Pendekar Remaja ~ Jilid 8

Hwesio ini bermuka lebar, bermata tenang berpengaruh dan mulutnya selalu tersenyum sabar. Dia adalah Pek I Hosiang yang sengaja datang mencari ke dalam hutan ini karena hendak menyaksikan sendiri bagaimana macamnya “Sepasang Iblis” yang ditakuti orang-orang itu.

Ia telah dapat menemukan gua tempat tinggal sepasang iblis itu dan melihat golok dan kapak milik tiga orang rnuridnya berserakan di depan gua. Melihat gua itu kosong dan sunyi, Pek I Hosiang lalu mencari ke tempat lain dan akhirnya ia mendengar suara dua orang bercakap-cakap maka cepat menghampiri mereka.

Pek I Hosiang cepat membungkuk dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

“Omitohud! Harap dimaafkan apabila pinceng mengganggu Ji-wi, dan datang tanpa diundang. Kalau pinceng tidak salah duga, Ji-wi tentulah sepasang pendekar yang mengasingkan diri di dalam hutan ini, dan yang telah disohorkan oleh semua orang di sekitar pegunungan ini.”

Tiba-tiba Ang I Niocu melangkah maju menghadapi hwesio itu dan membentak, “Pergilah…! Kau hwesio tak tahu adat, pergilah dari sini!”

Pek I Hosiang terkejut melihat wanita tua yang amat galak ini, akan tetapi dengan sabar ia tersenyum dan kembali memberi hormat.

“Maaf, maaf! Sudah pinceng akui tadi bahwa pinceng berlaku lancang, akan tetapi pinceng memang sengaja datang hendak berkenalan dengan Ji-wi yang lihai. Pinceng mendengar tentang keadaan Ji-wi dari tiga orang murid pinceng yang beberapa hari yang lalu telah berlaku kurang ajar dan menerima hukuman. Pinceng bernama Pek I Hoasiang dan menjadi ketua dari kelenteng di bawah gunung. Pinceng sengaja datang untuk memintakan maaf bagi ketiga murid pinceng. Bolehkah kiranya pinceng mengetahui, Ji-wi siapakah?”

“Sudahlah, sudahlah!” Ang I Niocu membanting-banting kakinya dengan gemas dan hilang sabar. “Kami tidak ingin mengetahui namamu dan tidak ingin pula memperkenalkan nama. Kaupergilah, jangan sampai aku kehilangan kesabaranku dan menjatuhkan tangan kepadamu!”

Akan tetapi Pek I Hosiang masih tetap tenang dan sabar.

“Toanio (Nyonya Besar), harap suka berlaku sabar, karena sesungguhnya pinceng tak bermaksud buruk. Sudah bertahun-tahun pinceng mendengar tentang adanya sepasang siluman di hutan ini, tetapi pinceng tidak percaya dan menduga bahwa yang dianggap siluman tentulah dua orang sakti yang bertapa di sini.”

“Cukup…! Pergi…!” Ang I Niocu membentak lagi.

“Omitohud! Banyak sudah pinceng ketemu orang-orang pandai, akan tetapi tidak ada yang seaneh Ji-wi ini…”

“Kau mencari penyakit!” Sambil membentak marah, Ang I Niocu lalu maju menyerang dengan sebuah pukulan dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut. Pukulan ini hebat luar biasa sekali, karena dari kedua lengan tangannya mengebul uap putih!

“Omitohud!” Kembali Pek I Hosiang menyebut nama Buddha dan cepat seperti kilat ia mengelak sambil menangkis dengan tangan kanannya. Ketika dua lengan tangan beradu, Pek I Hosiang berseru kaget dan terhuyung-huyung mundur tiga tindak, sedangkan Ang I Niocu juga merasa betapa tenaga pukulannva terbentur pada tenaga yang amat kuat. Ia merasa heran sekali karena jarang ada orang yang dapat menahan pukulan Pek-in-hoat-sut! Ia maklum bahwa hwesio ini bukanlah orang sembarangan.

Sebaliknya, melihat pukulan ini, Pek I Hosiang memandang dengan mata terbelalak.

“Bukankah… pukulan tadi sebuah gerakan dari Pek-in-hoatsut?” katanya sambil memandang dengan mata terbelalak.

Kembali Ang I Niocu tertegun. “Kau sudah mengetahui kelihaian pukulanku, tidak lekas minggat dari sini??” Ia maju lagi, siap menyerang kembali.

“Ah… kalau begitu…, Toanio ini, tentulah Ang I Niocu!”

Bukan main terkejut dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar bahwa hwesio tua ini telah mengenalnya. Selama ini ia berusaha untuk menjauhi manusia agar tidak ada orang melihat bahwa Ang I Niocu yang cantik jelita kini telah berubah menjadi seorang nenek tua buruk.

“Bangsat gundul! Dengan menyebut nama itu, berarti kau harus mampus!” teriaknya dan kembali ia memukul. Akan tetapi Pek I Hosiang dapat mengelak dengan cepat sambil berkata,

“Tentu Ang I Niocu! Siapa lagi wanita berbaju merah yang cantik jelita dan dapat mainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut selain Ang I Niocu?”

Ucapan ini makin membakar hati Ang I Niocu. Sesungguhnya, dalam pandangan mata Pek I Hosiang, ia masih nampak cantik jelita, sungguhpun sudah amat tua, akan tetapi ia mengira bahwa hwesio itu sengaja menghina dan mengejeknya dengan menyebutkan cantik jelita tadi.

Ketika ia hendak menyerang kembali, tiba-tiba Lie Siong berkata,

“Ibu, berikanlah hwesio ini kepadaku!”

Ang I Niocu tiba-tiba teringat akan puteranya dan ia lalu timbul pikiran untuk mencoba kepandaian puteranya itu. Hwesio ini cukup tangguh, dan tepatlah kalau digunakan sebagai ujian bagi puteranya.

“Baik, kaumajulah dan hancurkan kepala orang yang sudah berani menghina ibumu ini,” katanya sambil melompat mundur.

Di dalam hatinya, Lie Siong tidak setuju dengan pendapat ibunya. Ia sama sekali tidak menganggap hwesio tua ini menghina ibunya, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu. Memang ia sengaja hendak mencoba kepandaian hwesio ini, sekalian untuk mencegah ibunya turun tangan, karena pemuda ini dapat menduga bahwa kalau ibunya yang maju, hwesio ini pasti akan tewas!

Demikianlah, tanpa menanti hwesio itu mengeluarkan kata-kata, Lie Siong lalu melompat maju dan menyerangnya dengan pukulan dari Ilmu Silat Sianli-utauw. Hwesio itu kagum sekali melihat gerakan yang indah ini dan timbul kegembiraan hatinya untuk mencoba kepandaian “siluman” ini.

Pek I Hosiang adalah seorang hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia adalah murid tunggal dari Biauw Leng Hosiang, tokoh kang-ouw yang amat terkenal. Bagi pembaca yang sudah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Biauw Leng Hosiang adalah sute (adik seperguruan) dari Biauw Suthai, tokouw (pendeta wanita) yang lihai dan yang menjadi guru pertama dari Lin Lin atau Nyonya Cin Hai si Pendekar Bodoh! Oleh karena itu tentu saja ilmu silatnya amat tinggi. Tidak seperti gurunya yang tersesat (baca Pendekar Bodoh), Pek I Hosiang ternyata menjadi seorang hwesio yang suci dan beribadat.

Pek I Hosiang telah sering mendengar nama Ang I Niocu dan mendengar pula bahwa ilmu silat Pendekar Wanita Baju Merah itu amat tinggi. Ia tahu pula bahwa Ang I Niocu mendapat latihan dari Bu Pun Su dan mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi seperti Pek-in-hoatsut, Kong-ciak-sinna dan lain-lain. Maka ketika ia melihat pemuda itu bersilat demikian indahnya, ia dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu silat yang disebut Sianli-utauw!

Biarpun gerakan pemuda itu lemah lembut dan ilmu silatnya lebih patut disebut tarian yang indah, namun ia maklum akan kelihaian tarian ini dan tidak berani memandang ringan. Beberapa kali ia sengaja menangkis untuk mencoba tenaga pemuda ini, akan tetapi ia terkejut sekali ketika merasa betapa lengannya tergetar tiap kali bertemu dengan lengan pemuda itu! Ia menjadi kagum sekali. “Pantas…!” serunya sambil mengelak dari sebuah pukulan. “Pantas sekali kau menjadi putera Ang I Niocu yang lihai!”

Selama hidup Pek I Hosiang belum pernah menghadapi tandingan semuda dan selihai ini, maka saking gembiranya, ia lalu mencabut keluar senjatanya, yaitu sepasang toya pendek yang tadi diselipkan pada ikat pinggangnya.

“Anak muda, mari kita coba-coba mengadu senjata!” katanya.

Lie Siong mewarisi watak ibunya yang keras dan tinggi hati, maka mendapat tantangan ini, ia tidak mempedulikan lawannya dan terus saja menyerang dengan tangan kosong! Ia lalu mengeluarkan limu Silat Kong-ciak-sinna, semacam ilmu silat yang banyak mempergunakan cengkeraman dan memang tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan bersenjata dengan tangan kosong!

Pek I Hosiang terkejut sekali dan biarpun mulutnya tetap tersenyum dan sepasang matanya memandang kagum, namun di dalam hatinya ia merasa penasaran dan tidak senang. Alangkah sombongnya anak muda ini, pikirnya. Karena itu, ia lalu memutar kedua toyanya dengan cepat sekali dan mengerahkan seluruh kepandaiannya bermain toya.

Perlu diketahui oleh para pembaca yang belum membaca Pendekar Bodoh bahwa tingkat ilmu silat Biauw Leng Hosiang tidak di bawah tingkat Ang I Niocu, maka karena Pek I Hosiang juga sudah mewarisi sebagian besar dari ilmu silat gurunya itu, maka tentu saja Lie Siong tak dapat tahan menghadapinya dengan tangan kosong.

Kedua toya pendek di tangan Pek I Hosiang bergerak bagaikan sepasang ular besar menyerang dengan berlenggak-lenggok, sehingga usaha Lie Siong dengan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna untuk merampas senjata ini tak pernah berhasil. Bahkan lambat akan tetapi pasti, Pek I Hosiang mulai mendesak pemuda itu!

Melihat betapa pemuda itu masih saja tidak mau mengeluarkan senjatanya, Pek I Hosiang lalu mainkan gerak tipu Hing-san-chian-kun (Menyerampang Bersih Ribuan Tentara). Kedua toyanya menyambar-nyambar dari kanan kiri mengeluarkan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin menderu.

Lie Siong diam-diam terkejut juga melihat kehebatan lawan ini dan ia terpaksa lalu menggerakkan kedua kakinya dan menghindarkan desakan lawan dengan Tui-po-lian-hoan (Gerakan Kaki Mundur Berantai) sambil memukul-mukulkan kedua tangan menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut untuk menolak datangnya kedua toya yang berbahaya itu.

Namun, gerakan kedua toya di tangan Pek I Hosiang amat cepatnya dan juga tidak lurus seperti senjata lain, melainkan berlenggak-lenggok tak tentu dari mana arah menyerangnya sehingga sukarlah untuk ditangkis, sungguhpun dengan tenaga Pek-in-hoatsut yang lihai. Karena itu, terpaksa Lie Siong mengenjot kedua kakinya, dan sambil berseru keras ia melompat dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Melompat ke Atas) kemudian disusul dengan gerakan Koai-liong-hoan-sin (Naga Iblis Berjungkir Balik) tubuhnya talu berjumpalitan di udara dan dengan jalan ini ia terhindar dari serangan lawan. Ketika ia melompat turun kembali, di tangannya telah nampak pedang Sin-liong-kiam yang berbentuk naga itu!

Bukan main kagumnya Pek I Hosiang melihat Sin-liong-kiam yang hebat itu! “Bagus, jangan berlaku seeji (sungkan) anak muda yang gagah, kau majulah dengan pedangmu itu!”

Mereka bertempur lagi dan kali ini benar-benar pertempuran itu hebat dan ramai sekali. Lie Siong memutar pedangnya yang aneh itu dengan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiam-hwat, sedangkan Pek I Hosiang mainkan Ilmu Toya Hek-cia-kun-hwat yang juga luar biasa cepat dan kuatnya.

Akan tetapi, akhirnya hwesio tua itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu pedang lawan yang muda tapi lihai itu. Dengan gerak tipu Lian-hwa-gai-ho (Bunga Teratai Membuka Daun), Lie Siong menyerang dengan hebat sekali menusuk pusar lawannya. Pek I Hosiang amat terkejut menyaksikan hebatnya serangan ini. Sungguhpun pedang lawannya itu tidak runcing, namun bahayanya tidak kalah oleh pedang biasa yang runcing, karena kepala naga itu mempunyai tanduk yang runcing dan dapat digunakan untuk menotok jalan darah atau melukai tubuh. Ia cepat menangkis dengan toya di tangan kanannya sambil mengayun toya di tangan kiri mengemplang lawan. Inilah gerakan ilmu toya yang disebut Menerima Kembang Memberi Buah dari Ilmu Toya Heng-cia-kun-hwat yang lihai. Memang Ilmu Toya Heng-cia-kun-hwat ini selalu mengutamakan gerakan pembalasan yang amat cepat. Tiap kali toya kanan atau kiri menangkis, maka toya kedua pasti membarengi serangan lawan itu untuk mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya!

Akan tetapi, Lie Siong sudah tahu akan sifat ilmu toya ini, maka ia tadi menyerang dengan gerakan Lian-hwa-gai-ho, ia telah siap sedia dengan tangan kirinya. Melihat toya di tangan kiri lawan menyambar ke arah kepalanya, ia cepat mengulur tangan dan menggunakan cengkeraman Kong-ciak-sinna mencoba merampas toya itu!

Tentu saja Pek I Hosiang tidak mau membiarkan toyanya dirampas, dan ia cepat mengubah gerakan toya kiri ini ke samping agar tidak sampai dirampas. Akan tetapi ternyata bahwa gerakan merampas dari pemuda itu hanya gerakan pancingan belaka untuk mengalihkan perhatian Pek I Hosiang, karena sesungguhnya yang hendak merampas senjata lawan adalah tangan kanannya yang memegang pedang. Ketika lawannya memperhatikan gerakan tangan kiri maka ketika pedang itu ditangkis oleh toya kanan, Lie Siong menggetarkan tangan kanannya dan lidah merah dari pedang naga itu dengan cepat lalu membelit toya lawan dan sekali ia berseru keras dan menarik, toya kanan dari Pek I Hosiang telah terbetot dan terlepas!

Pek I Hosiang terkejut sekali, cepat ia menggunakan gerakan Naga Hitam Keluar dari Awan, melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan lawannya. Akan tetapi sebetulnya, tak perlu ia menggunakan gerakan ini, karena Lie Siong tidak menyerangnya, juga tidak mengejarnya.

Melihat sebatang toyanya tergantung pada lidah pedang naga itu, Pek I Hosiang menghela napas dan tersenyum pahit.

“Omitohud! Kau anak muda benar-benar mengagumkan! Pinceng Pek I Hosiang mengaku kalah!” Ia menjura kepada Lie Siong.

Pemuda itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba toya yang tadi terbelit oleh lidah pedang naganya, kini terlepas dan meluncur ke arah pemiliknya dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya! Pek I Hosiang cepat mengulur tangan dan menangkap toyanya yang hendak menembus dadanya itu.

Akan tetapi, Ang I Niocu tidak puas dengan kemenangan puteranya yang tidak melukai lawannya itu.

“Hwesio busuk, lekas kaupergi dari sini dan tinggalkan toyamu!” katanya dan secepat kilat ia telah mencabut pedang Liong-cu-kiam yang bercahaya menyilaukan itu. “Tak seorang pun yang datang bersenjata boleh pulang membawa senjatanya!” Ia lalu menerjang dengan cepat, menyerang dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Menyebar Bunga hingga pedangnya berkelebat berubah menjadi segulung sinar indah. Pek I Hosiang terkejut dan cepat mengangkat kedua toyanya untuk menangkis.

“Traang…! Traaaang…!” Ketika dua kali pedang Liong-cu-kiam bertemu dengan sepasang toya itu, ternyata dengan amat mudahnya toya-toya itu terbabat putus!

Ang I Niocu melompat mundur kembali, masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya dan berkata singkat, “Pergilah!”

Pek I Hosiang menjadi pucat dan ia masih menahan perihnya hati karena hinaan ini. Ia tersenyum sabar dan menjura.

“Terima kasih atas petunjuk dari Ang I Niocu dan puteramu!” hwesio ini lalu melompat dan turun gunung dengan tindakan kaki cepat sekali.

Setelah hwesio itu tidak nampak bayangannya lagi, Lie Siong lalu berkata kepada ibunya, “Ibu, Liong-cu-kiam itu hebat sekali. Kalau pedangku Sin-liong-kiam bertemu dengan pedang Liong-cu-kiam, bukankah senjataku akan terbabat putus pula?”

“Siong-ji, apa kaukira ibumu akan mencarikan pedang sembarangan saja untukmu tanpa diuji terlebih dulu? Cabutlah pedangmu itu!”

Lie Siong meloloskan Sin-liong-kiam sedangkan Ang I Niocu juga mencabut Liong-cu-kiam. “Nah, mari kita berlatih, sekalian untuk membuktikan apakah pedangmu akan rusak kalau akan bertemu dengan pedangku!”

Anak dan ibu itu lalu bermain pedang, serang menyerang dengan hebatnya, bahkan lebih hebat daripada pertempuran melawan hwesio tadi! Beginilah Ang I Niocu melatih anaknya! Dulu, sebelum Lie Siong memiliki kepandaian tinggi, tiap kali berlatih dengan ibunya, pemuda ini tentu mengalami kesakitan dan selalu dirobohkan oleh ibunya! Pernah ia mengalami ditotok sampai pingsan, dipukul sampai matang biru, bahkan ketika berlatih senjata tajam, pernah pundaknya tergores pedang sampai mengeluarkan darah! Hal ini disengaja oleh Ang I Niocu untuk memberi ketabahan kepada puteranya. Kini mereka berlatih dengan pedang-pedang mustika, hal yang baru kali ini mereka lakukan. Liong-cu-kiam dan Sin-liong-kiam berkali-kali bertemu dan terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar, akan tetapi kedua pedang itu ternyata tidak rusak!

Seratus jurus lebih mereka bermain pedang dan yang nampak hanya bayang-bayang putih dan merah yang diselimuti oleh gulungan sinar pedang Liong-cu-kiam yang putih seperti perak dan sinar pedang Sin-liong-kiam yang kekuning-kuningan seperti emas!

“Sudah cukup…!” Keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing, hati Lie Siong merasa puas sekali dan diam-diam Ang I Niocu yang nampak berpeluh pada jidatnya itu makin sayang dan bangga terhadap puteranya. Kini kepandaian puteranya itu tidak kalah olehnya!

“Siong-ji, sekarang orang-orang sudah tahu akan tempat tinggal kita, bahkan hwesio gundul tadi sudah mengetahui siapa adanya kita! Kurasa tak perlu lagi kita lebih lama tinggal di tempat ini!” Lie Siong menatap wajah ibunya. Ia girang sekali, akan tetapi kegirangan ini sama sekali tidak membayang pada wajahnya yang elok.

“Jadi, kita turun gunung?” tanyanya penuh harapan. Betapapun keras hatinya sehingga ia seringkali berbantah dengan ibunya, namun Lie Siong adalah seorang anak yang berbakti dan sama sekali ia tidak mau memaksa pergi kalau ibunya belum memberi persetujuannya.

Akan tetapi ibunya menggeleng kepala. “Bukan kita, akan tetapi engkau sendiri! Sudah lama kau ingin merantau, bukan? Nah, sekarang kepandaianmu sudah cukup. Kau pergi dan carilah pengalaman di dunia kang-ouw!”

“Akan tetapi, bagaimana dengan kau, Ibu…? Kau akan kesunyian, hidup seorang diri di tempat ini…”

Ibunya mencabut pedang Liong-cu-kiam yang ampuh tadi. “Aku sudah mempunyai kawan. Liong-cu-kiam ini adalah kawanku yang amat setia, pedang inilah yang memberi kenang-kenangan kepadaku.” Sambil berkata demikian, ia mengusap-usap pedang itu dengan tangannya, penuh kasih sayang.

“Ibu, dari manakah kau memperoleh Liong-cu-kiam itu?”

Ibunya menghela napas panjang dan teringatlah ia akan segala pengalaman dengan Pendekar Bodoh ketika mendapatkan pedang itu (baca Pendekar Bodoh).

“Sesungguhnya, Susiok-couw Bu Pun Su yang memberi pedang ini kepadaku. Masih ada sebatang lagi, yang lebih panjang, dan yang sekarang terjatuh ke dalam tangan Pendekar Bodoh.”

“Ah, aku ingin sekali menyaksikan kelihaian orang tua yang menjadi susiok-couwmu itu, Ibu.”

“Anak bodoh, jangan sembarangan bicara! Susiok-couw Bu Pun Su adalah seorang yang paling tinggi ilmu kepandaiannya. Tidak ada tokoh di dunia ini yang dapat mengimbanginya, dan sekarang yang mewarisi kepandaiannya hanyalah Pendekar Bodoh seorang sungguhpun ibumu pernah mendapat latihan darinya.”

“Hemm, aku pun sejak dulu ingin sekali bertemu dengan Pendekar Bodoh yang seringkali Ibu puji-puji.”

“Pergilah dan kau tentu akan bertemu dengan mereka yang pandai itu. Pergi dan berlakulah hati-hati, jangan membikin malu nama ibumu.”

Setelah berkata demikian, Ang I Niocu mengajak puteranya kembali ke dalam gua lalu mengumpulkan pakaian puteranya. Ia mengeluarkan pula beberapa stel pakaian warna kuning dengan leher baju merah. Memang, semenjak masih kecil, Lie Siong selalu diberi oleh ibunya pakaian warna putih atau kuning sehingga lama kelamaan pemuda itu hanya suka mengenakan pakaian putih atau kuning saja.

“Nah, kaupergilah, Anakku. Kau telah tahu di mana tempat tinggal sahabat-sahabatku, carilah mereka dan jangan kau membikin malu ibumu. Juga kau sudah tahu siapa adanya tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat dan yang pernah bermusuhan dengan ibumu. Hati-hatilah terhadap mereka. Kurasa ayahmu tidak berada di Pulau Pek-le-to lagi, karena ayahmu tentu mencari kita. Kasihan ayahmu itu, kaucarilah kepadanya dan mintakan ampun ibumu yang telah meninggalkan dia. Berangkatlah, doaku besertamu selamanya.”

“Selamat tinggal, Ibu. Dan… Ibu hendak ke manakah? Bilakah aku dapat bertemu dengan Ibu lagi?”

“Tak perlu kaubingungkan soal ibumu, Nak. Aku boleh jadi berada di sini atau di tempat lain, akan tetapi jangan khawatir, kita pasti akan bertemu kembali kelak.”

Berat hati Lie Siong ketika hendak meninggalkan tempat itu. Ia telah melangkah keluar dari gua, akan tetapi tiba-tiba ia kembali lagi dan memeluk ibunya.

“Ibu, berjanjilah bahwa kita pasti akan bertemu lagi.”

Ang I Niocu merasa terharu dan ia tersenyum, senyum yang sudah bertahun-tahun meninggalkan bibirnya. Ia mendekap kepala puteranya dan mencium jidat puteranya yang tercinta itu.

“Jangan gelisah, Siong-ji. Apa kaukira aku senang hati berpisah dengan kau untuk selamanya? Percayalah, pasti aku akan bertemu kembali dengan engkau, Anakku.”

Maka berangkatlah Lie Siong, membawa sebungkus pakaian yang diikatkan di punggungnya, dan pedangnya, Sin-liong-kiam atas kehendak ibunya, disembunyikan di balik mantelnya yang panjang.

Ketika ia telah keluar dari hutan tempat tinggalnya dan memasuki hutan berikutnya, ia mendengar suara riuh rendah dan ternyata bahwa dari bawah gunung nampak dua puluh orang lebih sedang naik menuju ke hutan itu. Mereka ini adalah penebang-penebang pohon yang bersenjata lengkap, mengiringkan enam orang yang bukan lain adalah para pengusaha kayu. Mereka ini merasa penasaran ketika mendengar cerita tiga orang penebang pohon yang bertemu dengan sepasang “siluman” itu dan kini setelah mengumpulkan dua puluh lebih orang-orang yang dianggap paling kuat dan gagah di antaranya sebagian besar murid-murid dari Pek I Hosiang, lalu beramai-ramai naik ke atas gunung hendak menyerbu dan menangkap siluman-siluman itu!

Lie Siong tertarik hatinya melihat orang banyak ini, terutama ketika dia melihat mereka itu berhenti dan bersorak seakan-akan menonton sesuatu yang menarik hati. Ketika Lie Siong tiba di dekat tempat itu, ternyata ia melihat empat orang yang bertubuh kuat sedang mendemonstrasikan tenaga mereka. Keempat orang ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang paling pandai. Tadi ketika mereka berjalan naik, mereka tiada hentinya membicarakan sepasang siluman itu dan timbul hati ngeri dan takut diantara sebagian besar para penebang pohon. Oleh karena itu, untuk membakar semangat para kawan, empat orang yang terkuat itu lalu memperlihatkan tenaga mereka dan memang mereka ini kuat sekali! Sebatang pohon yang besarnya tak kurang dari tubuh enam orang menjadi satu, telah diikat batangnya dengan seutas tambang yang besar dan amat kuat, kemudian empat orang itu lalu mengerahkan tenaga, menarik tambang itu. Urat-uratnya menonjol pada dada dan tangan mereka yang telanjang karena untuk demonstrasi ini, mereka sengaja menanggalkan baju agar tidak robek. Memang sukar dipercaya kehebatan tenaga mereka. Empat ekor kerbau belum tentu akan dapat menarik pohon itu sehingga tumbang, akan tetapi ketika empat orang ini mengerahkan tenaga, terdengar suara keras sekali dan pohon itu roboh berikut akar-akarnya!

Karena semua orang sedang menonton pertunjukan ini dengan penuh perhatian maka tak seorang pun di antara mereka melihat Lie Siong yang diam-diam berdiri di antara mereka, yang menonton demonstrasi itu.

Berbareng dengan robohnya pohon itu, terdengar sorak-sorai memuji, karena siapakah yang tidak kagum menyaksikan tenaga luar biasa dari empat orang jagoan itu? Empat orang itu memandang ke sekeliling dengan bangga dan mengangkat dada, akan tetapi tiba-tiba seorang di antara mereka yang berjenggot pendek, melihat Lie Siong. Ia merasa heran karena tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat betapa pemuda yang lemah-lembut ini tidak ikut bersorak memuji. Memang tak seorang pun di antara mereka mengenal Lie Siong, karena tiga orang penebang pohon yang pernah ia robohkan itu tidak berani ikut bersama rombongan ini. Si Jenggot Pendek melangkah maju dan menegur,

“Eh, Sobat! Kau ini siapakah dan mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menghargai kepandaian kami? Ketahuilah, hanya mengandalkan tenaga dan kepandaian kami berempatlah maka sepasang siluman Pek-ang-siang-mo itu akan ditumpas!”

Semua orang kini memandang kepada Lie Siong dengan heran karena mereka pun tidak mengenal pemuda ini dan tidak tahu pula kapan pemuda ini datang di situ.

Lie Siong merasa mendongkol sekali melihat kesombongan mereka, terutama sekali mendengar betapa mereka hendak membasmi sepasang iblis yang ia dapat menduga tentu dimaksudkan ibunya dan dia sendiri. Dengan wajah tenang dan tidak berubah sedikitpun juga, ia berkata acuh tak acuh,

“Apa sih anehnya tenaga kalian berempat? Lebih baik kalian pergi dan jangan masuk ke dalam hutan di atas ini.”

“Eh, eh, mengapa kau berkata demikian?” tanya Si Jenggot Pendek.

“Karena tenagamu yang hanya dapat merobohkan pohon lapuk itu takkan ada gunanya. Kalau kalian pergunakan untuk menarik lawan biarpun hanya satu kakinya saja kalian tidak akan mampu merobohkannya!”

Bukan main marahnya empat orang jagoan itu dan semua orang juga memandang dengan heran dan marah.

“Orang muda, kautahanlah lidahmu! Kalau kau bicara sembarangan saja, dengan sekali pukul aku akan menghancurkan kepalamu!” kata seorang di antara empat jagoan itu yang bertubuh besar pendek.

“Siapa bicara sembarangan? Kalianlah yang bermata buta dan sombong.”

“Kaubicara sungguh-sungguh?” kata Si Jenggot Pendek sambil tersenyum menghina. “Kalau begitu, kau berani membiarkan sebelah kakimu kami tarik dengan tambang dan kau merasa pasti bahwa kami takkan dapat merobohkanmu?”

Semua orang tertawa mengejek mendengar ini, dan enam orang pengusaha itu berdiri sekelompok dan berbisik-bisik karena mereka juga merasa sangat heran melihat keberanian pemuda tampan ini.

Akan tetapi Lie Siong masih bersikap tenang dan dingin. “Mengapa tidak berani? Kalau kau bisa menarik sebelah kakiku dengan tambang dan dapat merobohkan aku, barulah kalian patut naik ke hutan itu.”

“Bagus!” seru Si Jenggot Pendek. “Akan tetapi kalau kakimu sampai terbetot putus dari tubuhmu, jangan kaupersalahkan kami, anak muda yang manis!” Terdengar suara orang tertawa disusul dengan ejekan, “Kalau kakinya sudah copot, bagaimana ia bisa mengeluarkan kata-kata lagi?”

Kembali terdengar semua orang tertawa geli sungguhpun mereka memandang makin tertarik dan dengan penuh perhatian. Semua orang menduga-duga siapa gerangan pemuda yang mencari penyakit ini. Apakah dia berotak miring?

“Boleh, aku berjanji,” jawab Lie Siong yang hendak mempermainkan orang-orang sombong itu, “sebaliknya kalian semua harus berjanji bahwa apabila kalian tak dapat merobohkan sebelah kakiku selama hidup kalian tidak akan mengganggu dan menebang pohon di hutan itu!”

“Jadi!!” seru Si Jenggot Pendek, tidak memikirkan lagi keheranan hati yang timbul karena ucapan pemuda ini seakan-akan membela sepasang siluman di hutan itu!

Semua orang lalu mundur dan membuat lingkaran, berdiri mengelilingi pemuda itu. Para pengusaha berdiri sekelompok sedangkan para penebang kayu berdiri di kelompok tersendiri, tidak berani mendekati para “thauwke” (majikan) itu. Empat orang kuat itu lalu mempersiapkan tambang besar tadi. Si Jenggot Pendek memegang ujung tambang dan menghampiri Lie Siong sambil bertanya menyeringai,

“Kau sudah siap?”

Lie Siong menurunkan buntalan pakaiannya dan menaruh di atas tanah bawah pohon, kemudian ia kembali ke tengah lapangan itu, dan berdiri dengan satu kaki, mengangkat kaki kirinya ke depan, dan kedua tangannya ditaruh di belakang. Sikapnya demikian enak dan seakan-akan tak bertenaga sama sekali sehingga semua orang tertawa mengejek. Kalau orang yang memiliki kepandaian silat, tentu akan memasang bhesi (kuda-kuda) yang teguh, mengerahkan tenaga pada kaki yang hendak ditarik. Akan tetapi mengapa pemuda ini berdiri seakan-akan sedang makan angin menikmati sinar bulan purnama? Sungguh lucu dan menggelikan. Jangan kata hendak ditarik dengan tambang oleh empat orang yang bertenaga gajah, sedangkan kalau ada angin besar bertiup saja, agaknya pemuda itu akan rubuh.

Tentu saja mereka itu tidak tahu bahwa Lie Siong diam-diam telah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh yang disebut Ban-kin-cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati) dan cara berdiri itu adalah bhesi (kuda-kuda) dari Ilmu Silat Sianli-utauw (Ilmu Silat Bidadari), yaitu disebut Berdiri Dengan Kaki Berakar!

“Aku sudah siap!” kata Lie Siong dengan suara dingin saja seakan-akan tidak menghadapi urusan penting.

Sambil tertawa haha-hihi, Si Jenggot Pendek lalu membelitkan ujung tambang kepada kaki kanan Lie Siong tepat pada tulang keringnya, di atas pergelangan kaki, agak di bawah betisnya. Kemudian setelah memeriksa bahwa ikatan tali pada kaki itu cukup kuat takkan terlepas bila ditarik, ia lalu mendekati kawan-kawannya dan sambil tersenyum-senyum ia berkata perlahan,

“Kita menggunakan tenaga tiba-tiba menariknya agar ia jatuh terjengkang!” Tiga orang tersenyum gembira dan menganggukkan kepalanya. Mereka lalu berdiri berbaris dan memegang tambang itu. Semua orang memandang dengan napas tertahan, karena betapapun mereka merasa lucu dan penasaran kepada pemuda yang mereka anggap berotak miring ini, melihat wajah yang elok dan kulit yang halus itu mereka merasa kasihan juga. Sedikitnya kaki yang tak seberapa besarnya itu pasti akan patah oleh tarikan empat orang kuat ini, pikir mereka. Bahkan seorang pengusaha yang berpakaian kuning dan yang masih muda berwajah tampan, lalu menghampiri Lie Siong dan berkata,

“Hian-te, mengapakah kau melakukan hal yang bodoh ini? Kaumintalah maaf kepada mereka dan aku yang tanggung bahwa perkara ini akan dibikin habis sampai di sini saja.”

Lie Siong paling tidak suka kalau ada orang menaruh hati kasihan kepadanya, maka sambil mengerling tajam ke arah orang itu, ia berkata, “Jangan ikut campur, dan mundurlah!” Tentu saja semua orang makin merasa tak senang melihat sikap ini, dan orang baju kuning itu pun mundur dengan muka kemerahan.

“Aku sudah siap, hayo tariklah sekuatmu!” kata Lie Siong sekali lagi.

Orang berjenggot pendek itu memberi aba-aba, “Tarik…!!” dan keempat orang itu mengerahkan seluruh tenaga membetot tambang itu sehingga urat-urat pada lengan dan dada mereka mengembung. Semua orang memandang dan terbayanglah sudah di mata mereka betapa pemuda elok ini akan jatuh tunggang-langgang dengan kaki patah. Akan tetapi… sungguh aneh, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu! Pemuda elok itu masih berdiri seperti tadi, kaki kiri diangkat ke depan, kedua tangan ditaruh di belakang dan sedikit pun ia tidak berkedip seakan-akan sama sekali tidak merasa akan tarikan dan sama sekali tidak mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri!

“Aduh…! Sungguh aneh!” terdengar suara penonton.

“Tak masuk di akal!”

“Tak mungkin…!”

“Ajaib sekali…!!”

Kalau semua orang yang menonton menjadi terheran-heran, empat orang jagoan itu lebih terkejut lagi. Tambang itu telah tertarik sehingga menegang, bahkan terdengar bergerit saking kuatnya mereka menarik, akan tetapi mereka merasa seakan-akan sedang menarik sebuah gunung saja! Untuk sesaat mereka saling pandang, kemudian dengan amat penasaran mereka lalu menarik lagi. Kini tarikan mereka tidak teratur lagi, suara mereka “ah-ah, uh-uh” sambil mengerahkan tenaga sekuatnya, sehingga mereka terhuyung ke sana terdorong ke mari, akan tetapi tetap saja kaki yang dilibat tambang dan ditarik itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun!

Kini tak seorang pun penonton dapat mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun mereka hampir lupa! Keempat orang jagoan itu sambil membetot, memandang kepada pemuda itu dengan mulut ternganga saking herannya, akan tetapi mereka tidak berhenti menarik. Mustahil tidak dapat merobohkannya, pikir mereka dan kembali mereka mengerahkan tenaga seadanya untuk membetot kaki yang hanya kecil saja itu!”

Peluh sebesar kacang telah menitik turun dari jidat mereka, dan napas mereka mulai terengah-engah setelah beberapa lama mereka menarik dengan tenaga sepenuhnya.

Lie Siong merasa bahwa sudah cukup ia memperlihatkan tenaganya, maka ia lalu membentak keras.

“Tidak lekas lepaskan tambang?” Sambil berkata demikian, tanpa menurunkan kaki kirinya, kaki kanannya melakukan gerakan mengisar dan… tak dapat ditahan pula, empat orang jagoan itu terdorong ke depan dan karena mereka masih belum melepaskan tambang itu, mereka jatuh saling timpa! Yang paling sial adalah Si Jenggot Pendek karena ia tertindih oleh dua orang kawannya dan karena jatuhnya dengan hidung di depan, maka ketika ia merangkak bangun kembali, hidungnya yang tadinya mancung telah menjadi pesek dan berdarah!

Kini ramailah orang-orang itu memuji dan menyatakan keheranan mereka. Bagaimana mungkin terjadi hal yang aneh ini? Biarpun sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka masih belum dapat percaya bahwa seorang pemuda yang lemah-lembut dan berkulit halus itu dapat memiliki tenaga yang demikian besarnya. Siapakah pemuda lihai ini? Mereka saling bertanya tanpa berani menanyakan sendiri kepada pemuda itu.

Pada saat itu, nampak dua orang berlari dari bawah lereng dan mereka ini adalah seorang laki-laki tinggi besar bersama seorang hwesio. Ketika laki-laki tinggi besar itu tiba di situ dan melihat Lie Siong, ia lalu cepat berseru kepada semua orang,

“Dia adalah iblis putih!”

Orang ini adalah seorang di antara penebang pohon yang dulu pernah dirobohkan oleh Lie Siong, dan mendengar seruan ini, semua orang menjadi pucat mukanya, ada yang menggigil dan bahkan ada yang cepat mengangkat kaki lari dari situ! Akan tetapi, ketika mereka melihat hwesio yang datang bersama penebang tadi, semua orang menjadi tabah kembali dan mengikuti hwesio itu menghampiri Lie Siong. Hwesio itu bukan lain adalah Pek I Hosiang sendiri.

Melihat bahwa yang menimbulkan keributan itu adalah Lie Siong, Pek I Hosiang lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil memberi hormat.

“Omitohud, tidak tahunya Siauw-enghiong (Orang Muda Gagah) yang datang di sini! Maafkan murid-murid pinceng yang bodoh dan tidak tahu aturan, Siauw-eng-hiong. Sesungguhnya ketika pinceng mendengar bahwa mereka ini hendak menyerbu ke dalam hutan segera pinceng menyusul ke sini untuk mencegah mereka.”

Melihat Lie Siong hanya berdiri tanpa menjawab, hwesio itu lalu memandang kepada semua orang dan berkata,

“Cuwi sekalian, harap mendengarkan kata-kata pinceng. Mulai sekarang janganlah ada seorang pun berani mengganggu hutan di atas itu! Ketahuilah bahwa di situ tinggal dua orang pendekar sakti yang mengasingkan diri! Pegunungan ini mempunyai banyak sekali hutan-hutan besar, mengapa harus mengganggu hutan kecil? Kalau kalian sayang diri jangan sekali-kali berani memasuki hutan itu. Ang I Niocu dan puteranya bukanlah siluman, akan tetapi pendekar-pendekar besar yang berkepandaian tinggi dan tidak mau diganggu!”

Semua orang terkejut mendengar ini, karena tak pernah mereka sangka bahwa hwesio ini pun telah kenal kepada kedua orang yang tadinya dianggap siluman itu terutama sekali para murid yang pernah mendengar nama Ang I Niocu yang tersohor! Mereka cepat memandang kepada pemuda yang diperkenalkan sebagai putera Ang I Nicou itu, akan tetapi alangkah heran dan kagetnya semua orang ketika melihat bahwa di situ tidak nampak lagi bayangan pemuda tadi! Pemuda tadi telah lenyap bersama buntalan pakaiannya tanpa diketahui oleh seorang pun kecuali Pek I Hosiang. Hwesio ini berkata,

“Dia sudah pergi!” Ia menghela napas. “Masih baik bahwa pemuda itu sendiri yang datang di sini, tidak bersama ibunya. Kalau kalian berani mengganggu ibunya tak dapat kubayangkan kengerian yang menjadi akibatnya!”

Semenjak saat itu, semua orang memandang hutan itu sebagai tempat keramat dan tak seorang pun berani naik ke situ. Nama Ang I Niocu makin terkenal, dan juga puteranya menjadi buah bibir semua orang yang tinggal di sekitar Pegunungan Ho-lan-san.

***

Pada suatu hari, ketika Lie Siong tiba di sebuah jalan yang sunyi, ia melihat dua orang laki-laki sedang bertengkar. Tadinya ia tidak hendak mempedulikan dua orang yang bercekcok itu, akan tetapi karena ia mendengar suara yang seorang amat aneh dan kaku seperti orang asing, ia tertarik juga dan segera menghampiri mereka sambil bersembunyi di balik pohon besar.

Laki-laki yang bicaranya kaku itu adalah seorang setengah tua yang berkumis dan berjenggot panjang, nampaknya gagah sekali, dan matanya bersinar tajam. Orang yang bercekcok dengan dia adalah seorang muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka kasar dengan mulut selalu menyeringai sombong.

“Gui-kongcu (Tuan Muda Gui), sudah berkali-kali aku menegur dan menasihatimu agar kau jangan menggoda anakku, akan tetapi agaknya kau sengaja bahkan menghina puteriku. Aku biasanya amat sabar, akan tetapi jangan kira bahwa kesabaranku ini tanda bahwa aku takut kepadamu!”

Laki-laki muda itu tertawa bergelak dengan sikap menghina sekali.

“Paman Manako, kau orang tua mengapa tidak memaklumi hati orang-orang muda? Aku mencinta Lilani, mengapa aku menghina? Aku pernah melamar anakmu itu, mengapa pula kau berani menampik pinanganku? Ingatlah, Paman Manako, kau datang sebagai seorang perantau, dan kalau tidak ada aku dan ayahku, tak mungkin kau dapat tinggal di daerah ini!”

“Kurang ajar!” bentak laki-laki yang bernama Manako itu. “Gui-kongcu, kau telah mengucapkan kata-kata menghina terhadap seorang laki-laki Haimi. Kalau aku tidak ingat bahwa kau masih kanak-kanak dan tidak ingat bahwa ayahmu telah menolongku, untuk ucapanmu itu saja aku sanggup membunuhmu! Memilih mantu tak dapat dipaksa. Anakku Lilani tidak suka kepadamu, bagaimana aku harus menerima pinanganmu? Sungguh amat tidak tahu malu bagi seorang pemuda yang sudah ditolak pinangannya, masih saja mendesak dengan cara yang kurang ajar sekali!”

“Manako!” pemuda itu membentak marah, kini tidak mcnggunakan lagi sebutan paman. “Lupakah kau sedang bicara dengan siapa?” Pemuda ini lalu mencabut pedangnya dengan sikap mengancam.

Orang tua berjenggot itu tersenyum dan dengan tenang ia pun mencabut pedangnya pula. “Tentu saja aku tidak lupa. Aku berhadapan dan bicara dengan Gui-kongcu, putera dari Kepala Daerah Ki-ciang. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa aku Manako bukan seorang penjilat. Tidak peduli siapa saja kalau berani menghinaku, akan kulawan!”

“Orang Haimi yang sombong, rasakan tajamnya pedangku!” teriak pemuda tinggi besar itu dan segera ia menyerang dengan sebuah tusukan hebat. Gerak tipunya ini adalah yang disebut Han-ya-pok-cui (Burung Gagak Menyambar Kelinci), sebuah tipu gerakan dari Ilmu Pedang Tat-mo-kiam-hwat yaitu ilmu pedang ciptaan pendekar besar Tat Mo Couwsu. Akan tetapi, dengan tenang orang Haimi itu menangkis dengan pedangnya sehingga Pemuda she Gui itu terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lawannya amat besar, membuat pedangnya terpental ke belakang! Ia berseru keras dan segera menyerang lagi dengah gerak tipu Hui-eng-bok-thou (Elang Terbang Menyambar Kelinci), kedua kakinya melompat ke atas dan pedangnya menyambar. Akan tetapi, Manako, orang Haimi itu dengan gesitnya lalu mengubah kedudukan kakinya, melangkah dengan kaki kanan ke belakang, lalu memutar tubuhnya dengan gerak tipu Monyet Sakti Memasuki Gua. Dengan gerakan ini ia dapat menghindarkan diri dari serangan lawan kemudian ia balas menyerang dengan tak kurang hebatnya.

Sebentar saja ternyata bahwa ilmu pedang orang Haimi ini jauh lebih unggul daripada ilmu pedang lawannya dan cepat ia mendesak dan mengurung pemuda itu dengan pedangnya yang menyambar-nyambar! Lie Siong yang mengintai dari balik pohon maklum bahwa orang tua itu tidak berniat buruk, karena kalau ia mau, dengan mudah saja ia pasti akan dapat merobohkan pemuda itu. Akan tetapi pemuda itu ternyata tak tahu diri dan ia tidak tahu bahwa orang tua itu telah berlaku murah hati dan mengalah. Kalau ia tahu diri, tentu ia takkan melawan terus. Sebaliknya, ia malah memaki-maki dan menyerang dengan membuta tuli.

“Kau benar-benar tak tahu diri!” teriak Manako dan sebuah serangan dengan pedang diputar dibarengi gerakan menggetarkan pedang, membuat pedang pemuda itu terkurung dan tertempel, kemudian sekali orang tua itu membentak, “Lepas senjata!” sambil membetot, pedang pemuda itu terlempar dan terlepas dari pegangan!

Pada saat itu, tujuh orang yang berpakaian seperti perwira kerajaan lari mendatangi dan mereka segera mencabut senjata golok dan pedang.

“Orang Haimi yang sudah bosan hidup!” teriak seorang di antara para perwira itu. “Kau berlaku kurang ajar terhadap Gui-kongcu?”

“Bukan aku yang mulai lebih dulu!” jawab Manako dengan berani, akan tetapi tujuh orang perwira itu segera mengurung dan menyerangnya. Manako melawan sekuatnya, akan tetapi tujuh orang perwira itu kepandaiannya rata-rata lebih tinggi daripada kepandaian pemuda she Gui tadi sehingga sebentar saja Manako terdesak hebat dan menjadi sibuk sekali.

Pada saat orang tua itu berada dalam keadaan yang amat berbahaya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dari balik pohon. Lie Siong yang menyaksikan keroyokan yang berat sebelah itu tidak mau tinggal diam dan dia telah melompat keluar, langsung mengamuk dan mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna. Tubuhnya bergerak cepat bagaikan halilintar menyambar dan di mana saja tubuhnya berkelebat, seorang perwira lalu menjerit, pedang atau goloknya terampas dan tubuhnya menerima pukulan atau tendangan yang cukup membuatnya mencium tanah tanpa dapat bangun kembali!

Pemuda she Gui yang melihat kehebatan lawan baru ini, dengan cerdik lalu diam-diam melarikan diri dari situ. Tujuh orang perwira itu dalam waktu pendek saja telah dirobohkan oleh Lie Siong yang tidak menggunakan senjata sehingga orang tua Haimi itu telah memandang dengan bengong.

Manako cepat menghampiri Lie Siong, memberi hormat dan berkata kagum, “Kau hebat sekali, anak muda. Kehebatanmu mengingatkan aku akan Sie Tai-hiap!”

“Siapakah Sie Tai-hiap itu?” tanya Lie Siong.

“Sie Tai-hiap adalah Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh! Seperti kau inilah sepak terjangnya menghadapi orang-orang jahat.”

Lie Siong tadi membantu Manako tanpa mengandung maksud sesuatu, hanya terdorong oleh hatinya yang tak senang melihat keroyokan yang tidak adil. Kini mendengar betapa orang tua itu memuji-muji nama Pendekar Bodoh, ia menjadi sebal sekali. Telah seringkali ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh sehingga nama Pendekar Bodoh ini seakan-akan merupakan lidi yang ditusuk-tusukkan ke dalam telinganya, sekarang mendengar lagi orang memujinya, membuat ia tidak puas.

“Sudahlah, aku tidak kenal segala Pendekar Bodoh. Kaupergilah sebelum orang-orang ini sempat mengeroyokmu lagi!”

Manako memandang heran kepada pemuda yang bersikap dingin ini, akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia telah melawan perwira-perwira bahkan bertempur dengan putera Kepala Daerah, maka dengan cepat ia lalu memberi hormat lagi dan berlari pergi dari situ. Akan tetapi, baru saja ia membelok di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba ia telah dicegat oleh belasan orang perwira yang mengantar pemuda she Gui tadi! Ternyata bahwa Gui-kongcu setelah lari cepat lalu memanggil lebih banyak perwira untuk mengeroyok pemuda yang lihai dan Manako.

“Penggal leher orang Haimi jahat ini!” Gui-kongcu berseru marah dan sebentar saja Manako telah dikeroyok oleh belasan orang perwira itu. Perwira-perwira yang datang ini tingkatnya lebih tinggi dari pada tujuh orang perwira yang tadi, bahkan di antara mereka terdapat seorang panglima tamu dari kota raja yang amat terkenal kegagahannya. Panglima muda ini bernama Kam Liong dan orang ini bukan lain adalah keturunan dari Panglima Besar Kam Hong Sin yang amat tersohor karena kegagahannya (baca Pendekar Bodoh).

Sudah tentu saja Manako bukan tandingan para perwira ini. Panglima muda yang berkepandaian tinggi itu sama sekali tidak mau turun tangan karena ia merasa rendah untuk mengeroyok seorang Haimi! Akan tetapi, perwira-perwira yang lain sudah cukup kuat untuk merobohkan Manako sehingga sebentar saja orang Haimi ini roboh dengan beberapa luka parah pada tubuhnya.

Lie Siong yang hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba mendengar bentakan-bentakan para perwira yang mengeroyok Manako, karena pertempuran itu terjadi di belakang tikungan dan tidak kelihatan dari tempatnya, maka ia cepat berlari menghampiri tempat itu. Alangkah marah dan terkejutnya ketika ia melihat betepa Manako telah roboh mandi darah, dikeroyok oleh belasan orang perwira.

“Pengecut hina dina!” seru Lie Siong sambil mencabut keluar Sin-liong-kiam dari balik jubahnya. Sekali tubuhnya berkelebat, ia merupakan bayangan putih yang cepat gerakannya bagaikan seekor burung garuda. Seperti juga tadi ketika menghadapi tujuh orang perwira, kini begitu ia menggerakkan pedangnya, golok dan pedang perwira beterbangan dan teriakan-teriakan terdengar susul-menyusul dibarengi jatuhnya tubuh mereka bertumpang tindih.

Bukan main kagetnya Panglima Muda Kam Liong ketika menyaksikan kelihaian pemuda baju putih ini. Terpaksa ia harus bertindak, kalau tidak, mungkin belasan orang perwira itu akan roboh semua! Ia mencabut keluar pedangnya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, dan sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melayang dan menyambut pedang Lie Siong yang mengeluarkan sinar kuning keemasan.

“Trang…!” Sepasang pedang itu bertemu, menimbulkan bunga api berpancaran.

“Tahan dulu!” seru Kam Liong dan Lie Siong yang merasa tercengang menyaksikan ada pedang yang dapat menyambut Sin-liong-kiamnya, segera menahan senjata dan memandang dengan sinar mata tajam.

Dua orang muda yang sama tampan sama gagah ini saling pandang dengan penuh perhatian. Lie Siong melihat seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang panglima, pakaiannya gagah dan mentereng sekali, wajahnya membayangkan kegagahan. Sedangkan Kam Liong tercengang ketika melihat bahwa orang yang lihai sekali kepandaiannya itu ternyata hanya seorang pemuda berkulit muka halus dan bersikap lemah lembut!

“Saudara yang gagah, kau siapakah dan mengapa kau membela seorang pemberontak bangsa Haimi?”

“Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan dengan pemberontak, dan juga aku tidak peduli apa yang menjadi persoalannya, akan tetapi yang sudah jelas bahwa orang tua ini kalian keroyok secara tidak tahu malu sekali. Pengecut-pengecut macam kalian ini tak dapat kuberi ampun!”

Marahlah Kam Liong mendengar ucapan ini yang dianggapnya amat sombong dan kurangajar. “Orang sombong!” teriaknya sambil menggerakkan pedang di tangan. “Kau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Tidak tahukah bahwa kau berhadapan dengan Panglima Muda she Kam dari kota raja?”

Mendengar disebutnya she Kam ini, Lie Siong memandang dengan penuh perhatian. Ibunya pernah menuturkan kepadanya tentang panglima kosen bernama Kam Hong Sin.

“Ada hubungan apakah kau dengan Panglima Kam Hong Sin?” tanyanya tiba-tiba.

“Dia adalah ayahku, bagaimana kau dapat mengetahui namanya? Siapakah kau sebetulnya dan siapa pula guru atau orang tuamu!”

Akan tetapi Lie Siong tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan melangkah maju dan berkata, “Bagus! Kalau begitu biarlah kita menguji kepandalan masing-masing dan tak perlu banyak mengobrol lagi!” Ia lalu memutar pedangnya yang aneh bentuknya itu. Kam Liong yang maklum akan kelihalan lawan, tidak berlaku lambat dan cepat sekali ia menangkis dan membalas dengan serangannya yang tak kalah hebatnya.

Kam Liong adalah putera tunggal dari Panglima Kam Hong Sin yang tinggi ilmu silatnya. Pemuda ini mengikuti jejak ayahnya dan kini telah menduduki pangkat yang tinggi dalam ketentaraan di kota raja, telah mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya. Ia amat lihai, terutama dalam ilmu pedang yang berasal dari ilmu pedang Partai Kun-lun-pai. Gerakan pedangnya cukup cepat dan kuat, ditambah pula dengan pedangnya yang bukan sembarangan, melainkan sebuah pedang mustika hadiah dari kaisar, tentu saja ia jarang menemukan tandingan dalam ilmu pedang. Akan tetapi, setelah ia bertempur menghadapi Lie Siong, ia menjadi terkejut sekali oleh karena ilmu silat pemuda elok ini benar-benar hebat dan lihai sekali. Pedang yang berbentuk naga itu selain amat keras sehingga tidak menjadi rusak oleh pedang mustikanya, juga amat berbahaya. Pedang itu kalau menyabet tidak akan melukai kulit, akan tetapi akan meremukkan tulan dan otot, sedangkan tanduk pedang naga itu dapat digunakan untuk menusuk bagian tubuh yang berbahaya. Yang lebih istimewa lagi adalah lidah pedang naga yang panjang itu, karena lidah ini dapat berputar-putar melakukan sambaran-sambaran tersendiri dan menotok jalan darah. Bahkan beberapa kali lidah merah ini mencoba untuk melibat pedang di tangannya untuk dirampasnya!

Kam Liong teringat akan nama-nama pendekar besar yang pernah ia dengan dari ayahnya. Menurut ayahnya, ilmu pedangnya atau ilmu silatnya harus dipergunakan dengan amat hati-hati apabila menghadapi mereka atau murid dan keturunan mereka.

“Apakah kau putera Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh?” Ia bertanya sambil menangkis sebuah tusukan ke arah lehernya.

“Aku tidak kenal Pendekar Bodohl” jawab Lie Siong dengan hati mangkel karena lagi-lagi ia mendengar nama pendekar ini disebut-sebut orang! Ia lalu menyerang lebih hebat lagi dan mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiamsut, pedangnya berputar demikian hebatnya seakan-akan berubah menjadi lima putaran sehingga nampak bagaikan lima bunga teratai, sesuai dengan namanya, yaitu Ngo-lian-hoan-kiamsut (Ilmu Pedang Lima Bunga Teratai).

Kam Liong terkejut melihat ilmu pedang ini dan terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri, dan untuk sementara ia mencurahkan perhatiannya terhadap pertahanannya sehingga tak sempat bertanya lagi. Akan tetapi, setelah ia terdesak, ia lalu menggunakan gerak tipu Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Menutup Matahari). Pedang mustikanya berputar cepat sekali sehingga merupakan payung penutup tubuhhya yang amat rapat dan kuat.

“Kalau begitu, tentulah putera Kwee An Locianpwe!” kata Kam Liong lagi, menduga-duga. Karena kalau bukan putera Pendekar Bodoh, hanya putera atau murid Kwee An Locianpwe saja yang memiliki kepandalan sedemikian hebatnya, demikian ia berpikir.

“Jangan mengobrol! Aku tidak kenal orang she Kwee itu!” jawab Lie Siong dengan marah dan ia pun merasa penasaran sekali karena telah bertempur lima puluh jurus lebih, belum juga dapat mengalahkan panglima muda yang lihai ini. Ia lalu berseru keras dan dengan pedang di tangan kanan mainkan Ilmu Pedang Sin-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakan oleh ibunya sendiri untuk menyesuaikan pedang yang dipergunakannya, ia lalu menggunakan tangan kirinya untuk menyerang dengan Ilmu Pukulan Pek-in-hoatsut yang membuat tangan kirinya mengeluarkan uap putih!

Pek-in-hoatsut sudah terkenal sekali kelihaiannya, dan kepandaian ini adalah warisan dari Guru Besar Bu Pun Su, tidak saja pukulannya yang amat lihai, bahkan uap putih itu saja kalau menyambar lawan dapat mematahkan tenaga lwee-kang dan dapat mendatangkan luka di dalam tubuh. Akan tetapi ilmu pedang itu pun luar biasa hebatnya. Ketika Ang I Niocu menciptakan ilmu pedang ini untuk puteranya, ilmu pedang ini disesuaikan dengan bentuk Pedang Naga Sakti itu, sehingga di dalam gerakannya ini terdapat totokan-totokan jalan darah, dan juga lidah pedang naga yang panjang itu dipergunakan dengan ilmu melempar tali kepandalan tunggal dari Lie Kong Sian!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: