Pendekar Remaja ~ Jilid 26

Sesungguhnya Lo Sian sama sekali tidak ingat lagi kepada Ban Sai Cinjin, akan tetapi ia telah mendengar banyak dari Lili tentang kakek mewah ini, maka dengan senyum mengejek ia berkata,

“Sungguhpun ingatanku sudah banyak berkurang dan aku tak pernah bertemu kau, akan tetapi aku sudah cukup banyak mendengar namamu, Ban Sai Cinjin! Kau seorang pandai yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Kalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah. Akan tetapi jangan kau mengganggu Nona ini, karena dia hendak mencari dan kembali kepada bangsanya, orang-orang Haimi. Dan pula, pemuda itu harap kaubebaskan, jangan kau mengganggu putera seorang pendekar besar yang berjiwa bersih. Dia adalah putera dari pendekar besar Lie Kong Sian, harap kau mengingat nama ayahnya dan melepaskannya!”

Tadi ketika mendengar bahwa Lilani sedang mencari suku bangsanya, Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin saling pandang dengan muka berubah. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda yang ditawannya itu adalah putera Lie Kong Sian, tiba-tiba wajah Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan kaget sekali.

“Apa…? Dia putera Lie Kong Sian… Kalau begitu kau… kau ingat lagi akan peristiwa dahulu…??”

Lo Sian sebetulnya tidak mengerti maksud pertanyaan ini, akan tetapi dia adalah seorang yang banyak pengalaman dan cerdik. Sengaja ia mengangguk dan berkata, “Mengapa tidak ingat? Kaumaksudkan peristiwa dahulu tentang Lie Kong Sian Tai-hiap? Tentu saja!”

“Bangsat rendah! Jadi kau sengaja membawa puteranya untuk mencariku? Ah, kalau begitu kalian harus mampus!”

Kakek mewah ini bangkit berdiri dan huncwe mautnya sudah dipegang erat-erat di dalam tangannya.

“Nanti dulu, sahabat,” tiba-tiba Coa-ong Lojin mencegahnya. “Kau boleh saja membunuh Lo Sian, akan tetapi gadis ini…” ia menghampiri Lilani yang menjadi ketakutan. “Eh, Nona, benar-benarkah kau hendak pergi mencari bangsamu?”

Lilani mengangguk tanpa dapat mengeluarkan suara jawaban.

“Kenalkah kau kepada Saliban?”

“Dia adalah pamanku.”

Kembali Coa-ong Lojin dan Ban Sai Cinjin saling pandang.

“Biar aku yang membawamu kepada pamanmu, Nona!” kata Ban Sai Cinjin. “Pamanmu adalah kawan baik kami, jangan kuatir, kami takkan mengganggumu. Akan tetapi pengemis ini dan pemuda tadi harus mampus!”

“Jangan bunuh mereka!” Lilani menjerit dengan bingung dan ia bersikap untuk melawan mati-matian guna membela Lo Sian dan Lie Siong.

“Kau tidak tahu, Nona. Mereka ini orang-orang berbahaya yang kelak hanya akan menggagalkan rencana kita, rencana kami dan pamanmu. Nah, Lo Sian, kau bersiaplah untuk mampus!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian. Sementara itu, Lo Sian semenjak tadi telah memutar otaknya. Ah, pasti ada apa-apanya dalam ucapan Ban Sai Cinjin tadi. Kakek mewah ini pasti tahu akan kematian Lie Kong Sian dan menurut ucapannya tadi, sangat boleh jadi Lie Kong Sian terbunuh oleh Ban Sai Cinjin.

“Ban Sai Cinjin!” katanya sambil memandang tajam sama sekali tidak gentar menghadapi saat-saat maut iu. “Jadi kaukah yang membunuh Lie Kong Sian?”

Terdengar suara ketawa yang parau dan menyeramkan dari kakek mewah itu. “Ha-ha-ha! Kau kini berpura-pura tidak tahu? Sebentar lagi kau boleh menyusul dia!!” Huncwenya terayun, akan tetapi tiba-tiba Lilani menubruk Lo Sian, melindunginya dan berteriak keras, “Jangan bunuh dia!”

“Lilani, minggirlah, biar aku menghadapinya. Aku tidak takut mati,” kata Lo Sian. “Sekarang puaslah hatiku karena aku sudah tahu siapa yang membunuh Lie Kong Sian Tai-hiap.”

Akan tetapi Lilani memegangi tangan Lo Sian dan tidak mau melepaskannya. Ban Sai Cinjin kembali mengangkat huncwenya, siap untuk dipukulkan. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan sesosok bayangan melompat masuk dari pintu depan.

“Ban Sai Cinjin, manusia rendah! Jadi kaukah yang mendalangi semua pemberontakan dan pengkhianatan?” Ketika Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin menengok, mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar yang berwajah kasar berdiri sambil bertolak pinggang.

“Sin-houw-enghiong Kam Wi!” kata Ban Sai Cinjin dengan alis dikerutkan. “Kau yang kudengar sudah bertapa mengasingkan diri di Kun-lun-san, datang ke sini mau apakah? Aku mempunyai perhitungan lama dengan Sin-kai Lo Sian, apakah kau mau mencampuri urusan orang lain?”

“Ban Sai Cinjin, jangan kau memutar balik persoalan. Urusan dengan segala macam pengemis tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, tadi mendengar bahwa kau adalah sahabat dari Saliban, maka mudah saja diduga bahwa tentu kau pula yang membujuk orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk menjadi pengkhianat-pengkhianat amat rendah. Dan hal ini, aku Sin-houw-enghiong Kam Wi tak dapat membiarkannya begitu saja!” Sambil berkata demikian ia melirik ke arah Coa-ong Lojin, karena sesungguhnya ketika tadi menyatakan bahwa urusan dengan segala macam pengemis ia tidak mempunyai sangkut-paut diam-diam ia telah menyindir Coa-ong Lojin.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ucapan ini. “Kam Wi, kau manusia macam apa berani berlagak besar-besaran di hadapanku? Sepak-terjangku yang manapun juga, kau tidak boleh tahu dan tidak boleh mencampuri. Urusan hubunganku dengan Saliban, baik kita bicarakan nanti setelah aku bikin mampus pengemis hina ini!” Ia kembali hendak menghampiri Lo Sian yang masih dipegangi lengannya oleh Lilani.

“Tahan dulu! Tidak boleh kau mengabaikan aku begitu saja, Ban Sai Cinjin! Kaukira aku orang macam apa maka tidak kaulayani lebih dulu?”

Kini Ban Sai Cinjin benar-benar menjadi marah. “Kam Wi, biarpun orang lain boleh takut mendengar kepandaianmu Houw-jiauw-kang, akan tetapi aku Ban Sai Cinjin tidak takut! Sebetulnya apakah kehendakmu?”

“Kau harus ikut dengan aku ke kota raja untuk menerima kuhuman atas pengkhianatanmu!”

“Ho-ho! Sejak kapan tokoh Kun-lun-pai menjadi kaki tangan kaisar?” Ban Sai Cinjin menyindir.

“Ban Sai Cinjin, dengan membawamu ke kota raja, berarti aku masih memandang mukamu sebagai orang kang-ouw. Aku selamanya tidak mempedulikan urusan pemerintah, akan tetapi kalau negara sedang dikacau musuh dan timbul pengkhianat seperti engkau, aku harus turun tangan. Tinggal kau pilih, kubawa ke kota raja atau kau minta diadili oleh orang-orang kang-ouw sendiri!”

“Kalau aku memilih yang terakhir?” tantang Ban Sai Cinjin.

“Hukuman dunia kang-ouw bagi seorang pengkhianat bangsa hanyalah kematian!”

“Bagus, Kam Wi! Kau hendak menghukum mati kepadaku? Ha-ha-ha! Aku merasa seperti mendengar seekor kucing hendak membunuh harimau! Majulah biar aku membereskan jiwa anjingmu dulu sebelum aku bikin mampus Lo Sian!”

Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menggerakkan huncwenya, akan tetapi Coa-ong Lojin yang semenjak tadi sudah menjadi marah sekali kepada Kam Wi yang dianggapnya sombong, segera mendahuluinya berkata,

“Sahabat Ban Sai Cinjin, biar aku sendiri yang membereskan cacing dari bukit Kun-lun-san ini!” Karena melihat bahwa Kam Wi tidak bersenjata, Coaong Lojin tidak mau merendahkan diri dengan menyerang dan menggunakan senjata tongkatnya. Ia maju memukul dengan tangan kosong.

Kam Wi cepat mengelak. “Ha-ha, sejak tadi aku sudah menduga bahwa kau tentulah raja pengemis Coa-tung Kai-pang yang jahat dan hina dina! Hayo keluarkan tongkatmu yang lapuk itu, hendak kulihat betapa jahatnya tongkat ularmu.”

“Bangsat she Kam! Sudah lama aku mendengar bahwa Houw-jiauw-kang dari Kun-lun-pai adalah hebat sekali. Kebetulan sekali kau datang mengantar kesombonganmu di sini, biar kucoba sampai di mana sih kepandaianmu maka kau berani bersikap sesombong ini!” Setelah berkata demikian, Coa-ong Lojin lalu menyerang dengan kedua tangan dibuka dan jari-jari tangannya mengeras dan menegang. Melihat betapa kedua tangan pengemis itu kini tergetar dan mengeluarkan cahaya kehitaman, tahulah Kam Wi bahwa lawannya ini memiliki ilmu pukulan yahg ia dengar disebut Hek-coa-tok-jiu (Tangan Racun Ular Hitam) yang amat berbahaya. Akan tetapi ia tidak takut dan cepat ia mengelak lalu mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya. Tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung lawan dan hampir saja lambung Coa-ong Lojin menjadi korban. Harus diketahui bahwa tidak saja Ilmu Silat Houw-jiauw-kang ini amat hebat, akan tetapi juga tenaga lwee-kang dari Kam Wi sudah mencapai tingkat tinggi sehingga biarpun cengkeramannya tidak mengenai sasaran, namun angin pukulannya telah membuat lawannya merasa lambungnya terlanggar benda tajam! Coa-ong Lojin menjadi terkejut sekali dan tahulah dia bahwa tokoh Kun-lun-pai ini benar-benar tak boleh dibuat permainan! Ia lalu bersilat dengan amat hati-hati.

Namun segera ternyata bahwa kepandaian Kam Wi benar-benar lebih menang setingkat. Selain ia menang tenaga, juga gin-kangnya amat mengagumkan. Kedua kakinya berlompatan bagaikan seekor harimau dan kedua tangannya amat panas ganas. Sekali saja Coa-ong Lojin kena sampok atau diterkam, pasti akan celakalah dia. Hal ini dimaklumi sedalamnya oleh Coa-ong Lojin, maka setelah bertempur dua puluh jurus lebih, raja pengemis yang berlaku hati-hati ini mulai terdesak dan main mundur.

“Ha-ha-ha, begini sajakah kepandaian raja pengemis dari Coa-tung Kai-pang? Hayo, jembel busuk, keluarkan kepandaianmu! Mana tongkatmu pemukul anjing itu?” Kam Wi mengejek sambil menyerang makin hebat.

Sementara itu, Lo Sian dan Lilani menyaksikan pertempuran itu dengan hati gelisah. Lo Sian maklum bahwa biarpun kepandaian tokoh Kun-lun-pai ini lebih tinggi, namun apabila Ban Sai Cinjin maju mengeroyok, akan celakalah dia. Ia merasa bingung sekali. Untuk membantu, ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh.

Tiba-tiba terdengar Lo Sian berseru keras, “Sin-houw-enghiong, awas belakang!” Sebetulnya seruan ini tidak perlu lagi, karena Kam Wi yang berkepandaian tinggi sudah mendengar adanya suara angin pukulan amat hebat menyambar dari belakang. Pada saat itu ia sedang mendesak Coa-ong Lojin, maka ketika mendengar suara pukulan dari belakang dan melihat berkelebatnya huncwe maut yang berkilauan, cepat ia berseru keras sekali. Tubuhnya mumbul ke atas dan kaki kanannya menendang ke depan untuk menghalangi serangan gelap dari Coa-ong Lojin. Dengan lompatan tinggi yang dilakukan dengan gin-kang hebat ini selamatlah ia dari serangan Ban Sai Cinjin yang dilakukan dengan cara pengecut sekali itu. Setibanya tubuhnya di atas, Kam Wi lalu menukar kedudukan kakinya, kaki kiri yang ditekuk ke belakang itu tiba-tiba ditendangkan pula ke arah Coa-ong Lojin, sedangkan kaki kanan bagaikan halilintar menyambar dengan sepakan ke belakang sehingga kedua kaki itu menggunting. Kaki kanan menyerang ke arah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin! Inilah gerakan tendangan berantai yang disebut Soan-hoang-twi yang lihai sekali karena sepasang kaki itu melakukan tendangan dengan tenaga seribu kati beratnya!

“Bangsat Ban Sai Cinjin, kau benar-benar curang sekali!” seru Kam Wi yang kini telah turun lagi ke bawah. Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mempedulikan makian ini, dengan muka merah saking marah dan malunya ia lalu menyerang dengan huncwe mautnya, sedangkan Coa-ong Lojin juga sudah mencabut tongkat ularnya!

Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai itu benar-benar tangguh karena selain ilmu silatnya sudah tinggi, ia memiliki banyak sekali pengalaman bertempur melawan orang-orang pandai. Akan tetapi kali ini ia menghadapi dua orang jago kawakan yang tingkat kepandaiannya sudah sama dengan dia, maka dengan bertangan kosong saja menghadapi mereka, bagaimana ia dapat bertahan?

Lo Sian dan Lilani yang telah menjadi bingung itu baru teringat bahwa kalau Lie Siong dapat membantu, tentu Kam Wi akan dapat menghadapi dua orang lawan jahat itu, maka ketika melihat betapa dua orang kakek itu sedang mengeroyok Kam Wi, Lo Sian dan Lilali lalu berlari ke dalam kamar di mana Lie Siong tadi dilempar oleh Ban Sai Cinjin. Mereka melihat pemuda ini masih rebah tak bergerak, hanya napasnya saja yang masih ada seperti orang pingsan. Cepat Lo Sian menepuk pundak pemuda itu dan mengurut jalan darahnya. Akan tetapi ia tidak dapat membebaskan Lie Siong dari totokan Coa-ong Lojin yang selain lihai, juga berbeda dengan totokan biasa. Betapapun Lo Sian mengurut-urut pundak Lie Siong, tetap saja pemuda itu tidak sadar dan pundaknya bahkan ada tanda titik merah sebesar kacang kedelai. Lo Sian menjadi gelisah sekali sedangkan Lilani lalu mulai menangis sambil memeluki tubuh Lie Siong.

“Mari kita bawa dia lari keluar dari sini saja!” kata Lilani.

“Kau boleh bawa dia lari, Lilani. Akan tetapi aku tidak dapat meninggalkan Sin-houw-enghiong begitu saja. Aku harus membantunya, biarpun untuk usaha ini akan tewas. Tidak selayaknya aku meninggalkan seorang penolong begitu saja mati sendiri!”

Lilani dapat memaklumi sifat gagah dari Lo Sian ini. Dia sendiri pun kalau tidak ingat akan keselamatan Lie Siong yang dicintanya, belum tentu sudi meninggalkan Kam Wi dalam keadaan terancam bahaya seperti itu. Maka gadis ini lalu memondong tubuh Lie Siong dan berkata, “Lo-enghiong, berlakulah hati-hati!” kemudian ia melompat keluar dari pintu belakang.

Lo Sian segera kembali ke ruang depan dan ia melihat betapa Kam Wi kini telah terdesak hebat sekali. Sungguh amat lucu dan harus dikasihani orang tinggi besar ini yang bertangan kosong, melompat ke kanan kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat dan huncwe maut. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan kedua orang lawannya.

“Sin-houw-enghiong, biar siauwte membelamu dengan nyawaku!” tiba-tiba Lo Sian berseru keras. Pengemis Sakti ini telah melepaskan ikat pinggangnya dan ia menyerbu bersenjatakan ikat pinggang ini. Biarpun ikat pinggang itu hanya terbuat dari sehelai kain, namun di dalam tangan seorang ahli dapat menjadi senjata yang cukup berbahaya. Dan sesungguhnya, kepandaian Lo Sian sudah mencapai tingkat tinggi juga, hanya saja apabila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin, atau Sin-houw-enghiong Kam Wi, ia masih ketinggalan amat jauh!

Lo Sian amat benci kepada Ban Sai Cinjin, sungguhpun ia tidak ingat lagi akan perlakuan kejam kakek mewah ini terhadapnya belasan tahun yang lalu. Mungkin perasaan hatinya membisikkan sesuatu karena baru melihatnya saja, Lo Sian sudah merasa benci sekali. Oleh karena itu, begitu ia menyerbu ia tujukan ikat pinggangnya untuk menyerang Ban Sai Cinjin.

Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali. “Jembel kelaparan! Aku tidak akan mengampuni jiwamu untuk kedua kalinya!” Sambil berkata demikian, huncwenya bergerak cepat dan ia sengaja menangkis ikat pinggang itu, terus memutar huncwenya sedemikian rupa. Sebetulnya ikat pinggang itu ketika dipergunakan oleh Lo Sian, telah menjadi kaku seperti besi. Akan tetapi begitu beradu dengan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin, tenaga lwee-kang yang disalurkan oleh Lo Sian ke dalam ikat pinggangnya menjadi buyar karena ia memang kalah tenaga sehingga ikat pinggang menjadi lemas lagi. Karena ikat pinggang itu kini telah melibat huncwe, ketika Ban Sai Cinjin mengerahkan tenaga membetotnya, terlepaslah ikat pinggang itu dari tangan Lo Sian. Dalam keadaan terhuyung-huyung Lo Sian hendak mempertahankan diri, akan tetapi tangan kiri Ban Sai Cinjin cepat meluncur maju dan sekali totok saja robohlah Lo Sian dengan tubuh lemas. Jalan darah kin-hun-hiat di bagian iganya telah kena ditotok sehingga biarpun pikirannya masih terang dan panca inderanya masih dapat dipergunakan, namun seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga lagi.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, akan tetapi cepat ia kembali mengeroyok Kam Wi, karena sebentar saja ia meninggalkan Kam Wi untuk menghadapi Lo Sian, keadaan Coa-ong Lojin menjadi terdesak hebat oleh jagoan dari Kun-lun-pai itu. Kini kembali Kam Wi terkurung dan jago Kun-lun yang sudah lelah ini pun akhirnya kena ditendang roboh oleh Ban Sai Cinjin!

“Ha-ha-ha!” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, dan dengan amat tenangnya ia lalu memasang tembakau pada pipanya yang panjang, menyalakan tembakaunya dan mengebulkan asap yang wangi. Ia nampak puas sekali, demikian pun Coa-ong Lojin.

“Kita bereskan saja mereka sekarang juga agar jangan merupakan gangguan lagi!” kata pengemis tongkat ular itu.

“Nanti dulu, aku mau bicara sedikit kepada mereka,” jawab Ban Sai Cinjin yang segera menghampiri Kam Wi yang sudah menggeletak di lantai dengan mata melotot memandangnya penuh keberanian.

“Orang she Kam! Sesungguhnya tidak ada permusuhan di antara kita, akan tetapi kau sendiri yang datang mencari mampus, maka jangan menjadi penasaran kalau hari ini kau menemui maut. Kalau kau memiliki kepandaian lebih tinggi, tentu bukan engkau melainkan kami yang menggeletak di sini tak bernyawa lagi! Sebelum aku membunuhmu, ketahuilah bahwa memang sesungguhnya aku yang mengadakan persekutuan dengan bangsa Mongol! Kau tahu mengapa? Karena Kaisar amat lemah, tidak pantas menjadi seorang junjungan! Aku tahu, kau membela Kaisar karena keponakanmu, Kam-ciangkun, menjadi panglima kerajaan. Karena itu aku harus membunuhmu!”

Kemudian Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian dan berkata, “Kau pengemis jembel hina dina, selalu kau mencampuri urusanku, selalu kau menghalangi jalanku. Agaknya memang dahulu di dalam penjelmaan yang lalu kau telah berhutang nyawa kepadaku maka sekarang kau takkan mampus kalau tidak di tanganku. Dulu aku sudah mengampuni jiwamu dan hanya merampas ingatanmu, akan tetapi agaknya kau iri hati kepada Lie Kong Sian dan suhengmu Mo-kai Nyo Tiang Le. Kau juga harus mampus!”

Bukan main kagetnya hati Lo Sian mendengar ini. Baru sekarang ia tahu bahwa yang membuat ia menjadi gila dan kehilangan pikiran adalah Ban Sai Cinjin, yang membunuh Lie Kong Sian juga orang ini, bahkan suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang Le sebagaimana yang telah diceritakan oleh Lili kepadanya, agaknya juga telah terbunuh oleh penjahat besar ini! Akan tetapi apa dayanya? Ia telah berada di dalam tangan orang ini dan agaknya tak lama lagi ia akan mati, maka seperti juga Kam Wi, Lo Sian hanya memandang dengan mata melotot, sedikit pun tidak merasa takut.

“Coa-ong Lojin, kauhabiskan nyawa manusia she Kam itu, biar aku bereskan pengemis jembel ini!” kata Ban Sai Cinjin sambil mengangkat huncwenya, hendak diketokkan ke arah kepala Lo Sian, sedangkan Coa-ong Lojin juga mengangkat tongkatnya untuk ditotokkan ke arah jalan darah atau urat kematian dari Kam Wi!

Akan tetapi pada saat itu dari luar berkelebat dua bayangan orang didahului oleh sinar pedang yang luar biasa sekali bagaikan halilintar menyambar dan “trang-trang!” tongkat dan huncwe itu telah tertangkis oleh pedang dan baik Ban Sai Cinjin maupun Coa-ong Lojin merasa telapak tangan mereka tergetar hebat. Tak terasa lagi mereka lalu melangkah mundur sampai lima tindak.

Ketika dua orang ini mengangkat muka memandang, berubahlah air muka mereka bahkan Coa-ong Lojin nampak pucat, sedangkan Ban Sai Cinjin si setan yang tak kenal takut itu kali ini nampak gentar juga. Dua orang yang menggerakkan pedang secara luar biasa sekali dan berhasil mencegah Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin membunuh Lo Sian dan Kam Wi, adalah seorang laki-laki dan seorang wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun. Yang laki-laki gagah sekali, bertubuh tegap dan berwajah tampan, sepasang matanya membayangkan kejujuran hati yang tulus dan di tangannya nampak sebatang pedang yang berkilau cahayanya. Yang wanita biarpun sudah setengah tua, nampak cantik sekali dengan bibir mengandung senyum jenaka dan sepasang mata bintang yang bersinar penuh keberanian.

Pantas saja Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin merasa gentar menghadapi sepasang orang gagah ini, karena mereka bukan lain adalah suami isteri yang amat terkenal yaitu Pendekar Bodoh dan isterinya! Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh dan Lin Lin, isterinya yang berkepandaian tinggi, datang pada saat yang amat tepat untuk menolong nyawa Lo Sian dan Kam Wi.

“Pendekar Bodoh…” bibir Ban Sai Cinjin masih sempat mengeluarkan kata-kata yang membayangkan kegelisahannya.

Cin Hai terseyum, senyum yang dingin. “Ban Sai Cinjin, telah lama aku mendengar namamu. Telah lama aku ingin sekali bertemu dengan muridmu yang bernama Bouw Hun Ti untuk menagih hutang. Sekarang kebetulan sekali kami berdua sempat menghalangi terjadinya sebuah di antara kekejamanmu. Akan tetapi oleh karena aku telah menerima tantangan suhengmu, Wi Kong Siansu, dan karena kau tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan aku, kali ini aku takkan mengganggumu! Pergilah!”

Bukan main malu dan marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan ini. Ia berada di rumah sendiri, bagaiman Pendekar Bodoh ini berani mengusirnya begitu saja seperti seekor anjing? Biarpun ia telah mendengar nama besar Pendekar Bodoh dan tentang kelihaiannya, akan tetapi belum pernah merasakan kelihaian itu dan pula dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut, bukanlah seorang bubeng-siauw-cut (orang rendah tak terkenal) juga bukan orang biasa.

“Pendekar Bodoh, lagakmu benar-benar sama besarnya dengan namamu, akan tetapi aku masih meragukan apakah kepandaianmu juga sebesar itu. Aku berada di rumahku sendiri, bagaimana kau bisa mengusirku?” lagak Ban Sai Cinjin menantang.

“Aku tidak mengusirmu pergi dari rumahmu, hanya minggat dari depan mataku. Sebal aku melihatmu!” kata Lin Lin yang mewakili suaminya.

Makin merah muka Ban Sai Cinjin. Kedua kaki tangannya berbunyi karena ia telah menahan kemarahannya sambil mengepalkan tinju sehingga pipa yang digenggamnya hampir remuk!

“Kalau aku tidak mau pergi?” tantangnya.

“Mau atau tidak, pergilah!” bentak Pendekar Bodoh sambil melangkah cepat ke arah kakek mewah itu.

Ban Sai Cinjin ketika melihat betapa Pendekar Bodoh menghampirinya tanpa memegang pedang, timbul sifat pengecut dan liciknya. Tiba-tiba ia menggerakkan huncwe mautnya yang dipukulkan sehebatnya ke arah kepala Cin Hai! Akan tetapi Ban Sai Cinjin kecelik besar kalau mengira bahwa serangan tiba-tiba secara pengecut ini akan dapat menghancurkan kepala Pendekar Bodoh. Ia tidak tahu bahwa Cin Hai telah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali yang diwarisinya dari suhunya, yaitu Bu Pun Su. Kepandaian yang luar biasa sekali, yaitu pengertian tentang dasar dan pokok segala macam gerakan tubuh manusia di waktu melakukan gerakan silat. Oleh karena itu, menyerang Pendekar Bodoh dengan tiba-tiba dan tak tersangka, sama saja sukarnya dengan menyerang angin!

Belum juga huncwe itu bergerak, baru gerakan pundak Ban Sai Cinjin saja sudah dapat dilihat dan diketahui oleh Cin Hai, sehingga sebelum huncwe melayang ke kepalanya, ia telah tahu bahwa huncwe itu akan melayang dan menyerangnya. Dengan tenang sekali Cin Hai mendiamkan saja, akan tetapi setelah huncwe melayang dekat dan Ban Sai Cinjin sudah merasa girang sekali tiba-tiba terdengar seruan kaget dari Ban Sai Cinjin dan tubuh kakek ini terlempar dan melayang keluar dari pintu ruangan itu! Suara tubuhnya jatuh berdebuk disusul berkelontangnya huncwe yang menyusulnya!

Bukan main terkejut dan herannya hati Ban Sai Cinjin. Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu? Ia tidak melihat Pendekar Bodoh bergerak, dan tadi sudah jelas sekali terlihat olehnya betapa huncwenya sudah mampir mengenai kepala lawannya. Ia hanya melihat tangan kiri dan kaki kanan lawannya bergerak sedikit pada saat huncwenya sudah hampir mengenai sasaran dan tahu-tahu ia telah terdorong sedemikian hebatnya!

Sesungguhnya, ketika tadi Cin Hai melihat serangan Ban Sai Cinjin, ia berlaku tenang saja. Ia tahu dengan pasti bagaimana serangan itu akan dilanjutkan, maka ia mendiamkannya saja dan ketika tangan yang memegang huncwe sudah hampir mengenai kepalanya, secepat kilat akan tetapi tetap tenang tangan kiri Cin Hai melayang dibarengi uap putih mengebul darl tangannya. Inilah sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut! Sambaran hawa putih yang keluar dari pukulan ini membuat tangan Ban Sai Cinjin terdorong sehingga pukulannya menjadi menceng dan tidak mengenai kepala Cin Hai dan berbareng dengan saat itu juga, kaki kanan Cin Hai telah melayang dan mendorong tubuh lawannya yang sama sekali tidak mengira akan hal ini. Demikianlah, dengan mudah Cin Hai telah membuktikan omongannya, yaitu memaksa Ban Sai Cinjin pergi dari depannya.

Sementara itu, Coa-ong Lojin melihat hal itu dengan mata terbelalak. Ia melihat dengan jelas betapa dengan mudahnya Pendekar Bodoh mengalahkan Ban Sai Cinjin. Hampir ia tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Akan tetapi ia dapat melihat bahwa kekalahan yang demikian mudah dari Ban Sai Cinjin terjadi karena kesalahan kakek itu sendiri. Dalam pandang matanya, Ban Sai Cinjin terlalu mencurahkan perhatian penjagaan diri. Memang serangan balasan dari Pendekar Bodoh tadi terjadi amat diluar sangkaan dan mungkin di sinilah letaknya kekuatan dan kelihaian Pendekar Bodoh. Coa-ong Lojin merasa dapat menghadapi Pendekar Bodoh, sungguhpun tidak akan menang, akan tetapi ia mungkin dapat bertahan sampai beberapa lama, tidak seperti Ban Sai Cinjin, baru segebrakan saja sudah terlempar keluar pintu.

Lin Lin semenjak tadi sudah memperhatikan Coa-ong Lojin dan juga Kam Wi yang menggeletak di bawah dan tadi hendak dibunuh oleh pengemis itu. Kini nyonya ini maju menghampiri Coa-ong Lojin dan berkata, “Kalau aku tidak salah sangka, kau tentu Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang. Tongkat ularmu itu mengingatkan aku siapa adanya kau ini. Akan tetapi, mengapa kau hendak membunuh orang ini?”

“Isteriku, dia itu adalah Sin-houw-enghiong Kam Wi, tokoh besar dari Kun-lun-pai!” kata Cin Hai kepada Lin Lin.

“Hemm, Sin-houw-enghiong terkenal sebagai seorang gagah yang berpribudi tinggi mengapa hendak kaubunuh?” kembali Lin Lin bertanya kepada Coa-ong Lojin yang untuk sesaat menjadi pucat tak dapat menjawab.

“Aku hanya terbawa-bawa oleh Ban Sai Cinjin, akan tetapi…” ia mengangkat dadanya memberanikan hatinya, “peduli apakah kalian dengan urusanku?” Diam-diam Ketua Coa-tung Kai-pang ini mengira bahwa Pendekar Bodoh tentu akan membela puteranya yang telah menjadi Ketua Hek-tung Kai-pang, padahal sesungguhnya Cin Hai dan Lin Lin belum tahu bahwa putera mereka, Hong Beng, telah diangkat menjadi ketua Hek-tung Kai-pang dan telah menanam bibit permusuhan dengan Coa-tung Kai-pang.

“Burung gagak tentu memilih kawan burung mayat!” kata Lin Lin. “Sudahlah, kami tidak ingin lebih lama lagi bicara denganmu. Pergilah!”

Biarpun merasa mendongkol dan marah, namun Coa-ong Lojin lebih hati-hati daripada Ban Sai Cinjin dan ia tidak berani melawan.

“Pendekar Bodoh, kali ini aku Coa-ong Lojin mengalah terhadapmu, karena tidak ada sebab bagiku untuk mengadu nyawa. Akan tetapi lain kali aku takkan sudi menelan hinaan macam ini lagi!” Setelah berkata demikian, Coa-ong Lojin lalu berjalan pergi.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan, “Pengemis kelaparan, jangan kau pergi dulu!” Dan dari luar menyambar bayangan orang yang sekali mengulur tangan telah menerkam ke arah pundak Coa-ong Lojin! Raja pengemis ini terkejut sekali dan cepat menyabet dengan tongkatnya, akan tetapi dengan gerakan yang indah dan gesit sekali, orang itu mengelak dan sekali tangannya bergerak, tongkat ular itu telah kena dirampasnya! Orang ini bukan lain adalah Kwee An, murid Eng Yang Cu tokoh Kim-san-pai, juga murid dari Pek Mo-ko Si Iblis Baju Putih, dan pula menjadi murid dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng (bacalah cerita Pendekar Bodoh).

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Cin Hai dan Lin Lin sebelum berangkat ke utara menyusul Hong Beng dan Goat Lan, mereka lebih dulu mampir di Tiang-an dan Kwee An lalu ikut dengan mereka untuk mencari puterinya, Goat Lan. Perjalanan tiga orang pendekar besar ini dilakukan dengan cepat dan lancar sekali. Dan pada suatu hari, mereka bertemu dengan Lilani yang menggendong Lie Siong sambil mengalirkan air mata!

Tentu saja melihat keganjilan ini, ketiga orang pendekar itu berhenti dan menahan Lilani. Melihat wajah Lilani, Kwee An memandang dengan bengong. Ia merasa seperti pernah melihat gadis cantik ini, akan tetapi tidak ingat lagi, entah dimana. Lin Lin maju menghampiri Lilani dan bertanya,

“Nona yang manis, apakah yang telah terjadi dengan pemuda itu? Siapa kau dan siapa pula dia?”

Melihat sikap dan wajah tiga orang setengah tua yang gagah itu, Lilani merasa kagum. Akan tetapi gadis ini masih merasa ragu-ragu untuk menceritakan keadaannya. Siapa tahu kalau-kalau mereka ini juga kawan-kawan dari Ban Sai Cinjin?

Pendekar Bodoh dapat melihat keraguan gadis itu, maka ia lalu berkata,

“Nona tak perlu kau mencurigai kami, karena kami biasanya hanya menolong orang, tak pernah mau mengganggu orang.”

“Siapakah Sam-wi yang mulia? Mengapa pula menahan perjalananku? Kawanku ini terluka hebat dan perlu dicarikan obat, maka harap Sam-wi suka melepaskan aku yang malang ini.”

Kwee An yang semenjak tadi memandang kepada gadis itu dengan penuh perhatian karena merasa sudah pernah bertemu dengan muka ini, lalu maju dan begitu melihat keadaan Lie Siong ia berseru kaget,

“Nona, kawanmu ini terluka oleh senjata berbisa! Lekas kauceritakan keadaanmu dan jangan meragukan kami. Ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan orang-orang baik. Pendekar di hadapanmu ini adalah Pendekar Bodoh dan kau tidak boleh mencurigainya lagi.”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba wajah Lilani menjadi berseri. Ia menurunkan tubuh Lie Siong yang dipondongnya, kemudian serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Cin Hai sambil berkata,

“Sie Tai-hiap, tolonglah aku yang sengsara ini, tolonglah aku demi orang tuaku yang Tai-hiap telah kenal. Aku adalah Lilani, anak dari Manako dan Meilani!”

“Kau anak Meilani…??” Kwee An yang berseru kaget dan barulah kini ia ingat bahwa wajah gadis ini seperti pinang dibelah dua, serupa benar dengan wajah Meilani, gadis Haimi yang telah menjadi “isterinya” di luar kehendaknya itu (baca cerita Pendekar Bodoh)! Juga Lin Lin dan Cin Hai terkejut dan teringat mereka akan Meilani yang pernah mereka jumpai.

“Bangunlah, Nak. Kau kenapakah dan siapa pula kawanmu ini?” tanya Lin Lin sambil membangunkan gadis itu. “Tentu saja kami kenal baik dengan ayah ibumu, bahkan ini adalah Kwee Tai-hiap saudara tuaku yang boleh kausebut sebagai ayah tirimu!” Sungguh keterlaluan Lin Lin, dalam keadaan demikian ia masih dapat menggoda kakaknya. Tentu saja Kwee An menjadi jengah sendiri ketika Lilani tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut pula di depannya.

“Bangunlah, bangunlah, dan lekas kau bercerita. Siapa pemuda ini dan mengapa ia sampai terluka begini hebat?”

“Dia bernama Lie Siong, putera dari Lie Kong Sian Tai-hiap dan…”

“Apa katamu?” Lin Lin hampir menjerit. “Kau bilang pemuda ini putera Lie-suheng… jadi dia… dia putera Ang I Niocu??”

Lilani mengangguk dan dengan singkat ia menceritakan pertemuannya dengan Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin. Ketika mendengar betapa Lo Sian dan Kam Wi masih berada di dalam bahaya hebat, Pendekar Bodoh tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia minta tolong kepada Kwee An untuk merawat Lie Siong karena sedikit-sedikit Kwee An tahu cara pengobatan orang yang terluka, sedangkan ia sendiri lalu menarik tangan isterinya dan diajak berlari cepat sekali menuju ke rumah yang ditunjuk oleh Lilani.

Adapun Kwee An setelah memeriksa luka Lie Siong dengan teliti, dengan amat terkejut ia melihat bahwa bisa yang masuk ke dalam tubuh pemuda melalui luka kecil itu amat berbahaya dan dia tidak sanggup mengobatinya. Ia lalu bertanya lagi kepada Lilani siapa yang melukai pemuda itu, dan ketika mendengar bahwa Lie Siong terluka oleh tongkat Coa-ong Lojin, ia segera memondong tubuh Lie Siong dan berkata,

“Hayo kita kejar mereka! Hanya Coa-ong Lojin saja yang dapat menolong nyawa pemuda ini!” Dan bersama Lilani mereka lalu berlari cepat menyusul Pendekar Bodoh dan isterinya.

Demikianlah, ketika Kwee An tiba di situ dan melihat Coa-ong Lojin hendak pergi, ia lalu memberikan Lie Siong kepada Lilani dan ia sendiri lalu menyerang Coa-ong Lojin dan berhasil merampas tongkatnya.

“Pengemis ular,” kata Kwes An dengan sikap mengancam. “Jangan kau pergi dulu. Kalau kau tidak mau memberi obat untuk menyembuhkan luka Lie Siong, jangan harap kau akan dapat pergi dari sini dengan kepala masih menempel di lehermu!”

Coa-ong Lojin berdiri bengong karena kaget dan herannya. Bagaimana orang dapat merampas tongkatnya dengan sedemikian mudahnya?

“Siapakah kau?” tanyanya.

“Kau berhadapan dengan orang she Kwee dari Tiang-an. Sudah tak perlu banyak cakap, lekas kau keluarkan obat untuk menyembuhkan lukanya,” kata pula Kwee An sambil menunjuk ke arah Lie Siong yang dipondong masuk oleh Lilani.

“Kalau aku tidak mau dan tidak takut mati?” tantang Coa-ong Lojin sambil tersenyum mengejek.

Kwee An menjadi gemas. “Bangsat rendah! Tahukah kau bahwa aku pernah menerima pelajaran dari Pek Mo-ko? Tahukah kau artinya ini? Aku dapat membuat kau menderita selama hidup, hidup tidak mati pun tidak! Selain itu, aku akan pergi mencari kawan-kawanmu, semua anggauta Coa-tung Kai-pang akan kubasmi habis sampai bersih!”

“Engko An, biarkan aku mencokel kedua matanya kalau dia tidak mau menyembuhkan putera Enci Im Giok (Ang I Niocu)!” kata Lin Lin dengan gemas sekali.

“Dan aku pun harus mematahkan kedua lengannya kalau dia berkukuh tak mau mengobati Lie Siong!” kata Cin Hai.

Mau tidak mau ngeri juga hati Coa-ong Lojin mendengar ancaman-ancaman ini, apalagi ia pernah mendengar nama Pek Mo-ko sebagai tokoh besar yang memiliki kepandaian mengerikan sekali. Tadi pun sudah ia saksikan kepandaian Kwee An yang demikian mudah merampas tongkatnya. Ia menarik napas panjang, merasa tidak sanggup menghadapi tiga orang pendekar besar yang lihai ini. Dikeluarnya sebungkus obat bubuk putih dari saku bajunya dan berkatalah dia dengan gemas,

“Biarlah kali ini aku Coa-ong Lojin mengaku kalah dan menurut kehendak orang lain. Akan tetapi lain kali aku akan membikin pembalasan!” Ia melemparkan bungkusan obat kepada Kwee An dan hendak pergi.

“Nanti dulu!” seru Cin Hai. “Obat itu belum dibuktikan kemanjurannya!” Sambil berkata demikian Pendekar Bodoh menggerakkan tubuhnya yang melesat ke arah pengemis itu dan sekali ia menggerakkan tangannya tidak ampun lagi Coa-ong Lojin roboh tertotok.

Sementara itu, Lin Lin sudah menghampiri Lo Sian dan memulihkan kesehatannya setelah menotok dan mengurut pundaknya. Sin-kai Lo Sian merasa gembira sekali dan ucapan pertama yang keluar dari mulutnya adalah,

“Dia harus disembuhkan, dia adalah putera Ang I Niocu!”

Cin Hai juga membebaskan totokan pada diri Kam Wi yang cepat melompat berdiri dan tanpa berkata sesuatu, orang yang kasar dan jujur ini lalu mengangkat tangan dan memukul ke arah Coa-ong Lojin yang telah duduk bersandar tembok tanpa berdaya lagi! Akan tetapi cepat-cepat Cin Hai menangkap tangannya. Pukulan Kam Wi ini dilakukan dengan keras sekali, akan tetapi ia tertegun ketika merasa betapa dalam tangkapan Cin Hai, ia tak kuasa menggerakkan tangannya itu.

“Dia orang jahat, harus dibunuh!” katanya dengan keras.

“Sabar dulu, Sin-houw-enghiong! Dia harus membuktikan dulu bahwa obat yang diberikan untuk menyembuhkan Lie Siong benar-benar manjur,” kata Cin Hai.

Setelah dihibur-hibur oleh Cin Hai dan Lin Lin, akhirnya Kam Wi menjadi sabar dan mereka semua lalu menyaksikan betapa Kwee An mengobati Lie Siong. Atas petunjuk dari Coa-ong Lojin yang masih dapat bicara dengan lemah, luka di pundak kanannya itu lalu dicuci bersih dan diboboki obat bubuk yang sudah dicairkan dengan air. Kemudian, dengan obat bubuk itu pula, Lie Siong diberi minum obat dicampur sedikit arak. Setelah pengobatan ini, semua orang berdiam, menanti hasil pengobatan itu.

“Sebentar lagi ia akan siuman dan sembuh,” kata Coa-ong Lojin dengan perlahan.

“Awas, kalau kata-katamu tidak terbukti, aku sendiri yang akan memukul hancur kepalamu yang jahat!” kata Kam Wi dengan melototkan kedua matanya yang lebar.

Akan tetapi, tepat seperti yang dikatakan oleh Coa-ong Lojin, tak lama kemudian terdengar Lie Siong mengeluh dan pemuda ini membuka matanya. Wajahnya yang pucat telah menjadi merah kembali, sebaliknya luka di pundak yang tadinya merah telah mulai menjadi pulih.

“Baiknya kau tidak membohong sehingga jiwamu masih tertolong!” kata Pendekar Bodoh. Sebagai seorang budiman, ia tidak melanggar janji dan melihat betul-betul Lie Siong dapat disembuhkan, ia lalu menghampiri Coa-ong Lojin, membebaskan totokannya hingga pengemis itu dapat melompat berdiri.

“Baiklah kali ini aku Coa-ong Lojin telah menerima penghinaan berkali-kali. Kelak di puncak Thai-san aku akan memperkuat rombongan Wi Kong Siansu untuk menghadapi kalian!” Setelah berkata demikian, pengemis bertongkat ular ini hendak pergi. Akan tetapi Kam Wi sudah melompat ke depannya dan sekali menendang, tubuh pengemis itu terlempar keluar dari pintu.

“Ha-ha-ha! Pengemis ular, lain kali bukan pantatmu yang kutendang melainkan kepalamu!”

Setelah Coa-ong Lojin pergi, Lie Siong memandang semua orang itu dengan heran. Ia menoleh kepada Lo Sian dengan mata mengandung pertanyaan, sehingga Sin-kai Lo Sian tersenyum dan berkata,

“Lie Siong, kau berhadapan dengan orang-orang sendiri. Sungguh baik sekali nasibmu sehingga hari ini kau dapat bertemu dan ditolong oleh mereka ini. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Pendekar Bodoh dan isterinya, sedangkan orang gagah itu adalah Kwee An Tai-hiap dari Tiang-an!” Memang sebelumnya Lo Sian telah mendapat keterangan dari Lilani yang memperkenalkan tiga orang besar itu.

Tentu saja Lie Siong menjadi terkejut sekali, akan tetapi pemuda ini dapat menekan perasaannya, dan tidak memperlihatkan perubahan pada wajahnya yang tampan.

“Siong-ji (Anak Siong), ayah dan ibumu adalah seperti kakak kami sendiri,” kata Lin Lin dengan terharu sambil menatap wajah yang tampan itu.

Lie Siong memandang kepada Lin Lin. Alangkah cantiknya nyonya ini, hampir sama dengan Lili, yang tak pernah lenyap bayangannya dari depan matanya itu. Alangkah jauh bedanya dengan ibunya yang nampak tua. Tiba-tiba ia menjadi terharu sekali ketika teringat akan ibunya yang telah ditinggalkannya. Ibunya, mempunyai sahabat-sahabat baik seperti ini, mengapa ibunya hidup menderita? Mengapa ayahnya sampai mati tanpa ada pembelaan dari mereka ini? Mereka ini adalah pendekar-pendekar besar seperti yang telah seringkali disebut-sebut oleh ibunya, akan tetapi mengapa ibunya dan dia sampai hidup di tempat asing? Hatinya menjadi dingin sekali. Keangkuhan hati pemuda ini tersinggung karena dalam keadaan tertimpa malapetaka, justru orang-orang ini yang menolongnya. Alangkah bodoh, lemah, dan tak berdaya ia nampak dalam pandangan mata ketiga orang ini! Padahal ia ingin sekali memperlihatkan kepada Pendekar Bodoh dan isterinya, bahwa keturunan Ang I Niocu tidak kalah oleh mereka!

Akan tetapi, oleh karena telah ditolong oleh mereka, terpaksa Lie Siong lalu maju menjura memberi hormat dan berkata, “Sungguh siauwte harus menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sam-wi yang gagah perkasa. Semoga Thian akan memberi kesempatan kepada siauwte untuk kelak membalas budi ini. Maafkanlah bahwa siauwte harus melanjutkan perjalanan mencari ayah, karena selain siauwte siapa lagi yang akan mencarinya?” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu menoleh kepada Lilani, “Mari kita pergi!”

Gadis itu memandang dengan terheran-heran, akan tetapi bagaimana ia dapat membantah ajakan pemuda yang menjadi pujaan hatinya? Ia hanya memandang kepada Lin Lin dengan sedih, kemudian sambil menahan isak, ia lalu melompat dan menyusul Lie Siong yang sudah lari terlebih dahulu.

“Eh, eh, Lie Siong tunggu dulu! Aku akan menunjukkan tempatnya kepadamu!”

Lo Sian berseru keras dan segera mengejar pula.

Adapun Kwee An, Lin Lin, dan Cin Hai menjadi melengak dan tak dapat mengeluarkan kata-kata saking herannya. Kemudian mereka saling pandang dengan perasaan aneh. Bagaimanakah pemuda itu dapat bersikap sedemikian dinginnya?

“Dia seperti orang marah,” kata Cin Hai.

“Tidak, seperti orang malu,” kata Lin Lin.

“Menurut pandanganku, seperti orang yang merasa penasaran. Sungguh aneh!” kata Kwee An.

Selagi ketiga orang itu terheran-heran, suasana yang tidak enak itu dipecahkan oteh suara Kam Wi yang keras,

“Ah, sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat bertemu, bahkan mendapat pertolongan dari tiga orang pendekar besar! Ha-ha-ha, Pendekar Bodoh, memang agaknya Thian telah menyetujui usulku. Aku memang hendak bertemu dengan kau, Sie Tai-hiap!”

Cin Hai membalas penghormatan tokoh Kun-lun-pai itu. “Kam-enghiong, harap kau tidak berlaku sungkan. Bantu dan memberantas kejahatan di antara kalangan kita sudah merupakan kewajiban yang tak perlu dikotori oleh sebutan pertolongan ataupun budi. Kehormatan apakah yang hendak kauberikan kepada kami maka kali hendak mencari kami dan usul apakah yang kaumaksudkan itu?”

“Harap kau dan isterimu tidak menganggap aku berlaku kurang ajar apabila kesempatan ini kukemukakan maksud hatiku. Ketahuilah, aku mempunyai seorang anak keponakan yang bernama Kam Liong, sekarang menjabat pangkat sebagai panglima muda di kerajaan. Tentu kalian masih ingat kepada Kam Hong Sin saudara tuaku, nah, Kam- Liong adalah putera satu-satunya.”

“Kami sudah pernah bertemu dengan Kam Liong itu, Kam-enghiong. Dia adalah seorang pemuda yang gagah dan baik.”

Berseri wajah Kam Wi mendengar ucapan Lin Lin ini. “Bagus sekali, agaknya memang Thian telah menjadi penunjuk jalan! Toanio, seperti juga kau dan suamimu, aku pun telah melihat puterimu yang bernama Sie Hong Li! Juga suhengku, Suhu dari Kam Liong yang kaukenal sebagai tokoh pertama dari Kun-lun-pai, yaitu Tiong Kun Tojin, amat suka metihat puterimu yang cantik dan gagah itu! Oleh karena itu, kami sudah sependapat, yaitu aku, Kam Liong, dan suhunya, untuk mengajukan pinangan kepada Sie Tai-hiap untuk menjodohkan Kam Liong dengan Nona Sie Hong Lie!”

Mendengar pinangan yang tiba-tiba dan terus terang di tempat yang tidak semestinya ini, kedua orang tua itu terkejut dan tersipu-sipu. Wajah Lin Lin menjadi merah karena jengah. Belum pernah terpikir olehnya akan menerima lamaran orang dan sungguhpun di dalam hatinya ia amat suka kepada Kam Liong, akan tetapi mulutnya tak dapat berkata sesuatu. Ia hanya memandang kepada suaminya yang kebetulan juga memandang kepadanya dengan mata bodoh. Sampai lama suami isteri ini hanya saling pandang, tak dapat menjawab, bahkan tidak berani memandang kepada Sin-houw-enghiong Kam Wi yang masih menanti jawaban mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa geli, dan ternyata yang tertawa itu adalah Kwee An.

“Ha-ha-ha, bagaimanakah kalian ini? Anak perempuan dilamar orang, kok hanya saling pandang seperti pemuda-pemudi yang main mata?”

Kwee An biasanya pendiam dan tidak banyak berkelakar, akan tetapi sekali ini ia berkumpul dengan Lin Lin yang suka menggodanya, ia selalu mencari kesempatan untuk balas menggoda adiknya ini! Tentu saja Lin Lin menjadi makin bingung dan akhirnya Cin Hai yang dapat mengeluarkan kata-kata sambil menjura kepada Kam Wi,

“Kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas kehormatan yang Kam-enghiong berikan kepada kami. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa anak kami Hong Li yang bodoh dan buruk rupa itu mendapat perhatian dari keponakanmu, dari Tiong Kun Tojin dan dari kau sendiri. Sesungguhnya puteri kami yang bodoh itu terlalu rendah, apabila dibandingkan dengan Kam-ciangkun yang biarpun masih muda sudah menduduki pangkat sedemikian tingginya, selain lihai juga menjadi murid tokoh Kun-lun-pai yang terkenal.”

“Bagus, bagus! Jadi kalian setuju? Kalian menerima pinanganku?” Kam Wi yang jujur dan kasar itu segera memutuskannya.

“Bukan begitu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa, tak dapat kami memutuskan begitu saja…” kata Cin Hai.

“Hemm, jadi Sie Tai-hiap menolak?” kembali Kam Wi memutuskan omongan Pendekar Bodoh.

Cin Hai tersenyum, ia maklum bahwa Kam Wi memiliki watak yang amat kasar, polos, dan tidak sabaran.

“Tenanglah, Kam-enghiong. Urusan perjodohan bukanlah urusan jual beli barang murahan saja. Hal ini harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Kami tidak dapat memutuskannya sekarang, berilah waktu kepada kami untuk memikirkannya, mempertimbangkannya dan terlebih dulu kami harus bertemu dan bicara dengan Lili puteri kami itu.”

“Pendekar Bodoh, kita adalah golongan orang-orang yang tak pandai bicara, karena lebih mudah bicara dengan kepalan tangan daripada dengan bibir dan lidah. Kalau kiranya kalian berdua menolak pinangan ini, tak usah banyak sungkan, nyatakan saja, sekarang. Aku takkan merasa penasaran atau marah, karena sudah semestinya sesuatu pinangan akan mengalami dua hal, diterima atau tidak.”

“Bagaimana kami dapat menolak pinanganmu? Kami berlaku sombong dan kurang ajar kalau menolaknya. Sesungguhnya kami tidak melihat sesuatu yang mengecewakan pada diri Kam Liong, akan tetapi…”

“Ha-ha-ha-ha, jadi kau suka? Bagus, aku yang menanggung bahwa Kam Liong benar-benar akan merupakan seorang suami yang baik dan bijaksana, seorang anak mantu yang berbakti! Terima kasih atas penerimaanmu, Pendekar Bodoh, kita akan mencari hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.”

“Nanti dulu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa. Kalau tadi kunyatatakan bahwa aku tidak menolak, itu bukan berarti bahwa aku menerimanya. Seperti telah kukatakan tadi, berilah waktu. Kami sedang menghadapi masa sukar, tugas kewajiban menghadang di depan mata, siapa mempunyai kesempatan untuk bicara tentang perjodohan? Tunggulah sampai musuh terusir semua, sampai kami dapat bertemu dengan putera dan puteri kami dalam keadaan selamat, barulah kita akan bicara tentang perjodohan ini!”

“Baik, baik. Betapapun juga aku yakin bahwa kau tidak menolak dan ucapan itu sudah setengah menerima. Baik, kita menanti sampai selesai tugas kami membela tanah air. Kalau keadaan sudah aman, aku akan membawa Kam Liong datang ke Shaning menentukan hari baik! Nah, selamat tinggal, dan terima kasih atas pertolongan tadi!” Setelah berkata demikian dengan wajah berseri gembira Kam Wi lalu meninggalkan rumah itu.

Pendekar Bodoh menarik napas panjang. “Alangkah kasar dan jujurnya orang itu! Urusan perjodohan dianggap mudah begitu saja. Itulah kalau orang tidak mempunyai anak sendiri, tidak merasa betapa sukarnya menetapkan jodoh bagi anak perempuan.”

“Sesungguhnya orang itu gegabah sekali,” kata Kwee An, “belum juga diberi keputusan, dia sudah menetapkan dengan yakin bahwa lamarannya diterima. Orang seperti itu kelak akan dapat menimbulkan keributan karena kebodohan, kejujuran, dan kekasarannya.”

“Terus terang saja, aku sendiri sudah setuju kalau Lili mendapatkan jodoh seperti Kam Liong,” kata Lin Lin. “Kita sudah menyaksikan sendiri betapa pemuda itu sopan santun, lemah lembut, dan juga sudah menyatakan jasanya dengan membantu Hong Beng dan juga kita. Bukankah perbuatannya itu saja sudah memperlihatkan bahwa ia suka kepada Lili dan bahwa ia tidak hendak main-main dalam urusan perjodohan ini?”

“Betapapun juga, keputusannya harus kau serahkan kepada Lili sendiri, karena urusan ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya. Aku takkan merasa puas apabila dia sendiri tidak menyetujui perjodohan ini. Dia yang akan menikah, dia yang akan menanggung segala akibatnya, dia yang akan sengsara atau senang kalau sudah terjadi perjodohan itu. Maka aku menyesal sekali mengapa Sin-houw-enghiong demikian pasti dan tergesa-gesa menganggap kita sudah menerima pinangannya.”

Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan ke utara sambil tiada hentinya membicarakan urusan pinangan yang dilakukan oleh Kam Wi dengan cara yang kasar itu.

***

Dengan hati mengkal Lie Siong berlari, akan tetapi ia tidak berlari terlalu cepat karena kalau ia melakukan hal ini, tentu Lilani akan tertinggal jauh. Oleh karena itu, maka sebentar saja ia telah tersusul oleh Lo Sian yang mengejarnya.

“Perlahan dulu, Anak Siong!” kata Sin-kai Lo Sian setelah dapat menyusul pemuda itu. Lie Siong berhenti karena Lilani telah mendahuluinya berhenti menanti datangnya pengemis tua itu.

“Mengapa kau meninggalkan mereka begitu saja? Bukankah mereka itu kawan-kawan baik ibu dan ayahmu? Kau telah mereka tolong, akan tetapi kau meninggalkan mereka seakan-akan seorang yang marah, kenapakah?” Lo Sian menegur Lie Siong yang mendengar dengan kepala ditundukkan.

“Alangkah rendah pandangan mereka terhadapku,” hanya ini yang diucapkan oleh Lie Siong karena sesungguhnya ia tidak suka hal itu dibicarakan lagi. “Lopek, kau menyusulku ada apakah? Karena kau sendiri tidak tahu dan tidak ingat lagi apa yang telah terjadi dengan mendiang ayahku, aku tak perlu mengganggumu lagi. Kembalilah kau kepada mereka dan ceritakan bahwa aku adalah seorang pemuda yang tidak tahu diri dan tak tahu menerima budi. Biarlah namaku, nama ibu dan ayahku, mereka lupakan!”

Lo Sian tertegun melihat sikap yang dingin dan kaku ini. Ia benar-benar merasa heran sekali melihat keadaan dan watak pemuda yang aneh ini.

“Lie Siong, setelah beberapa lama aku melakukan perjalanan bersamamu, belum juga aku dapat mengerti watakmu, sungguhpun harus kuakui bahwa aku suka kepadamu. Aku menyusulmu bukan untuk mengganggumu, melainkan karena aku kini telah dapat menduga siapa adanya pembunuh ayahmu dan di mana kiranya dapat menemukan makam ayahmu.”

“Siapa pembunuhnya? Di mana makamnya?” suara Lie Siong terdengar menggetar dan wajahnya memucat. Lo Sian lalu menceritakan tentang ucapan dan sikap Ban Sai Cinjin ketika tadi hendak membunuhnya.

“Tak salah lagi,” katanya sebagai penutup penuturannya, “pembunuh ayahmu pasti bukan lain orang adalah Ban Sai Cinjin sendiri! Dan kurasa, untuk mencari jejak ayahmu atau makamnya, kita harus pergi ke tempat tinggal Ban Sai Cinjin, yaitu di dusun Tong-sin-bun!”

“Di tempat di mana aku pernah membakar rumahnya?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: