Jaka Lola ~ Jilid 10

“Wah, kalau begitu, lebih baik nona lekas-lekas pergi dari tempat ini. Amat  berbahaya, nona. Pulau di depan itu adalah Ching-coa-to, pusat perkumpulan Ang-hwa-pai. Kami berdua tosu dari Kun-lun-pai baru saja terlepas daripada bahaya maut.”

“Akan tetapi tidak terlepas daripada penghinaan hebat!” sambung KungLoTosu.

Gadis itu tampak mengerutkan alisnya yang hitam dan bagus bentuknya. “Di sepanjang perjalanan sudah banyak kudengar sepak terjang yang sewenang-wenang dari Ang-hwa-pai. Siapa duga sampai-sampai berani melakukan penghinaan terhadap Kun-lun-pai. Kiranya Ji-wi Totiang ini anak murid Kun-lun-pai? Harap Totiang sudi menceritakan kepada saya apakah yang telah terjadi antara Ji-wi dan Ang-hwa-pai?”

“Nona siapakah? Pinto tidak dapat menceritakan hal ini kepada orang luar yang tidak pinto kenal, maaf,” kata Kung Thi Tosu.

Nona itu mengangguk. “Memang seharusnya begitulah. Akan tetapi biarpun Ji-wi Totiang tidak mengenal saya, tentu Bun Lo-sianjin ketua Kun-lun-pai takkan asing mendengar nama saya dan tidakkan marah kepada Ji-wi kalau mendengar bahwa Ji-wi menceritakan urusan ini kepada seorang gadis bernama Tan Cui Sian dari Thai-san.”

Dua orang tosu itu belum pernah mendengar nama Tan Cui Sian, akan tetapi tentu saja mereka tahu apa artinya Thai-san-pai bagi Kun-lun-pai. Ketua Thai-san-pai yang berjuluk Bu-tek-kiam-ong (Raja Pedang Tiada Lawan) adalah sahabat baik ketua mereka dan kalau nona ini datang dari Thai-san, berarti seorang sahabat pula. KungThi Tosu lalu menjura dan memberi hormat.

“Kiranya Nona dari Thai-san-pai, maaf kalau tadi pinto ragu-ragu. Di antara sahabat sendiri, tentu saja pinto, suka menceritakan urusan ini yang membuat hati menjadi sakit dan penasaran.” Kung Thi Tosu lalu bercerita tentang semua peristiwa yang telah terjadi. Suheng mereka yang menjadi utusan Kun-lun-pai dibunuh, dan mereka sendiri menerima hinaan dari dua orang muda yang amat lihai.

Sepasang mata gadis itu bersinar tajam, kerut keningnya mendalam. “Hemmm, terlalu sekali mereka itu. Apakah yang Ji-wi Totiang hendak lakukan sekarang?”

“Kami hendak pulang dan melaporkan hal ini kepada ketua kami.”

“Memang sebaiknya begitu. Urusan ini adalah urusan antara Kun-lun-pai dan Ang-hwa-pai, tentu saja saya tidak berhak mencampuri, akan tetapi ingin sekali saya bertemu dengan pemuda dan gadis yang telah menghina Ji-wi. Mereka itu kurang ajar dan terlalu mengandalkan kepandaian, hemmm…..”

“Harap Nona jangan main-main di sini. Mereka itu benar-benar lihai. Baru yang muda-muda saja begitu lihai, belum ketua mereka, Si nenek Ang-hwa Nio-nio. Juga anggauta mereka banyak sekali, jahat-jahat pula. Lebih baik Nona meninggalkan tempat ini agar jangan mengalami penghinaan.”

Gadis itu tersenyum. “Saya justeru ingin mereka itu datang menghina saya. Selamat jalan, Totiang. Mendayung perahu dengan tangan tentu tidak dapat cepat. Biarlah saya membantu sebentar! Setelah berkata demikian, nona ini menggunakan dayungnya yang panjang itu untuk mendorong perahu kedua tosu. Tenaga dorongannya bukan main kuatnya sehingga perahu ini seakan-akan digerakkan tenaga raksasa, meluncur ke depan dengan amat cepatnya. Kung Thi Tosu dan sutenya kaget, heran dan juga girang sekali. Perahu nona itu sudah menyusul dan terus ia mendorong-dorong perahu di depan. Dengan cara begini, benar saja, kedua orang tosu itu dapat mencapai daratan dalam waktu singkat. Mereka meloncat ke darat, memberi hormat ke arah nona berperahu yang sudah menggerakkan perahunya ke tengah telaga lagi.

Kung Thi Tosu menarik napas pan-jang. “Sute, benar-benar perjalanan kita kali ini membuka mata kita bahwa kepandaian kita sama sekali belum ada artinya. Dalam waktu sehari kita telah bertemu dengan tiga orang muda yang memiliki kepandaian jauh melampaui kita. Aku berjanji akan berlatih lebih tekun kalau kita sudah kembali ke gunung,” Mereka lalu membalikkan tubuh dan melakukan perjalanan secepatnya pulang ke Kun-lun-pai.

Siapakah sebenarnya gadis lihai berperahu itu? Dia bukanlah seorang pelancong biasa. Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu masih ingat akan nama ini, Tan Cui Sian. Gadis ini adalah puteri dari ketua Thai-san-pai, Si Raja Pedang Tan Beng San dan si pendekar wanita Cia Li Cu yang sekarang sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, memimpin perkumpulan Thai-san-pai yang makin maju dan terkenal. Suami isteri ini telah berusia empat puluh tahun lebih ketika Cui Sian terlahir, maka mereka sekarang menjadi tua setelah puteri mereka berusia dua puluh tiga tahun.

Sebagai puteri sepasang pendekar besar yang memiliki ilmu kesaktian, tentu saja semenjak kecilnya Cui Sian telah digembleng dan mewarisi kepandaian mereka berdua sehingga kini Cui Sian menjadi seorang gadis yang sakti. Wataknya pendiam seperti ayahnya, keras seperti ibunya, cerdik dan luas pandangannya.

Hanya satu hal menjengkelkan ayah bunda Cui Sian dan yang membuat ibu-nya sering kali menangis sedih adalah kebandelan gadis ini tentang perjodohan. Banyak sekali pendekar-pendekar muda, bangsawan-bangsawan berkedudukan tinggi, yang tergila-gila kepadanya. Banyak sudah datang lamaran atas dirinya dari orang-orang muda yang memenuhi syarat, baik dipandang dari watak yang baik, kepandaian tinggi dan kedudukan yang mulia. Namun semua pinangan itu ditolak mentah-mentah oleh Cui Sian!

“Ibu, aku tidak mau terikat oleh per-jodohan! Aku….. aku tidak mau seperti enci Cui Bi…..” demikian keputusan Cui Sian di depan ayah bundanya, lalu lari memasuki kamarnya.

Ketua Thai-san-pai bersama isterinya saling pandang. Di Raja Pedang mengelus-elus jenggotnya yang panjang sambil menarih napas berkali-kali, memandang isterinya yang menjadi basah pelupuk matanya. Teringatlah mereka kepada mendiang Tan Cui Bi, puteri mereka pertama yang tewas menjadi korban asmara gagal. Di dalam cerita Rajawali Emas dituturkan betapa mendiang Cui Bi yang sudah ditunangkan dengan Bun Wan (sekarang Jenderal Bun di Tai-goan) terlibat dalam jalinan asmara dengan Kwa Kun Hong (Pendekar Buta) sehingga karena gagal, Cui Bi lalu membunuh diri dan Kun Hong membutakan matanya serdiri! Cerita tentang Cui Bi inilah agaknya yang membuat hati Cui Sian sekarang menjadi ngeri, membuat ia tidak mau bicara tentang perjodohan, bahkan membuat ia seperti membenci perjodohan.

“Dia menjadi takut bayangan sendiri, takut akan terulang kesedihan dan malapetaka yang menimpa diri cicinya. Biarlah, kita serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena betapapun juga, jodoh adalah kehendak Tuhan, tak dapat dipaksakan. Kalau ia sudah bertemu jodohnya, tak usah kita paksa iagi, ia tentu akan mau sendiri,” demikian kata-kata hiburan ketua Thai-san-pai kepada isterinya.

“Tapi….. tapi….. tahun ini dia sudah berusia dua puluh tiga tahun…..” Isterinya tak dapat melanjutkah kata-katanya, menahan isak dan menghapus air mata.

Kembali Bu-tek Kiam-ong Tan Beng ;San menarik napas panjang. “Di dalam perjodohan, usia tidak menjadi soal, is-teriku. Beberapa kali anak kita itu mohon untuk diberi ijin turun gunung dan kita selalu melarangnya karena khawatir kalau-kalau terjadi hal seperti yang telah menimpa diri Cui Bi. Kurasa inilah ke-salahan kita. Biarkan ia turun gunung, biarkan ia mencari pengalaman, siapa tahu dalam perjalanannya, ia akan bertemu jodohnya. Dia sudah dewasa dan tentang kepandaian, kurasa kita tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Cui Sian mampu menjaga diri.”
Pernyataan suaminya bahwa si anak mungkin bertemu jodohnya dalam perantauan, melunakkan hati nyonya ketua Thai-san-pai ini. Dan alangkah girang hati Cui Sian ketika ibunya malam hari itu memberi tahu bahwa ia sekarang diperkenankan turun gunung melakukan perantauan. Dari ibunya ia menerima pedang Liong-cu-kiam yang pendek dan dari ayahnya ia dibekali pesan,

“Kau sudah mencatat semua alamat dari sahabat-sahabat ayah bundamu. Jangan lupa untuk mampir dan menyampaikan hormat kami kepada mereka. Terutama sekali jangan lupa mengunjungi Liong-thouw-san, Hoa-san, Kun-lun dan jika kau pergi ke kota raja, jangan lupa singgah di rumah Jenderal Bun.”

“Bekas tunangan cici Cui Bi?” Cui Sian mengerutkan kening.

Ayahnya tertawa. “Apa salahnya? Dahulu tunangan, akan tetapi sekarang hanya merupakan sahabat baik, karena Bun Wan adalah putera Kun-lun, sedangkan ketua Kun-lun-pai adalah sahabat baikku.”

Setelah menerima nasihat-nasihat dan pesan supaya hati-hati dari ibunya, berangkatlah Cui Sian turun gunung, mem-bawa bekal pakaian dan emas secukupnya, dengan hati gembira.

Demikianlah sekelumit riwayat gadis yang kini berada di telaga itu, dekat Ching-coa-to dan bertemu dengan kedua orang tosu Kun-lun-pai. Karena Kun-lun-pai adalah partai besar yang bersahabat dengan ayahnya, tentu saja Cui Sian menganggap kedua orang tosu itu sebagai sahabat dan ia ikut merasa mendongkol sekali ketika mendengar hinaan yang diderita orang-orang Kun-lun-pai dari dua orang muda Ching-coa-to. Setelah mengantar kedua orang tosu Kun-lun itu ke darat, Cui Sian lalu mendayung perahunya kembali ke tengah telaga, menyeberang hendak melihat-lihat sekeliling pulau.

Sementara itu, Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa di pulau setelah berhasil nnelernparkan kedua orang tosu ke dalam air.

“Jangan ganggu, biarkan mereka pergi!” teriak Ouwyang Lam kepada para anggauta Ang-hwa-pai sehingga beberapa orang yang tadinya sudah bermaksud melepas anak panah, terpaksa membatalkan niatnya.

Siu Bi juga merasa gembira. Ia Sudah membuktikan bahwa ia suka membantu Ang-hwa-pai dan sikap Ouwyang Lam benar-benar menarik hatinya. Pemuda ini sudah pula membuktikan kelihaiannya, maka tentu dapat menjadi teman yang baik dan berguna dalam menghadapi musuh besarnya.

“Adik Siu Bi, bagaimana kalau kita berperahu mengelilingi pulauku yang indah ini? Akan kuperlihatkan kepadamu keindahan pulau dipandang dari telaga, dan ada taman-taman air di sebelah selatan sana. Mari!”

Siu Bi mengangguk dan mengikuti Ouwyang Lam yang berlari-larian meng-hampiri sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kiri, diikat pada sebatang pohon. Bagaikan dua orang anak-anak sedang bermain-main, mereka dengan gembira melepaskan perahu dan naik ke dalam perahu kecil ini. Ouwyang Lam mengambil dua buah dayung, lalu keduanya mendayung perahu itu ke tengah, diikuti pandang mata penuh maklum oleh para anak buah Ang-hwa-pai.

“Wah, kongcu mendapatkan seorang kekasih baru,” kata seorang anggauta yang kurus kering tubuhnya, jelas dalam suaranya bahwa dia mengiri.

“Hemmm, tapi yang satu ini sungguh tak boleh dibuat main-main. Ilmu kepan-daiannya hebat. Saingan berat bagi paicu…..” kata temannya yang gendut.

“Sssttttt….. apa kau bosan hidup?”  cela si kurus sambil pergi ketakutan.

Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa gembira ketika mendayung perahu sekuat tenaga sehingga perahu itu meluncur seperti anak panah cepatnya. Pemuda itu menerangkan keadaan pulau dan Siu Bi beberapa kali berseru kagum. Memang bagus pulau ini biarpun tidak berapa besar namun mempunyai bagian-bagian yang menarik. Ada bagian yang penuh bukit karang, ada bagian yang merupakan taman bunga amat indahnya.

“Lihat, di sana itu adalah pusat ular-ular hijau. Tidak ada musuh yang berani menyerbu Ching-coa-to, karena sekali kami melepaskan ular-ular itu, mereka akan menghadapi barisan ular yang lebih hebat daripada barisan manusia bersenjata.”

Siu Bi bergidik. la melihat banyak sekali ular-ular besar kecil berwarna hijau, keluar masuk di lubang-lubang batu karang.

“Apakah binatang-binatang itu tidak berkeliaran di seluruh pulau dan membahayakan kalian sendiri?” tanyanya. Ouwyang Lam tersenyum. “Kami mempunyai minyak bunga yang ditakuti ular-ular hijau itu. Sekeliling daerah batu karang telah kami sirami minyak dan para penjaga selalu siap menyiram minyak baru jika yang lama sudah hilang pengaruhnya. Dengan pagar minyak itu, ular hijau tidak berani berkeliaran.”

“Tapi….. apa perlunya memelihara ular sebanyak itu?”

“Sebetulnya tenaga mereka tidak berapa kami butuhkan. Hanya racunnya…… racun mereka karni ambil dan Nio-nio amat pandai membuat obat dan senjata dari racun-racun itu.”

“Ahhh….. hebat kalau begitu'” Siu Bi berseru kagum.

Perahu digerakkan lagi.

“Lihat, di sana itu adalah taman bunga kami. Bukan main senangnya beristirahat di sana, hawanya nyaman, baunya , harum dan keadaan di situ benar-benar menenteramkan perasaan orang.”

“Aduh, bagusnya….. mari kita mendarat ke sana….. wah, indahnya seruni-seruni di ujung sana itu. Beraneka warna dan sedang mekar…..!”

Ouwyang Lam melirik dengah hati gembira ke arah nona cantik di sebelahnya ini. Alangkah akan bahagianya kalau tiba saatnya dia dapat bersenang-senang dengan gadis ini di taman, sebagai kekasihnya!

“Nanti, Moi-moi, kita keliling dulu dengan perahu. Karena kau menjadi orang sendiri, seluruh pulau dan isinya ini anggaplah tempatmu sendiri. Akan tetapi untuk dapat menikmati tempat kita ini, kau harus lebih dulu mengenal bagian-bagian yang indah, yang berbahaya dan lain-lain. Jangan khawatir, masih banyak waktu untuk kau bermain sepuasmu di dalam taman itu. Di sana terdapat beberapa pondok kecil yang nyaman dan aku akan minta kepada Nio-nio agar kau diperbolehkan menempati sebuah di antara pondok-pondok di taman itu. Aku juga tinggal di sebuah di antara pondok-pondok kecil di sana.”

Sambil berkata demikian, Ouwyang Lam melirik dengan tajam, ingin melihat bagaimana reaksi dari gadis itu. Akan tetapi, Siu Bi bersikap biasa saja, hanya ia amat gembira mendengar ini, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengerti akan isyarat dalam ucapan Ouwyang Lam. Memang, ia seorang gadis remaja yang masih hijau, mana ia mengerti akan kata-kata menyimpang itu?

Perahu didayung lagi. “Mari kita sekarang melihat taman air…..” ucapan Ouwyang Lam terhenti karena pada saat itu mereka berdua melihat sebuah perahu kecil yang meluncur laju dari depan. Seorang gadis mendayung perahu itu sambil berdiri di tengah perahu, memandang kepada mereka dengan mata melotot. Heran benar dia mengapa hari ini begitu baik untungnya sehingga matanya sempat melihat lagi seorang gadis yang begini cantik jelita setelah bertemu dengan Siu Bi. Adapun Siu Bi sendiri juga kagum karena dalam pandang matanya gadis yang sendirian di perahu itu membayangkan sifat yang gagah sekali dalam kesederhanaan pakaiannya.

Perahu mereka kini berhadapan dan kedua fihak menahan perahu dengan gerakan dayung. Sejenak tiga orang ini saling pandang, penuh selidik.

Ouwyang Lam yang selalu tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencari muka dan bermanis-manis terhadap gadis cantik, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil tersenyum dan menegur.

“Nona, aku Ouwyang Lam tidak pernah bertemu muka denganmu. Agaknya Nona adalah seorang tamu yang hendak mengunjungi Ang-hwa-pai. Kalau memang demikian halnya, dapat Nona bicara de-ngan aku yang mewakili ketua Ang-hwa-pai.”

Cui Sian sudah menduga bahwa tentu dua orang ini yang tadi menghina tosu-tosu Kun-lun-pai, sekarang mendengar pemuda itu memperkenalkan nama, ia tidak ragu-ragu lagi. “Aku seorang pelancong, sama sekali tidak ada urusan dengan Ang-hwa-pai atau perkumpulan jahat manapun juga!” Sengaja ia menjawab ketus karena memang ia hendak mencari perkara dan memberi hajaran kepada orang-orang muda yang dianggapnya jahat itu.

Siu Bi mendengar ini, tak dapat menahan tawanya. Memang Siu Bi wataknya aneh. Senang ia melihat gadis itu berani menghina Ang-hwa-pai secara begitu terang-terangan di depan Ouwyang Lam, maka ia tertawa, tentu saja mentertawakan pemuda itu. Mendengar suara ketawa ditahan ini, Ouwyang Lam mendongkol. Alisnya yang tebal berkerut dan matanyai memandang galak kepada Cui Sian, akan tetapi karena benar-benar gadis di depannya itu cantik jelita, tidak kalah oleh Siu Bi sendiri, dia masih menahan kemarahannya dan mempermainkan senyum pada bibirnya.

“Nona yang baik, ketahuilah bahwa telaga ini termasuk wilayah Ang-hwa-pai, jadi kau kini telah berada di dalarn wilayah kami. Karena itu berarti kau sudah menjadi tamu kami, maka tadi aku sengaja bertanya. Andaikata kau hanya pelancong biasa dan tidak mempunyai urusan dengan Ang-hwa-pai, akan tetapi karena tanpa kausadari kau telah menjadi tamuku, tiada buruknya kalau kita menjadi sahabat.”

Kembali Siu Bi tersenyum dan mengejek, “Wah, kau benar-benar amat sabar dan ramah, Ouwyang-twako!”

Kalau Siu Bi mengejek karena mengira Ouwyang Lam takut-takut dan jerih, adalah Cui Sian yang menjadi muak perutnya. la lebih berpengalaman atau setidaknya lebih mengenal watak pria daripada Siu Bi yang hijau maka ia dapat menangkap nada suara kurang ajar dalam ucapan Ouwyang Lam. Dengan ketus ia menjawab,

“Kau manusia sombong. Kurasa telaga ini adalah buatan alam, bagaimana Ang-hwa-pai berani mengaku sebagai hak dan wilayahnya?  Eh, bocah, apakah kau yang berani menghina bahkan membunuh tosu dari Kun-lun-pai?”

Ouwyang Lam terkejut dan hilang keramahannya. Juga Siu Bi hilang senyumnya. Mereka berdua bangkit berdiri dan memandang Cui Sian dengan curiga. Kalau gadis ini datang membela Kun-lun-pai, berarti dia itu musuh!

“Kalau betul begitu, kau mau apakah?” teriak Ouwyang Lam. “Apakah kau anak murid Kun-lun-pai yang hendak menuntut balas?”

“Aku bukan anak murid Kun-lun-pal juga tidak tahu menahu tentang permusuhan kalian dengan Kun-lun-pai. Akan tetapi kebetulan sekali aku bertemu dengan dua orang tosu Kun-lun-pai yang telah kalian hina. Tosu-tosu Kun-lun-pai bukanlah orang-orang jahat, maka kalau kalian sudah berani menghina mereka, kalian benar-benar merupakan orang-orang kurang ajar dan mengandalkan kepandaian. Kalau bicara tentang kegagahan, agaknya aku lebih condong menganggap kalianlah yang bersalah dan jahat.”

“Heeei, orang liar dari mana datang-datang membuka mulut asal bunyi saja?” Siu Bi berseru marah. “Dua orang tosu bau itu memang kami berdua yang melempar ke dalam air, habis kau mau apa ?”

“Hemmm, aku tidak akan mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi aku pun tidak biasa membiarkan orang berlaku sewenang-wenang. Kau menghina dan melempar orang ke air, sekarang aku pun hendak melempar kalian ke dalam air!”

“Sombong! Twako, mari kita lempar bocah sombong ini dari perahunya!” Siu Bi menggerakkan dayungnya, diikuti oleh Ouwyang Lam yang bermaksud merobohkan dan menawan gadis cantik yang sombong itu.

“Plakkk-plakkkkk!”

Siu Bi dan Ouwyang Lam berseru kaget sekali karena dayung mereka tertangkis oleh dayung di tangan Cui Sian. Demikian kuat dan hebatnya tangkisan itu sehingga hampir saja Siu Bi dan Ouw-yang Lam tak dapat menahan dan melepaskan dayung. Telapak tangan mereka terasa panas dan sakit-sakit. Hal ini sama sekali tak pernah mereka duga karena tadi mereka memandang rendah sekali, dan sesaat mereka kaget dan bingung. Sebelum mereka dapat memperbaiki kedudukan, perahu mereka tertumbuk oleh perahu Cui Sian dan dayung ditangan Cui Sian secara dahsyat sekali telah menerjang mereka. Perahu miring, dua orang muda itu hampir terjengkang ,ke belakang dan oleh karena kedudukan yang buruk sekali dan lemah ini, sampai dayung di tangan Cui Sian tak dapat mereka tangkis lagi dan jalan satu-satunya bagi mereka untuk menyelamat-kan diri hanya melempar diri ke belakang. Terdengar suara keras dan air memercik tinggi ketika dua orang itu terlempar ke dalam air juga perahu mereka telah terbalik! Ouwyang Lam yang pandai berenang itu cepat menyambar lengan tangan Siu Bi yang gelagapan dan menarik gadis itu ke arah perahu mereka yang terbalik. Karena dayung mereka terlempar dan mereka berada di bawah ancaman dayung Cui Sian, mereka tak dapat berbuat sesuatu kecuali memegangi perahu yang terbalik dengan muka dan kepala yang basah kuyup!

“Ketahuilah, aku bernama Tan Cui Sian, bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya seorang pelancong yang kebetulan lewat dan tidak senang melihat kekurangajaranmu. Harap kali ini kalian menganggap sebagai pelajaran agar lain kali jangan kurang ajar dan sombong lagi.” Setelah berkata demikian Cui Sian men-dayung perahunya pergi meninggalkan dua orang yang tak berdaya dan memegangi perahu terbalik itu.

“He, manusia curang!” Siu Bi berteriak marah, memaki-maki. “Tunggu aku di darat kalau kau memang gagah dan kita bertanding sampai sepuluh ribu jurus! Tidak bisa kau menghina Cui-beng Kwan Im dan pergi enak-enak begitu saja!”

Cui Sian menoleh dan tersenyum mengejek. “Julukannya saja Cui-beng (Pengejar Roh), biarpun cantik seperti Kwan Im, tetap saja jahat. Bocah masih ingusan, siapa takut padamu? Kutunggu kau di darat dan aku tanggung kau akan kulempar sekali lagi ke dalam air!”

Siu Bi memaki-maki, akan tetapi apa dayanya? Mengejar perahu itu yang tak mungkin. Lain dengan Ouwyang Lam biarpun amat mendongkol dan malu, namun segera bersuit nyaring memberi aba-aba kepada anak buahnya. Beberapa buah perahu hitami meluncur cepat dari balik alang-alang, menghampiri Ouwyang Lam dan Siu Bi yang kini sudah berhasil membalikkan perahu dan melompat ke dalam perahu dengan pakaian basah ku-yup.

“Kejar iblis betina itu, gulingkan perahunya dan tangkap dia. Ingat, harus gulingkan perahunya lebih dulu!” perintah Ouwyang Lam ini segera ditaati oleh tiga buah perahu yang masing-masing berpenumpang tiga orang. Sembilan orang ahli air Ang-hwa-pai melakukan pengejaran. Ouwyang Lam dan Siu Bi mengikuti dari belakang setelah Ouwyang Lam terjun dan berenang mengambil dayung-dayung mereka yang tadi terlempar.

Cui Sian yang sama sekali tidak menduga bahwa ia akan dikejar, dengan hati puas mendayung perahunya ke tengah telaga, tidak tergesa-gesa pergi mendarat karena ia ingin melihat-lihat pulau itu dari dekat. Tak lama kemudian barulah ia melihat tiga buah perahu hitam meluncur cepat mendekati perahunya. la dapat menduga bahwa mereka itu tentulah orang-orang Ang-hwa-pai, apalagi setelah dekat ia melihat bunga merah tersulam di baju mereka. Akan tetapi tentu saja ia tidak takut, malah menanti kedatangan mereka dengan dayung di tangan, siap menghantam dan menghajar mereka yang berani mengganggunya.

Akan tetapi, ia mulai terkejut melihat sembilan orang di dalam tiga buah perahu itu semua melompat ke dalam air dan tidak muncul lagi. Mereka menyelam! Cui Sian dapat menduga apa yang akan mereka lakukan. Cepat ia mendayung perahunya meluncur pergi, namun terlambat. Perahunya berguncang hebat. la berdiri mempergunakan ginkangnya, mengatur keseimbangan tubuh agar jangan sampai terjungkal ke dalam air. Malah dayungnya berhasil mengemplang punggung seorang penyelam yang segere menyelam dan berenang pergi sambil merintih-rintih. Akan tetapi akhirnya perahunya terguling! Namun dengan gerakan yang amat indah, tubuh Cui Sian mencelat ke atas dan dengan berjungkir balik beberapa kali, tubuhnya cukup lama berada di atas sehingga ketika ia meluncur turun, perahunya sudah terbalik dan ter-apung lagi. la mendarat di atas perahu-nya yang terbalik itu, siap dengan dayungnya. Para penyelam melihat ini menjadi kagum sekali, juga penasaran. Mereka menyelam lagi mendekati dan berusaha menggulingkan perahu yang sudah terbalik agar nona itu ikut tenggelam. Akan tetapi Cui Sian dengan dayungnya nnempertahankan perahunya. Dua orang penyelam kena dihajar tangan mereka sehingga tulangnya patah, seorang penyelam lagi terpaksa dibawa pergi temannya karena kemplangan pada kepalanya membuat dia pingsan.

Ouwyang Lam dan Siu Bi sudah tiba di situ. Melihat betapa gadis kosen itu masih belum dapat ditangkap, malah mengamuk menipertahankan perahu yang sudah terbalik itu, melukai beberapa orang penyelam, dia menjadi marah dan diam-diam kaget juga. Gadis itu benar-benar lihai. Hatinya tidak enak sekali. Kemudian dia bersuit memberi tanda kepada ternan-temannya yang sudah muncul di permukaan air, tidak berani mendekati perahu terbalik itu. Kini hanya tinggal empat orang penyelam yang belum terluka, akan tetapi mereka jerih, tidak berani mendekat. Setelah Ouwyang Lam bersuit, mereka menyelam lagi.

Ouwyang Lam mendayung perahunya yang meluncur cepat mendekati perahu Cui Sian yang terbalik. “Adik Siu Bi, kesempatan kita untuk membalas!” kata-nya, Siu Bi sudah bersiap dengan dayungnya. Ketika perahu mereka sudah dekat, Ouwyang Lam dan Siu Bi menggerakkan dayung. Kali ini mereka berlaku hati-hati, dayung mereka menerjang hebat dengan pengerahan tenaga. Sebaliknya, Cui Sian berada dalam keadaan yang amat buruk. Berdiri di atas perahu terbalik amat licin dan terlalu sempit, sedangkan dua buah dayung yang menyerangnya itu pun tak boleh dibuat main-main. Tadi pun ia sudah dapat kenyataan bahwa kedua orang muda ini memiliki kepandaian tinggi, hanya karena tadi memandang rendah kepadanya maka dalam segebrakan saja ia berhasil melempar mereka ke air. la maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Namun, Cui Sian memiliki sifat yang amat tenang, juga tabah. la tidak menjadi gentar, malah mengejek,

“Beginikah cara orang gagah? Mengeroyok dengan cara yang licik?”

Merah muka Siu Bi. Sesungguhnya ia benci akan cara dennikian ini, akan tetapi semua itu yang mengatur adalah Ouwyang Lam, ia sebagai tamu tak dapat berbuat lain. Untuk diam saja tidak ikut mengeroyok juga tidak enak, apalagi ia tadi sudah dibikin basah kuyup dan merasa amat marah kepada gadis bernama Cui Sian itu.

Dengan tenaga dalamnya yang murni dan amat kuat serta gerakan dayungnya yang hebat, Cui Sian masih dapat mempertahankan diri daripada desakan kedua buah dayung lawannya. Akan tetapi tiba-tiba perahu yang diinjaknya berguncang hebat. Kini ia tidak mungkin dapat melawan orang-orang yang berada di dalam air karena dua batang dayung yang mengancamnya dari depan sudah cukup berbahaya. la berusaha mempertahankan diri, akan tetapi ketika tiba-tiba perahu yang diinjaknya itu tenggelem, tak mungkin lagi ia mempertahankan diri. la ikut tenggelam dan di lain saat ia gelagapan karena seperti juga Siu Bi, ia adalah seorang puteri gunung dan tak pandai berenang! Sungguhpun demikian, ketika dua orang penyelam berusaha menangkap dan memeluknya, mereka itu memekik kesakitan dan pingsan terkena sampokan tangannya!

Melihat ini, Ouwyang Lam terjun ke air. Cui Sian sudah gelagapan dan menelan air, tentu saja bukan lawan Ouw-ang Lam yang selain berkepandaian tinggi, juga ahli bermain di air. Sebelum Cui Sian sempat mempertahankan diri, sebuah saputangan merah yang diambil pemuda itu dari saku bajunya, telah menutup mukanya. la mencium bau harum dan….. tak ingat diri lagi. Ouwyang Lam menyeretnya sambil berenang dan memondongnya naik ke perahu, melempar tubuh yang pingsan dan basah kuyup itu ke dalam perahu.

Siu Bi mengerutkan keningnya. “Mau diapakan ia ini, Ouwyang-twako?”

Mendengar pertanyaan ini dan melihat pandang mata Siu Bi yang tajam penuh selidik, Ouwyang Lam menjadi agak gagap ketika menjawab. “Diapakan? Dia….. eh, tentu saja ditawan. Hal ini harus dilaporkan kepada Nio-nio. Gadis ini mencurigakan sekali, Siauw-moi (Adik Kecil). Kepandaiannya tinggi dan andai-kata dia benar-benar bukan orang Kun-lun-pai, mengapa ia memusuhi kita? Dan mengapa pula ia berperahu di sini?”

“Kan ia sudah bilang bahwa ia seorang pelancong…..” bantah Siu Bi, tidak setuju melihat gadis ini ditawan secara begitu.

Ouwyang Lam tersenyum, maklum bahwa gadis ini mulai menaruh curiga. la harus berhati-hati, pikirnya. “Jangan kau khawatir, Moi-moi. Dia ini ditawan hanya untuk ditanyai kelak. Kalau ternyata benar dia itu hanya seorang pelancong yang iseng dan gatal tangah, tentu saja kami akan membebaskannya. Biarlah dia ditawan beberapa hari hitung-hitung membalas penghinaannya atas diri kita berdua.”

Puas hati Siu Bi dengan jawaban ini. Sambil mendayung perahu kembali ke pulau, diam-diam Siu Bi mengagumi kecantikan gadis yang telentang di depannya. Benar-benar cantik jelita dan manis sekali. Sayang dia sombong, pikirnya, dan pernah menghinaku. Kalau tidak, hemmm, senang juga mempunyai kawan yang juga memiliki kepandaian tinggi ini. la melihat benda mengganjal di atas pinggang belakang. Dirabanya, ternyata gagang pedang. Dengan perlahan disingkapnya baju luar itu dan ditariknya pedang itu. Sebuah pedang pendek akan tetapi begitu Siu Bi mencabutnya dari sarung, mata-nya silau oleh sinar yang putih gemerlapan.

“Wahhh, pedang yang hebat, pusaka ampuh!” seru Ouwyang Lam. “Moi-moi, kau benar. Pedang itu harus dirampas, kalau tidak dia bisa membikin kacau setelah siuman.”

Ucapan ini membikin muka Siu Bi makin merah. Sama sekali ia tidak mempunyai niat untuk merampas pedang orang, hanya ingin melihat. Akan tetapi tiba-tiba ia berpikir. Pedang pusakanya sendiri ia tinggalkan kepada Jaka Lola. la tidak bersenjata. Tiada salahnya ia menyimpan dulu pedang ini, dan mudah kalau segala sesuatu beres, ia kembalikan kepada yang punya. Dari pada dirampas oleh Ouwyang Lam. Ia belum percaya penuh kepada pemuda ini atau kepada “bibi Kui Ciauw”.

Dalam keadaan masih pingsan, Cui Sian dibawa ke daratan pulau, dihadapkan kepada Ang-hwa Nio-nio. Nenek ini mengerutkan alisnya ketika mendengar laporan Ouwyang Lam. la memeriksa buntalan pakaian Cui Sian yang juga dibawa ke situ oleh anak buah yang menemukan-nya dari perahu yang terbalik. Akan tetapi isinya hanya beberapa potong pa-kaian dan sekantung uang emas. Tidak terdapat sesuatu yang membuka rahasia tentang diri gadis aneh itu. Ang-hwa Nio-nio lalu mengeluarkan sehelai saputangan berwarna biru, mengebutkan saputangan itu ke arah hidung Cui Sian, kemudian dengan saputangan itu pula ia menotok belakang leher. Ujung saputangan dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, hal ini saja membuktikan kelihaian nenek ini. Kiranya saputangan biru itu mengandung obat pemunah racun merah. Tak lama kemudian Cui Sian menggerakkan pelupuk matanya dan pada saat matanya terbuka, gadis ini sudah melompat bangun dan berada dalam keadaan siap siaga! la memandang ke sekelilingnya, melihat muda-mudi bekas lawannya tadi berada di situ bersama seorang nenek berpakaian serba merah dan beberapa orang lak-laki setengah tua yang me-makai tanda bunga merah di dada. Di pinggir berdiri pelayan-pelayan wanita. Maklum bahwa dirinya dikepung musuh, Cui Sian meraba pinggangnya. Pedangnya tidak ada! Akan tetapi gadis ini tenang-tenang saja, sama sekali tidak menjadi gentar atau gugup. la malah tersenyum mengejek dan berkata,

“Bagus! Kiranya Ang-hwa-pai penuh tipu muslihat. Kalian secara curang berhasil menawan aku, mau apa?”

Ang-hwa Nio-nio membentak ketus, “Bocah sombong, berani berlagak di depanku! Sudah diampuni jiwanya masih sombong. Kalau tadi kami turun tangan membunuhmu, kau akan bisa apa?”

Cui Sian memandang nenek itu, pandang matanya tajam sekali membuat si nenek diam-diam tercengang dan menduga-duga, siapa gerangan gadis yang bernyali besar dan penuh wibawa ini. “Agaknya kau adalah ketua Ang-hwa-pai. Nah, katakan kehendakmu. Soal mati hidup, kau membunuhku pun aku tidak takut, kau membebaskan aku pun tidak merasa berhutang budi.”

“Bocah, lebih baik larutkan keangkuhanmu ini dan lekas kau mengaku, siapa yang menyuruh kau datang memata-matai Ang-hwa-pai dan membikin kacau? Kalau tidak ada yang menyuruh, apa maksud kedatanganmu? Jawab sebenarnya, jangan membikin aku habis sabar. Apa hubunganmu dengan Kun-lun-pai?”

“Tidak ada yang menyuruhku, Kun-lun-pai tiada sangkut-pautnya denganku. Aku seorang pelancong, kebetulan lewat dan pesiar di telaga, bertemu dengan dua orang tosu Kun-lun-pai. Kuanggap dua orang bocah ini keterlaluan, maka aku sengaja hendak memberi hajaran. Dengan curang mereka berhasil menawan aku, terserah kalian mau apa sekarang. Mau bertanding sampai seribu jurus, hayo!”

Kembali Ang-hwa Nio-nio tercengang dan diam-diam harus ia akui bahwa gadis  seperti ini tentu tak boleh dipandang ringan. “Siapakah kau dan dari mana kau datang?”

“Sudah kukatakan kepada dua orang bocah ini, namaku Tan Cui Sian dan aku bukan orang Kun-lun-pai, sungguhpun Kun-lun-pai merupakan partai segolongan dengan Thai-san-pai.”

Berubah wajah Ang-hwa Nio-nio. “Kau anak murid Thai-san-pai? Kau….. kau she Tan, apamukah Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San si kakek ketua Thai-san-pai?”

“Dia ayahku…..”

“Keparat! Kiranya kau menyerahkan nyawa anakmu kepadaku, manusia she Tan?” Sambil berseru keras Ang-hwa Nio-nio sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar merah membayang pada pukulannya ini.

Cui Sian sudah siap sejak tadi. la maklum bahwa nenek ini tentulah seorang sakti dan alangkah kecewanya bahwa ia tadi telah mengaku dan menyebut nama ayahnya dan Thai-san-pai. Ternyata pengakuan itu hanya mendatang-kan bahaya bagi dirinya karena ternyata bahwa nenek ini kiranya adalah musuh ayahnya. Ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, memang mempunyai banyak sekali musuh, terutama dari golongan hitam (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas). Setelah terlanjur membuat pengakuan, ia sekarang harus menghadapi bahaya dengan tabah. Cui Sian bukan seorang gadis nekat seperti Siu Bi. Dia seorang yang berpemandangan luas, cerdik dan dapat melihat gelagat. Tentu saja ia maklum bahwa seorang diri, amatlah berbahaya baginya untuk menghadapi orang-orang Ang-hwa-pai di tempat mereka sendiri. Apalagi ia bertangan kosong, kalau ada Liong-cu-kiam di tangannya masih boleh diandalkan. Maka, melihat datangnya pukulan maut yang mengandung sinar merah, ia cepat miringkan tubuh dan mainkan jurus Im-yang-kun-hoat yang ia warisi dari ayahnya. Kedua tangannya dengan pengerahan dua macam tenaga Im dan Yang, menangkis sambaran tangan Ang-hwa Nio-nio yang tak mungkin dapat dielakkan lagi itu.

“Dukkk!” Tubuh Cui Sian terlempar sampai ke luar dari pintu ruangan, sedangkan ketua Ang-hwa-pai itu kelihatan meringis kesakitan. Terlemparnya tubuh Cui Sian memang disengaja oleh gadis itu sendiri karena pertemuan tenaga mujijat itu memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri, atau setidaknya keluar dari ruangan yang sempit itu agar kalau dikeroyok, ia dapat melawan lebih leluasa di tempat yang luas di luar rumah.

“Bocah setan, lari ke mana engkau?” Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian menoleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, “Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!”

Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerakannya sehingga para pembantu itu tertinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak mengenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang.

Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan mengetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau! la bergidik dan diam-diam ia merasa tidak senang. Boleh saja mendesak dan menyerang musuh, akan tetapi tidak secara pengeeut dan menggunakan akal busuk.

Melihat di depannya batu-batu karang yang sukar dilalui, dan tiga orang pengejarnya masih terus mengejar dari belakang, Cui Sian terpaksa berhenti, mem balikkan tubuh dan tersenyum mengejek,

“Kalian bertiga hendak mengeroyokku yang bertangan kosong? Bagus, memang benar gagah orang-orang Ang-hwa-pai! Setelah merampas pedang, kini mengeroyok.”

Ouwyang Lam yang tadinya tertarik sekali akan kecantikan Cui Sian kini timbul kemarahannya. la telah dibikin malu, dan sekarang tiba saat baginya untuk membalas. la memang pernah dirobohkan, akan tetapi hal itu terjadi karena dia memandang rendah dan kejadian itu hanya dapat dialami secara tidak tersangka-sangka. Sekarang mereka berhadapan dan dapat mengandalkan ilmu kepandaian mereka. la tidak percaya bahwa dia takkan dapat menangkan seorang gadis! Mendengar ejekan ini dia berkata, “Nio-nio, biarkan aku menghadapi gadis sombong ini!” la melompat maju dan dengan nada suara mengejek pula dia menjawab Cui Sian,

“Perempuan sombong. Kaukira di dunia ini tidak ada yang dapat mengalahkanmu? Kau bertangan kosong? Lihat, aku pun akan menghadapimu dengan tangan kosong, kaukira aku tidak berani? Akan tetapi kalau nanti kau tidak berlutut dan minta-minta ampun tujuh kali kepadaku, aku takkan melepaskanmu!”

Cui Sian menggigit bibirnya saking gemas dan marahnya. Baginya, ucapan ini pun mengandung arti yang kotor dan menghina. Tak sudi ia banyak cakap lagi, tubuhnya segera menerjang maju dengan seruan nyaring. “Lihat pukulan!” Seruan begini adalah lajim dilakukan oleh pendekar-pendekar yang pantang menyerang orang tanpa peringatan lebih dulu, berbeda dengan sifat rendah tokoh-tokoh dunia hitam yang selalu menyerang secara sembunyi, malah mempergunakan kesempatan selagi lawan lengah untuk merobohkan lawan itu.

Ouwyang Lam cepat mengelak dan sambaran angin pukulan gadis ini cukup meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh main-main menghadapinya. Maka dia pun lalu cepat menggerakkan kaki tangan, mainkan Ilmu Silat Bintang Terbang sambil mengerahkan tenaga Ang-tok-ciang sehingga dari kedua tangannya itu menyambar-nyambar sinar merah karena hawa beracun Ang-tok sudah memenuhi pukulan-pukulan itu.

Akan tetapi, Cui Sian bukanlah gadis sembarangan. la puteri Raja Pedang dan ketua Thai-san-pai yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya dengan ilmu-ilmu kesaktian. Raja Pedang cukup mengenal ilmu-ilmu dari dunia hitam, maka pengertiannya tentang ini ia turunkan kepada puterinya semua sehingga kini, menghadapi pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun bersinar merah, Cui Sian sama sekali tidak menjadi gentar. Kalau tadi ia dapat ditangkap, hal itu adalah karena ia tidak pandai berenang. Sekarang, sama-sama menggunakan tangan kosong, jangan harap Ouwyang Lam akan dapat mengatasinya. Dengan jurus-jurus Im-yang-sin-kun yang luar biasa, Cui Sian dapat menolak Se-mua terjangan lawan, bahkan mulai men-desak dengan hebat.

Ouwyang Lam terkejut setengah mati. Selama ia menjadi murid dan kekasih Ang-hwa Nio-nio dan telah mewarisi ilmu kesaktian wanita ini, belum pernah ia menemui tanding yang begini hebat di samping Siu Bi. la menjadi bingung oleh gerakan Cui Sian yang mengandung dua unsur tenaga yang berlawanan itu. Di suatu saat, pukulan Cui Sian bersifat keras, di lain detik merupakan pukulan lunak tapi berbahaya. Memang di sini letak kehebatan Im-yang-sin-kun, ilmu silat yang berbeda dengan ilmu silat lain. Ilmu-ilmu yang lain hanya mempunyai satu sifat, lembek atau keras, kalau lembek mengandalkan tenaga Iweekang, kalau keras mengandalkan gwakang. Akan tetapi gadis cantik ini mencampur-aduk Iweekang dan gwakang, mencampur aduk hawa Im dan Yang dalam terjangannya, pencampuradukan yang amat rapi karena memang menurut Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun yang ia warisi dari ayahnya.

Setelah lewat lima puluh jurus, Ouwyang Lam tidak kuat lagi. Hendak mencabut pedangnya, dia merasa malu karena di situ terdapat Siu Bi yang ikut menonton. Masa melawan seorang gadis, setelah dia menyombong tadi, sama-sama dengan tangan kosong dia harus mencabut pedang? Memalukan sekali, lebih memalukan daripada kalau dia kalah dalam pertandingan ini. la mengerahkan tenaga mengumpulkan semangat dan menerjang dengan buas. Kini dia menggunakan jurus Bintang Terbang Terjang Bulan, tubuhnya melayang ke depan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dan leher. Serangan hebat yang mematikan!

Seketika wajah Cui Sian menjadi merah. Di samping kehebatannya, serangan ini pun tidak sopan. la membiarkan kedua tangan lawan itu menyambar dekat, memperlihatkan sikap gugup dan bingung. Ouwyang Lam girang sekali, akan ber-hasil agaknya dia kali ini.

“Awas.,…!!” Ang-hwa Nio-nio berseru dan melompat ke depan. Terlambat sudah, tubuh Ouwyang Lam terbanting dari samping dan pemuda ini roboh bergulingan di atas tanah berbatu yang keras! Kiranya tadi sikap gugup dan bingung Cui Sian hanya merupakan pancingan belaka membiarkan lawan menjadi girang berbesar hati dan karenanya lemah kedudukannya. Secepat kilat Cui Sian membuang diri ke kiri, hanya tubuh bagian atas saja yang meliuk ke kiri, sebatas lutut ke atas, namun kedua kakinya masih memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Gerakan yang amat indah. Ketika kedua tangan Ouwyang Lam sudah menyambar lewat, Cui Sian menghantam dengan sampokan kedua lengannya dari samping, jari-jari tangannya terbuka dan kedua tangannya yang mengandung dua macam tenaga. Yang kiri menggentak dengan tenaga Im sedangkan yang kanan mendorong dengan tenaga Yang. Tak kuat Ouwyang Lam mempertahankan diri dari serangan balasan yang mendadak dan tak terduga-duga ini sehingga dia terbanting cukup hebat. Untung baginya bahwa pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio sudah melompat datang dan menerjang Cui Sian tanpa banyak cakap lagi. Kalau tidak demikian halnya, dalam keadaan terbanting dan kepalanya masih pening tadi, dengan amat mudah Cui Sian? akan dapat menyusul serangan berikutnya yang membahayakan keselamatannya.

Ouwyang Lam bangun dengan muka merah. Hatinya panas mendongkol, apalagi ketika dia menoleh ke arah Siu Bi dilihatnya gadis itu memandang ke arah Cui Sian dengan sinar mata penuh kekaguman. la merasa malu di depan Siu Bi. Terang bahwa dalam pertandingan tangan kosong tadi, dia kalah oleh gadis lihai puteri Raja Pedang ini. Dalam marahnya, ingin dia mencabut pedang dan menyerang lagi bekas lawannya, biarpun Cui Sian pada saat itu sedang bertanding melawan Ang-hwa Nio-nio dengan hebatnya. Akan tetapi kehadiran Siu Bi di situ membuat Ouwyang Lam terpaksa menahan sabar dan tidak ada muka untuk melakukan pengeroyokan.

Sementara itu, pertandingan antara Cui Sian dan Ang-hwa Nio-nio sudah berlangsung dengan hebatnya. Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ouwyang Lam, tentu saja Ang-hwa Nio-nio jauh lebih tinggi. Cui Sian maklum dan merasai hal ini, namun gadis perkasa ini mengerahkan seluruh tenaga dan main-kan ilmu kesaktian Im-yang-sin-kun sehingga biarpun ia tidak mampu melakukan desakan macam tadi terhadap ketua Ang-hwa-pai ini, namun pertahanannya kokoh kuat laksana benteng baja. Seperti juga Ouwyang Lam, ketua Ang-hwa-pai ini merasa malu untuk mempergunakan senjatanya, bukan malu terhadap lawan, melainkan tak enak hati terhadap Siu Bi yang dianggap sebagai tamu dan orang luar. Kalau tidak ada Siu Bi di situ, sudah tentu Cui Sian sejak tadi dikeroyok dan tak mungkin gadis perkasa itu dapat menyelamatkan dirinya. Di samping ini, juga Ang-hwa Nio-nio merasa penasaran sekali. Ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi, malah ia sudah mematangkan kepandaiannya sehingga ia berpendapat bahwa tingkatnya sekarang tidak berbeda jauh dengan tingkat musuh besarnya, Pendekar Buta. Akan tetapi mengapa menghadapi seorang gadis muda saja ia tidak mampu mendesaknya? Memang ia telah tahu akan kesaktian Raja Pedang, akan tetapi puterinya ini baru dua puluh tiga usianya betapapun juga baru berlatih belasan tahun, bagaimana dapat menahan dia yang telah melatih diri puluhan tahun? Inilah yang membuat hatinya penasaran dan ia menguras semua ilmunya untuk memecahkan pertahanan Cui Sian.

Namun, Im-yang-sin-kun adalah ilmu yang bersumber kepada Im-yang-bu tek-cin-keng, merupakan rajanya ilmu silat dan telah mencakup inti sari daripada semua gerakan silat. Ilmu silat yang dimiliki Pendekar Buta sendiri pun bersumber pada ilmusilat ini, demikian pula ilmu-ilmu silat dari semua partai bersih. Andaikata masa latihan Cui Sian sedemikian lamanya seperti Ang-hwa Nio-nio, jangan harap ketua Ang-hwa-pai itu akan dapat menang. Sekarang pun, karena kalah matang dalam latihan, biar tak dapat mendesak lawan, namun Cui Sian masih dapat mempertahankan diri dengan baik. Memang kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga karena terus-menerus mempertahankan diri tanpa mampu membalas, akan tetapi akan memakan waktu lama sekali.

Siu Bi menonton pertempuran Itu dengan hati tegang. Matanya yang sudah terlatih akan ilmu-ilmu silat tinggi dapat membedakan sifat kepandaian dua orang yang sedang bertanding itu. Terjangan-terjangan Ang-hwa Nio-nio bersifat ganas dan kasar, didorong oleh hawa pukulan bersinar merah yang menyelubungi seluruh tubuh berpakaian merah itu. Sebaliknya, Cui Sian bersilat dengan gerakan yang sifatnya tenang dan kokoh kuat, indah dalam setiap gerakan dan hawa pukulan dari kedua tangannya mengandung sinar jernih tak berwarna namun cukup kuat sehingga menolak bayangan sinar merah lawan. Saking tegang dan memandang penuh perhatian, Siu Bi tidak melihat lagi kepada Ouwyang Lam.

Pemuda ini diam-diam mengeluarkan sebungkus bubuk berwarna putih, menyebarkannya di sekeliling tempat mereka, kemudian memberi tanda kepada para anak buah Ang-hwa-pai. Tak lama kemudian terdengarlah suara melengking tinggi seperti suling, tiada putus-putusnya datang dari empat penjuru. Beberapa menit kemudian, Siu Bi mengeluarkan seruan kaget. Beratus ekor ular men-desis-desis dan bergerak cepat dari semua jurusan, menuju ke pertempuran itu. Seekor ular hijau yang besar dan panjang, paling cepat sampai di situ dan serta merta binatang ini mengangkat kepala dan meloncat dengan mulut ter-buka ke arah Cui Sian!

Gadis sakti ini pun sudah melihat adanya ular-ular hijau yang datang menyerbu, maka begitu mendengar desis keras dari arah kiri, cepat ia melangkah mundur dan tangan kirinya dengan jarit, terbuka menyabet miring, tepat mengenai leher ular, “Trakkk!!” Ular sebesar pangkal lengan itu terpukul keras sehingga terlepas sambungan tulangnya, tak berdaya lagi, terbanting dan hanya ekornya saja yang masih menggeliat-geliat, kepalanya tak dapat digerakkan lagi!

Akan tetapi, Cui Sian harus menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan karena pada saat ia menghadapi penyerangan ular tadi, Ang-hwa Nio-nio sudah melakukan serangan hebat sekali yang amat berbahaya. Segulung sinar merah menerjang ke arah dada dan lehernya, dan ternyata Ang-hwa Nio-nio sudah mencabut pedangnya dan menyerangnya pada saat gadis itu tidak kuat kedudukannya. Hanya dengan cara membuang diri ke belakang dan bergulingan inilah Cui Sian dapat nnenyelamatkan diri. la cepat melompat bangun dan wajahnya merah sepasang matanya berapi-api saking marahnya. Biarpun lawan sudah memegang pedang dan di sekelilingnya sudah berkumpul ular-ular hijau, namun dara perkasa ini sama sekali tidak menjadi gentar! la maklum bahwa tak mungkin melarikan diri setelah ular-ular itu mendatangi dari segala jurusan, jalan lari selain terhalang ular-ular berbisa dan gunung-gunungan batu karang, juga di bagian lain berdiri Ang-hwa Nio-nio dan anak buahnya yang amat banyak. Cui Sian maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dan besar kemungkinan ia akan tewas di sini, namun ia mengambil keputusan untuk melawan dengan nekat dan sampai titik darah terakhir, tewas sebagaimana layaknya puteri pendekar besar dan ketua Thai-san-pai!

“Ang-hwa-pai tak tahu malu! Meng-andalkan pengeroyokan dan bantuan ular-ular berbisa! Ang-hwa Nio-nio, majulah, jangan kira aku takut menghadapi ke-curanganmu!”

Ang-hwa Nio-nio merasa penasaran, malu dan marah sekali. Memang amat memalukan kalau ia tidak mampu me-ngalahkan gadis ini, gadis muda tak ber-senjata, dan ia masih dibantu ular-ularnya. Benar-benar sekali ini kalau ia tidak mampu membunuh Cui Sian, akan rusak nama besarnya.

“Iblis cilik, siaplah untuk mampus!”

“Nanti dulu, Nio-nio!”Tiba-tiba Siu Bi berseru dan melompat ke depan. Ang-hwa Nio-nio kaget dan heran, lebih-lebih herannya ketika Siu Bi berkata lantang,

“Aku tidak suka melihat ini! Aku pun benci dia karena dia adalah sahabat baik Pendekar Buta musuh besarku, akan te-tapi aku tidak suka melihat pertandingan yang berat sebelah ini. Ang-hwa Nio-nio, karena aku dan kau bersahabat, aku tidak mau sahabatku melakukan hal yang tidak pantas.”

“Dia ini boleh saja dibunuh, tapi sedikitnya harus memberi kesempatan melawan, itulah haknya. Ayah….. ayahku selain menekankan bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, aku harus bersikap gagah dan sama sekali tidak boleh curang. Heee, Cui Sian, ini pedangmu, kukembalikan. Sebelum mampus, kau boleh melawan dan jangan bilang bahwa aku menyembunyikan pedangmu. Tapi berjanjilah, kalau nanti kau sudah mati, relakan pedangmu ini menjadi milikku!” Sambil berkata demikian Siu Bi melemparkan Liong-cu-kiam kepada Cui Sian.

Sejenak Cui Sian tertegun sambil memegangi Liong-cu-kiam di tangannya. Tentu saja hatinya menjadi sebesar Gunung Thai-san sendiri setelah pedang pusakanya kembali di tangannya. Akan tetapi dia menjadi terheran-heran melihat sikap dan mendengar kata-kata gadis cilik itu. Tahulah dia bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan anak buah Ang-hwa-pai! Seorang tamu agaknya, dan tentu gadis cilik yang juga lihai itu anak seorang tokoh hitam pula. la tersenyum dan menatap mesra ke arah Siu Bi.

“Adik manis, kau adalah batu kumala terbenam lumpur, biar sekelilingmu kotor kau tetap cemerlang! Tentu saja, aku berjanji, rohku akan rela kalau setelah aku mati, pedang ini menjadi milikmu. Tapi sayangnya, aku takkan mati, Adik manis. Dan kelak akan tiba saatnya aku membalas kebaikanmu ini!”

Sernentara itu, Ang-hwa Nio-nio marah sekali, “Siu Bi, kau….. kau lancang dan tolol! Setelah berkata demikian ketua Ang-hwa-pai ini menerjang dengan pedangnya. Sinar merah berkelebat ketika pedangnya, pedang pusaka ampuh yang sudah direndam racun kembang merah dan diberi nama sesuai pula, yaitu Ang-hwa-kiam, digerakkan menusuk ke depan. Pada saat yang sama, empat ekor ular juga sudah menerjang dari belakang, menggigit ke arah kaki Cui Sian.

Akan tetapi, setelah kini Liong-cu-kiam berada di tangannya, Cui Sian seakan-akan menjadi seekor harimau betina yang tumbuh sayap. Sinar putih berkilat-kilat menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam di tangannya beraksi. Pedang pusaka ampuh ini sudah menangkis Ang-hwa-kiam dan tenaga benturan itu ia manfaatkan dengan cara mengayun pedang ke belakang sambil mengubah kedudukan kaki dari kuda-kuda melintang menjadi kuda-kuda membujur. Tenaga benturan membuat Liong-cu-kiam bergerak cepat mengeluarkan suara. “Cring!” dan….. empat ekor ular yang menyerang dari belakang tubuhnya itu telah terbabat buntung menjadi delapan potong!

“Hebat…..!” Siu Bi bengong-bengong kagum tiada habisnya. Indah sekali gerakan itu dan ia maklum bahwa dengan pedang pusaka di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan lawan berat dan ia sendiri rnasih sangsi apakah ia dengan Cui-beng-kiam akan dapat mengimbangi kesaktian nona cantik langsing ini.

“Kenapa kau membantunya…..?”

Siu Bi menengok dan alisnya berkerut melihat bahwa yang mengeluarkan pertanyaan dengan suara ketus itu bukan lain adalah Ouwyang Lam. Pemuda itu berdiri dengan pedang terhunus, sikapnya mengancam, Siu Bi mengedikkan kepalanya. “Siapa membantunya? Aku tidak sudi membantu sahabat baik musuh besarku, akan tetapi aku pun tidak sudi membantu kecurangan, biarpun yang curang adalah teman sendiri. Kau mau apa?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: