Pendekar Remaja ~ Jilid 2

Sinar gembira memancar dari wajah yang tenang dari Pendekar Bodoh itu ketika ia mendengar isterinya menyebut nama Lili, anak perempuannya yang nakal dan selalu mendatangkan kegembiraan itu.

“Girang?” katanya. “Kurasa di samping kegirangannya, ia akan cemberut atau menangis mencela kita yang tidak mau membawanya ketika pergi dulu. Tidak ingatkah kau betapa ia dulu menangis dan hendak memaksa ikut kalau tidak kubentak-bentak?”

“Memang ia agak keras hati dan bandel.” Lin Lin membenarkan.

“Seperti ibunya,” kata Cin Hai.

Lin Lin menengok kepada suaminya sambil cemberut. “Kauanggap aku keras hati dan bandel? Kalau begitu, mengapa kau dulu menikah dengan aku?”

Cin Hai tertawa. “Karena keras hati dan kebandelanmu itulah!”

“He?? Bagaimana pula ini?”

“Aku suka kepadamu karena kau adalah Lin Lin yang keras hati dan bandel!” Mereka saling pandang dan akhirnya keduanya tertawa bahagia. Memang, semenjak mereka menikah, sepasang suami isteri ini selalu masih suka bersendau gurau dengan gembira, menandakan bahwa mereka hidup bahagia sekali.

“Bagaimanapun juga Hai-ko, jangan kau terlalu keras terhadap Lili, ia masih kecil dan kecerdikannya memang tidak seperti anak kita Beng-ji.”

“Kalau terlalu dikasih hati dan dimanja, ia akan menjadi bodoh. Apa kau suka melihat ia menjadi bodoh seperti…” Cin Hai hendak berkata seperti “keledai” akan tetapi ia didahului oleh isterinya.

“Seperti ayahnya!”

Kini Cin Hai yang menengok dan memandang kepada isterinya dengan hati agak mendongkol, karena ia baru memikirkan keledai yang bodoh sehingga ketika Lin Lin menyatakan bahwa anaknya bodoh seperti ayahnya, ia merasa seakan-akan ia dipersamakan dengan keledai!

“Jadi kauanggap aku bodoh?”

Lin Lin tertawa geli sampai menekan perutnya dan ia menuding ke arah muka Cin Hai sambil berkata, “Tidak ada orang di seluruh dunia ini yang lebih bodoh daripada Pendekar Bodoh! Kau masih berani mengaku bahwa kau tidak bodoh!”

“Dan kau suka kepada orang bodoh?” tanya Cin Hai masih mendongkol.

“Kalau kau tidak bodoh, aku takkan suka kepadamu!”

Demikianlah, di sepanjang perjalanan mereka, setiap saat kedua orang ini bersendau gurau, saling menggoda, seakan-akan mereka sedang melakukan perjalanan bulan madu dari sepasang pengantin baru! Kedua orang ini, terutama Cin Hai yang biasanya amat cermat pandangannya, lupa dalam mabuk kebahagiaan mereka, bahwa kesenangan dan kesusahan selalu timbul silih berganti. Cin Hai yang di masa kecilnya telah kenyang mempelajari dan menghafal semua ujar-ujar kuno itu pada saat-saat bergembira ria dengan isteeinya, lupa akan bunyi ujar-ujar nasihat bahwa jangan terlalu bergembira dalam kesenangan dan jangan terlalu berduka dalam kesusahan!

Setelah tiba di gerbang kota, Lin Lin sudah tak sabar lagi, ingin lekas-lekas melihat rumah, bertemu dengan Lili dan dengan ayah angkatnya, Yousuf. Maka dicambuknya kuda yang ditungganginya agar berlari lebih cepat lagi. Cin Hai mengikuti dari belakang. Mereka berdua sama sekali tidak melihat betapa orang-orang di pinggir jalan memandang kepada mereka dengan wajah pucat dan duka.

Baru setelah tiba di pekarangan rumah mereka, Lin Lin dan Cin Hai memandang dengan muka menjadi pucat dan dada berdebar keras. Untuk beberapa saat Lin Lin bahkan duduk saja di atas kudanya seperti patung tak kuasa bergerak karena seluruh tubuhnya seakan-akan menjadi kaku oleh kecemasan hebat.

Cin Hai melompat turun terlebih dulu dan segera menarik tangan isterinya. Keduanya lalu berlari cepat menuju ke ruang depan di mana nampak meja sembahyang dan peti mati berjajar-jajar, hio yang mengebulkan asapnya, dan banyak orang duduk sambil memandang mereka dengan muka sedih!

Kedatangan mereka disambut oleh Kepala Kota dan isterinya yang terus memeluk Lin Lin sambil menangis.

“Kui-lopeh, apakah yang telah terjadi?” tanya Cin Hai. “Siapakah yang… meninggal dunia…?”

Sementara itu, Lin Lin segera bertanya dengan suara keras, “Mana anakku…? Mana… Ayah…??”

“Sabarlah, Tai-hiap, dan kau juga Li-hiap,” kata Kepala Kota itu yang seperti juga orang-orang lain, menyebut tai-hiap (pendekar besar) kepada Cin Hai, dan menyebut li-hiap (pendekar wanita) kepada Lin Lin. “Memang telah terjadi hal yang amat hebat selama kalian pergi. Terjadinya telah tiga hari yang lalu. Seorang laki-laki brewok bersama dua orang kawannya yang tidak diketahui siapa adanya dan apa sebabnya, telah datang di sini pada pagi hari tiga hari yang lalu dan orang brewok itu telah membunuh Yo-lo-enghiong (Orang Gagah Yo), juga membunuh mati empat orang pelayanmu.”

“Dan… Lili… bagaimana?” tanya Cin Hai dengan pucat, sedangkan Lin Lin memandang kepada Kepala Kota itu seakan-akan berada dalam sebuah mimpi buruk.

“Itulah yang membingungkan kami, Tai-hiap,” jawab Kepala Kota itu, “pada saat peristiwa itu, anakmu telah pergi bermain keluar rumah, akan tetapi kami telah mencari setiap tempat tak juga bertemu dengan Lili, entah ke mana ia pergi.”

Cin Hai mengangguk-angguk. “Hmm, kalau orang sudah berani membunuh gakhu (mertua laki-laki), tentu ia berani menculik anakku pula.”

Mendengar ini, bagai meledaklah rasa marah yang telah mendesak-desak dalam dada Lin Lin.

“Keparat jahanam! Siapa dia itu dan di mana dia? Biar kukeluarkan isi perutnya!” Sambil berkata demikian, Lin Lin menggerakkan tangan kanannya dan “srtt!” pedang Han-le-kiam yang pendek dan berkilau saking tajamnya itu telah dicabutnya dari sarung pedang.

Cin Hai memegang lengan isterinya. “Sabarlah, dan tenanglah.”

“Bagaimana aku bisa bersabar kalau mendengar ada anjing berkeliaran di kota yang berani mengganggu Ayah dan Anakku? Mari, Hai-ko. Mari kita mencarinya sekarang juga! Hendak kulihat sampai bagaimana lihainya sehingga anjing itu berani main-main dengan aku!”

Cin Hai membujuk isterinya dan menarik tangannya. “Lebih dulu kita harus memberi hormat dan menghaturkan maaf kepada gakhu karena kita telah tinggalkan dia. Kalau kita berada di sini, apakah hal ini akan dapat terjadi?”

Mendengar ucapan ini, Lin Lin dengan gerakan perlahan menengok ke arah peti Yousuf, dan tiba-tiba nyonya muda ini menjerit dan melemparkan pedangnya, lalu berlari ke depan peti mati Yousuf, lalu berlutut memeluki peti itu sambil menangis tersedu-sedu.

“Ayah… Ayah, ampunkan anakmu yang tidak berbakti ini…” Lin Lin menjambak rambutnya sendiri sehingga menjadi awut-awutan! “Aku telah pergi meninggalkan Ayah… bersenang dan tertawa di jalan, tidak tahunya Ayah mengalami nasib seperti ini…!” Kemudian ia bangun berdiri dan mengepal tinjunya, memandang ke arah peti mati dengan air mata mengalir dan sepasang matanya yang dipentang lebar itu pun penuh air mata.

“Ayah! Bagaimana kau sampai kalah oleh anjing itu? Mungkinkah kau yang gagah ini kalah olehnya? Ayah! Katakanlah siapa orang itu, akan kucekik lehernya sekarang juga!” Akan tetapi ia teringat kembali bahwa ayah angkatnya telah mati maka ia lalu menubruk peti mati itu dan sambil menangis menjerit-jerit ia berusaha membuka tutup peti yang telah dipaku.

Cin Hai tadi pun berlutut dibelakangnya, dan ketika melihat perbuatan isterinya itu, ia cepat memegang lengannya dan berkata perlahan,

“Lin Lin, kau hendak berbuat apakah?”

“Buka! Buka! Aku hendak melihat ayahku…!”

Orang-orang yang berada di situ tak dapat menahan mengucurnya air mata melihat pemandangan yang mengharukan ini, akan tetapi mereka terkejut sekali mendengar nyonya itu hendak membuka peti! Juga Kepala Kota merasa terkejut dan kuatir sekali, maka ia melangkah maju dan berkata mencegah,

“Tai-hiap, lihat! Jangan dibuka peti itu…!”

Tiba-tiba Lin Lin melompat berdiri dan memandang kepada Kepala Kota itu dengan mata bernyala! “Apa katamu? Mengapa tidak boleh dibuka?”

Melihat wajah yang pucat seperti mayat dan mata yang bernyala marah itu, Kepala Kota melangkah mundur dua tindak dengan terkejut dan ucapan yang telah di ujung lidahnya ia telan kembali!

“Hayo buka!” Sekali lagi Lin Lin memekik.

“Kui-lopeh, biarlah. Buka saja tutup peti mati ini agar kami dapat memandang wajah gakhu sekali lagi,” kata Cin Hai perlahan sambil menahan jatuhnya air mata.

Kepala Kota she Kui itu hendak menjawab dan memberi keterangan, akan tetapi baru saja bibirnya bergerak, Lin Lin yang sudah tak sabar lagi itu membentak lagi,

“Hayo buka sekarang juga! Kalau kalian tidak mau, biarlah aku sendiri yang membuka!” Sambil berkata demikian, Lin Lin melangkah maju dan hendak membuka tutup peti itu dengan paksa.

Cin Hai merasa kuatir kalau-kalau peti itu akan menjadi rusak apabila Lin Lin mengerahkan tenaganya, maka ia lalu memberi tanda sehingga Kepala Kota itu terpaksa menyuruh para penjaga untuk mengambil alat dan tutup itu dibuka dengan tangan-tangan gemetar oleh empat orang.

Peti dibuka perlahan. Semua orang menahan napas, dan di sana-sini terdengar isak tertahan. Begitu peti itu terbuka dan Lin Lin bersama Cin Hai menjenguk ke dalam, keduanya menjerit seakan-akan dari dalam peti itu melayang ular yang menggigit mereka.

“Ayah…!!” Dan jeritan yang mengerikan ini disusul dengan robohnya tubuh Lin Lin. Ia pingsan!

“Gakhu…!” Cin Hai juga memekik dan mukanya berubah menjadi pucat sekali.

Siapa orangnya yang takkan merasa ngeri dan hancur hatinya melihat ayah dan mertuanya mati dalam keadaan demikian mengerikan, tanpa kepala! Akan tetapi, Cin Hai yang memiliki kekuatan batin luar biasa itu, dapat menekan penderitaan hatinya, dan setelah memandang sekali lagi ke arah tubuh Yousuf yang tak berkepala lagi itu, ia lalu menutup petinya dan menyuruh orang-memakunya kembali. Kemudian ia mengangkat tubuh isterinya dan dipondong, dibawa masuk ke dalam rumah. Ia merasa kasihan sekali kepada Lin Lin dan memaklumi sepenuhnya akan perasaan dan penderitaan batin isterinya ini. Ayah Lin Lin yang aseli, yaitu Kwee In Liang, tewas sekeluarganya terbunuh orang, dan sekarang ayah pungutnya juga tewas terbunuh, bahkan dalam keadaan yang amat mengerikan.

Setelah siuman kembali, Lin Lin menangis sedih, dihibur oleh Cih Hai, akan tetapi betapapun juga, bencana besar yang menimpa keluarga Sie ini tidak mudah dihibur begitu saja, bahkan Pendekar Bodoh sendiri yang biasanya berlaku tenang dan berbatin kuat, kali ini duduk bengong seakan-akan semangatnya terbang melayang. Peristiwa ini amat berat tidak saja Yousuf telah terbunuh mati secara kejam sekali, akan tetapi juga anak mereka yang tersayang, Hong Li, telah diculik oleh pembunuh jahat dan kejam itu! Sungguhpun tidak ada bukti yang nyata bahwa pembunuh itulah yang menculik Lili, akan tetapi siapa lagi kalau bukan pembunuh itu yang berani melakukan perbuatan keji ini.

“Aku harus mencarinya! Aku harus mencari jahanam itu, harus membunuhnya!” kata Lin Lin berulang-ulang sambil menangis!

“Tentu isteriku!” kata Cin Hai sambil memegang tangannya. “Akan tetapi kita harus berlaku tenang dan menggunakan pikiran jernih. Ada sesuatu yang menghibur hatiku yaitu karena Lili diculik orang, maka tentu ia masih selamat. Kalau penjahat itu bermaksud membunuh anak kita, tentu sudah ia lakukan di sini seperti yang diperbuatnya terhadap gakhu, tak perlu susah-susah diculiknya lagi. Hanya sayangnya, penjahat itu tidak meninggalkan nama-nama yang jejak, sehingga sukarlah bagi kita untuk mencarinya karena kita tidak tahu ke jurusan mana kita harus mencari!”

Terhibur juga hati Lin Lin mendengar ucapan ini, karena memang kata-kata suaminya itu beralasan. Kalau penculik itu bermaksud membunuh Lili tentu tak perlu dibawanya pergi.

“Bagaimanapun juga, kita harus mencarinya!” katanya kemudian.

“Tentu saja, akan tetapi kita harus mengurus penguburan jenazah ayahmu dulu, dan kita harus melakukan penyelidikan di sini, kalau-kalau ada yang dapat menceritakan terjadinya peristiwa itu lebih jelas lagi!”

Penguburan lima jenazah itu dilakukan dengan baik dalam suasana diliputi kesedihan. Sebagian besar penduduk kota Shaning mengantar dan kota itu nampak dalam suasana berkabung.

Setelah selesai penguburan, Cin Hai lalu mencari keterangan ke sana kemari kalau-kalau ada yang dapat menceritakan peristiwa itu lebih jelas lagi. Akan tetapi, orang-orang yang kebetulan lewat ketika peristiwa maut itu terjadi, telah melarikan diri karena ketakutan, dan mereka hanya dapat menceritakan bahwa yang memegang golok berlumpur darah adalah seorang yang bermuka brewok dan kepalanya memakai ikat kepala warna merah dan biarpun kulitnya kuning, akan tetapi potongan mukanya seperti orang asing dan agaknya sebangsa dengan Yousuf, usianya kurang lebih empat puluh tahun.

“Bisa jadi orang itu adalah musuh dari gakhu,” kata Cin Hai setelah memutar otaknya karena keterangan keterangan itu amat sedikit, “mungkin sekali dia adalah seorang Turki. Ingatkah kau bahwa para pengikut Pangeran Muda dari Turki terdiri dari orang jahat yang berkepandaian tinggi? Siapa tahu kalau-kalau orang itu adalah utusan dari Pangeran Muda yang merasa sakit hati terhadap gakhu.”

“Akan tetapi mengapa ia menculik anak kita?” kata Lin Lin dengan hati sakit hati.

“Inilah yang harus kita selidiki. Sekarang, tidak ada lain jalan bagi kita selain menyusul ke barat!”

“Ke Turki?” tanya Lin Lin memandang dengan mata terbelalak.

“Kalau perlu kita boleh menyusul ke sana. Akan tetapi, lebih baik kita mencari keterangan dan menyelidiki ke daerah barat di mana terdapat banyak orang-orang Turki.” “Ke daerah Kansu di barat?” tanya pula Lin Lin. Pendekar Bodoh mengangguk. “Kau masih ingat betapa kita pernah pergi ke daerah itu dan betapa para pengikut Pangeran Tua yang dipimpin oleh gakhu dan Suhu bertempur melawan pengikut-pengikut Pangeran Muda?” Lin Lin mengangguk dan tentu saja ia masih ingat akan pengalaman-pengalamannya yang ketika mereka bersama kawan-kawan mereka yang lain mengembara ke barat ke daerah Kansu di mana mereka mengalami peristiwa-peristiwa hebat (diceritakan dalam cerita Pendekar Bodoh). Memang di daerah ini terdapat banyak sekali orang-orang Turki maka kalau hendak mencari keterangan tentang pembunuh Yousuf yang disangkanya orang Turki itu, tidak ada lain tempat yang lebih tepat dan baik selain daerah Kansu. “Baiklah aku menurut saja. Pendeknya, jangankan ke Kansu atau ke Turki, biar ke seberang lautan sekalipun, aku harus dapat mencari jahanam itu!” kata Lin Lin. “Dan kita sekalian mampir di Tiang-an, karena sudah setahun kita tidak bertemu dengan Kwee An,” kata Cin Hai. Demikianlah, sepasang pendekar yang sedang bersedih hati itu lalu menyerahkan penjagaan rumah mereka kepada para tetangga, kemudian mereka berangkat menunggang kuda, mulai dengan usaha mereka mencari pembunuh Yousuf dan mencari anak mereka yang terculik orang.

***

Marilah kita ikuti nasib Hong Li atau Lili yang dibawa pergi oleh Bouw Hun Ti. Sesungguhnya putera Balutin ini memiliki hati yang lebih kejam dan keji daripada ayahnya. Tidak dibunuhnya Lili bukan sekali-kali timbul dari hati nuraninya, karena manusia ini agaknya tidak mempunyai pribudi sama sekali dan hatinya telah membeku terhadap segala macam kebajikan dan sudah tidak mengenal perikemanusiaan lagi, seakan-akan iblis bertubuh manusia! Ia tidak membunuh Lili, pertama-tama untuk mendatangkan siksaan batin kepada orang tua anak itu, kedua kalinya oleh karena ia suka melihat kemungilan dan kejelitaan Lili dan diam-diam ia mengandung maksud yang amat busuk dan keji. Ia hendak merawat anak perempuan itu karena dapat membayangkan bahwa paling banyak tujuh delapan tahun kemudian, anak perempuan ini akan menjadi seorang gadis remaja yang luar biasa cantiknya. Dan ia bermaksud mengambil anak ini sebagai isterinya apabila anak itu telah besar kelak! Sungguh sebuah niat yang amat busuk dan keji! Bouw Hun Ti menuju ke tempat tinggal suhunya, yaitu Ban Sai Cinjin, seorang tua yang berwatak jauh lebih rendah daripada Bouw Hun Ti sendiri. Biarpun usianya telah lebih dari lima puluh tahun, akan tetapi Ban Sai Cinjin terkenal sebagai seorang yang gila perempuan dan di dalam rumahnya, ia mempunyai bini muda yang tidak kurang dari lima orang jumlahnya masih muda-muda lagi cantik-cantik! Ia dapat melakukan hal ini oleh karena selain amat berpengaruh dan ditakuti orang ia juga terkenal kaya raya. Gedungnya besar dan mewah. Jubah luarnya terbuat daripada kapas halus dan tebal yang berharga amat mahal, ditambah pula dengan baju bulunya yang selalu menutup jubahnya. Juga tua bangka yang tak tahu diri ini memilih warna yang mencolok untuk pakaiannya, kalau tidak merah, tentu biru dan lain-lain warna yang membayangkan bahwa biarpun usianya telah tua, namun hatinya lebih muda daripada seorang teruna! Ban Sai Cinjin bertempat tinggal di dusun Tong-si-bun di Propinsi Hupei yang berdekatan dan berada di sebelah barat Propinsi An-hui. Oleh karena itu, setelah keluar dari kota Shaning, Bouw Hun Ti langsung menuju ke barat dan memasuki Propinsi Hupei. Jalan yang ditempuhnya ini berlainan dengan jalan yang ditempuh oleh Cin Hai dan isterinya, oleh karena sepasang pendekar itu yang menuju ke Tiang-an tempat tinggal kakak Lin Lin yang bernama Kwee An, melakukan perjalanan lurus ke utara. Biarpun Bouw Hun Ti memiliki kuda yang baik dan melakukan perjalanan dengan cepat, akan tetapi oleh karena jarak yang ditempuhnya memang jauh, maka tiga hari kemudian ia baru tiba di tapal batas Propinsi Hupei. Ia merasa bingung dan juga gemas sekali oleh karena Lili yang berada dalam pengaruh totokannya itu sama sekali tidak mau makan sehingga wajah anak itu pucat sekali serta tubuhnya lemas! Apabila berada dalam perjalanan, ia membebaskan anak itu dari totokan, akan tetapi tiap kali memasuki kampung atau kota, ia menotoknya kembali pada urat gagu anak itu agar jangan sampai berteriak minta tolong. Pada hari ketiga itu ia tiba di sebuah dusun yang cukup besar dan ramai. Dusun ini adalah dusun Sin-seng-chun dan adanya dua buah rumah penginapan dan tiga buah rumah makan besar itu cukup menjadi bukti bahwa dusun itu cukup makmur dan banyak didatangi tamu dari luar!

Bouw Hun Ti menghentikan kudanya pada sebuah rumah makan yang terbaik dan mengikat tali kudanya pada patok-patok yang telah disediakan di pinggir rumah makan itu. Kemudian ia menuntun Lili memasuki rumah makan. Ia merasa gelisah sekali dan merasa takut kalau-kalau anak perempuan ini akan menderita sakit dan mati ditengah jalan. Oleh karena itu, kali ini hendak memaksanya makan! Ia memesan arak dan masakan untuk diri sendiri dan minta semangkuk bubur untuk Lili. Setelah pesanannya dihidangkan oleh pelayan rumah makan, ia berkata kepada Lili dengan suara halus agar tidak menimbulkan kecurigaan orang.

“Kaumakanlah!”

Akan tetapi, seperti yang telah dilakukannya selama ia diculik oleh Si Brewok itu, Lili menggeleng kepala sambil mengatupkan bibirnya. Bouw Hun Ti benar-benar merasa kewalahan dan diam-diam ia merasa heran melihat kekerasan hati anak ini. Anak kecil baru berusia delapan tahun saja sudah berani berlaku nekad dan mogok makan selama tiga hari, sama sekali tidak mau menurut perintahnya! Ia mulai merasa ragu-ragu apakah kelak anak ini tidak hanya mendatangkan kepusingan dan kesukaran kepadanya.

“Makanlah!” katanya lagi dan kali ini kemendongkolannya membuat suaranya terdengar agak keras. Pelayan melayaninya dengan pandang mata kasihan lalu bertanya,

“Tuan, apakah Nona kecil ini menderita sakit?”

Bouw Hun Ti memang marah sekali sehingga pelayan itu menjadi terkejut dan melangkah mundur.

“Mau apa kau tanya-tanya? Pergi!” bentak Bouw Hun Ti yang sedang marah itu dan pelayan tadi segera pergi dengan ketakutan bagaikan seekor anjing diancam dengan cambuk.

“Mau makan atau tidak?” sekali lagi Bouw Hun Ti membentak Lili, akan tetapi Lili tetap menggeleng kepala. Bukan main marahnya Bouw Hun Ti, kalau saja di situ tidak banyak orang dan dia tidak ingin menimbulkan onar, tentu dia telah memukul kepala anak ini biar mampus seketika itu juga! Ia lalu mendapat akal dan tiba-tiba ia tersenyum menyeringai hingga mukanya nampak kejam sekali.

“Kau tidak mau makan, anak manis?” Sambil berkata demikian, ia menepuk-nepuk punggung Lili, akan tetapi sebenarnya, di luar tahunya semua orang, ia melakukan tiam-hoat (totokan) pada jalan darah di punggung anak itu juga. Lili merasa kesakitan yang luar biasa hebatnya menyerang seluruh tubuhnya, sehingga ia menggeliat-geliat kesakitan bagaikan cacing terkena abu panas! Kalau saja urat gagunya tidak tertotok, tentu ia akan menjerit-jerit kesakitan. Akan tetapi, karena ia tak dapat mengeluarkan suara, hanya air matanya saja mengucur turun membasahi pipinya dan kulit mukanya sampai berkerut-kerut saking besarnya penderitaan nyeri yang menyerang tubuhnya! Bibirnya digigit-gigit sampai berdarah! Bukan main besarnya penderitaan anak kecil berusia delapan tahun itu.

“Bagaimana? Kau masih mau makan atau tidak?” tanya Bouw Hun Ti sambil tersenyum iblis.

Lili biarpun masih anak-anak, akan tetapi ia adalah anak seorang pendekar besar, maka ia tahu apa artinya rasa sakit yang menyerang dirinya dengan hebat itu. Karena dapat menduga bahwa penculiknya adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan tentu akan terus menyiksanya apabila ia membangkang terpaksa ia menganggukkan kepalanya dan tangannya telah menggigil karena kesakitan dan kelaparan itu, lalu meraba-raba mangkuk.

“Anak baik, kaumakanlah yang kenyang!” kata Bouw Hun Ti sambil menepuk-nepuk punggung anak itu. Seketika itu juga lenyaplah rasa nyeri yang menyerang tubuh Lili tadi. Anak kecil mulai makan bubur dalam mangkuk dan sungguhpun ia makan dengan otomatis tanpa menikmati rasa bubur itu, namun .ia merasa tubuhnya segar kembali, tidak lemas seperti tadi. Maka dihabiskanlah semangkuk bubur itu tanpa mau memandang wajah penculiknya, karena ia maklum betapa penjahat itu memandangnya dengan mengejek.

Para tamu yang berada di situ, sama sekali tidak tahu akan kekejaman ini dan mereka ikut merasa lega melihat betapa “anak sakit” itu makan dengan lahapnya.

“Nah, begitulah!” kata Bouw Hun Ti kepada Lili. “Mulai sekarang, kau harus menurut segala kata-kataku, kalau tidak, tentu kau akan menderita sakit dan siapakah yang akan susah kalau terjadi demikian?”

Dalam pendengaran orang-orang lain, ucapan ini seperti ucapan seorang ayah memberi nasihat kepada anaknya, akan tetapi dalam pendengaran Lili ucapan itu merupakan ancaman bahwa kalau lain kali ia tidak menurut, ia akan menderita siksaan seperti tadi!

Akan tetapi, orang salah menduga kalau mengira bahwa diantara semua orang yang berada di tempat itu tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi sebenarnya antara Si Brewok dan anak kecil itu! Di sudut rumah makan itu, menghadapi meja seorang diri, duduk seorang laki-laki berusia antara tiga puluh lima tahun. Orang ini berwajah putih, dan gagah, berambut hitam dan bermata tajam. Kumisnya pendek sedangkan jenggotnya hanya sekepal bagaikan jenggot kambing. Yang aneh sekali adalah pakaiannya karena pakaian yang dipakainya itu penuh dengan tambal-tambalan, akan tetapi terbuat daripada bahan yang amat bersih! Bahkan kain berwarna putih yang digunakan untuk menambal bajunya yang hitam itu pun amat bersihnya seakan-akan kain baru yang sengaja ditambalkan di situ! Juga pengikat rambutnya yang terbuat daripada sutera itu sama sekali tidak sesuai dengan bajunya yang bertambal-tambal seperti baju seorang pengemis!

Lama sebelum Bouw Hun Ti masuk, orang ini telah masuk dan duduk di dalam restoran, dan kelakuannya telah membuat semua orang terheran. Tadinya, pelayan yang melihat seorang berbaju tambal-tambalan memasuki restoran, lalu menyambutnya dengan muka masam dan berkata dengan nada menghina,

“Tidak ada tempat untuk golongan pengemis di restoran ini!”

Orang yang berbaju tambal-tambalan itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum dan menjawab, “Yang kaulayani semua ini orangnya atau pakaiannya?”

“Apa maksudmu?” tanya pelayan yang sombong itu.

“Kau memandang orang dari keadaan pakaiannya, benar-benar orang macam kau ini menyebalkan!”

“Aku tidak peduli tentang pakaian, pendeknya kau punya uang atau tidak? Bagimu, semua pesanan makanan harus dibayar dimuka!”

Sikap dan omongan pelayan ini memang benar-benar kurang ajar sekali, akan tetapi orang itu masih tetap tersenyum sabar, sungguhpun jawabannya menyatakan bahwa ia amat mendongkol.

“Beberapa kau menjual kepalamu? Kiranya aku sanggup membayarnya!” Sambil berkata demikian, orang itu merogoh sakunya dan ketika ia menarik kembali tangannya ternyata bahwa ia telah menggenggam beberapa potong uang perak dan emas! Tentu saja pelayan itu menjadi amat malu dan juga tercengang melihat seorang berpakaian tambal- tambalan mempunyai uang perak sebanyak itu, bahkan memiliki uang emas pula. Tanpa dapat berkata apa-apa lagi ia lalu mengundurkan diri dan lain orang pelayan lalu melayani orang berbaju tambalan itu.

Sungguh amat baik untungnya pelayan tadi, karena kalau sampai orang berbaju tambalan itu turun tangan, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya. Kalau saja ia tahu siapa adanya orang ini, tentu ia akan menjadi ketakutan sekali, dan untungnya orang itu tidak menyebut namanya.

Orang berbaju tambalan itu adalah Lo Sian yang berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti) dan namanya telah terkenal di segenap penjuru karena selain ilmu kepandaiannya amat tinggi, juga Lo Sian terkenal sebagai pembasmi kejahatan. Pendekar yang suka mengenakan pakaian tambal-tambalan ini sebetulnya adalah seorang tokoh dari Thian-san-pai, yang turun gunung berbareng dengan seorang suhengnya (kakak seperguruannya). Juga kakak seperguruannya ini selalu mengenakan pakaian tambal-tambalan, bahkan, kalau pakaian Lo Sian masih terpelihara bersih-bersih, adalah pakaian kakak seperguruannya itu amat buruk dan kotor, seperti pakaian pengemis tulen. Suhengnya ini bernama Nyo Tiang Le dan dijuluki Mo-kai (Pengemis Iblis)! Julukan ini diberikan orang kepadanya oleh karena sepak terjangnya yang seperti iblis mengamuk apabila ia menghadapi orang-orang jahat. Dalam memusuhi orang-orang jahat, Nyo Tiang Le memang bertindak secara ganas dan tak kenal ampun, maka orang-orang menjadi ngeri dan jerih melihatnya sehingga ia diberi julukan Pengemis Iblis!

Secara kebetulan saja Lo Sian si Pengemis Sakti lewat di dusun Sin-seng-chun dan makan di restoran itu sehingga ia melihat Bouw Hun Ti masuk sambil menuntun tangan Lili. Lo Sian hanya memandang sambil lalu saja, karena sungguhpun ia telah memiliki pengalaman yang luas dan kenal hampir semua orang gagah di kalangan kang-ouw, akan tetapi ia belum pernah melihat Bouw Hun Ti yang datang dari Turki itu. Akan tetapi ketika ia mendengar betapa Bouw Hun Ti beberapa kali membentak-bentak anak itu, ia merasa heran dan memandang juga. Ia merasa heran mengapa anak itu tidak mau makan, sedangkan mellhat wajahnya sepintas lalu saja tahulah ia bahwa anak itu sedang menderita lapar sekali. Diam-diam ia merasa heran melihat wajah laki-laki yang seperti orang asing ini, maka diam-diam ia mulai menaruh perhatian, sungguhpun ia hanya memandang dengan kerling matanya saja.

Alangkah terkejut hati Lo Sian ketika kemudian ia melihat betapa laki-laki brewok itu menepuk-nepuk pundak anak perempuan itu dan tiba-tiba menotok jalan darah Koan-goan-hiat anak itu! Ia merasa kaget setengah mati karena totokan itu dapat membuat anak itu tewas seketika, atau setidaknya mendatangkan rasa sakit yang luar biasa hebatnya! Gilakah Si Brewok itu? Mengapa ada orang memperlakukan anak sendiri semacam itu? Lo Sian memandang tajam dan hampir saja ia bertindak untuk memberi hajaran kepada orang kejam ini, kalau saja pada saat itu Bouw Hun Ti tidak sudah melepaskan Lili dari pengaruh totokannya kembali.

Jelas kelihatan oleh Lo Sian betapa anak perempuan itu menahan sakit dan biarpun air mata anak itu bercucuran, akan tetapi tidak sedikit pun suara isak keluar dari mulutnya. Ia berdebar deras karena kini ia menduga bahwa anak perempuan ini tentu telah ditotok urat gagunya yang membuatnya sama sekali tak dapat mengeluarkan suara. Hatinya mulai menaruh curiga kepada orang brewok itu dan ia menduga bahwa orang ini tentu seorang penculik anak kecil. Lo Sian mulai bersiap untuk menyelidiki perkara ini dan kalau perlu menolong anak itu.

Akan tetapi pada saat itu terjadilah hal lain yang cukup meributkan. Orang melihat betapa Bouw Hun Ti tiba-tiba melemparkan daging yang sedang dikunyahnya ke atas lantai sambil menyumpah-nyumpah.

“Bangsat dan penipu belaka pemilik rumah makan ini!” Ia menyumpah-nyumpah sambil memegang pipinya. Sebetulnya, tanpa disengaja, Bouw Hun Ti yang mempunyai penyakit gigi, kena gigit sepotong tulang kecil yang bersembunyi di dalam daging sehingga sakitnya bukan main membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut serasa mau pecah. Siapa yang pernah menderita sakit gigi tentu akan dapat membayangkan rasa sakit yang diderita oleh Bouw Hun Ti pada saat itu. Penyakit ini memang paling jahat dan berbahaya karena membuat orang naik darah dan terutama Bouw Hun Ti yang berwatak buruk itu, tiba-tiba menjadi marah sekali. Ia pegang mangkok tempat masakan itu dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping!

Pelayan yang tadi menghina Lo Sian adalah pelayan kepala dan ia memang terkenal beradat keras dan sombong. Tadi ia telah “kecele” oleh Lo Sian dan sedikitnya kesombongannya tersinggung, maka hal itu membuat ia merasa malu dan mendongkol. Kini melihat ada orang yang membuat ribut naiklah darahnya. Dengan langkah lebar ia menghampiri lalu membentak,

“Orang kasar dari manakah berani mengacau di rumah makan kami? Mengapa kau memaki-maki dan merusak barang kami? Kau harus mengganti harganya!”

Pelayan itu memang sedang sial dan ia benar-benar mencari penyakit sendiri. Bouw Hun Ti yang sedang menderita sakit gigi dan sedang marah-marah itu bagaikan api yang mulai menyala, kini seakan-akan api itu disiram dengan minyak hingga makin berkobar. Ia bangkit berdiri dengan perlahan dan sepasang matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat pelayan itu.

“Apa katamu…?” katanya perlahan dengan muka merah. “Kau sudah menipu orang, menjual daging liat dan tulang, masih tidak mau mengaku salah bahkan berani memaki aku?”

“Siapa bilang kami menjual daging liat dan tulang? Barangkali gigimu yang telah ompong sehingga tidak kuat mengunyah daging!” pelayan itu tidak mau kalah dan beberapa orang terdengar tertawa mendengar ucapan ini.

Diam-diam Lo Sian memandang dengan penuh perhatian dan tertarik. Ia tahu bahwa pelayan itu terlalu sombong dan akan mengalami celaka. Benar saja, tiba-tiba Bouw Hun Ti yang mendengar ucapan ini lalu membungkuk dan mengambil sekerat daging yang tadi dilemparnya, dan sekali ia mengayun tangan, daging itu melayang dan tepat menotok jalan darah di dada pelayan itu yang segera menjerit keras, roboh dan bergulingan sambil berteriak-teriak, “Aduh…! Mati aku…! Aduh…! Aduh…!”

Gegerlah semua tamu dan pelayan yang berada di situ. Dua orang pelayan yang bertubuh tinggi besar melangkah maju.

“Bangsat kurang ajar! Kau berani memukul orang?” Dua orang pelayan itu juga mencari penyakit, pikir Lo Sian yang menonton keributan itu sambil tersenyum simpul. Akan tetapi dua orang pelayan yang hanya memiliki tenaga besar karena setiap hari dilatih mencacah bakso, tidak dapat melihat bahwa Bouw Hun Ti memiliki ilmu kepandaian luar biasa, maka dengan kepalan tangan mereka lalu menyerang hebat untuk memberi hajaran kepada Si Brewok itu. Akan tetapi, Bouw Hun Ti sama sekali tidak pedulikan datangnya pukulan kedua orang itu, bahkan lalu maju menyambut dengan kedua tangan terulur maju merupakan cengkeraman garuda.

“Buk! Buk!” Dua pukulan itu tepat mengenai dada dan pundak Bouw Hun Ti, akan tetapi aneh sekali. Si Brewok itu seakan-akan tidak merasa sama sekali, sebaliknya dua orang pelayan itu memekik kesakitan dan memandang tangan mereka yang menjadi bengkak dan biru setelah memukul tubuh yang mereka rasakan keras seperti besi itu! Sementara itu, cengkeraman tangan Si Brewok telah mencapai sasaran, yakni rambut kedua orang pelayan itu. Ketika Bouw Hun Ti mengangkat kedua lengannya maka dua orang itu terangkat ke atas dan Bouw Hun Ti lalu menggerakkan kedua tangannya, membenturkan kepala dua orang itu satu kepada yang lain.

“Duk!” Dan ketika Bouw Hun Ti melepaskan tangannya, dua orang pelayan itu roboh dengan tubuh lemas dan pingsan serta kepala mereka yang saling bertumbuk tadi pecah kulitnya dan mengeluarkan darah! Masih untung bagi mereka bahwa Bouw Hun Ti tidak menggunakan seluruh tenaganya, karena kalau Si Brewok mau, dua butir kepala itu pasti akan menjadi pecah dan nyawa mereka berdua akan melayang!

Pada saat itu dari luar pintu terdengarlah bentakan keras dengan suara yang parau,

“Jago dari manakah memperlihatkan kegagahan di sini?” Bentakan ini disusul masuknya seorang laki-laki berpakaian mewah dan bertubuh tinggi besar bermuka hitam. Inilah Tiat-tauw-ciang (Si Kepala Besi) yang bernama Thio Seng, seorang yang terkenal sebagai jago di dusun itu. Thio Seng tidak saja memiliki kepandaian silat yang tinggi, akan tetapi juga ia terkenal sebagai seorang yang kaya raya. Selain banyak memiliki tanah, juga rumah makan itu adalah miliknya. Pengaruhnya amat besar dan agaknya pengaruhnya ini yang membuat para pelayannya berwatak sombong. Kebetulan sekali Thio Seng pada waktu terjadinya pertempuran di rumah makan itu berada di luar rumah makan, maka ia segera mendengar dari para pelayan tentang mengamuknya seorang tamu. Dengan marah ia lalu masuk ke dalam rumah makannya dan membentak Bouw Hun Ti.

Bouw Hun Ti yang masih marah itu ketika melihat seorang tinggi besar bermuka hitam memasuki pintu rumah makan, bertanya dengan suara kasar,

“Muka Hitam, siapakah kau dan mau apa?”

Thio Seng dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki ilmu silat, maka ia menjawab sambil mengangkat dada,

“Akulah yang disebut Tiat-tauw-ciang Thio Seng dan pemilik rumah makan ini!” Dengan ucapan ini Thio Seng menduga bahwa orang itu tentu telah mendengar namanya dan akan minta maaf menyatakan tidak tahu bahwa restoran itu miliknya. Akan tetapi, selama hidupnya Bouw Hun Ti belum pernah mendengar nama ini, maka ia menjawab,

“Tidak peduli pemilik rumah ini bernama kepala besi ataupun kepala udang, orang telah melakukan penipuan di dalam rumah makan ini! Daging keras dan busuk dijual!”

Marahlah Thio Seng mendengar ini. “Eh, kau sombong sekali, sobat! Siapakah kau yang tidak tahu aturan ini?”

“Siapa adanya aku bukan urusanmu! Dan jangan kau menghadang di jalan, aku hendak pergi!” Sambil berkata demikian, Bouw Hun Ti memegang tangan Lili dan hendak menariknya keluar dari situ. Akan tetapi Thio Seng berdiri sambil bertolak pinggang dan berkata,

“Hemm, sabar dulu, sobat! Kalau kau tidak mengganti kerusakan ini dan memberi uang obat kepada pelayan-pelayanku serta berlutut minta ampun kepada Tiat-tauw-ciang, jangan harap bisa keluar dari sini!” Sambil berkata demikian, Thio Seng membuka jubah topinya dan kini nampaklah kepalanya yang licin tak berambut di bagian muka dan tengah, mengkilap bagaikan digosok dengan minyak. Inilah kepalanya yang amat ditakuti orang, karena dengan kepala ini, Thio Seng pernah mengalahkan banyak jago silat, bahkan pernah berdemonstrasi membentur dinding dengan kepalanya sehingga dinding bata yang tebal itu menjadi pecah!

Mendengar ucapan orang she Thio itu, Bouw Hun Ti tak dapat menahan marahnya lagi. Ia melepaskan tangan Lili dan melangkah maju sambil menendang meja kursi yang berada di dekatnya untuk mencari ruang yang lebih lebar.

“Kau mau melakukan kekerasan? Baik, agaknya kau ingin pula dihajar!”

“Rasakan pukulanku!” Thio Seng berseru dan mulai menyerang dengan pukulan tangan kanan. Melihat gerakan yang keras dan cepat itu, Lo Sian yang masih duduk di sudut diam-diam memuji dan maklum bahwa Si Muka Hitam yang kasar ini memiliki kepandalan yang tidak rendah. Akan tetapi, ia merasa terkejut dan kagum ketika melihat gerakan Bouw Hun Ti. Ketika pukulan Thio Seng itu telah menyambar dekat dengan dadanya, Bouw Hun Ti cepat melembungkan dadanya tanpa menangkis sedikit pun. Padahal melihat kerasnya pukulan, Lo Sian maklum bahwa hal itu amat berbahaya.

“Buk!” terdengar suara keras ketika pukulan itu tepat menghantam dada akan tetapi aneh sekali. Bukan Bouw Hun Ti yang roboh, bahkan tubuh Thio Seng terjengkang ke belakang seakan-akan ia terdorong oleh tenaga amat besar!

Lo Sian terkejut benar-benar karena sesungguhnya tak pernah disangkanya orang yang brewok itu memiliki lweekang yang sedemikian tingginya! Sungguh seorang berkepandaian tinggi, lawan yang amat tangguh, pikirnya. Oleh karena itu, maka maksudnya untuk menolong anak perempuan itu dipikirnya masak-masak. Ia harus menggunakan siasat untuk menolong anak itu, karena dengan jalan kekerasan, belum tentu ia akan dapat menangkan Si Brewok itu.

Sementara itu, Thio Seng yang tadi memukul, merasa terkejut dan marah karena ia merasa seakan-akan memukul karet. Biarpun tangannya tidak menjadi bengkak seperti tangan pelayannya ketika tadi memukul Bouw Hun Ti, akan tetapi ia telah terpental ke belakang oleh kehebatan tenaga lawan. Ia tahu bahwa lawannya adalah seorang berkepandaian tinggi, maka Thio Seng lalu mengambil jalan pendek dan nekat.

“Bangsat rendah, awas serangan pembalasanku!” serunya dan tubuhnya lalu membungkuk dengan kepala di depan dan matanya melirik tajam bagaikan laku seekor kerbau jantan yang hendak menyerang.

“Hemm, majulah, hendak kurasakan betapa empuknya kepala tahumu!” kata Bouw Hun Ti sambil memasang perutnya ke depan!

***

Pada saat itu, Lo Sian sudah mendapat akal untuk bertindak. Ia tadi melihat betapa dengan menggunakan sepotong daging Si Brewok itu dapat menyerang lawannya. Diam-diam ia lalu mengambil sekerat daging yang agak keras, kemudian setelah membidik dengan hati-hati ia menyambitkan daging itu ke arah leher Lili.

Anak ini sedang menonton pertempuran dan selama tiga hari itu Lili tiada hentinya merasa heran dan marah mengapa ayah ibunya, juga kakeknya, tidak mengejar dan memberi hajaran kepada penculiknya ini! Tadi ketika melihat para pelayan menyerang Bouw Hun Ti, ia mengharap agar Bouw Hun Ti akan kalah dan binasa, akan tetapi alangkah kecewanya ketika melihat bahwa para pelayan yang hanya pandai berlagak itu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Si Brewok yang amat dibencinya. Pengharapannya menipis dan kemudian anak ini merasa putus asa bahkan kini ia merasa menyesal kepada ayah ibu dari kakeknya yang tidak juga muncul untuk menolongnya!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: