Pendekar Remaja ~ Jilid 24

“Kaisar bu-to (tiada pribudi)! Sudah ditolong nyawa anaknya, masih tidak berterima kasih, bahkan hendak menjadikan calon mantuku sebagai selir Putera Mahkota! Dia kira macam apakah Goat Lan itu? Sungguh tak tahu membedakan orang!”

Kam Liong adalah seorang panglima muda yang mempunyai kesetiaan terhadap Kaisar, seperti ayahnya dahulu. Oleh karena itu, mendengar betapa Lin Lin memaki Kaisar, ia menjadi tak senang juga. Ia pun terkejut mendengar bahwa Goat Lan adalah tunangan Hong Beng sebagaimana baru saja disebut oleh Lin Lin bahwa Goat Lan adalah calon mantunya. Untuk membela nama Kaisar, Kam Liong berkata,

“Sayang sekali bahwa Nona Kwee Goat Lan atau Saudara Sie Hong Beng tidak berterus terang saja kepada Hong-siang bahwa mereka berdua sudah bertunangan. Kalau Kaisar mengetahui akan hal ini, siauwte merasa pasti Nona Kwee takkan dipaksa menjadi selir Putera Mahkota. Sesungguhnya, menjadi selir pertama dari Putera Mahkota adalah suatu kehormatan yang tinggi sekali, karena siapa tahu kalau Putera Mahkota kelak menjadi kaisar dan selir pertama amat dicintanya, wanita itu mempunyai harapan untuk menjadi permaisuri? Dengan penolakan Nona Kwee, penolakan secara langsung di hadapan para menteri dan pembesar tinggi, sudah tentu saja Kaisar terhina sekali sehingga menjatuhkan hukum buang. Siauwte menjelaskan hal ini agar Ji-wi tidak menjadi salah mengerti.”

Cin Hai dan Lin Lin mengangguk-angguk bahkan Cin Hai lalu menarik napas panjang dan berkata,

“Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu kaum bangsawan dan pembesar mempunyai kekuasaan dan kebenaran tersendiri, tanah yang mereka injak berada di atas kepala rakyat kecil!”

“Kita harus menyusul Beng-ji ke utara!” kata Lin Lin. “Baiknya kita memberi tahu kepada Engko An dan Enci Ma Hoa tentang hal ini. Mereka juga berhak mendengar berita perihal puteri mereka.”

“Ke utara bukan tempat dekat dan tidak dapat dilakukan dalam waktu pendek. Kalau kita langsung ke sana, bagaimana dengan Lili? Apakah dia takkan gelisah dan menanti-nanti kita?” kata Cin Hai. Kedua suami-isteri ini dalam ketegangannya sampai lupa bahwa di situ masih ada Kam Liong yang diam-diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Maaf, Ji-wi harap jangan mengira kurang ajar. Akan tetapi sesungguhnya perjalanan siauwte ke selatan akan melalui Shaning. Kalau kiranya Ji-wi tidak berkeberatan, siauwte dapat menyampaikan berita ini ke rumah ji-wi, karena siauwte pernah mendapat kehormatan bertemu dengan puteri Ji-wi.”

Cin Hai mengerutkan keningnya, akan tetapi Lin Lin menjawab dengan girang,

“Bagus, kau baik sekali, Ciangkun. Lili juga sudah menceritakan pertemuannya denganmu. Baiklah, kalau kau melalui Shaning, tolong kau beritahukan kepada puteri kami bahwa kami mungkin akan terus ke utara untuk menyusul Hong Beng.”

Kam Liong girang sekali, akan tetapi ia tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya, hanya menyatakan kesanggupannya dengan sikap sopan. Mereka lalu berpisah, kedua suami-isteri pendekar itu cepat mengaburkan kudanya ke Tiang-an, adapun Kam Liong dengan hati girang lalu menuju ke Shaning.

Ketika tiba di pekarangan depan rumah gedung yang ditinggali oleh Kwee An di Tiang-an, seorang pelayan tua yang segera mengenal mereka lalu menyambut dan memegang kendali kuda mereka untuk dibawa ke kandang kuda.

“Selamat datang, Sie-taihiap berdua, selamat datang!” katanya girang.

terdengar suara teriakan girang dan seorang anak laki-laki yang bermuka putih dan bundar berusia kurang lebih sembilan tahun berlari keluar dari pintu depan.

“Kouw-kouw dan Kouw-thio datang…” serunya.

“Cin-ji (Anak Cin), kau sudah besar sekarang!” seru Lin Lin yang segera menyambut anak itu dengan kedua tangat terbuka. Dipeluknya Kwee Cin, anak ke dua dari Kwee An dan Ma Hoa dengan girang dan. ketika Cin Hai memeluknya pula, anak itu berbisik kepadanya,

“Kouw-thio (Paman, suami Bibi), kapan kau mau mengajarku Liong-cu Kiam-sut?”

Cin Hai tertawa. Ketika anak ini baru berusia lima tahun, anak ini telah pula mengajukan permintaan untuk belajar ilmu pedang darinya. Dan sekarang anak ini menanyakan hal itu pula, sungguh seorang anak yang teguh kehendaknya.

“Bukankah ilmu pedang ayahmu juga bagus sekali? Dan ilmu bambu runcing ibumu tiada keduanya di dunia ini!” kata Cin Hai.

Kwee Cin berkata bangga, “Memang ilmu bambu runcing Ibu tidak ada bandingannya di atas dunia ini, akan tetapi kata Ayah, dalam hal ilmu pedang, tidak ada yang melebihi Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut dari Kouw-thio!”

“Baiklah, Cin-ji, kelak kalau ada waktu, kau boleh mempelajari ilmu pedang dariku.”

Kwee Cin menjadi girang sekali dan ia lalu menarik tangan bibi dan pamannya itu, diajak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, sebelum mereka melangkah ke ambang pintu, dari dalam keluarlah Kwee An dan Ma Hoa dengan wajah girang sekali. Kedua suami isteri ini telah mendengar dari pelayan akan kedatangan kedua orang tamu dari Shaning ini.

Mereka segera bercakap-cakap dengan gembira sekali, akan tetapi kegembiraan mereka itu tidak berlangsung lama, terutama bagi pihak tuan rumah. Ketika Lin Lin menceritakan kembali penuturan Kam Liong tentang peristiwa yang terjadi di istana kaisar dan hukuman yang dijatuhkan Kaisar kepada Goat Lan, wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Seperti juga suaminya, Ma Hoa juga puteri seoran g perwira, maka ia tahu betul akan arti semua peristiwa ini.

“Keputusan Kaisar tak dapat diubah. Tidak ada jalan lain, kita harus menyusul ke utara untuk membantu tugas yang diberikan kepada anak kita!” kata Ma Hoa setelah dapat menenteramkan hatinya dari berita mengejutkan ini.

“Memang kami berdua pun telah mengambil keputusan untuk menyusul ke sana,” kata Lin Lin yang kemudian menceritakan bahwa Hong Beng dan Goat Lan telah mendapat pertolongan Kam Liong bahkan telah diberi nasihat untuk menempati bekas benteng di lereng Bukit Alkata-san.

“Biar aku saja yang pergi bersama Lin Lin dan Cin Hai,” kata Kwee An kepada isterinya. “Kita tak dapat pergi berdua meninggalkan Cin-ji seorang diri di rumah. Banyak orang-orang jahat sedang memusuhi kita, maka tidak baik rumah ditinggalkan, apalagi kalau meninggalkan Cin-ji seorang diri tanpa ada yang menjaganya.”

“Ayah, aku mau pergi! Aku mau ikut pergi menyusul Enci Lan dan membantunya menghancurkan pengacau-pengacau yang mengganggu orang-orang di daerah perbatasan!” tiba-tiba Kwee Cin berkata dengan penuh semangat. Anak ini nampak lucu sekali, kedua tangannya dikepal dan sepasang matanya bersinar-sinar!

“Tidak boleh, sama sekali tidak boleh!” kata ayahnya. “Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah. Kau tinggal di rumah dengan ibumu!” Kwee Cin nampak murung, akan tetapi Ma Hoa yang dapat merasakan kebenaran ucapan suaminya ini, menghibur puteranya dan berkata, “Ayahmu berkata benar, Cin-ji. Kau tidak boleh ikut dan kita berdua tinggal di rumah menjaga kalau-kalau ada musuh datang.”

“Kalau ada musuh datang, jangan sembunyikan aku di dalam kamar, Ibu. Biarkan aku ikut menghadapi mereka!”

Setelah ibunya menyanggupi, baru Kwee Cin tidak murung lagi. Cin Hai dan Lin Lin hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An, dan pada keesokan harinya, Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin berangkat naik kuda menuju ke utara.

Kam Liong yang merasa senang sekali, membalapkan kudanya menuju ke kota Shaning. Ia merasa amat bahagia, karena dapat bertemu dengan Pendekar Bodoh dan isterinya dan dapat membantu mereka. Tak dapat tidak, ia tentu telah mendatangkan kesan baik di dalam hati mereka. Akan lebih licinlah jalan menuju kepada cita-citanya, yaitu melakukan pinangan terhadap Lili. Dan sekarang ia bahkan mendapat perkenan mereka untuk menyampaikan berita tentang Hong Beng dan tentang kedua suami isteri itu kepada Lili, gadis yang membuatnya tidak nyenyak tidur setiap malam. Akan tetapi, ketika ia teringat akan sesuatu, tak terasa pula ia menahan lari kudanya. Ia duduk di atas kuda yang kini tidak lari lagi itu dengan bengong dan wajahnya menjadi muram sekali. Bagaimana kalau ternyata bahwa Lili sudah ditunangkan dengan lain orang? Seperti halnya Hong Beng dan Goat Lan, tanpa ia duga mereka ini sudah bertunangan! Siapa tahu kalau-kalau Lili juga sudah ditunangkan! Tidak, tidak, tidak mungkin! Ia membantah jalan pikirannya sendiri dan kembali ia mengaburkan kudanya.

Ketika ia memasuki kota Shaning, tiba-tiba ia melihat seorang gadis berjalan seorang diri dari depan. Ia menjadi terkejut dan juga girang karena ia mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Lili yang berjalan sambil menggendong buntalan dan gagang pedangnya nampak di balik punggungnya. Biarpun gadis itu berada di tempat yang jauh, sekali melihat bayangannya saja, Kam Liong akan mengenalnya!

Ia cepat melompat turun dari kudanya dan kini ia berjalan kaki sambil menuntun kuda, menyongsong kedatangan Lili. Gadis ini pun telah mengenalnya, maka segera menghampirinya. Lili bukan seorang gadis pemalu dan ia ramah-tamah pula. Panglima muda ini telah berlaku ramah kepadanya, bahkan telah memberi surat tentang kakaknya, maka tidak dapat ia membiarkan pemuda itu lalu begitu saja. Setelah berhadapan keduanya memberi hormat sambil menjura.

“Sie-siocia (Nona Sie), sungguh kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini! Aku sedang menuju ke rumahmu untuk menyampaikan pesan orang tuamu!”

Lili tertegun. Bagaimana ayah-bundanya dapat menyampaikan pesan kepadanya melalui Panglima Muda ini? Akan tetapi, setelah membalas penghormatan pemuda itu ia berkata,

“Di manakah kau berjumpa dengan ayah ibuku, Kam-ciangkun?”

“Di luar kota Tiang-an. Akan tetapi, marilah kita duduk di sana karena ceritaku panjang, Nona.” Kam Liong menunjuk ke arah sebatang pohon besar yang berada di pinggir jalan, maka Lili lalu mengikuti pemuda ini ke tempat itu. Setelah mengingat kudanya pada akar pohon dan membiarkan binatang itu makan rumput di bawah pohon, Kam Liong lalu mengajak gadis itu duduk di atas batu besar dan mulailah ia menceritakan semua hal yang telah terjadi. Ia menuturkan tentang Goat Lan dan Hong Beng, kemudian menuturkan pula tentang pertemuannya dengan Pendekar Bodoh dan isterinya.

“Jadi kalau begitu, ayah dan ibuku telah berangkat dan menyusul ke utara, Kam-ciangkun?”

Kam Liong mengangguk. “Mungkin ayah-bundamu telah pergi bersama Kwee Lo-enghiong, karena menurut mereka,sebelum berangkat hendak pergi ke Tiang-an mengajak orang tua gagah she Kwee itu.”

Lili nampak kecewa. “Ah, kalau begitu mereka tentu telah berangkat. Aku harus segern menyusul mereka ke utara! Ah, kasihan sekali Engko Hong Beng dan Enci Goat Lan!” Kemudian ia bangkit berdiri, menjura kepada Kam Liong dan berkata,

“Kam-ciangkun, banyak terima kasih atas semua jerih payahmu menyampaikan berita penting ini kepadaku. Aku harus berangkat sekarang juga untuk menyusul mereka di utara!”

“Nanti dulu, Nona Sie. Ketahuilah bahwa aku sendiri pun hendak memimpin pasukan menuju ke utara. Aku telah berjanji kepada kakakmu untuk membantu mereka menghalau para pengacau dan membuat penjagaan kuat di perbatasan utara untuk menolak bahaya yang datang dari pihak Mongol. Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah selain di daerah itu amat tidak aman, banyak sekali penjahat, juga bagi yang belum pernah melakukan perantauan ke daerah itu, akan sukar mencari jalan ke Alkata-san. Tentu saja aku percaya penuh bahwa kau takkan gentar menghadapi para penjahat, akan tetapi, kalau kau sudi, lebih baik kau melakukan perjalanan bersama aku dan pasukanku. Selain tidak membuang banyak waktu untuk mencari-cari, juga lebih baik berkawan di tempat berbahaya itu daripada seorang diri saja. Daerah itu amat dingin dan kalau sampai kau terserang hawa dingin dan jatuh sakit, siapa yang akan menolongmu? Dengan bergabung, kita lebih kuat menghadapi bahaya. Tentu saja aku tidak memaksamu, yakni kalau kau sudi melakukan perjalanan dengan orang bodoh seperti aku ini.”

Lili berpikir sejenak. Panglima Muda ini cukup sopan dan pemurah, seorang kawan seperjuangan yang tidak menjemukan. Juga dia sudah banyak menolongnya, maka apa salahnya melakukan perjalanan bersama? Kalau dipikir-pikir memang betul juga ucapan Panglima Muda ini, karena bukankah Sin Kong Tianglo, guru dari Goat Lan yang demikian sakti pun terkena bencana di daerah dingin itu? Selain dari pada semua itu, ia masih ingin banyak bertanya kepada panglima ini, baik mengenai pengalaman-pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, maupun penjelasan tentang isi suratnya dulu yaitu surat dari Kam Liong yang memberitahukan bahwa kakaknya telah menjadi orang buruan!

“Baiklah, Kam-ciangkun, dan untuk kedua kalinya, terima kasih atas kebaikan hatimu.”

Kam Liong merasa girang sekali, seakan-akan kejatuhan bulan. Akan tetapi tentu saja ia tidak mengutarakan kegirangannya ini, hanya nampak senyumnya melebar dan wajahnya berseri.

“Marilah kita ke kota Shaning dulu, Nona. Aku perlu memberi pesan kepada pembesar di Shaning agar pekerjaanku memeriksa penjagaan di selatan dapat diwakili oleh seorang perwira lain.”

Demikianlah, kedua orang muda ini masuk kota Shaning dan Kam Liong cepat memberi perintah kepada pembesar setempat untuk menyampaikan surat-surat perintahnya kepada komandan barisan yang menjaga di daerah selatan. Pembesar itu ketika melihat tanda pangkat yang dikeluarkan oleh Kam Liong, segera menghormatinya sebagai seorang panglima kerajaan yang berkedudukan tinggi. Pemuda ini lalu minta seekor kuda yang baik untuk Lili, dan pada hari itu juga, berangkatlah keduanya keluar dari kota Shaning, langsung menuju ke utara!

Melihat sepasang orang muda ini membalapkan kuda mereka, sungguh amat sedap dipandang. Yang laki-laki muda, tampan, dan gagah sekali. Yang wanita cantik jelita dan juga amat gagah. Mereka seakan-akan merupakan dua orang pembalap yang melarikan kuda untuk berlomba. Diam-diam Kam Liong makin merasa kagum kepada Lili yang ternyata selain berkepandaian tinggi, juga pandai sekali naik kuda. Ingin sekali ia menyaksikan sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian puteri dari Pendekar Bodoh ini. Kepandaian Hong Beng telah ia saksikan dan ia merasa kagum sekali. Apakah Lili juga sepandai kakaknya?

Di sepanjang jalan, Kam Liong selalu disambut dengan penuh penghormatan oleh para perwira dan pembesar setempat sehingga diam-diam Lili juga mengagumi pemuda yang masih muda sudah menduduki tempat tinggi ini. Juga Kam Liong selalu memperlihatkan sikap sopan santun, jauh sekali bedanya dengan pemuda kurang ajar yang mencuri sepatunya itu! Lebih-lebih kalau ia teringat betapa pemuda kurang ajar itu telah menculik Lo Sian, makin gemaslah hatinya!

Ketika Kam Liong ditanya oleh Lili tentang pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, Panglima Muda ini lalu menceritakannya dengan sejelasnya, dibarengi dengan pujian-pujian kepada Goat Lan dan Hong Beng sehingga Lili makin suka kepada pemuda ini.

“Dan ketika aku melihatmu, kau nampak murung. Sebenarnya, kalau boleh kiranya aku mengetahui, kau sedang menuju ke manakah, Nona?”

Kalau pertanyaan ini diajukan oleh Kam Liong pada saat mereka bertemu, belum tentu Lili mau menceritakannya. Akan tetapi oleh karena gadis ini melihat betapa Kam Liong sungguh-sungguh seorang pemuda yang baik, gagah, dan boleh dijadikan kawan, ia lalu berkata sambil menarik napas panjang.

“Ah, di rumah telah terjadi peristiwa yang cukup menggemparkan dan membingungkan hatiku.”

Kam Liong segera memandang dengan penuh perhatian. “Apakah yang terjadi, Nona? Siapa kiranya orang gila yang berani main-main di rumah orang tuamu?”

“Ada orang jahat yang telah menculik Sin-kai Lo Sian bekas suhuku.”

“Apa…? Kau maksudkan Sin-kai Lo Sian, orang tua gagah yang dulu kujumpai bersamamu, orang tua yang menuliskan kata-kata bersemangat di dinding makam panglima itu?”

Lili mengangguk. “Benar, dia yang diculik orang.” Kemudian ia lalu menuturkan peristiwa yang terjadi di rumahnya, betapa seorang pemuda bernama Song Kam Seng masuk ke dalam rumah seperti maling dan betapa tahu-tahu Lo Sian telah lenyap. Ia tidak menceritakan kepada Kam Liong bahwa ia tahu siapa penculik itu. Hatinya segan menuturkan siapa adanya orang yang menculik Lo Sian karena kalau memang betul pemuda kurang ajar itu putera Ang I Niocu, bukankah itu berarti ia memburukkan nama Ang I Niocu yang amat dikasihi oleh ayah bundanya?

Kam Liong menggeleng-geleng kepalanya. “Aneh sekali. Orang yang bernama Song Kam Seng itu, mengapa ia masuk rumah seperti pencuri? Apakah yang dicurinya?”

“Entahlah, hanya kutahu bahwa ia menaruh hati dendam terhadap ayah, dan rupanya karena ayah tidak berada di rumah ia hendak mencuri sesuatu.”

“Yang lebih aneh lagi adalah lenyapnya Sin-kai Lo Sian. Siapa orangnya yang berani dan dapat menculiknya? Dia adalah seorang tua yang memiliki kepandaian tinggi bagaimana bisa diculik begitu saja? Aku masih meragukan apakah betul-betul diculik orang. Siapa tahu kalau memang dia sengaja pergi? Orang-orang kang-ouw memang banyak yang mempunyai watak aneh,” kata- pemuda itu.

Setelah diam sejenak, Lili teringat akan surat dulu itu, maka tanyanya, “Dan sekarang, Kam-ciangkun, maukah kau menjelaskan isi suratmu kepadaku dahulu itu? Kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh kakakku Hong Beng sehingga kau menyatakan bahwa ia menjadi orang buruan?”

Merahlah wajah Kam Liong mendengar pertanyaan ini. “Aku telah salah sangka, Nona. Ketika itu, aku memang mengira bahwa pemuda itu putera Pendekar Bodoh, karena ia pandai sekali dan ia dapat mainkan ilmu-ilmu silat yang menjadi kepandaian ayahmu. Akan tetapi ketika aku bertemu dengan Saudara Hong Beng barulah aku tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu bukanlah putera ayahmu.” Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dari tangan Gui Kongcu.

Mendengar penuturan ini, diam-diam Lili merasa dadanya tidak enak sekali. Hemm, tidak tahunya “pemuda kurang ajar” yang telah merampas sepatunya itu telah menolong gadis cantik yang dulu dilihatnya mengejar-ngejar pemuda itu dan agaknya hubungan mereka menjadi demikian eratnya sehingga mereka tidak dapat berpisah lagi! Mendengar penuturan Kam Liong bahwa pemuda yang disangka saudaranya itu mempunyai pedang yang berbentuk naga dan lidah merah dari pedang naga itu lihai sekali, ia tidak sangsi pula bahwa pemuda yang menolong Lilani itu tentulah pemuda kurang ajar yang mengaku-putera Ang I Niocu.

“Tahukah kau, Kam-ciangkun, siapa nama pemuda yang kausangka saudaraku itu?”

“Ia berwatak aneh, keras dan tinggi hati sekali, Nona. Ia tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi ilmu pedangnya sungguh-sungguh hebat sekali. Kurasa, melihat ilmu silatnya, kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah kepandaian kakakmu, Saudara Hong Beng.”

Lili mencibirkan bibirnya hingga dalam pandangan Kam Liong nampak manis sekali. “Huh, kepandaian macam itu saja mengapa dikagumi? Kalau aku bertemu dia pedang naganya pasti takkan berkepala lagi!”

Kam Liong merasa heran sekali mengapa gadis ini agaknya marah dan membenci pemuda berpedang naga itu, akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya. Makin besar keinginan hatinya untuk menyaksikan kepandaian gadis yang agaknya jumawa sekali ini. Ia tidak percaya kalau kepandaian gadis ini akan lebih tinggi daripada kepandaian pemuda yang menolong Lilani itu.

Ketika mereka tiba di kota raja, Kam Liong lalu mengajak Lili singgah di rumah gedungnya dan ia memperkenalkan gadis ini kepada ibunya yang sudah janda. Nyonya Kam ternyata adalah seorang wanita terpelajar yang halus dan ramah-tamah, mengajak Lili bercakap-cakap, sementara itu Kam Liong lalu membuat laporan kepada Kaisar, kemudian menerima perintah untuk memimpin sepasukan besar tentara pilihan untuk menuju ke utara dan menggempur para pengacau serta memperkuat penjagaan tapal batas karena terdengar berita akan adanya serangan dari Malangi Khan, raja bangsa Mongol.

Tiga hari Kam Liong membutuhkan waktu di kota raja untuk membuat persiapan, kemudian berangkatlah pasukannya di bawah pimpinannya. Kini pemuda itu mengenakan pakaian panglima dan makin gagah saja. Lili minta diri dari Nyonya Kam yang baik hati, kemudian gadis ini pun ikut dengan pasukan itu, naik kuda di depan bersama Kam Liong. Semua perwira dalam barisan itu yang mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh, menjadi kagum dan diam-diam mereka tersenyum karena menaruh harapan bahwa komandan mereka, Kam-ciangkun, akan berjodoh dengan pendekar wanita yang lincah dan jelita ini.

Lima hari kemudian setelah pasukan ini berangkat ke utara, mereka mulai melewati daerah yang amat sukar dan dingin. Diam-diam Lili merasa bersyukur ia ikut dalam rombongan ini, karena memang harus diakuinya bahwa kalau ia melakukan perjalanan seorang ia akan menempuh kesukaran besar sekali.

Pada suatu hari, ketika pasukan itu dengan susah payah mendaki sebuah lereng gunung yang tertutup salju, tiba-tiba Kam Liong dan Lili yang berkuda di depan, melihat dua orang tua berlari cepat dari arah kanan.

“Hei…! Bukankah itu Kam-ciangkun yang memimpin pasukan?” tiba-tiba seorang di antara kedua kakek itu berseru girang sambil berlari menghampiri. Ketika kedua orang ini sudah dekat, hampir saja Lili tak dapat menahan ketawanya. Ia melihat dua orang pendeta seorang tosu dan seorang hwesio yang keadaannya lucu sekali. Mereka sudah tua dan tosu itu bertubuh tinggi kurus, mukanya yang keriputan saking tuanya itu nampak makin menyedihkan karena selalu ia bermuka seperti orang hendak menangis! Adapun hwesio yang menjadi kawannya itu pun lucu sekali. Tubuhnya gemuk seperti tong besar, bajunya terbuka sehingga biarpun berada di tempat dingin, perutnya yang gendut nampak. Mukanya bundar seperti bal dan selalu menyeringai seperti orang yang merasa gembira sekali.

“Kam-ciangkun, apakah kau hendak memimpin pasukanmu ke Alkata-san?” tanya Si Tosu yang mau menangis itu.

Sebelum Kam Liong menjawab dan berkata dengan dua orang pendeta itu, Lili tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya girang,

“Apakah dua orang pendeta ini bukan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio?”

Kedua orang pendeta itu terkejut dan memandang kepada Lili dengan penuh perhatian. ”

Kam-ciangkun, siapakah Nona yang cantik dan gagah ini?” tanya Si Hwesio sambil tersenyum-seyum.

“Kawan lama, Ji-wi Losuhu (Dua Orang Pendeta). Kawan lama!” jawab Kam Liong gembira. “Tentu Ji-wi takkan dapat menduga siapa dia, karena dia ini adalah Nona Sie Hong Lie, puteri dari Sie Cin Hai Tai-hiap Pendekar Bodoh!”

“Apa…??” Ceng To Tosu dengan mewek-mewek mau menangis menghampiri Lili dan memegang tangan kirinya, sedangkan Ceng Tek Hwesio yang makin lebar ketawanya juga menghampirinya dan memegang tangan kanannya.

Lili menjadi gembira sekali. Seringkali ayah dan ibunya terkekeh-kekeh kalau menceritakan tentang kedua orang ini yang muncul di dalam masa ayah ibunya masih muda (baca cerita Pendekar Bodoh). Kini melihat mereka, biarpun sudah nampak tua sekali namun keadaan mereka masih tetap tidak berubah, persis seperti yang digambarkan oleh ayah dan ibunya, mau tak mau Lili lalu tertawa terpingkal-pingkal sehingga ia menggunakan tangan yang dipegang lengannya itu untuk menutupi mulutnya.

“Ji-wi Losuhu,” akhirnya ia berkata setelah dapat menahan geli hatinya. “Jiwi hendak pergi kemanakah? Apakah Jiwi telah bertemu dengan ayah bundaku?”

“Di mana ayahmu? Di mana Sie Taihiap? Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu dengan dia,” jawab Ceng To Tosu.

“Ayah dan Ibu juga berada di daerah utara ini,” kata Lili.

“Apa…? Betulkah?” tanya Ceng Tek Hwesio.

Kemudian Kam Liong lalu menuturkan kepada dua orang pendeta ini tentang semua peristiwa, yang terjadi sehingga kedua orang pendeta itu menjadi girang sekali.

“Ah, usiaku yang tinggal sedikit ini ternyata penuh dengan kebahagiaan,” kata Ceng To Tosu. “Berjumpa dengan Nona Sie Hong Li puteri Sie Tai-hiap sudah merupakan hal yang membahagiakan, apalagi sekarang ada kemungkinan bertemu dengan Sie Tai-hiap sendiri dan puteranya!”

“Akan tetapi Ji-wi Losuhu mengapa sampai berada di tempat ini? Ada keperluan penting apakah?” tanya Kam Liong.

Kini Ceng Tek Hwesio yang menceritakan dengan muka berseri-seri seakan-akan cerita itu merupakan sebuah cerita yang menggirangkan hati. Padahal cerita itu hebat dan seharusnya patut dibuat gelisah. Ternyata bahwa Malangi Khan, raja bangsa Mongol, telah membuat persiapan perang besar-besaran dan bala tentaranya dipecah menjadi dua, sebarisan menyerang dari utara dan barisan ke dua menyerang dari barat. Pertempuran-pertempuran kecil telah pecah antara barisan-barisan Mongol yang sebagian besar di bagian barat telah menggabung dengan tentara Tartar, melawan pasukan-pasukan penjaga kerajaan yang tidak berapa kuat.

“Sudah demikian hebat keadaannya?” kata Kam Liong dengan kaget.

“Itu masih belum hebat, Kam-ciangkun. Yang paling menggemaskan adalah terdapatnya banyak sekali orang-orang kang-ouw yang menggabungkan diri dan membantu Malangi Khan!”

“Hebat, siapakah pengkhianat-pengkhianat bangsa itu?”

“Belum diketahui, Ciangkun. Akan tetapi menurut laporan-laporan para perajurit yang menjaga di perbatasan dan yang dipukul mundur, diantara pemimpin-pemimpin pasukan Tartar dan Mongol, banyak sekali terdapat orang-orang bangsa kita sendiri yang berkepandaian tinggi. Oleh karena itu kami sengaja mencarimu atas perintah suhumu dan siok-humu (pamanmu) yang telah mengumpulkan beberapa orang gagah untuk menjadi sukarelawan menghadapi serbuan musuh.”

Berseri wajah Kam Liong mendengar berita ini. “Suhu dan Siok-hu? Di mana mereka?”

“Tak jauh dari sini, di hutan sebelah barat itu, Ciangkun. Marilah kau ikut kami menjumpainya dan kau juga, Nona Sie. Kau akan bertemu dengan orang-orang gagah di sana.”

Tentu saja Lili tidak menolak. Setelah berpesan kepada para perwira untuk memberi kesempatan kepada pasukan beristirahat di situ, Kam Liong dan Lili lalu berjalan kaki mengikuti dua orang pendeta itu. Mereka mempergunakan ilmu lari cepat, maka tak lama kemudian sampailah mereka di hutan yang nampak dari tempat pemberhentian tadi.

Suhu dari Kam Liong adalah seorang tosu yang bertubuh tinggi besar berwajah galak. Sungguhpun usianya telah mendekati empat puluh tahun, namun rambut kepalanya masih subur dan hitam sehingga ia nampak lebih muda dari usia sebenarnya! Tiong Kun Tojin masih terhitung suheng (kakak seperguruan) yang ilmu kepandaiannya lebih tinggi daripada mendiang Kam Hong Sin. Adapun yang disebut paman atau siok-hu dari Kam Liong, adalah adik misan dari ayah Kam Liong dan bernama Kam Wi. Kam Wi juga bukan orang sembarangan, karena ia memiliki kepandaian yang tinggi pula. Ia menjadi sute (adik seperguruan) dari Tiong Kun Tojin, selain telah mewarisi ilmu silat Kun-lun-pai, juga Kam Wi telah mempelajari Ilmu Houw-jiauw-kang yang lihai, semacam ilmu silat tangan kosong yang amat berbahaya. Oleh karena itu, Kam Wi jarang sekali mempergunakan senjata, sungguhpun ia pandai pula main pedang. Selalu ia menghadapi lawannya dengan tangan kosong, mengandalkan Ilmu Silat Houw-jiauw-kang yang sempurna. Dan oleh karena Ilmu Silat Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau) inilah maka ia mendapat julukan Sin-houw-enghiong (Pendekar Harimau Sakti)!

Tiong Kun Tojin dan Kam Wi mempunyai watak yang cocok, keduanya beradat keras, berangasan, akan tetapi jujur dan gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan. Kalau Tiong Kun Tojin sudah berusia empat puluh tahun, adalah Kam Wi baru berusia tiga puluh tahun lebih. Juga ia mempunyai tubuh tinggi besar seperti suhengnya. Ketika mendengar tentang penyerbuan dan pengacauan bangsa Mongol dan Tartar di daerah perbatasan negaranya, kedua orang gagah ini timbul semangat dan jiwa patriotnya. Mereka meninggalkan Gunung Kun-lun-san dan menuju ke utara. Di sepanjang jalan mereka mengajak para tokoh kangouw. Kemudian mereka lalu berkumpul di hutan itu, hutan yang hanya dilindungi oleh pohon-pohon yang gundul karena daunnya telah rontok semua, dahan-dahannya kini penuh oleh salju yang menggantikan kedudukan daun-daun yang sudah lenyap.

Di tengah-tengah hutan yang berada di lereng gunung itu terdapat sebuah gua besar dan karena adanya gua besar inilah maka tokoh-tokoh Kun-lun-pai itu memilih tempat ini.

Ketika Kam Liong dan Lili yang mengikuti dua orang pendeta itu tiba di luar gua, mereka melihat sinar api dari dalam gua. Ternyata bahwa di dalam gua itu duduk lima orang yang mengelilingi api unggun yang bernyala besar. Hawa panas keluar dari gua itu dan karena hawa di luar gua amat dinginnya, maka panas ini mendatangkan udara yang nyaman sekali.

“Aduh, enak… enak…!” kata Ceng Tek Hwesio sambil tersenyum-senyum dan mendekati mulut gua.

“Kam-ciangkun, kalau kau dan Nona Sie kuat menghadapi panas yang hebat itu, masuklah, bertemu dengan suhumu. Kami berdua tidak kuat bertahan lama-lama di dalam neraka itu!” kata Ceng To Tosu.

Dari luar Kam Liong sudah melihat suhunya dan pamannya duduk bersama tiga orang lain yang tidak dikenalnya. Nampak mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya. Kam Liong maklum bahwa tanpa memiliki tenaga lwee-kang yang tinggi, tidak mungkin orang akan dapat bertahan duduk di gua yang panas itu sampai lama. Ia telah maklum akan kepandaian Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu, namun kedua orang pendeta itu masih tidak kuat tinggal lama-lama di dalam gua dan kini hanya duduk di luar gua! Akan tetapi, tidak percuma ia menjadi murid Tiong Kun Tojin, tokoh luar biasa dari Kun-lun-pai. Ia maklum bahwa untuk kuat bertahan di dalam gua yang panas itu, ia harus mengerahkan lwee-kangnya memperkuat daya Im-kang di dalam tubuh untuk melawan daya Yang-kang. Ia melirik kepada Lili yang memandang ke dalam dengan sikap acuh tak acuh.

“Nona, kalau terlalu panas untukmu, biarlah aku masuk menjumpai Suhu dan siok-hu.”

“Siapa bilang terlalu panas? Aku pun ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang suka mendekati api itu,” jawab Lili, karena diam-diam gadis ini pun tertarik hatinya melihat lima orang yang seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian mereka itu.

Mendengar jawaban ini, selain tertegun Kam Liong juga kagum dan gembira, karena kali ini ia akan dapat menyaksikan dan membuktikan sampai di mana keunggulan kepandaian gadis ini. Ia lalu melangkah masuk diikuti oleh Lili.

Bukan main panasnya hawa di dalam gua itu. Baiknya di langit-langit gua terdapat lobang di antara batu karang sehingga asap api unggun itu dapat keluar dan tidak menyesakkan napas di dalam gua. Akan tetapi api yang besar itu benar-benar membuat kulit serasa hampir terbakar.

Lima orang yang sedang bercakap-cakap ketika melihat kedatangan Kam Liong dan Lili, segera menunda percakapan mereka dan kini semua mata tertuju kepada dua orang muda ini.

“Suhu, sungguh menggembirakan dapat bertemu dengan Suhu di sini!” kata Kam Liong setelah berlutut, kemudian ia berpaling kepada pamannya dan berkata, “Siok-hu, apakah Siok-hu baik-baik saja?”

Kedua orang tua itu girang melihat Kam Liong.

“Ah, kebetulan sekali. Kau baru datang?” tanya suhunya. “Memang kami sedang mempercakapkan tentang penyerbuan musuh. Kebetulan kau datang, karena sesungguhnya secara resmi, kaulah yang bertanggung jawab menghadapi mereka.”

Sebaliknya ketika Kam Wi melihat Lili yang masih muda dan cantik itu dapat pula bertahan memasuki gua dan sama sekali tidak nampak kepanasan, diam-diam ia merasa kagum sekali.

“Eh… Liong-ji (Anak Liong), siapakah Nona yang gagah ini?”

“Dia adalah Nona Sie Hong Li, puteri dari Sie Tai-hiap!”

“Kaumaksudkan Sie Tai-hiap Pendekar Bodoh?” tanya Kam Wi setengah tidak percaya. Ketika Kam Liong mengangguk membenarkan pertanyaan ini, tidak saja Kam Wi yang memandang dengan penuh perhatian bahkan Tiong Kun Tojin dan kefiga orang lain itu memandang dengan penuh perhatian. Terdengar seorang di antara ketiga kakek yang duduk di situ mengeluarkan seruan heran dan berkata,

“Ah, kebetulan sekali! Sudah lama kami rindu sekali untuk menyaksikan kepandaian Pendekar Bodoh yang amat terkenal namanya, hari ini bertemu dengan puterinya, setidaknya kami akan dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaian Pendekar Bodoh yang terkenal itu!”

Mendengar nama ayahnya disebut-sebut oleh suara orang yang agaknya sombong ini, Lili lalu mengangkat mukanya memandang dengan penuh perhatian. Suhu dari Kam Liong dan juga pamannya, memang patut menjadi orang gagah. Wajah mereka keren dan tubuh mereka tinggi besar, terutama sekali pandang mata kedua orang tokoh Kun-lun-pai ini amat tajam dan memandang dengan jujur dan langsung. Akan tetapi, tiga orang kakek yang duduk di situ benar-benar membuat Lili hampir tertawa geli. Orang-orang macam ini pantas sekali kalau menjadi sahabat Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio, karena mereka inipun mempunyai bentuk tubuh yang aneh. Yang bicara tadi adalah seorang yang tubuhnya seperti anak-anak, kepalanya botak dan jenggotnya sudah putih semua. Ia mengempit sebuah payung butut. Orang ke dua bertubuh gemuk pendek dengan muka lebar dan mulut serta mata besar. Kepalanya tertutup kopyah pendeta yang bertuliskan huruf “Buddha”. Orang ini selalu tersenyum lebar dan pada pinggangnya terlilit rantai yang panjang dan besar. Orang ke tiga bertubuh tinggi kecil dan kepalanya yang kecil tertutup kopyah. Kumisnya hanya beberapa lembar di kanan kiri sedangkan jenggotnya yang hitam berbentuk jenggot kambing. Ia memegang sebatang tongkat sederhana.

Lili sama sekali tidak pernah menduga bahwa tiga orang ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun) yang amat tersohor namanya. Seperti pernah dituturkan di bagian depan, Goat Lan ketika mencarikan obat untuk putera pangeran, pernah bertemu dengan tiga orang kakek itu. Juga pernah dituturkan bahwa ketiga orang kakek ini setelah mendengar dari Ban Sai Cinjin bahwa pertandingan pibu melawan rombongan Pendekar Bodoh akan diadakan setahun lagi, yaitu pada permulaan musim semi, lalu meninggalkan Ban Sai Cinjin untuk melanjutkan perantauan mereka.

Sungguhpun ketiga orang kakek ini mempunyai kegemaran yang buruk, yaitu suka sekali berkelahi dan mencoba ilmu kepandaian serta tidak mau kalah, namun mereka masih tetap merupakan orang-orang gagah yang tidak mau melakukan kejahatan. Bahkan orang pertama, Thian-he Te-it Siansu yang bertubuh kate, dan Lak Mau Couwsu yang pendek gemuk, mempunyai jiwa pahlawan. Mereka berdua ini merasa tak senang mendengar betapa bangsanya banyak yang diculik dan dirampok oleh orang-orang Mongol dan Tartar. Orang ke tiga, yang bernama Bouw Ki, sebetulnya adalah seorang keturunan Mongol, akan tetapi ketika mendengar betapa kedua orang suhengnya hendak membantu tentara kerajaan mengusir pengacau-pengacau bangsa Tartar dan Mongol, ia segera menyatakan kesediaannya untuk membantu pula! Bouw Ki dulu menjadi tokoh di negara Mongol, akan tetapi semenjak Malangi Khan merebut tahta kerajaan, ia melarikan diri dan mendendam kepada Malangi Khan yang sudah banyak membunuh keluarganya.

Demikianlah, ketika Hailun Thai-lek Sam-kui bertemu dengan Tiong Kun Tojin dan Kam Wi, kedua orang tokoh Kun-lun-pai ini, mereka segera mengadakan pertemuan di dalam gua itu untuk merundingkan maksud mereka membantu gerakan tentara pemerintah mengusir bangsa Tartar dan Mongol. Inilah sebab mengapa Lili menjumpai mereka di dalam gua. Ketika kelima orang tua itu mengadakan pertemuan di dalam gua, dengan jujur Kam Wi menyatakan bahwa hawa amat dingin. Mendengar ini, Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak dan ia mengusulkan membuat api unggun di dalam gua. Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu disuruh mengumpulkan kayu kering dan tak lama kemudian bernyala api unggun besar di dalam gua itu. Panasnya tak tertahankan lagi oleh Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu yang kemudian disuruh oleh Tiong Kun Tojin untuk mencegat perjalanan barisan dari kerajaan dan kebetulan bertemu dengan Kam Liong.

Adapun lima orang pandai itu, setelah menyalakan api unggun, timbullah sifat Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menguji kepandaian orang. Mereka dengan sengaja menambah bahan bakar sehingga kini api unggun itu bukan diadakan untuk mengusir hawa dingin, melainkan diadakan untuk menguji kepandaian masing-masing! Tentu saja kedua orang tokoh Kun-lun-pai yang mengerti maksud tiga orang tamunya, tidak mau menyerah kalah begitu saja dan seakan-akan tidak mengerti maksud mereka, kedua orang ini mengajak Hailun Thai-lek Sam-kui bercakap-cakap sampai Kam Liong dan Lili datang.

Lili yang merasa mendongkol juga mendengar ucapan Thian-he Te-it Siansu yang menyinggung nama ayahnya, lalu berkata,

“Siapakah gerangan Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah) yang telah mengenal nama ayahku?”

Ketiga orang aneh itu tidak menjawab, melainkan tertawa-tawa saja dan Bouw Ki sekarang menambah lagi kayu bakar pada api unggun itu sehingga makin besarlah nyalanya dan makin panas hawanya.

Tiong Kun Tojin merasa tidak enak melihat sikap tiga orang kakek itu, karena menghadapi puteri Pendekar Bodoh ia tidak berani memandang rendah, maka ia lalu memperkenalkan,

“Kam Liong, dan kau juga Nona Sie. Ketahuilah bahwa tiga orang tua ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui yang amat terkenal. Mereka datang untuk membantu kita mengusir pengacau di perbatasan.”

Kam Liong terkejut dan menjura dengan hormat kepada tiga kakek itu, akan tetapi Lili tiba-tiba tertawa mengejek.

“Ah, tidak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang kakek gagah perkasa, demikian gagah perkasanya sehingga suka mengeroyok seorang gadis yang bernama Goat Lan!”

Tiong Kun Tojin dan Kam Wi, juga Kam Liong tertegun mendengar ucapan ini, dan mereka merasa khawatir sekali melihat gadis itu berani mengejek tiga orang kakek itu. Akan tetapi, memang sudah menjadi watak Hailun Thai-lek Sam-kui yang aneh, mereka ini tidak pernah marah, dan hanya satu kesukaannya, yaitu berkelahi mencari kemenangan! Kini mendengar ejekan Lili, mereka tidak marah. Lak Mau Couwsu berkata sambil memperlebar senyumnya,

“Ah, murid Sin Kong Tianglo itu telah menceritakan tentang perjumpaannya dengan kami bertiga? Bagus, katakan kepadanya bahwa lain kali dia takkan kami lepaskan sebelum mengaku kalah. Ha-ha-ha!”

Tiong Kun Tojin adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang dikenal berwatak keras, jujur dan suka berterus terang. Melihat betapa di antara tiga orang kakek itu dan Lili terdapat pertentangan, ia lalu berkata terus terang,

“Dalam waktu seperti ini, di mana negara sedang terancam oleh musuh dari luar, sungguh amat disesalkan kalau di antara kita saling cakar-cakaran! Lebih baik kita melupakan untuk sementara waktu urusan lama yang terjadi di antara kita, dan mempersatukan tenaga untuk menolong negara! Adapun tentang pengujian kepandaian, dapat dilakukan di sini tanpa membahayakan nyawa! Biarlah kutambah lagi api ini untuk melihat siapa yang paling kuat di antara kita.” Sambil berkata demikian, tokoh Kun-lun-pai ini lalu menambahkan kayu bakar lagi pada api unggun yang sudah amat besar itu. Kam Liong hampir tak dapat menahannya. Peluhnya telah mulai keluar membasahi jidatnya. Ketika ia mengerling ke arah Lili, ternyata bahwa gadis ini masih tersenyum-senyum seakan-akan tidak merasa panas sama sekali!

“Kam Liong, kau keluarlah. Kau tidak ikut serta dalam ujian ini!” kata suhunya untuk menolong muridnya ini, karena ia maklum bahwa kepandaian Kam Liong masih belum cukup matang untuk dapat menahan panas yang demikian hebatnya. Kam Liong lalu menjura dan setelah mengerling sekali kepada Lili, ia lalu keluar dari situ, disambut oleh Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu.

“Aduh, kukira kau takkan keluar, Kam-ciangkun. Kalau aku yang berada di dalam, bisa kering seluruh tubuhku!” kata hwesio gemuk itu.

“Eh, apakah Nona Sie masih bertahan di dalam?” tanya Ceng To Tosu heran.

Kam Liong mengangguk. Ia belum berani mengeluarkan suara, karena pergantian hawa dari dalam yang panas menjadi dingin sekali di luar, membutuhkan pengerahan tenaga lwee-kang untuk mengatur aliran darahnya.

Adapun Lili yang menghadapi lima orang itu, sambil tersenyum-senyum memandang kepada mereka. Dilihatnya betapa muka kelima orang itu merah sekali tersorot oleh api unggun dan betapa mereka mempertahankan dengan sin-kang mereka yang tinggi, tetap saja nampak betapa mereka itu telah mulai terserang rasa panas yang luar biasa ini. Lili sendiri juga merasakan serangan hawa panas itu, akan tetapi dia bukanlah puteri Pendekat Bodoh dan cucu murid Bu Pun Su kalau harus kalah sedemikian mudahnya. Ia telah mempelajari latihan sin-kang yang luar biasa dari ayahnya, yaitu latihan sin-kang pokok yang diajarkan oleh Bu Pun Su dahulu kepada ayahnya. Pengerahan sin-kangnya membuat tubuhnya sebentar-sebentar terasa dingin sekali dan ia berseru,

“Aduh dinginnya…”

Thian-he Te-it Siansu memandangnya dengan kagum dan heran, lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, “Memang dingin sekali! Biar kutambah kayu bakarnya!” Kakek botak yang kecil ini lalu menambah kayu bakar lagi sehingga api berkobar makin tinggi dan hawa panas makin menghebat!

Melihat hal ini, diam-diam Lili terkejut sekali. Sin-kang dari lima orang tua ini benar-benar hebat sekali, dan karena ia kalah latihan, kalau dilanjutkan akhirnya ia sendiri yang akan mundur dan mengaku kalah. Akan tetapi, Lili adalah puteri Pendekar Bodoh dan ibunya terkenal amat cerdik. Gadis ini pun memiliki kecerdikan, ketabahan, dan ketenangan yang luar biasa sekali. Ia lalu berpikir dan mengingat-ingat dongeng yang dulu sering ia dengar dari kakeknya, yaitu Yousuf. Setelah mengingat sebuah dongeng tentang padang pasir, ia lalu tersenyum, menghafalkan sajak tentang Abdullah yang terserang panas di padang pasir. Setelah hafal betul di luar kepala, gadis ini lalu tersenyum-senyum girang. Ia lalu berdiri dan mengumpulkan semua kayu bakar, dan dilemparkannya kayu bakar itu ke dalam api unggun. Api kini menyala hebat sekali sampai sundul pada langit-langit gua!

Lima orang tua itu kaget sekali dan cepat mereka mengerahkan tenaga dalam, karena kini hawa panas luar biasa hebatnya. Lili sendiri lalu duduk bersila, mengatur napas dan duduk seperti orang bersamadhi, seluruh perasaannya melupakan adanya api unggun, bahkan kini membayangkan keadaan di luar gua yang tertutup salju dan dingin sekali. Setelah hawa panas mereda, tiba-tiba gadis ini lalu menyanyikan sajak yang tadi dihafalnya di luar kepala. Ia bernyanyi tanpa mempergunakan perasaannya sehingga ia tidak terpengaruh oleh nyanyiannya sendiri.

Lima orang tua itu mendengar suara yang merdu dan indah, tak dapat bertahan lagi lalu memperhatikan kata-kata nyanyian itu. Memang Lili mempunyai suara yang amat merdu, dan terdengarlah ia bernyanyi keras,

“Abdullah kelana sengsara.

Haus, lapar, lelah tak berdaya.

Tersesat di gurun pasir tandus.

Matahari membakar, panas… haus!

Tak tertahankan panasnya, serasa dibakar.

Mata silau, terasa pedas, perih, nanar.

Kulit mengering.

Kepala pening…

Aduh panasnya, panas tak tertahankan…!”

Dahulu ketika Yousuf menyanyikan sajak ini ketika mendongengkannya tentang Abdullah si musafir kelana, Lili seringkali merasa ikut panas dan seakanakan ia merasakan betapa sengsaranya berada di padang pasir yang kering itu. Kini ia bernyanyi dengan suaranya yang merdu, didengarkan dengan penuh perhatian oleh lima orang tua itu. Dan akibatnya sungguh hebat!

Ketika ia bernyanyi sampai di bagian mata silau, terasa pedas, perih, nanar, terdengar keluhan Kam Wi yang tidak kuat lagi membuka matanya, seakan-akan api unggun yang bernyala itu berubah menjadi matahari yang luar biasa panas dan menyilaukan matanya. Kepalanya menjadi pening dan betapa pun ditahan-tahannya, ia tidak kuat lagi sehingga untuk berjalan keluar saja ia tidak kuat lagi. Suhengnya, Tiong Kun Tojin, yang melihat keadaan sutenya ini, lalu menggerakkan kaki kanannya mendorong tubuh sutenya itu yang terpental dan bergulingan keluar sampai di pintu gua. Setelah mendapatkan hawa segar, barulah Kam Wi dapat mengerahkan tenaga dan melompat keluar dengan terengah-engah!

Tiong Kun Tojin menolong sutenya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sendiri sudah hampir tidak kuat, apalagi ketika Lili mengulang nyanyiannya dan menambahkan semua sisa kayu bakar pada api unggun itu! Juga Hailun Thai-lek Sam-kui dengan susah payah mencoba untuk menahan serangan hawa panas yang luar biasa dan yang kini berlipat ganda hebatnya setelah mereka mendengarkan nyanyian Lili.

“Tutup mulut…! Jangan menyanyi…!” Thian-he Te-it Siansu membentak, akar tetapi bentakannya ini membuat ia makin lemah dan pertahanannya tak dapat melawan pengaruh panas yang mendesak. Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat keluar dari situ, diikuti oleh kedua orang sutenya. Sesampai di luar, mereka terengah-engah dan cepat-cepat duduk bersamadhi untuk mengatur napas.

Tiong Kun Tojin mencoba untuk mempertahankan diri. Sebagai seorang tokoh Kun-lun-pai yang ternama, ia merasa malu kalau harus mengaku kalah dalam hal menghadapi api unggun oleh gadis yang cerdik dan banyak akal ini. Akan tetapi gema nyanyian Lili betul-betul membuat ia bohwat (kehabisan akal) dan terpaksa ia lalu berdiri dari tempat duduknya, memandang ke arah Lili yang ternyata kini bernyanyi sambil duduk bersamadhi meramkan matanya itu. Lili memang sedang memusatkan tenaganya dan biarpun mulutnya bernyanyi, ia bernyanyi tanpa menggunakan perasaan atau pikiran. Tahulah Tiong Kun Tojin akan akal bulus gadis ini dan diam-diam ia menjadi kagum sekali. Ia tidak kuat berdiam di situ lebih lama lagi dan dengan tindakan perlahan ia keluar dari gua. Berbeda dengan yang lain-lain, ia keluar dengan tenang dan sambil berjalan, ia telah mengatur napasnya sehingga ketika tiba di luar gua, keadaannya tidak apa-apa, hanya mukanya saja telah penuh dengan peluh!

Baru saja tiba di luar, berkelebatlah bayangan Lili. Gadis ini hanya nampak merah saja mukanya, tanpa peluh setitik pun. Kemerahan mukanya menambah kemanisan gadis ini sehingga semua orang memandangnya dengan penuh kekaguman.

“Ah, tidak mengecewakan kau menjadi puteri Pendekar Bodoh!” Tiong Kun Tojin memuji dengan setulus hati.

Juga Sin-houw-enghiong Kam Wi yang berwatak kasar dan jujur lalu berkata kepada Kam Liong,

“Liong-ji, kalau kau bisa berjodoh dengan Nona ini, hatiku akan puas sekali dan roh ayahmu akan tersenyum bahagia! Aku akan mencari Pendekar Bodoh untuk mengajukan pinangan!”

Kam Liong menjadi kaget sekali dan menyesal akan kelancangan pamannya yang kasar itu. Diam-diam ia mengerling ke arah Lili yang menjadi merah sekali mukanya, bukan merah karena panasnya api, akan tetapi merah sampai ke telinga-telinganya saking jengah, malu dan marahnya. Ia memandang dengan mata bersinar tajam kepada pembicara itu, agaknya siap untuk memaki. Akan tetapi Kam Liong buru-buru menghampirinya dan menjura amat dalam lalu berkata,

“Nona Sie, mohon maaf sebanyaknya apabila ucapan pamanku menyinggung hatimu. Percayalah, Siok-hu (Paman) tidak bermaksud buruk dan sama sekali tidak hendak menghinamu. Harap kau sudi memaafkannya.”

Mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda ini, Lili merasa tidak enak hati kalau melanjutkan kemarahannya terhadap orang tinggi besar yang kasar itu. Akan tetapi tetap saja ia mengomel,

“Agaknya orang di sini tidak tahu aturan dan boleh bicara apa saja seenak hatinya, tanpa mempedulikan orang lain seakan-akan dia yang lebih tinggi dan lebih pintar. Kam-ciangkun, marilah kita melanjutkan perjalanan, aku hendak mencari keluargaku. Untuk apa lama-laima di sini? Kalau kau masih hendak lama berdiam di tempat ini, terpaksa aku akan pergi lebih dulu!”

Kam Liong menjadi serba salah dan memandang kepada suhu dan pamannya. Akan tetapi sebelum ketiga orang ini mengeluarkan kata-kata, Thian-he Teit Siansu, orang pertama dari Thai-lek Sam-kui itu, berkata sambil tertawa,

“Nona Sie, kau telah mengakali kami bertiga. Kau cerdik sekali! Akan tetapi hatiku belum puas karena belum melihat kepandaianmu yang sesungguhnya. Marilah kau melayani kami sebentar, hendak kulihat apakah kepandaianmu sama tingginya dengan akal bulusmu!” Sambil berkata demikian, kakek kate ini menggerak-gerakkan payungnya.

Pada saat itu Lili sedang merasa jengkel dan marah karena ucapan Kam Wi tadi, maka kini mendengar orang menantangnya, ia menjawab marah,

“Kalian ini tiga orang iblis tua ternyata jahat dan sombong. Kaukira aku takut kepada kalian? Di dalam waktu seperti ini, kalian datang katanya hendak membantu perjuangan dan mengusir para pengacau, akan tetapi siapa tahu bahwa kalian hanya hendak mencari permusuhan dengan setiap orang yang kaujumpai. Kalian mengajak berkelahi. Baik, majulah aku Sie Hong Li tidak takut sedikit pun!” Sambil berkata demikian sekali ia menggerakkan kedua tangannya, pedang Liong-coan-kiam telah berada di tangan kanan dan kipas maut telah berada di tangan kirinya! Ia berdiri dengan sikap gagah sekali, mukanya merah matanya menyala.

Melihat sikap ini, Tiong Kun Tojin lalu cepat melangkah maju dan berkata kepada Hailun Thai-ek Sam-kui,

“Sam-wi sungguh tidak dapat membedakan orang. Bicara terhadap seorang gadis muda seperti Nona Sie, seharusnya jangan dipersamakan dengan pembicaraan terhadap seorang yang sudah masak oleh api pengalaman.” Kemudian tosu ini lalu berpaling kepada Lili dan berkata,

“Nona Sie, sesungguhnya memang sudah menjadi watak Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menguji kepandaian setiap orang yang dijumpainya. Ini adalah cara penghargaan mereka. Kalau yang dijumpainya itu seorang yang mereka anggap tidak cukup sempurna kepandaiannya dan tidak cukup berharga, biar dipaksa-paksa sekalipun jangan harap akan dapat membuat mereka turun tangan mengajak bertanding! Tantangannya ini merupakan sepenghormatan yang aneh, Nona. Oleh karena itu, harap kau jangan marah dan lakukanlah pertandingan ini secara persahabatan, yaitu hanya merupakan ibu (pertandingan kepandaian) biasa saja untuk menentukan siapa yang lebih unggul tingkatnya!”

Lili tersenyum menyindir ketika menjawab, “Totiang, aku pun bukan seorang kanak-kanak, sungguhpun harus aku akui bahwa pengalamanku belum banyak. Ketiga orang tua ini termasuk tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi mengapa untuk menghadapi aku seorang saja mereka bertiga hendak maju berbareng? Bukan aku merasa takut, akan tetapi bukankah kalau hal ini hanya sebuah pibu biasa nama mereka akan merosot turun?”

Bouw Ki orang ke tiga dari Thailek Sam-kui tertawa bergelak.

“Nona Sie, kami bertiga disebut tiga setan, mengapa takut nama merosot? Kami tidak mempedulikan nama dan juga menjadi kebiasaan kami untuk maju bersama, hidup bertiga mati bertiga! Nona, kalau seorang di antara kami menang, kami tak dapat memperebutkan kemenangan itu dan kalau kalah, harus kami pikul bertiga. Ha-ha-ha!”

Lili adalah seorang gadis yang keras hati, mendengar omongan ini ia menjadi makin marah.

“Majulah, majulah! Siapa takut padamu?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: