Pendekar Remaja ~ Jilid 20

“Sudah sepatutnya Suhu tidak sudi mengaku murid kepada teecu,” pemuda itu berkata dengan suara sedih sekali, “teecu telah Suhu tolong dan lepaskan dari bahaya maut, lalu menerima budi Suhu yang amat besar. Akan tetapi teecu…” kembali terdengar sedu sedan di kerongkongan pemuda itu.

“Sabar dulu, orang muda. Bukan aku tidak sudi mengaku murid kepadamu, akan tetapi sesungguhnya aku tidak kenal siapa kau ini.”

“Suhu, teecu adalah Kam Seng, anak yang dulu Suhu tolong di sebuah kelenteng dan kemudian menjadi murid Suhu. Lupakah Suhu kepada teecu yang bodoh?”

Akan tetapi tentu saja Lo Sian yang sudah kehilangan ingatannya itu tidak mengenalnya. Tiba-tiba terdengar bentakan dan tubuh Lili berkelebat masuk dengan pedang Liong-coan-kiam di tangan.

“Bangsat rendah, kau berani datang ke sini?” Secepat kilat pedangnya menusuk ke arah tubuh Kam Seng yang masih berlutut tidak bergerak itu! Untung pada saat itu juga Lo Sian bergerak maju dan mencegah sehingga terpaksa Lili menahan tusukannya. Akan tetapi sebetulnya cegahan Lo Sian itu kurang perlu, karena pada saat itu, tubuh Kam Seng telah mencelat ke arah pintu dan menghilang di dalam gelap. Hanya terdengar suaranya dari luar,

“Aku tak dapat melawanmu, Lili, tak dapat membencimu! Betapapun benciku kepada ayahmu, aku tak dapat memusuhimu, kau tahu akan hal ini…”

“Bangsat rendah jangan lari!” Lili membentak marah dan ia pun lalu melompat keluar mengejar.

Akan tetapi di luar tidak terlihat bayangan Kam Seng lagi. Diam-diam Lili merasa penasaran dan juga heran mengapa kini gin-kang dari pemuda itu jauh lebih hebat daripada dahulu. Ketika ia kembali ke ruangan itu, terpaksa ia menuturkan kepada Lo Sian tentang Song Kam Seng, putera dari Song Kun yang tewas di tangan ayahnya. Ia menuturkan pula betapa dulu Kam Seng telah ditolong oleh Lo Sian. Pengemis Sakti ini menarik napas panjang dan berkata,

“Sayang dia menaruh hati dendam kepada ayahmu, Lili. Melihat betapa pemuda itu masih ingat kepadamu dan tidak melupakan budi, ia terhitung seorang yang masih memiliki pribudi.”

Lili tidak menjawab, akan tetapi kepalanya terasa panas sekali kalau ia teringat betapa pemuda itu dulu pernah menciumnya! Betapapun juga, agaknya ia tidak akan sampai hati membunuh Kam Seng, kalau diingat bahwa pemuda itu pernah pula membebaskannya dari kematian dan hinaan di dalam kuil Ban Sai Cinjin.

Memang pemuda itu adalah Song Kam Seng yang kini telah menjadi murid Wi Kong Siansu. Semenjak kekalahannya terhadap Lili dan juga terhadap Lie Siong, pemuda ini merasa prihatin sekali. Ia lalu mengajukan permohonan kepada suhunya untuk menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi dan bertekun mempelajari segala macam ilmu silat dari Wi Kong Siansu. Tidak heran apabila ia mendapat kemajuan yang amat pesatnya. Pada waktu ia sedang mengikuti suhunya melakukan perantauan, dan biarpun ia tidak berkata sesuatu, namun ia merasa berdebar ketika mendengar bahwa suhunya hendak pergi ke Shaning mencari Pendekar Bodoh! Ketika tiba di kota Lianing dan suhunya mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan lama, ia lalu berjalan-jalan seorang diri dan melihat Lili dengan gurunya dalam kota itu. Tentu saja ia menjadi terkejut sekali dan hatinya terharu ketika ia melihat kedua orang itu. Teringatlah ia ketika dulu Lili masih kecil bersama Lo Sian pula untuk menolongnya dari ancaman pisau Hok Ti Hwesio di kuil dalam rimba milik Ban Sai Cinjin. Diam-diam ia mengikuti mereka dan menahan nafsu hatinya untuk menjumpai suhunya itu. Ia kuatir kalau-kalau Lili akan menyerangnya, maka menanti sampai tengah malam barulah ia masuk ke dalam kuil menjumpai suhunya. Tidak tahunya suhunya telah lupa sama sekali kepadanya dan hampir saja ia menjadi korban pedang Lili!

Pada keesokan harinya, Lili mengajak suhunya melanjutkan perjalanan mereka. Mereka mampir dulu di kota Lianing untuk makan pagi. Ketika mereka memasuki sebuah rumah makan, tiba-tiba wajah gadis itu berubah dan tak terasa pula ia memegang tangan suhunya. Lo Sian juga menengok dan ia melihat pemuda yang malam tadi mendatangi kuil telah duduk menghadap meja dengan tiga orang lain. Kam Seng duduk bersama Wi Kong Siansu dan dua orang lain, dua orang setengah tua yang nampak gagah, yang seorang berhadapan dengan Wi Kong Siansu memakai sebuah topi dan sikapnya nampak sombong sekali. Orang ke dua bertubuh pendek dan bermuka buruk seperti seekor monyet.

Song Kam Seng juga terkejut sekali ketika melihat Lili dan Lo Sian memasuki rumah makan itu. Untuk sesaat matanya bertemu dengan mata Lili dan pemuda itu mengerutkan keningnya dengan hati penuh kekuatiran. Ia kuatir sekali kalau-kalau gadis itu akan bentrok dengan Wi Kong Siansu, karena ia maklum bahwa kepandaian Lili masih kalah jika dibandingkan dengan kepandaian gurunya. Akan tetapi Lili yang tabah sekali tidak mempedulikan Wi Kong Siansu, bahkan dengan tenahgnya lalu mencari meja yang masih kosong. Meja satu-satunya yang kosong adalah meja yang berada dekat meja Wi Kong Siansu itu. Akan tetapi, dengan langkah tenang dan gagah Lili mengajak suhunya duduk menghadapi meja itu!

Wi Kong Siansu seakan-akan tidak mengetahui kedatangan nona yang pernah merasakan kelihaian totokannya, dan ia sedang bercakap-cakap dengan orang yang bertopi. Nampaknya mereka sedang berdebat tentang sesuatu.

Orang bertopi itu adalah seorang jago silat dari Santung, seorang ahli gwa-kang yang memiliki tenaga gajah. Namanya Can Po Gan, dan orang yang bertubuh kecil dan bermuka buruk itu adalah adiknya bernama Can Po Tin. Sungguhpun ia kecil dan buruk, akan tetapi kelirulah kalau orang memandang rendah kepadanya, karena ilmu kepandaiannya bahkan lebih lihai daripada kakaknya. Apa pula Can Po Tin terkenal memiliki kecerdikan dan kelicinan yang luar biasa sehingga di kalangan kang-ouw ia diberi nama poyokan Si Belut! Secara kebetulan sekali, di kota ini mereka bertemu dengan Wi Kong Siansu yang telah mereka kenal dan mereka kagumi, maka mereka lalu bercakap-cakap dengan asyiknya di restoran itu.

Biarpun matanya tidak memandang ke arah meja di mana Wi Kong Siansu, Song Kam Seng, dan kedua orang sudara Can itu bercakap-cakap, namun Lili tertarik juga akan percakapan mereka dan mendengarkan sambil minum air teh yang dipesannva dari pelayan. Ketika Lo Sian memandang kepadanya dengan mata bertanya, Lili lalu mencelupkan telunjuknya ke dalam cawan tehnya, dan menggunakan jari telunjuk yang basah itu untuk menulis huruf-huruf di atas meja agar Lo Sian dapat membacanya. Ia menulis nama Wi Kong Siansu. Terkejutlah Lo Sian membaca nama ini karena telah beberapa kali Lili bercerita kepadanya tentang tosu ini yang amat tinggi kepandaiannya dan yang diakui oleh Lili bahwa ia pernah roboh oleh totokan tosu itu! Juga Lili pernah menceritakan bahwa Wi Kong Siansu ini adalah suheng dari Ban Sai Cinjin yang terkenal jahat. Diam-diam ia juga memperhatikan orang-orang itu dan mendengarkan percakapan mereka.

“Wi Kong Totiang berkata benar, Twako,” terdengar Si Kecil Buruk berkata kepada kakaknya yang nampak tidak percaya. “Betapapun besarnya tenaga gwa-kang, akan celakalah kalau menghadapi seorang ahli lwee-keh, karena tenaga kasar itu hanya akan terbuang sia-sia.”

“Betapapun juga sukar untuk dapat dipercaya!” membantah Can Po Gan sambil memandang kepada Wi Kong Siansu. “Aku lebih percaya bahwa tingkat kepandaian seseoranglah yang menentukan kemenangan. Tentu saja, kalau misalnya aku menghadapi Wi Kong Totiang yang tingkatnya lebih tinggi dariku, aku pasti akan kalah, tak peduli Wi Kong Totiang mempergunakan gwa-kang maupun lwee-kang. Akan tetapi kalau menghadapi orang setingkat, biarpun ia ahli lwee-keh, agaknya belum tentu aku akan kalah!”

Adiknya, Tan Po Tin tertawa dan Lili merasa bulu tengkuknya meremang mendengar suara ketawa yang tinggi kecil seperti suara ketawa seorang perempuan itu. Orang yang suara bicaranya demikian parau dan besar bagaimana bisa tertawa seperti itu?

“Twako, kau tidak tahu. Kalau kau menghadapi seorang yang ilmu kepandaian dan tenaga lwee-kangnya seperti Pendekar Bodoh, tenagamu yang besar takkan ada gunanya lagi.”

Marahlah Can Po Gan mendengar ini.

“Hemm, ingin sekali aku mencoba tenaga lwee-kang dari Pendekar Bodoh itu yang banyak didengung-dengungkan orang! Hendak kulihat apakah tenaganya ada selaksa kati!”

Wi Kong Siansu tersenyum. “Pengharapanmu akan terkabul, Can-sicu. Akan tetapi sebelum kau bertemu dengan dia, lebih baik kau berhati-hati dan jangan terlampau mengandalkan tenagamu. Dengan ilmu silatmu Hui-houw-ciang-hwat (Ilmu Silat Pukulan Harimau Terbang) agaknya kau masih akan dapat menghadapinya, akan tetapi kalau kau mengandalkan tenagamu, kau keliru. Ketahuilah bahwa di antara ahli-ahli lwee-keh ada yang menyatakan bahwa tenaga gwa-kang amat lemahnya sehingga tak dapat menarik putus sehelai rambut. Dan kata-kata ini memang ada betulnya!”

“Totiang, mengapa kau pun memandang amat rendahnya kepada tenaga orang? Hendak kusaksikan sendiri kebenaran kata-kata sombong ini.” Kini Can Po Gan yang berangasan menjadi marah dan penasaran sekali.

“Kau ingin bukti? Nah, mari kita buktikan agar dapat menambah pengalaman dan kau bisa berlaku hati-hati,” jawab Wi Kong Siansu yang segera mencabut sehelai rambut jenggotnva yang panjang. Ia memegang rambut itu pada ujungnya dan berkata,

“Can-sicu, coba kau tarik rambut ini dan kita sama-sama lihat apakah kau dapat menarik putus rambut ini!”

Can Po Gan tertawa keras dan ia segera menjepit ujung rambut itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

“Awas, Totiang, sekali tarik saja, akan putuslah rambut ini.” katanya dan ia mengerahkan tenaganya menarik. Akan tetapi sungguh heran! Ketika ditarik, rambut itu tidak menjadi putus, hanya mulur sedikit. Ia menambah tenaganya dan tahu-tahu rambut yang terjepit di antara kedua jarinya itu terlepas, akan tetapi tidak putus!

Kembali terdengar suara ketawa yang kecil aneh dari Can Po Tin.

“Ingat, Twako. Rambut itu mempunyai tenaga lemas, apalagi berada di dalam tangan Wi Kong Tosu! Mana kau bisa memutuskannya?”

“Rambut itu terlalu licin!” kata Can Po Gan penasaran. “Kalau tidak terlepas, tentu aku akan dapat memutuskannya!”

“Boleh kaucoba sekali lagi, Can-sicu,” kata Wi Kong Siansu. Kembali Can Po Gan memegang ujung rambut itu dan mulai menariknya. Rambut itu menegang sehingga menjadi makin kecil.

Lili yang tadi mendengar nama ayahnya disebut-sebut, menjadi mendongkol sekali. Ia maklum bahwa Wi Kong Siansu pasti telah melihatnya, karena mustahil seorang berkepandaian tinggi seperti tosu itu tidak melihatnya yang duduk demikian dekat. Melihat betapa tosu itu tidak pernah mempedulikannya, bahkan berani bercakap-cakap membicarakan ayahnya, tanda bahwa pendeta itu tidak memandang mata kepadanya, membuat gadis ini marah sekali. Ia tidak merasa takut sedikitpun juga, biarpun ia maklum akan kelihaian Wi Kong Siansu. Melihat pertapa itu bersama orang bertopi itu kembali mendemonstrasikan tenaga lwee-kang dan gwa-kang, Lili lalu mengambil sebuah uang mas dari saku bajunya dan memegang uang itu diantara jari-jari tangan kirinya. Ia menanti dan melihat ke arah Wi Kong Siansu yang masih saja mengadu tenaga melalui rambut itu dengan Can Po Gan. Setelah dilihatnya bahwa rambut itu telah menjadi tegang dan kecil akan tetapi tetap saja tidak dapat putus, tiba-tiba Lili lalu menggunakan jari tangannya menyentil uang emas di tangannya itu.

“Ting…!!” Nyaring sekali suara ini ketika uang emas itu terkena sentilannya dan terlempar ke udara.

“Ah…!” Wi Kong Siansu dan Can Po Gan berseru kaget karena ketika terdengar suara yang nyaring itu, rambut yang mereka tarik telah putus dengan tiba-tiba sekali. Tadinya Can Po Gan mengira bahwa ia telah menang dalam pertandingan ini, akan tetapi ia merasa heran sekali ketika melihat Wi Kong Siansu dan adiknya, Can Po Tin, tidak memandang kepadanya dengan kagum, sebaliknya menengok dan memandang ke arah meja di sebelah kirinya dan anehnya, pandang mata Wi Kong Siansu nampak marah.

Ia pun lalu menengok dan baru kali ini Can Po Gan melihat wajah Lo Sian yang kebetulan juga sedang memandang kepadanya.

“Sin-kai Lo Sian!” Can Po Gan berseru ketika ia melihat dan mengenal kakek pengemis ini. Akan tetapi tentu saja Lo Sian tidak mengenalnya dan mendengar namanya disebut, ia memandang dengan tajam.

Sementara itu, Wi Kong Siansu telah bangkit berdiri dan berkata kepada Lili,

“Hemm, puteri Pendekar Bodoh, kau sungguh lancang dan jail seperti ayahmu! Akan tetapi aku harus menyatakan kagum atas ketabahan hatimu. Apakah kau masih belum mengaku kalah terhadapku?”

Lili tetap duduk di bangkunya ketika ia menjawab dengan suara dingin,

“Wi Kong Siansu, menang dan menang adalah dua macam hal yang jauh berlainan! Menang dengan mutlak adalah kemenangan yang dicapai dengan cara jujur dan berterang. Ada pula kemenangan yang dicapai dengan kecurangan dan dengan jalan pengeroyokan. Kemenanganmu terhadap aku dulu adalah kemenangan yang kedua ini. Siapa mau mengaku kalah terhadap kau? Seperti juga tadi, kaukatakan rambut jenggotmu itu tidak dapat putus, bukankah dengan suara uang emasku saja sudah dapat terputus? Apakah hal ini boleh dianggap kau telah kalah pula terhadapku?”

“Bocah bermulut lincah! Apakah kau datang ini sengaja hendak memancing pertempuran dengan pinto?” Wi Kong Siansu bertanya penasaran.

“Tidak ada yang memancing pertempuran. Aku masuk ke dalam rumah makan umum untuk makan, apa salahnya dan siapa berhak melarangku?”

“Akan tetapi, mengapa kau berlancang tangan memutuskan rambutku dengan suara uangmu?” Wi Kong Siansu makin penasaran.

“Siapa pula menyuruh kalian membawa-bawa nama ayahku dalam percakapanmu?” balas Lili.

Tiba-tiba Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Betul pandai! Aku mengaku kalah berdebat dengan engkau. Bagus, tolong kau sampaikan kepada ayahmu, bahwa kalau dia berani, aku mengundangnya untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kelak pada musim semi tahun depan di puncak Thai-san! Kalau dia tidak datang, akan kuanggap bahwa Pendekar Bodoh hanya namanya saja yang besar, akan tetapi nyalinya kecil!”

“Siapa takut kepadamu?” kata Lili marah. “Jangan kata Ayah, aku sendiri pun tidak takut dan akan datang pada waktu itu!”

Wi Kong Siansu duduk kembali, tidak mau mempedulikan lagi kepada Lili. Akan tetapi, kedua saudara Can itu memandang dengan penuh penasaran. Bagaimana seorang tokoh besar seperti Wi Kong Siansu dapat bercakap-cakap dengan seorang gadis muda seakan-akan bicara dengan orang yang sama tinggi kedudukannya dalam kepandaian silat? Pula, Can Po Gan yang mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, dan bahwa putusnya rambut tadi adalah disebabkan oleh gadis itu yang membunyikan uang emas dengan nyaringnya, ia menjadi amat penasaran. Ia memandang dengan senyum mengejek dan berkata,

“Jadi inikah puteri Pendekar Bodoh? Eh, Nona, kau duduk semeja dengan Sinkai Lo Sian, apamukah dia?” tanya Can Po Gan dengan kasar dan menyeringai.

“Dia adalah Suhuku, kau mau apa tanya-tanya?” Lili yang tabah itu balas bertanya dengan kasar.

Tidak saja kedua saudara Can itu yang terheran, bahkan Wi Kong Siansu juga tertegun mendengar ucapan ini. Ia pernah melihat Lo Sian dan sudah mendengar akan kepandaian Pengemis Sakti ini, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaian gadis puteri Pendekar Bodoh itu, Si Pengemis Sakti akan kalah jauh! Hanya Kam Seng seorang yang menundukkan mukanya, diam-diam mengagumi Lili yang masih terus mengaku guru kepada Lo Sian sungguhpun gadis itu kini telah memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada Lo Sian!

Terdengar suara ketawa yang menyeramkan dari Can Po Tin ketika ia mendengar ini. “Sin-kai Lo Sian, benar-benarkah Nona ini muridmu? Dan muridmu sudah berani berlaku kurang ajar terhadap Wi Kong Siansu, kaudiamkan saja? Alangkah kurang ajar dan tak tahu adat kau ini!”

Akan tetapi dengan tenang Lo Sian menjawab dengan suaranya yang dalam, “Kalian ini siapakah? Aku tidak kenal dengan Ji-wi (Tuan Berdua), mengapa Jiwi hendak menggangguku?”

Mendengar jawaban ini, kedua saudara Can itu melengak. Akhirnya Can Po Gan yang berangasan itu lalu bangkit berdiri dan dengan langkah lebar ia menghampiri Lo Sian.

“Pengemis jembel! Kau berpura-pura tidak mengenal kami? Dulu kami pernah mengampuni jiwa anjingmu dan sekarang kau masih berani berlaku demikian kurang ajar dan tidak memandang mata? Agaknya kau minta dihajar lagi!” Sambil berkata demikian, tangan kanan orang berangasan ini melayang dari atas dan memukul lengan tangan Lo Sian yang diletakkan di atas meja. Lo Sian cepat menarik lengannya dan “brakk!!” kepalan angan Can Po Gan yang keras itu bagaikan palu baja menimpa meja sehingga tembus! Cawan air teh di depan Lili melayang ke atas dengan cepat karena getaran meja itu sehingga kalau tidak cepat-cepat Lili menangkapnya, tentu isinya akan tumpah. Gadis ini menjadi marah sekali dan cepat ia berdiri, sementara itu Lo Sian sudah melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan selanjutnya.

“Buaya darat!” Lili memaki sambil memandang dengan mata berapi. “Kepandaian macam itu saja kaupamerkan di sini? Apakah kau tukang jual obat kuat?”

Can Po Gan memandang kepada Lili dan senyum mengejek menghias bibirnya yang tebal. “Apa kau tidak takut melihat tanganku ini?” Ia mengacungkan kepalan tangan kanannya yang kini menjadi kemerah-merahan.

Melihat cahaya merah yang menjalar di sepanjang lengan tangan yang besar itu diam-diam Lili terkejut dan mengetahui bahwa lengan tangan itu memiliki kekuatan Ang-see-jiu yang berbahaya. Akan tetapi ia tidak takut, bahkan ia lalu membuka telapak tangannya, mengulurkan ke depan dan berkata,

“Siapa sih takut kepada lengan tangan kasar berbulu macam itu? Gunanya paling banyak hanya untuk memukul meja atau menakut-nakuti orang.”

“Bocah bermulut lancang! Kepalamu pun akan tertembus terkena pukulanku,” kata Can Po Gan.

Lili tersenyum dingin. “Begitukah? Coba kautembuskan telapak tanganku ini, kalau dapat membuat aku merasa sakit, aku mau berlutut di depan kakimu dan mengangkat kau sebagai Sucouw (Kakek Guru)!”

“Kau menantang!”

“Beranikah kau memukul tanganku?”

“Siapa takut? Awas, kuhancurkan tanganmu yang kecil halus!” Setelah berkata demikian, Can Po Gan telah melakukan pukulan keras ke arah telapak tangan Lili yang diperlihatkan kepadanya.

Tanpa dapat terlihat oleh orang lain, karena gerakannya cepat sekali, tangan gadis itu bergeser sedikit dan jari telunjuknya menyentil dengan cepat dan keras ketika lengah tangan lawannya itu meluncur lewat menyerempet telapak tangannya.

“Aduh…!” Can Po Gan menarik kembali lengannya, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan lengan tangan kirinya yang kini telah menjadi kaku seperti sepotong kayu itu! Ternyata ketika tadi dia memukul, dari gerakan anginnya saja Lili sudah dapat mengelak sedikit tanpa menggerakkan lengan, hanya menggerakkan pergelangan tangannya, kemudian ia telah melakukan sentilan jari telunjuk untuk menotok jalan darah pada pergelangan siku lawannya!

“Jangan main-main terhadap gadis itu Sicu!” kata Wi Kong Siansu yang sudah melangkah maju dengan beberapa kali urutan serta tepukan, totokan itu dapat dibebaskan dari lengan tangan Can Po Gan. Akan tetapi Can Po Gan dan Can Po Tin sudah menjadi marah sekali dan mereka lalu mencabut golok masing-masing, siap maju menggempur Lili.

Akan tetapi, sambil mengeluarkan seruan nyaring, tubuh Lili mencelat ke atas meja dan kini ia telah berdiri di atas meja dengan tangan memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, yakni pedang Liong-coan-kiam!

“Kalian mau mencari mampus? Boleh, boleh, majulah!” tantangnya dengan sikap gagah sekali.

Melihat ini, kedua saudara Can itu menjadi gentar juga. Sesungguhnya, kekalahan Can Po Gan tadi bukan karena ilmu kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian Lili, akan tetapi terjadi oleh karena kurang hati-hatinya dan kesembronoannya juga karena tadinya ia memandang rendah. Sekarang melihat ketabahan dan kekerasan gadis itu, apalagi mengingat bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh setidaknya mereka menjadi ragu-ragu. Wi Kong Siansu lalu maju pula dan mencegah mereka.

“Ji-wi Can-sicu, tak perlu membikin ribut di sini. Kelak saja pada permulaan musim semi tahun depan, kita mempunyai kesempatan banyak untuk mengadu tenaga dengan Nona ini.”

“Baiklah, kami akan menanti datangnya saat itu dengan hati tidak sabar,” kata Can Po Gan sambil duduk kembali dan menyimpan senjatanya. Adapun Lili ketika melihat sikap lawannya ini, juga tidak mau mendesak lebih lanjut, karena gadis ini bukan tidak tahu bahwa kalau sampai terjadi pertempuran dan Wi Kong Siansu turun tangan, sukar sekali bagi dia dan suhunya untuk mencapai kemenangan.

Lili melompat turun, menyimpan pedangnya dan memberi ganti kerugian kepada pelayan restoran, kemudian ia mengajak suhunya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu, karena kini dia menjadi perhatian semua orang yang tadi menyaksikan peristiwa itu.

“Jangan lupa sampaikan undanganku kepada ayahmu!” Wi Kong Siansu masih berseru keras ketika Lili dan Lo Sian sudah tiba di luar restoran. Gadis itu tidak menjawab karena ia merasa mendongkol sekali. Terang-terangan ayahnya ditantang oleh tosu itu dan ia merasa penasaran sekali tidak dapat menghadapi tosu itu sekarang juga!

Ketika tiba di Shaning dan memasuki rumah keluarga Sie, Lo Sian disambut oleh Cin Hai dan Lin Lin dengan penuh penghormatan. Kedua suami-isteri pendekar ini merasa amat berterima kasih kepada Lo Sian dan mereka menyambutnya sebagai seorang penolong besar. Sebaliknya Lo Sian merasa amat canggung dan juga kagum, melihat sepasang suami isteri yang namanya telah terkenal di seluruh penjuru bumi Tiongkok, akan tetapi yang ternyata bersikap ramah tamah dan sederhana, juga, suami-isteri itu amat tampan dan cantik.

Ketika mendengar penuturan Lili tentang keadaan Lo Sian, Cin Hai dan Lin Lin mengerutkan keningnya. Apalagi kelika mereka mendengar bahwa Lo Sian merasa pasti akan kematian Lie Kong Sian, kedua orang ini menjadi amat berduka.

“Tidak dapatkah kau mengingat di mana dan bagaimana Lie-suheng menemui kematiannya?” tanya Cin Hai, akan tetapi Lo Sian menggeleng kepalanya.

“Menyesal sekali, Tai-hiap. Ingatanku sudah lenyap sama sekali, dan aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku berhal seperti ini. Sudah kucoba untuk mengerahkan ingatan, akan tetapi hasilnya nihil belaka. Hanya dapat kurasakan dan agaknya sudah terukir dalam-dalam di hatiku bahwa Lie Kong Sian Tai-hiap telah tewas, entah dengan cara bagaimana dan di mana, yang sudah pasti menurut perasaan hatiku, tewas dalam cara yang amat mengerikan!”

“Suhu sudah lupa segala macam peristiwa yang lalu, Ayah. Bahkan nama sendiri pun dia telah lupa. Akan tetapi ketika aku menjumpai Suhu dalam keadaan lupa ingatan dan rusak pikiran, Suhu berseru-seru ketakutan dan mengucapkan kata-kata ‘pemakan jantung’, entah apa yang dimaksudkan.”

Mendengar kata-kata ini, wajah Lo Sian berubah agak pucat dan ia menghela napas berkali-kali. “Ucapan ini sudah seringkali membuatku tak dapat tidur. Aku sendiri merasa bahwa dalam ucapan ini terkandung hal yang amat hebat, akan tetapi sayang sekali, aku tak dapat mengingatnya lagi.”

Cin Hai dan Lin Lin merasa kasihan melihat keadaan penolong puterinya ini dan tahu bahwa orang ini perlu beristirahat dan mendapatkan hiburan. Maka ia merasa girang sekali mendengar keinginan Lili untuk menahan suhunya tinggal di situ. Mereka menyatakan persetujuan mereka, bahkan mereka setengah memaksa Lo Sian untuk tinggal di situ, sehingga lenyaplah keraguan dan kesungkanan dari hati Lo Sian. Semenjak saat itu, ia tinggal bersama Pendekar Bodoh dan menempati kamar bekas tempat tinggal Yousuf yang masih dibiarkan kosong.

Ketika Cin Hai dan isterinya mendengar penuturan Lili tentang Wi Kong Siansu yang menantang mereka untuk mengadu kepandaian di puncak Thai-san pada musim semi tahun depan, Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata tenang,

“Wi Kong Siansu seperti anak kecil saja. Betapapun juga, undangan macam ini tak boleh tidak harus disambut dengan gembira.”

Sebaliknya, Lin Lin berkata dengan muka merah,

“Pendeta sombong! Kalau memang dia merasa penasaran dan hendak mencoba kepandaian, mengapa dia tidak terus datang saja sekarang? Siapa yang takut menghadapinya?”

Mendengar percakapan suami-isteri ini, Lo Sian menjadi kagum sekali. Sikap Pendekar Bodoh demikian tenang dan tabah sebagaimana layaknya sikap seorang pendekar besar yang telah luas sekali pengetahuannya. Dan sikap dari Lin Lin demikian gagahnya, mengingatkan Lo Sian kepada watak Lili.

“Menurut pendapatku yang bodoh, seorang yang mengundang pibu dengan menyebutkan waktu dan tempat tertentup harus dihadapi dengan hati-hati. Kalau Wi Kong Siansu telah menetapkan waktu tahun depan dan mengambil tempat di puncak Thai-san, tentulah dia telah merencanakan hal ini dengan semasak-masaknya dan takkan mengherankan apabila Tai-hiap kelak tidak hanya akan bertemu dengan dia seorang, melainkan dengan orang-orang lain yang lihai.”

Cin Hai mengangguk-angguk dan Lin Lin segera berkata dengan wajah berseri, “Lo-twako, mendengar bicaramu aku teringat kepada mendiang ayah angkatku! Kau sama benar dengan ayah, hati-hati dan jauh pandangan.”

Sebentar saja Lo Sian merasa cocok dan suka sekali dengan sepasang pendekar besar itu yang menyebutnya twako (kakak tertua), sedangkan Lili lalu menyebutnya twa-pek (uwa).

Hong Beng dan Goat Lan setelah menjaga di Istana Pengemis, menanti kalau-kalau pihak Coa-tung Kai-pang datang membikin pembalasan, ternyata tidak terjadi sesuatu. Oleh karena itu, Hong Beng lalu minta diri dari kelima saudara Hek, dan berangkatlah bersama tunangannya menyusul Lili ke kota Kiciu, tempat tinggal Thian Kek Hwesio, ahli pengobatan di kuil Siauw-lim-si itu.

Thian Kek Hwesio menerimanya dengan girang karena memang sudah lama ia kenal dan mengagumi Goat Lan, murid tersayang dari sahabat baiknya, Sin Kong Tianglo. Ia merasa makin gembira ketika mendengar betapa Goat Lan telah berhasil mendapatkan To-hio-giok-ko obat satu-satunya untuk penyakit putera kaisar. Ketika Goat Lan menyatakan terus terang bahwa ia hendak ke Tiang-an dulu untuk mengambil kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip untuk mempelajari cara mempergunakan dua macam obat itu, Thian Kek Hwesio segera berkata,

“Tidak usah, Nona. Tak perlu kau membuang waktu untuk mengambil jalan memutar. Penyakit putera kaisar sudah payah sekali dan kalau kau tidak cepat-cepat pergi ke kota raja dan mengobatinya, mungkin kau akan terlambat dan pengharapan mendiang sahabat baikku akan sia-sia belaka.”

Terkejut Goat Lan ketika ia mendengar ucapan ini.

“Habis bagaimana baiknya, Losuhu? Aku tidak tahu apa macamnya penyakit yang diderita oleh Pangeran Muda itu dan tidak tahu cara bagaimana harus mempergunakan obat yang langka ini.”

“Jangan kuatir, pinceng pernah mendengar keterangan dari sabahat baikku gurumu itu. Baiklah kubentangkan sedikit agar lebih jelas bagimu. Penyakit yang diderita oleh Pangeran Mahkota ini adalah semacam penyakit di dalam usus besar. Menurut gurumu, usus besar itu terluka hebat dan di situ terdapat bisul yang sudah pecah dan menjadi semacam luka yang makin lama makin menghebat. Oleh karena itulah, maka Pangeran Muda itu selalu mengeluarkan kotoran darah dan tubuhnya lemas, perutnya terasa sakit. Kalau kau sudah menghadap Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) dan dibawa ke tempat si sakit, kau lebih dulu harus memberinya Giok-ko (Buah Mutiara) sebuah untuk dimakan mentah-mentah. Giok-ko ini khasiatnya untuk membersihkan darah sehingga daya penolak luka di dalam itu akan menjadi kuat. Kemudian, To-bio (Daun Golok) itu boleh kau rebus dengan air sampai airnya tinggal satu bagian, lalu berikan untuk diminum. Daun ini sarinya manjur sekali untuk mengeringkan lukanya. Setelah tiga hari berturut-turut kau memberi obat To-hio-giok-ko kepada Pangeran, selanjutnya dapat kaulakukan pengobatan dengan obat-obat penguat tubuh, pembersih darah seperti biasa, bahkan amat baik kalau kau mempergunakan juga tiam-hoat (ilmu totok) untuk melancarkan jalan darah!”

Setelah mendapat keterangan demikian, Goat Lan lalu minta diri untuk segera menuju ke kota raja. Kepada Hong Beng ia berkata setelah keluar dari kuil itu.

“Koko, kau mendengar sendiri bahwa aku harus segera ke kota raja untuk mengobati putera Kaisar, demi menjaga dan menjunjung nama baik dan nama kehormatan mendiang Suhu Sin Kong Tianglo. Apakah kau hendak menyusul Lili, ataukah…?” Goat Lan tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sesungguhnya hatinya masih ingin sekali melakukan perjalanan dengan tunangan yang gagah berani dan tampan ini. Tentu saja sebagai seorang gadis yang sopan dan tinggi hati, ia tidak dapat menyatakan suara hatinya.

Seperti halnya Goat Lan, biarpun ia seorang laki-laki namun Hong Beng juga masih sungkan dan malu-malu. Ia pun tidak pandai menyatakan perasaan hatinya melalui bibirnya, maka dengan muka merah ia menjawab,

“Lan-moi, sebetulnya aku pun ingin sekali ke kota raja, dan… dan aku kuatir kalau-kalau para tokoh kang-ouw yang merasa iri hati terhadap mendiang suhumu, akan datang mengganggu dan menghalangimu mengobati putera Kaisar.”

“Aku pun berpikir demikian, Koko. Bukan tak mungkin sekarang telah banyak yang mengincar gerak-gerikku.”

“Biarlah aku mengawanimu sampai selesai tugasmu ini, Moi-moi, tetapi… kalau kau tidak keberatan.”

“Mengapa keberatan?” Goat Lan memandang kepada tunangannya yang kebetulan juga menatap wajahnya. Dua pasang mata kembali bertemu untuk kesekian kalinya dan keduanya menundukkan muka dengan wajah merah dan bibir tersenyum. Tak perlu lagi kata-kata pada saat seperti itu. Mereka telah saling mendengar seribu satu ucapan yang keluar dari hati masing-masing.

“Hayo kita berangkat!” Akhirnya Hong Beng memecahkan kesunyian yang menekan dan membuat mereka merasa canggung. Keduanya lalu berlari cepat menuju ke kota raja.

Memang kekuatiran kedua orang muda ini betul-betul terjadi. Di dalam kota raja terdapat komplotan yang siap sedia menghalangi semua usaha mengobati Pangeran yang sedang rebah menderita sakit yang amat berat. Mereka ini dikepalai oleh seorang selir kaisar yang juga mempunyai putera dan yang mengharapkan agar puteranya kelak yang menggantikan kedudukan kaisar apabila pangeran itu meninggal dunia karena sakitnya. Selir kaisar inilah yang mengharapkan kematian putera Kaisar, dan ia telah mempercayakan semua urusan ini untuk dilaksanakan kepada seorang pembesar tinggi yang menjadi kepala pengawal istana bernama Bu Kwan Ji yang sebenarnya telah lama mempunyai hubungan gelap dengan selir kaisar itu!

Bu Kwan Ji adalah seorang yang pandai ilmu silat, termasuk perwira kelas satu di kota raja, dan mempunyai banyak kawan sepaham terdiri dari para perwira bayangkari yang tinggi ilmu silatnya. Para kawan-kawannya maklum akan keadaan Bu Kwan Ji yang dikasihi oleh Kaisar dan selirnya, dan bahwa Bu Kwan Ji mempunyai banyak harapan bagus di masa depan. Maka tentu saja mereka suka membantu agar kelak ikut pula merasakan kesenangan. Rombongan pengkhianat ini lalu minta bantuan pula dari tiga orang tabib yang paling terkenal di kota raja. Mereka mengadakan hubungan dan Bu Kwan Ji menjanjikan upah besar dan pembagian keuntungan apabila kelak ia dapat menduduki kursi tinggi.

Memang harta benda dan pangkat dapat memabukkan manusia dan dapat membutakan mata batin manusia. Tiga orang tabib itu bukanlah orang sembarangan, bahkan ilmu silat dan ilmu pengobatan mereka sudah amat terkenal di kalangan kang-ouw. Yang seorang bernama Ang Lok Cu, seorang pendeta dan pertapa yang terkenal dari Bukit Kun-lun-san. Orang ke dua dan ke tiga adalah dua orang hwesio gundul, kakak beradik seperguruan yang tinggi ilmu silat dan ilmu pengobatan mereka. Mereka ini bernama Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio. Kedua orang hwesio ini dulu pernah belajar ilmu pengobatan dari Thian Kek Hwesio, akan tetapi setelah dapat menduga bahwa dua orang hwesio ini bukanlah orang-orang yang berhati teguh dan suci, Thian Kek Hwesio menghentikan pelajaran mereka. Adapun Ang Lok Cu adalah murid dari seorang tosu perantau yang ahli dalam ilmu pengobatan.

Tadinya, tiga orang pendeta ini datang ke kota raja untuk mencoba kepandaian mereka mengobati putera Kaisar, akan tetapi mereka tidak berhasil. Kemudian mereka mendengar tentang kesanggupan Sin Kong Tianglo, maka mereka menjadi iri hati dan bersama beberapa orang tokoh kang-ouw mereka menjumpai Sin Kong Tianglo dan memperolok-olokannya dan memanaskan hati Sin Kong Tianglo sehingga kakek sakti ini pergi mencari obatnya lalu menjumpai kematian di daerah dingin itu. Ketika Bu Kwan Ji mendengar tentang kekecewaan dan iri hati dari tiga orang pendeta ini, maka ia lalu datang menghubunginya dan kini ketiga orang pendeta ini menerima tugas untuk mencegah pengobatan untuk putera Kaisar ini. Melalui selir Kaisar, Bu Kwan Ji berhasil membuat Kaisar mengangkat ketiga orang pendeta itu menjadi tabib-tabib penjaga putera Kaisar, dan mereka inilah yang berhak memeriksa obat-obat yang hendak diminumkan kepada yang sakit.

Dengan demikian, maka bukanlah tugas yang ringan bagi Goat Lan untuk mengobati putera Kaisar itu, karena menghadapi segerombolan serigala kejam tanpa diketahuinya lebih dulu di mana serigala-serigala itu bersembunyi. Baiknya dia dan Hong Beng sudah dapat menduga lebih dulu bahwa tugasnya ini tentu akan mengalami halangan pihak yang memusuhinya.

Halangan pertama dijumpai oleh Goat Lan dan Hong Beng ketika mereka telah datang di kota raja dan hendak menghadap Kaisar. Yang menerima adalah kepala bayangkari yang juga telah menjadi kaki tangan Bu Kwan Ji, maka tidak mudah bagi kedua orang muda ini untuk menghadap Hong-siang (Kaisar). Mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kantor besar di mana duduk Bu Kwan Ji yang memeriksa mereka.

“Kalian ini dari manakah dan dari siapakah kalian membawa obat untuk putera Kaisar?” tanya Bu Kwan Ji dengan pandangan mata tajam.

Mendengar pertanyaan yang kasar ini, Goat Lan mengerutkan keningnya. Akan tetapi Hong Beng yang tahu akan kekerasan hati Goat Lan, mewakili tunangannya menjawab,

“Kami mewakili Yok-ong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo, membawa obat penyembuh penyakit Pangeran. Harap saja Ciangkun sudi membawa kami menghadap kepada Hong-siang atau langsung membawa kami kepada yang sakit agar supaya pengobatan tidak terlambat.”

“Mudah saja kau bicara hendak mengobati Pangeran!” tiba-tiba Bu Kwan Ji membentak marah. “Aku sudah bosan mendengar ocehan segala macam tukang obat. Sudah ratusan ahli pengobatan yang tua-tua dan berpengalaman tidak berhasil menyembuhkan Beliau, kalian ini orang-orang muda berani sekali membawa obat palsu. Apakah kalian tidak menyayangi jiwa sendiri? Awas, pengobatan yang tidak berhasil akan membuat kalian ditangkap dan menerima hukuman berat!”

Goat Lan menjadi mendongkol sekali dan cahaya berapi telah timbul pada sepasang matanya. Ingin sekali ia maju dan menampar mulut perwira ini, akan tetapi kembali Hong Beng yang menyabarkannya karena pemuda ini telah berkata pula kepada Bu Kwan Ji,

“Maaf, Ciangkun. Kami datang dengan maksud menolong. Dulu Yok-ong telah berjanji hendak menyembuhkan penyakit putera Kaisar, dan kini muridnya ini telah datang membawa obat itu. Berilah kami kesempatan untuk menolong nyawa putera Kaisar yang sakit.”

“Hemm, benarkah kau murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo?” tanya Bu Kwan Ji kepada Goat Lan. “Dan kau sudah mendapatkan obat yang manjur untuk mengobati penyakit putera Kaisar.”

“Benar!” jawab Goat Lan singkat.

“Kalau begitu, kautinggalkan obat itu kepadaku agar aku dapat memberi perintah kepada tabib-tabib istana untuk meminumkan obat itu kepada Pangeran.”

“Tidak bisa demikian!” Goat Lan berkata gemas. “Obat itu tidak boleh diminumkan oleh orang lain, harus aku sendiri yang mengobatinya.”

“Kalau begitu, pergilah kalian dari sini!” Bu Kwan Ji menggebrak meja.

Mendengar ucapan ini, Goat Lan bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Bagus! Macam apakah perwira seperti kau ini? Kau kira kami takut kepadamu? Kami datang hendak menolong putera Kaisar dan kau sengaja mengusir kami? Kalau kami melaporkan hal ini kepada Hong-siang, aku kuatir kau takkan dapat mempertahankan pangkatmu lagi!”

Bu Kwan Ji memandang tajam dan melihat sikap kedua orang muda yang gagah ini, hatinya menjadi ragu-ragu. “Pulanglah dan besok kalian boleh datang kembali. Aku harus melaporkan hal ini kepada Kaisar lebih dulu. Aku hanya menjalankan tugas, karena siapa tahu kalau ada yang datang berpura-pura membawa obat akan tetapi sebenarnya hendak meracuni Pangeran!”

Dengan mendongkol Goat Lan dan Hong Beng terpaksa keluar dari situ, karena mereka mau tak mau harus membenarkan pula ucapan ini. Memang Bu Kwan Ji orangnya cerdik sekali. Melihat keadaan kedua orang muda itu dan mendengar bahwa nona itu adalah murid Sin Kong Tianglo yang sakti, ia tidak berani berlaku sembrono. Ia menyuruh kedua orang muda itu pulang dulu untuk mencari kesempatan mengatur siasat.

Ketika Goat Lan dan Hong Beng keluar dari situ, mereka melihat tiga orang perwira menyusul mereka dan berjalan mengikuti mereka.

“Kalian mau apa?” Goat Lan membentak marah.

“Oleh karena Ji-wi hendak mengobati putera Kaisar, maka kami disuruh mengikuti Ji-wi dan mencari tahu di mana Jiwi bermalam, agar mudah memanggil apabila ada perintah dari Kaisar untuk memanggil Ji-wi menghadap,” jawab seorang perwira itu.

Hong Beng dan Goat Lan tak dapat membantah dan setelah mereka mendapat kamar dalam sebuah hotel, ketiga orang perwira itu pergi meninggalkan mereka.

“Malam ini kita harus berhati-hati,” kata Hong Beng kepada Goat Lan. “Siapa tahu kalau-kalau ada penjahat datang mengganggu. Ayah seringkali bercerita tentang penjahat-penjahat yang pandai di kota raja.”

Goat Lan mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam. Hong Beng juga duduk di dalam kamarnya, duduk bersila di atas ranjang, tidak mau tidur, dan hanya beristirahat sambil bersamadhi.

Menjelang tengah malam, baik Hong Beng maupun Goat Lan yang duduk pula bersamadhi, dapat mendengar gerakan kaki beberapa orang yang amat ringan dan halus di atas genteng hotel. Kedua orang muda itu tersenyum dan dengan penuh perhatian keduanya memasang telinga untuk mengikuti gerak-gerik orang di atas genteng. Mereka berdua sudah memiliki pendengaran yang amat tajam, maka dengan mudah dapat menduga bahwa yang datang adalah tiga orang yang ilmu gin-kangnya cukup tinggi.

Kedua orang muda itu tidak bergerak, menanti sampai ketiga orang penjahat malam itu turun dari atas genteng. Akan tetapi sungguh mengherankan karena mereka bertiga itu tidak turun, hanya berjalan hilir mudik beberapa kali seperti orang-orang yang merasa ragu-ragu. Tiba-tiba terdengar bunyi genteng digeser, baik di atas kamar Hong Beng maupun di atas kamar Goat Lan. Kedua orang muda itu dengan urat saraf tegang menanti datangnya senjata rahasia, mereka tidak takut sama sekali. Hendak mereka lihat bagaimana penjahat-penjahat itu akan bertindak terhadap mereka di dalam kamar yang gelap itu.

Hong Beng sudah siap-siap dengan hati-hati sekali. Ia mempunyai dua dugaan, yaitu penjahat itu akan menyerang dengan senjata rahasia dengan ngawur, atau akan melompat turun ke dalam kamarnya dari atas genteng. Dan tiba-tiba dari atas melayang turun benda kecil, akan tetapi jauh dari tempat ia berdiri di sudut kamar. Ia hampir tertawa melihat ketololan penjahat itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu jatuh di lantai, nampak asap mengebul. Ia hendak melompat keluar melalui jendela, akan tetapi tiba-tiba ia mencium bau yang amat wangi dan robohlah Hong Beng terguling dalam keadaan pingsan! Ternyata bahwa asap itu adalah asap yang mengandung obat memabukkan yang luar biasa kerasnya.

Goat Lan mengalami peristiwa yang sama. Sebuah benda juga jatuh di dalam kamarnya dan mengeluarkan asap. Akan tetapi, sebagai murid Sin Kong Tianglo yang berjuluk Raja Obat atau Raja Tabib, gadis ini selalu mengantongi penolak racun. Begitu ia melihat benda itu mengeluarkan asap ia telah menjadi curiga dan cepat ia memasukkan tiga buah pel merah ke dalam mulutnya, sehingga ketika ia mencium bau wangi itu, ia tidak jatuh pingsan, sungguhpun ia merasa agak pening juga.

“Bangsat curang!” ia memaki dan cepat tubuhnya melayang ke atas melalui jendela kamarnya. Ia melihat bayangan dua orang hwesio di atas genteng, maka langsung ia menyerang dengan bambu runcingnya. Kedua orang hwesio itu bukan lain adalah Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio. Mereka ini datang bersama Ang Lok Cu setelah mendapat kabar dari Bu Kwan Ji bahwa murid Sin Kong Tianglo telah datang membawa obat untuk putera Kaisar. Mereka hendak mendahului kedua orang muda itu dan mencuri obat yang dibawanya. Ang Lok Cu yang mempunyai julukan Ngo-tok Lo-kai (Setan Tua Lima Racun) lalu mengeluarkan asap beracunnya yang lihai untuk membuat kedua orang muda itu pingsan agar memudahkan pekerjaan mereka. Setelah mendengar Hong Beng roboh di dalam kamarnya, Ang Lok Cu lalu melayang turun ke dalam kamar pemuda itu, sedangkan kedua hwesio kawannya itu masih menanti untuk mendengarkan suara robohnya gadis di dalam kamar lain.

Akan tetapi alangkah kagetnya kedua orang hwesio jahat itu ketika mendengar suara angin dan makian Goat Lan. Mereka lebih terkejut lagi ketika melihat betapa dengan gerakan yang luar biasa cepatnya gadis cantik itu telah menyerang mereka dengan sepasang bambu runcing yang menotok ke arah dada mereka. Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio cepat mengelak sambil mencabut pedang mereka, akan tetapi Cu Siang Hwesio kurang cepat gerakannya sehingga satu tendangan susulan dari Goat Lan membuat ia menjerit kesakitan dan tubuhnya terguling di atas genteng.

“Lihai sekali!” seru Cu Tong Hwesio dan tanpa membuang waktu lagi, melihat gadis itu benar-benar hebat sepak-terjangnya, lalu hwesio ini menyambar tangan adiknya dan membawanya melompat turun dari atas genteng dengan gerakan cepat sekali.

Goat Lan tidak mau mengejar karena ia merasa kuatir akan keadaan tunangannya. Ia cepat melompat turun dan sekali tendang saja jendela kamar Hong Beng terbuka. Asap yang wangi keluar dari jendela itu. Goat Lan masih dapat melihat berkelebatnya sesosok tubuh manusia keluar dari kamar tunangannya melalui lubang di atas genteng. Akan tetapi ia tidak mau mengejar, terus menghampiri ke dalam kamar dan cepat mencari tunangannya.

Ternyata bahwa tosu yang memasuki kamar Hong Beng itu telah menyalakan lilin dan telah memeriksa buntalan pakaian Hong Beng. Goat Lan yang melihat tubuh tunangannya menggeletak di atas lantai, menjadi pucat. Cepat ia mengangkat tubuh tunangannya itu ke atas pembaringan dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia memeriksa. Ia menarik napas lega ketika mendapat kenyataan bahwa tunangannya tidak menderita sesuatu, hanya pingsan akibat asap yang memabukkan tadi. Dengan pertolongan air teh yang tersedia di atas meja, ia dapat membikin Hong Beng siuman dari pingsannya.

Hong Beng merasa malu sekali karena telah menjadi korban penjahat, akan tetapi Goat Lan lalu mengeluarkan beberapa butir pel dan memberikan itu kepada tunangannya.

“Aku yang kurang hati-hati,” katanya menghibur, “seharusnya aku memberi beberapa butir obat penolak ini kepadamu untuk penjagaan. Yang datang tadi adalah orang-orang yang cukup pandai, sungguhpun bukan merupakan lawan yang harus ditakuti.” Kemudian Goat Lan menceritakan bahwa yang datang adalah dua orang hwesio dan seorang tosu.

“Aku tidak dapat melihat jelas wajah mereka,” kata gadis gagah ini, “apalagi yang memasuki kamarmu. Hanya kulihat ia adalah seorang berpakaian seperti tosu. Aku hanya berhasil menendang roboh seorang hwesio, sayang bahwa mereka telah dapat melarikan diri. Gerakan mereka cukup cepat dan ringan sekali.”

“Sudah terang bahwa maksud kedatangan mereka itu untuk mencuri dan mencari obat yang kaubawa,” kata Hong Beng. “Agaknya mereka itu bukan kaki tangan perwira yang galak tadi.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: