Pendekar Remaja ~ Jilid 28

Ramai mereka bicara dalam bahasa Haimi dan Lie Siong melihat betapa Lilani seakan-akan hidup kembali, seakan-akan menempuh hidup baru. Wajah gadis ini berseri gembira, matanya bergerak-gerak hidup tidak sayu dan muram seperti tadinya. Ia menarik napas lega.

Pada saat Lilani bercakap-cakap menuturkan riwayatnya dengan Nurhacu dan kawan-kawannya, datanglah penjaga yang tadi melapor kepada Lili.

“Menurut keputusan Lihiap, mereka bertiga harus ditangkap dan dibawa menghadap kepadanya,” kata penjaga ini dalam bahasa Han yang kaku, karena maksudnya agar dimengerti oleh dua orang yang mengantar Lilani itu.

Mendengar ucapan ini, Lie Siong menjadi marah. Dicabutnya pedangnya dan ia melompat ke hadapan Lilani, melindunginya sambil membentak,

“Apa? Kalian mau menangkap Lilani, mau menangkap kami? Lilani adalah puteri dari bekas pemimpinmu, sekarang hendak kalian tangkap sendiri? Baik, majulah! Ingin kulihat bagaimana kepalamu yang berkumis itu menggelinding meninggalkan tubuhmu!”

“Jangan, Tai-hiap, jangan! Mereka ini adalah keluargaku sendiri. Kalau mereka sudah mempunyai seorang kepala baru yang menghendaki kita datang menghadap, marilah kita lakukan itu dan kita lihat siapa adanya kepala mereka yang ternyata seorang wanita itu. Menurut penuturan Paman Nurhacu, Paman Saliban yang jahat sudah tewas oleh kepala baru ini. Marilah, Tai-hiap, harap kau jangan mengganggu mereka.”

Juga Lo Sian menyabarkan hati Lie Siong sehingga apa boleh buat pemuda ini menyimpan kembali pedangnya. Mereka bertiga lalu diajak oleh orang-orang Haimi itu, pergi menghadap Lili!

Ketika tiga orang “tawanan” ini telah tiba, Nurhacu sendiri memberi laporan kepada Lili.

“Suruh mereka tunggu.” kata Lili dengan angkuh sekali. “Sediakan dulu makanan karena perutku lapar. Setelah makan, barulah aku akan menerima mereka!”

Nurhacu menjadi heran sekali. Belum pernah ia melihat Lili bersikap demikian dingin dan nampaknya marah. Akan tetapi diam-diam ia melakukan perintah ini dari ketika tiba di luar pondok tempat tinggal Lili, ia memberitahukan kepada Lilani bahwa kepala mereka sedang makan serta minta mereka menanti sebentar. Ketika Lilani menyampaikan warta ini kepada Lie Siong, bukan main mendongkol hati pemuda ini.

“Siapa sih dia, begitu sombong?” katanya.

Akan tetapi Lilani menyabarkannya dan sebentar kemudian gadis ini didatangi oleh orang-orang perempuan Haimi. Riuh rendah di situ, terdengar gelak ketawa dan tangis. Pertemuan yang amat mengharukan antara Lilani dan para keluarga Haimi. Dari orang-orang perempuan ini Lilani mendengar bahwa kepala yang baru ini adalah seorang wanita cantik yang gagah yang telah membebaskan mereka dari tahanan orang-orang Mongol. Diam-diam Lilani merasa heran dan juga kagum sekali.

Tak lama kemudian, seorang penjaga datang dan minta Lo Sian mengikuti. “Tamu yang tertua dipanggil menghadap lebih dulu,” katanya. Lo Sian bangkit dan mengikuti penjaga itu masuk ke dalam. Ia diantar sampai di luar pintu dan dipersilakan masuk sendiri. Ketika Lo Sian menolak daun pintu dan melangkah masuk, hampir saja berseru saking kagetnya.

Akan tetapi Lili cepat memberi tanda dengan jari telunjuk di depan mulutnya dan melambaikan tangan minta kepada Lo Sian agar supaya maju dan duduk di bangku depan mejanya.

“Lili, bagaimana kau berada di sini dan… apakah artinya tindakanmu yang aneh ini? Mengapa kau menyuruh kami ditangkap”

Lili tersenyum, “Lo-pek-pek, apakah kau baik-baik saja? Tadinya aku kuatir kau telah menjadi kurban dan binasa di tangan pemuda kurang ajar itu.”

“Lili, dia adalah seorang pemuda yang baik, dia benar-benar putera Ang I Niocu, aku memang diculiknya, akan tetap itu dilakukannya karena ia ingin tahu tentang ayahnya.”

“Aku tahu, Pek-pek. Karena itulah maka lebih-lebih harus disesalkan kekurangajarannya! Aku telah menotong suku bangsa Haimi dan diangkat menjadi pemimpin mereka, sekarang dia dan gadis itu datang mau apakah?”

“Lili, gadis itu adalah puteri kepala suku bangsa Haimi. Lie Siong dan aku sengaja mengantarkannya untuk mengembalikannya kepada suku bangsanya. Kusaksikan sendiri betapa girangnya orang-orang Haimi ketika bertemu dengan Nona Lilani itu. Mengapa kau suruh dia ditangkap?”

“Biarpun dia puteri Manako dan Meilani, akan tetapi pada saat ini akulah yang menjadi kepala di sini, Pek-pek. Tidak boleh ia berlaku sesuka hatinya. Kalau ia ingin menjadi pemimpin ia harus dapat merebutnya dari tanganku! Aku diangkat menjadi pemimpin bukan atas kehendakku, dan aku diberi tugas untuk memimpin mereka sampai ke benteng pasukan kerajaan di mana mereka dapat berlindung, apakah sekarang aku harus menyerahkannya begitu saja kepada seorang gadis bernama Lilani? Sudahlah, Pek-pek, kau duduklah saja dan dengarkan apa yang hendak dikatakan oleh mereka berdua!” Lo Sian terbelalak heran memandang wajah Lili yang nampaknya marah dan cemburu itu. Tadinya ia mengira bahwa gadis ini main-main, karena seperti biasanya, Lili suka sekali bermain-main dan berjenaka atau melucu. Akan tetapi sekarang pemudi ini nampaknya bersungguh-sungguh sehingga Sin-kai Lo Sian hanya diam sambil memandang dan menduga-duga.

Sementara itu, Lili sudah menepuk tangannya memanggil penjaga yang berada di luar pondoknya. Ia memerintahkan agar supaya dua orang muda tawanan itu disuruh masuk, Lilani dan Lie Siong masuk sambil mengangkat kepala, memandang “ratu baru” dari suku bangsa Haimi itu dengan hati ingin tahu sekali siapakah orangnya yang telah menolong bangsa itu dan kini menjadi kepalanya.

Sungguh menarik sekali melihat pertemuan antara tiga orang muda yang elok ini dan Lo Sian beruntung sekali dapat menyaksikan pertemuan yang menarik ini. Tiga orang muda itu saling pandang, Lili dengan bibirnya yang manis tersenyum mengejek, sedangkan Lie Siong dengan mata terbelalak dan muka agak pucat. Adapun Lilani untuk sesaat seperti orang terkejut sekali dan mukanya menjadi kemerah-merahan akan tetapi gadis ini lalu berlari maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Lili!

“Nona yang gagah perkasa besar sekali budimu terhadap bangsaku. Perkenankanlah aku menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu dan percayalah bahwa kami bangsa Haimi selamanya takkan melupakan jasa dan pertolonganmu.”

Lili tersenyum makin mengejek. “Aku mendengar bahwa kau adalah puteri dari bekas pemimpin besar suku bangsa Haimi. Bukankah kau datang untuk menduduki pangkat pemimpin menggantikan orang tuamu? Sanggupkah kau menggeser aku dari tempat dudukku? Ketahuilah, aku yang telah dipilih dan diangkat menjadi kepala di sini dan karena aku memperoleh kedudukan ini mengandalkan pedangku, maka kalau kau menghendaki kedudukan ini, cobalah kau kalahkan aku lebih dulu.”

“Lihiap, bagaimana aku berani menantang penolong bangsaku? Memang terus terang saja aku tadinya bercita-cita untuk memimpin bangsaku yang bodoh. Akan tetapi sekarang bintang terang telah jatuh dari atas langit menerangi kehidupan bangsaku yang tertindas dari selalu berada dalam kegelapan. Bintang itu adalah kau sendiri, Lihiap. Setelah kau dikirim oleh Tuhan untuk membimbing bangsaku, bagaimana aku dapat menghendaki kedudukan pemimpin? Tidak, aku cukup puas kalau aku dapat menjadi pelayanmu, Lihiap.”

Tertegun dan terharu juga hati Lili mendengar ucapan ini, akan tetapi ketika ia melirik ke arah Lie Siong dan melihat betapa jidat pemuda itu berkerut seakan-akan tidak senang hati mendengar dan melihat sikapnya, Lili menjadi makin panas.

“Hemm, siapakah yang ingin menjadi ratu di sini? Aku tidak haus akan kedudukan dan tidak ingin menjadi kepala! Aku hanya kebetulan saja menjadi pemimpin karena mereka pilih dan sudah menjadi tugas seorang gagah untuk menolong mereka yang tertindas. Tentu saja aku akan menyerahkan kedudukan ini kepadamu tanpa kauminta kalau memang betul kau adalah puteri kepala yang berhak menjadi pemimpin. Akan tetapi bagaimana aku dapat menyerahkan kedudukan ini begitu saja? Bagaimana aku dapat menyerahkan nasib ratusan orang ke dalam tangan orang yang belum kuketahui kecakapannya? Oleh karena itu, coba kau perlihatkan kepandaianmu kepadaku untuk kulihat apakah kau sudah cukup kuat memimpin orang-orang sedemikian banyaknya!”

Merah wajah Lilani mendengar ucapan ini. Biarpun dianggap sudah berkepandaian tinggi diantara bangsanya, mungkin yang paling tinggi diantara semua orang Haimi, akan tetapi bagaimana ia dapat memperlihatkan kepandaiannya itu di hadapan seorang gadis luar biasa seperti Lili ini? Ia pernah menyaksikan kepandaian Lili ketika bertempur melawan Lie Siong dahulu itu. Bahkan Lie Siong sendiri belum tentu dapat mengalahkan Lili, apalagi dia? Dengan gugup dan bingung, Lilani tak dapat menjawab, hanya menundukkan kepala dengan wajah merah. Ia hendak minta tolong kepada Lie Siong, akan tetapi tidak berani. Pemuda ini tidak mempedulikan lagi kepadanya dan ia maklum bahwa pemuda ini telah jatuh cinta kepada Lili yang kini menantangnya! Ia tahu betul bahwa sepatu yang ditimang-timang oleh Lie Siong di malam hari dahulu itu adalah sepatu Lili! Tak terasa pula, dua titik air mata mengalir turun dan merayap di sepanjang pipinya yang halus dan kemerahan.

Melihat keadaan Lilani, Lie Siong tidak tega sekali dan timbullah hati penasaran melihat sikap Lili yang dianggapnya keterlaluan. Ia harus mengakui bahwa begitu bertemu dengan Lili hatinya berdebar tidak karuan. Gadis itu duduk di atas kursinya demikian cantik, demikian agung, demikian jelita sehingga agaknya tidak ada orang yang lebih pantas menjadi seorang ratu! Rambut yang hitam dan gemuk itu agak kacau di kepala yang bermuka indah itu. Matanya demikian tajam bersinar dan kocak, dengan bibirnya yang manis sekali tersenyum mengejek, membuat lesung pipit di pipi kiri. Tubuhnya yang padat dan potongannya yang langsing itu menambah kegagahan dan kemolekannya. Ah, benar-benar seorang gadis luar biasa yang kenyataannya melebihi mimpinya! Ketika ia melirik ke arah kaki yang kecil mungil itu, teringatlah ia akan sepatu yang masih dikantonginya dan diam-diam hatinya makin berdebar jengah dan malu. Akan tetapi kini sikap Lili membuatnya penasaran sekali. Seorang gadis seperti ini tidak selayaknya bersikap demikian kejam terhadap Lilani. Biarpun ia tidak mencinta Lilani, namun hatinya penuh rasa kasihan terhadap gadis ini dan siapapur juga, juga tidak Lili yang diam-diam merampas hatinya, boleh mengganggu dan menyakiti hati gadis yang bernasib malang ini!

“Nona Sie, sebagai seorang gagah dan terutama sekali sebagai puteri Pendekar Bodoh yang terkenal budiman, tidak selayaknya kau memperlakukan Nona Lilani seperti ini! Dia adalah puteri dari kepala suku bangsa Haimi yang amat dihormati oleh bangsanya dan sudah sewajarnya kalau dia menjadi pemimpin bangsanya. itu sudah menjadi haknya! Mengapa kau sekarang mengandalkan kepandaianmu bukan untuk membantu dan menolongnya, bahkan kau pergunakan untuk menghinanya? Tidak malukah engkau! Untuk apakah kedudukan ini bagi seorang gagah seperti Nona?”

Mendengar ucapan ini merahlah wajah Lili, menambahkan kecantikannya sehingga Lie Siong yang memandangnya merasa napasnya sesak! Gadis ini marah sekali, dan anehnya, ia tidak marah atas kata-kata yang keras ini, melainkan marah ia melihat pemuda ini membela Liliani! Boleh dibilang marah karena cemburu, benar-benar aneh.

“Ah, jadi Nona Lilani mempunyai seorang pelindung yang gagah? Pantas saja Nona Haimi ini berani melakukan perjalanan ribuan li tidak tahunya selalu berada di bawah lindungan berada di bawah lindungan seorang pemuda gagah! Ha, kalau begitu, biarlah aku mencoba kepandaian pelindungnya, untuk menguji apakah sudah patut menjadi pelindung dan bayangkari seorang Ratu Haimi!” Sambil berkata demikian, Lili lalu melompat turun dari bangkunya dan mencabut pedang Liong-coan-kiam dan kipas mautnya!

Lie Song adalah seorang pemuda yang keras hati. Menghadapi tantangan Lili, biarpun ia menjadi bingung sekali, akan tetapi ia merasa malu kalau mundur. Ia pun lalu mencabut pedang Sin-liong-kiam dan berkata,

“Nona Sie, sesungguhnya tidak ada alasan bagiku untuk bertempur melawanmu, akan tetapi aku akan mencemarkan nama orang tuaku kalau aku menolak tantangan berkelahi dari siapapun juga. Biarlah aku menebus kekalahanku dahulu di kuil Siauw-lim-si di Kiciu!”

Kini marahlah Lili. Tidak sepatutnya orang menyebut-nyebut peristiwa ini. Sekaligus ia teringat akan sepatunya yang dirampas, maka ia berkata keras.

“Bagus! Biarlah aku pun mendapat kesempatan untuk membalas penghinaanmu. Kau mengaku putera Ang I Niocu, akan .tetapi aku tetap tidak percaya, karena putera Ang I Niocu takkan sekurang ajar itu! Tidak saja kau telah merampas sepatu yang berarti menghinaku, akan tetapi kau juga berani menculik Lo-pek-pek!” Sambil berkata demikian, Lili lalu melompat keluar dari pondoknya. Lie Siong juga melompat keluar dan di pekarangan pondok yang luas itu mereka berhadapan bagaikan dua jago yang berlagak hendak bertempur mati-matian. Semua orang Haimi, tua muda laki perempuan yang memang berkumpul di depan pondok itu untuk menanti Lilani memandang dengan melongo dan terheran-heran. Lilani dengan diikuti oleh Lo Sian berlari keluar pula dan gadis ini sambil menangis menjatuhkan diri berlutut di depan Lili.

“Lihiap, janganlah… Lihiap, kau tidak tahu… Lie Siong Tai-hiap tidak menghinamu… ia tidak mencintaiku, pembelaannya keluar dari wataknya yang budiman dan gagah. Lihiap, jangan kau menyerangnya…”

Lili tertegun mendengar pengakuan ini, akan tetapi ia tidak pedulikan Lilani dan tetap saja melompat dan mulai menyerang Li Siong dengan pedangnya. Li Siong menangkis, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata! Lilani melompat nekad, menghalang di antara kedua orang jagoan itu, lalu ia berkata kepada Lie Siong dengan suara penuh permohonan “Tai-hiap, simpanlah pedangmu. Lihiap ini adalah penolong bangsaku, jangan kaumusuhi. Senjata tidak bermata, bagaimana kalau kalian saling melukai…?” Gadis ini menangis dan melihat puteri pemimpin mereka menangis sedih, semua orang perempuan Haimi yang berada di situ tak dapat menahan pula keharuan hati mereka dan ramailah wanita-wanita itu menangis!

Akan tetapi Lie Siong yang keras hati sudah tersinggung keangkuhannya oleh Lili. Kalau ia dibela oleh wanita-wanita ini dengan tangis mereka, selamanya ia akan merasa rendah dan kurang berharga dalam pandangan Lili, maka ia berseru keras,

“Sie Hong Li, kaukira aku Lie Siong takut kepadamu? Biarpun kau puteri Pendekar Bodoh, akan tetapi aku tidak takut menghadapi pedangmu, ayo keluarkanlah kepandaianmu dan cobalah kau memenggal kepalaku kalau dapat!”

Lili memang seorang yang keras dan pemarah pula, sungguhpun ia mudah marah dan mudah pula ketawa. Mendengar tantangan ini, ia mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya berkelebat cepat melampaui atas kepala Lilani dan dengan gerakan yang dahsyat pedang dan kipasnya menyambar kepada Lie Siong. Pemuda ini sudah merasai kelihaian Lili, maka ia tidak berani berlaku lambat. Cepat ia memutar pedangnya dan ketika pedang gadis itu dapat ditangkisnya, ia rnerasa betapa angin pukulan hebat menyambar dari tangan kiri yang memegang kipas. Cepat ia melompat ke belakang, kemudian ia membalas dengan serangan kilat. Tidak saja ujung pedangnya menuju ke arah dada Lili, akan tetapi lidah pedang naganya yang merah dan panjang itu pun terputar mencari sasaran pada leher lawannya! Lili memperlihatkan kepandaiannya. Sekali ia menyampok dengan kipasnya, gagang kipas telah menangkis pedang dan sampokan kipas telah membuat lidah pedang lawannya itu tertiup ke samping. Demikianiah, dua orang muda ini saling serang lagi dengan hebatnya, mengeluarkan kepandaian masing-masing dan saling tidak mau mengalah.

Lo Sian tidak bisa berbuat sesuatu. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh oleh kepandaian dua orang muda luar biasa ini. Diam-diam ia menghela napas dan berkata penuh kekaguman,

“Pendekar-pendekar remaja ini benar-benar mengagumkan. Ah, aku orang tua sudah tidak berguna lagi!” Sedangkan Lilani hanya dapat menutupi mukanya sambil menangis.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring sekali dan sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran.

“Orang jahat dari mana berani sekali berlaku kurang ajar terhadap keponakanku!” Yang menyerbu ini adalah seorang wanita setengah tua yang cantik dan bersenjata sepasang bambu runcing yang kekuning-kuningan itu, Lie Siong terkejut. sekali. Ia telah menangkis serangan bambu runcing dengan pedangnya, akan tetapi ujung bambu runcing kiri hampir saja mengenai pundaknya kalau ia tidak cepat-cepat membuang diri ke kiri! Juga Lili lalu melompat mundur. Melihat betapa wanita itu terus mendesak Lie Siong, Lili berseru,

“Pek-bo, jangan lukai dia!” Seruan ini diucapkan tanpa disadarinya lagi. Wanita itu yang ternyata adalah Ma Hoa isteri Kwee An atau juga ibu Goat Lan, menahan sepasang bambu runcing dan kini ia berdiri dengan mata heran memandang kepada Lili.

“Hong Li, kau bertempur dengan orang ini kenapa kau melarangku menyerangnya.”

Merahlah wajah Lili. Seruan tadi benar-benar tidak disadarinya, seruan yang keluar dari hatinya yang menaruh. kekuatiran kalau-kalau pemuda itu akan terluka hebat menehadapi bambu runcing yang lihai dari pek-bonya (uwaknya) itu!

“Pek-bo, dia ini… dia adalah putera dari Ie-ie Im Giok!”

Terbelalak mata Ma Hoa memandang kepada Lie Siong. “Apa… ?? Dia putera Ang I Niocu? Pantas saja kulihat tadi Sianli-kiam-hoat terbayang dalam permainan pedangnya. Eh, anak muda, siapa namamu dan bagaimana ibumu? Baik-baik sajakah dia? Sudah lama aku merasa rindu sekali kepada ibumu!” Matanya memandang dengan penuh kekaguman dan juga dengan kasih sayang.

Menghadapi pandangan mata ini, luluhlah kekerasan hati Lie Siong. Ucapan yang mesra, pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya yang penuh gairah dan perhatian ini, membuat ia mau tidak mau tunduk terhadap Ma Hoa. Ia cepat menyimpan Sin-liong-kiam lalu menjura deigan hormat sekali.

“Sudah lama sekali aku mendengar ibuku bercerita tentang kegagahan Kwee Tai-hiap dan Kwee Toanio, mohon maaf aku Lie Siong yang muda dan bodoh berlaku kurang hormat kepada KweeToanio.”

Ma Hoa tertawa riang, suara ketawa yang merdu dan nyaring, tak ubahnya seperti suara ketawanya di waktu muda.

“Anak nakal, apa-apaan segala sebutan taihiap dan toanio ini? Ibumu adalah seperti enciku sendiri, dan kita boleh dibilang orang-orang sekeluarga. Aku tidak mau kau sebut toanio, lebih baik kau menyebut aku Ie-ie (Bibi) saja.”

“Baiklah… Ie-ie!” kata Lie Siong dengan muka merah.

“Nah, begitu lebih enak pada telinga. Dan sekarang, mengapa kalian anak-anak nakal ini sampai bertempur mati-matian? Apa yang kalian perebutkan?”

Lie Siong tak dapat menjawab. Lili juga tak dapat menjawab. Tanpa janji lebih dulu mereka saling pandang. Dua pasang mata bertemu, mendatangkan warna merah pada pipi dan telinga.

“Pek-bo, kami hanya berpibu menguji kepandaian masing-masing,” kata Lili akhirnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan semua kepada Ma Hoa? Kalau ia menceritakan semua, tentu ia harus menceritakan pula bahwa pada hakekatnya mereka berebutan… sepatu!

“Benar, Ie-ie. Kami hanya mengadu kepandaian saja dan aku… aku menyerah kalah terhadap… Adik Hong Li! Maafkan, Ie-ie, sekarang aku harus pergi untuk mencari pembunuh ayahku!” Setelah berkata demikian, ia lalu berkata kepada Lilani, “Lilani, sekarang kau telah kuantarkan kepada bangsamu sendiri dan dengan pertolongan puteri Pendekar Bodoh, kuyakin kau akan dapat menyelamatkan suku bangsamu. Juga Lo-pek, aku menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuanmu. Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin dan membalas dendam. Sekarang tidak perlu bantuanmu lagi.”

Lie Siong hendak pergi, akan tetapi Ma Hoa yang terheran-heran mendengar ini, segera berkata “Nanti dulu, Siong-ji (Anak Siong)! Bagaimanakah soalnya? Sudah pastikah ayahmu terbunuh oleh Ban Sai Cinjin?”

“Memang sudah pasti, Ie-ie, dan aku akan mencarinya untuk membalas dendam sekarang juga.”

“Kalau begitu kita bisa mencari bersama-sama! Ban Sai Cinjin tidak berada jauh, dia telah menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan aku pun sedang mencarinya. Ketahuilah bahwa dia telah menculik puteraku, Kwee Cin!”

Semua orang terkejut mendengar ini, terutama sekali Lili. Gadis ini lalu maju dan memeluk Ma Hoa. “Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terculik oleh bangsat itu? Mari kita cepat mengejarnya, dan aku sendiri akan menghancurkan kepalanya. Memang masih ada perhitungan lama antara bangsat itu dengan aku!”

“Ie-ie, kalau begitu, lebih banyak alasan lagi bagiku untuk segera mencarinya! Aku akan berusaha merampas kembali puteramu dan membinasakan kakek jahanam itu!” kata pula Lie Siong.

“Eh, eh, mengapa kau hendak pergi sendiri? Mengapa tidak bersama kami?” tanya Ma Hoa.

“Aku… aku lebih senang bekerja sendiri, Ie-ie!” setelah berkata demikian, tanpa dapat dicegah lagi Lie Siong lalu melompat pergi.

“Pemuda aneh…” Ma Hoa berkata perlahan.

“Jangan pedulikan dia, Pek-bo…” kata Lili mendongkol.

“Bagaimana aku tidak boleh pedulikan dia, putera Ang I Niocu?”

Sementara itu, Lilani yang semenjak tadi mendengar percakapan itu dan memandang kepada Ma Hoa, tiba-tiba menghampiri nyonya ini dan menjatuhkan diri berlutut.

“Kwee-hujin (Nyonya Kwee), hamba Lilani menghaturkan hormat.”

Ma Hoa memandang kepada Lilani dengan heran, kemudian ia memandang kepada orang-orang Haimi yang semuanya berkumis panjang itu. Teringatlah ia akan pengalamannya dengan suaminya dahulu, ketika suaminya masih menjadi tunangannya (baca cerita Pendekar Bodoh), dan berkatalah dia, “Kalau aku tidak salah duga, orang ini adalah suku bangsa Haimi yang dulu dipimpin oleh Manako dah Meilani. Kau siapakah, Nona?”

“Hamba adalah puteri yang malang dari Manako dan Meilani, mendiang orang tuaku!”

Ma Hoa lalu membungkuk, memeluk Lilani dan ditariknya gadis itu berdiri. “Ah, jadi kau, puteri Meilani? Pantas saja kau cantik jelita seperti ibumu. Jadi orang tuamu sudah meninggal semua? Kasihan, kasihan.”

Melihat nyonya gagah ini demikian halus dan baik budi, Lilani tak dapat menahan keharuan hati dan menangislah dia. Lo Sian yang sejak tadi juga melihat semua ini, cepat maju dan memberi hormat kepada Ma Hoa.

“Siauwte yang bodoh telah lama mendengar nama besar dari Kwee-toanio dan sudah mendapat kehormatan bertemu dengan kedua mata sendiri bahwa nama besarmu itu bukan kosong belaka.”

Lili lalu memperkenalkan Lo Sian dan dengan singkat ia menceritakan riwayat Pengemis Sakti ini. Ma Hoa mengangguk-angguk maklum, karena ia telah mendengar hal itu dari Lin Lin dan Cin Hai.

Kini setelah Lie Siong pergi lenyaplah rasa cemburu yang amat tidak enak dalam hati Lili, dan sambil memegang tangan Lilani, berkatalah dia, “Lilani, tadi aku hanya bergurau saja. Memang, kau harus memimpin bangsamu dan jangan kuatir, aku akan mengantarmu sampai benteng penjagaan pasukan kerajaan.”

Lilani makin terharu, ia memeluk Lili dan berkata, “Nona, aku sudah menduga bahwa hatimu tentu mulia. Orang secantik kau dan puteri Pendekar Bodoh pula, tak mungkin berhati kejam. Tadi kau bersikap galak, akan tetapi aku dapat menangkap sinar matamu yang penuh kebijaksanaan. Akulah yang minta maaf kepadamu, Nona. Kau telah menolong bangsaku, biar selamanya menjadi pelayanmu, aku akan rela dan merasa bahagia.”

“Jangan kau bilang demikian, Lilani,” kata Lili. Ma Hoa yang tidak tahu akan urusannya, lalu mendengarkan penuturan Lili tentang pengalaman menolong orang-orang Haimi yang dibantu pula oleh Ang I Niocu.

“Sayang dia keburu pergi sebelum mendengar penuturan bahwa ibunya baru tiga hari yang lalu meninggalkan tempat ini,” kata gadis ini menutup penuturannya. Yang dimaksudkan dengan “dia” tentu saja adalah Lie Siong, pemuda kurang ajar itu.

“Dia sudah pergi, biarlah,” kata Ma Hoa. “Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan, mengantar orang-orang Haimi ini ke benteng di mana kita akan menjumpai Goat Lan dan kakakmu Hong Beng. Di sana pula kita tentu akan bertemu dengan ayah ibumu, dan pek-humu yang sudah berangkat lebih dulu.” Bicara tentang suaminya, kembali Ma Hoa teringat akan puteranya yang terculik, maka wajahnya menjadi muram.

“Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terjatuh dalam tangan orang jahat?”

“Kalau diceritakan membuat hati menjadi gemas sekali,” kata Ma Hoa. “Mari kita berangkat, nanti di jalan kuceritakan kepadamu tentang hal itu.” Setelah rombongan itu berangkat untuk menuju ke benteng pertahanan tentara kerajaan dengan Nurhacu orang Haimi tua itu sebagai penunjuk jalan maka berceritalah Ma Hoa tentang penculikan Kwee Cing puteranya.

Sebagaimana telah diketahui, Ma Hoa pergi bersama Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin, karena Kwee Cin masih kecil dan tidak baik ditinggalkan seorang diri di rumah dalam saat mereka terancam oleh musuh-musuh yang jahat. Untuk membawa Kwee Cin dalam perjalanan ke utara juga kurang baik bagi anak itu.

Semenjak menjadi isteri Kwee An, Ma Hoa belum pernah berpisah lama-lama dari suaminya dan mereka hidup rukun dan saling mencinta. Tidak mengherankan apabila kepergian Kwee An kali ini membuat Ma Hoa merasa tidak betah di rumah. Apalagi ia maklum bahwa perjalanan suaminya itu penuh dengan bahaya, maka hatinya selalu merasa gelisah sekali.

Pada suatu hari, menjelang senja dan keadaan terasa sunyi sekali oleh Ma Hoa. Memang rumahnya amat besar dan dia hanya mempunyai dua orang pelayan. Biasanya apabila ada Kwee An, di situ nampak gembira dan ramai, apalagi kalau Goat Lan berada di rumah. Akan tetapi sekarang, berdua saja dengan Kwee Cin, ia benar-benar sunyi. Tiba-tiba dari pintu pekarangan depan masuk seorang kakek yang berpakaian indah dan mengisap sebatang huncwe panjang. Dengan tindakan lebar, kakek ini maju menghampiri Ma Hoa yang duduk di ruang depan bersama Kwee Cin.

Kakek ini datang-datang segera bertanya dengan suaranya yang parau dan keras,

“Apakah aku berhadapan dengan Nyonya Kwee An, ibu dari nona Kwee Goat Lan?”

Ma Hoa belum pernah bertemu dengan orang ini, akan tetapi matanya yang tajam dapat menduga bahwa kakek ini bukanlah orang biasa dan ketika ia teringat akan cerita Lin Lin dan Cin Hai, ia menjadi terkejut sekali karena kakek ini cocok sekali dengan gambaran Pendekar Bodoh tentang seorang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut! Maka diam-diam Ma Hoa bersiap sedia dan berlaku waspada. Ia merasa girang bahwa selama ini ia berlaku hati-hati dan selalu mempersiapkan bambu runcingnya di tempat yang tak jauh dari situ.

“Benar, aku adalah Nyonya Kwee, tidak tahu siapakah Lo-enghiong dan ada keperluan apakah datang di rumahku yang buruk ini?”

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak dan dengan tenang akan tetapi mulutnya tersenyum menyeringai ia membuang abu tembakau dari pipanya, lalu mengisinya lagi dengan tembakau warna hitam! Semua ini ia lakukan sambil matanya memandang kepada nyonya itu dengan kagum. Biarpun Ma Hoa telah berusia hampir empat puluh tahun, akan tetapi nyonya ini tiada bedanya dengan seorang gadis yang cantik jelita saja!

Ma Hoa diam-diam merasa gelisah dan ia berkata kepada Kwee Cin, “Cin-ji, kau masuklah ke dalam.”

Kwee Cin memang selamanya amat taat kepada ayah bundanya, maka sebagai seorang anak kecil yang belum dapat menduga hal-hal hebat yang akan terjadi, ia menyatakan baik dan anak itu lalu masuk ke dalam kamarnya.

Kembali Ban Sai Cinjin tertawa dan kini suara ketawanya terdengar nyaring sekali sehingga terdengar sampai jauh karena kakek ini memang mengerahkan khi-kangnya untuk mengirim suara ketawanya kepada dua orang kawannya yang bersembunyi di luar!

“Kwee-hujin, ketahuilah bahwa aku bernama Ban Sai Cinjin dan kedatanganku ini hendak mencari puterimu, Nona Kwee Goat Lan. Puterimu telah berkali-kali melakukan penghinaan kepadaku dan sekarang aku sengaja datang hendak membuat perhitungan!”

Warna merah mulai menjalar pada kedua pipi Ma Hoa. Kini ia bangkit dari tempat duduknya dan Ban Sai Cinjin menjadi makin kagum karena sesungguhnya setelah berdiri, nampak betapa langsing potongan tubuh nyonya yang sudah mempunyai dua orang anak ini. Ma Hoa berjalan tenang menghampiri tamunya setelah ia menyambar sepasang bambu runcing dan menancapkannya pada ikat pinggangnya. Dengan mata bercahaya dan bibir tersenyum mengejek ia berkata,

“Ban Sai Cinjin, biarpun baru sekali ini aku bertemu denganmu, akan tetapi telah seringkali aku mendengar namamu yang buruk dan terkenal. Maka aku tidak merasa heran apabila Goat Lan bentrok denganmu, karena memang semenjak kecil dia kudidik untuk membasmi orang-orang jahat dan membela yang benar. Kau datang mencari Goat Lan untuk membuat perhitungan? Sayang, Goat Lan masih belum pulang. Akan tetapi kalau kau merasa penasaran, untuk obat kecewamu, boleh kiranya aku sebagai ibunya mewakili Goat Lan untuk membayar hutang.”

“Bagus sekali, sama anak sama ibu! Kau dan anakmu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak memandang mata kepada orang lain. Baiklah, Kwee-hujin, karena anakmu tidak ada dan aku jauh-jauh sudah memerlukan datang, biarlah aku menerima pelajaran darimu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menggerakkan huncwenya dan tersebarlah uap hitam yang berbau amat memuakkan. Akan tetapi Ma Hoa akan percuma saja disebut seorang pendekar wanita yang gagah perkasa kalau ia gentar menghadapi uap hitam beracun ini. Puterinya adalah murid Sin Kong Tianglo-Si Raja Obat, sedangkan dia sendiri adalah murid dah anak angkat dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng, maka setidaknya Ma Hoa sudah tahu akan jahatnya racun ini dan tahu pula obat penawarnya. Goat Lan sendiri setelah tamat berlajar dari Sin Kong Lojin, banyak meninggalkan pel-pel obat penawar racun maka begitu melihat uap hitam ini, Ma Hoa cepat mengeluarkan tiga butir pel merah dan memasukkan itu ke dalam mulut. Kemudian sepasang bambu runcingnya bergerak mengimbangi gerakan huncwe lawan.

“Bagus, jadi sebenarnya kaukah yang menjadi murid Hok Peng Taisu?” Ban Sai Cinjin membentak dan kini huncwenya menyambar ke arah kepala Ma Hoa.

“Ban Sai Cinjin, tak usah banyak cakap, kalau kau mempunyai kepandaian lekas keluarkan semua hendak kulihat!”

Kembali Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara ketawa yang bahkan lebih nyaring daripada tadi sambil menyerang dengan hebatnya, dan biarpun Ma Hoa menangkis dengan bambu runcingnya, namun telinganya yang tajam masih dapat menangkap suara seruan seperti seekor burung dari luar rumah. Hatinya tergoncang dan pikirannya bekerja keras. Ini tentu ada apa-apanya, dan hatinya mulai berdebar. Akan tetapi oleh karena tidak terjadi sesuatu ia lalu memutar bambu runcing hendak cepat-cepat mengalahkan lawan ini. Aku harus melindungi Cin-ji, pikirnya. Akan tetapi tidak mudah untuk mengalahkan Ban Sai Cinjin dalam waktu singkat. Setelah mendapat hajaran dari Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin selain berlaku hati-hati sekali dan sama sekali tidak berani memandang ringan kepada kawan-kawan Pendekar Bodoh yang ternyata memiliki kepandaian yang hebat. Dulupun kalau dia berlaku hati-hati, tidak mungkin dalam segebrakan saja ia kalah oleh Pendekar Bodoh.

Akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu silat bambu runcing yang dimainkan oleh nyonya ini benar-benar luar biasa. Ia pernah menghadapi sepasang bambu runcing yang dimainkan oleh Goat Lan dan sudah merasa kagum sekali. Akan tetapi sekarang, menghadapi permainan Ma Hoa, ia benar-benar terdesak hebat sekali. Kalau dulu Goat Lan mainkan sepasang bambu runcing sehingga senjata istimewa itu seakan-akan berubah menjadi lima, sekarang bambu runcing ditangan nyonya ini seakan-akan telah berganda menjadi delapan!

Selama ini, Ban Sai Cinjin tiada hentinya berlatih dan memajukan ilmunya sehingga kepandaiannya sudah naik banyak. Dalam menghadapi nyonya pendekar ini, ia masih dapat mempertahankan diri dengan mainkan huncwenya dan kadang-kadang ia menyemburkan asap hitam biarpun tidak mempengaruhi Ma Hoa yang sudah memasukkan tiga butir pel merah di dalam mulutnya, namun tetap saja Ma Hoa harus menghindarkan kedua matanya dari serangan asap hitam yang lihai itu.

Pertempuran berjalan tiga puluh jurus dan beberapa kali Ban Sai Cinjin hampir saja terkena totokan bambu runcing sehingga keselamatan nyawanya berada di ujung rambut. Ia terdesak hebat sekali dan hati kakek mewah ini mulai menjadi gelisah sekali.

Tiba-tiba terdengar lagi suara burung hantu dan tiba-tiba Ban Sai Cinjin tertawa menyeramkan dan melompat jauh ke belakang.

“Kwee-hujin, tidak percuma kau menjadi isteri Kwee An yang terkenal namanya, karena memang ilmu silatmu hebat sekali. Aku Ban Sai Cinjin kali ini mengaku kalah. Biarlah kelak kita bertemu lagi untuk melanjutkan pertempuran ini.”

“Pengecut!” Ma Hoa memaki akan tetapi ia tidak mengejar Ban Sai Cinjin karena kuatir kalau-kalau kakek pesolek itu menjebaknya dengan tipu “memancing harimau meninggalkan sarangnya”. Ia bahkan cepat melompat ke dalam rumah dan menuju ke kamar Kwee Cin. Akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi pucat sekali, ketika ia melihat dua orang pelayannya telah rebah menggeletak dalam keadaan tertotok! Sambil menekan debaran jantungnya yang seakan-akan hendak memecahkan dada, Ma Hoa cepat berlari ke dalam kamar anaknya. Benar saja seperti yang telah dikuatirkannya, di dalam kamar itu tidak nampak lagi bayangan anaknya!

Ma Hoa sudah sering sekali menghadapi peristiwa hebat ketika mudanya, akan tetapi malapetaka kali ini benar-benar hebat sekali dan amat menusuk perasaannya. Hanya saja ia memang telah memiliki pandangan yang luas. Ia tidak menjadi putus asa, karena puteranya itu hanya diculik orang dan bukan dibunuh. Siapa pun yang menculiknya, ia masih mempunyai harapan untuk merampasnya kembali.

Cepat ia berlari keluar kamar dan membebaskan totokan dua orang pelayan itu.

“Lekas ceritakan, apa yang telah terjadi?” tanyanya dengan tenang.

Dua orang pelayan itu menceritakan bahwa dari belakang datang dua orang pengemis tua yang tak berkata sesuatu lalu menotok mereka dan kemudian mereka melihat betapa kongcu (tuan muda) telah dipanggul oleh seorang di antara kedua pengemis itu dan dibawa lari melalui pintu belakang.

Ma Hoa mendengar penuturan ini lalu cepat mengejar melalui pintu belakang. Ia mengejar terus sampai sejauh sepuluh li lebih, akan tetapi sebagaimana yang telah diduganya, ia tidak melihat bayangan dua orang pengemis penculik itu.

“Hmm, tak lain ini tentulah perbuatan Ban Sai Cinjin yang sengaja memancing dalam sebuah pertempuran dan kawan-kawannya sementara itu melakukan penculikan terhadap Kwee Cin,” pikirnya. Ia cepat mengambil keputusan, menyerahkan penjagaan rumahnya kepada dua orang pelayan karena hari itu juga ia hendak menyusul suaminya ke utara sekalian mencari jejak Ban Sai Cinjin. Akan tetapi ketika ia membuka peti di mana ia menyimpan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip (Kitab Rahasia Selaksa Pengobatan Bumi Langit) yang dititipkan oleh Goat Lan kepadanya, ternyata kitab itu bersama anaknya telah lenyap pula! Ma Hoa menjadi gemas sekali, ia mengertakkan giginya dan membanting-bantingkan kaki kanan di atas lantai.

Ban Sai Cinjin bangsat tua yang curang! Tunggulah saja kalau sampai aku dapat melihat mukamu lagi, kau pasti akan kujadikan sate dengan bambu runcingku!”

Demikianlah, Ma Hoa lalu cepat melakukan pengejaran ke utara dan karena daerah utara memang sukar sekali dilalui serta Pegunungan Alkata-san masih asing baginya, ia tersesat jalan dan kebetulan sekali dapat menghentikan pertempuran hebat yang terjadi antara Lili dan Lie Siong.

Setelah Lili mendengar penuturan Ma Hoa ini, gadis ini pun menjadi marah sekali dan berkata dengan gemas, “Ban Sai Cinjin memang jahat sekali. Muridnya yang bernama Bouw Hun Ti telah membunuh Yousuf kakekku dan menculikku ketika aku masih kecil. Kemudian Ban Sai Cinjin menurut penuturan dan dugaanku telah meracun Sin-kai Lo Sian guruku, telah meracuni suhuku itu sehingga Sin-kai Lo Sian, yang membunuh Supek Lie Kong Sian juga Ban Sai Cinjin! Dan sekarang, kembali Ban Sai Cinjin menculik Adik Cin! Benar-benar orang yang jahanam dan ingin mampus.”

Ma Hoa menarik napas panjang. “Memang di dunia ini selalu terdapat orang-orang jahat Lili. Tidak ada bedanya semenjak dahulu sampai sekarang. Dulupun ada seorang jahat bernama Hai Kong Hosiang yang selalu memusuhi orang tuami dan kami. Akan tetapi, dibandingkan dengan Ban Sai Cinjin, Hai Kong Hosiang masih tidak begitu curang dan jahat!” Lili juga pernah mendengar nama Hai Kong Hosiang ini karena seringkali ayah ibunya menceritakannya tentang pengalaman mereka di waktu muda (baca cerita Pendekar Bodoh).

Demikianlah, sambil bercakap-cakap Ma Hoa dan Lili, diikuti oleh Lilani dan Lo Sian serta semua orang Haimi, melanjutkan perjalanan menuju ke lereng Alkata-san di mana telah nampak tembok besar benteng tentara kerajaan itu.

***

Marilah kita meninggalkan dulu mereka yang sedang menuju ke benteng itu dan menengok keadaan Goat Lan dan Hong Beng yang sudah lama kita tinggalkan.

Karena mendapat pertolongan Kam Liong yang memberi kuda kepada mereka dan semua pengawal, perjalanan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke Bukit Alkata-san berjalan cepat dan lancar. Tetapi sebagaimana yang dituturkan oleh Kam Liong, benteng itu biarpun sudah tua dan banyak yang rusak, namun masih baik dan kuat, juga merupakan tempat penjagaan yang amat baiknya. Hong Beng bersama semua perajurit yang mengawalnya lalu menggulung lengan baju dan membikin baik bangunan-bangunan yang berada di dalam benteng itu.

Beberapa hari kemudian, Hong Beng dan Goat Lan mengatur siasat untuk mulai menjalankan tugas mereka. Dari para penyelidik yang mereka sebar di daerah itu, mereka mendapat keterangan bahwa tentara Mongol banyak yang bersembunyi di atas bukit yang berada di sebelah utara Bukit Alkata-san, dan untuk menyerang ke sana amatlah sukarnya. Selain daerah itu tertutup salju dan dingin sekali, juga pertahanan tentara Mongol amat kuatnya. Bagaimanakah mereka yang hanya mempunyai sedikit pasukan itu dapat melawan tentara Mongol yang ribuan jumlahnya?

“Lebih baik kita menjaga dan mengatur penjagaan,” kata Hong Beng. “Kita melihat kalau ada barisan musuh yang hendak menyeberang ke selatan dan melalui bukit ini, kita serang mereka.”

Penjagaan dilakukan siang malam dan benar saja, beberapa hari berturut-turut, mereka berhasil memukul mundur pasukan-pasukan kecil bangsa Mongol yang hendak menuju ke selatan, untuk melakukan keganasan seperti biasa terhadap penduduk Tiongkok di balik tembok besar. Setiap kali terjadi pertempuran, selalu Hong Beng dan Goat Lan memperlihatkan kepandaiannya dan tak seorang pun perwira Mongol dapat bertahan menghadapi pendekar-pendekar remaja yang gagah dan sakti ini. Terpaksa pasukan-pasukan Mongol yang hendak melakukan penggarongan ke selatan, mengambil jalan memutar dan tidak berani lagi melewati Bukit Alkata-san di mana terjaga oleh pasukan yang dipimpin oleh dua orang muda ini.

Sementara itu, hubungan Hong Beng dan Goat Lan makin erat dan cinta mereka berakar makin mendalam. Namun, sebagai pemuda dan pemudi yang tidak saja gagah lahirnya akan tetapi juga mulia batinnya, kedua orang muda ini membatasi hubungan mereka dan sama sekali tak pernah berani melanggar kesusilaan. Baik Hong Beng maupun Goat Lan dapat menekan cinta kasih mereka dan sudah merasa cukup bahagia dengan saling berpegang tangan atau saling pandang dengan sinar mata penuh arti, penuh cinta kasih dan mesra. Tentu saja Goat Lan makin menghargai tunangannya ini.

Beberapa pekan mereka berada di situ dan merasa senang karena daerah Alkata-san boleh dibilang aman, yang termasuk dalam lingkungan benteng itu. Tidak ada pasukan musuh berani meninggalkan benteng, kuatir kalau-kalau pasukan musuh datang menyerbu, maka mereka sama sekali tidak tahu bahwa hanya seratus li dari tempat itu terdapat Lili dan Ma Hoa. Juga mereka tidak tahu bahwa dari selatan telah datang serombongan orang terdiri dari Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An. Dan dari jurusan lain datang pula pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun atau Kam Liong.

Pada suatu senja kedua teruna remaja ini duduk di bawah pohon di mana mereka seringkali duduk, bercakap-cakap dengan asyik dan mesra. Bulan hanya sedikit, bercahaya pudar karena kalah oleh cahaya matahari yang masih ada sisanya menerangi permukaan bumi.

“Lan-moi…” terdengar Hong Beng berkata perlahan sambil memegang tangan tunangannya.

“Ada apa, Koko?” jawab Goat Lan sambil memandang mesra dan bibirnya tersenyum manis sekali.

“Kalau keadaan sudah aman dan kelak kita kembali ke selatan, mendapat pengampunan dari Hong-siang…”

“Ya…”

“Aku akan minta kepada ayah bundaku agar… pernikahan kita dapat segera dilangsungkan”

Wajah yang manis itu memerah sampai ke telinganya dan jari-jari tangan yang runcing dan halus kulitnya itu mencubit. “Ah, Koko, kau ini ada-ada saja. Tergesa-gesa ada apa sih?”

Hong Beng menengok ke kanan di mana Goat Lan duduk. Mereka duduk di atas rumput dan angin bertiup sepoi-sepoi menambah segar dan gembira perasaan. Pada senja hari itu, Goat Lan mengenakan baju berkembang-kembang warna emas, leher baju dan ikat pinggang kuning, demikian pula celananya terbuat dari sutera kuning yang bersih dan halus. Pinggiran baju sebelah bawah berwarna merah, sama merahnya dengan bunga yang terselip di atas telinga kanannya. Rambutnya disusun meniru model wanita-wanita Mongol atau Boan yang pernah dilihatnya di sekitar tempat itu, digelung ke atas dan selebihnya diurai memanjang di belakang punggungnya. Gadis ini benar-benar nampak cantik jelita, terutama sekali dalam pandang mata Hong Beng yang mencintanya.

“Lan-moi, aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi aku ingin selamanya, tidak sedetik pun berpisah lagi darimu. Kalau kita sudah menikah, barulah harapan itu terkabul!”

Goat Lan tertawa geli karena merasa lucu mendengar omongan kekasihnya. Ia memandang dan diam-diam merasa kagum melihat betapa kekasihnya nampak tampan dan gagah sekali dalam pakaian yang berwarna biru itu.

“Kalau begitu, kita harus menjadi sepasang kupu-kupu atau seperti sepasang burung yang selalu beterbangan di udara, siang malam tak pernah berpisah lagi.”

“Mengapa harus menjadi kupu-kupu atau burung? Kalau kita sudah menikah, biarpun kita masih menjadi manusia, kita dapat selalu berkumpul, takkan berpisah lagi sebentar pun.”

“Mana mungkin?” Goat Lan tertawa lagi. “Aku harus mengatur rumah tangga, harus masak, dan kau harus bekerja. Bagaimana kita bisa selalu berkumpul?”

Demikianlah, sepasang orang muda yang bahagia ini bersendau gurau, kadang-kadang bersungguh-sungguh membicarakan masa datang yang penuh harapan dan cita-cita. Tak terasa lagi cuaca menjadi makin gelap dan dua orang muda yang sedang tenggelam dalam alunan kasih asmara ini sama sekali tidak tahu betapa bayangan sesosok tubuh yang amat gesit laksana burung walet hitam, melompat dari wuwungan ke wuwungan lain di atas bangunan-bangunan dalam benteng itu!

Para perajurit yang sedang bertugas juga tidak melihat bayangan ini yang menandakan bahwa orang itu benar-benar berkepandaian tinggi sehingga dapat menyerobot masuk ke dalam benteng tanpa diketahui orang. Dari atas wuwungan yang terdekat dengan tempat Hong Beng dan tunangannya duduk, orang itu memandang ke arah mereka. Kemudian, dengan gerak lompat Naga Hitam Naik ke Langit, ia lalu melompat dari atas wuwungan itu ke atas pohon yang berada belakang Hong Beng. Gin-kang dari orang itu benar-benar mencapai tingkat tinggi karena ketika ia tiba di pohon itu, tak selembar pun daun pohon bergoyang! Akan tetapi ia salah hitung kalau mengira bahwa Hong Beng tidak mengetahui kehadirannya. Biarpun delapan puluh bagian dari semangat pemuda ini telah terbang oleh gelombang asmara, namun yang dua puluh bagian sudah lebih dari cukup untuk mengingatkannya bahwa ada gerakan sesuatu yang mencurigakan di atas kepalanya!

Di dalam keadaan bahaya, semangat pembelaan dan perlindungan terhadap kekasihnya timbul dan tanpa disengaja Hong Beng merangkulkan tangan kanannya pada pundak Goat Lan, sedangkan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga lwee-kang lalu dipukulkan dengan dorongan ke atas pohon dibarengi bentakan, “Turunlah kau!”

Tenaga pukulan Hong Beng ini biarpun hanya dilakukan sambil duduk dan dengan tangan kiri, namun mengandung hawa pukulan yang cukup hebat sehingga cabang dan daun pohon itu bagaikan tertiup angin dari bawah!

“Sie-enghiong, jangan menyerangku!” terdengar seruan dari atas dan bayangan yang amat gesitnya melompat turun dengan gerak tipu Garuda Menyambar Air dan sebentar saja di depan Hong Beng dan Goat Lan yang sudah bangun itu berdirilah seorang pemuda yang tampan. Goat Lan segera mengenal orang ini sebagai Song Kam Seng. Ia mendengar dari Lili bahwa pemuda ini dahulunya ditolong oleh Lili dan Lo Sian akan tetapi kemudian telah membalik dan menjadi murid Wi Kong Siansu, juga ia telah mendengar bahwa pemuda ini sesungguhnya adalah putera Song Kun, sute dari Lie Kong Sian yang lihai dan jahat dan yang tewas dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia menjadi kaget dan bercuriga sekali.

“Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?” Hong Beng membentak sambil memandang tajam dengan sikap siap sedia.

Sebelum Kam Seng menjawab, Goat Lan mendahuluinya, “Beng-ko, dia ini adalah Song Kam Seng yang pernah kuceritakan kepadamu. Inilah putera dari Song Kun, orang tak berbudi yang melupakan pertolongan dan berbalik memusuhi Lili!”

Pemuda itu menjura dengan hormat dan berkata dengan suara dingin,

“Memang benar, aku adalah Song Kam Seng putera Song Kun yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh.”

“Apakah kedatanganmu ini ada hubungannya dengan urusan itu?” Hong Beng bertanya dengan sikap menantang.

“Tidak, Saudara Sie Hong Beng, sekarang belum tiba waktunya bagiku untuk membuat perhitungan. Semua perhitungan akan kubuat dan kubereskan dengan ayahmu sendiri, kau tak usah ikut campur. Sekarang ada urusan pribadi. Aku hendak bicara tentang urusan negara, tentang pengacauan orang Mongol, dan yang berhubungan pula dengan persekutuan yang diadakan oleh Ban Sai Cinjin dan orang-orang lain.”

“Hmm, bukankah Ban Sai Cinjin itu susiokmu?” tanya Goat Lan dengan pandangan penuh curiga.

“Betul, Nona Kwee. Akan tetapi dalam hal ini, pahamnya jauh berbeda dengan aku. Betapapun juga, aku bukanlah seorang pengkhianat bangsa dan aku merasa tidak setuju sekali dengan tindakan yang telah diambil oleh Susiok itu. Juga perbuatannya yang terakhir ini, yaitu menculik adikmu, Nona, amat tidak kusetujui dan untuk itulah aku sengaja datang ke tempat ini.”

Bukan main terkejutnya hati Goat Lan mendengar ini, juga Hong Beng merasa kaget dan cepat ia mengajak pemuda itu masuk ke dalam bangunan yang menjadi tempat tinggalnya. Mereka bertiga lalu duduk menghadapi meja.

“Apa maksudmu dengan penculikan adikku yang kukatakan tadi?” tanya Goat Lan kepada Song Kam Seng.

Pemuda itu menarik napas panjang. “Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, juga ayahmu yaitu Kwee-lo-enghiong, sedang menuju ke sini untuk membantu menjaga tapal batas dan mengusir pengacau-pengacau bangsa Mongol dan Tartar. Hal ini amat menggelisahkan hati Malangi Khan, karena baru kalian berdua saja berada di sini sudah merupakan halangan besar, apalagi kalau orang-orang tuamu datang membantumu di sini. Oleh karena itu, Susiok yang menjadi tangan kanan Malangi Khan, lalu turun tangan. Dia tahu bahwa ibumu hanya berada berdua saja dengan adikmu yang masih kecil, maka dengan ditemani oleh Coa-ong Lojin dan seorang pembantunya, Ban Sai Cinjin lalu datang ke Tiang-an dan akhirnya dapat menculik Kwee Cin adikmu, bahkan sudah berhasil mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari Sin Kong Tianglo.”

Goat Lan menjadi pucat sekali. Ia memandang tajam dan berkata,

“Kau yang memihak musuh, mengapa kau datang menceritakan hal ini? Apa kehendakmu?”

“Sudah kukatakan tadi, Nona, aku bukan datang dengan maksud jahat. Aku terpaksa berada di utara karena terbawa oleh Susiok dan terpaksa karena suhuku malu hati kepada Ban Sai Cinjin, sehingga biarpun Suhu tidak dapat datang sendiri, Suhu menyuruhku mewakilinya. Maksud kedatanganku dan mengapa aku menceritakan semua ini kepadamu, juga kepada Saudara Sie Hong Beng, tidak lain agar kalian bersiap sedia. Ketahulilah bahwa Ban Sai Cinjin hendak menjadikan adikmu sebagai tanggungan. Tak lama lagi kalian tentu akan mendengar ancaman dari Ban Sai Cinjin bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya membantu tentara kerajaan, maka Kwee Cin adikmu itu akan dibinasakan lebih dulu!”

“Bangsat keji!” Goat Lan berseru keras sambil melompat bangun dan tak terasa pula sepasang bambu runcingpya telah berada di kedua tangannya. “Orang she Song, tunjukkan kepadaku di mana adikku ditahan agar aku dapat pergi menolongnya. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat itu, berarti bahwa kebaikanmu ini palsu belaka untuk menjebak kami dan untuk itu aku akan membinasakanmu di sini dan sekarang juga!”

“Nona Kwee, kalau aku mau menunjukkan tempat itu bukan berarti bahwa aku takut akan ancamanmu, aku lebih takut kalau-kalau aku disangka ikut berjiwa pengkhianat. Akan tetapi biarpun dengan segan, aku harus memberitahukan kepadamu bahwa mendatangi tempat itu untuk menolong adikmu sama halnya dengan membunuh diri! Penjagaan di situ selain kuat sekali, juga Susiok sendiri berada di situ, selalu berdekatan dengan adikmu. Dan tentang kepandaian Susiok, dia telah memperoleh kemajuan hebat apalagi dibantu oleh Coa-ong Lojin dengan anak buahnya!”

“Tidak peduli, aku tidak takut! Lekas tunjukkan di mana tempat adikku ditahan!” Goat Lan mendesak, adapun Hong Beng tidak berkata sesuatu karena ia maklum bahwa tunangannya sedang gelisah, bingung dan kuatir sekali. Song Kam Seng lalu minta kertas dan alat tulis, lalu menggambarkan keadaan gunung di sebelah utara Alkata-san, di mana terdapat markas Malangi Khan dan bala tentaranya. Tempat tahanan Kwee Cin itu ternyata berada di paling belakang sehingga untuk datang ke tempat itu harus melalui dulu benteng dari tentara Mongol!

“Nah, kalian ketahui sendiri betapa berbahayanya untuk menyerbu tempat ini. Aku memberitahukan semua ini agar supaya kalian dapat merundingkan dengan orang-orang tuamu dan mencari siasat baik, jangan sekali-kali berlaku sembrono. Sungguh mati kalau sampai berlaku nekad dan terjadi sesuatu yang mengerikan, akulah orang pertama yang akan merasa menyesal sekali. Selamat tinggal!”

“Ucapanmu tidak menakutkan kami, Song Kam Seng! Betapapun juga aku akan pergi membebaskan adikku dan merampas kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip!”

Mendengar suara nona ini amat tetap dan nekad, Kam Seng yang sudah melompat sampai di pintu itu segera menunda kepergiannya. Ia menengok dan berkata, “Jalan satu-satunya yang lebih aman adalah dari belakang bukit di mana tidak ada tentara Mongol, akan tetapi perjalanan melalui tempat itu amat berbahaya. Lagi pula setelah kau berhasil memasuki benteng sebelah belakang, kau masih harus berhadapan dengan Susiok, dengan Coa-ong Lojin, dan banyak lagi orang-orang kang-ouw termasuk empat puluh orang lebih anggota Coa-tung Kai-pang.” Setelah berkata demikian, tubuh Kam Seng berkelebat dan lenyap dari situ!

“Gin-kangnya boleh juga!” kata Hong Beng.

“Koko, kita harus menyusul Adik Cin sekarang juga. Siapa tahu kalau-kalau jahanam itu akan mengganggunya.”

“Lan-moi, kurasa kata-kata Song Kam tadi ada benarnya. Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati. Bukan sekali-kali aku merasa jerih mendengar penjagaan musuh yang demikian kuatnya, akan tetapi kalau memang benar orang tua kita akan datang tak lama lagi, apakah tidak baik berunding dulu dengan mereka, dan minta nasihat mereka bagaimana? Kau tahu bahwa Ban Sai Cinjin akan menjaganya dengan luar biasa kuatnya karena ia maklum bahwa keluarga kita takkan tinggal diam begitu saja!”

“Justru sekaranglah kita harus bertindak, Koko. Bukankah tadi Song Kam Seng menyatakart bahwa tak lama lagi tentu Ban Sai Cinjin akan mengancam kita agar jangan membantu tentara kerajaan? Hal ini berarti bahwa sekarang Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa kita telah mendengar tentang diculiknya adikku, maka penjagaan di sana tentu tidak begitu diperkuat. Kita datang tiba-tiba pula, kalau mungkin menangkap Ban Sai Cinjin dan memaksanya mengembalikan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dan melepaskan Adik Cin.”

Hong Beng memandang tunangannya. Ia tahu bahwa kehendak dan ketetapan hati tunangannya yang tabah ini tak mungkin dapat dibantah lagi, dan ia pun maklum bahwa pekerjaan ini benar-benar amat berbahaya, maka akhirnya ia menyatakan persetujuannya. Hong Beng lalu memberitahukan kepada para perajurit bahwa dia dan Goat Lan hendak melakukan penyelidikan pada markas musuh, kemudian pemuda ini membuat sepucuk surat yang dimasukkan dalam sampul, diberikan kepada pengawal dengan pesan agar supaya surat itu diberikan kepada Pendekar Bodoh atau kawan-kawan yang lain kalau-kalau ada yang datang mencari mereka di benteng ini.

Maka berangkatlah Hong Beng dan Goat Lan pada malam hari itu juga, membawa tongkat hitamnya yang menjadi tanda bahwa dia adalah ketua dari Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan tidak lupa membawa sepasang bambu runcingnya.

Sie Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An yang melakukan perjalanan cepat serta mereka sudah berpengalaman di daerah ini di waktu mereka masih muda dapat lebih dulu tiba di kaki Gunung Alkatasan. Beberapa kali mereka mengobrak-abrik pasukan-pasukan Mongol yang berhasil menerobos ke selatan dari jurusan lain, menjauhi Bukit Alkata-san yang dijaga oleh sepasang pendekar remaja yang mereka takuti itu. Oleh karena melakukan perjalanan sambil membasmi pasukan-pasukan musuh inilah, maka mereka agak terlambat tiba di benteng di mana Hong Beng dan Goat Lan mengatur penjagaan pasukan mereka yang kecil jumlahnya.

Para penjaga benteng dari jauh sudah melihat tiga bayangan orang yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa sekali. Ketika melihat tiga orang gagah itu berdiri di depan pintu gerbang, seorang penjaga membentak,

“Siapa diluar?”

“Kami, orang tua dari Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan. Apakah mereka ada di dalam?” seru Kwee An dengan suaranya yang nyaring.

Semua orang di dalam benteng itu tidak ada yang mengenal Pendekar Bodoh, isterinya, dan Kwee Tai-hiap, maka mendengar disebutnya orang-orang tua Hong Beng dan Goat Lan, mereka cepat membuka pintu dan tiga orang pendekar ternama itu diterima dengan sinar mata kagum dan juga girang. Siapa orangnya yang tidak menjadi girang kedatangan pendekar-pendekar yang boleh diandalkan dalam daerah dan keadaan yang amat berbahaya itu?

“Sie-enghiong dan Kwee-lihiap baru dua hari ini pergi meninggalkan benteng untuk menyelidiki kedudukan musuh di gunung utara. Sie-enghiong malahan meninggalkan sepucuk surat, maka kebetulan sekali Sam-wi datang hari ini. Kami sendiri sudah merasa amat kuatir.” Kepala pengawal menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng. Cin Hai segera menerima surat itu dan membacanya,

“Ayah, Ibu, Kwee-pekhu atau Lili dan siapa saja yang kebetulan menerima surat ini!

Kami, Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan, hari ini didatangi oleh Song Kam Seng yang menggambarkan bahwa Kwee Cin telah diculik oleh Ban Sai Cinjin dan kini ditahan di dalam benteng orang-orang Mongol di bukit utara. Oleh karena itu kami lalu pergi ke sana untuk menolong Adik Cin dan mencoba merampas kembali kitab obat yang juga dicuri oleh kawan-kawan Ban Sai Cinjin.

Dari sini menuju ke bukit itu melalui belakang benteng, menurut perhitungan Song Kam Seng, dapat dicapai dalam waktu satu setengah hari, maka jika dalam waktu tiga atau empat hari kami tidak kembali ke benteng, berarti kami telah tertahan atau terbinasa oleh musuh. Sekian harap menjadikan maklum.

Terima kasih,

Sie Hong Beng.”

Tidak saja Cin Hai terkejut, tetapi Lin Lin dan Kwee An yang mendengar Cin Hai membacakan surat itu, menjadi amat kaget. Kwee An sendiri menjadi pucat wajahnya.

“Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?” tanyanya dengan mata mulai menjadi merah karena kemarahan mulai bernyala di dalam hatinya.

“Kita harus berlaku tenang dan sabar,” kata Cin Hai yang dalam menghadapi segala macam urusan bersikap tenang seperti suhunya. “Menurut laporan kepala pengawal mereka baru dua hari pergi. Kalau sekarang kita menyusul ke sana, belum tentu kita dapat bertemu dengan mereka sehingga bahkan menyulitkan keadaan. Kita harus percaya penuh kepada Hong Beng dan Goat Lan. Agaknya tidak mungkin mereka berdua akan dapat ditawan musuh. Biarlah kita menanti sampai empat hari, jadi dua hari lagi, kalau mereka tidak pulang, barulah kita mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan.”

Kwee An mengangguk menyatakan setuju. Sebetulnya ia merasa amat gelisah mendengar bahwa puteranya diculik orang, akan tetapi harus ia akui bahwa kalau sekarang ia nekat menyusul Goat Lan, amat dikuatirkan ia bahkan akan mempersulit dan mengacaukan usaha Hong Beng dan Goat Lan yang sedang berusaha menolong Kwee Cin. Lagi pula, ia tidak sangsi lagi akan kelihaian puterinya dan juga kelihaian Hong Beng yang seperti ucapan Pendekar Bodoh tadi, agaknya tidak mudah ditawan oleh musuh.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: