Jaka Lola ~ Jilid 12

“Aku lalu menyimpan saputangan pem-bungkus rambutmu ini yang….. eh, yang harum baunya tapi ternoda darah….. tadinya kusangka darahmu…..”

“Bukan darahku. Kupukul seorang penjahat sampai berdarah. Ketika aku pingsan, agaknya dia mengambil saputangan itu dan menggunakannya untuk mengusap darahnya…..”

“Celaka…..” pikir Yo Wan dari hidungnya dikernyitkan, alisnya berkerut.

“Eh, kenapa kau? Mukamu seperti….. Seperti monyet kalau begitu!”

Yo Wan tidak menjawab, hanya cem-berut. Celaka, pikirnya. Teringat dia betapa kadang-kadang dia menciumi saputangan berdarah itu, mengira itu darah Siu Bi. Kiranya darah penjahat. Pantas baunya tak sedap’.

“Sudahlah, saputanganku itu boleh kau miliki, teruskan omonganmu. Sampai di sini aku belum melihat kesalahan-kesalahan.”

Belum ada kesalahan? Kesalahan besar yang patut diberi hukuman tamparan tiga kali, pikir Yo Wan. “Aku mengejar terus sampai berhenti di pinggir Sungai Fen-ho. Di sana aku dihadang oleh bajak sungai. Kukalahkan tiga orang itu, kutangkap seorang dan kupaksa mengaku. Dari bajak itulah aku tahu bahwa kau menjadi tawanan Ang-hwa-pai dan dibawa ke Ching-coa-to. Aku lalu melakukan pengejaran, akan tetapi karena aku belum mengenal jalan dan di sepanjang jalan harus berhenti untuk bertanya-tanya, maka tentu saja bajak itu sampai ke Ching-coa-to lebih dulu.”

“Stop dulu! Awas, apakah kau di bagian ini tidak membohong? Agaknya kau di jalan bertemu dengan Cui Sian dan itulah yang menyebabkan kau terlambat datang.”

“Tidak sama sekali!”

“Kalau tidak, bagaimana bisa begitu kebetulan? Nah, lanjutkanlah,
“Ketika mendarat di Ching-coa-to, aku sama sekali tidak tahu bahwa di situ ada Cui Sian, malah aku tak pernah kenal siapa dia. Yang kukhawatirkan tentu saja kau, karena aku menyusul tergesa-gesa ke Ching-coa-to adalah karena hendak menolongmu.”

“Hemmm…..” Siu Bi menggerakkan mulut mengejek tanda tak percaya. “Teruskanlah…..” kata-kata ini membayang-kan bahwa ia amat tertarik. Diam-diam Yo Wan geli hatinya.

“Tapi, ketika aku tiba di tempat pertempuran, aku melihat hal yang amat aneh dan sama sekali di luar dugaanku.”

“Apa itu?”

“Eh, kulihat kau yang kukhawatirkan setengah mati itu sedang berdampingan dengan seorang pemuda tampan dan ganteng, sama sekali kau tidak ditawan, apalagi terancam! Sekali pandang saja aku maklum bahwa kau memang tidak membutuhkan pertolongan, maka perhatianku lalu tertarik oleh keadaan Cui Sian yang terancam bahaya maut. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan orang-orang

jahat menyiksa orang seperti itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Karena maklum bahwa berlama-lama di sana akan berbahaya, aku lalu membawa pergi Cui Sian yang masih pingsan, melarikan diri dengan perahu meninggalkati Ching-coa-to.”

“Tanpa pedulikan aku lagi, ya?”

“Lho, kau kan tidak apa-apa! Aku tidak merasa khawatir meninggalkan kau di sana karena agaknya kau tidak bermusuhan dengan orang-orang Ang-hwa-pai.”
“Hemmm, tapi kau bilang tidak kenal Cui Sian, padahal setelah kau dan dia berada di sini, kalian bicara kasak-kusuk begitu mesra. Kau menyebutnya moi-moi segala!”

Yo Wan tersenyum dan mukanya menjadi merah. Benar-benar gadis ini belum mengenal sungkan, bicara dengan blak-blakan tanpa malu dan sungkan lagi, malah dia yang menjadi jengah dan untuk sejenak tak mampu menjawab.

“Pringas-pringis! Hayo beri keterangan, bagaimana? Atau, barangkali kau bohong ketika bilang tidak mengenal dia?”

“Begini, Nona…..”

“Huh, aku lebih dulu kaukenal, masin kau sebut nona-nona segala. Dia baru saja kau jumpai, sudah kau sebut moi-moi. Coba pikir, bukankah hal ini amat memanaskan perut?”

Senyum Yo Wan melebar. Benar-benar seperti anak kecil. “Kalau begitu, biar kusebut kau moi-moi. Aku tadinya takut menyebut kau moi-moi, kau begitu galak sih.”

“Siapa kegilaan dengan sebutanmu? Teruskan.”

“Begini sebenarnya. Ketika aku menolong Cui Sian, aku benar-benar tidak mengenal dia, dan aku menolong hanya karena tidak dapat berdiam diri saja melihat seorang wanita muda terancam maut. Akan tetapi setelah kami berdua bercakap-cakap, baru aku tahu bahwa dia itu adalah seorang temanku bermain ketika kami masih kecil. Ketika itu dia baru berusia tiga empat tahun, dan aku berusia enam tujuh tahun. Tentu sa]a pertemuan yang tak terduga-duga itu menggembirakan dan kami bicara tentang masa lalu.”

Siu Bi mengangguk-angguk, wajahnya agak berseri, tidak marah lagi seperti tadi.

“Dan kalian kasak-kusuk? Bicara tentang diriku, ya?”

“Tapi kami tidak bicara buruk. Cui Sian bukan macam gadis yang suka memburukkan orang lain.”

“Aku tahu. Dia gagah perkasa memang. Tapi….. tapi dia sahabat Pendekar Buta. Dan kau…..!” Tiba-tiba Siu Bi berdiri, “Kau juga hendak membela Pendekar Buta? Kenapa? Kau siapa? Apamukah Pendekar Buta itu?”

“Eeittt, sabar dan tenanglah. Aku sama sekali tidak membelanya. Dengar baik-baik, Siu Bi Moi-moi. Aku mencegah kau memusuhi Pendekar Buta, sama sekali bukan dengan maksud lain kecuali untuk mencegah kau menghadapi bahaya maut. Kau tahu, Pendekar Buta adalah seorang yang teramat sakti, tak terkalahkan, dan mempunyai banyak sekali sahabat-sahabat di dunia ini, sahabat-sahabat yang sakti-sakti pula. Maka, harap kau jangan sembarangan bicara dan ingat baik-baik lebih dulu sebelum memusuhinya, karena hal itu teramat berbahaya bagi keselamatanmu.”

Sejenak Siu Bi termenung, kemudian matanya bersinar dan ia menyimpan pe-dangnya. Yo Wan menarik napas panjang, dadanya lapang.

“Yo-twako….. nah, aku pun menyebut-mu Yo-twako, seperti Cui Sian tadi. Yo-twako…..”

“Hemmm”.

“Waduh, kau senang ya kusebut Yo twako?”

“Tentu saja senang, Bi-moi. Kau hendak berkata apa tadi?”

“Yo-twako, apakah kau suka kepadaku?”

Yo Wan tersentak kaget. Benar-benar gila! Mana ada seorang gadis bertanya tentang hal ini seperti orang bertanya tentang perut lapar atau tubuh lelah saja. Begitu biasa dan sederhana! Begitu langsung dan terus terang. Apakah tidak luar biasa?

“Tentu saja, Bi-moi. Aku….. aku….. suka kepadamu.”

“Betul? Tidak bohong? Jangan-jangan di mulut bilang begitu, di hati berbunyi lain!”

“Sungguh mati, Bi-moi. Aku suka padamu, suka betul, tidak main-main dan tidak bohong!”

“Betul suka? Dan kau. mau menolongku, mau membantuku?”

“Tentu saja!”

Siu Bi memegang kedua tangan Yo Wan dan meloncat-loncat kecil seperti orang menari, wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar, kedua pipinya merah, bi-birnya yang manis dan merah membasah itu agak terbuka, terhias senyum. Bukan main cantik manisnya, membuat Yo Wan terpesona dan tubuhnya serasa dingin,

“Yo-koko yang haik, koko yang perkasa. Terima kasih! Aku pun suka sekali padamu! Yo-twako, mari kaubantu aku mencari Pendekar Buta untuk membuat perhitungan, membalas sakit hati kakek Hek Lojin!”

Serasa disambar geledek kepala Yo Wan. Mampus kau sekarang! Mau rasanya dia menggejil (memukul dengan buku jari) Kepalanya sendiri. Mampus kau si sembrono! Cih terbujuk dan tertipu oleh kanak-kanak! Ingin dia marah marah kepada diri sendiri, marah kepada Siu Bi. Akan tetapi dia tidak tega memarahi dara yang begini gembira-ria dan bahagia. Ia harus berlaku cerdik. Boleh juga membohong demi keselamatan hubungan mereka, demi kesenangan Siu Bi.

“Tentu saja aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi. Akan tetapi, mari kita duduk dulu dan kauceritakan kepadaku riwayat hidupmu. Siapakah kakekmu yang bernama Hek Lo]in itu? Dan mengapa kau memusuhi Pendekar Buta? Kemudian, kau juga belum ceritakan bagaimana kau yang tadinya terculik oleh anggauta Ang-hwa-pai itu bisa bebas dan kelihatannya tidak dimusuhi lagi di Ching coa to”.

Siu Bi duduk diatas rumput wajahnya masih berseri. “Kau baik sekali, Yo-twako. Aku sekarang takkan marah lagi padamu. Maafkan kelakuanku yang sudah-sudah, ya?”

Yo Wan terharu. Seorang gadis yang baik, baik sekali pada dasarnya. Kasihan, agaknya tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya di waktu kecil.

“Tidak ada yang dimaafkan, adikku. Kau seorang gadis yang baik sekali.”

“Sebetulnya aku tidak suka menceritakan riwayatku kepada siapapun juga, Twako. Akan tetapi kepadamu….. lain lagi.”

Aduhhhhh, jantung Yo Wan serasa cesssss….. direndam air es. la meman-dang wajah itu dan sepasang matanya seakan-akan bergantung kepada bibir yang bergerak-gerak lincah.

“Aku mau ceritakan semua, akan tetapi kau harus berjanji akan memberi pelajaran ilmu silat kepadaku, Twako.”

“Ilmu silat? Tapi…… ilmu silatmu sudah hebat sekali!”

“Hebat apanya? Cara kau menghindarkan pedangku tadi. Bukan main! Aku ingin kau mengajarkan aku cara mengelak seperti itu, Twako.”

Yo Wan kaget, Si-cap-it Sin-po atau ilmu langkah ajaib itu dia pelajari dari Pendekar Buta! Mana boleh diajarkan kepada orang lain, apalagi kepada orang yang berniat memusuhi Pendekar Buta? Tapi dia segera mendapat sebuah pikiran yang cerdik dan bagus, maka dia mengangguk. “Baiklah, nanti kuajarkan itu kepadamu!”

Siu Bi mulai dengan ceritanya secara singkat. “Aku anak tunggal seorang janda, sampai sekarang aku tidak tahu siapa ayahku karena ibu merahasiakannya. Aku diambil anak ayah angkatku, juga aku menerima pelajaran dari kakek guruku, yaitu Hek Lojin. Semenjak kecil aku belajar silat di Go-bi-san dan kakek Hek Lojin ainat sayang kepadaku. Dia ke-hilangan lengannya, buntung sebatas siku kiri, dibuntungi Pendekar Buta ketika bertempur melawannya. Karena kakek amat baik kepadaku, dia menurunkan semua ilmunya kepadaku dan aku telah bersumpah sebelum dia meninggal dunia bahwa aku pasti akan mencari Pendekar Buta dan membalaskan dendam hatinya dengan jalan membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya.”

“Mengapa kakekmu bertempur dengan Pendekar Buta? Apakah dia tidak menceritakan kepadamu sebab-sebabnya sehingga kau dapat mengerti apakah sebetulnya kesalahan Pendekar Buta terhadap kakekmu?” Dengan hati-hati dan secara berputar, Yo Wan bertanya dengan maksud mengingatkan gadis ini bahwa tidak baik mengancam hendak membuntungi lengan orang-orang tanpa mengetahui kesalahan mereka yang sesungguhnya.

Akan tetapi dia keliru. Siu Bi menggerakkan alisnya yang hitam panjang dan kecil seperti dilukis. “Apa peduliku tentang itu? Bukan urusanku! Urusan antara mendiang kakek dan Pendekar Buta, tiada sangkut-pautnya dengan aku. Urusanku dengan Pendekar Buta hanya untuk membalaskan sakit hati kakek yang telah dibuntungi lengannya, tentu saja berikut bunganya karena kakek sudah menderita puluhan tahun lamanya. Adapun bunganya edalah lengan isteri dan anak Pendekar Buta.”

Jawaban ini membuat Yo Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik ,napas panjang.

“Eh, kau tidak setuju? Bukankah kau bilang hendak membantuku menghadapi mereka?”

Cepat Yo Wan menjawab. “Memang, aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi. Akan tetapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa tugasmu itu sama sekali bukanlah hal yang mudah dilaksanakan. Pendekar Buta Kwa Kun Hong adalah seorang pendekar besar yang amat sakti. Isterinya pun memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga puteranya. Mereka bertiga merupakan keluarga yang sukar sekali dilawan, apalagi dikalahkan secara yang kaukatakan tadi, membuntungi lengan mereka. Wahhh, hal ini kurasa takkan mungkin dapat kaulakukan.”

“Hemmm, Yo-twako, kenapa kau begini kecil hati dan penakut? Aku sih sama sekali tidak takut! Apalagi ada kau di sampingku yang akan membantuku, Menghadapi iblis-iblis dari mereka pun aku tidak takut! Kau tidak usah khawatir, Twako. Kalau kita sudah berhadapan dengan mereka, biarkan aku menghadapi mereka sendiri. Kau tidak usah turut campur atau turun tangan. Terserah ke-padamu apakah kau mau membantuku kalau melihat aku kalah oleh mereka. Aku hanya minta kautemani aku ke Liong-thouw-san. Bagaimana?”

Yo Wan merasa kasihan sekali dan tidak tega hatinya untuk menolak. Benar-benar seorang gadis yang patut dikasihani. Tidak tahu siapa ayahnya! Adakah ke-nyataan yang lebih pahit daripada ini?

“Bi-moi, aku sendiri merasa heran mengapa ibumu merahasiakan siapa ada-nya ayahmu. Akan tetapi, siapakah itu ayah angkatmu?”

“Dia suami ibu!”

“Ah…..!” Tak dapat Yo Wan menahan seruannya ini, karena memang sama sekali tak disangka-sangkanya. Melihat gadis itu memandang tajam karena seruan kagetnya, dia cepat-cepat menyambung. “Kalau begitu, dia itu bukan ayah angkatmu, melainkan ayah tirimu. Begitukah?”

Siu Bi mengangguk, lalu terus menundukkan mukanya. Betapapun juga, hatinya tertusuk dia merasa sakit. Semenjak kakeknya terbunuh oleh The Sun dan ia mendengar bahwa orang yang selama itu ia anggap ayahnya ternyata bukan ayahnya sejati, timbul rasa tak senang, bahkan benci kepada diri ayah tirinya itu.

“Benar, dia itu ayah tiriku, namanya The Sun. Selama ini aku memakai she The, padahal bukan….. eh, kau kenapa? Ketika mengangkat muka memandang, Siu Bi melihat betapa Yo Wan melompat berdiri tegak, mukanya pucat sekali dan sepasang matanya memandang kepadanya, dengan terbelalak. Cepat ia menghampiri dan hendak memegang pundak pemuda itu sambil berkata gemas, “Yo-twako, kau kenapa? Sakitkah kau?”

“Tidak….. tidak….. jangan sentuh aku!” tenak Yo Wan sambil melompat muncur.

“Yo-twako, kenapakah … ?” Siu Bi benar-benar gelisah melihat keadaan Yo Wan yang seperti tiba-tiba menjadi gila itu.

“Kenapa?” suara Yo Wan parau dan tiba-tiba dia tertawa tapi seperti mayat tertawa. “Huh-huh-huh kenapa katamu Ayah tirimu, The Sun itu adalah pembunuh ibuku!” Setelah berkata demikian, Yo Wan berkelebat dan sebentar saja dia sudah lenyap dari depan Siu Bi. Gadis ini tercengang, berusaha mengejar, akan tetapi hatinya sendiri terlampau tegang sehingga kedua kakinya menjadi lemas. la berusaha memanggil, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Kemudian ia bersungut-sungut dan berbisik lirih, penuh kemarahan dan kegemasan.

“The Sun, kau benar-benar telah merusak hidupku…… aku benci padamu….. aku benci…..” dan gadis ini lalu menangis terisak-isak di bawah pohon.

Sementara itu, dengan hati pedih dan perasaan tidak karuan Yo Wan berlari-lari cepat sekali, menjauhkan diri sejauh mungkin dari gadis yang ternyata adalah anak tiri The Sun. Dan anak tiri musuh besarnya yang telah menghina ibunya dan  menyebabkan kematian ibunya ini (baca Pendekar Buta), sekarang bermaksud akan membuntungi lengan suhu dan subonya serta putera mereka!

Tan Kong Bu dan isterinya, Kui Li Eng dengan penuh kebahagiaan menikmati hidup mereka di puncak Min-san. Para pembaca cerita Rajawali Emas tentu sudah mengenal siapa adanya suami isteri pendekar ini, yang keduanya memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi.

Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San, sedangkan isterinya, Kui Li Eng adalah puteri Kui-san-jin ketua Hoa-san-pai. Yang laki-laki putera ketua Thai-san-pai, yang wanita puteri ketua Hoa-san-pai. Tentu saja mereka merupakan pasangan yang hebat. Akan tetapi, suami isteri ini lebih suka bersunyi diri, menjauhkan keramaian dunia, memperdalam ilmu dan menerima belasan orang murid di Min-san sehingga kelak terkenal munculnya sebuah partai persilatan baru, yaitu Min-san-pai.

Biarpun belasan orang anak murid Min-san-pai merupakan anak-anak pilihan yang berbakat sehingga rata-rata mereka itu dapat mewarisi kepandaian yang diturunkan oleh kedua suami isteri pendekar ini, namun mereka itu tidak dapat menyamai kemajuan yang diperoleh puteri tunggal guru mereka. Tan Kong Bu dan isterinya memang hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Tan Lee Si. Seorang gadis berusia sembilan belas tahun, cantik dan berwajah agung, berwatak keras seperti ibunya dan jujur seperti ayahnya. Biarpun merupakan anak tunggal, Lee Si tidak biasa dimanja dan ia dapat berdiri dengan teguh di atas kaki sendiri, dalam arti kata segala sesuatu ingin ia putuskan dan laksanakan sendiri sehingga biarpun masih amat muda, namun ia telah mempunyai pandangan luas dan ketabahan yang luar biasa.

Ilmu silat yang dimiliki Lee Si memang aneh, merupakan percampuran dari ilmu kedua orang tuanya. Ayahnya, Tan Kong Bu, memiliki ilmu warisan dari mendiang Song-bun-kwi Kwee Lun terutama sekali Ilmu Silat Yang-sin-kun! Adapun ibunya, Kui Li Eng, mewarisi ilmu silat aseli dari Hoa-san-kun. Karena ia menerima gemblengan dari ayah bundanya, maka Lee Si tentu saja faham akan kedua ilmu itu, malah kedua ilmu yang sudah mendarah daging di tubuh dan urat syarafnya itu telah bercampur dan terciptalah ilmu silat campuran yang aneh dan lihai. Ayahnya memberi hadiah sebatang pedang yang bersinar Kuning, sebuah pedang pusaka ampuh yang bernama pedang Oei-kong-kiam. Adapun ibunya, seorang ahli senjata rahasia Hoa-san-pai, setelah melatih puterinya dengan ilmu senjata rahasia, menghadiahi sekantung gin-ciam (jarum perak). Tidak sembarang ahli silat mampu mempergunakan gin-ciam ini, karena jarum-jarum itu amatlah lembutnya, jika dipergunakan hampir tidak mengeluarkan suara dan sukar diikuti pandangan mata. Cara menggunakan harus mengandalkan sinkang dan latihan yang masak.

Pada suatu pagi yang cerah, Lee Si berlatih ilmu silat pedang di dalam ke-bun di belakang rumahnya. Sejak kemarin ia melatih jurus campuran dari Yan-sin-kiam jurus ke delapan dengan Hoa-san-kiam-sut jurus ke lima. Kedua jurus ini mempunyai persamaan, akan tetapi me-ngandung daya serangan yang amat berlainan sehingga kalau kedua Jurus ini dapat dikawinkan, akan merupakan jurus yang ampuh. Akan tetapi Lee Si menemui kesulitan. Tiap kali ia mainkan kedua jurus ini dalam gerakan campuran, ia merasakan dadanya sesak. Beberapa kali sudah ia mencoba dan akhirnya ia menyarungkan pedangnya di punggung, lalu berdiri tegak dan mengumpulkan napas, suatu ilmu berlatih napas secara aneh yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengerahkan tenaga Yang-kang. Beberapa menit kemudian ketika sesak pada dadanya sudah lenyap, ia meinbuka matanya dan menarik napas panjang. Pada saat itu terdengarlah suara orang perlahan,

“Anak baik, mengapa kau tidak mencoba dengan barengi cara Pi-ki-hu-hiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah)? Jurusmu terlalu kacau dan berbahaya, kalau diulang-ulang bisa membahayakan diri sendiri.”

Lee Si menengok dan tampaklah olehnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun kurang lebih duduk berjongkok di atas tembok kebun. Orang itu dapat berada di sana tanpa ia ketahui sudah membuktikan bahwa dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi. Lee Si berpemandangan luas, biarpun hatinya tak senang ada orang tak terkenal berani menegur dan malah memberi nasehat kepadanya yang berarti bahwa orang itu mernandang rendah, namun ia dapat menekan perasaannya dan berkata,

“Orang tua, siapakah kau dan apa perlunya kau berada di sini mengintai orang?”

Laki-laki itu tersenyum dan wajahnya yang tenang itu berseri. “Aku adalah sahabat baik ayahmu, sengaja datang ke Min-san. Kebetulan tadi aku mendengar sambaran angin pedangmu, membuat aku tertarik sekali dan secara lancang menonton. Gerakan-gerakanmu menyatakan bahwa kau tentulah puteri Kong Bu.”

Keterangan ini dapat diterima, akan tetapi karena Lee Si belum pernah bertemu dengan orang ini dan sering kali ia mendengar dari ayah bundanya bahwa mereka dahulu banyak dimusuhi orang-orang jahat di dunia kang-ouw, maka ia tetap menaruh curiga. ‘”Maaf, Lopek (Paman Tua), kalau memang kau adalah seorang tamu dari ayah, mengapa tidak langsung masuk dari pintu depan? Sebelum bertemu dengan ayah, maaf kalau saya tidak berani inelayanimu lebih jauh.”

Orang itu tertawa. “Ha-ha-ha, bagus sekali! Puteri Kong Bu benar-benar seorang yang hati-hati dan tidak sembrono. Ketahuilah, anak baik, aku datang dari Thai-san. Beritahukan ayahmu bahwa….. ah, itu dia sendiri datang!”

Lee Si menengok dan kagumlah ia akan kelihaian orang tua itu. Benar saja bayangan ayahnya berkelebat keluar dari pintu belakang. Begitu ayahnya melihat laki-laki yang berjongkok di atas pagar tembok, ia tercengang sejenak, kemudian terdengar dia berseru girang,

“Haiii….. bukankah suheng (kakak , seperguruan) Su Ki Han yang datang berkunjung?” Suara Kong Bu keras dan nyaring. Pendekar ini biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, masih tampak muda dan gagah. la tertawa dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berada di dalam kebun. Tak lama kemudian berkelebat bayangan yang gesit dari seorang wanita cantik.

“Lihat siapa yang datang berkunjung ini!” Kong Bu berseru.

Wanita itu berdiri memandang, lalu tersenyum manis dan sepasang matanya yang masih bening itu bersinar-sinar. “Ah, kiranya seorang tamu agung dari Thai-san!” Kui Li Eng wanita ini, juga berlompatan dalam kebun.

Lee Si menjadi girang sekali la cepat memberi hormat kepada laki-laki yang sudah melompat turun dari atas pagar tembok dan kini berpelukan dengan Kong Bu itu. “Sudah lama saya mendengar nama Supek, harap maafkan kekurangajaran saya tadi.”

“Wah, kau anak nakal. Apakah kau sudah berlaku kurang ajar kepada Su-suheng?” bentak Kong Bu.

“Eh, jangan galak-galak, Sute. Dia anak baik, baik sekali, sama sekals tidak nakal atau kurang ajar. Malah aku yang tidak tahu diri, menerobos memasuki rumah orang melalui kebun belakang seperti maling dan mulutku yang gatal ini berani memberi komentar atas latihannya bermain pedang.”

“Bagus sekali! Hayo cepat kauhaturkan terima kasih kepada Supekmu atas petunjuknya yang berharga!” kata Li Eng kepada puterinya.

Lee Si kembali menjura dengan hormat. “Supek, saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Supek tadi yang tentu akan saya coba dan saya perhatikan.”

Su Ki Han menggoyang-goyang kedua tangannya ke atas. “Wah-wah, kalian ini memang orang-orang yang berjiwa satria, pandai merendah diri. Pantas saja anak ini demikian maju dan hebat kepandaiannya, kiranya bermodal sikap merendahkan diri yang amat baik untuk mencapai kemajuan! Petunjukku tadi belum tampak buktinya, belum juga dicoba, bagaimana sepatut ditebus dengan ucapan terima kasih?”

“Supek, sesungguhnya sudah berhari-hari saya bingung menghadapi dua jurus yang hendak saya satukan itu, belum menemui jalan pemecahannya. Malah dada saya terasa sesak bernapas.”

“Kau memang bandel!” Kong Bu mencela puterinya. “Ilmu silatku dan ilmu silat Ibumu semenjak dahulu memang berlawanan, sudah berkali-kali Ibumu dan aku bertanding, selalu tiada yang menang tiada yang kalah. Bagaimana bisa kau satukan?”

“Ayah dan Ibu buktinya bisa bersatu, mengapa ilmunya tidak bisa?”

“Eh, anak gila…..!” Li Eng berseru dengan muka menjadi merah sekali.

“Ha-ha-ha, anak kalian ini rnemang benar. Biarpun ilmu silat itu berlawanan sifatnya, namun bukan tak mungkin dapat disatukan, asal pandai mengaturnya. Sifat Im dan Yang memang berlawanan inilah yang menjadikan segala apa di duma ini. Bukankah dalam kitab Ya-keng disebut bahwa IT IM IT YANG WI CI TO (sebuah Im dan sebuah Yang, itulah disebut TO)? Kekuasaaan alam bekerja dengan dasar Im Yang dua unsur berlawanan yang saling menarik, juga saling menolak, saling menghancurkan, juga saling menghidupkan. Dengah adanya perpaduan Im dan Yang, barulah tercipta Ngo-heng, sari pati SUI HO BOK KIM THO (air-api-kayu-logam-tanah). Cara kerja Ngo-heng pun berdasarkan Im dan Yang, sa-ling menghidupkan dan saling mematikan. AIR menghidupkan KAYU, KAYU meng-hidupkan API, API menghidupkan TANAH, TANAH menghidupkan LOGAM, dan LOGAM menghidupkan AIR. Sebaliknya, AIR mematikan API, API mematikan LOGAM, LOGAM mematikan KAYU, KAYU mematikan TANAH, dan TANAH mematikan AIR. Tentu saja arti kata menghidupkan boleh diganti menghasilkan, sedangkan mematikan boleh memusnahkan atau memakan habis. Wah, aku jadi ngacau terus….. ha-ha-ha!”

“Bagus, bagus, Supek. Saya mulai dapat menangkap rahasia Im dan Yang!” teriak Lee Si sambil bertepuk tangan kegirangan.

“Supekmu adalah murid tertua dari kakekmu, tentu saja dia telah mewarisi Ilmu Im-yang-sin-hoat,” kata Kong Bu tersenyum.

Kembali sambil tertawa Su Ki Han mengangkat kedua lengannya ke atas menolak pujian itu. “Tentang ilmu kepandaian silat, mana bisa aku dibandingkan dengan Ayah dan Ibumu? Anak baik kalau belajar ilmu silat, ayah bundamu inilah gurunya. Kalau mempelajari teori tentang Im Yang, mungkin aku akan dapat memberi penjelasan. Karena tadi kulihat bahwa gerakanmu dalam mempersatukan dua jurus itu mengandung hawa Im dan Yang, dua hawa yang berlawanan, maka kau gagal dan inilah merasa sesak dadamu. Satu-satunya cara untuk mengatasinya hanya dengan Pi-ki-hu-hiat, karena dengan demikian, kau akan dapat mengatur kedua hawa yang bertentangan itu dengan teratur dan bergiliran sehingga dapat menghasilkan jurus yang lihai dan sukar diduga iawan.”

“Lee Si, setelah mendapat petunjuk dari Supekmu, kenapa tidak segera dicoba agar kalau ada kekurangannya dapat minta penjelasan lagi?” kata Li Eng ke-pada puterinya. Ibu yang amat mencinta puterinya ini tentu saja menggunakan setiap kesempatan untuk kepentingan dan keuntungan puterinya.

“Sing…..!” Sinar kuning berkelebat ketlka Lee Si mencabut pedang Oei-kong-kiam. “Supek, mohon petunjuk Supek kalau ada kekeliruan,” katanya dan sekali lagi, seperti yang telah ia lakukan di luar tahu ayah bundanya selama beberapa hari ini tanpa hasil, ia bersilat mainkan jurus yang digabung itu. la mentaati petunjuk Su Ki Han dan sambil bersilat ia mengerahkan Ilmu Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah. Gerakan kedua jurus itu ia satukan dan…… ia berhasil melakukannya dengan baik.

“Eh, seperti Yang-sin-kiam jurus ke delapan!” seru Kong Bu.

“Tidak, seperti jurus ke lima dari Hoa-san Kiam-sut'” seru Li Eng.

Dengan girang sekali Lee Si meng-hentikan gerakannya dan bersorak, “Aku berhasil! Ayah, Ibu, memang itu tadi jurus ke delapan dari Yang-sin-kiam di-gabung dengan jurus ke lima dari Hoa-san Kiam-sut’. Supek, terima kasih.” Mereka tertawa-tawa dengan girang.

“Wah, kita ini tuan dan nyonya rumah macam apa?” Kong Bu tiba-tiba berseru mencela diri sendiri dan isterinya “Ada tamu agung datang, bukan lekas-lekas disambut dan dijamu, malah direpotkan dengan anak kita. Inilah kalau kita terlalu memanjakan anak!”

“Ah, di antara saudara sendiri, mana ada aturan sungkan-sungkan segala macam?” Su Ki Han membantah. Akan tetapi dia segera mengikuti mereka memasuki rumah di mana pemilik rumah cepat menyuguhkan minuman dan me-nanyakan keselamatan ayah bunda me-reka di Thai-san. Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San dan mendiang Kwee Bi Goat. Nyonya Tan Beng San yang pekarang, yaitu Cia Li Cu ibu Tan Cui Sian adalah ibu tirinya.

“Keadaan suhu dan subo (ibu guru) sehat-sehat dan selamat. Juga Thai-san-pai makin berkembang, tidak pernah terjadi hal-hal yang buruk.”

“Supek, kenapa bibi Cui Sian tidak ke si-ni? Saya sudah kangen betul. Sepuluh tahun sudah tak pernah bertemu dengannya. Tentu dia lihai sekali dan cantik jelita, ya?”

“Karena bibimu itulah maka hari ini aku berada di sini. Sumoi sudah sebulan lebih turun gunung ketika datang putera Bun-goanswe yang mengabarkan bahwa ada anak murid Hek Lojin yang mencari-cari Pendekar Buta untuk membalas dendam. Malah putera Jenderal Bun itu pun menceritakan adanya sekawanan penjahat yang bernama Ang-hwa-pai, berpusat di Pulau Chong-coa-to dipimpin oleh Ang-hwa Nio-nio dan banyak orang sakti lainnya, juga mengumpulkan tenaga untuk menyerbu Liong-thouw-san. Putera Jenderal Bun itu dalam perjalanannya ke Liong-thouw-san untuk memberi kabar, dan dia sengaja mampir ke Thai-san, seperti yang dipesankan oleh ayahnya. Mendengar berita ini, suhu menjadi tidak enak hatinya. Permusuhan berlarut-larut yang kini mengancam keselamatan keluarga Pendekar Buta sebetulnya terjadi karena suhu, sedangkan Pendekar Buta, Kwa-taihiap, hanya membantu suhu. Maka aku lalu disuruh turun gunung, mencari sumoi untuk bersama-sama pergi ke Liong-thouw-san, bila perlu membantu Kwa-taihiap menghadapi musuh-musuh yang menyerbu.”

Mendengar ini, Kong Bu malah tertawa. “Ah, ayah terlalu mengkhawatirkan keselamatan Kwa Kun Hong, sungguh lucu! Suheng, di jaman ini, siapakah orang-nya yang akan mampu mengalahkan Pendekar Buta dan isterinya? Kalau ada yang sakit hati dan ingin membalas dendam, biarkan mereka itu pergi menandingi Pendekar Buta, biar mereka tahu rasa. Ingin aku melihat mereka itu seorang demi seorang dirobohkan.”

“Paman Hong, biarpun sudah buta, penjahat-penjahat itu akan dapat berbuat apakah terhadapnya? Akan tetapi, ayah mertua benar juga. Adik Cui Sian akan mendapat pengalaman yang amat berharga kalau dia sempat menyaksikan paman Kun Hong menghajar para penjahat yang hendak rnenyerbu ke Liong-thouw-san.” Ucapan Li Eng ini disertai suara mengandung kebanggaan. Kwa Kun Hong terhitung pamannya, seperguruan, maka ia patut berbangga akan kelihaian dan ketenaran nama pamannya.

Su Ki Han tersenyum mendengar kata-kata suami isteri ini. Ternyata mereka ini masih sama dengan dahulu, tabah, berani dan gagah perkasa, juga jujur kalau bicara. Suami isteri yang cocok sekali, pantas mempunyai puteri sehebat Lee Si.

“Memang tak dapat disangkal bahwa Kwa-taihiap memiliki kepandaian yang sakti. Suhu sendiri sering kali memuji-mujinya, apalagi karena sumber ilmu kepandaian Kwa-taihiap dan suhu adalah sama, yaitu dari kitab pusaka Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi menurut suhu, sekarang banyak bermuncullan orang-orang sakti di dunia hitam, apalagi yang datang dari barat dan utara. Kaisar sendiri sampai bersusah payah dalam usahanya memperkuat dan memperbaiki Tembok Besar untuk mencegah perusuh dari barat dan utara. Namun, banyak tokoh-tokoh sakti mereka itu berhasil menerobos masuk dan selain melakukan penyelidikan untuk mengukur keadaan, juga mereka banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh hitam di sini. Karena itulah, menurut suhu, sudah tiba saatnya kita semua harus bangkit, siap sedia membela negara dan bangsa menghadapi mereka itu. Pada saat ini, agaknya pribadi Pendekar Buta menjadi pusat perhatian para tokoh hitam yang banyak menaruh dendam. Maka, Kwa-taihiap boleh diumpamakan sebagai umpan untuk memancing datang tokoh-tokoh itu dan kita harus mernbantunya nnembasmi mereka agaK negara bersih daripada gangguan mereka. Bagaimana pendapat, Sute?”

Kong Bu mengangguk-angguk. “Ayah, selalu berpemandangan luas. Tentu saja kami di sini, biarpun hanya terdiri daripada kami bertiga dan beberapa belas, anak murid yang kaku dan bodoh, selalu siap membantu apabila diperlukan.”

“Bagus!” Li Eng menyambung. “Belasan tahun pedangku tinggal bersembunyi di dalam sarungnya, membuat aki menjadi malas. Berilah aku lawan yang jahat dan kuat, dan kegembiraan lama akan timbul kembali!”

“Wah-wah, kau kambuh lagi? Apa tidak takut ditertawai anakmu? Kita sudah tua, tidak perlu menonjolkan semangat seperti di waktu muda.” Kong Bu menggoda isterinya.

“Ayah, aku setuju dengan Ibut Ibu gagah dan bersemangat, mengapa dicela? Dan aku percaya, kalau Ibu ikut terjun, segala macam penjahat itu mana berani menjual lagak?” Lee Si membela ibunya.

Su Ki Han tertawa bergelak. “Anak baik, kalau Ibumu tidak begitu bersemangat dan gagah perkasa, mana bisa menjadi isteri Ayahmu? Sute berdua, kedatanganku ke sini, seperti telah kukatakan tadi, adalah mencari sumoi. Tadinya kusangka bahwa sumoi tidak mengunjungi kalian. Apakah sumoi tak pernah datang ke sini?”

“Tidak, Su-suheng.”

“Heran sekali, ke mana dia pergi? Apakah ke Lu-liang-san, ke rumah sute Tan Sin Lee? Ataukah ke Hoa-san-pai? Dalam penyelidikanku, pernah dia terlihat di dekat daerah Tai-gaan, malah kabarnya dia telah pergi mengunjungi Pulau Ching-eoa-to! Akan tetapi sekarang dia tidak berada di sana, malah ketika kutanyakan Bun-goanswe, juga tidak singgah di sana.”

“Mana bisa mencari seorang yang sedang merantau? Suheng, lebih baik kau mendahului ke Liong-thouw-san dan menanti di sana. Akhirnya Cui Sian tentu juga akan singgah ke sana.”

“Senang sekali memang melakukan perantauan seorang diri seperti Cui Sian. Dengan sebatang pedang menjelajah seribu gunung, memberi kesempatan kepada pedang untuk menghadapi seribu kesulitan. Wah, kau takkan berhasil mencarinya, Su-suheng. Memang sebaiknya kau menanti di Liong-thouw-san. Kelak kalau dia muncul di sini, tentu akan kuberitahu,” kata Li Eng dengan wajah berseru. Nyonya ini yang dahulunya merupakan seorang gadis yang lincah dan suka sekali merantau, teringat akan masa mudanya dan timbul kegembiraannya.

“Cui Sian tidak seperti kau!” sela Kong Bu.

“Kau dahulu selalu mencari perkara. Kalau semua gadis muda seperti kau akan kacaulah dunia. Ada gadis seperti kau lima saja, pasti dunia kang-ouw akan geger.” Mereka tertawa-tawa lagi. Pertemuan dengan murid kepala Thai-san-pai ini ternyata mendatangkan kegembiraan luar biasa dan mereka bertiga itu bercakap-cakap sambil tertawa-tawa sampai hampir semalam suntuk. Banyak arak dan daging melewati tenggorokan mereka, dan ketiganya tidak memperhatikan lagi betapa sore-sore Lee Si sudah masuk ke kamarnya.

Baru pada keesokan harinya suami isteri ini mendapat kenyatean bahwa ¬†puteri mereka tidak berada di dalam kamarnya dan bahwa pembaringannya tak pernah ditiduri malam itu. Di atas meja dalam kainar Lee Si terdapat kertas bertulisan huruf-huruf halus yang berbunyi, “TURUN GUNUNG MENCARI BIBI CUI SIAN'”.

“Bocah lancang!” seru Kong Bu yang cepat memanggil murid-muridnya yang tinggal di puncak dalam bangunan lain. Para murid yang berjumlah tiga belas orang ini juga tidak ada yang melihat bila Lee Si pergi turun gunung, karena malam hari itu, tahu bahwa suhu dan subo mereka menjamu seorang tamu dari Thai-san, para murid ini tidak berani di dalam bangunan tempat tinggal mereka.

“Mengapa ribut-ribut? Biarkan dia turun gunung mencari pengalaman. Dia bukan anak kecil lagi,” kata Li Eng, tidak puas melihat suaminya seperti seekor ayam kehilangan anaknya.

“Biarpun dia sudah dewasa dan kepandaiannya cukup, tapi dia masih hijau. Dunia banyak sekali orang jahat, bagaimana kalau dia tertimpa bencana?”

“Ah, kau sebagai ayah terlalu memanjakannya! Kalau dia tidak digembleng dengan kesulitan dan bahaya, mana patut menjadi puteri kita?”

Su Ki Han menjadi tidak enak, “Ahhh, akulah gara-garanya. Kalau tidak muncul di sini, agaknya Lee Si tidak akan pergi turun gunung. Biarlah aku minta diri sekaring dan akan kususul dia!”

“Jangan menyalahkan diri, Suheng. Memang sudah lama anak itu ingin sekali turun gunung, tapi selalu ditahan ayahnya. Sekarang ada kesempatan dan ada alasan, yaitu untuk mencari bibinya, Cui Sian, biar sajalah,” kata Li Eng menghibur.

Juga Kong Bu menghibur, menyatakan bahwa bukan kesalahan Su Ki Han yang menyebabkan Lee Si pergi. Akan tetapi Su Ki Han tetap berpamit dan segera turun gunung dengan maksud mengejar Lee Si dan membujuk anak perempuan itu pulang ke puncak Min-san. Atau setidaknya ia dapat mengamat-amati dan menjaganya. Akan tetapi betapapun cepat dia menggunakan ilmunya lari turun gunung, tetap dia tak dapat menyusul Lee Si. Gadis ini bukanlah orang bodoh dan ia pun tahu bahwa ayahnya tidak suka membiarkan ia pergi. Oleh karena itu, malam tadi ia berangkat dengan cepat dan menyusup-nyusup hutan, tidak mau melalui jalan besar.

Karena baru kali ini ia turun gunung dan ia tidak ingin ayahnya dapat mengejar dan memaksanya kembali, ia sengaja turun dari lereng sebelah barat dan sesukanya ia lari tanpa tujuan sehingga tanpa ia sadari, gadis ini melakukan perjalanan menuju ke barat! Dari Pegunungan Min-san ke barat, melalui daerah pegunungan yang tiada habisnya dan beberapa pekan kemudian gadis ini masih belum terbebas dari daerah pegunungan karena ternyata ia telah masuk daerah Pegunungan Bayangkara!

Penduduk dusun di pegunungan adalah orang-orang gunung yang tak pernah meninggalkan daerah pegunungan, maka tak seorang pun yang dijumpainya dapat menerangkannya ke mana jalan menuju Ke Liong-thouw-san atau ke kote raja. Hanya ada dua tempat di dunia ini yang menarik hati Lee Si dan yang mendorong ia turun gunung yaitu pertama di Liong-thouw-san karena ia ingin, sekali berjumpa dengan paman ibunya yang terkenal dengan narna Pendekar Buta, dan ke dua ia ingin sekali menyaksikan bagaimana keadaan kota raja yang namanya pernah didengarnya dari cerita ibunya.

Pada suatu hari, ketika ia menuruni sebuah puncak di Pegunungan Bayangkara dan baru saja keluar dari sebuah hutan, ia mendengar suara aneh. Suara melengking tinggi dan suara seperti seekor katak buduk “bernyanyi” di musim hujan. Sebagai puteri suami isteri pendekar yang berilmu tinggi, ia segera dapat menduga bahwa suara-suara itu tentulah suara yang keluar dari mulut orang-orang sakti yang mengerahkan khikang tinggi. Cepat ia menyusup di antara pepohonan dan mengintai. Betul seperti telah diduganya, dari balik batang pohon ia mengintai dan melihat dua orang laki-laki aneh sedang berhadapan.

Yang melengking tinggi dan nyaring, lebih nyaring daripada lengking suara ayahnya kalau mengerahkan khikang, adalah seorang kakek berjenggot pendek yang tubuhnya amat tinggi, lebih dua meter tingginya. Laki-laki ini berpakaian seperti orang asing, jubahnya berwarna kuning dan kepalanya dibungkus kain sorban warna kuning pula. Telinganya memakai anting-anting dan melihat bentuk hidungnya yang panjang melengkung serta kulitnya yang agak coklat gelap, terang bahwa si jangkung ini adalah seorang asing. Adapun orang ke dua yang memasang kuda-kuda dengan kedua lutut ditekuk setengah berjongkok sambil me-ngeluarkan suara “kok-kok-kok!” seperti suara katak buduk, adalah seorang kakek yang tubuhnya pendek gemuk berkepala gundul, kumis seperti tikus dan jenggot-nya pendek.

Dengan hati tertarik Lee Si memandang. Pasangan kuda-kuda kakek pendek gendut itu baginya tidaklah asing. Itu adalah pasangan kuda-kuda yang umum dan banyak dilakukan oleh ahli silat dari utara. Akan tetapi pasangan kuda-kuda si jangkung itulah yang amat mengherankan hatinya. Si jangkung itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lurus, berdirinya bukan menghadapi lawan melainkan miring sehingga lawannya berada di sebelah kanannya, kedua lengan dikembangkan dengan jari-jari terbuka, mukanya seperti orang kemasukan setan dan dari mulutnya keluarlah bunyi lengking yang kadang-kadang mendesis-desis.

Lee Si dapat menduga bahwa dua orang itu tentu sedang berada dalam awal pertandingan. la tidak mengenal mereka, juga tidak tahu mengapa dua orang aneh ini seperti hendak bertempur, maka ia hanya mengintai dan menjadi penonton. Tiba-tiba si pendek gendut makin merendahkan tubuhnya dan suara “kok-kok” dari mulutnya makin dalam, kemudian kedua tangannya mendorong ke depan. Kedua lengan itu tampak menggetar, penuh dengan tenaga mujijat yang menerjang ke depan. Si tinggi itu menggerakkan kedua lengan seperti orang menangkis, namun tetap saja ia terhuyung ke kiri, mukanya berubah merah sekali.

Lee Si terkejut bukan kepalang. Hebat si pendek itu. Entah ilmu pukulan jarak jauh apa yang diperlihatkan tadi, tapi terang bahwa si jangkung telah terdesak hebat dan keadaannya berbahaya. Mendadak si jangkung mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya berjungkir balik tiga kali dan tahu-tahu dia telah melayang ke tempat yang tadi, kemudian kedua lengannya bergerak dari atas kepala ke bawah seperti orang menekan. Dari kedua lengan yang panjang ini menyambar hawa pukulan sakti yang membuat debu mengebul di depan kakinya! Kali ini si pendek gendut yang menerima serangan ini dengan kedua tangannya, terdorong mundur sampai satu meter lebih dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan seperti bola karet ia dapat mematahkan daya serangan lawan yang menggunakan pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga mujijat.

Keduanya lalu melompat dan berdiri berhadapan dalam keadaan biasa. Keduanya agak pucat dan si pendek gendut tertawa dengan suaranya yang parau dan , dalam, “Ha-ha-ha, sobat Maharsi, hebat bukan main pukulanmu tadi. Aha, agaknya inilah Pai-san-jiu (Pukulan Mendorong Gunung) yang terkenal hebat itu!”

“Hemmmi, Bo Wi Sianjin, kami orang-orang barat hanya mempunyai sedikit hasil latihan, mana dapat disamakan dengan kau, seorang tokoh utara yang hidupnya menentang keadaan alam yang buas dan kuat? Sudah lama aku mendengar bahwa Ilmu Pukulan Katak Sakti darimu tiada bandingnya dan ternyata hari ini aku telah membuktikan sendiri kehebatannya. Kalau kau tidak memandang persahabatan, agaknya aku tadi takkan kuat menahan!”

“Ha-ha-ha-ha-ha, kau orang barat memang pandai sekali mengelus hati merayu perasaan dengan pujian muluk! Bagiku, tidak ada kesenangan yang me-lebihi bertanding ilmu untuk membukti-kan sampai di mana hasil jerih payah yang kita derita selama puluhan tahun. Akan tetapi, karena kita perlu sekali menyatukan tenaga menghadapi lawan yang lihai, biarlah aku bersabar dan kelak masih banyak waktu bagi kita untuk memuaskan hati menengok siapakah di antara kita yang lebih berhasil.”

“Hemmm, aku selalu akan mengiringi keinginan hatimu, Sobat. Akan tetapi betul sekali kata-katamu tadi, saat ini kita perlu menghimpun tenaga. Lawan-lawan kita bukanlah orang-orang yang mudah dikalahkan,” jawab si jangkung dengan bahasa yang terdengar kaku namun cukup jelas bagi Lee Si yang masih mengintai sambil mendengarkan.

“Kau benar, Maharsi. Kaukatakan tadi bahwa kau menerima permintaan bantuan dari adik seperguruanmu Ang-hwa Nio-nio? Jadi sekarang kau hendak pergi mengunjunginya ke Ching-coa-ouw (Telaga Ular Hijau)?”

“Betul, Sianjin. Adikku Kui Ciauw itu sekarang menjadi ketua Ang-hwa-pai di Pulau Ching-coa-to. Memang dulu sudah kujanjikan akan membantunya, karena kedua orang adikku Kui Biauw dan Kui Siauw telah tewas di tangan Pendekar Buta dan teman-temannya. Kau sendiri, kukira turun dari pegunungan utara untuk urusan kematian suhengmu Ka Chong Hoatsu. Bukankah begitu?”

“Betul, Maharsi. Kakak seperguruanku itu tewas di tangan Raja Pedang yang sekarang menjadi ketua Thai-san-pai”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: