Pendekar Remaja ~ Jilid 27

Lo Sian mengangguk. “Dekat dusun itu terdapat sebuah kuil milik Ban Sai Cinjin dan kalau tidak salah, di situlah kita akan dapat menemui jejak-jejak ayahmu atau makamnya. Kalau kau kehendaki, mari kuantarkan kau ke sana untuk menyelidiki.”

“Kembali ke Tong-sin-bun?” kata Lie Siong ragu-ragu. “Kita telah tiba sejauh ini…” Ia menengok ke arah Lilani. “Kita sudah dekat dengan tempat di mana kita akan menemukan rombongan suku bangsa Haimi. Lebih baik kita mencari suku bangsa itu lebih dulu untuk mengembalikan Lilani kepada bangsanya. Setelah itu, barulah kita kembali ke selatan untuk menyelidiki hal ini.”

Lo Sian menyatakan setuju dan demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan ke utara menuju ke kaki Gunung Alaka-san di sebelah barat. Di sepanjang jalan Lie Siong berkata bahwa kalau memang betul ayahnya telah terbunuh oleh Ban Sai Cinjin ia bersumpah untuk membalas dendam dan akan mencari serta membunuh Ban Sai Cinjin, biarpun untuk itu ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Pada masa itu, keadaan di tapal batas sebelah utara memang amat genting. Pertempuran-pertempuran telah pecah dan terjadi di mana-mana, di mana saja rombongan pengacau bangsa Tartar dan Mongol bertemu dengan rombongan pasukan pemerintah yang menjaga di perbatasan.

Malangi Khan amat pandai dalam siasatnya. Tidak saja ia membujuk dan menarik bangsa Tartar untuk bergabung dengan pasukannya dan sama-sama memukul ke selatan dengan janji-janji muluk, akan tetapi juga ia telah membujuk suku-suku bangsa Tiongkok yang tinggal di perbatasan utara untuk bersama-sama menggulingkan pemerintahan Kaisar Tiongkok. Juga ia masih berusaha untuk menghubungi orang-orang gagah di dunia kang-ouw untuk membantu usaha penyerbuannya, dengan pancingan-pancingan berupa harta benda dan janji kedudukan. Bahkan dengan Ban Sai Cinjin ia telah mengadakan hubungan yang erat, dan menjanjikan bahwa kalau kelak pemerintah kaisar telah terguling, ia hendak mengangkat Ban Sai Cinjin menjadi kaisar! Ban Sai Cinjin sendiri bukan seorang bodoh, dan tidak dapat ia menelan mentah-mentah janji muluk ini akan tetapi dengan kerja sama ini Ban Sai Cinjin sendiri pun mempunyai rencana. Kalau mereka bersama sudah berhasil menyerbu ke selatan dan mendapat kemenangan, dengan mudah saja ia akan mempergunakan pengaruhnya untuk mengkhianati orang-orang Mongol itu dan ia akan dapat berkuasa di kota raja.

Suku bangsa Haimi lama dikuasai oteh Malangi Khan. Semenjak ia memukul bangsa Haimi ini sehingga kepalanya, yaitu Manako melarikan diri dengan puterinya, maka bangsa ini menjadi semacam bangsa jajahan. Saliban, yang tadinya menjadi pembantu Manako, dengan sikapnya yang pandai menjilat, terpakai oleh Malangi Khan dan orang ini diangkat menjadi kepala dari suku bangsa Haimi dan boleh dibilang ia menjadi kaki tangan bangsa Mongol. Saliban mengumpulkan orang-orangnya baik dengan halus maupun secara paksa, untuk bergabung kembali dan bersama-sama merupakan sebuah kesatuan yang cukup kuat untuk membantu usaha kaum Mongol itu menyerbu ke selatan, atau setidaknya mengacaukan pertahanan tentara kerajaan di selatan. Berkat usaha Saliban, bangsa Haimi banyak yang ditangkap dan dijadikan anggauta pasukan secara paksa, sehingga sungguhpun di dalam hati orang-orang Haimi ini tidak suka membantu orang Mongol dan memusuhi tentara Han, namun terpaksa mereka maju juga.

Pada suatu hari, barisan suku bangsa Haimi yang berjumlah lima puluh orang lebih dipimpin sendiri oleh Saliban, sambil berteriak-teriak menyeramkan, sedang mengurung sepasukan penjaga tapal batas yang hanya berjumlah tiga puluh orang. Sungguh menyeramkan orang-orang Haimi ini. Mereka rata-rata berkumis panjang, kecuali Saliban sendiri yang semenjak muda telah membuang kumisnya, bersenjata golok dan pedang lalu menyerbu sambil berteriak-teriak menyeramkan.

Sebentar saja, pasukan kerajaan yang jauh lebih kecil jumlahnya itu telah terkurung rapat-rapat dan sudah banyak korban yang jatuh di pihak pasukan ini. Seorang perwira tua dari pasukan kerajaan ini dengan mati-matian bertempur mainkan sepasang pedangnya. Luka-luka telah membuat seluruh tubuhnya mandi darah akan tetapi perwira ini harus dipuji ketabahan dan keuletannya, karena ia tidak hendak menyerah sebelum titik darah terakhir!

Pada saat itu, tiba-tiba keadaan pihak orang-orang Haimi menjadi kacau-balau. Ternyata bahwa entah dari mana datangnya, di gelanggang peperangan itu telah datang seorang gadis cantik yang mainkan pedangnya secara luar biasa sekali. Pedang tunggal di tangannya berkilauan dan setiap kali tangannya menggerakkan pedang, robohlah seorang lawan!

Gadis muda ini bukan lain adalah Sie Li atau Lili! Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, setelah mendengar lamaran yang terus terang dan kasar dari Kam Wi, paman dari Kam Liong, gadis ini lalu melarikan diri meninggalkan rombongan Kam Liong. Karena ia memang tidak tahu jalan dan di sepanjang perjalanannya, ia tidak bertemu dengan seorang manusia pun, ia telah salah mengambil jalan dan yang disangkanya ke utara sebetulnya membelok ke barat!

Demikianlah, ketika ia melihat betapa serombongan tentara kerajaan dikeroyok dan dikurung oleh pasukan berkumis yang jauh lebih besar jumlahnya, tanpa diminta dan tanpa mengeluarkan kata-kata Lili lalu membantu pasukan kerajaan itu dan menyerang barisan berkumis dengan hebatnya.

Akan tetapi, pada saat Lili datang membantu, pasukan kerajaan telah habis, bahkan perwira tua itu hanya sempat melihat Lili sebentar saja, karena perwira ini lalu roboh saking lelah dan banyak mengeluarkan darah. Beberapa bacokan golok menamatkan riwayatnya. Sebentar kemudian hanya Lili seorang saja yang masih dikeroyok oleh puluhan orang berkumis. Saliban yang melihat seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa, merasa sayang kalau gadis ini sampai mengalami kematian, maka ia lalu berseru,

“Kawan-kawan, jangan bunuh gadis ini. Tangkap hidup-hidup!”

Akan tetapi, perintah ini lebih mudah diucapkan daripada dijalankan, karena jangan kata hendak menangkap hidup-hidup, untuk mendekati gadis itu saja sukarnya bukan main! Tiap orang yang terlalu berani mendekati Lili, tanpa dapat dicegah lagi roboh terkena tendangan atau kena sambaran hawa pukulan dari tangan kiri gadis itu, atau juga roboh karena keserempet pedang! Lili sengaja tidak mau membunuh orang. Melihat orang-orang berkumis ini, teringatlah ia akan cerita ayah bundanya tentang bangsa Haimi, maka ia tidak tega untuk membunuh seorang pun di antara mereka.

“Bukankah kalian ini orang-orang Haimi? Mengapa memusuhi tentara kerajaan? Dengarlah, aku adalah puteri Pendekar Bodoh. Ayah ibuku kenal baik dengan kepala kalian, Manako dan Meilani!” seru Lili di antara amukannya.

Benar saja, mendengar seruannya ini, sebagian besar orang Haimi lalu mengundurkan diri. Mereka sudah mendengar nama Pendekar Bodoh yang menjadi sahabat baik daripada kepala mereka yang dahulu, Manako. Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan Saliban yang mendorong mereka untuk maju lagi dan mengadakan pengeroyokan.

Lili menjadi kewalahan juga dan tak mungkin ia akan dapat melepaskan diri dari kepungan tanpa merobohkan atau menewaskan beberapa orang diantara mereka.

“Mana Manako atau Meilani? Suruh mereka keluar biar aku bicara dengan mereka!” teriaknya lagi, akan tetapi siapakah yang berani melayaninya? Biarpun semua orang Haimi itu timbul hati simpatinya terhadap gadis ini, namun mereka takut kepada Saliban.

Celaka bagi Lili pada saat itu, serombongan pasukan Mongol yang lihai datang! Orang-orang Mongol ini ketika melihat betapa sepasukan orang Haimi mengeroyok seorang gadis Han, cepat mereka menyerbu dan mengeroyok Lili. Keadaan Lili menjadi lebih berbahaya lagi. Biarpun ia mengamuk hebat, akan tetapi bagaimana ia dapat melayani ratusan orang musuh yang mengeroyoknya? Mereka itu kini mulai mempergunakan kaitan dan tambang sehingga gerakan Lili menjadi terhalang. Ia melawan terus dan pertempuran luar biasa ini sungguh hebat. Seorang gadis muda jelita dikeroyok oleh ratusan orang Mongol dan Haimi, dan biarpun sudah ribuan jurus, belum juga gadis ini kalah! Sudah bertumpuk mayat dan pandangan mata Lili sudah menjadi kabur. Kepalanya pening, peluhnya membasahi seluruh tubuhnya dan tenaganya mulai berkurang. Tak mungkin baginya untuk keluar dari kepungan, maka dengan nekat ia lalu menyerbu, maksudnya hendak membunuh sebanyak-banyaknya musuh sebelum ia roboh.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai bergemuruh dari jauh. Sepasukan tentara kerajaan yang lain datang menolong! Orang-orang Mongol memisahkan diri dan menyambut datangnya pasukan kerajaan yang terdiri dari seratus orang itu. Pertempuran makin hebat dan besar, akan tetapi Lili sudah lelah sekali sehingga ketika kakinya terjirat tambang, tubuhnya terhuyung lalu terguling. Banyak tangan yang kuat menubruknya dan dalam sekejap mata saja ia telah diikat kuat-kuat oleh orang-orang Haimi, lalu Saliban mengempitnya dan membawanya lari bersama orang-orangnya.

Lili yang roboh pingsan saking lelahnya tidak ingat sesuatu. Ketika ia telah siuman kembali ternyata ia telah berada di dalam sebuah hutan dan waktu itu telah malam. Kegelapan malam di dalam hutan itu terusir oleh cahaya api unggun besar yang dibuat oleh orang-orang Haimi di tempat itu. Di sini agaknya memang menjadi tempat beristirahat, karena pohon-pohon telah ditebang merupakan tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon besar. Lili tak dapat menggerakkan tubuhnya yang terikat erat-erat dan ia didudukkan menyandar batu karang. Ketika ia membuka matanya, ia melihat banyak sekali orang Haimi mengelilingi api, duduk bercakap-cakap dalam bahasa Haimi. Dahulu, secara iseng-iseng ayah bundanya yang sedikit mengerti bahasa ini, telah memberi tahu dan memberi pelajaran kepadanya tentang bahasa Haimi, maka biarpun hanya sedikit, Lili dapat menangkap percakapan mereka.

“Jangan, Saliban, dia adalah puteri Pendekar Bodoh, pendekar besar sahabat baik Kwee Tai-hiap yang sudah banyak berjasa terhadap kita. Jangan ganggu dia!” terdengar seorang Haimi yang sudah tua berkata terhadap orang Haimi yang tak berkumis. Ucapan ini agaknya diterima dan dinyatakan setuju oleh sebagian besar orang-orang di situ, karena mereka nampak menganggukkan kepala. Akan tetapi orang Haimi yang tidak berkumis itu menjadi marah.

“Siapa takut Pendekar Bodoh? Tidak tahukah kalian bahwa Pendekar Bodoh adalah musuh orang-orang Mongol? Kita harus memperlihatkan jasa, dan sekarang kesempatan yang amat baik ini jangan kita lewatkan begitu saja. Gadis ini demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula. Kalau kita membawanya kepada Malangi Khan dan mempersembahkannya, tentu ia akan berterima kasih dan girang sekali. Kalau dia tidak mau, aku sendiri pun membutuhkan seorang isteri segagah dan secantik ini.”

Kembali terdengar suara menggumam dari pada hadirin, akan tetapi kali ini menyatakan tidak setuju. Hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Lili yang tajam. Ia mendapat kesimpulan bahwa orang-orang Haimi ini betapapun juga masih menaruh hati setia kawan terhadap ayahnya, akan tetapi mereka agaknya takut kepada orang yang bernama Saliban, orang Haimi yang tidak berkumis itu.

Diam-diam Lili mengeluh. Alangkah buruk nasibnya. Melakukan perjalanan bersama Kam Liong, mendengar lamaran yang kasar dan yang membuat mukanya menjadi selalu merah kembali kalau diingatnya. Meninggalkan rombongan itu, belum juga bertemu dengan Hong Beng dan Goat Lan bahkan kini terjatuh ke dalam tangan serombongan orang Haimi yang telah berubah dan telah menjadi kaki tangan Mongol! Kalau ia diserahkan kepada bangsa Mongol itu, akan celakalah dia! Akan tetapi, Lili tak pernah putus asa. Selama hayat masih dikandung badan, gadis ini takkan mati putus asa. Ia masih hidup, kepandaiannya masih ada. Betapapun hebat malapetaka mengancam, ia akan dapat menolong diri sendiri. Dengan pikiran ini, hati Lili menjadi tetap dan ia lalu meramkan mata dan tertidur. Ia menganggap perlu sekali beristirahat dan tidur melepaskan lelahnya. Besok pagi-pagi ia akan berusaha untuk melepaskan ikatan kaki tangannya.

Memang cerdik sekali pikiran Lili ini. Kalau ia berusaha atau berkuatir hati, mungkin ia takkan dapat tidur dan hal ini berbahaya sekali. Ia amat penat dan kehabisan tenaga, kalau ditambah lagi dengan kegelisahan dan tak dapat tidur, keadaannya tentu akan menjadi lebih buruk lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lili telah bangun dari tidurnya. Sungguhpun kaki tangannya terasa kaku dan kesemutan, namun ia merasa tubuhnya sehat dan segar, tidak lemas seperti malam tadi. Dan ia merasa heran sekali ketika melihat betapa semua orang Haimi masih duduk mengelilingi api. Mereka tidak bercakap-cakap lagi, hanya duduk melenggut. Melihat keadaan orang-orang ini, timbul hati kasihan di dalam dada Lili. Alangkah sengsaranya hidup seperti orang-orang ini. Agaknya tidak berumah, tidak bebas, dan hidup hanya sebagai budak belian, di bawah perintah orang Haimi tak berkumis yang telah diperbudak pula oleh orang Mongol itu. Kemanakah perginya Manako dan Meilani, kepala suku bangsa Haimi yang menjadi sahabat baik ayah bundanya?

Dan pada saat Lili termenung sambil memandang ke arah Saliban yang juga telah bangun dan sedang menendangi kawan-kawannya memerintahkan mereka bangun, nampaklah oleh Lili berkelebatnya bayangan merah yang luar biasa sekali gerakannya. Bayangan ini berkelebat bagaikan bintang jatuh dan tiba-tiba tanpa diketahui oleh orang-orang Haimi itu, di depannya telah berdiri seorang wanita. Cuaca pagi hari di dalam hutan itu masih agak gelap, remang-remang tertutup halimun. Dalam pandangan Lili, wanita yang berdiri di depannya itu demikian cantiknya seperti seorang bidadari dari kahyangan. Pakaiannya berwarna merah dan biarpun di sana-sini sudah ditambal, namun tidak mengurangi potongan bentuk tubuhnya yang langsing. Tangan wanita itu memegang pedang yang mengeluarkan sinar mencorong bagaikan bintang pagi, mengingatkan Lili kepada pedang Liong-cu-kiam dari ayahnya. Akan tetapi pedang di tangan wanita baju merah itu lebih pendek daripada Liong-cukiam ayahnya.

Wanita itu tidak mengeluarkan sepatah pun kata, akan tetapi tangannya yang memegang pedang bergerak membacok ke arah Lili! Sungguh aneh dan hebat gerakan bacokan ini sehingga Lili sendiri menjadi ngeri mengira bahwa wanita ini akan membunuhnya. Tak terasa lagi gadis ini meramkan matanya. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa tangan dan kakinya terlepas dari belenggu! Ternyata bahwa wanita itu bukan membacok tubuhnya, melainkan membacok belenggu-belenggu yang mengikat kaki tangannya! Cepat ia melompat berdiri dan karena tubuhnya masih kaku dan kesemutan, Lili menjadi limbung! Cepat-cepat ia melakukan gerakan bhesi yang disebut Sepasang Gunung Menembus Awan, sebuah bhesi dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut dan kedua tangannya ia gerak-gerakkan sehingga mengeluarkan uap putih. Lili melakukan gerakan ini selain untuk mencegah tubuhnya limbung dan jatuh, juga untuk melemaskan urat-urat tangannya dan mencegah masuknya hawa atau angin jahat ke dalam tubuhnya.

Akan tetapi wanita itu nampak terkejut sekali. Sekali kedua kakinya bergerak, wanita itu telah melesat dan berdiri dekat sekali di depan Lili. Dipegangnya pundak Lili, digoncang-goncangnya beberapa kali sambil bertanya, “Siapa kau? Dari mana kau mempelajari Pen-in-hoatsut?”

Ketika wanita baju merah itu menggoncang-goncang pundak Lili, gadis ini dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas sekali dan terkejutlah dia. Wajah ini setelah terlihat jelas ternyata merupakan wajah seorang nenek-nenek yang sudah tua sekali! Rambutnya sudah putih semua dan kulit mukanya sudah penuh keriput. Sekaligus lenyaplah sifat-sifat kecantikan wanita itu, dan pada saat itu juga teringatlah Lili dengan hati berdebar siapa adanya wanita di depannya itu.

“Ang… Ang… I Niocu….” katanya dengan suara gemetar. Kedua tangan yang halus dan amat kuat, yang tadi menggoncang-goncangkan pundaknya dengan kekuatan luar biasa itu kini terhenti tiba-tiba.

“Kau siapakah? Lekas mengaku, kau siapa dan anak siapa!” kata pula wanita itu yang memang betul Ang I Niocu adanya.

“Ah… Ie-ie (Bibi) Im Giok…!” Tak terasa pula Lili lalu merangkul wanita itu. Semenjak kecilnya, ibunya seringkali menceritakan tentang Kiang Im Giok atau Ang I Niocu yang amat dicinta oleh ayah ibunya ini, wanita perkasa yang telah banyak melepas budi kepada Pendekar Bodoh suami isteri (baca cerita Pendekar Bodoh). Pertemuan ini amat menggirangkan hatinya juga amat mengharukah karena selalu terbayang olehnya bahwa Ang I Niocu adalah seorang wanita tercantik di dunia ini. Sungguhpun ia telah mendengar dari ibunya bahwa kini Ang I Niocu telah tertimpa malapetaka dan menjadi tua sekali, namun tidak pernah terduga bahwa wanita ini akan menjadi setua itu, maka ia menjadi amat terharu. Air mata tak tertahan pula mengalir di atas pipinya.

Sementara itu, melihat wajah dan watak gadis ini, Ang I Niocu tidak ragu-ragu lagi. “Kau puteri Lin Lin, anak Cin Hai…?” bisiknya.

“Betul, Ie-ie Im Giok, aku bernama Sie Hong Li atau Lili. Masih ada saudaraku, yaitu kakakku bernama Sie Hong Beng.”

Ang I Niocu memegang kedua pundak Lili, menjauhkan tubuh gadis itu dari padanya dan memandang wajah cantik itu dengan air mata mengalir turun di pipinya yang kisut. Ang I Niocu, wanita yang keras hati seperti baja ini tak dapat menahan keharuan hatinya melihat puteri dari kawan-kawannya yang tercinta!

Pada saat itu, Saliban dan kawan-kawannya telah melihat Ang I Niocu dan ketika Saliban melihat betapa Lili telah terlepas ikatan kaki tangannya, ia menjadi marah sekali. Cepat ia mencabut pedangnya dan memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerbu.

“Tangkap Nona itu dan bunuh wanita baju merah itu!” teriaknya.

Berubah wajah Ang I Niocu ketika ia mendengar seruan ini. Cepat ia melepaskan pundak Lili dan berkata, “Apakah mereka ini yang menangkapmu? Ha-haha, lihatlah anakku, lihat betapa Ie-iemu, biarpun sudah tua masih sanggup membuat puluhan orang ini menjadi setan tak berkepala lagi dalam sekejap mata!” Sambil berkata demikian, tangan kanannya meraba pinggang dan tahu-tahu pedang yang tajam berkilau itu telah tercabut dan berada di tangannya! Pedang ini sesungguhnya juga pedang Liong-cukiam, asalnya merupakan siang-kiam (pedang pasangan), sebatang panjang dan sebatang pula pendek. Ang I Niocu dan Cin Hai yang mendapatkan pedang ini di dalam gua, dan kemudian menurut pesan Bu Pun Su guru Cin Hai, pedang yang panjang diberikan kepada Cin Hai sedangkan yang pendek jatuh pada Ang I Niocu. Oleh karena itu, pedang yang berada di tangan Ang I Niocu ini hebat sekali dan tajam luar biasa!

Melihat kemarahan Ang I Niocu, Lili menjadi kuatir sekali. Ia dapat menduga bahwa wanita baju merah ini benar-benar melakukan ancamannya, semua orang Haimi itu tentu akan mati di tangan Ang I Niocu. Ia pernah mendengar dari ibunya betapa ganas wanita ini kalau sedang marah.

“Ie-ie Im Giok, tahan dulu…!” teriaknya sambil melompat maju dan memegang tangan kanan Ang I Niocu yang memegang pedang. “Orang-orang ini adalah suku bangsa Haimi yang tidak jahat, hanya kepalanya saja yang memaksa mereka menjadi penjahat. Biarlah aku menghadapi mereka, Ie-ie Im Giok. Ampunkanlah mereka, dan tentang kepalanya yang jahat itu, biarkan aku sendiri yang menghajarnya!”

Ang I Niocu memandang kepada Lili dengan matanya yang amat tajam. Lili kuatir kalau-kalau nyonya luar biasa ini akan marah, akan tetapi ternyata tidak. Ang I Niocu bahkan tersenyum dan berkata perlahan, “Kau seperti ayahmu, berbudi dan pengasih, dan berani seperti ibumu. Nah, kaupakailah pedangku untuk menghadapi kepala mereka.”

“Terima kasih, Ie-ie, tak usah!” jawab Lili gembira. “Untuk membunuh seekor anjing, tak patut mengotorkan pedang Liong-cu-kiam!” Ia kini tak ragu-ragu lagi menyebutkan nama pedang ini karena memang ia telah tahu dari ayahnya bahwa pedang Ang I Niocu adalah pedang Liong-cu-kiam.

Dengan kedua tangan di pinggang, Lili berdiri dengan gagahnya, menanti datangnya serbuan puluhan orang Haimi itu. Orang-orang ini memang sudah merasa kagum dan segan untuk memusuhi gadis itu, maka kini mereka menjadi ragu-ragu. Mereka maju hanya atas perintah dan desakan Saliban, maka kini setelah berada di depan gadis yang gagah itu, mereka berdiri ragu-ragu, mundur tidak maju pun gentar.

“Saudara-saudara suku bangsa Haimi, dengarlah kata-kataku! Dengarlah ucapan puteri Pendekar Bodoh yang semenjak dahulu menjadi sahabat dan pembela Manako dan Meilani! Agaknya sekarang kalian telah diselewengkan oleh kepalamu yang baru, yang mengekor dan menjadi kaki tangan bangsa Mongol yang jahat! Kalian hidup dalam bahaya kehancuran seluruh bangsamu. Jangan takut kepada kepalamu yang jahat itu, dan jangan takut kepada orang Mongol yang menindasmu. Aku akan melindungimu, aku dan ayah ibuku. Pendekar Bodoh dan kawan-kawan kami akan melindungimu, akan memukul hancur bangsa Mongol! Lebih baik tinggalkan kepalamu yang jahat itu dan kembalilah kepada keluargamu masing-masing!”

Tak seorang pun diantara orang-orang Haimi itu berani menjawab dan tiba-tiba Saliban melompat ke depan dengan pedang di tangan.

“Perempuan sombong! Kau kemarin telah tertawan dan kami tidak membunuhmu karena sayang kepadamu yang masih muda. Dan sekarang kau berani mengeluarkan ucapan sesombong itu? Terpaksa sekarang kami harus membunuhmu karena mulutmu jahat sekali!”

“Ha-ha, kau bernama Saliban? Tidak tahu entah dari mana datangnya harimau tak berkumis yang telah berhasil membujuk dan menipu harimau-harimau Haimi yang gagah perkasa. Kau mau membunuhku? Aduh sombongnya! Kemarin juga kalau tidak dengan secara pengeroyokan yang pengecut sekali, agaknya kau telah mampus dalam tanganku!”

Saliban memang gentar menghadapi kegagahan Lili yang kemarin sudah disaksikannya akan tetapi oleh karena sekarang pedang gadis itu berada di dalam tangannya dan gadis itu sendiri bertangan kosong, ia menjadi berani. Ia berseru keras, “Kawan-kawan, serbu dan bunuh perempuan sombong ini!”

Akan tetapi tak seorang pun diantara orang-orang Haimi itu yang mau menggerakkan senjata. Ucapan Lili tadi telah mempengaruhi mereka dan kini mereka mengambil keputusan hendak berdiam diri dulu, menyaksikan bagaimana gadis ini akan mengalahkan Saliban yang gagah perkasa dan yang mereka takuti. Sebelum Saliban dapat mengulangi perintahnya, tiba-tiba Lili telah menggerakkan kakinya dan tubuhnya melesat cepat ke arah Saliban.

Saliban mengangkat pedang Liong-coan-kiam, pedang Lili yang sudah dirampasnya lalu membacok dengan kuat dan hebat ke arah kepala gadis itu. Akan tetapi, dengan amat mudahnya Lili mengelak ke kiri dan dengan lincahnya ia lalu mempermainkan Saliban. Serangan kepala Suku bangsa Haimi yang dilakukan secara bertubi-tubi itu sama halnya dengan serangan yang ditujukan kepada angin belaka. Sedikit pun belum pernah pedang itu dapat menyentuh ujung pakaian Lili.

Ang I Niocu mau tidak mau tersenyum geli melihat betapa Lili mempermainkan lawannya sambil mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna. Hebat sekali gadis ini, pikirnya. Lincah dan tabah seperti ibunya, akan tetapi tenang dan penuh perhitungan seperti ayahnya. Ah, ia merasa menyesal mengapa ia telah menjauhkan diri dari mereka ini, kalau saja ia tahu bahwa Cin Hai dan Lin Lin mempunyai seorang puteri secantik dan segagah ini, dari dahulu tentu sudah dipinangnya gadis ini untuk puteranya, Lie Siong!

Kalau dibuat perbandingan, ilmu silat Saliban jauh kalah oleh Lili sehingga pertempuran itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus. Pada jurus ke dua puluh, mulailah Lili membalas serangan lawannya. Ia mengelak cepat dari sebuah tusukan dan begitu tangan kirinya bergerak, terdengarlah suara “plok!” yang keras sekali karena pipi Saliban telah kena ditampar.

Saliban merasa seakan-akan kepalanya disambar petir, matanya berkunang dan bumi yang dipijaknya serasa beralun. Akan tetapi ia masih dapat mempertahankan dirinya, sungguhpun ia merasa betapa separuh mukanya menjadi panas dan bengkak membesar, ia tetap saja maju menyerang dengan mati-matian!

Saliban memekik kesakitan ketika pukulan Pek-in-hoatsut itu mengenai dadanya. Pedangnya terampas dengan mudah dan akibat pukulan yang lihai itu, tubuhnya terpental sampai beberapa tombak jauhnya dan tiba di tengah-tengah kumpulan kawan-kawannya yang memandang dengan mata terbelalak kagum.

Lili memang betul berhati pengasih dan pengampun seperti ayahnya. Tadinya ia tidak niat membunuh Saliban, hanya hendak mengalahkannya, memberi hajaran keras merampas pedangnya dan menginsyafkan orang-orang Haimi yang disesatkannya. Maka ia terkejut sekali melihat betapa tiba-tiba orang-orang Haimi yang berkumis panjang itu kini menghujani tubuh Saliban yang sudah tak bergerak dengan golok dan pedang mereka. Tentu saja dalam sekejap mata tubuh Saliban menjadi hancur lebur tercacah oleh puluhan batang golok dan pedang.

Lili melompat ke tempat itu hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Tubuh Saliban telah hancur tidak karuan lagi dan ketika orang-orang Haimi itu melihat Lili melompat dekat, mereka lalu melepaskan senjata dan menjatuhkan diri berlutut di depan gadis gagah itu.

“Lihiap, jahanam ini sudah terlampau banyak mendatangkan kesusahan kepada kami,” kata seorang Haimi tua yang malam tadi menyatakan tidak setuju terhadap kehendak Saliban. “Semenjak bangsa kami diserang dan dikalahkan oleh bangsa Mongol sehingga kepala kami yang bernama Manako melarikan diri dan Meilani telah tewas, kami hidup seperti budak-budak belian yang tidak berkuasa atas pikiran dan hati sendiri. Bangsat rendah Saliban ini menambah malapetaka, karena ia pandai bermuka-muka sehingga diangkat oleh Malangi Khan sebagai kepala kami. Hari ini, Lihiap telah datang dan membebaskan kami dari tindasan Saliban, akan tetapi hal ini belum berarti bahwa Lihiap telah membebaskan kami dari tindasan orang-orang Mongol. Bahkan kematian Saliban ini tentu akan mendatangkan malapetaka yang lebih besar lagi dan mungkin sebentar lagi seluruh anak isteri kami dibunuh oleh orang Mongol!” Setelah orang tua ini berkata demikian, terdengar isak tangis karena sebagian besar orang-orang Haimi itu telah menangis sedih.

Ang I Niocu yang datang berdiri di dekat Lili, lalu berkata kepada orang-orang Haimi itu dengan suara mengejek, “Hmm, kalian ini orang-orang bodoh hanya kumisnya saja yang panjang, akan tetapi pikiranmu pendek sekali. Hanya tampang saja yang gagah akan tetapi hatinya lemah dan pengecut melebihi wanita yang selemah-lemahnya! Kesukaran tak dapat diatasi hanya dengan cucuran air mata. Persoalan tak mungkin dapat dipecahkan hanya dengan keluh kesah belaka! Kalau kalian mempunyai kesulitan, lebih baik cepat ceritakan kepada Nona ini, karena Nona ini sekali mengeluarkan kesanggupan pasti akan dipenuhi.”

Orang-orang Haimi yang mendengar kata-kata ini, menjadi merah mukanya karena malu dan jengah. Mendengar nasihat tentang kegagahan dari seorang wanita tua, sungguh amat memalukan sekali.

“Siapakah kau, Toanio, yang mengeluarkan kata-kata segagah ini?” tanya orang Haimi tua tadi.

Dengan suara bangga, Lili lalu memperkenalkan Ang I Niocu kepada mereka. “Kalian tentu pernah mendengar nama Ang I Niocu, bukan? Nah, inilah dia Ang I Niocu, pendekar wanita terbesar di segala jaman! Dia adalah Twa-ieku yang tercinta. Dengan adanya dia di sini, apakah kalian masih ragu-ragu lagi bahwa aku takkan dapat menolong kalian? Jangankan baru Malangi Khan, Raja Mongol yang hanya seorang manusia biasa itu, biarpun orang-orang Mongol mempunyai raja seorang dewata, dengan Ie-ieku ini di sampingku, aku sanggup menghadapinya!”

Nama besar Ang I Niocu memang sudah amat terkenal dari selatan sampai ke utara, dari barat sampai ke timur, maka sebagian besar orang-orang Haimi itu, terutama sekali yang tua-tua, telah mendengar dan mengenal nama ini, maka serentak mereka memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Kalau begitu, kami mulai hari ini mengangkat Lihiap dan Niocu sebagai pemimpin-pemimpin kami. Hanya kepada Lihiap dan Niocu kami menyerahkan nasib bangsa kami. Ketahuilah, Lihiap dan Niocu, setelah kami dikalahkan oleh bangsa Mongol, keluarga kami yaitu isteri, orang-orang tua dan anak-anak kami semua dikumpulkan dalam sebuah kampung dan dijaga oleh pasukan Mongol. Hanya beberapa hari sekali kami diperkenankan menjumpai mereka. Hal itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang jahat untuk merantai kaki kami, karena dengan demikian, mau tidak mau kami tidak berani membantah perintah mereka yang dikeluarkan melalui mulut Saliban yang khianat!”

Mendengar penuturan ini, baik Lili maupun Ang I Niocu menjadi marah sekali.

“Di mana tempat keluarga kalian itu terkurung?” tanya Ang I Niocu.

“Tidak jauh dari sini, di sebuah dusun di kaki Gunung Alkata-san,” jawab orang Haimi tua tadi.

“Nah, kita tunggu apa lagi? Mari berangkat ke sana untuk menolong mereka,” kata pula Ang I Niocu. Orang-orang Haimi itu terkejut sekali.

“Akan tetapi… tempat itu dijaga oleh seratus orang-orang yang jahat.”

Lili menjadi hilang sabar. “Pengecut! Kalian tadi sudah mengaku kami berdua sebagai pemimpin, mengapa sekarang masih banyak membantah lagi? Apakah kalian tidak percaya kepada Ie-ieku? Kalau tidak percaya, sudah saja, kami pergi meninggalkan kalian!”

Mendengar ini buru-buru orang-orang Haimi itu berlutut lagi dan minta maaf. Kemudian dengan wajah gembira orang tua itu lalu mengumpulkan kawan-kawannya yang jumlahnya masih ada empat puluh dua orang lalu beramai-ramai mereka pergi menuju ke dusun di mana keluarga mereka yang jumlahnya hampir seratus orang wanita, orang-orang tua, dan anak-anak itu ditahan dan dikurung.

Tempat dimana keluarga Haimi itu dikurung adalah sebuah dusun yang telah kosong. Di situ hanya terdapat gubuk-gubuk yang amat sederhana dan miskin, dan penghidupan keluarga Haimi itu tidak lebih baik daripada penghidupan sekelompok ternak. Di sekeliling kampung itu benar saja dijaga oleh orang-orang Mongol yang bersenjata lengkap, dan tidak jarang orang-orang wanita keluarga Haimi itu mendapat gangguan yang kurang ajar dari para penjaganya.

Ang I Niocu dari Lili yang mengepalai empat puluh dua orang Haimi itu berjalan menuju ke kampung itu. Di sepanjang perjalanan, kedua orang ini bercakap-cakap seperti dua orang keluarga yang telah lama berpisah.

“Ie-ie, aku pernah bertemu dengan puteramu,” kata Lili.

Ang I Niocu cepat menengok dan memandang dengan wajah berseri.

“Betulkah? Kau sudah bertemu dengan Siong-ji? Di mana? Bagaimana dia?”

Lili adalah seorang gadis yang jujur seperti ayahnya. Biarpun ia gemar sekali berjenaka, akan tetapi pada saatnya ia dapat berlaku sungguh-sungguh dan jujur sekali.

“Menyesal sekali harus kukatakan bahwa puteramu itu amat aneh dan juga… kurang ajar sekali, Ie-ie!”

Bukan main terkejutnya hati Ang I Niocu mendengar ini, sehingga ia lalu menoleh ke belakang dan membentak semua orang Haimi agar berhenti untuk beristirahat! Kemudian ia menarik tangan Lili ke bawah batang pohon dan berkata, suaranya amat menyeramkan, “Nah, katakanlah terus terang, mengapa kau menganggap dia demikian? Apakah yang telah ia perbuat?”

“Perjumpaanku yang pertama adalah ketika dia, dia mengganggu seorang gadis cantik!” Kembali Ang I Niocu terkejut sekali.

“Tak mungkin! Siong-ji takkan melakukan perbuatan seperti itu!”

Akan tetapi Lili lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika pemuda ini hendak meninggalkan Lilani sehingga gadis Haimi itu menangis sambil mengejarnya sehingga kemudian ia bertempur dengan Lie Siong.

“Agaknya puteramu itu… mencinta gadis itu atau sebaliknya.”

“Siapa gadis itu, Lili? Dan mengapa puteraku bersama dengan dia dan melakukan perjalanan bersama?”

“Bagaimana aku dapat menjawab pertanyaan ini, Ie-ie? Aku hanya bertemu sebentar dan pertemuan itu pun bukan pertemuan ramah tamah, bahkan kami telah bertempur karena tidak saling mengenal.”

“Hmm, sudahlah, dan kemudian di mana lagi kau berjumpa dengan dia?”

“Yang kedua kalinya, kami berjumpa di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu, tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang mengobati penyakit Sin-kai Lo Sian. Juga di tempat ini… puteramu dan aku telah bertempur karena puteramu hendak menyerang Lo Sian. Dan dalam pertempuran ini… ia…” Lili berhenti sebentar karena wajahnya menjadi merah sekali dan untuk sejenak ia menundukkan mukanya, “dia telah… berlaku amat kurang ajar terhadap aku, Ie-ie…”

“Ia berbuat apakah? Lekas, lekas ceritakan, aku tak sabar lagi.”

“Dia telah merampas sebelah sepatuku!”

“Apa…??” Kini Ang I Niocu memandang dengan mata terbelatak. “Merampas sepatumu? Untuk apakah?”

Makin merah wajah Lili. “Entahlah, siapa tahu?” Ia cemberut, sehingga hampir Ang I Niocu tertawa. Gadis ini sama benar dengan Lin Lin, ibunya. “Aku tak dapat mengejar karena kakiku telanjang. Ia pergi sambil membawa sepatuku dan luka di punggungnya.”

“Hmm, aneh… aneh, mengapa Siong-ji menjadi begitu aneh?”

“Masih belum hebat, Ie-ie. Belum lama ini, dia bahkan berani datang ke rumah dan selagi ayah bundaku pergi ke Tiang-an, puteramu itu telah menculik Sin-kai Lo Sian!”

“Gila! Apa artinya semua ini, Lili? Ada hubungan apakah antara puteraku dengan Sin-kai Lo Sian? Kalau misalnya ia bermusuhan dengan pengemis itu, tentu ia akan membunuhnya. Akan tetapi menculik pengemis, untuk apa?”

Sebetulnya Lili merasa enggan untuk menceritakan sebabnya, akan tetapi oleh karena pandang mata Ang I Niocu demikian tajamnya sehingga seakan-akan hendak menembus dadanya, maka ia tidak berani menyembunyikannya lagi.

“Harap Ie-ie mendengar dengan tenang. Sesungguhnya Sin-kai Lo Sian mengetahui sebuah hal amat penting dan mengejutkan hati. Dia menyatakan dan terdengar oleh puteramu bahwa… bahwa… suamimu telah meninggal dunia.”

Lili melihat betapa wajah Ang I Niocu yang sudah keriputan itu menjadi pucat sekali, akan tetapi tidak sebuah pun seruan kaget keluar dari mulutnya.

“Di mana matinya? Bagaimana dan oleh siapa?” hanya demikian tanyanya.

“Inilah soalnya, Ie-ie. Ini pula agaknya yang membuat puteramu melakukan penculikan terhadap diri Sin-kai Lo Sian, untuk memaksanya memberi keterangan. Ah, kasihan orang tua itu, dia sesungguhnya tak dapat memberi keterangan itu karena ingatannya telah hilang.”

“Apakah maksudmu?”

Dengan jelas Lili lalu menceritakan keadaan Lo Sian. Mendengar semua ini Ang I Niocu lalu bangkit berdiri. Ia berdiri diam bagaikan patung, tak sedikit pun kata-kata keluar dari mulutnya lagi. Lili memandang dengan terharu dan kagum. Beginilah sikap seorang wanita gagah. Menderita pukulan batin yang hebat, mendengar kematian suaminya, tidak mencak-mencak atau menangis seperti biasa dilakukan oleh wanita, akan tetapi berdiri mengatur napas dan termenung menenteramkan batin untuk mengatasi pukulan itu.

Tanpa bergerak atau menoleh, tiba-tiba Ang I Niocu berkata,

“Lili, bencikah kau kepada anakku?”

Lili terkejut sekali. Tak pernah disangkanya akan mendapat pertanyaan seperti ini. Ia, seorang gadis yang jujur, apalagi terhadap Ang I Niocu, ia tidak boleh membohong. Bencikah ia kepada Lie Siong pernuda kurang ajar itu? Wajah pemuda itu seringkali terbayang kembali dengan segala kekasaran dan kekurangajarannya.

“Tidak, Ie-ie. Penuturanku tadi adalah sesungguhnya, bukan berdasarkan kebencianku. Mengapa aku harus membencinya? Biarpun ia telah berlaku kurang ajar merampas dan membawa lari sepatuku…”

“Itu tanda dia suka kepadamu, anak bodoh!”

Lili tertegun. “Aku… aku tidak benci kepadanya Ie-ie,” katanya dengan hati tetap karena ia tidak membenci ketika mengatakan hal ini.

“Dan kau suka kepadanya?” tanya Pula Ang I Niocu, masih belum bergerak dan tidak menoleh.

Berdebar jantung Lili. Sungguh hebat sekali Ang I Niocu ini, menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan demikian jitu dan langsung, benar-benar menyulitkannya. Agaknya demikian pula kalau pendekar wanita ini menyerang lawan dengan pedang. Jitu, hebat, dan langsung!

“Ie-ie, bagaimana aku dapat menjawab pertanyaanmu ini? Sungguh sukar bagiku untuk menjawab. Apakah maksudmu dengan pertanyaan ini, Ie-ie yang baik?”

“Masudku, Lili,” kata Ang I Niocu yang kini tiba-tiba menoleh dan memandang tajam kepada gadis itu, “karena kalau sudah tiba masanya puteraku memilih jodoh, kaulah yang akan menjadi jodohnya! Dulu ketika aku bertemu dengan puteri Kwee An dan Ma Hoa yang bernama Goat Lan, aku berpikir bahwa dialah yang patut menjadi mantuku.”

“Enci Goat Lan adalah tunangan Engko Hong Beng,” Lili memprotes.

“Lebih-lebih begitu. Setelah aku melihatmu, telah tetap dalam hatiku takkan memperbolehkan Siong-ji menikah selain dengan engkau!”

Bukan main jengahnya perasaan Lili mendengar ini. Mukanya menjadi merah sampai ke telinganya dan dadanya berdebar, ia tidak tahu apakah debar jantungnya itu tanda girang atau marah.

“Tak mungkin, Ie-ie. Puteramu itu telah mencintai seorang gadis lain yang melakukan perjalanan bersama dia!”

“Apakah kau yakin bahwa Siong-ji mencintainya?”

“Aku tidak mau tahu urusan orang lain,” jawab Lili dan kembali ia cemberut seperti ibunya kalau marah. “Yang sudah pasti, gadis itu amat mencintainya.”

“Tak mungkin Siong-ji menjatuhkan hatinya pada seorang gadis kecuali gadis seperti engkau. Ah, sudahlah, hal itu mudah dilihat nanti. Pendeknya sukakah kau menjadi mantuku?”

“Ie-ie, dalam hal ini, aku hanya menyerahkannya kepada ayah ibuku. Bagaimana aku dapat memutuskannya sendiri?”

Ang I Niocu memberi tanda ke belakang agar rombongan itu bergerak lagi, tanda bahwa percakapan dengan Lili telah dihabisinya. Kali ini, di sepanjang perjalanan Lili tidak banyak bercakap lagi. Ia merasa kikuk dan malu-malu terhadap Ang I Niocu setelah pendekar wanita itu menyatakan hendak mengambil mantu padanya. Terbayang berganti-ganti wajah Kam Liong, Song Kam Seng, dan Lie Siong. Kam Liong dan Song Kam Seng tak dapat disangkal lagi tentu mencintainya, jelas nampak dalam sikap mereka. Akan tetapi Lie Siong? Benarkah ucapan Ang I Niocu bahwa perampasan sepatu itu menjadi tanda bahwa pemuda itu suka kepadanya? Apakah bukan sekedar menghinanya belaka?

Ketika rombongan sudah tiba di depan pintu gerbang dusun di mana keluarga Haimi itu ditahan, para penjaga menghardik orang-orang Haimi itu.

“Siapa menyuruh kalian datang pada waktu ini? Belum tiba waktunya kalian diperbolehkan masuk ke sini! Mana Saliban? Panggil ia maju, agar dia yang bicara dengan kami,” kata kepala penjaga, seorang Mongol yang tinggi besar dan berwajah menyeramkan.

“Bangsat Mongol tak usah banyak buka mulut! Lebih baik buka pintu gerbang dan minggatlah kau dan orang-orangmu dari sini!” Lili melompat maju sambil menudingkan kipasnya. Semenjak tadi gadis ini telah mencabut kipasnya dan mengipasi tubuhnya yang berkeringat karena perjalanan itu. Keadaan gadis ini dan Ang I Niocu memang di sepanjang jalan menimbulkan keheranan para orang Haimi. Hawa udara amat dinginnya akan tetapi kedua orang wanita itu berpeluh dan nampaknya kepanasan! Mereka tidak tahu bahwa memang Lili dan Ang I Niocu mengerahkan hawa dalam tubuh untuk membikin panas tubuhnya, melawan hawa dingin dan melancarkan peredaran darah, maka mereka merasa kepanasan sampai berkeringat. Adapun kipas Lili, ini dahulu tidak dirampas oleh Saliban karena tidak seorang pun menduga bahwa kipas itu adalah sebuah senjata yang ampuh dari Lili.

Orang Mongol tinggi besar yang mendengar bentakan ini, tertawa bergelak gelak. “Ha-ha-ha! Mana Saliban? Bagus benar, ia telah membawa seorang tawanan wanita yang sedemikian cantiknya!

Sayang otaknya agak miring! Akan tetapi aku suka memberinya sepuluh potong uang emas untukmu! Ha-ha-ha!”

Akan tetapi suara ketawanya segera disusul oleh pekik mengerikan ketika Lili menggerakkan kipasnya yang gagangnya dengan telak menotok leher orang Mongol itu. Pekik mengerikan ini hanya keluar untuk mengantar nyawanya meninggalkan raganya.

Gegerlah seketika karena orang-orang Haimi juga sudah menyerbu dan menyerang para penjaga Mongol itu. Juga Ang I Niocu segera bergerak, pedangnya merupakan halilintar menyambar-nyambar dan di mana sinar pedangnya berkelebat, sebuah kepala orang Mongol terpisah dari lehernya! Amukan Lili dan Ang I Niocu sedemikian hebatnya sehingga sebentar saja sisa para penjaga Mongol itu melarikan diri sambil berteriak-teriak ketakutan, meninggalkan kawan-kawan mereka yang sudah tewas bertumpuk-tumpuk di luar pintu gerbang.

Pertemuan antara keluarga Haimi dan para perajurit Haimi itu sungguh amat mengharukan. Akan tetapi Ang I Niocu segera memberi perintah agar semua orang segera meninggalkan kampung itu dan beramai-ramai menuju ke timur. Di sebelah timur terdapat sebuah hutan lebat di lereng Bukit Alkata-san dan di sinilah mereka berhenti. Ang I Niocu tidak takut akan pembalasan orang-orang Mongol, akan tetapi tentu saja sukar baginya untuk melindungi sekian banyaknya orang apabila terjadi pertempuran dengan orang-orang Mongol. Setelah berada di tengah hutan, orang-orang Haimi lalu membuat pagar dan pondok-pondok darurat, kemudian diadakan penjagaan yang kuat.

Setelah itu, orang Haimi yang tua itu lalu memimpin kawan-kawannya untuk berlutut menghaturkan terima kasih kepada Lili dan Ang I Niocu.

“Lili, kaupimpin orang-orang ini. Kasihan mereka. Aku mendengar bahwa bala tentara kerajaan dan orang-orang gagah sedang melakukan penjagaan untuk memukul mundur orang-orang Mongol. Kalau keadaan sudah aman, barulah kautinggalkan orang-orang ini, atau boleh kau serahkan kepada penjagaan tentara kerajaan.”

“Aku akan memimpin mereka mencari kerajaan di mana terbenteng tentara kerajaan di mana terdapat pula Engko Hong Beng, Enci Goat Lan dan mungkin kedua orang tuaku Ie-ie.”

“Hmm, jadi Cin Hai dan Lin Lin juga sudah turun tangan untuk mengusir orang-orang Mongol? Bagus! Sayang sekali aku tidak ada nafsu untuk mencampuri pertempuran ini. Aku hendak mencari puteraku, dan untuk mencari pembunuh suamiku. Kaubawalah mereka ke mana kau suka, Lili, akan tetapi berhati-hatilah. Melihat ilmu silatmu aku percaya sepenuhnya bahwa kau akan dapat melakukan tugas ini.”

Setelah berkata demikian dan memelyk Lili, Ang I Niocu lalu berkelebat pergi. Dalam pandangan mata orang-orang Haimi yang berada di situ, nyonya merah ini sama saja dengan menghilang karena lompatannya demikian cepat sehingga tidak kelihatan lagi. Mereka diam-diam merasa kagum sekali.

“Untuk sementara, dalam beberapa hari ini, biar kita beristirahat dulu di sini,” kata Lili kepada orang-orang Haimi itu, “kita mengumpulkan tenaga dan menjaga kalau-kalau ada pasukan Mongol yang menyerang. Kemudian, kita harus pergi ke lereng Alkata-san untuk mencari benteng pertahanan tentara kerajaan.”

“Lihiap, aku tahu di mana adanya benteng itu, hanya kurang lebih seratus li dari sini!” kata orang Haimi tua yang ternyata kemudian bernama Nurhacu itu.

“Bagus sekali, Paman Nurhacu. Baiklah, kelak kau yang menjadi penunjuk jalan. Sekarang perkuatlah penjagaan, aku pun perlu sekali beristirahat. Kita tunggu sampai lima hari, kalau keadaan sudah nampak aman, baru kita membawa keluarga ini menuju ke benteng itu.”

Lili diperlakukan sebagai kepala atau ratu mereka. Semua orang menghormati gadis ini yang dianggap sebagai dewi penolong mereka. Segala macam keperluan gadis ini disediakan dan para wanita juga melayaninya dengan penuh kebaktian sehingga diam-diam Lili merasa terharu. Kalau saja tidak ada orang tuanya dan kawan-kawan lain, agaknya ia akan suka sekali hidup sebagai kepala suku Haimi yang ternyata selain jujur, juga amat manis budi ini.

Tiga hari kemudian, pada siang hari, seorang penjaga dengan wajah khawatir datang melapor kepada Lili.

“Lihiap, dari arah selatan datang tiga orang. Mereka itu adalah seorang wanita dan dua orang laki-laki. Dan yang wanita kami kenal sebagai puteri dari kepala suku bangsa kami yang dulu, yaitu Lilani, puteri Manako dan Meilani! Menanti keputusan Lihiap apakah yang harus kami lakukan karena mereka itu sedang menuju ke sini!”

Berdebar hati Lili mendengar laporan ini, Lilani, puteri Manako dan Meilani? Gadis Haimi dan dua orang laki-laki?

“Bagaimana macamnya dua orang laki-laki itu?” tanyanya.

“Yang seorang adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, agaknya seorang ahli silat karena pedangnya tergantung pada pinggang. Yang ke dua adalah seorang laki-laki tua berpakaian tambal-tambalan.”

Makin berdebar dada Lili mendengar ini. Tak salah lagi, mereka tentulah Lie Siong dan Lo Sian! Jadi wanita yang melakukan perjalanan bersama Lie Siong itu adalah puteri dari Manako dan Mellani? Ah, bagaimana ada hal yang demikian kebetulan?

“Jangan menggunakan kekerasan,” katanya dengan suara tetap setelah berpikir sejenak, “akan tetapi tawan mereka dan bawa menghadap kepadaku!”

“Ditawan…??” penjaga itu ragu-ragu. “Akan tetapi wanita itu adalah Lilani, puteri dari…”

“Cukup! Jangan membantah. Bawa mereka menghadap ke sini! Kalau mereka melakukan perlawanan, datang lapor lagi, aku sendiri yang akan menawan mereka!”

Sementara itu, Nurhacu yang mendengar bahwa Lilani datang, dengan girang ia bersama kawan-kawannya lalu berlari-lari menyambut kedatangan puteri kepala mereka itu.

Yang datang memang benar Lilani, Lie Siong dan Lo Sian. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka ini sengaja melanjutkan perjalanan ke utara untuk mencari suku bangsa Haimi. Pada hari kemarinnya, tiga orang ini bertemu dengan sepasukan orang Mongol yang terdiri dari belasan orang. Lie Siong segera menyerbu dan menangkap seorang di antara mereka, memaksanya memberi keterangan di mana adanya suku bangsa, Haimi. Orang Mongol yang tak berdaya lagi itu memberi tahu bahwa bangsa Haimi yang dipimpin oleh Saliban berada di sekitar kaki Bukit Alkata-san di sebelah barat, maka Lie Siong lalu mengajak kawan-kawannya untuk mencari di daerah itu.

Ketika Lilani mendengar suara bersorak dan melihat serombongan orang Haimi berlari-lari menyambutnya, ia lalu berlari maju dengan air mata berlinang.

“Paman Nurhacu…!” serunya penuh keharuan dan kegirangan. Kakek Haimi itu juga berseru,

“Lilani… ah, Lilani…” Mereka lalu berpelukan sambil bertangis-tangisan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: