Pendekar Remaja ~ Jilid 32

Lili menggunakan tulisan untuk menyuruh pengurus restoran membeli peti mati. Gadis ini masih mempunyai banyak potongan uang emas maka segala urusan penguburan jenazah Kam Seng dapat dilakukan dengan baik. Orang-orang yang berada di situ menganggap bahwa dia adalah seorang gadis gagu, maka tak seorang pun merasa heran bahwa ia tidak dapat bicara.

Setelah mengurus beres pemakaman dan bersembahyang di depan makam Song Kam Seng, Lili lalu melanjutkan perjalanannya. Kini kebenciannya terhadap Ban Sai Cinjin bertambah lagi, dan ia berjanji di dalam hati untuk membalaskan sakit hati Song Kam Seng, pemuda yang malang itu. Hatinya berdebar tidak enak kalau ia teringat akan kata-kata terakhir dari Kam Seng, yang menyebut-nyebut Kam-ciangkun sebagai tunangannya. Sampai di mana kebenaran ucapan ini? Ia tidak merasa bertunangan dengan Kam Liong, sungguhpun paman dari Kam Liong, yaitu Sin-houw-enghiong Kam Wi yang kasar dan sembrono itu pernah membikin dia marah karena hendak menjodohkannya dengan Kam Liong secara begitu saja! Juga diam-diam ia merasa girang karena didalam usahanya menolong Kam Seng tadi, ia telah mempergunakan sejurus dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat dan yang sejurus itu telah membuat ia berhasil merampas dan mematahkan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin! Ia maklum bahwa sebelum ia memiliki ilmu silat ini dengan sempurna, biarpun ia memegang pedang dan kipas, belum tentu ia akan dapat mengalahkan kakek itu secepat dan semudah tadi! Maka ia lalu melatih diri dengan amat tekun dan rajinnya dan tiga hai kemudian ia telah berani mengakhiri pantangannya bicara. Dari kota Kun-lip, Lili lalu menuju ke selatan dan di dalam perjalanannya pulang ke Shaning, ia bermaksud untuk singgah dulu di dusun Tong-sin-bun, untuk mencari kalau-kalau Ban Sai Cinjin berada di tempat itu. Juga ia ingat bahwa Ang I Niocu juga menuju ke tempat itu dalam usahanya mencari pembunuh suaminya, maka ia mempercepat perjalanannya karena ia pun merasa kuatir kalau-kalau Ang I Niocu mengalami kecelakaan pula. Menghadapi orang-orang seperti Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang selain lihai juga amat curang dan licik, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya, biar yang menghadapi mereka itu seorang pendekar wanita hebat seperti Ang I Niocu sekalipun! Ketika ia tiba di dusun Tong-sin-bun menuju ke rumah Ban Sai Cinjin, sebuah gedung besar dan mewah, ia terkejut sekali karena gedung itu kini telah lenyap, rata dengan bumi dan menjadi abu! Ia pernah mendengar bahwa Lie Siong dahulu pernah membakar bagian dari rumah ini, akan tetapi sekarang rumah ini betul-betul telah habis dan menjadi abu. Perbuatan siapakah ini? Agar jangan menarik perhatian orang dan membuat pihak Ban Sai Cinjin bersiap-siap, ia diam-diam lalu meninggalkan Tong-sin-bun dan masuk ke dalam hutan di mana terdapat kelenteng tempat Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya bersembunyi itu. Ia sengaja menunggu sampai hari menjadi gelap, baru ia mempergunakan kepandaiannya jalan malam dan masuk ke dalam hutan dengan cepat. Ketika ia tiba di sebuah hutan pohon pek di mana terdapat sebuah bukit kecil di tengahnya, tiba-tiba ia menahan langkah kakinya. Ia mendengar suara orang menangis di atas bukit kecil itu! Kalau Lili bukan seorang yang berhati tabah, tentu ia akan merasa ngeri dan seram mendengar suara orang menangis di dalam hutan yang gelap, liar, dan sunyi itu. Akan tetapi, puteri Pendekar Bodoh ini tidak menjadi takut, bahkan lalu menghampiri tempat itu! Malam hari itu bulan muncul setelah hampir tengah malam, akan tetapi cahayanya masih terang dan permukaannya masih lebih dari setengahnya. Oleh karena cahaya bulan memang mengandung sesuatu yang romantis akan tetapi juga menyeramkan, tergantung dari tempat di mana bulan mematulkan cahayanya, maka di dalam hutan itu nampak benar-benar mengerikan. Pohon-pohon pek yang besar itu kini di bawah sinar bulan nampak seperti setan-setan raksasa yang menjulurkan lengannya yang panjang hendak menangkap orang. Setiap rumpun merupakan binatang berbentuk aneh yang hitam dan yang bersiap untuk menyeruduk siapa saja yang lewat di hutan itu. Semua keseraman ini ditambah lagi oleh suara binatang hutan. Sudah sepatutnya kalau orang akan merasa lebih ketakutan dan bulu’ tengkuknya berdiri apabila pada saat dan di tempat seperti itu, tiba-tiba mendengar pula suara tangis orang! Akan tetapil Lili yang amat tabah hatinya, bahkan menjadi penasaran dan ingin sekali tahu siapa orangnya yang menangis di dalam hutan itu dan mengapa pula ia menangis. Ketika ia menyusup-nyusup di antara pohon-pohon pek dan tiba di bukit kecil itu, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kini orang yang menangis itu mengeluarkan kata-kata yang jelas terdengar dan yang membuat wajahnya menjadi pucat sekali. Ia masih belum percaya dan memperhatikan baik-baik suara itu sambil menahan tindakan kakinya. “Ang I Niocu… tak kusangka akan begini jadinya nasibmu dan nasib suamimu yang gagah perkasa. Ah, kini aku teringat… aku teringat akan semua hal yang mengerikan itu…” “Suhu…!” Lili berteriak ketika mengenal suara Sin-kai Lo Sian, Pengemis Sakti yang tadinya berada di benteng Alkata-san ketika ia meninggalkan benteng itu dahulu. Gadis ini melompat dan setelah tiba di puncak bukit kecil di mana terdapat tanaman bunga mawar hutan yang amat lebat, ia melihat Sin-kai Lo Sian itu sedang berlutut dan di depannya menggeletak tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah dan tubuhnya penuh luka-luka!

“Ie-ie, Im Giok…!” jeritan Lili ini terdengar amat nyaring dan sambil tersedu-sedu gadis ini menubruk Ang I Niotu dan mengangkat kepala wanita itu yang terus dipangkunya. Ang I Niocu ternyata masih belum mati dan ketika ia memandang kepada Lili, ia tersenyum! Karena cahaya bulan hanya suram-suram, maka kini wajah Ang I Niocu nampak cantik luar biasa dan senyumnya manis sekali, memlbuat hati Lili menjadi makin terharu.

“Ie-ie Im Giok, mengapa kau sampai menjadi begini? Suhu, apakah yang terjadi dengan Ie-ie Im Giok??” tanyanya kepada Ang I Niocu dan juga kepada Sin-kai Lo Sian.

“Lili anak manis… tenanglah dan biarkan Sin-kai menceritakan tentang… suamiku…” Ang I Niocu sukar sekali mengeluarkan kata-kata karena lehernya telah mendapat luka hebat pula. Kemudian wanita itu memandang kepada Lo Sian memberi tanda supaya Lo Sian menceritakan pengalamannya dahulu.

Karena maklum bahwa nyawa Ang I Niocu takkan tertolong lagi, maka Lo Sian lalu menuturkan dengan singkat pengalamannya dahulu di tempat ini bersama Lie Kong Sian, peristiwa yang telah lama dilupakannya akan tetapi yang sekarang tiba-tiba saja telah kembali dalam ingatannya.

“Aku ingat betul…” ia mulai dengan wajah pucat. “Lie Kong Sian Tai-hiap mengejar Bouw Hun Ti murid Ban Sai Cinjin di kuil itu karena Lie Kong Sian Tai-hiap hendak membalas dendam kepada Bouw Hun Ti yang telah menculik Lili dan telah membunuh Yo-lo-enghiong (Yousuf). Akan tetapi di kuil, ia dihadapi oleh Wi Kong Siansu. Pertempuran itu hebat sekali dan agaknya Lie Kong Sian Tal-hiap tidak akan kalah kalau saja pada saat itu Ban Sai Cinjin tidak berlaku curang. Dengan amat licik kakek mewah itu menyerang dengan huncwe mautnya, dan Bouw Hun Ti menyerang pula dengan tiga batang panah tangan beracun. Akhirnya Lie Kong Sian Tai-hiap terkena pukulan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dan tewaslah dia!” Lo Sian berhenti sebentar dan Ang I Niocu yang mendengarkan nampak gemas sekali dan mengerutkan giginya sehingga berbunyi.

“Kemudian dengan sedikit akal, yaitu menakut-nakuti murid Ban Sai Cinjin si hwesio kecil kepala gundul Hok Ti Hwesio yang hendak membelek dada Lie-taihiap dan hendak mengambil jantungnya, aku dapat merampas jenazahnya dan menguburkannya di tempat ini.”

Demikianlah, Lo Sian lalu menuturkan pengalamannya sebagaimana telah dituturkan dengan jelas di dalam buku terdahulu dari cerita ini.

Berkali-kali Ang I Niocu mengertak gigi saking gemasnya, kemudian ia berkata, “Bangsat terkutuk Ban Sai Cinjin! Sayang aku tidak mendapat kesempatan lagi untuk menghancurkan batok kepalanya! Akan tetapi, sedikitnya aku telah membalaskan dendam suamiku dan aku puas telah dapat membunuh Hok Ti Hwesio dan menghancurkan kuil itu.” Setelah mengeluarkan ucapan ini dengan penuh kegemasan, kembali napasnya menjadi berat dan keadaannya payah sekali.

“Suhu, mengapa tidak merawat Ie-ie lebih dulu? Keadaannya demikian hebat….”

Lo Sian menggeleng kepalanya, dan terdengar Ang I Niocu berkata lagi dengan kepala masih di pangkuan Lili, “Percuma, Lili… percuma… luka-lukaku amat berat… aku tak kuat lagi…!”

“Ie-ie Im Giok! Jangan berkata begitu, Ie-ie!” Lill menangis!

“Anak baik, setelah suamiku meninggal dan aku… aku telah mendapatkan makamnya… apakah yang lebih baik selain… menyusulnya? Kuburkanlah jenazahku nanti di dekatnya, Hong Li, dan kau… sekali lagi kutanya… apakah kau membenci Siong-ji…?”

Bukan main terharunya hati Lili. Ia tidak kuasa menjawab dengan mulut, hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia sendirl tak pernah dapat menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri apakah ia sesungguhnya membenci Lie Siong. Memang kadang-kadang timbul rasa gemasnya terhadap pemuda itu, akan tetapi kegemasan ini adalah karena ia teringat akan hubungan pemuda itu dengan… Lilani! Lebih tepat disebut cemburu daripada gemas.

“Kalau begitu… Hong Li, berjanjilah bahwa kau… kau akan suka menjadi isterinya! Aku… aku akan merasa girang sekali, dan juga ayahnya akan… puas melihat kau sebagai… mantunya! Sukakah kau, Hong Li…!”

Lili tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan ini, sungguhpun ia dapat menjawab pertanyaan ini, sungguhpun ia dapat mengerti bahwa pertanyaan ini keluar dari mulut seorang yang sudah mendekati maut dan yang harus dijawab.

“Ie-ie Im Giok, mengapa kautanyakan hal ini kepadaku? Bagaimana aku harus menjawab, Ie-ie? Urusan pernikahan tentu saja aku hanya menurut kehendak orang tuaku.”

“Cin Hai dan Lin Lin tentu akan setuju…” kemudian dengan napas makin berat, Ang I Niocu berkata kepada Lo Sian, “Lo-enghiong, kau… kuserahi kekuasaan untuk… menjadi wakilku… untuk menjadi wali dari Siong-ji… kaulah yang akan mengajukan lamaran kepada Pendekar Bodoh…”

“Tentu, Ang I Niocu, tentu aku suka sekali. Aku merasa amat terhormat untuk mewakilimu dalam hal ini,” jawab Lo Sian dengan terharu.

Keadaan Ang I Niocu makin lemah dan setelah memanggil-manggil nama Lie Kong Sian dan menyebut nama Lie Siong, akhirnya wanita pendekar yang gagah perkasa, yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan ini, menghembuskan napas terakhir di dalam pangkuan Lili, diantar oleh tangis dara itu.

Setelah menangisi kematian Ang I Niocu sampai malam terganti pagi, Lili dan Lo Sian lalu menguburkan jenazah Ang I Niocu di sebelah kiri makam Lie Kong Sian. Kemudian mereka duduk menghadapi makam dan dalam kesempatan ini, Lo Sian lalu menuturkan keadaan dan pengalaman Ang I Niocu seperti yang ia dengar dari penuturan Ang I Niocu sendiri sebelum Lili datang.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu dengan hati marah sekali pergi mencari pembunuh suaminya dan menyusul puteranya, setelah berkumpul sebentar dengan Lili. Dari gadis inilah pertama kali ia mendengar bahwa suaminya telah terbunuh orang, dan bahwa Lie Siong telah mulai melakukan penyelidikan untuk mencari pembunuh itu.

Sampai beberapa lama ia merantau ke selatan, dan akhirnya pergilah ia ke Tong-sin-bun, karena dari Lili ia mendengar Lie Siong pernah ke sana. Juga ia ingin sekali bertemu dan memberi hajar kepada Ban Sai Cinjin, juga ingin mendapatkan Bouw Hun Ti yang sudah berani menculik Lili di waktu kecil.

Ketika ia tiba di luar dusun Tong-sin -bun, tiba-tiba ia melihat seorang pengemis yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali, tengah duduk di pinggir jalan dan memandang kepadanya dengan mata penuh perhatian. Melihat keadaan pengemis tua ini, Ang I Niocu berpikir-pikir sebentar, dan teringatlah ia bahwa yang berada di depannya ini tentulah Sin-kai Lo Sian, Si Pengemis Sakti yang menurut penuturan Lili menjadi guru gadis itu dan juga telah diculik oleh puteranya! Akan tetapi, sebelum ia sempat menegurnya, Sin-kai Lo Sian telah mendahuluinya menegur sambil berdiri dan memberi hormat,

“Bukankah Siauwte berhadapan dengan Ang I Niocu yang terhormat?”

“Sin-kai Lo-enghiong, kau mempunyai pandangan mata yang tajam,” jawab Ang I Niocu. “Di manakah puteraku?”

“Siauwte tidak tahu, Niocu, semenjak kami berpisah di Alkata-san, kami tak saling bertemu lagi.”

Ang I Niocu mengerutkan keningnya, kemudian ia lalu menghampiri Lo Sian dan berkata, “Menurut penuturan Hong Li, katanya puteraku telah berlaku kurang ajar dan menculik Lo-enghiong, sebetulnya apakah kehendaknya? Apakah benar kau mengetahui siapa pembunuh suamiku?”

Lo Sian mengangguk. “Tak salah lagi, Niocu. Yang membunuh Lie Kong Sian Tai-hiap adalah Ban Sai Cinjin.” Kemudian Pengemis Sakti ini lalu menuturkan pengalamannya, ketika ia dan Lie Siong tertangkap oleh Ban Sai Cinjin dan betapa kakek mewah itu mengaku telah membunuh Lie Kong Sian.

“Jadi kau sendiri tidak ingat lagi bagaimana suamiku dibunuhnya dan di mana pula dikubur?” Ang I Niocu menahan gelora hatinya yang kembali diserang oleh gelombang kedukaan dan kemarahan.

Lo Sian menggeleng kepalanya dengan sedih. “Itulah, Niocu, sampai sekarang pun aku belum dapat kembali ingatanku. Aku sengaja datang ke sini untuk menyegarkan ingatanku dan siapa tahu kalau-kalau aku akan teringat kembali. Akan tetapi, kalau kau datang hendak menuntut balas…”

“Tentu saja aku hendak menuntut balas! Di mana adanya bangsat besar Ban Sai Cinjin?” Ang I Niocu memotong dengan tak sabar lagi.

“Nanti dulu, Niocu, kau harus berlaku hati-hati di tempat ini, karena Ban Sai Cinjin bukan seorang diri saja. Dia sendiri mempunyai kepandaian yang luar biasa dan biarpun aku percaya penuh bahwa kau tentu akan dapat mengalahkannya, akan tetapi di dalam rumah atau kuilnya berkumpul orang-orang yang pandai. Di sana ada Wi Kong Siansu yang menjadi suhengnya dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Ban Sai Cinjin sendiri. Ada pula Hok Ti Hwesio yang biarpun hanya menjadi muridnya, akan tetapi hwesio ini memiliki hoatsut (ilmu sihir) yang mengerikan. Bahkan di situ sekarang telah berkumpul pula Hailun Thai-lek Sam-kui atas undangan Wi Kong Siansu, dan masih ada beberapa orang tokoh kang-ouw lagi yang tidak kukenal namanya. Oleh karena itu, kalau toh Niocu hendak menyerbu ke sana, harap suka berlaku hati-hati.”

“Lekas katakan, di mana letak rumahnya dan di mana pula kuilnya? Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin!” bentak Ang I Niocu dengan muka merah karena ia sudah menjadi marah sekali dan sekian nama-nama besar tadi sama sekali tidak masuk ke dalam telinganya.

Lo Sian menjadi heran sekali dan melihat kemarahan orang ia tidak berani membantah lagi. Ia telah cukup banyak mendengar tentang watak Ang I Niocu yang luar biasa dan keras, dan kalau dia sampai membuat Ang I Niocu jengkel, salah-salah dia bisa dipukul roboh, maka ia lalu cepat-cepat memberi petunjuk di mana adanya rumah gedung Ban Sai Cinjin dan di mana pula letak kuil di dalam hutan dekat dusun Tong-sin-bun itu.

Setelah mendapat keterangan yang jelas dari Lo Sian, Ang I Niocu tanpa mengucapkan terima kasih lalu menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari depan Lo Sian. Pengemis Sakti ini mengerutkan keningnya. Ia percaya penuh akan kelihaian Ang I Niocu yang sudah disaksikan pula kesempurnaan gin-kangnya sehingga dapat melenyapkan diri sedemikian cepatnya, akan tetapi tetap saja ia merasa sangsi apakah pendekar wanita itu dapat mengalahkan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang benar-benar merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan. Sedangkan Lie Kong Sian, suami pendekar wanita itu yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Ang I Niocu, juga roboh oleh Ban Sai Cinjin, apalagi Ang I Niocu! Maka dengan hati gelisah ia lalu mengejar ke dalam dusun itu.

Ternyata oleh Ang I Niocu bahwa di dalam gedung yang mewah itu tidak terdapat Ban Sai Cinjin atau tokoh-tokoh lain, kecuali beberapa belas orang anak buah dan murid-murid baru, juga beberapa orang wanita muda yang menjadi selirnya. Di dalam kemarahan dan kebenciannya, Ang I Niocu membunuh semua orang di dalam rumah ini dan kemudian membakar gedung mewah itu! Kini kebakaran lebih hebat daripada perbuatan Lie Siong setahun yang lalu, karena sekarang yang terbakar adalah seluruh gedung sehingga tempat yang tadinya mewah itu kini menjadi tumpukan puing! Hal ini terjadi karena Ang I Niocu membakar gedung itu lalu menjaganya di depan, melarang orang-orang yang hendak memadamkannya.

Kemudian pendekar wanita yang marah ini lalu menuju ke kuil di dalam hutan! Hari telah menjadi gelap dan ketika ia tiba di dekat kuil, di dalam rumah kelenteng itu telah dipasang api yang terang. Adapun Lo Sian dengan hati merasa ngeri melihat sepak terjang pendekar wanita ini dari jauh, melihat betapa rumah gedung itu dimakan api dan tak seorang pun penghuninya dapat berlari keluar! Diam-diam ia menarik napas panjang menyesali perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengakibatkan kekejaman yang demikian luar biasa dari pendekar wanita yang murka itu. Kemudian, setelah melihat bayangan merah itu berlari cepat sekali menuju ke hutan, ia pun lalu menggunakan kepandaiannya berlari cepat menyusul. Lo Sian maklum bahwa menghadapi Ang I Niocu, ia sama sekati tidak berdaya. Hendak menolong, tentu takkan diterima, pula kepandaiannya sendiri dibandingkan dengan Ang I Niocu, masih kalah jauh sekali. Maka ia hanya menonton saja dari jauh, siap untuk menolongnya apabila perlu dan tenaganya mengijinkan.

Sebagaimana telah dikuatirkan oleh Lo Sian, benar saja kedatangan Ang I Niocu ini sudah diduga lebih dulu oleh Ban Sai Cinjin, dan ketika pendekar wanita itu tiba di depan kuil yang terang sekali karena di situ dipasang banyak penerangan, dari dalam muncullah Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang, kedua saudara Can jago-jago dari Shan-tung yakni Can Po Gan dan Can Po Tin, dan masih ada tiga orang hwesio gundul pula yang bukan lain adalah tiga orang tokoh dari Bu-tong-san! Melihat asap hitam yang mengepul dari huncwe Ban Sai Cinjin, maklumlah Lo Sian bahwa kakek mewah itu telah bersiap sedia untuk bertempur dan ini membuktikan bahwa ia sudah menanti kedatangan Ang I Niocu!

Akan tetapi Ang I Niocu seujung rambut pun tidak merasa takut bahkan lalu menudingkan pedang yang bersinar-sinar ke arah dada Ban Sai Cinjin. “Apakah kau yang bernama Ban Sai Cinjin, orang yang telah membunuh suamiku Lie Kong Sian?”

Mendengar pertanyaan yang langsung ini, Ban Sai Cinjin tersenyum mengejek untuk menghilangkan kegelisahannya melihat wanita yang hebat ini. “Ang I Niocu, suamimu tewas ketika mengadakan pibu dengan kami, mengapa kau penasaran? Sebaliknya kaulah yang telah melakukan perbuatan keterlaluan sekali, membakar gedungku dan membunuh keluargaku. Patutkah itu dilakukan oleh seorang gagah?”

“Bangsat terkutuk! Mana suamiku bisa kalah olehmu kalau benar-benar bertemur dalam pibu yang adil? Kau tentu telah melakukan kecurangan seperti biasa kau lakukan. Kaukira aku belum mendengar namamu yang buruk dan kotor? Majulah kau, hendak kulihat bagaimana kau sampai bisa mengalahkan suamiku!” Sambil berkata demikian dengan mata menyala-nyala Ang I Niocu lalu melompat mundur dan melambaikan pedangnya pada Ban Sai Cinjin dengan sikap menantang sekali.

Melihat pedang Liong-cu-kiam, yakni pedang ke dua dari sepasang pedang Liong-cu-siang-kiam yang dahulu ditemukan oleh Cin Hai dan Ang I Niocu (baca cerita Pendekar Bodoh), hati Ban Sai Cinjin menjadi gentar juga. Pedang itu mencorong dan mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Cahaya lampu yang banyak itu membuat pedang itu makin berkilauan lagi. Oleh karena itu, ia merasa ragu-ragu untuk melayani tantangan Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa, ternyata yang ketawa itu adalah Hok Ti Hwesio yang baru keluar dari kuil diikuti oleh beberapa orang hwesio muda yang menjadi kawan-kawannya. Memang akhir-akhlr ini di kuil itu telah berkumpul beberapa belas orang hwesio muda yang diaku menjadi murid Hok Ti Hwesio, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan sekumpulan penjahat cabul yang berkedok kepala gundul dan jubah pendeta!

“Lihat, orang macam itu hendak melawan Suhu!” kata Hok Ti Hwesio kepada kawan-kawan atau boleh juga disebut murid-muridnya yang juga pada tertawa menyeringai.

Melihat rombongan hwesio muda ini, teringatlah Ang I Niocu akan cerita Lo Sian tentang seorang hwesio yang menjadi murid Ban Sai Cinjin, maka dengan suara dingin sekali ia bertanya sambil memandang ke arah mereka,

“Aku pernah mendengar nama Hok Ti Hwesio, entah yang manakah di antara kalian bernama begitu?”

Hok Ti Hwesio memperkeras suara ketawanya, lalu berkata, “Ang I Niocu, kau disohorkan orang sebagai seorang pendekar wanita baju merah yang cantik seperti bidadari. Sekarang kau datang menanyakan Hok Ti Hwesio, apakah kau jatuh hati kepadaku? Hemm, akulah yang tidak mau, Niocu, karena biarpun bajumu masih merah, akan tetapi mukamu sudah amat tua, terlalu tua…” Belum sempat Hok Ti Hwesio menutup mulutnya, berkelebat bayangan merah yang didahului oleh sinar putih menyambar ke arah Hok Ti Hwesio.

“Awas…!” teriak Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin berbareng dan dengan kaget sekali Hok Ti Hwesio masih sempat menjatuhkan diri ke belakang, sehigga terhindar dari sambaran pedang Liong-cu-kiam di tangan Ang I Niocu. Dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding dari Puncak, Hok Ti Hwesio bergulingan menjauhkan diri, akan tetapi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya, Ang I Niocu terus mengejarnya! Dua orang hwesio murid Hok Ti Hwesio mencoba menghadang, akan tetapi begitu Liong-cu-kiam menyambar, terbabat putuslah leher kedua orang hwesio sial ini! Hwesio-hwesio muda yang lain menjadi ngeri dan mundur, adapun Hok Ti Hwesio telah melompat berdiri. Hwesio ini telah memiliki kepandaian tinggi, maka ia tidak takut, ia mencabut pisau terbangnya dan begitu Ang I Niocu menyerang, ia lalu menyambut dengan pisaunya yang lihai. Akan tetapi terdengar suara nyaring dan pisaunya telah terbabat putus!

Hok Ti Hwesio membaca mantera dan matanya terbelalak lebar memandang wajah Ang I Niocu lalu membentak sambil mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada Ang I Niocu. Inilah ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang dipergunakan untuk mendorong roboh lawan. Ang I Niocu merasa tenaga yang mujijat nyambarnya dari depan. Cepamt ia menggerakkan lengan kirinya dan mengepullah uap putih menolak pengaruh jahat itu ketika ia mengerahkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut yang ia pelajari dari Bu Pun Su.

“Suhu… tolong…!” Akhirnya Hok Ti Hwesio berseru minta tolong karena ia telah benar-benar terdesak hebat. Memang semenjak tadi Ban Sai Cinjin sudah hendak menolongnya dan kini hwesio mewah ini lalu mengayun huncwe menghantam kepala Ang I Niocu dari belakang! Ang I Niocu yang sudah menjadi marah kali lalu mengayun pedangnya ke belakang kepala tanpa menengok lagi sambil mengirim pukulan Pek-in-hoatsut dengan tangan kirinya ke arah Hok Ti Hwesio. Sungguh gerakan yang luar biasa sekali, karena sambil menangkis serangan dari belakang tanpa menengok ia masih dapat mengirim pukulan maut ke depan. Kalau orang tidak mempunyai tubuh yang lemas lincah serta tidak memiliki Ilmu Silat Sianli-utauw yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan gerakan ini.

“Traaang!” ujung huncwe itu, yakni bagian kepalanya yang mengeluarkan asap hitam, terbabat rompal oleh pedang Liong-cu-kiam sehingga Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dengan kaget. Adapun Hok Ti Hwesio yang mengandalkan ilmu kebalnya yang lihai, hanya miringkan tubuhnya sambil membalas menyerang dengan pukulan tangan kiri. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika ia merasa betapa dadanya yang sudah miring itu tetap terdorong oleh tenaga raksasa dari pukulan lawan ini. Ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya lagi dan terlemparlah ia ke belakang!

Akan tetapi, dengan heran dan makin marah Ang I Niocu melihat betapa hwesio muda itu sama sekali tidak kelihatan sakit dan sudah berdiri kembali. Akan tetapi Ang I Niocu tidak mau memberi kesempatan lagi kepadanya dan cepat pedangnya digerakkan secara luar biasa sekali ke arah tubuh hwesio itu.

Hok Ti Hwesio masih berusaha mengelak dan melompat, akan tetapi sinar pedang itu mengurungnya dari segenap penjuru sehingga tidak ada jalan keluar lagi baginya. Setelah tiga kali ia berhasil mengelak, ke empat kalinya Liong-cu-kiam menembus pahanya sehingga ia roboh terguling mandi darah dan berkaok-kaok seperti babi disembelih! Akan tetapi sekejap kemudian, mulutnya tak dapat mengeluarkan suara lagi karena pedang Liong-cu-kiam secepat kilat telah menembus jantungnya!

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin melihat muridnya yang tersayang telah binasa di tangan Ang I Niocu, maka sambil berseru seperti guntur, ia menyerang lagi dengan huncwenya yang ujungnya telah gempal. Adapun Wi Kong Siansu juga merasa penasaran melihat sepak terjang Ang I Niocu yang tidak mengenal ampun.

“Ang I Niocu, sepak terjangmu bukan seperti seorang gagah, lebih pantas seperti iblis wanita!” seru Wi Kong Siansu sambil melompat maju karena ia maklum bahwa sutenya, Ban Sai Cinjin, agaknya bukan lawan wanita gagah ini.

“Wi Kongo, tua bangka tak tahu malu! Kau juga telah mengotorkan tanganmu dan membantu sutemu membunuh suamiku. Majulah kau, tua bangka untuk menerima hukuman dari Ang I Niocu!” seru Ang I Niocu dengan marah sekali. Wi Kong Siansu menjadi merah mukanya dan ia cepat mencabut pedangnya Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam) dan sebentar saja Ang I Niocu telah dikeroyok dua oleh Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

Tingkat kepandaian Wi Kong Siansu memang lebih tinggi daripada Ban Sai Cinjin dan hal ini diketahui dengan cepat oleh Ang I Niocu. Gerakan pedang di tangan Wi Kong Siansu selain amat cepat dan berbahaya, juga tenaga lwee-kang dari tosu ini pun jauh lebih kuat daripada Ban Sai Cinjin. Akan tetapi, kalau saja Ang I Niocu hanya menghadapi Wi Kong Siansu seorang, ia takkan kalah dan agaknya sukarlah bagi tosu itu untuk dapat mengimbangi permainan pedang yang luar biasa hebatnya dari pendekar wanita baju merah itu. Namun, dengan adanya Ban Sai Cinjin yang mainkan huncwenya secara hebat pula, Ang I Niocu menghadapi lawan yang amat tangguh.

Betapapun juga, Ang I Niocu pun tidak memperlihatkan jerih, bahkan karena ia sedang marah dan sakit hati sekali, maka gerakan pedangnya adalah gerakan dari orang yang nekat dan hendak mengadu jiwa, maka masih kelihatan betapa Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin yang masih sayangi jiwa sendiri itu selalu terdesak mundur!

Tentu saja hal ini mengagetkan orang-orang gagah yang berada di situ. Orang yang masih dapat mendesak mundur Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin, sukar dicari keduanya di dunia ini! Diam-diam Hailun Thai-lek Sam-kui menjadi amat gembira. Tangan mereka sudah merasa gatal-gatal karena makin tangguh lawan, makin besar keinginan mereka untuk mencoba kepandaiannya.

Akhirnya, tiga orang kakek ini tak dapat menahan keinginannya lagi dan sambil berseru keras mereka lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, sehingga kini Ang I Niocu dikeroyok lima!

Melihat hal ini, Lo Sian menjadi bingung sekali. Kalau ia maju membantu Ang I Niocu, hal itu takkan ada artinya sama sekali. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan bantuannya tidak akan menolong Ang I Niocu, bahkan jangan-jangan malah akan menghancurkan daya tahan dari pendekar wanita baju merah itu. Akhirnya ia mendapat akal dan larilah Pengemis Sakti ini ke belakang kuil itu. Karena semua orang telah lari ke depan, maka keadaan di belakang kuil sunyi sekali. Dengan enaknya Lo Sian lalu menurunkan lampu dan menggunakah minyak dan api untuk membakar kuil. Ia membakar bagian yang terisi banyak kertas maka sebentar saja kuil itu menjadi lautan api yang mengamuk dari bagian belakang!

Ketika itu, Ang I Niocu sudah mulai terdesak hebat, sungguhpun pedang Liong-cu-kiam telah membabat putus rantai besar dari Lak Mau Couwsu dan telah melukai pundak Bouw Ki sehingga orang ke tiga dan ke dua dari Hailun Thai-lek Sam-kui tak dapat mengeroyok lagi. Sebagai gantinya, kedua saudara Can kini telah maju mengeroyok. Ang I Niocu mengertak gigi dan memutar pedangnya lebih hebat lagi. Karena ia tidak mudah merobahkan para pengeroyoknya, kini ia mulai mengincar hwesio-hwesio yang menjadi murid Hok Ti Hwesio dan yang masih merubung mayat Hok Ti Hwesio dengan muka pucat. Begitu ia mendapat kesempatan, Ang I Niocu melompat keluar dari kepungan lima orang pengeroyoknya dan menerjang kawanan hwesio itu yang menjadi geger. Kembali tiga orang hwesio telah roboh mandi darah dalam keadaan mati!

“Ang I Niocu manusia kejam!” Wi Kong Siansu membentak marah akan tetapi pada saat itu Ang I Niocu telah mengejar dua orang hwesio lain yang dibabatnya sehingga kedua orang ini putus tubuhnya menjadi dua! Diam-diam kelima orang pengeroyok ini menjadi ngeri juga menyaksikan keganasan Ang I Niocu yang benar-benar seperti telah berubah menjadi kejam itu. Dengan sepenuh tenaga, mereka mengerahkan kepandaian mereka untuk merobohkan Ang I Niocu.

Para Pengeroyok Ang I Niocu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang menduduki tingkat atas. Wi Kong Siansu mendapat julukan Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pehcabut Nyawa), seorang tokoh dari Hek-kwi-san yang selain memegang pedang Hek-kwi-kiam, juga mainkan ilmu pedang Hek-kwi-kiam-hoat. Ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tidak kalah oleh Ang I Niocu sendiri. Juga Ban Sai Cinjin tadinya sudah amat lihai, dan akhir-akhir ini ia memperdalam ilmu silatnya sehingga ia memperoleh kemajuan besar. Ilmu tongkatnya yang dimainkan dengan sebatang huncwe itu benar-benar merupakan tangan maut yang menjangkau nyawa lawan. Pengeroyok ke tiga adalah Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Tiga Iblis Geledek dari Hailun. Baru julukannya saja sudah Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Kolong Langit), maka sudah dapat dibayangkan betapa lihainya payung yang dimainkannya! Pengeroyok ke empat dan ke lima adalah Can Po Gan dan Can Po Tin kakak beradik jago dari Shan-tung yang memiliki kepandaian tinggi pula. Maka tentu saja setelah dapat mempertahankan diri sampai seratus jurus lebih, akhirnya Ang I Niocu menjadi repot dan terdesak hebat sekali.

Beberapa kali ia telah menderita luka-luka hebat, akan tetapi berkat latihan-latihan dan pengalaman-pengalamannya, maka pendekar wanita ini masih dapat mempertahankan diri dan pada saat ia menerima sambaran senjata lawan yang mengenai dekat lehernya, ia telah dapat menancapkan pedangnya di lambung Can Po Tin sehingga orang ini menjerit keras lalu roboh tak bernyawa pula! Ang I Niocu terhuyung-huyung akan tetapi ia masih dapat melawan dengan nekat. Ketika Can Po Gan yang menjadi marah menerjangnya, pendekar wanita ini kembali menerima pukulan pada pundaknya, akan tetapi sekali tangan kirinya melancarkan pukulan Pek-in-hoat-sut ke arah dada Can Po Gan, orang ini memekik dan terlempar ke belakang dengan dada pecah!

Pada saat itu, nampak cahaya api dan kagetlah para pengeroyok Ang I Niocu ketika melihat betapa kuil itu telah menjadi lautan api! Ban Sai Cinjin adalah orang pertama yang merasa paling kaget dan marah. Ia sudah mendengar betapa rumah gedungnya di Tong-sin-bun telah menjadi abu, dan sekarang kembali kuinya yang indah mentereng ini hendak dimakan api! Maka ia lalu melompat meniggalkan Ang I Niocu untuk mengusahakan pemadaman api yang membakar kuil. Akan tetapi sia-sia belaka karena api telah menjalar dan nyalanya telah terlampau besar untuk dapat dipadamkan lagi.

Sementara itu, Ang I Niocu yang merasa betapa kepungannya kini agak longgar, lalu melompat ke belakang. Ia sudah terlalu letih dan merasa bahwa ia tidak kuat untuk melawan lagi. Ia melarikan diri ke belakang, dikejar oleh Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu, dua orang yang memiliki kepandaian paling tinggi. Kedua orang tosu ini hendak menangkap Ang I Niocu yang dianggapnya terlalu ganas dan kejam itu.

Biarpun Ang I Niocu memiliki gin-kang yang luar biasa dan kalau sekiranya ia tidak terluka, kedua orang tokoh besar ini pun belum tentu dapat mengejarnya, akan tetapi pada saat itu pendekar wanita ini telah terluka hebat dan tubuhnya telah mandi darah yang mengucur dari luka-lukanya.

Ia mencoba untuk menguatkan tubuhnya, berdiri menanti kedatangan dua orang pengejarnya untuk dilawan mati-matian, akan tetapi tiba-tiba sepasang matanya menjadi gelap, kepalanya pening dan robohlah ia tak sadarkan diri lagi! Dari balik pohon melompat keluar Lo Sian yang cepat memondong tubuh Ang I Niocu, dibawa lari ke dalam hutan.

Melihat hal ini, Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu menjadi marah sekali dan mengejar makin cepat. Sin-kai Lo Sian menjadi sibuk sekali karena bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kejaran dua orang yang memiliki kepandaian berlari cepat jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya? Dalam gugupnya, Lo Sian lalu lari sejadi-jadinya sehingga ia menubruk rumpun berduri dan terus saja jatuh bangun dan bergulingan sambil memondong tubuh Ang I Niocu! Betapapun juga, tetap saja ia mendengar suara dua orang pengejarnya yang lihai.

Ketika Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu sudah hampir dapat menyusul Lo Siang, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan di dalam hutan itu muncul seorang kakek kate yang memegangi sebuah guci arak dan sebentar-sebentar menenggak ciu-ouw itu sambil melenggang dan kemudian bernyanyi-nyanyi riang! Kakek kate ini berjalan di tengah lorong menghadang kedua orang tosu yang mengejar Lo Sian dan ketika mereka berhadapan, kakek kate itu dengan suara masih dinyanyikan lalu menegur, “Dua orang tua bangka mengejar-ngejar orang dengan senjata di tangan dan hawa maut terbayang di mata, sungguh mengerikan!”

Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu cepat memandang dan bukan main kaget hati mereka ketika melihat bahwa yang menghadang di depan mereka itu adalah Im-yang Giok-cu, tokoh besar di Pegunungan Kun-lun-san yang jarang sekali memperlihatkan diri di dunia ramai! Sebagaimana pembaca tentu masih ingat Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak ini dahulu bersama Sin Kong Tianglo yang berjuluk Yok-ong (Si Raja Obat) pernah menjadi guru dari Goat Lan. Pada waktu itu, Im-yang Giok-cu di dalam perantauannya mendengar bahwa kitab obat Thian-te Ban-yo Pit-kip peninggalan sahabatnya, Sin Kong Tianglo yang dahulu oleh dia sendiri diberikan kepada Goat Lan, telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin, maka malam harl ini ia memang sengaja hendak mencari Ban Sai Cinjin untuk urusan itu. Kebetulan sekali di dalam hutan ini melihat Wi Kong Siansu dan Thian-te Te-it Siansu sedang mengejar-ngejar seorang pengemis yang membawa lari tubuh seorang nenek tua. Ia tidak mengenal Lo Sian, juga tidak tahu bahwa nenek tua yang dibawa lari oleh Lo Sian itu adalah Ang I Niocu, akan tetapi ia cukup tahu akan Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu yang kabarnya memusuhi muridnya, Goat Lan! Oleh karena inilah maka Im-yang Giok-cu sengaja menghadang mereka untuk menolong orang yang dikejar itu.

Wi Kong Siansu cepat mengangkat dua tangan memberi hormat lalu berkata, “Kalau tidak salah kami berhadapan dengan sahabat dari Kun-lun-san Im-yang Giok-cu. Tidak tahu malam-malam begini hendak pergi ke manakah, Toyu (sebutan untuk kawan seagama To)?”

Karena Im-yang Giok-cu tidak mengenal Lo Sian dan mengerti bahwa kini yang yang dikejar itu sudah lari jauh dan di dalam gelap ini tak mungkin dapat disusul lagi, ia pun tidak mau mencampuri urusan orang, hanya berkata,

“Wi Kong Siansu, aku hendak mencari sutemu yang kabarnya telah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari mendiang Sin Kong Tianglo sahabat baikku. Sutemu harus mengembalikan kitab itu dengan baik-baik kepadaku untuk kukembalikan kepada muridku Kwee Goat Lan. Harap sutemu suka memandang mukaku dan jangan main-main dengan seorang anak-anak seperti muridku itu.” Setelah berkata demikian, Si Kate ini lalu menenggak guci araknya.

Thian-he Te-it Siansu yang memang suka sekali berkelahi dan sekarang sedang marah sekali karena dua orang sutenya telah dikalahkan oleh Ang I Niocu. Dengan sikap menantang, kakek yang sama katenya dengan Im-yang Giok-cu ini lalu melompat maju sambil menggerak-gerakkan payungnya dan berkata,

“Im-yang Giok-cu, kau minggirlah dulu agar aku dapat menangkap setan wanita tadi! Ada urusan boleh diurus nanti.”

Akan tetapi Im-yang Giok-cu juga menggerak-gerakkan guci araknya dan berkata, “Tidak bisa, tidak bisa! Urusanku lebih penting lagi, urusanmu mengejar-ngejar dan mengeroyok orang yang sudah berlari sungguh tidak patut dan dapat dihabiskan saja!”

Thian-he Te-it Siansu marah sekali dan cepat payungnya bergerak menyambar dada Im-yang Giok-cu, akan tetapi Si Dewa Arak ini menggerakkan guci araknya menangkis. Terdengar suara “krak!” dan patahlah ujung payung orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sedangkan beberapa tetes arak melompat keluar dari guci itu dan tepat sekali dua tetes diantaranya menyambar ke arah kedua mata Thian-he Te-it Siansu! Terkejut sekali orang cebol ini dan cepat ia melompat mundur.

Wi Kong Siansu yang cerdik segera melerai. Ia lebih maklum bahwa tokoh besar dari Pegunungan Kun-lun ini adalah suhu dari Kwee Goat Lan dan tentu saja boleh disebut berpihak kepada Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan ia maklum pula akan kelihaian kakek ini, maka ia lalu berkata,

“Im-yang Giok-cu, kau tidak tahu bahwa kuil suteku telah terbakar, maka marilah kita bersama ke sana dan tentang kitab obat itu boleh kautanyakan kepada suteku. Di antara kita sendiri, mengapa saling serang?”

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak, lalu menjawab, “Bagus, inilah baru ucapan seorang cerdik! Urusan harus diselesaikan dulu, untuk pibu…” ia melirik Thian-he Te-it Siansu, “puncak Thai-san masih cukup luas dan musim chun memang menimbulkan kegembiraan pada semua orang untuk main-main!” Mendengar sindiran ini, Wi Kong Siansu maklumlah sudah bahwa kakek kate yang lihai ini sudah mendengar pula tentang tantangan pibu antara dia melawan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, maka diam-diam ia mengeluh.

Akan tetapi ketika mereka bertiga mendapatkan Ban Sai Cinjin di depan kuil, ternyata bahwa kuil itu semua telah dimakan api. Tak sepotong pun barang dapat diselamatkan, termasuk kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip juga ikut musnah terbakar. Untuk membuktikan bahwa kitab itu betul-betul terbakar, Ban Sai Cinjin lalu minta kepada Im-yang Giok-cu untuk menanti sampai api padam betul, kemudian ia membongkar tempat di mana kitab itu tadinya disimpang yaitu dalam sebuah peti. Peti itu telah menjadi abu dan ketika dibongkar, benar saja didalamnya terdapat abu sebuah kitab yang samar-samar masih dapat dilihat tulisannya! Im-yang Giok-cu menarik napas panjang dan berkata, “Kitab ini telah menyusul pemilik dan penulisnya. Sudahlah, aku tak dapat berkata apa-apa lagi!” Ia lalu melenggang pergi sambil menenggak araknya, tak seorang pun berani mencegah atau mengganggunya.

Adapun Lo Sian yang dapat melarikan diri sambil memondong tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah, tanpa disengaja telah lari ke atas bukit di tengah hutan di mana dahulu ia mengubur jenazah Lie Kong Sian! Bagaikan ada dewa yang menuntunnya, di dalam kebingungannya melarikan diri dari kedua orang pengejarnya, Lo Sian naik terus dan di antara pohon-pohon pek itu ia melihat serumpun bunga mawar hutan yang sedang berkembang. Maka saking lelahnya, ia lalu meletakkan tubuh Ang I Niocu di atas rumput. Kemudian, pemandangan di sekitarnya dan keharuan hatinya melihat keadaan Ang I Niocu yang sudah tak mungkin dapat ditolong lagi itu, membuka matanya dan teringatlah ia akan pengalamannya dahulu. Melihat rumpun bunga mawar hutan itu, Lo Sian tiba-tiba lalu menubruk ke arah rumpun itu dan dibuka-bukanya rumpun itu seperti orang mencari sesuatu, dan nampaklah olehnya gundukan tanah di bawah rumpun itu. Lo Sian mengeluh dan menangis karena sekarang ia teringat bahwa inilah kuburan Lie Kong Sian! Teringat pula ia ketika dahulu ia melarikan diri membawa jenazah Lie Kong Sian seperti yang dilakukannya dengan membawa tubuh Ang I Niocu tadi, dan betapa ia mengubur jenazah Lie Kong Sian di tempat itu.

Dan pada saat Lo Sian menangisi nasib Ang I Niocu dan suaminya itulah, Lili mendengar suaranya dan datang di tempat itu. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lo Sian dan Lili akhirnya mengubur jenazah Ang I Niocu, pendekar wanita yang gagah itu, di sebelah makam suaminya yang telah meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun yang lalu.

Ban Sai Cinjin beberapa kali membanting-banting kakinya dan wajahnya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa marah dan sakit hati betul. Telah berkali-kali ia menerima penghinaan dan kekalahan hebat dari pihak Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan kali ini ia menerima hinaan yang paling hebat. Gedungnya habis, kuilnya musnah, semua barang-barangnya menjadi abu, muridnya yang terkasih, Hok Ti Hwesio tewas bersama beberapa orang hwesio lain dan juga kedua saudara Can dari Shan-tung itu tewas dalam membelanya. Bagaimana ia tidak menjadi sakit hati dan marah?

Juga Wi Kong Siansu menjadi marah dan penasaran sekali. Ia telah mendengar dari sutenya bahwa muridnya, yaitu Song Kam Seng, juga telah tewas dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Kam Seng terbunuh oleh Ban Sai Cinjin sendiri yang dengan pandainya telah rnemutarbalik duduknya perkara dan menyatakan bahwa Kam Seng terbunuh oleh Pendekar Bodoh ketika membantu orang-orang Mongol di utara!

Kini melihat sepak terjang Ang I Niocu, Wi Kong Siansu menjadi makin marah karena menurut anggapannya, Ang I Niocu telah berlaku kejam dan ganas sekali.

“Orang yang membawa lari Ang I Niocu tentu pengemis hina dina itu,” kata Wi Kong Siansu, “dan tentu Lo Sian pula yang membakar kuil ini!”

“Sayang dahulu tidak kuhancurkan kepalanya!” Ban Sai Cinjin berkata gemas. “Akan tetapi, sambil membawa orang luka, dia pasti tidak dapat lari jauh dan tak mungkin keluar dari hutan sambil membawa-bawa Ang I Niocu. Mari kita mencari dia!”

Demikianlah, dengan hati penuh geram, Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, diikuti oleh ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui yang juga merasa penasaran, pada pagi hari itu juga melakukan pengejaran.

Maka, dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Lo Sian ketika tiba-tiba lima orang kakek yang tangguh itu tahu-tahu telah berdiri di depannya di dekat makam Ang I Niocu dan Lie Kong Sian!

“Ha-ha-ha, pengemis jembel, apa kau kira akan dapat melarikan diri dari sini?” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girang dapat menemukan orang yang dibencinya. Apalagi ia melihat Lili berada di situ dan melihat gadis musuh besarnya ini, timbullah harapannya untuk membalas penghinaan yang telah ia derita dari Pendekar Bodoh. “Di mana Ang I Niocu siluman wanita?”

“Ban Sai Cinjin, harap kausuka mengingat akan perikemanusiaan. Kau telah membunuh Lie Kong Sian, dan sekarang kau telah menewaskan Ang I Niocu pula. Masih belum puaskah kau? Mereka telah tewas dan telah kukubur baik-baik, harap kau jangan mencari urusan lagi,” kata Lo Sian yang merasa kuatir kalau-kalau lima orang kakek yang tangguh ini akan mengganggu Lili.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin berseru marah, “Pengemis bangsat! Kaukira aku tidak tahu bahwa kau yang membakar kuilku? Kau enak saja bicara untuk membujukku agar jangan mengganggumu dan mengganggu setan perempuan ini. Kau kira aku akan melepaskan anak Pendekar Bodoh begitu saja tanpa membalas penghinaan-penghinaannya?” Sambil berkata demikian Ban Sai Cinjin melangkah maju dan menggenggam huncwenya lebih erat lagi.

Akan tetapi Lili sama sekali tidak merasa jerih, bahkan kini sepasang matanya yang bening itu mengeluarkan cahaya berapi dan wajahnya yang cantik itu kini menjadi merah sekali. Biarpun ia kini tidak memegang senjata apa-apa karena kipas dan pedang Liong-coan-kiam telah rusak ketika ia bertemu dengan nenek luar biasa yang menjadi gurunya itu, namun ia tidak merasa jerih sama sekali, bahkan lebih tabah daripada dulu ketika menghadapi Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

“Ban Sai Cinjin manusia binatang! Kau bilang takkan melepaskan anak Pendekar Bodoh, akan tetapi apakah kaukira aku Sie Hong Li akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi setelah kita bertemu di sini?” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan dengan tangan kirinya ia menyerang ke arah leher Ban Sai Cinjin. Begitu bertemu, gadis ini telah menyerang dengan tipu dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat yang luar biasa lihainya!

Ban Sai Cinjin ketika melihat gadis itu menyerangnya dengan tangan kosong, memandang rendah sekali dan cepat ia mengulur tangan kiri untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu sedang tangan kanan menggerakkan huncwe untuk mengetok kepala Lili! Akan tetapi ia tidak kenal kelihalan ilmu pukulan Hang-liong-cap-it-ciang-hoat yang baru pertama kali ini dipergunakan oleh orang di dunia ramai! Ketika tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan kiri Lili, Ban Sai Cinjin berteriak kaget dan cepat-cepat ia menarik kembali tangannya karena merasa betapa telapak tangannya seakan-akan menyentuh api membara! Dan Lili hanya menundukkan sedikit kepalanya untuk menghindarkan serangan huncwe dari lawannya, akan tetapi tangan kirinya tetap meluncur ke arah leher Ban Sai Cinjin! Kakek mewah ini terkejut bukan main dan cepat ia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi masih saja tangan kanan Lili yang menyambar lagi mengenai kepala huncwenya dan terdengar suara “prak!” ternyata kepala huncwenya itu hancur lebur dan api tembakaunya berhamburan!

Ban Sai Cinjin bergulingan jauh kemudian melompat berdiri dengan muka pucat dan memandang ke arah gadis itu dengan kedua mata terbelalak! Juga Wi Kong Siansu dan ketiga tokoh dari Hailun itu berdiri bengong. Mereka belum pernah menyaksikan ilmu silat yang sedemikian hebatnya. Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar saja karena segera Wi Kong Siansu mencabut Hek-kwi-kiam dari punggungnya. Telunjuk kirinya menuding ke arah Lili dan jidatnya berkerut ketika ia berkata dengan garang,

“Sie Hong Li, hari ini terpaksa pinto mengambil nyawamu untuk membalas dendam muridku, Song Kam Seng!”

Lili mendengar ini menjadi makin marah. Ia melirik ke arah Ban Sai Cinjin dan maklum bahwa kakek mewah itu telah memutarbalikkan kenyataan, maka ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa tiada gunanya untuk membantah dan ribut mulut membela diri, dan dengan suara lantang ia menjawab,

“Wi Kong Siansu, dahulu kau pernah membantu Ban Sai Cinjin merobohkan aku dengan curang, kemudian kau berani pula menentang Ayahku. Hemm, pendeta yang bermata buta seperti kau ini mana bisa membedakan mana salah mana benar, mana baik mana jahat? Majulah, kaukira aku takut kepadamu?”

Wi Kong Siansu lalu menerjang dengan pedangnya yang bercahaya kehitaman, mainkan Ilmu Pedang Hek-kwi-kiam-hoat dengan amat marah. Akan tetapi segera ia menjadi terkejut sekali karena benar-benar gadis itu jauh sekali bedanya dengan dahulu. Dahulu pun Lili telah merupakan seorang gadis yang tinggi sekali kepandaiannya, seorang gadis muda yang sudah menerima warisan ilmu-ilmu silat tinggi seperti San-sui-san-hoat dari Swi Kiat Siansu, juga telah mahir sekali mainkan Ilmu Pedang Liong-coan-kiam-sut, ilmu-ilmu pukulan yang lihai dari Bu Pun Su seperti Kong-ciak-sinna dan Pek-in-hoatsut. Kini gadis itu seakan-akan harimau yang tumbuh sayapnya setelah memiliki ilmu silat yang amat luar biasa gerakannya dan yang mendatangkan hawa pukulan hebat sekali ini. Bahkan Wi Kong Siansu tiap kali tergetar tangannya apabila hawa pukulan dari tangan nona itu menyambar ke arahnya!

Hailun Thai-lek Sam-kui ketika melihat Wi Kong Siansu agaknya tidak bisa mendesak Lili, segera berseru dan maju mengeroyok. Luka Bouw Ki di pundaknya ketika ia mengeroyok Ang I Niocu telah diobati sedangkan Lak Mau Couwsu telah membikin betul rantainya, maka kini tiga iblis ini dengan lengkap dapat mengurung Lili. Akan tetapi gadis ini benar-benar luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan bagaikan kilat menyambar-nyambar dan setiap serangan senjata lawan dapat dielakkannya dengan gesit sekali atau ditangkisnya dengan sepasang lengannya yang mengandung tenaga luar biasa. Bahkan serangan gadis ini benar-benar membuat empat orang pengeroyoknya terkejut dan harus berlaku hati-hati. Ternyata bahwa sebelas jurus dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat ini luar biasa sekali daya tahan dan daya serangnya.

Adapun Ban Sai Cinjin setelah melihat Lili dikurung oleh suhengnya dan Hailun Thai-tek Sam-kui, lalu mendelik menghampiri Lo Sian dengan huncwenya yang telah terpotong tidak berkepala lagi itu! Sin-kai Lo Sian melihat nafsu membunuh pada mata Ban Sai Cinjin, maka Pengemis Sakti ini lalu bersiap sedia untuk membela diri mati-matian.

“Lo Sian, dahulu aku berlaku salah tidak terus membunuhmu sehingga kau mendatangkan banyak urusan. Sekarang harus kuhancurkan kepalamu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menyerang dengan gagang huncwenya itu. Biarpun huncwenya telah hilang kepalanya, akan tetapi gagang huncwe itu terbuat dari baja tulen yang keras sehingga kini merupakan tongkat atau toya pendek yang masih cukup berbahaya.

Lo Sian yang selama ini tidak pernah terpisah dari tongkatnya, cepat mengangkat tongkat itu dan menangkis. Terdengar suara keras dan terpaksa Lo Sian melompat mundur dengan telapak tangan tergetar dan panas! Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Kakek mewah ini timbul kesombongannya kalau sudah menang, maka sambil menyeringai ia lalu mendesak Lo Sian yang memang masih kalah jauh tingkat kepandaiannya.

Dengan nekat dan mati-matian Lo Sian berusaha mempertahankan diri dan membalas serangan Ban Sai Cinjin, akan tetapi beberapa jurus kemudian terdengar suara keras dan tongkat di tangan Lo Sian patah menjadi dua oleh gagang huncwe di tangan Ban Sai Cinjin. Ban Sai Cinjin tertawa bergelak lalu menubruk maju. Lo Sian mengelak ke kiri akan tetapi sebuah tendangan dari Ban Sai Cinjin mengenai betisnya dan membuat Lo Sian terjungkal. Ban Sai Cinjin melangkah maju dengan gagang huncwe terangkat dan dengan sekuat tenaga ia menimpakan gagang huncwe itu ke arah kepala Lo Sian!

“Prak!!” Bunga api berpijar dan gagang huncwe itu untuk kedua kalinya patah dan tinggal sedikit saja. Ban SaiCinjin kaget sekali dan cepat melompat ke belakang. Ternyata bahwa pada saat yang amat berbahaya bagi nyawa Lo Sian itu, sebatang pedang berbentuk ular dengan gerakan cepat sekali telah menangkis gagang huncwe itu dan menyelamatkan nyawa Lo Sian.

“Lie Siong…!” Lo Sian berseru girang sekali ketika melihat pemuda yang baru datang ini.

“Lo-pek, minggirlah dan biarkan aku membunuh tikus busuk ini!” kata Lie Siong sambil memutar pedangnya dan menyerang Ban Sai Cinjin dengan hebatnya.

Seperti ketika ia menghadapi Lili tadi, kini Ban Sai Cinjin juga merasa heran dan terkejut sekali. Sekali serang saja pemuda ini telah dapat mematahkan gagang huncwenya! Alangkah jauh bedanya dengan dulu ketika ia bertempur melawan pemuda ini. Padahal dulu dia sendiri betum semaju ini ilmu kepandaiannya dan akhir-akhir ini ia telah melatih diri dan memperoleh kemajuan pesat. Namun dibandingkan dengan kedua orang muda ini, ia telah tertinggal jauh! Tentu saja Ban Sai Cinjin tidak tahu bahwa Lili telah mendapat gemblengan luar blasa dari seorang nenek di dalam sumur yang mengajarnya Hang-liong-cap-it-ciang-hoat, dan bahwa Lie Siong juga telah bertemu dengan seorang kakek luar biasa yang mengajarnya bermain gundu!

Karena gagang huncwenya kini tak dapat dipergunakan lagi, Ban Sai Cinjin terpaksa menghadapi Lie Siong dengan kedua tangannya yang juga tak boleh dipandang ringan. Ia melancarkan pukulan-pukulan disertai ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang selain mengandung tenaga luar biasa, juga disertai bentakan-bentakan yang dapat melumpuhkan semangat lawannya. Namun Lie Siong hanya mengeluarkan suara meriyindir. Tangan kirinya mainkan Ilmu Pukulan Pek-in-hoat-sut yang mengeluarkan uap putih untuk menolak pengaruh ilmu hitam lawannya, sedangkan pedang tetap mengurung Ban Sai Cinjin dengan rapat.

“Ban Sai Cinjin, kau harus membayar nyawa ayahku!” bentaknya berulang-ulang dan pedangnya yang berbentuk naga itu menyambar-nyambar dekat sekali dengan dada dan leher Ban Sai Cinjin.

“Suheng, bantulah aku merobohkan setan ini!” terpaksa Ban Sai Cinjin berseru kepada Wi Kong Siansu sampai mandi keringat karena ia merasa bahwa kalau dilanjutkan, sebentar lagi ia pasti akan roboh binasa oleh pemuda yang luar biasa ini.

Wi Kong Siansu ketika mendengar seruan ini, cepat menengok dan terkejutlah dia melihat betapa sutenya berada dalam keadaan amat berbahaya. Cepat ia melompat dan pedangnya Hek-kwi-kiam meluncur dan melakukan serangan kilat ke arah tubuh Lie Kong. Pemuda ini maklum akan kelihaian Wi Kong Siansu, maka ia menangkis sambil mengerahkan tenaga lwee-kangnya yang baru diperkuat oleh latihan yang ia terima dari gurunya yang aneh.

“Traaang!” bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua pedang itu beradu. Pedang Hek-kw-kiam juga sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka tidak sampai patah. Namun Wi Kong Siansu diam-diam terkejut sekali karena baru sekali ini dalam beradu pedang ia merasa tangannya tergetar hebat!

Kedatangan Wi Kong Siansu membuat Ban Sai Cinjin bernapas lega sungguhpun mereka berdua juga tidak berdaya mendesak Lie Siong. Sebaliknya, Hailun Thaitek Sam-kui menjadi sibuk sekali karena setelah ditinggalkan oleh Wi Kong Siansu, mereka kini terdesak oleh Lili.

“Siong-ko (Kakak Siong), hayo kita bikin mampus lima ekor anjing ini. Ie-ie Im Giok telah terbunuh oleh mereka ini!” seru Lili kepada Lie Siong.

Mendengar seruan ini, Lie Siong bukannya lebih cepat serangannya, bahkan tiba-tiba daya serangnya banyak berkurang. Pemuda ini menerima pukulan batin yang hebat mendengar warta tentang kematian ibunya ini. Ia menjadi demikian marah, sedih, gemas, dan menyesal sehingga tubuhnya terasa lemas dan ia tidak dapat mengerahkan lwee-kangnya dengan sempurna lagi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: