Pendekar Remaja ~ Jilid 6

Pok Pok Sianjin mengangguk-angguk, “Memang, dia adalah adik seperguruan Ban Sai Cinjin dan namanya Lu Tong Kui. Ia menjagoi di Lok-yang dan telah beberapa hari ini ia merengek-rengek dan mendesakku untuk mengadakan pibu. Tentu saja aku menolaknya, akan tetapi ia mendesak terus dan menyatakan bahwa jauh-jauh dari Lok-yang ia datang untuk menguji kepandaianku. Aku tidak tega dan terpaksa melayaninya bermain-main sebentar.”

Nyo Tiang Le tertawa kembali makin keras. “Ha-ha-ha, kau orang tua benar-benar keterlaluan! Kaubilang tidak tega akan tetapi kau telah mainkan Seng-im-khi-kang, kalau aku tidak keburu mendorongnya roboh dengan Soan-hong-jiu, apakah ia tidak akan menderita luka-luka hebat di dalam tubuhnya terkena serangan hawa dari sulingmu? Ha-ha-ha!”

Pok Pok Sianjin juga tertawa. “Kaukira aku sekejam itu? Aku baru mempergunakan Seng-im-khi-kang setelah yakin bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi itu! Eh, Setan Tua, kau baik sekali. Telah lama aku merasa rindu kepadamu, apakah kau datang hendak menantangku main catur?”

Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Asal bertaruh minum arak baik, siapa takut kepandaian caturmu?”

Pada saat itu, Hong Beng menarik lengan tangan adiknya dan diajak berlutut di depan Pok Pok Sianjin. “Suhu, ini adalah adik teecu yang bernama Lili!”

Pok Pok Sianjin memandang kepada Lili, mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, “Seperti ibunya… seperti ibunya…!”

Sementara itu, Nyo Tiang Le memandang kepada Hong Beng dan berkata, “Inikah putera Pendekar Bodoh? Pantas sekali! Jadi kau orang tua telah menerima kehormatan mendidik putera Pendekar Bodoh? Satu kehormatan besar dan kau beruntung sekali Pok Pok Sianjin!”

Mendengar ini, Hong Beng cepat membantah, “Bukan Suhu yang mendapat kehormatan besar dan keberuntungan, Locianpwe, akan tetapi adalah teecu yang mendapat karunia besar!”

Nyo Tiang Le mengangkat alisnya dengan heran dan kemudian tertawa dengan senang. “Anak ini pandai membawa diri seperti ayahnya!”

Kemudian, Pengemis Setan itu menuturkan kepada Pok Pok Sianjin tentang pertemuannya dengan sutenya Lo Sian dan menceritakan pula pengalaman Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti. “Suteku sedang menuju ke timur untuk memberi kabar kepada Pendekar Bodoh. Sementara itu, aku akan menanti di sini dan melatih anak ini, sambil menanti datangnya orang tuanya yang tentu akan menjemputnya.”

Bukan main girangnya hati Hong Beng mendengar bahwa adiknya akan tinggal di situ untuk beberapa lama dan ayah ibunya akan datang pula di situ. Ketika Nyo Tiang Le menceritakan pula tentang riwayat Kam Seng, Pok Pok Sianjin merasa kasihan juga. “Biarpun bakatnya kurang, namun ia cocok menjadi murid Suteku,” kata Nyo Tiang Le.

Kemudian dua orang tua itu lalu masuk ke dalam pondok dan bermain catur, sedangkan Hong Beng bersama Lili dan Kam Seng lalu bermain-main di sekitar puncak Beng-san itu. Kam Seng merasa kagum dan tunduk kepada Hong Beng yang selain berkepandaian tinggi juga amat ramah kepadanya.

Semenjak hari itu, Lili tinggal di puncak Beng-san dan mendapat latihan ilmu silat dari Nyo Tiang Le. Dasar otaknya terang dan ia memang telah memiliki dasar kepandaian yang diajarkan oleh ayah ibunya semenjak ia masih kecil, maka sebentar saja ia telah mendapat kemajuan yang amat cepat. Juga Kam Seng mulai menerima latihan-latihan atas petunjuk Lili dan Hong Beng, karena Nyo Tiang Le hanya memberi petunjuk-petunjuk teorinya saja sehingga anak yatim piatu itu berlatih di bawah pengawasan Hong Beng dan Lili! Hong Beng sendiri dengan amat tekun dan rajinnya mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin terutama sekali ilmu silat tongkat yang menjadi keahlian Pok Pok Sianjin dan yang telah menjunjung tinggi namanya sebagai ahli silat kelas satu dan tokoh terbesar dari dunia persilatan sebelah barat!

Oleh karena mendapat didikan ilmu silat dari seorang ahli dan pula karena tinggal bersama kakaknya, Lili sampai lupa bahwa ayah ibunya yang dinanti-nanti ternyata belum juga datang, sungguhpun ia telah berada di atas puncak Beng-san sampai berbulan lamanya!

Mengapa sampai demikian lama Cin Hai dan Lin Lin tidak menyusul anaknya di Beng-san, padahal sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, sepasang suami isteri pendekar ini dalam perjalanannya kembali dari Kansu, hendak mampir dan menengok putera mereka di puncak bukit itu?

Sesungguhnya, Pendekar Bodoh dan isterinya menemui peristiwa yang hebat dan yang membuat mereka belum juga tiba di Beng-san!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Cin Hai dan Lin Lin telah mendapat keterangan dari orang-orang Turki kawan-kawan mendiang Yousuf, bahwa menurut dugaan mereka, tak salah lagi pembunuh Yousuf dan penculik Lili adalah seorang peranakan Tionghoa Turki yang bernama Bouw Hun Ti. Maka mereka lalu kembali ke timur, mengambil jalan sebelah utara di sepanjang tapal batas Propinsi Kansu dan Mongolia dalam. Mereka mengambil keputusan untuk sekalian mampir di Beng-san dan menengok putera mereka yang berlatih silat dibawah pimpinan Pok Pok Sianjin.

Puncak Beng-san terletak di Pegunungan Lu-liang-san yang panjang maka kalau mereka mengambil jalan di utara, mereka akan melewati Lu-tiang-san.

Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota yang bernama Po-kwan, dan kota ini berada di tapal batas Mongolia dalam, di lembah Sungai Huang-ho yang belum begitu besar airnya. Kota Po-kwan cukup ramai dan suami isteri ini selain melihat-lihat kota yang belum pernah dikunjunginya ini, juga mereka bertanya-tanya kalau-kalau ada Bouw Hun Ti di daerah itu. Akan tetapi, tak seorang pun melihat orang she Bouw yang dicari-carinya itu, maka dua hari kemudian, Cin Hai dan Lin Lin keluar dari kota Po-kwan dan hendak melanjutkan perjalanan melalui Sungai Huang-ho menuju ke Pegunungan Lu-liang-san. Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari kota Po-kwan, mereka bertemu dengan orang-orang yang tak pernah mereka sangka-sangka akan bertemu di situ. Mereka sedang berjalan keluar dari kota untuk menuju ke sungai yang berada di sebelah timur kota, dan tiba-tiba dari sebuah tikungan mereka melihat seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun berjalan cepat sekali di depan mereka. Lin Lin memandang tajam, karena dari belakang ia serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi baru saja ia hendak bertanya kepada suaminya, Cin Hai telah mendahuluinya dan berseru girang, “Lie-suheng!” Laki-laki itu terkejut mendengar seruan ini dan segera menghentikan tindakan kakinya dan cepat membalikkan tubuh. Wajahnya nampak tua dan muram sekali, sungguhpun ia masih kelihatan tampan dan gagah. Kumisnya sudah mulai putih tak terurus dan jenggotnya juga panjang tak terpelihara. Pakaiannya tidak karuan, bahkan ada beberapa bagian yang sudah robek-robek didiamkannya saja. Akan tetapi ketika melihat Cin Hai dan Lin Lin, untuk sekejap matanya bersinar-sinar, dan Cin Hai bersama isterinya yang berlari menghampiri orang itu hanya melihat betapa kegembiraan itu berlangsung sebentar saja. Orang itu segera menundukkan muka dan menjadi muram kembali, seakan-akan merasakan kesedihan yang luar biasa besarnya. “Sie-sute, kaukah? Dari manakah kau dan Sumoi, kau juga baik-baik saja, bukan?” Suaranya rata dan tak berirama, tanda bahwa ia sedang menderita kesedihan besar sekali. Cin Hai segera memegang tangan orang itu setelah memberi hormat. “Lie-suheng, kau kenapakah?” “Lie-suheng, agaknya kau amat bersedih? Dimanakah Enci Im Giok?” tanya pula Lin Lin. Orang itu memandang kepada mereka ganti berganti kemudian tiba-tiba dari sepasang matanya keluarlah air mata yang membanjir turun membasahi kedua pipinya. Bukan main kagetnya Cin Hai dan Lin Lin melihat keadaan orang itu. Cin Hai segera menariknya dan mengajaknya duduk di bawah pohon di pinggir jalan dan segera mendesak kepada orang itu untuk menceritakan apakah sebenarnya yang menyusahkan hatinya. Siapakah orang ini? Para pembaca yang sudah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa orang ini bukan lain adalah Lie Kong Sian, murid mendiang Bu Pun Su, guru Cin Hai dan Lin Lin. Karena ada hubungan perguruan ini, maka Lie Kong Sian masih terhitung suheng (kakak seperguruan) dari Cin Hai dan Lin Lin. Di dalam cerita Pendekar Bodoh diceritakan bahwa Lie Kong Sian ini telah berjodoh dengan seorang pendekar wanita baju merah yang amat lihai dan yang bernama Kiang Im Giok atau lebih terkenal lagi dengan nama julukannya Ang I Niocu (Nona Baju Merah). Lie Kong Sian tinggal bersama isterinya di sebuah pulau, yaitu Pulau Pek-lek-to yang terletak di dekat pantai laut Tiongkok sebelah timur. Semenjak Lie Kong Sian dan isterinya mengunjungi Cin Hai dan Lin Lin untuk menyaksikan upacara pernikahan kedua adik seperguruannya itu, sehingga kini baru sekali mereka saling bertemu. Hal itu terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu baru saja setahun mereka saling berpisah. Akan tetapi semenjak itu, mereka tak pernah saling bertemu kembali. Bahkan ketika Cin Hai dan Lin Lin mengunjungi Pulau Pek-le-to pada lima tahun yang lalu sambil mengajak kedua anak mereka, pulau itu ternyata kosong dan tidak diketahui ke mana perginya Lie Kong Sian dan isterinya. Agar lebih jelas bagi para pembaca yang belum membaca buku Pendekar Bodoh, baiknya diterangkan kembali bahwa Ang I Niocu adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya, dan boleh disamakan dengan kecantikan seorang bidadari dari kahyangan. Dalam usia tiga puluh tahun lebih, yaitu pada saat ia menikah dengan Lie Kong Sian, ia masih nampak cantik jelita dan muda seperti seorang dara berusia tujuh belas tahun saja. Hal ini bukan saja memang pada dasarnya ia cantik jelita, akan tetapi sebagian besar adalah pengaruh semacam telur mujijat, yakni telur Pek-tiauw (Rajawali Putih). Nona Baju Merah ini amat sayang akan kecantikannya dan untuk menjaga ini ia tidak segan-segan untuk mencari telur burung rajawali putih yang amat sukar didapatkannya. Karena khasiat telur inilah, maka ia selalu nampak cantik dan muda selalu. Kecantikannya ini ditambah lagi dengan keahliannya bermain silat yang luar biasa, yaitu ilmu sliat yang disebut juga Ilmu Silat Tari Bidadari, sehingga kalau ia sudah mainkan ilmu pedangnya dengan ilmu silat ini, maka ia benar-benar merupakan seorang bidadari yang sedang menari dengan indahnya! Tidak heran bahwa banyak sekali hati pemuda-pemuda runtuh karena kecantikannya ini bahkan Cin Hai sendiri pernah tergila-gila kepada Ang I Niocu (dituturkan dengan menarik sekali dalam ceritaPendekar Bodoh ). Akan tetapi Ang I Niocu mempunyai watak yang amat keras dan angkuh. Semua pinangan pemuda-pemuda yang gagah dan tampan ditolaknya belaka bahkan diejeknya pemuda-pemuda itu sehingga banyak yang patah hati.

Kemudian ia bertemu dengan Lie Kong Sian yang menjatuhkan hatinya karena budi kebaikan pemuda ini dan pula karena pemuda ini memiliki ilmu silat tinggi yang sanggup mengalahkannya. Akhirnya mereka menikah dan hidup penuh kebahagiaan di atas Pulau Pek-lek-to yang merupakan sorga bagi mereka. Pulau ini amat subur dan juga indah sekali pemandangannya. Dua tahun setelah mereka menikah, Ang I Niocu mengandung. Semenjak mengandung, pendekar wanita ini merasa tak enak sekali tubuhnya dan sifatnya yang keras itu kini timbul kembali, bahkan makin menghebat. Seringkali ia marah-marah besar kepada suaminya hanya karena urusan kecil saja. Akan tetapi Lie Kong Sian yang amat mencinta isterinya dan amat sabar itu, dapat menghiburnya dan selalu mengalah dalam segala hal. Akhirnya terlahirlah seorang bayi laki-laki dan keduanya merasa amat berbahagia kembali. Bersama dengan kelahiran itu lenyaplah semua sifat pemarah, akan tetapi tubuh pendekar wanita itu masih saja seringkali merasa tidak enak sekali dan kepalanya pening. Perubahan besar nampak terjadi pada dirinya, sungguhpun terjadi amat lambat dan perlahan, akan tetapi tiga tahun kemudian, perubahan ini sudah menjadi sedemikian hebatnya. Rambut Ang I Niocu yang tadinya hitam dan panjang berombak itu lambat laun menjadi putih dan penuh uban! Kulit mukanya yang tadinya halus dan kemerah-merahan itu lambat laun menjadi keriputan dan menghitam! Bukan main penderitaan batin yang dirasakannya, kini melihat kecantikannva melenyap dengan perlahan akan tetapi tentu, bagaikan penyakit yang memakan habis kecantikannya itu sekerat demi sekerat, hampir tak tertahankan olehnya. Tiap kali ia melihat wajahnya pada bayangannya di dalam air, ia menangis tersedu-sedu dengan hati hancur. Lie Kong Sian berdaya upaya menghiburnya, juga mengobatinya, akan tetapi percuma belaka. “Isteriku,” katanya menghibur ketika isterinya menangis tersedu-sedu sambil menarik-narik rambutnya yang telah menjadi putih dan banyak yang terlepas dari kulit kepalanya, “betapapun juga, dan apa pun yang akan terjadi dengan kau, aku tetap mencintamu dengan tulus ikhlas dan suci. Jangan kau bersedih, isteriku…” Akan tetapi kata-kata ini bahkan menghancurkan hati Ang I Niocu. Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Ah… bagaimanakah ini…? Mengapa Thian mengutuk diriku begini hebat…? Aku baru berusia hampir empat puluh, mengapa rambutku telah putih semua, kulitku menjadi rusak seperti ini? Mana kecantikanku yang dulu…? Ah, aku malu, aku malu…!” Ia lalu menangis dengan amat sedihnya. “Im Giok, jangan kau berkata demikian. Kecantikan hanya keindahan lahir belaka dan kau tahu bahwa cintaku kepadamu bukan hanya berdasarkan kecantikanmu.” Akan tetapi segala macam hiburan tak dapat memuaskan hati Ang I Niocu. Ia dan suaminya maklum bahwa kecantikannya yang dipengaruhi oleh obat telur rajawali putih itu memang mempunyai batas dan syarat yang berat. Syarat itu ialah apabila seorang yang menjadi cantik karena telur itu melahirkan seorang anak, maka kecantikannya tidak saja akan lenyap, bahkan usianya akan bertambah dengan cepat dan lipat ganda, sehingga dalam usia empat puluh tahun, ia menjadi seorang yang usianya hampir delapan puluh tahun! Akhirnya, setelah tersiksa oleh kesedihan sendiri sampai hampir gila, pada suatu pagi Lie Kong Sian mendapatkan isterinya telah minggat dari pulau itu menggunakan sebuah sampan dan membawa serta anaknya! “Suamiku yang baik,” demikian bunyi surat yang ditinggalkan oleh Ang I Niocu untuk Lie Kong Siang “ampunilah dosaku yang amat besar kepadamu. Aku tidak kuat lagi menahan derita sehebat ini, maka lebih baik aku keluar dari kehidupanmu, agar aku tidak menyeret kau yang berbudi ke dalam jurang kehinaan. Biarlah aku pergi mengasingkan diri. Anak kita kubawa dan sisa hidupku akan kugunakan untuk mendidik dan menurunkan ilmu silat kepadanya agar ia menjadi seorang yang berbudi dan gagah. Selamat tinggal suamiku! Kalau aku sudah mati, anak kita tentu akan mencari ayahnya untuk berbakti!” Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian membaca surat peninggalan isterinya yang tercinta itu. Ia cepat menyusul dan mengejar akan tetapi karena air tak meninggalkan bekas isterinya, ia mengejar ke lain jurusan dan tidak dapat menemukan isteri dan anaknya. Ketika itu anaknya baru berusia tiga tahun lebih. Hancurlah penghidupan Lie Kong Sian. Dunia terasa kosong dan hidup terasa merupakan penderitaan dalam neraka. Ia lalu merantau dan mencari-cari jejak isterinya sampai bertahun-tahun. Kalau dulu ia merupakan seorang yang amat tampan dan biarpun sederhana akan tetapi selalu berpakaian pantas, sekarang ia telah berubah sama sekali. Ia menjadi seorang pendiam, kadang-kadang seperti orang gila. Demikianlah keadaan Lie Kong Sian yang secara kebetulan berjumpa dengan Cin Hai dan Lin Lin. Tadinya Lie Kong Sian merasa segan untuk menceritakan penderitaannya, akan tetapi karena tidak ada orang lain di dunia ini yang lebih pantas mendengar tentang penderitaannya itu kecuali Cin Hai, ia lalu menceritakan semua itu sambil bercucuran air mata. Cin Hai dan Lin Lin merasa terharu sekali mendengar hal ini. Dengan air mata berlinang Cin Hai menegur suhengnya, “Suheng, ada terjadi hal seperti itu, mengapa Suheng tidak cepat-cepat datang ke Shaning dan memberi tahu kepada kami agar kami dapat ikut mencari ke mana perginya Ang I Niocu?” Di dalam lubuk hatinya, Cin Hai merasa amat sayang dan mencinta Ang I Niocu, sungguhpun cintanya itu telah berubah menjadi cinta seorang adik kepada kakaknya, atau lebih dari itu hampir seperti cinta seorang anak kepada ibunya.

Lin Lin merasa lebih terharu lagi. Ia amat mencinta Ang I Niocu yang pernah membelanya tanpa mempedulikan keselamatan jiwa sendiri (baca Pendekar Bodoh), maka kini mendengar malapetaka yang menimpa diri Ang I Niocu ia menangis terisak-isak tanpa dapat mengeluarkan kata-kata sedikit pun!

Setelah puas menangis dan menumpahkan rasa sedih di dalam dada di tempat pertemuan itu, Lie Kong Sian lalu bertanya mengapa kedua suami isteri itu berada di tempat itu.

Cin Hai lalu menuturkan tentang penculikan atas diri Lili puteri mereka dan pembunuhan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti kepada Yousuf.

Mendengar ini, bukan main marahnya Lie Kong Sian dan sambil menghela napas berat ia berkata, “Ah, mengapa selalu orang-orang yang tak berdosa menerima siksaan hidup? Mengapa bahkan orang-orang yang selalu menjunjung kebaikan dan keadilan yang harus menderita banyak susah?”

“Suheng, biarlah aku dan isteriku membantu usahamu mencari tempat sembunyinya Niocu dan anakmu, dan aku akan membujuknya agar suka kembali kepadamu.”

Lie Kong Sian menghela napas. “Agaknya sukar sekali. Selain ia pandai menyembunyikan diri, juga hatinya amat keras dan sekali ia telah mengambil keputusan, sukarlah untuk mengubahnya. Akan tetapi, biarlah kita mengambil jalan masing-masing, Sute. Kau membantuku mencari isteriku, dan kau percayalah, kalau sampai aku bertemu dengan orang she Bouw itu, pasti kubalaskan sakit hati Yo-pekhu dan kurampas kembali puterimu.”

Cin Hai yang maklum akan adat dan sifat Ang I Niocu yang keras, diam-diam merasa bahwa apabila dia yang membujuk, agaknya masih ada harapan, akan tetapi terhadap Lie Kong Sian ia diam saja.

Mereka lalu berpisah dan suami isteri itu memandang Lie Kong Sian yang berjalan pergi dengan muka tunduk itu. Bukan main terharu hati mereka dan Lin Lin menggunakan saputangan untuk menahan isaknya ketika ia melihat suhengnya itu berjalan bagaikan mayat hidup, lemah tak bertenaga dan limbung.

“Kasihan sekali Suheng…” kata Cin Hai sambil menghapus air mata yang berlinang di pelupuk matanya.

Karena Cin Hai pernah mengadakan perjalanan di daerah utara bersama Ang I Niocu, yaitu pada waktu terjadi perebutan Pulau Emas antara kerajaan pihak Turki dan pihak Mongol (baca Pendekar Bodoh), maka Cin Hai mendapat dugaan bahwa Ang I Niocu tentu menyembunyikan diri di Pegunungan Im-san atau Go-bi-san di utara. Oleh karena itu, ia menunda maksudnya menuju ke Beng-san menengok puterinya dan sebaliknya ia bersama isterinya lalu membelok ke utara dan menrari Ang I Niocu di daerah Mongol! Inilah sebabnya maka sampai berbulan-bulan ia dan isterinya belum juga tiba di Beng-san di mana Lili dengan aman telah belajar silat di bawah asuhan Mo-kai Nyo Tiang Le si Pengemis Setan yang lihai!

***

Lo Sian Sin-kai atau Si Pengemis Sakti dengan cepat melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Shaning di Propinsi An-hui untuk mencari Cin Hai dan mengabarkan tentang Lili yang kini berada di puncak Gunung Beng-san.

Seperti biasa tiap kali mengadakan perantauan, Pengemis Sakti ini tiada hentinya mengulur tangan memberi pertolongan kepada orang-orang yang melarat dan tertindas sehingga namanya makin terkenal sebagai seorang pendekar budiman.

Setelah tiba di Shaning, dengan amat mudahnya ia mendapatkan rumah Ciri Hai siapakah orangnya di Shaning yang tidak mengenal nama Pendekar Bodoh? Akan tetapi, alangkah kecewa dan kagetnya ketika melihat bahwa rumah dari Pendekar Bodoh itu tertutup, bahkan masih ada kain putih tergantung di depan pintu, tanda bahwa rumah belum lama ini menderita kematian seorang keluarga dekat. Lo Sian segera mencari keterangan kepada orang-orang di situ dan bukan main marah dan kecewanya ketika mendengar bahwa ayah angkat Nyonya Sie telah terbunuh oleh seorang peranakan Turki, dan bahwa selain melakukan pembunuhan yang kejam, penjahat itu pun menculik puteri dari Pendekar Bodoh.

Sampai lama Lo Sian tertegun mendengar ini. Tak disangkanya bahwa orang brewok yang menculik Lili bahkan telah membunuh pula ayah angkat dari ibu anak itu!

“Bangsat besar Bouw Hun Ti,” bisiknya gemas sambil mengertakkan giginya, “kau benar-benar mencari mampus berani memusuhi keluarga Pendekar Bodoh!”

Lo Sian lalu bertanya kepada orang yang memberi keterangan kepadanya ke mana perginya Pendekar Bodoh dan isterinya. Ketika mendapat jawaban bahwa kedua suami isteri pendekar itu pergi mengejar dan mencari si penculik dan pembunuh, Lo Sian lalu cepat-cepat meninggalkan kota Shaning setelah memberi sesampul surat kepada tetangga dekat rumah Cin Hal itu dengan pesanan bahwa apabila pendekar besar itu pulang, suratnya agar supaya diberikannya. Di dalam surat itu ia menulis bahwa Lili telah tertolong dan kini berada di puncak Beng-san bersama Mo-kai Nyo Tiang Le yang hendak mengunjungi Pok Pok Sianjin. Kemudian ia lalu pergi keluar dari kota dan menuju ke Bukit Beng-san untuk memberi laporan kepada suhengnya, dan juga untuk melanjutkan melatih kedua orang muridnya yaitu Lili dan Kam Seng. Tentu saja ia tidak berani lagi menganggap Lili sebagai muridnya, karena setelah kedua orang tua anak itu menjemput dan membawanya pulang, sudah tentu jauh lebih baik kalau Lili mendapat pelajaran dari ayah ibunya sendiri yang memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya.

Pada suatu hari, dalam perjalanannya menuju ke Beng-san, ia tiba di kota Li-coan dan ketika ia lewat di depan sebuah rumah makan, bau arak yang amat sedap menarik hatinya dan menimbulkan seleranya yang amat kuat akan arak wangi. Ia lalu masuk ke dalam rumah makan itu dan memesan seguci arak yang paling baik. Pada pelayan yang memandangnya dengan mata curiga, ia memperlihatkan sepotong uang emas yang kiranya cukup untuk membayar harga lima guci arak!

Pelayan itu memandang dengan mata terbelalak dan sambil pergi untuk mengambilkan arak pesanan Lo Sian, ia menggerutu,

“Sungguh aneh sekali dunia ini! Aku yang bekerja keras siang malam tak kenal lelah, belum pernah mempunyai sekeping emas murni! Akan tetapi, hari ini aku melihat seorang setengah gila mempunyai banyak uang emas dan seorang pengemis berbaju tambalan memperlihatkan sepotong emas besar! Aneh, aneh… dunia memang tidak adil!”

Lo Sian tersenyum seorang diri. Biarpun pelayan itu bicara dengan perlahan akan tetapi telinga Lo Sian yang tajam dapat mendengar ucapan ini dan diam-diam ia membenarkan keluh kesah pelayan itu. Memang kalau dipikir-pikir sungguh mengherankan. Orang-orang yang bekerja, makin berat pekerjaannya, makin kecillah penghasilannya. Lihat saja para pembesar tinggi yang kerjanya hanya naik turun kereta, naik turun kursi kebesaran, menjual lagak di mana-mana, membentak-bentak rakyat dan cukup memberi cap kebesarannya saja, hidupnya mewah dan penghasilannya berlebihan sungguhpun penghasilannya itu didapat dengan jalan yang tidak halal!

Ketika pelayan itu datang mengantar arak yang dipesannya, tiba-tiba terdengar suara dari sudut ruang rumah makan itu yang membentak si pelayan.

“Hai, kau boleh menggerutu seorang diri, akan tetapi, jangan kaubawa-bawa aku pula! Aku mempunyai banyak emas bukan dengan jalan mencuri atau merampok, maka tutuplah mulutmu!”

Lo Sian terkejut. Orang itu duduknya cukup jauh dari tempat pelayan tadi menggerutu, maka kalau orang dapat mendengar gerutuan si pelayan, dapat diduga bahwa orang itu memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Ia menengok dan memperhatikan orang itu. Ternyata bahwa orang itu bertubuh tegap, berwajah gagah sekali dan sepasang matanya berpengaruh, membuat orang tidak berani bertemu pandang terlalu lama dengan dia. Akan tetapi, keadaannya memang patut disebut kurang beres ingatan karena selain pakaiannya tidak karuan macamnya, juga orang itu membiarkan rambut kepalanya bergantungan di depan matanya. Kumis dan jenggotnya menjungat ke sana kemari tanpa terpelihara sedikit pun juga dan wajahnya muram dan gelap. Juga orang ini telah memesan arak wangi serta meminumnya bukan melalui cawan seperti orang biasa, melainkan menenggaknya langsung dari mulut guci yang besar! Bahkan di atas mejanya telah ada sebuah guci yang kosong dan guci ke dua telah diminum setengahnya.

Sekali pandang saja, tahulah Lo Sian bahwa orang itu tentu seorang yang pandai, akan tetapi ia belum pernah melihat orang ini sungguhpun pengalaman Lo Sian cukup banyak di kalangan kang-ouw. Ia tidak tahu apakah orang ini termasuk golongan pendekar perantau seperti dia sendiri ataukah termasuk tokoh dari golongan hek-to (golongan hitam dan penjahat), maka ia tidak berani sembarangan menegur dan berkenalan. Melihat pula sikap yang keras dan pemarah dari orang itu dan wajahnya yang muram, Lo Sian mengira bahwa orang itu tentulah seorang tokoh liok-lim (jago rimba hijau) yang ganas dan kejam. Maka setelah menghabiskan araknya, ia lalu membayar dan hendak keluar dari rumah makan itu.

Akan tetapi, baru saja ia berdiri dan hendak keluar, tiba-tiba ia menjadi pucat karena dari luar masuk dua orang yang bukan lain adalah Bouw Hun Ti dan seorang setengah tua yang memakai ikat kepala lebar! Sebaliknya, ketika Bouw Hun Ti melihat Lo Sian, ia tertawa bergelak dan berkata kepada kawannya itu,

“Ha-ha-ha, Susiok. Lihatlah, dicari ke ujung langit tak bersua, kalau tidak dicari si anjing she Lo menyerahkan diri!”

Sementara itu, Lo Sian maklum orang she Bouw tentu takkan melepaskannya dan terpaksa ia harus melawan mati-matian maka ia lalu mencabut pedangnya dan berkata,

“Bouw Hun Ti, kau manusia kejam dan hina-dina! Baru sekarang aku tahu bahwa selain menculik puteri Pendekar Bodoh secara pengecut sekali, kau pun membunuh Yousuf dengan kejam dan tak kenal malu!”

“Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel! Bagaimana orang macam kau bisa mengatakan bahwa aku pengecut dan tak kenal malu? Coba terangkan apa sebabnya kau berani berkata demikian.”

“Hemm, kau melakukan kekejaman itu sewaktu Pendekar Bodoh dan isterinya tidak berada di rumah! Apakah itu boleh disebut kelakuan seorang yang gagah? Kau pengecut!”

Merahlah wajah Bouw Hun Ti dan dengan amat marah ia membentak,

“Manusia jembel yang akan mampus! Kau telah merampas anak perempuan itu dengan cara yang lebih pengecut lagi. Tempo hari kalau kau tidak mengandalkan bantuan Mo-kai Nyo Tiang Le suhengmu yang gila itu, kau telah mampus di tanganku! Nah, bersedialah untuk mampus!” Sambil berkata demikian, Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan bagaikan seekor harimau kelaparan ia menyerang dengan hebat sambil menendang meja yang menghadang di depannya sehingga meja itu terbang dan menimpa meja-meja lain.

Lo Sian berlaku waspada dan cepat menangkis, sehingga sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat sambil menendang meja bangku untuk mencari ruang luas. Kali ini Lo Sian berlaku hati-hati sekali. Ia tahu bahwa kepandaian orang she Bouw ini lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri dan bahwa akhirnya ia takkan dapat menang apabila pertempuran itu dilanjutkan. Apalagi menurut pendengarannya tadi, Bouw Hun Ti menyebut susiok (paman guru) kepada orang yang berikat kepala lebar itu, maka dapat dibayangkan pula betapa tinggi kepandaian orang itu. Jalan keluar tidak ada, maka tidak ada lain jalan bagi Lo Sian melainkan melawan mati-matian dan takkan menyerah kalah begitu saja.

“He, pengemis jembel!” tiba-tiba orang yang disebut susiok oleh Bouw Hun Ti itu berkata. “Katakan saja di mana adanya anak yang kauculik itu. Bouw Hun Ti, biar dia memberi pengakuan, baru kita ampunkan jiwa anjingnya!”

Akan tetapi, sebagai seorang gagah, tentu saja Lo Sian tidak sudi bersikap lemah. Lebih baik mati daripada menyerah dan membuat pengakuan yang berarti merendahkan nama kehormatan sendiri, demikianlah pendirian tiap orang gagah.

“Keparat!” serunya sambil menangkis serangan golok Bouw Hun Ti yang menyambar cepat. “Kalau hendak mengeroyok, majulah saja. Aku Sin-kai Lo Sian bukanlah orang yang takut mati!”

“Bedebah!” kawan Bouw Hun Ti itu berseru marah, “Hun Ti, jangan memberi hati kepada manusia rendah ini!” Sambil berkata demikian, ia pun melangkah maju hendak mengirim serangan dengan tangan kosong.

Akan tetapi, pada saat itu, dari ujung ruangan itu menyambar sebatang tali sutera hitam yang meluncur bagaikan seekor ular hidup dan tahu-tahu golok Bouw Hun Ti kena dilibat oleh tali itu. Ketika tali itu dibetot keras, Bouw Hun Ti berteriak kaget karena tenaga betotan tali itu luar biasa sekali kuatnya sehingga terpaksa ia melepaskan goloknya!

Pada saat itu, susiok dari Bouw Hun Ti yang bukan lain adalah Lu Tong Kui atau sute Ban Sai Cinjin yang pernah menyerbu ke Beng-san untuk mencoba kepandaian Pok Pok Sianjin kemudian dikalahkan oleh Nyo Tiang Le, telah melepaskan pukulan ke arah Lo Sian. Sungguhpun pukulan itu dilakukan dari tempat yang jauhnya lebih dari setombak, akan tetapi Lo Sian sampai terhuyung ke belakang, terdorong oleh sambaran angin yang luar biasa kuatnya! Lo Sian terkejut sekali dan cepat mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk menahan keseimbangan tubuhnya.

Melihat betapa golok Bouw Hun Ti dapat terlepas dengan amat mudah oleh tali sutera yang kecil, Lu Tong Kui menjadi terkejut dan juga marah. Ia cepat menengok dan ternyata yang melepas tali sutera itu adalah seorang yang pakaiannya tidak karuan dan yang kini berdiri dengan mata memancarkan cahaya berapi. Adapun Lo Sian yang melihat penolongnya, menjadi terkejut dan juga girang karena yang menolongnya itu adalah orang yang disangka gila tadi!

“Bouw Hun Ti!” terdengar orang itu berkata, suaranya tenang akan tetapi seperti juga pandang matanya, suara itu amat berpengaruh, “kebetulan sekali kita bertemu di sini. Memang aku sedang mencari-cari kau dan hendak membunuhmu!” Setelah berkata demikian, kembali ia menggerakkan tangan kanannya dan sutera hitam yang panjang itu meluncur bagaikan cambuk dan mengirim serangan totokan hebat ke arah jalan darah di leher Bouw Hun Ti. Orang she Bouw ini cepat mengelak, akan tetapi bagaikan bermata dan hidup, ujung sutera hitam itu meluncur dan mengejar dan masih saja mengancam jalan darahnya. Bouw Hun Ti menjadi pucat, terpaksa menangkis dengan tangannya dan ia berteriak kaget ketika merasa betapa tangannya seakan-akan beradu dengan mata pedang yang taiam. Ia cepat menarik kembali tangannya dan sutera hitam itu meluncur terus ke arah lehernya!

Pada saat yang amat berbahaya bagi Bouw Hun Ti itu, Lu Tong Kui tidak tinggal diam. Ia berseru keras dan sambil mencabut pedangnya ia melompat dan membabat ke arah sutera hitam itu. Sutera hitam itu bergerak mengelak dan tidak sampai terbabat oleh pedangnya, akan tetapi Bouw Hun Ti terbebas dari bahaya maut. Sesungguhnya kalau sampai sutera hitam itu menotok jalan darah pada lehernya, maka lehernya akan pecah dan ia akan binasa pada saat itu juga!

“Eh, sahabat, siapakah kau? Mengapa kau memusuhi Bouw Hun Ti!” Lo Tong Kui bertanya sambil melintangkan pedangnya pada dada.

Orang itu tersenyum mengejek. “Lu Tong Kui, kau tentu tidak mengenalku, akan tetapi aku tahu bahwa kau dan murid keponakanmu ini adalah orang-orang jahat yang patut dikirim ke neraka!”

“Bangsat!” Lu Tong Kui memaki marah. “Apa kaukira aku takut kepadamu?”

“Majulah,” orang itu berkata dengan suara yang masih tenang, “setelah berhadapan dengan Lie Kong Sian, tak perlu menjual banyak lagak lagi!”

Mendengar nama ini, tidak saja Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti yang merasa akan tetapi Lo Sian juga tertegun dan memandang dengan penuh perhatian dan kagum. Akan tetapi ia merasa ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, pendekar yang bernama Lie Kong Sian dan yang menjadi suami dari pendekar wanita Ang I Niocu yang amat terkenal, kabarnya berwajah tampan dan gagah. Mengapa orang ini seperti orang gila dan berwajah muram? Nama Ang I Niocu sudah amat terkenal dan tak seorang pun di kalangan kang-ouw yang belum mendengar namanya sungguhpun jarang yang pernah bertemu dengan pendekar wanita itu. Kalau Ang I Niocu yang tersohor gagah perkasa itu kabarnya masih kalah oleh suaminya yang bernama Lie Kong Sian, maka tentu saja nama ini menggetarkan hati Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti! Apalagi Bouw Hun Ti, karena sebagai suheng dari Pendekar Bodoh yang telah diganggunya, dibunuh mertuanya dan diculik puterinya, tentu saja Lie Kong Sian takkan memberi ampun kepadanya! Lo Sian menjadi girang sekali.

“Hemm, kaukah yang bernama Lie Kong Sian, pendekar dari Pulau Pek-le-to itu? Tak kusangka bahwa orangnya hanya sebegini saja!” Lu Tong Kui mengejek untuk memperbesar semangat sendiri, kemudian tanpa menanti jawaban ia menyerang dengan pedangnya.

Lie Kong Sian cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya pula. Pedang ini bersinar gemilang dan amat tajam, karena ini adalah pedang Cian-hong-kiam yang dulu ia terima dari isterinya sebagai tanda perjodohan ketika belum menikah. Dengan gerakan yang luar biasa cepat dan kuatnya, Lie Kong Sian membalas dengan serangah hebat sehingga Lu Tong Kui harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian agar jangan sampai dirobohkan dengan mudah.

Bouw Hun Ti yang melihat susioknya terdesak, lalu mengambil kembali goloknya yang tadi terlepas dari pegangan, lalu membantu susioknya itu mengeroyok Lie Kong Sian.

Lo Sian tentu saja tidak mau mendiamkan hal ini dan ia pun bergerak maju sambil berseru, “Bangsat pengecut, jangan main keroyokan!”

Akan tetapi Lie Kong Sian lalu berkata kepadanya,

“Sahabat, jangan kau turut campur! Biarkan aku sendiri memberi hajaran kepada penculik rendah ini. Yang diculik adalah keponakanku, maka aku yang berhak menghajar!”

Mendengar suara ini, Lo Sian melangkah mundur lagi karena ia tidak mau menyinggung perasaan pendekar gagah itu. Pula, ia melihat betapa Lie Kong Sian biarpun dikeroyok dua, tetapi masih dapat mendesak kedua lawannya, dan maklum pula bahwa kepandaiannya sendiri masih kurang cukup kuat sehingga bantuannya bahkan hanya merupakah gangguan saja bagi pergerakan Lie Kong Sian.

Memang ilmu pedang dari Lie Kong Sian bukan main hebatnya. Pendekar ini adalah murid dari mendiang Han Le Sianjin yang menjadi sute dari Bu Pun Su, maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Biarpun Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti juga bukan sembarang orang dan kepandaian mereka sudah termasuk tinggi dan lihai, namun menghadapi Lie Kong Sian, mereka tidak banyak berdaya dan setelah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, maklumlah mereka bahwa kalau dilanjutkan mereka tentu akan roboh di tangan pendekar besar dari Pulau Pek-le-to ini!

Lu Tong Kui adalah seorang yang licik dan juga pandai melihat gelagat. Daripada roboh di tangan Lie Kong Sian, lebih baik melarikan diri saja, pikirnya. Ia tak usah merasa malu melakukan hal ini, karena kalah dalam pertandingan melawan seorang gagah perkasa seperti Lie Kong Sian, bukanlah merupakan hal yang amat memalukan.

“Mari kita pergi!” katanya dengan cepat sambil menyerang hebat ke arah kedua kaki Lie Kong Sian.

Bouw Hun Ti memang sudah mengeluarkan keringat dingin karena takut dan gelisahnya, kini mendengar susioknya yang dibarengi dengan serangan hebat sehingga Lie Kong Sian tidak dapat menekannya, ia lalu melompat dari rumah makan.

“Bouw Hun Ti, jangan lari sebelum lehermu kupatahkan!” seru Lie Kong Sian menyampok pedang Lu Tong Kui dan tubuhnya berkelebat keluar mengejar Bouw Hun Ti.

Karena gerak Lie Kong Sian gesit sekali dan gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi, maka dengan dua kali lompatan saja ia telah dapat menyusul dan mengirim bacokan dengan pedangnya dari belakang. Bouw Hun Ti bukanlah orang lemah dan mendengar suara angin pedang dari belakang, ia cepat membalikkan tubuh dan menangkis pedang itu dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaga lwee-kangnya.

“Trang!!” Goloknya beradu dengan pedang sedemikian kerasnya sehingga telapak tangannya serasa akan pecah kulitnya. Ketika ia melihat, ternyata bahwa goloknya telah terbabat putus menjadi dua oleh pedang lawannya! Dan pada saat itu, pedang Lie Kong Sian menyambar dengan cepatnya menusuk dadanya. Bouw Hun Ti dengan suara kaget melempar tubuh ke belakang, akan tetapi ujung pedang itu masih menyerempet pundaknya dan melukai kulit pundak sehingga pecah dan darah membasahi pakaiannya! Ia terhuyung ke belakang dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terjengkang!

Untung baginya, ketika Lie Kong Sian hendak menambahkan dengan tusukan maut datang Lu Tong Kui yang menyerang Lie Kong Sian dari belakang sehingga pendekar Pulau Pek-le-to itu terpaksa membalikkan tubuh untuk menghadapi Lu Tong Kui.

Bouw Hun Ti merangkak bangun dan melihat musuh tangguh itu telah ditahan oleh susioknya, ia lalu melarikan diri secepatnya pergi dari tempat itu!

“Bouw Huii Ti, bangsat rendah, jangan lari!” seru Lie Kong Sian yang hendak mengejar kembali, akan tetapi Lu Tong Kui menyerangnya sedemikian rupa sehingga ia tak dapat melanjutkan niatnya mengejar musuh itu.

“Orang she Lu, jangan kau terlalu mendesak!” kata Lie Kong Sian. “Aku tidak mempunyai permusuhan denganmu dan tidak bermaksud membunuhmu. Yang hendak kubikin mampus hanya bangsat rendah Bouw Hun Ti itu. Minggirlah!”

Akan tetapi Lu Tong Kui tidak menurut, bahkan mendesak makin hebat.

“Kalau begitu, agaknya kau pun telah bosan hidup!” teriak Lie Kong Sian marah dan pedangnya segera diputar cepat sekali. Gerakannya berubah dan kini pedangnya merupakan seekor naga yang ganas sekali, menyambar-nyambar tak mengenal ampun. Beberapa belas jurus Lu Tong Kui masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi akhirnya ia berteriak ngeri dan roboh tak bernyawa pula karena dadanya telah tertembus oleh pedang di tangan Lie Kong Sian! Pendekar dari Pulau Pek-le-to ini untuk sesaat berdiri kesima dan merasa sedikit menyesal telah membunuh orang ini yang sesungguhnya di luar kehendaknya semula. Kemudian ia teringat kepada Bouw Hun Ti, lalu mengejar secepatnya ke arah orang she Bouw itu tadi melarikan diri.

Lo Sian yang mengejar sampai di situ merasa kagum sekali dan berseru,

“Lie Kong Sian, Tai-hiap…! Tunggu dulu! Lili sudah berada di tangan yang aman sentausa!” Akan tetapi Lie Kong Sian telah pergi jauh dan Lo Sian tidak dapat menyusul kecepatan lari pendekar itu sehingga Si Pengemis Sakti ini hanya menggeleng-geleng kepala dan kemudian pergi dari situ, tidak mengalami kesibukan karena terjadinya pembunuhan ini.

“Bouw Hun Ti telah berada di tempat ini dengan susioknya, maka tentu ia melarikan diri menuju ke tempat tinggal gurunya yang tak jauh dari sini,” pikir Lo Sian dan ia lalu berlari cepat menuju ke dusun Tong-si-bun, tempat tinggal Ban Sai Cinjin.

Hari telah sore ketika ia tiba di dusun itu dan melihat betapa rumah Ban Sai Cinjin sunyi saja, ia lalu menuju ke hutan di mana ia bersama Lili menolong Thio Kam Seng anak yatim piatu itu dari siksaan seorang hwesio kecil yang mendiami kuil megah dari Ban Sai Cinjin.

Dugaannya memang tepat sekali. Ketika ia tiba di dekat kuil itu, ia menyaksikan pertempuran yang hebat sekali tengah berlangsung antara Lie Kong Sian dan Ban Sai Cinjin sendiri! Seperti juga dulu ia mengintai dari balik tetumbuhan yang rindang, menonton pertempuran luar biasa dahsyatnya itu. Hwesio kecil yang kejam dulu itu berdiri tak jauh dari tempat pertempuran dan di dekatnya berdiri pula Bouw Hun Ti yang bertolak pinggang. Tak jauh dari tempat itu berdiri pula seorang yang melihat dari keadaan pakaiannya, adalah seorang dusun yang kebetulan lewat di situ telah menonton pertempuran dengan mata terbelalak penuh kegelisahan dan ketakutan. Orang dusun ini rupanya masih muda.

Lie Kong Sian memang telah mendapatkan jejak musuhnya dan mengejar terus sampai ke tempat itu. Ia masih melihat berkelebatnya bayangan Bouw Hun Ti memasuki kuil yang amat mentereng di dalam hutan itu. Lie Kong Sian ragu-ragu untuk masuk ke dalam kuil, karena ia adalah seorang yang menghargai peraturan dan kesopanan. Tak berani ia secara sembarangan memasuki kuil tanpa seijin kepala hwesio yang menguasai kelenteng. Maka ia lalu berseru keras,

“Bouw Hun Ti manusia jahat! Jangan kau mengotori kelenteng suci dengan telapak kakimu yang hitam! Keluarlah untuk menerima kematian secara laki-laki!”

Beberapa kali Lie Kong Sian berteriak-teriak dari luar kuil dan tak lama kemudian, dari dalam kuil itu keluarlah seorang gemuk pendek yang sudah tua akan tetapi wajahnya masih kemerah-merahan tanda bahwa ia sehat sekali. Pakaiannya amat mengherankan karena mewahnya dan rambutnya yang sudah putih itu disisir rapi dan dikuncir ke belakang. Di luar pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus dan mahal itu, ia mengenakan sebuah baju luar terbuat daripada bulu yang amat halus dan mahal. Sepatunya juga baru dan mengkilat dan pada tangan kanannya ia memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjang. Kepala huncwe itu masih mengepulkan asap tembakau yang berbau harum, tanda bahwa tembakau yang diisapnya adalah tembakau yang mahal.

Lie Kong Sian tertegun. Ia belum pernah bertemu dengan orang ini, dan melihat potongan tubuhnya dan huncwe yang luar biasa itu, ia menduga bahwa orang ini tentulah Si Huncwe Maut yang terkenal pula dengan sebutan Ban Sai Cinjin. Akan tetapi mengapa Ban Sai Cinjin yang disohotkan sebagai seorang pemeluk kebatinan kelihatan begini pesolek? Maka Lie Kong Sian merasa ragu-ragu dan hanya memandang dengan mata menyinarkan cahaya tajam.

Sebaliknya, kakek yang sebenarnya memang Ban Sai Cinjin dengan tenang keluar dari kuil diikuti oleh seorang hwesio kecil berkepala gundul dan bermata liar, lalu ia menjura kepada Lie Kong Sian dan berkata,

“Selamat datang di kuilku, Pek-le-to Tai-hiap (Pendekar Besar dari Pulau Pek-le.-to)! Sungguh satu kehormatan besar sekali mendapat kunjungan seorang gagah seperti kau. Hanya anehnya, sepanjang pendengaranku, Lie Kong Sian adalah pendekar besar yang penyabar dan tenang, akan tetapi mengapa sekarang ia mengunjungi sebuah kuil dengan pedang di tangan dan iblis maut membayang pada mukanya?”

Ucapan ini sungguhpun cukup pantas dan merendah, akan tetapi mengandung ejekan, terutama sekali tekanan kata-katanya.

Lie Kong Sian juga menjura sebagai balas penghormatan, lalu bertanya,

“Kalau tidak salah dugaanku, Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) tentu yang disebut Ban Sai Cinjin si Huncwe Maut. Betulkah dugaanku ini?”

Ban Sai Cinjin tertawa dengan suara ketawanya yang aneh.

“Hehe, hehe, hehe, he-he-he, ha-ha-ha!” Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya dengan amat tenangnya lalu mengetuk-ngetuk keluar abu tembakau dari kepala pipanya kemudian dengan masih tenang seakan-akan sedang menikmati waktu senggang seorang diri, ia membuka kantong tembakau yang tergantung pada pipa itu, mengeluarkan tembakau warna hitam yang dijemputnya dengan ibu jari, menutup kantong itu kembali dan menggantungkannya lagi pada pipanya. Dengan mata meram-melek ia menggelintir-gelintir tembakau itu di ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu dimasukkannya ke dalam mulut huncwe tempat tembakau.

Setelah itu, barulah ia memandang kepada Lie Kong Sian yang menjadi gemas juga melihat sikap yang angkuh dan memandang rendah ini. “Kau menduga tepat. Aku telah kenal dengan mendiang gurumu, Han Le Sianjin! Lie Kong Sian, apakah keperluanmu maka datang mengunjungi kuilku dengan pedang di tangan?”

Lie Kong Sian adalah seorang pendekar yang jujur, tabah dan tidak suka menyembunyikan perbuatannya sendiri. Ia tahu bahwa Lu Tong Kui yang terbunuh olehnya tadi adalah sute dari Ban Sai Cinjin, maka tak perlu kiranya ia menyembunyikan permusuhannya dengan Bouw Hun Ti dan pembunuhannya terhadap Lu Tong Kui tadi, katanya,

“Ban Sai Cinjin, ketahuilah aku mengejar muridmu Bouw Hun Ti dan tadi kulihat ia bersembunyi di tempat ini.”

“Hemm, memang ada muridku Bouw Hun Ti di ruang dalam, akan tetapi mengapakah kau mengejar-ngeiarnya dengan pedang di tangan?”

“Muridmu telah melakukan perbuatan yang jahat! Dia tidak saja membunuh Yousuf yang menjadi ayah angkat Nyonya Sie Cin Hai, akan tetapi juga ia telah menculik puteri dari Pendekar Bodoh itu. Kau tahu bahwa aku adalah Suheng dari Pendekar Bodoh, maka mendengar kekejaman ini, tentu saja aku tidak tinggal diam dan berusaha membalas dendam. Oleh karena itu, perlu pula kau ketahui untuk kaupertimbangkan, bahwa ketika aku mengejar muridmu tadi, sutemu Lu Tong Kui menghalangiku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak memusuhinya, akan tetapi ia mendesak dan menyerang sehingga akhirnya ia tewas di ujung pedangku!”

Hampir meledak rasa dada Ban Sai Cinjin mendengar ini, akan tetapi perasaannya ini sama sekali tidak nampak pada wajahnya yang masih saja tersenyum-senyum mengejek. Akan tetapi, jari-jari tangannya yang masih memasuk-masukkan tembakau pada kepala pipa itu gemetar sedikit tanda bahwa dadanya bergelora karena marah.

“Hemm, hemm, jadi kau telah membunuh Suteku pula? Lie Kong Sian! Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk berbuat sesukamu terhadap murid dan Suteku. Kau berlaku sebagai hakim sendiri untuk menghukum mereka. Apakah kau sama sekali sudah tak memandang mukaku lagi?”

“Ban Sai Cinjin, harap kau orang tua suka mempertimbangkan baik-baik dan menggunakan cengli (aturan). Muridmu telah melakukan pembunuhan terhadap diri Yousuf dan menculik pula puteri Suteku, berarti bahwa ia sengaja memusuhi Pendekar Bodoh. Adapun sutemu Lu Tong Kui itu, dia mencari kematian sendiri karena dialah yang mendesakku dan menghalang-halangiku mengejar muridmu yang jahat.”

“Enak saja kau bicara!” tiba-tiba Ban Sai Cinjin tak dapat menahan sabarnya lagi, matanya bersinar-sinar, dadanya berombak, akan tetapi ia masih sempat menyalakan api untuk membakar tembakau di kepala pipanya. “Bouw Hun Ti membunuh Yousuf adalah urusannya sendiri. Mereka sama-sama dari Turki dan urusan antara mereka tidak ada hubungannya dengan kita! Adapun tentang penculikan puteri Pendekar Bodoh, belum tentu kalau muridku bermaksud buruk. Buktinya, manakah anak yang diculiknya? Kau hanya menuduh secara membuta saja. Sekarang tak perlu kau banyak cakap, paling perlu kau harus membayar hutangmu dan membalas kematian Suteku!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyedot pipanya dan terciumlah bau asap yang amat keras memusingkan kepala.

“Bagus!” Lie Kong Sian berseru marah. “Kau hendak membela yang jahat? Majulah, jangan kira aku takut kepadamu!” Lie Kong Sian yang sedang menderita kesedihan hati karena perginya isteri dan anaknya itu memang berubah adatnya menjadi keras dan mudah marah. Keberaniannya bertambah-tambah karena ia tidak takut mati lagi setelah hidupnya mengalami kegagalan dan kepahitan.

“Manusia sombong! Gurumu sendiri belum tentu berani bersikap sesombong ini di hadapanku. Nah, kau mampuslah!”

Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam dari mulutnya. Semburan ini bukanlah semburan biasa akan tetapi yang dilakukan dengan tenaga khi-kang sepenuhnya sehingga asap hitam itu menyambar cepat ke arah muka Lie Kong Sian! Pendekar ini mengelak cepat karena tahu akan lihainya asap ini.

“Iblis tua, kau tak malu menggunakan kecurangan?” Lie Kong Sian membentak marah dan menyerang dengan pedangnya, akan tetapi ketika Ban Sai Cinjin dengan huncwenya, diam-diam ia merasa terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lwee-kang dari orang tua pendek itu benar-benar hebat sekali dan masih lebih tinggi daripada tenaganya sendiri!

Maka bertempurlah kedua orang berilmu itu dengan hebat. Pedang di tangan Lie Kong Sian bergerak cepat dan sebentar saja tubuhnya telah lenyap di dalam gulungan pedangnya sendiri, sedangkan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin benar-benar luar biasa. Saking cepatnya gerakan huncwe, maka yang terlihat hanyalah sinar kehitaman yang tebal dan kuat, merupakan benteng baja yang diliputi asap hitam seperti kabut, yaitu asap yang keluar dari tembakaunya yang beracun!

Setelah pertempuran berjalan seru, barulah kelihatan Bouw Hun Ti keluar dari sembunyinya dan dengan bertolak pinggang ia menonton pertempuran itu, bersama pendeta cilik gundul yang dulu hendak membedah perut Thio Kam Seng. Kebetulan sekali pada saat itu di tempat itu terdapat seorang penduduk kampung muda yang datang mencari kayu kering. Ketika ia mendengar suara senjata beradu, ia tertarik dan datang pula ke depan kelenteng. Kini ia berdiri dengan mulut melongo, ketika menyaksikan pertempuran yang luar biasa dan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu. Ia tidak dapat melihat orang yang sedang bertempur, hanya melihat gulungan sinar putih keemasan dari pedang Lie Kong Sian, dan gulungan sinar hitam dari huncwe Ban Sai Cinjin!

Dan pada saat pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, datanglah Lo Sian yang mengintai dari balik gerombolan pohon. Biarpun Lo Sian bukan seorang biasa dan telah memiliki kepandaian tinggi, namun menyaksikan pertempuran ini, ia menjadi tertegun dan kagum sekali. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan pertandingan yang demikian seru dan hebatnya. Lo Sian selama ini mengagumi kepandaian suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang Le yang telah mewarisi seluruh kepandaian mendiang suhunya, akan tetapi melihat gerakan kedua orang yang sedang bertempur, ia merasa ragu-ragu apakah kepandaian suhengnya itu dapat menandingi kepandaian Ban Sai Cinjin.

Sebetulnya, dalam hal gerakan ilmu silat, Lie Kong Sian tak usah merasa kalah terhadap Ban Sai Cinjin. Kalau saja kakek pesolek itu mempergunakan ilmu silat biasa, agaknya tak mungkin ia akan dapat melawan Lie Kong Sian sampai sekian lamanya. Akan tetapi, Ban Sai Cinjin bukan seorang ahli silat biasa. Selain ilmu silat ia telah mempelajari ilmu hoat-sut (sihir) dari bangsa Mongol, di dalam gerakan huncwenya banyak terdapat gerakan-gerakan aneh yang mempengaruhi pandangan mata lawan, seringkali huncwe itu membuat gerakan rahasia sehingga tiba-tiba Lie Kong Sian merasa matanya kabur dan pikirannya bingung. Hanya berkat lwee-kangnya yang sudah tinggi dan permainan pedangnya yang memang sudah mendekati kesempurnaan sajalah yang masih menyelamatkan nyawanya karena lawannya tak dapat mudah membobolkan pertahanan pedangnya. Selain ini juga dalam tenaga dalam Lie Kong Sian harus mengaku kalah. Tenaga dalam yang dimiliki oleh Ban Sai Cinjin bukanlah tenaga biasa, akan tetapi tenaga yang diperkuat oleh ilmu hitam dan mantera.

Sebaliknya, Ban Sai Cinjin merasa kagum dan diam-diam merasa amat penasaran sekali. Dia adalah seseorang yang belum pernah merasa dikalahkan orang, dan huncwenya telah dikenal oleh seluruh orang gagah di kalangan kang-ouw sebagai senjata yang tak terlawan sehingga ia dijuluki Huncwe Maut. Akan tetapi, menghadapi seorang jago muda saja sampai puluhan jurus belum juga ia dapat merobohkannya! Jangankan merobohkan, bahkan mendesak saja ia pun tidak mampu. Maka, dengan penuh kemarahan Ban Sai Cinjin membentak,

“Siauw-koai, Lo-koai, semua tunduk kepadaku! Lie Kong Sian, ayahmu, kakekmu, gurumu, semua tunduk kepadaku. Kau juga takut kepadaku!” Ini adalah ucapan yang mengandung mantera dan merupakan sihir yang luar biasa, karena tiba-tiba Lie Kong Sian merasa berdebar-debar dan dalam pandang matanya, Ban Sai Cinjin nampak amat menakutkan dan mengerikan hati! Kalau orang lain yang menghadapi pengaruh ilmu hitam ini tentu akan lemas seluruh tubuhnya sehingga akan mudah sekali dirobohkan. Namun Lie Kong Sian bukanlah orang sembarangan. Telah bertahun-tahun tinggal menyepi seorang diri di pulau kosong di tengah laut. Telah bertahun-tahun ia melakukan tapa dan samadhi untuk memperkuat batin dan membersihkan pikiran. Banyak sekali godaan-godaan setan yang dialaminya di waktu ia menyepi di atas pulau itu, dan semua rintangan dan godaan itu telah dapat dihadapinya dengan baik. Kini, mendapat serangan luar biasa dari Ban Sai Cinjin dengan ilmu hitamnya, biarpun hatinya berdebar dan rasa takut dan ngeri meliputi hatinya, namun ia dapat memperteguh imannya dan permainan pedangnya tidak menjadi kacau.

“Lie Kong Sian, lihat! Api neraka membakarmu!” teriak lagi Ban Sai Cinjin sambil tiba-tiba menepuk pipa tembakaunya dengan tangan kiri sehingga api tembakau memancar keluar dari kepala pipanya itu, menyambar ke arah Lie Kong Sian. Pengaruh ilmu sihir membuat api itu nampak besar sekali yang menyambar ke arah kepalanya. Akan tetapi Lie Kong Sian masih dapat berlaku gesit dan tidak terpengaruh oleh teriakan yang mengandung hawa hitam itu. Ia cepat mengelak ke kiri dan sungguhpun ia merasa terkejut sekali, namun ia masih dapat menyelamatkan diri daripada serangan api tembakau beracun itu.

Tak terduga sama sekali olehnya, bahwa diam-diam Bouw Hun Ti yang berwatak curang dan palsu itu, melakukan kecurangan yang amat memalukan. Ketika Bouw Hun Ti melihat suhunya amat sukar mengalahkan Lie Kong Sian, orang ini lalu mengeluarkan gendewanya yang kecil akan tetapi kuat sekali. Melihat bentuknya, gendewa ini berbeda dengan gendewa yang biasa digunakan orang Tiongkok, karena sesungguhnya gendewa ini adalah gendewa model Turki. Sambil memegang gendewa dengan tangan kiri dan tiga batang anak panah pendek di tangan kanan, Bouw Hun Ti bersiap-siap mencari kesempatan untuk membokong musuhnya yang sedang bertanding melawan gurunya itu. Kesempatan itu tiba ketika Lie Kong Sian diserang oleh api dari kepala huncwe Ban Sai Cinjin. Bouw Hun Ti melihat betapa Lie Kong Sian mengelak ke kiri dengan muka memperlihatkan kekagetan, maka ia cepat menggerakkan kedua tangannya dan “sr! sr! sr!” tiga batang anak panahnya yang pendek dan kecil warnanya hitam itu meluncur cepat sekali ke arah Lie Kong Sian. Tiga batang senjata itu menyerang ke arah leher, ulu hati, dan bawah pusar!

Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian melihat serangan yang tiba-tiba datangnya dan tak tersangka-sangka ini!

“Bangsat curang!!” serunya marah dan berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak cepat ke kanan dengan miringan tubuhnya. Memang kecepatan gerakannya dapat menolong dirinya dari ancaman tiga batang anak panah beracun itu, akan tetapi gerakannya ini disambut dengan serangan maut oleh Ban Sai Cinjin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi tubuh Lie Kong Sian miring dan dalam posisi yang amat lemah, huncwenya menyambar dan… “tak!” huncwe itu dengan tepat sekali mengetuk kepala Lie Kong Sian di bagian ubun-ubunnya.

Lie Kong Sian menjerit ngeri, tubuhnya terhuyung-huyung, terputar-putar dan pedangnya terlepas dari tangan. Kemudian setelah berputar beberapa kali, tubuh Lie Kong Sian terjungkal dan roboh tertelungkup tak bergerrak lag!! Ubun-ubunnya telah pecah terkena pukulan huncwe yang hebat itu dan nyawanya melayang pada saat itu juga! Lie Kong Sian, suami Ang I Niocu, pendekar besar dari Pulau Pek-le-to, telah tewas dalam keadaan yang amat mengecewakan!

Lo Sian yang mengintai dari balik pohon, mengerutkan kening dan meramkan matanya dengan hati perih dan ngeri. Tak terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari sepasang matanya, turun di atas pipinya. Apakah dayanya? Kepandaiannya masih tak cukup kuat untuk menghadapi Bouw Hun Ti, apalagi menghadapi gurunya, Ban Sai Cinjin yang amat tangguh dan kejam itu.

Sementara itu, Ban Sai Cinjin juga tercengang melihat kecurangan muridnya. Ia menegur perlahan,

“Hun Ti, mengapa kau lancang membantuku? Kau merendahkan derajatku dengan bantuan tadi dan hatiku tidak merasa puas biarpun aku telah menang dan berhasil merobohkan Lie Kong Sian. Biarpun kau tidak membantu, akhirnya Lie Kong Sian pasti akan roboh juga di tanganku. Mengapa kau membantu dengan jalan curang?”

“Teecu tidak tahan lebih lama lagi melihat orang yang telah membunuh Susiok ini!” jawab Bouw Hun Ti, dan Ban Sai Cinjin terhibur juga mendengar ini.

Tiba-tiba ia melihat pemuda kampung itu dan membentak, “Siapa dia itu?”

“Entah, teecu juga tidak mengenalnya,” jawab Bouw Hun Ti.

“Dia adalah seorang kampung yang mencari kayu, Suhu,” kata hwesio cilik yang ternyata murid merangkap pelayan dari Ban Sai Cinjin.

“Celaka, dia telah melihat perbuatanku terhadap Lie Kong Sian tadi, dan kalau hal ini sampai diketahui orang luar, aku akan mendapat malu!” kata Ban Sai Cinjin. Tiba-tiba tubuhnya melompat dan tahu-tahu ia telah berada di depan orang kampung muda yang masih berdiri terbelalak ngeri melihat pembunuhan tadi. Kini ia menjadi ketakutan ketika melihat Ban Sai Cinjin telah berada di depannya dan sebelum ia dapat melarikan diri, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam ke arah mukanya. Orang itu mendekap muka dengan tangannya, terbatuk-batuk beberapa kali seakan-akan tak dapat bernapas, kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh telentang tak bernapas lagi. Mukanya menjadi hitam karena racun yang disemburkan melalul asap tembakau itu! Dengan amat kejamnya, untuk menolong kehormatan dan namanya agar jangan sampai ada lain orang tahu akan kecurangannya terhadapi Lie Kong Sian tadi, Ban Sai Cinjin telah membunuh pemuda kampung itu begitu saja!

“Ha-ha!” Bouw Hun Ti tertawa girang. “Suhu telah membuat penyelesaian yang amat cepat dan tepat!”

“Sudahlah, kaukubur dua mayat itu agar jangan sampai ada orang melihatnya,” kata Ban Sai Cinjin.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: