar Remaja ~ Jilid 12

Maka ia lalu meraba kepalanya dan mengira bahwa yang jatuh di atas kepalanya itu hanya tai cecak yang kebetulan jatuh di atas kepalanya. Juga Kam Seng dan Wi Kong Siansu mendengar suara “plok” tadi, akan tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu hanya mengira bahwa itu adalah suara buah busuk yang jatuh di atas tanah di luar kelenteng.

Benda hitam kecil ke dua meluncur cepat, disusul dengan yang ke tiga dan ke empat. Tiba-tiba Hok Ti Hwesio berseru keras dan mencabut pisau belatinya dengan marah sekali. Kali ini ia merasa sakit sekali pada hidung dan kedua telinganya. Dengan tepat sekali tiga pel tanah liat kecil itu menghantam hidung dan kedua daun telinganya. Tak salah lagi, ini tentu perbuatan seorang manusia. Tak mungkin binatang cecak bisa melempar tai demikian kebetulan!

“Bangsat rendah, kalau kau memang berani, turunlah!” bentaknya sambil mendongakkan kepalanya memandang ke arah genteng. Akan tetapi malang baginya, karena ia berseru sambil menengadah sebutir pel tanah liat yang tidak kelihatan dan tidak terdengar menyambarnya, tahu-tahu telah memasuki mulutnya dan tak tertahan pula terus masuk ke tenggorokan turun ke perut!

“Kurang ajar! Keparat!!” Hok Ti Hwesio menggerakkan tubuhnya dan dengan cepat ia telah melompat keluar dan langsung naik ke genteng, sedangkan Wi Kong Siansu, Kam Seng, Tan-kauwsu dan Ong Tek memandang kelakuan hwesio itu dengan heran.

Ketika tiba di atas genteng, Hok Ti Hwesio memandang ke sana ke mari akan tetapi ia tidak melihat bayangan seekor kucing pun di atas genteng. Dengan mendongkol dan juga heran sekali ia melompat turun dan kembali ke dalam ruang itu. Ia berpikir bahwa kalau memang benar ada orang mengganggunya, tentu orang itu melakukan hal itu karena marah mendengar ia tadi menantang Pendekar Bodoh, maka dengan suara keras ia berkata,

“Kalau yang datang tadi Pendekar Bodoh atau konco-konconya, maka ternyata bahwa Pendekar Bodoh dan konco-konconya hanyalah pengecut-pengecut besar yang berani menyerang dengan sembunyi! Kalau ia berani turun ke sini, dalam beberapa jurus saja tentu pisauku ini akan menembus lehernya!”

Baru saja ucapannya habis, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari atas, “Bangsat gundul bermulut besar!” Berbareng dengan bentakan itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di ruangan itu telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali.

Semua orang terkejut melihat gadis ini, karena bagaimanakah seorang dara muda remaja memiliki gin-kang yang sedemikian tingginya sehingga kedatangannya sampai tidak terdengar sama sekali?

Yang lebih terkejut adalah Kam Seng, karena sekali memandang saja ia mengenal gadis ini sebagai Lili!

“Lili…!” ia berseru perlahan dengan mata terbelalak. Kalau orang melihat sinar matanya, di situ akan terbayang kasih sayang yang besar, tercampur kebencian yang mengejutkan. Memang, semenjak dahulu ketika tertolong oleh Sinkai Lo Sian, Kam Seng merasa kagum dan suka sekali kepada Lili. Ia kagum akan kecantikan dan kejenakaan gadis ini, sehingga dulu seringkali ia diam-diam memandang kepada gadis itu dengan pikiran melamun. Akan tetapi, di samping rasa kasih sayangnya ini, ia mangandung kebencian hebat sekali mengingat bahwa dara jelita ini adalah puteri dari musuh besarnya, Pendekar Bodoh!

Seruan perlahan ini terdengar juga oleh Lili, maka ia menengok dan tersenyum manis. “Kukira tadi bukan Kam Seng yang berada di sini, akan tetapi ternyata benar-benar kau! Mengapa kau berada di sini? Di manakah Suhu dan Supek?” tanyanya sambil memandang tajam. Sinar matanya berkelebat seakan-akan menembus dada Kam Seng sehingga pemuda itu merasa tak enak hati sekali dan mukanya berubah merah.

Sementara itu, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain juga sudah bangkit dari tempat duduknya, dan Hok Ti Hwesio bertanya kepada Kam Seng,

“Sute, siapakah perempuan ini?”

Tiba-tiba timbul sebuah pikiran yang baik dalam otak Kam Seng. Ia memang mempunyai perasaan tidak suka kepada Hok Ti Hwesio yang kini menjadi suhengnya, dan ia ingin mengadu hwesio ini dengan Lili agar dengan demikian ia dapat mengadukan dua orang yang termasuk dalam daftar musuhnya.

“Suheng, kau tadi mencari Pendekar Bodoh. Nah, inilah puterinya yang bernama Sie Hong Li atau Lili!”

Lili makin terheran mendengar ucapan Kam Seng ini. “Dan Si Gundul ini kalau tidak salah tentulah si tukang membelek perut, bukan? Apakah dia sekarang menjadi suhengmu, Kam Seng?”

Makin merahlah muka Kam Seng mendengar hal ini. “Lili…” katanya perlahan. “Sekarang tidak ada hubungan antara kau dan aku lagi, aku… aku sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, yaitu suhuku yang baru ini!”

Lili tersenyum mengejek. “Siapa bilang bahwa kau dan aku pernah ada hubungan? Dari dulu pun kita tidak mempunyai hubungan sesuatu!”

Sementara itu, Hok Ti Hwesio tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Bagus, hendak kulihat sampai di mana kelihaian anak dari Pendekar Bodoh!” Sambil berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pisau belatinya, menusuk ke arah dada Lili yang berdiri dengan tenang. Melihat tusukan ini, Lili tertawa mengejek dan sambil mengelak gesit ia mentertawakan hwesio itu.

“Tukang sembelih babi! Bagaimana kau berani berlagak di depan nonamu?? Apakah kau masih ingin merasai pel tanah liat lagi? Masih kurang kenyangkah yang tadi itu?” Sambil berkata demikian, tangan Lili terayun dan ia melemparkan dua butir pel lagi yang masih dipegangnya. Dengan cepat sekali dua butir pel itu menyambar ke arah sepasang mata Hok Ti Hwesio!

Bukan main kagetnya Si Kepala Gundul ini, ketika melihat dua titik hitam berkelebat menyambar matanya. Ia cepat menundukkan mukanya, akan tetapi serangan dua butir pel tanah liat itu benar-benar cepat sekali.

“Tak! Tak!” Bagaikan dua buah pelor besi, dua butir pel tanah liat itu melesat di atas kepalanya yang gundul, sungguhpun tak dapat melukai kulitnya yang kebal, namun cukup mendatangkan rasa sakit!

“Perempuan liar, kau harus mampus!” serunya marah dan ia lalu maju lagi menyerang dengan cepat, menggunakan gerak tipu yang disebut Coan-jiu-ciongkiam (Lonjorkan Lengan Sembunyikan Pedang). Gerakan ini merupakan serangan yang berbahaya sekali, karena ia melakukan serangan dengan pukulan tangan kanan sambil menyembunyikan pedang kecil itu di bawah lengannya. Pedang kecil ini siap untuk diputar dan ditusukkan apabila pukulan itu dapat dielakkan lawan.

Akan tetapi, Lili yang sudah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari ayah ibunya, bahkan sudah menerima ilmu silat warisan dari Swie Kiat Siansu yang diturunkan melalui ayahnya, tentu saja hanya mentertawakan serangan ini. Ia maklum bahwa pedang kecil yang tersembunyi di bawah lengan itu akan melakukan serangan lanjutan, maka ia lalu memutar kedudukan kakinya, mengelak sambil mainkan Ilmu Silat Sianli Utauw (Tari Bidadari) yang indah sehingga tubuhnya seakan-akan sedang menari-nari menghadapi serangan lawannya. Mulutnya yang kecil manis itu tiada hentinya tersenyum dan sambil menggerakkan tubuh mengerling tajam ke arah lawannya, ia menyindir,

“Tikus gundul! Tiada guna kau maju memperlihatkan kebodohanmu! Suruhlah Bouw Hun Ti si keparat itu keluar untuk kuambil kepalanya!”

Hok Ti Hwesio makin marah, apalagi ketika ia mendengar Wi Kong Siansu berkata sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu,

“Itulah Ilmu Silat Sianli Utauw yang lihai dari Ang I Niocu! Hok Ti, kau mundurlah karena kau takkan menang menghadapi Nona ini!”

Hanya seorang saja di dunia ini yang ditakuti dan ditaati oleh Hok Ti Hwesio, yaitu gurunya, Ban Sai Cinjin. Biarpun ia menghormati supeknya ini, namun di dalam kemarahan dan rasa penasarannya terhadap Lili ucapan supeknya itu bahkan menambah kemarahannya.

“Biarlah, Supek. Masa teecu tidak dapat mengalahkan perempuan liar ini?” Ia lalu maju lagi dan kini mengirim serangan maut bertubi-tubi. Pisau belati di tangannya menyambar-nyambar cepat sekali dan karena gin-kangnya memang sudah tinggi, sedangkan pisau itu kecil dan ringan, ditambah tenaga lwee-kangnya yang sudah baik, maka tubuhnya lenyap berubah menjadi segunduk bayangan yang mengurung tubuh Lili dari segenap jurusan.

Lili sudah mempelajari ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan biarpun belum sempurna seperti ayahnya, namun dara jelita yang gagah perkasa ini sudah mengerti pula tentang dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, maka dengan enaknya ia menghadapi serangan-serangan Hok Ti Hwesio.

Ia melihat hwesio itu menyerangnya dengan gerak tipu Tiang-ging-king-thian (Pelangi Panjang Melengkung di Langit) dan pedang kecil itu menyambar di atas kepalanya, sedangkan kaki kanan hwesio itu menendang dengan cepatnya sambil mengerahkan tenaga Kim-kong-twi (Tendangan Sinar Emas). Melihat gerakan pedang dan kaki yang menendang, Lili dapat menduga bahwa lawannya tentu memancingnya untuk mengetakkan tendangan itu dengan gerak lompat Kim-le-coan-po (Ikan Gabus Terjang Ombak) atau Cian-liong-seng-thian (Naga Sakti Naik ke Langit) agar tubuhnya naik ke atas sehingga pedang kecil yang berkelebat di atas kepalanya itu dapat menyerangnya dengan gerak tipu Liong-ting-thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga).

Ia maklum pula akan berbahayanya serangan beruntun ini, akan tetapi dasar Lili memang berhati tabah, berwatak nakal jenaka, dan sudah memiliki perhitungan yang tepat maka dengan sengaja seakan-akan tidak tahu bahaya, ia segera melompat ke atas mengelakkan serangan tendangan lawan dengan Ilmu Lompat Cian-liong-seng-thian!

Hok Ti Hwesio menjadi girang sekali melihat pancingannya berhasil dan benar saja, seperti yang sudah diduga oleh Lili, pedang kecil di tangannya lalu menyambar dari atas, memapaki kepala Lili dengan gerakan Liong-ting-thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga)! Satu hal yang tidak terduga oleh Lili, yaitu sambil melakukan serangan berbahaya ini, tangan kiri Hok Ti Hwesio tidak tinggal diam dan maju memukul ke arah dada gadis itu dengan pukulan yang mengandung tenaga Thiat-ciang-kang (Pukulan Tangan Besi)!

Kam Seng yang melihat bahaya mengancam gadis cantik yang diam-diam menjatuhkan cinta kasihnya itu, hampir saja berseru ngeri karena bagaimanakah orang dapat menghindarkan diri dari bahaya serangan sehebat itu?

Akan tetapi Lili berlaku tenang. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas dan menggerakkan tangannya itu secara luar biasa sekali ke arah pedang lawan sehingga terdengar suara “cring…!!” dan ternyata ia telah berhasil menangkis pedang lawannya itu dengan gelang emas yang melingkar di pergelangan tangan kirinya! Adapun pukulan ke arah dadanya itu ia sambut dengan tangan kanannya, dengan telapak tangan dari jari-jari yang dikembangkan!

“Ah… tangan kanan itu sudah terang mainkan Pek-in-hoatsut akan tetapi tangan kiri itu… apakah itu yang disebut Kong-ciak Sinna, ilmu-ilmu lihai dari Bu Pun Su?” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum.

Akan tetapi, orang lain tidak memperhatikan ucapan ini karena memang lebih tertarik melihat akibat dari dua gerakan gadis yang lihai itu. Hok Ti Hwesio tadi merasa kaget setengah mati ketika menyaksikan betapa gadis muda itu dapat menangkis pedangnya hanya dengan gelang di tangannya! Akan tetapi kekagetannya itu tidak berarti apabila dibandingkan dengan kenyataan yang ia hadapi ketika pukulan tangan kirinya bertumbuk dengan telapak tangan gadis itu! Ia tidak merasa bahwa kepalan tangannya sudah bertemu dengan telapak tangan kanan lawannya, akan tetapi dari telapak tangan itu mengebul uap putih dan ia merasa lengan kirinya seakan-akan hendak patah! Rasa sakit menusuk-nusuk tulang lengannya yang kiri, dan ia tahu bahwa itu adalah akibat membaliknya tenaga pukulannya sendiri!

Sambil berseru keras hwesio ini melompat ke belakang dan cepat menggunakan gagang pedangnya untuk menotok urat lengan kirinya dan dengan cara demikian ia membuyarkan tenaga sendiri yang membalik karena tangkisan gadis secara istimewa tadi!

“Perempuan liar! Jangan lari!” teriak Hok Ti Hwesio dengan keras dan marah, suatu sikap untuk menutup rasa malunya dan untuk memperbesar semangatnya. Ia menubruk maju lagi dan kini ia bersilat lebih hati-hati. Diam-diam ia merasa penasaran dan sedih sekali sehingga ingin sekali ia menangis berkaok-kaok saking jengkelnya. Bagaimanakah dia, Hok Ti Hwesio, murid Ban Sai Cinjin, yang semenjak masih kecil dengan rajin dan tekunnya mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, bahkan telah memiliki kekebalan dan ilmu kesaktian yang berdasarkan ilmu hitam, sudah “bertapa” mencari kesaktian dari mahluk halus, bermalam di tanah pekuburan, kini dengan pedang di tangan tidak berdaya menghadapi seorang gadis yang bertangan kosong? Saking jengkelnya, ia tidak ingat lagi akan pengalamannya yang tadi. Kalau Hok Ti Hwesio tidak begitu jengkel dan penasaran, tentu telah terbuka matanya bahwa ia menghadapi seorang lawan yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripadanya.

“Hemm, tikus gundul! Binatang rendah macam kau inikah yang hendak melawan ayah? Ha, kau perlu diberi rasa sedikit!” Setelah berkata demikian, Lili mengubah caranya bersilat dan kini ia mainkan Sianli Utauw bagian yang paling cepat. Tubuhnya seakan-akan lenyap berubah menjadi sinar kemerahan dari bajunya yang berkembang merah itu, dan pandangan mata Hok Ti Hwesio menjadi pening. Seringkali ia menyaksikan gurunya atau supeknya bersilat dengan hebat, akan tetapi belum pernah melihat yang secepat ini. Ia lalu mengamuk dan menggunakan pedang kecilnya menyambar ke arah bayangan tubuh lawannya, akan tetapi tiap kali pedangnya menyerang, ia merasa hanya mengenai angin saja karena lawannya sudah dapat mengelak lebih dulu. Dan sebagai imbangannya, terdengar suara “tok!” karena kepalanya telah kena diketok oleh jari tangan Lili.

Beberapa puluh jurus mereka bertempur dan entah sudah beberapa belas kali terdengar suara “tak-tok! tak-tok!” karena selalu tangan atau kaki Lili berkenalan dengan kepala yang gundul klimis itu. Gadis ini benar-benar merasa kagum dan heran. Ketokan, pukulan, dan tendangannya itu dilakukan dengan tenaga lwee-kang yang penuh dan kuat sekali, jangankan baru kepala orang, biarpun kepala patung batu akan pecah atau retak terkena serangan ini. Bagaimanakah hwesio ini dapat menerima semua pukulan itu dengan adem saja, seakan-akan yang hinggap di kepalanya hanyalah lalat-lalat belaka?

Sebaliknya, Hok Ti Hwesio menjadi demikian mendongkol, malu, penasaran dan marah sehingga tak terasa lagi dari kedua matanya keluar dua titik air mata yang besar-besar! Bukan main gemasnya karena kepalanya dibuat main bola oleh gadis ini, dan biarpun ia dapat menahan pukulan itu, namun tetap saja ia merasa sedikit puyeng!

Wi Kong Siansu khawatir kalau-kalau murid keponakan ini akan mendapat luka di dalam otaknya akibat pukulan-pukulan lihai itu, maka ia segera membentak, “Hok Ti! Mundur kau…!”

Kali ini Hok Ti Hwesio tidak membangkang, karena di dalam suara supeknya terdengar perintah yang amat keras. Pula, tadinya ia ingin mengadu nyawa karena merasa malu mengundurkan diri mengaku kalah setelah ia tadi bersumbar, kini ia melihat kesempatan baik karena supeknya yang memerintahnya mundur! Dengan gerak lompatan Naga Hitam Berjungkir Balik ia melompat ke belakang, membuat poksai (salto) tiga kali dan tiba-tiba ketika tubuhnya masih berjumpalitan itu, pisau belati yang berada di tangannya telah ia lontarkan ke arah Lili!

Inilah keistimewaan Hok Ti Hwesio. Pedang kecil atau pisau belati itu menyambar dengan cepatnya, merupakan sinar putih yang mengkilap menuju ke arah leher Lili yang sama sekali tidak menyangkanya. Akan tetapi, dengan tenang sekali dan masih tersenyum, Lili mengangkat tangan kiri ke depan leher dan dengan gerak tipu Kwan-im-siu-koai-to (Dewi Kwan Im Menyambut Golok Siluman) ia telah dapat menangkap hui-kiam (pedang terbang) itu dan berbareng pada saat itu juga, ia mengirim pulang pedang itu dengan melontarkannya ke arah perut Hok Ti Hwesio disusul suara ejekannya,

“Nah, makanlah pisau penyembelih babimu ini!”

Baru saja tubuh Hok Ti Hwesio melompat turun, pisaunya telah terbang menyambar perutnya yang kecil karena jarang makan itu. Ia terkejut sekali dan tidak sempat mengelak atau menangkis, maka ia lalu mengerahkan kekebalannya ke tempat yang terserang itu dan “bret!” hanya pakaiannya sajalah yang terobek oleh pisau itu, akan tetapi kulitnya lecet pun tidak!

“Terlalu enak bagimu!” Lili berseru penasaran dan sambil melangkah maju dua tindak, ia melancarkan pukulan Pek-in-hoatsut ke arah hwesio itu dengan kedua lengannya!

“Celaka!” seru Wi Kong Siansu dan tosu ini dari tempatnya lalu menggerakkan ujung kedua lengan bajunya menangkis serangan angin pukulan yang dilancarkan oleh Lili ini. Akan tetapi, masih tetap saja sebagian tenaga pukulan ini menyerang Hok Ti Hwesio sehingga hwesio itu terpental menubruk dinding di belakangnya yang terpisah tiga tombak lebih dari padanya! Kalau saja pukulan ini tidak tertahan oleh angin tangkisan Wi Kong Siansu tak dapat diharapkan Hok Ti Hwesio akan dapat bernapas lagi. Biarpun ia kebal, akan tetapi pukulan Pek-in-hoatsut menembus semua kekebalan dan merusak tubuh bagian dalam. Kini Hok Ti Hwesio juga terluka, akan tetapi tidak parah dan tidak membahayakan jiwanya, namun cukup membuat ia duduk mengeluh panjang pendek dan berusaha mengerahkan tenaga dalam untuk memulihkan lukanya.

“Ganas, ganas…!” kata Wi Kong Siansu sambil memandang kepada Lili. “Tak kusangka bahwa Pek-in-hoatsut dari Bu Pun Su yang budiman dan penuh hati welas asih itu kini dipergunakan oleh cucu muridnya secara demikian kejam!”

Lili tersenyum manis dan menjura kepada Wi Kong Siansu, lalu berkata, “Wi Kong Siansu, aku yang muda sudah seringkali mendengar namamu yang besar sebagai seorang yang berkepandaian tinggi. Ucapanmu tadi memang kuakui ada benarnya akan tetapi agaknya kau orang tua telah menjadi pikun dan lupa akan ejekan orang-orang jaman dahulu yang berbunyi : peluh orang lain berbau busuk, akan tetapi kotoran sendiri berbau sedap! Tadi mudah saja kau mencela aku yang muda, bahkan membawa nama Sucouw Bu Pun Su. Akan tetapi, bukankah tikus gundul itu murid keponakanmu sendiri? Mengapa kau tidak mencelanya sama sekali? Apakah kauanggap bahwa perbuatannya terhadap aku tadi cukup pantas?”

Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. Ia tidak tahu bahwa Lili memang semenjak kecil gemar berkelahi dan karena seringkali bertengkar, maka ia menjadi pandai berdebat! Apalagi karena ia seringkali mendengar ayahnya memberi nasihat dengan segala macam ujar-ujar kuno, maka ujar-ujar yang kiranya dapat ia pergunakan untuk “memukul” lawan, telah hafal di dalam kepalanya.

Dengan kata-katanya yang lantang itu, gadis ini sama sekali tidak memandang muka Wi Kong Siansu sehingga tosu itu menjadi penasaran sekali. Ia merasa ditantang!

“Hemm, Nona muda, biarpun kau puteri Pendekar Bodoh, tak selayaknya kau bersikap begini sombong di hadapan Toat-beng Lo-mo! Agaknya ayahmu hanya memberi didikan ilmu silat saja kepadamu, sama sekali tidak memberi pelajaran tentang tata susila dan sopan santun!”

Kembali Lili tersenyum lebih manis lagi. Makin manis senyum gadis ini makin berbahayalah dia, karena itu adalah tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya dan berada dalam keadaan yang amat waspada.

“Totiang, orang-orang dahulu yang lebih tua daripadamu telah menyatakan bahwa manusia dihormat oleh sesamanya bukan karena keputihan rambutnya (usia tua), melainkan karena keputihan hatinya (budiman).”

Mulai bersinar pandang mata Wi Kong Siansu. “Bocah lancang mulut! Apakah kau mau menyatakan bahwa kauanggap aku seorang jahat?”

“Tidak ada sangka-menyangka dalam hal ini, Totiang,” kata Lili sambil mengerling ke arah Kam Seng dengan pandangan mengejek. “Ayah pernah berkata bahwa burung gagak hanya akan berkawan dengan mayat, sedangkan burung Hong hanya berkawan dengan burung sorga! Aku tidak berani menyatakan atau menyangka bahwa Totiang dan orang-orang lain jahat pula, akan tetapi aku berani menyatakan bahwa orang-orang yang bernama Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio yang keduanya tinggal di tempat ini juga adalah binatang-binatang rendah yang harus dimusnakan dari muka bumi ini!”

Ucapan ini terasa bagaikan tamparan pedas di muka Wi Kong Siansu, akan tetapi terhadap Kam Seng merupakan ujung pedang yang menikam di ulu hatinya. Mukanya yang tadi merah sekarang berubah menjadi pucat.

Wi Kong Siansu berkata lagi, “Hemm, kau masih kanak-kanak akan tetapi mulutmu jahat sekali. Sikapmu menantang padaku, akan tetapi aku masih malu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti kau. Kam Seng, kauwakili aku dan coba kau uji kepandaian Nona ini!”

Kam Seng tak berani membantah. Gurunya sudah tahu bahwa sebelum ia datang di tempat itu, ia adalah suheng dari gadis ini, maka kalau sekarang ia memperlihatkan sikap ragu-ragu dan membantah, tentu gurunya akan menaruh hati curiga kepadanya. Pula, Lili adalah anak dari musuh besarnya yang harus pula ia balas, sungguhpun cara membalas dendam terhadap Lili telah ada rencana lain dalam otaknya! Ia amat sayang kalau nona yang begini cantik manis sampai terbinasa. Akan lebih baik kalau ia dapat mengambil nona ini menjadi isterinya! Bukan karena cinta kasih murni, akan tetapi hanya untuk mempermainkan anak musuh besarnya!

Sambil menekan debar jantungnya, Kam Seng melangkah maju dan mencabut pedangnya.

“Lili,” katanya dengan suara tenang, “kau telah berani menghina Suhu. Cabutlah pedangmu itu dan mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat apakah kepandaianmu sesuai dengan kesombonganmu ini!”

Lili tidak menjawab, bahkan lalu menatap pemuda itu dan memandang dengan penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki. Ia melihat pemuda ini sekarang nampak tampan dan gagah, mukanya putih terawat, rambutnya tersisir rapi dan diikat ke atas. Pakaiannya bersih dan terbuat dari sutera mahal, baju warna merah dengan leher kuning emas dan celana warna biru. Alangkah jauh bedanya dengan Kam Seng yang dulu itu! Dulu hanya seorang pengemis kelaparan dan kurus kering, berpakaian compang-camping dan kotor.

“Hemm, Kam Seng, kau benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat! Pakaianmu semewah keadaan dalam ruangan ini! Hanya sayangnya, tidak semua keadaan di luar mencerminkan keadaan di dalam! Banyak kutemui keindahan luar yang hanya menjadi kedok daripada kebobrokan di sebelah dalam!” Suara ini dikeluarkan dengan bibir masih tersenyum simpul, seakan-akan ia adalah seorang dewasa yang memberi nasihat kepada seorang anak kecil.

“Sudahlah, Lili, jangan banyak cakap lagi,” jawab Kam Seng dengan muka kemerah-merahan. “Tidak ada gunanya bertanding kata-kata, cabutlah pedangmu!”

“Lagakmu seperti orang gagah saja!” Lili masih menyindir dan dengan gerakan perlahan ia mengeluarkan sebuah kipas dari dalam bajunya, membuka kipas itu lalu mengipasi tubuhnya yang tidak gerah!

Bagi pandangan orang lain dan juga Kam Seng, agaknya sikap Lili ini memandang rendah sekali kepada lawannya. Bahkan Kam Seng tidak mengira bahwa gadis itu akan menghadapinya dengan kipas di tangan!

“Lili lekas kau keluarkan pedangmu aku tidak mau menyerang orang bertangan kosong!” Ucapan ini sengaja dikeluarkan dengan keras untuk memberi tamparan kepada Hok Ti Hwesio yang dibencinya.

Akan tetapi, Lili hanya tersenyum dan mengipasi tubuhnya makin cepat lagi. “Untuk menghadapi seekor lalat, cukup dengan sehelai kipas!” katanya.

Tidak seperti Kam Seng dan orang-orang lain, Wi Kong Siansu memandang kepada kipas di tangan Lili itu dengan penuh perhatian. Bukan kipasnya yang menarik perhatiannya, melainkan cara jari tangan gadis itu memegang kipas itu. Orang lain kalau memegang kipas tentu gagangnya digenggam di telapak tangan di antara empat jari dan ibu jari. Akan tetapi Lili memegang kipas itu dengan gagang dijepit antara ibu jari dan telunjuk, sedangkan tiga jari tangan yang lain lurus dan tegang! Berdebarlah dada tosu ini karena pegangan ini mengingatkan ia akan jago tua di utara, yaitu Swie Kiat Siansu, ahli Kipas Maut! Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya. Bagaimana gadis ini bisa menjadi murid Swie Kiat Siansu?

“Kam Seng, jangan pandang ringan kipas itu, kau seranglah!” katanya kepada muridnya.

Lili diam-diam memuji ketajaman mata tosu itu, sedangkan Kam Seng menjadi terkejut dan memperhatikan kipas di tangan Lili. Kipas itu gagangnya berwarna putih kekuningan seperti tulang. Ia dapat menduga bahwa kalau kipas ini dipergunakan sebagai senjata, tentu gagang kipas itu terbuat daripada gading yang keras. Layar atau permukaan kipas entah terbuat dari apa, kekuningan pula akan tetapi telah digambari gunung dan sungai dan ditulisi syair pula. Ia masih merasa ragu-ragu. Bagaimanakah kipas sekecil itu akan dipergunakan sebagai senjata?

Akan tetapi karena suhunya telah menyuruhnya menyerang, ia lalu bergerak maju. “Awas pedang!” teriaknya dan menyeranglah dia dengan gerak tipu Liu-seng-kan-goat (Bintang Mengejar Bulan), sebuah gerak tipu serangan yang cukup berbahaya. Bagaikan sebuah bintang, ujung pedang itu bergerak secara berantai dan dapat mengejar terus kemana saja sasarannya bergerak. Kini yang dijadikan sasaran oleh pedangnya adalah pundak kanan Lili. Dengan memilih sasaran pundak kanan, Kam Seng hendak menyatakan bahwa dia tidak berniat jahat atau menewaskan gadis itu. Dengan menyerang pundak, maka ia memberi banyak kesempatan kepada Lili untuk mengelak.

Akan tetapi, ternyata Lili sama sekali tidak mengelak, bahkan menanti datangnya serangan ini dengan senyum mengejek. Kam Seng terkejut sekali. Betapapun juga, tidak bisa membatalkan serangannya karena hal ini akan membikin marah suhunya dan biarpun hanya pundak, kalau terkena pedangnya tentu akan terluka hebat juga! Serangannya ini amat cepat dan dilakukan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya.

Ketika ujung pedang Kam Seng sudah berada dekat sekali dengan baju Lili yang menutup pundak, tiba-tiba gadis itu yang masih saja mengipasi tubuhnya dengan kipas lalu mengubah gerakan kipasnya dan kini ia mengebut ke arah pedang Kam Seng yang ujungnya sudah mendekati pundaknya. Kam Seng hampir mengeluarkan seruan keras saking kagetnya. Gerakan sederhana dengan kipas di tangan luar biasa sekali dibarengi penyerangan luar biasa sekali. Sekaligus kipas itu telah melakukan tiga gerakan yang luar biasa. Muka kipas menangkis ujung pedang, kebutannya mendatangkan angin yang menyambar mukanya sehingga membuat ia tak dapat membuka mata, dan gagang kipas dari gading itu cepat sekali melakukan totokan berbahaya ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang!

“Lihai sekali…!” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum. “Aku berani bertaruh bahwa ini tentulah Ilmu Kipas Maut dari Swie Kiat Siansu!”

Sementara itu Kam Seng yang lincah gerakannya telah dapat melompat mundur dan mukanya menjadi pucat. Karena tadi memandang rendah hampir ia terkena totokan dalam segebrakan saja. Sedangkan Lili makin kagum mendengar ucapan Wi Kong Siansu yang ternyata dapat mengenal ilmu silatnya demikian cepatnya.

Kam Seng berlaku hati-hati dan kini ia tidak berlaku seji (sungkan) lagi. Ia mengerahkan kepandaiannya dan menyerang dengan cepat, mempergunakan Ilmu Pedang Hek-kwi-kiamsut, yaitu ilmu pedang ciptaan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang amat ganas dan selain kuat juga amat cepat gerakannya.

Diam-diam Lili kagum juga melihat ilmu pedang ini. Sayang ia telah berkumpul dengan orang-orang jahat, pikirnya, kalau ia terus terdidik oleh orang baik-baik, tentu ilmu sitatnya akan amat berguna. Sama sekali Lili tidak tahu bahwa sesungguhnya dasar ilmu silat Kam Seng ia dapat dari pendidikan Mo-kai Nyo Tiang Le. Hanya ilmu pedangnya ini memang pelajaran dari Wi Kong Siansu. Agaknya pemuda ini merasa malu untuk mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Nyo Tiang Le guna menghadapi gadis ini.

Lili maklum bahwa ilmu kepandaian Kam Seng lebih baik dan lebih berbahaya daripada Hok Ti Hwesio. Perbedaan yang amat mencolok antara kedua orang ini ialah bahwa Hok Ti Hwesio mendasarkan kepandaiannya untuk daya tahan, tubuhnya kebal, pertahanannya kuat, bahkan batok kepalanya pun dapat menahan pukulan maut. Sebaliknya, Kam Seng mendasarkan kepandaiannya pada daya serang. Serangannya berbahaya dan cepat, tidak memberi banyak kesempatan kepada lawan. Akan tetapi, daya tahannya tidak sekuat Hok Ti Hwesio.

Ilmu Kipas Maut yang ia warisi dari Swie Kiat Siansu adalah semacam ilmu silat yang luar biasa sekali, dan disebut ilmu silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air). Kipas yang dulu dipergunakan oleh Swie Kiat Siansu adalah kipas yang layarnya terbuat daripada kulit harimau, akan tetapi sebagai seorang gadis, Lili tidak suka mempergunakan kipas yang buruk rupa. Ia sengaja membuat kipas yang kecil dan indah bentuknya, dengan layar dari kain tebal yang dilukisi dan ditulisi syair. Dengan demkian, kipasnya ini tidak saja dapat dipergunakan untuk senjata, akan tetapi juga dapat dipakai untuk pemantas dan untuk mencari angin sejuk. Lukisan di atas kipasnya ini indah sekali dan syairnya ditulis sendiri oleh ayahnya, maka Lili merasa sayang sekali kepada kipas ini. Dalam perkelahian menghadapi lawan, baru kali ini ia mempergunakan kipas ini, maka ia berlaku amat hati-hati agar jangan sampai lukisan pada kipas itu menjadi rusak. Maka ia lalu menutup kipasnya, dan hanya menggunakan gagangnya saja untuk menghadapi Kam Seng.

Hal ini tidak saja memperlambat kemenangannya, bahkan membuat ia sukar sekali menjatuhkan lawannya. Kalau kipas itu dibuka, maka senjata istimewa ini menjadi tiga kali lipat lebih berbahaya, karena gagangnya berubah menjadi dua di kanan kiri yang keduanya dapat dipergunakan untuk menotok. Permukaan kipas dapat dipergunakan untuk mengacaukan pandangan mata musuh, bahkan angin kipasannya saja dapat membingungkan lawan. Dengan menutup kipas itu, maka senjata ini hanya merupakan sebuah gagang yang digerakkan untuk menangkis atau mengirim serangan totokan.

Sebelum berguru kepada Wi Kong Siansu, terlebih dulu Kam Seng telah mendapatkan gemblengan dari Mo-kai Nyo Tiang Le dan ia telah banyak menderita sehingga ia menjadi tekun sekali melatih lwee-kang, maka ilmu pedangnya kini sama sekali tak dapat dibilang rendah tingkatnya. Kalau saja Lili tidak sayang kepada kipasnya dan melayaninya dengan kipas terbuka, dapat dipastikan bahwa kurang dari dua puluh jurus saja Kam Seng akan dapat dirobohkan. Akan tetapi, karena Lili menghadapinya dengan kipas tertutup, maka pertempuran berjalan sengit dan ramai sekali. Namun masih saja Lili selalu berada di pihak penyerang, karena dengan pengertiannya akan dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, gadis ini dapat menduga gerakan-gerakan dan perkembangan serangan lawan dan dapat mendahuluinya. Berbeda dengan ketika melawan Hok Ti Hwesio, Lili tidak mau mengejeknya dan tidak mau mempermainkannya pula, karena tidak terkandung kebencian di dalam hatinya terhadap Kam Seng, hanya penyesalan dan kekecewaan besar melihat pemuda itu tersesat.

Setelah bertempur hampir lima puluh jurus, perlahan akan tetapi pasti Lili mulai mendesak Kam Seng. Pemuda ini merasa penasaran sekali, karena bagaimanakah Lili dapat berkelahi demikian kuatnya dengan hanya bersenjata sebuah kipas kecil? Ia mengerahkan ilmu silat yang ia pelajari dari Mo-kai Nyo Tiang Le, akan tetapi sia-sia belaka. Kipas Lili benar-benar hebat sekali dan selalu ujung gagang gading itu mengancam jalan darahnya.

Pada saat pedangnya berkelebat membabat pinggang Lili dan dapat ditangkis oleh Lili yang mementalkan gagang gadingnya dan membalas dengan totokan ke arah iga, terpaksa Kam Seng menjatuhkan diri ke bawah dengan gerak tipu Harimau Lapar Mengintai Korban. Dengan amat cepatnya, ia lalu menggerakkan pedang menyapu pergelangan kaki gadis itu. Menghadapi serangan ini, Lili memperlihatkan kepandaiannya yang mengagumkan. Ia tidak melompat ke atas untuk menyelamatkan kakinya, bahkan ia lalu memapaki datangnya pedang ini dengan gerakan kaki yang disebut gerak tipu Dewa Bumi Menginjak Ular. Kaki kanannya dengan kecepatan luar biasa dan dari arah atas menyerong ke bawah dapat menyambut permukaan pedang dan sambil meminjam tenaga serangan lawan, ia menekan dan menggerakkan tenaga lwee-kang pada kakinya yang terus menindih dan menginjak pedang itu di atas tanah!

Kam Seng terkejut sekali. Ia cepat mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, akan tetapi sia-sia belaka. Pedangnya itu seakan-akan terjepit dan tertindih oleh batu karang yang berat sekali sehingga tak dapat terlepas dari tindihan kaki Lili yang memandangnya sambil tersenyum! Kemudian, gagang kipas gading di tangan Lili menyambar turun, menotok ke arah pundak kanan Kam Seng. Melihat datangnya totokan yang amat berbahaya ini, terpaksa pemuda itu melakukan hal yang membuatnya mendapat malu dan yang sekaligus menyatakan kekalahannya. Yaitu ia melepaskan gagang pedangnya dan menggulingkan tubuhnya ke belakang dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng! Ia dapat menghindarkan diri dari totokan, akan tetapi ia harus melepaskan pedangnya yang berarti bahwa ia telah kalah!

Dengan muka merah ia melompat bangun dan berdiri menundukkan muka akan tetapi diam-diam ia amat mengagumi gadis puteri musuh besarnya itu.

“Hebat…, hebat…!” kata Wi Kong Siansu sambil melangkah maju menghadapi Lili yang masih menginjak pedang. Sekali tosu tua ini mengebutkan ujung lengan bajunya, maka tubuhnya merendah dan ujung lengan baju melibat gagang pedang itu bagaikan seekor ular. Lalu ia membetot keras akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi merah ketika merasa bahwa pedang itu tak dapat terbetot dari injakan kaki Lili! Ia terkejut dan diam-diam ia kagum sekali karena ternyata bahwa tenaga injakan itu benar-benar hebat. Ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu nggunakan tenaga Thai-san-cui, karena hanya dengan ilmu pengerahan tenaga ini sajalah betotannya dapat tertahan. Kakek ini tersenyum-senyum, kemudian sambil berseru, “Lepas!” ia lalu mengerahkan tenaga Im-yang-cui. Tenaga betotannya kali ini bukanlah tenaga membetot semata, karena ujung bajunya itu membetot dengan terbalik, yaitu bahkan mendorong pedang itu ke depan, kemudian ditengah-tengah dorongannya ini, ia lalu menarik keras. Inilah tenaga Im-yang-cui yang sifatnya bertentangan, akan tetapi dapat dipergunakan dengan berbareng maka kehebatannya pun luar biasa sekali.

Lili maklum bahwa ia tidak dapat mempertahankan injakannya lagi, maka ia tiba-tiba melepaskan tenaga injakannya sambil berbareng menekuk jari kakinya, yaitu ibu jari dan jari kedua, lalu jari-jari kakinya itu menggunakan gerakan menyentik pedang itu! Memang gadis ini selain nakal, juga banyak akal dan lihai sekali. Sungguhpun jari kakinya tersembunyi di dalam sepatu kain, namun tenaganya dapat berkurang karenanya, dan masih dapat melakukan gerakan yang lihai ini. Pedang itu yang terbetot oleh ujung lengan baju Wi Kong Siansu, ditambah dengan tenaga menyentik dari jari kaki Lili, tiba-tiba bergerak membalik dan seakan-akan terbang menuju ke arah leher tosu itu!

Kini Wi Kong Siansu yang maklum akan demonstrasi yang diperlihatkan oleh gadis itu, tidak mau “kalah muka”! Melihat datangnya pedang yang melayang ke arah lehernya, ia lalu merendahkan tubuh dan membuka mulutnya. Pedang itu, dengan tepat sekali memasuki mulutnya dan tergigitlah ujung pedang itu oleh gigi si kakek yang lihai! Semua orang memandang dengan melongo melihat betapa gagang pedang itu bergoyang-goyang seakan-akan pedang itu telah menancap di batang pohon! Lili sendiri pun merasa kagum dan terkejut karena makin maklum bahwa ia kini menghadapi seorang tosu yang berilmu tinggi sekali. Dengan tenang Wi Kong Siansu mengambil pedang itu dari mulutnya, kemudian tersenyum-senyum kepada Lili lalu berkata,

“Siancai… Sungguh seorang gadis yang lihai, cerdik, nakal dan tabah sekali! Nona, kau masih begini muda, akan tetapi telah mewarisi kepandaian Pendekar Bodoh, bahkan telah mewarisi kepandaian Swie Kiat Siansu! Tidak percuma kau menjadi puteri Pendekar Bodoh! Akan tetapi pinto (aku) tidak ingin bertanding melawan seorang kanak-kanak seperti kau. Lebih baik kau pulang saja dan kalau memang kau ingin mengacau rumah tangga kawan-kawanku, suruhlah ayahmu yang datang ke sini.”

“Totiang, kau tidak ingin bertanding melawan aku, sebaliknya siapakah yang ingin bertempur dengan kau? Sudah kukatakan bahwa kedatanganku bukan hendak berurusan dengan kau, dan juga aku tidak butuh sesuatu dari Kam Seng atau kepala gundul itu! Aku hanya perlu mencari manusia busuk bernama Bouw Hun Ti untuk kupenggal lehernya dan kubawa pulang kepalanya!”

Pada waktu itu, Bouw Hun Ti tidak berada di kelenteng itu, bahkan tidak ada pula di dusun Tong-sin-bun, oleh karena orang she Bouw ini semenjak beberapa hari yang lalu telah pergi jauh ke utara. Bouw Hun Ti memang seorang yang amat cerdik dan hati-hati. Biarpun ia telah berhasil mengundang datang Wi Kong Siansu untuk memperkuat kedudukannya namun ia masih berkhawatir juga. Setelah berunding dengan suhu dan supeknya itu dan mendapat persetujuan, ia lalu berangkat ke utara untuk mengunjungi tiga orang sahabat baiknya yang berilmu tinggi yaitu yang disebut Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun). Ketiga orang ini adalah orang-orang yang aneh dan sakti dan yang tinggal di Hailun, yaitu sebuah kota di daerah Mancuria. Bouw Hun Ti mengunjungi mereka untuk membujuk mereka datang dan bersama-sama menghancurkan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya. Ia mempunyai harapan besar untuk mendapat bantuan ketiga orang ini yang masih terhitung keluarga dari Panglima Mongol yang bernama Balaki dan yang dulu tewas dalam perang ketika orang Mongol menyerbu ke selatan (baca cerita Pendekar Bodoh).

Mendengar ucapan Lili yang menyatakan hendak memenggal leher Bouw Hun Ti, Wi Kong Siansu tertawa.

“Ah, sungguh kau sombong sekali, Nona. Belum tentu Bouw Hun Ti akan demikian mudahnya menyerahkan lehernya untuk kau sembelih! Pula, pada saat ini, murid keponakanku itu tidak berada di sini.”

“Bohong!” seru Lili marah. “Totiang, kauingatlah. Sungguhpun aku tidak ingin bermusuhan dengan kau orang tua, akan tetapi kalau kau menyembunyikan dan membela keparat Bouw Hun Ti, terpaksa aku berlaku kurang ajar!”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh dari kelenteng disusul dengan mengebulnya asap hitam dan berkelebatnya tubuh seorang tua pendek gemuk yang berpakaian mewah. Ban Sai Cinjin telah datang sambil membawa huncwenya yang mengebulkan asap hitam, tanda bahwa ia telah siap untuk bertempur! Bagaimanakah orang ini bisa datang ke kelenteng itu pada waktu malam gelap?

Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, hampir semua rumah penginapan dan toko-toko besar di dusun Tong-sin-bun adalah milik dari Ban Sai Cinjin. Demikian pula rumah penginapan di mana Lili bermalam, adalah rumah penginapan orang tua ini pula. Para pengurus hotel ketika menyaksikan kecantikan Lili, segera memberi laporan kepada Ban Sai Cinjin yang mata keranjang dan rnemang berwatak sebagai bandot tua. Ia amat girang mendengar bahwa di hotel itu bermalam seorang gadis cantik jelita, dan penuturan pengurus rumah itu bahwa gadis ini nampaknya berkepandaian tinggi, bahkan makin menggembirakan hatinya.

“Ha-ha-hi-hi! Itulah yang selama ini kucari-cari,” katanya. “Aku sudah bosan dengan gadis-gadis yang lemah. Aku sudah bosan dengan bunga-bunga harum yang mudah layu dan rontok. Aku menghendaki bunga hutan, bunga liar. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa gadis itu keluar dari kamar tanpa diketahui ke mana perginya, dan ditunggu-tunggu belum juga kembali mulai curigalah hati Ban Sai Cinjin. Di dusun sekecil Tong-sin-bun, orang dapat melancong ke manakah? Apalagi seorang gadis muda! Ia teringat akan penuturan pengurus hotel bahwa gadis itu berkepandaian silat, dan karena Ban Sai Cinjin merasa bahwa ia mempunyai banyak musuh yang mendendam sakit hati kepadanyaa maka ia lalu berlaku waspada. Digantinya tembakau pada huncwenya dan ia lalu berlari cepat menuju ke kelenteng di tengah hutan itu, benar saja, ia melihat gadis cantik jelita itu berada di dalam kelentengnya dan mengucapkan ancaman terhadap muridnya Bouw Hun Ti.

Ia lalu tertawa dan melompat masuk, dan sambil menyembunyikan rasa kagumnya menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari gadis itu ia berkata,

“Nona, kau mencari Bouw Hun Ti? Ha-ha, muridku ini sedang pergi jauh. Biarlah aku mewakilinya menyambutmu yang sudah datang dari tempat jauh. Kalau aku tahu, tentu kau tak kuperbolehkan mendiami kamar hotelku yang kecil itu, akan kusediakan kamar besar dan mewah di rumahku. Ha-ha-ha!”

Melihat munculnya orang tua itu, maklumlah Lili bahwa ia harus melawan mati-matian, karena ia tahu akan kelihaian dan kejahatan Ban Sai Cinjin.

“Hemm, aku tahu siapa kau ini. Ban Sai Cinjin, aku memang datang untuk memenggal leher muridmu Bouw Hun Ti, untuk membalas dendamku ketika aku terculik olehnya di waktu aku masih kecil dan terutama sekali untuk membalasnya karena ia telah membunuh kakekku, yaitu Yo Se Fu!”

“Mudah saja, mudah. Marilah kau ikut aku ke rumah, dan sementara menanti datangnya Bouw Hun Ti, kita makan minum untuk menghormat kedatanganmu!”

Lili maklum bahwa orang tua ini mencari perkara. Menghadapi Ban Sai Cinjin tak boleh gegabah, apalagi di situ terdapat Wi Kong Siansu yang menjadi suheng dari orang tua mewah ini, maka kalau tidak diserang, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri.

“Ban Sai Cinjin, kata-katamu sama hitamnya dengan tembakaumu yang berbau busuk! Siapa mau meladeni orang seperti kau? Kalau Bouw Hun Ti si jahanam itu tidak berada di sini, sudahlah!” Ia lalu menggerakkan kakinya hendak pergi dari situ, akan tetapi tiba-tiba Ban Sai Cinjin bergerak maju menghadang di tengah jalan.

“Ha-ha-hi-hi, enak saja kau mau pergi dari sini! Kau datang ke kelentengku tanpa kupanggil, dan kau datang dengan maksud jahat, apakah aku harus membiarkan kau berlaku sesuka hatimu? Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani membuka mulut besar hendak membunuh muridku. Siapakah adanya kau yang sombong ini?”

“Suhu, dia adalah puteri dari Pendekar Bodoh dan tadi dia pun hampir saja membunuh teecu!” tiba-tiba Hok Ti Hwesio berkata sambil menudingkan jarinya ke arah Lili dengan pandangan marah. Hwesio muda ini ingin sekali suhunya membalaskan hinaan yang ia alami tadi.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ini. Kalau gadis ini sudah dapat mengalahkan Hok Ti Hwesio, itu tandanya bahwa kepandaian gadis ini tak boleh dibuat gegabah. Ia menengok kepada Kam Seng dan Wi Kong Siansu dengan heran.

“Ada Suheng dan Kam Seng di sini, bagaimana dia bisa mengganggu Hok Ti?”

Kam Seng buru-buru berkata, “Teecu juga sudah kena dikalahkan oleh Nona ini.”

“Hem, hem, lihai juga,” Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk. “Baiknya Suheng belum turun tangan, biarlah aku yang meringkus bocah ini!” Sambil berkata demikian, dengan gerakan yang tak terduga-duga, Ban Sai Cinjin mengulurkan tangan kirinya hendak menangkap pundak Lili.

Gadis itu cepat mengelak dan menggunakan kipasnya yang masih terpegang untuk mengebut dan menotok pergelangan tangan yang diulur itu. Ban Sai Cinjin hanya tersenyum-senyum saja dan sama sekali tidak mau mengelak. Kakek ini telah memiliki kekebalan yang melebihi Hok Ti Hwesio dan ia tidak takut akan segala totokan biasa saja.

“Awas, Sute!” seru Wi Kong Siansu yang maklum bahwa sutenya memandang rendah kepada gadis muda itu. Akan tetapi sudah terlambat, karena ujung gagang kipas di tangan Lili dengan tepat telah menotok jalan darah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin. Kakek ini mengerahkan kekebalannya, akan tetapi ia segera menjerit karena kaget dan kesakitan dan alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa lengan kirinya menjadi lumpuh! Bukan main hebatnya totokan yang dilancarkan oleh kipas Lili ini, sehingga ia dapat mematahkan kekebalan Ban Sai Cinjin dan masih dapat menembusi kulit tebal itu untuk mencari sasarannya.

Sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dan cepat ia menggunakan tangan kanannya untuk mengetok dan mengurut lengan kirinya dan dengan cepat ia dapat membebaskan lengan kirinya dari pengaruh totokan yang lihai itu!

Lili juga terkejut dan kagum sekali. Totokannya tadi berbahaya dan dapat menewaskan seorang lawan, akan tetapi kakek itu tidak dapat roboh dan bahkan dapat memulihkan kembali jalan darahnya dengan cepat.

“Kurang ajar!” teriak Ban Sai Cinjin dengan marah sekali sehingga mukanya jadi pucat yang merah itu berubah menjadi pucat sekali. “Kau ganas dan liar, harus mampus di tanganku!” Cepat seperti harimau menerkam ia lalu menubruk maju dan menggerakkan huncwenya mengetok kepala Lili dengan gerakan yang cepat sekali. Lili tidak mau berlaku lambat dan tiba-tiba nampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika gadis ini mencabut pedangnya, yaitu Liong-coan-kiam pemberian ayahnya! Terdengar bunyi keras, “trang…!!” ketika huncwe itu beradu dengan pedang dan bunga api berpijar indah.

Ilmu silat Ban Sai Cinjin benar-benar hebat, ganas dan kuat sekali. Huncwe di tangannya menyambar-nyambar, diliputi uap hitam yang menyeramkan dan berbau tidak enak sekali. Akan tetapi, pedang Liong-coan-kiam di tangan Lili, bergerak dengan indahnya pula. Sedikit pun huncwe lawannya tak dapat mendekati tubuhnya, karena ke mana saja huncwe itu berkelebat, selalu terhalang oleh sinar pedang yang agaknya secara otomatis mengikuti gerakan lawannya. Tubuh gadis itu ketika bersilat pedang bergerak dengan lincah dan indah bagaikan orang sedang menari, begitu lemah gemulai, namun demikian kuatnya. Benar-benar mengagumkan dan kini Wi Kong Siansu sendiri memandang dengan mata terbelalak, bukan saja saking kagumnya, akan tetapi juga karena heran dan bingung. Belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang sehebat dan seaneh ini! Inilah limu pedang Liong-cu Kiam-sut, ciptaan Pendekar Bodoh. Ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ini berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, ilmu pedang sederhana yang aneh dan lihai sekali yang diciptakan oleh Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh (baca cerita Pendekar Bodoh).

Oleh karena ilmu pedang ini ciptaan ayah Lili sendiri dan tak pernah diturunkan kepada orang lain, tentu saja ilmu pedang ini jarang sekali terlihat di dunia persilatan, berbeda dengan ilmu-ilmu pedang cabang persilatan besar seperti Go-bi Kiam-hwat, Kun-lun Kiam-hwat, dan lain-lain yang banyak dimainkan oleh para muridnya.

Kalau dilihat Lili sedang mainkan pedang ini, agaknya ia lebih mahir daripada ayahnya sendiri, yaitu dalam hal kelincahan dan keindahan gerakan. Akan tetapi, sesungguhnya tentu saja ia tidak dapat menandingi ayahnya, terutama sekali dalam kematangan gerakan dan pengalaman pertempuran. Kini menghadapi seorang lawan berat seperti Ban Sai Cinjin, biarpun ilmu pedangnya berhasil membingungkan lawan dan membuat huncwe maut di tangan Ban Sai Cinjin tak banyak berhasil, namun pertempuran ini membuat gadis itu menjadi letih sekali. Tiap kali senjatanya beradu dengan senjata lawan, ia merasa urat-uratnya tergetar dan pertempuran kali ini telah memaksa ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga. Ia memang tak usah khawatir akan terkena senjata lawan, akan tetapi sebaliknya, sukarlah pula baginya untuk dapat merobohkan lawan tangguh ini. Huncwe itu benar-benar lihai sekali dan memiliki gerakan yang serba aneh dan tak terduga.

Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan marah luar biasa. Perasaan ini timbul dari rasa malu dan penasaran. Benar-benarkah dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut juga Si Golok Malaikat, orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di kalangan kang-ouw dan jarang sekali menemui tandingan, kini tidak berdaya merobohkan seorang bocah yang belum ada dua puluh tahun usianya? Dan seorang bocah perempuan pula, yang berkulit halus, bermata bintang, berbibir merah semringah, dan nampak lemah? Jarang ada seorang lawan, seorang kang-ouw yang bagaimana tangguh pun, dapat melawan huncwenya lebih dari dua puluh jurus. Akan tetapi gadis manis ini telah melawannya sampai lima puluh jurus dan sedikit pun ia belum dapat menjatuhkannya!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: