Pendekar Remaja ~ Jilid 21

“Kukira juga bukan,” jawab Goat Lan, mungkin sekali mereka adalah ahli-ahli obat yang iri hati kepada mendiang Suhu, dan hendak merampas obat agar supaya nama Suhu tetap tercemar.”

“Dugaanmu betul. Melihat asap beracun tadi, tentulah mereka itu memiliki kepandaian tentang obat-obatan. Mungkin juga mereka hendak mencuri obat agar mereka dapat mengobati putera Kaisar dan merekalah yang akan berjasa.”

Demikianlah, kedua orang muda itu bercakap-cakap dengan asyik. Tiba-tiba Goat Lan teringat bahwa sudah terlalu lama ia berada di kamar Hong Beng, maka dengan wajah merah ia lalu berdiri dan berkata,

“Koko, aku harus kembali ke kamarku sendiri!”

Sebelum Hong Beng menjawab, gadis itu melompat keluar dari jendela kamar itu, meninggalkan Hong Beng yang menjadi bengong saking kagumnya melihat wajah tunangannya yang demikian manisnya tersinar oleh penerangan lilin! Ia menghela napas lalu menutup kembali jendelanya, kemudian ia melompat naik ke atas pembaringan dan rebah membayangkan wajah Goat Lan yang cantik manis!

Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng telah menghadap Bu Kwan Ji yang menerima mereka dengan muka ramah sehingga kedua orang muda itu berlaku makin hati-hati sekali. Sikap ini bukan menyenangkan hati mereka, bahkan menimbulkan kecurigaan di dalam hati.

“Ji-wi telah diterima oleh Hong-siang dan sekarang juga dipersilakan menghadap,” katanya dengan senyum manis dibuat-buat.

Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng telah menghadap Bu Kwan Ji yang menerima mereka dengan muka ramah sehingga kedua orang muda itu berlaku makin hati-hati sekali. Sikap ini bukan menyenangkan hati mereka, bahkan menimbulkan kecurigaan di dalam hati.

“Ji-wi telah diterima oleh Hong-siang dan sekarang juga dipersilakan menghadap,” katanya dengan senyum manis dibuat-buat.

Dengan dikawal oleh Bu Kwan Ji beserta dua belas orang perwira bayangkari yang gagah dan berpakaian indah, sepasang orang muda itu memasuki istana yang luar biasa indahnya. Bagaikan dua orang dusun yang baru pertama kali memasuki sebuah kota besar, Hong Beng, dan Goat Lan memandang ke kanan kiri dan tiada habisnya memuji dan mengagumi perabot yang memang luar biasa indahnya dan jarang dapat terlihat oleh umum.

Mereka diterima oleh Kaisar dan Permaisuri sendiri! Bukan dalam persidangan umum, di mana Kaisar dihadap oleh sekalian hamba sahaya dan bayangkari, melainkan pertemuan tersendiri.

Hong Beng dan Goat Lan merasa silau oleh pakaian yang dipakai oleh Kaisar dan Permaisuri, maka mereka dari jauh sudah menjatuhkan diri berlutut bersama semua perwira yang mengawal mereka.

“Betulkah kalian datang membawa obat untuk putera kami?” terdengar Kaisar bertanya. Goat Lan tidak berani menjawab, merasa seakan-akan lehernya tersumbat, sehingga Hong Beng yang mewakili.

“Benar, Paduka yang mulia. Hamba berdua mewakili Yok-ong Sin Kong Tianglo, datang membawa obat dan hendak mencoba mengobati putera Paduka, mudah-mudahan saja Thian Yang Maha Kuasa akan memberi berkah-Nya.”

“Hemm, kami telah mendengar akan kesombongan Raja Obat itu! Kami sudah bosan mendengar kesanggupan ahli-ahli obat. Tahukah kalian bahwa sudah ada empat orang ahli obat kami jatuhi hukuman mati karena mereka tidak dapat memenuhi kesanggupan mereka? Kami memberitahukan hal ini karena sayang melihat kalian yang masih muda dan rupawan. Sekarang tinggalkan sebuah obatmu untuk kami cobakan kepada putera kami, mudah-mudahan ada hasilnya.”

“Mohon maaf sebanyaknya apabila hamba berani membantah,” tiba-tiba Goat Lan berkata. “Menurut pesan terakhir dari Suhu, haruslah hamba sendiri yang meminumkan obat itu kepada putera Paduka.”

Berkerutlah kening Kaisar itu. “Apa? Apakah kau tidak percaya kepadaku? Tidak percaya kepada ahli-ahli pengobatan yang berada di dalam istana?”

“Bukan demikian, akan tetapi…”

“Cukup! Kau ini anak gadis masih muda, sampai berapa tinggi kepandaian dan berapa banyak pengalamanmu. Tabib-tabibku adalah orang-orang yang pandai dan berpengalaman. Tinggalkan obat itu dan kalian harus tunggu di dalam kota raja, jangan sekali-kali keluar sebelum ada hasil pengobatan itu!”

Bukan main gelisahnya hati Goat Lan, akan tetapi ia tidak berani membantah. Suara Kaisar itu dan keadaannya sungguh amat berpengaruh dan dengan kedua tangan menggigil ia mengeluarkan sebutir buah Giok-ko.

“Hamba mentaati perintah,” katanya kemudian. “Harap saja buah ini diberikan kepada putera Paduka yang sakit untuk dimakan mentah-mentah.”

Kaisar memberi tanda dengan tangannya dan Bu Kwan Ji maju untuk mewakili Kaisar menerima buah itu. Bukan main mangkelnya hati Goat Lan. Mengapa Kaisar mempercayai orang macam ini? Akhirnya ia dan Hong Beng dipersilakan keluar dari istana. Setelah keluar dari istana yang mewah dan megah itu, Goat Lan membanting-banting kakinya.

“Kaisar bod…”

“Sst,” kata Hong Beng mencegah.

“Kita lihat saja bagaimana perkembangannya, Moi-moi. Marah saja takkan ada artinya. Harus kauingat bahwa pengobatan dan segala jerih payahmu ini bukan khusus untuk menolong Pangeran yang sedang sakit, melainkan untuk menjaga nama suhumu.”

Keduanya lalu berjalan perlahan kembali ke hotel mereka.

Tiba-tiba terdengar seruan girang,

“Li-hiap…!”

Mereka menengok dan melihat seorang pemuda tanggung berusia kurang lebih empat belas tahun yang berwajah tampan dan berpakaian indah sedang duduk di atas kuda putih, diiringkan oleh empat orang pengawal berpakaian sebagai guru-guru silat. “Kau…?” Goat Lan merasa kenal dengan pemuda bangsawan ini ketika pemuda tanggung itu melompat turun, teringatlah ia bahwa dia adalah Ong Tek, putera Pangeran Ong yang dulu menjadi murid Ban Sai Cinjin dan yang telah ditolongnya dari bahaya maut ketika diserang oleh gurunya sendiri!

“Li-hiap, kau hendak ke manakah? Sungguh amat menggirangkan hati dapat bertemu dengan penolongku yang tak pernah kulupakan di tempat ini!” Dengan sikap masih kekanak-kanakan Ong Tek lalu menghampiri Goat Lan dan menjura dengan hormatnya. Cepat Goat Lan membalasnya, karena banyak orang yang melihat mereka dengan mata heran. Siapa yang tidak merasa heran melihat putera pangeran beramah-tamah dengan seorang gadis biasa?

Li-Hiap, marilah kau singgah di rumah orang tuaku, mereka telah merasa rindu dan ingin sekali bertemu dengan penolongku.”

Menghadapi keramahan anak ini, Goat Lan tak dapat menolak dan ia menganggukkan kepalanya. Ong Tek menjadi girang sekali dan ketika ia melihat Hong Beng ia segera bertanya, “Li-hiap, siapakah Twako yang gagah ini?”

“Dia adalah… kawan baikku, dan kedatanganku juga bersama dia.”

Ong Tek yang terpelajar itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Hong Beng yang membalasnya dengan tersenyum. Ia suka juga melihat anak yang sopan dan peramah ini.

“Silakan naik kuda pengawalku!” kata Ong Tek, yang menyuruh dua orang pengawalnya turun dari kuda. Akan tetapi Goat Lan dan Hong Beng tentu saja menolaknya dan menyatakan lebih baik berjalan kaki. Ong Tek tak dapat memaksa dan ia pun lalu menyuruh para pengawalnya berangkat lebih dulu sambil membawa kudanya, mengabarkan bahwa penolongnya akan datang ke rumahnya. Ia sendiri lalu bersama dua orang muda itu berjalan kaki!

Rumah gedung Pangeran Ong Tiang Houw, ayah Ong Tek, amat besar dan megah. Pangeran ini cukup berpengaruh, karena dia masih terhitung keluarga dekat dengan Kaisar. Maka ia amat disegani. Akan tetapi oleh karena ia amat setia kepada Kaisar dan tidak mau berbaik dengan para pembesar durna, diam-diam banyak pembesar yang membencinya.

Ketika Goat Lan dan Hong Beng tiba di gedung itu, mereka merasa amat malu-malu dan sungkan karena ternyata bahwa Pangeran Ong Tiang Houw suami-isteri menyambut mereka sendiri sampai di depan pintu, diiringkan oleh banyak sekali pelayan dan pengawal!

Begitu berhadapan, ibu Ong Tek lalu maju dan merangkul Goat Lan. Ia menatap wajah pendekar wanita itu dengan kagum lalu berkata, “Ah, melihat kau begini cantik dan lemah-lembut, sukarlah bagiku untuk percaya cerita Tek-ji (Anak Tek) bahwa kau adalah seorang pendekar wanita gagah perkasa yang telah menolong nyawa anakku.”

Goat Lan dengan muka kemerah-merahan mengucapkan kata-kata merendah. Juga Pangeran Ong menyatakan kegembiraan dan kekagumannya.

“Nona, siapakah sebenarnya namamu? Putera kami sendiri tidak tahu siapa nama penolongnya.”

Goat Lan dengan sikap hormat dan manis lalu memperkenalkan namanya dan juga nama Hong Beng. Ketika mendengar bahwa Goat Lan adalah puteri Kwee An dan Hong Beng putera Pendekar Bodoh, Pangeran Ong makin menghormat sikapnya. Kedua orang muda itu lalu diajak masuk ke dalam di mana mereka diterima dengan jamuan makan yang mewah serta percakapan yang amat ramah tamah dan meriah.

Pada saat mereka sedang makan minum sambil bercakap-cakap, ditemani oleh beberapa orang pengawal kepala yang duduk di meja lain, tiba-tiba seorang penjaga pintu datang menghadap Pangeran Ong dengan wajah pucat.

“Taijin, di luar ada utusan dari Hong-siang (Kaisar) yang minta agar Paduka dan tamu Paduka keluar.”

Pangeran Ong mengerutkan kening mendengar ini. Tidak biasa Kaisar mengutus orang pada waktu seperti ini, dan sepanjang ingatannya, tidak ada urusan penting di istana. Betapapun juga, ia berdiri dari tempat duduknya dan Hong Beng yang mendengar ucapan penjaga itu pun lalu bangun berdiri mengikuti tuan rumah keluar dari ruangan dalam. Adapun Goat Lan yang duduk bercakap-cakap dengan Nyonya Ong, hanya memandang ke arah Hong Beng, seakan-akan ia menyatakan sudah cukup diwakili oleh tunangannya itu untuk melihat apakah yang terjadi di luar gedung.

Ketika Pangeran Ong dan Hong Beng tiba di luar, ternyata yang datang adalah Perwira Bu Kwan Ji sendiri, diikuti oleh lima orang perwira lain. Melihat Pangeran Ong, Bu Kwan Ji memberi hormat karena kedudukan Pangeran ini jauh lebih tinggi daripada kedudukannya yang hanya sebagai kepala pengawal raja.

“Mohon dimaafkan apabila hamba mengganggu Taijin. Hamba mendapat keterangan bahwa kedua orang muda yang lancang berani memberi obat palsu kepada Pangeran yang sedang sakit berada di gedung Taijin dan hamba datang hendak menangkap mereka.” Ia memandang ke arah Hong Beng yang berdiri dengan tenangnya.

Pangeran Ong memandang heran. Sesungguhnya Hong Beng dan Goat Lan tidak menceritakan kepadanya tentang hal pengobatan itu.

“Bu-ciangkun, apakah kau mengimpi? Memang ada kedua orang tamuku di sini, akan tetapi mereka adalah pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa. Inilah seorang diantaranya, ia adalah putera dari Pendekar Bodoh, apakah ini yang kaumaksudkan?”

Bu Kwan Ji tertegun mendengar bahwa pemuda ini adalah putera Pendekar Bodoh, akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan berkata, “Betul, Taijin. Dia inilah dan seorang gadis telah berani memberi obat palsu kepada Hong-siang dan setelah diberikan kepada Pangeran yang sakit, ternyata obat itu membuat sakitnya lebih berat!”

Hong Beng melangkah maju, “Ciangkun, apakah bicaramu itu boleh dipercaya?”

“Mengapa tidak? Hayo kau menyerah untuk kami tangkap! Kau dan kawanmu telah berani mati mencoba meracuni Pangeran!” Sambil berkata demikian, Bu Kwan Ji bergerak maju diikuti lima orang kawannya. Akan tetapi Hong Beng sudah marah sekali.

“Maaf, Ong-taijin,” katanya kepada Pangeran Ong, “terpaksa hamba akan melayani perwira-perwira kasar ini.” Ia lalu menantang kepada Bu Kwan Ji dengan suara keras. “Perwira she Bu, aku tidak percaya akan semua ucapanmu itu! Kalau memang benar kata-katamu, antarkanlah aku dan kawanku ke tempat Pangeran yang sedang sakit berada, agar kami dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri!”

“Hemm, penjahat muda. Apakah kau hendak datang dan membunuh Pangeran dengan kedua tanganmu sendiri, setelah obat racunmu tidak berhasil membunuhnya?”

Keadaan menjadi tegang dan Pangeran Ong lalu berlari masuk sambil berkata, “Baik kupanggil Nona Kwee!” Sementara itu, dua orang pengawalnya berdiri menjaga pintu sedangkan Hong Beng berdiri bertolak pinggang dengan sikap menantang.

Tiba-tiba terdengar suara bergelak dari sebelah belakang para perwira itu dan tahu-tahu seorang kakek tua yang berpakaian mewah dan membawa sebatang huncwe panjang melangkah maju.

“Bu-ciangkun, orang ini mengaku sebagai putera Pendekar Bodoh! Ha-ha-ha! Agaknya semua penjahat muda menggunakah nama Pendekar Bodoh untuk menakut-nakuti orang. Akan tetapi aku tidak takut! Biarlah aku menolong kalian menangkapnya!”

Orang tua itu bukan lain adalah Ban Sai Cinjin! Biarpun Hong Beng belum pernah melihat sendiri kakek ini, namun ia telah mendengar dari Goat Lan tentang kakek ini. Ketika Ban Sai Cinjin mengirim huncwenya ke arah Hong Beng, pemuda ini merasa betapa angin yang keras menyambar ke arahnya. Cepat ia mengelak dan kini ia tidak merasa ragu-ragu lagi. Melihat kelihaian sambaran huncwe tadi, ia maklum bahwa tentulah ini orangnya yang pernah bertempur dengan Lili dan Goat Lan.

“Apakah ini yang disebut Huncwe Maut?” katanya mengejek. “Biar kulihat sampai dimana sih kepandaianmu maka kau sejahat itu!”

Ban Sai Cinjin merasa penasaran sekali ketika sambaran huncwenya dapat dielakkan dengan secara mudah sekali oleh pemuda itu. Tadinya ia masih memandang rendah dan sama sekali tidak percaya bahwa pemuda ini pun putera Pendekar Bodoh, maka ia lalu maju menyerang dengan cepatnya. Akan tetapi, akhirnya ia merasa ragu-ragu dan terkejut sekali karena gerakan pemuda itu benar-benar luar biasa sekali. Dengan ilmu gin-kang bagaikan seekor burung walet ringannya pemuda itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan huncwenya, bahkan kini membalas dengan serangan pukulan tangan kosong yang luar biasa sekali. Makin besar rasa terkejutnya ketika ia mengenal ilmu silat pemuda ini sebagai Ilmu Silat Pat-kwa-ciang-hoat, ilmu silat satu-satunya di dunia barat yang menjadi kepandaian seorang tokoh besar.

“Eh, dari mana kau mencuri ilmu silat dari Pok Pok Sianjin?” bentaknya sambil mengayun huncwenya.

“Tua bangka rendah! Pok Pok Sianjin adalah Suhuku, kau mau apa?” Hong Beng memaki sambil mempercepat gerakannya.

Pertempuran berjalan ramai sekali dan sungguhpun Hong Beng menghadapinya dengan tangan kosong, namun dalam beberapa belas jurus ini belum kelihatan pemuda itu terdesak, bahkan ia mempergunakan kegesitan dan keringanan tubuhnya untuk menyambar-nyambar dari atas dan mengirim pukulan dan tendangan ke arah kepala lawannya!

Bukan main terkejut dan marahnya Ban Sai Cinjin. Tadi ia telah menyombong di depan Bu Kwin Ji dan ketiga tabib istana untuk menangkap dua orang muda yang hendak mencoba mengobati Pangeran, akan tetapi sekarang baru menghadapi seorang di antara kedua orang muda itu saja, ia tidak dapat menangkapnya, biarpun pemuda itu bertangan kosong! Ia berseru keras dan dengan cepat ia menjemput tembakau hitam dari kantong tembakau yang tergantung pada huncwenya, memasukkan tembakau itu di kepala huncwenya yang masih berapi. Tak lama kemudian mengepullah asap hitam dari huncwenya!

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan putih kemerahan dan tahu-tahu Goat Lan telah melompat dari dalam dan berdiri di depan kedua orang pengawal Pangeran Ong yang berdiri menjaga di depan pintu masuk. Di belakangnya nampak Ong Tek berlari-lari mengikutinya. Kini keduanya berdiri bengong memandang ke arah mereka yang sedang bertempur. Ong Tek memandang dengan hati berdebar ngeri ketika mengenal bekas gurunya yang sedang menyerang Hong Beng, adapun Goat Lan juga merasa heran mengapa kakek ini tiba-tiba saja dapat muncul di tempat itu. Akan tetapi ketika ia melihat huncwe yang mengepulkan asap hitam itu, tak terasa pula ia mendekatkan telunjuknya ke mulut. Hatinya gelisah dan ia memandang dengan hati kuatir sekali akan keselamatan tunangannya.

“Hati-hati, Koko, asap tembakaunya beracun! Biar aku menghadapi pesolek tua bangka ini!” Setelah berkata demikian, ia mencabut sepasang bambu runcingnya dan melompat ke kalangan pertempuran.

Bukan main kagetnya hati Ban Sai Cinjin ketika ia melihat gadis yang pernah mengacau kuilnya dulu. Ia cepat memutar huncwenya untuk menangkis bambu runcing yang telah dikenal kelihaiannya itu. Sungguh sial, pikirnya. Keadaan pemuda itu saja sudah merupakan kesialan baginya, karena tadinya ia tidak percaya bahwa pemuda ini benar-benar putera Pendekar Bodoh dan memiliki ilmu silat sedemikian lihainya, bahkan ternyata masih murid Pok Pok Sianjin pula! Dan sama sekali tidak pernah ia mimpi bahwa gadis yang membawa obat untuk Pangeran itu adalah Kwee Goat Lan yang lihai! Menghadapi kedua orang muda ini, ia tidak akan menang, pikirnya, maka setelah menyemburkan asap hitam tembakaunya, ia lalu melompat mundur dan lari keluar dari tempat itu! Goat Lan memutar sepasang bambu runcingnya untuk memukul buyar asap hitam yang bergumpal-gumpal sedangkan Hong Beng juga melompat mundur sambil menggerakkan kedua tangannya agar mendatangkan angin mengusir asap berbahaya tadi.

Ketika keduanya memandang ke depan, ternyata rombongan perwira tadipun sudah lenyap dari situ! Pangeran Ong Tiang Houw sudah keluar pula dan Pangeran ini marah sekali. Ia membanting-banting kakinya dan berkata dengan gemas,

“Terlalu sekali si Bu Kwan Ji! Aku harus memprotes hal ini di hadapan Kaisar! Perwira itu sudah sepatutnya diganti dengan orang lain! Sungguh kurang ajar, di rumahku berani berlagak seperti itu!”

Adapun Goat Lan merasa marah sekali dan juga mendongkol. “Susah payah Suhu mencarikan obat sampai mengorbankan nyawa dan aku melanjutkan usahanya mencari obat itu, tidak tahu hanya begini saja terima kasih orang! Koko, apa gunanya mengobati orang yang tidak tahu terima kasih? Aku mau pulang saja ke Tiang-an!”

Biarpun dibujuk oleh Pangeran Ong, Goat Lan tetap tidak mau tinggal lebih lama di gedung Pangeran itu dan bersama Hong Beng lalu keluar dari situ. Akan tetapi Hong Beng berhasil membujuk Goat Lan agar jangan meninggalkan kota raja dulu.

“Moi-moi, hatiku masih merasa amat curiga terhadap Bu Kwan Ji itu! Siapa tahu kalau-kalau dia yang main gila dan bukan Kaisar yang menyuruh tangkap kita? Dan siapa tahu pula kalau dia bermain gila dan mengganti obat buah mutiara itu dengan lain buah?”

Terkejut Goat Lan memandang kepada Hong Beng. “Mungkinkah ada orang berpangkat pengawal istana yang menghendaki kematian Pangeran?”

“Siapa tahu?” Hong Beng menggerakkan kedua pundaknya. “Menurut Ayah, di dunia ini banyak sekali terjadi kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Iblis telah berkuasa di banyak hati manusia. Oleh karena itu, biarlah kita untuk sementara tinggal di hotel dan menanti perkembangan selanjutnya. Kita tak usah kuatir, biarpun ada Ban Sai Cinjin yang membantu Bu Kwan Ji, kita tak perlu takut!”

Disebutnya nama ini membuat Goat Lan mengerutkan keningnya. “Aku tidak takut kepada Huncwe Maut itu, hanya aku merasa heran sekali bagaimana kakek jahat itu bisa sampai ikut campur tangan? Benar-benar aneh!”

Memang ucapan Goat Lan beralasan. Mungkin para pembaca juga merasa heran seperti gadis cantik itu. Bagaimanakah tahu-tahu Ban Sai Cinjin bisa muncul di kota raja dan ikut melakukan penangkapan dan membantu Bu Kwan Ji?

Setelah rumahnya menderita amukan Lie Siong yang membakar dan membunuh banyak anak buahnya, diam-diam Ban Sai Cinjin menjadi terkejut dan mulai merasa kuatir. Ternyata bahwa keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya amat tinggi ilmu kepandaiannya dan juga amat ganasnya. Memang betul bahwa dia telah berhasil mengundang pembantu-pembantu yang tangguh seperti suhengnya sendiri Wi Kong Siansu yang ilmu kepandaiannya belum tentu kalah oleh Pendekar Bodoh, juga telah berhasil mengundang Thai-lek Sam-kui, Tiga Iblis Geledek dari Hailun yang juga memiliki ilmu kepandaian yang boleh diandalkan dan hanya sedikit di bawah tingkat Wi Kong Siansu. Ia lalu mengadakan perundingan dengan suhengnya dan tiga orang Iblis Geledek itu, bagaimana untuk menghadapi musuh-musuh besarnya, yaitu Pendekar Bodoh dan keturunan serta kawan-kawannya.

“Mereka itu terlalu sombong dan mengandalkan kepandaian mereka,” kata Ban Sai Cinjin, “kalau kita tidak mengambil tindakan, akan hancurlah nama kita! Seorang pemuda keturunan Pendekar Bodoh berani sekali membunuh orang-orangku, tamu-tamuku dan juga membakar rumahku, sungguh hebat sekali! Ilmu kepandaian Bu Pun Su ternyata telah diwarisi oleh orang-orang muda yang ganas dan kejam!” Memang mudahlah bagi mulut untuk mengatakan kejam pada lain orang, sama sekali tidak ingat akan kekekejaman sendiri yang dianggapnya selalu benar!

“Biarlah aku pergi mengunjungi Pendekar Bodoh untuk menegurnya dan sekalian menyampaikan undangan untuk pibu di puncak Thai-san tahun depan, bagaimana pikiranmu?” tiba-tiba Wi Kong Siansu bertanya.

Tentu saja semua orang menyatakan persetujuan. “Akan lebih baik lagi kalau begitu. Kita bisa mempersiapkan diri, dan kalau Suheng bertemu dengan kawan-kawan sehaluan di tengah perjalanan, boleh sekalian minta bantuan mereka.”

Hailun Thai-lek Sam-kui tertawa bergelak dan saling pandang. “Masih tahun depan? Alangkah lamanya, kami kira sekarang akan diadakan pibu! Ah, kalau begitu biarlah kami bertiga melancong dulu menghibur hati, nanti musim semi tahun depan kami akan datang di Thai-san!” kata Thian-he Te-it Siansu, kakek yang kate gemuk dan selalu membawa payung itu. Tiga orang ini termasuk orang-orang aneh yang tidak dapat dihalangi kehendaknya, maka Ban Sai Cinjin juga tidak dapat mencegah keberangkatan mereka. Ia amat mengharapkan bantuan orang-orang ini dan kalau mereka sudah berjanji akan datang membantu pada nanti tahun depan di puncak Thai-san, tentu mereka tidak akan melanggar janji. Ia lalu memberi bekal banyak uang emas dan barang-barang berharga, yang diterima oleh Hailun Thai-lek Sam-kui dengan gembira.

Demikianlah, Wi Kong Siansu dan muridnya, Song Kam Seng, berangkat menuju ke Shaning untuk mencari Pendekar Bodoh dan di tengah perjalanan, yaitu di Lianing, ia bertemu dengan Lili dan Lo Sian sebagaimana telah dituturkan di depan dan menyampaikan tantangan pibunya melalui gadis puteri Pendekar Bodoh itu.

Setelah Thai-lek Sam-kui pergi, Ban Sai Cinjin yang ditinggal seorang diri merasa tidak enak sekali. Diam-diam ia memikirkan nasibnya yang seakan-akan dikelilingi oleh lawan-lawan muda yang amat tangguhnya. Ia tidak merasa gentar, akan tetapi sesunguhnya ada perkara yang lebih penting dan besar daripada perkara permusuhannya dengan golongan Pendekar Bodoh. Dari para sahabatnya di kota raja, ia mendengar tentang keadaan yang amat genting di dalam istana. Biarpun dari luar tidak terdengar sesuatu dan rakyat hanya mengetahui bahwa Pangeran Mahkota telah sakit keras sekali, akan tetapi sebetulnya di dalam istana terjadi perebutan kekuasaan yang hebat!

Ban Sai Cinjin adalah seorang yang mempunyai cita-cita besar. Ia amat haus akan kedudukan tinggi dan kemewahan hidup, dan keadaannya yang telah kaya raya itu masih belum memuaskan nafsunya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi pembesar tinggi, menjadi bangsawan yang dihormati oleh laksaan orang!

Telah lama ia menjadi sahabat Ang Lok Cu, tosu yang berjuluk Ngo-tok Lo-koai dan yang kini tiba-tiba kejatuhan bintang dan menjadi tabib istana berkat pertolongan Bu Kwan Ji. Ia lalu menghubungi sahabatnya ini dan diperkenalkan kepada Bu Kwan Ji. Perwira yang cerdik ini amat gembira dapat berkenalan dengan Ban Sai Cinjin, karena orang macam inilah yang amat dibutuhkan untuk membantunya mencapai cita-cita. Biarpun ketiga orang ahli obat itu merupakan tenaga-tenaga yang cakap, akan tetapi ilmu silat mereka kurang tinggi. Semenjak perkenalan itu, Ban Sai Cinjin selalu mengadakan hubungan dengan Bu Kwan Ji dan kaki tangannya, atau lebih tepat lagi, dengan kaki tangan selir Kaisar yang bercita-cita mengangkat puteranya sendiri menjadi pengganti kaisar!

Persekutuan gelap dibentuk dan Ban Sai Cinjin telah menyanggupi untuk mempersiapkan pasukan yang kuat dari Mongol apabila sewaktu-waktu terjadi perang. Muridnya, Bouw Hun Ti di rumah melawat ke Mongol dan mengadakan hubungan dengan kepala suku Mongol yang dikenalnya baik, yaitu Malangi Khan.

Kemudian Ban Sai Cinjin teringat akan bekas muridnya, yaitu Ong Tek. Ia merasa menyesal sekali mengapa ia telah kehilangan Ong Tek, oleh karena ia tahu bahwa ayah Ong Tek, yaitu Pangeran Ong Tiang Houw, adalah seorang pembesar yang amat berpengaruh di dalam istana. Dan sekarang ia bahkan telah menanam kebencian di dalam hati Ong Tek yang tentu saja telah menuturkan semua peristiwa yang terjadi kepada ayahnya!

“Ong Tek merupakan bahaya besar, Suhu,” kata Hok Ti Hwesio, murid satu-satunya yang amat dipercaya oleh Ban Sai Cinjin. “Akan baik sekali kalau Suhu bisa mencari dan membunuhnya agar ia tidak banyak membuka mulutnya memburukkan nama Suhu.”

Demikianlah, dengan hati kesal setelah semua orang pergi, ia lalu memesan Hok Ti Hwesio agar menjaga kuilnya, kemudian ia lalu berangkat ke kota raja, dengan tujuan pertama-tama untuk mengadakan perundingan dengan Bu Kwan Ji tentang perkembangan cita-cita mereka, kedua kalinya untuk mencari dan kalau mungkin membunuh bekas muridnya, yaitu Ong Tek!

Dan pada saat ia tiba di gedung tempat kediaman Bu Kwan Ji itulah maka kebetulan sekali Bu Kwan Ji sedang menghadapi urusan besar, yaitu datangnya dua orang muda yang mewakili Sin Kong Tianglo membawa obat untuk Pangeran Mahkota yang sedang sakit! Dengan lincahnya, Bu Kwan Ji berunding dengan selir Kaisar yang menyampaikan kepada Kaisar tentang adanya dua orang muda yang mencurigakan dan yang katanya datang membawa obat untuk Pangeran.

“Mereka itu masih muda, mana bisa memiliki kepandaian tinggi?” Kaisar dibujuk oleh selirnya. “Boleh mencoba obat mereka, akan tetapi lebih baik mereka jangan diperbolehkan mendekati Pangeran, siapa tahu kalau mereka itu utusan para pemberontak yang diam-diam hendak membunuh Pangeran?”

Bujukan itu termakan oleh Kaisar dan sebagaimana dituturkan di bagian depan, Goat Lan dan Hong Beng tidak diperbolehkan mendekati Pangeran, hanya buah Giok-ko saja yang diterima oleh Kaisar. Mudah sekali diduga bahwa setelah obat itu diberikan kepada tiga orang tabib istana untuk dicobakan kepada Pangeran yang sakit, obat itu telah dibuang dan diganti dengan obat lain yang tidak ada khasiatnya bahkan yang merusak kesehatan Pangeran yang malang itu.

Kaisar menjadi marah dan menyuruh Bu Kwan Ji pergi mencari dan memanggil kedua orang muda yang telah membawa obat palsu!! Perwira she Bu ini karena merasa kuatir kalau-kalau dua orang muda itu melawan, lalu mengajak Ban Sai Cinjin pergi mengunjungi rumah gedung Pangeran Ong. Sungguh hal yang kebetulan sekali, pikir mereka, karena kedua orang muda itu ternyata kenal baik dengan Pangeran Ong. Kesempatan sekali untuk memfitnah keluarga Pangeran Ong!

Siasat yang licin, akal busuk dijalin oleh para pengkhianat itu dan Hong Beng bersama Goat Lan merasa kuatir, tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tidak tahu bahwa musuh-musuh tersembunyi sedang mengatur siasat yang jahat terhadap mereka dan keluarga Pangeran Ong! Bu Kwan Ji membawa Ban Sai Cinjin menghadap Kaisar. Dengan pandai sekali ia menuturkan bahwa kedua orang muda itu telah dilindungi oleh Pangeran Ong Tiang Houw, dan bahkan kedua orang itu berkepandaian tinggi, melawan ketika hendak ditangkap.

“Baiknya ada Losuhu ini yang menolong hamba, kalau tidak, hamba tentu akan binasa oleh mereka” kata Bu Kwan Ji menutup laporannya.

“Hamba sudah tahu bahwa mereka itu adalah keturunan Pendekar Bodoh, seorang yang terkenal sebagai pemberontak di masa pemerintahan ayah Paduka.” Ban Sai Cinjin berkata kepada Kaisar. “Agaknya Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya masih saja mempunyai keinginan untuk memberontak dan bersekutu dengan bangsawan-bangsawan yang berhati khianat!”

Bukan main marahnya Kaisar mendengar ucapan-ucapan yang menghasut ini.

“Bagaimana mungkin?” katanya ragu-ragu. “Ong Tiang Houw adalah seorang pembesar yang setia, bahkan masih terhitung keluarga istana! Agaknya tak mungkin ia berhati khianat dan mengadakan perhubungan dengan segala pemberontak dan penjahat.

“Hamba tidak berani menuduh,” kata Bu Kwan Ji, “hanya akan lebih aman dan baik sekali apabila Pangeran Ong dipanggil untuk memberikan keterangan.”

“Baik, kau pergi dan panggil dia datang, seluruh keluarganya!” bentak Kaisar. “Dan Losuhu ini, siapakah namanya?”

“Hamba disebut orang Ban Sai Cinjin, seorang hamba sahaya biasa saja yang bersedia mengorbankan tenaga dan nyawa untuk negara.”

“Bagus, kaubantulah Bu Kwan Ji, akan kupikirkan kedudukan yang sesuai dengan jasamu!”

Bukan main girangnya hati Ban Sai Cinjin mendengar ucapan Kaisar ini dan lalu mengundurkan diri untuk melakukan. tugas yang diperintahkan oleh Kaisar. Untuk kali ini, Bu Kwan Ji menerima surat kuasa yang berupa bendera lengki (bendera tanda pesuruh kaisar). Dengan lengki di tangannya, mudah saja Bu Kwan Ji membawa Pangeran Ong sekeluarganya, digiring semua ke tahanan, sementara menanti perintah Kaisar untuk memeriksa mereka. Suara tangis riuh-rendah memenuhi tempat tahanan akan tetapi Pangeran Ong Tiang Houw dengan tenang berkata,

“Tak usah menangis! Kita telah difitnah orang, akan tetapi mengapa gelisah? Tunggulah sampai aku dapat bertemu dengan Kaisar, tentu aku akan sanggup menyadarkan Kaisar yang agaknya dihasut oleh mulut jahat!”

***

Alangkah terkejutnya hati Hong Beng dan Goat Lan ketika mereka mendengar dari pelayan hotel bahwa keluarga Pangeran Ong telah ditangkap oleh perwira-perwira istana! Hal ini adalah sebuah hal yang aneh dan mengejutkan orang, maka tentu saja berita ini tersiar dengan cepatnya sehingga pelayan itu pun mendengar lalu menyampaikan kepada semua tamu hotel.

“Sungguh aneh, agaknya dunia akan kiamat!” pelayan yang doyan cerita itu menutup penuturannya. “Pangeran Ong adalah seorang yang amat berpengaruh dan ditakuti, ia selalu dekat dengan Hong-siang karena kabarnya ia masih saudara dari Hong-houw (Permaisuri). Akan tetapi siapa tahu akan nasib orang? Ah, kasihan, Pangeran Ong sekeluarga terkenal amat dermawan dan budiman. Apalagi puteranya, Ong Kongcu yang suka sekali datang ke sini dan bercakap-cakap dengan semua orang. Ia amat peramah dan tidak sombong, naik kuda mengelilingi kota, bergaul dengan semua orang, tidak seperti putera-putera bangsawan lain yang besar kepala dan…”

Baru sampai di situ kata-katanya, tiba-tiba ia menutup mulut dan wajahnya menjadi pucat. Serombongan perwira berbaris menuju ke hotel itu dengan sikap galak dan mengancam! Ributlah semua orang dan semua tamu bersembunyi di kamar masing-masing. Pelayan itu terpaksa dengan kaki gemetar menuju ke pintu bersama pelayan-pelayan lain mengiringi pengurus hotel menyambut barisan itu.

“Pelayan itu terlampau lancang mulut, tentu ia akan ditangkap!” terdengar seorang tamu berkata perlahan.

Akan tetapi Hong Beng dan Goat Lan berpikir lain. Mereka saling pandang dan cepat masuk ke kamar masing-masing. Sekejap kemudian mereka telah keluar pula dan telah menggendong semua barang-barang mereka, siap untuk meninggalkan tempat itu!

Benar saja dugaan mereka, begitu mereka keluar dari kamar, pengurus hotel dan para pelayan yang agaknya bercakap-cakap dengan para perwira, lalu menudingkan jari mereka ke arah Hong Beng dan Goat Lan. Tiba-tiba Bu Kwan Ji dan perwira-perwira kelas satu dari istana maju menyerbu dan mengurung kedua orang muda itu!

Goat Lan memandang kepada kedua orang hwesio yang seperti telah dikenalnya itu, akan tetapi ia lupa lagi di mana ia pernah bertemu dengan mereka. Ia tidak diberi kesempatan untuk mengingat-ingat hal itu, karena mereka telah mengeroyok dan kepandaian mereka ternyata tidak boleh dipandang ringan. Ban Sai Cinjin sendiri sudah amat tangguh, juga dua orang hwesio dan tosu itu merupakan tandingan-tandingan yang tak boleh dibuat main-main. Bu Kwan Ji dan tujuh orang perwira kelas satu dari istana yang sudah menjadi kaki tangannya juga memiliki kepandaian yang cukup hebat, maka Goat Lan dan Hong Beng cepat mencabut senjata mereka. Hong Beng mengeluarkan tongkat hitamnya, yaitu tongkat tanda pangkat sebagai ketua Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan lalu mencabut sepasang bambu runcingnya.

Tempat di mana mereka bertempur itu amat sempit, maka Hong Beng lalu berseru, “Hayo kita keluar!” Goat Lan mengerti maksud tunangannya maka ia lalu menerjang pengeroyoknya dan merobohkan seorang perwira. Demikian pula Hong Beng berhasil mengemplang kepala seorang perwira dan bersama Goat Lan cepat melompat ke halaman hotel. Di sini tempatnya lebih luas sehingga mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan baik. Akan tetapi baru saja kaki mereka menginjak halaman hotel tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar dari luar. Cepat mereka menggerakkan senjata dan memutarnya melindungi tubuh. Ketika mereka memandang, ternyata bahwa tempat itu telah dikurung oleh pasukan yang banyak sekali jumlahnya!

Jalan keluar tidak ada lagi dan terpaksa Hong Beng dan Goat Lan lalu menghadapi lagi serbuan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah mengejar pula sampai di situ. Hal ini menguntungkan bagi kedua orang muda itu karena dengan adanya keroyokan para perwira, maka pasukan pemanah itu tidak berani mempergunakan anak panah mereka lagi. Pertempuran berjalan seru sekali. Yang amat mendesak adalah Ban Sai Cinjin. Kali ini karena banyak kawannya, Ban Sai Cinjin bertempur dengan semangat besar dan huncwenya benar-benar merupakan senjata maut bagi Hong Beng dan Goat Lan. Sekali saja mereka terkena pukulan huncwe yang selalu ditujukan ke arah kepala mereka, akan celakalah mereka!

Ketika kedua orang muda itu terpaksa hendak menggunakan tangan besi dan membunuh para pengeroyoknya untuk dapat mencari jalan keluar, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan lapat-lapat terdengar oleh Hong Beng dan Goat Lan.

“Bantu pangcu kita…!”

Keadaan pasukan yang tadinya mengurung tempat itu, tiba-tiba menjadi heboh dan geger. Ternyata mereka telah diserang secara tiba-tiba dan dari belakang oleh serombongan pengemis bertongkat hitam! Ternyata bahwa tadi ketika Hong Beng melompat keluar dari dalam hotel dan dikeroyok oleh para perwira, ada beberapa orang anggauta Hek-tung Kai-pang berada di luar hotel itu. Melihat betapa pemuda gagah itu bersenjatakan tongkat hitam yang mereka kenal sebagai tongkat pusaka dari Hek-tung Kai-pang, tahulah mereka bahwa pemuda ini tentulah pangcu yang baru sebagaimana telah mereka dengar dari para pemimpin cabang mereka. Sebentar saja, atas bunyi siulan rahasia mereka, datanglah berpuluh-puluh pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang, bahkan para pemimpin yang berkedudukan di kota raja secara sembunyi-sembunyi juga muncul dan melakukan pengeroyokan terhadap para tentara kerajaan yang mengurung itu!

Hong Beng merasa girang sekali. Bersama Goat Lan ia lalu melompat jauh dan mencari jalan keluar dari tempat di mana para pengemis tongkat hitam itu menyerbu. Sambil memutar tongkat hitamnya dan merobohkan beberapa belas tentara yang mengeroyok, ia berseru,

“Aku pergi, lekas kalian mencari jalan aman!” Setelah berkata demikian, ia dan Goat Lan melompat ke atas genteng dan melenyapkan diri di balik wuwungan rumah-rumah yang tinggi. Juga kawanan jembel yang setia itu lalu melarikan diri ke sana ke mari, memecah rombongan sehingga sukarlah bagi barisan kerajaan untuk mengejar mereka. Juga tidak ada perintah mengejar para pengemis itu, sebaliknya Bu Kwan Ji berteriak-teriai memerintahkan anak buahnya untuk mengejar dua orang muda tadi! Akan tetapi kemanakah mereka harus mengejar? Dua orang muda itu melompat ke atas genteng bagaikan dua ekor burung walet saja, dan biarpun para perwira mengikuti Ban Sai Cinjin mengejar, akan tetap mereka ini tertinggal jauh oleh Ban Sai Cinjin yang gerakannya cepat sekali.

Setelah mengejar agak jauh dan mendapatkan dirinya hanya sendiri saja, Ban Sai Cinjin menjadi gentar. Kalau hanya seorang diri, andaikata ia dapat menyusul, bagaimana ia akan dapat menangkap kedua orang muda yang lihai itu? Terpaksa ia menunda kejarannya dan membiarkan kedua orang muda itu melarikan diri dengan cepat.

“Tutup semua pintu gerbang! Perkuat penjagaan! Jangan biarkan mereka lolos dari kota!” seru Bu Kwan Ji dengan marah sekali. Di dalam kemarahannya terhadap Hong Beng dan Goat Lan, perwira ini sampai lupa kepada para pengemis tongkat hitam yang tadi menolong kedua orang muda itu!

Hong Beng dan Goat Lan lari terus sampai di ujung kota yang sunyi.

“Mari ikut aku!” gadis itu mengajak tunangannya dengan suara tegas.

“Ke mana, Moi-moi?” tanya Hong Beng.

“Ke istana, mencari Pangeran Mahkota!”

Hong Beng mempunyai pikiran yang cerdas dan mudah menangkap maksud kata-kata orang, maka ia diam saja dan keduanya lalu berlari menuju ke istana yang megah itu. Untung bagi mereka bahwa semua penjagaan dikerahkan untuk menjaga seluruh pintu gerbang dan merondai dinding kota sebagaimana yang diperintahkan oleh Bu Kwan Ji, sehingga di dalam kotanya sendiri hanya beberapa orang perwira saja melakukan penggeledahan di sana-sini. Senja hari telah mendatang dan keadaan telah hampir gelap ketika keduanya telah tiba di dekat dinding tinggi yang mengelilingi istana kaisar.

Tidak mudah bagi kedua orang muda itu untuk dapat memasuki istana dan melalui dinding yang tinggi sekali itu. Untuk masuk lewat depan tidak mungkin sekali dan masuk dengan jalan melompati dinding yang begitu tinggi, juga sukar. Mereka berjalan ke sana ke mari mencari dinding yang agak rendah, akan tetapi sia-sia belaka. Ada beberapa batang pohon yang cukup tinggi untuk menjadi jembatan, akan tetapi pohon-pohon ini letaknya jauh dari dinding, sehingga melompat dari pohon ke atas dinding, bahkan lebih sukar daripada melompat dari atas tanah. Mereka duduk di bawah dinding dengan hati kecewa, keduanya tidak mengeluarkan suara dan termenung memutar otak. Tiba-tiba Hong Beng berkata girang,

“Ah, aku mendapat akal, Lan-moi! Kau tentu akan dapat masuk ke dalam dengan melompat ke atas dinding.”

“Bagaimana aku dapat melompati dinding setinggi itu, Koko?”

“Kau melompat lebih dulu dan aku mendorongmu dari bawah! Dengan meminjam tanganku, bukankah kau akan dapat melompat lagi ke atas?”

Untuk sesaat Goat Lan memandang kepada tunangannya dengan sepasang matanya yang seperti mata burung Hong itu, kemudian wajahnya berseri girang.

“Ah, benar juga kata-katamu, Koko. Mengapa aku tidak dapat berpikir sampai di situ?”

Tiba-tiba Hong Beng mengerutkan keningnya. “Sayangnya, hanya kau saja yang bisa masuk ke dalam istana untuk mencari Pangeran dan mengobatinya. Bagaimana hatiku bisa tenteram kalau membiarkan kau masuk seorang diri di tempat berbahaya itu? Dengan menanti kembalimu di luar dinding ini aku akan merasa seakan-akan berdiri di atas besi panas!”

Kini Goat Lan yang berkata dengan gembira, “Mengapa susah-susah? Pohon itu dapat menolongmu!”

Giliran Hong Beng yang sekarang memandang kepada tunangannya dengan mata bodoh karena sungguh-sungguh ia tidak mengerti apa maksud gadis itu.

“Pohon itu letaknya terlalu jauh dari dinding, bagaimana pohon itu bisa menolongku?”

“Koko, kau tidak ingat kepada cabangnya yang panjang!” seru gadis itu yang segera melompat ke arah pohon besar dan kemudian ia melompat ke atas, memilih cabang yang panjang dan kuat. Dengan sekali renggut saja patahlah cabang itu yang cepat dibersihkan daun-daunnya sehingga merupakan sebatang tongkat panjang.

“Nah, kalau aku sudah berhasil sampai di atas, kaulemparkan tongkat ini kepadaku. Kemudian kau melompat dan kuterima dengan tongkat ini, bukankah beres?”

Girang sekali hati Hong Beng. Ia menangkap tangan Goat Lan sambil memuji, “Moi-moi, kau benar-benar hebat! Kau cerdik sekali dan… dan… cantik manis!”

“Hush, bukan waktunya untuk bersendau-gurau, Koko!” kata Goat Lan merengut dan mencubit lengan pemuda itu, akan tetapi sepasang matanya bersinar bangga dan kerlingnya menyambar hati Hong Beng, menyuburkan cinta kasih yang sudah berakar di dalam hati pemuda itu.

“Nah, sekarang melompatlah, Moi-moi. Melompatlah dengan lurus ke atas, dekat dinding, kemudian tarik kakimu ke atas sehingga kalau aku sudah menyusul di bawahmu, kau dapat mengenjotkan kakimu di atas tanganku!”

Goat Lan mengangguk maklum, lalu membereskan pakaiannya, mengikat erat tali pinggangnya dan membereskan letak buntalan pakaian dan obat yang berada di punggungnya.

“Siap, Koko!” kata gadis itu sambil menghampiri dinding. Hong Beng berdiri di belakangnya dan ketika gadis itu melompat ke atas, ia pun menyusul di bawahnya! Keduanya mempergunakan gerat lompat Pek-liong-seng-thian (Naga Putih Naik ke Langit). Tubuh Goat Lan yang ringan itu meluncur pesat ke atas dan ketika ia merasa bahwa tenaga luncurannya telah hampir habis, ia lalu menarik kedua kakinya ke atas. Tepat pada saat melayang turun kembali, ia merasa betapa kedua tangan Hong Beng yang kuat telah menyangga sepasang telapak kakinya. Goat Lan diam-diam memuji tunangannya ini karena dengan gerakan ini ternyata bahwa tenaga lompatan Hong Beng masih menang sedikit jika dibandingkan dengan tenaga loncatannya. Karena kini mendapat tempat untuk kedua kakinya, Goat Lan lalu mengenjot lagi ke atas dan tubuhnya melayang makin tinggi sehingga ia dapat mencapai dinding itu. Tangannya menyambar pinggiran dinding dan sekali ia mengayun tubuh ke atas, ia telah berada di atas dinding yang tinggi itu! Ia memandang ke sebelah dalam dan untung sekali bahwa mereka tiba di dinding yang menutupi sebuah taman bunga yang amat indahnya sehingga gadis ini menjadi takjub melihat demikian banyaknya pohon-pohon bunga yang menyerbakkan keharuman. Sayang bahwa keadaan sudah agak gelap hingga ia tidak dapat menikmati tata warna yang luar biasa dari taman bunga itu. Saking kagumnya, Goat Lan sampai lupa kepada Hong Beng. Ia terkejut ketika mendengar seruan Hong Beng, “Moi-moi, terimalah tongkat ini!” Cepat ia memutar tubuhnya dan menghadap keluar lagi. Dinding itu tebal sekali, lebar permukaan dinding yang diinjaknya lebih dari dua kaki, sehingga ia boleh berdiri dengan enak dan tetap di atas dinding itu.

Hong Beng melempar tongkat panjang ke atas dan diterima oleh Goat Lan dengan mudahnya. Ketika gadis itu duduk di atas tembok, tangan kiri merangkul tembok dan tangan kanan memegang ujung tongkat yang diulur ke bawah maka ujung tongkat di bawah telah mencapai tempat yang cukup rendah bagi Hong Beng untuk melompat dan menangkapnya. Akan tetapi pemuda ini masih berkuatir kalau-kalau Goat Lan tidak akan kuat menahan berat tubuhnya dengan tongkat itu, maka sebelum meloncat ia berseru,

“Moi-moi, kalau nanti terlalu berat bagimu, kaulepaskan saja tongkat itu jangan sampai kau ikut jatuh ke bawah!”

“Kaukira aku orang apa?” bantah Goat Lan pura-pura marah, akan tetapi suaranya terdengar bersungguh-sungguh. “Kalau kau jatuh, aku pun ikut jatuh pula!”

“Eh, eh, jangan begitu, Lan-moi. Kalau kau lepaskan tongkat itu, jatuhku tidak dari tempat terlalu tinggi dan paling-paling aku hanya akan lecet-lecet saja. Akan tetapi kau… dari tempat begitu tinggi!”

“Aku juga takkan mati jatuh dari tempat setinggi ini!”

Hong Beng menjadi bingung. Ia ragu-ragu untuk melompat, karena ia maklum bahwa gadis itu betul-betul takkan membiarkan ia jatuh sendiri! Tiba-tiba pemuda itu lalu berlari ke tempat di mana terdapat pohon besar tadi. Goat Lan memandang heran, akan tetapi ia melihat pemuda itu telah melompat naik ke atas pohon dan menggunakan pedangnya untuk membabat putus sebatang cabang yang panjang. Ketika Hong Beng sudah tiba di tempat tadi, tahulah Goat Lan bahwa pemuda itu telah mengambil dan membuat sebatang tongkat seperti tadi panjangnya, hanya saja kini tongkat ini ujungnya ada kaitannya. Pemuda yang cerdik ini telah mengambil cabang yang ada kaitannya dan kemudian ia berkata,

“Moi-moi, taruh saja tongkat itu di atas dinding, dan kaupakailah tongkat ini!” Ia melontarkan tongkat baru ini ke atas yang disambut dengan mudahnya oleh Goat Lan. Gadis ini menjadi girang sekali, karena tentu saja dengan tongkat ini, tidak usah kuatir tunangannya akan jatuh kembali karena ia tidak kuat menahan berat tubuhnya. Ia lalu memasang kaitan tongkat itu pada dinding, dan memegang kaitan itu menjaga jangan sampai kaitannya terlepas.

“Lompatlah, Koko!” teriaknya ke bawah.

Hong Beng mengumpulkan tenaga kakinya, lalu mengenjot tubuhnya ke atas. Ketika tangannya dapat mencapai ujung tongkat yang tergantung di bawah, ia menangkap tongkat itu dan dengan cekatan sekali ia lalu naik ke atas, merayap melalui tongkat. Setelah tiba di atas dinding, ia mengomel kepada tunangannya,

“Lan-moi, lain kali jangan kau main nekad begitu. Kalau aku tidak mendapat akal ini, aku takkan berani melompat naik dan membiarkan kau jatuh ke bawah.”

Goat Lan tersenyum manis, kemudian teringat akan tugasnya lagi.

“Mari kita turun ke dalam,” katanya, “baiknya ada dua tongkat ini yang akan dapat membantu kita.”

Gadis yang berani itu lalu melompat turun lebih dulu dengan tongkat yang dipegangnya merupakan pembantu yang amat berguna. Sebelum tubuhnya tiba di tanah, ia lebih dulu menancapkan tongkat itu sehingga dapat menahan tenaga luncurannya. Setelah tenaga luncuran itu habis, ia lalu melompat ke bawah dengan ringannya. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga.

Hong Beng segera meniru gerakan kekasihnya ini dan kini mereka berdua telah berada di dalam taman.

“Aduh indahnya kembang ini…” kata Goat Lan sambil menghampiri sekelompok bunga seruni kuning yang indah. Gadis ini bagaikan seekor kupu-kupu. Dengan lincah dan gembira ia berlari-larian dari satu ke lain bunga, riang gembira seperti anak-anak.

“Lan-moi, apakah kita masuk ke sini hanya untuk bermain-main di taman bunga ini?” tanya Hong Beng menegur tunangannya dengan pandang mata kagum karena sungguh cocok sekali bagi seorang gadis cantik berada di taman indah penuh kembang.

“Koko, bunga ini cocok sekali untukmu!” Goat Lan seakan-akan tidak mendengar ucapan Hong Beng. Ia memetik setangkai bunga seruni dan membawa bunga itu kepada Hong Beng. Dengan sikap yang menyayang ia lalu memasukkan tangkai kembang itu ke lubang kancing pada dada Hong Beng. Terharu juga hati pemuda ini melihat kelembutan tunangannya. Ia meremas tangan Goat Lan, kemudian tanpa berkata-kata ia lalu memetik pula setangkai seruni merah yang ditancapkannya di atas rambut kekasihnya.

“Hayo kita mencari Pangeran,” katanya kemudian. Ucapan ini mengusir hikmat taman bunga dan kasih sayang mesra. Keduanya lalu berjalan dengan hati-hati sekali sampai ke ujung taman bunga di mana terdapat sebuah pintu.

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang bercakap-cakap di belakang pintu itu.

Ketika mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan tahu bahwa yang bercakap-cakap itu hanyalah dua orang penjaga pintu belakang, cepat kedua orang muda perkasa ini lalu membuka pintu dengan tiba-tiba. Dua orang penjaga yang memandang dengan celangap itu tak diberi kesempatan membuka suara. Begitu tangan Goat Lan dan Hong Beng bergerak, keduanya telah kena ditotok sehingga menjadi kaku tak dapat bergerak maupun bersuara lagi.

Hong Beng mencabut tongkatnya. Setelah membebaskan seorang penjaga dari totokannya, ia menempelkan ujung tongkat pada leher orang itu sambil berkata,

“Hayo katakan terus terang di mana kamar Pangeran Mahkota!”

Penjaga itu biarpun tubuhnya menggigil, mukanya pucat, dan bibirnya gemetar namun ia menggeleng kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak! Kami telah banyak menerima budi Hong-siang (Kaisar), dan Putera Mahkota amat budiman. Biarpun aku akan kaubunuh, aku takkan mengkhianati Putera Mahkola! Kau tidak boleh membunuhnya!”

Tersenyum Hong Beng mendengar ini. Ia suka dan kagum melihat kesetiaan penjaga pintu, pegawai rendah ini. Tiba-tiba ia mendapat pikiran yang baik sekali.

“Dengar, sahabat. Kami berdua datang sama sekali bukan membawa maksud jahat. Kami datang hendak mengobati Putera Mahkota, akan tetapi kami dihalang-halangi oleh Bu Kwan Ji si jahanam. Maukah kau membantu kami menolong pangeranmu itu?”

Penjaga itu memandang kepada Hong Beng dengan curiga. “Siapa tahu betul tidaknya bicaramu ini?” tanyanya.

Goat Lan turun tangan dan berkata, “Dengarlah, Lopek (Uwa). Aku adalah murid dari Yok-ong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo dan aku benar-benar datang hendak menolong Pangeran Mahkota. Kau percayalah dan tunjukkan kepadaku di mana tempat Pangeran itu.”

Melihat Goat Lan, lenyaplah kecurigaan penjaga itu. Gadis secantik dan seramah ini dengan sepasang mata yang indah dan halus itu tak mungkin jahat.

“Baiklah, aku akan membantumu. Kalau aku salah duga ternyata kau datang hendak melakukan kejahatan, biarlah nyawaku akan menjadi setan yang mengejar-ngejarmu! Pada waktu ini, Pangeran Mahkota berada di ruangan belakang, tak jauh dari sini. Baiknya tiga orang tabib yang biasa selalu menjaganya, kini sedang keluar, kabarnya untuk menangkap pemberontak-pemeberontak! Yang menjaga hanyalah inang pengasuh dan para pelayan saja. Mari kalian ikut padaku!”

Penjaga yang seorang lagi tidak dibebaskan dari totokan, bahkan Hong Beng lalu melepaskan ikat pinggang orang itu dan mengikat kedua tangannya agar jangan sampai terlepas dan menimbulkan ribut. Ketiganya lalu berjalan ke sebelah dalam dan tak lama kemudian mereka tiba di ruang yang dimaksudkan.

Di situ terdapat lima orang pelayan wanita, dua orang pelayan banci (thai-kam) dan empat orang penjaga yang kokoh kuat tubuhnya. Alangkah kaget semua orang ini ketika melihat penjaga itu masuk bersama dua orang muda yang elok. Empat orang penjaga itu cepat melompat menghampiri mereka dengan golok di tangan.

“Siapa kalian dan perlu apa masuk tanpa dipanggil?” bentak seorang diantara mereka.

“Kami datang hendak mengobati Pangeran!” kata Hong Beng.

“Tak seorang pun boleh mengobati Pangeran di luar tahunya ketiga tabib istana! Kalian orang-orang jahat harus ditangkap!”

Hong Beng dapat menduga bahwa empat orang penjaga ini pun tentulah kaki tangan Bu Kwan Ji, maka ia memberi tanda kepada Goat Lan. Ketika dua orang muda perkasa ini berkelebat tubuhnya dan bergerak kedua tangannya, empat orang penjaga itu roboh dengan tubuh lemas tak berdaya lagi! Tentu saja dua orang thaikam dan lima orang pelayan wanita itu menjadi ketakutan dan berdiri dengan muka pucat dan tubuh gemetar.

“Kami datang bukan dengan maksud jahat,” kata Hong Beng. “Kami datang untuk mengobati Pangeran! Akan tetapi, siapa saja yang berani menghalangi kami akan kuhancurkan kepalanya!” Sambil berkata demikian, Hong Beng lalu mencabut tongkatnya yang hitam mengkilap sehingga mereka semua menjadi takut.

“Siapakah yang membuat ribut-ribut itu?” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan lemah. Goat Lan cepat menengok ke arah suara itu dan terlihatlah pangeran Mahkota yang sedang berbaring di tempat tidurnya yang indah. Pangeran ini masih muda sekali, paling banyak baru empat belas tahun, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat.

Goat Lan melompat dan berlutut di depan Pangeran yang telah duduk di atas pembaringannya itu.

“Hamba Kwee Goat Lan, murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo. Hamba datang hendak melanjutkan usaha mendiang Suhu untuk mencoba mengobati Paduka.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: