Pendekar Remaja ~ Jilid 9

Bukan main terkejutnya hati Kam Liong ketika menyaksikan serangan lawannya yang hebat ini, ia terkejut dan cepat mengelak dari serangan pukulan Pek-in-hoatsut, akan tetapi lidah pedang naga itu telah berhasil membelit pedangnya dan sekali Lie Siong mengerahkan tenaga, pedang itu telah terbetot terlepas dari pegangan Kam Liong!

Kam Liong kaget sekali dan berteriak keras sambil melempar tubuhnya ke belakang lalu membuat gerakan melompat berjungkir balik beberapa kali ke belakang. Inilah gerakan Naga Sakti Menembus Awan yang amat indah sehingga diam-diam Lie Siong kagum juga melihat gerakan lawannya.

“Pergi…! Pergi kalian dari sini!” bentaknya sambil menggerakkan tangan kanan sehingga pedang Kam Liong yang terampas tadi tahu-tahu terlepas dan meluncur ke arah dada pemiliknya! Kam Liong tidak keburu menyambut dan terpaksa cepat menjatuhkan tubuhnya sehingga pedangnya itu meluncur terus dan menancap pada dada seorang perwira yang berdiri di belakangnya! Perwira itu menjerit dan tewas dengan dada tertembus pedang!

“Kau… kau tentu putera Ang I Niocu!” seru Kam Liong dalam dugaannya sambil mencabut pedangnya dan memandang kagum. Mendengar ini, Lie Siong terkejut sekali dan juga marah.

“Apakah kau ingin mampus?” bentaknya sambil menggerakkan tubuh menerjang, akan tetapi Kam Liong yang sudah tahu akan kelihaian pemuda elok ini tidak berani melawan dan melarikan diri! Lie Siong hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar keluhan orang Haimi yang menggeletak mandi darah itu, maka ia menunda niatnya hendak mengejar dan menghampiri orang tua yang terluka tadi.

Ketika ia berlutut, ternyata orang tua itu keadaannya payah sekali. Tubuhnya penuh luka dan darah telah keluar banyak sehingga napasnya tinggal satu-satu.

“Orang muda…” katanya terengah-engah, “kau gagah sekali… tak ubahnya Pendekar Bodoh sendiri… kau tentu berbudi… seperti Pendekar Bodoh pula… kautolonglah puteriku… Lilani… ia tentu mendapat susah dari putera kepala daerah she Gui itu! Lekas, tolonglah… ia yatim piatu… tolong anakku…!”

Melihat keadaan orang tua itu sudah tak ada harapan lagi, Lie Siong lalu bertanya,

“Di mana dia…? Di mana anakmu itu?”

“Di… di rumahku, di ujung barat kota Tatung, tak jauh dari sini… kau cepat tolonglah dia… hanya kaulah orang satu-satunya yang menjadi harapanku…” tiba-tiba orang tua itu menarik napas panjang dan ternyata napas itu adalah tarikan yang terakhir!

Lie Siong cepat bangun berdiri dan membentak kepada perwira yang terluka dan yang ditinggalkan oleh kawan-kawannya. “Kau harus rawat jenazahnya baik-baik, kalau tidak, awas! Lain kali aku datang mengambil kepalamu!”

Perwira itu mengangguk-angguk dengan muka pucat. “Baik, baik… Hohan!”

Lie Siong lalu melompat pergi dan berlari cepat sekali menuju ke kota Tatung yang berada di sebelah selatan hutan itu.

Setibanya di kota itu, Lie Siong lalu menuju ke ujung barat dan dengan mudah saja ia mencari keterangan tentang rumah tempat tinggal seorang bangsa Haimi bernama Manako. Ketika ia menanyakan kepada seorang tetangga orang Haimi itu karena rumah yang dicarinya ternyata tertutup, tetangga itu memandangnya dengan ragu-ragu dan muka takut.

“Kongcu, kau mencari Manako, apakah kau masih keluarganya?”

“Bukan, aku hanya sahabatnya. Aku mau bertemu dengan Nona Lilani, puterinya.”

Muka orang yang nampak ketakutan itu menjadi makin pucat. Ia memberi isarat dengan jari tangannya ditaruh ke depan mulut lalu berkata perlahan,

“Sst, Kongcu, jangan kau bicara terlalu keras tentang gadis itu. Lebih baik lekas kau pergilah dari sini dan jangan katakan kepada siapapun juga bahwa kau telah kenal dengan Nona itu…! Aku kasihan kepadamu karena kau adalah orang Han bukan bangsa Haimi.”

Lie Siong memandang tajam dan sekali ia menggerakkan tangannya, ia telah memegang tengkuk orang itu dengan keras sehingga orang yang dipegangnya menjadi terkejut dan ketakutan. Tangan yang mencekik tengkuknya seakan-akan sepasang jepitan baja yang kuat sekali.

“Hayo, lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan Lilani, dan di mana ia berada!”

“Am… ampun, Hohan…! Gadis itu baru tadi telah dibawa pergi oleh sepasukan perajurit, ditangkap oleh Gui-siauw-ya!”

“Kaumaksudkan Gui-siauwya putera Kepala Daerah?”

“Benar, Hohan.”

“Di mana rumah Kepala Daerah itu?”

Orang itu cepat-cepat menunjuk ke arah timur dan berkata, “Di tengah kota ini, bangunan yang tertinggi dan terbesar.”

Lie Siong melepaskan pegangannya dan sekali ia berkelebat, lenyaplah tubuhnya dari depan orang yang menjadi bengong dan bergemetaran seluruh tubuhnya itu.

Mudah saja untuk mencari gedung besar Kepala Daerah she Gui di kota itu, karena gedungnya besar dan tinggi, berada di tengah-tengah kota. Tanpa banyak peraturan lagi, Lie Siong lalu memasuki pintu gerbang dan ketika empat orang penjaga pintu menegur dan menghampirinya, dengan beberapa kali menggerakkan kaki tangannya, empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri. Ia terus masuk ke dalam didahului oleh seorang penjaga yang bergegas lari memberi laporan tentang datangnya seorang pengamuk muda yang lihai.

Dengan diiringkan oleh serombongan penjaga, Gui-taijin sendiri keluar dari ruang dalam, bersama Kam Liong, panglima muda yang menjadi tamunya.

Begitu melihat pembesar ini, Lie Siong melompat dan menangkap lengannya.

“Hayo lepaskan Lilani, kalau tidak kepalamu akan kuhancurkan!” katanya dengan bengis.

Pembesar Gui yang sudah setengah tua itu memandang heran dan gelisah, lalu bentaknya marah,

“Siapakah kau dan apa maksudmu?”

Juga Kam Siong lalu maju dan menjura ke arah Lie Siong.

“Taihiap, harap kau bersabar dulu, ada urusan dapat diurus dan ada persoalan dapat dirundingkan. Sesungguhnya kami tidak mengerti akan maksud kedatanganmu ini, dan siapakah adanya Lilani?”

Lie Siong mengerling tajam dan dengan heran ia melihat bahwa wajah panglima muda itu tidak membayangkan kebohongan. Akan tetapi ia lalu berkata dengan penuh sindiran.

“Bagus! Kalian telah membunuh orang Haimi itu dan merampas puterinya, sekarang masih berpura-pura tidak tahu?”

“Siapa yang membunuh orang dan siapa yang merampas puterinya?” Gui Taijin berseru marah. “Jangan menuduh sembarangan saja!”

Kam Liong yang berdiri di samping dengan muka merah lalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya memang ada pembunuhan atas diri orang Haimi itu. Akan tetapi menurut keterangan puteramu orang Halmi itu adalah seorang pemberontak, oleh karena itulah maka ketika aku dimintai bantuan, aku lalu membantu puteramu. Akan tetapi tentang perampasan gadis itu, aku sama sekali tidak tahu!”

Sesungguhnya, Gui Taijin ini tidak tahu sama sekali tentang urusan puteranya, dan segala peristiwa yang terjadi tadi adalah di luar kehendak dan pengetahuannya. Puteranya bertindak seorang diri untuk melampiaskan nafsu jahatnya dan mempergunakan kedudukannya sebagai putera Kepala Daerah.

“Apakah artinya semua ini?” Gui Taijin membentak marah kepada para penjaga yang berdiri dengan ketakutan. “Di mana adanya Gui Kongcu? Benarkah ia telah merampas anak gadis orang?”

Seorang penjaga dengan ketakutan lalu memberi hormat dan melapor, “Kongcu telah membawa gadis itu ke rumah peristirahatan Taijin di dekat sungai.”

“Keparat…!” seru Gui Taijin, akan tetapi pada saat itu, Lie Siong sudah melompat maju dan dengan mudah ia telah menangkap penjaga yang bicara tadi, mengempitnya dan membawanya lompat keluar dari situ.

“Kau harus tunjukkan kepadaku di mana adanya tempat itu!” katanya.

Biarpun ia sedang marah kepada puteranya, kini melihat betapa pemuda yang lihai itu hendak mengejar ke sana, Gui Taijin merasa berkhawatir juga. Ia lalu mengerahkan perajurit-perajuritnya dan dengan cepat melakukan pengejaran pula, didampingi oleh Kam Liong yang diam-diam merasa benci kepada putera Kepala Daerah itu.

Perajurit yang dikempit dan dibawi lari oleh Lie Siong itu merasa seakan- akan dibawa terbang oleh seekor burung besar dan dengan muka pucat ia lalu menunjukkan jalan yang menuju ke sebuah dusun di pinggir Sungai Yung-ting. Di tempat ini, Kepala Daerah Gui memang mempunyai sebuah gedung indah di mana ia dan keluarganya menghibur diri di musim panas.

Setelah tiba di tempat yang dicari Lie Siong lalu melempar tubuh penjaga itu kesamping jalan di mana penjaga itu rebah dengan tubuh menggigil tak berani bangun, kemudian pemuda perkasa itu lalu cepat melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi gedung itu. Beberapa orang penjaga melihatnya dan berteriak-teriak sambil mengejar, akan tetapi Lie Siong tidak mempedulikannya dan terus saja melompat masuk dan menyerbu ke dalam. Ia bertemu dengan beberapa orang penjaga yang berlari keluar mendengar teriakan kawan-kawannya, akan tetapi bagaikan orang membabat rumput saja, Lie Siong merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan kakinya.

Ketika ia telah merobohkan para penjaga, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan wanita, maka cepat ia mengejar ke dalam dari mana jeritan itu terdengar, ternyata bahwa jeritan itu terdengar dari ruangan belakang, di mana bangunan didirikan di atas air. Memang gedung yang indah ini bagian belakangnya berada di atas air Sungai Yung-ting, sehingga kalau orang duduk di belakang, ia akan menikmati pemandangan yang indah sekali.

Lie Siong terus berlari ke belakang, dua orang penjaga yang menghadang di jalan kembali dirobohkannya dengan sekali pukul. Sekali lagi ia mendengar jeritan wanita dan kali ini terdengar keras sekali dari balik sebuah pintu. Dengan marah Lie Siong menendang daun pintu itu dan alangkah marahnya ketika ia melihat seorang pemuda yaitu pemuda yang dengan orang Haimi itu, sedang menarik-narik tangan seorang gadis muda yang meronta-ronta, menjerit-jerit, dan memaki-maki!

Muka laki-laki jahanam yang tadinya menyeringai seakan-akan merasa gembira melihat perlawanan gadis itu, tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat ketika ia mendengar pintu kamar itu mengeluarkan bunyi keras dan melihat daun pintu itu roboh. Lebih kagetlah dia ketika melihat munculnya Lie Siong, pemuda gagah perkasa yang telah menghajar para perwira pembantunya siang tadi dengan hebatnya.

Betapapun juga, melihat Lie Siong bertindak menghampirinya dengan mata bersinar marah, Gui Kongcu masih ingat akan pedangnya yang diletakkan di atas pembaringan. Ia menyambar pedangnya dan menyambut kedatangan Lie Siong dengan sebuah bacokan hebat. Akan tetapi tanpa berkejap sedikit pun, Lie Siong lalu mengangkat tangannya dan dengan gerak tipu Tangan Kapak Membacok Cabang ia lalu menangkis sambaran pedang itu dengan babatan tangannya dari samping ke arah pinggir pedang.

“Krak!” Pedang itu menjadi patah ketika terkena sambaran tangan Lie Siong yang dimiringkan. Pukulan ini hebat sekali dan tak sembarangan ahli silat berani mempergunakan untuk menangkis pedang. Biar bagaimanapun juga tangan tebuat daripada kulit dan daging pembungkus tulang, tentu saja tak mungkin dipergunakan untuk diadu dengan tajamnya pedang. Akan tetapi gerakan Tangan Kapak Membacok Cabang ini mengandalkan kecepatan dan ketangkasan, disertai tenaga lwee-kang yang amat kuat. Digunakannya bukan untuk menyambut datangnya pedang yang tajam, melainkan digerakkan dari pinggir dengan memukul pedang itu dari samping pada mukanya dengan mempergunakan tangan yang dimiringkan. Tentu saja kalau gerakan ini kurang cepat atau kurang tepat, banyak bahayanya tangan akan bertemu dengan mata pedang dan akan terluka!

“Bangsat hina-dina!” Lie Siong membentak marah dan sekali ia majukan tangan kiri, ia telah mencekik batang leher pemuda cabul itu. “Pergilah!” serunya dan tubuh Gui Kongcu yang dilempar itu melayang laju keluar dari jendela kamar dan langsung meluncur ke dalam sungai yang amat dalam itu, kemudiar terdengar suara “byur!” tanda bahwa air telah menyambutnya dan setelah itu sunyi.

Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.

Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.

“Siapakah kau…?” Dengan jujur gadis ini tidak menyembunyikan kekaguman yang keluar dari suara dan pandangan matanya.

Lie Song balas memandang. Ia melihat seorang gadis yang berusia paling banyak enam belas tahun, berwajah cantik jelita, kecantikan yang aneh dan berbeda dengan kecantikan wanita biasa. Mungkin karena matanya yang lebar sekali itu atau rambut dan manik matanya yang hitam, atau mungkin suaranya yang bernada lain daripada suara gadis biasa.

“Apakah kau yang bernama Lilani?” tanya Lie Siong yang lebih heran daripada tertarik melihat kecantikan ini.

Gadis ini mengangguk. “Dan kau siapakah?”

“Aku datang menolongmu untuk memenuhi pesanan ayahmu.”

Tiba-tiba gadis itu memegang lengan Siong dan bertanya dengan muka pucat, “Bagaimana dengan Ayah? Di mana dia…?”

Benar-benar gadis aneh, pikir Lie Siong dengan hati tidak enak karena merasa betapa telapak tangan gadis itu dengan halus memegang lengannya. Di mana ada seorang gadis yang belum dikenalnya memegang lengan seorang pemuda begitu saja?

Ia menarik lengannya dan menggeleng kepala, lalu berkata singkat.

“Kita pergi dulu dari tempat ini!”

Karena maklum bahwa gadis ini tidak memiliki kepandaian tinggi, ia lalu memegang tangan Lilani dan menariknya keluar dari kamar itu. Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kamar ternyata bahwa gedung itu telah penuh dengan perwira yang menghadang jalan keluarnya. Para perwira dan penjaga dengan senjata tajam di tangan menyerbu masuk untuk menolong putera Kepala Daerah. Ketika melihat pemuda baju putih itu bejalan sambil menggandeng tangan Lilani, mereka berseru keras dan menyerang.

Bagi Lie Siong, tidak sukarlah menghadapi mereka itu dan mencari jalan keluar melalui jalan darah, akan tetapi ia teringat akan gadis itu. Kedatangannya bukanlah dengan maksud untuk mengamuk dan mencari permusuhan dengan para perwira itu, akan tetapi khusus untuk menolong Lilani. Melihat para perwira itu menyerbu, Lie Siong lalu membalikkan tubuh dan menarik tangan Lilani memasuki kamar itu kembali.

“Celaka, mereka mengejar kita!” kata Lilani akan tetapi gadis ini tidak nampak takut. “Kau pergilah, jangan sampai kau menjadi korban karena menolongku. Aku sanggup melawan mereka dan sebelum aku mati, pasti aku akan dapat membunuh seorang dua orang!”

“Bodoh!” kata Lie Siong dan ia lalu bertindak ke arah jendela, lalu menjenguk keluar. Kamar ini berada di bagian terbelakang, maka di luar jendela itu kosong dan di bawah jendela adalah air Sungai Yung-ting yang nampak kebiruan. Tak mungkin membawa gadis itu lompat keluar, karena tubuh mereka tentu akan terjatuh ke dalam air dan ia tidak pandai berenang. Sementara itu, suara kaki para pengejar telah makin dekat sehingga Lie Siong merasa bingung juga. Kemudian ia mendapat akal. Pedang Sin-liong-kiam dicabut dan tubuhnya tiba-tiba melayang naik sambil memutar pedang itu pada di atas kamar. Terdengar suara keras dan langit-langit itu berlubang besar sedangkan potongan kayu jatuh berhamburan di dalam kamar itu. Lie Siong melompat turun kembali dan cepat ia menyambar tubuh gadis itu tanpa banyak cakap lagi.

Ketika itu, para pengejar sudah tiba di depan kamar. Lie Siong menggunakan tangan kiri mengempit pinggang Lilani yang ramping, lalu menyambar daun pintu yang sudah roboh ketika ditendangnya tadi. Daun pintu yang berat itu ia lemparkan ke arah para penyerbu sehingga tiga orang terdepan menjadi terjengkang tertimpa oleh daun pintu itu. Kawan-kawannya di belakang tertimpa pula sehingga mereka menjadi tumpang tindih dan untuk sesaat lamanya tak dapat melanjutkan pengejaran. Lie Siong cepat melompat naik sambil mengempit Lilani.

Ketika para pengejar tiba di dalam kamar, ternyata bahwa dua orang muda itu lenyap! Tak lama kemudian Kam Liong dan Gui Taijin datang pula, akan tetapi mereka tak dapat mencari Lie Siong maupun Lilani. Sedangkan Gui Kongcu pun tak nampak bayangannya!

Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Kam Liong tentu saja dapat mengejar Lie Siong yang melarikan diri dari atas genteng. Akan tetapi panglima muda ini tidak mau melakukannya. Pertama ia memang segan bermusuhan dengan Lie Siong yang gagah perkasa dan lihai itu, kedua kalinya ia tidak suka akan kebiasaan Gui Kongcu dan tidak mau membantu perbuatan jahat. Ia tahu bahwa pendekar muda baju putih itu tentu mengambil jalan genteng, maka ia hanya memberitahukan ini kepada para perwira yang segera melompat dan mengejar ke atas genteng. Namun gerakan mereka tidak secepat Lie Siong. Ketika melihat para pengejarnya kacau-balau karena serangannya dengan daun pintu tadi, Lie Siong lalu melompat ke atas langit-langit yang telah berlubang. Dengan mudah ia menghancurkan genteng dari bawah, lalu keluar dari lubang di genteng itu. Setelah berada di atas genteng, cepat ia melarikan diri, berlompatan bagaikan seekor garuda putih terbang sehingga Lilani terpaksa meramkan mata saking ngerinya melihat tubuhnya melayang-layang di atas genteng yang begitu tinggi.

Lie Siong membawa Lilani ke pinggir sungai dan melihat perahu-perahu kecil para nelayan ditambatkan di pinggir sungai, ia lalu melompat ke sebuah perahu kecil yang terbaik, memutuskan talinya dan segera mendayung perahu itu ke tengah sungai.

“Hai…!” Pemilik perahu itu berteriak. “Hendak kaubawa kemana perahuku itu?”

Sementara itu, Lilani yang sudah di dalam perahu berkata, “Tidak baik mencuri perahu orang, siapa tahu kalau-kalau nelayan miskin itu akan kehilangan sumber nafkahnya kalau perahu ini kita bawa pergi.”

Lie Siong memandang kepada gadis itu dengan heran dan juga kagum. Ia tak menjawab, akan tetapi merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepotong emas murni. Ketika berangkat ia mendapat bekal tiga puluh potong lebih emas murni seperti ini dari ibunya.

“Ini cukup?” tanyanya sambil memperlihatkan emas itu kepada Lilani.

Gadis ini memandang dengan mata terbelalak. Ia tahu akan nilai emas dan sepotong emas di tangan Lie Siong ini kalau dijual dapat digunakan untuk membeli sedikitnya tiga atau empat buah perahu kecil seperti ini.

“Terlalu banyak,” jawabnya, “sepertiga juga sudah cukup.” Akan tetapi setelah mendengar jawaban ini, tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengayun tangannya dan melemparkan potongan emas itu ke arah orang yang berteriak-teriak tadi.

“Perahumu kubeli, inilah uangnya!” seru Lie Siong. Ketika orang itu memungut potongan emas yang jatuh tepat di depannya, tentu saja ia menjadi girang sekali dan berlari-larilah ia pulang sambil berjingkrak-jingkrak dan menari-nari karena merasa mendapat keuntungan yang besar sekali.

Lie Siong membiarkan perahunya hanyut oleh aliran air yang deras dan ia hanya menggunakan dayung untuk mengemudi jalannya perahu. Semenjak mereka duduk di dalam perahu, yaitu pada siang hari tadi, sampai sekarang sudah hampir senja, mereka tak pernah bicara sepatah kata pun! Lilani hanya duduk sambil menundukkan kepala, kadang-kadang memandang ke pinggir sungai dan hanya sewaktu-waktu saja mengerling kepadanya. Gadis itu nampak susah, bingung dan juga malu-malu.

Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi. Berada dekat seseorang yang sama sekali tidak pernah bicara, tidak menengok kepadanya, dan tidak mempedulikannya, jauh lebih sunyi rasanya daripada kalau ia berada seorang diri tanpa kawan!

“Kita mau ke manakah?” tanyanya sambil mengerling tajam ke arah pemuda yang angkuh dan tinggi hati itu.

“Ke mana saja air ini membawa perahu yang kita tumpangi,” jawab Lie Siong tanpa memandang.

“Ke mana akan dibawanya?”

“Entahlah!”

Lilani menarik napas panjang. Aneh dan sukar benar pemuda ini. Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi seorang pemuda seperti ini. Hampir setiap laki-laki yang pernah ditemuinya, baik pemuda maupun sudah tua, selalu akan memandangnya dengan mata gairah, tersenyum-senyum dan segera mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda atau memuji. Akan tetapi pemuda ini… menengok pun tidak, bahkan diam saja seperti patung! Sungguh hampir tak dapat dipercaya wajah pemuda yang seelok dan setampan itu ternyata didampingi oleh watak yang demikian angkuh dan aneh.

“Kau telah menolongku dari bahaya maut…”

“Tak perlu dibicarakan hal sekecil itu.” Lie Siong memotong.

Lilani berpaling dan menggigit bibir. Alangkah sukarnya menghadapi orang ini, pikirnya.

“Bolehkah aku mengetahui namamu?”

“Aku she Lie dan namaku Siong.”

Lilani menarik napas lega. Sedikitnya pemuda ini tidak merahasiakan namanya. Akan tetapi ia masih merasa penasaran karena dalam menjawab pertanyaannya, pemuda itu sama sekali belum mau menengoknya, bahkan duduknya pun membelakanginya!

“Di manakah ayahku? Di mana dia?” tanya Lilani.

Tiba-tiba pemuda itu menarik napas panjang, lalu mendayung perahunya ke tepi. Ia menghentikan perahunya di tempat yang dangkal, lalu memutar tubuhnya, menghadapi gadis itu. Ternyata bahwa Lie Siong bukan karena keangkuhannya semata maka ia tidak mau menengok gadis itu, akan tetapi sebagian besar karena rasa terharu mengingat akan nasib gadis ini. Sebelum tewas orang tua berbangsa Haimi itu mengatakan bahwa Lilani telah menjadi yatim piatu, maka itu berarti bahwa ibu gadis ini telah meninggal dunia pula.

Melihat sikap pemuda itu, Lilani menjadi pucat dan mengulang pertanyaan lagi. “Katakanlah, di mana dia?”

“Ayahmu telah tewas.”

Gadis itu tidak kelihatan terkejut, juga tidak menangis menjerit-jerit. Ia hanya meramkan kedua matanya dengan kening berkerut. Akan tetapi, keadaannya ini lebih mengharukan hati Lie Siong yang mungkin takkan demikian terharu kalau melihat gadis itu menangis tersedu-sedu. Lama mereka duduk berhadapan dalam keadaan demikian. Lilani duduk bagaikan patung, sedangkan Lie Siong duduk memandangnya dengan penuh keharuan hati yang tak diperlihatkan.

“Sudah kuduga…” Akhirnya Lilani dapat juga mengeluarkan kata-kata seperti berbisik. Ketika ia membuka kembali matanya, selaput matanya menjadi merah, tanda bahwa ia telah mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan membanjirnya air mata. Betapapun juga masih nampak beberapa titik air mata mengalir perlahan menuruni pipinya yang pucat.

“Tentu oleh anak buah keparat she Gui itu, bukan?”

Kata-kata ini merupakan pertanyaan dan tuntutan kepada Lie Siong untuk menceritakan semua peristiwa yang terjadi, maka ia pun lalu menceritakannya tentang pertempurannya membantu Manako dan betapa orang tua itu terbunuh oleh keroyokan para perwira.

Mendengar penuturan ini, gadis itu memandang ke arah awan yang bergerak perlahan di angkasa, mengepal kedua tangannya yang kecil, menggigit bibirnya dan membiarkan air matanya mengalir turun bagaikan sumber air kecil, lalu, berkata,

“Bangsaku dimusnahkan! Ibuku terbunuh, kini ayahku terbunuh pula! Terkutuklah manusia-manusia berjiwa iblis itu…!”

Mendengar ucapan ini, Lie Siong merasa tertarik dan lalu ia minta gadis itu menuturkan riwayatnya. Ia mulai merasa kagum melihat ketabahan hati gadis cantik ini, yang dapat menahan perasaannya sehingga tidak menangis menjerit-jerit seperti gadis lain yang tertimpa bencana sehebat itu.

“Benar-benarkah kau ingin mengetahui riwayat seorang yang rendah dan bodoh seperti aku, Tai-hiap?” tanya Lilani sambil memandang melalui air matanya ketika ia mendengar permintaan Lie Siong.

“Tentu saja. Setelah ayahmu minta kepadaku untuk menolongmu, sudah sepatutnya aku mengetahui keadaanmu untuk menetapkan kemudian apa yang selanjutnya harus kulakukan dengan kau.”

Lilani menghela napas, menghapus air matanya dengan ujung baju kemudian menuturkan riwayatnya dengan singkat.

Lilani adalah puteri tunggal dari Manako, kepala suku bangsa Haimi yang terdiri tiga ratus orang suku bangsa Haimi yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah. Manako adalah suami dari Meilani dan suami-isteri ini hidup dengan rukun dan saling mencintai, memimpin bangsanya dengan penuh keadilan dan ketenteraman. Manako dan Meilani pernah tertolong oleh Pendekar Bodoh, bahkan sebelum menikah dengan Manako diantara Meilani dan Kwee An pernah terjadi hal yang amat lucu sehingga Kwee An hampir dipaksa menikah dengan Meilani yang cantik jelita akan tetapi bergigi hitam itu! (Baca cerita Pendekar Bodoh). Setelah berkenalan dengan pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa ini, maka banyak kemajuan yang diperoleh Meilani dan Manako, sehingga ketika mereka memperoleh seorang puteri, yaitu Lilani, anak ini tidak dihitamkan giginya seperti yang telah menjadi kebiasaan suku bangsa Haimi. Manako dan Meilani melatih ilmu silat kepada puteri mereka itu dan mereka semua hidup penuh kebahagiaan.

Akan tetapi, pada waktu Lilani berusia empat belas tahun, malapetaka besar menimpa keluarga suku bangsa Haimi itu. Kelompok mereka terdesak oleh bangsa Mongol yang hendak menawan mereka untuk dijadikan pekerja paksa sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke selatan, keluar dari tapal batas Mongolia, setelah mengadakan perlawanan sengit dan kehilangan beberapa puluh jiwa.

Pada waktu itu, golongan yang lemah dan kecil selalu tentu tertindas dan terinjak oleh yang besar. Setelah mereka melalui tapal batas, mereka tidak menemui kebahagiaan bahkan sepasukan tentara kerajaan yang menjaga tapal batas itu, lalu menyerbu mereka, membunuh yang laki-laki sambil menculik yang wanita! Pertempuran hebat terjadi. Manako dan Meilani melakukan perlawanan sekuat tenaga, bahkan Meilani yang pernah menerima petunjuk-petunjuk ilmu silat dari Ma Hoa isteri Kwee An dan dari Lin Lin isteri Pendekar Bodoh, lalu mengamuk bagaikan seekor naga betina. Juga Lilani yang baru berusia empat belas tahun itu ikut pula mainkan pedang, membantu ibu dan ayahnya. Akan tetapi kekuatan musuh terlampau besar dan akhirnya terpaksa Manako membawa Lilani melarikan diri dengan hati hancur setelah melihat Meilani roboh tak bernyawa lagi di bawah tusukan banyak pedang musuh! Kelompok suku bangsa Haimi hancur dan cerai-berai. Banyak yang tewas atau tertawan dan ada pula yang dapat melarikan diri berpencaran.

Manako berhasil melarikan diri bersama puterinya dan selama dua tahun lebih ia merantau bersama Lilani, pindah dari satu kota ke lain kota. Akhirnya sampailah ia di kota Tatung dan tinggal di situ bersama puterinya. Ia tidak khawatir akan biaya hidupnya sehari-hari, karena ketika melarikan diri, ia masih menyimpan berbagai barang dari emas, bahkan ia mempunyai sebatang golok yang seluruhnya terbuat daripada emas. Juga keamanannya terjamin, karena pada masa itu, hanya suku-suku bangsa kecil yang berkelompok saja yang mendapat gangguan dan dicurigai. Akan tetapi kalau hanya satu dua orang saja takkan mendapat gangguan dari siapapun juga, asalkan taat akan peraturan-peraturan kota setempat.

Manako dan Lilani hidup berdua dengan hati menderita kesedihan, dan selalu mereka teringat akan keadaan suku bangsanya yang sudah musna, dan terutama sekali teringat akan Meilani yang gugur dalam pertempuran itu. Akan tetapi apakah yang dapat mereka lakukan?

Lilani menjadi dewasa dan makin cantik jelita seperti mendiang ibunya. Telah biasa dikatakan orang bahwa kecantikan dan kepandaian merupakan karunia dan berkah Thian Yang Maha Kuasa. Akan tetapi bagi Manako dan Lilani, ternyata bahwa kecantikan Lilani tidak merupakan berkah bahkan merupakan sebab bencana besar! Putera kepala daerah she Gui ketika menyaksikan keindahan bentuk tubuh dan kemanisan wajah Lilani gadis Haimi itu, tergerak hatinya dan ia mengajukan pinangan kepada Manako untuk minta gadis itu sebagai selirnya.

Manako adalah bekas kepala suku bangsa, dan betapapun juga, ia boleh disebut raja kecil. Tentu saja ia mempunyai keangkuhan dan mendengar pinangan ini, ia merasa terhina sekali. Mana ia sudi memberikan puterinya yang tunggal untuk dijadikan selir oleh putera seorang Kepala Daerah? Demikianlah, ia menolak pinangan itu yang berakhir malapetaka besar baginya. Gui Kongcu merasa sakit hati dan sebagaimana telah dituturkan di atas, akhirnya pemuda bangsawan jahanam ini lalu melakukan kekerasan, membunuh Manako dan menculik Lilani!

Setelah menuturkan riwayatnya sambil menghela napas Lilani berkata, “Dulu ibuku pernah menceritakan kepadaku bahwa di antara orang-orang bangsa Han terdapat pendekar-pendekar seperti Kwee An Eng-hiong dan Pendekar Bodoh, akan tetapi setelah menderita akibat kejahatan bangsamu yang menjadi perwira-perwira kaisar kukira bahwa sekarang tidak ada lagi pendekar-pendekar seperti itu! Ternyata sekarang, aku bertemu dengan engkau yang berbudi dan gagah perkasa. Ah, Lie Tai-hiap, dengan jalan bagaimanakah aku dapat membalas budimu yang besar ini?”

Lie Siong merasa kasihan sekali mendengar riwayat gadis ini.

“Apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”

Gadis itu menggeleng kepalanya dengan sedih.

“Tidak mempunyai sahabat-sahabat yang boleh kautumpangi?”

Kembali Lilani menggelengkan kepalanya yang cantik sambil termenung. Lie Siong tak dapat berkata-kata lagi, hanya duduk diam dengan bingung. Apakah yang harus ia lakukan? Bagaimana ia dapat menolong gadis ini selanjutnya? Ia sendiri adalah seorang perantau, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. “Dan… bagaimanakah tujuanmu? Kau hendak pergi ke manakah?” Lie Siong lalu bertanya perlahan.

Lilani yang semenjak tadi dapat menahan kesedihan hatinya, ketika mendengar pertanyaan ini, hanya dapat memandang dengan sinar mata amat mengharukan, lalu ia menangis tersedu-sedu! Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya dan air mata mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya sedangkan tubuhnya terisak-isak.

Lie Siong menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Selama hidupnya, baru kali ini ia merasa bingung dan menghadapi perkara yang luar biasa sukarnya. “Lilani, ayahmu berpesan kepadaku untuk menolongmu dari tangan jahanam she Gui itu. Aku telah melakukannya dan setelah kau kini bebas dan selamat, aku tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Ketahuilah, bahwa aku sendiri tidak mempunyai tempat tinggal, merantau seorang diri, juga tidak mempunyai tujuan tertentu…” Tiba-tiba Lilani menghentikan tangisnya dan ia mengangkat mukanya memandang pemuda itu. Sebelum bicara, beberapa kali ia menelan ludah karena merasa tenggorokannya seakan-akan terganjal sesuatu. “Lie Tai-hiap, aku maklum akan maksudmu. Tak perlu kau menyusahkan keadaanku dan janganlah aku menjadi penghalang dari kebebasanmu. Aku tahu bahwa dengan adanya aku, kau tidak merasa senang, tidak dapat bergerak bebas, pertama karena aku seorang gadis, kedua karena aku lemah. Kau janganlah menjadi bingung, Tai-hiap, jangan kau memikirkan aku lagi. Pergilah kau melanjutkan perjalananmu, biar aku seorang diri di perahu ini sampai… sampai… entah ke mana saja perahu dan air sungai ini membawaku!” Lie Siong lalu berdiri, merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepuluh potong emas murni. Ia memberikan benda berharga ini kepada Lilani dan berkata, “Kau cukup maklum akan keadaanku dan ini sedikit bekal untuk biaya perjalananmu.” Dengan air mata masih menitik turun, Lilani memandang tangan yang mengangsurkan potongan-potongan emas itu. Ia menggeleng kepala dan berkata tegas. “Tai-hiap, kau telah menolongku dan untuk itu saja aku telah merasa amat berat serta tidak tahu harus membalas budimu dengan cara bagaimana. Karena itulah maka aku tidak berani memberatkan kau lagi, apalagi menerima pemberianmu. Ah, tidak, aku tak dapat menerima emas ini. Hidupku takkan lama lagi… untuk apakah benda itu…?” Tertegun hati Lie Siong mendengar ucapan ini, akan tetapi ia pun tidak mau banyak cakap, memasukkan emas itu ke dalam buntalan kembali lalu ia melompat ke darat. “Kalau begitu, selamat berpisah!” katanya lalu melompat pergi. Lilani duduk di perahu dan memandang bayangan pemuda itu dengan lemas. Ia merasa seakan-akan semangatnya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya. Merasa betapa seluruh perasaannya telah terbawa pergi oleh pemuda yang gagah perkasa, tampan dan juga aneh serta amat pendiam itu. Ia maklum bahwa hatinya telah terampas oleh kegagahan Lie Siong dan jantungnya telah tertembus oleh sinar mata pemuda itu. Ia maklum bahwa tanpa adanya pemuda itu didekatnya, hidupnya tidak ada artinya lagi. Bangsanya telah musna, ayah bundanya telah tewas. Tadinya ia bercita-cita untuk membangun suku bangsanya, untuk menggantikan kedudukan ayahnya kemudian bersama bangsanya, berjuang memperbaiki nasib. Akan tetapi kini semua itu lenyap, lenyap bersama bayangan Lie Siong. Dengan Lie Siong di sampingnya, ia merasa pasti dan yakin bahwa cita-citanya itu akan terlaksana. Tak tertahan lagi ia lalu menjatuhkan mukanya di atas kedua telapak tangannya dan menangis dengan hati terasa disayat-sayat. Dalam kesedihannya yang hebat ini, terbayanglah wajah ibunya yang cantik jelita dan teringatlah ia betapa ibunya pernah menuturkan kepadanya tentang perhubungan ibunya dengan seorang pendekar besar bernama Kwee An yang bertempat tinggal di Tiang-an. Ibunya, Meilani, pernah menuturkan kepadanya betapa ibunya itu pun pernah jatuh hati kepada pendekar itu. Ah, mengapa ia harus putus asa? Sahabat-sahabat baik ibunya masih banyak. Kalau saja ia dapat mencari Kwee An dan Ma Hoa, atau Pendekar Bodoh dan Lin Lin, tentu mereka akan mau menolong, menolong puteri tunggal Meilani! Akan tetapi teringat akan kejahatan putera kepala daerah she Gui itu, hatinya menjadi gentar lagi. Banyak sekali manusia-manusia jahat semacam pemuda she Gui itu di dunia ini! Ah, alangkah bedanya dengan Lie Siong pemuda yang sopan santun dan gagah perkasa itu. Pemuda yang sedikit pun tidak mau mengganggunya, jangankan mengganggunya, bahkan menengok pun tidak, agaknya ia bukan seorang gadis cantik! Mungkin dalam pandangan Lie Siong, ia hanya seorang perempuan yang buruk rupa dan menjemukan! Mengingat akan hal ini, kembali hatinya terasa bagaikan disayat dan air matanya mengucur makin deras. Tiba-tiba ia mendengar suara yang halus di sebelah belakangnya. “Lilani, sudahlah, jangan kau terlalu berduka.” Seketika itu juga air matanya yang mengucur berhenti mengalir seakan-akan sumbernya tertutup rapat, kedua matanya dibuka lebar-lebar dan ia cepat memutar lehernya menengok. Ternyata bahwa Lie Siong telah berdiri di darat sambil bertolak pinggang! “Lie Tai-hiap…!” Dalam seruan ini terkandung kegirangan yang luar biasa sekali.

“Aku tak merasa enak hati meninggalkan kau dalam keadaan begini.” kata pemuda itu sambil mengerutkan kening seakan-akan tidak puas akan kelemahannya sendiri. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kau, maka akan sia-sialah usahaku membebaskan kau dari cengkeraman orang jahat, dan berarti aku telah melanggar janji kepada ayahmu.”

“Tai-hiap… Thian Yang Agung telah mengirimmu kembali padaku…” kata Lilani dengan bisikan terharu.

“Akan tetapi aku masih tidak tahu harus membawa kau ke mana, Lilani. Sekarang kaucarilah tujuan tertentu agar aku dapat mengantarkan kau ke tempat yang aman, baru kemudian akan melanjutkan perantauanku.”

“Tai-hiap, aku sudah mendapat pikiran ketika kau pergi tadi. Aku teringat akan Kwee-lo-eng-hiong dan Pendekar Bodoh. Kalau saja kau sudi mengantarkan aku sampai ke tempat tinggal mereka, aku akan mendapat perlindungan yang sentausa. Budimu takkan kulupakan selama hidupku, Tai-hiap.”

“Sudahlah, jangan bicara tentang budi,” kata Lie Siong yang segera masuk ke dalam perahu. “Aku pernah mendengar bahwa Kwee Lo-eng-hiong tinggal di kota Tiang-an. Baiknya kita mengambil jalan sungai ini sampai ke kota raja, kemudian kita menuju ke Tiang-an dengan jalan darat.”

Saking girangnya, Lilani tak menjawab, hanya mengangguk-angguk sambil menatap pemuda itu dengan mata berseri. Lenyaplah segala kesedihannya, segala keraguannya. Dengan pemuda ini di sampingnya, dunia seakan-akan menjadi lebih lebar dan terang, air Sungai Yang-ting seakan-akan merupakan sutera kehijauan yang dibentangkan di depannya, bunyi riak air berdendang merdu dan ia mendengar hatinya bernyanyi gembira!

Lie Siong tidak banyak bicara, hanya mendayung perahu itu dengan cepat ke tengah dan lajulah perahu itu terbawa aliran air sungai ditambah dengan tenaga dayung di tangan Lie Siong yang kuat.

***

Kita tinggalkan dulu Lie Siong dan Lilani yang melakukan pelayaran dalam usaha mereka mencari tempat tinggal Kwee An atau Pendekar Bodoh untuk mendapatkan tempat tinggal dan tempat menumpang bagi gadis itu. Marilah kita menengok keadaan Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya, Lin Lin, yang melakukan perjalanan ke perbatasan utara, bahkan memasuki daerah Mongol untuk mencari Ang I Niocu!

Dengan hati penuh keharuan dan kegelisahan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan perbatasan Mongol di mana dulu Ang I Niocu dan Lin Lin pernah mengadakan perantauan. Mereka mencari keterangan di sana-sini, mengadakan kunjungan ke berbagai tempat dan pegunungan, akan tetapi hasilnya sia-sia belaka.

Pada suatu hari, ketika dengan putus harapan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan dan tiba di dalam sebuah hutan, mereka mendengar orang bernyanyi dengan suara nyaring.

“Ah kipas sial, kipas butut!

Apakah jasamu terhadapku?

Hanya mendatangkan nama besar yang kosong.

Menambah musuh menjauhkan sahabat.

Kau tidak mampu merenggut nyawaku.

Yang jemu dan telah lama terkurung.

Kau tetap hanya menghibur badan.

Mengusir hawa panas mendatangkan angin.

Ah, kipas butut, kipas sial!”

Hutan itu liar dan sunyi, maka tentu saja Cin Hai dan Lin Lin terheran-heran mendengar nyanyian ini, karena selain kata-katanya amat aneh, juga suara itu nyaring sekali sehingga menggema di seluruh hutan!

Suami isteri ini saling pandang dan cepat menghampiri arah datangnya suara. Mereka tertegun melihat seorang kakek tua sekali tengah duduk di bawah sebatang pohon besar sambil menggunakan sebuah kipas yang benar-benar sudah butut untuk mengipasi tubuhnya yang gemuk. Pakaian kakek ini hampir telanjang tidak terurus dan tubuhnya sudah kotor penuh debu dan lumpur. Kalau saja tidak melihat kipas yang terbuat daripada kulit harimau itu tentu suami isteri pendekar ini tidak mengenal orangnya. Cin Hai yang lebih dulu mengenalnya dan segera berseru keras,

“Swie Kiat Siansu! Locianpwe, mengapa kau berada di sini?” Ia lalu menghampiri bersama isterinya, dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Kakek tua renta yang gemuk itu memandang dengan bermalas-malasan, kemudian ia tertawa bergelak dan memukul-mukul kepalanya dengan kipasnya.

“Ha-ha-ha-ha! Pendekar Bodoh…! Agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadaku sehingga di saat terakhir masih dapat bertemu dengan engkau! Alangkah sempitnya dunia ini? Dan alangkah cepatnya sang waktu berlari.” Ia memandang kepada Lin Lin dan berkata pula, “Agaknya kalian sedang menderita, akan tetapi jangan ceritakan hal itu kepadaku, aku sudah cukup kenyang mendengar penderitaan manusia sehingga menjadi bosan. Eh, Nyonya muda, coba kaubuatkan masakan yang cocok untukku, nanti kuberikan kipasku yang butut ini kepadamu.”

Lin Lin diam-diam merasa mendongkol. Untuk apakah kipas butut itu baginya? Akan tetapi dengan muka girang Cin Hai berkata kepadanya,

“Kautangkaplah seekor kelinci dan panggang itu untuk Locianpwe.” Lin Lin memandang kepada suaminya, akan tetapi karena ia telah percaya kepada suaminya yang sesungguhnya tidak bodoh itu, ia lalu bangkit berdiri dan berlari memasuki hutan.

“Ha-ha, Pendekar Bodoh, kau baik sekali. Berapa orangkah anakmu sekarang?”

“Dua orang, Locianpwe, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Putera teecu itu kini sedang belajar di bawah asuhan Pok Pok Sianjin.”

Kembali kakek gemuk itu tertawa bergelak. “Bagus, bagus! Setan tua dari barat itu agaknya tidak mau mampus sambil membawa kepandaiannya yang akan membikin pusing saja di neraka! Baikiah, kalau begitu, aku pun akan meninggalkan kipas ini kepada anakmu yang perempuan itu. Akan tetapi aku harus makan dulu, telah dua pekan lebih aku tidak makan sama sekali!” Sambil berkata demikian, kakek ini lalu menggunakan tangan kanannya untuk menekan tanah dan berpindah tempat duduk.

Terkejutlah Cin Hai ketika melihat bahwa kakek ini menderita penyakit hebat sekali, agaknya tangan dan kaki kirinya telah lumpuh tak dapat digerakkan lagi! Sungguh mengherankan, dalam keadaan demikian dan dua pekan tidak makan, kakek ini masih saja nampak gemuk dan sehat!

“Maafkan, Locianpe. Apakah Locianpwe menderita sakit?”

Swie Kiat Siansu mengangguk-angguk dan menghela napas. “Agaknya dosaku terlalu besar sehingga sebelum mampus harus menderita dulu. Setelah tua, darahku jalan terlampau cepat dan memecahkan urat-urat syaraf, membuat semua urat-urat di setengah tubuhku pecah-pecah. Akan tetapi tidak apa, dalam keadaan sakit atau tidak, kematian akan datang juga akhirnya!”

Cin Hai teringat akan keadaan orang tua ini pada belasan tahun yang lalu. Swie Kiat Siansu adalah seorang di antara “empat besar” yang menjagoi di seluruh daratan Tiongkok. Pada masa itu, Bu Pun Su (guru Cin Hai dan Lin Lin) dan Hok Peng Taisu (guru Ma Hoa) merupakan tokoh besar dari selatan dan timur, adapun Pok Pok Sianjin adalah tokoh dari barat. Tokoh dari utara yang paling terkenal adalah Swie Kiat Siansu inilah! Empat orang ini, yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swie Kiat Siansu terkenal sebagai empat besar dan kepandaian mereka telah mencapai tingkat tertinggi hingga jarang bertemu tandingan! Hanya sayang sekali bahwa Swie Kiat Siansu telah salah dalam memilih murid. Dua orang muridnya yang bernama Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu menjadi perwira-perwira Mongol dan berwatak jahat sekali. Swie Kiat Siansu ini bersama Pok Pok Sianjin pernah mengadakan pibu (adu kepandaian silat) menghadapi Hok Peng Taisu dan Bu Pun yang diwakili Pendekar Bodoh (bacalah cerita Pendekar Bodoh).

Kini melihat keadaan orang tua ini, diam-diam Cin Hai menghela napas dan teringatlah ia bahwa ia sendiri kelak takkan terlepas daripada pengaruh usia tua dan kematian. Akan tetapi, mendengar bahwa kakek ini hendak menyerahkan kipasnya kepada puterinya, ia menjadi girang sekali. Menyerahkan senjata berarti menyerahkan atau menurunkan ilmu silat, dan kipas kakek ini memang merupakan senjatanya yang paling lihai dan yang telah membuat namanya menjadi terkenal sekali.

Tak lama kemudian, Lin Lin datang sambil membawa dua ekor kelinci putih yang gemuk. Ia tertawa manis sekali dan berkata,

“Aku sengaja menangkap keduanya agar pasangan ini tidak terpisah, biarpun sudah berpindah tempat ke dalam perut!”

Swie Kiat Siansu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Pantas saja kau dan suamimu Pendekar Bodoh ini dapat hidup rukun dan damai, tidak tahunya kau dapat menghargai kesetiaan dan kecintaan! Lekas masak… lekas masak… aku tidak tahan lagi menghadapi cacing-cacing perutku!”

Cin Hai lalu membuat api dan setelah kedua kelinci itu disembelih dan dibersihkan, dagingnya lalu dipanggang. Tak lama kemudian terciumlah bau yang sedap dan menimbulkan selera, Swie Kiat Siansu menahan air liurnya ketika tercium bau sedap ini olehnya.

“Aduh, cacing perutku makin menggeliat-geliat. Lekas bawa ke sini!”

Lin Lin tersenyum senang, karena ucapan ini secara tidak langsung menyatakan pujian atas pekerjaannya. Wanita manapun juga di dunia ini mempunyai dua macam kesenangan yang sama, yaitu mendapat pujian tentang kepandaiannya atau kelezatan masakannya. Ia lalu membawa daging yang sudah merah dan mengebulkan uap dan kesedapan itu kepada Swie Kiat Siansu. Kakek tua yang hanya dapat menggerakkan tangan kanannya itu lalu menerima daging itu dan makan dengan amat lahapnya. Cin Hai dan Lin Lin memandang kagum karena biarpun daging itu baru saja keluar dari api dan amat panas, akan tetapi kakek itu dapat memakannya demikian enak dan sekali-kali tidak kelihatan kepanasan! Tanpa menawarkannya kepada Cin Hai dan Lin Lin yang terpaksa memandang sambil menelan ludah, kakek itu makan terus dengan enak dan lahapnya sampai lenyaplah daging dua ekor kelinci itu berpindah ke dalam perutnya!

Swie Kiat Siansu menggunakan tangan kanannya yang masih berminyak untuk mengelus-elus perutnya yang gendut, lalu ia tertawa dan berkata,

“Aah, yang senang saja kalian sepasang ketinci tinggal di perutku!” ia tertawa lagi, kemudian berkata. “Sayang tidak ada arak…”

“Jangan khawatir, Locianpwe, teecu membawa bekal arak,” kata Cin Hai yang cepat mengeluarkan seguci arak dari buntalannya.

Berserilah wajah kakek itu. “Bagus, bagus! Kau baik sekali! Ah, benar-benar Thian telah memimpin kalian suami isteri ke tempat ini untuk menyenangkan hatiku di saat terakhir ini dan untuk menerima warisan dariku!” Ia lalu minum arak itu dan nampak senang sekali. Tiap kali habis menenggak arak, ia menjulurkan lidah dari mulut dan diputarnya lidah itu menghapus kedua bibirnya dengan puas sekali.

Lin Lin juga merasa girang ketika mendengar bahwa kakek itu hendak menurunkan ilmu silat dan kepandaian mainkan senjata kipas itu kepada puterinya, maka ia pun bersiap sedia untuk memasak apa saja yang dibutuhkan kakek ini.

Dua pekan lebih Cin Hai dengan tekun mempelajari ilmu silat tinggi dari Swie Kiat Siansu untuk kemudian dipelajarkan kepada puterinya. Karena Cin Hai telah memiliki dasar ilmu silat tinggi dan memiliki pengertian dasar dan pokok segala macam ilmu silat, maka setelah memperhatikan dan mempelajari selama dua pekan, ia telah dapat menerima semua kepandaian itu.

Pada malam ke lima belas, setelah memberikan keterangan-keterangan terakhir dan memberikan kipas itu kepada Cin Hai, Swie Kiat Siansu berkata puas, “Nah, bebaslah aku dari kipas sial dan butut itu! Eh, Nyonya muda, tolong kaupanggangkan sepasang kelinci lagi untukku!”

“Baik, Locianpwe,” jawab Lin Lin yang selama itu selalu mengurus keperluan Swie Kiat Siansu yang membawa mereka tinggal di sebuah gua di hutan itu.

Setelah sepasang kelinci didapatkan dan dagingnya dimasak, kembali kakek itu makan dengan enaknya dan menghabiskan persediaan arak yang tinggal seguci lagi dari Cin Hai. Setelah makan kenyang, ia lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas tanah, berkata, “Besok kalian boleh pergi!” dan sebentar kernuthan ia tidur mendengkur!

Cin Hai dan Lin Lin teringat akan Bu Pun Su, guru mereka yang juga memiliki adat yang amat aneh seperti kakek ini pula. Dengan perlahan mereka lalu keluar dari gua itu dan makan buah-buahan yang dikumpulkan oleh Lin Lin.

“Besok kita disuruh pergi,” kata Cin Hai. “Karena Ang I Niocu tidak ada kabarnya, lebih baik kita kembali mencari anak kita dan mampir di Beng-san menengok putera kita.”

Teringat akan puteri mereka, Sie Hong Li atau Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti, Lin Lin tiba-tiba merasa berduka sekali dan menunda makannya, memandang dengan mata melamun ke tempat jauh. Perlahan-lahan dua titik air mata mengalir turun membasahi pipinya.

“Isteriku, jangan kau berduka. Percayalah bahwa Thian pasti akan melindungi Lili,” Cin Hai menghibur sambil menepuk-nepuk pundak isterinya. Mendengar hiburan ini, Lin Lin makin terharu dan sedih sehingga ia lalu menangis terisak sambil menjatuhkan kepalanya di atas pundak suaminya.

Cin Hai membiarkan saja karena untuk melepaskan kedukaan, memang tidak ada yang lebih baik daripada tangis dan air mata. Karena besok pagi mereka harus pergi, maka sekali lagi Cin Hai menghafal dan melatih ilmu silat yang diturunkan oleh Swie Kiat Siansu sehingga malam itu mereka berada di luar gua dan melatih ilmu silat dengan amat rajinnya. Dasar suami isteri ini memang gemar sekali akan ilmu silat maka berlatih semalam penuh di bawah sinar bulan itu merupakan hiburan yang amat baik bagi kedukaan hati mereka karena lenyapnya puteri mereka.

Akan tetapi, alangkah kagetnya sepasang suami isteri ini ketika pada keesokan harinya mereka memasuki gua tempat tinggal Swie Kiat Siansu, mereka mendapatkan kakek itu telah menggeletak tak bergerak dan tak bernapas lagi! Ternyata setelah makan kenyang dan tidur, kakek yang usianya sudah seratus lebih ini dan yang terserang penyakit berat telah menghembuskan napas terakhir, hal yang sudah lama dinanti-nantinya!

Dengan penuh penghormatan, Cin Hai dan isterinya lalu mengurus jenazah itu, menggali tanah dan mengubur jenazah itu sebagaimana mestinya. Mereka bersembahyang dengan sederhana, menunda keberangkatan mereka sampai pada keesokan harinya lagi untuk memberi penghormatan terakhir. Kalau kiranya manusia mati masih mempunyai roh, dan kalau rohnya ini pandai melihat dan berpikir, maka roh Swie Kiat Siansu tentu akan merasa berterima kasih sekali melihat sepasang suami isteri ini.

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Hai dan isterinya meninggalkan tempat itu dan terus menuju ke selatan. Di sepanjang jalan tiada hentinya mereka berdua mencari keterangan dan menyelidiki tentang Ang I Niocu dan juga tentang Bouw Hun Ti.

Tanpa mendengar keterangan sesuatu tentang kedua orang yang dicari-carinya itu, akhirnya mereka sampai di Beng-san dan mendaki gunung itu dengan cepat.

Baru saja mereka tiba di lereng gunung, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring memanggil mereka. “Ayah… lbu…!!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: