Pendekar Remaja ~ Jilid 5

Setelah mendengar suara ini, barulah Lo Sian agaknya teringat bahwa ada orang lain di situ. Ia memandang kepada anak miskin itu dan bertanya, “Anak yang malang, siapakah kau dan coba ceritakan pula keadaan Ban Sai Cinjin yang kauketahui.”

Anak itu lalu menceritakan bahwa ia bernama Thio Kam Seng, yatim piatu semenjak kecil karena ayah bundanya meninggal dunia karena sakit dan kelaparan. Semenjak usia enam tahun ia hidup seorang diri sebagai seorang pengemis, merantau dari kota ke kota dan dari dusun ke dusun. Akhirnya ia sampai di dusun Tong-sim-bun di depan itu dan telah setahun lebih ia tinggal di dusun itu dan hidup sebagai seorang pengemis. Ia mengetahui tentang Ban Sai Cinjin yang dikatakan sebagai seorang hartawan besar, mempunyai banyak rumah dan toko di dusun itu, bahkan telah mendirikan sebuah kelenteng besar di dalam hutan sebagai tempat pertapaannya! Watak dari Ban Sai Cinjin yang kejam dan aneh itu memang telah terkenal, akan tetapi oleh karena orang tua ini amat kaya, dan pula tinggi kepandaiannya, tak seorang pun berani mencelanya.

“Aku mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hidup mewah di dalam kelentengnya, bahkan sering mendatangkan penyanyi-penyanyi dari kota dan sering pula memesan masakan-masakan mewah, dan karena aku merasa amat lapar, aku mencoba untuk mencuri makanan di kelenteng itu. Sungguh celaka aku terlihat oleh hwesio kecil yang kejam itu dan hampir saja celaka kalau tidak mendapat pertolongan In-kong (Tuan Penolong).”

Lo Sian si Pengemis Sakti tidak mengira sama sekali bahwa Ban Sai Cinjin adalah guru dari orang yang menculik Lili! Memang, sesungguhnya Ban Sai Cinjin ini adalah pertapa sakti yang pernah memberi pelajaran silat kepada Bouw Hun Ti atau penclilik Lili itu. Kepandaian Ban Sai Cinjin memang hebat sekali dan setelah merasai kesenangan dunia, pertapa ini sekarang menjadi seorang yang mengumbar nafsunya. Ia dapat mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi seorang hartawan besar, hidup mewah dan suka mengganggu anak bini orang. Akan tetapi, untuk menutupi mata umum, ia mendirikan sebuah kelenteng besar di mana katanya digunakan sebagai tempat “menebus dosa” dan bersamadhi. Padahal sesungguhnya tempat ini merupakan tempat persembunyiannya di mana ia menghiburi diri dengan cara yang amat tidak mengenal malu. Di tempat ini dapat berlaku leluasa jauh dari mata orang dusun atau orang kota.

Ban Sai Cinjin amat terkenal akan kelihaiannya dalam hal gin-kang dan lwee-kang juga senjatanya amat ditakuti orang. Senjata ini memang istimewa, karena merupakan huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan terbuat daripada logam yang keras diselaput emas! Pada waktu-waktu biasa, ia mempergunakan huncwenya ini sebagai pipa biasa yang diisi dengan tembakau-tembakau yang paling mahal dan enak, juga kantong tembakaunya yang tergantung pada gagang huncwe ini terisi penuh dengan tembakau yang kekuning-kuningan bagaikan benang emas. Akan tetapi pada saat ia menghadapi musuh, kantong itu berganti dengan sebuah kantong lain yang berisikan tembakau luar biasa sekali yang berwarna hitam. Dan apabila ia mengambil tembakau ini dan dinyalakan di dalam pipanya, maka akan tercium bau yang amat tidak enak dan keras sekali. Asap tembakau ini saja sudah cukup membuat lawannya menjadi pening dan pikirannya kacau karena sesungguhnya asap ini mengandung semacam racun yang berbahaya dan melemahkan semangat. Apalagi kalau ia sudah mainkan senjata istimewa ini yang terputar cepat dan dari mulut pipa itu menyemburkan bunga api karena tembakau yang masih terbakar itu tertiup angin, bukan main berbahayanya. Oleh karena ini pula, Ban Sai Cinjin mendapat julukan Si Huncwe Maut!

Lo Sian yang berhati budiman itu menjadi tergerak hatinya ketika mendengar penuturan anak miskin itu. Ia memandang kepada Thio Kam Seng yang kurus dan pucat, dan biarpun ia maklum bahwa anak ini tidak memiliki cukup bakat dan kecerdikan untuk ahli silat, namun ia tadi telah menyaksikan sendirl bahwa anak ini cukup tabah dan berjiwa gagah. Tadi telah disaksikannya betapa anak ini menghadapi maut di ujung pisau hwesio kecil itu dengan berani.

“Kam Seng, apakah kau suka ikut padaku dan belajar silat agar kelak jangan sampai kau terhina orang?”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambit menangis! Saking girang dan terharunya, ia sampai tak dapat mengeluarkan sepatah pun kata, hanya berkata terputus-putus,

“Suhu…, Suhu…”

Setelah bersembunyi di situ pada malam hari itu, keesokan harinya pagi-pagi sekali Lo Sian mengajak kedua orang muridnya untuk melanjutkan perjalanan. Ia menggandeng tangan Kam Seng agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.

Beberapa hari lewat tak terasa dan mereka telah memasuki Propinsi Sensi. Ketika mereka lewat kota Tai-goan, Lo Sian sengaja mampir di kota yang besar dan ramai itu. Kota Tai-goan terkenal dengan araknya yang terbuat daripada buah leci, dan karena Lo Sian adalah seorang yang suka sekali minum arak, maka sampai beberapa hari ia tidak mau tinggalkan kota itu dan memuaskan dirinya dengan minuman yang enak ini.

Pada suatu hari, ketika ia dan kedua orang muridnya keluar dari sebuah rumah makan di mana ia telah menghabiskan banyak cawan arak, ia mendengar orang berseru keras dan tiba-tiba orang itu menyerangnya dengan pukulan hebat ke arah dadanya.

Lo Sian cepat mengelak dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerangnya ini bukan lain adalah orang brewok yang menculik Lili dulu! Memang orang ini bukan lain adalah Bouw Hun Ti yang berusaha mencari gurunya dan karena ia melakukan perjalanan berkuda dengan cepat, maka ia telah sampai di tempat itu lebih dulu dan kini ia hendak kembali ke timur setelah mendengar bahwa suhunya kini tinggal di dusun Tong-sim-bun. Kebetulan sekali di kota Tai-goan ini ia bertemu dengan Lo Sian, pengemis yang merampas Lili dari padanya itu! Tak menanti lagi ia segera mengirim pukulan maut yang baiknya masih dapat dikelit oleh Lo Sian.

Lo Sian maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi, maka ia segera mencabut pedangnya yang selalu disembunylkan di dalam bajunya. Bouw Hun Ti tertawa bergelak melihat ini dan segera mencabut goloknya.

“Jembel hina dina! Hari ini kau pasti akan mampus di ujung golokku!” serunya keras sambil menyerang. Lo Sian menangkis dan mereka lalu bertempur hebat di depan rumah makan itu. Orang-orang yang menyaksikan pertempuran ini tidak ada yang berani ikut campur, bahkan mereka lari cerai-berai karena takut melihat dua orang itu mainkan senjata tajam demikian hebatnya.

Sementara itu, ketika Lili melihat bahwa yang menyerang suhunya adalah penculik brewok yang dibencinya, seketika menjadi pucat karena kaget sekali. Akan tetapi anak ini memang hebat sekali keberaniannya. Ia tidak melarikan diri, bahkan lalu mengumpulkan batu-batu kecil dan mulai menyambit ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari Bouw Hun Ti. Sungguhpun sambitan batu yang dilepas oleh Lili ini apabila ditujukan kepada orang biasa akan merupakan serangan yang arnat berbahaya, akan tetapi terhadap Bouw Hun Ti sama sekali tidak ada artinya. Tidak saja semua batu itu terlempar ketika terpukul oleh sinar goloknya, biarpun andaikata mengenai tubuhnya pun takkan terasa olehnya!

Kam Seng yang melihat suhunya bertempur melawan seorang laki-laki brewok yang berwajah galak menyeramkan, dan melihat betapa Lili menyambit dengan batu, tidak mau tinggal diam dan ia pun mulai menyambit pula! Akan tetapi, ia segera menghentikan bantuannya ini karena pandangan matanya telah menjadi kabur dan silau, ketika kedua orang yang bertempur itu kini telah lenyap terbungkus oleh sinar senjata. Kam Seng tidak dapat membedakan lagi mana gurunya dan mana lawan gurunya! Akan tetapi, Lili yang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi dan sepasang matanya yang bening sudah terlatih baik semenjak kecil oleh ayah ibunya, masih dapat melihat gerakan suhunya dan gerakan musuh itu, maka masih saja ia melanjutkan penyambitannya, kini lebih hati-hati dan membidik dengan baik. Sungguhpun serangan Lili ini tidak berarti baginya, namun cukup membikin gemas hati Bouw Hun Ti.

“Setan kecil, aku bikin mampus kau lebih dulu!” serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat menyambar Lili dan goloknya membacok ke arah kepala anak kecil itu!

Lili memiliki ketenangan ayahnya dan kegesitan ibunya. Melihat menyambarnva sinar golok ke arah kepalanya, ia cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi, Bouw Hun Ti yang merasa penasaran terus mengejarnya setelah menangkis serangan Lo Sian yang menyerangnya dari samping dalam usahanya menolong muridnya.

Lili bergulingan terus dan tiba-tiba ia merasai bahwa tubuhnya berguling ke atas pangkuan seorang yang duduk di bawah pohon dekat situ. Ia memandang dan ternyata bahwa ia telah berada di atas pangkuan seorang pengemis yang tinggi kurus dan berbaju penuh tambalan dan buruk sekali.

Melihat betapa anak itu berada di atas pangkuan seorang pengemis, Bouw Hun Ti melanjutkan serangannya, akan tetapi tiba-tiba ia berseru keras dan goloknya terpental hampir terlepas dari pegangan ketika golok itu telah mendekati tubuh Lili. Ternyata bahwa pengemis jembel itu telah mengangkat tongkatnya dan menangkis gotok itu!

“Hmm, manusia kejam! Apakah kau masih mau menjual lagak di depan Mo-kai Nyo Tiang Le?”

Bouw Hun Ti makin terkejut karena ia sudah mendengar nama Pengemis Setan ini yang amat lihai! Tadi ketika menghadapi Lo Sian, biarpun ia yakin akan bisa mendapat kemenangan, akan tetapi kepandaian Lo Sian sudah cukup kuat sehingga ia tidak mungkin menjatuhkannya dalam waktu pendek. Apalagi sekarang ditambah dengan seorang pengemis aneh yang dari tangkisan tongkatnya tadi saja sudah menunjukkan bahwa kepandaiannya amat tinggi! Bagaimana sebatang tongkat bambu dapat menangkis goloknya yang terkenal tajam dan yang digerakkan dengan tenaga luar biasa? Bouw Hun Ti menjadi gentar juga dan dengan marah sekali ia lalu melarikan diri! Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan gurunya untuk minta pertolongan dan bantuan.

Lo Sian yang baru mengenal pengemis itu, segera menghampiri dan berseru girang. “Suheng! Kau di sini?”

“Sute, dari mana kau mendapatkan anak ini?” tanya Mo-kai Nyo Tiang Le tanpa menjawab pertanyaan adik seperguruannya.

Mendengar pertanyaan ini, barulah Lo Sian teringat kepada Bouw Hun Ti yang telah melarikan diri. Ia menghela napas dan berkata,

“Sayang sekali Suheng. Orang yang dapat menjawab pertanyaanmu itu telah melarikan diri. Aku sendiri tidak tahu siapa sebetulnya anak ini.” Ia lalu menuturkan pengalamannya ketika merampas Lili dari tangan Bouw Hun Ti, lalu menuturkan pula tentang pengalamannya menolong Thio Kam Seng.

Si Pengemis Setan itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Lo Sian. Ia memandang kepada Lili yang kini telah berdiri, lalu berkata kepadanya, “Hemm, anak nakal! Kau tidak mau menceritakan siapa ayah ibumu? Ha, ha, tak perlu kau menceritakannya lagi! Aku sudah tahu, siapa ayahmu! Dia adalah seorang maling, seorang tukang colong ayam! Karena itulah maka kau malu untuk mengaku! Ha, ha, ha!”

Bukan main marahnya hati Lili mendengar ucapan ini. Gadis cilik ini berdiri tegak kepalanya dikedikkan, dadanya diangkat dan pandang matanya bersinar-sinar seakan-akan mengeluarkan cahaya api. Kalau ada orang yang telah mengenal ibunya, dan melihat Lili bersikap seperti itu, tentu akan mengatakan bahwa anak perempuan ini persis sekali seperti ibunya kalau sedang marah.

“Kau… kau berani menghina ayahku? Kalau Ayah mendengar hal ini, biarpun kau berada di ujung dunia, Ayah pasti akan mematahkan batang lehermu! Ayah adalah seorang gagah perkasa tanpa tandingan! Orang macam kau, biar ada seratus pun akan dipatahkan batang lehernya dengan mudah!” Lili benar-benar marah sekali mendengar ayahnya disebut tukang colong ayam!

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. Agaknya ia geli sekali sehingga sambil tertawa ia meraba-raba perutnya. “Ha, ha, ha! Pandai sekali kau menutupi keadaan ayahmu! Ha, ha, ayahmu hanya seorang maling kecil. Memang ia bisa mematahkan batang leher, akan tetapi hanya batang leher ayam. Tentu saja ia kuat mematahkan batang leher seratus ekor ayam yang dicurinya! Ha, ha, ha!”

“Orang tua kurang ajar!” Lili semakin marah sehingga ia membanting-banting kakinya yang kecil. Ia lupa bahwa suhunya tadi menyebut suheng kepada jembel ini. Jangankan baru supeknya yang baru dikenal sekarang, biarpun siapa juga tidak boleh menghina ayahnya! “Hati-hatilah kau! Beritahukan siapa namamu agar dapat kuberitahukan kepada Ayah. Kau pasti akan dipukul mati! Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa Ayah…” tiba-tiba Lili terhenti karena ia teringat bahwa ia tidak ingin memberitahukan nama orang tuanya, bahkan ia belum pernah mengaku kepada suhunya. “… bahwa ayahmu hanyalah seorang tukang colong ayam…!” Pengemis tua itu melanjutkan kata-katanya yang terhenti sambil tertawa bergelak.

“Bukan!” Lili menggigit bibirnya dengan gemas. “Nah, biarlah aku mengaku! Ayahku adalah Sie Cin Hai yang berjuluk Pendekar Bodoh! Ibuku adalah Kwee Lin yang terkenal gagah perkasa! Siapakah tidak kenal kepada ayah-ibuku yang menjadi murid terkasih dari Sukong Bu Pun Su?” Sambil berkata demikian, Lili memandang dengan tajam kepada pengemis itu dan juga kepada gurunya. Ia merasa bangga dan girang sekali ketika melihat betapa pengemis itu yang tadinya sedang tertawa, kini membuka mulutnya dengan melongo sedangkan suhunya sendiri pun memandangnya dengan mata terbelalak heran!

Lo Sian lalu mengelus-elus kepala Lili dan berkata, “Ah, anak baik, mengapa tidak dulu-dulu kaukatakan kepadaku? Kalau aku tahu, tentu kau sudah kuantarkan kepada orang tuamu! Aku tahu siapa adanya ayah-ibumu itu dan ketahuilah bahwa Suhumu dan Supekmu ini masih orang-orang segolongan dengan ayahmu!”

“Akan tetapi, mengapa Supek tadi menghina ayahku? Mengapa ayahku disebut tukang colong ayam?”

Nyo Tiang Le tertawa bergelak dan Lo Sian juga tersenyum. “Lili, Supekmu tadi hanya bergurau. Ketika ia mengatakan bahwa ayahmu seorang maling ayam, ia tidak tahu bahwa ayahmu adalah Sie Tai-hiap! Kalau ia tidak mempergunakan akal ini, apakah kau akan suka menyebutkan nama ayahmu?”

Lili memang cerdik. Ia tahu bahwa ia telah kena diakali, maka sambil tersenyum ia berkata kepada Nyo Tiang Le, “Supek telah menipuku! Akan tetapi, kalau Supek telah tidak menarik kembali ucapannya tadi, aku selamanya akan benci kepada Supek!”

Mo-kai Nyo Tiang Le makin keras suara ketawanya. “Ha-ha-ha! Siapa bilang bahwa Pendekar Bodoh pencuri ayam mengatakan demikian di depanku, orang itu akan kuhajar mulutnya dengan seratus kali pukulan tongkatku! Tidak, anak manis, ayahmu bukan pencuri ayam akan tetapi dia adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa!”

Berserilah wajah Lili mendengar pujian terhadap ayahnya ini.

“Suheng, kalau begitu, aku hendak mengantar pulang anak ini kepada Sie Tai-hiap di Shaning.”

Nyo Tiang Le menggelengkan kepalanya. “Berbahaya sekali, Sute! Kau tentu sudah dapat menduga siapa adanya orang brewok tadi?”

Lo Sian menggelengkan kepalanya. “Sungguhpun ilmu silatnya lihai sekali dan gerakan goloknya mengingatkan aku akan kepandaian golok dari Ban Sai Cinjin, akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu siapa adanya orang itu.”

“Dia adalah murid dari Ban Sai Cinjin, seorang peranakan Turki yang dulu memimpin barisan Turki ke pedalaman dan menimbulkan banyak kerusakan!”

Lo Sian mengangguk karena ia memang membantu tentara kerajaan menghadapi perwira yang amat tangguh itu.

“Nah, orang tadi adalah putera dari Balutin itulah! Namanya Bouw Hun Ti dan ia amat lihai, apalagi setelah mendapat latihan dari Ban Sai Cinjin. Entah mengapa ia menculik anak Pendekar Bodoh ini akan tetapi sudah jelas bahwa kalau ia melihat kau mengantar anak ini pulang, tentu ia akan turun tangan dan hal ini berbahaya sekali.”

Lo Sian menundukkan kepalanya karena ia maklum bahwa kepandaian Bouw Hun Ti masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri sehingga ia tidak dapat melindungi keselamatan Lili dengan baik.

“Habis, bagaimana baiknya, Suheng?”

“Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin di puncak Beng-san. Biarlah kubawa kedua anak ini bersamaku ke sana. Kaupergilah seorang diri mencari Pendekar Bodoh dan memberi tahu bahwa puterinya telah selamat bersama dengan aku. Kam Seng ini nasibnya buruk dan patut ditolong, sedangkan aku dahulu pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su, maka sekarang sudah selayaknyalah kalau aku membalas dan menolong cucu muridnya ini! Nona kecil, kau tentu mau ikut dengan aku, bukan?”

Lili memandang kepada suhunya dan berkata, “Suhu, teecu memang tidak mau pulang. Teecu baru mau pulang kalau Ayah dan Ibu menyusul teecu! Akan tetapi, kalau selamanya teecu harus ikut Supek, teecu tidak suka.”

“Mengapa begitu, Lili?” tanya Lo Sian sambil tersenyum.

“Supek seorang pengemis!”

“Huss!” kata Lo Sian mencela. “Aku pun seorang pengemis!”

“Benar, akan tetapi Suhu berbeda dengan Supek. Suhu pengemis bersih, akan tetapi Supek…”

“Hussh, Lili!” Menegur suhunya.

Akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa geli dan berkata,

“Biarlah, Sute. Sudah sewajarnya kalau seorang anak perempuan suka akan kebersihan dan keindahan. He, Lili anak nakal, kaulihatlah baik-baik, apakah aku masih nampak kotor dan menjijikkan?” Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya kedua tangan Pengemis Setan itu bergerak dan tahu-tahu jubah luarnya yang butut itu telah terlepas dan Lili juga Thio Kam Seng, anak piatu itu memandang dengan mata terbelalak heran. Setelah jubah butut kotor penuh tambalan itu terlepas, kini pengemis tua itu nampak bersih dan gagah sekali, tubuhnya tertutup oleh pakaian warna putih bersih dari sutera halus, sebatang pedang tergantung di pinggang kirinya! Sikap pengemis tua itu pun berubah sama sekali, wajahnya yang tadi tertawa-tawa bagaikan orang gila itu menjadi sungguh-sungguh dan nampak keren sekali!

“Bagaimana, apakah kau masih merasa jijik untuk ikut Supekmu?” tanya Nyo Tiang Le dengan suara keren.

Lili merasa heran dan tertegun sehingga ia memandang dengan mata tak berkedip, lalu menggelengkan kepalanya. Pengemis tua yang aneh itu lalu mengenakan kembali pakaian bututnya dan wajahnya kembali berseri-seri. Barulah Lili merasa lega, karena sesungguhnya hatinya enak dan senang menghadapi pengemis tua yang berpakaian butut dan yang tertawa-tawa ramah ini daripada menghadapinya dalam pakaian gagah dan sikap keren tadi!

“Mengapa pakaian bersih dan indah ditutupi oleh pakaian yang demikian kotor dan buruk?” kini ia berani membuka mulut bertanya.

Nyo Tiang Le tertawa bergelak, seperti tadi sebelum memperlihatkan pakaiannya yang dipakai di sebelah dalam.

“Ha-ha-ha, anak baik! Banyak sekali orang yang di luarnya mengenakan pakaian-pakaian indah dan mahal, memakai kebesaran dan tanda pangkat, akan tetapi coba bukalah pakaian yang indah-indah itu, kau akan melihat sesuatu yang kotor, bagaikan sebutir buah yang kulitnya merah kekuningan dan nampak segar akan tetapi kalau dikupas kulitnya akan terlihat isinya busuk! Bagiku, aku lebih suka yang sebaliknya, darl luar nampak kotor akan tetapi di sebelah dalam bersih! Ha-ha-ha!”

Lili tidak percuma menjadi puteri Pendekar Bodoh, seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan yang terkenal ahli dalam hal filsafat hidup dan hafal akan semua ujar-ujar kuno. Telah seringkali ayahnya memberi pelajaran budi pekerti kepadanya dan seringkali pula ia mendengar ayahnya mengucapkan ujar-ujar kuno mengenai filsafat hidup. Kini, mendengar ucapan Nyo Tiang Le, anak yang berotak tajam ini dapat menangkap maksudnya maka ia lalu membantah,

“Supek, betapapun juga aku lebih suka lagi kalau yang bersih itu tidak hanya dalamnya saja, akan tetapi luar dalam! Sungguhpun isinya sama bersih dan sama enak, kalau disuruh memilih, aku lebih suka buah yang kulitnya menarik dan bersih daripada yang kulitnya kotor!”

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Benar benar! Kau memang seorang perempuan, sudah seharusnya tahu merghargai keindahan, luar maupun dalam!”

Demikianlah, setelah memesan kepada Lili dan Kam Seng agar supaya taat kepada supek mereka, dan memberi janji kepada Lili bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali, Lo Sian lalu meninggalkan mereka menuju ke timur untuk mencari Pendekar Bodoh di Shaning mengabarkan tentang keadaan Lili kepada pendekar besar itu.

Nyo Tiang Le juga segera membawa kedua anak itu melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Beng-san. Pengemis Setan ini sungguhpun menjadi suheng dari Lo Sian, akan tetapi apabila dibandingkan dengan Pengemis Sakti itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi, juga usianya berbeda jauh sekali Lo Sian baru berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le usianya sudah lima puluh tahun lebih. Bahkan kepandaian Lo Sian sebagian besar terlatih oleh Nyo Tiang Le dan suhu mereka hanya memberi pelajaran-pelajaran dasar saja kepada Sin-kai Lo Sian. Kepandaian Nyo Tiang Le ini hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat kepandaian empat besar di timur, barat, selatan, dan utara, yakni Hok Peng Taisu guru Ma Hoa, Pok Pok Sianjin di Beng-san yang sekarang menjadi guru dari Sie Hong Beng putera Pendekar Bodoh, mendiang Bu Pun Su, guru dari Cin Hai si Pendekar Bodoh dan isterinya, dan Swi Kiat Siansu, tokoh di utara yang terkenal dengan senjatanva kipas maut itu! Kepada empat orang tokoh besar ini, Nyo Tiang Le telah kenal baik, bahkan ia pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su yang terkenal paling lihai diantara para tokoh besar itu.

Mo-kai Nyo Tiang Le suka sekali melihat Lili dan karena ia tidak mempunyai murid, maka melihat murid sutenya ini tergeraklah hatinya. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mewariskan ilmu pedangnya kepada Lili yang ia tahu memiliki bakat yang baik sekali. Ia memang sedang menuju ke Beng-san untuk bertemu dengan Pok Pok Sianjin, seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia persilatan masih hidup.

Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang bernasib malang itu, benar-benar telah mendapat karunia besar dan agaknya nasibnya telah mulai bersinar terang ketika ia bertemu dengan Lo Sian, karena tak disangka-sangkanya bahwa ia akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang luar biasa sehingga ia dapat menjadi murid seorang gagah seperti Lo Sian, bahkan kini ia ikut melakukan perjalanan dengan Nyo Tiang Le dan ikut pula mendapat latihan ilmu silat tinggi.

***

Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Cin Hai dan Lin Lin yang meninggalkan rumah mereka di Shaning untuk pergi mencari puteri mereka yang lenyap terculik orang.

Semenjak Kong Hwat Lojin atau Nelayan Cengeng yang menjadi guru dan ayah angkat Ma Hoa meninggal dunia dua tahun yang lalu, belum pernah Pendekar Bodoh dan isterinya mengunjungi Tiang-an. Maka setelah mereka tiba di perbatasan kota Tiang-an, mereka berhenti sebentar dan memandang tembok kota, itu dengan pikiran penuh kenangan masa lampau. Bagi Lin Lin, kota ini adalah kota kelahirannya dan bagi Cin Hai, kota ini pun merupakan kota di mana ia telah mengalami banyak sekali penderitaan hidup di waktu ia masih kecil.

Mereka memasuki kota dan mengunjungi rumah Kwee An. Rumah ini adalah rumah tua, gedung besar dan kuno yang dulu menjadi tempat tinggal mendiang Kwee In Liang, yaitu ayah Kwee An dan Kwee Lin. Kedatangan mereka mendapat sambutan yang hangat sekali dari Kwee An dan Ma Hoa. Ma Hoa merangkul Lin Lin dan sampai lama mereka saling peluk dan mencium dengan hati girang sekali.

“Enci Ma Hoa, kau makin gemuk dan makin cantik saja!” Lin Lin berkata sambil memandang kepada so-so (kakak iparnya) itu. Karena sudah biasa semenjak belum menikah dulu, Lin Lin tidak menyebut so-so kepada iparnya ini, akan tetapi masih menyebut enci.

“Lin Lin, kaulah yang makin cantik, akan tetapi mengapakah kau kelihatan agak pucat? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu ke sini?”

Cin Hai dan Kwee An yang saling berpegang tangan dengan girang itu juga mengucapkan kata-kata ramah tamah.

“Ah, kami mendapat kesusahan,” kata Lin Lin sambil menghela napas lalu menggigit bibirnya untuk menahan jangan sampai meruntuhkan air mata. “Lili telah terculik orang!”

Pucatlah wajah Ma Hoa dan Kwee An mendengar berita hebat ini.

“Apa…??” Ma Hoa melompat bangun dan memegang lengan tangan Lin Lin. “Siapa orangnya yang demikian berani mampus melakukan hal itu? Lin Lin, beritahukan siapa orangnya, akan kuhancurkan kepalanya!” Ma Hoa benar-benar marah sekali mendengar berita ini dan sepasang matanya berkilat. Kwee An juga marah sekali dan kedua tangannya dikepal, akan tetapi ia lebih tenang dan sabar daripada isterinya. Ia memegang tangan adiknya dan berkata,

“Ah, bagaimana bisa terjadi hal itu? Lin Lin, marilah kita semua masuk ke dalam dan ceritakanlah hal itu sejelasnya.”

Suara yang lemah lembut dan sikap mencinta dari kakaknya ini lebih tajam menyentuh perasaan Lin Lin daripada sikap Ma Hoa yang menunjukkan pembelaannya dengan marah. Tak terasa lagi Lin Lin meramkan mata menahan keluarnya air mata yang tetap saja menembus celah-celah bulu matanya dan mengalir turun ke atas pipinya. Sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kwee An, Lin Lin menangis dan menurut saja ditarik oleh Kwee An menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Cin Hai dan Ma Hoa.

Setelah mereka duduk di atas kursi dan Lin Lin telah dapat menekan perasaan gelisah dan sedihnya, maka berceritalah Lin Lin dan Cin Hai tentang penculikan terhadap Lili, dan juga tentang terbunuhnya Yousuf. Mendengar bahwa Yousuf terbunuh pula dalam keadaan yang amat mengerikan dan menyedihkan, yaitu dipenggal kepalanya, Ma Hoa menjerit dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia berdiri dan dengah tangan terkepal ia berkata keras,

“Lin Lin, kita harus mencari jahanam itu sampai dapat! Hatiku belum puas kalau belum menusuk mata jahanam itu dengan senjataku!”

Juga Kwee An merasa marah dan sedih sekali mendengar berita ini. Ketika mendengar dari Cin Hai bahwa menurut orang yang melihatnya, pembunuh Yousuf itu adalah seorang Turki, Kwee An berkata,

“Tak salah lagi, tentu pembunuhnya adalah utusan Pangeran Muda dari Turki yang semenjak dahulu memusuhi Yo-pek-hu!”

“Kami pun menduga demikian,” kata Cin Hai. “Oleh karena itu, kami hendak menyusul ke barat, hendak mencari keterangan dan menyelidiki ke Kansu di mana banyak terdapat orang-orang Turki baik pengikut Pangeran Muda maupun pengikut Pangeran Tua.”

“Betul sekali,” kata Kwee An mengangguk-anggukkan kepalanya. “Di sana banyak terdapat kawan-kawan baik dari Yo-pek-hu, kurasa dari mereka kau akan bisa mendapatkan keterangan.”

“Aku ingin sekali ikut pergi,” tiba-tiba Ma Hoa berkata, “aku ingin mendapat bagianku menghajar penculik Lili!”

Kwee An memandang kepada isterinya, lalu dengan tersenyum ia berkata,

“Dalam keadaanmu sekarang ini lebih baik jangan melakukan perjalanan sejauh itu.”

Ma Hoa membalas pandangan suaminya dan tiba-tiba mukanya berubah merah, Lin Lin mengerti akan maksud ucapan itu, maka ia merangkul Ma Hoa sambil berkata, “Enci yang baik! Sudah berapa bulankah?”

Makin merahlah muka Ma Hoa dan dengan suara perlahan ia berkata, “Dua…”

Cin Hai sama sekali tidak mengerti apakah maksud pembicaraan antara isterinya dan Ma Hoa, maka ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bodoh. Melihat wajah dan pandangan mata bodoh dari Cin Hai ini, tak tertahan pula Ma Hoa dan Lin Lin tertawa geli, bahkan Kwee An juga tersenyum, teringat akan peristiwa dulu-dulu tentang Cin Hai yang dalam beberapa hal memang agak bodoh. Pandang mata seperti itulah yang membuat ia mendapat julukan Pendekar Bodoh!

“Eh, eh, kalian mengapakah?” Cin Hai tildak merasa aneh melihat isterinya tertawa-tawa, karena memang demikianlah sifat Lin Lin. Dalam keadaan bersedih ia dapat tertawa gembira, sebaliknya dalam kegembiraan tiba-tiba murung!

“Jangan tanya-tanya, ini urusan wanita. Laki-laki tahu apa!” kata Lin Lin.

Akhirnya dapat juga Cin Hai menduga bahwa yang dimaksudkan tentu keadaan Ma Hoa dalam mengandung dua bulan. Akan tetapi karena merasa jengah dan malu, ia diam saja.

Dua pasang suami isteri itu lalu bercakap-cakap melepaskan rindu.

“Eh, sampai lupa aku! Mana si cantik Goat Lan? Mengapa semenjak tadi aku tidak melihatnya?” kata Lin Lin.

“Ah, dia telah dibawa oleh dua orang kakek yang kalian tentu sudah kenal namanya.”

“Dibawa? Apa maksudmu? Siapakah mereka?” tanya Cin Hai.

“Goat Lan telah diambil murid oleh Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo dan dibawa ke Liong-ki-san untuk dilatih ilmu silat.”

Cin Hai dan Lin Lin merasa girang mendengar ini dan keduanya lalu memberi selamat. Ma Hoa menceritakan peristiwa tentang kedatangan kedua orang kakek gagah itu di Kuil Ban-hok-tong.

“Enci Hoa,” kata Lin Lin yang teringat akan sesuatu, “aku telah mengadakan pembicaraan dengan suamiku tentang anakmu itu. Kau tentu dapat menduga maksud kami, yaitu tentang anakmu dan anak kami Hong Beng.”

Wajah Ma Hoa berseri. “Ah, bagaimana dengan puteramu yang elok itu?”

Lin Lin lalu menceritakan bahwa Hong Beng telah diantarkan ke Pok Pok Sianjin untuk menerima latihan ilmu silat.

“Kiranya tidak ada jodoh yang lebih tepat bagi Hong Beng selain anakmu yang cantik itu. Bagaimana kalau kita resmikan pertunangan itu sekarang?”

Kwee An tertawa. “Kedua anak itu baru berusia sepuluh tahun, bagaimana harus diresmikan pertunangan mereka?”

“Maksudku, pertunangan ini disahkan antara kita, orang-orang tua mereka. Kau tentu menerima pinanganku, bukan?” menegaskan Lin Lin.

“Lin Lin, kau masih saja tidak sabar seperti dulu!” kata Ma Hoa tertawa. “Dulu pernah kita bicarakan hal ini dan sudah saling setuju. Tentu saja, kami setuju sekali dan menerima pinanganmu dengan kedua tangan terbuka. Memang selain putera kalian siapa lagi yang patut menjadi mantu kami?”

Demikianlah, diantara tawa dan sendau gurau, mereka meresmikan pertunangan Hong Beng dan Goat Lan. Dengan amat mudahnya Lin Lin telah lupa kesedihannya kehilangan Lili. Cin Hai yang pendiam tak dapat melupakan nasib puterinya, akan tetapi tidak tega untuk mengingatkan isterinya tentang hal yang tidak menyenangkan ini, maka ia diam saja.

Setelah mengunjungi Kwee Tiong atau Thian Tiong Hosiang, ketua Kuil Ban-hok-tong, kakak tertua dari Lin Lin yang kini menjadi hwesio alim itu, Lin Lin dan Cin Hai lalu melanjutkan perjalanannya ke barat. Mereka hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An. Ma Hoa dan suaminya mengantar mereka sampai di luar batas kota dan mereka lalu berpisah.

Cin Hai dan Lin Lin melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat dan setelah berpisah dari Ma Hoa, kembali perhatian Lin Lin seluruhnya tercurah kepada puterinya dan kegelisahanya timbul kembali. Perjalanan mereka amat jauh, dan beberapa pekan kemudian setelah melaksanakan perjalanan cepat sekali, barulah mereka tiba di Kansu dan menuju ke kota Lancouw. Di sepanjang perjalanan mereka teringat akan segala pengalaman mereka yang penuh bahaya pada sepuluh tahun lebih yang lampau ketika mereka dengan kawan-kawan lain mengunjungi propinsi ini.

Cin Hai dan Lin Lin lalu masuk ke perkampungan orang Turki di mana dulu Yousuf tinggal. Orang-orang Turki yang tinggal di situ ternyata masih ingat kepada mereka, karena ketika mereka masuk ke kampung itu, mereka disambut dengan girang sekali oleh para kawan dari Yousuf itu. Cin Hai segera dihujani pertanyaan tentang keadaan Yousuf.

Ketika mendengar bahwa bekas pemimpin mereka itu telah tewas dengan keadaan amat menyedihkan, dipenggal kepalanya oleh seorang Turki lain yang brewok, maka sedihlah hati mereka.

“Bouw Hun Ti!” seru seorang di antara mereka yang sudah lanjut usianya. “Tentu Bouw Hun Ti si anjing pengkhianat yang melakukan hal itu.”

Cin Hai dan Lin Lin segera mendesak orang tua itu. “Sahabat,” kata Cin Hai, “sesungguhnya kami datang dari tempat yang amat jauh, tak lain maksud kami hanya hendak menemui saudara-saudara dan minta pertolongan untuk menduga siapa adanya bangsat yang telah membunuh Yo Se Fu dan yang telah menculik puteri kami itu. Tadi kami mendengar disebutnya nama Bouw Hun Ti, siapakah gerangan dia itu dan mengapa kalian mengira bahwa dia yang melakukan perbuatan itu?”

Orang Turki tua itu baru saja datang dari Turki dan ia tahu akan keadaan Bouw Hun Ti, maka ia lalu menceritakan sejelasnya kepada Cin Hai dan Lin Lin. Ketika mendengar bahwa Bouw Hun Ti diutus oleh Pangeran Muda untuk membawa Yousuf dengan paksa ke Turki dan bahwa Bouw Hun Ti adalah putera dari Balutin dan terkenal jahat dan kejam dan berkepandaian tinggi, Cin Hai dan Lin Lin tidak ragu-ragu lagi bahwa memang dialah orang yang dicari-carinya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk menanti di Lancouw, menghadang perjalanan Bouw Hun Ti yang tentu akan pulang ke Turki membawa Lili yang diculiknya, karena menurut keterangan orang-orang Turki itu, Bouw Hun Ti sampai saat itu belum kembali dari timur.

Akan tetapi, setelah menanti dua pekan belum juga kelihatan penculik dan pembunuh itu datang, Cin Hai dan Lin Lin menjadi kecewa dan gelisah sekali. Betapapun lambat musuh itu melakukan lperjalanan, tak mungkin akan makan waktu selama itu. Akhirnya Cin Hai dan Lin Lin mengambil keputusan untuk kembali ke timur, mencari musuh yang membawa lari puteri mereka itu. Kepada orang-orang Turki yang berada di situ mereka minta tolong agar supaya mengamat-amati, jika melihat Bouw Hun Ti dan seorang anak perempuan, supaya berusaha merampas anak perempuan itu. Orang-orang Turki itu maklum bahwa Lin Lin adalah anak angkat Yousuf, sehingga dengan demikian anak perempuan yang diculik oleh Bouw Hun Ti itu adalah cucu dari Yousuf, maka tentu saja mereka bersedia untuk membantu suani isteri itu dan menolong Lili. Mereka maklum bahwa di antara mereka tidak seorang pun dapat melawan Bouw Hun Ti yang lihai, akan tetapi dengan akal dan tipu, mereka merasa yakin akan dapat menculik kembali anak itu dari tangan Bouw Hun Ti dan mengantarkannya kepada suami isteri itu.

Maka berangkatlah Cin Hai dan Lin Lin kembali ke timur. Sungguhpun mereka merasa kecewa dan gelisah, akan tetapi ada juga sedikit kegirangan karena telah mengetahui nama dan keadaan musuh besar mereka. Kini mereka kembali ke timur tidak melalui jalan yang mereka lalui ketika mereka menuju ke Lancouw, yakni jalan sebelah selatan, akan tetapi mereka melalui jalan sebelah timur, di sepanjang perbatasan Mongolia dalam. Mereka mengambil keputusan hendak mampir di tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menengok Hong Beng yang belajar ilmu silat di situ.

***

Mo-kai Nyo Tiang Le bersama dua orang anak-anak murid sutenya, yakni Lili dan Kam Seng, tiba di Gunung Beng-san. Dengan perlahan Nyo Tiang Le mengajak dua orang anak-anak itu mendaki bukit yang indah sambil menikmati pemandangan alam yang benar-benar mengagumkan. Kam Seng kini setelah jatuh ke tangan orang-orang yang dapat ia percaya, timbul kembali sifat-sifat aslinya, yaitu pemberani, bersemangat, dan jenaka. Lili merasa suka kepada kawan ini dan ketika mendaki bukit yang indah itu, Lili dan Kam Seng mendahului supek mereka, karena Pengemis Setan ini sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati keindahan pemandangan alam. Lili dan Kam Seng sudah diberi tahu oleh supek ini bahwa tuiuan mereka adalah puncak bukit di sebelah utara itu. Maka mereka tidak sabar menanti supek mereka yang dapat berdiri diam bagaikan patung sampai lama sekali untuk menikmati tamasya alam.

“Supek benar-benar aneh,” kata Kam Seng sambil tertawa dan napas tersengal karena ia harus mengikuti Lili yang lebih gesit dan cepat gerakannya itu, “apakah keindahan pohon-pohon dan rumput di bawah gunung?”

Lili hanya tersenyum dan berkata, “Hayo cepat kita naik. Itu di atas banyak kembang merah yang indah!” ia lalu melompat ke depan dengan cepat bagaikan seekor anak kijang. Tentu saja Kam Seng tak dapat menyusulnya, dan anak yang sudah terengah-engah karena telah mendaki bukit itu mencoba untuk mempercepat langkahnya sambil bersungut-sungut,

“Supek aneh, Lili juga aneh. Kembang macam itu saja, apa sih indahnya?” Memang, Kam Seng yang semenjak kecilnya selalu menderita lahir batin, perasaannya menjadi acuh tak acuh, tak dapat merasai atau menikmati sesuatu yang sedap dipandang. Matanya telah terlalu banyak melihat hal-hal yang menimbulkan sedih dan putus harapan, bahkan dulu ketika ia menderita kelaparan dan kesengsaraan, segala sesuatu yang betapa indah pun nampak buruk dan menjemukan.

Karena Lili berhenti dan mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan kecil itu, maka Kam Seng dapat menyusulnya juga. Lili meraba bunga itu, dan nampaknya girang bukan main. Kedua pipinya bersinar kemerahan, matanya berseri gembira. Ia memetik beberapa tangkai bunga yang terindah, diikat menjadi satu dan dibawanya dengan hati-hati dan penuh kesayangan.

Pada saat itu dari sebuah lereng bukit berlari turun seorang anak laki-laki yang gesit sekali gerakannya. Anak ini berwajah tampan dan gagah sekali. Sepasang alisnya hitam tebal, nampak jelas kulit mukanya yang putih kemerahan. Rambutnya juga tebal dan hitam, diikat di atas kepala dengan sehelai pita kuning. Tubuhnya tegap sehingga nampaknya sudah hampir dewasa, sungguhpun usianya sebenarnya baru sebelas tahun kurang. Matanya lebar dan bersinar terang, membayangkan bahwa ia mempunyai watak yang jujur.

Anak laki-laki ini berlari turun dengan muka mengandung kemarahan. Ia melihat dua orang anak yang berada di taman bunga itu dan melihat seorang anak perempuan memetiki kembang yang menjadi kesayangan gurunya, ia menjadi marah sekali.

“Hai! Jangan sembarangan memetik dan merusak kembang!” tegurnya dari jauh sambil berlari cepat menghampiri Lili dan Kam Seng.

Lili dan Kam Seng terkejut, lalu memandang. Kam Seng diam saja karena merasa bahwa kalau taman bunga ini kepunyaan seseorang, memang mereka berdua telah berlaku salah. Akan tetapi Lili yang berwatak keras tentu saja tidak mau mengaku salah begitu saja. Ia memutar tubuh menanti kedatangan anak laki-laki itu dan berteriak,

“Turunlah! Apa kaukira aku takut kepadamu? Kembang indah memang sudah seharusnya dipetik, mengapa kaubilang merusak?”

Anak laki-laki yang berlari turun itu ketika mendengar suara Lili dan setelah berada lebih dekat, berubah menjadi girang sekali dan ketika itu juga lenyaplah kemarahannya.

“Lili…!” serunya girang dan ia mempercepat larinya.

Lili tertegun mendengar suara ini. Tadi ia memang tak dapat melihat jelas, karena senjakala telah mulai tiba dan udara menjadi kurang terang. Kini mendengar suara panggilan itu, ia tertegun dan akhirnya berlari menyambut anak laki-laki itu sambil berseru,

“Hong Beng…!!” Lili memang semenjak kecil menyebut kakaknya dengan memanggil namanya begitu saja, tanpa diberi tambahan kakak atau engko. Sungguhpun berkali-kali ayah-bundanya menyuruh ia menyebut Hong Beng kakak, namun anak yang bandel ini tetap saja tidak pernah mentaatinya dan tetap menyebut kakaknya Hong Beng saja!

Segera kedua orang anak itu berhadapan dan dengan girang Hong Beng memegang kedua tangan adiknya.

“Lili… dengan siapa kau datang? Mana Ayah dan Ibu? Dan siapakah Siauwko (Engko Kecil) itu?”

“Aku datang bersama Supek. Ayah dan Ibu tentunya berada di rumah, dan dia ini adalah Kam Seng, anak yatim piatu yang diambil murid oleh Suhu.”

Hong Beng tercengang mendengar keterangan singkat ini. “Eh, siapakah Supekmu dan siapa pula Suhumu? Mengapa kau meninggalkan rumah?”

Memang sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Hong Beng dibawa oleh ayahnya ke puncak Beng-san untuk berguru kepada Pok Pok Sianjin, seorang tua berilmu tinggi yang menjadi tokoh besar di barat. Ketika ia pergi, adiknya berada di rumah dan tidak mempunyai guru karena seperti juga dia sendiri, adiknya pun belajar silat dari ayah ibu mereka. Mengapa tiba-tiba saja adiknya itu mempunyai seorang suhu dan supek dan meninggalkan rumah?

Lili hendak menuturkan pengalamannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara suling yang amat nyaring dari atas puncak.

“Ah, Suhu sedang berlatih. Mari kau kubawa menghadap Suhu. Kau juga ikutlah Saudara Kam Seng. O ya, mana itu Supekmu yang kaukatakan datang bersamamu?”

“Supek sedang tergila-gila kepada pohon dan kembang, maka tertinggal di belakang.” Lili menerangkan sambit tertawa. Ia telah memungut kembangnya kembali dan memegangnya dengan sayang. Akan tetapi Hong Beng minta kembang itu dan berkata,

“Lili, Suhu akan marah kalau melihat kembangnya dipetik orang.”

“Mengapa?” tanya Lili dengan heran.

“Menurut penuturan Suhu, kembang mempunyai semangat seperti orang pula, maka memetik kembang yang sedang mekar berarti sama dengan membunuh seorang muda seperti kita!”

Lili memandang kakaknya dengan mata terbelalak penuh rasa sesal, akan tetapi sambil tertawa Hong Beng lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya berlari naik ke puncak dari mana terdengar suara tiupan suling yang aneh itu.

“Hayo, Kam Seng. Larilah yang cepat!” ajak Lili sambil menoleh ke belakang, dan merahlah muka Kam Seng karena mana bisa ia berlari cepat di jalan menanjak yang sukar itu? Terpaksa ia menguatkan kaki dan tubuhnya yang sudah lelah untuk mengikuti mereka, akan tetapi tertinggal jauh!

Setelah suara suling itu makin terdengar jelas karena sudah dekat, tiba-tiba Hong Beng menahan langkah kakinya dan berkata, “Ah, orang yang tak tahu diri itu datang lagi rupanya!” Lili tak sempat bertanya karena kakaknya menggandeng tangannya dan diajak berlari cepat menuju ke puncak dari mana terdengar suara suling yang makin nyaring menusuk telinga itu.

Ketika mereka tiba di tempat itu, Lili memandang dengan penuh keheranan ke depan. Di atas tanah yang rata nampak dua orang sedang bergerak cepat dan aneh.

Yang seorang adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih yang bergerak-gerak sambil meniup suling, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang setengah tua yang bergerak menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda menyambar kelinci.

Lili menutup telinganya karena suara suling yang nyaring itu benar-benar membuat telinganya terasa sakit. Adapun Kam Seng yang datang sambil terengah-engah kelelahan, memandang pula dengan terheran-heran dan melongo, akan tetapi Hong Beng berdiri diam dan matanya memandang tajam ke arah dua orang yang sedang bertempur itu.

Kakek tua itu bukan lain adalah Pok Pok Sianjin sendiri. Memang aneh sekali kelihatannya, sungguhpun kakek itu meniup suling dengan enaknya dan lagu yang tertiup dari sulingnya terdengar merdu, akan tetapi suara suling itu amat nyaring dan seakan-akan mengandung tenaga gaib yang mengeluarkan hawa pukulan. Buktinya, biarpun orang yang meloncat-loncat menyerang itu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk menendang atau memukul, ia selalu terpental kembali sebelum dapat menyentuh tubuh Pok Pok Sianjin. Hawa yang keluar dari tiupan suling itu mengandung kekuatan lwee-kang dan khi-kang yang membuatnya tertangkis dan terdorong oleh tenaga yang tidak kelihatan!

“Orang itu adalah seorang jago silat dan mahir ilmu silat Pek-eng-kun-hoat (Ilmu Silat Garuda Putih). Telah beberapa kali ia datang minta berpibu (mengadu ilmu silat) dengan Suhu, akan tetapi Suhu tidak mau meladeninya. Ternyata sekarang dia datang lagi, benar-benar orang tak tahu diri!”

Baru saja Hong Beng berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dan tahu-tahu tubuh orang yang menyerang Pok Pok Sianjin itu terlempar ke belakang, jatuh bergulingan. Akan tetapi ia cepat melompat bangun kembali dan memandang ke arah orang yang tertawa tadi. Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Mo-kai Nyo Tiang Le yang entah kapan telah berada di tempat itu pula! Tentu saja Lili merasa heran karena tadi supeknya tertinggal di belakang mengapa sekarang telah mendahuluinya berada di tempat itu?

Orang yang terguling tadi setelah memandang kepada Mo-kai Nyo Tiang Le, lalu menjura dan berkata, “Mo-kai (Pengemis Setan), aku telah menerima pengajaran, lain kali bertemu pula!” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat jauh dan menghilang di bawah gunung!

Nyo Tiang Le bergelak-gelak dan Pok Pok Sianjin lalu menyimpan kembali sulingnya. “Mo-kai, kau masih saja bertangan jail, pukulanmu Soan-hong-jiu (Pukulan Kitiran Angin) telah membuat ia menjadi gentar dan pergi dengan hati mendendam kepadamu!”

Nyo Tiang Le memang tadi telah melancarkan dorongan dari jauh dan hanya dengan angin pukulannya saja telah berhasil mendorong roboh orang tadi, sungguh dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Pengemis Setan ini! Ia tersenyum dan berkata sambil menghela napas,

“Pok Pok Sianjin, mengapa kau suka melayani segala macam orang seperti dia? Bukankah dia itu sute dari Ban Sai Cinjin? Aku pernah melihat orang tadi maka aku berani mendorongnya agar ia jangan mengganggu kau orang tua lebih lanjut.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: