Pendekar Remaja ~ Jilid 31

Thian-he Te-it Siansu memandang kepada dua orang adiknya, lalu menghela napas berulang-ulang dan kemudian sambil tertawa ia berkata kepada Pendekar Bodoh, “Pendekar Bodoh, kalau begitu terpaksa kita harus menanti sampai nanti di puncak Thai-san nanti tahun depan pada musim chun (musim semi).”

“Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah), siauwte adalah seorang yang bodoh, maka tentu saja kalau ada yang hendak memberi petunjuk siauwte akan merasa berterima kasih sekali,” jawab Cin Hai dengan merendah, dan ternyata bahwa pendekar besar ini telah dapat menekan kemarahannya melihat sikap tiga orang tua ini.

Kam Wi yang mendengar bahwa keponakannya, yaitu Kam-ciangkun atau Kam Liong masih belum menyerang musuh dan menanti sampai lima hari, dan mendengar pula tentang usaha Pendekar Bodoh yang berusaha merampas kembali Kwee Cin dan kini berhasil menawan putera Malangi Khan, lalu berkata sambil mengerutkan kening,

“Tidak baik, tidak baik! Dengan penundaan serangan kedudukan lawan akan menjadi makin kuat dan orang-orang Mongol akan menyangka bahwa kita takut!” Tokoh Kun-lun-san yang berwatak keras ini berkata dengan sikap seolah-olah ia seorang penglima perang yang ulung. Hal ini tidak mengherankan oleh karena semua orang juga tahu bahwa dia adalah adik dari Panglima Besar Kam Hong Sin. “Lebih baik pukul hancur perkemahan Malangi Khan kalau sudah dekat dengan mereka dan memukul hancur pasukannya, akhirnya kita akan dapat membebaskan putera Kwee Tai-hiap juga. Sekarang kebetulan sekali putera dari Malangi Khan telah berada di tangan kita, kita pergunakan untuk mengancamnya. Apabila dia tidak mau menyerah dengan damai, besok aku akan membawa kepala puteranya di ujung tombak di luar dari bentengnya!”

Pendekar Bodoh, Kwee An, Ma Hoa dan Lin Lin mengerutkan kening, dan mereka ini merasa tak setuju sama sekali atas usul orang kasar ini. Akan tetapi, dipandang darl sudut siasat kemiliteran, memang usul ini tidak buruk, maka Kam Liong biarpun menduduki pucuk pimpinan, tidak berani berkata sesuatu, hanya memandang kepada orang-orang tua yang ia hormati itu dengan mata penuh pertanyaan.

Cin Hai lalu menghadapi Kam Wi dan setelah menjura, ia berkata, “Memang apa yang dikatakan oleh Kam-enghiong betul sekali, akan tetapi mengingat akan keselamatan keponakanku, aku dan saudara-saudaraku mengharapkan pengertian Kam-ciangkun agar supaya penyerbuan itu ditunda dua hari lagi. Aku percaya bahwa Malangi Khan takkan membiarkan puteranya terlalu lama menjadi tawanan dan akan menyerahkan Kwee Cin untuk ditukar dengan puteranya. Setelah itu, barulah tentang penyerbuan kita rundingkan lagi.”

Alis mata Kam Wi yang tebal itu dikerutkan, kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata, “Kalau saya tidak mengingat bahwa Sie Tai-hiap adalah calon besan dan calon mertua Kam Liong, tentu Kam Liong akan merasa keberatan melakukan penundaan-penundaan ini. Akan tetapi biarlah, biar kita menanti sampai dua hari lagi…”

“Kam-enghiong, urusan perjodohan itu belum diputuskan, harap kau suka bersabar setelah urusan ini selesai dan kita kembali ke pedalaman, barulah akan kita pertimbangkan lagi,” kata Cin Hai tak senang.

Kam Wi tersenyum. “Aku tidak melihat lain halangan lagi, maka aku sudah berani memastikan, bukan begitu, Kam Liong?” Kam-ciangkun hanya menundukkan mukanya yang menjadi amat merah akan tetapi ia tidak berani melayani pamannya yang kasar ini.

Dan pada malam hari itu, Kam Liong menjamu para orang gagah itu dengan pesta makan yang cukup besar dan meriah. Di tengah-tengah benteng itu, dalam ruangan yang lebar, dipasang meja-meja besar dan semua orang duduk mengelilingi beberapa buah meja dan makan minum dengan gembira. Sebagai seorang panglima perang yang berhati-hati, di waktu berpesta malam itu, Kam Liong sengaja memesan dengan keras kepada para perwiranya agar supaya penjagaan di luar benteng diperkuat, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak diingini terjadi.

Akan tetapi, tetap saja terjadi hal yang luar biasa dan di dalam benteng itu masuk tiga orang tanpa ada seorang pun penjaga yang mengetahuinya! Tahu-tahu tiga bayangan orang itu telah berada di atas genteng ruang pesta itu. Dan orang pertama yang dapat mendengar suara kaki mereka adalah Pendekar Bodoh. Pada saat itu, Cin Hai yang duduk menghadapi meja bersama Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Lo Sian, Lilani, Hong Beng, Goat Lan dan Kam Liong sendiri tiba-tiba menaruh sumpitnya di atas meja dan berkata dengan suaranya yang keras karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khi-kang.

“Ji-wi (Tuan Berdua) yang berada di atas, silakan turun saja kalau hendak bicara!”

Tentu saja semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi heran dan terkejut. Rata-rata mereka memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi mereka tadi tidak mendengar sesuatu. Kini semua orang berdiam dan memasang telinga, benar saja terdengar suara kaki dua orang di atas genteng. Setelah teguran Pendekar Bodoh lenyap, terdengarlah jawaban dari atas genteng,

“Sie Tai-hiap, yang datang hanyalah siauwte untuk mengantarkan Adik Kwee Cin!”

“Lie Tai-hiap…!” seru Lilani yang segera mengenal suara Lie Siong.

Ma Hoa, Kwee An, Lin Lin, dan Pendekar Bodoh segera berdiri.

“Siong-ji (Anak Siong), lekas bawa Cin-ji (Anak Cin) turun!” seru Ma Hoa. Akan tetapi biarpun berkata demikian, ia sudah melompat keluar diikuti oleh suaminya dan juga oleh Cin Hai dan Lin Lin. Juga Hong Beng dan Goat Lan segera menyusul. Enam bayangan orang yang amat gesit gerakannya melompat ke atas genteng.

Benar saja di atas genteng itu mereka melihat Lie Siong bersama Kwee Cin. Anak kecil itu ketika melihat bundanya segera bergerak menubruk dan Ma Hoa memeluk Kwee Cin dengan mata membasahi pipinya.

“Terima kasih… terima kasih, Siong-ji…” kata Ma Hoa sambil memandang ke arah Lie Siong dengan mata bersyukur

“Bukan akulah yang telah menyelamatkan Adik Cin, Ie-ie (Bibi),” kata Lie Siong merendah.

“Ibu, yang menolongku adalah En Siong dan suhunya, kakek pincang yang bisa terbang itu!” tiba-tiba Kwee berkata sehingga semua orang terheran dan terkejut mendengarnya.

“Lie Siong, mengapa kau tidak mengajak suhumu ke sini?”

“Dia sudah berada di sini!” tiba-tiba Kwee Cin berkata pula. “Tadipun dia yang mengantar kami ke sini, entah sekarang ke mana dia pergi!”

Kembali semua orang merasa terheran, lebih-lebih Cin Hai. Dia tadi hanya mendengar suara kaki dua orang, yang ternyata adalah injakan kaki pada genteng dari Lie Siong dan Kwee Cin. Kalau benar ada tiga orang, mengapa ia tidak mendengar suara kaki yang seorang lagi?

“Siong-ji, manakah gurumu itu? Biar kami bertemu dengan dia dan menghaturkan terima kasih serta belajar kenal,” kata Lin Lin kepada pemuda yang tampan dan yang berdiri dengan muka tunduk itu.

“Dia… dia tidak suka bertemu dengan lain orang. Maafkan siauwte… maafkan karena aku tidak dapat lama-lama tinggal di sini.” Ia menengok ke belakang dan berkata, “Suhu, marilah kita pergi.”

Terdengar suara terkekeh dan tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat bagaikan setan ke arah Lie Siong dan tahu-tahu pemuda itu berkelebat dan lenyap di malam gelap!

Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, dan Ma Hoa telah memiliki ilmu kepandaian yang hampir sempurna, apalagi Cin Hai, maka biarpun gerakan kakek aneh itu cepat sekali, mereka masih saja melihat wajah dan bentuk tubuh kakek itu dan mereka berempat saling pandang. Sedangkan Hong Beng dan Goat Lan, karena mereka dapat mengetahui bahwa ilmu gin-kang dari kakek itu masih lebih hebat daripada kepandaian kedua orang tua mereka, hal ini membikin sepasang anak muda ini penasaran sekali. Bagi mereka, orang-orang tua mereka memiliki kepandaian yang paling tinggi diantara orang-orang kang-ouw!

“Siapakah dia…?” Pendekar Bodoh mengerutkan kening dan mengingat-ingat. Juga Kwee An dan Ma Hoa belum pernah melihat orang itu.

“Kepandaiannya mengingatkan kepada suhu Bu Pun Su,” kata Lin Lin.

Tiba-tiba Cin Hai menepuk jidatnya. Ucapan isterinya ini mengingatkan dia akan sesuatu. Pernah dahulu Bu Pun Su gurunya menyebut-nyebut tentang seorang yang bernama The Kun Beng yang pernah menjadi sahabat baik gurunya. Menurut gurunya, orang ini memiliki kepandaian yang tidak berada di sebelah bawah kepandaian Bu Pun Su sendiri, yaitu ketika keduanya masih muda.

“Hmm, siapa lagi yang dapat memiliki kepandaian setingkat dengan Empat Besar selain dia?” pikir Pendekar Bodoh. Ia tidak berkata sesuatu kepada orang lain karena hanya menduga-duga, akan tetapi diam-diam ia merasa girang bahwa putera Ang I Niocu bertemu dengan seorang guru yang demikian lihainya.

Dengan wajah girang semua orang lalu membawa Kwee Cin turun ke ruang pesta, di mana Kwee Cin disambut dengan ucapan selamat dari semua orang yang hadir. Tiba-tiba terdengar suara girang “Kwee Cin…?”

Anak ini menengok dengan wajah berseri, lalu berseru, “Kamangis!!” Keduanya lalu berlari saling menghampiri dan saling berpegang lengan dengan wajah girang sekali.

“Kamangis, kau sudah berada di sini?” tanya Kwee Cin.

“Aku suka sekali ikut ayah bundamu, mereka orang-orang baik sekali!” jawab Kamangis.

“Ayahmu juga seorang baik, Kamangis,” kata Kwee Cin.

Ma Hoa dan Kwee An yang mendengar ini menjadi amat terharu dan juga girang.

Akan tetapi tiba-tiba Kam Wi berdiri dan berkata dengan suara lantang,

“Kebetulan sekali, Kwee-kongcu telah tertolong dan terampas kembali. Besok pagi-pagi kita boleh serbu benteng orang-orang Mongol dan kita gunakan Putera dari Malangi Khan ini sebagai perisai! Ha-ha-ha! Malangi Khan kali ini tentu akan dapat dihancurkan segala-galanya.”

“Tidak boleh!” tiba-tiba Ma Hoa menarik Kamangis dalam pelukannya dan sambil memandang ke depan dengan sepasang matanya yang tajam, nyonya ini berkata. “Siapapun juga tidak boleh mengganggu Kamangis! Dia datang di sini karena dibawa Pendekar Bodoh dan kini berada dalam perlindunganku! Siapapun juga tidak bisa mengganggunya dan aku akan mengembalikannya kepada ayah bundanya dengan baik-baik, karena orang tuanya pun telah memperlakukan anakku dengan baik pula. Siapa pun boleh tidak menyetujui omonganku, dan kalau ada yang hendak mengganggu Kamangis, boleh coba-coba mengalahkan sepasang senjataku!” Sambil berkata demikian dengan sekali gerakan Ma Hoa telah mencabut sepasang bambu runcingnya yang terkenal lihai. Sikapnya amat gagah dan membikin orang menjadi jerih juga melihatnya!

Kam Wi adalah seorang yang berdarah panas. Mendengar ucapan ini ia sudah melotot dan hendak maju mendebat, akan tetapi tiba-tiba Kam Liong yang tidak menghendaki perpecahan, segera maju dan menjura kepada Ma Hoa dan berkata dengan suara lemah-lembut dan sikap sopan santun.

“Mohon Toanio sudi memaafkan, pamanku tadi hanya mengeluarkan kata-kata yang ditujukan karena kebenciannya kepada Malangi Khan yang sudah menyerang negara kita. Siauwte dapat memaklumi perasaan Toanio terhadap anak ini setelah Kwee-kongcu bebas dari benteng orang Mongol, dan kiranya diantara kita juga tidak ada yang ingin mencelakakan Pangeran Kamangis yang masih kecil dan tidak berdosa sesuatu. Akan tetapi, oleh karena putera Toanio telah tertolong sedangkan Putera Mahkota Mongol ini masih tertahan di sini, tentu saja Malangi Khan takkan tinggal diam dan bala tentara Mongol sewaktu-waktu bisa menyerang pertahanan kita dan hal ini amat berbahaya. Oleh karena itu, sebelum mereka menyerang, kita harus mendahului mereka menyerang benteng mereka dan sesungguhnya…” ia melirik ke arah Pangeran Kamangis, “sesungguhnya dengan adanya Pangeran Mongol ini di sini kita telah mendapatkan kemenangan perasaan yang amat besar. Sangat boleh jadi bahwa Malangi Khan akan menyerah dan takluk tanpa perang karena puteranya berada di dalam kekuasaan kita. Maka demi kepentingan negara dan demi kemenangan kita, harap Toanio menahan dulu anak itu, jangan dikembalikan kepada Malangi Khan sebelum selesai perang ini.”

Ma Hoa menggeleng-geleng kepalanya. “Aku tidak setuju dengan cara-cara yang licik itu! Aku memang tidak tahu tentang siasat perang akan tetapi ayahku dahulu juga seorang panglima perang dan karena semenjak kecil aku dididik kegagahan, maka aku menghargai kegagahan dan keadilan. Di dalam pertempuran maupun perang besar, aku lebih mengutamakan kegagahan dan keadilan dan tidak suka menggunakan cara-cara yang curang dan licik. Apakah kita takut terhadap bala tentara Mongol maka harus menggunakan kecurangan? Lebih baik kalah dengan cara gagah perkasa dari pada, menang dengan menggunakan akal curang!”

Merahlah muka Kam-ciangkun mendengar ucapan ini, akan tetapi karena Pendekar Bodoh melihat betapa kedua pihak telah memerah muka, ia cepat maju dan sambil tersenyum, Cin Hai berkata,

“Sebetulnya tidak ada urusan sesuatu yang harus diributkan. Biarlah besok pagi-pagi aku pergi ke benteng Malangi Khan dan mengajak bicara dengan baik. Syukur kalau ia bisa mengakhiri perang ini dengan damai, karena betapapun juga kalau terjadi perang tentu akan mengorbankan banyakmanusia. Perlukah kematian dan kehancuran ini kita hadapi kalau di sana terdapat jalan lain ke arah perdamaian?”

Semua orang menyatakan setuju dengan usul ini dan urusan Pangeran Kamangis itu selanjutnya tidak disinggung-singgung lagi, pesta perjamuan berjalan terus sedangkan Kamangis dan Kwee Cin bicara dengan amat gembiranya di dalam kamar mereka. Dua orang anak ini memang merasa amat cocok dan watak mereka sama pula, gembira dan suka akan kegagahan.

*** Pada keesokan harinya, baru saja Cin Hai keluar dari benteng untuk melakukan tugasnya, yaitu mencari Malangi Khan membicarakan tentang Putera Mahkota yang masih tertahan di benteng Alkata-san, tiba-tiba dari depan ia melihat debu mengebul tinggi. Cepat Pendekar Bodoh menyelinap di belakang sebatang pohon dan memandang ke depan.

Ternyata yang datang adalah sepasukan berkuda, terdiri dari kurang lebih lima puluh orang. Di depan sendiri, menunggang seekor kuda bulu putih yang besar dan kuat, adalah Malangi Khan yang berwajah muram dan keningnya berkerut.

Melihat bahwa yang datang hanya sepasukan kecil, maka Cin Hai maklum bahwa Malangi Khan hendak mendatangi benteng bukan dengan maksud menyerang, maka ia lalu melompat keluar dari balik pohon itu dan menghadang di jalan sambil mengangkat tangannya.

Ketika Malangi Khan melihat Pendekar Bodoh, ia memberi perintah berhenti dan ia cepat melompat turun dari kudanya, berlari menghampiri Cin Hai. Begitu datang, dengan wajah merah saking marahnya, Raja Mongol itu menudingkan telunjuknya kepada Pendekar Bodoh dan berkata,

“Tidak kusangka bahwa Pendekar Bodoh adalah seorang yang tidak bisa dipercaya mulutnya, seorang yang mudah melanggar janji!”

Cin Hai sudah mengerti mengapa Raja Mongol ini datang-datang begitu marah dan gemas, maka ia lalu menjura dan berkata dengan senyum simpul, “Malangi Khan, kebetulan sekali aku pun sedang menuju ke bentengmu untuk bicara tentang puteramu.”

“Kembalikan puteraku, kalau tidak, demi nenek moyangku, aku akan mengerahkan seluruh bangsaku untuk menerjang ke selatan sampai orang terakhir. Akan kubumihanguskan setiap jengkal tanah di selatan!”

“Sabar, sabar, Khan yang baik. Seorang Raja yang besar tidak demikian mudah dikuasai oleh nafsu marah. Dengarlah dulu, sesungguhnya tentang keponakanku Kwee Cin, bukan akulah yang merampasnya, maka jangan dikira bahwa Pendekar Bodoh tidak memegang janji.”

“Biarpun bukan kau, tentu kawan-kawanmu atas perintahmu!”

Cin Hai menggeleng kepala. “Sayang sekali bukan, Khan yang mulia. Aku tidak tahu-menahu tentang perampasan kembali anak itu. Akan tetapi sudahlah, anak itu sudah kembali kepada ayah bundanya, adapun puteramu sedang bermain-main dengan anak itu dibawah perlindungan Kwee An dan isterinya yang amat mencintainya!”

“Puteraku tidak diganggu? Kamangis tidak apa-apa?” tanya Khan ini dengan muka gelisah.

“Siapa yang akan berani mengganggu puteramu kalau ibu dari Kwee Cin menantang setiap orang yang akan mengganggunya? Ketahuilah, ibu dari anak yang tertawan di bentengmu itu, bersedia mengorbankan nyawanya untuk melindungi puteramu!” Cin Hai dengan sejujurnya lalu menceritakan tentang pembelaan Ma Hoa terhada Kamangis sehingga Kaisar Mongol ini menjadi terharu sekali.

“Maafkan aku, Pendekar Bodoh. Aku telah meragukan kegagahanmu dan sifat ksatriamu! Di mana anakku?” kata Malangi Khan dengan terharu sambil memegang lengan tangan Cin Hai.

“Malangi Khan, apakah ini berarti bahwa selanjutnya kau akan mengaku sahabat kepadaku?”

“Tentu, bahkan kuakui kau dan saudara-saudaramu sebagai sanak saudaraku sendiri. Lebih dari itu, aku menyerahkan Kamangis putera tunggalku itu sebagai muridmu!”

Melihat sikap sungguh-sungguh dari Malangi Khan, Cin Hai merasa girang sekali dan bertanya lagi, “Tidak hanya aku dan saudara-saudaraku, akan tetapi rakyat Tiongkok seluruhnya, maukah kau menganggapnya sebagai saudara? Kau takkan mengganggu mereka lagi, takkan menyerang ke selatan lagi?”

“Tidak, tidak! Dengan adanya orang-orang seperti engkau, aku merasa malu kalau harus menyerang ke selatan. Biarlah, aku lupakan pembunuhan yang sudah-sudah, yang dilakukan oleh tentara-tentara selatan di perbatasan utara. Aku akan mengunjungi kaisarmu, akan mengirim bulu ternak yang paling halus sebagai tanda penghargaan.”

Kini Cin Hai yang memegang lengan Malangi Khan dengan kuat sehingga Kaisar itu meringis kesakitan. Cin Hai yang lupa diri lalu mengendorkan pegangannya dan berkata, “Malangi Khan kau berjanji untuk membuktikan omonganmu tadi?”

“Tentu saja! Bagiku berlaku ucapan dari bangsamu : It-gan-ki-jut, su-ma-lam-twi (Sekali perkataan keluar, empat ekor kuda takkan dapat menarik kembali).”

Bukan main girangnya hati Pendekar Bodoh. Tak disangkanya bahwa tugasnya ini terpenuhi dengan demikian mudahnya. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari arah belakangnya dan sepasukan besar tentara kerajaan yang dipimpin oleh Kam Liong sendiri, dikawani pula oleh semua orang gagah yang berkumpul di benteng Alkata-san, datang menuju ke tempat itu! Ini adalah gara-gara para penjaga yang melaporkan bahwa Malangi Khan bersama pasukannya yang amat kuat telah datang menyerbu!

“Pendekar Bodoh, apakah artinya ini?” Kembali wajah Malangi Khan menjadi muram dan bercuriga akan tetapi Cin Hai segera menjawab,

“Jangan kuatir, Khan yang mulia. Akulah yang bertanggung jawab dan mencegah mereka bertindak!” Kemudian, Cin Hai lalu menghadang di tengah jalan sambil mengangkat tangan, lalu mengerahkan tenaganya berseru dengan amat nyaringnya,

“Kam-ciangkun, jangan menyerang! Malangi Khan datang dengan maksud damai!”

Kam Liong terheran melihat Pendekar Bodoh berada di situ dan setelah mendengar seruan ini, ia lalu memberi perintah pasukannya berhenti. Ia sendiri lalu turun dari kudanya dan bersama Tiong Kun Tojin, Kam Wi, dan juga Kwee An dan yang lain-lain, Kam Liong lalu menghampiri Cin Hai dan Malangi Khan.

Dengan angkuh Malangi Khan berdiri menghadapi mereka dengan dada terangkat, sikapnya agung sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai seorang Khan yang besar. Kam Liong adalah seorang panglima yang tahu diri dan tidak sombong, maka ia lalu memberi hormat terlebih dahulu yang segera dibalas oleh Malangi Khan.

“Malangi Khan, benarkah kata-kata Sie Tai-hiap tadi bahwa kau bermaksud damai?”

“Memandang muka Pendekar Bodoh, yang menjadi saudaraku dan juga menjadi guru dari puteraku, memang benar aku akan mengakhiri permusuhan, melupakan segala kejadian yang lalu dan aku akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kaisarmu. Sampaikan kata-kataku ini kepada Kaisar dan juga kepada semua perajuritmu yang menjaga tapal batas, agar jangan sampai mengganggu orang-orangku yang hendak memasuki daerah Tiong-goan dalam perjalanannya berdagang.”

Bukan main girangnya hati Kam Liong mendengar ini. Hal ini memang amat diharapkan oleh Kaisar dan biarpun yang berjasa dalam hal ini adalah Pendekar Bodoh, namun karena dia adalah pemimpin besar barisan, tentu saja kepada dia pahalanya terjatuh!

Akan tetapi Kam Wi yang beradat kasar itu merasa curiga. Sambil melangkah maju ia berkata,

“Dengan latar belakang dan alasan apakah maka tiba-tiba Malangi Khan hendak berdamai?”

Malangi Khan memandang dengan mata mendelik, juga Kam Wi melotot sehingga dua orang tinggi besar itu berlagak bagaikan dua ekor ayam jantan akan bertarung. Akan tetapi Cin Hai cepat berkata,

“Kam-enghiong, Malangi Khan yang mulia telah melihat bahwa orang-orang yang tadinya dianggap musuhnya ternyata tidak mengganggu puteranya, dan hal ini melembutkan hatinya dan ia suka sekali berdamai dengan orang-orang yang tidak mengganggu anak kecil, biarpun anak itu anak musuhnya pula.”

Keterangan ini diterima oleh Kam Wi dengan muka menjadi merah karena merasa tersindir. Tadinya dia bermaksud untuk memenggal leher Putera Mahkota Mongol itu untuk melumpuhkan semangat barisan Mongol.

“Malangi Khan, untuk membuktikan kesungguhan maksud hatimu yang baik, aku mewakili panglima kerajaan yang menjadi keponakanku sendiri untuk mengundangmu makan minum di dalam benteng Alkata-san, sesuai dengan sikap persaudaraan yang kau kemukakan tadi,” Kam Wi berkata kepada Malangi Khan. Dia adalah seorang kang-ouw yang selalu jujur dan kasar, juga amat berhati-hati, maka ia sengaja melakukan siasat ini untuk mencari tahu sikap sesungguhnya dari Malangi Khan.

“Selain Kaisarmu sendiri, aku tidak mau menerima undangan dari segala orang!” Malangi Khan berkata dengan angkuh.

“Kalau begitu, bagaimana kami bisa percaya bahwa kau mempunyai maksud damai?” Kam Wi membentak marah dan suasana menjadi panas lagi. Melihat ini Kam Liong lalu berkata dengan halus,

“Malangi Khan, benar seperti yang diucapkan oleh pamanku tadi. Kami mengundangmu menghadiri perjamuan sederhana untuk merayakan perdamaian kita.” Akan tetapi Malangi Khan tetap berkepala batu dan menggelengkan kepala. Akhirnya Pendekar Bodoh turun tangan. Ia menghampiri Malangi Khan dan berkata,

“Khan yang baik, mengapa kau menolak undangan persaudaraan? Marilah sekalian kau menyambut puteramu yang tentu telah lama menanti-nantikan kedatanganmu. Kaubawalah pengiring-pengiringmu, karena dalam suasana perdamaian ini, perlu sekali diadakan malam gembira antara kita sama kita!”

Mendengar ucapan ini, lenyaplah kemuraman di wajah Kaisar Mongol itu. “Kalau kau yang mengundang, itu lain lagi, Saudaraku!” Dan ia lalu memberi tanda dengan tangannya kepada semua pengiringnya yang berada di belakangnya, maka majulah mereka bergerak menuju ke benteng Alkata-san dalam suasana damai!

Diam-diam Kam Wi membisikkan sesuatu kepada Kam Liong, “Suruh para penyelidikmu menyelidiki keadaan di luar, siapa tahu kalau Malangi Khan diam-diam memerintahkan penyerbuan besar.” Kam Liong mengangguk-angguk, karena tanpa nasihat ini, dia pun tentu takkan melupakan hal ini.

Pertemuan antara Malangi Khan dan Kamangis amat menggembirakan.

“Ada orang yang mengganggumu di sini?” ayah itu bertanya kaku. Kamangis menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk ke arah Ma Hoa. “Aku mendapatkan perlindungan dari dia yang kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia amat manis budi dan baik sekali, Ayah.”

Malangi Khan memandang kepada Ma Hoa lalu menjura, “Bukankah Toanio ini Ibu dari Kwee Cin?” Ma Hoa mengangguk, maka Malangi Khan dengan girang dan kagum lalu tertawa besar. “Eh, Kamangis, kalau begitu mengapa kau tidak menyebut ibu saja kepadanya? Kau boleh menjadi anak angkatnya. Ha-ha-ha!” Dan serta merta Kamangis yang amat patuh kepada ayahnya itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ma Hoa sambil menyebut, “Ibu…”

Ma Hoa girang dan juga terharu. Ia memeluk Kamangis dan berkata, “Bagus, memang kau baik sekali. Patut menjadi saudara Cin-ji. Karena kau telah menjadi anak angkatku, sepatutnya kau kuberi nama julukan, yaitu Kwee Hong”

Malangi Khan tertawa terbahak-bahak. “Bagus, bagus! Memang burung Hong merupakan lambang kebesaran dan kemuliaan. Terima kasih, Toanio!” Pendekar Bodoh lalu bertepuk tangan diikuti oleh orang-orang lain sehingga suasana di situ gembira sekali.

“Eh, aku hampir lupa, Kamangis, hayo kau memberi hormat kepada gurumu!” Ia menuding ke arah Cin Hai. Kamangi terheran dan memandang kepada Cin Hai.

“Apakah dia lebih lihai daripada ibu, Ayah? Ibu memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali, juga ayah angkatku, demikian kata Kwee Cin. Apakah dia lebih lihai dari mereka?”

“Ha-ha-ha, anak bodoh. Dialah orang yang paling hebat diantara kita semua. Dialah Pendekar Bodoh, dan kau beruntung sekali bisa menjadi muridnya.”

Karena Kamangis memang cerdik, ia lalu berlutut di depan Cin Hai dan memberi hormat sambil menyebut “suhu”! Kemudian atas perintah ayahnya, anak ini pun lalu memberi hormat kepada “ayah angkatnya” dan juga kepada Lin Lin yang disebut “subo” (isteri guru).

Perjamuan berjalan dengan lancar, gembira sampai tengah malam. Karena merasa girang sekali puteranya selamat dan permusuhan dapat dihabiskan malam itu, Malangi Khan minum arak sebanyak-banyaknya dan karena arak dari selatan memang jauh lebih keras daripada arak yang seringkali diminumnya, maka ia menjadi mabuk. Hal ini disengaja oleh Kam Liong karena panglima muda ini ingin sekali mendengar ocehan Malangi Khan dalam mabuknya. Seperti biasa, orang tak dapat menyimpan rahasianya apabila sedang mabuk dan kalau Malangi Khan mempunyai rencana tertentu dan “perdamaian” yang diperlihatkannya itu hanya tipu belaka, tentu di dalam mabuknya Kaisar ini akan membuka rahasia. Akan tetapi, ternyata Malangi Khan tidak membuka rahasia apa-apa, kecuali nama-nama beberapa orang selir yang disayanginya!

Dengan bantuan Pendekar Bodoh, Malangi Khan lalu diantar ke dalam sebuah kamar di mana ia lalu tidur mendengkur keras sekali. Kemudian Kaisar Mongol itu ditinggalkan tidur seorang diri di dalam kamar itu, karena yang lain-lain masih melanjutkan perjamuan yang amat gembira. Siapakah orangnya yang tidak gembira menerima berita bahwa perang dihentikan dan perdamaian membuat mereka mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan keluarga masing-masing? Di dalam perjamuan itu, ikut serta para perwira dan orang gagah yang menemani pemimpin-pemimpin pasukan pengawal Malangi Khan.

Kwee An dan Ma Hoa mengantar Kamangis dan Kwee Cin tidur dan Kwee An berpesan kepada Ma Hoa agar jangan meninggalkan dua orang anak itu, karena siapa tahu kalau-kalau ada orang jahat diantara para pengikut Malangi Khan. Kemudian ia kembali ke ruang perjamuan akan tetapi ia mengambil jalan memutar ke belakang.

Tiba-tiba ia melihat bayangan orang berkelebat, dan gerakan orang ini luar biasa gesitnya. Tubuh orang itu pendek dan gemuk, mengingatkan dia akan tubuh Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, akan tetapi orang ini tidak berjenggot. Diantara kawan-kawannya dan orang-orang gagah yang berkumpul di Alkata-san, tidak ada lagi orang yang berbentuk seperti ini tubuhnya, maka timbuilah kecurigaannya. Diam-diam ia lalu mengikuti bayangan ini yang dengan hati-hati, menggunakan kesempatan semua orang sedang makan minum untuk mendatangi jendela kamar dimana Malangi Khan tidur mendengkur dengan pulasnya!

Setibanya di luar jendela, ia lalu mencabut sepasang golok dari punggungnya dan sekali cokel saja, terbukalah jendela itu yang lalu diganjalnya dengan sebatang ranting. Kemudian, dengan gerakan gesit sekali orang ini lalu melompat ke dalam kamar. Ternyata bahwa Malangi Khan tidurnya pulas sekali akibat pengaruh arak sehingga ia tidak mendengar sama sekali akan perbuatan orang yang mencurigakan ini. Orang ini adalah seorang Panglima Mongol yang bertubuh pendek gemuk, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Ia bernama Khalinga, seorang panglima Mongol keturunan Tartar yang amat benci kepada orang-orang Han. Hal ini tidak mengherankan oleh karena ayahnya dahulu tewas oleh orang Han, maka ia telah bermaksud untuk menumpas setiap bangsa Han yang dijumpainya. Kemudian ia terpilih menjadi panglima oleh Malangi Khan karena memang Khalinga memiliki kepandaian yang lumayan, apalagi permainan siang-to (sepasang golok) darinya amat lihai. Ketika Khalinga mendapat kenyataan bahwa Malangi Khan menyatakan damai dengan orang-orang Han, bahkan hendak mengunjungi Kaisar dan menyatakan persahabatan, hatinya menjadi panas dan mendongkol sekali. Timbullah kebenciannya yang hebat terhadap Kaisarnya yang dianggapnya lemah, pengecut dan mengkhianati cita-cita bangsa Mongol. Oleh karena itu, diam-diam ia mendatangi tempat tidur Malangi Khan dan hendak mempergunakan kesempatan selagi kaisar itu tidur dan para tamu sedang makan minum, untuk membunuh Kaisar Malangi Khan!

Niat ini bukan semata-mata terdorong oleh kebenciannya yang tiba-tiba terhadap Malangi Khan, melainkan merupakan siasat yang amat licin dari orang pendek peranakan Tartar Mongol ini. Kalau ia dapat membunuh Malangi Khan tanpa diketahui oleh siapapun juga, tentu peristiwa hebat ini akan melenyapkan sama sekali maksud damai dari Malangi Khan dan tentu dengan mudah ia akan dapat menghasut para panglima dan bala tentara Mongol bahwa dengan sengaja Malangi Khan dijebak ke dalam perangkap oleh orang-oran Han, kemudian diam-diam dibunuhnya! Dengan demikian seluruh bala tentara Mongol tentu akan serentak bangkit dan memusuhi orang-orang Han dan siapa tahu kalau-kalau ia akan dapat memperoleh kedudukan tinggi!

Akan tetapi semua itu hanya mimpi atau lamunan kosong belaka karena tanpa ia ketahui, pada saat itu ia telah diikuti oleh seorang pendekar besar yang lihai, yaitu Kwee An!

Di dalam kamar Malangi Khan itu masih terang karena lilin yang bernyala di atas ciak-tai (tempat lilin) masih belum habis dan belum padam. Ketika Kwee An melihat betapa orang pendek itu mengangkat golok dan hendak membacok Malangi Khan, cepat tangan kanannya bergerak dan sebutir batu kerikil tajam melayang ke arah pergelangan tangan kiri orang yang telah mengangka golok kiri untuk dibacokkan ke arah leher Malangi Khan itu!

Orang itu menjerit perlahan dan goloknya terlepas dari pegangan. Ia merasa tangan kirinya menjadi lumpuh. Bukan main herannya ketika ia tidak mendengar suara goloknya yang terlepas itu berdentang di atas lantai, dan tiba-tiba api lilin bergoyang. Alangkah kagetnya ketika ia menengok, ia melihat goloknya yang terlepas tadi sebelum jatuh ke atas lantai, telah disambar oleh bayangan yang gagah yang kini berdiri dengan golok rampasan itu di hadapannya sambil tersenyum mengejek. Khalinga mengenal orang ini sebagai Kwee An, ayah dari anak yang dulu ditahan didalam benteng, maka dengan nekat ia lalu menerjang dengan goloknya.

Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan Kwee An, pendekar besar yang berilmu tinggi itu. Setelah belasan jurus mereka bertempur, bukan Khalinga yang menyerang, bahkan ia menjadi pihak yang diserang kalang-kabut oleh Kwee An! Kwee An hendak menawannya hidup-hidup, maka agak sukar ia mengalahkan lawannya. Kalau saja ia mau menurunkan tangan maut, dalam satu dua jurus saja tentu ia akan dapat membuat lawannya roboh tak bernyawa lagi atau terluka berat.

Suara golok yang beradu menimbulkan suara nyaring dan membangunkan Malangi Khan dari tidurnya.

“Hei! Kalian sedang berbuat apa di sini?” tegurnya heran ketika melihat seorang panglimanya bertempur melawan Kwee An.

“Malangi Khan! Penjahat ini berusaha membunuhmu!” berkata Kwee An.

Malangi Khan bukanlah seorang Kaisar besar kalau ia tidak tahu akan watak semua panglimanya. Begitu mendengar hal ini, maklumlah dia bahwa Khalinga tentu akan menimbulkan kekeruhan, hendak membunuhnya untuk memancing permusuhan diantara orang-orang Han dan orang-orang Mongol, karena Malangi Khan tahu betul akan kebencian Khalinga terhadap orang Han.

“Khalinga, kau berani hendak mengkhianati aku?” bentaknya marah.

Khalinga berdiri dengan muka merah dan dada berombak di depan kaisarnya yang telah duduk di atas pembaringan, sedangkan Kwee An juga menunda serangannya dan memandang dengan penuh kewaspadaan.

“Malangi, kau bilang aku mengkhianati engkau? Kaulah orangnya yang mengkhianati bangsa Mongol, kau Kaisar lemah dan pengecut! Kau menyerah kepada bangsat-bangsat Han tanpa mengeluarkan setetes darah, alangkah rendah dan hinanya, alangkah pengecut. Orang macam kau harus mampus di ujung golokku!” Sambil berkata demikian, Khalinga lalu menubruk maju dan menusukkan goloknya ke arah dada Malangi Khan! Akan tetapi Kwee An membentak marah dan sekali goloknya berkelebat, Khalinga berseru kesakitan dan goloknya terlempar ke atas lantai sedangkan tangan kanannya berlumur darah terkena ujung golok Kwee An.

Malangi Khan melompat turun, mengambil golok yang terlepas dari tangan Khalinga, lalu mengangkat golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala Khalinga.

“Ha-ha! Kaisar pengecut, kau hendak membunuhku? Bunuhlah, ini dadaku! Aku Khalinga tidak takut mati, tidak seperti engkau!”

Melihat sikap Khalinga ini, lemaslah tangan Malangi Khan. Kaisar ini paling suka dan kagum akan kegagahan dan sikap yang berani mati dari Khalinga ini menimbulkan sayangnya.

“Khalinga, pergilah! Aku ampuni jiwamu. Akan tetapi jangan sekali-kali kau berani memperlihatkan mukamu di depanku lagi. Kembalilah kau kepada orang-orang Tartar, kau tidak berhak menyebut diri menjadi orang Mongol lagi!”

Bagaikan seekor anjing dipukul, Khalinga melompat keluar dari jendela dan melarikan diri. Setelah Kaisar menyatakan ia bukan orang Mongol lagi ia tidak berani membuka mulut membuka mulut memaki Malangi Khan, karena sebagai orang Tartar tentu saja ia tidak berhak mencampuri urusan Negara Mongol!

Sementara itu, ribut-ribut ini telah menarik perhatian orang dan Cin Hai diikuti yang lain-lain telah memburu ke tempat itu. Mereka masih dapat melihat betapa Malangi Khan mengampuni calon pembunuh itu, maka Cin Hai makin kagumlah kepada Kaisar Mongol ini. Juga Kim Wi dan Kam Liong, demikian pula Tiong Kun Tojin, diam-diam memuji Kaisar yang bijaksana ini. Lebih-lebih Kam Wi mengakui kebenaran sikap Pendekar Bodoh yang berhasil menarik hati Kaisar Mongol, karena menurut hasil penyelidikan para petugas, ternyata bahwa barisan Mongol yang luar biasa besar jumlahnya telah mengurung Pegunungan Alkata-san! Kalau saja Malangi Khan mereka ganggu dan kalau saja pecah pertempuran besar, biarpun orang-orang gagah ini tidak merasa jerih dan belum tentu mereka kalah, akan tetapi sudah pasti bahwa banyak korban akan roboh diantara kedua pihak.

Adapun Malangi Khan tentu saja merasa amat berterima kasih kepada Kwee An, karena kalau tidak kebetulan pendekar ini melihat Khalinga, tentu ia telah terbunuh oleh orang pendek itu. Dan lebih bersyukur lagi hati Kaisar ini bahwa penolongnya adalah ayah angkat dari Kamangis putera tunggalnya!

Pada keesokan harinya, Malangi Khan membawa serta seluruh pasukan dan bala tentaranya untuk kembali ke utara setelah menerima janji dari Pendekar Bodoh bahwa kelak pendekar ini akan menyusul ke utara mengunjungi istana Malangi Khan dan untuk menurunkan ilmu kepandaian kepada Pangeran Kamangis.

Kemudian, juga Kam Liong membawa kembali pasukannya ke kota raja setelah mengangkat seorang komandan untuk bertugas menjaga tapal batas utara, dengan pesan agar supaya memperkuat disiplin agar anak buahnya tidak mencari perselisihan dengan orang-orang Mongol yang berlalu-lintas membawa barang dagangan mereka. Semua orang merasa puas dengan kesudahan dari perang besar yang akan meletus itu, hanya Cin Hai dan sekeluarganya yang merasa amat gelisah karena sampai pada waktu itu, Lili masih juga belum pulang! Terutama sekali Lin Lin merasa gelisah sekali. Oleh karena itu, ketika Goat Lan dan Hong Beng dengan disertai oleh Kwee An dan Ma Hoa kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada Kaisar tentang hasil tugas hukuman mereka dan minta dibebaskan serta diampunkan, Cin Hai dan Lin Lin tidak ikut pulang, melainkan hendak pergi mencari Lili. Dengan diperkuat oleh laporan Kam Liong, Kaisar yang mendengar tentang kesudahan perang itu menjadi amat girang dan memuji Hong Beng serta Goat Lan sebagai sepasang pendekar yang setia dan gagah. “Aku telah mendengar bahwa kalian berdua sudah bertunangan,” kata Kaisar dengan ramah, “biarpun kalian belum menikah, sudah sepatutnya aku memberi selamat dengan sedikit tanda mata.” Kaisar lalu memberi hadiah kepada sepasang pendekar ini, yaitu sepasang siang-kiam (pedang pasangan) yang bergagang emas dan sebuah giok-ma (kuda kumala), yaitu sebuah perhiasan berbentuk kuda terbuat dari batu kemala yang diukir indah sekali sehingga nampaknya seperti hidup saja. Adapun Pangeran Mahkota yang merasa amat berterima kasih kepada Goat Lan karena telah menolong nyawanya dari maut berupa penyakit hebat itu, meloloskan sebuah kancing bajunya yang terbuat dari pada intan. Kancing baju ini berbentuk bulat dan intan yang luar biasa besarnya ini terukir dengan huruf Hok (Rezeki) dan di belakangnya terukir pula dengan huruf-huruf yang berarti Putera Pangeran. Dengan memegang kancing seperti itu berarti Goat Lan telah memegang kekuasaan yang besar, karena ke manapun juga ia pergi, asal ia memperlihatkan kancing ini kepada para pembesar negeri, ia tentu akan diterima dengan penuh penghormatan seperti orang menerima kunjungan Pangeran sendiri! Demikianlah, setelah menghaturkan terima kasih dengan hati terharu, Hong Beng dan Goat Lan lalu meninggalkan istana dan bersama dengan Kwee An dan Ma Hoa, mereka lalu kembali ke Tiang-an. Di sepanjang jalan mereka bergembira, apalagi Kwee Cin yang memang belum pernah menikmati perjalanan yang demikian jauh. Adapun Sin-kai Lo Sian, ketika oleh Cin Hai disuruh kembali lebih dulu ke Shaning karena suami isteri ini hendak mencari Lili, Pengemis Sakti ini menolak dengan halus dan menyatakan bahwa ia sudah bosan untuk berdiam menganggur di dalam rumah dan darah perantauannya memanggilnya untuk kembali mengadakar perantauan seperti dahulu.

***

Ke manakah perginya Lili, gadis remaja yang cantik dan gagah berani itu? Mari kita ikuti perjalanannya yang penuh bahaya. Sebagaimana telah diketahui, Lili yang berani dan bengal ketika mendengar bahwa Goat Lan dan Hong Beng pergi ke benteng orang Mongol untuk menolong Kwee Cin, menjadi tergerak hatinya dan malam-malam ia lalu minggat dari benteng Alkata-san untuk menyusul kakaknya dan calon sosonya (kakak ipar) itu. Ia mempergunakan ilmu lari cepat di malam terang bulan dan ia merasa gembira sekali. Melalui gunung-gunung dan hutan-hutan liar di malam disinari bulan itu sama sekali tidak membuat hatinya menjadi takut, sebaliknya ia malah demikian gembira sehingga ia berlari-lari sambil bernyanyi-nyanyi kecil seperti ketika ia masih kanak-kanak dahulu. Akan tetapi oleh karena selama hidupnya Lili belum pernah menginjak daerah ini dan ia pun masih belum berpengalaman dalam hal mencari jalan dengan hanya mengandalkan petunjuk lisan dari seorang Haim-i tua seperti Nurhacu itu, maka tanpa disadarinya kedua kakinya menyeleweng dan makin jauh ia meninggalkan arah tujuannya! Ia membelok ke barat menuju ke rimba raya di atas sebuah bukit yang gelap dan menghitam mengerikan. Setelah malam hampir terganti fajar, kian jauhlah ia tersasar dan makin bingunglah hati Lili. Menurut Nurhacu, hutan yang dilaluinya ini tidak panjang dan sebelum fajar ia telah dapat keluar dari hutan ini dan tiba di padang rumput dari mana benteng orang-orang Mongol akan tampak. Akan tetapi sekarang sudah menjelang fajar, hutan yang dilalui ini makin lama makin liar dan makin padat oleh pohon-pohon raksasa.

Ia menjadi mendongkol sekali kepada Nurhacu, disangkanya sengaja memberi petunjuk menyesatkan. Mulai lenyaplah kegembiraan wajahnya, terganti oleh kemarahan yang terlihat pada bibirnya yang cemberut. Akan tetapi dasar watak Lil amat gembira, setelah fajar terganti pagi dan matahari mulai bersinar, timbul kembali kegembiraannya bersama dengan datangnya suara burung-burung hutan berkicau dan munculnya binatang-binatang hutan yang amat elok. Beberapa ekor binatang kecil seperti kelinci, rusa, dan lain-lain keluar dari semak-semak, berlari-lari kecil bermandi cahaya matahari sehingga Lili menjadi gembira sekali. Ia pun ikut berlari-lari, mengeiar ke sana ke mari untuk melihat binatang-binatang itu bermain-main sambil kadang-kadang terdengar suara ketawanya yang merdu dan nyaring. Kalau ada orang melihat keadaan di dalam hutan liar ini pada waktu itu, ia akan melihat binatang-binating kecil berlari-larian dan bermain-main di dalam sinar matahari pagi, mendengar suara burung-burung berkicau, melihat kembang-kembang mekar indah dengan hiasan mutiara-mutiara embun pagi yang bergantungan pada kelopaknya, kemudian melihat seorang dara juita berbaju kembang berlari ke sana-sini sambil tertawa merdu, tentu orang itu akan mengira bahwa Lili adalah seorang peri atau seorang bidadari! Ketika melihat sepasang rusa di bawah pohon sedang berkasih-kasihan, yang jantan membelai-belai yang betina dengan lehernya yang panjang indah, hati Lili berdebar dan tiba-tiba di depan matanya terbayang wajah seorang pemuda! Ia mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa amat aneh dan marah kepada diri sendiri. Mengapa wajah yang terbayang itu wajah… Lie Siong, orang kurang ajar itu? Kalau saja ia teringat pertama-tama kepada Kam Liong atau bahkan kepada Song Kam Seng sekalipun, ia takkan merasa aneh. Akan tetapi… Lie Siong?? Tak terasa lagi ia menjumput pasir dan menyambitkannya arah sepasang rusa itu yang menjadi terkejut dan melarikan diri. Lenyap pulalah bayangan wajah Lie Siong dari depan matanya dan Lili menjadi gembira kembali. Tiba-tiba ia melihat seekor kelinci putih yang gemuk dan timbullah seleranya. Ia telah melakukan perjalanan selama setengah malam tanpa istirahat dan kini ia merasa amat lapar. Dikerjarnya kelinci itu, akan tetapi kelinci putih itu biarpun gemuk dan keempat kakinya pendek-pendek, ternyata dapat berlari cepat sekali dan sebentar saja ia menghilang di dalam semak-semak. Lili memang beradat keras dan tidak mudah mengaku kalah. Ia lalu mencabut pedang Liong-coan-kiam dan membabat semak-semak itu sampai bersih! Sebelum semak-semak itu habis dibabat, kelinci itu telah melompat pergi lagi dan menyusup ke dalam semak-semak yang lebih lebat lagi. Lili menggigit bibirnya. “Kelinci manja! Ke mana kau hendak pergi? Biarpun kau pergi ke neraka, tetap saja aku akan dapat menangkap dan menikmati dagingmu yang empuk!” Kembali Lili membabat semak-semak berduri itu dan seperti tadi juga, kelinci itu melompat dan berpindah-pindah dari semak itu ke semak yang lain. Sebentar saja, sudah lebih dari sepuluh rumpun semak-semak belukar dibabat oleh pedang Liang-coan-kiam di tangan Lili. Akhirnya, kelinci itu menjadi ketakutan dan berlari terus, dikejar oleh Lili yang menjadi makin gemas. Setelah kehabisan jalan, kelinci itu kembali menyusup ke dalam semak-semak yang penuh dengan tetumbuhan daun hitam yang gelap sekali. Lili tidak peduli dan mulai membabat. Pedang Liong-coan-kiam adalah pedang pusaka yang amat tajam, maka dengan mudah saja semak-semak itu dibabat berhamburan ke kanan kiri sampai terlihat tanah di bawahnya. Setelah semak-semak ini habis terbabat, tidak seperti tadi, kelinci itu tetap tidak kelihatan. Lili menjadi penasaran sekali. Sudah terang bahwa kelinci itu tidak melompat keluar, akan tetapi mengapa tidak berada di dalam semak-semak ini? Apakah kelinci itu pandai menghilang? Ia mencari terus, melempar-lemparkan semak-semak yang sudah terbabat itu ke kanan kiri, akan tetapi tetap saja kelinci tidak nampak. Akhirnya ia melihat sebuah lubang bundar yang lebarnya kurang lebih satu setengah kaki. Ia mengangguk-angguk dan tersenyum. “Kelinci licik, kaukira aku tidak tahu ke mana bersembunyi? Keluarlah!” Ia menepuk-nepuk pinggir lobang itu dan menjadi terheran-heran ketika mendengar suara berdengung dari bawah tanah. Lobang itu ternyata di sebelah dalam kosong, pikirnya. Tempat apakah ini? Goa tertutup? Ia lalu menggunakan pedangnya untuk menggali lubang itu dan baru saja satu kaki dalamnya, ternyata bahwa lobang di bawah luar biasa besarnya, merupakan sumur yang lebar sekali. Jadi lubang tadi merupakan “cerobong” pada langit-langit ruang di bawah tanah ini! Lili menjadi tertarik sekali. Ia melebarkan cerobong itu sampai kira-kira tiga kaki segi empat, lalu mengambil batu dan melemparnya ke bawah. Tidak dalam, pikirnya, dan di bawah tanah lunak biasa saja. Hal ini diketahui karena dalam waktu singkat batu itu mengenai dasar ruang dan terdengar suara berdebuk. Ia harus menangkap kelinci itu dan di samping itu, ia pun ingin tahu apakah yang berada di dalam ruang di bawah tanah ini. Memang ia memiliki nyali yang amat besar. Dengan pedang Liong-coan -kiam di tangan kanan, gadis ini lalu melompat ke dalam lubang tadi!

Benar seperti yang disangkanya, kakinya menyentuh tanah dan ternyata lubang itu dalamnya hanya dua tombak kurang. Setelah matanya sudah biasa dengan pemandangan suram-suram di dalam lubang itu, ia mulai melakukan penyelidikan. Sinar matahari yang masuk dari lubang atas, cukup untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Sumur itu ternyata besar juga, kurang lebih tiga tombak luasnya dan dikelilingi oleh dinding batu karang yang kehitaman dan mengkilap. Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya, ia tidak melihat kelinci putih tadi! Ia menjadi penasaran sekali karena sumur itu ternyata kosong melompong tidak ada apa-apanya yang menarik, sedangkan kelinci itu lenyap begitu saja. Ia menyelidiki dinding di seputar tempat itu bagian bawah kalau-kalau ada lubangnya dari mana kelinci itu dapat masuk. Usahanya berhasil karena memang betul di sebelah kiri terdapat lubang kecil di bagian bawah. Ia mendongkol sekali, tentu kelinci tadi telah melarikan diri dari lubang ini, dan bagaimana dirinya bisa masuk? Lubang itu hanya dapat dimasuki kedua tangannya saja. Ia mencoba memasukkan kedua tangannya di dalam lubang ini dan mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya bahwa di balik dinding ini pun merupakan ruang terbuka! Lili makin tertarik. Ia memeriksa dinding itu dan mendapat kenyataan yang mendebarkan hatinya bahwa di situ terdapat pecahan yang merupakan sebuah pintu! Akan tetapi pintu ini rapat sekali dan ketika ia mencoba untuk mendorong nya, ternyata pintu itu kuat sekali. Ia lalu mencari akal dan memeriksa lagi. Mungkin bukan pintu dorongan, melainkan pintu angkat semacam penutup lubang jendela, pikirnya. Ia lalu memasukkan kedua tangannya di dalam lubang di bawah pintu ini dan mengerahkan tenaganya mengangkat sambil mendorong ke luar. Ia berhasil! Pintu bundar itu bergerak keluar, akan tetapi Lili harus segera melepaskan kedua tangannya karena pintu itu itu terlampau berat baginya. Peluhnya membasahi jidat dan ia beristirahat sebentar. Setelah tenaga terkumpul kembali ia lalu mencoba lagi, akan tetapi tetap saja tidak dapat ia membuka pintu itu terus sampai ia dapat masuk melalui lubangnya. Lili adalah seorang yang keras hati dan apabila sudah mempunyai kehendak, akan berusaha mati-matian untuk mencapai kehendak ini. Berkali-kali ia mencoba dan ketika ia mengangkat untuk yang ke sekian belas kalinya, tiba-tiba pintu itu terbuka terus dan tidak menindih kembali seperti ada sesuatu yang mengganjalnya! Cepat ia merayap masuk ke dalam ruang di balik pintu itu dan alangkah herannya ketika melihat bahwa pintu yang tebal dan berat sekali kini tertahan oleh sebatang tongkat bambu yang kecil panjang, sebatang tongkat yang dipegang oleh seorang nenek tua. Atau bukan manusiakah nenek ini? Lili memandang dengan mata terbelalak.

Ia melihat bentuk tubuh yang kurus kering dan kecil sekali, bongkok dan kulitnya sudah menjadi satu dengan tulang, melekat sehingga hampir kelihatan seperti sebuah rangka hidup. Rambut nenek ini putih semua dan awut-awutan menutupi mukanya yang kehitaman. Bajunya hitam menutupi kedua pundak terus bawah. Kalau saja dua lubang yang merupakan matanya itu tidak bergerak-gerak dan tangan kiri yang memegang tongkat tidak sedang menjaga pintu batu, Lili akan menyangkanya sebuah patung rusak. Tangan kanan nenek ini memegang kelinci putih yang tadi dikejar-kejar oleh Lili. Setelah dara itu masuk, nenek ini lalu menggerakkan tangan kanannya dan kelinci putih itu melayang keluar melalui pintu batu kemudian terdengar suara keras ketika ia menarik kembali tongkatnya dan daun pintu batu yang berat itu menimpa turuh lagi, menutup tempat itu. Akan tetapi tempat itu terang karena mendapat cahaya matahari dari atas yang turun melalui lubang-lubang kecil yang tinggi sekali dari tempat itu. Lili menjadi terkejut bukan main. Ia cepat memandang ke sekelilingnya dan tidak melihat sebuah pun jalan keluar. Ketika ia memandang kembali kepada nenek itu, kini nenek itu telah duduk bersila dan diam tak bergerak bagaikan patung aseli dari batu hitam! Lili mulai merasa takut. Ia seakan-akan berada di dalam kuburan, dikubur hidup-hidup bersama sebuah patung batu yang mengerikan, karena kelihatannya seperti tengkorak. Cepat ia menghampiri pintu batu tadi dan berusaha membukanya untuk keluar dan melarikan diri. Akan tetapi seperti tadi, ia tidak mampu membuka pintu itu, tidak mampu membuka lebih lebar dari satu dim saja! Bagaimanakah nenek tadi dapat menahan pintu itu dengan sebatang tongkat bambu? Lili lalu menghampiri nenek itu dan dengan suara halus membujuk, “Nenek tua yang baik, maafkanlah kelancanganku masuk ke sini dan tolonglah aku keluar dari gua ini. Aku tidak dapat membuka pintunya.” Berkali-kali ia mengucapkan permintaan ini akan tetapi jangankan membuka mata atau mulut, bergerak pun tidak nenek aneh itu. Tiba-tiba Lili teringat dengan bulu tengkuk berdiri bahwa mungkin sekali nenek ini bukan manusia, melainkan seorang iblis penjaga bumi! Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Liok-te Pouwsat (Dewi Bumi), mohon ampun atas kekurangajaran hamba. Hamba Sie Hong Li telah melakukan dosa dan berlancang masuk di tempat kediaman Pouwsat tanpa disengaja, mohon ampun dan tolonglah hamba keluar dari kuburan ini!” Kembali Lili mengulangi permohonannya ini sampai sepuluh kali, akan tetapi nenek itu tetap saja duduk bersila tanpa membuka mata atau mulut. Akhirnya Lili menjadi marah sekali. Ia melompat bangun dan membentak, “Aha, tidak tahunya kau seorang Iblis Bumi yang jahat, ya? Kau hendak mengurungku sampai mati di sini atau sampai menjadi tua dan buruk seperti engkau? Lebih baik aku mati! Akan tetapi sebelum aku mati, kalau kau tidak mau membuka pintu gua ini, kaulah yang akan kubikin mampus lebih dulu!” Ia mencabut Liong-coan-kiam yang berkilauan didalam keadaan suram-suram itu. Ia menggerak-gerakkan pedangnya untuk menakut-nakuti nenek itu, dan benar saja, sekarang nenek itu membuka kedua matanya yang mencorong seperti mata kucing. Akan tetapi, bukannya menjadi takut, bahkan tiba-tiba nenek itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara ketawa yang membuat bulu tengkuk Lili berdiri saking seremnya. Nenek itu ketawa tiada ubahnya seperti mayat atau tengkorak tertawa! “Kau menertawakan aku? Agaknya kau tidak tahu sampai di mana kelihaian Liong-coan-kiam ini!” Sambil berkata demikian, Lili lalu mainkan pedangnya dengan hebat, menyerang nenek itu. Akan tetapi, pedangnya terbentur dengan tongkat bambu dan terpental kembali, diiringi suara ketawa nenek itu. Lili tahu bahwa nenek ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ia lalu mainkan jurus-jurus dari Liong-coan-kiam-sut ciptaan ayahnya. Pedangnya lenyap menjadi segulung sinar yang mengurung tubuh nenek itu. Akan tetapi ke manapun juga pedangnya berkelebat, selalu pedang ini terbentur kembali oleh tongkat bambu yang luar biasa itu dan tiba-tiba, dibarengi oleh suara ketawanya, nenek itu menggunakan tangan kanannya merampas pedang Lili! Dengan amat mudahnya ia menangkap pedang itu dan membetotnya tanpa Lili dapat berdaya apa-apa! Dan ketika gadis ini memandang, ia membelalakkan kedua matanya karena sekali tekuk saja dengan jari-jari tangan kanannya, pedang Liong-coan-kiam telah dipatahkan! “Nenek gila kau berani merusak pedangku?” bentak Lili dengan marah dan kini ia mengeluarkan kipasnya, kemudian tanpa menanti lagi ia lalu mainkan ilmu kipas yang ia pelajari dari Swi Kiat Siansu, yakni Ilmu Kipas San-sui-san-hoat yang lihai. Kembali ia terperanjat ketika semua jurus dari San-sui-san-hoat diperlihatkan, sekali ulur tangannya saja nenek itu telah merampas kipasnya dan mematahkannya pula seperti pedang tadi! Lili menjadi makin gelisah. Celaka pikirnya, sekarang aku menemui kematian di tempat ini. Akan tetapi ia tidak menjadi takut, bahkan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir, ia kini maju menyerang dengan tangan kosong, dan mengeluarkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajari dari orang tuanya, yaitu Pek-in-hoatsut diganti-ganti dengan Kong-ciak-sinna! Dua macam ilmu silat tangan kosong ini adalah ilmu yang tangguh dari Bu Pun Su, akan tetapi menghadapi nenek ini agaknya seperti tenaga air sungai bertemu dengan laut karena nenek itu sambil tertawa-tawa kini juga mainkan Pek-in-hoatsut untuk melawan Lili! Akhirnya, Lili kehabisan tenaga dan robohlah ia pingsan di depan nenek itu saking lelah, lapar, marah dan putus harapan!

Ketika ia siuman kembali, nenek itu memberinya tiga butir buah hitam dan memberi tanda supaya ia makan buah itu. Lili merasa tubuhnya letih dan lapar, maka karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, ia menjadi seperti seekor harimau betina yang menemui manusia kuat. Ia makan tiga butir buah itu yang ternyata enak dan wangi dan perutnya terasa penuh dan kenyang! Kemudian, nenek itu menggurat-guratkan ujung tongkatnya di atas lantai dan ternyata bahwa nenek itu telah menuliskan beberapa huruf yang cukup indah. Lili lalu membacanya,

“Kau berjodoh untuk menjadi muridku selama dua pekan. Kau harus mempelajari ilmu silat ciptaanku yang kuberi nama Hang-liong-cap-it-ciang-hoat (Ilmu Silat Penakluk Naga Sebelas Jurus). Akan tetapi ada syaratnya, yaitu di waktu kau masih mempelajari dan melatih ilmu silat ini selama satu bulan kau tidak boleh bicara dan harus bertapa gagu!”

Lili merasa aneh sekali akan tetapi setelah ia maklum bahwa ia tidak akan mati dan bahkan menjadi murid seorang yang pandai luar biasa, ia menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. “Teecu akan mentaati semua perintah Suthai.” Demikianlah, selama dua pekan, dara perkasa ini mempelajari semacam ilmu silat yang baru dan yang luar biasa lihainya, dan biarpun ilmu silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat hanya terdiri dari sebelas jurus, akan tetapi setiap jurus memerlukan gerakan yang sukar dan sempurna serta tenaga yang luar biasa. Setiap hari, gurunya menempelkan telapak tangan kiri pada telapak tangan kanannya, sedangkan tangan kiri Lili lalu disuruh mendorong daun pintu itu untuk membukanya. Pertama kali Lili masih saja tidak kuat, kecuali setelah gurunya mengerahkan tenaga dan menyalurkannya melalui telapak tangannya. Begitu gurunya melepaskan tempelan telapak tangannya, pintu itu turun kembali tanpa Lili dapat menahannya! Akan tetapi lambat laun, setelah sembilan hari, Lili dapat membuka daun pintu itu dengan tenaga sendiri! Ternyata bahwa lwee-kangnya telah meningkat secara luar biasa dan cepat sekali. Setelah dua minggu, tamatlah pelajarannya. Gurunya bertanya kepadanya melalui tulisan di atas lantai, “Aku menurunkan ilmu silat ini kepadamu hanya karena kau pernah mempelajari Pek-in-hoatsut dari Lu Kwan Cu (Bu Pun Su). Pernah apakah kau dengan dia?” “Dia adalah Sucouw-ku (Kakek Guruku),” jawab Lili, juga dengan tulisan di atas lantai karena ia menepati janjinya bertapa gagu selama sebulan! Kemudian ia menambahkan. “Dan bolehkah teecu bertanya, siapakah nama Suthai?” Nenek yang seperti tengkorak itu hanya menuliskan tiga huruf di atas lantal yang berbunyi , “Bu-liang-sim” yang artinya “Tiada Pribadi”, kemudian ia menudingkan tongkatnya ke arah pintu gua mengusir Lili pergi dari situ. Lili berlutut dan mencium tangan gurunya yang aneh ini sebagai tanda terima kasih, kemudian ia lalu membuka batu besar yang menjadi pintu gua dan keluar dari situ. Alangkah girangnya ketika ia melihat kelinci putih yang dulu dilempar keluar oleh gurunya masih berada di situ, akan tetapi kelinci ini telah menjadi begitu kurus karena selama dua pekan tidak makan! Kalau dulu Lili ingin sekali makan dagingnya, sekarang gadis ini menjadi kasihan melihatnya. Ia memegang binatang itu pada kedua telinganya, lalu membawanya melompat ke atas, keluar dari sumur itu. Setelah tiba di atas, ia lalu memandang ke kanan kiri dan melemparkan kelinci itu ke dalam semak belukar. Ia menarik napas panjang dengan penuh kebahagiaan karena merasa masih hidup setelah mengalami pengalaman yang hebat. Kemudian, setelah ia menghafal keadaan sekeliling itu untuk mengingat tempat tinggal gurunya, ia lalu menggunakan semak-semak untuk menutupi lubang itu agar jangan sampai terlihat oleh orang lain. Kemudian pergilah dia dari situ, tidak lupa untuk melatih Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat yang masih dipelajarinya. Biarpun ia telah kehilangan Liong-coan-kiam dan kipasnya, dua senjata yang diandalkannya akan tetapi sekarang karena ia telah mendapatkan ilmu silat yang luar biasa ini, ia merasa lebih percaya kepada diri sendiri daripada dahulu.

***

Setelah Malangi Khan menyatakan damai dengan bala tentara Kaisar, perdagangan di tapal batas utara menjadi ramai lagi, bahkan lebih ramai daripada sebelum terjadi perang. Kota-kota di utara yang tadinya kosong dan sunyi karena ditinggalkan oleh penduduknya yang pergi mengungsi, kini menjadi penuh lagi, bahkan bertambah pula oleh orang-orang Han dan orang Mongol yang datang, untuk mencari untung dalam perdagangan di tempat itu.

Kota Kun-lip juga menjadi ramai sekali. Kota ini terletak di sebelah selatan tembok besar dan perdagangan di situ ternyata maju sekali. Oleh karena itu, tidak heran apabila kota ini banyak dikunjungi orang dan karenanya, hotel dan restoran menjadi subur dan maju.

Lili setelah mendengar bahwa peperangan telah selesai dan semua orang itu telah kembali ke selatan, tidak segera kembali ke Shaning karena ia masih belum menghabiskan tapa gagunya. Tidak enak untuk berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya, terutama keluarganya, dalam keadaan bertapa gagu dan tidak boleh bicara ini! Sekarang ia maklum mengapa gurunya yang aneh itu melarangnya bicara selama sebulan dalam waktu ia masih melatih diri dengan Hang-liong-cap-it-ciang-hoat. Selain tapa gagu ini merupakan ujian yang berat bagi kekerasan hatinya untuk bertekun mempelajari ilmu silat yang aneh dan sulit itu, juga pada waktu melatih ilmu silat ini, tenaga lwee-kang terkumpul selalu di dalam dadanya yang dengan mudah disalurkan ke arah kedua tangannya. Kalau ia membuka mulut bicara, maka itu berarti perhatiannya akan terpecah dan hawa yang terkumpul itu bisa buyar atau membocor keluar. Untuk berlatih Hang-liong-cap-it-ciang-hoat, dibutuhkan perhatian yang khusus dan pengerahan tenaga dalam yang sepenuhnya. Pada pagi hari itu, telah genap dua puluh hari ia bertapa gagu. Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat telah hampir dilatih sempurna. Tiga hari lagi ia akan membuka pantangan bicara, dan hari itu ia berjalan-jalan di dalam kota Kun-lip. Ketika ia berjalan sampai di depan sebuah restoran besar, tiba-tiba ada orang memanggilnya, “Lili…!” Ia cepat menengok dan melihat Song Kam Seng duduk di belakang sebuah meja di halaman luar restoran itu sambil menghadapi hidangan. “Nona Hong Li, kau hendak kemanakah? Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap. Sudah amat lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan kedua orang tuamu?” Kam Seng bertanya dengan ramah dan nyata sekali kegembiraannya bertemu dengan nona ini. Akan tetapi, biarpun di dalam hatinya Lili tidak marah lagi kepada Kam Seng yang telah memperlihatkan jasa-jasanya dalam keadaan perang yang lalu, namun tentu saja ia tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini karena ia masih sedang berpantang bicara. Maka ia berpura-pura tidak melihat, membuang muka dan hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan pemuda itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Gadis liar, baru sekarang aku mendapat kesempatan melunaskan perhitungan!” Tiba-tiba dari belakangnya, Lili merasa sambaran angin hebat dan cepat ia lalu miringkan tubuh melompat ke kanan. Ternyata yang menyerangnya itu adalah Ban Sai Cinjin dengan huncwe mautnya! Kakek ini memang sedang berada di kota itu dan tadi ketika Kam Seng duduk seorang diri, sebetulnya kakek itu sedang memesan masakan ke meja pengurus restoran, maka Lili tidak melihatnya. Ketika kakek ini melihat Lili, timbullah marahnya karena ia teringat betapa gadis ini telah menghina dan mengganggunya, dan betapa ayah gadis ini telah menghinanya secara luar biasa sekali. Karena Lili tidak bisa membalas dengan kata-kata, gadis ini hanya berdiri dan memandang ke arah Ban Sai Cinjin dengan alis berkerut dan mata bernyala. Ia tidak ada nafsu untuk berkelahi karena ia sedang melatih ilmu silatnya yang sebentar lagi akan sempurna. Kalau ia pergunakan dalam pertempuran, maka akan banyak hawa dipergunakan dan ini berarti ia menderita rugi sebelum ilmu silatnya tamat. Kalau saja ia sudah tamat, tentu dengan gembira gadis yang suka berkelahi ini akan melayani dan menghajarnya. “Bocah, bersedialah untuk mati!” kembali Ban Sai Cinjin membentak dan sekaligus ia mengirim dua macam serangan. Tangan kanannya memukulkan huncwe maut ke arah kepala Lili sedangkan kaki kirinya diangkat untuk mengirim tendangan yang menjaga kalau-kalau gadis itu melompat ke belakang. Melihat gerakan kakek ini, tahulah Lili bahwa dibandingkan dengan dahulu, kakek ini telah memperoleh kemajuan yane pesat sekali. Memang benar, Ban Sai Cinjin yang telah mengalami kekalahan berkali-kali, dan bahkan pernah dihajar setengah mati oleh Pendekar Bodoh, menjadi sakit hati dan dengan prihatin ia lalu memperdalam ilmu silatnya atas bantuan suhengnya, yaitu Wi Kong Siansu yang lihai, dan yang berjuluk Toat-beng Lomo (Iblis Tua Pencabut Nyawa ).

Menghadapi serangan Ban Sai Cinjin yang hebat ini, Lili lalu merendahkan tubuhnya dan menekuk lutut, mengelak dengan gerakan dari Ilmu Silat Sianli-utauw, karena ia masih belum mau mempergunakan ilmu silatnya yang baru. “Susiok, jangan ganggu Nona Sie!” Kam Seng berkali-kali berseru mencegah susioknya, sedangkan orang-orang yang makan di restoran itu terutama yang dekat dengan tempat pertempuran, pada melarikan diri dengan ketakutan. Delapan jurus telah dimainkan oleh Ban Sai Cinjin untuk merobohkan Lili, akan tetapi gadis ini ternyata setelah melatih Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat, telah memperoleh kemajuan yang amat luar biasa dalam ilmu ginkang sehingga tubuhnya menjadi ringan dan gesit sekali. Sambaran-sambaran huncwe maut dari Ban Sai Cinjin itu seakan-akan menyerang sehelai bulu yang ringan sehingga yang diserang telah melayang pergi sebelum pukulannya tiba.

“Susiok, jangan berlaku kejam!” tiba-tiba Kam Seng yang semenjak tadi memandang dengan penuh kegelisahan, kini tiba-tiba meloncat maju dan terdengar suara “traaang!” ketika huncwe itu tertangkis oleh pedang di tangan Kam Seng!

Lili mempergunakan kesempatan ini untuk melompat jauh dan berdiri memandang kepada kedua orang yang kini saling berhadapan itu. Sepasang mata Ban Sai Cinjin mendelik dan terputar-putar saking marahnya, dan karena pipi kanannya masih ada tanda luka-luka goresan yang dihadiahkan oleh Pendekar Bodoh kepadanya di benteng orang Mongol, maka ia kelihatan menyeramkan sekali. Seakan-akan apilah yang keluar dari mulut dan hidungnya dan ia seolah-olah hendak menelan pemuda yang berdiri di depannya itu. “Bangsat terkutuk! Jadi kau hendak membalas budi kami dengan pengkhianatan? Kau hendak membela orang yang menjadi musuh kami, menjadi musuhku dan musuh gurumu? Kau berani melawan Susiokmu, anjing tak kenal budi?” “Susiok, kalau kau menyerang orang lain, aku masih dapat melihatnya, akan tetapi Nona itu… ? Tidak, Susiok, biarpun aku harus mati, aku akan membelanya!” “Bangsat, kau cinta padanya, ya? Kau jatuh cinta kepada anak musuh besarmu? Benar-benar anjing pengecut, kau harus mampus!” Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ban Sai Cinjin menyerang murid keponakannya sendiri, Song Kam Seng cepat menangkis dengan pedangnya, akan tetapi biarpun ia telah memperoleh warisan ilmu silat yang tinggi dari Wi Kong Siansu, bagaimana ia dapat melawan susioknya (paman gurunya)? Sebentar saja ia telah terdesak hebat sekali dan hanya dapat menangkis sambil mundur. Sementara itu, Lili berdiri dengan kedua mata menjadi basah. Ia teringat pula akan pengalamannya dahulu ketika ia tertawan oleh Ban Sai Cinjin. Betapa pemuda itu telah menciumnya dan hampir saja mencemarkan namanya. Betapa pemuda itu hampir saja membunuhnya dan semua itu hanya dicegah oleh perasaan cinta kasih dari pemuda itu. Ia maklum bahwa Kam Seng amat membenci ayahnya dan juga tentu berusaha membencinya karena ayah Kam Seng tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, akan tetapi ternyata pemuda itu tetap tidak mampu membencinya, bahkan sampai sekarang cintanya terhadap dirinya masih amat besar sehingga pemuda itu sampai berani melawan paman guru sendiri dan berani pula mengorbankan nyawa. Mengingat sampai di sini, Lili lalu melompat maju hendak membantu Kam Seng, akan tetapi terlambat! Dengan sebuah serangan kilat, Ban Sai Cinjin telah berhasil mengemplang kepala pemuda itu yang terhuyung-huyung ke belakang dan pedangnya terlepas dari tangannya! Ban Sai Cinjin memburu maju hendak memberi pukulan maut, akan tetapi tiba-tiba ia merasa iganya disambar oleh angin pukulan yang hebat sekali! Ia cepat memutar tubuhnya dan mengelak dari pukulan Lili ini, kemudian ia mengayun huncwenya ke arah kepala gadis ini. Lili menyambutnya dengan gerakan dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat dan dengan amat mudah huncwe itu terampas olehnya, ditekuk di antara jari tangannya dan “pletak!” patahlah huncwe maut dari Ban Sai Cinjin yang diandal-andalkan itu! Terbelalak mata Ban Sai Cinjin memandang ke arah Lili karena tak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini mampu merampas huncwenya dengan tangan kosong. Ia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri! Lili hendak mengejarnya akan tetapi ia mendengar keluhan perlahan, maka ia teringat kembali kepada Kam Seng. Cepat ia menghampiri pemuda yang merintih-rintih itu. Bukan main mencelos dan terheran hatinya ketika melihat kepala pemuda itu telah retak dan berlumur darah! Lili berlutut dan mengangkat kepala pemuda itu, dipangkunya dan dengan saputangannya, ia menyusut darah yang mengalir ke arah mata Kam Seng. Pemuda itu membuka matanya dan tersenyum! “Lili… akhirnya aku dapat menebus dosaku kepadamu… aku telah tersesat… aku salah sangka… ayahmu seorang pendekar besar, seorang budiman, sedangkan ayahku… ayahku… dia… dia seperti aku… tersesat…” sampai di sini kedua mata pemuda itu mengalirkan air mata. Lili tidak dapat menahan keharuan hatinya dan ia mendekap muka Kam Seng dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak! Biarpun tidak boleh bicara, gadis ini masih boleh menangis atau tertawa, demikian pesan gurunya. “Lili… kau meriangis…? Kau menangisi aku? Terima kasih! Kau memang gadis baik… tak pantas menangisi seorang siauw-jin (orang rendah) seperti Song Kam Seng… Lili, terima kasih… sampaikan hormatku kepada ayah bundamu…, dan salamku kepada… kepada… semua keluargamu juga kepada Kam-ciangkun… tunanganmu…” Maka habislah napas Kam Seng, pemuda bernasib malang itu yang pada saat terakhir dapat menghembuskan napas penghabisan di dalam pangkuan dara yang dicinta sepenuh hatinya!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: