Pendekar Remaja ~ Jilid 22

Pangeran kecil itu membuka kedua matanya lebar-lebar. “Bukankah kau kemarin dinyatakan hendak meracuniku? Obat apa yang kaukirim ke sini itu? Rasanya pahit dan masam! Membuat perutku muak!”

Goat Lan bangkit berdiri. “Paduka telah ditipu. Orang-orang jahat mengelilingi tempat ini. Yang diberikan bukan obat dari hamba, melainkan telah ditukar dengan obat lain yang jahat!” Ia mengeluarkan buah Giok-ko dan memperlihatkannya kepada Pangeran itu. “Buah inilah yang kemarin hamba persembahkan kepada Hong-siang, apakah ini pula yang Paduka makan?”

Pangeran itu menerima buah yang berkilauan seperti mutiara itu dengan kagum dan heran. “Bukan, bukan ini, akan tetapi buah hijau yang baunya tidak enak. Buah ini wangi sekali.”

“Nah, silakan Paduka makan buah ini, dan demi Thian Yang Maha Adil, kalau Paduka percaya, penyakit Paduka pasti akan lenyap!”

Pangeran itu memandang kepada Goat Lan sampai lama, kemudian ia tersenyum lemah dan berkata, “Kau cantik dan gagah, aku percaya kepadamu!” Dan ia lalu makan buah itu. Baru saja satu gigitan, ia berseru girang, “Manis dan wangi sekali!” Sebentar saja habislah buah itu semua. “Kalau masih ada, aku ingin makan lagi!” Sambil berkata demikian dengan tangan kanan, Pangeran itu menutup mulut menahan kuapnya, karena ia tiba-tiba merasa mengantuk sekali.

“Sekarang harap Paduka suka beristirahat, karena baru besok pagi Paduka boleh makan sebuah lagi,” kata Goat Lan. Akan tetapi Pangeran itu sudah merebahkan diri dan sebentar saja ia tertidur terkena pengaruh Giok-ko yang manjur itu. Goat Lan lalu menyuruh seorang pelayan menyediakan perabot untuk memasak daun To-hio sebagaimana yang telah dipesankan oleh Thian Kek Hwesio.

Pada saat Goat Lan tengah sibuk memasak obat itu, tiba-tiba Hong Beng berseru terkejut, “Celaka, Hong-siang bersama para pengiringnya sedang menuju ke sini!”

Memang sudah menjadi kebiasaan Kaisar untuk menengok keadaan puteranya yang tercinta sebelum tidur. Seperti biasa, malam hari itu Kaisar juga datang diantar oleh lima orang pengawal pribadinya!

Hong Beng yang menjaga pintu menjadi bingung, dan Goat Lan lalu berkata, “Koko, kurasa lebih baik lagi kalau Hong-siang berada di dalam kamar ini untuk menyaksikan bagaimana kita menolong puteranya!”

Hong Beng memutar otak dan cepat ia berkata kepada semua pelayan di situ, “Awas, semua orang tidak boleh membikin ribut. Diam-diam saja seperti tak terjadi sesuatu sehingga Hong-siang tidak akan terkejut dan curiga. Kalian telah melihat sendiri bahwa kami benar-benar hendak mengobati Pangeran, dan seperti kataku tadi, siapa saja yang akan menghalangiku, akan kuhancurkan kepalanya!”

Pemuda itu lalu bersembunyi di balik daun pintu, menanti masuknya Kaisar, sedangkan Goat Lan tetap memasak obat tanpa mempedulikan keadaan di luar kamar.

Untung sekali bagi kedua orang muda itu bahwa tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam kamar pangeran. Maka ketika tiba di luar pintu, hanya Kaisar sendiri yang masuk ke dalam, sedangkan kelima bayangkari itu dengan golok di tangan menjaga di luar pintu! Kaisar masuk dengan wajah muram karena ia memikirkan keadaan puteranya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis yang tak dikenalnya sedang memasak obat.

“Siapa kau?” tanyanya.

Goat Lan menengok dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. “Hamba akan menerima hukuman dari kelancangan hamba masuk ke tempat ini, akan tetapi mohon diberi kesempatan lebih dulu untuk menyembuhkan penyakit Putera Mahkota!”

Ketika melihat wajah gadis ini, Kaisar menjadi makin terkejut.

“Bukankah kau yang mengaku murid Yok-ong dan yang mencoba untuk meracuni puteraku?” Cepat Kaisar menengok untuk memanggil penjaga dan bayangkari, akan tetapi ia makin pucat ketika melihat bahwa pintu telah ditutup dan kini seorang pemuda yang dikenalnya sebagai kawan gadis ini, telah berdiri dengan gagahnya di tengah pintu itu, menjaga dengan tongkat di tangan. Ketika ia melirik ke kiri, di sudut rebah empat orang penjaga pangeran dalam keadaan lemas tak berdaya.

“Hemm, jadi kalian ini benar-benar putera-putera Pendekar Bodoh yang hendak memberontak? Apakah kehendak kalian sekarang? Membunuh puteraku atau aku? Kalian kira mudah saja melakukan hal itu?”

Akan tetapi, Hong Beng biarpun masih memegang tongkatnya, lalu menjatuhkan diri berlutut di tempat penjagaannya.

“Ayah hamba, Pendekar Bodoh, tak pernah menjadi pemberontak, dan demikianpun hamba berdua. Sesungguhnya hamba datang untuk mengobati Putera Mahkota, bukan mengandung maksud jahat. Mohon Hong-siang sudi mempertimbangkan dan memberi ampun.”

“Buah obat yang kalian berikan kemarin telah dimakan oleh puteraku, akan tetapi bahkan menambah penyakitnya. Bukankah itu bukti yang nyata?”

“Maafkan hamba,” kata Goat Lan. “Itulah sebabnya mengapa hamba berdua terpaksa mengambil jalan masuk secara lancang ini. Buah dari hamba itu telah ditukar orang dan yang diberikan kepada Pangeran adalah buah yang berbahaya. Baru tadi putera Paduka telah makan sebutir buah dari hamba dan sekarang telah dapat tidur nyenyak.”

“Hamba berdua minta waktu sampai tiga hari, dan sebelum lewat tiga hari, terpaksa hamba berlaku kurang ajar dan menahan Paduka di kamar ini! Hal ini terpaksa hamba lakukan untuk mencegah gangguan dari tiga tabib durjana, pengkhianat Bu Kwan Ji, dan Huncwe Maut Ban Sai Cinjin yang jahat dan berbahaya.” Hong Beng menyambung kata-kata Goat Lan.

Kaisar memandang dari Goat Lan ke Hong Beng berganti-ganti, kemudian ia tersenyum.

“Baiklah, kuberi waktu tiga hari, akan tetapi kalau di dalam waktu itu ternyata kalian membohong, awaslah, jangan kau berani main-main dengan Kaisar!” Setelah berkata demikian, Kaisar lalu menghampiri puteranya yang telah tidur nyenyak dengan napas teratur dan tenang.

“Lucu… lucu… !” kata Kaisar setelah menghampiri kembali Goat Lan dan Hong Beng. lalu duduk di atas sebuah kursi gading. “Baru kali ini selama hidupku aku mengalami ditahan oleh seorang luar, seorang biasa. Ha-ha-ha! Benar-benar menggembirakan dan mendebarkan hati! Aku ingin sekali mengetahui bagaimana perkembangan selanjutnya dari peristiwa aneh ini!”

Akan tetapi, karena hari telah malam dan Kaisar itu merasa mengantuk sekali, ia lalu pergi tidur di atas sebuah pembaringan biasa yang berada di tempat itu, dilayani oleh lima orang pelayan wanita itu dengan penuh penghormatan.

“Koko, aku sekarang teringat bahwa hwesio-hwesio yang ikut Bu-ciangkun menyerbu kita di hotel, adalah hwesio yang datang menyerang kita pada malam hari kemarin dulu!”

Hong Beng mengangguk-angguk. “Sekarang agak terang bagiku. Sudah jelas bahwa tabib-tabib istana yang menjaga Pangeran ini telah sengaja menghalangi penyembuhan Pangeran, dan agaknya hal ini ada hubungannya dengan Bu Kwan Ji. Mungkin tiga orang tabib itu telah bersekongkol dengan perwira she Bu itu, dibantu pula oleh Ban Sai Cinjin! Kita harus dapat meyakinkan Kaisar bahwa mereka itu adalah sekomplotan orang jahat yang menghendaki nyawa Pangeran Mahkota, entah apa sebabnya!”

“Jalan satu-satunya untuk meyakinkan dan mendapatkan kepercayaan Kaisar hanyalah penyembuhan puteranya.”

“Mudah-mudahan saja obat yang kaubawa itu berhasil!”

“Pasti berhasil!” kata-kata ini diucapkan oleh Goat Lan dengan suara tetap penuh kepercayaan. “Obat ini adalah petunjuk dari Suhu, bagaimana bisa salah?”

Malam hari itu, Pangeran Mahkota terjaga dari tidurnya dan Goat Lan lalu memberinya minum obat Daun Golok yang sudah dimasak. Karena merasa betapa tubuhnya enak, Pangeran itu percaya penuh kepada Goat Lan dan tanpa ragu-ragu lagi minum semangkok masakan obat daun itu. Kemudian, gadis ini dengan kedua tangannya sendiri memasakkan sedikit bubur untuk Pangeran itu dan memaksanya untuk mengisi perut dengah bubur itu. Sudah tiga hari Pangeran itu tidak mau makan, akan tetapi sekarang, semangkok bubur masih belum memuaskan seleranya dan ia minta tambah. Akan tetapi dengan suara halus Goat Lan mencegahnya, kemudian gadis ini sambil duduk di dekat pembaringan, lalu menceritakan dongeng-dongeng kuno tentang kegagahan sehingga pangeran itu merasa tertarik sekali dan akhirnya ia melupakan rasa laparnya dan tertidur kembali.

Pada keesokan harinya, Kaisar bangun pagi-pagi sekali dan ia merasa amat heran mengapa ia dapat tidur demikian nyenyaknya! Biasanya, di dalam kamarnya sendiri yang bagus, di atas pembaringan terhias emas dan permata, setiap malam ia dua tiga kali terjaga. Akan tetapi kali ini, tidur di tempat peristirahatan puteranya, hanya di atas pembaringan biasa, bahkan sebagai seorang tawanan dari dua orang muda aneh itu, ia dapat tidur pulas dan enak! Ketika ia memandang, ternyata bahwa Goat Lan sudah bangun pula. Gadis ini bersama Hong Beng bergilir menjaga pintu, akan tetapi mereka tidak tidur, hanya duduk bersila sambil bersamadhi saja.

“Jadi aku belum boleh keluar dari kamar ini?” tanya Kaisar sambil tersenyum kepada Hong Beng yang masih berdiri menghadang di pintu dengan tongkat di tangan.

“Terpaksa hamba menghalanginya, demi keselamatan putera Paduka!” jawab Hong Beng dengan suara tetap.

Kaisar tersenyum. “Apa kaukira aku dapat bertahan tanpa makan sampai tiga hari? Bodoh! Minggirlah, biar aku memberi perintah untuk membawa makanan dan air untuk mencuci muka!”

Suara Kaisar amat berpengaruh dan karena ia percaya penuh kepada Kaisar ini, Hong Beng lalu melangkah ke samping. Kaisar membuka daun pintu dan berkata kepada lima orang bayangkari yang semalam suntuk menjaga di depan pintu tanpa berani pergi atau masuk!

“Jangan perbolehkan siapa pun juga masuk ke kamar ini! Atur penjagaan kuat secara bergilir dan suruh pelayan wanita menghidangkan makanan dan minuman. Juga air untuk mencuci muka. Laporkan kepada Hong-houw (Permaisuri) bahwa selama tiga hari aku berada di dalam kamar pangeran untuk menjaga dan menyaksikan sendiri Sang Pangeran menerima pengobatan!” Setelah berkata demikian, Kaisar lalu menutup pintu kembali.

Lima orang bayangkari itu saling pandang dengan bingung. Perintah dari Kaisar cukup jelas, hanya mereka merasa bingung karena siapakah yang mengobati Pangeran? Mereka tidak melihat ada orang masuk, sedangkan tiga orang tabib istana pun belum masuk ke kamar itu!

Akan tetapi, oleh karena sudah jelas bunyi perintah Kaisar, mereka mengerjakan dengan seksama dan taat. Semua perintah Kaisar dikerjakan dengan cepat sekali, dan sebentar saja di depan kamar itu telah terjaga oleh dua belas orang bayangkari pengawal pribadi Kaisar. Kalau andaikata Permaisuri sendiri hendak memasuki kamar itu, tanpa perkenan dan persetujuan Kaisar, para bayangkari itu tentu takkan mau memberi jalan masuk! Kaisar mempunyai dua puluh empat orang pengawal pribadi yang dipilih oleh Kaisar sendiri dan sudah dipercaya dan diuji benar-benar kesetiaan mereka. Kepandaian mereka juga cukup tinggi.

Hong Beng tetap menjaga di belakang pintu yang tertutup itu sedangkan Goat Lan telah memberi makan sebuah Giok-ko lagi kepada Pangeran yang kini nampak lebih segar daripada kemarin. Kaisar melihat sendiri betapa bersungguh-sungguh Goat Lan berusaha mengobati puteranya, maka diam-diam Kaisar ini memperhatikan Goat Lan dan menjadi kagum sekali.

Ketika dari luar terdengar ketokan pintu oleh bayangkari yang melaporkan bahwa makanan dan minuman telah dibawa datang oleh pelayan-pelayan wanita, Kaisar lalu memerintahkan pelayan-pelayan wanita yang banyaknya lima orang di dalam kamar itu untuk mengambil hidangan-hidangan itu. Pelayan-pelayan baru yang datang membawa makanan tidak diperkenankan masuk!

Setelah hidangan disiapkan, Kaisar mengajak Hong Beng dan Goat Lan untuk makan bersama! Suatu kehormatan yang besar sekali dan belum pernah ada orang biasa diajak makan bersama oleh Kaisar! Akan tetapi Hong Beng yang amat hati-hati dengan sopan dan halus memohon maaf dan menolaknya, karena ia tidak mau meninggalkan pintu yang dijaganya itu. Ia maklum bahwa kalau ia lalai dan sampai Bu Kwan Ji dan kaki tangannya dapat menyerbu masuk, akan celakalah dia, Goat Lan, dan juga Pangeran Mahkota!

Sebaliknya, karena ia merasa amat lapar, Goat Lan tidak menolak ajakan Kaisar dan makanlah mereka bertiga, yakni Kaisar, Pangeran dan Goat Lan. Sungguh gembira sekali Kaisar dan Pangeran, karena telah berbulan-bulan Pangeran tidak kuasa turun dari pembaringan, akan tetapi sekarang bahkan dapat makan semeja dengan ayahnya!

Dalam kesempatan ini, Kaisar mengajukan banyak pertanyaan kepada Goat Lan tentang orang tuanya, tentang guru-gurunya dan mengapa gadis ini dengan mati-matian hendak mengobati Pangeran.

“Apakah karena kau merasa menjadi rakyat hendak berbakti kepadaku yang menjadi rajamu?” tanya Kaisar memandang tajam.

“Memang ada juga keinginan hati hamba untuk berbakti, akan tetapi terutama sekali karena hamba hendak menjunjung dan melindungi nama baik mendiang suhu hamba, yakni Yok-ong Sin Kong Tianglo!” Dengan jujur gadis ini lalu menceritakan keadaannya, menceritakan pula tentang pengorbanan suhunya yang sampai meninggal dunia dalam usahanya mencarikan obat guna Pangeran Mahkota. Pangeran yang telah berusia empat belas tahun itu merasa terharu mendengar penuturan Goat Lan dan dengan berlinang air mata ia lalu berkata,

“Nona, besar sekali budi mendiang suhumu dan engkau. Kami takkan melupakan budi pertolongan yang besar ini.”

“Kau memang baik sekali, Nona Kwee. Sudah sepatutnya kau mendapat anugerah besar. Tunggu saja kalau sudah sembuh benar Pangeran!”

“Hamba tidak mengharapkan hadiah atau anugerah, karena anugerah Paduka berupa kebijaksanaan dan keadilan kepada rakyat jelata telah merupakan anugerah terbesar yang dapat Paduka berikan! Hanya hamba merasa kuatir sekali karena terang bahwa ada komplotan jahat yang tidak ingin melihat kesembuhan Pangeran Mahkota. Harap Paduka suka berlaku hati-hati dan segera menangkap orang-orang seperti Bu Kwan Ji dan ketiga orang tabib istana itu. Sudah terbukti bahwa ketika hamba memberi buah Giok-ko yang Paduka teruskan kepada orang she Bu itu, ternyata setelah sampai di tangan Pangeran telah ditukar dengan buah lain yang berbahaya!”

Kaisar mengangguk-angguk. “Jangan kuatir, setelah selesai pengobatan ini, pasti akan kulakukan tindakan keras untuk menghukum dan menyiksa mereka supaya mengaku.”

Akan tetapi pada saat itu, di luar terdengar ribut-ribut. Hong Beng yang sudah siap sedia, mendekati pintu dan mendengarkan dari celah-celah daun pintu. Ternyata bahwa yang sedang ribut mulut dengan para bayangkari itu adalah suara Bu Kwan Ji, tiga orang tabib, dan Ban Sai Cinjin.

“Apakah kalian gila? Tidak tahukah kalian siapa aku sehingga kalian berani mampus sekali melarangku masuk ke dalam kamar Pangeran!” Terdengar suara Bu Kwan Ji membentak-bentak marah.

“Maafkan kami, Bu-ciangkun. Tentu saja kami mengenal Ciangkun dengan baik. Akan tetapi kami hanya mentaati perintah dari Hong-siang, maka harap Ciangkun suka memaklumi.”

“Bagaimana bunyi perintah Hong-siang?”

“Bahwa tidak seorang pun, siapapun juga orang itu, boleh masuk ke dalam kamar ini.”

Sunyi untuk sesaat, kemudian terdengar suara Ngo-tok Lo-koai Ang Lok Cu, “Kami bertiga adalah tabib-tabib istana, yang bertugas menjaga Pangeran yang sedang sakit. Apakah kami juga tidak boleh masuk?”

“Menyesal sekali, Totiang, kami tidak berani melanggar perintah dan larangan Hong-siang!” jawab bayangkari yang setia itu.

“Mungkin Hong-siang tidak maksudkan kami yang dilarang masuk,” terdengar Bu Kwan Ji membujuk lagi. “Coba kau melaporkan ke dalam kepada Hong-siang, bahwa Bu-ciangkun dan ketiga tabib besar mohon menghadap untuk membuat laporan tentang pengejaran para pemberontak!”

“Kami tidak berani, Bu-ciangkun. Sudah jelas sekali perintah Kaisar bahwa siapapun juga tidak diperbolehkan masuk ke kamar ini. Bahkan kami sendiri pun kalau tidak dipanggil, tidak berani membuka pintu ini!”

Sunyi lagi sesaat lamanya.

“Apakah Hong-siang berada di dalam?” tanya lagi Bu Kwan Ji.

“Betul, Ciangkun,” jawab bayangkari.

“Siapa lagi selain Hong-siang dan para pelayan berada di dalam? Apakah ada orang luar yang masuk?”

“Setahu kami tidak ada orang luar, Ciangkun. Akan tetapi entahlah, karena Kaisar berlaku amat ganjil dan penuh rahasia kali ini.”

Pendengaran Hong Beng yang tajam dapat menangkap suara bisik-bisik dan ia maklum bahwa Bu Kwan Ji tentu sedang berunding dengan tiba orang tabib itu. Kemudian terdengar tindakan kaki mereka menjauhi tempat itu. Hong Beng menarik napas lega, karena tidak perlu ia mempergunakan senjatanya untuk mencegah mereka memasuki kamar itu.

Akan tetapi, kelegaan dalam dada Hong Beng itu tidak berlangsung lama. Menjelang tengah hari terdengar suara-suara lagi di depan pintu, dan kini selain suara Bu Kwan Ji dan kawan-kawannya, terdengar pula suara yang amat merdu dan halus.

Suara ini adalah suara selir terkasih dari Kaisar yang bernama Song Tian Ci. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Song Tian Ci yang amat dikasihi oleh Kaisar ini telah mempunyai seorang putera dan ia telah dapat dibujuk oleh Bu Kwan Ji sehingga kedua orang durjana ini mengadakan hubungan gelap di luar tahunya Kaisar. Keduanya telah mengadakan komplotan gelap untuk membiarkan Pangeran Mahkota meninggal dunia karena penyakitnya agar kelak putera dari Song Tian Ci dapat menggantikan kedudukan raja.

Ketika Bu Kwan Ji mendengar dari para bayangkari bahwa Kaisar melarang siapapun juga memasuki kamar Putera Mahkota, panglima ini lalu cepat mencari kekasihnya itu dan kini Song Tian Ci sendiri mau ke depan untuk mempergunakan kekuasaannya memberi jalan kepada Bu Kwan Ji dan tiga orang tabib yang menjadi kaki tangannya itu. Akan tetapi kali ini ia pun tertegun melihat betapa para bayangkari tetap tidak mau memberi jalan kepadanya! Betapapun juga, terhadap Song Tian Ci, para bayangkari tidak berani berlaku keras karena mereka telah tahu akan kekuasaan dan pengaruh selir ini yang tidak kalah oleh Permaisuri sendiri!

“Kalau kalian tidak mau memberitahukan Kaisar tentang kedatanganku, jangan kalian menyesal kalau besok kalian akap kehilangan kepala!” Selir ini berkata dengan marah sekali.

Akhirnya seorang bayangkari tidak dapat menahan rasa gelisahnya, maka ia lalu membuka pintu itu dan melangkah masuk. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Hong Beng berdiri dengan tongkat di tangan di belakang pintu itu! Begitu bayangkari itu masuk dan melihat Kaisar sedang duduk di atas pembaringan Putera Mahkota, ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Mengapa kau masuk tanpa dipanggil!” Kaisar membentak marah. “Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Mohon beribu ampun atas kelancangan hamba. Di luar kamar telah datang Song-thai-thai yang memaksa hamba memberitahukan kedatangannya dan permohonannya untuk masuk menjumpai Paduka.”

Mendengar bahwa selirnya yang datang, lenyaplah kemarahan Kaisar. Ia memang mencinta selir ini yang dianggapnya amat baik, maka ia berpikir lebih baik dikawani oleh selir itu dalam keadaan yang menegangkan urat syarafnya menghadapi pengobatan puteranya ini.

“Hemm, biarkan dia masuk ke dalam,” katanya kemudian. Bayangkari itu memberi hormat mengerling dengan kening berkerut ke arah Hong Beng yang berdiri menjaga dengan tongkat di tangan kemudian kepada Goat Lan yang sedang masak daun obat. Setelah itu ia mengundurkan diri, keluar dari kamar itu untuk menyampaikan perkenan Kaisar kepada Song Tian Ci.

Dengan girang dan bangga, Song Tian Ci lalu mengajak Bu Kwan Ji, ketiga tabib yaitu Cu Tong Hwesio, Cu Siang Hwesio, dan Ang Lok Cu untuk ikut masuk ke dalam kamar. Para bayangkari kini tidak berani melarang lagi, sungguhpun perintah Kaisar hanya mengijinkan selirnya saja yang masuk. Sebagai pembuka jalan, Song Tian Ci masuk dengan jalan di sebelah depan. Di belakangnya menyusul Bu Kwan Ji, ketiga orang tabib itu, dan Ban Sai Cinjin.

Ketika pintu terbuka, Hong Beng melihat munculnya seorang wanita yang cantik sekali. Sungguhpun usia wanita ini sudah tiga puluh tahun lebih, namun kecantikannya memang mengagumkan. Ia dapat menduga bahwa ini tentu selir Kaisar yang disebut Song-thai-thai tadi oleh bayangkari, maka ia hanya menjura dan berdiri di samping, memberi jalan. Akan tetapi ketika ia melihat Bu Kwan Ji hendak ikut masuk, cepat ia melangkah maju dan membentak,

“Keluar kau!” Tongkatnya berkelebat dan telah menodong di dada panglima itu sehingga Bu Kwan Ji menjadi terkejut dan pucat, lalu cepat melompat keluar kembali. Hong Beng cepat menutupkan kembali daun pintu itu!

Begitu tiba di dalam kamar, selir yang cantik itu berdiri dengan muka terbelalak.

“Siapa kau?” bentaknya kepada Hong Beng, kemudian ia menghampiri Goat Lan sambil membentak, “Dan kau ini perempuan dari mana dan apa yang kau lakukan di tempat ini?”

Sebelum Goat Lan dan Hong Beng dapat menjawab, Kaisar telah maju menyambut selirnya sambil tertawa-tawa.

“Lihatlah, betapa manjurnya obat yang dibawa oleh Nona ini! Lihat puteramu telah hampir sembuh!” Kaisar itu lalu memegang tangan selirnya dan dibawanya selir itu ke dekat pembaringan Pangeran yang segera bangun dan memberi hormat dari pembaringannya kepada ibu tiri ini.

Sungguhpun di dalam hatinya Song Tian Ci merasa tertikam dan marah sekali, namun selir yang cerdik ini dapat tersenyum dengan wajah berseri. “Sukurlah, tidak percuma setiap malam hamba bersembahyang sampai tengah malam, memohon kepada Thian Yang Maha Esa untuk menolong dan menyembuhkan penyakit puteranda. Akan tetapi, siapakah dua orang muda itu? Mengapa mereka berada di sini?”

“Memang lucu sekali!” kata Kaisar sambil tertawa geli. “Lihat saja gadis muda yang cantik jelita itu. Biarpun masih mudap dialah yang mengobati penyakit puteramu. Dia adalah Kwee Goat Lan, murid dari mendiang Raja Obat Sin Kong Tianglo! Dan yang seorang lagi itu, yang tak pernah melepaskan tongkatnya, dia adalah putera Pendekar Bodoh…”

Pucatlah wajah Song Tian Ci mendengar ini. “Putera Pendekar Bodoh? Bukankah dia dan ayahnya telah menjadi pemberontak-pemberontak berbahaya?”

“Ha-ha-ha!” Kaisar tertawa. “Memang ia pemberontak! Lihat saja sikapnya. Dengan tongkat di tangan dia telah menahanku di dalam kamar ini, melarangku keluar! Ha-ha, alangkah lucunya. Aku, Kaisar yang berkuasa, ditahan di kamarku sendiri!”

Song Tian Ci makin terkejut dan cepat memandang ke sekeliling kamar dengan mata menyelidik. Ia melihat lima orang pelayan wanita duduk menanti perintah dengan menundukkan muka seakan-akan tidak ada peristiwa ganjil terjadi demikian pun dua orang thai-kam, dan empat orang penjaga yang berlutut di sudut tanpa berani bergerak! Mudah saia dilihat bahwa biarpun di situ ada Kaisar, sesungguhnya yang menguasai keadaan adalah Hong Beng, pemuda yang berdiri dengan gagahnya itu!

“Tak usah kau kuatir,” Kaisar menghibur selirnya, “biarpun pemberontak, dia adalah pemberontak yang baik! Lucu, bukan? Dia melarangku keluar dan melarang orang-orang masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau pengobatan puteramu terganggu! Ia menyangka bahwa ketiga orang tabib kita adalah orang yang berhati khianat. Lucu, bukan?”

Bukan main terkejutnya hati Song Tian Ci mendengar ini. Sampai berapa jauhnya orang muda itu mengetahui rahasia komplotannya? Akan tetapi ia menjadi lega hati ketika Kaisar tidak menyatakan sesuatu tentang dia dan Bu Kwan Ji.

“Siapa dapat percaya tuduhan jahat itu? Paduka, harap waspada dan hati-hati, siapa tahu kalau kedua orang ini benar-benar mempunyai niat buruk!”

Akan tetapi Kaisar hanya tertawa saja dan mengajak selirnya duduk di ujung yang jauh dari tempat tidur pangeran di mana mereka lalu bercakap-cakap dengan mesra.

Sementara itu, ketika Bu Kwan Ji melihat Hong Beng berada di kamar itu dengan tongkat di tangan, ia lalu keluar dan cepat mengajak kawan-kawannya berunding.

“Celaka,” kata Bu Kwan Ji setelah mengajak kawan-kawannya pergi dari situ, “pemuda putera Pendekar Bodoh itu bersama kawan wanitanya telah berada di kamar Pangeran. Tidak tahunya merekalah yang melakukan semua larangan dan agaknya mereka hendak mengobati Pangeran disaksikan sendiri oleh Kaisar!”

Tiga orang tabib itu menjadi pucat mendengar ini. “Tentu Kaisar telah diberi tahu oleh mereka tentang penukaran buah itu!” kata Ang Lok Cu.

“Habis, apa yang dapat kita lakukan?” kata Bu Kwan Ji bingung. “Kaisar sendiri berada di dalam kamar itu dan agaknya membantu mereka. Celaka!” Akan tetapi diam-diam ia menaruh pengharapan besar kepada kekasihnya, yakni Song Tian Ci yang sudah masuk ke dalam kamar Putera Mahkota.

“Kita masuk saja dengan berkeras dan mengeroyok kedua orang muda itu! Apa sih sukarnya?” kata Ban Sai Cinjin sambil mengebulkan asap huncwenya.

“Akan tetapi, hal ini akan membikin marah Kaisar dan celakalah kita kalau Kaisar sudah bercuriga kepada kita!” bantah Bu Kwan Ji yang menjadi gelisah sekali.

Akan tetapi dalam hal siasat kejahatan, Bu Kwan Ji kalah jauh oleh Ban Sai Cinjin, kalah cerdik dan kalah pengalaman. Sambil tertawa haha-hehe, Ban Sai Cinjin berkata,

“Bu-ciangkun, mengapa begitu bodoh? Kau adalah seorang panglima besar yang dipercaya penuh oleh Kaisar. Bukan rahasia lagi bahwa kau sedang mengejar-ngejar pemberontak, yakni putera-putera Pendekar Bodoh. Sekarang kau mengetahui bahwa kedua orang pemberontak yang kau kejar-kejar itu berada di dalam kamar Pangeran Mahkota. Kalau tiba-tiba kau menyerbu dengan para perwira untuk menangkap atau membunuh pemberontak-pemberontak yang berbahaya, biarpun Kaisar akan menjadi marah, mudah saja bagimu mencari alasan yang kuat. Kau dapat mengatakan bahwa kau menguatirkan keadaan Kaisar dan hendak melenyapkan orang-orang jahat yang dapat mencuri masuk ke dalam istana. Apa salahnya?”

Tiga orang tabib itu segera menyatakan persetujuannya dan Bu Kwan Ji berpikir keras. Ada benarnya juga ucapan kakek mewah ini. Memang ia dapat melakukan hal itu, dan seandainya ia dapat menangkap atau membunuh kedua orang muda tadi, kalau Kaisar marah mudah saja baginya untuk minta maaf, apalagi ada Song Tian Ci yang akan membelanya dan yang akan membujuk Kaisar!

Sore hari itu Pangeran Mahkota sudah nampak sehat setelah dua kali makan buah Giok-ko. Menurut perhitungan, sekali lagi atau sehari lagi maka akan tertolonglah nyawa Pangeran Mahkota ini. Diam-diam Goat Lan dan Hong Beng merasa girang sekali dan Goat Lan berkata kepada Kaisar,

“Oleh karena Paduka sudah menyaksikan sendiri bahwa hamba dan kawan hamba bukanlah orang-orang jahat atau pemberontak-pemberontak sebagaimana orang telah menuduh hamba, maka sudah jelas bahwa Pangeran Ong Tiang Houw sekeluarga tidak berdosa apa-apa. Maka hamba mohon, sudilah kiranya Paduka menaruh hati kasihan kepada keluarga Pangeran Ong dan membebaskan mereka.”

Kaisar mengangguk-angguk. “Mudah saja, Nona. Biarlah kita melihat dan menanti satu hari lagi sampai puteraku betul-betul sembuh.”

Sementara itu, dengan bisikan-bisikan mesra dan bujukan-bujukan halus, Song Tian Ci berusaha membangkitkan kecurigaan Kaisar terhadap dua orang muda itu. “Betapapun juga, hamba masih curiga besar,” katanya, “maka harus hamba sendiri yang minumkan obat kepada puteranda!”

Akan tetapi, ketika obat daun yang dimasak oleh Goat Lan sudah matang dan setelah didinginkan gadis itu hendak memberi minum kepada Pangeran, Goat Lan menolak keras ketika selir cantik itu hendak minta obat itu.

“Aku harus memeriksa dulu isi cawan itu!” kata selir itu dengan bengis. “Siapa tahu kalau kau memberinya minum racun seperti kemarin dulu?”

Goat Lan tidak menduga bahwa selir ini adalah pemegang kendali komplotan yang hendak membunuh Putera Mahkota, maka dengan halus ia berkata,

“Maaf, tidak boleh orang lain yang meminumkannya, kecuali aku sendiri!”

Selir itu hendak marah dan hendak merampas cawan, akan tetapi mana ia bisa mendekati Goat Lan? Pada waktu selir itu masih mengejar-ngejar sambil memaki-maki, Kaisar datang membujuknya.

“Biarlah, biarkan Nona itu meminumkannya sendiri. Kalau kelak ternyata bahwa putera kita sembuh, masih banyak waktu untuk mengadilinya!”

Malam hari itu, di atas genteng kamar itu terdapat empat orang yang mengintai ke dalam. Hanya Hong Beng dan Goat Lan saja yang dapat mengetahui hal ini, bahkan mereka berdua tahu betul bahwa yang datang adalah empat orang yang berkepandaian tinggi. Memangg yang berada di atas itu adalah Ban Sai Cinjin dan ketiga orang tabib istana. Bu Kwan Ji tidak berani muncul, karena tentu saja ia tidak mau secara berterang melakukan percobaan ini. Ia hanya memberi tugas kepada empat orang kawannya ini untuk terlebih dulu secara rahasia mencoba untuk membunuh kedua orang muda itu atau kalau tidak mungkin boleh membunuh Pangeran Mahkota!

Goat Lan dan Hong Beng tahu betul bahwa mereka tak usah menguatirkan keselamatan Kaisar dan selirnya. Siapa berani mengganggu Kaisar? Akan tetapi, keselamatan Putera Mahkota harus dijaga baik-baik. Pada malam hari itu, Goat Lan sedang memasak daun obat berikutnya untuk diminumkan esok hari, akan tetapi malam hari itu, begitu mendengar suara kaki orang di atas genteng, ia lalu meninggalkan masakan obat dan mendekati Pangeran Mahkota yang sudah tidur. Ia memberi isyarat dengan mata kepada Hong Beng yang membalasnya, dan pemuda ini pun siap sedia di dekat pintu dengan penuh kewaspadaan.

Sesaat suasana sunyi saja. Tiba-tiba terdengar angin mendesir dan tiga sinar kecil sekali menyambar ke bawah, ke arah Putera Mahkota, Goat Lan dan Hong Beng! Goat Lan menyambar ujung selimut di atas pembaringan itu dan sekali ia mengebut, dua batang jarum yang mengarah dia dan Pangeran telah menancap pada selimut itu! Juga Hong Beng dengan mudah saja mengelak sehingga nampak sebatang jarum hitam menancap pada lantai di dekatnya!

Kaisar belum tidur dan Kaisar ini di waktu mudanya pernah mempelajari ilmu silat, maka ia dapat melihat juga sinar tiga batang jarum tadi.

“Apakah itu?” tanyanya.

Goat Leng dan Hong Beng memberikan tiga batang jarum itu kepada Kaisar dan meletakkan senjata-seniata rahasia itu ke atas meja sambil berkata,

“Ada orang jahat sengaja menyerang hamba berdua dan Pangeran!”

Kaisar terkejut sekali, akan tetapi pada saat itu, dari atas menyambar turun asap hitam yang bergulung-gulung.

“Cepat, Koko. Telan obat ini!” Gadis itu mengeluarkan sebutir pel merah kepada Hong Beng yang segera menelannya. Hawa harum dan hangat keluar dari dalam perutnya, memenuhi mulut dan hidung. Goat Lan sendiri menelan sebutir pel merah dan berkata kepada Kaisar,

“Harap paduka menyelamatkan diri di ujung kamar, akan tetapi sebaiknya semua orang berbaring di atas lantai agar jangan terserang oleh asap beracun itu!” Dengan cekatan, Goat Lan lalu memondong Pangeran yang masih tidur, lalu menidurkannya di sudut kamar, di atas lantai yang sudah ditilami oleh selimut. Bingunglah semua pelayan dan mereka dengan wajah pucat lalu menurut nasihat Goat Lan, berbaring di atas lantai. Sementara itu, asap makin banyak masuk. Memang ini adalah perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengeluarkan asap pemabok. Dia tidak ingin membunuh Kaisar, maka asap yang dilepaskan dari huncwenya hanyalah asap yang cukup kuat untuk memabukkan orang.

Dalam suasana tegang dan sibuk ini, selir Kaisar tiba-tiba melompat dan berlari menuju ke tempat pemasakan obat.

“Aku masih tidak percaya kepadamu! Mungkin semua ini adalah buatanmu sendiri untuk meracuni kami!” Selir ini lalu berpura-pura lari menghampiri Goat Lan, akan tetapi dengan cerdik sekali kakinya menendang tempat obat sehingga tumpahlah obat ini. Goat Lan hendak menghalangi, akan tetapi terlambat. Dengan gemas Goat Lan lalu membentak,

“Mundurlah! Hanya kepada Kaisar dan Pangeran saja aku tunduk, tidak kepadamu! Kalau tidak mundur, terpaksa akan kupukul!” Akan tetapi sebelum ia menggerakkan tangan, selir itu telah menghisap asap hitam dan sambil mengetuh ia terhuyung-huyung. Untung Goat Lan cepat menangkapnya, lalu mengangkat dan membawanva kepada Kaisar. Gadis itu membiarkan selir tadi berbaring di situ dan ia cepat kembali ke tempat Hong Beng berdiri.

“Ban Sai Cinjin, manusia pengecut! Kalau kau berani, turunlah jangan menggunakan akal busuk!”

Terdengar Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, lalu disusul suara Ang Lok Cu, tosu yang melepas jarum-jarum berbisa tadi.

“Jangan gelisah, Hong-siang! Hamba sekalian datang akan membebaskan Paduka, menangkap pemberontak berbahaya ini!”

Genteng dibuka dari atas dan agaknya orang-orang di atas genteng itu akan menyerbu ke dalam, akan tetapi terdengar Kaisar berseru keras,

“Ang Lok Cu Totiang! Apakah kau dan yang lain-lain sudah gila? Hayo cepat mundur sebelum aku menjatuhkan hukuman mati kepada kalian!”

Suara Kaisar amat berpengaruh sehingga terdengar oleh para bayangkari di luar pintu yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar, akan tetapi mereka tetap saja tidak berani masuk.

Mendengar bentakan Kaisar ini, Ang Lok Cu dan kawan-kawannya menjadi jerih juga dan mereka mengajak Ban Sai Cinjin pergi dari situ. Ban Sai Cinjin merasa kecewa dan tidak puas, akan tetapi tanpa bantuan kawan-kawan ini, apa dayanya terhadap Goat Lan dan Hong Beng yang sudah dikenal kelihaiannya itu? Pergilah mereka dari situ dan asap hitam yang ringan itu perlahan-lahan naik ke atas genteng sehingga kamar itu menjadi bersih kembali. Selir yang tadinya pingsan telah siuman kembali, dan menangis terisak-isak karena mendapat marah dari Kaisar yang masih sebelum sadar bahwa selirnya inilah sungguhnya kepala komplotan jahat itu! Selama itu sampai pagi tidak terjadi suatu dan baiknya Goat Lan masih mempunyai banyak daun obat sehingga ia dapat memasak obat lagi. Begitu terang tanah dan Pangeran sudah bangun, gadis ini lalu memberi buah Giok-ko ke tiga. Semenjak makan obat Giok-ko dan daun To-hio, keadaan Pangeran itu sudah baik sekali. Kalau biasanya ia selalu mengeluarkan kotoran darah, kini darah telah berhenti dan sakit pada perutnya sudah lenyap sama sekali.

Giranglah hati Kaisar dan ia hendak menyuruh membuka pintu. Akan tetapi Goat Lan mencegahnya dan menyatakan bahwa masih sekali lagi Pangeran harus minum air daun obat siang nanti. Akan tetapi tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh dan disusul dengan teriakan-teriakan keras.

“Buka pintu! Tangkap pemberontak! Tolong dan bebaskan Kaisar!” Suara gaduh itu adalah suara senjata yang beradu karena ternyata bahwa Bu Kwan Ji dengan beberapa orang perwira serta tiga orang tabib itu telah datang menyerbu, memaksa membuka pintu. Ketika bayangkari melawan, mereka ini diserang!

Pintu terbuka dan lima orang bayangkari cepat menghampiri Kaisar untuk melindunginya, sedangkan yang lain masih menahan majunya para penyerbu itu!

“Cepat lindungi Kaisar dan Pangeran!” seru Goat Lan kepada lima orang bayangkari itu, kemudian ia dan Hong Beng lalu menyerbu keluar.

“Tangkap pemberontak!” seru Bu Kwan Ji ketika melihat kedua orang muda itu.

“Kaulah pemberontak dan pengkhianat!” seru Goat Lan, sedangkan Hong Beng tidak mau banyak cakap lagi, langsung menyerang dengan hebatnya. Dua orang perwira kena dirobohkan oleh tendangannya dan kini ia menyerbu tiga orang tabib istana itu dengan tongkatnya! Adapun Goat Lan segera dikeroyok oleh Bu Kwan Ji, Ban Sai Cinjin dan beberapa orang perwira ikut pula menyerbu, tiga orang mengeroyok Goat Lan dan tiga orang lagi mengeroyok Hong Beng. Enam orang perwira ini adalah kawan-kawan atau kaki tangan Bu Kwan Ji, demikian pun dua orang yang sudah roboh oleh tendangan Hong Beng.

Pertempuran hebat terjadi di luar kamar pangeran, tempat yang cukup luas itu. Kaisar menjadi marah sekali.

“Lekas panggil datang semua perwira dan pengawal istana!” perintahnya kepada seorang bayangkari, dan Kaisar lalu mengambil sendiri obat di atas tungku, lalu memberi minum secawan obat kepada puteranya. Obat terakhir dan selamatlah nyawa Pangeran Mahkota!

Amukan Hong Beng dan Goat Lan hebat sekali. Dengan sepasang bambu runcingnya, Goat Lan dapat menahan serbuan para pengeroyoknya, bahkan dengan kecepatan kilat ia berhasil menotok lambung Bu Kwan Ji yang roboh terguling dalam keadaan pingsan dan merobohkan pula dua orang perwira! Adapun Hong Beng juga sudah melukai pundak Ang Lok Cu dan bahkan telah menewaskan Cu Siang Hwesio! Akan tetapi mereka tetap masih dikurung, terutama sekali Ban Sai Cinjin merupakan lawan yang tangguh sekali, yang berusaha sekuat tenaga untuk merobohkan Goat Lan!

Pada saat itu, datanglah seorang panglima yang gagah sekali, diiringi oleh beberapa orang pengawal yang nampaknya gagah dan kuat. Panglima muda ini bukan lain adalah Kam Liong yang gagah perkasa! Pemuda ini menjadi bingung melihat betapa dua orang muda yang elok sedang mengamuk laksana sepasang naga dan banyak perwira pengawal telah rebah di sana-sini. Tentu saja tidak sukar baginya untuk memilih kawan, dan serta merta ia dan kawan-kawannya lain lalu mengeroyok Hong Beng dan Goat Lan. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan Kaisar,

“Kam-ciangkun! Jangan serang mereka! Bantulah mereka menangkap para pengkhianat!” Panglima muda ini menjadi terkejut dan heran sekali, terutama Ban Sai Cinjin yang mendengar bentakan Kaisar ini, maklumlah ia bahwa tidak ada harapan lagi baginya. Ternyata bahwa usaha Bu Kwan Ji telah gagal! Dengan menyebarkan asap hitamnya ia lalu melarikan diri keluar dari istana! Beberapa orang perwira hendak mengejarnya, akan tetapi dengan tabir asap hitam yang jahat sebagai pelindung, tak seorang pun dapat mendekatinya. Baru saja mencium asap, pengeiar-pengejar itu telah jatuh menggeletak seperti mayat! Akhirnya kakek ini dapat melarikan diri tanpa seorang pun dapat menangkapnya.

Adapun Cu Tong Hwesio tak kuat menghadapi tongkat Hong Beng, maka ia pun robohlah dengan dada tertotok tongkat. Sebentar saja, dengan bantuan Kam Liong, semua orang kaki tangan Bu Kwan Ji sudah tertangkap dan banyak yang tewas.

“Penggal kepala mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah matil” seru Kaisar dengan marah sekali. “Kecuali Bu-ciangkun, jangan bunuh dia, tahan dengan kuat. Aku perlu mendengar keterangan dan pengakuan tentang pengkhianatannya!”

Pucatlah wajah Tian Ci mendengar ini. Kalau Bu Kwan Ji dibunuh seketika itu juga, akan amanlah dia. Akan tetapi kini Kaisar hendak memeriksa perwira itu, sungguh amat berbahaya baginya!

Setelah keadaan menjadi beres, Goat Lan dan Hong Beng berlutut di depan Kaisar minta ampun tentang kelancangan mereka yang sudah berani menahan Kaisar di dalam kamar itu. Kaisar tersenyum dan berkata,

“Tentu saja ada hukuman bagi pelanggar dan ada hadiah bagi yang berjasa. Kalian telah melanggar dan berbareng berjasa pula. Sekarang tinggallah di gedung tamu, tunggu saja keputusanku!”

Sebetulnya Goat Lan dan Hong Beng hendak pergi pada saat itu juga, akan tetapi mereka tidak berani membantah kehendak Kaisar, dan lagi, mereka pun perlu sekali beristirahat setelah tiga hari tiga malam tidak pernah tidur dan jarang makan itu. Maka sepasukan pengawal lalu mengiringkan mereka dengan penuh penghormatan ke gedung tamu yang letaknya di sebelah kiri istana.

Pada keesokan harinya, terjadi peristika yang menggemparkan, ketika Bu Kwan Ji terdapat telah terbunuh di dalam kamar tahanannya! Tak seorang pun mengetahui siapa yang membunuh perwira ini, dan Kaisar menjadi marah sekali, karena sesungguhnya Kaisar ingin sekali membongkar rahasia komplotan itu. Tak seorang pun mengetahui, kecuali Song Tian Ci, selir Kaisar itu. Oleh karena sesungguhnya, yang membunuh adalah penjaga tahanan sendiri yang sudah “dibeli” oleh selir yang lihai ini. Song Tian Ci maklum bahwa kalau Bu Kwan Ji sampai diperiksa di bawah alat penyiksa, bukan tak mungkin kalau orang she Bu ini akan membongkar rahasia perhubungannya dengan perwira ini. Dengan matinya Bu Kwan Ji, maka amanlah nama Song Tian Ci dan semenjak saat itu, dia tidak berani lagi berpikir untuk merebut kedudukan calon kaisar untuk puteranya. Akan tetapi diam-diam Song Tian Ci menaruh hati dendam kepada Goat Lan dan Hong Beng, karena orang muda inilah yang menggagalkan rencananya dan bahkan membuat ia berada dalam bahaya besar. Wanita ini cerdik sekali dan mempunyai pandangan mata yang amat tajam. Pengalamannya di dalam kamar Pangeran telah membuka matanya dan ia dapat mengetahui bahwa antara Goat Lan dar Hong Beng terdapat pertalian cinta kasih yang besar. Inilah kesempatan membalas dendam! Ia maklum bahwa salah satu jalan terbaik untuk membalas dendam adalah menghancurkan kebahagiaan orang.

Dengan amat licin ia lalu membujuk Kaisar. Dipuji-pujinya Goat Lan setinggi langit dan tentu saja Kaisar membenarkan pujian ini.

“Sudah sepatutnya gadis seperti Nona Kwee itu diberi ganjaran yang setimpal dengan jasa-jasanya,” katanya mengakhiri pujiannya.

“Memang,” Kaisar membenarkan, “Aku sendiri pun sedang bingung memikirkan apa gerangan yang dapat kuhadiahkan kepadanya. Kalau dia seorang laki-laki tentu akan kuangkat menjadi seorang pembesar tinggi. Akan tetapi ia seorang gadis.”

“Kedudukan tinggi bagi seorang gadis adalah menjadi isteri seorang berpangkat tinggi. Nona Kwee amat cantik jelita dan gagah perkasa, mengambilnya sebagai seorang selir jauh lebih berharga daripada mengambil selir seorang bidadari kahyangan!”

Kaisar memandang selirnya ini dengan mata terbelalak. “Apakah kau mabuk? Aku sudah tua, mana dapat menyia-nyiakan hidup seorang gadis seperti dia? Tidak, aku tidak ingin menambah selirku!”

“Harap Paduka jangan salah paham,” Seng Tian Ci membantah, “maksud hamba bukan Paduka yang mengambilnya menjadi selir, akan tetapi untuk Pangeran Mahkota! Bukankah Nona Kwee sudah berjasa besar menyelamatkan nyawa Putera Mahkota? Lihat saja betapa telaten dan sabar Nona itu merawatnya, tanda bahwa Nona itu tentu suka kepada Pangeran. Kalau Nona itu bisa diambil sebagai selirnya, tidak saja dapat menjaga keselamatan Pangeran, juga hal itu merupakan hadiah yang paling berharga untuknya!”

Kaisar mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya. “Akan tetapi puteraku baru berusia lima belas tahun kurang, dan Nona itu agaknya sudah ada dua puluh tahun.”

“Soal usia tidak menjadi halangan, apalagi bukan sebagai isteri yang sah, hanya sebagai selir nomor satu.”

“Bagaimana kalau dia menolaknya?”

“Tak mungkin seorang gadis dari rakyat biasa akan menolak anugerah Paduka yang sedemikian besarnya. Penolakan berarti penghinaan karena sama halnya dengan menolak Pangeran! Akan tetapi, untuk hal ini mudah saja. Bukankah Nona Kwee dan kawannya sudah melakukan pelanggaran besar? Menahan Paduka di dalam kamar sampai tiga hari saja sudah cukup untuk menghukum mati kepada mereka. Sekarang hukuman ditiadakan, bahkan ia diangkat menjadi mantu Kaisar, tak mungkin dia menolak!”

Demikianlah, dengan siasat yang licin sekali Song Tian Ci berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan Giok Lan, berusaha memisahkannya dari Hong Beng untuk dijadikan selir oleh Pangeran Mahkota! Dan akhirnya Kaisar merasa setuju sekali.

Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng dipanggil menghadap. Para perdana menteri dan hulubalang lengkap menghadap raja yang duduk di singgasana dengan wajah girang. Juga Pangeran Mahkota itu hadir pula di dekat ayahnya. Semua pembesar yang setia kepada Kaisar, memandang kepada Pangeran itu dengan wajah riang. Semua sudah mendengar tentang penyembuhan itu maka ketika Goat Lan dan Hong Beng datang menghadap, semua mata ditujukan kepada mereka dengan kagum sekali. Sambil menunjuk kepada Goat Lan dan Hong Beng yang berlutut di hadapan Kaisar, Kaisar berkata, “Kalian semua yang hadir di sini sudah mendengar tentang jasa besar dari kedua orang muda ini. Lihatlah, betapa puteraku telah sembuh sama sekali, semua ini berkat pengobatan Nona Kwee Goat Lan dan sahabatnya yang bernama Sie Hong Beng. Oleh karena itu, hari ini aku hendak memberi hadiah dan anugerah kepada mereka berdua.”

Semua yang hadir menganggukkan kepala dan tersenyum, karena mereka semua merasa bahwa hal ini sudah cukup pantas.

“Anugerah pertama,” kata Kaisar, “adalah pembebasan mereka dari tuntutan. Sungguhpun mereka berdua telah berani berlaku lancang memasuki istana tanpa ijin, bahkan telah menahan Kaisar dan Pangeran di dalam kamar selama tiga hari, namun aku bebaskan mereka dari kesalahan ini.”

Goat Lan dan HongBeng mengangguk-anggukkan kepala menyatakan terima kasih mereka.

“Anugerah kedua bagi Sie Hong Beng, dia kuberi pangkat congtok dan boleh melakukan tugasnya di kota Nan-kiang, kuberi dua ekor kuda terbaik dari kandang kuda di istana dan uang perak seribu tael. Bagaimana penerimaanmu tentang anugerah ini, orang muda?”

Sie Hong Beng merasa terkejut sekali. Ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah, akan tetapi bagaimana ia dapat menolak hadiah Kaisar? Ia cepat mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan suara perlahan,

“Mohon ampun sebanyaknya kalau hamba berani berlaku tidak patut. Bukan sekali-kali hamba tidak menghargai kurnia Paduka yang dilimpahkan kepada hamba, akan tetapi sesungguhnya hamba tidak sanggup untuk menjabat pangkat di suatu tempat. Mohon Hong-siang suka mengampuni hamba dan membolehkan hamba menolak kedudukan dan pangkat itu.”

Hening suasana di situ. Tak seorang pun berani mengangkat kepala karena merasa heran dan juga kuatir mendengar jawaban Hong Beng. Kaisar sendiri merasa tertegun, akan tetapi kemudian terdengar ia berkata,

“Darah petualang agaknya mengalir di tubuhmu, anak muda. Tidak apalah, kalau kau tidak dapat menerima pangkat, biar hadiah uang kutambah lima ratus tael lagi!”

Lega hati Hong Beng dan biarpun ia suka menerima hadiah uang akan tetapi tentu saja ia tidak berani menolak lagi. Cepat ia menghaturkan terima kasihnya sambil berlutut.

“Dan sekarang untuk Nona Kwee Goat Lan yang paling berjasa dalam hati ini. Tanpa adanya Nona ini, mungkin puteraku takkan dapat sembuh dari sakitnya. Oleh karena pembelaannya ini, maka seakan-akan berarti bahwa jiwa raga Pangeran telah dapat dirampasnya dari tangan maut, dan oleh karena itu, biarlah untuk selama hidupnya, ia memiliki jiwa raga Pangeran! Biarpun puteraku baru berusia lima belas tahun dan belum menikah, akan tetapi aku mengangkat Nona Kwee menjadi selir pertama dari puteraku atau sama dengan mantuku yang pertama!”

Bukan main kagetnya Goat Lan dan Hong Beng mendengar ini. Goat Lan sampai menjadi pucat sekali dan kedua kakinya yang berlutut itu menggigil. Tak disangkanya sama sekali bahwa ia akan mendapat anugerah macam ini. Ia mengerling ke arah Hong Beng yang juga menjadi pucat dan mengerutkan kening, kemudian ketika tak disengaja ia menengok ke arah Pangeran Mahkota, Pangeran itu tersenyum-senyum malu, agaknya suka sekali akan keputusan ayahnya ini!

Semua yang hadir juga merasa setuju sekali dengan keputusan ini, karena hal ini dianggapnya sebagai anugerah terbesar yang mungkin diberikan kepada gadis itu.

“Bagaimana, Nona Kwee Goat Lan? Kau tentu dapat menerirna keputusan kami ini, bukan?” Kaisar mendesak ketika dilihatnya nona itu menundukkan mukanya. Ketika Goat Lan mengangkat muka, Kaisar melihat betapa pucatnya wajah gadis itu.

“Mohon beribu ampun bahwa hamba terpaksa tak dapat menerima penghormatan besar ini!”

Kali ini keadaan menjadi jauh lebih sunyi daripada ketika Hong Beng menolak pengangkatan. Bagaimana gadis ini berani menolak pinangan Kaisar yang diucapkan oleh Kaisar sendiri untuk Putera Mahkota? Hampir tak dapat mereka percaya! Terdengar orang menarik kursi dan ternyata Pangeran Mahkota yang mundur dari tempat duduknya memberi hormat kepada Kaisar sebagai pengganti ucapan maaf dan akhirnya, setelah memandang ke arah Goat Lan dengan muka merah dan mata sayu Pangeran ini lalu mengundurkan diri ke dalam! Setelah itu, belum juga Kaisar mengeluarkan suara. Tak seorang pun yang memandang wajah Kaisar yang sebentar pucat sebentar merah itu. Ia merasa terhina sekali. Di hadapan para pembesar, para hulubalang, seorang gadis biasa saja telah berani menolak pinangannya! Pinangan seorang raja besar untuk putera mahkota, ditolak oleh seorang gadis biasa saja. Alangkah hinanya! Teringat ia akan ucapan Song Tian Ci selirnya itu, bahwa gadis ini mempunyai dosa dan untuk dosa itu sudah, patut memberi hukuman mati kepadanya.

“Kwee Goat Lan…!” tiba-tiba suara Kaisar memecah kesunyian, suara yang cukup dikenal oleh para penghadap, karena kalau Kaisar sudah lambat dan parau suaranya, tanda bahwa orang besar ini sedang marah sekali, “insyaf benarkah kau akan apa yang kauucapkan tadi? Sadarkah kau bahwa jawabanmu itu berarti penolakan terhadap pinangan rajamu? Kau telah menghina Kaisar dan membuat malu seorang Pangeran, seorang Putera Mahkota! Tahukah kau akan dosamu yang besar ini?”

Dengan air mata menitik keluar dari pelupuk matanya, Goat Lan menganggukkan kepalanya. “Hamba terpaksa… hamba tak dapat menerima kehormatan besar itu.” Hanya kekerasan hatinya saja yang menahan Goat Lan tidak sampai menangis tersedu-sedu di situ!

“Kwee Goat Lan, tahukah kau bahwa dosamu masuk ke dalam istana tanpa ijin dan menahanku di dalam kamar sampai tiga hari itu saja sudah cukup untuk memberi hukuman mati kepadamu?”

Seorang menteri tua segeea maju dan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang penuh uban ia berkata, “Mohon Paduka sudi mengampuni gadis ini tentang dosa dan pelanggaran itu karena paduka tadi dalam anugerah pertama telah membebaskannya dari kesalahan itu.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: