Pendekar Remaja ~ Jilid 13

“Bangsat perempuan, kau harus mampus!” tiba-tiba Ban Sai Cinjin berseru marah dan kini tangan kirinya yang tadi tidak ikut menyerang, lalu dikepal-kepal dan kepalan tangan itu tak lama kemudian berubah menjadi kemerah-merahan!

Thio Kam Seng atau lebih benar Song Kam Seng, terkejut sekali melihat kepalan susioknya ini. Celaka, pikirnya, kini Lili berada di pinggir jurang maut! Ia maklum bahwa kalau kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin sudah menjadi kemerah-merahan, itu tandanya bahwa kakek ini telah mengerahkan tenaga Ang-tok-jiu (Tangan Merah Beracun)! Jangankan sampai terkena pukul, baru tersambar oleh angin pukulan tangan Ang-tok-jiu ini saja, lawan dapat roboh menderita luka hebat yang dapat membawanya ke lubang kubur!

Harus diakui bahwa Lili adalah seorang gadis yang boleh dikata masih hijau pengalamannya dalam hal pertempuran dan jarang sekali ia bertempur menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw seperti Ban Sai Cinjin. Akan tetapi, ia adalah puteri dari sepasang suami isteri pendekar besar. Ayahnya, Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh, adalah seorang ahli silat yang jarang tandingannya, sedangkan ibunya, Kwee Lin atau Lin Lin, juga memiliki kepandaian yang amat tinggi. Lebih-lebih lagi karena baik ayah maupun ibunya telah mempunyai banyak sekali pengalaman pertempuran dan terutama sekali ayahnya telah seringkali menghadapi akal-akal dan ilmu-jimu jahat dan kejam yang dimiliki golongan hek-to (jalan hitam, penjahat). Maka seringkali gadis ini didongengi oleh ayah bundanya, juga tentang Ang-se-jiu (Tangan Pasir Merah) dan Ang-tok-jiu ia pernah mendengar dari ayahnya.

Ia tidak mengira bahwa kakek ini memiliki ilmu yang jahat ini, maka setelah melihat kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin berubah merah, cepat ia menyelipkan kipasnya di saku baiunya dan ia pun lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya lalu mengerahkan tenaga khi-kangnya, bergerak-gerak ke kanan kiri sehingga tak lama kemudian dari seluruh lengan kirinya mengebullah uap putih. Inilah Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, ilmu turunan dari sucouwnya (kakek guru) yang bernama Bu Pun Su!

Pada saat huncwe Ban Sai Cinjin melayang ke arah pelipisnya, ia menangkis dengan pedangnya dan secepat kilat Ban Sai Cinjin menonjok ke arah dadanya dengan langan kiri yang mengandung tenaga Racun Merah itu! Angin pukulan itu telah lebih dulu menyambar dan dengan tenang akan tetapi waspada dan cepat sekali Lili lalu menangkis pula dengan tangan kiri.

Hebat sekali tenaga pukulan Angtok-jiu dan tenaga tangkisan Pek-in-hoatsut ini. Orang tak melihat dua lengan tangan itu beradu, akan tetapi tubuh kedua orana itu terpental mundur sampai dua tindak ke belakang! Ban Sai Cinjin menjadi pucat saking kagetnya melihat betapa gadis muda itu dapat menangkis pukulan mautnya sedemikian lihainya. Adapun Lili juga terkejut sekali dan buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya ketika merasa betapa seluruh urat pada tangan kirinya terasa kesemutan! Ini adalah tanda bahwa betapa pun hebatnya ilmu silat Pekin-hoat-sut, namun dalam hal tenaga dalam, ia masih kalah terhadap kakek ini.

Pengalaman ini membuat ia berlaku hati-hati sekali. Berkali-kali Ban Sai Cinjin melancarkan serangan, pukulan Ang-tok-jiu, karena kakek ini pun maklum bahwa ia masih menang tenaga dan kalau ia menyerang bertubi-tubi, ada harapan ia akan melukai gadis itu. Akan tetapi kini Lili menangkis dengan cerdik sekali. Ia menggunakan tangkisan dari ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut dari samping, dengan cara menyampok tenaga serangan lawan dari samping, tidak mengadu tenaga seperti tadi. Oleh karena ini, selalu apabila pukulan Ang-tok-jiu datang, ia tidak perlu mengadu tenaganya, dan hanya menyampok dari samping sambil mengelak saja. Dengan demikian tenaga pukulan lawan yang hebat itu tidak langsung datangnya dan tidak demikian telak menghantamnya.

Wi Kong Siansu makin kagum saja, demikian pula Ban Sai Cinjin diam-diam kagum sekali kepada puteri Pendekar Bodoh ini. Tadinya ia tidak ingin mempergunakan kelicikan dalam pertempuran ini, karena ia segan untuk merobohkan lawannya yang masih muda dan wanita pula ini dengan ilmu hitam. Namun, karena tahu bahwa ia tidak mudah dapat merobohkannya, dan hal ini akan lebih memalukannya lagi, tiba-tiba ia lalu menyedot huncwenya dan sekali ia berseru keras, dari mulutnya menyembur keluar asap hitam yang amat berbahaya menuju ke muka Lili!

Gadis itu terkejut sekali. Sungguhpun asap itu masih jauh dari mukanya, namun ia telah mencium baunya yang amat memuakkannya dan ia cepat melempar tubuhnya ke belakang, melakukan gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang membuat gerakan poksai (salto) sampai tiga kali dan turun beberapa tombak jauhnya dari lawannya.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Ia maklum bahwa lawannya takut kepadanya, maka ia berseru, “Nona manis, kau hendak lari ke mana?” Lalu ia menyedot huncwenya pula dan kesempatan itu ia pergunakan untuk membuka kantong tembakau yang tergantung pada huncwenya dan mengisi mulut huncwe itu dengan tembakau baru. Ia mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya dengan asap mautnya!

Lili maklum bahwa sungguhpun hawa Pek-in-hoat-sut dari tangan kirinya akan dapat menolak asap hitam itu buyar terkena hawa Pek-in-hoat-sut, asap yang ringan itu masih akan dapat menyerangnya. Asap macam ini tidak menyerangnya mengandalkan tenaga tiupan, melainkan mengandalkan kejahatan racun yang dikandungnya. Maka ia lalu melepaskan tenaga Pek-in-hoat-sut dari lengan kirinya dan sebagai gantinya ia lalu mengeluarkan kipasnya. Sekali ia menggerakkan jari tangan kirinya, kipasnya ini telah terkembang dan dipegangnya seperti hendak mengipas tubuhnya.

Ban Sai Cinjin belum tahu gadis ini telah mewarisi Ilmu Silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Bukit dan Air) yang lihai dari Swie Kiat Siansu, maka tanpa memperhatikan kipas ini, ia lalu menyerbu lagi dengan sekaligus mengeluarkan tiga serangannya. Tangan kirinya memukul dengan Ang-tok-jiu, tangan kanan menggerakkan huncwe menotok leher, dan dari mulutnya menyemburkan asap yang hitam dan tebal ke arah muka lawannya!

Lili merasa girang melihat lawannya tidak memperhatikan kipasnya dan gadis yang cerdik ini mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya yang amat lihai ini. Ia menanti datangnya serangan dengan amat tenang dan sengaja berlaku agak lambat untuk menarik perhatian lawan. Untuk menghindarkan diri dari tiga serangan itu, ia mempergunakan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, berkelit ke kanan sambil merendahkan tubuh, karena maklum bahwa asap hitam itu tidak akan turun ke bawah. Ia sengaja menanti untuk memancing lawannya. Benar saja, Ban Sai Cinjin melihat keadaan gadis yang agaknya lambat gerakannya ini, menjadi girang dan mengira bahwa gadis itu telah terkena racun asap hitamnya, maka ia melanjutkan serangan dengan mencengkeram ke bawah dan mengayun huncwenya. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba kipas di tangan kiri Lili dikebutkan ke arah uap hitam yang tebal tadi sehingga uap itu melayang ke arah muka Ban Sai Cinjin!

Tentu saja sebelumnya, Ban Sai Cinjin telah mempergunakan obat penawar untuk menolak pengaruh asap hitam dari huncwenya sendiri sehingga serangan asap yang membalik ke mukanya ini tidak membahayakannya sama sekali. Akan tetapi bukan itulah kehendak Lili. Kebutan kipasnya ini bermaksud membuat asap hitam itu menutupi pandang mata lawannya dan maksudnya ini memang berhasil baik. Betapapun juga, Ban Sai Cinjin tidak berani menghadapi racun asap tembakaunya sendiri dengan mata terbuka.

Untuk sesaat sambil meniup ke arah asap itu ia meramkan matanya dan dengan tak terduga-duga sekali, tiba-tiba ia merasa pangkal lengan kirinya sakit sekali! Ternyata bahwa tadi ketika ia sedang menghadapi asap yang membalik itu, secepat kilat Lili mengelak dari serangan kedua tangannya, bergerak sambil menggeser kaki ke kanan dan dari samping ia mengirim totokan dengan kipasnya yang dapat tepat sekali mengenai pangkal lengan kiri lawannya!

Tubuh Ban Sai Cinjin terhuyung ke belakang dan tiba-tiba ia merasa datangnya angin dingin ke arah leher dan lambungnya! Ia maklum akan bahaya maut itu. Ternyata bahwa lambungnya telah diserang oleh pedang Liong-coan-kiam dengan gerakan Lutung Sakti Memetik Buah sedangkan lehernya telah diserang oleh sepasang gagang kipas dengan gerakan Gunung Thai-san Menimpa Kepala!

Ban Sai Cinjin mengeluarkan keringat dingin dan cepat ia menjatuhkan diri ke belakang, akan tetapi gerakan kipas ke arah lehernya itu luar biasa cepatnya “Krek!” terdengar suara dan pundaknya masih terkena gagang kipas itu.

Ban Sai Cinjin menjerit dan maklum bahwa tulang pundaknya telah terlepas sambungannya! Lili tidak niau memberi hati dan terus mendesak dengan serangan yang lebih hebat lagi. Agaknya nyawa Ban Sai Cinjin terpaksa akan meninggalkan raganya tak lama lagi.

Akan tetapi, tentu saja Wi Kong Siansu tidak mau tinggal diam melihat sutenya terancam bahaya maut. Cepat bagaikan seekor burung gagak menyambar bangkai, ia melompat ke belakang gadis itu dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya!

Lili sedang mengerahkan tenaga dan perhatiannya untuk menewaskan kakek mewah yang dibencinya itu. Sungguhpun ia mendengar angin pukulan Wi Kong Siansu dari belakang dan mencoba untuk mengelak, ia tetap terlambat. Gerakan Wi Kong Siansu luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jalan darah kim-to-hiat di punggungnya telah kena tertotok oleh ujung lengan baju tosu itu. Lili mengeluh perlahan, kipas dan pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya dengan lemas tak berdaya terkulai ke atas lantai!

Ban Sai Cinjin dengan meringis-ringis telah dapat bangun kembali dan melihat keadaan Lili yang sudah roboh oleh suhengnya, ia masih dapat tertawa terbahak-bahak. “Bagus, Suheng, bagus! Kau telah dapat merobohkan kuda betina liar ini!” Matanya berkilat penuh dendam terhadap Lili dan ia bergerak perlahan maju menghampiri gadis muda itu. Lili masih dapat memandang lawannya ini dan pikirannya masih berjalan terang, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah lemas tak dapat digerakkan lagi. Gadis ini maklum akan bahaya yang akan menimpa dirinya dan sinar ketakutan terbayang pada matanya. Gadis ini tidak takut akan mati, akan tetapi ia maklum bahwa terjatuh ke dalam tangan manusia iblis seperti Ban Sai Cinjin ini, nasibnya akan jauh lebih mengerikan daripada kematian!

Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba bayangan tubuh Kam Seng berkelebat dan pemuda ini tahu-tahu telah mendahului Ban Sai Cinjin menyambar tubuh Lili yang terus dipeluk dan dipondongnya!

“Kam Seng! Kau lepaskan dia!” Ban Sai Cinjin berseru keras dengan mata melotot. Kam Seng memandang kepada susioknya. Hatinya bimbang ragu. Di lubuk hatinya ada perasaan cinta besar terhadap gadis ini, sungguhpun perasaan itu tertutup kabut kebenciannya karena kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, musuh besarnya! Kalau gadis jelita ini harus mati, maka dialah yang berhak membunuhnya, bukan orang lain. Apalagi ia merasa ngeri dan jijik memikirkan akan gadis jelita ini di tangan susioknya. Maka ia lalu memandang kepada suhunya dan berkata,

“Suhu, maukah Suhu memberikan puteri musuhku ini kepada teecu?”

Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya. Karena pengalamannya, ia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik oleh kecantikan gadis ini. Ia pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sutenya, maka ia lalu berkata kepada sutenya,

“Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah ia melepaskan sakit hati dan dendamnya kepada puteri musuh besarnya!”

Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.

“Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan kau takkan dapat menguasainya!”

Wi Kong Siansu juga tertawa. “Sute, kau sudah tua. Kam Seng lebih muda, maka kau tentu tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarlah, dia melampiaskan dendamnya dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan sampai dia terlepas!”

Juga Hok Ti Hwesio berkata Kam Seng sambil menyeringai,

“Sute, kalau kau sudah selesai dengan dia berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk obat!” Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng. Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.

Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada berdebar dan muka pucat, lalu pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tan-kauwsu. Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong tubuh Lili yang lemas.

“Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?”

Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhunya. Untuk beberapa lama ia tidak mau dan tak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya ia menjawab juga dengan perlahan,

“Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat besar, oleh karena itu, teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya ataupun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas penghinaan dan sakit hati, kalau tak terkabul cita-cita teecu menewaskan Pendekar Bodoh.”

Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya. “Salah… salah…, muridku. Aku mengerti akan maksudmu, akan tetapi apakah kaukira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai sekutu kita? Biarpun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kaukira dia akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya agar kelak kita tidak mengalami gangguan dari padanya.” Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara tentang seekor domba saja! Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak masuk hitungan pula dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.

“Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu,” kata Kam Seng dan ia lalu membawa Lili ke dalam kamarnya. Di ruang dalam, ia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda tanggung ini berkata,

“Suheng… hendak kau apakan gadis ini?”

Wajah Kam Seng berubah merah. “Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku.”

“Ah…!” hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya. Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya ia merasa pundaknya dipegang orang. Ketika ia menengokg ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.

“Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora, mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu…! Ha-ha-ha!”

“Tidak… tidak!” Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Suheng, besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tak kusangka sama sekali bahwa kalian demikian… demikian…”

“Apa maksudmu, Sute?” Hok Ti Hwesio memandang tajam.

“Mengapa kalian begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?” Sambil berkata demikian, Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya dan menutupkan pintunya keras-keras, terdengar ia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.

Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat. Kemudian ia lalu mencari suhu dan supeknya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.

Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam kamarnya, menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya. Gadis itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya. Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng dengan tajam berapi-api! Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud pemuda ini. Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya telah membunuh ayah pemuda ini! Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh kebenciannya terhadap pemuda ini. Ia maklum bahwa ia tidak berdaya sama sekali. Telah dicobanya untuk membebaskan diri daripada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja. Ia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa ia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan takkan dapat melawan sedikitpun juga. Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat membalas dendam. Biarlah, pikirnya, dan tunggulah saja! Kalau aku sampai terlepas daripada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu sampai menjadi bubur!

Sementara itu, Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar pucat. Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip. Seribu satu macam pikiran teraduk di dalam hatinya. Pikirannya menjadi pening. Berkali-kali ia telah mengulurkan tangan hendak meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali. Pandang mata Lili yang bagaikan dua sinar api itu terasa menusuk matanya. Hatinya penuh gairah kalau ia melihat wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apalagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya itu. Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat ia senantiasa tak enak pikiran.

“Dia musuh besarku!” demikian bisik hatinya. “Aku boleh membunuhnya, menghinanya! Ayahku dulu terbunuh oleh ayahnya!”

“Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!” bisik lain suara hatinya. “Dan aku… aku cinta kepadanya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi isteriku untuk selamanya!”

“Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!” bisik suara pertama.

“Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya malam ini kau akan menjadi suaminya!”

Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan untuk beberapa lama jari-jari tangannya membelai rambut Lili yang halus. Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan tetapi tiba-tiba ia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Lili.

Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu. Nafsu dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap ayah gadis itu. Akan tetapi lain kekuasaan menahan kehendaknya ini, kekuasaan cinta. Kekuasaan ini membuat ia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti hati maupun raganya.

Akhirnya ia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili. Ia mencabut pedangnya dan ia hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut. Hendak dibunuhnya gadis ini dan habis perkara!

“Lili,” katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan. “Aku akan membunuhmu, dan sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa kau adalah puteri musuh besarku! Ayahku bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara. Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan… dan… aku pun tidak sampai hati menghinamu! Aku… aku kasihan kepadamu!”

Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan jelita itu.

“Lili, bersedialah untuk mati,” katanya sambil mengangkat pedangnya.

Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi telah padam, bibirnya agak tersenyum. Lili memang merasa lega bahwa ia tidak akan menjadi kurban penghinaan dan ia menghadapi kematian dengan amat tabahnya. Kam Seng mengayun pedangnya ke atas dan… tiba-tiba ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu terlepas ke atas lantai! Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu… mencium jidat gadis itu satu kali. Dilemparkannya tubuhnya ke belakang, terduduk di atas bangku yang tadi didudukinya.

Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya. Terdengar elahan napas berkali-kali. “Ah, Lili… aku… aku tidak tega membunuhmu… aku… aku cinta kepadamu!”

Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi. Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia dapat membunuh Kam Seng kalau dapat. Keadaan menjadi sunyi kembali. Kam Seng duduk seperti tadi, menghadapi Lili, tak tahu harus berbuat apa! Betapa pun bencinya kepada Pendekar Bodoh, hatinya tidak tega untuk mengganggu atau membunuh gadis ini.

“Lili… Lili… aku tidak sanggup membunuhmu… tanganku gemetar… bagaimana aku sanggup membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku takkan membunuhmu, akan tetapi… aku pasti hendak mencari ayahmu, aku harus membalas sakit hatiku terhadap Pendekar Bodoh…!” demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.

Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok Ti Hwesio, “Supek… tolong…! Supek, lekas bantu…! Lekas bantu merobohkan gadis setan ini…!”

Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun. Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta tolong kepada suhunya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhunya sendiri, berarti bahwa tentu terjadi malapetaka hebat dan datang musuh yang tangguh. Ia hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin. Ia merasa ragu-ragu sebentar, lalu menghampiri Lili dan berkata,

“Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!” Setelah berkata demikian, Kam Seng lalu menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili. Ia telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka ia tahu pula bagaimana harus membuka totokan dari suhunya itu. Setelah menotok pundak gadis itu, ia lalu melompat keluar sambil membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata beradu.

Biarpun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya telah lenyap dan jalan darahnya telah terbuka kembali, namun Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak perlahan. Ia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali jalan darahnya. Ia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng. Hatinya merasa tidak karuan dan ia telah mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng. Kini ia merasa terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Ada sedikit rasa girang di dalam hatinya bahwa sungguhpun pemuda itu telah menggabungkan diri dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat. Masih ada kegagahan dalam lubuk hati Kam Seng. Ia teringat akan supeknya Song Kun, karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.

Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili lalu mengambil senjata-senjatanya dan melompat keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali. Ketika ia tiba di ruang luar, di bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio! Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu menghadapi lawannya sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tak memegang senjata. Gin-kangnya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara tiga bunga itu menyambar-nyambar di antara tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga pengeroyoknya.

“Goat Lan…!” Lili berteriak girang ketika ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum itu.

“Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?” Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya masih sempat berjenaka.

“Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!” Lili lalu mencabut keluar kipas dan pedangnya, lalu menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin. Ia merasa segan dan sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.

Ban Sai Cinjin sudah merasai kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat oleh gadis ini. Dalam keadaan sehat ia masih belum dapat mengalahkan Lili, apalagi sekarang pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah. Kalau saja ia tidak sedang terluka, tadipun Goat Lan tidak nanti dapat mempermainkannya begitu mudah. Dan ia maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan main-main dan memandang rendah. Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian amat tinggi, juga telah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak tipu-tipu curang. Pengalamannya luas sekali dan tenaga lwee-kangnya sudah mendekati batas kesempurnaan. Oleh karena itu biarpun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk dapat merobohkan kakek mewah ini. Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang memiliki ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar biasa sekali.

Berbeda dengan pertempuran antara Lili dan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti Hwesio, berjalan berat sebelah. Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani dengan senyum simpul, apalagi sekarang. Biarpun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaian silat para ahli silat biasa, namun bagi gadis manis itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja!

Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ? Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat Lili tertawan dalam kamar Kam Seng?

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dalam percakapan antara Ong Tek putera pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana ia belajar silat kepada Ban Sai Cinjin. Betapapun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang semenjak kecil dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga ia telah banyak membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat segala macam pelajaran tentang kebajikan. Ia menjadi terkejut dan juga kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini ia hormati dan junjung tinggi. Maka ia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu ia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.

Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini menjumpai suhunya. Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, ia pun mengerutkan alisnya.

“Sungguh berbahaya,” katanya perlahan. “Kalau anak itu pulang dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, nama kita akan hancur dan tercemar.”

“Mengapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia dan guru silat itu, habis perkara!”

Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu. “Enak saja kau bicara! Apa kaukira Ong Tek itu orang biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Kalau ia sampai lenyap, apa kaukira Pangeran Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?”

Hok Ti Hwesio tersenyum “Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek? Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le-to Lie Kong Sian, Mo-kai Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih dapat membereskan mereka tanpa banyak ribut dan tak seorang pun mengetahui, apalagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru silat seperti orang she Tan itu? Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka? Kita siarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh, bukankah ini baik sekali?”

Ban Sai Cinjin berseri wajahnya. “Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!” ia memuji. “Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya.”

Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.

“Nah, itu mereka agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!” kata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada supeknya, Wi Kong Siansu yang pada saat itu sudah berada di dalam kamarnya.

Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio lalu melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.

“Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?” Ban Sai Cinjin membentak.

Melihat suhunya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi terkejut dan sinar ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.

“Suhu… teecu hendak… hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu… merasa rindu kepada ayah dan ibu…!”

“Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau tidak boleh pergi! Kau tentu hendak membuka mulut besar di kota raja tentang kami, ya?”

“Tidak… tidak, Suhu… tidak!” kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhunya melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.

“Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!”

Tan-kauwsu melompat maju. “Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin! Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!”

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Haha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut campur bicara! Apa kaukira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar sendiri pun aku tidak takut!” Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwenya ke arah kepala guru silat she Tan itu! Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu sungguhpun tidak memiliki ilmu silat yang dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin, namun ia telah banyak merantau dan telah memiliki pengalaman yang banyak dalam pertempuran. Cepat ia mengelak ke belakang akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Pada saat Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba dari atas genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang begitu cepat gerakannya sehingga nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.

“Manusia setan!” seru bayangan itu dengan suaranya yang nyaring dan merdu. “Kau benar-benar kejam!” dan tiba-tiba huncwe di tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas!

Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua lesung pipit di sepasang pipinya. Gadis ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi, mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu nampak berkilat. Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwenya dengan tangan kosong saja! Ia maklum bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.

Gadis cantik itu tersenyum manis. “Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut. Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang lagi.” Ia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek, “Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!”

Ong Tek memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu dalam ingatannya, kemudian ia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tan-kauwsu.

“Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!” seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek!

Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulur tangan dan sekali tangannya bergerak, pisau itu telah disampok ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke bawah dan menancap di atas lantai!

“Hemm, hwesio gundul, sudah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah dan yang mencemarkan nama para pendeta Buddha! Agaknya kau yang paling rendah diantara mereka semua!”

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan dan melihat sikap gadis itu. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan huncwenya. Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang. Ban Sai Cinjin yang biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biarpun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini memiliki kecantikan yang amat menggiurkan dan jarang terdapat, kini sama sekali tidak terguncang hatinya, bahkan ingin sekali ia membunuh gadis ini. Demikianlah, Ban Sai Cinjin dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan tangan kosong.

Sungguh hebat ilmu gin-kang dari gadis itu. Dengan lincahnya ia dapat mengelakkan dari sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan ia masih sempat memaki-maki, mentertawakan dan membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh dipandang ringan. Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini. Diam-diam ia mengeluh dalam hatinya. Selamanya hidup, belum pernah ia mengalami malam sesial ini. Berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali! Kalau saja ia tidak terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih baik terhadap gadis yang baru datang ini. Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan Ilmu Silat Tangan Kosong Kwan-im-siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)! Akan tetapi pergerakan kedua tangan gadis ini aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini. Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan ia kepada empat besar di dunia dan terutama sekali kepada Bu Pun Su! Akan tetapi, gadis yang kini tertawan dalam kamar Kam Seng dan yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu gin-kangnya!

Melihat betapa ia dan gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali ia menerima pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil supeknya minta bantuan! Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari malapetaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, teriakan-teriakan Hok Ti Hwesio terdengar oleh Kam Seng yang berada di dalam kamarnya menghadapi Lili yang tertawan. Suara senjata yang didengarnya adalah suara pisau di tangan Hok Ti Hwesio beradu dengan huncwe Ban Sai Cinjin. Memang, Goat Lan yang jenaka dan nakal itu berkali-kali menyampok tangan Hok Ti Hwesio sehingga pisaunya menjadi nyeleweng dan membentur senjata suhunya sendiri, membuat Ban Sai Cinjin menjadi makin marah dan mendongkol.

Goat Lan terheran ketika melihat seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan maju mengeroyoknya. Ia melihat gerakan pedang yang cukup tangkas dan lihai. Kini setelah dikeroyok tiga, ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas dengan serangannya. Akan tetapi ia benar-benar tabah dan jenaka. Biarpun tiga orang lawannya amat tangguh, ia masih melayani mereka dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, menyambar-nyambar di antara gelombang serangan.

Dan pada saat itu, datanglah Lili. Hal ini benar-benar tak pernah disangka oleh Goat Lan. Tentu saja ia menjadi amat gembira dan girang. Telah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Lili, mungkin sudah ada tiga tahun. Ia melihat betapa calon adik iparnya ini maju menyerbu dengan senjata kipas dan pedang. Ia merasa amat heran ketika melihat betapa Lili menyerbu Ban Sai Cinjin dengan muka merah dan mata berapi, agaknya Lili amat marah dan membenci kakek mewah itu.

Melihat kemarahan Lili yang agaknya penuh nafsu membunuh itu, Goat Lan tidak mau main-main lagi dan ketika ia berseru keras, kaki kanannya dengan gerakan Soan-hong-twi (Tendangan Kitiran Angin) telah berhasil menendang- tubuh belakang Hok Ti Hwesio. Tendangan ini dilakukan dengan tenaga yang ratusan kati beratnya dan cukup membuat tulang punggung lawan menjadi patah-patah. Akan tetapi, bagaikan sebuah bal karet, tubuh Hok Ti Hwesio terpental keras dan ketika membentur dinding, lalu mental kembali dan bergulingan di atas lantai tanpa luka sedikit pun! Goat Lan terheran-heran sehingga untuk sesaat ia berdiri bengong memandang manusia bal itu! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Hok Ti Hwesio telah melatih diri dengan ilmu kebal yang luar biasa dan yang dimilikinya setelah ia makan jantung tiga orang manusia!

Pada saat Goat Lan berdiri bengong memandang Hok Ti Hwesio saking herannya, Kam Seng mengirim tusukan maut dengan pedangnya. Ujung pedangnya telah berada dekat sekali dengan dada kiri Goat Lan, akan tetapi alangkah terkejut hati Kam Seng ketika tiba-tiba, bagaikan tubuh seekor ular, tubuh gadis itu melenggok ke kiri dan tusukan itu hanya lewat, di pinggir tubuhnya saja! Dan sebelum Kam Seng kehilangan rasa herannya, tiba-tiba ia merasa lengan kanannya sakit dan pedangnya telah terlepas dari pegangannya! Tanpa ia ketahui, dengan gerakan yang amat cepat bagaikan kilat menyambar, Goat Lan telah mengirim totokan ke arah urat nadinya!

Hok Ti Hwesio telah bangun berdiri lagi, demikian juga Kam Seng telah mengambil kembali pedangnya karena totokan tadi tidak berbahaya, akan tetapi kedua orang itu kini merasa ragu-ragu dan hanya memandang kepada gadis itu dengan bengong. Mereka mengira sedang berhadapan dengan setan, karena bagaimanakah seorang gadis cantik lagi muda itu dapat menghadapi mereka dengan tangan kosong dan membuat mereka tak berdaya dengan dua kali serangan saja?

Sementara itu, Ban Sai Cinjin telah diserang dan didesak hebat oleh Lili yang berusaha membunuhnya! Pundak yang tadi terluka mulai terasa amat sakit dan agaknya sambungan tulang yang telah disambung itu kini terlepas lagi! Keadaannya benar-benar berbahaya dan Goat Lan hanya memandang sambil tertawa-tawa.

Pada saat itu, terdengar seruan orang dan tahu-tahu dari dalam menyambar angin yang menolak kipas Lili yang sedang dipukulkan ke arah dada Ban Sai Cinjin! Goat Lan terkejut ketika melihat betapa kipas itu terpental dan tahu bahwa dari dalam ada orang berkepandaian tinggi yang turun tangan. Benar saja, seruan tadi lalu disusul dengan munculnya seorang tosu tua.

“Nona Sie!” kata tosu itu ketika Lili melompat mundur. “Muridku telah berlaku baik kepadamu, mengapa kau masih mati-matian mengacaukan tempat tinggal orang lain?”

Melihat munculnya tosu yang sore tadi telah merobohkannya, kemarahan Lili makin memuncak. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Wi Kong Siansu ini jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, akan tetapi puteri Pendekar Bodoh ini memang memiliki ketabahan yang diwarisinya dari ayah bundanya.

“Tosu siluman, rasakan pembalasanku!” teriaknya keras dan ia cepat menyerang dengan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut di tangan kanan dan mainkan San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air) dengan tangan kirinya!

Wi Kong Siansu sudah tahu akan kelihaian gadis galak ini, maka ia berlaku hati-hati sekali dan mainkan kedua lengan bajunya dengan cepat. Juga Goat Lan berdiri dengan kagum memandang ilmu silat yang dimainkan oleh Lili. Diam-diam ia mengakui bahwa ilmu silat Lili benar-benar hebat sekali. Akan tetapi ketika ia melihat gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu, ia lebih kaget lagi. Ujung lengan baju yang terbuat dari kain lemas itu kini mengeras bagaikan ujung toya baja dan tiap kali terbentur dengan pedang atau gagang kipas Lili, terdengar suara keras dan senjata di tangan gadis itu terpental ke belakang.

Melihat hal ini saja maklumlah Goat Lan bahwa kepandaian tosu tua ini benar-benar hebat dan kalau dibiarkan saja, Lili mungkin takkan dapat menang. Maka ia lalu mencabut senjatanya dan berseru,

“Kakek tua, jangan kau orang tua menghina yang muda!”

Ketika Wi Kong Siansu melihat datangnya serangan dan melihat senjata di tangan Goat Lan, kakek ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur. Ternyata bahwa gadis ini sekarang memegang dua batang bambu kuning yang hanya sebesar lengan anak-anak dan berujung runcing, panjangnya kira-kira hanya tiga kaki!

“Tahan, Nona. Apakah hubunganmu dengan Hok Peng Taisu?”

Goat Lan memang bersifat nakal dan jenaka, maka sambil tersenyum-senyum ia menjawab,

“Totiang (sebutan untuk pendeta tua), aku yang muda tidak mau membawa-bawa nama orang-orang tua untuk menakuti-nakuti kau!”

Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. “Siapa takut kepadamu? Biarpun Hok Peng Taisu sendiri yang datang, aku Wi Kong Siansu belum tentu akan takut kepadanya! Hanya kulihat bahwa sepasang bambu runcingmu itu adalah bambu runcing yang merupakan kepandaian tunggal dari Hok Peng Taisu.”

“Sudahlah, tak perlu membawa-bawa nama orang tua itu di tempat yang kotor ini. Pendeknya, kalau Totiang takut, sudah saja jangan kau mengganggu adikku ini!”

“Siapa takut? Biarlah, biar kumencoba kepandaian Bu Pun Su dan Swie Kiat Siansu yang diturunkan kepada Nona Sie ini dan sekalian kurasakan kelihaian bambu runcing dari Hok Peng Taisu!” Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu lalu mencabut pedangnya yang disembunyikan di balik jubahnya yang lebar. Pedang ini bersinar kehitaman dan inilah pedang mustika yang amat ganas dan berbahaya yang bernama Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam)! Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu memang telah menciptakan semacam ilmu pedang tunggal yang pada waktu itu merupakan sebuah dari ilmu-ilmu pedang yang paling terkenal dan ditakuti di masa itu. Ilmu pedang ini ia ciptakan berdasarkan pedang mustikanya yang didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san. Karena pedang itu mengeluarkan sinar kehitam-hitaman dan didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san (Bukit Setan Hitam), maka ia lalu memberi nama Hek-kwi-kiam pada pedang itu dan lalu memberi nama pada ilmu pedang ciptaannya Hek-kwi-kiamsut. Biarpun Kam Seng sudah mempelajari ilmu pedang ini dengan tekunnya, akan tetapi oleh karena ilmu pedang ini amat sukar dan banyak sekali perubahannya, maka kepandaian itu boleh dibilang belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian Wi Kong Siansu Si Iblis Tua Pencabut Nyawa!

“Majulah, anak-anak muda! Biarlah kalian mendapat kehormatan mengenal Hek-kwi-kiam-sut dari dekat!”

Akan tetapi Lili yang amat marah sudah tak sabar lagi mendengar ocehan tosu itu dan cepat maju menyerang dengan pedangnya. Goat Lan yang dapat menduga kelihaian tosu itu, lalu maju pula membarengi gerakan Lili dan mengirim serangan dengan bambu runcingnya. Sesungguhnya, dari kedua suhunya yang menggemblengnya selama delapan tahun, yaitu Sin Kong Tianglo Si Raja Obat dan Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak, Giok Lan hanya menerima latihan-latihan ilmu silat tangan kosong dan lwee-kang serta gin-kang. Akan tetapi gadis ini tentu saja tidak mau meniru kedua suhunya yang mempergunakan senjata-senjata yang paling aneh di antara sekalian senjata ahli silat di dunia ini. Yok-ong Sin Kong Tianglo selalu mempergunakan senjata keranjang obat dan pisau pemotong rumput, sedangkan Im-yang Giok-cu mempergunakan senjata guci arak. Oleh karena itu, di samping menerima gemblengan ilmu silat dari kedua kakek sakti ini, Goat Lan juga mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan terutama sekali yang paling disukai ialah mempelajari ilmu bambu runcing dari ibunya! Bahkan setelah ia dapat mainkan ilmu bambu runcing dengan pandai, ia lalu minta kepada ayahnya untuk membuatkan bambu runcing terbuat dari sepasang bambu kuning seperti milik ibunya! Hanya dengan senjata inilah Goat Lan melakukan perantauannya!

Ilmu silat Goat Lan tentu saja sudah amat tinggi dan tangguh. Ia telah menerima gemblengan dari empat orang berkepandaian tinggi dan biasanya ia hanya menghadapi para lawan yang betapa lihai pun dengan kedua kaki tangannya sambil mengandalkan gin-kangnya yang seperti ibunya itu. Akan tetapi kini menghadapi Wi Kong Siansu, terpaksa ia mengeluarkan bambu-runcingnya.

Demikian pula dengan WiKong Siansu. Biasanya, orang tua ini selalu memandang rendah lawan-lawannya dan tak pernah ia mengeluarkan pedang mustikanya. Kini menghadapi dua orang gadis cantik dan masih muda ia sampai mengeluarkan pedangnya, dapat diketahui bahwa tosu ini sama sekali tidak berani memandang ringan kepada Lili dan Goat Lan. Bahkan Ban Sai Cinjin sendiri memandang heran dan ia bersiap sedia dengan hati berdebar-debar. Hok Ti Hwesio dan Kam Seng tentu saja hanya berdiri di sudut ruang yang luas itu sambil menonton dan sama sekali tidak berani mencoba untuk ikut turun tangan.

Pertempuran kali ini memang benar-benar hebat sekali. Ilmu Pedang Hek-kwi-kiam-sut luar biasa ganas dan cepatnya sehingga ruang yang terang oleh cahaya lampu itu menjadi muram, karena sinar pedang itu bergulung-gulung bagaikan uap gunung berapi yang mengandung abu hitam. Akan tetapi sepasang bambu runcing di tangan Goat Lan merupakan titik kuning, yang kadang-kadang berkelebat bagaikan halilintar menyambar dengan cepatnya. Adapun pedang Liong-coan-kiam terkenal sebagai pedang yang ampuh, kini digerakkan dengan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut sungguh mengagumkan, berkelebat-kelebat bersinar putih bagaikan perak merupakan seekor naga perkasa yang bermain-main di antara awan hitam dan halilintar! Kipas maut di tangan kiri Lili merupakan pusat angin yang apabila digerakkan membuat para penonton merasakan sambaran angin dingin yang aneh! Empat ilmu silat yang luar biasa tingginya kini bertemu, dimainkan oleh tiga orang, sungguh merupakan pemandangan yang sukar dilihat orang! Ban Sai Cinjin, Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio sampai berdiri bengong bagaikan terpaku di lantai.

Bagi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang ilmu kepandaiannya jauh lebih rendah, tidak ada kemungkinan sama sekali bagi mereka untuk ikut turun tangan dalam pertempuran, maha dahsyat itu, akan tetapi tidak demikian dengan Ban Sai Cinjin. Apabila diukur tingkat kepandaiannya, memang ia tidak usah mengaku kalah terhadap dua orang gadis itu. Maka diam-diam kakek mewah ini lalu menelan dua butir pel dan mengurut-urut pundaknya, membenarkan letak tulang pundak dan mengatur napasnya. Setelah pundaknya tidak begitu sakit lagi, ia lalu mengeluarkan tembakau hitamnya yang berbahaya, dan mulai mengisi kepala huncwenya dengan tembakau beracun itu. Tak lama kemudian, mengebullah asap tembakau yang membuat kepala menjadi pening dan napas menjadi sesak. Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sendiri terpaksa melangkah mundur menjauhi agar jangan sampai terkena serangan asap beracun itu.

Goat Lan adalah murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat, maka tentu saja ia juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama sekali tentang racun yang seringkali dipergunakan oleh kaum hek-to (jalan hitam, yaitu orang-orang jahat). Begitu hidungnya mencium bau asap tembakau yang mulai melayang-layang di ruangan itu, ia maklum bahwa kakek mewah dengan huncwe mautnya itu akan turun tangan, mengandalkan huncwe dan asapnya yang lihai. Cepat tangan kirinya menancapkan bambu runcing yang kiri di ikat pinggang, menjaga diri dengan bambu runcing kanan, lalu menggunakan tangan kirinya untuk merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan dua butir buah yang putih warnanya, lalu menyerahkan sebutir kepada Lili sambit berkata,

“Lili, masukkan buah ini ke dalam mulut dan gigit! Jangan telan!”

Lili menerima buah itu dan ketika ia menggigitnya, maka mulut dan hidungnya terasa dingin dan pedas, akan tetapi tercium hawa yang amat harum keluar dari mulut dan hidungnya.

Pada saat itu, Ban Sai Cinjin sudah melompat maju dan menyerbu dengan huncwe mautnya sambil mengebulkan asap hitam dari mulutnya ke arah dua orang gadis itu. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Lili dan Goat Lan tidak mengelak dan menerima asap itu tanpa terpengaruh sedikit pun! Ternyata bahwa asap hitam itu sebelum dapat memasuki hidung atau mulut kedua orang dara pendekar ini, telah diusir kembali oleh hawa harum yang keluar dari mulut dan hidung mereka!

Akan tetapi, setelah Ban Sai Cinjin ikut menyerbu, sibuk jugalah Lili dan Goat Lan. Tadi ketika menghadapi dan mengeroyok Wi Kong Siansu, keadaan mereka baru dapat disebut seimbang, masih saja mereka berdua merasa amat sukar untuk dapat merobohkan Toat-beng Lo-mo yang memang sakti itu. Kini, Ban Sai Cinjin yang memiliki ilmu kepandaian tidak lebih rendah daripada tingkat mereka, tentu saja menimbulkan banyak kesukaran dan terpaksa keduanya mengerahkan kepandaian pada penjagaan diri.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: