Pendekar Remaja ~ Jilid 16

“Jangan takut, Lilani. Aku takkan mati, takkan celaka. Mereka itulah yang akan celaka di tanganku!” Setelah berkata demikian, Lie Siong melepaskan pelukan Lilani, dan segera melompat pergi.

Hari telah menjadi gelap ketika bayangan Lie Siong berkelebat cepat di atas genteng gedung Ban Sai Cinjin di mana siang hari tadi diadakan pesta untuk menghormati Hailun Thai-lek Sam-kui. Keadaan di dalam gedung itu tidak seramai tadi, karena Ban Sai Cinjin, ketiga Thai-lek Sam-kui, Wi Kong Siansu, dan juga Lok Cit Siang telah pergi dan mengunjungi kuil di dalam hutan. Orang-orang tua yang lihai ini melanjutkan percakapan di dalam kuil ini agar tidak terganggu oleh orang-orang muda yang masih melanjutkan pesta di gedung itu. Hanya Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang mewakili tuan rumah dan menjamu para tamu yang kini terdiri dari orang-orang muda. Pesta itu kini dimeriahkan oleh beberapa orang wanita penyanyi dan para tamu menjadi makin mabuk.

Tentu saja Lie Siong tidak tahu bahwa kakek-kakek yang lihai itu tidak berada di tempat itu, dan ia pun tidak peduli. Pemuda putera Ang I Niocu ini memang memiliki ketabahan hati seperti ibunya dan juga memiliki kecerdikan dan pandangan luas seperti ayahnya. Ia maklum bahwa seorang diri menghadapi begitu banyak lawan, terutama sekali adanya para orang tua yang pandai itu, merupakan hal yang bodoh dan sama dengan membunuh diri. Oleh karena itu, ia lalu menuju ke ruang belakang yang sunyi dan mencari akal. Satu-satunya jalan untuk dapat menghajar mereka, pikirnya, adalah membuat mereka cerai-berai dan memecah-mecah perhatian mereka.

Gerakan tubuh Lie Siong demikian hati-hati dan gin-kangnya memang sudah sempurna seperti ibunya, maka anak buah dan kaki tangan Ban Sai Cinjin yang berpesta pora di dalam gedung tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Bahkan Hok Ti Hwesio dan Song Kam Seng yang sudah memiliki ilmu silat tinggi juga tidak mengetahuinya. Hal ini bukan menandakan bahwa kepandaian kedua orang murid Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu ini masih rendah, melainkan oleh karena keadaan di dalam gedung itu amat ramainya sehingga tentu saja mereka tidak memperhatikan keadaan di luar maupun di atas gedung. Dan pula, siapakah orangnya yang berani mengganggu rumah gedung Ban Sai Cinjin?

Tiba-tiba, nampak api bernyala hebat di bagian belakang gedung, disusul pula oleh nyala api di sebelah kanan dan kiri gedung. Dalam waktu yang susul menyusul, gedung itu telah kebakaran di tiga tempat, yaitu di belakang, kanan dan kiri! Barulah orang-orang yang berpesta pora menjadi geger.

“Kebakaran…! Kebakaran…!!” Orang-orang mulai berteriak-teriak dan semua orang lari berserabutan ke sana ke mari. Hok Ti Hwesio dan Song Kam Seng mengepalai orang-orang itu untuk memadamkan api yang membakar bagian-bagian gedung itu. Orang-orang sibuk bekerja keras karena api yang membakar gedung itu besar juga dan di tiga tempat.

Di dalam keributan itu, sesosok bayangan orang yang cepat sekali gerakannya, bagaikan seekor burung garuda, menyambar turun dari genteng dan begitu tubuhnya menyambar, menjeritlah beberapa orang muda yang roboh dengan mandi darah! Ternyata bahwa Lie Siong yang merasa marah dan sakit hati karena Lilani diganggu, mulai menurunkan tangan maut sebagai pembalasan dendam! Dengan pedang di tangan, pemuda ini meyerbu orang-orang yang nampak di dalam gedung. Ke mana saja tubuhnya berkelebat, pasti ada seorang korban yang roboh oleh pedangnya atau oleh serangan tangan kiri dan kakinya. Beberapa orang mengeroyoknya dengan senjata di tangan, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja, pengeroyok yang jumlahnya empat orang ini kesemuanya roboh tak dapat bangun pula!

Sepak terjang Lie Siong benar-benar mengerikan. Ia keras hati dan membenci kejahatan melebihi ibunya dulu. Di dalam anggapannya, semua orang yang berada di gedung itu adalah penjahat-penjahat belaka yang harus dibasmi dari muka bumi. Sebentar saja, selagi api masih belum dapat dipadamkan, belasan orang telah ia robohkan!

Hok Ti Hwesio dan Kam Seng masih sibuk dalam usaha mereka memadamkan api ketika seorang pemuda datang kepada mereka dengan wajah pucat dan berkata gagap, “Celaka, ada musuh mengamuk… banyak kawan dibunuh…”

Mendengar ucapan itu, marahlah kedua orang ini. Mereka tadi memang sudah merasa curiga dan menduga bahwa kebakaran ini pasti ditimbulkan oleh musuh jahat. Sambil berteriak marah, Hok Ti Hwesio mendahului Kam Seng dan melompat ke tengah gedung. Ia melihat seorang pemuda sedang mengamuk dengan pedangnya dan ketika melihat bahwa pemuda itu adalah orang yang siang tadi telah mengacau, ia marah sekali. Dicabutnya pisau terbangnya dan berserulah Hok Ti Hwesio,

“Keparat keji rasakan tajamnya senjataku!” Ia menggerakkan tangannya dan pisaunya itu melayang dengan cepatnya sambil mengeluarkan suara mengaung keras.

Melihat benda bersinar menyambar ke arah lehernya, Lie Siong cepat mengelak, akan tetapi segera menyusul dua pisau terbang lagi yang meluncur cepat. Lie Siong menggerakkan pedangnya dan “traaang! traaang!” dua buah pisau itu dapat ditangkis. Lie Siong merasa kagum ketika merasa betapa telapak tangannya kesemutan tanda bahwa pisau itu dilempar dengan tenaga yang amat kuat. Akan tetapi kekagumannya berubah kekagetan ketika pisau pertama yang tadi dapat dielakkan itu menyambar kembali dari belakangnya! Ia cepat melompat ke samping dan segera menubruk ke depan ketika pisau itu lewat. Dengan pedangnya yang aneh ia lalu menyerang Hok Ti Hwesio yang sementara itu telah siap dengan pisau di kedua tangannya! Pada saat Hok Ti Hwesio didesak oleh Lie Siong, datanglah Kam Seng yang telah mencabut pedangnya. Segera Lie Siong dikeroyok dua oleh Hok Ti Hwesio dan Kam Seng. Lie Siong mendapat kenyataan bahwa kepandaian dua orang pengeroyoknya ini hebat dan kuat sekali, akan tetapi tentu saja putera Ang I Niocu ini tidak menjadi gentar sama sekali. Ia bersilat dan memutar pedangnya dengan Ilmu Pedang Sin-liong-kiam-sut, tubuhnya yang semenjak kecil dilatih dengan Ilmu Silat Sian-li-utauw (Tari Bidadari) menjadi lemas dan gerak geriknya selain indah juga cepat sekali. Maklum bahwa ia menghadapi dua orang lawan tangguh, Lie Siong lalu menggerakkan tangan kirinya dan mengebullah uap putih dari lengan kirinya ketika ia bersilat dengan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut yang hebat.

Melihat Pek-in-hoat-sut, bukan main kagetnya Hok Ti Hwesio dan Kam Seng. Lagi-lagi seorang muda dari rombongan Pendekar Bodoh, pikir mereka. Telah dua kali mereka bertemu dengan orang-orang muda dari rombongan Pendekar Bodoh yang pandai Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, yaitu Lili puteri Pendekar Bodoh sendiri, dan sekarang pemuda ini yang memegang sebatang pedang luar biasa anehnya! Dan keduanya ternyata memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya! Dengan penuh semangat Hok Ti Hwesio dan Kam Seng lalu menyerang sambil mengerahkan seluruh kepandaiannyag sehingga Lie Siong belum sempat merobohkan mereka. Kepandaian kedua orang itu sesungguhnya sudah tinggi dan kalau Lie Siong tidak memiliki ilmu pedang yang hebat dan gin-kang yang tinggi, agaknya sukarlah baginya untuk dapat mempertahankan desakan mereka.

Lebih-lebih kaget hati Lie Siong ketika ia berhasil menendang perut Hok Ti Hwesio, karena tendangan yang sedikitnya seribu kati kekuatannya dan yang pasti akan membinasakan seorang ahli silat lainnya ini, hanya membuat tubuh hwesio muda itu terpental sampai dua tombak jauhnya, jatuh menggelundung lalu melompat berdiri lagi tanpa terluka sedikit pun! Bahkan hwesio itu marah sekali lalu menyerang dengan luar biasa hebatnya.

Tentu saja Lie Siong tidak tahu bahwa Hok Ti Hwesio memiliki ilmu kekebalan yang amat hebat, maka ia menjadi penasaran sekali. Ia membulatkan tekad untuk membinasakan dua orang yang dianggapnya amat berbahaya ini. Penjahat-penjahat dengan kepandaian yang tinggi harus dibinasakan, kalau tidak, tentu akan mendatangkan kekacauan dan kejahatan diantara sesama hidup. Maka ia lalu memutar pedangnya lebih cepat lagi. Yang mengagumkan hatinya adalah ilmu pedang Kam Seng, karena biarpun gerakannya lemah-lembut namun Kam Seng selalu dapat menjaga diri dengan baik dan bahkan melakukan serangan balasan yang tidak kalah berbahayanya.

Diam-diam Lie Siong merasa heran melihat Kam Seng, karena bagaimanakah seorang pemuda yang berwajah tampan dan bersih, bersikap lemah-lembut dan sinar matanya sama sekali tidak nampak seperti seorang penjahat, bisa bersatu dengan orang-orang jahat? Juga, di dalam pertempuran ini, agaknya pemuda itu tidak berniat sungguh-sungguh untuk mengadu jiwa, hanya hendak menguji kepandaian saja, berbeda dengan Hok Ti Hwesio yang menyerang membuta tuli.

Betapapun juga, ilmu kepandaian Lie Siong masih menang setingkat apabila dibandingkan dengan kedua orang pengeroyoknya, maka pada suatu saat yang tepat, lidah pedang naga di tangan Lie Siong yang panjang itu berhasil menotok Kam Seng sehingga pemuda itu terhuyung mundur dengan wajah pucat. Baiknya ia masih dapat mengerahkan gin-kangnya dan menutup jalan darahnya, sehingga ia tidak terluka hebat, hanya beberapa lama sebelah tangannya, yaitu tangan kiri menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi.

Lie Siong mendesak hebat kepada Hok Ti Hwesio dan ingin sekali menjatuhkan serangan maut, akan tetapi Hok Ti Hwesio lalu bersuit keras sebagai tanda kepada kawan-kawan untuk maju mengeroyok. Kini api telah dapat dipadamkan dan semua orang telah berkumpul di situ. Melihat betapa Kam Seng dikalahkan dan Hok Ti Hwesio memberi tanda, dua puluh orang lebih maju mengeroyok.

Lie Siong makin gembira melihat datangnya keroyokan, dan pedangnya berkelebat ganas, merobohkan beberapa orang lagi dalam satu gerakan saja! Hebat sepak terjang pemuda ini sehingga gentar juga hati Hok Ti Hwesio melihatnya.

“Lekas, panggil Suhu dan Supek!” teriaknya kepada para kawannya.

Lie Siong terkejut dan teringatlah ia kepada kakek gemuk yang siang tadi telah bertempur dengan dia. Kalau kakek itu dan orang-orang lain yang siang tadi telah dibuktikan kepandaiannya datang pula mengeroyok maka akan berbahayalah keadaannya. Ia pun teringat pula kepada Lilani yang ditinggalkan di tengah hutan. Alangkah gelisah gadis itu ditinggalkan seorang diri di dalam hutan yang gelap itu. Ia telah membakar rumah dan merobohkan belasan orang, maka sedikitnya kemarahannya telah mereda. Sudah cukup pembalasan yang ia lakukan untuk Lilani. Penghinaan yang dilakukan orang kepada Lilani sudah terbalas lebih dari pantas dan cukup. Pula, ia telah mulai lelah setelah bertempur menghadapi keroyokan itu.

Dengan gerakan Naga Sakti Memutar Tubuh, Lie Siong mengayun pedangnya serta memutarnya sedemikian rupa sehingga yang nampak hanya segulung sinar pedang yang menyilaukan saja, kemudian pada saat para pengeroyoknya mundur menyelamatkan diri, ia melompat ke atas genteng!

“Bangsat hina dina jangan lari!” seru Hok Ti Hwesio dan terbanglah dua batang pisau yang disambitkannya.

Lie Siong memutar pedangnya dan berhasil menangkis dua batang pisau itu, akan tetapi baru saja ia terhindar dari serangan senjata gelap ini, tiba-tiba terdengar angin menderu dan lima batang benda hitam yang bundar menyerang lima jalan darah pada tubuhnya. Lie Siong terkejut sekali dan cepat ia melompat tinggi sambil berjungkir balik, dan tidak lupa untuk memutar pedangnya melindungi diri. Untung ia bergerak cepat, kalau tidak, tentu ia akan terkena sengan senjata rahasia yang lihai ini! Ia cepat melompat jauh dan menghilang di dalam gelap, diam-diam kagum melihat senjata rahasianya yang ternyata adalah thi-tho-ci dan dilepas oleh Kam Seng!

Dengan marah Hok Ti Hwesio hendak mengejar, akan tetapi Kam Seng berkata, “Percuma saja dikejar, penjahat itu memiliki kepandaian yang lebih lihai dari kita!” Ia menghela napas dan masih merasa terpesona oleh gerakan Lie Siong yang dengan mudah dapat menghindarkan diri dari serangannya tadi. Ia telah menyempurnakan pelajaran melepas senjata rahasia thi-tho-ci dan mendapat petunjuk dari suhunya, akan tetapi ternyata bahwa pemuda aneh tadi dapat mengelak dengar mudah dan indahnya. Dengan hati amat kecewa Kam Seng mendapat kenyataan bahwa rombongan Pendekar Bodoh, orang-orang muda yang sudah memperlihatkan diri, ternyata adalah orang-orang gagah yang berkepandaian jauh lebih tinggi dari padanya. Apalagi yang tua-tua seperti Pendekar Bodoh, isterinya, Kwee An dan isterinya, dan yang lain-lain! Aku harus minta kepada suhu untuk menurunkan pelajaran ilmu silat Mongol untuk dapat menandingi mereka, pikirnya dengan hati tetap.

Sementara itu, Lie Siong berhasil melarikan diri dengan hati puas. Ia telah melakukan pembalasan yang cukup berhasil dan telah menebus penghinaan terhadap Lilani. Tak seorang pun di dunia ini boleh menghina Lilani, gadis yang amat dikasihani itu.

Hutan di mana ia meninggalkan Lilani amat gelap sehingga Lie Siong terpaksa melakukan perjalanan lambat. Ketika tiba di tempat di mana tadi ia meninggalkan Lilani, ternyata bahwa tempat itu sunyi dan tidak nampak bayangan orang. Ia merasa heran sekali. Ia ingat benar bahwa tadi ia meninggalkan Lilani di situ, di bawah pohon besar itu, akan tetapi mengapa sekarang tidak nampak gadis itu di tempat itu? Ke manakah perginya? Tiba-tiba Lie Siong merasa hatinya berdebar penuh kecemasan. Jangan-jangan Lilani telah mendapat bencana ketika ditinggalkan, pikirnya dengan hati gelisah tidak karuan. Apakah Lilani telah diterkam binatang buas? Apakah ditawan oleh orang jahat? Menggigil sepasang kaki Lie Siong ketika ia memikirkan hal ini. Ia sendiri merasa heran karena belum pernah selama hidupnya ia menderita perasaan takut dan gelisah seperti ini. Kalau ia sendiri yang berada di dalam bahaya, ia takkan merasa takut sedikit pun akan tetapi memikirkan Lilani berada dalam bahaya, ia menjadi gemetar seluruhnya!

“Siapa??” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Lilani muncul dari balik semak-semak sambil tangannya memegang pedang!

Lie Siong tidak dapat melihat nyata, akan tetapi suara itu dikenalnya baik-baik. Hampir ia bersorak saking girangnya melihat gadis itu ternyata masih berada di situ dalam keadaan baik.

“Lilani… aku yang datang!” katanya dan kembali ia terheran mendengar suaranya sendiri yang agak gemetar.

Terdengar isak tertahan dan Lilan lalu melempar pedangnya ke bawah, kemudian lari dan menubruk Lie Siong sambil menangis!

“Tai-hiap… ah, Tai-hiap…” Gadis ini tadinya merasa amat ketakutan dan kuatir pemuda yang dicintanya itu terbinasa dan takkan kembali lagi. Kini, melihat Lie Siong datang, kegirangan yang memuncak membuat ia tak dapat menahan membanjirnya air matanya. Ia memeluk leher pemuda itu, menciumnya dengan hati girang dan penuh cinta kasih, sambil mulutnya berbisik tiada hentinya, “Tai-hiap… Tai-hiap…”

Baru kali ini Lie Siong merasakan getaran hati yang luar biasa. Ketika merasa betapa air mata yang hangat dari gadis itu membasahi mukanya yang diciumi, merasa betapa kedua lengan tangan Lilani memeluknya dengan erat dan bisikan-bisikan mesra yang menyayat hatiya, kekerasan hati pemuda ini hancur luluh! Ia memegang kepala Lilani yang bergerak-gerak menciuminya, mendekap gadis itu, pada dadanya dan ia lalu membenamkan mukanya pada rambut gadis itu yang berbau harum.

“Lilani…” suaranya hampir tidak terdengar karena tertutup oleh getaran perasaan hatinya, “jangan… jangan menangis, Lilani…”

“Tai-hiap…” Lilani tersedu saking girangnya. Belum pernah pemuda yang dipujanya ini memperlihatkan perasaan seperti ini dan kini dengan girang perasaan, wanitanya dapat menangkap bahwa pemuda ini pun ternyata menaruh hati kasih kepadanya. “Tai-hiap, pedang itu… kalau bukan kau yang datang, tentu pedang itu akan menembus dadaku…”

“Lilani…!” Lie Siong mendekap makin erat.

“Benar, Tai-hiap, aku sudah bersumpah takkan mau hidup lagi kalau kau sampai mendapat celaka dan terbinasa.”

Demikianlah, pertemuan yang mesra ini menandakan bertemunya dua hati muda di dalam hutan yang gelap itu akan tetapi yang bagi mereka kini nampak terang. Hawa yang dingin menusuk tulang terasa hangat menyegarkan, dan suara binatang-binatang buas dan burung hantu terdengar bagaikan musik yang amat indah merayu kalbu. Pertemuan dua hati dan dua jiwa yang sudah lama merana, rindu akan kasih seseorang. Bintang-bintang yang ribuan banyaknya dianggapnya menjadi saksi atas pertemuan ini, dan bayang-bayang pohon merupakan selimut yang hangat. Bintang-bintang saling berkedip memberi tanda mata dan tersenyum-senyum maklum.

***

Diantara para pendekar remaja yang kita ikuti perjalanan dan pengalamannya hanya Sie Hong Beng, putera Pendekar Bodoh yang sulung, yang belum kita ketahui bagaimana nasibnya. Baikiah kita jangan meninggalkannya terlebih lama lagi dan mari kita ikuti perjalanan pendekar remaja putera Pendekar Bodoh ini.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Sie Hong Beng diantar oleh ayahandanya untuk belajar ilmu silat tinggi dari Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari di Beng-san. Selama sepuluh tahun, Hong Beng mendapat gemblengan ilmu silat tinggi, memperdalam ilmu lwee-kang dan ilmu tongkat yang luar biasa sekali. Ilmu tongkat ini disebut Ngo-heng Tung-hwat dan ada semacam lagi yang disebut Pat-kwa Tung-hwat. Untuk mainkan dua macam ilmu tongkat ini saja, dibutuhkan waktu selama lima tahun oleh Hong Beng untuk dapat mempelajarinya dengan sempurna. Yang istimewa pada ilmu tongkat ciptaan Pok Pok Sianjin ini adalah bahwa untuk mainkan ilmu tongkat ini, tidak diperlukan tongkat yang khusus. Sebatang ranting pohon yang terkecil, sampai sebatang pohon muda yang besar, dapat dipergunakan sebagai senjata yang istimewa lihainya.

Setelah menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Hong Beng, Pok Pok Sianjin lalu menyembunyikan diri di dalam gua di puncak Gunung Beng-san dan menyuruh muridnya turun gunung melakukan perjalanan merantau sarnbil mempergunakan seluruh pelajaran itu dalam praktek,

Ketika Hong Beng menuruni gunung di mana untuk sepuluh tahun ia berdiam, mempelajari ilmu silat dengan tekunnya, ia telah merupakan seorang pemuda yang gagah sekali, tubuhnya tinggi tegap, mukanya lebar dan tampan, berkulit halus. Wajah dan tubuhnya sama benar dengan ayahnya di waktu muda, demikian watakya pendiam dan sabar, berpakaian sederhana seperti ayahnya pula. Akan tetapi, kalau ayahnya, yaitu Pendekar Bodoh, di waktu mudanya seringkali suka merendahkan diri dan dalam kepandaian silat suka mengalah dan berpura-pura bodoh, sehingga dijuluki Pendekar Bodoh, adalah Hong Beng mempunyai watak tidak mau kalah dalam hal kepandaian silat. Watak ini agaknya ia warisi dari ibunya, karena di waktu mudanya, Lin Lin juga memiliki watak demikian. Bahkan di waktu kecilnya, Hong Beng dan adiknya, Hong Li atau Lili yang memiliki pendirian sama, sering membicarakan nama julukan ayah mereka.

“Sungguh menggemaskan, ayah yang berkepandaian setinggi langit tiada lawannya, mengapa disebut Pendekar Bodoh?” kata Lili sambil merengut.

“Memang aku pun penasaran sekali,” jawab Hong Beng. “Menurut patut, ayah harus dijuluki Pendekar Sakti, bukan Pendekar Bodoh.”

Akan tetapi, kalau keduanya mengajukan rasa penasaran ini kepada ayah mereka, Sie Cin Hai hanya terbahak-bahak saja dan menjawab dengan sebuah pertanyaan.

“Anak-anak bodoh, mana yang lebih baik, gentong arak disangka penuh akan tetapi kosong melompong ataukah gentong arak yang dianggap kosong akan tetapi penuh isi?”

“Tentu saja lebih baik yang disangka kosong akan tetapi penuh isi!” jawab Lili yang berotak terang dengan kontan.

“Nah,” jawab ayahnya masih tertawa, “demikianpun soal nama julukan. Lebih baik disangka bodoh akan tetapi tidak bodoh daripada dianggap pinter akan tetapi goblok!”

Betapapun juga, setelah menjadi dewasa, Hong Beng masih saja tidak mau merendahkan diri dan berpura-pura bodoh seperti ayahnya. Ia adalah seorang pemuda yang maklum akan kepandaian sendiri, dan hasratnya besar sekali untuk menguji ilmu kepandaiannya dengan kepandaian orang lain.

Kalau orang melihat Hong Beng turun gunung dengan pakaian yang demikian sederhana, berwarna biru dengan rambut atas, diikat pita kecil warna sepatunya hitam tanpa kaos, orang takkan mengira bahwa putera Pendekar Bodoh dan murid Pok Pok Sianjin yang sakti. Pemuda ini tidak membawa senjata apa-apa, bertangan kosong dan biarpun tubuhya tinggi tegap, namun kulit mukanya utih dan halus. Pakaiannya seperti serang petani sederhana, akan tetapi sikap dan gerak gayanya yang lemah lembut membuat ia pantas dianggap orang seperti seorang pemuda terpelajar yang lemah. Namun, kalau orang melihat betapa menuruni gunung yang penuh batu karang dan jurang dengan tindakan kaki yang cepat sekali, seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah, orang akan menjadi bengong terheran-heran.

Dari Gunung Beng-san, pemuda ini menuju ke timur, melakukan perjalanan seenaknya, karena ia pun tidak tergesa-gesa. Pada suatu hari, ia tiba di kota Ta-liong di lembah Sungai Kuning dan amat heranlah ia melihat betapa kota yang besar dan ramai itu penuh dengan pengemis dan jembel! Yang amat mengherankan hatinya adalah betapa para pengemis itu, sebagian besar memegang sebatang tongkat berwarna hitam dan biarpun mereka menjalankan pekerjaan mengemis, namun gerakan tubuh mereka bagi mata Hong Beng yang awas, menunjukkan bahwa mereka itu pandai ilmu silat!

Memang sesungguhnya kota Ta-liong adalah kota pusat dari perkumpulan pengemis dari Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) yang amat tersohor dan mempunyai cabang dan anggauta sampai di kota raja! Hek-tung Kai-pang adalah perkumpulan pengemis yang sudah puluhan tahun umurnya dan telah mengalami pergantian pimpinan sampai beberapa kali. Tiap tiga tahun sekali, di kota Ta-liong tentu diadakan pertemuan antara para pemimpin-pemimpin cabang untuk mengangkat seorang pemimpin baru. Kebetulan sekali ketika Hong Beng tiba di kota itu, para pemimpin cabang datang berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru, maka kota itu penuh dengan pengemis bertongkat hitam.

Pada waktu itu, Hek-tung Kai-pang dipimpin oleh lima orang ketua karena ketika diadakan pemilihan pada tiga tahun yang lalu pilihan jatuh kepada lima saudara yang menjadi anak murid dari Hek-tung Kai-ong (Raja Pengemis Bertongkat Hitam) pendiri dari perkumpulan itu. Baru sekarang anak murid Hek-tung Kai-ong dipilih menjadi ketua. Beberapa tahun sudah, perkumpulan itu dipimpin oleh lain orang, karena anak murid Hek-tung Kai-pang sendiri tidak mampu mengalahkan pemimpin dari luar itu. Lima saudara yang menjadi murid Hek-tung Kai-ong sendiri ini lalu melatih diri dan akhirnya berhasil mempelajari ilmu tongkat dari Hek-tung Kai-ong, sehingga akhirnya mereka berhasil merebut kedudukan ketua. Untuk menjaga perpecahan di antara mereka, serta untuk memperkuat kedudukan dan menjaga nama Hek-tung Kai-ong pendiri perkumpulan itu, mereka berlima bermufakat untuk memegang pimpinan bersama-sama.

Dengan demikian, maka calon pemimpin baru apabila hendak menggantikan mereka, harus dapat mengalahkan mereka berlima! Maka, sampai tiga kali pimpinan jadi tiga kali tiga tahun, Ngo-heng-te (Lima Saudara) dengan Hek-tung-hwatnya (Ilmu Tongkat Hitam) ini selalu menjadi pimpinan dan tak terkalahkan!

Dengan demikian, maka calon pemimpin baru apabila hendak menggantikan mereka, harus dapat mengalahkan mereka berlima! Maka, sampai tiga kali pimpinan jadi tiga kali tiga tahun, Ngo-heng-te (Lima Saudara) dengan Hek-tung-hwatnya (Ilmu Tongkat Hitam) ini selalu menjadi pimpinan dan tak terkalahkan!

Seperti biasa, para pengemis telah berkumpul di sebuah tempat terbuka di sebelah utara kota, di mana terdapat padang rumput dan beberapa batang pohon besar. Mereka masih menanti di bawah pohon-pohon, ada yang duduk melenggut, ada yang berbaring mendengkur, ada yang membuka bungkusan dan makan hasil mengemis, dan sebagian besar duduk bercakap-cakap mengobrol ke barat ke timur sehingga keadaan menjadi sangat ramai sekali. Kurang lebih ada empat puluh orang pengemis berkumpul di tempat itu, kesemuanya adalah pengemis-pengemis tua yang menjadi pimpinan berbagai cabang Hek-tung Kai-pang. Lima orang ketua mereka belum datang, maka mereka masih saja menanti. Menurut desas-desus mereka kelima orang pangcu (ketua) itu akan datang dari kota raja di mana mereka tinggal. Biarpun ketua itu tinggal di kota raja, akan tetapi mereka tidak berani mengadakan pertemuan di sana, oleh karena tentu saja mereka akan diusir dan diserbu oleh para perwira kerajaan yang tidak memperbolehkan orang-orang kotor ini merusak pemandangan indah di kota raja!

Tiba-tiba semua pengemis itu dikejutkan oleh datangnya seorang pengemis lain yang aneh keadaannya. Pengemis ini belum tua benar, kurang lebih berusia empat puluh tahun, berwajah tampan dan pucat, sedangkan mukanya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak beres ingatannya. Ia tertawa-tawa dan meringis sambil memutar-mutar manik matanya secara mengerikan. Tangannya memegang sebatang tongkat bambu dan pakaiannya tidak karuan, demikianpun rambutnya. Bahkan di pinggir mulutnya nampak tanah lumpur, seakan-akan ia habis makan tanah lumpur.

“Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana, ha-ha! Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana!” kata pengemis bertongkat bambu itu sambil menudingkan tongkatnya kepada para pengemis lain yang memandangnya heran. Tak seorang pun di antara para pengemis ini mengenal orang yang baru datang dan pandang mata marah mulai nampak pada para pemimpin cabang Hek-tung Kai-pang itu. Siapakah yang begitu kurang ajar berani datang ke tempat itu dan mengganggu mereka?

“He, orang gila!” Seorang pengemis, yang pendek gemuk memaki. “Apakah matamu buta? Apakah nyawa anjingmu minta diantar oleh tongkat hitam?”

Pengemis aneh ini sebenarnya Sin-kai Lo Sian. Pengemis sakti yang telah menjadi gila. Sebagaimana telah kita ketahui, Lo Sian telah ditangkap oleh Ban Sai Cinjin sepuluh tahun yang lalu, dipaksa minum obat beracun sehingga menjadi gila. Selama itu, Lo Sian berkeliaran di mana-mana dan karena keadaannya telah berubah sedemikian rupa dan menjadi gila, tak seorang pun dapat mengenalnya pula sehingga dahulu suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang Le, tak berhasil mencarinya. Di dalam perantaunnya dalam keadaan tidak sadar dan tidak ingat sesuatu, Lo Sian kebetulan tiba di kota Ta-liong dan melihat banyaknya pengemis berkumpul di situ, ia menjadi tertarik dan datang pula ke tempat itu.

Mendengar teguran Si Pendek Gemuk tadi, Lo Sian hanya tertawa haha-hehe, dan ia menggunakan tongkatnya untuk mencokel tanah di depan kakinya. Begitu tongkatnya digerakkan, tanah itu tercolek terbang ke arah perut Si Pengemis Gendut. Pengemis gendut itu terkejut sekali, cepat ia mengelak akan tetapi sambaran tanah lumpur ke dua telah tiba dan tepat sekali mengenai mulutnya.

“Plak!” Pengemis gendut itu gelagapan dan sebagian besar lumpur itu telah memasuki mulutnya!

“Bangsat kurang ajar” teriak pengemis lain dan semua pengemis yang tidak tidur telah berdiri mengepal tongkat hitamnya. “Butakah matamu bahwa kau berhadapan dengan rombongan pengurus Hek-tung Kai-pang? Hayo lekas mengaku siapakah kau dan mengapa kau datang memusuhi kami?”

Kalau otaknya tidak gila, tentu Lo Sian tahu siapa sebetulnya mereka ini, karena ia pun telah mendengar nama Hek-tung Kai-pang, bahkan dulu ia menjadi kawan baik dari Hek-tung Kai-ong pencipta perkumpulan itu. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, jangankan mengenal orang lain, dirinya sendiri pun ia tidak kenal lagi. Maka mendengar makian pengemis ini yang bertubuh jangkung kurus, ia lalu menggerakkan tongkat bambunya mencokel tanah lagi dan beterbanganlah tanah lumpur ke arah para pengemis yang telah berkumpul itu!

“Kurang ajar, kau benar-benar ingin mampus dibawah gebukan tongkat kami!” dan menyerbulah sekalian pengemis itu dengan tongkat hitam terangkat, mengeroyok Lo Sian.

Semua pengurus cabang Hek-tung Kai-pang telah mempelajari limu Tongkat Hek-tung-hwat, akan tetapi tingkat mereka apabila dibandingkan dengan Ngo-heng-te dan Hek-tung-hwatnya itu masih amat jauh. Hek-tung-hwat adalah ilmu tongkat yang luar biasa sukarnya, dan amat dirahasiakan cara mempelajarinya. Inilah pula sebabnya mengapa kelima saudara itu dulu masih belum menguasai sepenuhnya ilmu tongkat ini. Setelah mereka mendapatkan kitab pelajaran yang disembunyikan oleh Hek-tung Kai-ong, barulah mereka dapat memperdalam ilmu tongkat itu.

Adapun Lo Sian, biarpun ingatannya telah lenyap dan ia telah menjadi seorang gila, namun ilmu silatnya masih tidak lenyap. Ilmu silatnya yang berasal dari Thian-san-pai amat tinggi dan termasuk golongan atas, maka tentu saja apabila dibandingkan dengan para pengemis itu, ia masih menang jauh. Akan tetapi, biarpun telah kehilangan pikirannya, Lo Sian masih belum kehilangan wataknya yang baik dan penuh welas asih, maka ia tidak ingin membunuh sekalian pengemis yang mengeroyoknya, ditambah lagi dengan jumlah pengeroyoknya yang amat banyak, maka sebentar saja ia dikepung oleh puluhan orang pengemis dan berkali-kali ia menerima gebukan tongkat hitam!

Pertempuran itu benar-benar ramai dan lucu. Lo Sian sambil tertawa-tawa tidak karuan, mempermainkan para pengeroyoknya, membuat para pengemis itu terjungkal dan roboh karena dikait kakinya. Mereka jatuh tidak terluka, bangun lagi dan biarpun hujan tongkat hitam itu mengenai tubuh Lo Sian sehingga pakaiannya hancur dan kulitnya ada yang pecah, namun seperti tidak terasa oleh pengemis sakti yang memiliki kekebalan dan lwee-kang yang tinggi itu. Pada saat itu, datanglah Hong Beng yang kebetulan tiba di kota itu. Pemuda ini memiliki jiwa yang gagah dan adil. Dari jauh ia telah melihat dan mendengar ribut-ribut itu dan ketika ia menghampiri tempat pertempuran ia melihat seorang pengemis dikeroyok oleh puluhan pengemis tongkat hitam. Tadinya ia mengira bahwa pengemis-pengemis itu tentu berebut makanan, akan tetapi ketika menyaksikan cara Lo Sian main silat, ia terkejut karena mengenal ilmu silat yang tinggi dari Thian-san-pai.

“Curang!” seru pemuda ini dengan marah. “Puluhan orang mengeroyok seorang, sungguh tidak tahu malu!”

Hong Beng lalu menyerbu ke depan. Seorang pengemis tongkat hitam menyambutnya dengan tusuklan tongkat pada lambungnya, akan tetapi dengan amat mudah, Hong Beng mengeluarkan tangannya dan sekali membetot, tongkat hitam itu berpindah tangan. Kaki kirinya bergerak menendang dan terlemparlah tubuh pengemis itu sampai tiga tombak lebih dan jatuh sambil berkaok-kaok kesakitan.

Para pengemis menjadi marah dan beberapa orang maju menyerbu Hong Beng. Akan tetapi, mana mereka dapat menandingi Hong Beng yang berkepandaian tinggi? Memang keahlian pemuda ini adalah permainan tongkat, kini ditangannya telah memegang sebatang tongkat yang baik, maka tentu saja ia merupakan seekor naga yang dikeroyok oleh beberapa banyak tikus! Sekali ia menggerakkan tongkatnya, terdengar jerit kesakitan dan tubuh empat orang pengemis terlempar tak dapat bangun lagi karena tangan atau kaki mereka patah-patah!

Tiba-tiba terjadi keanehan. Lo Sian yang sedang dikeroyok dan menghadapi para pengeroyoknya sambil tertawa-tawa gembira, ketika melihat sepak-terjang Hong Bengi menjadi marah sekali.

“Kau berani melukai kawan-kawanku!” teriaknya dan tongkat bambunya dengan cepat sekali menyambar ke arah leher Hong Beng!

Pemuda ini lebih merasa heran daripada terkejut. Mengapa ada orang yang membalas pertolongan dengan serangan demikian berbahaya? Namun dengan tenang ia lalu mengangkat tongkatnya menangkis dan terkejutlah ia ketika merasa betapa tenaga pengemis gila ini benar-benar tidak rendah. Ia lalu mainkan tongkatnya dan kini ia berkelahi dengan hati-hati sekali. Pengemis tongkat bambu ini menyebut para pengeroyoknya sebagai kawan-kawan, apakah dengan demikian bukan berarti bahwa ia telah mencampuri urusan dalam orang-orang golongan lain?

“Orang tua, tahan dulu. Aku tidak bermaksud jahat!” kata Hong Beng, akan tetapi Lo Sian tetap menyerangnya kalang kabut sambil mengeluarkan ilmu tongkat dari Thian-san-pai yang paling lihai. Para pengemis kini memindahkan kemarahan mereka kepada Hong Beng dan sambil berteriak-teriak mereka lalu maju membantu Lo Sian, mengeroyok Hong Beng. Kini pemuda inilah yang dikeroyok!

Melihat betapa Lo Sian tidak memperdulikannya, dan betapa para pengemis itu mengeroyoknya dengan nekad, Hong Beng merasa mendongkol juga. Akan tetapi ia kini tidak mau melukai pengeroyoknya, cukup mendorong mereka roboh tumpang-tindih saja. Ketika ia mengerahkan kepandaiannya, tongkat bambu di tangan Lo Sian dapat dipukulnya sehingga remuk dan ia berhasil mendorong Lo Sian sehingga terjungkal dan bergulingan beberapa kali tanpa melukainya. Tiba-tiba Lo Sian menjerit-jerit seperti orang ketakutan.

“Aduh…! Pemakan jantung…! Pemakan jantung…!” Dan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan, larilah Lo Sian dengan amat cepatnya bagaikan orang dikejar setan!

Mendengar dan melihat hal ini, para pengemis tongkat hitam menjadi bengong dan memandang ke arah bayangan Lo Sian, untuk sementara lupa kepada Hong Beng yang dikeroyoknya! Pemuda ini pun menjadi terheran-heran dan ia pun cepat membuang tongkat rampasannya lalu melompat pergi mengejar bayangan Lo Sian yang berlari-lari sambil menjerit-jerit!

Setelah keluar dari kota Ta-liong, Hong Beng akhirnya dapat menyusul Lo Sian yang berlari-lari. Pemuda ini mendahuluinya, lalu membalikkan tubuh dan menghadang di tengah jalan sambil berkata,

“Perlahan dulu, Lopek!” Ia mengangkat tangan memberi isarat agar supaya orang tua itu berhenti. “Siapakah kau dan apakah artinya sikapmu yang aneh ini?”

Lo Sian memandangnya dengan tajam, kemudian tiba-tiba pengemis ini tertawa. “Ha-ha-ha! Kau manusia berhati kejam! Kau hendak membunuhku? Bunuhlah! Kaukira aku takut mati? Ha-ha-ha!” Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menggerakkan tangannya dan menyerang dengan gerak tipu Kumbang Jantan Menyambar Bunga. Akan tetapi dengan kedua tangannya digerakkan cepat sekali Hong Beng berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Lo Sian.

“Orang tua, mengapa kau mengamuk dan mengapa pula kau berlari-lari seperti ketakutan? Ada apakah? Cobalah kau mengaku terus terangg siapa kau dan percayalah bahwa aku yang muda akan berusaha untuk membantumu dan menolongmu dari kesukaran!”

“Siapa aku? Tidak tahu! Tidak tahu!” Lo Sian meronta-ronta kemudian sambil membelalakkan matanya, ia berteriak-teriak lagi, “Pemakan jantung! Pemakan jantung! Hi-hi…, pemakan jantung.” Ketika Hong Beng melepaskannya, ia berlari lagi ke dalam hutan di dekat situ.

Hong Beng merasa terharu sekali. Ternyata olehnya bahwa kakek itu benar-benar gila. Tanpa disadarinya, kedua kakinya bergerak mengejar ke dalam hutan, akan tetapi oleh karena sekarang Lo Sian tidak mengeluarkan teriakan-teriakan lagi, agak sukarlah baginya untuk dapat menyusul pengemis yang telah berlari ke dalam hutan belukar itu.

Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan di sebelah belakang dan ketika ia menengok, ia melihat betapa puluhan pengemis tongkat hitam tadipun kini telah mengejarnya! Dengan mendongkol sekali karena hatinya masih merasa amat iba kepada pengemis gila tadi, Hong Beng lalu menghadapi para pengemis itu dan mendahului memaki,

“Orang-orang berhati kejam dan jahat! Kalian ini sudah tahu bahwa pengemis tadi adalah seorang yang tidak waras pikirannya, masih saja kalian mengeroyoknya. Apakah itu dapat disebut perbuatan yang pantas?”

Seorang di antara para pengemis itu, yang bongkok tubuhnya dan yang mewakili kawan-kawannya bicara, memberi hormat dan berkata,

“Orang muda yang gagah! Kau tidak tahu bahwa si gila tadi yang mulai lebih dulu dan mengganggu kami. Kami sekali-kali bukan orang-orang yang berhati jahat dan bersikap pengecut, karena ketahuilah bahwa kami adalah anggota-anggota terpilih dari Hek-tung Kai-pang!”

Hong Beng pernah mendengar nama perkumpulan pengemis ini dari suhunya yang memuji perkumpulan ini sebagai perkumpulan yang berhaluan patriotik dan memusuhi para perampok dan pengacau. Pengemis-pengemis Hek-tung Kai-pang selalu merasa dirinya menjadi pelindung dari rakyat kecil yang miskin. Akan tetapi oleh karena Hong Beng tidak mempunyai urusan dengan perkumpulan ini, ia segera bertanya,

“Kalau begitu, kalian mengejarku ada maksud apakah?”

“Sayang sekali bahwa ketika kelima Pangcu (Ketua) kami tiba, kau telah pergi dan sekarang para Pangcu kami yang tertarik sekali mendengar kepandaianmu bermain tongkat, mengundang kepadamu untuk mengunjungi perkumpulan kami dan mengajakmu berpibu (mengadu kepandaian).”

Berserilah wajah Hong Beng mendengar tantangan ini. Memang, tiap kali mendengar orang pandai, hatinya ingin sekali mencobanya, apalagi kalau dia yang ditantang! Akan tetapi, ia masih tertarik oleh Lo Sian pengemis gila tadi dan hendak mencari serta menyelidikinya, maka ia lalu berkata,

“Baiklah, katakan pada Pangcu-pangcumu bahwa aku Sie Hong Beng menerima baik undangan mereka. Besok pagi-pagi aku akan datang mengunjungi tempat di mana kalian tadi berkumpul.”

Para pengemis itu tertegun ketika mendengar pemuda itu menerima tantangan kelima pangcu mereka, dan sikap mereka berubah menghormat sekali. Si Bongkok tadi menjura dan berkata,

“Orang muda yang gagah! Kami percaya bahwa seorang gagah seperti kau tentu takkan melanggar janji. Hanya harap kau berhati-hati menghadapi Hek-tung-hwat dari kelima orang pangcu kami!” Ia lalu mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri. Adapun Hong Beng lalu melanjutkan perjalanannya mencari pengemis gila tadi.

Pada saat itu, di dalam hutan itu terdapat dua orang lainnya yang juga melakukan perjalanan sambil bersendau gurau. Mereka ini adalah Lili dan Goat Lan yang melakukan perjalanan menuju ke Tiang-an. Kedua orang gadis gagah ini pun mendengar teriakan-teriakan para pengemis tadi dan cepat mereka menuju ke tempat itu. Akan tetapi para pengemis itu telah pergi meninggalkan Hong Beng dan ketika Lili melihat Hong Beng, ia cepat-cepat menarik tangan Goat Lan dan bersembunyi di balik semak belukar.

“Ssst, Goat Lan, jangan sampai terlihat oleh orang itu!” bisiknya perlahan.

Melihat sikap Lili, Goat Lan menjadi terheran dan tertarik sekali. Ia tidak mengenal siapa gerangan pemuda yang gagah dan tampan itu. Tentu saja Lili segera mengenal muka kakaknya, akan tetapi Goat Lan belum pernah bertemu muka dengan Hong Beng semenjak mereka masih kecil.

“Ada apakah, Lili? Mengapa kau agaknya takut kepada pemuda itu? Siapakah dia?”

“Eh, eh, agaknya kau tertarik kepadanya, Goat Lan!” Lili menegur sambil merengut. “Ingat, kau adalah tunangan kakakku.”

“Iih, anak gila!” Goat Lan mencubit lengan Lili, karena tahu bahwa Lili hanya menggodanya saja. “Pantasnya yang tertarik adalah engkau yang belum bertunangan!”

“Mana bisa aku tertarik kepadanya? Dia… dia telah menghinaku Goat Lan, dan sekarang aku minta kepadamu agar sukalah kau membalaskan penghinaan itu!”

Goat Lan terkejut. “Menghinamu? Dia…?? Mengapa diam saja? Hayo kita menyerbunya dan memberi hajaran kepada orang kurang ajar itu! Penghinaan apakah yang telah ia lakukan kepadamu?”

“Terus terang saja aku pernah bertemu dengan dia dan melihat bahwa dia memiliki kepandaian tinggi, aku lalu mengajaknya pibu, akan tetapi aku… aku kalah dan ditertawakan olehnya! Aku… aku takut dan malu melihatnya, Goat Lan, maka kalau kau mau membelaku, kau keluarlah dan kaujatuhkanlah dia! Akan tetapi jangan kauceritakan tentang aku karena aku malu. Biarlah aku bersembunyi saja melihat betapa kau mengalahkan dan merobohkannya! Atau… barangkali kau tidak berani dan tidak mau membelaku?”

“Siapa tidak berani? Kaulihat saja. Mari kita kejar dia!”

Demikianlah, kedua orang dara jelita ini menyusup semak-semak belukar mengejar Hong Beng yang berjalan sambil memandang ke sana ke mari, mencari jejak Lo Sian.

Tiba-tiba, pemuda ini terkejut sekali ketika melihat seorang gadis cantik melompat keluar dari semak-semak dan memakinya, “Pemuda sombong dan kurang ajar, kau berani sekali menghina adikku? Bersiaplah untuk menerima beberapa pukulan pembalasan dariku!” Sambil berkata demikian, langsung Goat Lan menyerang Hong Beng dengan ilmu silatnya Im-yang-kun-hoat yang lihai!

Hong Beng tercengang melihat kehebatan serangan ini dan tanpa berani berlaku lamban ia cepat mengelak.

“Eh, eh, apakah dunia ini sudah terbalik? Mengapa kau datang-datang menyerangku?” tanyanya terheran-heran, dan juga kagum sekali melihat betapa elok dan cantik manis gadis yang menyerangnya ini.

“Tutup mulut dan bersiaplah kalau kau memang seorang laki-laki yang gagah!” Goat Lan membentak dan menyerang lagi lebih hebat!

Melihat serangan ini, maklumlah Hong Beng bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis pendekar yang pandai sekali, maka cepat ia lalu mengelak lagi. Goat Lan melihat gerakan pemuda itu dan diam-diam juga terkejut karena pemuda ini benar-benar memiliki gin-kang yang sempurna. Ia menyerang terus bertubi-tubi, akan tetapi Hong Beng selalu mengelak dan menangkis. Benturan lengan mereka menyatakan kepada keduanya bahwa tenaga lwee-kang pihak lawan benar-benar tak boleh dibuat gegabah.

“Nanti dulu, Nona, kau siapakah dan mengapa pula kau menyerangku tanpa alasan? Apakah salahku?”

“Tak usah bertanya! Kalau kau memang mempunyai kepandaian, jangan menyombongkan itu di hadapan adikku, akan tetapi lawanlah aku! Ataukah, kau tidak berani karena kau berhati pengecut?”

Ucapan ini benar-benar mengenai hati Hong Beng dan menyentuh perasaan dan wataknya yang tidak mau kalah.

“Bagus, gadis sombong dan galak. Hendak kulihat sampai di manakah kepandaianmu!” Hong Beng lalu membalas dengan serangannya dan demikianlah, kedua orang muda itu bertempur dengan seru sekali. Saling serang, saling desak, akan tetapi keduanya memang sama-sama gesit dan lihai. Ilmu silat Hong Beng yang berdasarkan Pat-kwa-kun-hwat dan Ngo-heng-cio-hwat benar-benar luar biasa, akan tetapi Goat Lan juga murid orang-orang sakti. Untuk menghadapi Hong Beng yang ternyata amat tangguh itu, ia segera mengeluarkan Im-yang Sin-an, pelajaran yang diwarisinya dari Im-yang Giok-cu. Tubuh kedua orang muda ini sampai lenyap menjadi dua bayangan yang berkelebatan ke sana ke mari dan kadang-kadang bergulung-gulung menjadi satu. Hong Beng merasa penasaran sekali karena jangankan mengalahkan gadis ini, mendesak pun ia tidak dapat! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, dan berkat tenaga lwee-kangnya yang lebih kuat sedikit daripada Goat Lan, ia berhasil mendesak nona itu. Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam hal gin-kang, nona itu masih menang darinya, sehingga betapapun Hong Beng mendesak, ia tidak mampu menyentuh nona itu yang gesit laksana burung walet. Pertempuran dilanjutkan dengan hebat, seratus jurus lebih telah lewat sehingga keduanya makin penasaran dan juga kagum.

Goat Lan benar-benar menjadi marah sekali. Masa ia tidak dapat mengalahkan pemuda dusun ini? Sebagaimana diketahui, Goat Lan telah mewarisi kepandaian Hok Peng Taisu melalui ibunya, maka ia lalu mengeluarkan ilmu silat yang diterimanya dari ketiga guru besar itu untuk menghadapi Hong Beng. Belum pernah Goat Lan begitu bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga pada jidatnya telah keluar beberapa titik peluh. Juga Hong Beng merasa pusing karena gerakan gadis itu cepat sekali.

Pada suatu saat, ketika Goat Lan telah terdesak sampai di bawah sebatang pohon, Hong Beng mengeluarkan serangan dengan gerak tipu Dewa Hutan Membelah Kayu. Ia menubruk dengan tangan kanan dibuka jarinya lalu menyerang dengan tangan kanan itu, membuat gerakan kapak membelah kayu ke arah pundak Giok Lan, sedangkan tangan kirinya siap untuk menyusul dengan serangan menotok dari bawah kiri. Ia mengembangkan tangan kirinya agar supaya gadis itu tidak mengira akan gerakan susulan ini.

Akan tetapi, Goat Lan telah mendapat gemblengan yang hebat dari para gurunya. Melihat serangan ini, ia hanya melangkahkan kaki kiri ke belakang, lalu membalikkan kedudukan tubuhnya sambil menekuk kaki kirinya itu yang kini berada di depan. Karena tubuhnya menjadi doyong maka serangan Hong Beng itu kini tidak mengenai sasaran dan dengan cerdik sekali Goat Lan bersikap seolah-olah ia tidak memperhatikan tangan kiri Hong Beng yang siap menotok. Akan tetapi diam-diam gadis ini yang maklum bahwa ia telah membuka kesempatan bagi lawannya untuk menyerang dan menotok punggungnya, telah mengerahkan ilmu khi-kang dan mengumpulkan napas memasang Ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa dan Melindungi Jalan Darah).

Benar saja, Hong Beng tidak mau melewatkan kesempatan itu dan dengan girang tangan kirinya lalu menotok jalan darah di punggung lawannya. Akan tetapi oleh karena ia tidak ingin melukai lawannya, ia hanya melakukan totokan perlahan saja yang cukup untuk membuat tubuh lawannya menjadi lemas. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa jari tangannya mengenai kulit dan daging yang lunak sekali seakan-akan tidak berurat sama sekali! Ia maklum bahwa ia telah kena dipancing dan bahwa lawannya telah menutup jalan darahnya, maka ia cepat hendak melompat mundur. Terlambat! Tangan kiri Goat Lan telah “masuk” dari bawah lengan kanannya dan berhasil pula menotok iga di bawah pangkal lengannya.

“Dukk!” Hong Beng masih keburu mengerahkan lwee-kangnya sehingga bagian tubuh yang tertotok menjadi sekeras batu! Namun tenaga totokan Goat Lan itu masih membuatnya terhuyung mundur tiga langkah!

“Bagus sekali! Kau benar-benar lihai, Nona. Aku yang bodoh mengaku kalah karena gin-kangmu yang luar biasa. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa aku kalah dalam hal kepandaian seluruhnya. Kalau kau masih sanggup menghadapiku, marilah kita mempergunakan senjata!” Biarpun ia mengaku kalah akan tetapi Hong Beng masih belum puas dan menantang untuk bertempur mempergunakan senjata.

Diam-diam Goat Lan terheran. Pemuda ini cukup simpatik, karena sungguhpun tadi tak dapat dikatakan pemuda ini kalah, namun dengan jujur pemuda ini berani mengakui kekalahannya yang sedikit dan tak berarti itu, bahkan kini berani secara sopan menantang untuk melanjutkan pertempuran dengan senjata! Mengapakah pemuda yang sopan santun dan halus budi bahasanya ini oleh Lili disebut kurang ajar? Namun ia tentu saja tidak mau menyerah kalah dalam hal ketabahannya, maka ia lalu tersenyum dan menjawab,

“Siapa takut kepada senjatamu? Keluarkanlah!”

Dengan heran Goat Lan melihat pemuda itu mengambil sebatang ranting kayu yang terletak di atas tanah. Ranting ini hanya sebesar ibu jari kaki dan panjangnya paling banyak selengan orang.

Melihat senjata lawannya, Goat Lan diam-diam terkejut, karena hanya orang dengan kepandaian tinggi saja yang mempergunakan senjata seringan itu. Makin sederhana senjata orang, makin berbahaya dan lihailah ilmu kepandaiannya, demikian ayah-bundanya pernah berkata. Ia menjadi malu untuk mengeluarkan sepasang bambu kuningnya, maka ia pun lalu mencari dua batang ranting yang sama besarnya dengan ranting di tangan Hong Beng, lalu sebelum lawan menyerangnya, tanpa berkata sesuatu ia lalu mengirim serangan hebat dengan ranting di tangan kiri.

Tadi ketika melihat Goat Lan mengambil dua batang ranting pula seperti yang dipungutnya, Hong Beng benar-benar terheran sampai membelalakkan matanya. Tadinya disangka bahwa gadis ini tentu akan bersenjatakan pedang atau senjata tajam lainnya. Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk berheran-heran sampai lama, karena bagaikan seekor ular ranting di tangan nona itu telah menyerangnya dengan gerakan yang amat luar biasa! Ia cepat menggerakkan rantingnya untuk menempel ranting lawan dan merampasnya, akan tetapi belum juga rantingnya dapat menangkis, ranting lawan telah ditarik kembali dan kini ranting di tangan kanan gadis itu menotok ke arah lehernya!

“Hebat!” seru Hong Beng memuji ilmu silat yang luar biasa ini. Berbeda dengan dia yang memegang ranting di tengah-tengah, gadis itu memegang rantingnya pada ujungnya dan menggunakan sepasang ranting itu untuk menotok.

Setelah Hong Beng melayani Goat Lan sampai tiga puluh jurus lebih, makin lama makin terheranlah dia. Ilmu silat gadis ini benar-benar luar biasa sekali dan sungguhpun ilmu tongkatnya yang dua macam itu, yaitu Pat-kwa Tung-hwat dan Ngo-heng Tung-hwat adalah raja ilmu tongkat yang jarang bandingnya di muka bumi ini, namun ternyata bahwa menghadapi ilmu silat gadis ini ia tidak banyak berdaya dan hanya dapat mengimbanginya saja, tanpa dapat mendesak dan tidak pula sampai terdesak! Saking herannya, Hong Beng lalu melompat mundur sampai dua tombak lebih dan berkata,

“Tahan, Nona! Aku harus mengetahui lebih dulu siapakah lawanku yang memiliki kepandaian sedemikian hebatnya! Aku Sie Hong Beng selama hidupku belum pernah mengganggu orang, apalagi orang seperti kau! Mengapakah kau memusuhiku sampai sedemikian rupa?”

Lenyaplah seketika itu juga kemarahan dari wajah Goat Lan dan gadis ini berdiri bengong seperti patung! Mendengar disebutnya nama itu, untuk sesaat wajahnya menjadi pucat, kemudian menjadi kemerah-merahan dan tak terasa lagi kedua ranting di tangannya terlepas dan jatuh ke atas tanah. Seakan-akan lemaslah kedua lengannya dan hatinya berdetak tidak karuan.

“Kau… kau… bernama Sie Hong Beng…?” katanya perlahan seperti berbisik.

“Ya, aku bernama Sie Hong Beng, yaitu kalau tidak ada dua Sie Hong Beng di dunia ini. Dan kau siapakah? Siapa pula adikmu yang katamu tadi pernah kuhina itu?”

Goat Lan tak dapat menjawab, hanya mukanya saja sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba terdengar suara ketawa tak jauh dari situ dan ketika Hong Beng menengok ternyata yang tertawa itu adalah Lili adiknya! Gadis nakal ini tertawa-tawa sambil menyembunyikan tubuhnya di balik sebatang pohon besar sekali.

“Hi-hi, Enci Goat Lan!” Kini tiba-tiba ia menyebut “enci”. “Bagaimana kepandaian pemuda itu? Boleh juga, bukan? Apakah kau sekarang sudah mulai melupakan kakakku dan tertarik oleh pemuda ini?”

“Hemm, diakah adikmu dan kau… kau bernama Goat Lan, Kwee Goat Lan??” Kini muka Hong Beng yang menjadi kemerah-merahan, karena ternyata bahwa gadis ini adalah tunangannya sendiri yang belum pernah dijumpainya selama ini! Dengan gemas Hong Beng lalu melemparkan rantingnya dan hampir berbareng dengan gerakan Goat Lan, ia lalu mengejar Lili yang sembunyi di balik pohon besar itu!

“Awas kutempeleng kepalamu yang penuh akal jail itu!” seru Hong Beng.

“Lili, anak nakal! Kujewer telingamu!” Goat Lan berkata pula sambil mengejar pula dengan cepat.

Hong Beng mengejar dari sebelah kiri dari pohon dan Goat Lan mengejar dari sebelah kanan pohon yang besar itu. Hampir saja kedua orang muda ini bertumbukan di belakang pohon satu sama lain, karena ternyata bahwa Lili yang nakal itu tidak ada pula di tempat itu. Saking gugupnya, hampir saja tangan Hong Beng menangkap Goat Lan yang disangkanya Lili dan dengan mulut tersenyum malu-malu dan mata tidak berani memandang, Goat Lan berdiri di depannya. Hong Beng tercengang dan terpesona. Alangkah cantik, gagah, dan manisnya tunangannya ini. Terdengar lagi suara ketawa dari atas dan ketika keduanya menengok ke atas, ternyata bahwa Lili sekarang telah duduk di atas cabang pohon besar itu!

“Turuntah kau, Lili! Bagus betul perbuatanmu, setelah berpisah bertahun-tahun, kau masih berani mempermainkan kakakmu sendiri!” kata Hong Beng gemas.

“Aku tidak mau sebelum kau berjanji tidak akan menempeleng kepalaku!” kata Lili dengan sikap manja.

“Hemm, seperti anak kecil saja kau, Lili! Biarlah, kali ini kau kuampunkan. Turunlah!”

“Tidak, Beng-ko, kalau aku turun, aku takut kepada Enci Lan!”

“Memang aku akan mencubit bibirmu!” kata Goat Lan gemas dengan muka masih berubah merah karena jengah.

“Nah, Engko Hong Beng. Kaudengar sendiri bagaimana galaknya calon nyonyamu!Kalau kau tidak berjanji akan membalas Enci Lan dan mencubit bibirnya apabila ia menyerangku, aku tidak mau turun dan tidak mengaku sebagai adikmu!”

Digoda seperti itu, baik Hong Beng maupun Goat Lan menjadi gemas dan malu-malu, akan tetapi tentu saja dapat diketahui bahwa di dalam dada mereka merasa amat bahagia.

“Sudahlah, Lili, kau turunlah, tentu saja… Nona Kwee tidak akan marah kepadamu.”

“Aih, aih! Mengapa pakai nona-nonaan segala? Engko Hong Beng, kau benar-benar bocengli (tidak tahu aturan, tidak berbudi), mengapa menyebut calon Soso (Kakak Ipar) dengan sebutan yang bersifat sungkan-sungkan? Kau harus menyebutnya Moi-moi!”

Muka kedua orang muda itu makin merah mendengar godaan ini dan pada saat itu, Lili melompat turun. Goat Lan segera mengulurkan kedua tangannya kepada Lili, bukan untuk mencubit bibir atau menjewer telinga, melainkan untuk memeluknya.

“Lili, aku minta dengan sangat, kasihanilah aku dan jangan kau menggoda lagi. Kau sudah lebih dari cukup menggodaku!” bisiknya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: