Pendekar Remaja ~ Jilid 7

“Suhu, mengapa menyia-nyiakan kesempatan baik ini?” tiba-tiba hwesio cilik itu berkata kepada gurunya. “Jantung kedua orang ini masih segar dan mudah sekali diambil!”

Ban Sai Cinjin tertawa dan berkata kepada Bouw Hun Ti, “Lihat Sutemu benar-benar ingin mempelajari dengan sempurna ilmu kebal itu!” Bouw Hun Ti hanya tersenyum menyeringai. Ia maklum bahwa suhunya mempunyai ilmu kekebalan yang dapat diturunkan kepada muridnya dengan jalan memakan obat yang dicampur dengan tiga buah jantung manusia!

“Jantung orang kampung ini tidak bersih, telah terkena racun, maka tidak dapat digunakan,” kata Ban Sai Cinjin. “Kalau jantung dia itu,” dia menunjuk ke arah tubuh Lie Kong Sian yang masih menelungkup di atas tanah, “masih baik, akan tetapi, dia seorang pendekar besar, aku tak sampai hati untuk membelek dada mengambil jantungnya.”

“Biar murid sendiri yang melakukan hal itu, Suhu,” kata hwesio cilik itu dengan suara memohon, “setelah itu barulah teecu akan menguburkannya baik-baik.”

“Sesukamulah!” akhirnya Ban Sai Cinjin berkata sambil tersenyum, dan masuklah ia ke dalam kuilnya.

“Sute, biar aku yang mengubur orang kampung ini. Setelah kau selesai dengan yang itu, kau harus menguburkannya sendiri baik-baik.”

Hwesio cilik itu mengangguk kepada suhengnya, lalu ia menghampiri mayat Lie Kong Sian dan diangkatnya menuju ke belakang kuil. Sedangkan Bouw Hun Ti lalu mengubur mayat pemuda kampung itu secara sembarangan di tempat yang agak jauh dari kuil, seperti orang mengubur bangkai anjing saja.

Hari telah menjadi gelap dan malam itu bertambah seram dengan terjadinya dua pembunuhan itu. Di dalam kamar dekat dapur, hwesio kecil telah menelanjangi mayat Lie Kong Sian dan telah menyediakan sebilah pisau tajam dan sebuah mangkok putih tempat jantung yang hendak diambilnya dari dalam dada Lie Kong Sian.

Kemudian, hwesio cilik ini menggunakan pisaunya untuk memotong sedikit rambut dari kepala Lie Kong Sian lalu mengikatkan rambut itu pada sebatang sumpit gading yang telah disediakan. Ia meletakkan sumpit itu di atas mangkok putih tadi, lalu ia menyalakan tiga batang hio. Kemudian ia bersembahyang di depan mayat itu dan berkata,

“Arwah orang she Lie! Aku, Hok Ti Hwesio, dengan sungguh hati mengundangmu untuk mengajukan beberapa pertanyaan!” Ia lalu membawa hio bernyala itu dan berjalan mengitari mayat Lie Kong Sian tiga kali, kemudian ia menancapkan tiga batang hio itu ke dalam mulut mayat Lie Kong Sian. Setelah itu, ia mengambil sumpit yang telah diikat ujungnya oleh rambut Lie Kong Sian tadi, diputar-putarkan di atas hio agar terkena asap hio sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Lalu ia menaruh sumpit itu di atas mangkok lagi dan berkata,

“Arwah orang she Lie! Kalau kau sudah masuk ke dalam sumpit ini, berputarlah!”

Sungguh aneh sekali dan sukarlah untuk diselidiki mengapa dapat terjadi demikian, akan tetapi benar saja sumpit di atas mangkok itu lalu terputar-putar bagaikan digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan!

Hwesio cilik yang bernama Hok Ti Hwesio itu tersenyum girang.

“Arwah orang she Lie! Perkenankanlah aku meminjam jantung dari tubuhmu yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk campuran obat membuat kebal tubuhku. Kalau kau setuju, berputarlah satu kali, kalau tidak setuju, berputarlah tiga kali!”

Hwesio itu dengan penuh gairah memandang ke arah mangkok dan sumpit. Dan sumpit itu mulai bergerak memutar satu kali, lalu diam, akan tetapi lalu memutar sekali lagi dan sekali lagi baru diam tak bergerak! Ternyata bahwa kalau memang benar yang menjawab itu adalah arwah Lie Kong Sian, maka arwah pendekar itu tidak menyetujui jantung dari tubuhnya diambil oleh hwesio cilik ini!

Hok Ti Hwesio mengerutkan kening dan wajahnya menjadi muram. Ia mencabut tiga batang hio itu dengan kasar dari mulut mayat Lie Kong Sian, lalu mengangkat hio itu tinggi di atas kepalanya sambil berkata,

“Arwah orang she Lie! Ketahuilah bahwa aku, Hok Ti Hwesio, akan merawat dan mengubur jenazahmu baik-baik! Dengan demikian, aku telah melepas budi kepadamu, maka apakah kau tidak mau membalas budi itu untuk bekal naik ke sorga? Nah, sekali lagi kupinta, arwah orang she Lie, berikanlah jantungmu dengan rela!” Setelah berkata demikian, ia lalu menancapkan kembali hio itu ke dalam mulut mayat itu. Ia menghampiri sumpit di atas mangkok dan berkata lagi,

“Nah, sekarang jawablah! Berikan jantung tubuhmu kepadaku, setuju atau tidak?” Kembali sumpit itu berputar-putar dan masih tetap… tiga kali!

Hok Ti Hwesio membanting-banting kakinya dengan gemas sekali. Ia mengambil pisau tajam dari atas meja dan menghampiri mayat Lie Kong Sian yang bertelanjang bulat dan telentang di atas meja panjang.

“Baik, kau tidak setuju? Aku tetap akan mengarnbil jantung tubuhmu, hendak kulihat kau bisa berbuat apa! Sudah mampus kau masih saja jahat dan memusuhi kami, orang she Lie!” Hwesio cilik ini dengan muka kejam lalu mengangkat tangan hendak menusuk dada mayat Lie Kong Sian, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba meniup angin besar dari jendela dan api lilin menjadi padam! Hok Ti Hwesio terkejut sekali dan menoleh ke jendela. Wajahnya menjadi pucat karena ia melihat sebuah kepala tersembul di jendela dan karena penerangan lilin telah padam, maka kepala itu nampak hitam dan besar mengerikan! Hok Ti Hwesio biarpun masih kecil, akan tetapi karena telah menerima latihan ilmu-ilmu hitam, tidak merasa takut terhadap segala setan dan iblis, akan tetapi oleh karena tadi ia hendak memaksa dan membedah dada mayat itu biarpun arwah si mayat tidak menyetujuinya, tentu saja kini menyangka bahwa itu adalah setan penasaran dari Lie Kong Sian yang datang mengganggu! Ia melemparkan pisaunya ke bawah dan berlari berteriak-teriak.

“Tolong… setan… tolong, Suhu… ada setan…!”

Kepala yang tersembul di jendela itu ternyata bertubuh dan kini tubuhnya bergerak melompat ke dalam kamar, memondong mayat Lie Kong Sian dan cepat dibawa lagi keluar! Bayangan yang disangka setan ini ternyata adalah Lo Sian! Sebagaimana diketahui, Pengemis Sakti ini mengintai dan menyaksikan betapa Lie Kong Sian terbunuh dan betapa orang muda kampung yang tanpa disengaja menyaksikan pula pembunuhan itu, telah dibunuh secara kejam oleh Ban Sai Cinjin. Kemudian ia mendengar tentang permintaan Hok Ti Hwesio yang hendak mengambil jantung dari mayat Lie Kong Sian. Di depan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin Lo Sian tidak berani bergerak, akan ketika melihat hwesio cilik itu membawa mayat Lie Kong Sian ke belakang, ia lalu mengikuti dan mengintai dari jendela. Sesungguhnya, perbuatan Lo Sian juga yang memutarkan sumpit gading tadi, dengan mengerahkan khi-kang dan meniup dari jendela, dan dia pula yang meniup padam api lilin!

Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti ketika mendengar teriakan Hok Ti Hwesio, cepat memburu dan mereka masih melihat bayangan Lo Sian membawa lari mayat Lie Kong Sian. Mereka cepat mengejar, akan tetapi Lo Sian telah menghilang di dalam gelap, sebentar saja Lo Sian telah dapat meninggalkan kedua orang pengejarnya.

“Celaka, bangsat Lo Sian telah mengetahui peristiwa itu, bahkan telah membawa lari mayat Lie Kong Sian. Hal ini pasti akan berekor panjang sekali,” kata Ban Sai Cinjin sambil menghela napas.

“Biarlah, apakah Suhu takut menghadapi kawan-kawannya?” kata Bouw Hun Ti. “Kalau Pendekar Bodoh dan yang lain-lain datang, kita gempur mereka!”

“Takut sih tidak, akan tetapi aku segan untuk bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Hidupku biasanya senang dan aman, kini pasti akan menemui gangguan dan semua ini gara-gara kau, Hun Ti! Karena itu, kau harus memperdalam kepandaianmu. Aku sendiri sudah malas untuk mengajar dan jalan satu-satunya bagimu ialah pergi ke tempat pertapaan Supekmu.”

“Wi Kong Siansu di Hek-kwi-san?” tanya Bouw Hun Ti sambil membelalakkan kedua matanya.

Ban Sai Cinjin mengangguk. “Ya, siapa lagi selain supekmu yang dapat memperkuat kedudukan kita dan dapat memberi pendidikan ilmu silat lebih jauh kepadamu?”

“Akan tetapi, bukankah Suhu pernah menceritakan bahwa Supek itu telah mencuci tangan dan mengasingkan diri di puncak Hek-kwi-san, tidak mau mencampuri urusan dunia lagi?”

“Benar, akan, tetapi aku telah tahu akan tabiat Supekmu itu. Ia amat sayang kepada mendiang Lu Tong Kui yang biarpun menjadi Sute, akan tetapi masih iparnya sendiri. Ketahuilah rahasianya dahulu, bahwa Enci dari Lu Tong Kui pernah mengadakan hubungan dengan Supekmu itu! Nah, kalau kau membawa suratku, dan menceritakan tentang tewasnya Lu Tong Kui, tentu dia akan turun gunung dan memperkuat kedudukan kita.”

“Akan tetapi, Suhu. Pembunuh Lu Tong Kui adalah Lie Kong Sian dan Lie Kong Sian telah terbalas oleh Suhu.”

“Bodoh! Jangan kauberitahukan bahwa pembunuh susiokmu itu Lie Kong Sian. Beritahukan saja bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan bahwa matinya dikeroyok sehingga tidak saja Suheng akan mendendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi juga kepada yang lain. Pendeknya, kalau Suheng dapat dibujuk turun gunung dan tinggal di sini bersama kita, jangankan baru Pendekar Bodoh, andaikata Bu Pun Su bangkit lagi dari kuburan, kita tak usah takut menghadapinya!”

Bouw Hun Ti merasa girang sekali. “Dan bagaimana dengan Lo Sian yang membawa lari mayat Lie Kong Sian itu, Suhu?”

“Serahkan dia kepadaku. Aku yang akan mencarinya dan menghajarnya. Kau berangkatlah besok pagi-pagi ke Hek-kwi-san jangan ditunda-tunda lagi dan aku akan membuat surat untuk Suheng.”

Demikianlah pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bouw Hun Ti berangkat ke tempat pertapaan Wi Kong Siansu, suheng dari Ban Sai Cinjin dengan membawa surat dari suhunya itu. Pendeta tua yang disebut Wi Kong Siansu dan yang menjadi suheng dari Ban Sai Cinjin ini adalah seorang pertapa yang sakti. Dulu di waktu mudanya ia terkenal sebagal seorang yang malang melintang di dunia kang-ouw, dan yang belum pernah menderita kekalahan dalam setiap pertempuran. Bahkan orang-orang ternama dan yang termasuk tokoh-tokoh terbesar di dunia persilatan seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat Siansu yang terkenal sebagai empat tokoh terbesar dari empat penjuru, merasa segan untuk bentrok dengan Wi Kon Siansu. Bukan karena empat tokoh besar ini merasa jerih dari takut, akan tetapi oleh karena Wi Kong Siansu terkenal memiliki kepandaian silat yang amat ganas dan dahsyat sehingga setiap kali dia bertanding ilmu kepandaian dengan seorang lawan, lawan itu tentu akan tewas di dalam tangannya! Bagi Wi Kong Siansu, hanya ada dua keputusan dalam tiap pertandingan, yaitu menang atau kalah dan mati! Oleh karena inilah, maka ia mendapat julukan Toat-beng Lo-mo atau Iblis Tua Pencabut Nyawa!

Adapun Ban Sai Cinjin lalu mengadakan perjalanan pula untuk mencari dan menyusul Lo Sian yang telah mengetahui rahasianya. Sebetulnya Ban Sai Cinjin tidak takut orang mengetahui bahwa ia telah membunuh Lie Kong Sian, kalau saja pembunuhan ltu dilakukan dalam sebuah pertempuran yang adil. Yang membuatnya merasa kuatir kalau sampai diketahui orang adalah bahwa kekalahan Lie Kong Sian sesungguhnya karena kecurangan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti!

Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dan mempunyai banyak sahabat hampir di seluruh daerah, maka dengan mudah ia dapat menyusul dan mengetahui di mana adanya Lo Sian yang juga banyak dikenal orang.

Kita mengikuti perjalanan Lo Sian yang membawa lari jenazah Lie Kong Sian. Setelah dapat melepaskan diri dari pengejaran Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti, Lo Sian lalu masuk ke dalam hutan pohon pek yang bersambung dengan hutan di mana terdapat kelenteng tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Ia memilih tempat yang baik, yaitu sebuah bukit kecil di tengah hutan yang amat baik hongsuinya (kedudukan tanahnya). Kemudian dengan penuh khidmat ia lalu mengubur jenazah pendekar besar Lie Kong Sian. Sampai lama Lo Sian bersila, di depan gundukan tanah itu untuk mengheningkan cipta. Di dalam hatinya ia menyatakan terima kasihnya kepada mendiang Lie Kong Sian, dan juga menyatakan penyesalannya bahwa karena membela dia, pendekar besar itu sampai menemui maut di tangan Ban Sai Cinjin.

Kemudian Lo Sian lalu menanam sebatang kembang mawar hutan di depan gundukan tanah itu untuk menjadi tanda.

Setelah itu, Pengemis Sakti ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Beng-san untuk menyusul suhengnya yang membawa Lili dan Kam Seng ke puncak bukit itu. Sama sekali ia tak pernah mengira bahwa bahaya besar sedang mengancam dan mengejarnya. Siapakah yang menyangka bahwa Ban Sai Cinjin hendak menyusul dan mencarinya? Ia hanya mencuri mayat Lie Kong Sian dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi Ban Sai Cinjin. Lo Sian tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin mengejarnya karena ia dianggap satu-satunya orang yang telah mengetahui akan rahasia pembunuhan curang atas diri Lie Kong Sian.

Beberapa hari kemudian, baru saja Lo Sian keluar dari dusun, tiba-tiba di depannya berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Ban Sai Cinjin telah berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum dan huncwe mautnya mengebulkan asap hitam! Ternyata bahwa kakek pesolek yang amat lihai ini telah dapat menyusulnya.

“Ha-ha, pengemis jembel!” kata Ban Sai Cinjin. “Apa kaukira kau dapat melarikan, diri begitu saja dariku setelah kau mencuri tubuh yang dibutuhkan oleh muridku?”

“Ban Sai Cinjin,” kata Lo Sian dengan gelisah, “aku tidak mengganggu muridmu dan tentang jenazah Lie Kong Sian itu, memang aku yang mengambil untuk dikubur sepatutnya. Dia adalah seorang pendekar besar dan sudah sepatutnya kalau jenazahnya dikebumikan dengan baik. Apakah perbuatanku itu kauanggap salah?”

“Hemm, Lo Sian, kau pandai memutar lidah! Kau telah berkali-kali mengganggu Bouw Hun Ti mencampuri urusannya. Sekarang kau membawa pergi mayat Lie Kong Sian. Dimanakah mayat itu sekarang?”

“Sudah dikubur dengan baik.” jawab Lo Sian.

“Bagus, dan jantungnya tentu sudah rusak. Kalau begitu, kaugantilah dengan jantungmu sendiri. Hayo pengemis jembel, kauserahkan jantungmu kepadaku, baru aku mau memberi ampun!”

Lo Sian tahu bahwa kakek ini sengaja mencari perkara. Bagaimana orang bisa hidup kalau jantungnya diambil? Ia lalu mencabut pedangnya dan berkata keras, “Kau inginkan jantung? Inilah dia!” Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menyerang dengan sebuah tusukan pedangnya yang dilakukan dengan nekad dan cepat, karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin jauh berada di atas tingkatnya.

Si Huncwe Maut tertawa geli, huncwe di tangannya bergerak didahului oleh semburan asap hitam dari mulutnya ke arah muka Lo Sian. Pengemis Sakti tahu akan berbahayanya asap ini, maka ia cepat melompat ke kiri dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan. Akan tetapi tiba-tiba pedangnya berhenti berputar karena telah tertempel oleh huncwe di tangan Ban Sai Cinjin dan tak dapat digerakkan lagi.

“Lepas!” Ban Sai Cinjin membentak sambil memutar huncwenya sedemikian rupa sehingga pedang di tangan Lo Sian ikut terputar, kemudian dengan tenaga tiba-tiba ia membetot dan terlepaslah pedang itu dari tangan Lo Sian tanpa dapat dicegah lagi. Kemudian huncwenya meluncur dengan sebuah totokan hebat dan robohlah Lo Sian tanpa dapat berdaya lagi karena jalan darahnya telah kena tertotok oleh huncwe yang lihai itu.

Ban Sai Cinjin mengempit tubuh Lo Sian yang menjadi lemas itu dan membawanya lari secepat terbang kembali ke kelentengnya! Setelah tiba di kelenteng yang mewah itu, ia melemparkan tubuh Lo Sian ke atas lantai, lalu mengambil semangkok obat yang biru kehitaman warnanya.

“Minum ini!” katanya dan hwesio kecil muridnya itu memandang sambil menyeringai. Lo Sian biarpun telah lemas dan tidak bertenaga lagi, namun hatinya masih cukup tabah dan keras, maka ia diam saja, biarpun mangkok itu telah ditempelkan pada bibirnya, namun ia tidak mau meneguk obat itu.

“Eh, pengemis jembel!” Hok Ti Hwesio si hwesio kecil itu mengeiek. “Kau kelaparan dan kehausan, minuman seenak ini mengapa tidak mau minum?” Sambil berkata demikian, hwesio kecil ini menampar mulut Lo Sian yang tak dapat mengelak atau mengerahkan tenaga sehingga ketika terdengar suara “plak!” bibirnya pecah dan berdarah!

“Buka mulut anjing ini!” kata Ban Sai Cinjin kepada muridnya. Hok Ti Hwesio yang memang semenjak kecil mendapat pendidikan kekejaman itu sambil tertawa-tawa lalu menggunakan kedua tangannya membuka mulut Lo Sian dengan paksa, lalu mengganjal mulut itu dengan kakinya yang bersepatu kotor, sehingga mulut Lo Sian kini ternganga diganjal sepatu dari Ban Sai Cinjin lalu menuangkan obat mangkok itu ke dalam mulut Lo Sian. Si Pengemis Sakti mencoba untuk menutup kerongkongannya, akan tetapi Hok Ti Hwesio, si hwesio kecil yang kejam dan penuh akal itu lalu memencet hidung Lo Sian dengan kedua jari tangannya. Lo Sian terengah-engah dan terpaksa harus bernapas dari mulut dan masuklah obat itu ke dalam perutnya! Obat itu terasa amat getir dan masam dan setelah masuk ke dalam perut terasa amat dingin sehingga ia menggigil. Lo Sian berpikir bahwa obat itu tentulah racun dan ia tentu akan mati, maka sambil meramkan mata ia menanti datangnya maut. Tak lama kemudian pikirannya menjadi lemah dan tak dapat digunakan lagi, lalu la menjadi pingsan tak sadarkan dirinya!

Setelah ia membuka mata kembali, ternyata ia telah berada di dalam sebuah hutan seorang diri. Tak nampak lain orang di situ dan pikiran Lo Sian masih tidak karuan. Segala benda di depannya nampak berputar-putar dan sebentar lagi ia berteriak-teriak,

“Pemakan jantung…! Tolong… pemakan jantung…!” Kemudian, dengan beringas ia melompat bangun dan berlari terhuyung-huyung tidak karuan seperti orang mabok. Terdengar ia berteriak-teriak, sebentar menangis seperti orang ketakutan setengah mati, kemudian ia tertawa dengan geli seakan-akan melihat sesuatu yang amat lucu. Ternyata Lo Sian telah menjadi gila! Obat yang dipaksakan memasuki perutnya itu adalah semacam obat mujijat yang merampas ingatannya dan membuat ia menjadi gila! Alangkah kejamnya Ban Sai Cinjin dan muridnya Hok Ti Hwesio. Ban Sai Cinjin merasa tak ada gunanya membunuh Lo Sian, maka timbul pikiran yang amat keji dan juga cerdik. Ia mernbiarkan Lo Sian hidup, akan tetapi memberinya minum racun yang membuatnya menjadi gila sehingga tak mungkin lagi Lo Sian membuka rahasia pembunuhan atas diri Lie Kong Sian! Jangankan mengingat akan hal itu semua, bahkan kepada diri sendiri pun Lo Sian tak ingat lagi. Ia tidak tahu lagi siapa adanya dirinya sendiri dan tidak ingat lagi segala kejadian yang lalu, yang terbayang di depan matanya hanyalah jantung manusia yang dimakan orang!

Memang, kasihan sekali nasib Lo Sian yang terjatuh ke dalam tangan orang-orang berhati iblis! Ia merantau tak tentu arah tujuan sebagai seorang gila.

***

Pegunungan Ho-lan-san memanjang dan menjadi tapal batas antara Mongolia dan daratan Tiongkok Propinsi Kansu. Sungguhpun pegunungan ini di kanan kirinya, terutama sekali di bagian utara, merupakan padang pasir yang amat luas, namun pegunungan ini cukup kaya akan hutan-hutan dan pepohonan. Hal ini adalah berkat mengalirnya Sungai Kuning, yang membuat lembah di sepanjang alirannya menjadi subur.

Oleh karena itu, tak heran apabila di tempat yang jauh dari dunia ramai ini telah banyak orang datang dan desa-desa yang cukup ramai terdapat di sepanjang sungai besar itu. Dengan adanya Sungai Huang-ho yang tak pernah mengering ini, lapangan pencarian nafkah hidup bagi mereka tidak kurang. Selain bercocok tanam di lembah yang subur, para penduduk dapat pula bekerja sebagai nelayan, karena air sungai mengandung cukup banyak ikan. Selain ini, mereka dapat pula mengambil hasil hutan terutama kayu-kayu yang keras dan baik untuk pembangunan. Pekerjaan ini makin lama makin ramai dan bahkan ada beberapa orang yang cukup bermodal lalu mendirikan perusahaan kayu bangunan. Tukang-tukang kayu disebar ke hutan-hutan untuk menebang pohon yang baik kayunya, kemudian kayu yang telah menjadi balok-balok besar itu lalu ditumpuk di pinggir sungai, siap dikirim ke mana saja datangnya pesanan. Untuk mengangkut kayu-kayu balok itu, air Sungai Huang-ho telah siap melakukannya tanpa menuntut bayaran sepotong uang pun!

Pada suatu hari, tiga orang laki-laki yang berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap dan nampaknya kuat, berjalan mendaki sebuah puncak di Pegunungan Ho-lan-san. Mereka ini membawa alat-alat penebang kayu, yaitu tambang besar yang digulung dan digantungkan di pinggang, sebuah golok dan sebuah kapak besar yang berat dan tajam.

Ketika mereka tiba di luar sebuah hutan yang kecil akan tetapi liar dan gelap, mereka berhenti mengaso dan duduk di atas rumput. Sambil bercakap-cakap, mereka memandang ke arah hutan yang angker itu. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang dari hutan itu, membuat bagian tanah di gunung ini nampak paling tinggi menonjol.

“Sute, aku masih saja merasa sangsi untuk memasuki hutan ini,” terdengar orang yang tertua berkata. “Bukankah Suhu sudah berpesan agar kita lebih baik jangan mengganggu hutan ini? Suhu sendiri katanya kalau melakukan perjalanan lewat di sini mengambil jalan memutar. Menurut Suhu, bukan karena dia takut, akan tetapi sungkan menghadapi permusuhan dengan sepasang setan itu.”

“Ah, Twa-suheng,” kata yang termuda, mengapa kita harus percaya akan segala tahyul bodoh dari orang-orang dusun? Mereka itu hanya menyiarkan kabar bohong yang belum pernah mereka buktikan sendiri. Siapakah orangnya yang pernah melihat sepasang iblis itu? Aku tidak percaya. Kalau Suhu lain lagi, karena Suhu adalah seorang pendeta yang menghormati kepercayaan orang lain. Kita adalah orang-orang muda yang datang dari kota memiliki kepandaian, mengapa kita harus takut terhadap segala tahyul bohong?”

Orang ke dua menyambung. “Ucapan Sute memang ada benarnya, akan tetapi melihat keadaan hutan yang demikian liar dan angker, timbul juga perasaan tak enak di dalam hatiku. Dunia ini memang aneh dan banyak hal-hal yang belum kita mengerti. Bagaimana kalau kabar itu ternyata tidak bohong? Bagaimana kalau benar-benar muncul setan di tengah hari dan menyerang kita?”

“Mengapa takut?” kata pula yang termuda. “Percuma saja kita mempelajari ilmu silat sampai beberapa tahun lamanya, dan percuma pula kita menjadi murid Pek I Hosiang yang telah terkenal namanya di dunia kang-ouw! Lagi pula, kita bukan bermaksud buruk. Kita memasuki hutan untuk menebang pohon dan mencari kayu besi yang amat dibutuhkan. Kui-loya (Tuan Kui) akan membayar tiga kali lebih banyak daripada kayu-kayu biasa.”

Tiga orang yang nampak kuat dan gagah ini adalah tiga orang di antara banyak penebang pohon yang banyak bekerja di daerah ini. Mereka adalah murid-murid dari Pek I Hosiang, seorang hwesio yang menjadi ketua dari sebuah kelenteng di dalam dusun tempat tinggal mereka. Hwesio ini memang berkepandaian tinggi dan ia mempunyai banyak sekali murid. Boleh dibilang, lebih tiga puluh orang penebang kayu yang muda-muda dan kuat-kuat menjadi muridnya! Para penebang pohon ini menjual kayu yang mereka tebang pada perusahaan-perusahaan kayu yang banyak didirikan orang di tempat itu, di antaranya yang terbesar adalah perusahaan kayu milik orang she Kui yang berasal dari kota besar di daerah timur.

Sudah menjadi semacam dongeng yang amat dipercaya selama bertahun-tahun oleh penduduk di daerah Pegunungan Ho-lan-san, bahwa puncak yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, jurang-jurang dalam dan gua-gua yang angker itu menjadi tempat tinggal sepasang siluman atau iblis yang amat jahat. Sesungguhnya, belum pernah terjadi pembunuhan atau penganiayaan terhadap manusia yang dilakukan oleh sepasang iblis itu, akan tetapi karena perasaan takut mereka, maka orang-orang lalu bercerita bahwa iblis-iblis yang meniadi penghuni hutan itu amat jahat dan mengerikan!

Hanya satu kali terjadi peristiwa yang membuktikan bahwa di hutan itu memang terdapat mahluk yang sakti, sungguhpun orang tak dapat membuktikan dengan nyata bahwa mahluk itu adalah iblis atau siluman. Terjadinya peristiwa itu telah dua tahun lebih, yaitu ketika serombongan piauwsu mengantar seorang hartawan bersama keluarganya yang melakukan perjalanan. Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, tiba-tiba, entah dari mana datangnya, terdengar suara bergema di empat penjuru dan suara ini berkata tegas,

“Lekas keluar dari hutan ini!”

Para piauwsu yang mengawal rombongan ini adalah orang-orang gagah yang sudah banyak pengalaman. Mereka tidak gentar menghadapi perampok-perampok dan bahkan jarang ada perampok berani mengganggu mereka. Akan tetapi, peristiwa ini baru sekali mereka alami, yaitu suara yang melarang mereka melalui sebuah hutan. Kepala rombongan itu lalu menjura ke empat penjuru dan menjawab,

“Mohon maaf sebanyaknya dari Tai-ong kalau kami berani berlaku kurang ajar dan melalui wilayah Tai-ong (Raja Besar, sebutan untuk kepala rampok) tanpa mendapat ijin lebih dulu. Kami bersedia membayar uang sewa jalan apabila Tai-ong kehendaki, akan tetapi harap Tai-ong perkenankan kami melalui jalan ini”

Untuk beberapa lama tak terdengar suara sesuatu, akan tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara yang berlainan dengan suara pertama. Kalau suara pertama yang mengusir mereka keluar dari hutan tadi terdengar halus dan nyaring seperti suara wanita, sekarang terdengar suara yang juga halus dan nyaring, akan tetapi lebih besar seperti suara seorang pemuda.

“Jangan banyak cakap! Kami tidak butuh segala uang sewa jalan! Pergilah lekas dari hutan ini!”

Para piauwsu yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi penasaran sekali. Mereka mencabut senjata masing-masing dan memandang ke sekeliling dengan sikap menantang.

“Kalau kami tidak mau pergi dan hendak melanjutkan perjalanan kami melalui hutan ini, kau mau apakah?” tanya kepala piauwsu itu dengan marah.

Kini yang menjawabnya adalah suara pertama yang masih terdengar halus akan tetapi amat berpengaruh.

“Terpaksa kami akan menggunakan kekerasan! Kami memberi waktu sampai ada ayam hutan berkokok, itulah tanda bahwa kami akan bergerak apabila kalian belum keluar dari sini!”

Seorang di antara para piauwsu itu yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia, diam-diam mengeluarkan beberapa batang senjata piauw, dan tiba-tiba ia menyambitkan tiga batang piauw ke arah daun-daun pohon besar dari mana suara itu datang. Akan tetapi hanya terdengar berkereseknya daun terbabat senjata-senjata piauw itu, dan selain itu tidak nampak tanda-tanda bahwa di pohon itu terdapat manusianya! Yang mengherankan, tiga batang piauw tadi tidak turun lagi ke bawah, seakan-akan lenyap ditelan oleh daun-daun yang lebat itu.

Para piauwsu itu saling pandang dengan heran, sedangkan keluarga hartawan itu duduk berkumpul di dekat kereta dengan muka pucat.

“Tidaklah lebih baik kita mengambil jalan memutar saja?” tanya hartawan itu kepada kepala piauwsu. Akan tetapi yang ditanya menggeleng kepala.

“Wan-gwe (sebutan hartawan) tidak tahu. Hal ini adalah soal kehormatan bagi piauwsu-piauwsu seperti kami. Kalau kami mengalah terhadap segala penggertak, bagaimana kami dapat menjadi piauwsu?”

Mereka menanti dengan hati penuh ketegangan dan tiba-tiba mereka terkejut ketika mendengar suara yang mereka nanti-nanti, yakni kokok seekor ayam hutan dari jauh.

“Waktunya sudah habis, kalian harus pergi!” tiba-tiba seru suara tadi dan entah dari mana datangnya, bagaikan meluncur dari atas awang nampak dua bayangan berkelebat cepat menubruk tujuh orang piauwsu tadi. Para piauwsu itu terkejut sekali dan cepat memutar senjata untuk menyerang dua bayangan itu, akan tetapi alangkah terkejut mereka ketika bayangan itu lalu bergerak dengan amat cepatnya, merupakan sinar putih dan merah dan tahu-tahu senjata di tangan para piauwsu itu terlempar jauh! Sebelum tujuh orang piauwsu itu sempat memandang, tahu-tahu mereka merasa sakit sekali pada pundak mereka, terdengar jerit mereka susul-menyusul dan tubuh mereka roboh tak dapat bangun kembali karena mereka telah terkena tiam-hwat (ilmu totok) yang lihai. Setelah itu, hanya nampak bayangan dua sosok tubuh berpakaian merah dan putih berkelebat lenyap di balik serumpun alang-alang!

“Itulah hukuman bagi tujuh orang piauwsu sombong!” tiba-tiba terdengar suara yang halus itu dari atas pohon. “Naikkan tujuh tikus itu ke atas kereta dan kembalilah kalian keluar dari hutan ini!”

Rombongan itu dengan amat ketakutan lalu menolong para piauwsu menaikkan dan menumpuk tubuh mereka yang lemas itu ke atas kereta lalu rombongan itu membalap keluar dari hutan!

Maka tersiarlah berita ini sehingga nama kedua iblis penghuni hutan amat terkenal dan semenjak itu, tak seorang pun berani melangkahkan kaki memasuki hutan. Siapa orangnya yang takkan merasa takut dan ngeri mendengar betapa tujuh orang piauwsu ternama dibikin tak berdaya oleh sepasang siluman yang lihai itu?

Berita tentang sepasang iblis itu tentu saja tidak begitu dipercaya oleh pendatang-pendatang baru dari kota-kota besar, terutama sekali oleh orang-orang yang pandai ilmu silat. Betapapun juga, karena mereka pun tahu bahwa di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh dan banyak sekali terdapat orang-orang pandai tidak berani mencoba untuk melanggar pantangan penduduk dan tidak mau memasuki hutan itu. Bahkan Pek I Hosiang, seorang tokoh kang-ouw yang sudah ulung dan berkepandaian tinggi, juga menasehatkan murid-muridnya yang banyak jumlahnya agar supaya jangan mengganggu hutan itu.

“Siapa tahu,” kata hwesio itu kepada muridnya yang membantah, “kalau-kalau di tempat itu terdapat seorang pertapa yang mengasingkan diri dan tidak mau diganggu pertapaannya.”

Akan tetapi, sebagaimana telah dituturkan di depan, tiga orang penebang kayu yang bertubuh kuat itu duduk di luar hutan, merundingkan tentang kehendak mereka menebang kayu besi yang terdapat di hutan itu. Mereka ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang terhitung pandai, dan sungguhpun tadinya yang tertua di antara rnereka masih merasa ragu-ragu untuk memasuki hutan itu, namun berkat desakan kedua orang sutenya (adik seperguruannya), akhirnya mereka masuk juga ke dalam hutan itu!

“Bagaimanapun juga, Sute, kita harus berhati-hati dan lebih baik bekerja diam-diam jangan banyak berisik,” kata orang tertua di antara ketiga orang penebang pohon itu. Kedua sutenya menurut, karena memang keadaan hutan yang masih liar dan tak pernah dimasuki orang itu sangat menyeramkan.

Ketika mereka bertiga berjalan lambat sambil melihat ke kanan kiri untuk mencari pohon besi yang hendak mereka tebang, tiba-tiba orang tertua itu melihat sesuatu dan ia cepat memegang tangan kedua sutenya dan ditariknya mereka untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon yang besar.

“Lihat, apakah itu?” katanya kepada kedua orang sutenya yang memandang heran. Dua orang kawannya memandang ke arah yang ditunjuknya dan mereka masih sempat melihat bayangan putih berkelebat cepat sekali.

“Orangkah dia?” seorang berbisik.

“Entahlah, akan tetapi gerakannya sungguh cepat!” memuji orang termuda yang paling tabah hatinya. “Mari kita mendekat, dia masuk ke dalam gua itu!”

Kedua orang kawannya ragu-ragu, akan tetapi karena tidak melihat bayangan tadi muncul kembali, sedangkan sute mereka dengan berani sudah keluar dari balik pohon dan menuju ke tempat bayangan tadi menghilang, mereka juga mengikuti sute mereka.

Benar saja, di tempat yang meninggi, terdapat sebuah gua yang lebar. Gua ini amat gelap sehingga tidak kelihatan apakah gua itu merupakan terowongan atau bukan.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam, “He! Kalian mau apa datang ke sini? Hayo cepat pergi!” Berbareng dengan ucapan itu, terlihat berkelebat bayangan putih keluar dari gua yang gelap itu dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang pemuda yang luar biasa eloknya! Muka pemuda ini berkulit halus dan putih, matanya tajam berpengaruh dan mulutnya yang kuat dan membayangkan kehendak yang teguh dan kemauan yang membaja. Tubuhnya sedang dengan pinggang langsing, pakaiannva sederhana akan tetapi rapi, seperti pakaian seorang pelajar, berwarna putih. Ia mengenakan mantel panjang yang putih pula, dan di antara semua pakaian yang menutup tubuhnya, hanya leher baju yang menurun terus ke pinggang dan kopyahnya saja yang berwarna biru. Juga sepatunya berwarna hitam. Memang janggal sekali melihat seorang penghuni gua yang berpakaian sedemikian putih bersih.

Melihat pemuda ini hanya seorang manusia biasa, bukan seorang iblis, ketiga orang penebang pohon itu bernapas lega.

“Kami adalah penebang-penebang kayu dan hendak mencari pohon besi yang banyak tumbuh di hutan ini,” jawab penebang tertua.

Pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, digoyang beberapa kali lalu berkata, “jangan kalian melakukan hal itu. Lebih baik lekas kalian pergi dari sini!”

Penebang kayu yang termuda melangkah maju dan berkata marah,

“Orang muda, dengan alasan apakah kau melarang kami melakukan penebangan pohon besi di hutan ini? Dan hak apakah yang kauandalkan untuk mengusir kami?”

“Alasannya, kalau kau melakukan penebangan pohon, berarti kau melanggar laranganku dan ini berbahaya sekali bagi keselamatanmu. Adapun tentang hak, aku menggunakan hak sebagai seorang yang lebih dulu datang di tempat ini daripada kalian bertiga!”

Marahlah penebang muda itu. “Kau anak kecil sombong amat! Kalau kami bertiga melanjutkan kehendak kami, kau mau apakah? Apakah kau ini siluman yang menguasai hutan ini seperti yang dikabarkan orang?”

“Tutup mulut dan pergilah!” seru pemuda itu dan biarpun sikapnya masih setenang tadi, namun sepasang aslinya yang indah bentuknya itu mulai bergerak-gerak.

Akan tetapi, biarpun sinar mata pemuda ini tajam dan berpengaruh, namun ia hanya merupakan seorang pemuda yang halus dan tidak nampak berbahaya. Tentu saja tiga orang penebang kayu yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat itu tidak takut menghadapinya. Mereka bertiga lalu mengeluarkan senjata mereka yang menyeramkan, yaitu tangan kanan memegang golok lebar yang tajam sedangkan tangan kiri memegang sebatang kapak yang tidak kalah hebatnya.

“Ha-ha, anak muda! Betapapun galaknya mulutmu, kami tidak takut. Kami hendak menebang pohon dengan kapak dan golok ini, kau mau apa? Ha-ha-ha!” Akan tetapi baru saja ia menutup mulutnya, pemuda itu telah lenyap. Tubuhnya berkelebat merupakan bayangan putih dan penebang pohon yang termuda ini memekik keras ketika merasa betapa kapak dan goloknya bagaikan bisa terbang sendiri meninggalkan kedua tangannya tanpa dapat dicegah pula! Ternyata bahwa dengan sekali gerakan saja, pemuda baju putih itu telah berhasil merampas kapak dan goloknya yang kini dilempar di atas tanah!

Dua orang penebang yang lain menjadi marah dan terkejut sekali. Sambil berseru marah, mereka lalu maju menyerang dan pada saat itu, dua batang golok dan dua batang kapak telah menyambar ganas menuju ke tubuh pemuda baju putih itu! Akan tetapi kembali mereka dibikin bengong oleh pemuda aneh itu. Agaknya tubuh pemuda itu tidak bergerak sama sekali, buktinya kedua kakinya tidak berpindah tempat. Hanya kedua lengan tangannya saja bergerak cepat dan tubuhnya bergoyang-goyang menghindari sambaran keempat senjata itu dan… “aduh…! aduh…!” dua orang itu merasa kedua lengan mereka tiba-tiba menjadi lemas dan sakit sekali karena entah dengan gerakan bagaimana, jari-jari tangan pemuda itu telah berhasil menotok pergelangan kedua tangan penebang pohon itu! Kembali senjata-senjata mereka terpaksa mereka lepaskan dan jatuh bertumpuk di atas tanah!

Sudah tentu saja mereka bertiga hampir tak dapat percaya akan kejadian yang baru saja mereka alami itu. Bagaimanakah mereka yang memegang senjata dan memiliki kepandaian tinggi, kini dipaksa melepaskan senjata dengan cara yang demikian mudahnya oleh pemuda ini? Ilmu silat apakah yang dipergunakan oleh pemuda baju putih itu untuk menghadapi mereka? Mereka hanya memandang dan berdiri bagaikan patung. Silumankah pemuda ini, demikian mereka berpikir dan memandang dengan hati merasa seram.

“Pergilah…! Pergilah…!” pemuda itu dengan acuh tak acuh berkata sambil menggerakkan tangan kanan seperti mengusir lalat yang mengganggunya!

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gua. “Siong-ji…, lempar saja tikus-tikus itu ke dalam jurang! Untuk apa melayani mereka!”

Pemuda baju putih itu menengok ke arah gua dan menjawab,

“Mereka hanyalah tiga penebang pohon yang tak berarti, Ibu!”

“Mereka telah lancang, berani mendekati tempat kita!” suara dari dalam gua itu makin nyaring dan tiba-tiba tiga orang penebang pohon itu melihat berkelebatnya bayangan merah yang luar biasa sekali cepatnya. Belum sempat mata mereka melihat dengan jelas, tiba-tiba mereka telah roboh pingsan!

Ketika tiga orang penebang pohon itu siuman kembali, mereka mendapatkan diri telah berada di luar hutan yang menyeramkan itu! Sambil mengeluh mereka meraba pundak mereka yang masih terasa sakit dan linu, bekas tertotok secara luar biasa sekali oleh bayangan merah tadi.

“Ah, Sute. Kalau kau tadi mendengar omonganku, tidak akan kita mengalami kesengsaraan ini!” kata yang tertua sambil bangun dengan tubuh masih lemas.

Penebang termuda tak dapat menjawab karena pengalaman tadi masih membuatnya berdebar-debar.

“Mereka itukah siluman-siluman yang ditakuti orang?” tanyanya perlahan.

“Mungkin! Mana ada orang semuda itu sudah sedemikian lihainya? Hanya siluman saja yang dapat merampas senjata kita secara demikian aneh,” kata orang ke dua.

“Dan bayangan merah tadi… apakah dia itu? Ia pandai bicara, akan tetapi gerakannya demikian hebat! Hebat dan mengerikan!” kata yang tertua sambil bergidik teringat akan serangan bayangan merah tadi. “Sungguh berbahaya sekali!”

“Betapapun juga, aku masih penasaran, Suheng!” kata yang termuda. “Tak mungkin pemuda tadi seorang siluman. Memang kepandaiannya hebat luar biasa, akan tetapi ia seorang manusia biasa saja, bukan setan. Apakah pekerjaan mereka berdua di tempat itu? Jangan-jangan mereka adalah orang-orang jahat yang menyembunyikan diri.”

“Habis kau mau apa, Sute? Terhadap orang-orang lihai seperti mereka, lebih baik kita menjauhkan diri,” kata yang tertua.

“Celaka, kapak dan golok kita tertinggal di depan gua!” mengeluh orang ke dua.

“Kita harus melaporkan hal ini kepada Suhu!” Demikianlah, sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa aneh itu, ketiga penebang pohon ini lalu kembali ke dusun tempat tinggal mereka. Karena mereka menceritakan pengalaman mereka kepada kawan-kawan di dusun, maka sebentar saja gegerlah dusun itu dan semua orang membicarakan sepasang “siluman” di hutan itu yang disebutnya “Pek-ang-siang-mo” (Sepasang Iblis Putih Merah).

Pek I Hosiang mendengarkan penuturan tiga orang muridnya dengan penuh perhatian dan hatinya amat tertarik. Akan tetapi ia tidak menyatakan perhatiannya, bahkan ia lalu menegur ketiga orang muridnya itu.

“Kalian bertiga memang telah berlaku lancang. Mana ada siluman di dunia ini? Seperti yang kuduga, mereka adalah orang-orang pandai yang bertapa. Mungkin pemuda itu murid si pertapa yang kalian lihat sebagai bayang-bayang merah. Lain kali janganlah kalian berlaku lancang. Hutan di sekitar pegunungan ini amat banyak, mengapa justru mencari di tempat yang terlarang itu?”

Sungguhpun mulutnya menyatakan demikian, namun di dalam hatinya Pek I Hosiang merasa tertarik dan ingin sekali menyaksikan sepasang siluman itu dengan mata kepala sendiri. Sebagai seorang hwesio, ia tidak menghendaki permusuhan, akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berkepandaian tinggi, tentu saja ia amat tertarik mendengar tentang kelihaian ilmu silat orang lain. Ia ingin sekali melihat siapakah gerangan orang pandai yang menyembunyikan diri di tempat itu. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk pergi sendiri menemui dua orang aneh itu.

Di dalam hutan yang dianggap oleh penduduk sebagai tempat tinggal Pek-ang-siang-mo itu, terdapat sebuah lapangan terbuka dekat sebatang anak sungai yang bening airnya. Pemandangan di situ sungguh indah. Pada suatu pagi, di kala burung-burung hutan berkicau dan bersuka-ria menyambut datangnya sang Matahari, di atas lapangan nampak sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti bayangan putih yang cepat sekali gerakannya. Kadang-kadang gerakan sinar pedang itu mengendur dan tampaklah bavangan putih itu sebagai tubuh seorang pemuda baju putih yang sedang mainkan pedangnya dengan gerakan yang amat indahnya. Di waktu permainan ilmu pedangnya mengendur, ia seakan-akan sedang menari saja.

Tidak saja ilmu pedangnya yang aneh, bahkan pedang di tangan pemuda baju putih itu lebih aneh lagi. Disebut pedang bukan pedang, akan tetapi cara memegang dan memainkannya sama dengan pedang! Senjata ini selain aneh juga indah akan tetapi juga mengerikan. Ukuran besar dan panjangnya tak berbeda dengan pedang biasa, akan tetapi senjata ini tidak tajam juga tidak runcing sehingga lebih tepat kalau disebut bentuknya seperti tongkat pendek. Akan tetapi, senjata ini berbentuk ukiran sin-liong (naga sakti) membelit tiang. Ukirannya indah sekali dan agaknya terbuat daripada logam yang amat keras berkilauan, dan berwarna putih sedangkan tubuh naga yang melibatnya berwarna kuning. Pemuda itu memegang naga itu pada ekornya sehingga kepala naga merupakan ujung senjata itu. Dari mulut naga kecil itu keluar lidah merah yang panjang dan mengerikan.

Setelah bermain silat dengan gerakan lambat dan indah, tiba-tiba ia memutar senjatanya makin lama semakin cepat dan kembali lenyaplah tubuhnya terbungkus oleh gulungan sinar senjatanya yang dahsyat.

“Cukup, Siong-ji (Anak Siong), kau mengasolah!” terdengar suara nyaring dari seorang wanita yang berdiri tak jauh dari situ sambil memandang permainan pemuda itu dengan penuh perhatian.

Wanita itu mengenakan pakaian serba merah sungguhpun pakaiannya itu amat sederhana potongannya, namun terbuat dari kain sutera dan amat bersih. Kalau orang melihatnya dari belakang atau dari samping, orang akan mengira bahwa ia adalah seorang wanita muda, karena bentuk tubuhnya yang langsing itu masih nampak kuat dan penuh, kulit tangannya halus dan putih. Akan tetapi kalau orang berhadapan muka dengannya, ia akan terkejut melihat bahwa wanita ini nampak sudah tua sekali. Rambutnya hampir putih semua, kulit mukanya berkeriput, sungguhpun matanya masih bening dan bersinar tajam, bahkan giginya masih bagus dan rata seperti gigi wanita muda yang cantik! Masih jelas nampak bahwa dia dulu adalah seorang wanita yang amat cantiknya dengan bentuk muka yang bagus. Kerut-merut pada jidatnya membayangkan penderitaan batin yang hebat dan mulutnya yang masih berbentuk manis sekali itu ditarik mengeras dan tak pernah nampak tersenyum.

Pembaca tentu telah dapat menduga siapa adanya wanita ini. Dia bukan lain adalah Ang I Niocu Kiang Im Giok, pendekar wanita yang di waktu mudanya telah menggemparkan dunia persilatan karena kegagahannya. Tak seorang pun ahli silat di dunia kang-ouw yang tidak mengenal atau tak mendengar namanya yang besar. Ia amat terkenal, baik karena kepandaiannya maupun karena kecantikannya yang luar biasa.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu adalah seorang wanita yang amat memperhatikan dan menyayangi kecantikannya sehingga untuk menjaga kecantikannya dari usia tua, ia tidak segan-segan untuk mencari obat kecantikan berupa telur Pek-tiauw (burung rajawali putih) dan telah banyak makan telur ini yang dapat memelihara kecantikannya. Di waktu ia berusia tiga puluh tahun lebih ia masih nampak cantik jelita bagaikan seorang gadis berusia tujuh belas tahun.

Akan tetapi segata sesuatu di dunia ini tidak kekal adanya. Bahkan keadaan yang ditimbulkan karena kekuasaan alam yang sewajarnya pun masih tidak kekal adanya, apalagi keadaan yang ditimbulkan oleh kekuasaan yang tidak wajar. Khasiat telur Pek-tiauw itu biarpun luar biasa sekali, namun ada pantangannya, yaitu wanita yang telah makan obat ini, apabila mempunyai putera, akan musnalah khasiat obat itu, bahkan akibatnya mengejutkan sekali. Ang I Niocu setelah melahirkan seorang putera, tidak saja kecantikan dan kemudaannya lenyap, ia nampak amat tua dua kali lipat seperti seorang wanita berusia delapan puluh tahun!

Di bagian depan telah diceritakan bahwa karena batinnya menderita disebabkan oleh keriput di wajahnya dan uban di kepalanya yang membuatnya nampak tua sekali, diam-diam Ang I Niocu meninggalkan suamina, Lie Kong Sian, dan pergi merantau membawa putera tunggalnya. Pendekar wanita ini merantau sampai jauh, dan semenjak meninggalkan pulau tempat tinggalnya, ia selalu memilih jalan yang sunyi agar tidak bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya. Akhirnya ia memilih Pegunungan Ho-lan-san sebagai tempat tinggalnya di mana ia mendidik puteranya, Lie Siong, dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan. Tempat tinggalnya hanya di dalam sebuah gua yang besar dan amat dalam. Akan tetapi di dalam hidup penuh kesederhanaan ini, ia selalu memperhatikan keperluan putranya yang amat dicintainya. Segala keperluan Lie Siong, makanan lezat dan pakaian indah sampai barang-barang permainan apa saja, ia adakan dan tak segan-segan pada malam hari Ang I Niocu mendatangi kota-kota besar untuk mencari barang-barang itu.

Dengan amat rajin, Ang I Niocu menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lie Siong. Ia mengajarkan ilmu silat pedang yang luar biasa, Sianli-utauw (Tari Bidadari), Ngo-lian-hoan-kiam-hwat (Ilmu Pedang Lima Teratai), ilmu pukulan yang disebut Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), dan juga Kong-ciak-sin-na (Ilmu Silat Burung Merak)! Lie Siong ternyata memiliki otak yang cerdik dan bakat yang baik sekali sehingga ia dapat mempelajari semua ilmu itu dengan cepat dan baik sekali.

Akan tetapi, oleh karena ia hanya hidup bersama dengan ibunya yang menderita dan tak pernah bergembira, maka ia pun menjadi seorang pemuda yang amat pendiam, keras hati, dan angkuh. Ang I Niocu merasa demikian bangga kepada puteranya ini sehingga ketika puteranya baru berusia empat belas tahun, ia sengaja mencarikan sebuah senjata istimewa untuk Lie Song. Ang I Niocu mendengar tentang seorang kepala rampok di Kun-lun-san yang mempunyai sebatang senjata yang disebut Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti). Tanpa menghiraukan jauhnya tempat itiu dan kesukaran yang dihadapinya, Ang I Niocu mendatangi tiga kepala rampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya ia berhasil mengalahkan si kepala rampok dan merampas senjatanya!

Demikianlah, dengan Sin-liong-kiam di tangannya Lie Siong makin gagah seakan-akan seekor harimau muda tumbuh sayap. Beberapa kali anak muda ini bertanya kepada ibunya tentang ayahnya, dan Ang I Niocu juga tidak menyembunyikan sesuatu. Ia menceritakan kepada Lie Siong tentang ayahnya yaitu Lie Kong Sian dan mengapa mereka meninggalkan Pulau Pek-le-to. Juga Ang I Niocu menceritakan tentang pendekar-pendekar silat yang menjadi kawan-kawannya seperti Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya Kwee Lin, sepasang suami isteri murid Bu Pun Su yang amat pandai. Ia menceritakan pula tentang Kwee An dan Ma Hoa, sepasang suami isteri pendekar yang juga memiliki ilmu silat tinggi yang menjadi sahabat baiknya.

“Kelak kalau kau bertemu dengan mereka, kau akan dapat menarik banyak pelajaran dari empat orang pendekar ini, Siong-ji,” Ang I Niocu seringkali berkata. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa hati puteranya itu lebih tinggi dan lebih angkuh daripada hatinya sendiri ketika masih muda. Mendengar ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh dan yang lain-lain, hati Lie Siong tidak menjadi tunduk, bahkan ia merasa penasaran dan ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian mereka itu!

Beberapa kali Lie Siong minta kepada ibunya untuk turun gunung, akan tetapi ibunya selatu mencegahnya. “Kepandaianmu masih belum cukup sempurna, Siongji. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang jahat, dan kalau kau tidak memiliki kepandaian yang tinggi, kau akan mudah terganggu oleh orang-orang yang jahat dan pandai.”

Demikianlah, pada pagi hari itu, seperti biasa Lie Siong berlatih ilmu silat pedang di bawah pengawasan ibunya. Kali ini Ang I Niocu merasa puas betul karena ternyata bahwa gerakan ilmu pedang puteranya sudah sempurna, tidak ada kesalahan sedikit pun. Diam-diam ia maklum bahwa sekarang kepandaian puteranya telah mencapai tingkat yang tak lebih rendah daripada kepandaiannya sendiri! Ia telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada putera tercinta ini.

“Siong-ji,” kata Ang I Niocu sambil duduk di dekat puteranya dan memandang dengan mata penuh kasih sayang, “sekarang aku berani menyatakan bahwa kepandaianmu sudah sampai di tingkat yang cukup tinggi. Aku dapat meninggalkan dunia ini dengan hati lega karena kepandaianmu ini sudah cukup untuk digunakan sebagai penjaga diri.”

Berseri wajah Lie Siong mendengar ini. Biasanya, sehabis berlatih, ibunya selalu masih mencelanya.

“Kalau begitu, sudah tiba waktunya bagiku untuk turun gunung, Ibu?”

Ang I Niocu menggeleng kepala. “Berat bagiku untuk berpisah darimu, Anakku. Kalau kau pergi, bagaimanakah dengan aku?”

“Mengapa, Ibu? Mengapa Ibu tidak ikut turun gunung? Marilah kita turun dari tempat yang sunyi ini. Apakah selama hidup Ibu tidak mau bertemu dengan manusia?”

Tiba-tiba kerut di jidat Ang I Niocu makin mendalam. “Tengoklah aku, Siong-ji. Lihatlah mukaku baik-baik! Alangkah akan malu hatiku dan hatimu apabila orang lain melihat mukaku yang buruk ini!” Ia lalu menarik napas panjang berulang-ulang.

Lie Siong juga mengerutkan keningnya dan memandang wajah ibunya. “Aneh sekali, Ibu. Aku telah merasa heran karena kau selalu menyebut hal ini. Menurut pandanganku wajahmu amat cantik dan aku bangga melihat wajahmu, Ibu. Mengapa kau selalu menganggap wajahmu buruk? Aku sudah seringkali melihat wanita-wanita di dusun bawah gunung dan tak seorang di antara mereka memiliki mata sebening mata Ibu, bentuk muka secantik muka Ibu! Ibu sama sekali tidak buruk, hanya nampak tua, itu betul. Akan tetapi, apakah hal ini perlu dibuat malu? Apakah yang tidak akan menjadi tua di dunia ini? Benda-benda yang paling keras dan kuat, akhirnya akan menjadi tua pula!”

Ang I Niocu memegang tangan puteranya. “Ah, Siong-ji, kalau saja kau dapat melihat wajah ibumu di waktu masih muda dulu! Ah, dibandingkan dengan sekarang, bedanya seperti bumi dengan langit!”

“Aku tidak peduli, Ibu. Bagiku, bagaimanapun juga perubahan yang terjadi kepada wajahmu, kau tetap ibuku. Tua atau muda, cantik atau buruk, seorang Ibu tetap menjadi wanita termulia di dunia ini! Marilah kita turun gunung, Ibu, dan aku bersumpah, siapa saja yang berani mencela wajah Ibu, yang berani menghina atau membikin malu kepadamu, akan kupecahkan kepalanya!”

Dengan terharu Ang I Niocu memeluk puteranya. “Aku girang mendengar ucapanmu ini, Siong-ji. Kau tak perlu khawatir, kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu berani menghina Ang I Niocu! Seandainya ada, tak perlu kau mengeluarkan peluh, aku sendiri masih cukup kuat untuk meremukkan kepalanya!”

“Kalau begitu, kauturun gunung, Ibu?”

Kembali kening Ang I Niocu berkerut. “Nanti dulu, Siong-ji… aku masih ragu-ragu… wajahku ini…”

Lie Siong bangun berdiri dan membanting-banting kaki. “Lagi-lagi Ibu bicara tentang wajah…!”

“Ah, kau tidak tahu, Anakku. Dulu, Ang I Niocu adalah secantik-cantiknya orang, akan tetapi sekarang, seburuk-buruknya wanita! Bagaimana aku dapat menghadapi mereka?”

“Mereka siapa, Ibu?”

“Ayahmu, Pendekar Bodoh, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa…”

“Sudahlah, sudahlah! Aku bosan mendengar nama mereka kausebut-sebut saja!” kata Lie Siong sambil mempergunakan kedua tangan untuk menutup telinganya!

Pada saat itu, Ang I Niocu yang tadinya masih duduk di atas tanah, melompat bangun dan memegang lengan anaknya. Ia mendengar sesuatu dan sebelum ia dan puteranya dapat bergerak, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dengan gesitnya dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang hwesio gundul yang berpakaian putih dan berusia kurang lebih enam puluh tahun.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: