Pendekar Remaja ~ Jilid 34 ~ Tamat

“Dia adalah Thai Eng Tosu pembantu Ban Sai Cinjin!” tiba-tiba Lie Siong berseru dan tahu-tahu ia telah meninggalkan kedua orang kawannya dan mengejar ke atas dengan pedang Sin-liong-kiam di tangan. Melihat gerakan dari Lie Siong yang demikian cepatnya ini, Goat Lan dan Hong Beng terkejut dan kagum sekali. Memang selama ini Lie Siong belum pernah memperlihatkan kepandaiannya.

“Tosu keparat, ke mana kau hendak pergi?” Lie Siong membentak sambil mengejar. Memang tosu itu adalah Thai Eng Tosu, orang tertua dari tiga ketua Pek-eng-kauw. Mendengar seruan ini, kakek ini berhenti dan menengok, lalu tersenyum ketika ia mengenal pemuda ini. “Jadi kau sudah sembuh? Bagus, memang orang yang benar selalu dilindungi oleh Thian.” “Jangan berpura-pura alim, siapa tidak tahu bahwa kau adalah kawan dari Ban Sai Cinjin yang jahat?” bentak Lie Siong sambil memutar pedangnya. “Anak muda, memang sudah sepatutnya aku dimaki. Aku dan adik-adikku telah terbuiuk oleh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi semenjak ia merampas puteri Pendekar Bodoh itu, aku mencuci tangan dan meninggalkan rombongannya. Hanya kedua adikku yang masih ikut.” Ia menarik napas panjang tanda bahwa hatinya kesal. “Di mana rombongan itu membawa Lili?” Lie Siong bertanya dengan suara mengancam. “Katakanlah, baru aku akan mengampuni jiwamu.” “Kaukira aku demikian busuk hati untuk mengkhianati mereka? Carilah sendiri!” Lie Siong marah. “Bagus, kalau begitu kau harus mampus!” Thai Eng Tosu mengeluarkan suling bambunya yang kecil. “Majulah, anak muda, mari kita main-main sebentar. Kalau betul-betul kau dapat mengalahkan sulingku ini, aku berjanji hendak memberi tahu dirimu ke mana mereka itu membawa puteri Pendekar Bodoh!” Lie Siong sudah merasa gemas sekali dan cepat menyerang dengan pedangnya. Tosu itu menangkis dan segera mereka bertempur dengan seru di atas tempat yang penuh batu karang itu. Sementara itu, Goat Lan dan Hong Beng juga sudah mengejar sampai di tempat itu, akan tetapi melihat betapa pedang Lie Siong bergerak hebat sekali, Hong Beng berkata, “Biarlah, kita menonton dari dekat saja dan jangan dibantu kalau Lie Siong tidak terdesak. Dia keras hati, kalau kita bantu, jangan-jangan dia akan merasa tak senang.” “Seperti Lili…” kata Goat Lan. “Memang mereka cocok sekali seperti kita…” kata Hong Beng. Kerling mata Goat Lan menyambar dan keduanya tersenyum bahagia. Gerakan ilmu silat tosu itu memang benar-benar lihai sekali dan makin lama ia bertempur, makin nampak nyata bahwa ilmu silatnya itu memiliki gerakan-gerakan seperti seekor burung garuda. Akan tetapi kini ia menghadapi Lie Siong yang, selain berkepandaian tinggi juga sedang marah dan sakit hati sekali sehingga pedang naganya bergerak bagaikan kilat menyambar-nyambar cepatnya. Pada jurus ke lima puluh setelah Lie Siong mulai mendesak lawannya, tiba-tiba pemuda itu menyambarkan pedangnya membabat ke arah leher Thai Eng Tosu. Pendeta ini membungkuk dan merendahkan tubuh sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi ia tahu bahwa lidah naga yang merah itu tidak tinggal diam dan tahu-tahu sulingnya yang berada di tangan kanannya telah terlibat dan terbetot oleh lidah naga itu. Sekali Lie Siong membentak sambil menendang, tosu itu terpaksa mengelakkan diri dan otomatis sulingnya kena dirampas oleh Lie Siong! “Sudahlah, sudahlah, memang yang benar selalu menang!” tosu itu berkata sambil menghela napas ketika melihat betapa sulingnya hancur dibanting oleh Lie Siong. “Baru tiga hari yang lalu mereka meninggalkan tempat ini menuju ke Thian-san. Lekaslah kau menyusul ke barat, anak muda yang gagah.” Lie Siong segera memberi tanda kepada Goat Lan dan Hong Beng dan mereka bertiga berlari cepat sekali meninggalkan Thai Eng Tosu yang memandang dengan bengong. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan berkata seorang diri, “Keturunan Bu Pun Su memang lihai… lihai…” Sepekan kemudian, tibalah mereka di kota Hami dan ketika mereka bertanya-tanya mereka mendengar berita tentang Ban Sai Cinjin dan rombongannya, bahkan mendengar cerita tentang Lili yang amat menarik hati sekali. Ternyata bahwa rombongan Ban Sai Cinjin yang terdiri dari Lili, Wi Kong Siansu, Bouw Hun Ti, Hailun Thai-lek Sam-kui dan kedua tosu dari Pek-eng-kauw, setelah tiba di kota Hami, lalu mereka berhenti di sebuah kuil di mana Ban Sai Cinjin sudah kenal baik dengan pengurusnya. Lili masih tetap dalam keadaan tak berdaya dan biarpun gadis ini selalu berusaha untuk melepaskan diri, namun tidak ada kesempatan sama sekali baginya. Gadis ini tidak putus harapan dan ia pun menjaga kesehatannya dengan baik, tak pernah menolak untuk makan dan minum, akan tetapi sama sekali tidak mau bicara dengan mereka. Ban Sai Cinjin mengalami kepusingan pertama ketika Thai Eng Tosu “mogok” di pegunungan itu dan tidak mau melanjutkan perjalanannya karena tidak setuju dengan ditawannya Lili. Kemudian ia menjadi makin pusing karena nampaknya Kim Eng Tosu dan juga Bouw Ki, orang termuda dari Hailun Thai-tek Sam-kui, tergila-gila kepada Lili dan beberapa kali mencoba mengganggunya.

Setelah tiba di kuil itu, Bouw Hun Ti lalu mengajukan usulnya kepada Ban Sai Cinjin, yaitu agar supaya Lili dikawinkan saja dengan upacara yang sah kepadanya! Ban Sai Cinjin melotot dan hendak memakinya, akan tetapi Bouw Hun Ti berkata dengan sungguh-sungguh, “Suhu, ada tiga hal penting sekali yang mendorong teecu mengajukan usul ini. Pertama, biarpun teecu telah berusia empat puluh lebih akan tetapi teecu masih belum menikah, dan seorang isteri Nona Sie itu sudah cukup memenuhi syarat. Ke dua, kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu, kiranya Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya akan suka menghabiskan perkara permusuhannya dengan kita, karena adanya ikatan keluarga dengan teecu dan pula Nona Sie kalau sudah menjadi isteri teecu tentu akan suka mencegah orang tuanya mengganggu kita. Ke tiga, kita akan terbebas pula dari gangguan-gangguan kawan-kawan sendiri yang tergila-gila kepada Nona Sie!” Mendengar ini Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk girang. Memang betul sekali alasan-alasan muridnya ini, maka ia lalu minta pendapat dari semua orang. Seperti biasa, Wi Kong Siansu tidak pedulikan urusan yang dianggapnya remeh ini, adapun Hailun Thai-lek Sam-kui juga tidak berani mencegahnya. Demikian juga dua orang tosu dari Pek-eng-kauw. “Kalau saja Nona Sie suka, tentu tidak ada orang yang berkeberatan,” kata Bouw Ki, orang ke tiga dari Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menyembunyikan kecewanya. Ban Sai Cinjin tersenyum. Untuk ini ia sudah pikirkan baik-baik. “Tentu saja ia akan suka. Cu-wi lihat saja sendiri nanti.” Dan pada keesokan harinya, kuil itu dihias meriah dan penduduk yang mendengar kabar bahwa di situ akan dilangsungkan pernikahan antara dua orang-orang pelancong, berduyun datang menonton. Dan benar saja, tidak seperti biasanya, Lili kini menurut saja ketika dirias seperti pengantin dan dipertemukan dengan Bouw Hun Ti di depan meja sembahyang! Tentu saja Hailun Thai-lek Sam-kui dan yang lain-lain merasa heran sekali. Sebetulnya tak usah dibuat heran, kalau orang sudah mengenal betul siapa adanya Ban Sai Cinjin. Seperti juga pernah ia lakukan kepada Sin-kai Lo Siang kini ia pun mempergunakan pengaruh obat beracun yang dicampur di dalam makanan yang dimakan oleh Lili malam tadi. Hanya bedanya, kalau Sin-kai Lo Sian dahulu menjadi gila dan terampas ingatannya, kini Lili hanya terampas ingatannya dan lumpuh kemauannya saja. Ia seakan-akan menjadi seorang tanpa semangat dan menurut saja apa yang orang perintahkan kepadanya! Akan tetapi, selagi hwesio penjaga kelenteng itu hendak melakukan upacara sembahyang bagi sepasang pengantin, tiba-tiba dari antara penonton muncul seorang kate kecil yang bernyanyi sambil menenggak araknya, kemudian ia melangkah ke depan dan mendorong hwesio itu sehingga terjungkal! “Enak saja orang mengawinkan anak orang tanpa bertanya kepada orang tuanya!” seru orang tua kate itu sambil menggandeng tangan Lili. “Lebih baik dikawinkan dengan aku Si Tua Bangka!” Bouw Hun Ti marah sekali akan tetapi ketika ia memandang seperti juga Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain ia menjadi kaget sekali karena kakek kate ini bukan lain adalah Im-yang Giok-cu! Kedua tokoh Pek-eng-kauw yang tidak kenal siapa adanya kakek kate ini, menjadi marah melihat kekurangajarannya, maka cepat sekali Sin Eng Tosu dan Kim Eng Tosu menyerang dengan ujung lengan baju mereka. “Enyahlah kau orang kate!” Akan tetapi bukan main hebatnya akibat dari hinaan dan serangan ini. Orang tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak tahu-tahu kedua orang tosu berpakaian putih itu jatuh tersungkur ke kolong meja dalam keadaan pingsan! Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan sebelum Ban Sai Cinjin dapat mencegah, Bouw Hun Ti telah melakukan serangan kilat yang hebat sekali ke arah kepala orang kate yang tertawa-tawa itu! Im-yang Giok-cu mendengar sambaran angin dari belakang tanpa menengok lagi lalu mengangkat guci araknya yang kehijauan itu. “Traaaaang!” golok yang dipegang oleh Bouw Hun Ti terpental dari pegangan saking kerasnya benturan dua macam benda ini. Dan sebelum Bouw Hun Ti sempat mengelak, tangan Im-yang Giok-cu telah “masuk” ke dalam iganya. Bouw Hun Ti mengeluh panjang lalu tubuhnya terkulai ke atas lantai! Orang-orang yang menonton pengantin menjadi panik dan berserabutan melarikan diri sehingga tempat itu sebentar saja menjadi sunyi, hanya ada Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Im-yang Giok-cu, dan Lili saja yang masih berdiri, karena dua orang tosu Pek-eng-kauw dan Bouw Hun Ti masih belum dapat bangun. Adapun hwesio yang tadi melakukan upacara sembahyang telah berlari sembunyi entah kemana. Hailun Thai-lek Sam-kui yang doyan berkelahi ketika melihat orang kate yang datang-datang mengamuk, segera mencabut senjata masing-masing, akan tetapi Ban Sai Cinjin segera memberi tanda dengan tangannya, mencegah kawan-kawannya itu turun tangan. Mata Im-yang Giok-cu yang lihai melihat gerakan mereka ini, maka setelah tertawa bergelak ia lalu berkata menantang, “Ha-ha-ha, Sam-kui (Tiga Setan), mengapa tidak jadi mencabut senjata? Kalau kalian hendak meramaikan pesta perkawinanku, marilah maju!” Ban Sai Cinjin buru-buru maju dan menjura di depan Im-yang Giok-cu. “Totiang, belum lama ini kita saling bertemu dan tidak ada urusan sesuatu di antara kita. Mengapa Totiang hari ini menggagalkan pernikahan yang sah dan baik-baik?”

Im-yang Giok-cu menjemput cawan arak di atas meja yang masih penuh lalu menenggaknya. Akan tetapi ia lalu menyemburkan arak itu ke arah Ban Sai Cinjin yang biarpun sudah cepat mengelak, masih saja ujung bajunya terkena arak dan baju itu menjadi bolong-bolong! Ia kaget sekali dan pucatlah mukanya. “Arak busuk, seperti orangnya!” Im-yang Giok-cu memaki. “Ban Sai Cinjin, kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk. Kaukira aku tidak melihat bahwa nona ini terpengaruh oleh obatmu yang jahat? Hayo kau lekas memberi obat penawarnya, kalau tidak, jangan bilang Im-yang Giok-cu keterlaluan kalau aku membunuh muridmu dan juga kau dan kawan-kawanmu di tempat ini juga tanpa menanti sampai di puncak Thian-san!” Wi Kong Siansu bangun berdiri dengar marah mendengar ucapan sombong ini, akan tetapi Ban Sai Cinjin cepat melangkah maju dan berkata dengan hormatnya, “Totiang, ternyata matamu tajam sekali. Akan tetapi sayang, aku tidak mempunyai obat penawarnya! Biarlah kau boleh mengamuk belum tentu kami kalah, akar tetapi Nona ini selamanya akan menjadi seorang boneka hidup!” Ban Sai Cinjin yang cerdik ini hendak menggunakan keadaan Lili sebagai kunci kemenangan! Im-yang Giok-cu menjadi ragu-ragu, kemudian ia berkata, “Ban Sai Cinjin, buku Thian-te Ban-yo Pit-kip berada bersamamu, bukalah lembarannya dan carilah di dalamnya, tentu ada obat penawar untuk racunmu yang keji ini.” Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan melangkah mundur dua tindak. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya. “Kitab itu sudah terbakar…” “Sudahlah, jangan seperti anak kecil! Dahulu Sin Kong Tianglo pernah memperlihatkan kepadaku bahwa kitab itu terbuat dari kertas yang tak dapat terbakar karena sudah direndam obat. Jangan kau bermain gila di hadapanku. Sekarang begini sajalah, kau kembalikan kitab itu kepadaku agar Nona ini dapat ditolong, dan aku melepaskan muridmu dan takkan turun tangan, baik di sini maupun di Thian-san. Nah, bagaimana? Apakah kau memilih kekerasan?” Setelah berpikir-pikir sejenak, Ban Sai Cinjin akhirnya mengalah. Dikeluarkan ktab Thian-te Ban-yo Pit-kip yang memang disimpannya dan dahulu yang terbakar adalah kitab tiruannya saja. Bersama-sama mereka lalu mencari obat penawar untuk Lili dan ternyata obat itu mudah saja. Ban Sai Cinjin lalu menyediakan obat itu dan setelah Lili disuruh meminumnya yang dilakukan dengan taat, gadis itu lalu jatuh pulas. Setengah hari Lili tidur, ditunggui oleh Im-yang Giok-cu dan semua orang tidak ada yang berani turun tangan. Kemudian, menjelang senja Lili sadar dan ternyata ia telat sembuh kembali! Ia hendak mengamuk, akan tetapi Im-yang Giok-cu mencegahnya dan memperkenalkan diri sebagai guru Goat Lan. “Kau pergilah dan bawalah kitab ini, kembalikan kepada Goat Lan.” Lili tidak membantah, setelah menghaturkan terima kasihnya lalu melompat dan menghilang di dalam gelap. Tentu saja Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali ketika melihat Lili melarikan diri dan membawa kitab itu. Ia hendak mengejar, akan tetapi Im-yang Giok-cu menghadangnya, “Kitab itu adalah milik Yok-ong, harus dikembalikan kepada muridnya.” “Im-yang Giok-cu, kau terlalu sekali! Kau sudah berjanji takkan menggunakan kekerasan, akan tetapi tidak saja kau menghina kami, bahkan kitab itu pun kausuruh bawa pergi.” “Tenang, Ban Sai Cinjin. Aku hanya berjanji bahwa aku tidak akan menggunakan kekerasan dan tidak ikut bertempur di sini maupun di Thian-san. Aku tidak berjanji apa-apa tentang kitab itu, dan tentang gadis itu… dia puteri Pendekar Bodoh, harus dihormati dan ditolong.” “Keparat!” seru Ban Sai Cinjin dan dengan gemas ia lalu memberi isyarat kawan-kawannya untuk mengeroyok. Im-yang Giok-cu tertawa bergelak-gelak lalu memutar guci araknya menghadapi keroyokan banyak orang. Hebat sekali sepak terjang kakek kate ini, akan tetapi pengeroyoknya terlalu banyak. Ia dikepung oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, yaitu oleh Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, tiga kakek Hailun Thai-lek Sam-kui, Sin Eng Tosu, Kim Eng Tosu dan juga Bouw Hun Ti! Betapapun lihainya Im-yang Giok-cu, tentu saja ia tidak tahan menghadapi lawan yang tidak seimbang ini. Kepandaiannya hanya setingkat lebih tinggi daripada Wi Kong Siansu, sedangkan para pengeroyoknya, kecuali Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin, memiliki kepandaian setingkat dengan Wi Kong Siansu. Beberapa kali kakek kate ini telah menerima pukulan senjata lawan dan biarpun tidak mendatangkan luka hebat, tetap saja makin melemahkan tenaganya. Akhirnya, ujung payung yang lihai dari Thian-te Te-it Siansu telah berhasil menotok iganya dengan telak dan keras sehingga kakek kate ini terhuyung-huyung sambil tertawa bergelak. Ia lalu melontarkan guci araknya sedemikian kerasnya dan orang yang sial menerima hantaman guci arak ini adalah Bouw Hun Ti sendiri! Guci arak yang melayang dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi dan dengan mengeluarkan suara keras, guci arak dan kepala Bouw Hun Ti menjadi remuk dan orang jahat itu telah menghembuskan napas terakhir sebelum tubuhnya roboh ke lantai! Ternyata bahwa maut telah meminjamkan tangan Im-yang Giok-cu untuk membalaskan dendam orang-orang yang dibikin sakit hati oleh Bouw Hun Ti.

Melihat muridnya binasa, Ban Sai Cinjin memekik marah dan ia lalu melompat mendekati Im-yang Giok-cu yang terluka hebat. Sekali huncwenya terayun, terdengar suara pletak, dan retaklah kepala Im-yang Giok-cu yang membuat nyawanya melayang meninggalkan raganya. Ban Sai Cinjin merasa menyesal sekali. Tidak saja ia kehilangan Lili, bahkan juga kehilangan kitab obat itu. Hanya sedikit keuntungannya, di samping kerugian kehilangan murid, mereka telah berhasil membunuh Im-yang Giok-cu, karena kalau kakek kate ini ikut membantu Pendekar Bodoh, ia merupakan tenaga yang amat menguatirkan. Ketika Goat Lan mendengar berita tentang kematian Im-yang Giok-cu, ia menangis sedih sekali dan mengajak Lie Siong serta Hong Beng untuk mengunjungi kuburan Im-yang Giok-cu di belakang kelenteng. Jenazah kakek kate ini telah diurus oleh hwesio-hwesio dan dimakamkan di belakang kelenteng, bersama dengan jenazah Bouw Hun Ti yang juga dimakamkan di bagian lain di belakang kelenteng. Goat Lan menangis dan bersembahyang di kuburan gurunya, bersumpah untuk membalaskan dendam kepada Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya. Malam harinya mereka bertiga bermalam di kelenteng itu dan alangkah girang hati mereka ketika tiba tiba Lili muncul dari dalam gelap! Goat Lan menubruk dan memeluk Lilit lalu beramai-ramai empat orang muda itu saling menuturkan pengalaman mereka. Ternyata setelah ditolong oleh Im-yang Giok-cu, Lili bersembunyi di dalam sebuah hutan di dekat kota itu. Kemudian, pada keesokan harinya ia mendengar tentang kematian Im-yang Giok-cu, maka menyesallah dia mengapa ia tidak dapat membantu kakek penolongnya itu. Ia pikir bahwa masanya untuk mengadu kepandaian di Thai-san sudah tiba, maka lebih baik ia menanti di situ untuk mencari kawan-kawan guna menghadapi Ban Sai Cinjin yang benar-benar amat curang dan lihai. “Dan bagaimana kalian bertiga bisa bersama-sama?” tanya Lili sambil mengerling ke arah Lie Siong yang semenjak tadi diam saja, hanya kadang-kadang memandang kepada Lili dengan hati bersyukur bahwa gadis yang dicintainya itu telah terhindar dari bahaya hebat. Ketika Lie Siong menceritakan pengalamannya dan betapa ia terluka ketika hendak menolong Lili, gadis ini melirik dan dengan cemberut ia berkata, “Selama itu kau melakukan perjalanan mengikuti dan tidak memperlihatkan diri? Mengapa begitu?” Merahlah wajah Lie Siong dan sambil menundukkan muka ia berkata, “Aku takut kalau-kalau kau… kau tidak suka berjalan bersamaku.” “Apa-apaan pula ini, Song-ko?” tegur Lili dengan sepasang mata terbelalak. “Kau sendiri yang tidak mau melakukan perjalanan bersamaku, dan tahu-tahu kau mengikutiku tanpa memperlihatkan diri… aneh… aneh…!” Lie Siong makin merah mukanya dan terdengar Goat Lan tertawa geli. “Sekarang kita berempat sudah bertemu dan berkumpul, maka yang sudah biarlah lalu, sekarang kita melakukan perjalanan bersama menuju ke Thian-an. Dengan berempat kita akan lebih kuat menghadapi mereka,” kata Hong Beng. “Enci Lan,” kata Lili tiba-tiba, “kitabmu masih kusimpan, takkan kuberikan sekarang. Nanti saja kalau kau dan Beng-ko kawin, akan kuberikan sebagai… hadiah perkawinan!” Timbul kembali kenakalan Lili, maka Goat Lan juga menjadi gembira, terhibur dari kesedihan hatinya mendengar tentang kematian gurunya. “Eh, katamu betul, Lili. Aku jadi teringat akan Sin-kai Lo Sian yang bertemu dengan kami di jalan. Katanya ia akan mengajukan pinangan kepada orang tuamu, meminang engkau untuk… untuk siapa, ya?” Sambil berkata demikian, dengan penuh arti Goat Lan mengerling ke arah Lie Siong. Lili menjadi jengah dan merah sekali mukanya. Ia mengulur tangan hendak mencubit Goat Lan, akan tetapi Goat Lan cepat mengelak, dan Hong Beng lalu menyela, “Sudahlah, kalian ini bersendau gurau saja. Urusan itu sudah bukan rahasia lagi bagi kita semua, dan urusan itu akan dapat terjadi dengan lancar tanpa ada halangan apa-apa lagi.” Maka berangkatlah dua pasang muda yang gagah perkasa ini. Di sepanjang jalan, Lili dan Goat Lan bersendau gurau sehingga Hong Beng dan Lie Siong ikut pula menjadi gembira. Empat orang pendekar remaja ini menuju ke Thian-san di mana mereka hendak mengukur kepandaian dengan tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Sedikit pun mereka tidak merasa gentar dan takut setelah mereka berkumpul menjadi satu. Dengan seorang yang dicinta di sebelahnya siapakah yang akan merasa takut?

***

Musim chun (semi) tiba dan puncak Thian-san nampak kehijauan dan indah sekali pemandangan alamnya. Di puncak itu terdapat sebuah kuil besar yang kuno dengan ukiran-ukiran indah, akan tetapi kuil ini tidak terurus oleh karena penghuninya telah berpuluh tahun yang lalu mengosongkan tempat ini. Dahulu, kuil ini adalah pusat dari partai persilatan Thian-san-pai yang besar, akan tetapi akhir-akhir ini habislah orang yang masih suka mengurus kuil ini dan semua anak murid Thian-san-pai lebih suka berkelana di dunia bebas.

Akan tetapi pagi hari itu di dalam kuil tidak sunyi seperti biasanya. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya telah berada di tempat itu dan berunding dengan kawan-kawannya. Betapapun juga, setelah Im-yang Giok-cu tewas, mereka tidak berapa takut menghadapi Pendekar Bodoh. Telah mereka perhitungkan bahwa untuk menghadapi kawan-kawan Pendekar Bodoh, kepandaian mereka masih dapat mengimbangi, adapun Pendekar Bodoh sendiri akan dilawan oleh Wi Kong Siansu.

Tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara nyaring yang menantang mereka, “Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu! Kami sudah datang untuk memenuhi tantanganmu!”

Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu,Thian-te Te-it Siansu, Lak Mou Couwsu, Bouw Ki, dan Coa Ong Lojin serta beberapa orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang telah datang terlebih dulu di tempat itu, keluar dari kuil itu dan ketika tiba di luar, dengan tercengang mereka melihat empat orang muda yang bukan lain adalah Goat Lan, Lili, Lie Siong dan Hong Beng!

Ban Sai Cinjin berdebar hatinya. Ia tidak melihat Pendekar Bodoh orang yang paling ditakuti dan dibencinya, maka untuk menetapkan hatinya ia bertanya, “Mana Pendekar Bodoh? Apakah dia takut datang ke sini sehingga mewakilkannya kepada anak-anaknya?”

“Ban Sai Cinjin, jangan membuka mulut sombong!” Lili berseru marah. “Orang macam kau tidak pantas untuk dilawan oleh ayahku. Kami orang-orang muda sudah cukup untuk membuktikan bahwa kepandaian kami tidak kalah olehmu.”

“Cu-wi-enghiong,” kata Hong Beng yang lebih tenang dan sabar sambil menjura kepada pihak tuan rumah, “kedatangan kami berempat mengandung dua maksud. Pertama, untuk memenuhi tantangan Wi Kong Siansu yang telah menantang ayah untuk datang berpibu di sini pada waktu ini. Kedua kalinya, kami harus membalas dendam dan sakit hati kepada Ban Sai Cinjin yang telah membunuh Lie Kong Sian supek, Ang I Niocu bibi kami dan juga Im-yang Giok-cu suhu dari Nona Kwee. Nah, terserah kepada Wi Kong Siansu hendak memulai pibu itu atau memberikan kesempatan kepada kami membunuh Ban Sai Cinjin lebih dulu.”

Wi Kong Siansu tak dapat menjawab dan saling pandang dengan Ban Sai Cinjin. Dibandingkan dengan yang lain, sebetulnya Wi Kong Siansu lebih gagah, karena dalam beberapa pertempuran keroyokan, sengaja tosu ini tidak mengeluarkan seluruh kepandaiannya, karena ia merasa malu untuk mendapat kemenangan sambil mengeroyok. Kini melihat empat orang muda itu menantang, tentu saja ia merasa malu pula untuk maju mengeroyok.

“Sute, apakah kau merasa tidak kuat menghadapi seorang di antara mereka?” tanyanya kepada Ban Sai Cinjin perlahan sekali. Ban Sai Cinjin sudah mengenal kehebatan empat orang muda itu, akan tetapi akhir-akhir ini ia telah memperdalam ilmu silatnya dan kalau bertempur satu lawan satu, agaknya sukar dipercaya kalau ia akan kalah. Lagi pula, tentu saja ia merasa malu kalau menyatakan takut. Maka ia lalu melompat maju dan berkata menantang. “Orang-orang muda yang sombong! Siapa sih takut kepadamu? Majulah, mana saja, atau kalian hendak mengeroyok aku?” sambil berkata demikian, ia mengisi huncwe baru yang berwarna hitam dengan tembakau hitamnya yang terkenal, bahkan lalu mempersiapkan sepuluh batang panah tangan di saku bajunya.

Kemudian terjadi hal yang lucu. Empat orang muda itu saling berebut untuk menghadapi Ban Sai Cinjin!

“Dia membunuh guruku Im-yang Giok-cu, akulah yang berhak untuk membalasnya!” kata Goat Lan.

“Tidak, Goat Lan. Dia telah menewaskan ayah bundaku, akulah yang lebih berhak pula!” kata Lie Siong sambil mengeluarkan pedangnya.

“Aku yang paling tua, biar aku saja menghancurkan kepalanya!” kata Hong Beng.

“Tidak, tidak! Akulah yang membunuh anjing tua ini, Enci Lan, kau mengalah sajalah kepadaku. Siong-ko, biar aku membalaskan sakit hati orang tuamu dan Beng-ko, kau harus mengalah terhadap adikmu!” kata Lili dan sekali menggerakkan kedua kakinya, gadis ini telah melompat menghadapi Ban Sai Cinjin!

“Lili, kau tidak boleh bertangan kosong saja!” kata Hong Beng yang mengkuatirkan keselamatan adiknya, karena ia maklum bahwa kelihaian Lili tergantung dari kipas dan pedangnya.

“Lili, kaupakailah bambu runcingku!” kata Goat Lan.

Adapun Lie Siong lalu melompat mengejar dan menyerahkan pedangnya kepada Lili, “Kaupakailah ini, Lili.”

Lili memandang dengan mesra dan berterima kasih. “Tak usah, Siong-ko, jangan membikin kotor pedangmu, kedua tanganku cukup untuk menghadapinya.”

Lie Siong melompat mundur kembali dan diam-diam tiga orang muda itu merasa gelisah. Bagaimana Lili demikian sembrono untuk menghadapi Ban Sai Cinjin yang lihai dengan bertangan kosong saja? Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Ia berseru keras dan segera menyerang Lili dengan huncwenya. Gadis itu tersenyum mengejek dan begitu ia mengeluarkan Ilmu Pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, tidak saja Ban Sai Cinjin yang menjadi terkejut sekali, bahkan Lie Siong, Hong Beng, dan Goat Lan juga memandang dengan mata terbelalak. Belum pernah mereka menyaksikan ilmu pukulan seperti itu dan seingat Hong Beng, ayahnya sendiripun tidak pernah memberi pelajaran ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Lili ini.

Namun hasilnya luar biasa sekali. Dalam jurus-jurus pertama saja Ban Sai Cinjin sudah amat terdesak. Huncwenya terbentur oleh tenaga pukulan yang lebih berbahaya daripada senjata tajam. Memang hebat sekali Hang-liong-cap-it-ciang ini dan kalau Lili mau, setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih, ia dapat membinasakan lawannya. Akan tetapi, di samping kegalakan dan kelincahannya, tabiat ayahnya menempel gadis ini. Ia pemurah dan mudah memberi ampun. Ketika mendapat kesempatan, ia mengirim pukulan dengan kedua tangan bahkan kaki kirinya juga mendupak ke arah dada lawan. Terdengar bunyi keras dan kembali untuk kedua kalinya huncwe maut dari Ban Sai Cinjin pecah terkena hawa pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, dan biarpun kakek itu hendak menangkis, tetap saja dadanya terkena pukulan sehingga ia menjerit dan terlempar roboh sambil memuntahkan darah segar! Biarpun Lili tidak membunuhnya, namun ia telah menderita luka berat dan untuk sementara waktu takkan dapat bergerak! Wi Kong Siansu melompat ke depan hendak menantang, akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan tujuh orang dan muncullah Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Ma Hoa, dikawani oleh Kam Liong, Kam Wi, dan Tiong Kun Tojin!

“Kami datang atas perintah Kaisar menangkap pengkhianat dan pemberontak Ban Sai Cinjin, Coa Ong Lojin dan pengemis-pengemis Coa-tung Kai-pang!” seru Kam Wi sambil mengeluarkan lengki (bendera titah raja). Melihat bendera ini, Wi Kong Siansu dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui lalu berlutut.

Coa Ong Lojin hendak melarikan diri, akan tetapi sekali menggerakkan tangannya, Tiong Kun Tojin telah dapat menangkapnya dan menotok punggungnya! Kam Wi tertawa bergelak, lalu berpaling kepada Pendekar Bodoh sambil berkata, “Urusan kami telah beres, beberapa hari lagi kami akan datang ke Shaning mengurus perjodohan!” Ia lalu menyeret Coa Ong Lojin, Ban Sai Cinjin dan beberapa orang pengemis Coa-tung Kai-pang, lalu menjura dan meninggalkan tempat itu bersama Kam Liong dan Tiong Kun Tojin sambil membawa tawanan-tawanan mereka.

Pendekar Bodoh tersenyum lalu menjura kepada Wi Kong Siansu. “Wi Kong Siansu, sekarang kau melihat sendiri betapa jahatnya sutemu itu. Ia bersekongkol untuk membunuh putera Kaisar dan bahkan ia membantu pula pergerakan orang-orang Mongol yang lalu. Nah, karena kita berhadapan sebagai musuh hanya karena gara-gara Ban Sai Cinjin, perlukah permusuhan ini dilanjutkan lagi?”

Wi Kong Siansu dan Hailun Thai-lek Sam-kui saling pandang. Terang bahwa keadaan pihak mereka jauh kalah kuat, akan tetapi untuk menutup rasa malu, Wi Kong Siansu berkata “Pendekar Bodoh, orang-orang seperti kita hanya mempunyai satu macam kesukaan, yaitu memperdalam pengertian ilmu silat. Setelah kita bertemu, mengapa kita tidak main-main sebentar?”

Cin Hai menghela napas. “Baiklah, orang tua. Kau boleh menyerangku tanpa kubalas, dan kalau dalam sepuluh jurus kau dapat membuatku menggerakkan kaki selangkah saja, aku mengaku kalah padamu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu berdiri tegak dan menundukkan kepalanya. Ia memegang sebatang suling dan meramkan matanya seperti tidur!

“Pendekar Bodoh, agaknya kau telah mewarisi kepandaian Bu Pun Su benar-benar. Biarlah aku mencobanya!” Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu mencabut Hek-kwi-kiam, lalu berseru, “Lihat pedang!” dan menyerang dengan sebuah tusukan ke arah dada Cin Hai. Akan tetapi Pendekar Bodoh tetap tidak membuka matanya, hanya ketika pedang itu sudah dekat dengan dadanya, ia mengangkat sulingnya menangkis. Wi Kong Siansu merasa telapak tangannya tergetar, lalu ia menerjang lagi sampai tiga kali, tetap saja sia-sia, karena selalu suling di tangan Cin Hai dapat menangkis dengan tepat.

Ketika Wi Kong Siansu hendak menyerang untuk yang ketujuh kalinya tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Lie Siong telah menangkis dengan Sin-liong-kiam.

“Wi Kong Siansu, sungguh tak tahu malu sekali kau menyerang seorang lawan yang tidak membalas, bahkan melihatmu pun tidak. Kalau kau memang gagah, lawanlah pedangku!” Tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu menyerang dan Wi Kong Siansu kaget sekali melihat gerakan pedang pemuda ini benar-benar luar biasa sekali. Semua orang lalu menonton karena pertempuran ini jauh lebih menarik dan ramai.

“Heran sekali…” Cin Hai yang sudah membuka matanya berkata perlahan. “Dari mana ia memperoleh gerakan-gerakan ini?” Memang matanya yang tajam melihat gerakan-gerakan ilmu pedang yang aneh dan lihai dan membuat sinar pedang hitam di tangan Wi Kong Siansu makin lama makin kecil.

“Siong-ji, tahan! Jangan mendesak orang tua!” Cin Hai berseru dan sekali ia melompat, ia telah berada di antara ke dua orang yang bertempur itu. Wi Kong Siansu menyimpan pedangnya dan menarik napas panjang lalu berkata, “Hebat, memang hebat! Keturunanmu memang hebat, Pendekar Bodoh. Pinto mengaku kalah.” Ia hendak pergi setelah menjura, akan tetapi Lili lalu berkata kepadanya, “Totiang, jangan kau salah sangka. Pembunuh muridmu, Song Kam Seng, adalah Ban Sai Cinjin. Aku sendirilah yang mengurus pemakamannya!” Wi Kong Siansu terkejut dan menoleh. Gadis itu dengan singkat lalu menceritakan peristiwa itu. Wi Kong Siansu kembali menarik napas panjang lalu pergi dari situ dengan hati terpukul. Dengan lega dan girang, Pendekar Bodoh lalu mengajak semua orang kembali ke timur, di sepanjang jalan tiada hentinya saling menuturkan pengalaman masing-masing.

***

Rumah Pendekar Bodoh dihias indah. Tidak heran karena pada hari itu dilangsungkan pernikahan dua orang anak mereka, Hong Beng dengan Goat Lan dan Hong Li dengan Lie Siong! Tamu-tamu telah memenuhi ruangan dan di antara mereka terdapat pula tokoh-tokoh persilatan baik kawan maupun bekas lawan seperti Hailun Thai-lek Sam-kui dan lain-lain! Pasangan Hong Beng dan Goat Lan diperkenalkan kepada tamu-tamu lebih dulu dan setelah mendapat sambutan dan pemberian selamat, mereka lalu mengundurkan diri, diganti oleh pasangan Lie Siong dan Hong Li. Akan tetapi, ketika sepasang pengantin ini sedang menerima penghormatan dan ucapan selamat dari para tamu, tiba-tiba seorang tinggi besar bangkit berdiri dari bangkunya dan dengan suara keras berkata, “Cu-wi, sekalian! Sebagai sama-sama orang kang-ouw, biarlah pada saat ini aku menyampaikan perasaan tidak enak hatiku kepada sepasang pengantin dan juga tuan rumah!” Semua orang memandang dan ternyata yang bicara itu adalah Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai, paman dari Panglima Kam Liong! “Sebelum Nona Sie dipinang orang lain, aku telah meminangnya lebih dulu untuk putera keponakanku, Kam Liong. Biarpun belum resmi, pihak keluarga Sie sudah menyatakan cocok, bahkan keponakanku sudah mengadakan perjalanan bersama dengan Nona Sie. Akan tetapi siapa kira, hari ini aku melihat Nona Sie menjadi isteri Lie Siong yang sesungguhnya telah menjadi suami dari seorang gadis Haimi bernama Lilani!” Terdengar teriakan nyaring dan pengantin wanita, yaitu Lili, merenggut hiasan kepala yang menutupi mukanya dan membanting hiasan itu hingga terdengar suara keras. “Bangsat tua, apakah kau sengaja datang untuk mengantar nyawa?” teriaknya dan ia hendak menyerang Kam Wi yang telah tertawa bergelak-gelak. Akan tetapi Lie Siong memegang tangannya dan berbisik, “Sudahlah, Li-moi, dia itu orang mabuk!” Mendengar cegahan ini, Lili makin gemas, merenggutkan tangannya dan berkata, “Orang lemah, lebih baik kau kembali kepada Lilani!” Setelah berkata demikian, dengan isak di tenggorokan ia lalu melompat keluar dari rumah dan melarikan diri! Lie Siong menjadi bingung, membanting topi pengantinnya lalu menyusul dan mengejar Lili yang berlari seperti terbang cepatnya! Gegerlah keadaan di situ dan Kam Wi yang masih tertawa-tawa itu ditarik tangannya oleh Tiong Kun Tojin yang mintakan maaf kepada Pendekar Bodoh untuk sutenya yang kasar. Lili berlari terus, dan ketika ia tahu bahwa Lie Siong mengejarnya, ia berlari makin cepat. Berhari-hari mereka kejar mengejar dan akhirnya Lili tiba di dekat sumur rahasia tempat tinggal nenek aneh yang menjadi gurunya. Ia lalu terjun ke dalam sumur itu. Lie Siong terkejut sekali, akan tetapi pemuda ini pun ikut pula terjun ke dalam sumur. Di dalam kamar di gua yang aneh itu, Lili dan Lie Siong melihat nenek yang gagu itu tengah duduk bersila dan di pangkuannya terbaring kepala seorang kakek. Alangkah terkejut hati Lie Siong ketika melihat bahwa kakek itu adalah… gurunya yang mengajarnya bermain gundu! Nenek itu keadaannya sudah amat lemah, kurus kering dan pucat, adapun kakek itu ternyata telah menjadi mayat! Mendengar gerakan Lili dan Lie Siong, nenek yang lihai itu membuka matanya. “Suthai, kau kenapakah…?” Lili bertanya sambil berlutut. Nenek itu mencoret-coret di atas tanah. Lili dan Lie Siong lalu membaca tulisan-tulisan itu yang ternyata menceritakan riwayat nenek itu bersama kakek yang kini dipangkunya dan yang telah mati. Ternyata keduanya mempunyai riwayat yang ada hubungan dekat dengan penghidupan Bu Pun Su, guru dari Pendekar Bodoh! Setelah selesai menuturkan riwayatnya dengan tulisan, nenek itu tidak kuat lagi dan ketika kedua orang muda itu memandang, ternyata bahwa nenek itupun telah menghembuskan napas terakhir! Dengan penuh khitmat, Lie Siong dan Lili lalu meninggalkan gua itu, menutupnya dengan batu besar, kemudian keluar dari sumur itu lalu menimbuni sumur itu dengan pepohonan sehingga tempat itu merupakan sebuah makam yang luar biasa. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan. “Li-moi, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tergantung dari keputusanmu sekarang, hanya inilah tanda bahwa semenjak dulu aku mencintamu.” Lie Siong mengeluarkan sepatu yang dulu dirampasnya dari saku bajunya.

Lili menerima sepatu itu dengan terharu. Setelah membaca riwayat nenek yang menjadi gurunya itu, lenyaplah marah dan cemburunya terhadap Lie Siong. “Hemm, kalian ini laki-laki di seluruh dunia sama saja!” katanya cemberut akan tetapi kerling matanya membesarkan hati Lie Siong. “Kalau Sucouw Bu Pun Su sendiri sampai terjerumus, biarlah aku maafkan kau yang satu kali masuk dalam perangkap nafsu. Akan tetapi, awas, jangan sampai terulang lagi!” Lie Siong memegang tangan Lili dengan penuh kasih sayang. “Takkan terulang lagi sampai aku mati, Li-moi. Pula, harap kauingat bahwa peristiwa antara aku dengan Lilani itu terjadi sebelum aku berjumpa dengan kau! Semenjak aku bertemu dengan kau… isteriku, jangankan Lilani, biar ada bidadari dari kahyangan menggodaku, hatiku takkan tergoncang!” Lili mencibirkan bibirnya dan merenggutkan tangannya. “Cih, mulut laki-laki memang manis, pandai membujuk merayu. Siapa dapat percaya?” Setelah berkata demikian ia lalu melarikan diri, dikejar oleh Lie Siong! Akan tetapi mereka kini berkejar-kejaran sambil tertawa-tawa dan juga mereka mengarahkan tujuan kembali ke Shaning di mana menanti semua keluarga dengan hati gelisah!

***

Bagaimanakah riwayat nenek dan kakek guru-guru yang aneh dari Lili dan Lie Siong itu? Mengapa riwayat mereka sampai mengharukan Lili dan membuat gadis ini dapat memaafkan kesalahan Lie Siong yang sudah melakukan kesalahan tindak sebelum bertemu dengan dia? Untuk mengetahui ini, dipersilakan untuk membaca cerita PENDEKAR SAKTI (Bu Pun Su Lu Kwan Cu), di mana akan muncul tokoh-tokoh besar seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taiyu, Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, di waktu tokoh-tokoh ini masih muda! Bacalah riwayat Bu Pun Su di waktu kanak-kanak sampai menjadi seorang pendekar muda yang sakti dan luar biasa! Dikarang khusus untuk para pembaca Pendekar Bodoh dan Pendekar Remaja oleh Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

TAMAT

Kotaresik, 26 Mei 1962.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: