Pendekar Remaja ~ Jilid 29

Alangkah girang hati semua orang, termasuk juga para prajurit di dalam benteng itu, ketika pada keesokan harinya, dari jurusan barat datanglah serombongan orang-orang Haimi yang dipimpin oleh Lili dan Ma Hoa diikuti pula oleh Sin-kai Lo Sian!

Ma Hoa lalu menceritakan sejelasnya pengalamannya sehingga puteranya, Kwee Cin, sampai diculik orang, berikut kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dengan jelas. Bukan main marahnya Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An mendengar penuturan ini.

“Betapapun juga,” kata Kwee An, “kita harus menanti sampai besok pagi. Kalau Goat Lan dan Hong Beng belum juga kembali barulah kita beramai akan menyerbu ke sana dan awaslah Ban Sai Cinjin kalau ia berani mengganggu Cin-ji (Anak Cin)!”

Ketika membaca surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng, Ma Hoa juga sependapat dengan suaminya, yaitu menanti sehari lagi. Akan tetapi tidak demikian dengan Lili. Diam-diam hati gadis ini merasa gemas dan benci sekali kepada Ban Sai Cinjin. Kakek pesolek itu amat pengecut dan licin, siapa tahu kalau-kalau Hong Beng dan Goat Lan terjebak dalam perangkapnya?

Malam hari itu, Lili lalu bertemu dengan Nurhacu, orang Haimi yang tua dan banyak pengalaman di daerah utara ini. Dari Nurhacu ia mendapat banyak petunjuk tentang keadaan bukit di utara iut. Benteng itu kini menjadi ramai dan penjagaan diperkuat dengan adanya pasukan Haimi yang juga gagah. Dan pada malam hari iut, melalui penjagaan yang dilakukan oleh orang-orang Haimi, Lili keluar dengan diam-diam dan di bawah sinar bulan purnama yang muram, gadis ini berlari cepat sekali menuju ke utara! Dia hendak menyusul Hong Beng dan Goat Lian dan tentu saja kepergiannya ini tidak diberitahukan kepada ayah bundanya, karena ia tahu bahwa mereka pasti takkan mau meluluskannya.

Adapun Lilani segera dapat merampas hati Lin Lin yang merasa suka dan kasihan melihat nasib gadis ini. Kwee An dan Cin Hai juga menganggap gadis ini seperti keponakan sendiri sehingga Lilani merasa amat terharu. Gadis yang lincah dan rajin ini lalu cepat-cepat melayani pendekar-pendekar gagah itu sehingga dua pasang suami isteri itu makin menyayanginya. Benar-benar Lilani dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya, dan inilah yang membuat seseorang selalu disuka.

Tentu saja pada keesokan harinya, semua orang menjadi terkejut dan geger melihat betapa Lili telah tidak ada pula di dalam benteng. Cin Hai dan Lin Lin mencari ke mana-mana, akan tetapi tidak nampak bayangan Lili. Nurhacu yang mendengar betapa semua orang mencari Lili, lalu menghadap Cin Hai dan menceritakan bahwa malam tadi Lili mencari keterangan sejelasnya tentang keadaan bukit di utara itu.

“Tidak salah lagi!” Cin Hai membanting kakinya. “anak bengal itu dengan lancang tentu menyusul kakaknya ke sana!”

Pada saat semua orang sedang membicarakan urusan perginya Lili ini, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan tak lama lagi seorang pengawal dengan wajah berseri memberi laporan akan datangnya sebuah barisan yang besar sekali, dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun dari kota raja!

Semua orang menyambut dan benar saja bahwa yang memimpin barisan adalah Kam Liong. Dengan penuh hormat, Kam Liong memberi penghormatan kepada Cin Hai suami isteri dan Kwee An serta Ma Hoa, yang dianggapnya pendekar-pendekar yang lebih tinggi tingkatnya pehingga semua orang diam-diam menaruh perhatian dan suka kepada panglima muda ini.

Ketika Kam Liong mendengar bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah empat hari tidak kembali dari penyelidikan mereka di markas musuh dan bahwa Lili juga semalam mengejar ke sana, pemuda ini mengerutkan keningnya sambil berkata, “Berbahaya, berbahaya! Bukit itu penuh dengan tentara Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri berada di tempat itu! Ah, terlalu berbahaya! Lebih baik kita segera menyerang dan menyerbu dengan mendadak, barangkali saja masih dapat menolong putera Kwee-lo-enghiong dan kedua Saudara Hong Beng dan Goat Lan!”

“Jangan, Kam-ciangkun. Itu terlalu berbahaya. Kita harus mencari daya upaya lain untuk menolong mereka itu, dan pula belum tentu ketiga orang anak kami akan mudah saja mengalami bencana di tempat itu!” kata Cin Hai.

Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda dan ternyata seorang Mongol yang berkuda dengan cepat sekali, datang membawa sesampul surat yang katanya harus disampaikan kepada Pendekar Bodoh!

Melihat orang Mongol itu datang membawa tanda utusan Raja Mongol, para perajurit tidak berani mengganggunya dan orang itu lalu dihadapkan kepada Cin Hai. Orang Mongol itu bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan ganas, sedangkan bibirnya menyeringai seperti sikap seorang yang tidak takut mati.

“Aku datang sebagai utusan Malang Khan yang maha besar!” katanya setelah ia dibawa ke dalam benteng.

“Mana surat yang kaubawa?” Cin Hai bertanya.

“Harus kuserahkan sendiri kepada Pendekar Bodoh,” jawab utusan itu.

“Akulah orang yang dimaksudkan itu,” jawab Cin Hai. Orang Mongol itu memandang seperti tidak percaya. Orang ini nampaknya demikian lemah, pikirnya, mana bisa dia adalah Pendekar Bodoh yang demikian terkenal dan bahkan ditakuti oleh Malangi Khan sendiri?

Cin Hai dapat menduga pikiran orang. Sambil tersenyum ia berkata,

“Kalau kau berlama-lama, biarlah aku mengambilnya sendiri!” Tangan kirinya bergerak perlahan ke depan ke arah dada orang Mongol itu. Orang Mongol itu cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya, akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan tangan Cin Hai, ia kesakitan dan sedetik kemudian seruannya terhenti karena ia telah terkena totokan jari tangan kiri Cin Hai. Orang Mongol itu berdiri seperti patung dengan sikap masih menangkis sehingga nampak lucu sekali.

Cin Hai lalu menggeledah saku orang itu dan mendapatkan sesampul surat yang dialamatkan kepada Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya. Ketika ia membuka sampulnya dan membaca, ternyata bahwa surat itu adalah surat yang ditulis oleh Ban Sai Cinjin dan yang ditujukan kepadanya dan semua kawan-kawannya, bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya maju membantu bala tentara kerajaan maka Kwee Cin akan dibunuh dan kepalanya akan dibawa ke medan perang.

Cin Hai dan Kwee An menjadi merah sekali mukanya. Cin Hai lalu membebaskan totokannya dan setelah orang Mongol itu dapat bergerak lagi, ia membentak, “Kau bilang diutus oleh Malangi Khan, mengapa yang kaubawa ini adalah surat dari Ban Sai Cinjin?”

“Apakah bedanya, Malangi Khan dan Ban Sai Cinjin?” Orang Mongol itu menjawab. “Ban Sai Cinjin telah menjadi tangan kanan Malangi Khan, maka setiap perintah Ban Sai Cinjin tentu sudah disetujui oleh Malangi Khan!”

“Baik, kau kembalilah dan sampaikan kepada Ban Sai Cinjin bahwa kami tidak akan melanggar larangannya dan jangan dia sekali-kali berani mengganggu Kwee Cin karena kalau dia mengganggu anak itu, biarpun ia akan lari sampal ke neraka, pedangku pasti akan mendapatkan lehernya!”

Utusan itu lalu dilepaskan dan dengan kudanya yang luar biasa, utusan Mongol ini lalu membalap sehingga sebentar saja ia hanya nampak sebagai titik hitam yang mengebul di belakangnya.

“Nah, Kam-ciangkun, kaulihat dan mendengar sendiri. Kalau kita menyerbu begitu saja, pasti akan terbukti ancaman Ban Sai Cinjin yang berhati kejam dan curang.”

“Kalau begitu, Sie Tai-hiap. Biarlah siauwte memimpin sendiri barisan kerajaan untuk menggempur gunung itu. Ada-pun Cu-wi sekalian mengambil jalan belakang untuk mencari saudara-saudara yang sampai sekarang belum kembali.”

“Ini pun kurang sempurna, Kam-ciangkun,” kata Kwee An. “Memang kita semua sudah berpikir bulat untuk bersama-sama menghalau pengacau negara dan memusuhi barisan Mongol yang membikin kekacauan. Pihak Mongol selain banyak jumlahnya, juga di sana mereka dibantu oleh orang-orang pandai seperti Ban Si Cinjin dan entah siapa lagi. Kalau kau maju dan sampai mengalami kekalahan, bukankah itu melemahkan semangat para perajurit? Lebih baik kaubiarkan kami mencari anakku lebih dulu dan kalau sudah berhasil dan selamat barulah kita bersama membikin pembalasan dan menghancurkan barisan Malangi Khan di bukit itu.”

“Berilah waktu lima hari kepada kami,” Cin Hai menyambung, “setelah lewat lima hari boleh kau memimpin barisanmu menggempur musuh.”

Tentu saja Kam Liong tidak berani membantah dan menyatakan baik. Sikap pemuda ini amat menyenangkan hati dua pasang suami isteri pendekar itu, karena berbeda dengan sikap panglima-panglim lain yang biasanya amat sombong dan angkuh. Sikap panglima muda ini benar-benar menarik hati sehingga diam-diam Lin Lin menyampaikan kepada Ma Hoa dan Kwee An tentang lamaran yang diajukan oleh paman pemuda ini terhadap Lili.

“Memang dia orang baik, agaknya cukup pantas menjadi mantumu,” kata Kwee An kepada adiknya ini, “akan tetapi betapapun juga, sekarang belum waktunya untuk membicarakan soal ini. Lagi pula dalam hal perjodohan harus ada persesuaian antara anak, ibu dan ayah. Jika ketiganya cocok barulah perjodohan itu dianggap baik dan berbahagia. Kita tunggu saja bagaimana pendapat Lili sendiri tentang pinangan itu.”

Mereka berempat lalu berunding mengenai urusan mereka untuk menolong Kwee Cin dan juga mencari Hong Beng, Goat Lan dan Lili.

“Lebih baik kita bagi-bagi tugas,” kata Kwee An, “biarlah aku dan Cin Hai pergi ke sarang mereka. Adapun kau dan Lin Lin tinggallah saja di sini. Siapa tahu kalau-kalau utusan Mongol tadi hanya merupakan pancingan agar kita semua pergi mengejar ke sana dan meninggalkan benteng ini. Kalau kita semua pergi dan mereka tiba-tiba datang menyerang, kasihan sekali kalau sampai Kam-ciangkun mengalami kekalahan hebat! Kurasa aku dan Cin Hai berdua sudah cukup untuk menyelidiki keadaan mereka di gunung itu.”

“Apa yang dikatakan oleh Kwee An memang benar dan aku merasa setuju sekali,” kata Cin Hai yang biarpun menjadi adik ipar Kwee An namun selalu menyebut namanya begitu saja karena sudah menjadi kebiasaan semenjak mereka belum menikah.

Biarpun merasa kecewa, namun Lin Lin dan Ma Hoa tidak membantah, karena memang tepat apa yang diusulkan oleh Kwee An itu. Pula tugas menjaga benteng itu tidak kalah pentingnya, kalau tidak dapat disebut lebih berbahaya.

Berangkatlah Cin Hai dan Kwee An pada hari itu juga menuju ke bukit utara itu. Seperti juga Lili sebelum berangkat mereka minta keterangan tentang kedudukan bukit itu kepada Nurhacu, karena biarpun Cin Hai dan Kwee An pernah mengadakan perantauan di daerah utara di waktu mereka muda (baca cerita Pendekar Bodoh), namun mereka belum pernah naik ke bukit itu. Nurhacu yang tadinya dipaksa membantu orang-orang Mongol, tentu saja sudah pernah masuk ke dalam markas besar Malangi Khan dan dengan jelas ia menggambarkan kedudukan markas musuh yang terjaga kuat itu.

Setelah kedua orang pendekar itu meninggalkan kaki Bukit Alkata-san di sebelah utara dan sedang berlari cepat menuju ke bukit yang menjulang tinggi di sebelah utara itu, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan keluarlah seorang pemuda tampan yang berlari cepat dengan gerakan gesit sekali. Pemuda itu lalu berhenti menghadang di tengah jalan ketika ia melihat dua orang laki-laki setengah tua yang berlari cepat itu.

Cin Hai dan Kwee An merasa curiga dan mereka pun lalu menahan kaki mereka dan berhenti di depan pemuda itu. Untuk beberapa lama mereka saling pandang, kemudian pemuda itu dengan sikap sopan lalu menjura dan bertanya,

“Mohon tanya, siapakah Ji-wi Lo-enghiong yang gagah ini? Dalam keadaan seperti sekarang, melihat dua orang gagah menuju ke utara, sungguh amat mengherankan hati.”

“Anak muda, kau pandai sekali membolak-balikkan kenyataan. Kami yang menuju ke utara belum dapat dikatakan aneh, sebaliknya kau seorang pemuda yang gagah akan tetapi dalam waktu seperti ini, berkeliaran di daerah musuh benar-benar menimbulkan kecurigaan besar!”

Merahlah wajah pemuda itu. “Maaf, kau berkata benar, Lo-enghiong. Memang aku Song Kam Seng telah salah memilih jalan. Akan tetapi aku sedang beruasaha mencari jalan yang benar. Kuulangi lagi, siapakah gerangan Ji-wi yang terhormat?”

Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Cin Hai dan juga Kwee An. Kedua orang pendekar ini telah membaca surat Hong Beng dan tahu bahwa Hong Beng dan Goat Lan pergi meninggalkan benteng setelah dipancing oleh pemuda ini! Dan pula, Cin Hai sudah mendengar dari Lili bahwa pemuda ini adalah putera Song Kun dan yang telah mengancam hendak membalas dendam kepadanya!

“Hemm, jadi kaukah yang bernama Song Kam Seng putera Song Kun? Ketahuilah, aku yang disebut Pendekar Bodoh dan ini adalah saudara tuaku bernama Kwee An! Hayo lekas kauceritakan di mana adanya anak-anak kami, Hong Beng, Goat Lan dan Kwee Cin?”

Mendengar bahwa yang berhadapan dengannya adalah musuh besarnya, pembunuh ayahnya, tiba-tiba Kam Seng menjadi makin marah. Ia lalu memandang kepada Cin Hai dengan mata tajam, lalu mencabut pedangnya dan berkata,

“Bagus, jadi kaukah yang bernama Sie Cin Hai, orang yang telah membunuh ayahku dan membuat ibu dan aku hidup menderita bertahun-tahun? Manusia kejam, kau telah berhutang nyawa, sudah selayaknya sekarang aku menagihnya!” Sambil berkata demikian, Kam Seng lalu mengayun pedangnya menusuk dada Cin Hai. Pendekar Bodoh hanya tersenyum saja dan sama sekali tidak menangkis atau mengelak. Akan tetapi tiba-tiba dari samping berkelebat bayangan pedang dan dengan kerasnya pedang Kam Seng terpukul oleh pedang yang digerakkan oleh Kwee An sehingga pedang itu terpental kembali dan hampir terlepas dari pegangan Kam Seng!

“Song Kam Seng, jangan kau berlaku sembrono! Ayahmu Song Kun bukan mati dibunuh oleh Pendekar Bodoh, akan tetapi ia mati karena kejahatannya sendiri. Seorang gagah membela kebenaran tanpa memandang kepada hubungan keluarga! Kalau kiranya ayahmu itu masih hidup dan menjadi seorang yang amat jahat, apakah kau juga akan membantunya dan ikut-ikutan menjadi jahat?”

Dengan pandangan mata liar Kam Seng membalikkan tubuh dan menghadapi Kwee An. “Kaubilang ayahku jahat? Apa maksudmu?”

“Memang hal yang paling sukar di dunia ini adalah mengakui atau melihat kesalahan pihak sendiri. Ayahmu dahulu mengancam jiwa Lin Lin yang telah menjadi tunangan Cin Hai. Adikku itu terkena racun seorang jahat dan obat penawarnya dirampas oleh ayahmu, kemudian ayahmu mengancam hendak melenyapkan obat penawar itu kalau adikku tidak mau menjadi isterinya!” Dengan singkat akan tetapi jelas, Kwee An lalu menceritakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Song Kun di waktu mudanya (baca cerita Pendekar Bodoh) dan bahwa kematian Song Kun terjadi di dalam pertempuran melawan Cin Hai yang membela diri, jadi sekali-kali bukan Pendekar Bodoh yang sengaja membunuhnya.

Mendengar penuturan ini, pucatlah wajah Kam Seng. Alangkah bedanya dengan cerita yang didengarnya dari Ban Sai Cinjin! Mana yang benar? Akan tetapi suara hatinya membisikkan bahwa ia harus lebih percaya kepada dua orang pendekar besar ini daripada kepada Ban Sai Cinjin yang berhati khianat.

“Biarpun andaikata mendiang ayahku jahat, sebagai puteranya aku harus berani menghadapi kenyataan dan berani pula membalaskan sakit hatinya. Aku menantang kepada Pendekar Bodoh untuk mengadu kepandaian, lepas dari soal siapa salah siapa benar antara dia dan ayahku. Aku hanya hendak memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ayahnya. Kalau aku kalah, sudahlah, mungkin ayah yang memang bersalah dalam pertempuran dahulu.” Sambil, berkata demikian, kembali pemuda itu menghadapi Cin Hai dengan sikap menantang.

“Bocah lancang!” Kwee An membentak marah. “Kau mengandalkan apakah maka berani menantang Pendekar Bodoh? Mudah saja menyatakan tentang sakit hati dan dendam. Ketahuilah bahwa aku pun menaruh dendam kepadamu kalau pandanganku sepicik engkau! Kau telah memancing dan mencelakakan puteriku Goat Lan dan bahkan mungkin kau telah membantu susiokmu Ban Sai Cinjin untuk menculik anakku Cin-ji! Nah, bukankah aku pun boleh berdendam kepadamu? Coba kauhadapi pedangku dulu kalau memang kau memiliki kepandaian!”

Akan tetapi, sambil tersenyum Cin Hai berkata, “Biarkanlah, Kwee An, biarkan anak ini, memperlihatkan tanduknya! Sikapnya mengingatkan padaku akan ayahnya, Song Kun. Demikian berani dan keras hati. Eh, Kam Seng, aku sudah mendengar namamu disebut oleh puteriku, Lili. Kau sudah menyeberang ke pihak jahat dan menjadi murid dari Wi Kong Siansu? Kau salah, anak muda. Kalau saja kau tetap menjadi murid Nyo Tiang Le dan kemudian kau datang kepadaku, mengingat hubungan ayahmu dengan aku, kiranya aku takkan menolak untuk memberi bimbingan kepadamu. Sekarang kau bahkan hendak menantangku bertempur? Hmm, cobalah maju dan jangan ragu-ragu, seranglah sesuka hatimu.”

Mendengar ucapan yang tenang ini dan melihat sikap yang acuh tak acuh dari Pendekar Bodoh musuh besarnya, Kam Seng menjadi ragu-ragu. Tadi ia sudah merasai kelihaian tangkisan pedang Kwee An. Baru Kwee An saja sudah demikian hebat tenaganya, apalagi Cin Hai yang kabarnya memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaian Kwee An! Akan tetapi Kam Seng tidak takut. Sudah bulat hatinya untuk membalas dendam ayahnya sehingga ia mengorbankan perasaannya dan berpindah ke pihak Ban Sai Cinjin. Bukan karena ia lebih cocok dengan rombongan ini, tidak, karena sesungguhnya ia benci melihat kejahatan kakek pesolek itu. Ia rela berguru kepada Wi Kong Siansu hanya karena ia ingin tercapai maksudnya membalas dendam kepada musuh besarnya, yaitu Pendekar Bodoh. Kalau ia teringat betapa ia dan ibunya terlunta-lunta setelah ayahnya tewas, sakit hatinya terhadap Pendekar Bodoh makin besar. Dan sekarang setelah ia bertemu dengan musuh besarnya, biarpun ia ingat musuhnya itu ayah dari Lili, gadis satu-satunya di dunia ini yang dicintainya, biarpun ia sudah mendengar keterangan dari Kwee An betapa dahulu sebenarnya ayahnya yang salah dan jahat, namun bagaimana ia dapat membatalkan niat hatinya hendak membalas dendam?

Kini melihat sikap Cin Hai, amat tidak enak hati Kam Seng. Ia sebenarnya segan melawan pendekar yang bersikap tenang dan gagah ini, namun ia malu terhadap bayangannya sendiri kalau ia tidak melanjutkan niatnya yang telah terpendam di dalam hati sampai bertahun-tahun lamanya. Maka ia paksakan hatinya dan berseru, “Ayah di alam baka! Lihat bahwa anak telah melakukan usaha sekuat tenaga!” Sambil berkata demikian ia lalu maju menyerang dengan hebat sekali kepada Pendekar Bodoh. Akan tetapi, dengan cara yang amat membingungkan mata Kam Seng, tahu-tahu pendekar besar itu telah dapat mengelak dari tusukan pedangnya. Ia menjadi penasaran dan melanjutkan serangannya sambil mengeluarkan ilmu pedang yang ia pelajari dengan susah payah dari Wi Kong Siansu. Kalau dibandingkan dengan dahulu ketika ia menghadapi Lili, ilmu kepandaian pemuda ini sudah maju amat pesat dan jauh. Tidak saja ilmu pedangnya yang sudah menjadi kuat dan cepat, juga tenaga lwee-kangnya bertambah dan ginkangnya pun amat baik mendekati kesempurnaan. Diam-diam Cin Hai memuji, akan tetapi dengan amat mudahnya, Pendekar Bodoh mengelak dari setiap serangan. Pendekar Bodoh tidak mencabut pedangnya, hanya mempergunakan ujung lengan bajunya untuk kadang-kadang menyampok pedang kalau ia tidak keburu mengelak.

Dari sampokan ujung lengan baju ini saja Kam Seng sudah merasa terkejut sekali. Gurunya sendiri, Wi Kong Siansu, juga ahli dalam hal bersilat dengan ujung lengan baju, akan tetapi kiranya tidak sehebat ini. Kam Seng makin mempercepat gerakan pedangnya sehingga tubuhnya lenyap dalam sinar pedangnya yang bergulung-gulung. Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, mengambil keputusan untuk bertempur sampai mati! Ia merasa seakan-akan ayahnya menyaksikan pertempuran ini dari alam baka, maka ia tidak mau berlaku mengalah dan mendesak Pendekar Bodoh dengan nekat.

Pendekar Bodoh maklum bahwa biarpun ia telah mengenal ilmu pedang pemuda ini dan dapat menjaga diri, namun ia tidak dapat menaksir sampai di mana kehebatan ilmu pedang ini apabila dimainkan oleh Wi Kong Siansu. Ia telah mendapat tantangan dari Wi Kong Siansu, maka ia merasa kebetulan sekali kini dapat menghadapi ilmu pedang pendeta itu yang dimainkan oleh seorang muridnya yang pandai. Menurut taksirannya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Kam Seng ini baru paling banyak tujuh puluh bagian tingkatnya. Maka ia lalu mencabut sulingnya yang selalu terselip di pinggangnya. Pendekar Bodoh boleh ketinggalan pakaian atau uang, akan tetapi ia tak pernah ketinggalan suling dan pedangnya! Suling ini merupakan senjatanya yang istimewa, bahkan lebih lihai daripada pedangnya Liong-cu-kiam!

Setelah mencabut sulingnya, makin ramailah pertempuran itu. Pendekar Bodoh kini mempergunakan sulingnya untuk mengimbangi ilmu pedang Kam Seng. Sesungguhnya kalau dia mau, dalam dua puluh jurus saja pasti ia akan dapat merobohkan Kam Seng, akan tetapi Pendekar Bodoh memang ingin sekali mengukur sampai di mana kelihaian ilmu pedang ini yang kelak akan dihadapinya pula. Sampai penuh keringat tubuh Kam Seng. Cin Hai berhasil memancingnya sehingga pemuda itu menghabiskan seluruh jurus dari ilmu pedang yang dipelajarinya dari Wi Kong Siansu! Memang inilah maksudnya, dan setelah ilmu pedang itu habis dimainkan, Cin Hai lalu mengerahkan tenaga pada sulingnya sehingga ketika pedang dan suling menempel, pedang itu tak dapat ditarik kembali! Betapapun hebat Kam Seng mengeluarkan tenaga untuk membetot pedangnya, tetap saja pedang itu tak dapat terlepas dari suling yang menempelnya. Akhirnya Cin Hai menggerakkan tangannya membetot dan sambil berseru keras Kam Seng terpaksa melepaskan gagang pedangnya karena tidak kuat menghadapi tenaga tarikan luar biasa ini.

“Kam Seng, kau memiliki bakat yang cukup baik. Sayang sekali kau mempelajari ilmu silat yang keliru. Kepandaianmu kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahmu, ah, kau ketinggalan amat jauh! Kalau saja kau tidak dibikin buta oleh dendam dan sakit hati yang bodoh dan sesat, aku akan suka sekali memberi bimbingan kepadamu, mengingat hubunganku dengan mendiang ayahmu.”

Kam Seng menjadi malu sekali. “Aku sudah kalah…” katanya dengan muka ditundukkan dan air matanya hampir menitik turun, wajahnya merah sekali. “Kalau Ji-wi menganggap aku tersesat dan jahat, bunuhlah, apa gunanya hidup dalam kesesatan dan kehinaan?”

Cin Hai merasa terharu melihat keadaan putera dari Song Kun ini, maka ia lalu melangkah maju mengembalikan pedang yang dirampasnya dan menepuk-nepuk pundaknya. “Anak muda, aku tidak dapat menyalahkan engkau! Aku sendiri di waktu muda selalu menjadi korban dari nafsu sendiri, melakukan perbuatan tanpa dipikir dulu dan menganggap diri sendiri selalu benar! Ketahuilah, bahwa kebaktian terhadap orang tua bukan asal berbakti saja. Membela nama orang tua bukanlah asal kau dapat membasmi musuh-musuh orang tuamu saja. Kau harus dapat mempergunakan akal sehat dan otak yang jernih. Apabila orang tuamu melakukan sesuatu kesalahan, sebagaimana sudah menjadi lajimnya setiap manusia kadang-kadang tersesat dari jalan kebenaran, jalan satu-satunya bagimu untuk berbakti ialah dengan menebus kesalahan orang tuamu itu. Biarpun ayahmu telah dianggap jahat oleh dunia kang-ouw dan oleh orang-orang gagah, akan tetapi kalau kau sebagai putera tunggalnya dapat melakukan kebaikan, nama buruk ayahmu itu akan terhapus oleh perbuatan-perbuatanmu yang mulia. Sebaliknya, kalau kau dibutakan oleh dendam tanpa melihat sebab-sebab kematian ayahmu, kau berarti akan menambah kotor nama ayahmu sehingga kau merupakan seorang anak yang durhaka!”

Kam Seng memandang dengan wajah pucat dan kedua matanya terbelalak. Tak pernah disangkanya bahwa ia akan menerima wejangan seperti ini dari mulut musuh besarnya! Ia makin ragu-ragu, tak tahu apa yang harus diucapkan maupun dilakukannya.

“Ketahuilah bahwa kita semua ini berada di bawah pengaruh hukum alam, yaitu sebab dan akibat. Segala peristiwa yang terjadi merupakan akibat dan juga menjadi sebab peristiwa lain yang akan terjadi. Kematian ayahmu di dalam tanganku juga merupakan akibat yang kini menyebabkan kau mencari dan hendak membalas padaku! Maka aku tidak marah kepadamu, karena di dalam segala petistiwa yang kujumpai, aku menengok dan mencari pada sebabnya. Tak mungkin kau hendak membunuhku tanpa sebab, seperti juga tidak mungkin tanganku membunuh ayahmu jika tidak ada sebab-sebab yang kuat! Carilah sebab-sebabnya dan kau tidak akan kaget melihat akibatnya karena kalau sebab-sebabnya sudah kau ketahui, akibat-akibatnya akan kauanggap sewajarnya!”

Tunduklah hati Kam Seng mendengar ucapan yang mengandung filsafat tinggi akan tetapi mudah ditangkap ini. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai dan tak dapat menahan isak tangisnya!

“Susiok (Paman guru), ampunkanlah teecu dan ampunkan pula semua dosa mendiang ayahku…” katanya dengan hati terharu.

“Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, Kam Seng, dan tidak perlu maaf-memaafkan. Di dalam setiap perbuatan itu terkandung kesalahan dan kebenaran, tergantung yang melihatnya. Aku sudah cukup girang melihat kau dapat berpikir dengan otak sehat.” Cin Hai mengangkat pemuda itu berdiri lagi.

“Bagus, semua kegelapan sudah menjadi terang sekarang,” kata Kwee An. “Akan tetapi, Kam Seng, kau masih harus menerangkan tentang keadaan puteraku dan juga tentang keadaan Goat Lan dan Hong Beng. Kedatanganmu memberitahukan kepada mereka itu bukankah hanya satu pancingan belaka?”

“Tidak, Kwee Tai-hiap, sama sekali tidak! Biarpun harus kuakui bahwa aku telah salah memilih kawan dan telah terjerumus ke dalam lembah kejahatan, namun aku tetap tidak menjadi seorang pengkhianat negara dan bangsa! Aku merasa jijik melihat Susiok Ban Sai Cinjin, dan merasa sayang bahwa aku tak dapat menegurnya. Sesungguhnya, ketika aku melihat bahwa puteramu yang masih kecil itu datang bersama Ban Sai Cinjin dan mendengar bahwa ia hendak menggunakan puteramu itu untuk mencegah orang-orang gagah membantu tentara kerajaan, aku menjadi gelisah sekali. Hendak menolong dan membawa pergi puteramu, aku tidak berani. Maka aku lalu berlaku nekat dan diam-diam mengunjungi benteng Alkata-san di mana aku bertemu dengan Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng. Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan bahwa aku memberi gambaran tentang jalan belakang yang akan membawa mereka ke tempat kediaman Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain. Sudah kukatakan bahwa tempat itu berbahaya sekali, akan tetapi ternyata Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng nekat dan datang juga ke sana…”

“Lalu bagaimana? Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Kwee An dengan rasa ingin tahu sekali.

“Mereka juga telah tertawan oleh Ban Sai Cinjin!” kata Kam Seng. “Oleh karena itu siauwte sengaja hendak pergi ke benteng Ji-wi untuk memberitahukan hal ini dan tak terduga sama sekali telah bertemu dengan Ji-wi di sini.”

“Tak mungkin!” kata Kwee An.

“Sukar dipercaya bahwa Hong Beng dan Goat Lan akan dapat tertawan sedemikian mudahnya,” kata Cin Hai.

Kam Seng tersenyum. “Harus diakui bahwa kepandaian Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng cukup lihai dan memang agaknya akan sukar sekali mengalahkan dan menawan mereka. Akan tetapi dalam hal kecerdikan, mereka itu masih kalah jauh oleh orang-orang seperti Ban Sai Cinjin! Mereka berdua bukan tertawan karena kekerasan, akan tetapi mereka terpaksa mengalah dan menurut setelah Ban Sai Cinjin mengancam hendak membunuh Kwee Cin kalau mereka melawan terus!”

“Pengecut hina dina yang curang!” Kwee An berseru marah. “Akan kuhancurkan kepala manusia itu!”

“Kwee Tai-hiap, bagaimana kalau Ban Sai Cinjin mengancam padamu untuk membinasakan puteramu sebelum kau turun tangan?” tanya pemuda itu.

Kwee An tak dapat menjawab, hanya mengertak gigi dengan marah dan gemas sekali.

“Kam Seng, kau yang mengetahui keadaan mereka, tidak maukah kau menolong kami? Tidak maukah kau melawan kejahatan dan membela kebenaran untuk menebus nama buruk mendiang ayahmu?” kata Cin Hai.

“Susiok, kedatangan teecu seperti telah kuceritakan tadi, sesungguhnya untuk memberi tahu kepada benteng tentara kerajaan. Sebetulnya tak usah dikuatirkan karena Kwee Cin telah diminta oleh Malangi Khan dan dijadikan kawan bermain putera Malangi Khan yang bernama Kamangis dan yang usianya sebaya. Untuk sementara ini, biarpun Ban Sai Cinjin sendiri tidak boleh berlaku sesuka hatinya untuk membunuh Kwee Cin yang disuka oleh Kamangis putera Malangi Khan! Akan tetapi, untuk merampas kembali anak itupun bukan merupakan hal yang mudah.” Kemudian dengan jelas Kam Seng lalu menggambarkan tempat kedudukan Ban Sai Cinjin dan juga istana Malangi Khan di dalam benteng itu yang berada di tengah-tengah. Setelah menuturkan semua ini, Kam Seng lalu minta diri untuk kembali ke benteng Mongol itu. Ia berjanji bahwa ia akan memasang telinga dan mata serta akan berusaha menolong Goat Lan dan Hong Beng.

“Betapapun juga, kita harus berusaha menolong Cin-ji,” kata Kwee An kepada Cin Hai setelah Kam Seng pergi.

Cin Hai mengerutkan kening. “Sekarang lebih ruwet lagi. Kalau kita berkeras memasuki istana Malangi Khan dan andaikata berhasil merampas dan menyelamatkan Cin-ji bagaimana dengan nasib Goat Lan dan Hong Beng? Dan di mana pula adanya Lili? Ah, kita harus mencari akal dan berlaku hati-hati.”

Kedua orang pendekar besar itu duduk di bawah pohon dan bertukar pikiran. Kemudian mereka mengambil keputusan untuk berpisah. Cin Hai hendak menuju ke tengah benteng, masuk ke dalam istana Malangi Khan, adapun Kwee An akan mencari Goat Lan dan Hong Beng di belakang benteng, di tempat tinggal Ban Sai Cinjin dan kaki tangannya. Kwee An menyetujui hal ini oleh karena ia pun mengakui bahwa Cin Hai memiliki kepandaian yang lebih tinggi maka patut menerima tugas yang lebih berbabaya dan berat.

Dengan ilmu lari cepat mereka, keduanya lalu melanjutkan perjalanan, mengitari bukit itu untuk masuk melalui belakang benteng. Tepat seperti yang dituturkan oleh Nurhachu orang Haimi itu dan juga seperti yang digambarkan oleh Kam Seng, jalan itu sunyi saja, akan tetapi penuh hutan yang amat liar dan menyeramkan. Ketika mereka melintas dengan cepat melalui sebuah hutan, dari jauh nampak bayangan orang yang berjalan cepat. Cin Hai dan Kwee An merasa curiga, cepat mereka melompat ke arah bayangan itu, akan tetapi ketika mereka tiba di situ, bayangan itu berkelebat dan lenyap dari pandangan mata mereka! Cin Hai dan Kwee An saling pandang heran.

“Apakah ada setan di tengah hari?” tanya Kwee An. Siapakah orangnya yang dapat menghilang dari depan mata mereka sedemikian anehnya? Juga Cin Hai merasa heran sekali. Kalau bayangan tadi benar-benar seorang manusia, maka kepandaian gin-kangnya agaknya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri! Gerakan seperti itu menurut ingatannya hanya dimiliki oleh suhunya, yakni Bu Pun Su, atau orang-orang seperti Swi Kiat Sansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng Taisu dan tokoh-tokoh tinggi lain yang kesemuanya telah meninggal dunial

“Mungkin kita salah lihat,” katanya karena bukan menjadi watak Pendekar Bodoh untuk mengganggu orang yang tidak memperlihatkan diri, “kita mempunyai tugas yang lebih penting.” Mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka tibalah di bawah tembok benteng sebelah belakang dari benteng tentara Mongol itu.

Mereka mempergunakan gin-kang yang hebat dan melompat ke atas tembok. Dari sini mereka berpisah. Cin Hai terus berlari-larian di atas tembok yang tingginya kira-kira empat tombak dan lebarnya hanya kurang dari satu kaki itu. Tembok ini memanjang sampai beberapa belas li dan Cin Hai terus berlari mencari-cari bangungan istana kepala bangsa Mongol. Beberapa orang penjaga yang mulai banyak terlihat setelah ia berlari kurang lebih dua li, melihat bayangannya, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat mengejar. Bahkan sebagian besar mengira bahwa yang melayang itu bukanlah seorang manusia, melainkan seekor burung besar. Gerakan Cin Hai amat cepat sehingga kalau tidak kebetulan, jarang ada penjaga yang dapat melihatnya!

Sementara itu, Kwee An setelah berada di atas tembok dan melihat betapa keadaan di bawah sunyi saja, lalu melayang turun. Memang benar bahwa di situ tidak terjaga sama sekali dan di bawah dinding ini hanya merupakan belukar yang tidak terurus. Jauh di depan nampak tembok-tembok bangunan yaitu bagian paling belakang dari benteng Mongol itu. Kwee An berlaku hati-hati sekali. Waktu itu udara mulai gelap karena matahari telah bersembunyi di barat. Ia pikir bahwa kalau ia berlaku sembrono dan menyerbu pada malam hari itu sehingga terlihat oleh musuh, maka keselamatan Goat Lan dan Hong Beng akan terancam. Dari Kam Seng ia mendapat keterangan bahwa Goat Lan dan Hong Beng ditahan di dalam rumah kecil yang berada di tengah-tengah kampung dalam benteng itu, tidak jauh dari rumah yang ditinggali oleh Ban Sai Cinjin. Goat Lan ditahan di dalam kamar sebelah kiri dan Hong Beng di kamar ke dua sebelah kanan. Di depan dan belakang, pendeknya rumah itu dikelilingi oleh penjaga-penjaga yang sebenarnya bukan menjaga untuk menghalangi dua orang muda ini pergi, hanya untuk melihat saja kalau mereka pergi, akan segera dilaporkan dan Kwee Cin akan dibunuh!

Kwee An dengan perlahan bergerak maju di balik belukar dan mengintai ke arah kampung itu. Ia menanti sampai gelap benar barulah ia menggunakan kepandalannya masuk ke dalam kampung itu dan melompat naik ke atas wuwungan rumah. Ia melompat dari genteng ke wuwungan lain dan akhirnya dapat mendekati rumah kecil di mana puterinya dan Hong Beng ditahan. Benar saja, di seputar rumah itu dipasang kursi dan meja di mana duduk para penjaga yang nampaknya enak-enak saja, karena mereka tidak ditugaskan untuk mencegah kedua orang muda itu melarikan diri. Kalau sampai dua orang muda itu memberontak dan melarikan diri, apakah yang dapat mereka lakukan terhadap dua orang gagah itu?

Kwee An memandang ke arah jendeta dan dalam cahaya yang remang-remang ia melihat bayangan seorang gadis yang berpinggang langsing melalui tirai jendela. Hatinya berbedar. Itulah Goat Lan, tak salah lagi! Ingin ia melompat turun dan mengamuk, membunuh para penjaga yang tak berarti itu bahkan kalau perlu mencari dan membunuh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi ia tidak berani melakukan ini sebelum Kwee Cin dapat tertolong oleh Cin Hai.

Pula, sudah jelas bahwa Goat Lan dan Hong Beng tidak mengalami penderitaan dan hanya ditahan karena dua orang muda itu takut kalau-kalau Kwee Cin dibunuh, maka perlu apa menguatirkan keadaan dua orang muda ini? Lebih baik aku menyusul Cin Hai dan lebih dulu menyelamatkan Kwee Cin pikirnya. Akan tetapi, sebelum ia berangkat meninggalkan tempat itu untuk menuju ke selatan di mana terdapat istana Malangi Khan yang terpisah jauh, ia mendengar suara orang memaki-maki dan nampaklah Ban Sai Cinjin yang diikuti oleh lima orang lain berjalan ke arah rumah kecil itu.

Di bawah sinar lampu, Kwee An melihat dengan heran betapa kakek pesolek ini nampak matang biru mukanya, bahkan pipinya sebelah kanan nampak ada tanda goresan-goresan dan kedua matanya serta pipinya nampak biru seakan-akan mukanya telah berkali-kali ditampar orang! Kakek ini tidak hentinya menyumpah-nyumpah, “Akan kubunuh tujuh turunan… kubunuh tujuh turunan…!” Kemudian ia memegang pinggangnya dan membungkuk-bungkuk. “Aduh… aduh… jahanam benar Pendekar Bodoh aduh…!”

Setelah tiba di depan rumah itu, para penjaga segera berdiri dan memberi hormat kepada Ban Sai Cinjin. Kwee An melihat bahwa Ban Sai Cinjin berjalan dengan sukar, dibantu Coa-ong Lojin dan di belakangnya nampak beberapa orang lain. Mereka ini sebetulnya adalah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang atau pembantu-pembantu dari Coa-ong Lojin yang dahulu membantu Ban Sai Cinjin melakukan pencurian di Tiang-an dan selain menculik Kwee Cin juga telah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip.

“Apakah dua orang muda itu masih berada di kamar masing-masing?” tanyanya kepada para penjaga.

“Masih ada, mereka tak pernah pergi keluar dari kamar!” jawab para penjaga.

Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng dari kamarnya, “Ban Sai Cinjin, kau orang yang berhati curang dan pengecut! Kalau kau tidak mau disebut seorang rendah yang tidak pantas hidup di dunia kang-ouw, kaulepaskan Kwee Cin dan mari kita bertempur seribu jurus sampai seorang di antara kita mampus!”

“Tutup mulut! Kau… kau anak Pendekar Bodoh si bangsat kurang ajar! Awas kalau ada kesempatan, akan kubunuh tujuh turunan. Aku tak hendak bicara dengan kau! Kau mau pergi dari sini, pergilah! Aku hanya akan membunuh Kwee Cin dan Nona Goat Lan. Pergi dari sini, aku tidak butuh orang macam kau!”

Terdengar Hong Beng tertawa bergelak, mentertawakan Ban Sai Cinjin yang menyumpah-nyumpah tiada hentinya, kemudian kakek pesolek ini memasuki kamar Goat Lan diikuti oleh Coa-ong Lojin. Dengan hati berdebar Kwee An memasang telinga mendengarkan percakapan itu. Dengan amat pandainya, ia dapat mempergunakan kesempatan ketika Ban Sai Cinjin ribut mulut dengan Hong Beng, untuk melompat ke atas genteng dan kini berada di atas kamar Goat Lan!

“Nona Kwee,” ia mendengar suara parau dari Ban Sai Cinjin, “apakah kau masih belum mau insyaf? Alangkah keras kepala kau? Kau sudah ditipu oleh kaisar lalim, sudah dihina, akan tetapi masih saja kau bersetia kepadanya? Kau menyelamatkan nyawa Putera Mahkota, akan tetapi apa yang kau dapat? Hukuman buang! Kau dihina, hendak dijadikan selir, kemudian kau dibuang ke tempat yang seperti neraka di utara ini. Apakah kau tidak mempunyai perasaan keangkuhan sama sekali? Sekarang adikmu berada di tanganku, dan aku tidak minta banyak. Asal kau suka membantu kami, membantu sampai Kaisar lalim itu terguling dari kedudukannya, tidak saja adikmu akan selamat, bahkan banyak kemungkinan adikmu akan menjadi seorang pangeran!”

“Ban Sai Cinjin, percuma saja kau mengoceh di sini! Aku tetap tidak mau mendengar ocehanmu dan aku akan menuruti permintaanmu tidak keluar dari tempat ini. Akan tetapi sebaliknya, kau pun jangan sekali-kali berani mengganggu adikku, karena kalau kau sampai berani mengganggunya, aku akan mempertahankan nyawaku untuk memukul sampai remuk batok kepalamu!”

Ban Sai Cinjin menyumpah-nyumpah dan tersaruk-saruk keluar dari kamar itu. Masih terdengar keluhannya ketika ia menuju ke bangunan di mana ia tinggal. Malam itu masih terdengar terus keluhannya ketika ia mengobati luka-luka di tubuhnya yang membuat ia merasa sakit seluruh tubuhnya, terutama sekali hatinya yang terasa amat sakit. Malam hari itu sial sekali baginya. Siang tadi ia menghadap Malangi Khan dan hendak minta Kwee Cin, akan tetapi Malangi Khan tidak memperbolehkan, karena Kwee Cin ternyata telah menjadi sahabat yang karib sekali dengan puteranya, Pangeran Kamangis. Dengan hati mendongkol Ban Sai Cinjin kembali ke kampung di belakang istana akan tetapi di tengah jalan ia bertemu dengan Pendekar Bodoh!

Bangsat tua bangka, kau sungguh curang dan tidak tahu malu!” Pendekar Bodoh memaki. “Orang macam kau sepatutnya dibunuh, akan tetapi karena kita ada perjanjian untuk bertemu di puncak Thai-san, kali ini kau takkan kubunuh, hanya ingin memberi hajaran!”

Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Cin Hai menyerangnya dengan hebat! Coa-ong Lojin dan kawan-kawannya cepat membantu, akan tetapi ketika Cin Hai mencabut Liong-cu-kiam, sekali gerakan saja senjata mereka terbabat putus! Terpaksa mereka mundur lagi dan Ban Sai Cinjin yang melawan mati-matian dibuat permainan oleh Cin Hai! Mukanya ditampar berkali-kali dan pukulan serta tendangan menghujani tubuhnya. Cin Hai sengaja tidak memukul atau menendang dengan sepenuh tenaga, namun cukup membuat muka kakek itu menjadi matang biru dan tubuhnya menjadi sakit semua. Setelah Ban Sai Cinjin menjadi setengah pingsan, barulah Cin Hai meninggalkannya! Tentu saja si Huncwe Maut merasa terhina sekali dan ia menyumpah-nyumpah. Kebenciannya terhadap Pendekar Bodoh makin meluap, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Sementara itu, Pendekar Bodoh telah menghilang di malam gelap, entah ke mana perginya.

Setelah Ban Sai Cinjin pergi, Goat Lan menengok ke atas dan berkata sambil tersenyum, “Ayah, turunlah sekarang!”

Kwee An girang sekali melihat ketajaman mata dan telinga puterinya. Ia segera membuka genteng dan melompat turun ke dalam kamar anaknya. Goat Lan memegang tangan ayahnya dan berkata, “Ayah, bagaimana kau bisa datang ke tempat ini?” Gadis ini mengeluarkan ucapan dengan keras sehingga Kwee An cepat memberi tanda dengan tangannya. Akan tetapi Goat Lan tertawa,

“Ayah, kita bukan ditawan. Aku berada di sini atas kehendakku sendiri, mengapa mesti takut? Biarlah Ban Sai Cinjin monyet tua itu mengetahui bahwa kau berada di sini, biar dia makin panas dan jengkel. Dia bisa berbuat apa terhadap kita?”

Mendengar ucapan ini, Kwee An menarik napas panjang. “Asal saja dia tidak dapat mengganggu Cin-ji, aku pun tidak takut apa-apa.”

Sementara itu, Hong Beng yang mendengar suara Goat Lan, dengan girang lalu datang dan memberi hormat kepada Kwee An. Mereka bertiga bicara dengan asyik sekali sehingga melupakan waktu. Ketika Hong Beng mendengar bahwa ayahnya juga masuk ke dalam benteng ini dan bahkan mendatangi istana Malangi Khan dan mendengar bahwa sebetulnya Kwee Cin telah berada di istana dan tidak di dalam tangan Ban Sai Cinjin, Hong Beng lalu bangkit berdiri.

“Ah, kalau kita tahu hal itu, tidak usah lama-lama kita berada di tempat ini,” katanya kepada Goat Lan yang mengangguk menyatakan persetujuannya. “Kalau begitu, biarlah aku pergi sekarang juga menyusul ayah. Siapa tahu kalau dia membutuhkan bantuan!” Kwee An dan Goat Lan tidak mencegahnya, maka Hong Beng lalu melompat keluar dan pergi dari rumah itu dengan cepat!

Ketika Ban Sai Cinjin mendapat laporan bahwa Hong Beng pergi dari kamar tahanan dan Goat Lan menerima seorang tamu laki-laki yang disebut sebagai ayahnya, ia merasa terkejut dan juga marah sekali. Cepat ia mengumpulkan orang-orangnya dan mengerahkan semua perajurit Mongol yang berada di situ untuk mengurung rumah tahanan itu!

Kemudian, pada keesokan harinya setelah ia merasa bahwa tubuhnya tidak begitu sakit-sakit lagi, bersama Coa-ong Lojin ia menghampiri rumah itu dan sekali ia mendorong, daun pintu terbuka. Ia menjadi marah sekali ketika melihat bahwa Goat Lan telah berdiri di situ dengan seorang laki-laki yang bukan lain adalah Kwee An, orang yang pernah dijumpainya dan yang telah memaksa Coa-ong Lojin mengobati Lie Siong dahulu itu. Kwee An melihat Goat Lan hendak bergerak menyerang Ban Sai Cinjin, maka cepat ia memegang pundak anaknya.

“Sabar dulu, Lan-ji,” katanya, kemudian sambil tersenyum mengejek ia memandang kepada Ban Sai Cinjin. “Selamat pagi, Ban Sai Cinjin, dan selamat bertemu kembali. Agaknya kau masih belum puas menerima gebukan dari Pendekar Bodoh dan masih hendak minta tambah dari aku!”

Ban Sai Cinjin marah sekali dan kemarahannya ini membuat dadanya yang kena tendang oleh Cin Hai terasa sakit lagi. Ia berdiri tidak tetap dan hanya setelah Coa-ong Lojin memegang punggungnya, ia dapat berdiri teguh. Huncwenya terpegang dengan tangan kiri, kosong tak berasap, dan dengan tangan kanannya ia menudingkan telunjuknya ke arah Kwee An.

“Orang she Kwee, jangan kau banyak berlagak di sini! Sudah habis kesabaranku dan sekarang juga aku hendak menyuruh orang membunuh puteramu yang telah kutawan!”

Akan tetapi, Goat Lan dan Kwee An hanya tertawa, bahkan Kwee An tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Ban Sai Cinjin, memang sudah menjadi kebiasaan orang macammu ini selalu menggunakan gertakan, ancaman, penipuan dan lain-lain perbuatan curang dan licin. Apa kaukira sekarang kau dapat menggertak lagi? Aku tahu bahwa puteraku setelah kauculik secara curang dan pengecut, sekarang telah berada bersama putera Malangi Khan dan kau tidak dapat mengganggunya! Sekarang, aku tidak akan berlaku murah seperti Pendekar Bodoh! Untuk perbuatanmu menculik puteraku saja kau sudah layak kubunuh. Akan tetapi, aku masih hendak memberi kelonggaran kepadamu. Kembalikanlah Thian-te Ban-yo Pit-kip, baru aku akan mengampuni nyawa anjingmu!”

“Manusia sombong! Bukalah lebar-lebar matamu dan lihat, rumah ini telah terkurung oleh seratus lebih tentara, dan kau masih sanggup menyombong? Ha, untuk apa kitab itu kalau sebentar lagi kau dan anakmu akan mampus dibawah hujan senjata?”

“Setan Tua, mampuslah kau!” Goat Lan yang sudah tak dapat menahan sabarnya lagi lalu menyerang dengan tangan kosong! Biarpun serangan ini dilakukan dengan tangan kosong, namun Ban Sai Cinjin maklum akan kelihaian gadis ini, cepat ia melompat keluar dari pintu, diikuti oleh Coa-ong Lojin. Goat Lan mencabut bambu runcingnya dan mengejar ke luar, disusul oleh ayahnya yang sudah mencabut pedangnya. Akan tetapi, benar saja, di luar mereka disambut oleh keroyokan hebat. Tidak saja Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin yang mengeroyok, bahkan di situ terdapat Can Po Gan dan Can Po Tin, dua orang jago dari Shan- tung yang menjadi sahabat Wi Kong Siansu dan yang pernah bertemu dengan Lili dan Lo Sian di rumah makan. Juga di situ terdapat pengurus-pengurus tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, perwira-perwira Mongol yang pandai bermain golok yang jumlahnya semua menjadi empat belas orang!

Kagetlah Goat Lan melihat ini, karena sesungguhnya ia tidak pernah menduga bahwa di tempat itu terdapat orang-orang sedemikian banyaknya, yaitu orang-orang pandai. Melihat gerakan-gerakan senjata mereka, ia maklum bahwa orang-orang ini tidak boleh dipandang ringan dan keadaannya bersama ayahnya bukannya tidak berbahaya. Apalagi ketika ia menengok, tempat itu sudah terkurung oleh barisan yang amat tebal, barisan orang Mongol yang bersenjata lengkap, jumlahnya tidak kurang dari seratus orang!

Ban Sai Cinjin biarpun sudah dihajar sampai babak bundas oleh Cin Hai, akan tetapi ia tidak menderita luka dalam. Kini setelah menghadapi pertempuran besar dan karena ia memang marah sekali, seketika itu juga tubuhnya terasa segar kembali. Ia menyerang dengan huncwenya, dan permainan huncwenya ini tetap saja yang paling berbahaya di antara semua pengeroyok. Ban Sai Cinjin menyerang Kwee An dan dibantu juga oleh Coa-ong Lojin, yang masih merasa sakit hati terhadap Kwee An. Raja pengemis ini mainkan sebatang tongkat ular yang ujungnya berbisa sehingga sekali saja ujung tongkatnya mengenai kulit musuhnya, pasti lawannya akan roboh dan tewas! Selain Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin, masih ada lagi lima orang perwira Mongol yang cukup kosen yang mengeroyok Kwee An!

Adapun Goat Lan yang mainkan sepasang bambu runcing, menghadapi keroyokan dua orang jago Shan-tung itu. Sebagaimana diketahui, dua orang ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, barangkali tidak di bawah tingkat kepandaian Coa-ong Lojin, apalagi Po Tin yang bertubuh kecil itu ternyata memiliki gerakan yang amat lincah dan tenaga lwee-kangnya hebat, berbeda dengan Po Gan yang memiliki tenaga gwa-kang seperti seekor gajah! Selain dua orang jago Shan-tung yang berhasil dibeli oleh Ban Sai Cinjin ini, Goat Lan masih dikeroyok oleh lima orang pengurus kelas satu dari Coa-ong Kai-pang yang mengeroyok dengan tongkat ular mereka yang berbahaya.

Akan tetapi Goat Lan dan Kwee An tidak menjadi gentar, bahkan dua orang ini merasa gembira. Wajah mereka berseri-seri dan mereka seakan-akan hendak berlomba merobohkan lawan! Ayah dan anak ini merasa lega karena berita tentang Kwee Cin yang tidak berada dalam cengkeraman Ban Sai Cinjin lagi.

“Ayah, mari kita berlomba-lomba menghabiskan tujuh ekor tikus ini!” seru Goat Lan sambil tersenyum.

“Baik, mari kita coba!” kata Kwee An dan berbareng dengan ucapan itu, terdengar jerit kesakitan karena seorang perwira Mongol telah kena ditendang oleh tendangan berantai dari Kwee An sehingga tubuh lawan ini terlempar empat tombak lebih!

“Satu…!” seru Kwee An.

Mendengar ini, Goat Lan merasa penasaran sekali. Dengan bambu runcing di tangan kirinya ia menyerang Po Gan dengan cepat tak terduga, ketika Po Gan dengan kaget melempar tubuh ke samping, Goat Lan lalu menyambarkan bambu runcingnya ke arah dada seorang pengurus Coa-tung Kai-pang yang berdiri di belakang Po Gan. Orang itu menjerit lalu roboh tak dapat bangun lagi.

“Satu…!” Goat Lan juga berseru keras.

Kwee An tersenyum dan tak lama kemudian, hampir berbareng ayah dan anak ini berseru, “Dua…!” dan terlemparlah dua orang pengeroyok! Seruan ini disusul dan disusul lagi sehingga empat orang lawan masing-masing telah dirobohkan! Yang mengeroyok Kwee An kini tinggal Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin dan seorang perwira Mongol, sedangkan pengeroyok Goat Lan tinggal Can Po Gan, Can Po Tin, dan seorang pengemis Coa-tung Kai-pang yang sudah empas-empis napasnya!

Melihat hal ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin. Ia berseru keras memberi aba-aba dan menyerbulah puluhan perajurit, mengurung rapat-rapat sambil menyerang dan bersorak-sorak! Tentu saja Goat Lan dan Kwee An menjadi terkejut sekali. Mereka tak usah takut menghadapi keroyokan para perajurit yang hanya merupakan orang-orang kasar, memiliki kepandaian biasa saja, akan tetapi karena jumlah mereka banyak sekali, maka untuk melepaskan diri dari kepungan mereka harus membunuh banyak sekali orang! Hal inilah yang tidak mereka kehendaki. Kalau saja pertempuran ini merupakan sebuah peperangan, tentu mereka mengamuk dan takkan segan-segan untuk menjatuhkan pukulan maut, akan tetapi sekarang pertempuran ini hanya merupakan perselisihan mereka dan Ban Sai Cinjin, maka kurang baik kalau harus membunuh banyak orang sungguhpun mereka itu adalah orang-orang Mongol yang menjadi musuh negara.

Pada saat Goat Lan dan Kwee An dikeroyok oleh perajurit-perajurit Mongol bagaikan ribuan ekor semut mengeroyok dua ekor burung, tiba-tiba terdengar bentakan keras,

“Mundur semua! Lihat siapa yang berada dalam tawananku!”

Semua orang Mongol menengok dan mereka melihat dua orang laki-laki datang dan di tengah-tengah mereka terdapat seorang anak laki-laki yang membuat mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut! Ternyata bahwa yang datang itu adalah Cin Hai dan Hong Beng, sedangkan yang mereka tawan adalah Pangeran Kamangis, putera dari Malangi Khan!

Melihat betapa semua perajurit mongol berlutut dan tidak berani pula mengeroyok, dan melihat betapa Pangeran Kamangis telah tertawan oleh Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin menjadi pucat sekali mukanya.

“Pendekar Bodoh, kau curang! Kau menggunakan Pangeran Kamangis untuk mengalahkan aku!”

Cin Hai tersenyum sindir. “Cacing tua, aku hanya meniru perbuatanmu. Kau telah menculik Kwee Cin yang sekarang disimpan oleh Malangi Khan. Kalau Kaisar Mongol tidak mau melepaskan Kwee Cin, kami pun akan menahan puteranya. Kau masih bernasib baik tidak mampus dalam tanganku, cacing tua!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu mengajak Goat Lan dan Kwee An untuk meninggalkan tempat itu sambil memondong Pangeran Kamangis! Ban Sai Cinjin membanting-banting kakinya dengan jengkel sekali dan ia cepat menuju ke istana Kaisar Malangi Khan untuk mencari keterangan bagaimana pangeran itu sampai dapat tertawan oleh Pendekar Bodoh.

Setibanya di depan Malangi Khan, di luar dugaannya, ia bahkan mendapat teguran keras dari Malangi Khan dan mendengar penuturan tentang keberanian Pendekar Bodoh yang membuat darahnya mendidih saking marahnya.

Malangi Khan, raja orang-orang Mongol menjadi marah sekali karena ada orang berani menculik puteranya begitu saja dari depannya tanpa dapat menangkap orang itu. Ban Sai Cinjin mendengarkan penuturan Malangi Khan dengan wajah sebentar merah sebentar pucat, tanda bahwa ia merasa malu dan juga mendongkol sekali terhadap Pendekar Bodoh.

Ternyata bahwa Cin Hai setelah memberi hajaran pada Ban Sai Cinjin, lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat sekali memasuki istana Malangi Khan. Dengan kepandaiannya yang luar biasa, Pendekar Bodoh dapat melewati semua penjagaan. Memang penjagaan istana Malangi Khan di tempat itu tidak berapa kuat, oleh karena memang istana itu berada di tengah-tengah benteng pertahanan barisan Mongol, siapakah yang dapat masuk dan berani mengganggu?

Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa besar keheranan Malangi Khan ketika pada hari itu, selagi dia duduk dihadapi oleh para panglimanya untuk mengatur siasat perang yang hendak dilakukan terhadap pedalaman Tiongkok, tiba-tiba dari luar masuk seorang laki-laki setengah tua bangsa Han yang berpakaian putih sederhana, akan tetapi yang bertindak masuk dengan langkah tegap dan tenang seperti seorang raja saja!

“Hei…! Siapa kau? Berhenti!” Empat orang penjaga segera melompat dan menghadangnya.

“Minggirlah, aku hendak bertemu dengan Malangi Khan, Kaisarmu!” jawab Cin Hai dengan suara tenang, akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Malangi Khan.

Jawaban ini tentu saja menimbulkan kegemparan diantara para panglima yang menghadap Kaisar itu, juga para penjaga lalu menyerbu dan mengurung Pendekar Bodoh.

“Bunuh saja orang gila ini sebelum membikin kacau!” teriak seorang penjaga sambil menyerang dengan goloknya ke arah leher Cin Hai. Agaknya dengan sekali pancung ia hendak menyembelih orang Han yang lancang ini! Akan tetapi segera terdengar jeritannya dan orang itu bersama goloknya terlempar jauh menimpa kawan-kawannya sendiri.

“Jangan bunuh dia, tangkap dan bawa menghadap di sini!” tiba-tiba terdengar suara Malangi Khan yang menggeledek. Tentu saja semua penjaga dan panglima yang sudah turun tangan, mentaati perintah ini.

“Orang gila, lebih baik kau menyerah untuk kami bawa menghadap Kaisar daripada sakit tubuhmu!” kata seorang panglima yang diam-diam merasa khawatir akan amukan “orang gila” yang telah disaksikan kelihaiannya ketika menghadapi serangan golok tadi.

Cin Hai tersenyum. Memang bukan kehendaknya. untuk menimbulkan keributan, pula agaknya akan lebih mudah menghadapi Kaisar Malangi Khan dengan berpura-pura menyerah daripada dengan jalan kekerasan.

“Baiklah, kau belenggu kedua tanganku!” katanya sambil tersenyum.

Melihat sikap orang setengah tua ini, semua penjaga dan panglima menjadi geli. Tentu orang gila, pikir mereka, mengapa raja ingin menghadapinya? Dengan cekatan, seorang panglima lalu mengambil rantai besi dan dengan mengeluarkan suara “klik, klik!” kedua pergelangan tangan Cin Hai telah terbelenggu erat-erat! Ada yang menganggap perbuatan panglima itu keterlaluan. Untuk membelenggu seorang gila, mengapa harus dipergunakan belenggu besi? Belenggu macam itu biasanya hanya dipergunakan untuk membelenggu pesakitan yang lihai dan berilmu tinggi saja.

Akan tetapi ketika dua orang panglima hendak mencabut dan merampas pedang dan suling yang terselip di pinggang Cin Hai, mereka itu terperanjat dan terheran-heran. Dengan hanya melenggang dan menggerakkan tubuh, Cin Hai telah dapat mengelak dari mereka ini sehingga pedang dan sulingnya tidak sampai tercabut! Sementara itu, beberapa kali melangkah ia telah berdiri dihadapan Kaisar Malangi Khan!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: