Pendekar Remaja ~ Jilid 19

“Sie-enghiong, bukalah mata kami dengan seranganmu!” Hek Liong berkata keras karena tidak pernah melihat serangan pemuda itu. Ia merasa amat penasaran dan hendak melihat bagaimana hebatnya pemuda itu kalau menyerang.

“Maafkan, Pangcu!” terdengar Hong Beng berseru dan tersusullah seruan ini oleh teriakan kelima orang ketua itu dan terdengar suara keras. Tahu-tahu lima batang tongkat hitam itu terlepas dari pegangan masing-masing dan melayang ke atas! Mereka cepat melompat mundur, dan melihat dengan melongo betapa Hong Beng menggerakkan tongkatnya ke atas, diputar sedemikian rupa sehingga ia dapat mengelilingi kelima batang tongkat hitam itu, “menangkap” lima batang tongkat itu dengan putaran cabangnya sehingga tongkat-tongkat itu terkumpul menjadi satu dan ketika ia mengeluarkan tangan kiri ke depan, lima tongkat hitam itu telah berada dalam pegangannya. Sambil tersenyum dan menjura, ia maju memberikan tongkat-tongkat itu kepada pemiliknya!

Untuk beberapa lama, kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu memandang pemuda ini dengan bengong, masih belum dapat mempercayai pengalaman mereka sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba Hek Liong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu, diikuti oleh keempat orang adiknya! Terdengar sorak-sorai para pengemis dan kelima orang ketua itu memimpin orang-orangnya berseru ramai,

“Hidup pangcu (ketua) yang baru! Hidup Sie-pangcu yang gagah!”

Bukan main kagetnya Hong Beng mendengar ucapan ini dan melihat betapa semua pengemis berlutut mengelilingi dirinya!

“Eh-eh, apa-apaan ini? Kuharap kalian tidak main-main dengan aku!” katanya gagap dengan muka berubah merah, karena ia maklum bahwa ia telah dipilih dan diangkat oleh mereka menjadi pangcu!

Akan tetapi Hek Liong yang berlutut berkata dengan suara penuh permohonan, “Kami harap Tai-hiap jangan menolak. Dengan sejujurnya kami mengangkat Taihiap menjadi pangcu kami, karena selain Tai-hiap seorang, tidak ada orang di dunia ini yang patut menjadi pemimpin kami! Harap Tai-hiap sudi memperkenalkan diri, siapakah sebetulnya Tai-hiap ini dan murid orang sakti dari mana!”

Hong Beng menjadi serba salah. Melihat ketulusan hati mereka, untuk menolak begitu saja ia tidak tega, akan tetapi kalau diterima, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin rombongan pengemis? Ia memandang ke arah tunangannya, dan dengan senyum lebar yang menambah keayuan dan tahu-tahu ia telah melompat kedekat Hong Beng.

“Mereka bersungguh-sungguh, tidak baik menolak maksud jujur dari perkumpulan Hek-tung Kai-pang yang terkenal gagah dan budiman ini!” katanya.

Sorak-sorai gembira menyambut ucapan gadis ini dan Hong Beng merasa seakan-akan tubuhnya terbenam makin dalam lagi. Tidak ada harapan untuk keluar setelah tunangannya sendiri bahkan menghendaki dia menjadi pemimpin pengemis.

“Baiklah, baiklah, harap kalian semua suka bangun berdiri. Hal pertama yang tidak kusukai ialah agar supaya aku jangan terlalu dipuji-puji dan disanjung-sanjung. Aku bukan seorang raja, dan kalau aku mau menerima jabatan ketua, ini hanya terpaksa karena melihat kebaikan perkumpulan ini.”

Semua orang berdiri dengan sikap hormat dan diam, menanti ucapan ketua baru itu selanjutnya.

“Aku maklum bahwa kalian mengharapkan bantuanku untuk menghadapi bahaya yang mungkin datang dari pihak Coa-tung Kai-pang,” kata pemuda yang cerdik ini. “Dan aku menerima pengangkatan ini hanya saja dengan beberapa macam syaratnya.”

“Silakan Pangcu mengemukakan syarat-syarat itu, kami sekalian tentu saja bersedia mematuhinya, karena setiap syarat dan usul pangcu kami, merupakan perintah yang akan kami jalankan dengan taruhan nyawa kami!”

Terharulah hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Ia menghela napas panjang dan berkata, “Tentu kalian harus mengetahui keadaanku. Biarlah aku berterus terang kepada kalian, karena kita adalah orang-orang sendiri, orang-orang sehaluan yang bertujuan memberantas dan membasmi kejahatan! Aku, Sie Hong Beng, adalah putera dari pendekar besar Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh!”

Semua pengemis, terutama sekali Ngo-hengte, menahan napas dan bukan main terkejutnya serta girangnya hati mereka. Kalau tadi mereka berlima masih merasa penasaran karena kalah sedemikian mudahnya oleh pemuda ini, kini rasa penasaran itu lenyap sama sekali. Pantas saja pemuda itu lihai karena tidak tahunya dia adalah putera dari Pendekar Bodoh yang namanya telah menggemparkan kolong langit!

“Suhuku yang mengajar ilmu tongkat adalah Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari barat!” Kembali semua orang tertegun. “Nona ini tadi telah memperkenalkan diri sebagai murid-murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, akan tetapi tentu kalian belum tahu bahwa dia sebenarnya adalah puteri dari pendekar besar Kwee An di Tiang-an. Dan perlu pula kuberitahukan bahwa dia adalah… tunanganku!” Merahlah wajah Goat Lan mendengar keterangan ini. Ingin ia mencubit tunangannya itu yang dianggapnya berlebihan telah memperkenalkan dirinya pula.

“Nah, setelah kalian mengenal keadaan kami, sekarang akan kukemukakan syarat-syaratku. Biarpun aku menerima jabatan ketua, namun tidak mungkin bagiku untuk selalu berada di tempat perkumpulan kalian ini. Aku mengangkat kelima Saudara Hek sebagai wakil. Segala sesuatu mengenai perkumpulan kuserahkan kepada mereka berlima untuk mengurus. Dan aku pun tidak mau menurut kebiasaan kalian, tidak mau memakai pakaian sebagai pengemis. Akan tetapi, aku telah menerima jabatan ini, bersumpah hendak membela dan melindungi Hek-tung Kai-pang dan bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang mengancam dan yang mengganggu perkumpulan kita!”

Ramailah sorak-sorai para pengemis mendengar kesanggupan ini. Inilah yang mereka harapkan. Dengan adanya pemuda putera Pendekar Bodoh ini menjadi ketua mereka, mereka tidak takut menghadapi penjahat yang bagaimanapun juga. Juga mereka kini tidak kuatir lagi akan serbuan atau gangguan Coa-tung Kai-pang!

Kemudian Hek Liong berkata kepada Hong Beng, “Pangcu, kami mempersilakan Pangcu dan Li-hiap untuk datang ke tempat pertemuan kita yang kita sebut Istana Pengemis untuk merayakan pengangkatan ini, juga untuk mengesahkannya!”

Beramai-ramai semua pengemis itu lalu mengiringkan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke sebuah hutan di sebelah utara tempat itu. Hutan ini besar sekali dan ketika tiba di tengah hutan, Hong Beng dan tunangannya melihat sebuah kuil kuno yang baru saja diperbaiki. Biarpun dari luar nampak sangat miskin, akan tetapi huruf-huruf yang dipasang di luar kuil amat gagah dan angker. Huruf-huruf itu berbunyi : Istana Pengemis HEK TUNG KAI PANG.

Ketika kedua orang muda itu diarak masuk, Hong Beng dan Goat Lan terkejut sekali karena di sebelah dalam sungguh amat berbeda dengan keadaan di luar. Di situ amat indah dan mewah. Meja dan kursi serta perabot-perabot lain terdiri dari barang-barang mahal, terukir indah dan serba baru! Benar-benar patut menjadi perabot dan isi ruang sebuah istana kaisar! Tahulah kini Hong Beng dan Goat Lan mengapa banyak yang berhati serakah ingin menduduki jabatan ketua dari perkumpulan pengemis ini. Tidak tahunya keadaan mereka begitu kaya raya. Memang sesungguhnya para pengemis itu yang hidupnya hanya bekerja mengemis dan juga menerima upah dari pekerjaan kasar atau membantu orang menjaga keamanan, selalu mengumpulkan hasil pekerjaan mereka dan menyerahkannya kepada pusat sehingga dapatlah dibangun isi istana yang mewah ini. Selain perabot-perabot yang indah itu, ternyata banyak pula terdapat harta simpanan yang besar jumlahnya. Setelah bercakap-cakap lebih mendalam, tahulah kedua orang muda itu bahwa harta benda itu bukannya disimpan begitu saja, akan tetapi dipergunakan untuk menolong rakyat miskin dengan jalan menderma dan lain-lain. Maka makin kagumlah mereka terhadap perkumpulan pengemis ini dan makin yakinlah hati Hong Beng bahwa menjadi ketua perkumpulan macam ini sekali-kali bukanlah hal yang merendahkan namanya! Ketika mereka duduk bercakap-cakap, masuklah pengemis-pengemis yang masih muda, yaitu anggauta-anggauta yang ditugaskan untuk mengeluarkan hidangan dan kembali Hong Beng dan Goat Lan tercengang karena hidangan yang dikeluarkan adalah hidangan-hidangan yang mewah dan mahal, sedangkan araknyapun adalah arak Hangciu yang lezat dan harum, bukan arak sembarang arak.

Pesta berjalan dengan meriah sekali dan kedua orang muda itu mendapat kenyataan bahwa para pengemis itu makan hidangan mereka dengan cara yang amat beraturan dan sopan. Benar-benar mengagumkan sekali!

Pada saat pesta berjalan ramai, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara bentakan parau dan keras, “Hek-tung Kai-pang Pangcu, sambutlah kami!”

Belum lenyap gema suara itu, orangnya telah melayang masuk dan tahu-tahu di tengah ruangan itu berdiri dua orang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali dan mereka memegang tongkat ular! Ternyata mereka ini adalah dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang tingkat satu!

Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak sekali pengurus, dan pengurus yang bertingkat satu saja ada tujuh orang, dan mereka ini adalah murid dari seorang tosu tua yang menjabat kedudukan pemimpin besar dan bernama Coa Ong Lojin. Adapun dua orang pengurus tingkat satu yang datang ini bernama Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin. Mereka ini mendapat laporan dari tiga orang pemimpir Coa-tung Kai-pang yang telah roboh di tangan Ngo-hengte dari Hek-tung Kai-pang pagi tadi. Dengan marah Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin lalu mendatangi istana pengemis di dalam hutan itu dengan maksud untuk merobohkan lima orang ketuanya.

Dengan tindakan kaki berlagak sekali dua orang tua itu sambil menggerak-gerakkan tongkat ular di tangannya menghampiri meja Hek Liong dan adik-adiknya yang duduk di sebelah kiri Hong Beng dan Goat Lan. Kim Coa Jin tertawa bergelak di depan lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang itu lalu berkata,

“Pangcu-pangcu dari Hek-tung Kai-pang benar-benar tidak memandang mata kepada kami dari Coa-tung Kai-pang. Mengadakan perjamuan minum arak sedemikiah ramainya sama sekali tidak mengundang! Ha-ha, benar-benar tidak memandang mata kepada orang segolongan Hek Liong maklum bahwa dua orang tua ini memang datang hendak membuat ribut dan melihat sikap mereka yang kasar ia tidak mau membiarkan pangcunya yang baru untuk menghadapinya, maka ia sendiri lalu berdiri bersama empat orang adiknya, menjura sebagai penghormatan sambil berkata,

“Maaf, Ji-wi datang tanpa kami ketahui sehingga tidak siang-siang mengatur penyambutan. Silakan duduk dan minum arak kami yang murah!” Sambil berkata demikian Hek Liong lalu mengeluarkan dua buah cawan dan mengisi sendiri cawan-cawan itu sampai penuh dengan arak harum.

“Ha-ha-ha-ha!” Bhok Coa Jin tertawa bergelak, lain dengan gerakan cepat sekali ia mengulur tongkat ularnya sambil berkata, “Biarlah tongkatku mencoba dulu bagamana rasanya arakmu!” Sambil berkata demikian, sekali tongkatnya bergerak ke depan, kedua cawan arak yang disuguhkan itu terguling di atas meja dan araknya tumpah membasahi meja! Kemudian ujung tongkatnya yang berkepala ular itu meluncur memasuki mulut guci, dari mulut guci itu keluarlah uap hijau bergulung ke atas!

“Ha-ha-ha! Arakmu cukup baik!” kata Bhok Coa Jin kepada lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang itu. “Marilah kita minum arak dari guci yang telah dicoba isinya oleh tongkatku tadi!”

Tanpa diketahui oleh orang lain, Goat Lan membisikkan sesuatu kepada Hong Beng sambil memberikan tiga buah pel merah kepada tunangannya itu. Hong Beng lalu berdiri dan mendahului kelima saudara Hek itu berkata kepada dua orang tamu yang aneh ini,

“Ji-wi Lo-kai (Dua Tuan Pengemis Tua), melihat dari tongkatmu, aku dapat menduga bahwa kalian tentulah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang! Pertunjukanmu tadi lucu sekali dan kebetulan aku adalah seorang yang paling doyan arak beruap! Marilah aku menemani kau berdua minum arak!”

Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban tamunya, Hong Beng mengambil guci arak tadi dan mengisikan arak ke dalam cawan-cawan tamunya yang tadi terguling, juga ia mengisi cawannya sendiri sampai penuh. Semua orang melihat betapa arak yang keluar dari guci itu telah berwarna hijau, padahal tadinya berwarna kemerahan! Lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang menjadi pucat karena mereka maklum bahwa arak itu telah dicampuri racun!

“Arak itu beracun!” seru Hek Liong marah.

“Ha-ha-ha! Ternyata ketua dari Hek tung Kai-pang berhati pengecut! Kalah oleh orang muda berhati tabah dan gagah ini!” kata Kim Coa Jin sambil tertawa bergelak-gelak. “Siapakah pemuda ini yang menantang kami minum arak? Kami tidak sudi minum arak dengan segala orang tak ternama!”

Makin marahlah Hek Liong mendengar ucapan ini. “Bukalah matamu baik-baik karena kau berhadapan dengan pangcu kami yang baru!”

Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin melengak dengan heran. Kini mereka memandang kepada Hong Beng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjura ke arah Hong Beng sebagai penghormatan yang dibalas oleh Hong Beng dengan sepatutnya.

“Tidak tahu siapakah nama Pangcu yang terhormat?” tanya Kim Coa Jin.

“Siauwte bernama Sie Hong Beng dan secara kebetulan saja siauwte dipilih menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang yang mulia. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dua orang penting dari Coa-tung Kai-pang datang ke sini?”

“Hemm, kami adalah pengurus-pengurus Coa-tung Kai-pang, namaku Kim Coa Jin dan ini adalah adikku Bhok Coa Jin. Kami tidak tahu bahwa Hek-tung Kai-pang telah berganti pengurus. Bagus, bagus, kami harap saja biarpun kau masih muda, akan tetapi sudah terbuka pikiranmu untuk menggabungkan perkumpulanmu yang kecil ini kepada Coa-tung Kai-pang yang besar sehingga tak perlu ada pertikaian lagi.”

“Ji-wi Lo-kai, hal itu tak mungkin dilakukan. Setiap perkumpulan mempunyai tujuan sendiri-sendiri, dan biarlah kita melakukan tugas masing-masing tanpa saling mengganggu, bukankah dengan demikian akan lebih baik lagi dan tidak ada pertikaian? Aku akan memberi nasihat kepada semua anggauta perkumpulan kami agar jangan mengganggu perkumpulanmu, dan sebaliknya aku mengharap pula dari pihakmu ada kebijaksanaan seperti itu.”

Tiba-tiba Kim Coa Jin tertawa bergelak dengan suara menghina dan memandang rendah sekali.

“Pangcti, kau ternyata masih hijau seperti usiamu. Marilah kita minum arak hijau ini untuk menambah pengalamanmu. Beranikati kau?”

“Mengapa tidak berani?” kata Hong Beng yang sudah menelan tiga butir pel ang-tan pemberian tunangannya tadi. Ia percaya penuh akan kelihaian tunangannya yang paham betul akan segala macam racun dan pengobatannya, maka ketika tadi Goat Lan menyerahkan pel itu sambil berbisik bahwa itulah pel penawar dan penolak racun hijau, ia segera menelannya dan bertindak seperti yang dituturkan di atas. Kini ia mengangkat cawan araknya, diturut pula oleh dua orang tamu itu yang memandangnya dengan mata heran akan tetapi mulut tersenyum mengejek. Mereka lalu minum arak itu. Sekali tenggak saja arak hijau itu lenyap dalam perut Hong Beng.

Sekarang barulah dua orang pengemis tua itu terheran-heran. Biasanya, racun hijau yang dimasukkan di dalam arak itu amat keras. Jangankan menghabiskan secawan, baru minum beberapa tetes saja cukup untuk membakar isi perut orang dan membinasakannya seketika itu juga. Akan tetapi, pemuda yang tampan dan tenang ini setelah minum secawan tidak kelihatan terpengaruh sama sekali, seakan-akan arak itu tidak ada apa-apanya! Mereka menjadi penasaran dan Kim Coa Jin sendiri kini memasukkan kepala tongkatnya ke dalam guci, menambah racun itu dan menuangkan isi guci ke dalam tiga cawan yang sudah kosong, memenuhinya kembali.

“Kau kuat minum secawan lagi, Pangcu?” tanyanya menantang.

Hong Beng tersenyum. “Mengapa tidak kuat? Marilah kita minum untuk kesejahteraan Hek-tung Kai-pang!” Kembali mereka minum dan sekali lagi Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin saling pandang dengan heran. Jangankan menjadi mabuk atau roboh binasa, merah pun tidak muka pemuda tampan itu.

“Secawan lagi, Ji-wi Lokai?” Kini Hong Beng yang menantang! Kedua orang pengemis tua itu menjadi bingung. Obat penawar yang tadinya sudah mereka telan hanya cukup kuat untuk menolak racun dua cawan arak, kalau harus minum secawan lagi, mungkin mereka takkan kuat menahan dan akan roboh binasa dengan isi perut terbakar!

“Cukup, cukup, Pangcu!” kata Kim Coa Jin sambil menggerakkan tongkat ularnya. “Sudah terbuka mata kami bahwa biarpun masih muda, ternyata kau adalah seorang yang kuat minum. Tidak tahu apakah ilmu tongkatmu sekuat tenaga minummu!”

Pada saat itu, Hek Liong melangkah maju menghadap Hong Beng dan menyerahkan sebatang tongkat hitam dengan sikap menghormat sekali. Tongkat ini baru saja ia ambil dari dalam sebuah kamar dan ternyata bahwa tongkat ini luar biasa sekali. Memang warnanya hitam seperti tongkat-tongkat yang dipegang oleh semua anggauta Hek-tung Kai-pang, akan tetapi tongkat ini mengeluarkan cahaya mengkilap dan ternyata dapat digulung.

“Tongkat ini adalah peninggalan sucouw kami Hek-tung Kai-ong. Sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang dapat mempergunakan tongkat lemas ini, maka sekarang kami serahkan kepada Pangcu!”

Hong Beng menerima tongkat itu dengan girang dan ketika ia memegang tongkat itu, ia merasa kagum dan juga girang sekali. Ternyata bahwa senjata luar biasa ini terbuat dari logam yang amat kuat dan merupakan sebatang tongkat pusaka yang ampuh sekali. Ia segera turun dari tempat duduknya dan menghadapi dua orang tamunya itu dengan sikap tenang.

“Ji-wi Lo-kai, kami telah maklum bahwa kalian dari Coa-tung Kai-pang ingin sekali memperlebar pengaruhmu, akan tetapi caramu ini benar-benar kurang sempurna. Apa kaukira bahwa di kolong langit ini tidak ada orang-orang yang lebih pandai daripada pemimpin-pemimpin Coa-tung Kai-pang? Tanpa kusengaja, aku yang muda dan bodoh telah terpilih menjadi pemimpin Hek-tung Kai-pang, betapapun juga, aku akan membela perkumpulan ini dengan tongkat yang telah dipercayakan kepadaku. Nah, silakan Ji-wi maju mencoba kekerasan tongkat ini!”

Kim Coa Jin biarpun merasa amat kagum melihat betapa orang muda ini dapat minum racun dari tongkat ularnya tanpa akibat sesuatu, tetap saja ia masih memandang rendah kepada Hong Beng. Tak mungkin pemuda ini memiliki kepandaian silat yang dapat mengimbangi kepandaiannya sendiri. Dia dan Bhok Coa Jin adalah dua orang diantara tujuh orang Pengemis Tongkat Ular tingkat satu. Kepandaian mereka ini sudah amat tinggi, karena mereka adalah murid-murid yang menerima pelajaran langsung dari Coa Ong Lojin, datuk dari Coa-tung Kai-pang! Mereka telah mewarisi delapan puluh bagian dari ilmu silat dan ilmu tongkat dan telah bertahun-tahun mereka merantau di seluruh permukaan bumi Tiongkok.

Oleh karena memandang rendah dan tidak ingin disebut licik, Kim Coa Jin berkata kepada Bhok Coa Jin “Sute, harap kau berdiri di pinggir saja dan biar aku sendiri yang mencoba kekuatan pangcu muda ini!” Ucapannya ini dikeluarkan dengan mulut tersenyum. Bhok Coa Jin juga tersenyum, lalu ia menancapkar tongkat ularnya di atas lantai dan duduk di atas tongkat itu! Demonstrasi kekuatan lwee-kang ini saja sudah hebat sekali, karena lantai itu amat keras namun dapat tertusuk oleh tongkat itu seakan-akan lantai itu terdiri dari tanah lumpur belaka!

“Silakan, Suheng, aku hendak menonton saja,” katanya.

“Nah, Sie-pangcu, marilah kita mulai!” kata Kim Coa Jin menantang.

“Majulah Kim-lokai. Sebagai tamu kau turun tangan lebih dulu,” jawab Hong Beng sambil memegang tongkat hitamnya dengan cara sembarangan saja. Ia memegang kepala tongkatnya dan tongkat itu tergantung lurus ke bawah, seperti seorang kakek yang meminjam tenaga tongkat untuk membantunya menunjang tubuhnya yang sudah lemah. Bagi orang yang tidak tahu, tentu mengira bahwa pemuda ini tidak pandai ilmu silat dan bahwa caranya memasang kuda-kuda itu tidak ada artinya sama sekali. Akan tetapi ketika Kim Coa Jin melihat cara Hong Beng memegang tongkat, hatinya tertegun. Itulah kuda-kuda yang disebut Dewa Bumi Menangkap Ular, semacam kuda-kuda yang tidak sembarang orang berani menggunakan untuk memulai sebuah pertempuran, karena kuda-kuda seperti ini amat sukar dibuka dan dikembangkan.

“Awas serangan!” serunya dan Kim Coa Jin cepat menyerang dengan hebat. Ia sengaja menyerang dengan gerakan yang paling hebat dan lihai, karena ia hendak merobohkan ketua Hek-tung Kaipang ini dengan sekali gerakan saja! Tongkat ularnya dengan cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya menusuk ke arah dada Hong Beng, sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, melainkan meluncur pula di belakang tongkatnya untuk mengirim pukulan susulan yang dilakukan dengan tenaga lwee-kang sehingga angin pukulan ini saja sudah cukup untuk merobohkan lawan!

Akan tetapi Hong Beng dengan gerakan Hek-hong-koan-goat (Bianglala Hitam Menutup Bulan) menggerakkan tongkat hitamnya dengan putaran cepat sekali. Ketika tongkatnya bertemu dengan tongkat ular lawannya, kedua tongkat itu menempel dan tongkat ular itu ikut pula terputar karena pemuda yang lihai ini telah menggerakkan khi-kangnya untuk “menyedot” dan menempel senjata lawan. Karena kedua tongkat itu terputar cepat di depan mereka, otomatis pukulan tangan kiri pengemis tua itu tertolak kembali! Kim Coa Jin mengerahkan tenaganya untuk membetot kembali tongkatnya dari tempelan tongkat hitam lawannya akan tetapi ternyata tongkatnya seakan-akan telah berakar pada tongkat Hong Beng. Ia merasa penasaran sekali dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya ia berseru keras sekali dan tiba-tiba tubuhnya terjengkang ke belakang dan hampir saja ia jatuh ketika secara mendadak Hong Beng melepaskan tempelannya!

Bukan main kagetnya Kim Coa Jin merasai kelihaian pangcu muda dari Hek-tung Kai-pang ini. Sambil menggereng bagaikan seekor harimau terluka ia lalu menerjang maju, memutar tongkatnya dengan hebat bagaikan angin puyuh dan kini benar-benar ia mengeluarkan ilmu tongkatnya yang lihai, karena ia sudah maklum sepenuhnya bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, melainkan murid orang pandai!

Akan tetapi Hong Beng tetap saja berlaku tenang. Dengan puas dan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa tongkat hitam yang lemas di tangannya itu benar-benar merupakan senjata istimewa. Biarpun tongkat itu lemas, akan tetapi dapat menerima saluran tenaga khi-kang dengan baik sekali, sehingga tidak kalah “enaknya” dipakai daripada sebatang ranting kecil! Ia lalu mainkan Ngo-heng-tung-hwat dan melayani lawannya dengan gerakan yang membuat lawannya menjadi pening kepala. Ngo-heng-tung-hwat adalah semacam ilmu silat yang mengambil sari dari lima anasir atau lima sifat, bisa sekuat baja, selemah air, sepanas api! Juga gerakan tubuh Hong Beng yang lincah dan gesit membuat tubuhnya lenyap dari pandangan mata, terbungkus oleh gulungan sinar tongkat yang menghitam!

Kim Coa Jin sebagai tokoh tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, tentu saja memiliki ilmu silat yang sudah amat tinggi, akan tetapi harus ia akui bahwa selama hidupnya, baru sekarang ia bertemu dengan tandingan yang demikian tangguhnya. Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat bukantah ilmu silat sembarangan saja, dan mempunyai sifat-sifat tersendiri yang amat kuat dan berbahaya. Gaya Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat ini amat ganas dan kejam serta memiliki tipu-tipu yang licik dan berbahaya sekali karena ilmu ini tercipta diantara jalan hitam, diantara orang-orang yang memiliki pikiran dan tabiat yang kurang baik. Tongkat yang berbentuk ular itu saja memiliki bagian-bagian rahasia sehingga dapat mengeluarkan senjata-senjata rahasia berupa jarum-jarum berbisa. Bahkan dari mulut ular itu, apabila dikehendaki oleh pemakainya, dapat mengeluarkan semacam uap berbisa dan berbahaya sekali.

Hong Beng sengaja tidak mau melukai Kim Coa Jin dan hanya mendesaknya dengan ilmu tongkat yang memang lebih tinggi tingkatnya. Pemuda ini biarpun masih muda dan mempunyai darah panas namun ia memang cerdik sekali, dan ia maklum bahwa kalau ia sampai melukai orang ini, maka permusuhan antara kedua partai pengemis akan menjadi semakin mendalam. Pihak Coa-tung Kai-pang tentu akan menjadi makin sakit hati dan menaruh dendam hati yang maha berat. Ia ingin menghindarkan hal ini, maka ia hanya mendesak lawannya dengan tongkat hitamnya, berusaha untuk mengalahkan Kim Coa Jin dengan serangan-serangan yang tidak membahayakan jiwanya.

Bhok Coa Jin yang menonton pertandingan itu, menjadi marah dan penasaran sekali. Bhok Coa Jin memiliki watak yang lebih berangasan dan keras daripada suhengnya. Melihat betapa suhengnya tak dapat menangkan pemuda itu bahkan terdesak hebat sekali, tiba-tiba ia berseru keras dan membantu suhengnya menyerang Hong Beng.

“Pengemis curang, perlahan dulu!” Tiba-tiba terdengar bentakan merdu dan tahu-tahu tongkat yang diputar oleh Bhok Coa Jin itu terpental mundur karena tertangkis oleh sebatang tongkat bambu runcing yang digerakkan secara luar biasa. Bhok Coa Jin terkejut dan lebih-lebih kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menangkis tongkatnya itu adalah nona cantik yang tadi ia lihat duduk di dekat Hong Beng.

“Bocah kurang ajar!” seru pengemis tua ini dengan marah. “Siapakah kau, berani sekali menghalangi Bhok Coa Jin?”

“Hemm, agaknya kau terlalu sombong dan menganggap diri sendiri paling hebat,” Goat Lan menyindir. “Kau mau tahu siapa aku? Namaku Kwee Goat Lan dan kalau lain orang takut mendengar namamu, aku bahkan merasa muak karena nama besarmu itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatmu yang pengecut!”

“Kurang ajar!” Bhok Coa Jin memaki dan tongkatnya meluncur cepat mengarah tenggorokan nona itu, akan tetapi cepat sekali sepasang tongkat bambu runcing di tangan gadis itu bergerak dan menjepit tongkat ular Bhok Coa Jin sehingga tidak dapat dicabut kembali. Betapapun Bhok Coa Jin membetot tongkatnya, tetap saja tongkatnya itu bagaikan terjepit oleh dua potong besi yang kuat sekali. Barulah ia merasa amat terkejut dan heran. Bagaimana gadis muda ini dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya?

Juga Goat Lan merasa gemas sekali terhadap pengemis tua yang berangasan dan kasar ini. Ia sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya yang lihai ketika Hong Beng berkata mencegahnya,

“Lan-moi, jangan layani dia. Biarkan dia mengeroyokku agar mereka tahu kelihaian Hek-tung Kai-pang!” Biarpun hatinya mendongkol dan tidak puas, Goat Lan maklum akan maksud ucapan tunangannya ini dan ia melompat mundur. Ia tahu kalau ia turun tangan, maka hal ini akan mengurangi keangkeran Hek-tung Kai-pang.

Sebaliknya, diam-diam Bhok Coa Jin merasa lega melihat gadis yang lihai itu melompat mundur. Tak banyak cakap lagi ia lalu menyerbu dan menyerang Hong Beng, membantu suhengnya. Kalau sekiranya keadaan Hong Beng berbahaya apabila dikeroyok dua, tentu betapapun juga Goat Lan akan memaksa turun tangan. Akan tetapi ia maklum bahwa menghadapi dua orang pengemis Coa-tung Kai-pang itu, tunangannya takkan kalah karena kepandaian Hong Beng masih lebih tinggi tingkatnya. Ia lalu duduk kembali dan menonton dengan sikap tenang. Sebaliknya, para anggauta Hek-tung Kai-pang merasa kuatir juga melihat betapa ketua mereka dikeroyok dua oleh lawan-lawan yang amat tangguh itu.

Menghadapi keroyokan dua orang lawan yang tak boleh dipandang ringan itu, Hong Beng memperlihatkan kehebatan ilmu tongkatnya. Ia segera merubah gerakan tongkat hitamnya dan kini ia mainkan Ilmu Tongkat Pat-kwa-tung-hwat yang gerakannya jauh lebih cepat daripada Ngo-heng-tung-hwat. Sebentar saja, seperti halnya lima saudara Hek ketika menghadapi pemuda ini, dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang ini menjadi pening dan pandangan mata mereka menjadi kabur. Mereka merasa heran dan juga penasaran sekali karena selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan ilmu tongkat seperti itu. Ilmu Tongcat Hek-tung-hwat pernah mereka lihat, akan tetapi ilmu silat tongkat yang dimainkan oleh ketua baru dari Hek-tung Kai-pang ini benar-benar tidak mereka kenal.

Sebaliknya, bagi Hong Beng tidak mudah untuk mengalahkan kedua lawannya tanpa menggunakan serangan kilat yang sedikitnya akan melukai mereka, maka terpaksa, biarpun ia tidak ingin melukai kedua lawan ini, ia harus memperlihatkan kepandaiannya. Sekali ia mengerahkan tenaga, maka terdengar suara keras sekali dan dua batang tongkat ular itu patah di tengah-tengah. Berbareng dengan patahnya kedua tongkat itu, dari dalam tongkat menyembur keluar banyak sekali jarum hitam ke arah Hong Beng. Akan tetapi pemuda ini dengan mudah saja lalu memukul semua sinar hitam itu dengan tongkatnya dan sebagai pembalasan, dua kali tongkatnya bergerak ke bawah dan kedua orang lawannya itu terjungkal tanpa dapat mengelak lagi!

Untung bahwa Hong Beng hanya mempergunakan sedikit tenaga, karena kalau pemuda ini berlaku kejam, biarpun kedua orang pengemis tua itu memiliki kekebalan, mereka tentu akan patah-patah tulang kakinya. Kini mereka hanya merasa kedua kaki mereka sakit sekali dan untuk beberapa lama mereka tak dapat berdiri. Mereka hanya duduk memandang dengan mata terbelalak, lebih merasa heran daripada merasa marah.

“Kau… kau siapakah? Dan ilmu sihir apakah yang kaupergunakan untuk merobohkan kami?” Akhirnya Kim Coa Jin dapat berkata sambil merangkak mencoba bangun. Demikian pula Bhok Coa Jin dengan muka meringis menahan sakit mencoba untuk bangun berdiri.

“Sudah kukatakan bahwa namaku Sie Hong Beng dan aku telah diangkat menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang!” jawab Hong Beng sederhana. “Kalian datang dan roboh bukan karena kehendak kami, akan tetapi kalian sendiri yang mencari penyakit. Harap jangan kalian persalahkan kami.”

Akan tetapi jawaban ini tidak memuaskan hati mereka, dan Hek Liong yang juga merasa tidak puas mendengar jawaban pangcunya, lalu berdiri dan berkata dengan suara lantang,

“Bukalah matamu baik-baik, kalian orang-orang Coa-tung Kai-pang! Pangcu kami adalah putera dari Pendekar Bodoh dan murid dari Pok Pok Sianjin! Dan pendekar wanita yang kalian pandang rendah ini, dia adalah tunangan pangcu kami yang gagah dan Li-hiap adalah murid dari Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu! Apakah keterangan ini masih belum cukup?”

Pucatlah muka kedua orang pengemis tua itu ketika mendengar nama-nama besar dari para pahlawan dan tokoh dunia persilatan itu. Akhirnya Kim Coa Jin menarik napas panjang dan berkata, “Dasar nasib kami yang sial, bertemu dengan keturunan Pendekar Bodoh! Buah yang jatuh takkan menggelinding jauh dari pohonnya!” Setelah berkata demikian, dengan terpincang-pincang Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin meninggalkan tempat itu.

“Tahan…!” seru Hong Beng dan tubuhnya berkelebat mendahului kedua orang itu. Ia kini berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang dan matanya memandang tajam penuh ancaman. “Apa maksud kata-katamu tadi? Apa maksudmu berkata bahwa buah takkan jatuh menggelinding jauh dari pohonnya?” Kim Coa Jin tersenyum mengejek “Watak anak takkan berbeda jauh dengan bapaknya. Suhuku pernah menceritakan bahwa Pendekar Bodoh adalah seorang yang selalu mencampuri urusan orang lain, seorang yang selalu turun tangan dan bertindak sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya. Dan kau agaknya tidak berbeda jauh dengan ayahmu itu!”

“Siapakah suhumu?” tanya Hong Beng.

“Suhu kami adalah pendiri dari Coa-tung Kai-pang, yang bernama Coa Ong Lojin!” Sambil berkata demikian Kim Coa Jin memandang tajam karena mengharapkan pemuda itu akan menjadi terkejut mendengar nama suhunya. Akan tetapi ternyata Hong Beng menerima keterangan ini dengan dingin saja, sungguhpun ia pernah mendengar nama orang tua yang sakti itu.

“Pernahkah suhumu bentrok dengan ayahku?”

“Belum, belum pernah. Akan tetapi Suhu telah cukup banyak mendengar dari kawan-kawannya, dan Suhu ingin sekali bertemu dengan ayahmu untuk melihat sampai di mana sih kepandaiannya maka dia dan puteranya sesombong ini!”

Tiba-tiba muka Hong Beng menjadi merah sekali, tanda bahwa ia marah.

“Jahanam berlidah busuk!” makinya sehingga Goat Lan yang sudah berdiri di dekatnya menjadi terkejut, karena tak disangkanya sama sekali bahwa tunangannya yang lemah lembut dan sopan santun ini sekarang begitu marah sampai memaki orang. “Kau pandai benar memutar balik duduknya perkara! Pantas saja kau menjadi pengurus Perkumpulan Tongkat Ular karena watakmu seperti ular, lidahmu berbisa. Kalian yang datang mengacau di perkumpulan kami akan tetapi kalian yang menuduh kami suka mencampuri urusan orang lain! Memang ayahku suka mencampuri urusan orang lain, urusan orang jahat macam engkau yang suka mengganggu orang, dan hal seperti itu tentu saja ayahku dan aku takkan tinggal diam memeluk tangan!”

Hampir saja Hong Beng mengangkat tangan menjatuhkan pukulan, kalau saja Goat Lan tidak menyentuh pundak sambil memandangnya dengan senyum menghibur. Pemuda ini menjadi marah sekali karena mendengar ayahnya dicela oleh dua orang jahat seperti Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin.

Kedua orang pengemis dari Coa-tung Kai-pang itu lalu pergi dengan muka pucat dan tidak berani menengok lagi. Goat Lan menghibur tunangannya dengan kata-kata yang halus,

“Sudahlah, Koko, untuk apa mencurahkan kemarahan terhadap orang-orang macam itu? Mereka sudah dikalahkan dan tentu mereka sudah merasa kapok.”

“Mudah-mudahan begitu,” jawab Hong Beng. “Akan tetapi aku masih merasa kuatir kalau-kalau mereka akan datang lagi bersama kawan-kawan mereka untuk mengganggu Hek-tung Kai-pang.”

“Kalau begitu, lebih baik kita menanti sampai beberapa hari di sini, untuk menjaga keselamatan perkumpulan. Memang sudah menjadi kewajibanmu untuk melindunginya dari serangan orang-orang jahat. Biarlah mereka mendatangkan suhu mereka, aku pun sudah pernah mendengar nama Coa Ong Lojin yang terkenal jahat. Betapapun lihainya, kita pasti akan dapat mengalahkannya.”

Demikianlah, kedua orang muda ini terpaksa menunda keberangkatan mereka dan menjaga di tempat itu bersama para pengurus Hek-tung Kai-pang sampai sepekan lamanya. Dan ini pulalah sebabnya maka mereka tidak cepat menyusul Lili dan Lo Sian yang pergi ke rumah Thian Kek Hwesio sehingga setelah menanti tiga hari lamanya, Lili menjadi hilang sabar dan mengajak bekas suhunya itu ke Shaning, ke rumah orang tuanya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.

***

Betapapun Lili berusaha untuk membantu ingatan Lo Sian ia tetap gagal, karena Lo Sian benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.

“Suhu, kau bernama Lo Sian dan berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti), cobalah kau ingat-ingat lagi, Suhu. Aku bernama Sie Hong Li atau Lili yang dulu pernah kautolong dari tangan Bouw Hun Ti. Tidak ingatkah kau kepada suhengmu Mo-kai Nyo Tiang Le?” Untuk kesekian kalinya dalam perjalanannya menuju ke Shaning, Lili berkata kepada bekas suhunya.

Lo Sian hanya menggeleng kepalanya dengan wajah sedih. “Sesungguhnya, telah hampir setiap malam aku mencoba mengerahkan ingatanku, akan tetapi tidak, ada gunanya. Ingatanku akan hal-hal yang lalu seperti sebuah gua yang hitam pekat. Memang, namamu dan juga namaku sendiri terdengar tidak asing bagi telingaku, akan tetapi aku benar-benar telah lupa. Baiklah, mulai sekarang aku bernama Lo Sian lagi dan kau bernama Lili, akan tetapi jangan kau suruh aku mengingat-ingat akan hal yang lalu. Aku tidak sanggup, anak baik.”

Akan tetapi, jalan pikiran Lo Sian masih biasa dan baik sekali. Pertimbangannya masih sempurna, mencerminkan wataknya yang budiman dan gagah perkasa. Pada suatu hari, ketika mereka sedang melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning mereka melihat sebuah makam yang dibangun indah sekali di pinggir jalan. Besarnya makam itu seperti rumah orang, merupakan bangunan gedung yang indah dan mahal. Lo Sian nampaknya amat tertarik dan kagum. Ia berdiri di depan makam itu sambil memandang ke dalam seperti seorang yang terpesona.

“Suhu, coba kauingat-ingat, makam siapakah ini?”

Bagaikan bicara kepada diri sendiri, Lo Sian berkata perlahan,

“Sudah pasti bukan makam Lie Kong Sian… bukan, bukan makam Lie Kong Sian!”

Lili memandang dengan terharu. “Suhu, benar-benarkah Lie-supek telah meninggal dunia?”

Lo Sian mengangguk pasti. “Memang sudah meninggal dunia dan agaknya aku akan mengenal kalau melihat makamnya. Akan tetapi entah di mana, entah bagaimana macamnya, hanya aku merasa yakin akan mengenal makamnya. Dia sudah mati… tak salah lagi…”

Bicara tentang kematian Lie Kong Sian, Lo Sian nampaknya sedih sekali dan Lili lalu terbayang kepada pemuda tampan yang telah merampas sepatunya sehingga mukanya tak terasa pula berubah menjadi merah sekali.

“Sesungguhnya, makam siapakah begini mewah dan mendapat penghormatan sebesar ini dari rakyat?” tanya Lo Sian sambil membaca papan-papan pujian dan kain-kain berisi sajak yang bagus-bagus, juga kepada tempat hio (dupa) yang agaknya dibakari dupa setiap hari.

Lili menarik napas panjang. Kalau suhunya tidak mengenal makam ini, benar-benar ia sudah lupa segala. Siapakah yang tidak mengenal makam Jenderal Ho, pahlawan besar yang gagah perkasa dan yang telah mengorbankan nyawa untuk kejayaan negara dan bangsa?

“Suhu, masa kau tidak ingat kepada makam Jenderal Ho ini?”

Lo Sian menggeleng kepala. “Tidak, sama sekali tidak ingat lagi. Siapakah Jenderal Ho yang kausebutkan tadi?”

“Jenderal Ho adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa. Dulu ketika bala tentara Mongol menyerang pedalaman Tiongkok dan hampir saja dapat membobolkan pertahanan, Jenderal Ho inilah yang berhasil memukul musuh mundur sampai keluar dari Tembok Besar. Juga ketika terjadi pemberontakan di selatan sehingga kedudukan Kaisar sudah terjepit, kembali Jenderal Ho dan pasukannya yang berjasa besar dan berhasil memukul hancur para pemberontak.”

“Dan bagaimana ia sampai meninggal dunia?”

“Ia gugur dalam peperangan ketika pasukan kerajaan menyerang ke timur. Biarpun ia telah terluka hebat di dalam peperangan itu, ia masih sanggup untuk memimpin pasukannya dan mengatur barisan sambil duduk di atas tandu dan ia menghembuskan napas terakhir di atas tandu itu pula! Karena jasa-jasanya terhadap negara inilah maka namanya terkenal di seluruh negeri dan semua rakyat tidak ada yang tidak mengenal namanya. Inilah makamnya. Suhu, apakah kita akan masuk untuk memberi penghormatan kepada makam Jenderal Ho yang besar? Di dalam terdapat orang yang menyediakan dupa.”

Akan tetapi Lo Sian menggelengkan kepalanya dengan keras dan berkata setelah menghela napas panjang. “Tidak perlu, aku tidak suka melihat kepalsuan ini!”

Lili memandang suhunya dengan mata terbelalak. “Apa maksudmu, Suhu? Palsu? Apanya yang palsu?”

“Penghormatan ini, makam ini, semua adalah pemujaan dan pujian palsu belaka. Duduklah, Lili, dan biarlah aku membuka pikiranmu yang masih hijau menghadapi segala kepalsuan dunia.” Mereka lalu duduk di atas bangku batu yang banyak terdapat di depan makam besar itu.

“Sebelum aku membentangkan pendapat dan pandanganku, lebih dulu jawablah, apakah kau pernah melihat makam-makam besar yang dihormati seperti ini untuk para perajurit-perajurit biasa yang gugur dalam peperangan membela negara?”

Lili memandang bodoh dan menggeleng kepalanya. “Belum pernah Suhu, yang dihormati selalu adalah makam orang-orang besar, menteri-menteri, jenderal-jenderal, dan panglima-panglima besar.”

“Nah, itulah yang kukatakan palsu! Jenderal Ho ini dihormati, dipuji-puji karena katanya ia berjasa terhadap negara, bahwa ia telah mengorbankan nyawanya demi kepentingan negara. Bahkan orang-orang yang katanya besar, biarpun tak usah mengorbankan nyawa dalam peperangan, tetap saja makamnya dipuji-puji, namanya dihormati dan dicatat dalam sejarah sampai ribuan tahun! Apakah jasa perajurit kecil itu kalah besarnya? Bukankah mereka itu pun mengorbankan nyawanya, bahkan maju di garis pertempuran terdepan, gugur lebih dulu daripada para pemimpinnya yang hanya mengatur siasat pertempuran dari belakang? Apakah mereka ini tidak jauh lebih berani, gagah, dan berjasa daripada jenderal-jenderal itu? Namun, bagaimana nasib mereka? Mana makam mereka? Dan bagaimana keadaan keluarga mereka yang ditinggalkan? Tak seorang pun mengingat lagi kepada mereka! Nah, inilah yang kukatakan tidak adil dan palsu! Orang hanya pandai mengingat yang besar-besar selalu melupakan yang kecil. Padahal, tanpa yang kecil-kecil, yang besar tidak ada artinya lagi. Apakah dayanya para pembesar tanpa rakyatnya? Apakah artinya jenderal-jenderal tanpa perajurit-perajuritnya?”

Lili tertegun mendengar ucapan suhunya ini, akan tetapi sebagai anak Pendekar Bodoh yang banyak mendengar tentang filsafat, ia tidak mau menyerah begitu saja dan masih membantah, “Akan tetapi Suhu, sebaliknya, apakah artinya perajurit-perajurit dalam barisan tanpa pemimpin yang mengatur siasat peperangan? Apakah artinya rakyat tanpa pemimpin yang pandai?”

Lo Sian mengangguk-angguk. “Memang, ada isinya juga kata-katamu tadi. Memang keduanya perlu sekali, keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan. Betapapun juga, lebih penting anak buahnya daripada kepalanya. Tanpa jenderal, sepasukan perajurit masih merupakan kekuatan hebat, tanpa pemimpin, rakyat masih merupakan massa yang kuat! Sebaliknya, tanpa pasukan, jenderal hanya seorang yang tak berdaya menghadapi lawan. Tanpa rakyat, pemimpin hilang sifatnya sebagai pemimpin. Oleh karena kukatakan tadi bahwa keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan, mengapa orang hanya menghormati pemimpinnya saja tanpa mengingat anak buahnya?”

Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar ini, diam-diam Lili merasa girang sekali, oleh karena ia kini merasa yakin bahwa biarpun telah kehilangan ingatannya dan lupa akan peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu, ternyata suhunya ini masih mempunyai pikiran sehat dan pandangan yang mengagumkan.

Setelah bicara panjang lebar kepada Lili, Lo Sian lalu bangkit berdiri dan menghampiri tembok yang mengelilingi makam itu. Ia mengerahkan lwee-kangnya dan dengan jari-jari telunjuknya ia mencoret-coret tembok itu, menulis beberapa buah huruf yang artinya seperti berikut,

Jenderal Ho menerima penghormatan berkat pasukannya yang gagah perkasa. Siapa yang melihat makam ini harus mengingat akan jasa dari setiap orang perajurit tak dikenal dalam pasukannya!

Biarpun ia hanya menggurat-gurat tembok yang keras itu dengan jari telunjuknya saja, namun bagaikan sepotong besi kuat, jari itu menggores tembok sampai dalam dan tulisan itu tidak dapat dihapus lagi!

Orang-orang yang lewat di tempat itu ketika melihat kejadian ini, lalu maju melihat dan mereka mengeluarkan pujian melihat kekuatan jari telunjuk kakek itu. Tiba-tiba terdengar suara amat nyaring dan keras,

“Bagus, tulisan yang gagah sekali!”

Ketika Lili dan Lo Sian menengok, ternyata di antara penonton itu muncullah seorang pemuda berpakaian sebagai seorang panglima. Orangnya masih muda, tubuhnya tegap dan mukanya tampan dan gagah. Dengan matanya yang tajam bersinar menatap Lili dan Lo Sian, orang ini menjura dengan penuh penghormatan kepada Lo Sian dan Lili.

Lili melihat dengan herannya betapa semua orang yang melihat panglima muda ini, lalu mundur sambil membungkuk-bungkuk, tanda bahwa panglima muda ini bukan orang sembarangan dan mempunyai pengaruh yang besar. Ia merasa segan untuk membalas penghormatan itu, akan tetapi melihat suhunya menjura dengan hormat, terpaksa ia mengangkat kedua tangan memberi hormat pula.

“Siauwte adalah Kam Liong, dan sebagai seorang panglima dari kerajaan, siauwte amat tertarik melihat tulisan Lo-enghiong itu. Tidak tahu siapakah gerangan Lo-enghiong yang bersemangat gagah dan berwatak jujur ini? Dan bolehkah kiranya siauwte mengetahui pula siapakah Siocia ini, murid ataukah puterinya?”

Ucapan Kam Liong terdengar jujur dan tegas, seperti biasa ucapan seorang perajurit, dan Lo Sian memandang kepada pemuda ini dengan mata gembira.

Ia dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki kegagahan dan kejujuran hati. Sebagaimana para pembaca tentu masih ingat, Kam Liong ini adalah putera tunggal dari panglima besar Kam Hong Sin, dan Kam Liong pernah bertemu dan mengukur kepandaian dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dan Kam Liong menjadi tamu dari keluarga bangsawan Gui.

“Terima kasih atas keramahanmu, Kam-ciangkun,” kata Lo Sian, “kami hanyalah orang-orang biasa, namaku Lo Sian dan dia ini adalah muridku bernama Sie Hong Li, puteri dari pendekar Bodoh,”

“Suhu…!” Lili menegur suhunya karena ia tidak suka dirinya diperkenalkan kepada seorang pemuda asing. Akan tetapi Lo Sian berpemandangan lain. Memang tidak ada gunanya memperkenalkan diri kepada orang yang berwatak buruk, akan tetapi ia melihat pemuda ini biarpun mempunyai kedudukan tinggi, namun peramah dan sopan, maka tiada salahnya memperkenalkan diri mereka.

Mendengar nama Lo Sian, wajah Kam Liong tidak berubah, akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis cantik jelita itu adalah puteri Pendekar Bodoh, sikapnya berubah sama sekali. Ia menjadi makin menghormat dan cepat menjura kepada mereka berdua.

“Ah, tidak tahunya siauwte berhadapan dengan puteri dari Sie Tai-hiap yang terkenal! Kalau begitu, kita bukanlah orang luar! Ayahku, Kam Hong Sin sudah kenal baik dengan ayahmu, Nona. Bolehkah aku bertanya, di mana sekarang tempat tinggal ayahmu yang terhormat?”

Terpaksa Lili menjawab, “Ayah kini tinggal di kota Shaning.”

“Siauwte harap Lo-enghiong dan Nona sudilah mampir di kota raja, siauwte akan merasa gembira dan terhormat sekali dapat menjadi tuan rumah.”

“Terima kasih, Kam-ciangkun. Maafkan kami tidak dapat pergi ke kota raja, karena kami hendak melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning,” jawab Lo Sian.

“Ah, sayang sekali siauwte tidak dapat mengawal Ji-wi (Anda berdua) ke Shaning, akan tetapi biarlah lain kali siauwte mengunjungi Sie Tai-hiap untuk menghaturkan hormat.”

Maka berpisahlah mereka, Kam Liong kembali ke kota raja sedangkan Lili dan Lo Sian melanjutkan perjalanan ke kota Shaning. Di tengah perjalanan, Lo Sian berkata kepada Lili,

“Pemuda itu gagah dan baik sekali. Aku percaya dia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.”

“Ayahnya memang berkepandaian tinggi, Suhu. Teecu pernah mendengar dari Ayah dan Ibu bahwa Kam Hong Sin adalah seorang panglima yang memiliki ilmu silat tinggi dan dulu pernah bertemu dengan kedua orang tuaku.” Gadis ini sambil berjalan lalu menuturkan kepada suhunya dengan singkat tentang pengalaman orang tuanya di waktu muda, ketika bertemu dengan ayah panglima muda itu. (Hal ini dituturkan dengan jelas dan menarik dalam cerita Pendekar Bodoh).

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang dilarikan cepat sekali dari belakang. Seorang perwira tua yang menunggang kuda itu ketika tiba di dekat mereka lalu melompat turun dan bertanya,

“Apakah kau yang bernama Lo Sian?”

Lo Sian dan Lili menjadi heran. “Betul,” jawab Lo Sian. “Ada keperluan apakah kau mencariku?”

Perwira itu menyerahkan sepucuk surat yang tertutup kepadanya sambil melirik ke arah Lili. “Aku diperintah oleh Kam-ciangkun untuk menyerahkan surat ini kepada seorang nona yang berjalan bersama dengan orang tua yang bernama Lo Sian. Kurasa kaulah Nona itu.”

Lili tidak mau menerima surat itu, dan Lo Sian yang menerimanya. Setelah memberikan surat itu, perwira ini lalu melompat ke atas kudanya kembali dan tanpa memberi kesempatan kedua orang itu bicara, ia telah membalapkan kudanya kembali. Memang demikianlah perintah komandannya, hanya menyampaikan surat lalu segera meninggalkan mereka lagi.

“Kurang ajar sekali panglima muda itu!” kata Lili dengan muka merah. “Apa maksudnya memberi surat kepadaku? Aku tidak sudi membacanya!”

“Jangan terburu nafsu, Lili. Tak baik menuduh orang sebelum melihat buktinya. Kaubacalah dulu surat ini, baru kemudian kita dapat melihat orang macam apakah adanya panglima muda she Kam itu,” kata Lo Sian.

Dengan mulut cemberut dan muka merah Lili membuka sampul surat itu dengan kasar dan membaca surat yang singkat itu.

Nona Sie,

Aku pernah bertemu dengan kakakmu dan karena dia menewaskan putera bangsawan, Gui Kongcu, kini dia menjadi buruan pemerintah. Aku sebagai panglima tentu saja harus melakukan tugas ini, sungguhpun aku bersimpati kepada kakakmu itu. Suruh dia berhati-hati apabila bertemu dengan perwira-perwira kerajaan.

Yang tetap menghormat

orang tuamu,

Kam Liong

Setelah membaca surat ini, berubahlah wajah Lili dan ia menjadi termenung. Perbuatan apakah yang telah dilakukan oleh kakaknya? Yang dimaksud oleh Kam Liong ini tentulah Hong Beng, akan tetapi mengapa ketika bertemu, Hong Beng tidak bercerita sesuatu tentang pembunuhan seorang bernama Gui Kongcu?

“Surat apakah itu, Lili?” Pertanyaan Lo Sian ini menyadarkan Lili dari lamunannya. Ia tidak menjawab, hanya menyerahkan surat kepada bekas suhunya. Lo Sian membacanya dan kemudian berkata,

“Aku tidak tahu siapa kakakmu, akan tetapi dari bunyi surat ini saja dapat diambil kesimpulan bahwa pemuda she Kam itu memang benar orang baik hati.”

Akan tetapi Lili tidak menjawab karena ia masih merasa heran. Apakah perwira muda itu tidak membohong?

“Teecu sendiri tidak tahu apakah isi surat ini tidak bohong, Suhu. Akan tetapi biarlah, kakakku Hong Beng mana takut menghadapi ancaman dari para perwira kerajaan? Mari kita melanjutkan perjalanan kita, Shaning tidak jauh lagi.”

Dua hari kemudian pada senja hari mereka tiba di kota Lianing, hanya beberapa puluh li lagi dari kota Shaning. Di luar kota Lianing ini, di luar barisan hutan di lereng bukit terdapat banyak kuil-kuil kuno yang sudah kosong, karena sudah banyak yang rusak. Pada siang hari, banyak pelancong datang untuk melihat-lihat kuil kuno ini dan mengagumi seni ukir dan sajak-sajak kuno yang banyak ditulis di tembok kuil. Akan, tetapi pada malam harinya, tempat ini amat sunyi, karena selain gelap juga nampaknya angker menakutkan.

Akan tetapi Lo Sian lebih menyukai tempat seperti ini untuk bermalam daripada hotel yang ramai. Maka, malam hari itu mereka lalu bermalam di kuil ini untuk menanti lewatnya malam dan untuk melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.

Pada saat mereka menuju ke kuil itu di waktu hari telah mulai menggelap tiba-tiba di luar hutan itu berkelebat bayangan orang. Lili yang merasa curiga melihat gerakan bayangan yang cepat ini, segera mengejar. Akan, tetapi ketika ia tiba di luar hutan, bayangan itu sudah lenyap.

“Hemm, bayangan itu gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang berilmu tinggi. Malam hari ini kita harus berlaku hati-hati, Lili,” kata Lo Sian. Akan tetapi gadis yang tabah sekali ini hanya tersenyum dan sama sekali tidak merasa takut, sungguhpun gerakan orang tadi membuat ia kagum.

Mereka memilih kuil yang bersih di mana terdapat sebuah kamar. Lili memakai kamar ini sebagai tempat bermalam dan ia merebahkan diri di atas sebuah pembaringan batu yang kasar. Adapun Lo Sian memilih ruang belakang sebelum pergi ke kuil itu.

Agaknya kekuatiran Lo Sian tidak terbukti karena sampai tengah malam tidak terjadi sesuatu. Akan tetapi, pada saat Lili dan Lo Sian sudah hampir pulas, tiba-tiba terdengar suara perlahan dari atas genteng dan tahu-tahu bayangan hitam yang gerakannya ringan sekali melayang turun di ruangan belakang di mana Lo Sian membaringkan tubuhnya. Pada waktu itu, bulan telah muncul dan ruang itu yang tidak tertutup genteng, nampak agak terang oleh cahaya bulan yang dingin.

Pendengaran Lo Sian masih amat tajam dan begitu ia mendengar suara ini, lenyaplah kantuknya dan ia segera bangun dan duduk memandang tajam.

Untuk sesaat bayangan itu tidak bergerak, terdengar sedu sedan di kerongkongannya dan tiba-tiba bayangan itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil berkata perlahan, “Suhuuu…, ampunkan teecu yang tidak kenal budi…”

Tentu saja Lo Sian menjadi terkejut dan heran sekali. Ia berdiri bengong untuk beberapa lamanya, kemudian baru ia dapat berkata gagap,

“Eh, eh, nanti dulu. Kau siapakah dan mengapa menyebut Suhu kepadaku? Aku Lo Sian tidak mempunyai murid kecuali Lili yang mengaku sebagai muridku!” Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan memandang wajah orang itu dengan penuh perhatian. Orang itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, akan tetapi benar-benar Lo Sian tidak ingat lagi siapa gerangan yang datang mengaku guru kepadanya itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: