Pendekar Remaja ~ Jilid 25

Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui mengeluarkan suara aneh dan payungnya menyambar ke arah pinggang Lili.

“Anak Pendekar Bodoh, awaslah!” serunya.

Lili melihat bahwa biarpun payung itu merupakan benda sederhana saja, namun ia tahu bahwa itu adalah sebuah senjata luar biasa. Tidak saja gagang payung dapat mewakili sebuah tongkat, juga setiap jari-jari payung itu merupakan tongkat-tongkat kecil yang dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah. Maka ia tidak berlaku ayal lagi dan cepat ia mengebutkan kipas di tangan kirinya menangkis. Terdengar suara keras ketika kipas dan payung beradu dan ketika dari kipas ini datang angin pukulan yang aneh, Thian-he Te-it Siansu menjadi kagum sekali.

Begitu pukulan pertama dari payung Thian-he Te-it Siansu dapat tertangkis oleh Lili, menyusullah serangan-serangan dari Bouw Ki yang menggerakkan tongkatnya dan Lak Mou Couwsu yang mainkan rantai besarnya. Sebentar saja Lili telah terkurung oleh tiga orang tokoh besar itu dengan rapat sekali. Akan tetapi, gadis yang berhati tabah dan berani sekali ini tidak menjadi gentar seujung rambut pun, bahkan ia lalu mempercepat permainan kipas San-sui-san-hoat peninggalan dari Swi Kiat Siansu dan memperhebat pula serangan pedang di tangan kanannya yang memainkan Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut ciptaan ayahnya.

Pada saat Thian-he Te-it Siansu menyerang dengan payung dikembangkan ke arah lambung Lili, gadis ini berseru keras dan cepat mengembangkan kipasnya pula, dikebutkan ke arah payung sedangkan pedangnya tidak tinggal diam, melainkan menahan datangnya rantai dan tongkat!

“Nanti dulu!” seru Thian-te Te-it Siansu ketika merasa betapa kebutan kipas itu telah menolak hawa pukulan dari payungnya. “Bukankah yang kaumainkan ini ilmu kipas maut San-sui-san-hoat dari Swi Kiat Siansu?”

Lili tidak mau menahan senjatanya dan sambil menyerang terus ia berseru, “Kalau betul kau mau apa?”

“Ha-ha-ha! Katanya kau puteri Pendekar Bodoh, kenapa menghadapi dengan Ilmu Kipas Maut dari Swi Kiat Siansu? Mana kepandaian dari Pendekar Bodoh, ayahmu?” Thian-he Te-it Siansu yang paling pandai bicara di antara kedua mengejek Lili.

Memang sesungguhnya, Thian-he Tiat Siansu agak jerih menghadapi ilmu kipas maut dari Swi Kiat Siansu, karena ia pernah jatuh bangun oleh Swi Kiat Siansu yang mainkan ilmu silat ini. Ketiga orang Iblis Geledek dari Hailun ini memang pernah mengadu kepandaian dengan Swi Kiat Siansu dan biarpun tokoh terbesar dari utara ini hanya mainkan sebuah kipas butut, namun ketiga orang iblis ini terpaksa mengakui keunggulan Swi Kiat Siansu! Kini melihat bahwa gadis muda ini pandai pula mainkan ilmu Kipas San-sui-san-hoat, selain jerih terhadap ilmu kipas itu sendiri, juga Thian-he Te-it Siansu merasa jerih menghadapi nama kakek jagoan dari utara itu. Maka ia sengaja mengejek Lili agar mengeluarkan kepandaian yang dipelajarinya dari Pendekar Bodoh.

Lili adalah seorang gadis muda yang betapapun cerdik dan tabahnya, namun masih kurang pengalaman. Dalam sebuah pibu, sebetulnya ia boleh saja mengeluarkan segala kepandaian yang pernah dipelajarinya, karena namanya juga pibu (mengadu kepandaian), kalau ia menyimpan dan tidak mempergunakan sesuatu kepandaiannya, kalah menang tak dapat dipergunakan sebagai ukuran. Mendengar ejekan Thian-he Te-it Siansu itu, ia menjadi marah sekali.

“Tua bangka, kaukira aku hanya mengandalkan pelajaran dari Swi Kiat Siansu belaka? Untuk mengalahkan orang-orang macam kalian ini cukup dengan pedang dan tangan kiriku.” Sambil berkata demikian, Lili lalu menyelipkan kipas mautnya di pinggang, kemudian ia menyerang lagi sambil memutar pedang Liong-coan-kiam sehingga pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang menyilaukan mata.

“Bagus sekali. Aku tak pernah menyaksikan ilmu pedang seperti ini, akan tetapi betu1-betul hebat!” seru Lak Mou Couwsu yang jujur. Memang Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut adalah ciptaan dari Pendekar Bodoh sendiri, yaitu sebagian dari Ilmu Pedang Daun Bambu yang amat sulit dipelajarinya, maka jarang ada orang yang pernah menyaksikannya. Ilmu Pedang Daun Bambu adalah ilmu pedang yang baru dapat dimainkan oleh orang yang telah memiliki kepandaian pokok segala ilmu silat dan dasar-dasar gerakan tubuh seperti yang telah dimiliki oleh Pendekar Bodoh biarpun Lili telah dilatih oleh ayahnya semenjak kecil, akan tetapi tetap saja gadis ini belum dapat menangkap pelajaran mengenal pokok dan dasar ilmu silat seperti yang dimiliki ayahnya, maka sukarlah baginya untuk mempelajari Ilmu Pedang Daun Bambu. Sebagai gantinya, Pendekar Bodoh lalu menciptakan Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut untuk puterinya.

Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut ini memang benar-benar hebat, tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Lak Mou Couwsu yang jujur. Kalau sekiranya yang menghadapi ilmu pedang ini seorang di antara Hailun Thai-lek Sam-kui, belum tentu mereka akan kuat menahan. Gerakan pedang ini sama sekali tidak pernah terduga dan pergerakannya amat wajar, tetapi tepat dan sesuai dengan gerakan lawan. Ilmu pedang ini menjadi “hidup” apabila dipergunakan menghadapi serangan lawan, karena sambil menangkis pedang Liong-coan-kiam itu terus bergerak dengan otomatis menyerang bagian yang lemah dari lawan yang masih berada dalam kedudukan menyerang itu. Pernah dituturkan di dalam cerita Pendekar Bodoh betapa pendekar ini menciptakan Ilmu Pedang Daun Bambu dengan menjadikan daun-daun bambu yang bergerak-gerak tertiup angin sebagai “lawan-lawan” yang ratusan jumlahnya. Kalau daun-daun bambu itu tidak bergerak tertiup angin, agaknya Sie Cin Hai si Pendekar Bodoh takkan berhasil menciptakan ilmu pedang yang lihai ini. Akan tetapi dengan ratusan daun bambu bergerak-gerak, maka gerakan pedangnya menjadi “hidup” sehingga biarpun pohon bambu terlindung oleh ratusan daunnya yang bergerak-gerak, tetap saja ujung pedangnya dapat melukai batang-batang bambu tanpa melanggar daun sehelai pun!

Tentu saja dalam hal ilmu pedang, Lili masih jauh di bawah kepandaian ayahnya. Selain belum matang betul, juga pengertiannya tentang pokok dasar gerakan masih belum sepandai ayahnya. Ditambah pula kini ia menghadapi keroyokan tiga tokoh besar di dunia kang-ouw yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu silat mereka yang aneh pula, maka setelah bertempur puluhan jurus, Lili mulai terkurung rapat dan terdesak.

Sementara itu, tidak saja Tiong Kun Tojin dan Kam Wi berdiri dengan amat kagum menyaksikan ilmu kepandaian Lill, akan tetapi terutama sekali Kam Liong menjadi terkejut. Sedikit pun tak pernah disangkanya bahwa gadis ini memiliki kepandaian sedemikian hebatnya sehingga dapat menghadapi keroyokan Hailun Thai-lek Sam-kui! Akan tetapi ia merasa bukan main cemasnya ketika melihat betapa gulungan sinar pedang gadis itu makin menjadi kecil karena terdesak oleh tiga senjata istimewa yang dimainkan oleh tiga iblis tua itu.

“Liong-ji,” tiba-tiba Kam Wi berkata dengan penuh kekaguman, “Nona ini benar-benar patut menjadi isterimu! Aku akan melamarnya untukmu kepada Pendekar Bodoh!” Ucapan ini dikeluarkan dengan keras sehingga terdengar pula oleh Lili yang menggigit bibirnya dengan muka makin merah. Akan tetapi ia tidak sempat untuk melayani orang kasar yang jujur ini.

“Memang mengagumkan sekali,” kata Tiong Kun Tojin, “pinto sendiripun setuju sepenuhnya kalau Kam Liong dapat berjodoh dengan Nona Sie yang gagah perkasa ini.” Akan tetapi ucapan tosu ini hanya perlahan dan terdengar oleh Kam Liong dan Kam Wi saja. Tentu saja Kam Liong merasa amat gembira mendengar ucapan dua orang ini.

“Sungguhpun teecu merasa setuju sekali akan tetapi orang seperti teecu mana berharga untuk menjadi jodohnya?” kata pemuda ini dengan hati berdebar.

Ucapan terakhir dari pemuda ini terdengar oleh Lili maka ia menjadi makin tak enak hati. Ia ingin sekali mengalahkan tiga orang lawannya dan segera pergi dari mereka yang membuatnya amat jengah dan malu, akan tetapi bagaimana ia dapat lolos dari kepungan tiga orang lawan yang hebat ini? Ia mendengar penuturan Goat Lan betapa gadis kosen itu pun kalah menghadapi keroyokan Thai-lek Sam-kui, maka teringatlah ia akan cerita Goat Lan bahwa tiga iblis tua ini tidak bermaksud mencelakakan lawannya dan hanya bertempur mati-matian karena haus akan kemenangan belaka!

Mereka takkan melukaiku, pikir Lili, dan gadis ini memutar otaknya yang cerdik. Kalau aku tidak menggunakan senjata, mereka tentu takkan mendesak hebat dalam kekhawatiran mereka melukaiku dan apabila mereka memperlambat gerakan, dengan ilmu silat Kong-ciak-sinna (Ilmu Silat Burung Merak) apakah aku takkan dapat merampas senjata mereka? Setelah berpikir demikian gadis ini lalu menyimpan pedangnya dan kini ia bersilat dengan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna ilmu silat tangan kosong ciptaan Bu Pun Su kakek gurunya yang khusus untuk menghadapi lawan bersenjata!

Tubuh gadis yang lincah ini menjadi makin ringan dan ia melompat ke sana kemari bagaikan burung merak indah menyambar-nyambar diantara sambaran senjata lawan mencari kesempatan untuk mengulur tangan dan mencengkeram senjata lawan untuk dirampasnya.

“Aduh, hebat! Inilah agaknya Kong-ciak-sinna dari Bu Pun Su yang lihai!” Thian-he Te-it Siansu berseru. “Dia mau merampas senjata, lekas kita menghadapinya dengan tangan kosong pula!”

Ternyata kakek kate ini cerdik sekali dan ia telah tahu akan maksud gadis itu. Lili menjadi makin gelisah dan gemas. Karena sekarang ketiga orang lawannya bertangan kosong dan mereka ternyata adalah ahli-ahli lwee-keh yang tenaganya hebat, harapannya untuk dapat lolos menjadi tipis sekali. Di dalam kemarahannya, Lili lalu mengubah gerakan tubuhnya dan kini kedua lengannya mengebulkan uap putih dan hawa pukulan yang hebat keluar dari lengan yang berkulit putih halus itu!

“Hebat sekali, inilah Pek-in-hoat-sut dari Bu Pun Su!” teriak Thian-te Te-it Siansu dengan gembira dan ia telah mencabut payungnya lagi yang segera dikembangkan untuk menangkis hawa pukulan yang luar biasa dari Lili. Juga kedua orang adiknya lalu mengeluarkan senjata masing-masing karena dengan bertangan kosong, mereka tidak berani menghadapi Pek-in-hoat-sut yang lihai.

Bukan main gemasnya hati Lili. Ia berseru nyaring, “Baiklah, aku akan mengadu jiwa dengan kalian!” Dan sekejap mata kemudian, kipas dan pedangnya telah berada di kedua tangannya. Inilah keputusan terakhir yang berarti bahwa gadis ini bukan hendak pibu lagi, melainkan hendak bertempur mati-matian dengan maksud membunuh!

Akan tetapi, ketiga orang iblis tua itu tidak takut sama sekali bahkan terdengar mereka tertawa-tawa mengejek sambil mengurung Lili. Memang mereka bertiga ini tentu saja lebih kuat daripada Lili, dan betapapun gadis ini mainkan kipas dan pedangnya, tetap saja ia terkurung dan tak dapat lolos!

Tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit dan tahu-tahu tanpa dapat dicegah lagi oleh Tiong Kun Tojin atau Kam Wi, Kam Liong telah meloncat masuk ke dalam gelanggang pertempuran dengan pedang di tangan.

“Sam-wi Totiang, harap suka melepaskan Nona Sie!” teriak Panglima Muda ini sambil memutar pedangnya, membantu Lili menangkis serangan lawan.

Thai-lek Sam-kui menunda serangannya, “Ha-ha-ha, Kam-ciangkun, tentu saja kami akan menghentikan serangan apabila Nona Sie suka mengaku bahwa kepandaian Hailun Thai-lek Sam-kui lebih tinggi daripada kepandaian Pendekar Bodoh!”

“Jangan ngacau!” bentak Lili. “Biarpun ada sepuluh orang seperti kalian, ayahku takkan kalah!” Dengan gemas sekali, gadis ini lalu menyerang lagi dan disambut oleh Thai-lek Sam-kui sambil tertawa-tawa.

“Sam-wi Totiang, jangan serang dia!” Kam Liong kembali mencegah.

“Kam-ciangkun, kau sayang kepada Nona ini? Boleh kaubantu padanya agar lebih gembira permainan ini. Ha-ha-ha!” Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak dan demikianiah, pertempuran kini menjadi lebih ramai lagi dengan adanya Kam Liong yang membantu Lili. Lili menjadi makin gemas. Bantuan dari Kam Liong tidak menyenangkan hatinya, karena hal itu dianggap merendahkannya. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Betapapun juga, harus ia akui bahwa seorang diri saja tak mungkin ia akan dapat lolos dan kini bantuan Kam Liong, biarpun tak dapat mendatangkan kemenangan baginya namun dapat membuat ia agak bernapas lega, tidak repot seperti tadi.

Melihat betapa pertempuran itu, terutama dari pihak Lili, dilakukan dengan sungguh-sungguh dan mati-matian, timbul hati khawatir pada Tiong Kun Tojin dan Kam Wi. Keduanya memberi tanda dengan mata dan sekali mereka menggerakkan tubuh, mereka telah melompat ke dalam gelanggang pertempuran.

“Sam-wi Beng-yu, harap suka mengalah dan mundur!” kata Tiong Kun Tojin sambil menggerakkan tangannya ke arah payung yang dipegang oleh Thian-he Te-it Siansu. Si Kakek Kate ini merasa betapa angin pukulan yang hebat keluar dari tangan tokoh Kun-lun-pai itu, maka cepat ia menarik kembali payungnya dan melompat mundur.

Juga Kam Wi sebagai tokoh Kun-lunpai ke dua, memperlihatkan kepandaiannya. Ia hanya mengebutkan kedua ujung lengan bajunya, akan tetapi kedua ujung baju itu sudah cukup untuk menggempur tongkat dan rantai di tangan Bouw Ki dan Lak Mou Couwsu sehingga senjata mereka terpental ke belakang!

Hailun Thai-lek Sam-kui melompat mundur dan Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak. “Nona Sie, sekarang kau sudah sepantasnya mengaku bahwa kepandaian Hailun Thai-lek Sam-kui masih lebih unggul daripada kepandaian Pendekar Bodoh!”

“Manusia sombong, kalau sewaktu-waktu kalian mendapat kehormatan bertemu dengan ayah, kalian ini seorang demi seorang tentu akan mendapat tamparan untuk melenyapkan kesombonganmu!” Setelah berkata demikian, Lili lalu mengangguk kepada Kam Liong dan berkata, “Kam-ciangkun, maafkan, aku tidak dapat berdiam di sini lebih lama lagi!” Ia lalu melompat jauh dan tidak perdulikan lagi seruan Kam Liong yang hendak menahannya.

Tiong Kun Tojin menarik napas. “Seorang gadis yang gagah. Aku setuju usul Sute untuk menjodohkannya dengan Kam Liong.”

Kam Wi menegur Thai-lek Sam-kui mengapa mereka ini sebagai orang-orang tua masih suka mengganggu seorang gadis muda seperti itu. Adapun Kam Liong, betapapun mendongkolnya terhadap Thai-lek Sam-kui, namun ia tidak berani menegur. Mereka lalu masuk kembali ke dalam gua yang kini telah padam api unggunnya, lalu merundingkan cara untuk mencegah penyerbuan tentara musuh, yaitu bala tentara Mongol dan Tartar.

“Pinto mendengar berita bahwa barisan Mongol dibantu oleh orang-orang pandai dari pedalaman, entah siapa-siapa orangnya. Oleh karena inilah maka pinto dan Siok-humu sengaja mengumpulkan kawan-kawan untuk menghadapi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang tak tahu malu itu,” kata Tiong Kun Tojin kepada muridnya. “Baiknya kaupimpin dulu pasukanmu untuk menjaga garis depan di sepanjang tembok besar, pinto akan menanti dulu di sini sampai kawan-kawan kita tiba di sini, baru kami akan menyusul ke garis depan.”

Setelah berunding, Kam Liong lalu kembali ke tempat di mana pasukannya berhenti dan kemudian memimpin pasukannya maju terus ke utara. Di dalam hatinya ia merasa menyesal dan kecewa sekali karena Lili telah meninggalkannya dan diam-diam ia menyumpahi Hailun Thai-lek Sam-kui yang telah menyebabkan gadis itu menjadi marah-marah dan pergi. Akan tetapi diam-diam ia merasa girang dan bersyukur sekali karena suhu dan siok-hunya telah berjanji hendak meminang Lili untuknya kepada Pendekar Bodoh! Maklum bahwa gadis itu pasti akan pergi ke Gunung Alkata-san dimana Hong Beng dan Goat Lan berada, maka ia tidak merasa khawatir, lalu mempercepat perjalanan pasukannya ke Gunung Alkata-san.

***

Mari kita sekarang mengikuti perjalanan Lie Siong putera Ang I Niocu pemuda remaja yang gagah perkasa dan berwatak sukar dan aneh itu. Sebagaimana telah diketahui, Lie Siong berhasil menotok Lo Sian hingga tak berdaya dan membawa Pengemis Sakti itu. Ia menculik Lo Sian bukan karena ia benci kepada pengemis ini, akan tetapi sesungguhnya karena ia ingin sekali mengetahui keadaan ayahnya, yaitu pendekar besar Lie Kong Sian.

Setelah membawa Lo Sian jauh dari Shaning malam hari itu, Lie Siong lalu menurunkan Lo Sian dari pondongannya dan meletakkannya di atas rumput. Ia tidak membebaskan Lo Sian dari totokan, sebaliknya bahkan lalu merebahkan diri di bawah pohon dan tidur. Pemuda ini telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah bangun dan ketika melihat ke arah Lo Sian, ia melihat pengemis tua itu masih berbaring tak dapat bergerak. Timbul rasa kasihan dalam hatinya maka ia lalu menghampiri Lo Sian dan melepaskan totokannya. Beberapa kali urutan dan tepukan pada tubuh pengemis itu, terbebaslah Lo Sian. Akan tetapi oleh karena selama setengah malam Lo Sian berada dalam keadaan tertotok, dia masih merasa lemas dan hanya dapat bangun duduk dengan payah sekali. Pengemis ini segera meramkan mata bersamadhi untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan mengatur napasnya agar jalan darahnya bisa normal kembali. Lie Siong lalu menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan pengemis itu dan membantunya menyalurkan hawa dan tenaga dalamnya sehingga sebentar saja Lo Sian merasa tubuhnya hangat dan kuat. Diam-diam ia merasa heran melihat pemuda ini. Baru saja menotok, menculik dan menyiksanya dengan membiarkannya dalam keadaan tertotok sampai setengah malam, akan tetapi sekarang bahkan membantunya melancarkan jalan darahnya sehingga cepat menjadi baik kembali. Sungguh pemuda yang aneh sekali!

Ia membuka matanya dan menggerakkan tangannya. Lie Siong lalu menjauhkan diri dan duduk menghadapi pengemis itu.

“Anak muda, apa maksudmu menculik dan membawaku ke tempat ini?” kata-kata pertama yang keluar dari mulut Lo Sian ini terdengar tenang sekali. Pandangan mata pengemis ini yang begitu tenang dan mengandung tenaga batin, membuat Lie Siong tiba-tiba merasa malu kepada diri sendiri dan mukanya menjadi kemerah-merahan. Pandang mata ini mengingatkannya kepada ayahnya. Seperti itulah pandang mata ayahnya, kalau ia tak salah ingat.

“Maaf, Lopek. Sesungguhnya aku tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan sungguh tidak ada alasan sama sekali bagiku untuk menyusahkan kau orang tua. Akan tetapi ucapanmu yang kudengar di rumah Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu dahulu itu selalu tak pernah dapat terlupakan olehku. Ketahuilah, terus terang saja aku adalah putera tunggal dari Lie Kong Sian, Ang I Niocu adalah ibuku, dan namaku Lie Siong. Cukup sekian keterangan mengenai diriku. Sekarang yang terpenting, apakah maksud kata-katamu dahulu itu yang menyatakan bahwa ayahku telah meninggal dunia? Ketahuilah bahwa, aku sedang mencari ayahku dan di Pulau Pek-leto aku tidak dapat menemukannya. Karena kau mengenal ayahku, maka aku ingin agar supaya kau menceritakan apa maksud kata-katamu tentang kematian ayah itu.” Setelah berkata demikian, pemuda itu memandang tajam. Lo Sian merasa ngeri melihat mata yang berbentuk bagus itu mengeluarkan sinar yang amat tajamnya, seakan-akan hendak menembus dadanya. Ia tidak tahu bahwa seperti itulah mata Ang I Niocu, Pendekar Wanita Baju Merah yang dahulu telah menggemparkan dunia persilatan.

“Sayang sekali, orang muda. Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, karena sesungguhnya aku sendiri pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu itu.”

“Lopek, harap kau orang tua jangan main-main! Kau berkata bahwa Ayah mati, akan tetapi sekarang kau menyatakan tidak tahu apa-apa. Apa artinya ini?”

“Aku bicara sebenarnya, anak muda, dan sama sekali aku tidak mempermainkanmu atau juga membohong kepadamu. Aku telah kehilangan ingatan sama sekali, aku tidak tahu apa yang telah terjadi dahulu. Ingatanku hanya terbatas semenjak di tempat Thian Kek Hwesio sampai sekarang. Sebelum itu, yang teringat olehku hanya bahwa ayahmu telah meninggal dunia.”

“Di mana matinya dan bagaimana? Di mana makamnya.” Lie Kong mendesak.

Lo Sian menarik napas panjang. “Percayalah, anak yang baik. Hal satu-satunya yang akan kukerjakan pertama-tama kalau ingatanku dapat kembali adalah mengingat tentang ayahmu itu. Akan tetapi apa daya, pikiranku hampir menjadi rusak dan harapanku untuk hidup hampir musnah karena aku telah berusaha mengingat-ingat tanpa hasil sedikit pun juga. Kau tenanglah dan coba dengar penuturanku.” Lo Sian lalu menceritakan semua pengalamannya, yaitu semenjak tahu-tahu ia merasa berada di tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang menyembuhkannya dan menceritakan pula semua pengalamannya yang didengarnya kembali dari Lili, yaitu pada waktu ia menolong Lili dahulu.

“AH, sampai sekarang aku tidak bisa mengingat hal yang terjadi sebelum aku disembuhkan oleh Thian Kek Hwesio. Hanya dua ha1 yang masih terbayang di depan mataku, yaitu ayahmu yang telah meninggal dan ucapan pemakan jantung yang membuatku tak dapat tidur.”

Lie Siong mengerutkan alisnya. Dapatkah ia mempercaya omongan seorang yang baru saja sembuh dari sakit gila?

“Betapapun juga, anak muda. Aku mempunyai perasaan bahwa ayahmu itu pasti mati dalam keadaan yang mengerikan, dan aku merasa yakin bahwa kalau aku melihat kuburannya, tentu akan mengenal tempat itu.”

Timbul kembali harapan Lie Siong. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata,

“Kalau begitu, Lopek. Terpaksa kau harus ikut dengan aku mencari makam ayah, kalau benar-benar ia telah meninggal dunia seperti yang kaukatakan tadi.”

“Boleh, boleh! Hanya saja… bagaimana dengan Lili?”

“Lili siapa?”

“Sie Hong Li, nona yang kutinggalkan seorang diri. Dia anak baik, seperti anak atau keponakanku sendiri. Dia tentu akan gelisah sekali.”

“Biar saja, dia bukan anak kecil dan kepandaiannya cukup tinggi untuk menjaga diri sendiri,” jawab Lie Siong tegas.

“Ke mana kita akan pergi?”

“Sudah kukatakan tadi, mencari makam ayah.”

“Setelah itu?”

“Aku akan mengantarkan seorang gadis ke utara untuk mencarikan suku bangsanya.”

Lo Sian teringat akan cerita Lili. “Ah, gadis yang dulu kauganggu itu?”

Merah muka Lie Siong. “Jangan bicara sembarangan, Lopek! Gadis itu adalah Lilani, seorang gadis Haimi yang kutolong dari gangguan orang jahat. Sekarang ia menderita penyakit pikiran dan kutinggalkan di rumah Thian Kek Hwesio. Kita sekarang menuju ke sana untuk melihat keadaannya.”

Lo Sian tertegun mendengar kekerasan hati pemuda ini. Lili boleh disebut seorang gadis yang berhati keras, akan tetapi pemuda ini lebih-lebih lagi!

“Baiklah, aku menurut saja, karena aku merasa kagum dan menghormat ayahmu, seorang pendekar besar. Biarpun aku tidak ingat lagi, namun aku merasa yakin bahwa aku dahulu tentu pernah ditolong oleh ayahmu. Maka sudah menjadi kewajibanku kalau sekarang aku membantumu mencari makamnya. Jangan sekali-kali kau menganggap kepergianku denganmu ini sebagai tanda bahwa aku takut kepadamu, anak muda. Ah, bukan sekali-kali. Biarpun kepandaianmu boleh lebih tinggi dariku, namun aku Sin-kai Lo Sian bukanlah seorang yang takut mati. Aku menuruti kehendakmu karena aku pun ingin sekali mendapatkan makam pendekar besar Lie Kong Sian ayahmu.”

Lie Siong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia senang melihat sikap pengemis ini yang dianggapnya cukup gagah dan patut dijadikan kawan seperjalanan. Berangkatlah kedua orang ini menuju ke Ki-ciu untuk melihat keadaan Lilani gadis Haimi yang bernasib malang itu. Tentu saja sebagai seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, Lie Siong tidak menceritakan hubungannya dengan Lilani itu.

Dengan hati girang Lie Siong mendapatkan Lilani telah sembuh dari sakitnya, hanya saja gadis ini sekarang berubah menjadi pendiam sekali. Ia telah mendapat banyak nasihat dan petuah dari Thian Kek Hwesio karena gadis ini setelah diobati, menganggap Thian Kek Hwesio sebagai satu-satunya orang yang dapat diajak bertukar pikiran. Pendeta tua yang banyak sekali pengalamannya ini dan yang paham akan bahasa Haimi, mendengarkan pengakuan dan penuturan Lilani dengan wajah tenang dan sabar.

“Itulah salahnya kalau orang-orang muda kurang memperhatikan tentang kesopanan yong sudah jauh lebih tua daripada kita umurnya. Amat tidak sempurna kalau seorang gadis seperti engkau melakukan perjalanan berdua dengan seorang pemuda seperti Lie Siong yang tampan dan gagah. Mudah sekali bagi iblis untuk mengganggu kalian.” Hwesio itu menarik napas panjang. “Akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang, dengarlah nasihatku. Kalau kau memang benar-benar telah merasa yakin bahwa cintamu tidak terbalas oleh pemuda itu, jalan satu-satunya bagimu adalah kembali ke bangsamu sendiri! Kebiasaanmu dan kebiasaan Lie Siong sebagai seorang gadis Haimi dan seorang pemuda Han tidak cocok sekali. Kau biasa hidup bebas, sedangkan orang Han selalu terikat oleh peraturan-peraturan kesusilaan dan kesopanan sehingga kalau ikatan itu terlepas sedikit saja, akan membahayakan. Memang baik sekali kalau dia mau menikah denganmu, akan tetapi kalau tidak demikian, jalan satu-satunya adalah seperti yang ktakatakan tadi. Nah, terserah kepadamu.”

Lilani mendengarkan nasihat ini sambil meramkan mata untuk menahan air mata yang mulai mengucur. Alangkah besamya cinta hatinya terhadap Lie Siong. Akan tetapi ia dapat merasakan bahwa pemuda itu tidak mencintainya. Sebelum mendengar nasihat Thian Kek Hwesio, memang ia sudah mengambil keputusan untuk kembali kepada bangsanya, dan ia sekarang makin tetap lagi hatinya.

Demikianlah, ketika Lie Siong datang, Thian Kek Hwesio memanggil pemuda itu ke dalam kamarnya dan berkata,

“Anak muda she Lie. Pinceng sudah mendengar semua penuturan Lilani tentang hubungan kalian. Katakan saja terus terang kepada pinceng, apakah ada niat dalam hatimu untuk mengawininya?”

Dengan muka merah sekali Lie Siong menundukkan mukanya dan kemudian menggeleng kepalanya. Akan tetapi segera ia menyusul pernyataan dengan gelengan kepala ini dan berkata, “Betapapun juga, Losuhu, aku takkan membuatnya sengsara dan meninggalkannya begitu saja. Aku akan menjaganya, kalau perlu mengambilnya sebagai adik angkat, atau… bagaimana saja menurut sekehendak hatinya asalkan… asalkan jangan menjadi suaminya!”

“Pinceng maklum akan isi hatimu. Kau sudah bersalah, akan tetapi kalau kau sudah mengakui kesalahanmu dan kini mau bertanggung jawab memperhatikan nasib gadis itu, kau boleh disebut orang baik.”

“Aku hendak mencari suku bangsa Haimi dan membawa Lilani kembali kepada bangsanya. Tentu saja aku tidak akan memaksanya, hanya inilah kehendakku.”

Thian Kek Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, itulah jalan yang terbaik. Pinceng merasa girang sekali mendengar kau mempunyai ketetapan hati seperti itu. Dengar, anak muda. Kalau kau bukan putera pendekar besar Lie Kong Sian dan Ang I Niocu yang keduanya sudah memupuk perbuatan baik dan kebajikan, kiranya pinceng takkan bersusah payah memberi nasehat dan mencampuri urusanmu. Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki yang gagah, kau harus berani bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Di dalam kegelapan pikiran kau telah melakukan pelanggaran bersama Lilani dan sungguhpun kau tidak dapat mengawininya, akan tetapi kau harus penuh tanggung jawab mengatur kehidupannya dan sekali-kali jangan menyia-nyiakan sehingga gadis yang malang itu hidup dalam kesengsaraan. Kalau kau meninggalkannya begitu saja tanpa persetujuan hatinya, kau akan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah). Mengertikah kau?”

Kalau sekiranya yang bicara itu bukan Thian Kek Hwesio yang memiliki daya pengaruh luar biasa memancar keluar dari wajahnya yang tenang, sabar dan berwibawa itu, pasti Lie Siong akan menjadi marah sekali. Akan tetapi kali ini pemuda itu hanya menundukkan kepala dan menyatakan kesanggupannya.

Ketika Lilani bertemu dengan Lie Siong, gadis itu memandang dengan mata sayu, lalu bertanya perlahan, “Tai-hiap, bilakah kita akan mencari suku bangsaku?”

“Sekarang juga, Lilani. Hari ini juga!” jawab Lie Siong dengan hati diliputi keharuan besar.

Adapun Lo Sian ketika bertemu dengan Thian Kek Hwesio, cepat-cepat memberi hormat. Hwesio sangat tua itu mengangguk-angguk lagi dengan senang.

“Adanya Sin-kai Lo Sian bersama Lie Siong, menandakan bahwa pemuda itu benar-benar seorang yang boleh dipercaya,” pikir hwesio ini, karena ia tahu betul orang macam apa adanya Sin-kai Lo Sian.

“Lebih baik kita mengantar dulu Nona Lilani ke utara. Setelah kita dapat bertemu dengan rombongan suku bangsa Haimi dan mengembalikan Nona itu kepada bangsanya, barulah kita mencoba untuk mencari keterangan perihal ayahmu,” kata Lo Sian setelah mereka bertiga mulai melakukan perjalanan.

Lie Siong menyetujui pikiran ini, akan tetapi ia hendak mengetahui pendirian Lilani yang kini nampak demikian pendiam dan wajahnya selalu diliputi kemurungan.

“Tai-hiap tahu bahwa aku selalu hanya menurut saja. Sesuka hatimu sajalah, aku hanya ikut, karena apakah daya seorang seperti aku?” jawaban ini tidak saja membuat Lie Siong menjadi terharu, bahkan Lo Sian yang tidak tahu apa-apa tentang urusan mereka, menjadi kasihan sekali melihat Lilani. Dia lalu bersikap ramah tamah dan baik terhadap gadis ini sehingga Lilani merasa agak terhibur dan suka kepada Pengemis Sakti ini.

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di kota Ciang-kou, dekat dengan tapal batas Mongolia di Propinsi Ho-pak. Mereka melihat kota itu sunyi seperti kota-kota dan dusun-dusun lain di dekat tapal batas, karena penduduknya sebagian besar telah pergi mengungsi ke selatan, takut akan penyerbuan dan gangguan tentara-tentara. Di sepanjang jalan, Lie Siong dan Lo Sian mendengar tentang kekacauan dan gangguan para tentara Mongol dan Tartar. Lo Sian yang berjiwa patriot itu menjadi marah sekali dan beberapa kali ia menyatakan kepada Lie Siong bahwa kalau ia bertemu dengan tentara musuh, ia akan menyerang mereka! Sebaliknya, pemuda itu diam saja tidak menyatakan perasaannya hingga sukar bagi Lo Sian untuk mengetahui isi hati pemuda aneh ini.

Seperti biasa, di dalam kota Ciang-kou, mereka mencari tempat bermalam di dalam kuil yang telah ditinggal pergi oleh para hwesionya, dan di situ hanya terdapat dua orang hwesio penjaga kuil yang ramah tamah.

“Sicu, sungguh amat berani sekali Ji-wi Sicu datang ke tempat ini. Setiap waktu kota ini bisa diserbu oleh gerombolan musuh yang jahat. Tentu saja untuk Nona ini tidak ada bahayanya.” Kedua hwesio ini memandang kepada Lilani dengan kening dikerutkan. Betapa Lilani bersikap sebagai seorang gadis Han, tetap saja kecantikannya yang berbeda dengan gadis-gadis Han itu mudah menimbulkan dugaan bahwa ia bukanlah gadis bangsa Han. Kulit seorang gadis Haimi berbeda dengan gadis Han yang kulitnya kekuning-kuningan. Sebaliknya kulit tubuh gadis ini putih kemerah-merahan.

“Biarkan mereka datang, akan kami sikat!” kata Lo Sian dengan marah sekali.

Kedua orang hwesio itu diam saja, di dalam hatinya mengejek orang yang berpakalan pengemis itu. Siapa berani bersikap sombong terhadap gerombolan Mongol yang mempunyai banyak perwira pandai?

Akan tetapi, ketika Lie Siong minta tolong kepada hwesio itu untuk membelikan makanan dan mengeluarkan uang perak, pendeta-pendeta itu bersikap manis dan membantu serta melayani mereka dengan ramah. Lie Siong dan kawan-kawannya tidak mengira bahwa diam-diam kedua orang hwesio itu telah melaporkan hal keadaan mereka, terutama Lilani kepada seorang gagah yang melakukan pengawasan terhadap mata-mata Mongol di tempat itu. Orang gagah ini bukan lain adalah Kam Wi, paman dari Kam Liong!

Di dalam usahanya mencari kawan-kawan yang hendak membantu pertahanan tapal batas dari serangan musuh, Kam Wi memisahkan diri dari suhengnya, Tiong Kun Tojin dan pergi sampai ke kota Ciang-kou, di sepanjang jalan selalu berlaku waspada. Kalau dilihatnya ada orang-orang kang-ouw yang hendak menyeberang ke utara untuk bersekutu dengan orang-orang Mongol, tentu orang-orang kang-ouw itu dibujuknya, dengan halus atau dengan kasar!

Mendengar laporan kedua orang hwesio bahwa ada dua orang gagah yang sikapnya mencurigakan bersama seorang gadis Haimi bermalam di kuil, diam-diam Kam Wi merasa curiga sekali. Pada keesokan harinya, ketika Lie Siong, Lo Sian dan Lilani melanjutkan perjalanan mereka, sebelum meninggalkan kota yang sunyi itu, tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi besar yang melompat keluar dari sebuah tikungan jalan. Orang ini bukan lain adalah Kam Wi.

Begitu melihat Lilani, tahulah Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu bahwa gadis ini memang seorang gadis Haimi, maka untuk mencari bukti, ia segera menegur Lilani dalam bahasa Haimi,

“Apakah kau orang Haimi?”

Ditegur demikian tiba-tiba dalam bahasanya sendiri, Lilani menjadi terkejut, akan tetapi menjawab juga,

“Betul! Saudara siapakah?”

Akan tetapi Kam Wi tidak banyak cakap lagi, segera membentak dan mengulur tangannya hendak menangkap pundak Lilani, “Mata-mata Mongol! Jangan harap akan dapat melepaskan diri dari Sin-houw Enghiong!”

Akan tetapi Lilani bukanlah seorang gadis yang lemah. Ia telah mendapat tambahan pelajaran silat dari Lie Siong, maka kegesitannya bertambah. Melihat betapa orang tinggi besar yang berwajah galak itu tiba-tiba menyerang dan hendak menangkap pundaknya, ia cepat mengelak dan melompat mundur.

Bukan main marahnya hati Kam Wi melihat cengkeramannya dapat dielakkan oleh gadis itu. Kecurigaannya bertambah. Seorang gadis Haimi dapat mengelak dari cengkeramannya pastilah bukan orang sembarangan dan patut kalau menjadi mata-mata Mongol atau setidaknya pencari orang-orang kang-ouw untuk membantu pergerakan bangsa Mongol.

“Bagus, kau berani mengelak? Coba kau mengelak lagi kalau dapat!” Sambil berkata demikian, Kam Wi mengeluarkan kepandaiannya yang diandalkan, yaitu Ilmu Silat Houw-jiauw-kang! Tangannya terulur maju merupakan cengkeraman atau kuku harimau dan ia menubruk ke depan untuk menangkap atau mencengkeram pundak gadis itu!

Lilani benar-benar menjadi bingung dan gugup. Serangan kali ini hebat luar biasa dan kedua tangan Kam Wi yang merupakan kuku harimau itu benar-benar sukar untuk dielakkan lagi. Jalan ke kanan kiri atau ke belakang tertutup dan Lilani hanya akan dapat menghindarkan serangan ini kalau ia dapat ke atas atau amblas ke dalam bumi!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan keras dan tahu-tahu tubuh gadis itu benar-benar mumbul ke atas! Kam Wi sampai membelalakkan matanya ketika tiba-tiba yang hendak ditangkapnya itu lenyap dari depan matanya dan telah melompati tubuhnya, melalui atas kepala dan tiba di belakangnya! Ia cepat menengok dan ternyata bahwa yang menolong gadis itu adalah pemuda yang tadi bersama gadis itu datang dengan tenangnya. Memang sesuhgguhnya adalah Lie Siong yang telah menolong Lilani dari cengkeraman Kam Wi tadi. Ketika tadi pemuda itu melihat betapa Lilani terancam bahaya cengkeraman yang demikian lihainya cepat ia melompat sambil menyambar pinggang Lilani, dibawa lompat melampaui atas kepala Kam Wi dengan gerakan Hui-niau-coan-in (Burung Terbang menerjang Mega)! Dengan gerakan ginkang yang luar biasa ini ia berhasil menolong gadis itu sehingga kini. Kam Wi memandang dengan tertegun dan penuh kekaguman. “Siapa Saudara muda yang gagah ini? Mengapa bisa bersama dengan seorang gadis Haimi yang menjadi mata-mata Mongol? Mungkinkah seorang enghiong yang gagah perkasa sampai tersesat dan hendak mengkhianati bangsa sendiri?”

Sebelum Lie Siong sempat menjawab, Lo Sian sudah mendahuluinya, pengemis ini mengangkat kedua tangan menjura sambil berkata,

“Orang gagah, harap kau suka bersabar dulu, agaknya kau telah salah sangka! Kami sekali-kali bukanlah pengkhianat-pengkhianat seperti yang kaukira!”

Kam Wi berpaling kepada Lo Sian dan ketika melihat pengemis ini ia memandang penuh perhatian dan berkata,

“Ah, bukankah aku berhadapan dengan Sin-kai Lo Sian?”

Lo Sian tertegun dan ia mengerti bahwa dahulu tentu orang yang gagah ini pernah bertemu atau kenal dengannya, akan tetapi ia telah lupa sama sekali, maka dengan senyum ramah ia berkata,

“Maaf, memang benar siauwte adalah Lo Sian orang yang bodoh. Akan tetapi sungguh otakku yang tumpul tidak ingat lagi siapa adanya orang gagah yang berdiri di hadapanku sekarang.”

Kam Wi tertawa bergelak. “Ah, ah, Sin-kai Lo Sian benar-benar suka bergurau! Kini aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kawan-kawanmu ini pasti bukan orang jahat, akan tetapi sungguh amat mengherankan apabila Sin-kai Lo Sian sampai lupa kepadaku. Aku adalah Kam Wi, sudah lupa lagikah kau akan Sin-houw-enghiong dari Kun-lun-pai?”

Akan tetapi Kam Wi tidak tahu bahwa benar-benar Lo Sian tidak ingat lagi kepadanya. Bagaimana pengemis ini dapat ingat kepadanya sedangkan kepada diri sendiri saja sudah lupa? Akan tetapi Lo Sian tidak mau berpanjang lebar, maka cepat ia menjura lagi sambil berkata,

“Ah, tidak tahunya Sin-houw-enghiong Kam Wi, tokoh dari Kun-lun-pai! Maaf, maaf, kami tidak tahu sebelumnya maka berani berlaku kurang ajar. Harap Enghiong suka melepaskan kami, karena sesungguhnya kami bukanlah orang-orang jahat. Kami hendak mengantar Nona ini kembali ke bangsanya maka bisa sampai di tempat ini.”

Kam Wi berdiri ternganga. Lo Sian sama sekali tidak mengira bahwa ucapannya ini benar-benar mengherankan hati Kam Wi karena dahulu Lo Sian tidak demikian “sopan santun” sikapnya. Mengapa pengemis ini begini berubah?

“Sungguh aneh!” kata Kam Wi. “Kalian tidak bermaksud menggabungkan diri dengan para pengkhianat bangsa, akan tetapi hendak mencari suku bangsa Haimi, sedangkan suku bangsa Haimi sudah bersekutu dengan orang-orang Mongol! Bangsa Haimi dan bangsa Mongol sudah menjadi sekutu untuk menyerang dan mengganggu negara kita!”

“Kau bohong!” tiba-tiba Lilani berseru keras. “Bangsaku tidak pernah berlaku seperti itu! Selamanya bangsaku bahkan diganggu oleh orang-orang Mongol dan mendapat pertolongan bangsa Han. Tak mungkin sekarang bisa bersekutu dengan perampok-perampok Mongol!”

“Nona, baiknya kau datang bersama Sin-kai Lo Sian sehingga aku percaya bahwa kau bukanlah orang jahat. Kalau tidak demikian halnya, tuduhan bohong kepada Sin-houw-enghiong Kam Wi sudah merupakan alasan cukup untuk membuat turun tangan. Aku Kam Wi selama hidup tak pernah berbohong. Agaknya kau telah lama meninggalkan bangsamu sehingga kau tidak tahu betapa pemimpinmu yang bernama Saliban itu telah membawa bangsamu bersekutu dengan orang.-orang Mongol!”

Lilani terkejut. Saliban adalah seorang di antara sekian banyak pamannya. Memang ia tahu bahwa di antara paman-pamannya, Saliban adalah seorang yang jahat. Menurut cerita mendiang ibunya, Meilani, dahulu Saliban pernah memberontak dan hampir membunuh kakeknya karena pamannya itu ditolak cintanya oleh ibunya yang pada masa itu telah bertunangan dengan Manako, mendiang ayahnya (diceritakan dengan rnenarik di dalam cerita Pendekar Bodoh).

Lilani berpaling kepada Lie Siong, “Tai-hiap, bantulah aku untuk menolong bangsaku dan melenyapkan Saliban yang memang jahat itu! Mari kita pergi mencari mereka.”

Lie Siong tidak membantah dan kedua orang muda ini tanpa melirik lagi kepada Kam Wi lalu pergi dari situ. Adapun Sin-kai Lo Sian lalu memberi hormat kepada Kam Wi dan berkata,

“Sin-houw-enghiong, terima kasih atas kepercayaanmu. Biarlah lain waktu kita bertemu lagi.” Setelah berkata demikian, Sin-kai Lo Sian hendak pergi. Akan tetapi Kam Wi menahannya dengan kata-kata,

“Nanti dulu, kawan. Negara sedang terancam oleh penyerbuan pengacau-pengacau Mongol dan Tartar. Apakah kau sebagai seorang gagah mau berpeluk tangan saja?”

“Siapa bilang aku ingin peluk tangan saja? Dimana saja aku bertemu dengan mereka, aku akan mengerahkan sedikit kebodohanku untuk menghancurkan mereka.”

“Bagus, kalau begitu kau benar-benar seorang sahabat. Ketahuilah bahwa aku sedang mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan. Kalau kau bermaksud membantu, pergilah ke Guunng Alkata-san dan bantulah tentara kerajaan di sana.”

“Aku akan memperhatikan omonganmu, Sin-houw-enghiong. Akan tetapi terlebih dulu aku akan membantu Nona Lilani mencari bangsanya!” Maka pergilah Lo Sian menyusul Lie Siong dan Lilani yang telah berangkat lebih dulu.

Setelah mengalami peristiwa yang tidak enak itu yang disebabkan oleh keadaannya sebagai seorang gadis Haimi, Lilani lalu berganti pakaian. Ia merasa malu dan menyesal sekali mendengar betapa bangsanya telah dibawa sesat oleh Saliban sehingga suku bangsa Haimi kini dipandang sebagai musuh oleh orang-orang gagah dari dunia kang-ouw. Untuk mencegah terjadinya hal seperti yang tadi dialami ketika bertemu dengan Sin-houw-enghiong Kam Wi, Lilani lalu mengenakan pakaian seperti seorang gadis Han, bahkan rambutnya lalu diubah susunannya sehingga kini benar-benar ia merupakan seorang gadis Han yang cantik.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan cepat, sama sekali tidak menyangka bahwa diam-diam Sin-houw-enghiong Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu masih membayangi mereka. Kam Wi merasa curiga kepada mereka yang disangkanya mata-mata bangsa Mongol. Kehadiran Lo Sian memang menimbulkan kepercayaannya, akan tetapi sebaliknya sikap Lo Sian yang amat berbeda dengan dahulu, mengembalikan kecurigaannya. Ia tadi telah menyaksikan kelihaian pemuda tampan yang mengawani gadis itu, maka khawatirlah ia kalau-kalau mereka itu benar-benar hendak menggabungkan diri dengan kaum pengacau.

Pada suatu pagi, tibalah mereka di dusun yang berada di sebelah selatan kaki Gunung Alkata-san. Dusun itu cukup ramai dan di situ banyak sekali orang gagah dari berbagai golongan. Memang amat mengherankan orang kalau melihat di tempat yang jauh di sebelah utara itu begitu banyak terdapat orang-orang dari selatan. Mereka ini adalah orang-orang yang biasa melakukan perdagangan dengan orang-orang Mongol dan biarpun keadaan amat mengkhawatirkan dengan timbulnya bahaya perang, namun orang-orang yang ulet ini masih saja mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar.

Ketika Lo Sian dan kedua orang kawannya sedang enak berjalan, tiba-tiba terdengar bentakan keras,

“Ha, bangsat muda, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini!” Orang ini ketika dilihat ternyata adalah Ban Sai Cinjin! Sebagaimana telah diketahui, Ban Sai Cinjin pernah bentrok dengan Lie Siong dan pemuda itu mengamuk dan membunuh beberapa orang murid dan kawan Ban Sai Cinjin ketika orang-orang muda itu mengganggu Lilani dahulu. Kini melihat pemuda ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin sehingga ia menegur di jalan raya.

Ban Sai Cinjin bukan seorang diri di situ, akan tetapi ditemani oleh seorang pengemis tua yang menyeramkan. Rambutnya dipotong pendek dan berdiri kaku seperti kawat. Pengemis menyeramkan ini sesungguhnya bukan lain adalah Coa-ong Lojin, ketua dari perkumpulan Coa-tung Kai-pang! Sebagaimana telah dituturkan, dua orang pengurus kelas satu dari Coa-tung Kai-pang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Hong Beng yang diangkat menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang. Dalam usahanya mencari kawan-kawan, Ban Sai Cinjin berhasil pula menempel raja pengemis yang terkenal galak dan ganas ini dan kini mereka berada di utara karena memang Ban Sai Cinjin telah mengadakan persekutuan dengan Malangi Khan. Yang menjadi perantara adalah muridnya sendiri yaitu Bouw Hun Ti yang telah lebih dahulu menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan membantu mereka.

Setelah Ban Sai Cinjin tidak berhasil mengadakan persekutuan jahat dengan Perwira Bu Kwan Ji, maka kakek jahat ini lalu pergi dan langsung menuju ke utara. Ia mengubah cita-citanya. Kini ia berusaha menggunakan kekuatan tentara Mongol, berpura-pura membantu Malangi Khan untuk kemudian setelah mendapat kemenangan, merampas kedudukan tinggi di kerajaan! Ia terkenal hartawan dan dengan mempergunakan hartanya, banyak orang yang gagah-gagah yang terbujuk oleh Ban Sai Cinjin untuk membantu usahanya yang penuh khianat ini.

Ketika secara tiba-tiba Ban Sai Cinjin melihat Lie Siong, tak tertahan lagi ia segera membentak dan memandang dengan penuh kebencian. Sebaliknya, Lie Siong yang sudah pernah melihat Ban Sai Cinjin juga timbul marahnya.

“Setan tua, kau berada di sini? Orang macam kau tentu tidak mempunyai maksud baik!” bentak Lie Siong sambil mencabut pedangnya. Akan tetapi pada saat itu, Ban Sai Cinjin telah melihat Lo Sian dan kakek ini memandang dengan wajah berubah. Ketika kakek mewah ini melihat betapa Lo Sian seakan-akan tidak mengenalnya, ia menjadi lega dan bertanya,

“Pengemis tua ini bukankah gurumu?” kata-kata ini mengandung sindiran dan juga percobaan untuk menguji apakah Lo Sian masih belum sembuh dari pengaruh racun yang dulu ia jejalkan ke mulutnya.

“Bangsat tua tak usah banyak mulut! Minggirlah dan beri kami jalan sebelum kesabaranku habis!” kata Lie Siong. Kalau menurutkan kata hatinya, ingin sekali Lie Siong rnenyerang saja kakek itu. Akan tetapi ia bukan seorang yang sembrono dan bodoh. Ia sudah maklum akan kepandaian Ban Sai Cinjin, dan dengan adanya Lo Sian dan Lilani di situ, akan lebih beratlah tugasnya. Kepandaian kedua orang ini masih jauh untuk dapat menghadapi Ban Sai Cinjin dan kalau kakek mewah ini mengganggu mereka, akan sukarlah baginya untuk melindungi mereka. Oleh karena ini maka Lie Siong menahan kesabarannya dan kalau mungkin hendak menjauhi kakek lihai ini tanpa pertempuran.

Akan tetapi pengemis yang menyeramkan itu ketika melihat Lo Sian, rambutnya dan jenggotnya yang kaku seakan-akan menjadi semakin kaku, sepasang matanya memandang marah.

“Bukankah kau yang bernama Sin-kai Lo Sian?” tanyanya sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Lo Sian.

Sesungguhnya pada saat itu Lo Sian sedang memandang kepada Ban Sai Cinjin dengan mata terbelalak. Ia merasa seperti pernah melihat orang tua yang berpakaian mewah dengan baju bulu itu, akan tetapi lupa lagi di mana. Ketika mendengar orang menyebutkan namanya, ia lalu memandang kepada pengemis yang menyeramkan itu sambil menjawab,

“Benar, kawan. Aku adalah Lo Sian.”

“Bagus!” seru Coa-ong Lojin dengan marah. “Kaulah yang menjadi biang keladi dan mengacau perkumpulanku ketika aku pergi. Tidak ingatkah kau?” Memang dahulu di waktu mudanya, pernah Lo Sian mengobrak-abrik Coa-tung Kai-pang, akan tetapi tentu saja ia tidak ingat lagi akan hal itu.

Ia hendak menjawab, akan tetapi tidak diberi kesempatan oleh Coa-ong Lojin yang telah menyerangnya dengan tangan kosong. Ilmu silat dari raja pengemis ini benar-benar hebat. Sepasang lengannya bergerak bagaikan dua ekor ular dan mengarah kepada leher dan lambung Lo Sian.

Lie Siong melihat hebatnya serangan ini, maka cepat ia melompat dan menggerakkan pedangnya menahan serangan itu sambil membentak, “Pengemis hina, jangan berlaku sombong di depan kami!”

Coa-ong Lojin terkejut sekali melihat berkelebatnya sinar pedang di tangan Lie Siong. Sungguhpun pedang itu tidak diserangkan kepadanya, hanya dipergunakan untuk menjaga Lo Sian, namun lidah pedang naga yang panjang berwarna merah itu menyambar ke jurusan urat nadi tangan kanannya. Sambil berseru keras ia menarik kembali tangannya dan kemudian menyerang Lie Siong dengan hebat. Dengan gerakan cepat sekali tahu-tahu sebatang tongkat bengkak-bengkok seperti ular telah berada di tangannya dan tongkat itu dipergunakan untuk menyerang dada Lie Siong. Tentu saja pemuda ini tidak berlaku lambat dan cepat menangkis dengan keras untuk mematahkan tongkat itu. Akan tetapi ia kaget sekali karena ternyata bahwa tongkat itu sama sekali tidak menjadi rusak ketika beradu dengan pedangnya dan ketika mereka bertempur, Lie Siong mendapat kenyataan bahwa ilmu tongkat pengemis ini hebat luar biasa! Memang, Coa-ong Lojin adalah seorang berilmu tinggi dan ia sendiri yang menciptakan Ilmu Tongkat Hoa-tung-hwat ini. Seorang yang telah dapat menciptakan ilmu silat tentu dapat dibayangkan betapa tinggi dan mahir dia dalam hal ilmu silat.

Tentu saja Lie Siong tidak mau kalah, untungnya ia telah mempelajari gin-kang luar biasa dari ibunya, dan dalam hal ilmu silat, ibunya telah menggemblengnya semenjak kecil sehingga ia telah memiliki kepandaian yang tinggi.

Lo Sian ketika melihat betapa Lie Siong telah bertempur dengan hebat, tidak mau tinggal diam dan demikian pula Lilani. Mereka berdua maju bersama untuk membantu Lie Siong. Akan tetapi dari samping berkelebat bayangan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dibarengi suaranya yang parau.

“Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel. Kau masih belum melupakan ilmu silatmu?” Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin lalu menghadapi Lilani dan Lo Sian. Tentu saja kedua orang itu bukan lawannya dan sebentar saja ujung huncwenya telah dapat menotok roboh Lilani dan Lo Sian! Kemudian sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin menyerbu dan membantu Coa-ong Lojin mengeroyok Lie Siong!

Kalau hanya menghadapi Coa-ong Lojin atau Ban Sai Cinjin seorang saja Lie Siong pasti akan dapat mempertahankan diri dan belum tentu kalah. Akan tetapi kini ia dikeroyok oleh dua orang kakek yang lihai itu, tentu saja ia menjadi repot sekali. Apalagi ia merasa amat gelisah ketika melihat betapa Lo Sian dan Lilani telah dirobohkan oleh Ban Sai Cinjin. Kebenciannya terhadap Ban Sai Cinjin meluap-luap dan pedang naganya ditujukan terus untuk merobohkan kakek mewah ini. Oleh karena perhatiannya terutama ditujukan untuk menghadapi kakek ini, maka setelah pertempuran berjalan hampir lima puluh jurus, ujung tongkat ular dari Coa-ong Lojin dengan tepat menotok pundaknya dari kanan. Lie Siong mengeluarkan seruan keras, tubuhnya terhuyung-huyung, pedangnya terlepas dari pegangan dan robohlah ia tak sadarkan diri lagi!

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Kita bawa mereka ke rumahku!” katanya setelah mengambil pedang Lie Siong, dan Coa-ong Lojin lalu berlari cepat, menuju ke rumah gedung milik Ban Sai Cinjin.

Di kota ini Ban Sai Cinjin amat berpengaruh. Kota ini telah ditinggalkan oleh para petugas dan penjaga, maka siapa yang berani menghalangi kakek mewah yang kaya dan lihai ini? Ketika tadi terjadi pertempuran, orang-orang telah meninggalkan jalan itu sehingga sepi.

Setelah tiba di dalam gedung, Ban Sai Cinjin lalu melemparkan tubuh Lie Siong dalam sebuah kamar. “Dia yang paling berbahaya,” katanya. Kemudian ia membawa Lo Sian dan Lilani ke dalam ruang depan. Dengan sekali tepuk saja Lilani dan Lo Sian siuman kembali dari keadaan yang tak berdaya. Lilani segera menghampiri Lo Sian dan memegang tangan kanan pengemis ini dengan wajah pucat dan penuh kekuatiran. Sebaliknya Lo Sian tetap tenang, berdiri memandang kepada Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin.

“Ban Sai Cinjin, apakah yang hendak kaulakukan kepada dua orang ini?” tanya Coa-ong Lojin sambil tertawa-tawa dan menenggak arak yang sudah tersedia di atas meja. Matanya yang besar itu mengerling ke arah Lilani penuh gairah.

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Kalau kau suka bunga Haimi ini, ambillah,” katanya kepada kawannya itu yang hanya tertawa saja. “Dia sudah menyebabkan kematian banyak orang tamuku, bahkan rumahku sampai dibakar oleh pemuda tadi! Adapun pengemis ini… ah, lihat, bukankah dia seperti boneka hidup?” Ia mendekati Lo Sian yang menentang pandang matanya dengan berani.

“Lo Sian, kau benar-benar sudah lupa kepadaku?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: