Pendekar Remaja ~ Jilid 30

“Siapakah kau? Melihat sinar mata dan sikapmu, kau bukanlah seorang gila, akan tetapi mengapa kau berani berlancang masuk ke sini dan bagaimana kau dapat sampai di istana?” Kaisar Malangi Khan menyatakan keheranannya.

Cin Hai tersenyum dan karena kedua tangannya diikat ke belakang ia hanya menangguk, lalu berkata dengan hormat, “Malangi Khan yang besar, maaf kalau aku datang mengganggu. Aku bernama Sie Cin Hai, seorang yang bodoh sehingga banyak orang menyebutku Pendekar Bodoh, dan aku masuk ke sini biasa saja, hanya agaknya orang-orangmu sedang mengantuk sehingga tidak melihatku.”

Malangi Khan nampak tertegun dan tidak percaya, sedangkan semua panglima yang berada di situ pun terkejut sekali, akan tetapi siapakah mau percaya bahwa orang yang seperti gila dan yang menyerahkan diri dibelenggu tangannya ini adalah Pendekar Bodoh yang namanya menggemparkan sekali dan yang ditakuti oleh Ban Sai Cinjin? Tak mungkin! Beberapa orang panglima sudah terdengar tertawa kecil menahan geli hatinya karena mengira bahwa orang ini tentulah seorang gila yang mengaku-aku sebagai Pendekar Bodoh! Seorang panglima yang berwatak kasar dan keras segera menuding ke arah Cin Hai dan membentak,

“Orang gila, jangan kurang ajar di hadapan raja yang besar! Orang gila macam engkau ini mana patut menjadi Pendekar Bodoh?”

Baru saja orang ini menutup mulutnya, semua orang terkejut, termasuk Malangi Khan karena orang itu kini duduk diam seperti patung dengan mata terbelalak memandang ke arah Cin Hai. Ketika seorang kawan yang didekatnya menggoyang tubuhnya, orang ini ternyata telah duduk dengan kaku seperti patung! Orang-orang hanya melihat sinar kecil menyambar ke arah iga panglima ini dan kini nampaklah nyata sebutir batu kecil menggelinding di bawahnya. Dan karena sinar itu datangnya dari Cin Hai, mereka cepat memandang dan bukan main kaget hati semua panglima ketika melihat bahwa kini kedua tangan Cin Hai yang tadinya dibelenggu menjadi satu di belakang tubuhnya, kini telah berada di depan tubuhnya dalam keadaan masih terbelenggu seperti tadi! Bagaimana mungkin orang yang kedua tangannya terbelenggu menjadi satu di belakang bisa pindah ke depan tubuh?

Diantara para panglima itu terdapat tiga orang panglima yang berpangkat jenderal, dan mereka ini memiliki kepandaian yang sudah cukup tinggi, dikenal sebagai tugu pelindung negara dan menjadi orang-orang kepercayaan Malangi Khan. Mereka ini masih terhitung murid keponakan dari Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, jago-jago nomor satu dan dua di Mongol yang menjadi murid-murid Swi Kiat Siansu (baca Pendekar Bodoh) di jaman belasan tahun yang lalu. Oleh karena itu, tiga pelindung negara atau yang juga disebut Sam-koksu ini pernah mendengar nama Pendekar Bodoh. Tadinya mereka pun tidak percaya ketika mendengar orang ini mengaku sebagai Pendekar Bodoh karena mungkinkah hanya begini sederhana saja orang yang pernah mengalahkan supek-supek (uwa-uwa guru) mereka Thian Kek Losu dan Sian Kek Losu?

Akan tetapi ketika mereka melihat betapa kini orang yang terbelenggu itu telah dapat memindahkan tangan dari belakang ke depan, mereka menjadi terkejut sekali. Untuk dapat memindahkan dua tangan yang terbelenggu dari belakang ke depan tubuh, hanya ada dua jalan. Yang pertama adalah jalan sederhana saja, yaitu melangkahkan kedua kaki ke belakang melewati tengah-tengah antara kedua lengan, dan jalan ke dua hanya dapat dilakukan oleh orang berilmu tinggi yang memiliki ilmu kepandaian Sia-kut-hwat (Ilmu Melepas Tulang Melemaskan Tubuh) sehingga kedua tangan itu sekaligus dapat diputar ke depan melalui atas kepala tanpa merusak sambungan tulang pundak!

Kalau seandainya orang ini melakukan jalan pertama, bagaimana mereka semua tidak dapat melihatnya dan bagaimana pula ia dapat menyerang panglima yang menghinanya tadi dengan sebutir batu kecil? Mohopi lalu berdiri dan memeriksa panglima yang ternyata benar telah tertotok jalan darah teng-sin-hiat dengan tepat sekali. Dengan beberapa kali tepukan dan urutan tangan Mohopi dapat menyembuhkan panglima itu yang kini tidak berani banyak tingkah lagi. Adapun Kaisar yang melihat peristiwa ini, diam-diam berdebar hatinya. Benar-benar hebat kepandaian Pendekar Bodoh ini, dan apa maunya datang ke tempat ini?

“Eh, kalau benar kau yang bernama Pendekar Bodoh, apakah kau berani menghadapi Sam-koksu untuk saling menguji kepandaian?” tanya Malangi Khan.

Cin Hai tersenyum, “Khan yang besar, sesungguhnya kejadian seperti inilah yang terbaik! Saling menguji kepandaian, saling memetik pengalaman dan menambah pengertian dari masing-masing pihak! Bukankah ini jauh lebih sempurna daripada saling berperang?”

Malangi Khan mengerutkan keningnya, “Kau tahu apa tentang perang? Pendeknya, berani atau tidak kau menghadapi Sam-koksu kami?”

“Khan yang baik, aku datang dengan maksud baik, tentu saja aku akan menerima segala macam sambutan dari pihak tuan rumah. Sudah lama aku mendengar bahwa Mongol mempunyai banyak panglima-panglima yang pilihan dan jagoan maka barisan Mongol berani menyerang ke selatan. Kalau Tiga Guru Negara (Sam-koksu) sudi membuka mataku dan menambah pengetahuanku, sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih!”

“Beri ruangan yang lebar! Buka ikatan tangan tamu kita ini!” Malangi Khan berseru dengan wajah berseri. Raja bangsa Mongol ini, seperti juga raja-raja Mongol yang sudah dan yang akan datang, memang terkenal sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan keperwiraan. Malangi Khan sendiri juga terhitung seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, maka tentu saja ia merasa amat gembira melihat tamunya yang mengaku Pendekar Bodoh ini sanggup menghadapi ketiga orang koksunya! Kegembiraan Raja ini kiranya sama dengan kegembiraan seorang penggemar adu ayam melihat dua ekor ayam berlaga hendak bertarung!

“Tidak usah, Khan yang baik!” jawab Cin Hai dengan kegembiraan pula, karena pengalamannya dengan orang-orang Mongol ini mengingatkan dia akan pengalamannya di waktu muda dahulu (baca cerita Pendekar Bodoh). “Tidak usah dibuka belenggu ini, biarlah aku menghadapi tiga jago-jagomu dengan tangan terbelenggu!”

Tentu saja ucapan ini membuat semua melengak. Malangi Khan memandang ke arah Cin Hai dengan ragu-ragu dan mulailah ia bersangsi apakah orang yang dikira sebagai Pendekar Bodoh ini bukannya seorang gila. Akan tetapi tiga orang koksu itu menjadi marah sekali. Ucapan ini saja sudah merupakan penghinaan yang tak boleh diampuni lagi! Bagaimana seorang tamu berani menantang koksu-koksu yang terkenal ini untuk dilawan dengan tangan kosong yang terbelenggu?

Sementara itu, para penghadap raja sudah mundur dan membuat lingkarar yang cukup lebar sehingga ruang persidangan itu kini berubah menjadi semacam Lian-bu-thia (ruang bermain silat). Cin Hai menjura di hadapan Raja, lalu berjalan dengan langkah enak berlenggang kangkung menuju ke tengah ruangan itu. Kedua tangannya masih terbelenggu dan tergantung di depan perutnya.

“Khan yang mulia, hamba merasa malu untuk melawan seorang yang berotak miring!” kata Ganisa, orang tertua dari Sam-koksu itu kepada rajanya.

“Tidak apa, Ganisa, biarlah kaucoba menyerangnya. Kalau dia Pendekar Bodoh yang sesungguhnya, boleh kau mengukur sampai di mana tinggi ilmu kepandaiannya sehingga ia sesombong itu. Kalau dia bukan Pendekar Bodoh melainkan seorang gila, kau boleh membunuhnya karena dia telah berani bermain gila di tempat ini!”

Mendengar perintah Raja ini, Mohopi yang paling muda lalu maju mewakili kakaknya. Ia lalu mendapat ijin dari Malangi Khan dan Mohopi lalu melompat cepat berdiri di hadapan Cin Hai.

Melihat gerakan ini, Cin Hai tersenyum lalu berkata dengan beraninya. “Malangi Khan yang baik, bukankah tadi kau menantang padaku untuk menghadapi Sam-koksu (Tiga Guru Negara)? Mengapa yang maju hanya satu orang saja? Apakah yang dua sudah merasa jerih untuk menghadapi aku, takut kalah?” Cin Hai sengaja mengeluarkan ucapan ini bukan tiada alasannya. Pertama karena ia ingin sekali mempengaruhi Raja itu agar tunduk kepadanya sehingga mudah diajak berunding untuk membebaskan Kwee Cin, kedua kalinya karena gerakan melompat dari Mohopi tadi sudah cukup baginya untuk menilai sampai di mana gerakan tingkat kepandaian tiga orang jago Mongol itu.

“Orang gila, kau benar-benar sombong sekali!” Mohopi berseru marah mendengar ucapan ini dan serentak ia melakukan serangan bertubi-tubi. Pertama-tama tangan kanannya dikepal menghantam dada Cin Hai dan pukulan ini disusul dengan tusukan dua jari tangan kiri ke arah mata, lalu disusul pula dengan tendangan kaki kanan yang hebat sekali ke arah ulu hati! Tiga macam pukulan maut ini bergerak dengan beruntun hampir berbareng dan satu saja di antara tiga serangan ini mengenai sasaran, dapat dibayangkan bahwa orang yang diserangnya pasti akan roboh. Baru hawa pukulan dan tendangan itu saja sudah menerbitkan suara bersuitan!

Akan tetapi sebelum tiga macam serangan itu melayang, lebih dulu Cin Hai telah dapat menduganya. Pendekar Bodoh adalah seorang pendekar sakti yang memiliki pengetahuan tentang pokok dasar segala macam gerakan ilmu silat, semacam pengetahuan yang menjadi raja segala macam ilmu silat. Diserang dengan gerak tipu dari cabang persilatan manapun juga, sebelum serangan itu melayang ia telah dapat menduganya hanya dengan melihat gerakan pundak dan paha untuk dapat menduga pukulan dan tendangan lawan.

Ketika semua orang, termasuk Malangi Khan, mengharapkan bahwa segebrakan serangan yang mengandung tiga macam pukulan ini akan berhasil menjatuhkan tamu itu, tahu-tahu Mohopi sendiri menjadi kebingungan dan terdengar suara ketawa dari beberapa orang panglima yang merasa geli melihat pemandangan amat lucu. Ketika kelihatannya Pendekar Bodoh seperti mau terkena pukulan yang tiga macam itu, tiba-tiba ia merendahkan tubuhnya dengan kegesitan yang tak terduga dan dengan gerakan cepat sekali ia lalu bergerak maju menyusup di bawah kaki lawan yang menendangnya! Dengan demikian, ia telah berhasil menyelamatkan diri dan kini berada di belakang Mohopi tanpa diketahui oleh lawannya, karena memang gerakan Pendekar Bodoh tadi cepat sekali.

Ketika melihat betapa Mohopi nampak tercengang mencari-cari lawannya, Malangi Khan sendiri menjadi terheran-heran, lalu tertawa bergelak. Gerakan dari Pendekar Bodoh tadi bukanlah gerakan ilmu silat, lebih mirip gerakan seekor monyet yang lucu, akan tetapi buktinya Mohopi dapat ditipu mentah-mentah.

“Majulah, majulah kalian bertiga!” perintah Malangi Khan dengan wajah gembira sekali.

Ganisa dan Citalani atau yang biasa disebut Thai-kok (Guru Negara Pertama) dan Ji-koksu (Guru Negara kedua) jadi marah sekali melihat betapa mereka dipermainkan oleh orang mengaku Pendekar Bodoh itu. Mereka pun tadi melihat betapa gerakan Cin Hai bukanlah gerakan silat, walaupun harus mereka akui bahwa gerakan itu selain amat cepat juga tidak terduga. Mereka masih mengira bahwa hal itu hanya kebetulan saja, akan tetapi kini mendengar perintah Malangi Khan, mereka serentak maju berbareng mengirim serangan dengan maksud sekali serang merobohkan atau menewaskan tamu ini.

Akan tetapi kembali semua orang menjadi tercengang. Sambil tersenyum-senyum, Cin Hai dapat menghindarkan diri dari semua serangan dengan hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, miring ke kanan kiri, melompat ke depan belakang bagaikan seekor monyet yang amat gesit dan sukar diserang. Biarpun penyerangnya ada tiga orang, akan tetapi mana dapat mereka ini melukai Cin Hai? Dahulupun ketika supek mereka masih hidup, yaitu Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, kedua orang ini pun tidak berdaya menghadapi Pendekar Bodoh, apalagi murid keponakannya! Tingkat kepandaian Sie Cin Hai masih beberapa tingkat lebih tinggi dari tingkat kepandaian Sam-koksu ini maka biarpun mereka menyerang sambil mengerahkan semua kepandaian, tetap saja Pendekar Bodoh dapat menghadapi mereka dengan kedua tangan terbelenggu tanpa dapat teluka sedikit pun.

“Koksu, serang dia dengan senjatamu!” bentak Malangi Khan yang menjadi merah mukanya karena malu dan penasaran mengapa tiga orang jagonya yang dijadikan pelindung negara ternyata tidak bisa apa-apa terhadap seorang yang demikian sederhana saja.

Mendengar perintah ini, tiga orang itu lalu mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi yang menarik perhatian dan membuat Cin Hai terkejut adalah senjata di tangan Thai-koksu Ganisa, karena orang tua ini memegang seuntai rantai yang ujungnya diikatkan pada sebuah tengkorak kecil yang amat mengerikan! Teringatlah Cin Hai kepada Thian Kek Losu yang dahulu juga memiliki senjata macam ini, maka ia berlaku hati-hati sekali. Senjata Ji-koksu dan Sam-koksu tidak begitu diperhatikan karena kedua orang guru negara ke dua dan ke tiga ini hanya bersenjatakan golok besar yang biasa saja.

Kedua golok besar itu menyambar cepat hanya dielakkan oleh Cin Hai sambil mempergunakan gin-kangnya yang luar biasa, akan tetapi ketika tengkorak kecil di ujung rantai yang dipegang oleh Thaikoksu itu mengarah mukanya, ia cepat mengangkat kedua tangannya yang terbelenggu. Ia maklum dari pengalamannya dahulu menghadapi Thai Kek Losu, bahwa tengkorak kecil ini mengandung hawa mujijat dari kekuatan sihir dan selain ini, juga di dalam tengkorak ini terdapat senjata-senjata rahasia yang berbisa dan amat berbahaya apabila ditangkis. Oleh karena itu, tanpa mempedulikan dua buah golok yang menyambar-nyambar, ia lalu mencurahkan perhatiannya kepada tengkorak kecil itu, ketika melihat tengkorak menyambar cepat ke arah mukanya seperti hendak menciumnya, ia lalu menggerakkan kedua tangan dan sebelum Thai-koksu tahu, tengkorak itu telah kena terpegang oleh kedua tangan Pendekar Bodoh! Thai-koksu terkejut dan hendak membetot dan menggunakan senjata rahasia yang berada dalam tengkorak, akan tetapi cepat bagaikan kilat, Pendekar Bodoh sudah mengirim tendangan ke arah pergelangan tangannya. Thai-koksu berseru keras karena dengan tepat sekali tendangan itu telah membuat sambungan pergelangan tangannya terlepas!

Sambil membawa tengkorak kecil itu, Cin Hai melanjutkan gerakannya. Sepasang golok dari Ji-koksu dan Sam-koksu menyambar dari kanan kiri, maka cepat ia lalu melangkah mundur, miring ke kanan, menggunakan sikunya “dimasukkan” ke dalam perut Sam-koksu.

“Ngek!” Biarpun Mohopi atau Samkoksu itu mengerahkan lwee-kangnya ke arah perut, namun tentu saja ia tidak dapat menahan pukulan siku ini dan segera ia terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas! Adapun Ji-koksu yang menjadi marah sekali lalu menerjang dengan goloknya, membabat bertubi-tubi ke arah pinggang dan leher Pendekar Bodoh. Cin Hai yang kedudukannya masih miring ketika merobohkan Mohopi tadi, melihat datangnya babatan golok, cepat menotol kedua kakinya dan mengerahkan tenaga sehingga tubuhnya lalu mencelat ke atas bagaikan seekor burung terbang. Citalani atau Ji-koksu yang memiliki ilmu golok paling lihai di antara saudara-saudaranya, cepat menerjang terus selagi tubuh Cin Hai masih berada di udara. Akan tetapi, dengan enaknya Cin Hai menggunakan tendangan menyerong yang kelihatannya ditujukan ke arah kepala lawannya, akan tetapi sesungguhnya lalu menyerong dan menendang ke arah golok! Seorang yang tidak memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa tingginya tidak mungkin melakukan tendangan selagi tubuh masih berada di udara, dan lagi pula, kalau tidak mengandalkan tenaga lwee-kang yang hebat juga tak mungkin orang akan berani menendang sebatang golok yang tajam sekali. Akan tetapi, Pendekar Bodoh merupakan kekecualian karena sebagai murid terkasih dari mendiang Bu Pun Su, guru besar nomor satu dalam dunia persilatan, ia telah memiliki kepandaian yang sukar diukur sampai di mana tingginya.

Begitu ujung kakinya mengenai golok Ji-koksu, terdengar suara nyaring sekali dan golok itu menjadi rompal dan terlepas dari tangan lawannya, terus meluncur ke bawah dan menancap di lantai sampai setengahnya. Adapun Ji-koksu meringis-ringis karena dua buah jari tangannya ternyata telah patah tulangnya keserempet tendangan dari Pendekar Bodoh!

Setelah mengalahkan tiga orang lawannya, Cin Hai lalu melompat ke hadapan Malangi Khan, menjura sambil berkata, “Harap Malangi Khan yang mulia sudi memaafkan kekasaranku tadi terhadap tiga Koksu!”

Malangi Khan untuk beberapa lama tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking kagum dan herannya melihat kelihaian Pendekar Bodoh. Ia turun dari tempat duduknya dan dengan kedua tangan sendiri hendak membuka belenggu di tangan Cin Hai, akan tetapi sekali lagi ia melengak ketika tiba-tiba Cin Hai menggerakkan kedua tangannya dan belenggu besi itu rontok dan jatuh terlepas dari tangannya! Tidak hanya Malangi Khan yang terkejut, bahkan semua panglima yang berada di situ menjadi pucat mukanya melihat kehebatan demonstrasi tenaga raksasa ini.

“Hebat sekali, Pendekar Bodoh. Pantas kau disebut pendekar yang terbesar di dunia persilatan. Aku merasa kagum dan tunduk sekali. Ah, tinggallah bersamaku di sini, kau akan kuangkat menjadi pelindung negara, menjadi raja muda yang kuberi kekuasaan penuh sebagai wakilku!” Raja Mongol itu berseru saking kagumnya.

Akan tetapi Cin Hai menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh,

“Malangi Khan yang baik, semenjak dahulu aku paling tidak suka menjadi pembesar negara. Banyak cara untuk menolong rakyat dan cara yang paling tak kusukai ialah menjadi pembesar negara, karena kedudukan menjadi sekutu harta benda dan ke dua, hal ini suka meracuni pikiran membutakan mata batin. Terima kasih atas tawaranmu yang amat ramah ini, Khan yang mulia.”

Malangi Khan mengerutkan keningnya. “Kalau begitu apa maksudmu datang ke sini? Apakah kau datang dengan niat mengacau?”

Cin Hai menggeleng kepala. “Tidak sama sekali. Kedatanganku ini tak lain hendak menjemput keponakanku, Kwee Cin yang sedang menjadi tamu di istanamu. Orang tuanya telah amat mengharapkan kembalinya, maka harap kau suka menyuruh dia keluar agar dapat pulang bersamaku, Malangi Khan.”

Mendengar ucapan ini, Raja Mongol itu memandang tajam. “Dan selain itu, apa lagi kehendakmu?”

“Aku mendengar bahwa seorang Turki bernama Bouw Hun Ti berada di tempat ini dan membantumu. Karena orang jahat itu telah melakukan pembunuhan terhadap ayah mertuaku, maka kuharap Khan yang mulia suka pula menyerahkan orang itu kepadaku untuk diadili!”

Malangi Khan mengangkat tangan kirinya dan pada saat itu juga pendengaran Cin Hai yang tajam dapat menangkap derap kaki ratusan orang yang mengurung ruangan itu!

“Apa maksudnya ini, Malangi Khan?” tanya Pendekar Bodoh dan sepasang matanya yang lebar dan jujur itu kini bersinar-sinar dan bergerak-gerak, menunjukkan betapa cerdiknya otak yang berada di belakang mata itu.

Malangi Khan tertawa bergelak. “Pendekar Bodoh, kau telah kuberi kesempatan untuk mendapatkan kedudukan setinggi-tingginya yang mungkin dicapai orang di negaraku, akan tetapi kau berani sekali menolak, bahkan menuntut dikembalikannya keponakanmu dan kau hendak menangkap seorang pembantuku pula.” Ucapan terakhir ini sesungguhnya bohong, karena biarpun tadinya Bouw Hun Ti juga membantu suhunya, Ban Sai Cinjin di benteng itu, akan tetapi belum lama ini Bouw Hun Ti telah melakuan perjalanan untuk mengumpulkan orang-orang yang kelak akan dimintai bantuan dalam menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya di puncak Thai-san. Maka sebenarnya Bouw Hun Ti bukan merupakan pembantunya pula. Malangi Khan sengaja mengatakan demikian agar dapat mencari alasan yang berat untuk menyalahkan Pendekar Bodoh.

“Selanjutnya apa kehendakmu, Malangi Khan?” tanya Cin Hai, sedikit pun tidak merasa takut.

“Kau akan kutahan di sini dan takkan kulepaskan sebelum kaunyatakan suka menerima pengangkatan atau sebelum bala tentara Tiong-goan dapat kuhancurkan!”

Cin Hai tersenyum. “Kalau aku melarikan diri?”

Malangi Khan juga tersenyum. “Kau dikurung oleh ribuan orang tentara yang kuat! Dan pula, begitu kau memberontak, anak itu akan kupenggal lehernya!”

“Malangi Khan, kau benar-benar cerdik dan licik! Akan tetapi siapa percaya omonganmu? Kalau aku tidak melihat sendiri anak itu, aku takkan percaya bahwa anak itu masih belum kau bunuh!”

“Pendekar Bodoh, kaukira aku Malangi Khan pembunuh anak-anak tanpa alasan?”

“Siapa tahu watak seorang Raja Besar yang licik seperti kau?” Cin Hai sengaja menghina sehingga Kaisar itu mendelikkan mata dan memberi perintah kepada penjaga untuk membawa datang Kwee Cin.

Teganglah seluruh urat dalam tubuh Cin Hai ketika ia mendengar perintah ini. Ia mengambil keputusan untuk segera merampas Kwee Cin dan membawanya pergi dari situ. Penjagaan ribuan orang tentara Mongol sama sekali tidak ditakutinya, karena sesungguhnya dengan kepandaiannya ia dapat membobolkan kepungan itu.

Pintu belakang terbuka dan muncullah Kwee Cin dan seorang anak Mongol yang berpakaian mewah. Cin Hai dapat menduga bahwa ini tentu putera Raja Mongol itu.

“Kouw-thio (Paman)…!” Kwee Cin berseru girang ketika ia melihat Cin Hai dan hendak berlari menghampiri, akan tetapi sekali sambar saja Malangi Khan telah menangkap lengan Kwee Cin yang ditariknya dekat. Tangan kanan Malangi Khan telah menghunus pedangnya dan dengan gerakan mengancam ia memandang kepada Cin Hai. Pendekar Bodoh merasa lega melihat bahwa Kwee Cin berada dalam keadaan selamat dan sehat, dan dapat diduga bahwa anak itu diperlakukan dengan baik di tempat itu.

“Paman Malangi, mengapa kau memegang tanganku?” Kwee Cin bertanya sambil memandang heran kepada Raja itu, yang menjadi bukti bagi Pendekar Bodoh bahwa biasanya Raja ini bersikap baik terhadap Kwee Cin.

Akan tetapi melihat ancaman Malangi Khan, ia tak dapat berbuat sesuatu. Ia tahu bahwa orang seperti Malangi Khan akan memegang teguh ancamannya dan kalau ia bergerak merampas Kwee Cin, tentu Raja itu akan mengerjakan pedangnya dan celakalah nasib keponakannya itu.

“Malangi Khan, jangan kau mengganggu keponakanku itu. Aku bersumpah takkan merampasnya dengan kekerasan.”

Malangi Khan memandang heran, lalu melepaskan tangan Kwee Cin. Bahkan ia lalu duduk bersandar dengan wajah lega. Pendekar Bodoh merasa kagum sekali betapa Raja ini dapat melihat orang, dan sekali ia mengeluarkan ucapan dan janji Raja itu telah percaya penuh kepadanya! Kalau saja ia mau mempergunakan kepandaiannya, pada saat itu ia dapat menyambar Kwee Cin, akan tetapi tentu saja Cin Hai tidak mau melanggar sumpahnya. Sebetulnya sumpah tadi termasuk rencana dan siasatnya, karena biarpun kelihatan bodoh, Cin Hai sebetulnya cerdik sekali. Ia tidak melihat harapan untuk mempergunakan kekerasan, maka sengaja ia bersumpah takkan merampas Kwee Cin dengan kekerasan.

Kini melihat Malangi Khan tidak mengancam lagi kepada Kwee Cin, tiba-tiba Cin Hai menubruk maju. Malangi Khan terkejut sekali karena tak disangkanya Pendekar Bodoh mau melanggar sumpahnya. Ia hendak membentak dan memaki, akan tetapi menahan suaranya ketika melihat bahwa Pendekar Bodoh tidak merampas Kwee Cin melainkan menangkap Putera Mahkota! Tak seorang pun dapat mengikuti gerakan Pendekar Bodoh yang demikian cepatnya sehingga tahu-tahu Pangeran Kamangis, putera tunggal Malangi Khan, telah berada di dalam pondongan Pendekar Bodoh! Dan sebelum orang dapat bergerak, Cin Hai sudah melompat keluar sambil berkata,

“Malangi Khan, kau harus kembalikan Kwee Cin baik-baik untuk ditukar dengan puteramu. Aku menanti di benteng Alkata-san!”

Para panglima dan penjaga serentak maju hendak mencegat Pendekar Bodoh, akan tetapi Malangi Khan berseru keras,

“Jangan ganggu dia, kalian anjing-anjing bodoh! Jangan serang dia!” Raja ini takut kalau-kalau serangan anak buahnya akan mengenai tubuh puteranya, karena maklum akan kelihaian Pendekar Bodoh.

Demikianlah penuturan yang didengar dengan hati gemas dan mendongkol sekali oleh Ban Sai Cinjin ketika ia datang menghadap Malangi Khan.

“Dan sekarang bagaimana kehendak Khan yang mulia?” tanya Ban Sai Cinjin sambil mengepulkan asap huncwenya. Kedudukan Ban Sai Cinjin sebagai sekutu boleh dibilang sejajar dengan Malangi Khan dan karena Raja Mongol ini pun maklum akan kelihaian Si Huncwe Maut, maka ia memberi kemerdekaan kepada Ban Sai Cinjin untuk bersikap sebagai seorang tamu agung.

“Sayang sekali dengan adanya seorang tokoh seperti kau, Pendekar Bodoh masih berani mengganggu tempat ini,” kata Raja itu dengan suara menyindir. “Akan tetapi sudahlah, memang sukar mencari seorang yang cukup kuat untuk menghadapi seorang sakti seperti Pendekar Bodoh. Tidak ada lain jalan, terpaksa aku harus mengantarkan keponakan Pendekar Bodoh itu ke benteng Alkata-san untuk ditukar dengan puteraku.”

“Harap Paduka berlaku hati-hati.” Ban Sai Cinjin memperingatkan. “Siapa tahu kalau-kalau mereka sudah mengatur perangkap untuk mencelakakan Paduka. Biarlah saya saja yang membawa anak she Kwee itu untuk ditukarkan dengan putera Paduka.”

Beberapa orang panglima membenarkan pendapat Ban Sai Cinjin ini. Memang resikonya terlalu besar bagi maharaja itu untuk pergi sendiri melakukan penukaran tawanan, karena kalau Malangi Khan sampai tertawan musuh, berarti semua gerakan tentara Mongol akan kehilangan kepalanya. Dan selain Ban Sai Cinjin yang berkepandaian tinggi, tidak ada yang lebih baik untuk melakukan penukaran tawanan penting ini.

“Kau harus berhati-hati dan perlakukan anak itu baik-baik, karena aku pun menghendaki puteraku diperlakukan dengan baik oleh mereka!” kata Malangi Khan.

Demikianlah, dengan amat sembrono sekali Malangi Khan mempercayakan penukaran tawanan itu ke dalam tangan Ban Sai Cinjin! Kalau saja Raja ini sudah kenal betul watak Ban Sai Cinjin, tentu sama sekali ia takkan suka mempercayakan keselamatan putera tunggalnya ke dalam tangan Si Huncwe Maut ini!

Kwee Cin lalu dikeluarkan dari kamar di mana ia ditahan dan dijaga keras, kemudian Ban Sai Cinjin menjepit anak ini yang menjadi pucat sekali ketika melihat Ban Sai Cinjin. Kwee Cin ingat bahwa kakek mewah inilah yang menculiknya dahulu, dan tadinya ia sudah merasa lega karena terlindung oleh Malangi Khan dan menjadi kawan bermain dari Putera Mahkota Mongol yang baik. Akan tetapi sekarang ia diserahkan lagi kepada kakek berhuncwe yang ditakuti dan dibencinya itu, maka ia menjadi pucat dan ingin menangis.

Setelah berpamit kepada Malangi Khan, Ban Sai Cinjin lalu melangkah keluar dari istana itu. Akan tetapi pada saat ia hendak mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat, tiba-tiba dari luar benteng menyambar bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya. Ketika dengan terkejut Ban Sai Cinjin memandang, alangkah herannya ketika melihat bahwa yang datang adalah Lie Siong, pemuda yang beberapa kali bertempur dengan dia itu, pemuda yang sudah berani mengacau di rumahnya dan membakar rumahnya di desa Tong-si-bun. Akan tetapi, pemuda ini kini dipegang lengannya oleh seorang tua yang bongkok, yang jalannya terpincang-pincang dan kalau tidak berpegang pada lengan pemuda itu agaknya pasti akan roboh terguling!

“Suhu, inilah anak itu yang harus dirampas, dan ini pula orang jahat bernama Ban Sai Cin in Si Huncwe Maut!” kata pemuda itu kepada kakek bongkok terpincang-pincang yang berpegangan pada lengannya.

Kakek itu membuka-buka matanya yang agaknya sukar dibuka, lalu mengeluarkan suara seperti ringkik kuda, disambung dengan ketawanya yang lemah, “heh-heh-heh, berikan kepadaku anak itu…” suaranya perlahan dan lambat seperti suara kakek-kakek yang sudah tua sekali, agak menggetar pula.

Biarpun sudah pernah merasai kelihaian Lie Siong, tentu saja Ban Sai Cinjin tidak takut sama sekali terhadap anak muda itu, karena selain kepandaiannya memang masih lebih unggul daripada Lie Siong, juga di tempat itu ia mempunyai banyak pembantu.

“Apakah kau datang mengantar kematian?” bentaknya kepada Lie Siong sambil menggerakkan huncwenya di tangan kanan dan dibarengi teriakan memberi tahu kawan-kawannya. Sebetulnya teriakan ini tidak perlu karena para panglima Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri sudah mendengar ribut-ribut dan sudah memburu keluar semua.

Lie Siong yang diserang dengan hebat oleh Ban Sai Cinjin tidak menangkis maupun mengelak. Sebaliknya yang bergerak adalah kakek tua renta itu yang menggerakkan kedua tangannya sambil terkekeh-kekeh. Biarpun kedua tangannya kurus tinggal kulit dan tulang dan gerakannya lambat sekali, namun Ban Sai Cinjin terkejut setengah mati. Sekali sambar saja huncwe Ban Sai Cinjin itu telah kena direbut lalu dibalikkan dan kini huncwe itu menyodok ke arah perut Ban Sai Cinjin, dibarengi dengan tangan kiri ditamparkan ke arah kepala kakek mewah itu. Angin pukulan dari kakek tua renta ini terasa oleh Ban Sai Cinjin bagaikan angin puyuh menyambar ke arahnya, maka tentu saja ia cepat-cepat mengelak, akan tetapi sebelum ia mengetahui bagaimana kakek ini bergerak, Kwee Cin yang berada di dalam pondongannya telah terbang dan pindah ke dalam pondongan kakek tua bangka itu!

“Tangkap…! Keroyok…!!” Ban Sai Cinjin memekik bingung melihat kelihaian kakek ini dan para panglima lalu maju mengurung, dipimpin sendiri oleh Malangi Khan yang merasa gelisah melihat betapa penukar puteranya itu telah dirampas orang. Ban Sai Cinjin sendiri masih tertegun karena baru satu kali selama hidupnya ia menyaksikan orang yang tingkat kepandaiannya sama dengan kakek tua renta ini, yaitu Bu Pun Su yang sudah mati. Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang memiliki kepandaian seperti Bu Pun Su, akan tetapi sekarang ia menghadapi kakek tua renta yang sudah mau mati saking tuanya ini, ia menjadi bingung dan terkejut. Agaknya kepandaian kakek tua renta ini tidak berada di sebelah bawah kepandaian Empat Besar, yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat Siansu yang semuanya sudah meninggal dunia. Bagi Ban Sai Cinjin, agaknya tidak ada tokoh besar dunia kang-ouw yang tidak diketahui atau dikenalnya, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melihat atau mendengar tentang kakek yang aneh ini!

Adapun kakek itu biarpun dikurung oleh panglima-panglima yang bersenjata tajam, kelihatan enak-enak saja. Ia mengisap huncwe rampasan itu yang masih ada tembakaunya mengepul, disedotnya beberapa kali sambil matanya berkedap-kedip dan memondong Kwee Cin yang memandang dengan ketakutan. Sementara itu, karena para penglima sudah mulai menyerang, Lie Siong mencabut pedang naganya dan setelah ia menggerakkan pedangnya, terdengar suara nyaring dan beberapa batang golok atau tombak menjadi patah. Akan tetapi kurungan tidak mengendur, bahkan makin merapat.

Kakek tua yang menyedot asap huncwe, nampak mengernyitkan hidungnya dan wajahnya menjadi makin buruk. “Ah, huncwe tidak enak, tembakaunya apek berbau busuk!” katanya menyengir lalu ia menyodorkan huncwe itu kembali kepada Ban Sai Cinjin. Si Huncwe Maut ini terbelalak matanya memandang penuh keheranan karena tadi ia melihat sendiri betapa kakek ini telah menyedot sedikitnya lima kali dan melihat nyala api di dalam huncwe, tentu banyak sekali asap yang tersedot. Akan tetapi ia tidak melihat asap itu keluar lagi seakan-akan lima kali sedotan itu membuat asapnya tersimpan di dalam dada Si Kakek Aneh. Padahal tembakau yang dipasangnya di dalam huncwenya adalah tembakau hitam yang beracun! Oleh karena kaget dan heran, setelah menerima kembali huncwenya, ia hanya berdiri bengong.

Kakek itu memandang ke arah Lie Siong yang terdesak hebat, dan kini Malangi Khan sendiri lalu memimpin sebagian orangnya untuk menyerang kakek itu dan merampas kembali Kwee Cin. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu terkekeh-kekeh dan dari mulutnya menyambar keluar asap hitam bergulung-gulung seperti naga hitam yang jahat. Inilah asap dari huncwe Ban Sai Cinjin yang tadi disimpan dengan kekuatan lwee-kang dan khi-kang luar biasa sekali dan kini dikeluarkan untuk menyerang para pengeroyok.

“Awas, mundur…! Asap itu berbahaya sekali…!” Ban Sai Cinjin berteriak gagap, karena ia maklum akan berbahayanya asap huncwenya sendiri yang mengandung racun hebat. Akan tetapi beberapa orang sudah tersambar oleh asap itu dan seketika menjadi roboh pingsan. Yang lain-lain menjadi takut dan mundur.

Kakek itu mendekati Lie Siong. “Muridku, hayo kita pergi!” Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuhnya dan tubuh Lie Siong melayang cepat sekali ke atas genteng dan lenyap dari pandangan mata! Kembali Ban Sai Cinjin terkejut. Itu adalah ilmu gin-kang yang luar biasa sekali. Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja telah memiliki kepandaian ini? Melihat gerakan pedang pemuda tadi, masih tidak jauh bedanya dengan dulu. Setelah berpikir sebentar, dapatlah ia menduga bahwa tentu pemuda itu dipegang lengannya oleh kakek yang sakti tadi dan dibawa melompat pergi. Ketika ia memandang ke arah Malangi Khan, dari sepasang mata Raja Mongol ini terbayang maut yang ditujukan kepadanya, sehingga ia menjadi kaget. Ia tahu bahwa Raja ini marah sekali kepadanya dan menganggap dia menjadi biang keladi sehingga Kwee Cin terampas orang.

“Biar hamba mengejar mereka!” seru Ban Sai Cinjin dan cepat ia pun melayang ke atas genteng dan melarikan diri! Kakek mewah ini tahu bahwa dia tidak sanggup mengejar, dan alasannya ini hanya dipergunakan agar dapat melarikan diri dari situ. Ia tahu bahwa setelah kini Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya datang dan berada di benteng Alkata-san, amat berbahaya baginya berada di tempat itu. Ia lalu pergi cepat sekali dengan tujuan menyusul muridnya, Bouw Hun Ti, untuk mengumpulkan pembantu-pembantu yang pandai guna menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang ditakuti.

***

Bagaimana Lie Siong bisa datang bersama kakek tua renta itu dan siapa pula kakek yang aneh itu?

Seperti telah diketahui, setelah Lie Siong bertemu dengan Lili dan Ma Hoa dan meninggalkan Lilani pada suku bangsanya sendiri yang kemudian diantar oleh Lili dan Ma Hoa ke benteng Alkata-san, Lie Siong lalu pergi seorang diri untuk mencari Ban Sai Cinjin guna membalas dendam ayahnya dan juga untuk mencoba menolong Kwee Cin yang diculik oleh kakek mewah berhuncwe maut itu.

Ia telah mendengar bahwa Ban Sai Cinjin membantu bala tentara Mongol, maka ia lalu melakukan penyelidikan di sekitar daerah pegunungan yang dijadikan markas besar bala tentara Mongol. Tentu saja dia tidak berani memasuki perbentengan itu karena tahu bahwa perbuatan ini hanya berarti mengantar nyawa saja. Di dalam benteng itu selain terdapat puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu tentara Mongol juga terdapat banyak panglima-panglima kosen dan orang-orang gagah seperti Ban Sai Cinjin dan lain-lain. Demikianlah ia hanya bersembunyi saja sambil menanti-nanti kalau-kalau ada kesempatan baik. Banyak akal terpikirkan dalam otaknya. Ia dapat menangkap seorang perajurit Mongol dan kemudian menyamar sebagai perajurit itu memasuki benteng. Atau ia bisa menanti sampai Ban Sai Cinjin keluar untuk diserang dengan tiba-tiba atau menyelidiki di mana ditahannya Kwee Cin untuk kemudian coba dirampasnya.

Ketika ia sedang berjalan di dalam hutan di kaki bukit itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang tertawa-tawa. Suara ketawa ini seperti suara ketawa anak kecil yang sedang bermain-main dengan riang gembira. Heran dan kagetlah Lie Siong mendengar suara ini. Bagaimana di dalam hutan seperti ini, dekat perbentengan tentara Mongol dan di daerah pertempuran, bisa terdengar suara ketawa anak-anak yang bermain-main? Ia segera mencari siapa yang ketawa itu dan ketika ia keluar dari belakang sebatang pohon besar, ia berdiri terpukau saking herannya.

Di bawah pohon itu nampak seorang kakek yang kurus kering dan bongkok, kulit mukanya keriputan sehingga sukar sekali dibedakan mana hidung mana mulut, seorang kakek ompong yang tak berdaging lagi, tengah bermain-main seorang diri sambil berjongkok di atas tanah! Ketika Lie Siong memandang penuh perhatian, ternyata bahwa kakek tua renta ini sedang bermain gundu seorang diri dan tiap kali ia menyentil gundunya mengenai gundu yang lain, ia tertawa-tawa puas seperti seorang anak kecil! Hampir saja Lie Siong tak dapat menahan kegelian hatinya ketika melihat kakek yang saking tuanya telah kembali menjadi kekanak-kanakan ini!

Akan tetapi ketika ia memandang cara kakek itu bermain gundu, kegeliannya lenyap dan jangankan menertawakannya, bahkan kini sepasang mata pemuda itu menjadi terbelalak. Ternyata bahwa cara kakek itu bermain gundu amat istimewa sekali. Gundunya terbuat dari tanah liat dikeringkan, jumlahnya sepuluh butir. Yang hebat ialah tiap kali kakek itu menyentil “jagonya”, maka gundunya itu akan meluncur berlenggak-lenggok, kemudian dengan tepat sekali lalu membentur sembilan butir gundu itu satu demi satu, seakan-akan jagonya itu hidup dan memiliki mata yang dapat mencari-cari sembilan lawannya!

Tentu saja Lie Siong mengerti bahwa hal ini baru mungkin dilakukan kalau orang memiliki tenaga lwee-kang yang sempurna. Dia sendiri paling banyak bisa menyentil gundu untuk membentur tiga atau empat gundu lain sebelum berhenti, akan tetapi kakek ini biarpun gundu jagonya telah membentur sembilan gundu lain masih saja gundu jagonya itu dapat berputar kembali ke tangannya yang sudah siap menanti. Dan juga gundu-gundu yang terbentur itu terlempar pada jarak tertentu sehingga sembilan butir gundu itu membentuk suatu garis-garis perbintangan yang luar biasa sekali!

“Hebat…” bisiknya di dalam hati dan saking kagumnya bibirnya ikut bergerak.

Tanpa menoleh kepadanya, kakek tua renta itu lalu berkata, “Hayo, sekarang giliranmu, orang muda. Kaubidikkan gundumu!”

Ketika Lie Siong diam saja, kakek itu menengok ke arahnya dan kagetlah pemuda itu ketika melihat sepasang mata bagaikan mata harimau menyambarnya. “Aku… aku tidak punya gundu,” jawabnya gagap.

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh. “Ha-ha-ha, aku lupa! Kau masih bodoh bermain gundu, tentu saia gundumu habis, kalah semua olehku. Nah, ini, kuberi hadiah sebuah gundu agar kau dapat ikut bermain-main.”

Tangan kiri kakek itu mencengkeram ke arah batu karang hitam yang berdiri di sebelah kirinya. Terdengar suara “krak” dan gempallah sepotong batu karang! Kemudian, seakan-akan batu karang itu hanya sepotong tahu saja kakek itu lalu mencuwil-cuwilnya dan membentuk sebutir gundu yang bundar dan halus dalam sekejab mata.

Dengan hati berdebar kagum, Lie Siong menerima gundu istimewa itu dan ketika ia menekan, gundu itu memang benar terbuat dari batu karang yang luar biasa kerasnya, akan tetapi yang diperlakukan seperti tanah liat basah oleh kakek luar biasa ini.

“Hayo, bidiklah!” kakek itu berseru girang.

Lie Siong terpaksa lalu berjongkok dan melayani kakek ini bermain gundu! Ia membidikkan gundunya sambil berpikir. Gundu yang diberikan kepadanya dan menjadi gundu jagonya adalah terbuat dari batu karang yang keras dan lebih berat daripada gundu-gundu yang berada di atas tanah, karena semua gundu itu terbuat dari tanah liat yang kering. Mana bisa gundunya yang berat itu akan membentur gundu lain ke dua, ke tiga dan seterusnya? Paling-paling yang akan terpental adalah gundu yang dibentur oleh gundu jagonya! Setelah berpikir sebentar, Lie Siong lalu membidik dan melepaskan gundunya dengan keras. Gundunya menendang gundu terdekat yang mencelat dan membentur gundu ke dua yang sebaliknya terpentat pula membentur yang ke tiga. Demikianlah, dengan pengerahan tenaga yang besar dan tepat, Lie Siong berhasil membuat gundu-gundu itu saling bentur sampal gundu ke lima, akan tetapi sampai kepada gundu ke lima, tenaga benturan telah habis dan mogok di jalan.

“Kau licik…!” kakek itu bersungut. “Gundu jagomu diam saja, yang membentur adalah gundu sasaran! Tidak boleh begitu!”

“Tentu saja, karena gundu jagoku lebih berat dan keras sedangkan gundu-gundu sasaran ringan sekali!” Lie Siong membantah dan mereka ini benar-benar seperti dua orang anak-anak yang sedang bersitegang dalam permainan mereka.

“Siapa bilang gundu jagomu keras dan berat? Coba lihat sekarang hendak kubidik gundumu, lihat saja mana yang lebih keras!” Sambil berkata demikian, kakek itu mempergunakan gundu jagonya yang kecil dan terbuat dari tanah liat yang dikeringkan untuk disentil dan membentur gundu jago Lie Siong yang terbuat dari batu karang.

“Prak!!” Kalau dibicarakan memang sungguh aneh dan mengherankan, bahkan Lie Siong yang sudah mahir dalam ilmu lwee-kang dan tahu akan kemujijatannya tenaga lwee-kang, masih terbelalak memandang karena belum pernah ia menyaksikan demonstrasi tenaga lwee-kang yang demikian hebatnya. Begitu dua butir kelereng atau gundu itu beradu, gundu jagonya yang terbuat dari batu karang itu telah hancur berhamburan, sedangkan gundu kakek itu yang terbuat dari tanah liat kering, sama sekali tidak apa-apa, gugus sedikit pun tidak!

Lie Siong adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Melihat sikap kakek ini dan menyaksikan kehebatan tenaga lwee-kangnya, ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti yang telah menjadi pikun atau berubah menjadi anak-anak saking tuanya, atau mungkin juga berubah pikirannya. Kalau saja betul kakek ini seorang luar biasa yang telah dilupakan orang, alangkah baiknya kalau ia menjadi muridnya! Maka ia lalu ingin mencoba apakah dalam hal ilmu silat, kakek ini juga lihai. Ia berpura-pura marah dan membentak,

“Kau merusak gunduku! Kau menghancurkan gunduku!” Sambil berkata demikian Lie Siong maju menampar pundak kakek itu.

Kelihatannya kakek itu tidak mengelak, akan tetapi sedikit saja ia menggerakkan pundak, tamparan Lie Siong meleset!

“Kau yang licik, kalah pandal main gundu, mengapa penasaran? Gundumu pecah bukan karena salahku, salah gundumu mengapa pecah dan mudah hancur, ha-ha-ha!” Kakek itu kelihatan senang sekali karena tidak saja ia menang bermain gundu, juga gundu lawannya menjadi pecah!

“Kau harus dipukul!” seru Lie Siong pula dan cepat ia mengirim pukulan yang lebih kuat dan cepat ke arah pundak orang. Sekali lagi pukulan ini melesat. Lie Siong mulai penasaran dan ketika sekarang kakek itu berdiri dengan tubuhnya yang bongkok, ia lalu menyerang dengan Ilmu Pukulan Sian-li Utauw (Tari Bidadari) yang kelihatan lembek akan tetapi mengandung tenaga lwee-kang dan gerakannya indah dan cepat. Kembali ia tercengang, karena kakek itu sambil tertawa haha-hehe selalu dapat menggerakkan tubuh menghindari pukulannya dan mulutnya tiada hentinya berkata mengejek,

“Kalah main gundu kok mengamuk, sungguh anak yang licik sekali kau ini!”

Yang membuat Lie Siong merasa amat penasaran sekali adalah sikap kakek itu yang seakan-akan tidak memandang sedikitpun juga kepada ilmu silatnya Sianli Utauw, buktinya kakek itu tidak memandang kepadanya, bahkan sambil mengelak ia lalu mengambil gundu-gundu itu sebutir demi sebutir dan dimasukkan ke dalam kantongnya. Biarpun matanya ditujukan kepadai gundu, namun tetap saja setiap pukulan Lie Siong dapat dihindarkan dengan amat mudah.

“Sudahlah, main gundunya tidak becus, mana mau main pukul? Anak nakal dan licik, lebih baik kau pulang belajar lagi main gundu yang betul!” kata kakek itu dan sekali saja ia mengangkat tangan menangkis pukulan Lie Siong, pemuda ini terlempar sampai dua tombak lebih dan merasa betapa tangannya sakit sekali.

Namun Lie Siong masih belum merasa puas. Ia maju lagi dan kini setelah ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, dari tangan dan lengannya mengebul uap tipis putih. Inilah limu Silat Pek-in-hoatsut yang ia pelajari dari ibunya, ilmu pukulan yang amat lihai dari sucouwnya, yaitu Bu Pun Su!

Kakek itu nampaknya tertegun melihat ilmu pukulan ini, dan berdiri bengong. Tangan kanannya memijit-mijit pelipis kepalanya seakan-akan ia mengumpulkan ingatan untuk mengingat kembali ilmu silat yang ia lihat dimainkan oleh anak muda ini.

“Apakah Bu Pun Su hidup lagi?” demikian terdengar ia bertanya kepada diri sendiri. Lie Siong yang mendengar ini menjadi terkejut, akan tetapi ia juga merasa bangga karena agaknya kakek ini mengenal ilmu silatnya dan takut menghadapinya! Maka ia lalu menerjang lagi dengan ilmu pukulan Pek-in-hoatsut. Akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika ia melihat kakek itu pun bergerak dan mengebullah uap putih yang tebal dari kedua lengannya. Lie Siong maklum bahwa kakek ini pun mahir Pek-in-hoatsut, bahkan tenaganya jauh lebih besar daripada tenaganya sendiri. Akan tetapi ia sudah kepalang dan memang ingin menguji sampai puas betul. Ia menyerang hebat dan begitu kakek itu mengangkat tangannya, Lie Siong berseru keras karena tubuhnya mencelat ke atas sampai tiga tombak lebih! Baiknya kakek itu tidak bermaksud jahat sehingga ia terlempar saja tanpa menderita luka dan dapat turun kembali dengan kedua kaki menginjak tanah.

“Ha-ha, main gundu kalah, main pukulan juga keok!” kakek itu mengejek seperti seorang anak kecil mengejek lawannya.

Kini Lie Siong tidak ragu-ragu lagi dan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek aneh itu.

“Suhu yang mulia, mohon Suhu memberi petunjuk kepada teecu yang bodoh!”

Untuk beberapa lama, kakek itu diam saja, kemudian ia terbahak-bahak, seakan-akan merasa amat lucu. “Kau minta belajar apa dari padaku? Aku hanya pandai bermain gundu. Maukah kau belajar main gundu?”

“Segala nasihat dan pelajaran dari Suhu, tentu akan teecu terima dan perhatikan dengan sungguh-sungguh.”

“Bagus, aku akan mengajarmu bermain gundu sehingga kau akan menjadi jago gundu yang paling istimewa.”

kakek yang pikun itu lalu mulai memberi pelajaran bermain gundu atau kelereng kepada Lie Siong! Akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi, Lie Siong mengerti bahwa permainan gundu ini bukanlah sembarang permainan. Sentilan pada gundu itu merupakan gerakan melepas am-gi (senjata rahasia) yang hebat sekali, digerakkan oleh tenaga lwee-kang yang tinggi. Oleh karena itu, mempelajari menyentil gundu seperti yang diajarkan oleh kakek ini, sama halnya dengan mempertinggi tenaga lwee-kang dan kepandaian melepas am-gi. Oleh karena itu, ia memperhatikan dengan seksama ajaran-ajaran gurunya yang diberikan sambil bermain-main ini.

Akan tetapi kakek ini ternyata telah menjadi pikun benar-benar sehingga namanys sendiri pun ia tidak tahu lagi! Juga ia mengerti ilmu-ilmu silat tinggi akan tetapi tidak tahu lagi namanya ilmu-ilmu silat itu sungguhpun ia masih dapat menggerakkannya dengan amat sempurna. Lie Song menjadi girang sekali dan sedikit demi sedikit suhunya mulai memperlihatkan ilmu-ilmu silat yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Kemudian pemuda ini teringat akan Kwee Cin yang diculik oleh Ban Sai Cinjin, maka ia lalu berkata kepada suhunya beberapa hari kemudian, “Suhu, ada seorang anak kecil she Kwee diculik oleh orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin. Anak itu berada di dalam benteng orang-orang Mongol dan teecu tidak dapat menolongnya. Sukakah Suhu menolong anak itu? Kasihan, Suhu, kalau tidak ditolong nyawa anak itu terancam bahaya.”

Lie Song dalam beberapa hari berkumpul dengan suhunya, tahu bahwa kakek ini paling suka kepada anak kecil, maka sengaja menceritakan keadaan Kwee Cin dan menyebutnya anak kecil pula.

“Hmm, apakah dia kawanmu bermain?”

Lie Siong hanya menganggukkan kepalanya dan mendesak supaya suhunya suka menolong anak kecil itu dan membantunya menangkap atau membunuh musuh besarnya yang bernama Ban Sai Cinjin yang juga menculik anak kecil ltu.

“Apakah kaukira aku tukang bunuh orang?” tiba-tiba kakek itu berkata dengan muka murka dan marah. Sampai lama dia diam saja tidak mau bicara dengan Lie Siong, bahkan tidak mau mengajak pemuda itu bermain-main. Lie Siong terkejut dan tahu bahwa suhunya marah dan “ngambul”, merajuk seperti anak kecil yang tersinggung hatinya. Maka ia tidak berani bicara tentang pembunuhan. Pada sore harinya barulah gurunya mau mengajaknya bermain-main lagi dan kembali Lie Siong membujuknya untuk menolong Kwee Cin.

Akhirnya kakek itu mau juga dan setelah mereka hendak berangkat, dengan berpegang pada lengan Lie Siong, kakek itu berjalan terpincang-pincang keluar dari hutan dan mendaki bukit di mana terdapat perbentengan orang Mongol itu.

Alangkah girangnya hati Lie Siong ketika mendapat kenyataan bahwa biarpun berpegang kepada lengannya, gurunya ini bukan merupakan beban, bahkan sebaliknya. Ia seakan-akan didorong oleh tenaga yang hebat sekali dan ketika ia menggerakkan kedua kaki menggunakan ilmu lari cepatnya, ia dapat berlari jauh lebih cepat daripada kalau ia berlari sendiri! Juga ketika ia melompati jurang, ia merasa tubuhnya ringan sekali. Ia tahu bahwa tanpa disengaja, gurunya telah mengeluarkan kelihaiannya dan tentu saja ia menjadi amat girang dan kagum sekali. Demikianlah, dengan amat mudahnya Lie Siong membawa suhunya memasuki istana Malangi Khan dan berhasil merampas Kwee Cin. Ia makin girang sekali menyaksikan kelihaian suhunya yang benar-benar di luar persangkaannya itu. Ia kini makin kenal baik keadaan suhunya dan tahu bahwa suhunya adalah seorang kakek yang sudah amat tua, terlalu tua sehingga berubah seperti kanak-kanak, berkepandaian yang luar biasa tingginya, tidak suka membunuh, dan paling senang bermain gundu. Dari istana Malangi Khan, ia langsung membawa suhunya dan Kwee Cin ke benteng tentara kerajaan di Pegunungan Alkata-san. Memang Lie Siong bermaksud untuk mengembalikan Kwee Cin kepada orang tuanya di benteng Alkata-san, kemudian menghilang dengan suhunya dari orang banyak untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi. Ia ingin belajar sampai dapat mengimbangi atau melebihi kepandaian Lili, Hong Beng, Goat Lan, atau kepandaian Pendekar Bodoh sekalipun!

***

Kedatangan Cin Hai, Kwee An, Hong Beng, dan Goat Lan di benteng Alkata-san disambut dengan girang oleh semua orang. Ma Hoa menjadi cemas ketika melihat bahwa puteranya tidak berada di antara mereka, sebaliknya Pendekar Bodoh bahkan membawa seorang anak laki-laki bangsa Mongol yang berwajah tampan dan berpakaian indah.

Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa anak ini adalah putera Malangi Khan yang sengaja diculik untuk kelak ditukarkan dengan Kwee Cin, Ma Hoa menjadi girang dan penuh harapan. Tentu saja ia merawat Pangeran Kamangis dengan baik, karena ia pun menghendaki agar supaya puteranya diperlakukan dengan baik oleh ayah anak ini.

Pada hari itu juga, datang rombongan Tiong Kun Tojin dan Sin-houw-enghiong Kam Wi, dua orang tokoh besar Kun-lun-san itu yang membawa kawan-kawannya untuk membantu perjuangan negara menghadapi orang-orang Mongol. Diantara rombongan ini terdapat pula Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio, Si Cengeng dan Si Gendut yang sudah kita kenal itu. Kemudian kelihatan pula Hailun Thai-lek Sam-kui, tiga orang kakek aneh yang suka berkelahi, dan masih ada beberapa belas orang gagah dari dunia kang-ouw lagi.

Sungguh amat menarik hati kalau dilihat sikap orang-orang gagah ini ketika bertemu dengan Pendekar Bodoh. Rata-rata menyatakan hormatnya terhadap Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang sudah tersohor. Yang amat menggembirakan adalah Sikap Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio. Dua orang pendeta bersaudara ini ketika melihat Cin Hai dan Lin Ling segera berlari menghampiri. Ceng Tek Hwesio tertawa-tawa sampai perutnya yang besar itu bergerak gerak sedangkan Ceng To Tosu meweknya makin menyedihkan. Cin Hai juga amat gembira bertemu dengan mereka sehingga Pendekar Bodoh menowel-nowel perut Ceng Tek Hwesio sambil berkelakar.

“Aduh, biar mati pun aku tidak penasaran lagi setelah bertemu dengan kalian suami isteri!” kata Ceng Tek Hwesio kepada Cin Hai dan Lin Lin.

Akan tetapi yang paling aneh dan mengesankan adalah sikap dari Hailun Thai-lek Sam-kui, karena tiga orang iblis ini sudah lama sekali mendengar nama besar dari Pendekar Bodoh dan ingin sekali menguji kepandaiannya. Apalagi mereka sudah pernah mencoba kelihaian Goat Lan puteri Kwee An dan juga Lili puteri Pendekar Bodoh, maka begitu berhadapan dan saling diperkenalkan oleh Kam Liong sebagai tuan rumah, tiga orang kakek aneh ini lalu meloloskan senjata masing-masing! Thian-he Te-it Siansu si kate menggerak-gerakkan payungnya, Lak Mouw Couwsu si hwesio gemuk itu menarik keluar rantai besarnya, sedangkan Bouw Ki si tinggi kurus mengeluarkan tongkatnya dan Thian-he Te-it Siansu berkata,

“Pendekar Bodoh, sungguh kebetulan sekali! Tanpa disengaja kita telah saling bertemu di tempat ini, hal yang sudah seringkali kami impikan. Hayolah kauperlihatkan kelihaianmu dan mari kita main-main sebentar agar puas hati kami bertiga!”

Tentu saja Cin Hai menjadi tertegun melihat sikap mereka ini dan untuk sesaat tidak mampu menjawab! Bagaimanakah ada orang-orang yang baru saja dikenalkan lalu menantang berpibu (mengadu kepandaian)? Akan tetapi hal ini telah membuat Tiong Kun Tojin menjadi merah mukanya. Ia melangkah maju dan menjura kepada Cin Hai, “Sie Tai-hiap, harap suka memaafkan Hailun Thai-lek Sam-kui yang suka main-main.” Kemudian ia berkata kepada tiga orang aneh itu,

“Sam-wi sungguh-sungguh tidak memandang kepadaku! Pinto yang menjadi kepala rombongan ini, apakah sengaja Sam-wi datang-datang hendak membikin malu kepada pinto?” Suara Tiong Kun Tojin terdengar tandas sekali, memang tosu ini amat berdisiplin dan memegang teguh aturan, juga berwatak keras.

Thian-he Te-it Siansu bergelak mendengar dan melihat sikap tokoh Kun-lun-san ini. “Ah, Tiong Kun Totiang mengapa begitu galak? Apa sih buruknya menambah pengetahuan ilmu silat selagi bertemu dengan orang gagah? Kesenangan kita satu-satunya hanya ilmu silat, kalau sekarang tidak bergembira mau tunggu kapan lagi?”

“Bicaramu memang benar, Siansu. Akan tetapi pibu harus dilakukan dengan aturan, pada waktu dan tempat yang tepat, tidak sembarangan seperti kau ini! Kita datang di sini bukan untuk main-main, melainkan untuk berjuang. Sie Taihiap adalah seorang pendekar gagah yang datang juga untuk membantu mengusir orang-orang Mongol, apakah datang-datang kau mau menimbulkan kekacauan? Berlakulah sabar, kalau semua urusan yang besar telah selesai, kau mau mengajak pibu siapapun juga, pinto takkan ambil peduli.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: