Pendekar Remaja ~ Jilid 33

Hal ini tentu saja menggirangkan hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin karena tadinya mereka berdua sudah menjadi gelisah sekali. Hailun Thai-lek Sam-kui terdesak hebat sedangkan mereka juga agaknya takkan mampu mengalahkan pemuda ini. Kini melihat kesempatan ini, Ban Sai Cinjin lalu berkata,

“Jangan layani mereka lagi, belum tiba waktunya mengadu kepandaian! Kita sudah berjanji musim chun di puncak Thian-san!”

Ucapan ini hanya untuk menutup rasa malu saja, akan tetapi membuat Hailun Thai-lek Sam-kui “ada muka” untuk mengundurkan diri. Mereka semua bagaikan sedang berlumba, lalu memutar tubuh melarikan diri dari tempat itu!

“Bangsat rendah, hendak lari kemanakah?” Lili yang menjadi gemas lalu mengejarnya. Juga Lie Siong mengejar, akan tetapi pemuda ini tak dapat melampaui Lili karena kedua kakinya menggigil.

Tiba-tiba lima orang kakek itu membalikkan tubuh dan ketika tangan mereka bergerak, banyak sekali am-gi (senjata gelap) menyambar ke arah Lili dan Lie Siong! Lili cepat melompat ke atas dan ketika kaki tangannya bergerak, ia telah dapat menangkap dua batang panah tangan beracun sedangkan kedua kakinya telah berhasil menendang jauh empat butir peluru besi!

Yang hebat adalah Lie Siong. Pemuda ini baru saja digembleng oleh seorang kakek aneh yang ternyata seorang ahli lwee-keh dan juga seorang ahli senjata rahasia. Melihat datangnya senjata-senjata gelap itu, Lie Siong biarpun tubuhnya sudah gemetar dan lemah karena luka di dalam batinnya yang terpukul oleh berita kematian ibunya, dengan tenang lalu berjongkok dan pedangnya disabetkan ke atas sehingga semua senjata rahasia itu terpukul ke atas. Berbareng dengan itu, tangan kirinya bergerak setelah mencengkeram ke bawah dan bagaikan kilat menyambar, batu-batu kerikil dari tangan kirinya itu meluncur ke arah lima orang kakek itu!

Inilah serangan gelap yang luar biasa sekali dari Lie Siong. Batu-batu kerikil itu dipegangnya seperti kalau ia bermain gundu dengan gurunya dan kini batu-batu itu meluncur dengan luar biasa cepatnya ke arah tubuh lima orang lawan itu, tepat ke arah jalan-jalan darah di tubuh mereka!

Lima orang kakek itu sambil berseru kaget lalu bergerak mengelak, akan tetapi Bouw Ki dan Lak Mao Couwsu kurang cepat gerakannya sehingga biarpur batu-batu kerikil itu tidak tepat mengenai jalan darah yang dapat mengirim nyawa mereka ke tangan maut, namun tetap saja kulit mereka pecah-pecah terkena kerikil-kerikil itu! Dengan berlumur darah, kedua orang ini cepat menyeret tubuh mereka mengikuti jejak tiga orang kawan yang lain yang sudah melarikan diri terlebih dulu!

Lili hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat Lie Siong terhuyung-huyung ke depan dan roboh! Gadis ini kaget sekali dan cepat menubruk tubuh Lie Siong, lalu diangkatnya. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu menderita luka di dalam tubuh, maka ia menjadi amat berkuatir. Ketika ia mengangkat Lie Siong hendak dibawa lari ke makam Ang I Niocu, Lo Sian yang mengejar sudah sampai di situ dan orang tua ini dengan kaget lalu minta tubuh Lie Siong itu dan dipondongnya sendiri.

“Terlukakah dia, Lili?”

Gadis itu hanya memandang sedih. “Entahlah, Suhu, aku tidak melihat dia terpukul, juga tidak ada tanda darah. Akan tetapi tahu-tahu dia hendak roboh.” Mereka lalu mengangkat tubuh Lie Siong dan meletakkannya di atas rumput di depan makam kedua orang tua pemuda itu. Lili tanpa diminta lalu pergi mencari air, dan setelah kembali ia lalu menyusut muka Lie Siong dengan saputangannya yang sudah basah kemudian ia mengucurkan air di kepala pemuda itu.

Tak lama kemudian Lie Siong membuka kedua matanya dan cepat sekali ia melompat bangun. Kedua matanya memandang beringas bagaikan seekor harimau lapar mencium darah.

“Mana mereka? Mana pembunuh-pembunuh ibuku? Lili, katakan, mana mereka? Hendak kucekik semua batang lehernya!” Sambil membelalakkan kedua matanya Lie Siong memandang ke sana ke mari dengan mata jelalatan.

Lili melompat bangun dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi ia memegani tangan Lie Siong.

“Siong-ko, tenanglah. Di mana kegagahanmu? Atur napasmu dan tenangkan batinmu, baru kita bicara lagi.” Bagaikar seekor kambing jinak, Lie Siong menurut saja ketika dipimpin oleh Lili dan disuruh duduk di atas tanah. Sambil berpegang tangan, sepasang orang muda ini lalu duduk meramkan mata dan mengatur napas mengumpulkan tenaga. Dengan setia Lili menyalurkan hawa dan tenaga dalam tubuhnya melalui telapak tangan Lie Siong untuk membantu pemuda ini. Dia sekarang tahu bahwa pemuda ini tadi pingsan karena pukulan batin yang berduka.

Pikiran Lie Siong tidak karuan. Tadinya ia sudah dapat mengatur napasnya dan menentramkan pikiran dan batinnya yang tergoncang, akan tetapi, ketika ia merasa betapa dari telapak tangan Lili itu mengalir hawa hangat yang membantu peredaran darahnya, ia menjadi demikian terheran-heran, girang, terharu, sedih, tercampur aduk menjadi satu sehingga kembali tubuhnya menjadi panas dingin. Hawa Im dan Yang mengalir di tubuhnya saling bertentangan dan karena tidak seimbang, sebentar tubuhnya menjadi panas dan sebentar dingin sekali!

Lili dapat merasa ini, maka ia lalu menghentikan emposan semangat dan hawa, lalu melepaskan tangannya dan berkata perlahan,

“Siong-ko, jangan kaukacaukan pikiran sendiri.Tenanglah dan ingat bahwa mati atau hidup bukan berada di tangan manusia.”

Akhirnya Lie Siong dapat menenangkan batinnya, kemudian ia membuka matanya dan dengan pandangan sayu dan muka pucat, ia bertanya,

“Di mana… dia? Mana ibuku?”

Lili menuding ke arah dua gunduk tanah di depan mereka, dan berkata perlahan, “Kami telah menguburnya baik-baik, di samping kuburan ayahmu.”

Lie Siong menoleh cepat dan melihat dua gunduk tanah. Yang satu sudah lama, akan tetapi yang ke dua masih baru sekali. Ia lalu menubruk dan menangis terisak-isak di atas kuburan ayah bundanya itu!

Lili tak dapat menahan keharuan hatinya dan ikut pula mengucurkan air mata, sedangkan Sin-kai Lo Sian berulang-ulang menarik napas panjang. Ia memberi tanda kepada Lili agar supaya mendiamkan saja pemuda itu, karena air mata sewaktu-waktu amat baik sekali untuk penawar hati yang duka.

Setelah agak lama Lie Siong menangis sambil memeluk gundukan tanah itu, Lili berkata perlahan, “Tak baik bagi orang-orang gagah menumpahkan air matanya.” Lie Siong mendengar ucapan ini, terbangun semangatnya. Ia menyusut air matanya sehingga kering dan kini matanya menjadi merah. Ia berlutut di depan gundukan-gundulcan tanah itu dan berkata dengan suara menyeramkan,

“Ayah, Ibu, anakmu bersumpah bahwa sebelum aku dapat membunuh Ban Sai Cinjin, aku takkan mau berhenti berusaha.”

Setelah berkata demikian, ia lalu bangun berdiri dan menoleh kepada Lo Sian, katanya, “Lo-pek, bagaimanakah terjadinya hal ini?”

Lo Sian lalu menceritakan sejelasnya tentang sepak terjang Ang I Niocu, juga ia menceritakan pula tentang Lie Kong Sian yang tewas di tangan Ban Sai Cinjin karena ia dapat mengingat itu semua. Setelah mendengar penuturan kakek pengemis yang budiman ini, Lie Siong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian.

“Lopek, kau benar-benar telah melakukan pembelaan hebat sekali terhadap kedua orang tuaku. Aku Lie Siong bersumpah bahwa selama hidup aku akan menganggapmu sebagai orang tuaku sendiri. Lo-pek, terimalah hormatku dan rasa terima kasihku yang setulusnya.”

Lo Sian menjadi terharu. “Lie Siong, sudah sepatutnya kau menganggap aku sebagai pengganti orang tuamu, oleh karena, dengan disaksikan oleh Hong Li, ketika hendak menutup mata, ibumu berpesan agar supaya aku suka menjadi walimu. Oleh.karena itu, mulai sekarang aku menganggap kau sebagai puteraku sendiri, Siong-ji.”

“Terima kasih, Lo-pek, terima kasih.” kata Lie Siong terharu sekali. “Dan sekarang maafkanlah, aku akan cepat menyusul dan mencari Ban Sai Cinjin. Kalau tugasku ini sudah berhasil, barulah aku akan mencarimu dan selanjutnya kita hidup seperti ayah dan anak.” Setelah berkata demikian, Lie Siong hendak pergi.

“Tunggu dulu, aku pun hendak membalas dendamku kepada Ban Sai Cinjin. Mari kita gempur dia bersama!” tiba-tiba Lili berkata sambil melangkah maju.

Lie Siong menengok ke arah dara itu. Tadinya ia tidak pernah mempedulikan kepada Lili oleh karena sesungguhnya ia merasa amat jengah dan malu. Tadi gadis ini telah bersikap begitu lembut dan baik terhadapnya, sedangkan ia pernah melakukan hal-hal yang cukup dapat membuat gadis itu merasa marah dan sakit hati. Bahkan sepatu gadis itu hingga kini masih berada di saku bajunya!

“Nona, harap kau jangan menyusahkan diri sendiri. Biarlah urusan balas dendam ini kulakukan sendiri karena ini sudah menjadi tugasku yang suci.”

“Kaupikir hanya kau saja seorang yang menaruh hati dendam kepada kakek jahanam itu? Dengarlah, sebelum kau mengetahui nama Ban Sai Cinjin, muridnya pernah menculikku di waktu aku masih kecil, bahkan telah membunuh mati kakekku! Kemudian aku pernah bertempur melawan Ban Sai Cinjin dan dirobohkan dengan cara curang. Apakah itu bukan perbuatan yang harus dibalas? Belum diingat lagi betapa dia telah mengajak kawan-kawannya memusuhi kakakku Hong Beng dan calon iparku Goat Lan!”

“Aku telah mendengar akan hal itu, Nona. Akan tetapi perjalanan ini jauh sekali dan sukar karena aku sendiri belum tahu di mana adanya Ban Sai Cinjin. Tadipun sudah terlihat betapa Ban Sai Cinjin mempunyai kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, maka dapat dibayangkan betapa sukar dan berbahayanya pekerjaan ini.”

“Kaukira hanya kau sendiri saja yang memiliki keberanian? Kaukira aku taku kepada Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya?” Dengan wajah merah ia menegakkan kepala dan mengangkat dada, sepasang matanya bersinar marah. Timbul sifat-sifat keras dari dara yang seperti ibunya ini.

Sebetulnya, tak dapat disangkal lagi Lie Siong akan merasa girang dan suka sekali melakukan perjalanan bersama gadis yang setiap saat menjadi kenangannya ini. Akan tetapi apa yang ia katakan tadi memang keluar dari hatinya yang tulus. Ia merasa kuatir kalau-kalau gadis yang dicintainya ini akan menghadapi malapetaka jika ikut mencari Ban Sa Cinjin dan kawan-kawannya yang berbahaya dan berkepandaian tinggi. Ia ingin membereskan musuh besarnya ini seorang diri saja dan kemudian, barulah ia akan mendekati gadis ini. Baginya sendiri, tak usah takut karena ia telah menerima gemblengan hebat dari gurunya yang baru, akan tetapi Lili…? Tentu saja ia tidak tahu bahwa Lili juga berpikir sebanliknya! Gadis ini pernah bertempur melawan Lie Siong dan biarpun ia tahu bahwa kepandaian pemuda ini tidak rendah, namun apabila menghadapi keroyokan Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain, bisa berbahaya. Dia sendiri telah membuktikan bahwa biarpun lengan tangan kosong, Ilmu Pukulan Hang-tiong-cap-it-ciang-hoat sudah cukup hebat untuk dipergunakan menjaga diri. Pendeknya, kedua orang muda ini saling memandang ringan karena tidak tahu bahwa masing-masing telah menemukan guru baru.

“Harap kau bersabar, Nona…” Lie Siong berkata pula.

“Sungguh menyebalkan!” Lili berseru marah.

“Apa yang menyebalkan?” Lie Siong mengerutkan kening dan bertanya tak senang pula. Kalau dia dianggap menyebalkan…

“Sebutanmu dengan nona-nonaan itu! Kau adalah putera dari Ie-ie Im Giok, biarpun bukan keluarga kita sudah seperti saudara saja, atau tepatnya, kita orang segolongan. Mengapa mesti berpura-pua sheji (sungkan) seperti orang asing? Tadi kau bisa menyebut namaku, apakah sekarang sudah lupa lagi? Namaku Sie Hong Li atau seperti sebutanmu tadi cukup dengan Lili saja. Siapa sudi kau panggil nona?”

Merah muka Lie Siong mendengar ini dan untuk sesaat ia hanya menundukkan mukanya saja seperti seorang anak kecil dimarahi ibunya! Lo Sian hampir tak dapat menahan gelak tawanya melihat sikap kedua orang muda yang sama-sama keras hati ini.

“Lili,” kata Lie Siong dengan lidah berat karena sesungguhnya ia merasa sungkan dan malu-malu untuk menyebut nama ini dengan mulutnya, sungguhpun nama ini setiap saat disebut-sebutnya dengan suara hatinya, “harap kau jangan main-main suka berpikir masak-masak. Tentu saja aku maklum bahwa kau memiliki keberanian dan tidak takut menghadapi Ban Sai Cinjin. Akan tetapi… urusan membalas dendam kedua orang tuaku ini biarlah kau serahkan saja kepadaku sendiri. Hanya akulah seorang yang berhak menuntut pembalasan, karena dua orang tuaku hanya mempunyai aku seorang! Lili… maukah kau memberi sedikit kelonggaran kepadaku dan tidak akan merampas pengharapanku ini? Jangan kau mendahului aku menewaskan Ban Sai Cinjin!”

Lili tertegun. Hemm, jadi demikiankah gerangan maksud hati pemuda ini? Ia tak dapat menjawab lagi hanya memandang dengan sepasang matanya yang bening.

“Siong-ji, kau keliru!” tiba-tiba Lo Sian berkata dan kedua orang muda itu terkejut karena tadi keduanya telah lupa sama sekali akan orang tua ini! “Sebagai calon mantu, Lili juga berhak penuh seperti engkau pula, untuk membalas sakit hati ayah bundamu!” Setelah ucapan ini keluar, barulah Lo Sian sadar bahwa ia telah bicara terlalu banyak dan tak terasa lagi ia menutup mulutnya dengan tangan.

Lili tiba-tiba merasa mukanya panas dan menjadi merah sekali, maka ia lalu menundukkan mukanya. Mengapa Lo Siai membuka rahasia ini? Sungguh terlalu, pikirnya dengan gemas, akan tetapi juga girang.

Adapun Lie Siong yang mendengar ucapan ini otomatis lalu menengok ke arah Lili dan ketika melihat gadis itu menundukkan mukanya, ia menjadi makin tidak mengerti. Tadinya ia menganggap Lo Sian hanya bergurau saja untuk menggoda dia dan Lili, akan tetapi mengapa Lili gadis galak itu tidak menjadi marah, bahkan kelihatan malu-malu?

“Lo-pek, mengapa kau main-main dalam keadaan seperti ini? Mengapa Lopek menyebut Lili sebagai calon mantu ayah bundaku? Apakah artinya ini?”

Lo Sian sudah mengenal watak Lie Siong, pemuda yang tidak suka banyak bicara, akan tetapi yang berhati keras dan jujur. Setelah terlanjur bicara, ia tak dapat menutupinya lagi, maka ia lalu menceritakan dengan jelas betapa Ang I Niocu telah menganggapnya sebagai wali dan telah menetapkan perjodohan antara Lie Siong dan Lili!

“Nah, setelah sekarang kau ketahui bahwa menurut pesan ibumu, Lili adalah calon jodohmu biarpun belum diajukan pinangan resmi kepada Sie Tai-hiap, apakah kau pikir tidak sepatutnya kalau Lili nemperlihatkan baktinya kepada mendiang calon mertuanya? Ingatlah, Siong-ji, kau mengaku aku sebagai pengganti orang tuamu dan aku pun menganggap kau sebagai puteraku sendiri. Kau harus tahu bahwa lawan-lawan yang akan kauhadapi adalah orang-orang yang selain lihai juga amat cerdik dan curang. Ban Sai Cinjin kiranya tidak perlu kautakuti kepandalan silatnya, akan tetapi kau harus benar-benar awas dan waspada menghadapi siasatnya yang licin dan curang. Dengan adanya Lili membantumu, bukankah kalian akan lebih kuat dan lebih berhasil membalas dendam? Tidak saja tenagamu akan menjadi berlipat dua kali karena kepandaian Lili juga tidak rendah, bahkan kalian bisa saling menjaga dan saling bela.”

Lili yang mendengarkan semua ucapan ini sekarang tidak berani mengangkat mukanya yang kemerahan. Setelah kini rahasia itu dibuka kepada Lie Siong, entah mengapa, ia tidak berani memandang pemuda itu dengan langsung. Adapun Lie Siong juga menjadi merah mukanya, sebentar menoleh kepada makam ibunya dengan hati terharu, kemudian kadang-kadang ia mengerling ke arah Lili dengan hati berdebar tidak karuan. Juga pemuda ini tidak dapat menjawab ucapan Lo Sian sehingga orang tua itu tersenyum lalu menganggap bahwa kedua orang muda itu kini sudah setuju untuk melakukan perjalanan bersama.

“Lie Siong, dan kau Lili. Hati-hatilah kalian melakukan tugas yang berat ini. Aku akan kembali ke rumah Sie Tai-hiap untuk melaporkan semua hal ini agar mereka pun segera beramai-ramai menyusulmu untuk memberi bantuan.”

Setelah berkata demikian, Lo Sian lalu meninggalkan dua orang muda itu dengan tindakan kaki cepat.

***

Sepasang remaja itu berdiri saling berhadapan. Sampai lama sunyi saja, bibir serasa terkunci rapat-rapat karena malu untuk mengeluarkan suara. Lucu sekali kalau dilihat. Lili menundukkan mukanya yang kemerahan dan Lie Siong memandang ke lain jurusan tanpa bergerak. Pemuda ini mengerutkan keningnya. Ia seharusnya berterima kasih kepada mendiang ibunya yang demikian tepatnya memilihkan calon isteri untuknya. Ia mencintai Lili, ini ia tak ragu-ragu lagi. Bayangan gadis itu tak pernah meninggalkan cermin hatinya. Akan tetapi pada saat itu teringatlah kepada Lilani. Lili adalah seorang gadis yang cantik dan pandai, puteri dari Pendekar Bodoh, seorang gadis terhormat yang pasti akan mendatangkan peminang-perninang dari kalangan tinggi. Bagaimana ia dapat menjadi suami Lili, ia yang sudah melakukan perbuatan amat memalukan dengan Lilani? Ia yang sudah melanggar kesusilaan, yang menyia-nyiakan cinta Lilani dan yang mencemarkan kepercayaan gadis Haimi itu kepadanya? Apakah kelak Lili takkan hancur hatinya kalau mendengar tentang dia dan Lilani? Dia tahu bahwa tak mungkin selama hidup ia akan merahasiakan hal itu dari Lili, karena dengan menyimpan rahasia itu berarti bahwa ia akan menyiksa batin sendiri selamanya, akan selalu merasa sebagai seorang yang berdosa dan tidak bersih terhadap Lili!

“Siong-ko, mengapa kau diam saja. Aku merasa seakan-akan telah menjadi patung, kau juga!” tiba-tiba Lili gadis yang lincah gembira ini lebih dulu memecahkan kesunyian. Tidak kuatlah gadis seperti Lili harus berdiam seperti itu lebih lama lagi.

Lie Siong terkejut dan terbangun dari lamunannya. Ia mengangkat muka dan bertemulah dua pasang mata. Lili memandang dengan jujur dan terang, membuat Lie Siong merasa makin kotor dan tak berharga pula.

“Lili… aku… aku merasa tidak pantas…” ia menghentikan kata-katanya.

“Tidak pantas bagaimana, Siong-ko? Lanjutkanlah!” dengan kening berkerut Lili bertanya, hatinya merasa tidak enak.

“Tidak pantas seorang pemuda seperti… aku melakukan perjalanan bersama seorang dara seperti… engkau! Sudahlah, Lili, lebih baik kau pulang saja, biar aku sendiri mencari dan menghancurkan kepala Ban Sai Cinjin. Kautunggulah di rumah dan kelak… kelak mungkin kita akan bertemu lagi, kalau aku tidak roboh di tangan musuh-musuhku. Selamat berpisah!” Tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu melompat jauh dan meninggalkan tempat itu.

Lili membanting-banting kakinya dengan gemas. Ia merasa tidak dipandang mata dan diremehkan sekali. Dengan marah ia pun lalu berkelebat mengejar. Lie Siong heran sekali melihat betapa gadis itu sudah dapat menyusulnya, padahal ia telah mempergunakan ilmu gin-kangnya yang paling tinggi dan tadinya ia merasa pasti bahwa gadis itu tak mungkin dapat menyusulnya. Saking herannya ia menghentikan larinya dan menengok.

“Orang she Lie! Kalau kau tidak sudi melakukan tugas ini bersamaku, apakah kaukira aku Sie Hong Li tak dapat melakukannya sendiri? Kita sama-sama lihat saja siapa nanti yang akan lebih cepat berhasil membasmi Ban Sai Cinjin!” Setelah berkata demikian, Lili lalu mengerahkan ilmu lari cepat dan membelok ke kiri meninggalkan Lie Siong!

Lie Siong tertegun, tidak hanya melihat kemarahan gadis itu akan tetapi melihat betapa gin-kang dari gadis ini benar-benar telah sedemikian hebatnya sehingga belum tentu kalah olehnya! Ia ingat betul bahwa dahulu ketika bertempur dengan dia, kepandaian Lili belum setinggi ini. Bagaimana gadis ini demikian cepat majunya? Apakah ia khusus dilatih dan digembleng oleh Pendekar Bodoh? Betapapun juga, Lie Siong masih belum tahu bahwa gadis ini bahkan telah mahir Ilmu Pukulan Hang-liong-cap-it-ciang-hoat yang lihai sekali dan hanya mengira bahwa Lili mendapat kemajuan dalam hal gin-kang saja. Kini melihat kenekatan gadis itu mencari Ban Sai Cinjin dan tidak mau pulang, ia menjadi terkejut dan gelisah. Kalau sampai gadis itu berhasil bertemu dengan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya, bukankah itu berbahaya sekali? Tak terasa lagi, ia pun lalu mengubah arah tujuannya dan ia berlari cepat mengejar ke arah kiri.

Lili melakukan perjalanan cepat dengan tujuan Pegunungan Thian-san. Gadis ini teringat bahwa karena musim chun yang dinanti-nantikan untuk memenuhi tantangan Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya tak lama lagi tiba, paling banyak tiga puluh lima hari lagi, maka tentu Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan yang lain telah menuju ke sana.

Beberapa hari kemudian ia tiba di kota Kun-lun-an. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya juga telah berada di kota ini, bahkan telah bertemu dengan Bouw Hun Ti di tempat ini. Sebagaimana dituturkan di bagian depan, Bouw Hun Ti pergi mencari jago-jago silat yang suka membantu mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh sekeluarga. Dan pada waktu itu, Bouw Hun Ti telah berada di Kun-lin-an bersama tiga orang tosu tua yang bertubuh kurus kering, akan tetapi tiga orang tosu ini sesungguhnya adalah tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi.

Ketika Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui melarikan diri dari kejaran Lili dan Lie Siong mereka tiba di kota ini dan bertemu dengan Bouw Hun Ti. Segera mereka membuat rencana untuk membikin pembalasan. Dengan adanya tiga orang tosu itu, mereka cukup kuat untuk menghadapi Pendekar Bodoh. Memang, tiga orang tosu itu bukanlah orang-orang sembarangan saja, mereka adalah ketua dari Pek-eng-kauw (Perkumpulan Agama Garuda Putih) dari barat, bernama Thai Eng Tosu, Sin Eng Tosu, dan Kim Eng Tosu. Mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hendak menghadapi Pendekar Bodoh, tiga orang ketua Pek-eng-kauw-hwe ini dengan senang hati sanggup membantu dan ikut pergi bersama Bouw Hun Ti. Memang ketiga orang kakek ini mempunyai dendam terhadap Pendekar Bodoh. Sebetulnya bukan kepada Cin Hai mereka menaruh dendam, melainkan kepada Bu Pun Su yang telah menewaskan guru mereka (baca cerita Bu Pun Su Lu Kwan Cu atau Pendekar Sakti). Akan tetapi oleh karena Bu Pun Su sudah meninggal dunia, maka dendam mereka itu kini hendak mereka balaskan terhadap murid dari Bu Pun Su!

Oleh karena Lili telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali, setelah makan dan membersihkan tubuh berganti pakaian, dara perkasa ini lalu masuk ke dalam kamarnya di sebuah hotel untuk beristirahat. Sebentar saja ia telah pulas saking lelahnya, dan di dalam tidurnya bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan Lie Siong dan bertengkar urusan sepatunya yang dirampas dulu, kemudian mereka saling menyerang dengan hebat!

Lili tertegun dengan terkejut karena ia benar-benar mendengar suara senjata beradu nyaring sekali dan suara orang bertempur hebat! Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia hendak melompat turun dari pembaringan, tubuhnya tak dapat digerakkan! Ia hendak mengerahkan tenaganya, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa ia telah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali sehingga ia menjadi lumpuh kaki tangannya. Suara pertempuran di atas genteng makin menghebat dan dengan bingung serta tak berdaya Lili berpikir-pikir apakah yang sesungguhnya telah terjadi.

Sebagaimana diketahui, setelah ditinggalkan oleh Lili di tengah hutan itu, Lie Siong lalu mengejar dan diam-diam ia mengikuti perjalanan gadis yang dikasihinya itu. Ia tidak berani memperlihatkan muka karena ia merasa malu dan kuatir kalau-kalau Lili akan menjadi marah. Untuk melepaskan gadis itu begitu saja dan mencari jalan sendiri, ia tidak tega karena maklum betapa lihainya lawan-lawan yang mereka kejar-kejar. Diam-diam ia hendak melindungi gadis itu dan kalau sampai mereka bertemu dengan musuh, bukankah mereka akan dapat menghadapi dengan lebih kuat?

Demikianlah, ketika Lili bermalam di hotel di kota Kun-lin-an, diam-diam Lie Siong mengintai dan setelah melihat gadis itu memasuki kamarnya, ia pun lalu menyewa sebuah kamar di hotel itu juga! Ia telah mengambil keputusan besok pagi-pagi untuk menjumpai Lili dan menyatakan terus terang kehendaknya, yaitu melakukan perjalanan bersama. Ia telah nekat dan bersedia untuk ditertawai atau bahkan dimaki, karena melakukan perjalanan macam ini sungguh tidak enak baginya.

Malam itu Lie Siong tak dapat pulas. Kalau ia memikirkan hidupnya, ia menjadi amat gelisah. Kedua orang tuanya telah tewas dalam keadaan amat menyedihkan, yaitu terbunuh oleh orang jahat. Kemudian dalam perantauannya ia telah bertemu dengan Lilani yang membuat ia selalu menyesali pertemuan itu, dan akhirnya ia berjumpa dengan Lili yang telah membetot sukmanya dan menguasai cinta kasihnya, bahkan mendiang ibunya telah berniat menjodohkan dia dengan Lili. Akan tetapi kalau ia teringat akan Lilani, hatinya menjadi perih sekali. Memang betul bahwa ia telah memenuhi kewajibannya seperti yang telah dinasihatkan oleh Thian Kek Hwesio, orang tua bijaksana ahli pengobatan di kuil Siauw-limsi di Ki-ciu itu. Yaitu kewajiban untuk mengantar Lilani sampai dapat bertemu dengan suku bangsanya kembali. Kini Lilani telah berkumpul dengan suku bangsanya dan urusannya dengan Lilani telah beres. Akan tetapi betulkah urusan itu telah beres? Kalau sampai Lili mengetahui hal itu bukankah akan terjadi ribut besar?

Benar-benar Lie Siong menjadi pusing memikirkan hal ini. Tiba-tiba ia mendengar suara di atas genteng dan terheranlah dia. Itu bukan suara orang berjalan, pikirnya. Lebih pantas kalau suara seekor burung besar mengibaskan sayapnya dan turun dengan kaki hampir tak bersuara di atas genteng!

Kalau saja ia melakukan perjalanan seorang diri, tentu pemuda ini akan terus berbaring di atas tempat tidurnya, menanti saja apa yang akan terjadi. Akan tetapi pada waktu itu, pikirannya penuh dengan penjagaan terhadap Lili, maka cepat ia lalu memakai sepatunya dan menyambar Sin-liong-kiam. Setelah itu, ia lalu membuka daun jendela dan secepat kilat ia melompat keluar, terus melayang naik ke atas wuwungan rumah hotel itu.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat tiga orang tosu tinggi kurus berdiri di atas genteng tepat di atas kamar Lili dan seorang di antara mereka meniupkan asap hijau ke dalam kamar. Ketika Lie Siong menengok, selain tiga orang tosu ini masih nampak pula bayangan seorang gemuk memegang huncwe. Ban Sai Cinjin! Bukan main marahnya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang dengan pedangnya, menyerang tiga orang tosu yang sedang mempergunakan obat pulas untuk mencelakai Lili!

Memang yang datang adalah tiga orang ketua Pek-eng-kauw-hwe yang dibawa oleh Ban Sai Cinjin. Kakek berhuncwe ini telah melihat Lili berada di dalam kota. Setelah menyelidiki dan mengetahui bahwa gadis musuhnya itu bermalam di hotel itu, ia lalu mengajak kawan-kawannya untuk menawan gadis itu.

Wi Kong Siansu mula-mula menyatakan tidak setujunya, karena perbuatan ini dianggapnya terlalu memalukan mereka sebagai orang-orang gagah dan tokoh-tokoh terkemuka. Akan tetapi Ban Sai Cinjin lalu menyatakan bahwa ia sama sekali tidak hendak mencelakai Lili, hanya hendak menawannya saja sebagai tanggungan kalau-kalau mereka kelak kalah oleh Pendekar Bodoh! Biarpun kalah, kalau mereka menguasal Lili, tentu Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya tidak berani membunuh atau mencelakai mereka.

Alasan-alasan yang cerdik dari Ban Sai Cinjin membuat Wi Kong Siansu tak dapat membantah, akan tetapi tetap sala kakek ini tidak mau ikut turun tangan melakukan penangkapan itu. Juga Hailun Thai-lek Sam-kui biarpun paling doyan berkelahi tidak suka untuk ikut membantu penangkapan ini. Oleh karena itu Ban Sai Cinjin lalu minta pertolongan tiga orang ketiga Pek-eng-kauw itu.

Kepandaian tiga orang kakek ini memang hebat, kiranya tidak di sebelah bawah kepandaian Wi Kong Siansu. Selain Ilmu Silat Garuda Putih yang khusus mereka miliki, juga cara mereka melompat adalah seperti gerakan burung garuda, dengan kedua lengan dipentang dan lengan baju yang lebar seperti sayap. Selain ini, Kim Eng Tosu yang termuda di antara mereka juga merupakan seorang ahli dalam hal penggunaan obat tidur dan racun-racun yang lihai untuk merobohkan lawan. Memang, Kim Eng Tosu di waktu mudanya terkenal sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang amat ditakuti orang.

Ketika tiga orang kakek ini sedang melakukan usaha mereka menangkap Lili dengan menggunakan asap memabukkan, Lie Siong menerjang mereka dan mengerjakan Sin-liong-kiam dengan hebatnya. Dia tidak menerima pelajaran khusus dari gurunya yang baru, kecuali permainan gundu. Akan tetapi, gurunya itu telah banyak memberi perbaikan terhadap ilmu pedangnya dan ilmu silatnya. Setiap kali ia berlatih silat di depan gurunya, selalu gurunya itu mencela ini dan memperbaiki itu sehingga ilmu pedang dan ilmu silat pemuda ini mendapat kemajuan yang luar biasa sekali, di samping kemajuan-kemajuan dalam gin-kang dan lwee-kangnya.

Akan tetapi ketika ia menyerang tiga orang orang tosu itu dengan marah, tiga ketua Pek-eng-kauw itu hanya mengebutkan lengan baju mereka yang lebar dan mereka sudah dapat mengelak dengan cepat sekali. Bahkan Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu lalu menggerakkan tangan mereka dan meluncurlah ujung lengan baju yang panjang-panjang itu melakukan serangan pembalasan yang hebat. Lie Siong terkejut sekali melihat kelihaian mereka, akan tetapi ia lalu memutar pedangnya sedemikian rupa dan melawan mereka dengan sepenuh tenaga. Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu juga tertegun menyaksikan seorang pemuda yang memiliki kepandaian selihai ini, maka mereka berlaku hati-hati sekali. Lie Siong belum pernah menghadapi ilmu sesat seperti yang mereka mainkan itu yaitu dengan kedua lengan terbuka dan ujung lengan baju menyambar-nyambar, persis seperti dua ekor burung garuda besar yang menyabet-nyabet dengan sayap dan kadang-kadang menendang dengan kaki.

Adapun Ban Sai Cinjin setelah melihat bahwa yang datang adalah Lie Siong, menjadi marah sekali dan sambil tertawa bergelak ia pun maju mengurung.

“Ji-wi Toyu, pemuda ini jahat seperti srigala, harus dibunuh!”

Sementara itu, Thai Eng Tosu mempergunakan kesempatan itu untuk melompat masuk ke dalam kamar Lili yang belum terkena pengaruh asap tadi karena keburu datang Lie Siong. Akan tetapi dalam keadaan masih tidur ia telah ditotok oleh Thai Eng Tosu yang lihai sehingga ketika ia terbangun dengan kaget, ia telah tak berdaya lagi. Thai Eng Tosu memang cerdik sekali. Ketika tadi ia menyaksikan gerakan seorang pemuda yang demikian cepat dan lihainya, ia pikir lebih baik membuat gadis di dalam kamar tidak berdaya karena ia telah mendengar dari Ban Sai Cinjin bahwa gadis itupun lihai sekali. Kalau sampai gadis itu bangun dan maju berdua dengan pemuda ini, agaknya takkan mudah menangkapnya! Maka setelah membuat Lili tidak berdaya, barulah ia melompat lagi ke atas genteng untuk mengeroyok Lie Siong!

Sebetulnya dalam hal kepandaian, kalau diadakan perbandingan, biarpun dengan Ban Sai Cinjin seorang saja, Lie Siong sudah tentu kalah latihan dan kalah pengalaman. Pemuda ini dapat mengatasi Ban Sai Cinjin hanya karena ia menang tenaga, menang semangat, dan juga pemuda ini semenjak kecilnya mempelajari ilmu silat yang bermutu tinggi. Terutama sekali karena akhir-akhir ini Lie Siong menerima gemblengan yang hebat sekali biarpun dalam waktu singkat oleh seorang luar biasa, tokoh persilatan tersembunyi seperti kakek tukang main kelereng itu, maka, dalam, hal gin-kang dan lwee-kang, ia sekarang tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Ban Sai Cinjin! Namun, tetap saja Ban Sai Cinjin merupakan seorang lawan berat baginya. Apalagi sekarang di situ terdapat tiga orang tosu yang kepandaiannya rata-rata lebih tinggi daripada kepandaian Ban Sai Cinjin. Lie Siong melakukan perlawanan nekad sekali, memutar pedang naganya dengan secepat kilat dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan empat orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, diam-diam Lie Siong harus mengakui bahwa selamanya belum pernah ia menghadapi lawan-lawan yang berat seperti empat orang kakek ini. Terutama sekati Thai Eng Tosu yang bersenjatakan sebatang suling kecil. Bukan main lihai dan berbahayanya sehingga beberapa kali Lie Siong hampir saja terkena totokan suling ini kalau ia tidak cepat-cepat membuang diri ke samping.

Melihat betapa Lie Siong sukar sekali dirobohkan, Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan tiba-tiba sekali, di luar dugaan tiga orang tosu kawannya dan juga Lie Siong, Ban Sai Cinjin melepaskan tiga batang jarum beracun ke arah pemuda itu.

Lie Siong tengah sibuk menahan serangan tiga orang ketua Pek-eng-kauw yang lihai, maka tentu saja ia tidak bersiap sedia menghadapi serangan gelap ini. Ia melihat menyambarnya tiga sinar hitam ke arah tubuhnya. Cepat ia menangkis dengan kebutan tangan kiri yang menggunakan hawa pukulan Pek-in-hoatsut, namun sebatang jarum hitam tetap saja menancap pada paha kirinya di atas lutut. Lie Siong menggigit bibir dan menahan sakit, akan tetapi seketika itu juga ia merasa betapa separuh tubuhnya seakan-akan mati. Ia terkejut sekali dan maklum bahwa ia telah terkena jarum berbisa, maka ia lalu melompat ke bawah dan melarikan diri secepatnya.

Diam-diam Ban Sai Cinjin merasa girang dan juga kagum karena sedikitpun juga tidak terdengar keluhan sakit dari mulut pemuda itu, padahal ia maklum bahwa jarumnya itu mendatangkan rasa sakit yang luar biasa dan di dalam waktu tiga hari, pemuda itu tentu akan mati!

Dengan cepat ia lalu melompat turun dan memondong tubuh Lili yang tak berdaya lagi itu keluar dari kamar dan dibawa pergi bersama tiga orang tosu lihai itu! Kedatangan mereka disambut oleh Wi Kong Siansu dan Hailun Thai-tek Sam-kui yang diam-diam merasa girang juga bahwa dua orang di antara calon lawan mereka yang tangguh telah dapat dikalahkan.

“Betapapun juga harap kau berlaku hati-hati dan jangan sekali-kali mencemarkan namaku dengan perbuatan hina, Sute!” Wi Kong Siansu berkata kepada Ban Sai Cinjin sambil melirik ke arah tubuh Lili yang masih setengah pingsan.

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Jangan kuatir, Suheng. Maksudkupun hanya untuk mencegah Pendekar Bodoh berlaku kejam terhadap kita.”

Ia lalu menghampiri Lili, menotok jalan darah Koan-goan-hiat dan Kian-ceng-hiat di kedua pundak, kemudian ia membebaskan gadis itu dari keadaannya yang lumpuh. Lili terbebas dari totokan Thai Eng Tosu tadi, akan tetapi sepasang lengannya tidak dapat dipergunakan karena kedua lengan itu telah menjadi lemas tidak bertenaga lagi sebagai akibat dari totokan Ban Sai Cinjin tadi. Gadis ini berdiri dengan tegak dan tiba-tiba kedua kakinya menendang ke arah Ban Sai Cinjin dengan tendangan Soan-hong-lian-hoat-twi, yaitu kedua kakinya bertubi-tubi mengirim tendangan berantai yang amat berbahaya!

Ban Sai Cinjin terkejut sekali dan cepat ia melompat pergi, dan berkata dengan gemas, “Lihat, Suheng, betapa jahatnya gadis liar ini. Hmmm, ingin aku menghancurkan kepalanya dengan sekali ketuk agar ia tidak menimbulkan kepusingan lagi!” Ia menggenggam huncwenya erat-erat.

Wi Kong Siansu melompat maju menghadapi Lili yang memandang dengan mata mendelik. Sedikit pun gadis ini tidak takut walaupun dengan kedua tangan lumpuh ia telah tak berdaya sama sekali.

“Nona Sie, mengapa kau begitu bodoh? Kami tidak akan mengganggumu, hanya kau harus tahu bahwa di antara keluargamu dengan kami timbul permusuhan. Dengan menawan kau, Nona, kami berusaha untuk meredakan permusuhan ini. Bulan depan akan diadakan pertemuan pibu dan dengan kau di pihak kami, pinto akan berusaha agar supaya ayahmu dan kawan-kawannya tidak berlaku kejam. Betapapun juga, kita semua masih orang-orang segolongan, maka lebih baik kita menghabisi segala permusuhan yang sudah lewat.”

“Enak saja kau bicara, tosu murah!” bentak Lili dengan marah sekali. Kemudian ketika melihat Bouw Hun Ti berdiri di dekat Ban Sai Cinjin sambil memandangnya dengan senyum sindir, ia lalu mengertak gigi dan berkata, “Dengarlah, Wi Kong Siansu! Aku tidak tahu mengapa seorang seperti kau membela orang-orang berhati iblis macam Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin! Dengan kau dan yang lain-lain boleh saja aku menghabiskan permusuhan, akan tetapi aku tidak bisa memberi ampun kepada dua ekor binatang bermuka manusia ini!”

“Suheng, biar kubunuh gadis liar ini!” Ban Sai Cinjin berseru marah.

“Majulah, binatang! Kedua kakiku pun masih sanggup memecahkan dadamu!” Lili menantang.

“Sabar, Sute, mengapa mengumbar nafsu? Nona Sie, sikapmu ini benar-benar hanya akan menyusahkan dirimu sendiri saja. Kalau kau menurut saja ikut dengan kami ke Thian-san, kami takkan mengganggumu. Akan tetapi kalau kau menimbulkan kesulitan, agaknya terpaksa kau harus dibikin lumpuh dan hal ini tentu tak kau kehendaki, bukan?”

Biarpun ia merasa mendongkol dan ingin memaki-maki semua orang itu, tetapi ia merasa bahwa ucapan Wi Kong Siansu ini ada benarnya juga. Ia sudah tak berdaya lagi, biarpun ia akan mengamuk dengan kedua kakinya, tetap saja ia takkan sanggup menang. Kalau sampai ia dibikin lumpuh seperti tadi, lebih tidak enak lagi, maka ia lalu diam saja sambil menundukkan mukanya. Gadis ini tidak takut sama sekali. Ia diam saja untuk memutar otak mencari jalan bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kekuasaan orang-orang ini. Ia telah mendengar pertempuran-pertempuran di atas genteng dan menduga-duga siapakah orangnya yang bertempur melawan Ban Sai Cinjin. Ia tidak tahu bahwa tadi Lie Siong berusaha menolongnya, dan bahwa pemuda itu kini telah melarikan diri dengan menderita luka hebat oleh panah beracun dari Ban Sai Cinjin!

Lie Siong melarikan diri dengan hati gelisah sekali. Rasa sakit yang hebat pada kakinya tidak melebihi sakit hatinya, karena ia selalu berkuatir memikirkan nasib Lili. Kalau saja ia tidak memikirkan Lili, tadipun ia tentu akan menerjang mati-matian dan biarpun sudah terluka hebat, ia lebih baik mati daripada melarikan diri. Akan tetapi ia harus menolong Lili, oleh karena itu ia harus hidup untuk dapat menyusul dan menolong Lili.

Ia telah berlari jauh sekali dan perbuatannya ini menghebatkan pengaruh bisa di luka itu. Ia kini merasa seluruh tubuhnya panas dan pandang matanya berkunang-kunang. Ia memang hendak mempertahankan diri, akan tetapi pandangan matanya makin gelap dan akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh di atas rumput tak sadarkan diri lagi.

Ban Sai Cinjin tidak akan demikian tersohor namanya kalau tidak amat lihai dalam menggpnakan huncwe maut dan kalau saja senjata rahasianya tidak amat ganas. Kakek ini memang seorang ahli dalam penggunaan racun yang amat ganas dan jahat, maka ia merasa pasti bahwa pemuda putera Ang I Niocu yang terkena racun pada panah hitamnya tentu akan mati dalam waktu tiga hari. Memang keadaan Lie Siong mengerikan sekali. Kaki kirinya dari batas paha ke bawah telah berwarna kehitam-hitaman dan tubuhnya panas luar biasa. Ia pingsan dan menggeletak di atas rumput sampai fajar mendatang.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin agaknya lupa bahwa mati hidup seseorang tak dapat ditentukan oleh manusia yang manapun juga. Apabila Thian (Tuhan) menghendaki, seseorang boleh hidup walaupun nampaknya tak mungkin bagi pendapat seorang manusia, sebaliknya seseorang yang nampak sehat segar boleh mati di saat itu juga apabila telah dikehendaki oleh Thian.

Demikianlah pada saat Lie Siong rebah seperti mati di atas rumput dan tubuhnya diselimuti embun pagi, datanglah dua sosok bayangan orang melalui tempat itu. Dua orang ini gerakannya cepat sekali dan ketika melihat seorang pemuda menggeletak di tempat itu, mereka lalu mendekati dan memeriksa.

“Dia adalah putera Ang I Niocu…!” seru suara seorang laki-laki.

“Betul, Koko, dia adalah Lie Siong penolong dari Adik Cin!” seru yang wanita, seorang gadis yang cantik jelita. Mereka ini bukan lain adalah Goat Lan dan Hong Beng yang kebetulan sekali lewat di tempat itu dan mendapatkan Lie Siong menggeletak di jalan.

“Aduh, panas sekali tubuhnya!” Hong Beng berseru ketika ia meraba jidat Lie Siong.

“Lihat, Koko, pahanya terluka dan tentu terkena serangan senjata beracun. Mari, angkat dia ke tempat yang lebih baik, Koko. Aku harus mencoba menolongnya cepat-cepat!” kata Goat Lan, murid dari mendiang Yok-ong Sin Kong Tianglo Raja Tabib! Hong Beng lalu memondong tubuh Lie Siong yang panas sekali itu dan mereka membawanya masuk ke dalam sebuah hutan kecil dan meletakkan pemuda itu di bawah pohon besar, di atas tanah yang bersih dan kering. Goat Lan telah menurunkan buntalan pakaiannya, menggulung lengan bajunya dan mengeluarkan obat-obat penolak racun yang selalu dibekalnya. Kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi dan amat cekatan, menjadikan kekaguman Hong Beng yang membantunya, Goat Lan lalu menyingsingkan pakaian Lie Siong dari bawah sehingga nampak paha yang terluka oleh panah tangan itu. Tanpa ragu-ragu lagi gadis ini lalu menggunakan bambu runcing itu untuk ditusukkan ke arah luka yang telah membengkak dan berwarna merah kehitaman itu.

Darah hitam mengalir keluar dari luka tusukan bambu runcing ini dan Goat Lan lalu menggunakan telunjuknya untuk menotok pangkal paha dan beberapa bagian jalan darah di kaki kiri Lie Siong. Kemudian ia mengurut kaki itu, menghalau darah yang sudah terkena racun supaya keluar dari paha itu sehingga Hong Beng sendiri diam-diam merasa ngeri dan mengutuk orang yang menggunakan panah tangan. Kemudian Goat Lan lalu menempelkan obat pada luka di paha itu, minta supaya Hong Beng membereskan pakaian Lie Siong. Setelah kepala Lie Siong dibasahi air dan sedikit arak dimasukkan ke dalam mulutnya, pemuda ini siuman kembali. Akan tetapi ia masih menutup kedua matanya dan bibirnya bergerak, “Lili… Lili…!”

Goat Lan dan Hong Beng saling pandang penuh arti dan keduanya tersenyum kecil. Goat Lan lalu mencairkan tiga butir pel merah ke dalam arak dan menyuruh tunangannya meminumkannya.kepada Lie Siong.

Barulah Lie Siong membuka matanya dan ia memandang kepada mereka dengan mata mengandung keheranan. Akan tetapi ia segera meramkan kedua matanya lagi dan mengeluh. Kakinya terasa sakit bukan main.

“Jangan bergerak dulu, Saudara Lie Siong dan minumlah obat ini segera,” kata Hong Beng dengan ramah. Lie Siong kembali membuka mata dan sambil menatap wajah Hong Beng, ia lalu minum obat itu yang terasa pahit akan tetapi berbau harum itu. Setelah obat itu memasuki perutnya, ia merasa betapa panas di dalam dada dan perutnya berangsur-angsur menghilang. Kemudian, tiba-tiba ia tak dapat lagi menahan rasa kantuknya dan tubuhnya menjadi lemas, terus ia tertidur nyenyak. Memang ini adalah khasiat dari obat yang diberikan oleh Goat Lan itu.

“Tak lama lagi dia akan sembuh,” kata Goat Lan kepada Hong Beng. “Kalau ia terus pulas itu berarti bahwa racun di dalam tubuhnya telah bersih, kalau ia tidak dapat pulas, agaknya terpaksa aku harus mengeluarkan banyak darahnya pula. Sekarang ia hanya memerlukan obat penambah darah saja.” Hong Beng mengangguk-angguk dan kembali ia memandang kepada tunangannya dengan penuh kekaguman sehingga Goat Lan menjadi merah mukanya.

“Mengapa kau memandangku seperti itu?” tegurnya.

“Lan-moi, kau… hebat sekali!”

“Hush, aku hanya murid yang bodoh dari Yok-ong guruku,” kata gadis ini yang seakan-akan hendak mengingatkan kepada Hong Beng bahwa yang patut mendapat pujian adalah mendiang gurunya. Memang demikianlah watak yang amat baik dari Goat Lan. Tidak suka sombong dan selalu merendahkan diri, biar terhadap tunangan sendiri sekalipun.

Mereka tidak merasa heran ketika tadi Lie Siong menyebut-nyebut nama Lili dalam igauannya, karena kedua orang muda ini belum lama yang lalu telah berjumpa derigan Lo Sian. Dari Sin-kai Lo Sian mereka telah mendengar tentang kematian Ang I Niocu dan mendengar akan pesan Ang I Niocu untuk menjodohkan Lie Siong dengan Lili. Kemudian Sin-kai Lo Sian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pendekar Bodoh, adapun Goat Lan dan Hong Beng melanjutkan perjalanan untuk mencari Ban Sai Cinjin. Memang, kedua orang muda ini meninggalkan tempat tinggal mereka dengan dua tujuan. Pertama-tama untuk mencari Lili yang belum juga pulang, kedua kalinya untuk mencari Ban Sai Cinjin, karena Goat Lan ingin minta kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip yang telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin.

Orang tua mereka berhati-hati, kemudian Pendekar Bodoh bahkan berpesan agar supaya mereka terus saja menuju ke Thian-san, karena tak lama lagi Pendekar Bodoh sendiri pun akan menuju ke sana untuk menyambut tantangan pibu dari Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya. Oleh karena itulah, maka Goat Lan dan Hong Beng mengambil jalan ini dan bertemu dengan Lie Siong.

Setelah hari menjadi senja, barulah Lie Siong bangun dari tidurnya. Begitu bangun ia segera bertanya kepada Hong Beng,

“Siapakah Ji-wi (Saudara berdua) yang telah menolong siauwte yang bodoh?”

Hong Beng dan Goat Lan tersenyum. “Saudara Lie Siong,” kata Hong Beng, “kami bukanlah orang-orang lain, aku adalah Sie Hong Beng dan dia ini adalah Kwee Goat Lan.”

Lie Siong benar-benar terkejut. Ketika ia dan gurunya mengirim kembali Kwee Cin ke benteng Alkata-san, ia tidak memperhatikan semua orang maka ia tidak melihat mereka ini.

“Ah…” katanya dengan tercengang, kemudian wajahnya yang tampan nampak gembira, akan tetapi segera ia meniadi pucat ketika teringat kepada Lili, maka ia lalu melompat berdiri. “Celaka… kita harus cepat kejar mereka!”

“Saudara Lie Siong, tenanglah. Biarpun lukamu sudah sembuh, akan tetapi lukamu masih lemah dan kegugupanmu itu amat tidak bagi kesehatanmu,” kata Goat Lan sambil memandang tajam penuh perhatian seperti layaknya seorang tabib memandang kepada pasiennya. Mendengar omongan ini, Lie Siong baru sadar. Ia pun sudah mendengar bahwa Kwee Goat Lan adalah tunangan Sie Hong Beng dan adalah seorang gadis ahli pengobatan, maka ia lalu menjura memberi hormat sambil berkata,

“Siauwte memang seorang bodoh dan kasar, sampai-sampai lupa untuk menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Li-hiap. Tanpa pertolonganmu, agaknya nyawaku sudah lenyap dalam tangan Ban Sai Cinjin.”

“Lie Siong, jangan main sandiwara! Namaku Goat Lan, panggil saja namaku karena Lili biasanya juga memanggil namaku begitu saja!” Kegembiraan Goat Lan timbul kembali, akan tetapi segera disusulnya kelakarnya ini dengan kata-kata sengit, “Di mana Ban Sai Cinjin si keparat? Apakah dia pula yang melukai pahamu?”

Lie Siong senang sekali melihat sikap Goat Lan ini, seorang gadis yang lincah dan yang mengingatkan dia akan kejenakaan dan kegalakan Lili, akan tetapi pada saat itu hatinya penuh oleh kekuatiran, terhadap nasib Lili, maka ia lalu berkata, “Celaka sekali. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang amat lihai telah menculik Lili! Ketika aku hendak menolong, mereka mengeroyok dan secara curang sekali Ban Sai Cinjin telah melukaiku dengan panah beracun.” Ia lalu menuturkan dengan singkat tentang peristiwa itu. Goat Lan dan Hong Beng menjadi marah sekali.

“Ban Sai Cinjin manusia curang dan pengecut!” Hong Beng menggeram. “Awas saja kepalamu, kakek jahanam, akan kuhancurkan kepalamu kalau sampai kau berani mengganggu adikku.”

“Kau baru sehari semalam meninggalkan mereka. Mereka itu tentu takkan lari jauh. Mari kita mengejar mereka,” kata Goat Lan. Maka berangkatlah tiga orang muda yang perkasa ini menuju ke Thian-san sambil mencari keterangan di jalan tentang Ban Sai Cinjin dan rombongannya. Memang tidak salah, menurut petunjuk dari penduduk kampung yang mereka lalui, Ban Sai Cinjin mengambil jalan ini dan agaknya rombongan itupun menuju ke Thian-san pula. Sayangnya bahwa Lie Siong belum boleh mempergunakan terlalu banyak tenaga sehingga pengejaran itu tidak dapat dilakukan dengan cepat-cepat. Sedikitnya lima hari Lie Siong harus memulihkan tenaganya kembali, kata Goat Lan dan pemuda itu tentu saja menurut nasihat nona penolongnya.

***

Tiga orang muda itu sungguh gagah. Melihat mereka berjalan cepat mendaki gunung melompati jurang, sungguh membuat orang merasa kagum sekali. Hong Beng nampak gagah dengan tubuhnya yang tegap dan wajahnya tampan. Lie Siong berpakaian kuning, pedang naganya menempel di punggung, tubuhnya lebih kecil daripada Hong Beng, akan tetapi ia tampan sekali. Adapun Goat Lan benar-benar nampak cantik jelita dan gagah. Sepasang bambu runcingnya tergantung di punggung seperti pedang. Sambil berlari cepat, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalaman masing-masing dan makin lama Lie Siong makin suka kepada sepasang orang muda ini. Ia diam-diam menyesal mengapa tidak semenjak kecil ia bersahabat dengan orang-orang ini, dan diam-diam ia merasa girang bahwa dahulu ibunya adalah sahabat baik dari orang-orang tua Goat Lan dan Hong Beng. Bahkan ada rasa bangga dalam hatinya karena mereka membicarakan ibunya dengan kekaguman, apalagi Goat Lan yang pernah ditolong oleh ibunya.

Beberapa hari kemudian mereka sudah sampai jauh di barat dan tiba di daerah bergunung yang gundul tiada pohon. Tiba-tiba mereka melihat bayangan seorang kakek melompat-lompat di atas batu dan dilihat dari jauh orang itu seperti seekor garuda putih saja, karena kedua ujung lengan bajunya yang lebar dan panjang itu berkibar di kanan kirinya seperti sayap dan ujung baju di belakang terbawa angin seperti ekornya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: