Jaka Lola ~ Jilid 13

“Hemmm, lawan kita memang berat. Pendekar Buta biarpun masih muda, kepandaiannya luar biasa sekali. Untuk menghadapinya maka selama hampir dua puluh tahun aku melatih dengan Pai-san-jiu.”

Si pendek gendut mengangguk-angguk. “Sama halnya dengan aku, Sobat. Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San memiliki ilmu kepandaian yang lihai, terutama ilmu pedangnya Im-yang-sin-kiam. Karena itulah maka aku menyembunyikan diri selama dua puluh tahun lebih, khusus untuk melatih Ilmu Pukulan Katak Sakti guna menghadapinya. Mudah-mudahan jerih payah kita takkan, sia-sia dan roh-roh saudara kita akan dapat tenteram.”

Lee Si yang mendengarkan percakapan ini menjadi kaget sekali. Baiknya dia seorang gadis yang cukup cerdik dan tidak sembrono. la dapat menduga bahwa dua orang ini merupakan lawan-lawan yang amat tangguh, maka ia tidak mau sembarangan keluar dari tempat persem-bunyiannya. Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa bergelak, tepat di belakang Lee Si dan sebelum gadis ini sempat berbuat sesuatu, pundaknya telah dicengkeram orang dan ternyata yang menangkapnya adalah seorang hwesio yang sudah amat tua, mukanya pucat seperti mayat, tubuhnya tinggi besar dan kedua matanya selalu meram seperti orang buta, bajunya yang terbuat dari-pada kain kasar terbuka lebar di bagian dada memperlihatkan sebagian perut yang gendut.

“Tokoh-tokoh utara dan barat diintai bocah di luar tahu mereka, benar-benar aneh!” kata hwesio itu dengan suara tak acuh, kemudian tangannya bergerak dan….. tubuh Lee Si melayang ke arah dua orang aneh itu seperti sehelai daun kering tertiup angin! Tentu saja Lee Si yang tadinya sudah kaget, kini menjadi takut setengah mati. la maklum bahwa tubuhnya melayang ke arah dua orang aneh itu dan tidak tahu bagaimana akan jadinya dengan dirinya. Tentu saja de-ngan mempergunakan ginkang, setelah kini terbebas dari pegangan hwesio sakti itu, ia dapat melayang ke samping untuk melarikan diri. Akan tetapi ia pun cukup maklum bahwa hal ini akan sia-sia belaka. Tak mungkin ia melarikan diri dari tiga orang aneh ini kalau mereka tidak menghendaki demikian. la teringat akan cerita ayah bundanya tentang keanehan tokoh-tokoh kang-ouw di dunia persilatan. Jalan satu-satunya hanya menyerah tanpa mengeluarkan kepandaian sehingga tiga orang itu akan merasa malu untuk mengganggu seorang lawan yang tidak memiliki kepandaian seimbang. la harus mempergunakan kecerdikan di mana kepandaiannya takkan dapat menolongnya. Oleh karena inilah, ia hanya memutar agar dalam melayang ini ia dapat memandang kepada kedua orang tokoh dari barat itu.

Siapakah tiga orang sakti ini? Seperti dapat diketahui dari percakapan antara si jangkung dan si pendek yang didengarkan oleh Lee Si tadi, si jangkung adalah seorang tokoh barat berbangsa India se-belah timur,seorang pertapa dan pendeta yang disebut Maharsi (Pendeta Agung). Maharsi ini adalah kakak seperguruan dari Ang-hwa Sam-ci-moi, yaitu Kui Ciauw, Kui Biauw dan Kui Siauw. Sebagaimana kita ketahui, Kui Biauw dan Kui Siauw ini tewas ketika Ang-hwa Sam-ci-moi bentrok dengan Pendekar Buta dan teman-temannya, adapun Kui Ciauw sekarang menjadi ketua Ang-hwa-pai yang berjuluk Ang-hwa Nio-nio. Sudah bertahun-tahun lamanya Ang-hwa Nio-nio menaruh dendam kepada Pendekar Buta atas kematian kedua orang saudaranya, dan untuk membalas dendam ia telah minta bantuan Maharsi. Akan tetapi, karena maklum betapa lihainya Pendekar Buta, mereka berdua menunda niat membalas dendam ini dan masing-masing menggembleng diri untuk membuat persiapan menghadapi musuh lama yang amat sakti itu.

Adapun si pendek itu adalah seorang tokoh dari daerah Mongol. Bo Wi Sianjin dahulu mempunyai seorang suheng (kakak seperguruan) bernama Ka Chong Hoatsu yang tewas di tangan Raja Pedang Tan Beng San. Juga karena maklum betapa lihainya musuh besar ini, Bo Wi Sianjin tidak tergesa-gesa dan berlaku sembrono, melainkan dia malah menyembunyikan diri untuk menyakinkan sebuah ilmu yang ampuh untuk menghadapi musuhnya. Selama dua puluh tahun lebih dia menggembleng diri dan sekarang dia mulai turun dari tempat persembunyiannya untuk mencari musuh lama, yaitu Raja Pedang ketua Thai-san-pai. Di tengah jalan kebetulan bertemu dengan Maharsi dan kebetulan sekali terlihat oleh Lee Si.

Hwesio tua renta yang tinggi besar dan amat lihai itu bukanlah seorang yang tidak dikenal para pembaca cerita Pen-dekar Buta. Dia itu bukan lain adalah Bhok Hwesio, seorang tokoh yang amat terkenal dari perkumpulan besar Siauw-lim-pai. Akan tetapi, berbeda dengan para hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai pendeta-pendeta berbudi yang hidup suci dan biasanya menggunakan ilmu silat dari Siauw-lim-pai yang hebat untuk membela kebenaran dan keadilan. Bhok Hwesio ini semenjak dahulu me-rupakan seorang anak murid atau tokoh yang murtad. Ilmu kepandaiannya me-mang tinggi dan lihai sekali. Boleh di-bilang jarang tokoh Siauw-lim-pai yang dapat menandinginya, kecuali para pim-pinan dan ketuanya saja. Di dalam cerita Pendekar Buta diceritakan betapa Bhok Hwesio ini, dua puluh tahun yang lalu, dapat terbujuk oleh mereka yang me-musuhi Pendekar Buta dan kawan-kawan-nya. Akhirnya dia ditawan oleh suhengnya sendiri, Thian Ki Losu tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, dibawa kembali ke Siauw-lim-pai dan seperti sudah rnenjadi peraturan keras Siauw-lim-pai kalau ada anak murid menyeleweng, Bhok Hwesio di “hukum” di dalam “kamar penunduk nafsu” selama sepuluh tahun! la tidak boleh keluar dari kamar yang pintunya di “segel” dengan tulisan “hu” (surat jimat) diberi makan melalui lubang sehari sekali, dan diharuskan bersamadhi dan menindas hawa nafsu duniawi. Karena yang menjaga agar hukuman ini terlaksana baik adalah Thian Ki Losu sendiri, Bhok Hwesio tidak berdaya dan terpaksa dia menyerah. Suhengnya itu terlampau sakti baginya. Akan tetapi sesungguhnya hanya pada lahirnya saja dia menyerah. Di dalam hatinya dia menjadi marah dan sakit hati terhadap Pendekar Buta, Raja Pedang dan lain-lainnya yang dianggapnya menjadi biang keladi daripada penderitaannya ini. Diam-diam dia bersamadhi untuk menggembleng diri, memupuk tenaga dan memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktian di dalam kamar kecil dua meter persegi itu! Saking tekunnya melatih diri, sudah sepuluh tahun lewat dan sudah lama Thian Ki Losu yang amat tua itu meninggal dunia, namun dia malah tidak mau keluar dari kamar hukuman ketika pintu dibuka sendiri oleh ketua Siauw-lim-pai, yaitu Thian Seng Losu. Akhirnya dia dibiarkan saja karena hal ini dianggap malah amat baik dan bahwa Bhok Hwesio agaknya sudah mendekati ambang pintu “kesempurnaan”!

Demikianlah, setelah bertapa menyiksa diri selama dua puluh tahun, pada suatu malam para hwesio di Siauw lim-pai kehilangan hwesio tua yang dianggap hampir berhasil dalam tapanya itu. Tak seorang pun di antara para tokoh Siauw-lim-si itu menduga bahwa kepergian Bhok Hwesio kali ini adalah untuk mencari musuh-musuhnya yang dianggapnya membuat dia menderita selama dua puluh tahun untuk membalas dendam! Dan secara kebetulan sekali dia melihat Maharsi dan Bo Wi Sianjin yang sudah dia kenal namanya. Girang hatinya mendengar bahwa mereka berdua itu pun mempunyai tujuan yang sama, maka dia lalu muncul sambil menangkap dan melemparkan tubuh gadis yang dia ketahui sejak tadi mengintai. Sengaja dia menggunakan tenaga sakti dalani lemparan itu untuk “menguji” kelihaian dua orang tokoh utara dan barat yang akan menjadi teman seperjuangan menghadapi musuh-musuh besarnya yang sakti, yaitu Pendekar Buta, Raja Pedang dan teman-teman mereka.

Maharsi dan Bo Wi Sianjin yang selama dua puluh tahun bersembunyi di tempat pertapaan rnasing-masing dan sudah lama tidak turun gunung, tidak mengenal hwesio tua renta yang tinggi besar dan bermuka pucat seperti mayat itu. Sekilas pandang saja ketika mereka tadi memandang wajah pucat tak berdarah itu, mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa hwesio tua itu benar-benar telah menguasai ilmu mujijat yang disebut I-kiong-hoan-hiat (Memin-dahkan Jalan Darah)! Hanya orang yang sinkang atau hawa sakti dalam tubuhnya sudah dapat diatur secara sempurnalah yang akan dapat menguasai ilmu “hoan-hiat” ini yang berarti bahwa hwesio itu sudah mencapai titik yang sukar diukur tingginya.

Sekarang melihat tubuh seorang gadis muda melayang ke arah mereka, tahulah ke dua orang itu bahwa hwesio tua ini hendak menguji kesaktian. Mereka tidak mengenal Lee Si dan biarpun jelas bahwa gadis itu mengintai, namun mereka tidak tahu apakah gadis ini musuh atau bukan. Namun karena gadis itu sudah dilontarkan ke arah mereka, Maharsi mengeluarkan suara melengking tinggi, sambil mendorongkan kedua lengannya ke depan, ke arah tubuh Lee Si sambil mengerahkan sinkang dengan tenaga lembut. Demikianpun Bo Wi Sianjin mengeluarkan suara “kok-kok” sambil mendorongkan lengannya, juga dengan tenaga lembut karena dia pun seperti Maharsi, tidak mau melukai atau mencelakakan gadis yang tak dikenalnya.

Untung bagi Lee Si bahwa ia berlaku hati-hati dan cerdik, tadi tidak menggunakan ginkang untuk melarikan diri, karena ternyata Bhok Hwesio hanya sementara saja melepaskannya. Begitu kedua orang kakek itu menyambut, Bhok Hwesio sudah menggerakkan lengan lagi ke arah tubuh yang melayang itu. Lee Si merasa betapa tenaga yang hebat sekali dan panas datang menyambar dan menyangga punggungnya dari belakang! Pada saat itu, dari depan datang rnenyambar dua tenaga gabungan dari kakek jangkung dan kakek pendek. Gabungan tenaga ini bertemu dengan tenaga Bhok Hwesio sehingga tubuh Lee Si yang tergencet di tengah-tengah di antara dua tenaga sakti yang saling bertentangan berhenti di tengah udara seakan-akan tertahan oleh tenaga mujijat dan tidak dapat jatuh ke bawah. Memang hal ini sebetulnya amat tidak masuk di akal tampaknya, karena menyalahi hukum alam. Namun, harus diakui bahwa di dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali rahasia-rahasia yang belum dapat dimengerti oleh manusia sendiri, dan sudah banyak yang meng-akui bahwa terdapat tenaga-tenaga mujijat yang masih merupakan rahasia da-lam diri manusia. Di antaranya adalah sinkang (hawa sakti) yang selalu terdapat dalann diri setiap orang manusia. Hanya sebagian besar orang belum sadar akan hal ini dan karena tidak mengenalnya maka tidak kuasa pula mempergunakannya.

Sebagai puteri suami isteri pendekar yang berilmu tinggi, sungguhpun tingkatnya belum setinggi itu, namun Lee Si sudah maklum apa yang terjadi dengan dirinya. Ia dijadikan alat untuk mengukur tenaga sinkang, andaikata diambil perumpamaan, ia merupakan sebatang tongkat yang dijadikan alat untuk main dorong-dorongan mengadu tenaga otot. Hanya dalam hal ini, bukan tenaga otot yang dipertandingkan, melainkan tenaga sinkang yang merupakan dorongan-dorongan dari jarak jauh!

Lee Si tidak begitu bodoh uhtuk mencoba-coba mengerahkan sinkangnya sendiri dalam arena pertandingan ini, karena hal ini akan membahayakan nyawanya. Kecuali kalau ia memiliki tenaga yang mengatasi tenaga tiga orang itu, atau setidaknya mengimbangi. la sengaja mengendurkan seluruh tenaga dan sedikit pun tidak melawan, namun dengan penuh perhatian ia merasakan getaran-getaran hawa sakti yang saling mendorong melalui tubuhnya itu. Segera ia dapat menduga bahwa di antara tiga orang kakek itu, si hwesio tinggi besar inilah yang paling hebat tenaganya, juga tenaga sinkang hwesio ini yang mencengkeramnya. Akan tetapi dibandingkan dengan tenaga si jangkung dan si pendek digabung menjadi satu, ternyata hwesio tua itu masih kalah kuat sedikit. Inilah yang perlu diselidiki oleh Lee Si dalam waktu singkat. Tentu saja ia tidak sudi menjadi “alat” mengukur sinkang seperti itu, karena kalau dibiarkan saja, akibatnya amatlah buruk. Kalau hanya berakibat tenaga sinkangnya sendiri melemah saja masih belum apa-apa, akan tetapi kalau ada kurang hati-hati sedikit saja dari ketiga orang itu, ia bisa menderita luka parah di sebelah dalam tubuhnya.

Lee Si sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah mengukur tenaga yang bertanding, tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan keras sekali sambil mengerahkan sinkang di tubuhnya, membantu atau lebih tepat “menunggangi” tenaga gabungan si Jangkung dan si pendek, terus ia mendorong hawa hwesio tinggi besar yang mencengkeramnya. Benar saja perhitungannya, Bhok Hwesio yang sudah merasa lelah dan tahu bahwa kalau dilanjutkan adu sinkang ini dengan dikeroyok dua, dia akan kalah, tiba-tiba menjadi terkejut karena fihak lawan menjadi makin kuat. Terpaksa dia mendengus dan menurunkan kedua lengannya.

Begitu terlepas daripada gencatan dari kedua fihak, tubuh Lee Si terlempar ke bawah. Namun gadis cerdik ini sudah menggunakan ginkangnya dan melompat dengan selamat ke atas tanah. Sedikit pun ia tidak terpengaruh atau menjadi gugup biarpun baru saja ia terbebas dari-pada ancaman bahaya maut. la malah segera menggunakan kesempatan untuk mengadu mereka demi keselamatannya sendiri, karena kalau tiga orang itu ber-satu memusuhinya, terang ia akan celaka.

“Hemmm, hwesio sudah tua renta, mestinya berlaku alim dan budiman ter-hadap orang muda, kiranya sebaliknya, datang-datang kau menghina. Terang bahwa kau sengaja hendak menyombong-kan kepandaianmu kepada aku orang muda dan selain itu kau pun memandang rendah kepada dua orang Locianpwe (Orang Tua Gagah) ini. Hemmm, hwesio tua renta, betapapun kau menyombongkan kepandaian, kenyataannya dalam adu tenaga tadi kau telah kalah!”

Bhok Hwesio tercengang, demikian pula Maharsi dan Bo Wi Sianjin. Ucapan terakhir dari gadis itu membuktikan bahwa Lee Si bukan orang sembarangan dan malah mengerti akan adu sinkang tadi serta dapat mengetahui pula siapa kalah siapa menang! Perhitungan Lee Si memang tepat. Ucapannya membuat kedua telinga Bhok Hwesio menjadi merah sehingga kelihatannya aneh sekali, muka demikian pucat tapi kedua telinga merah seperti dicat!

“Siapa kalah? Biar Maharsi dari barat dan Bo Wi Sianjin dari utara terkenal lihai, dikeroyok dua sekalipun pinceng tidak akan kalah! Bocah liar, kau lancang mulut!” Bhok Hwesio menggoyang-goyang lengan bajunya. Akan tetapi Lee Si yang cerdik tidak bergerak dari tempatnya.

“Kalau menyerang dan merobohkan aku orang yang patut jadi cucu buyutmu, apa sih gagahnya? Tapi mengalahkan kedua orang Locianpwe yang sakti ini? Huh, omong sih gampang! Kalau kau menangkan mereka tak usah kaubunuh aku akan menggorok leherku sendiri di depanmu!”

Di “bakar” seperti itu, Bhok Hwesio tersinggung keangkuhannya. la tersenyum lebar menghampiri Maharsi dan Bo Wi Sianjin, mementang kedua lengannya dan berkata, “Hayo kalian layani aku beberapa jurus, baru tahu bahwa pinceng (aku) lebih unggul daripada kalian!” Setelah berkata demikian, hwesio tua tinggi besar ini sudah menggerakkan kedua lengan bajunya yahg meniup angin pukulan seperti taufan.

Maharsi dan Bo Wi Sianjin terkejut, akan tetapi sebagai orang-orang sakti yang berkedudukan tinggi, tentu saja mereka tidak sudi dihina oleh hwesio yang tak mereka kenal ini. Cepat mereka bersiap, Maharsi menangkis, dengan gerakan lengan dari atas ke bawah sedangkan Bo Wi Sianjin sudah berjongkok dan dari mulutnya keluar suara kok-kok-kok seperti katak buduk. Di lain saat, tiga orang sakti ini suah bertempur dengan gerakan lambat namun setiap gerakan mengandung sinkang dan Iweekang yang dapat membunuh lawan dari jarak jauh!

Inilah yang diharapkan oleh Lee Si. Jalan satu-satunya bagi keselamatan dirinya adalah mengadu tiga orang sakti itu agar ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Maka begitu tiga brang itu saling gempur dengan gerakan lambat namun mengandung tenaga dahsyat, Lee Si segera menyelinap ke belakang batang pohon dan siap hendak melarikan diri.

“Hendak lari ke mana kau, bocah liar?” Suara ini adalah suara Bhok Hwe-sio dan tiba-tiba hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lee Si Gadis ini terkejut bukan main, cepat mengelak sambil melompat dan….. “brakkk!” pohon di sebelahnya tadi patah dan tumbang! Lee Si menjadi pucat. Bukan main hebatnya hwesio tua itu yang dalam keadaan dikeroyok dua oleh Maharsi dan Bo Wi Sianjin, masih tetap dapat melihatnya dan mengetahui niatnya melarikan diri, bahkan dari jarak jauh dapat mengirim serangan yang demikian dahsyatnya.

“Huh, kaukira dapat lari dari Bhok Hwesio?” Hwesio tinggi besar itu dengan sebelah tangannya menahan serangan Maharsi dan Bo Wi Sianjin, sedangkan tangan kirinya kembali melancarkan pu-kulan-pukulan jarak jauh yang membuat Lee Si melompat ke sana kemari dengan cepat.

“Ah, kiranya Bhok-taisuhu (Guru Besar) dari Siauw-lim-pai? Maaf….. maaf…..”

Bo Wi Sianjin melompat mundur. Juga Maharsi yang sudah mendengar nama ini menghentikan serangannya.

Lee Si kaget dan gelisah. Celaka, pikirnya. Tiga orang itu sudah saling mengenal dan agaknya tidak akan bermusuhan lagi, dan hal ini berarti ia akan celaka! Menggunakan kesempatan terakhir selagi Bhok Hwesio terpaksa membalas penghormatan dua orang itu, ia cepat melompat dan mengerahkan ginkangnya. Akan tetapi tiba-tiba ada sambaran angin dari belakang. Lee Si secepat kilat membanting diri ke kiri sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan merogoh gin-ciam (jarum perak) dengan tangan kiri. Sambil membalik dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lele Meloncat) ia menggerakkan tangan kiri-nya, menyerang dengan jarum perak ke arah bayangan Bhok Hwesio yang sudah melangkah lebar mengejarnya. Dalam keadaan terpojok, Lee Si lenyap rasa takutnya dan siap untuk melawan dengan gagah berani sebagaimana sikap seorang pendekar sejati.

Penyerangan Lee Si dengan jarum jarum perak itu bukanlah hal yang boleh dipandang ringan. Ilmunya melepas jarum perak adalah ilmu senjata rahasia yang ia pelajari dari ibunya dan boleh dibilang ia telah mahir dengan Ilmu Pek-po-coan-yang (Timpuk Tepat Sejauh Seratus Kaki). Serangannya tadi sebetulnya lebih bersifat menjaga diri, sambil membalik melepaskan segenggam jarum sebanyak belasan batang untuk mencegah desakan lawan. Biarpun jarum-jarum itu hanya disambitkan dengan sekali gerakan, namun benda-benda halus itu meluncur dalam keadaan terpisah dan langsung menerjang ke arah bagian-bagian berbahaya di perut, dada, leher, dan mata. Serangan ini masih disusul oleh terjangan Lee Si sendiri yang telah memutar pedangnya melakukan serangan. Ternyata gadis muda yang cerdik ini, yang tahu bahwa tak mungkin ia akan dapat membebaskan diri kalau hanya lari dari hwesio kosen itu, telah menggunakan taktik menyerang lebih dulu untuk mencari kedudukan baik sehingga dapat mengurangi besarnya bahaya menghadapi lawan yang lebih tangguh.

“Eh, kau anak Hoa-san-pai?” Bhok Hwesio berseru ketika lengan bajunya dikibaskan menyampok runtuh semua jarum perak dan cepat ia menggerakkan tubuh ke belakang karena melihat bahwa sinar pedang gadis muda itu tak boleh dipandang ringan.

“Kalau sudah tahu, masih berani meng-hinaku?” Lee Si menjawab dan kembali tangannya yang sudah menggenggam jarum perak bergerak menyambitkan jarum. Kini karena berhadapan dan dapat mencurahkan perhatian, Lee Si memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ia telah melepas jarum-jarum peraknya dengan gerakan Boan-thian-ho-i (Hujan Bunga di Langit), gerakan yang tidak saja amat indah, akan tetapi juga hasilnya luar biasa sekali karena jarum-jairum itu tersebar mekar seperti payung, atau seperti hujan mengurung tubuh Bhok Hwesio. Hebatnya, jarum-jarum itu kini mengarah jalan-jalan darah yang amat penting.

“Ho-hoh-hoh, siapa takut Hoa-san-pai?” Bhok Hwesio berseru, tubuhnya tiba-tiba rebah bergulingan dan di lain saat dia telah melompat berdiri sambil menggerakkan kedua tangannya. Benda-benda hijau meluncur ke depan, menangkis jarum-jarum itu sehingga di lain saat rumput dan daun hijau yang tertancap jarum perak runtuh ke atas tanah.

Kini Lee Si yang kaget setengah mati. Kiranya hwesio itu luar biasa sekali kepandaiannya, sudah amat tinggi, malah lebih tinggi daripada ibunya dalam hal menggunakan senjata rahasia. Baru saja hwesio tua itu mendemonstrasikan ke-lihaiannya menggunakan senjata rahasia dengan Ilmu Cek-yap-hui-hwa, yaitu ilmu melepas senjata rahasia menggunakan bunga dan daun. Tadi dengan hanya rumput-rumput dan daun yang direnggutnya sambil bergulingan, Bhok Hwesio berhasil memukul runtuh semua jarum yang dilepas oleh Lee Si. Namun ia tidak menjadi gentar atau putus asa, cepat pedangnya sudah bergerak dengan jurus-jurus yang ia gabungkan dari kedua ilmu pedang warisan ayah bundanya.

Bhok Hwesio tercengang ketika dia mengelak dan mengebutkan ujung lengan bajunya. la mengenal baik Ilmu Pedang Hoa-san-pai, akan tetapi yang diperlihatkan gadis ini hanya mirip-mirip Ilmu Pedang Hoa-san-pai, bukan Ilmu Pedang Hoa-san-pai aseli, namun malah lebih hebat! Yang amat mengherankan hatinya adalah hawa pukulan yang terkandung oleh ilmu pedang ini, karena kadang-kadang mengandung hawa Im yang menyalurkan tenaga lemas, akan tetapi di lain detik berubah menjadi hawa Yang dengan tenaga kasar. Mirip dengan ilmu kepandaian yang dimiliki musuh besarnya, yaitu Pendekar Buta dan terutama Raja Pedang yang menjadi pewaris daripada Ilmu Im-yang-sin-hoat. Selama dua puluh tahun ini, di dalam kamar kecil yang menjadi tempat dia menderita hukuman “penebus dosa” dan sekaligus menjadi tempat dia bertapa dan menggembleng diri, memang dia khusus mencari ilmu untuk menghadapi Im-yang-sin-hoat. Maka sekarang menghadapi ilmu pedang Lee Si yang memang mengandung penggabungan kedua hawa yang bertentangan ini, dia tidak menjadi bingung. Sepasang lengan bajunya bergerak seperti sepasang ular hidup yang mengandung dua macam te-naga pula sehingga Lee Si sebentar saja terdesak hebat!

Memang kalau bicara tentang tingkat ilmu, tingkat Lee Si masih jauh di bawah tingkat kakek ini. Bhok Hwesio usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan selain memiliki ilmu yang amat iinggi dari Siauw-lim-pai, juga dia mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun lamanya. Hanya dua hal yang mem-buat Lee Si dapat bertahan sampai tiga puluh jurus lebih. Pertama, karena gadis ini memang mempunyai ilmu kepandaian aseli yang bersih dan sakti, ke dua ka-rena Bhok Hwesio sendiri merasa rendah untuk merobohkan gadis yang patut menjadi cucu buyutnya seperti dikatakan Lee Si tadi. Kalau dia mau mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang mematikan, agaknya sudah sejak tadi Lee Si roboh. Namun, kini Lee Si benar-benar terdesak hebat, pedangnya tidak leluasa lagi gerakannya karena sudah terbungkus oleh gulungan sinar kedua ujung lengan baju Bhok Hwesio. Gulungan sinar itu seperti lingkaran besar yang amat kuat, yang meringkus sinar pedangnya, makin lama lingkaran itu menjadi makin kecil dan sempit. Ruang gerak pedang Lee Si juga makin sempit. Gadis itu mulailah mengeluarkan peluh dingin. Maklum dia bahwa hwesio ini benar-benar amat kosen dan sekarang sengaja hendak mengalahkannya dengan tekanan yang makin lama makin berat untuk memamerkan kepandaiannya ia tahu bahwa akhirnya ia takkan dapat menggerakkan pedangnya lagi kecuali untuk membacok tubuhnya sendiri!

“Hayo kau berlutut dan minta ampun, mengaku murid siapa dan apa hubungan-mu dengan ketua Thai-san-pai!” berkali-kali Bhok Hwesio membentak karena melihat betapa ilmu pedang gadis ini mengandung gabungan hawa Im dan Yang, dia menduga tentu ada hubungan antara gadis ini dengan musuh besarnya, Si Raja Pedang.

Lee Si maklum bahwa hwesio ini tentu bukan sahabat bailk kakeknya Si Raja Pedang, akan tetapi ia pun mengerti bahwa akhirnya ia akan mati, maka lebih baik baginya mati sebagai cucu Raja Pedang yang berani dan tak takut mati daripada harus mengingkari kakeknya yang merupakan seorang pen-dekar sakti yang bernama besar.

“Hwesio jahat! Tak sudi aku menyerah. Kalau mau tahu, Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San ketua Thai-san-pai adalah kakekku!”

Bhok Hwesio tidak menjadi kaget karena sudah menduga akan hal ini. Akan tetapi dia girang sekali karena sedikitnya dia dapat membalas penasaran terhadap Raja Pedang kepada cucunya.

“Bhok-taisuhu, kita tawan saja cucunya!” tiba-tiba Bo Wi Sianjin berteriak.

“Betul kita jadikan cucunya sebagai jaminan!” Maharsi menyambung.

Akan tetapi pada saat itu berkelebat tiga bayangan orang dan terdengar seorang di antara mereka berseru, “Bhok-suheng, tahan…..!”

Bhok Hwesio mengeluarkan seruan rendah seperti kerbau mendengus, akan tetapi dia mundur dan Lee Si merasa terhindar daripada tekanan hebat. Wajahnya pucat, mukanya yang cantik penuh keringat, akan tetapi sepasang matanya berapi-api penuh ketabahan. Menggunakan kesempatan ini, Lee Si melompat mundur dan memandang kepada tiga orang pendatang baru yang menyelamatkannya itu dengan teliti. Orang pertama yang tadi berseru kepada Bhok Hwesio adalah seorang pendeta pula, seorang hwesio tua, sedikitnya tujuh puluh tahun usianya, bermuka hitam dan cacad bekas korban penyakit cacar. Biarpun mukanya bopeng dan buruk, namun sepasang mata hwesio ini membayangkan kehalusan budi dan kesabaran seorang pendeta yang sudah masak jiwanya. Hwesio ini membawa sebatang tongkat kuningan dan kini dia berdiri tegak menghadapi Bhok Hwesio. Keduanya saling pandang seakan-akan mengukur kekuatan masing-masing de-ngan pandang mata.

Hwesio ini memang bukan orang sembarangan, karena dia adalah Thian Ti Losu, seorang tokoh tingkat tiga dari Siauw-lim-pai, masih terhitung adik seperguruan Bhok Hwesio. Adapun dua brang yang lain adalah tosu-tosu darl Kun-lun-pai dan Kong-thong-pai, yaitu Sung Bi Tosu tokoh tingkat tiga dari Kun-lun-pai dan Leng Ek Cu tosu tingkat dua dari Kong-thong-pai. Thian Ti Losu ini adalah seorang utusan Siauw-lim-pai yang sengaja keluar dari pintu kuil untuk mencari Bhok Hwesio yang menghilang dari dalam kamar hukumannya. Di tengah jalan dia berjumpa dengan Leng Ek Cu, sahabat baiknya Kemudian setelah mendengar bahwa suhengnya itu berada dalam perjalanan melalui Pegunungan Bayangkara, dia mengejar dan ditemani oleh Leng Ek Cu yang maklum betapa lihai dan berbahayanya suheng temannya itu. Belum lama mereka memasuki daerah pegunungan ini, mereka bertemu dengan Sung Bi Tosu yang juga mereka kenal sebagai tokoh Kun-lun. Tosu ini sedang menuju ke Kun-lun-san di sebelah barat, maka mereka lalu mengadakan perjalanan bersama? Kebetulan sekali mereka datang pada saat Lee Si berada di ambang kematian di tangan Bhok Hwesio, maka cepat-cepat Thian Ti Losu mencegahnya.

“Thian Ti Sute, mau apa kau datang ke sini?” Bhok Hwesio menegur sutenya dengan pandang mata penuh selidik dan curiga.

“Bhok-suheng, siauwte diutus oleh ketua kita untuk mencari Suheng dan mengajak Suheng kembali ke Siauw-lim-si,” jawab Thian Ti Losu dengan suara tenang.

Sepasang mata Bhok Hwesio yang biasanya meram itu kini terbuka sebentar, memandang dengan sinar kemarahan, tapi lalu terpejam lagi, hanya mengintai dari balik bulu mata.

“Sute, pulanglah dan jangan membikin kacau pikiranku. Aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan kau atau dengan Siauw-lim-si.”

“Tapi, Suheng. Siauwte hanya utusan dan ketua kita memanggilmu pulang.”

“Cukup! Thian Seng Suheng boleh jadi ketua Siauw-lim-si, akan tetapi aku bukan orang Siauw-lim-pai lagi. Hukuman yang dijatuhkan kepadaku sudah cukup kujalani sampai penuh. Mau apa lagi? Pergilah!”

“Kau tahu sendiri, Bhok-suheng, apa artinya menjadi utusan ketua. Tugas harus dilaksanakan dengan taruhan nyawa. Dan kau pun cukup maklum, lebih maklum daripada siauwte yang lebih muda dari padamu, apa artinya tidak mentaati perintah ketua kita, berarti penghinaan. Marilah, Suheng, kau ikut denganku kembali menghadap ketua kita dan percayalah, kalau kau minta diri dengan baik-baik, Suheng kita yang menjadi ketua itu tentu akan meluluskanmu.”

“Thian Ti! Kautonjol-tonjolkan nama Thian Seng Suheng untuk menakut-nakuti aku? Huh, jangankan baru kau atau dia sendiri, biar Thian Ki Lo-suheng sendiri bangkit dari lubang kuburnya, aku tidak akan takut dan tidak sudi kembali ke Siauw-lim-si. Nah, kau mau apa lagi?”

“Ini pengkhianatan paling hebat! Suheng, kalau ada seorang anak murid Siauw-lim-pai murtad dan berkhianat, setiap orang anak murid yang setia harus menentangnya. Suheng, sekali lagi, kalau mau taat dan ikut dengan aku pulang atau tidak?”

Bhok Hwesio hanya tertawa mengejek. la maklum bahwa sutenya ini memiliki kepandaian hebat, terkenal dengan ilmu tongkat dari Siauw-lim-pai tingkat tinggi, juga terkenal sebagai seorang ahli Iweekang yang tenaganya hampir sama dengan tingkat yang dimiliki mendiang Thian Ki Losu sendiri. Akan tetapi dia tidak takut dan merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan sutenya ini.

“Bhok-taisuhu, menghadapi adik se-perguruan yang cerewet, mengapa masih terlalu banyak sabar?” tiba-tiba Bo Wi Sianjin berseru dari samping kiri Bhok Hwesio. “Kalau mau bicara tentang ketaatan, seorang adik seperguruanlah yang seharusnya taat kepada suhengnya!”

“Ha-ha-ha, benar-benar lucu ini. Bo Wi Sianjin dari Mongol bukanlah anak kecil, bagaimana bisa bersikap begini tak tahu malu, meneampuri urusan dalam dua orang murid Siauw-lim-pai?” Sung Bi Tosu sudah melangkah maju menghadapi Bo Wi Sianjin dan memandang tajam.

Bo Wi Sianjin si kakek pendek gendut tertawa mengejek. Kenyataan bahwa tosu itu mengenal namanya sedangkan dia sendiri tidak mengenal tosu itu mem-buktikan bahwa dia cukup dikenal oleh para tokoh kang-ouw. “Eh, kau ini tosu bau dari mana berani lancang mulut? Aku bicara dengan Bhok-taisuhu, ada sangkut-paut apa denganmu?”

“Pinto adalah Sung Bi Tosu dari Kun-lun-pai. Memang pinto tidak ada urusan denganmu, akan tetapi kau juga tidak ada urusan sama sekali untuk mencampuri persoalan saudara seperguruan Siauw-Lim-pai.”

“Eh, keparat. Apa yang kaulakukan, bagaimana bisa ikut campur? Tosu Kun-lun selamanya sombong, apa kaukira aku takut mendengar nama Kun-lun? Heh-heh-heh, tosu cilik, berani kau menentangku?”

“Menentang kelaliman adalah tugas setiap orang yang menjunjung kebenaran!”

“Kalau kau mencari perkara, pintu tidak akan mundur setapak pun!” jawab tokoh Kun-lun-pai dengan suara gagah.

Si kakek pendek gendut dari Mongol mengeluarkan suara ketawa yang serak. “Bagus, kau sudah bosan hidup!” Setelah berkata demikian, dia melompat maju ke depan Sung Bi Tosu, lalu memasang kuda-kuda dengan tubuh jongkok sehingga tubuh yang sudah pendek itu tampak menjadi makin pendek lagi. Dari mulutnya terdengar suara “kok-kok-kok!” dan kedua kakinya berloncatan dengan gerakan berbareng seperti katak meloncat.

“Hemmm…. pendeta liar dari Mongol, apakah kau mau membadut di sini…..?” Belum habis Sung Bi Tosu bicara, tiba-tiba kakek gendut pendek itu menggerakkan kedua tangan depan dan tubuh Sung Bi Tosu terjengkang ke belakang, roboh telentang dan bergulingan. Ternyata dia telah terkena pukulan ilmu Katak Sakti yang dahsyat. Namun, sebagai seorang tokoh Kun-lun-pai yang lihai, begitu tadi merasai datangnya pukulan jarak jauh yang luar biasa, dia telah mengerahkan sinkangnya, sehingga biarpun dia telah terpukul dan roboh terjengkang, dia tidak tewas. Orang lain yang terkena hawa pukulan sehebat itu tentu akan tewas di saat itu juga, akan tetapi tokoh Kun-lun-pai ini hanya terluka dan masih kuat melompat bangun dengan muka pucat dan mata merah.

“Iblis jahat!” serunya dan tubuhnya sudah melayang maju, sinar pedangnya berkelebat cepat menyambar.

Akan tetapi sekali lagi terdengar suara “kok-kok-kok!” dan sambil mengelak dari sambaran pedang, kakek gendut pendek itu sudah mengirim dua kali pukulannya. Pukulan pertama membuat pedang Sung Bi Tosu terpental, pukulan ke dua membuat tubuhnya terlempar sampai lima meter lebih dan tosu Kun-lun-pai itu roboh tak bangun lagi karena nyawanya sudah melayang meninggalkan tubuhnya!

Pucat muka Leng Ek Cu, tokoh Kong-thong-pai saking marahnya menyaksikan pembunuhan atas diri teman baiknya ini. Diam-diam dia juga kagum dan ngeri menyaksikan kehebatan ilmu pukulan Bo Wi Sianjin yang demikian hebat sehingga seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah tinggi tingkatnya dapat terpukul binasa hanya oleh tiga pukulan jarak jauh.

“Keji….. keji sekali…..” katanya sambil melangkah maju. “Mati hidup manusia bukanlah hal aneh, seperti angin lalu. Akan tetapi mengandalkan kepandaian untuk merenggut nyawa orang lain hanya untuk urusan tak berarti, benar-benar keji sekali. Apalagi kalau yang melakukan itu seorang yang sudah menamakan dirinya tua dan pertapa pula. Bo Wi Sianjin, untuk kekejianmu itulah pinto terpaksa bertindak!” Sambil berkata demikian, Leng Ek Cu sudah mencabut pedangnya dan bersiap menghadapi lawannya yang tangguh.

Akan tetapi tiba-tiba dia cepat miringkan tubuh dan menggeser kaki kiri ke belakang sambil mengibaskan pedangnya karena tahu-tahu dari sebelah kanan menyambar hawa pukulan. Kiranya pendeta tinggi bersorban itulah yang menggerakkan lengannya yang panjang untuk mencengkeram pundaknya tanpa berkata sesuatu.

“Heh, siapa kau? Pendeta asing, jangan mencampuri urusan orang lain!” bentak tokoh Kong-thong-pai itu sambil melintangkan pedang di depan dada.

Penyerangnya adalah Maharsi. Pendeta India yang jangkung ini mengeluarkan suara tertawa seperti suara burung hantu, lalu berkata dengan kata-kata yang kaku dan suara asing. “Sudah berani mencabut pedang tentu berani menghadapi siapa juga, termasuk aku. Maharsi orang bodoh dari barat.” Setelah berkata demikian, dari kerongkongannya terdengar suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, kedua lengannya mendorong-dorong setelah tubuhnya miring-miring dalam kedudukan kuda-kuda yang ganjil. Akan tetapi dari kedua lengannya itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat. Inilah ilmu Pukulan Pai-san-jiu!

Leng Eng Cu adalah tokoh tingkat dua dari Kong-thong-pai, ilmu pedangnya merupakan ilmu pedang kebanggaan partainya, cepat dan bergulung-gulung panjang, juga dia memiliki ginkang yang membuat dia dapat bergerak cepat sekali. Tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkat Sung Bi Tosu. Melihat gerakan aneh dari pendeta asing ini, Leng Ek Cu tidak berani memandang rendah dan tidak mau menyambut langsung. la mengandalkan ginkangnya, dengan lincah dia mengelak dan tubuhnya meliuk ke samping, terus mengirim tusukan diiringi tenaga Iweekang yang membuat pedang itu berdesing menuju ke arah sasarannya, yaitu perut si pendeta India!

Maharsi kembali mengeluarkan lengking tinggi dan tubuhnya tanpa berubah sedikit pun juga agaknya tidak mengelak dan bersedia menerima tusukan pedang. Namun tidaklah demikian kiranya Karena sebelum pedang itu mencium kulit perutnya lewat baju, tiba-tiba perutnya melesak ke dalam dan tangannya yang berlengan panjang itu sudah menyambar ke depan mengarah leher dan kepala lawan. Hebat memang pendeta ini, karena begitu dia menjulurkan lengannya den mengempiskan perutnya, selain pedang lawan tidak dapat mengenai perutnya, juga lengannya itu lebih panjang jangkauannya sehingga kalau Leng Ek Cu melanjutkan tusukannya, tentu lehernya akan patah dicengkeram dan kepalanya akan bolong-bolong!

Tentu saja Leng Ek Cu tidak sudi diperlakukan demikian. Andaikata tadi Sung Bi Tosu tidak berlaku sembrono dan tidak memandang rendah lawannya se-perti halnya Leng Ek Cu sekarang, belum tentu dia dapat dirobohkan sedemikian mudahnya oleh Bo Wi Sianjin yang memiliki Ilmu Katak Sakti. Leng Ek Cu amat hati-hati, dapat menduga bahwa lawannya, pendeta asing ini, memiliki kepandaian yang luar biasa dan aneh. Karena itu dia cepat menarik pedangnya yang dikelebatkan merupakan lingkaran membabat kedua lengan lawan. Gerakan ini dia lakukan dengan pengerahan tenaga Iweekang.

“Bagus!” Maharsi berseru gembira. Memang demikianlah wataknya. Makin tinggi tingkat kepandaian lawan, makin gembiralah hatinya untuk melayaninya. Ilmu silatnya yang aneh, sebagian besar mengandalkan tenaga sinkang mujijat yang bercampur dengan ilmu sihir, namun harus diakui bahwa tubuhnya yang jangkung itu dapat bergerak lamas dan lincah, sungguhpun kedua kakinya jarang sekali dipindahkan dengan cara diangkat, hanya digeser-geserkan dengan menggerakkan kedua tumit. Sepasang lengannya yang panjang itu bagaikan sepasang ular hidup, tapi setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat dari ilmu pukulan sakti Pai-san-jiu. Makin lama makin cepat kedua lengan bergerak, kini kedua tangan dikembangkan jari-jarinya, sepuluh buah jari itu bergerak-gerak seperti ular-ular kecil dan terbentanglah jari-jemari yang menggeliat-geliat mengaburkan pandangan mata, sepuluh batang jari itu bergerak-gerak cepat menjadi ratusan dan dari jari-jari itu menyambar hawa pukulan Pai-san-jiu!

Inilah ilmu yang hebat! Leng Ek Cu, tokoh tingkat dua dari Kong-thong-pai yang memiliki kiam-hoat pilihan, berusaha mengurung dirinya dengan selimut sinar pedangnya, namun dia hanya dapat bertahan sampai dua puluh lima jurus saja. Pandang matanya kabur, sinar pedangnya makin membuyar dihantam hawa pukulan yang merayap masuk antara sinar pedangnya bagaikan titik-titik air hujan. Pertahanannya makin lemah, kepalanya pusing dan tubuhnya bermandi peluh.

Maharsi makin kuat saja, kini hawa pukulan yang dapat menyelinap di antara sambaran sinar pedang makin membesar tenaganya, mengenai tubuh Leng Ek Cu bagaikan jarum-jarum beracun menusuk-nusuk. Pakaian tosu Kong-thong-pai itu sudah bolong-bolong, kulit tubuhnya yang terkena hawa pukulan mengakibatkan titik-titik hitam dan makin lama pukulan-pukulan yang sebetulnya hanya merupa-kan sentilan-sentilan jari tangan yang sepuluh buah banyaknya itu makin gencar datangnya. Leng Ek Cu seorang gagah sejati, sedikit pun tidak mengeluh walau rasa nyeri pada tubuhnya hampir tak tertahankan lagi. Akhirnya dia melakukan serangan balasan yang nekat, pedangnya membacok dengan disertai tenaga sepenuhnya, tubuhnya seakan-akan dia tubrukan dengan tubuh lawan agar bacokannya tidak dapat dihindarkan Maharsi. Maharsi melengking tinggi, kedua tangannya bergerak dan dari atas dia mendahului lawan dengan pukulan Pai-san jiu sekerasnya.

“Hukkk!” Demikian bunyi yang keluar dari mulut Leng Ek Cu. Tubuhnya sejenak berdiri tegak, seakan-akan tubuh itu kemasukan aliran listrik dari sambaran halilintar kemudian tubuh yang tegak itu menggigil, makin lama makin keras dan robohlah Leng Ek Cu dengan pedang di tangan. Tubuhnya tetap kaku tapi sudah tak bernapas lagi!

Dapat dibayangkan betapa marah dan sedihnya hati Thian Ti Losu melihat kejadian ini. Dua orang tosu itu, tokoh Kun-lun-pai dan tokoh Kong-thong-pai, keduanya adalah orang-orang gagah yang melakukan perjalanan bersamanya. Sekarang mereka berdua tewas dalem keadaan yang amat menyedihkan, semua gara-gara urusan dia dengan suhengnya, Bhong Hwesio yang murtad. Kalau tidak ada urusan Bhok Hwesio, kiranya tidak akan terjadi peristiwa ini dan kedua orang temannya itu tidak akan mengorbankan nyawa.

“Bhong-suheng, benar-benar kau telah tersesat jauh sekali’.” serunya dengan suara keras penuh kemarahan. “Kau membiarkan teman-temanmu membunuh dua orang tosu tidak berdosa dari Kun-lun dan Kong-thong. Bhok-suheng, kau insyaflah, jauhkan diri daripada pergaulan sesat dan mari pulang bersama siauwte, menghadap twa-suheng Thian Seng Losu dan menebus dosa menghadap perjalanan ke alam asal!”

Namun Bhok Hwesio yang sudah menyimpan rasa sakit hati dan juga penasaran terhadap Siauw-lim-pai, mana mau mendengar nasihat ini? la membuka ke-dua matanya dan menegur, “Thian Ti Losu, kau dan aku bukan saudara bukan teman bukan segolongan lagi, mengapa banyak cerewet? Mengingat akan perkenalan kita yang sudah puluhan tahun, mau aku mengampunimu dan lekas kau pergi dari sini jangan menggangguku lagi.”

“Bhok Hwesio, kau benar-benar tidak mau insyaf? Terpaksa pinceng mentaati perintah twa-suheng dan menjalankan peraturan Siauw-lim-pai yang kami junjung tinggi. Berlututlah!” Thian Ti liosu mengangkat tangan kanan tinggi di atas kepala sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ditaruh miring aan berdiri di depan dada. Inilah pasangan kuda-kuda yang sudah biasa dilakukan oleh seorang tokoh Siauw-lim-pai untuK memberi hukuman kepada murid murad. Mesti menurut aturan, murid-murid yang sudah tidak diakui lagi oleh Siauw-lim-pai menerima hukuman paling berat, yaitu dimusnahkan kepandaiannya sehingga ia akan menjadi seorang pendeta cacad di dalam tubuh yang tak dapat disembuhkan lagi, membuatnya menjadi seorang yang lemah dan tidak memiliki sinkang lagi.

“Hu-huh-huh, siapa sudi mendengar ocehanmu?” bentak Bhok Hwesio marah.

“Bhok-taisuhu, kenapa begini sabar? Biarlah aku mewakilimu memberi hajaran kepada si sombong ini!” Bo Wi Sianjin si pendek gendut membentak marah, lalu melompat maju menghadapi Thian Ti Losu, tubuhnya berjongkok dan kedua lengannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan bunyi “kok-kok” dari kerongkongannya.

“Omitohud, pendeta sesat!” Thian Ti Losu mengeluarkan teguran dan dia pun mendorongkan kedua lengannya ke depan. Karena si pendek itu mendorong dan bawah ke atas, untuk mengimbangi tenaganya dari arah yang berlawanan, hwesio Siauw-lim ini mendorong dari atas ke bawah. Tampaknya perlahan saja dua pasang telapak tangan itu bertemu, akan tetapi akibatnya hebat. Tubuh Thian Ti Losu mencelat ke atas sampai kedua kakinya meninggalkan tanah setinggi setengah meter, sedangkan tubuh Bo Wi Sianjin melesak ke dalam tanah sampai sepinggang dalamnya! Ini saja sudah mem-buktikan bahwa Ilmu Katak Sakti yang mengandung tenaga sinkang luar biasa itu ternyata tidak dapat melawan kekuatan si hwesio tokoh Siauw-lim-pai.

“Bi Wi Sianjin, biar pinceng bereskan sendiri bocah ini!” kata Bhok Hwesio yang menggerakkan kedua kakinya melangkah maju menghampiri sutenya. Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang seperti dua ekor jago tua sedang mengukur kekuatan dan keberanian hatiw sebelum mulai bertanding. Adapun Maharsi cepat menghampiri Bo Wi Sianjin dan sekali kakek jangkung ini menyendal tangari temannya, tokoh Mongol itu sudah “tercabut” keluar dari tanah. Wajahnya menjadi merah karena dalam. segebrakan tadi saja sudah dapat dibuktikan bahwa ilmu kepandaian tokoh Siauw-lim-pai itu masih terlampau kuat baginya. Diam-diam dia harus mengakui kehebatan Siauw-lim-pai yang bukan kosong, terbukti dengan dua orang hwesio ini sudah cukup menyatakan bahwa tokoh-tokoh Siauw-lim-pai memang hebat.

Sementara itu, Bhok Hwesio dan Thian Ti Losu sudah mulai bertanding. Karena maklum betapa lihainya hwesio murtad itu, Thian Ti Losu menyerang dengan senjata tongkatnya. Begitu bergebrak, dia telah mempergunakan ilmu tongkatnya yang amat kuat. Tongkat itu mengeluarkan bunyi mengaung-aung dan ujungnya tergetar lalu pecah menjadi banyak sekali, langsung menyerang bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Bo Wi Sianjin dan Maharsi memandang kagum dan penuh perhatian. Sering sudah mereka menyaksikan ilmu tongkat dari Siauw-lim-pai yang tersohor dimainkan orang, akan tetapi baru kali ini melihat permainan tongkat demikian dahsyatnya.

Bhok Hwesio sendiri pun maklum akan kelihaian sutenya ini, dan tentu saja sebagai tokoh Siauw-lim-pai, dia mengenal baik ilmu tongkat dari Siauw-lim, maka dengan tenang namun tangkas dia melayani tongkat itu dengan kedua ujung lengan bajunya. Thian Ti Losu baru merasa terkejut ketika gerakan tongkatnya menyeleweng setiap kali bertemu dengan ujung lengan baju Bhok Hwesio. Hal ini menandakan bahwa bekas suhengnya itu luar biasa kuatnya dan dia kalah banyak dalam hal tenaga sakti. Selain ini, dia melihat gerakan suhengnya amat aneh, biarpun dasar-dasarnya masih memakai dasar Ilmu Silat Siauw-lim-pai yang kokoh kuat, namun perkembangannya berubah banyak seakan-akan jurus-jurus Siauw-lim-pai yang tidak asli lagi. Memang demikianlah halnya. Selama dua puluh tahun menjalani hukumannya sambil bertapa di dalam kamar, Bhok HwesiO telah menciptakan ilmu pukulan dengan kedua lengan bajunya, yang sedianya dia ciptakan untuk menghadapi musuh-musuhnya yang lihai ilmu pukulan ini dasarnya memang Ilmu Silat Siauw-lim-pai yang dia pelajari semenjak kecil, akan tetapi perkembangannya dia ciptakan sendiri, khusus untuk melayani ilmu silat yang mengandung penggabungan hawa Im dan Yang, karena kedua orang musuh besarnya, Pendekar Buta dan Raja Pedang, adalah ahli-ahli dalam hal ilmu silat gabungan tenaga itu. Kini, menghadapi bekas sutenya dia malah mendapat kesempatan untuk sekali lagi, setelah tadi mencobanya atas diri Bo Wi Sianjin dan Maharsi, menggunakan dan mencoba ilmu ciptaannya itu.

Kepandaian Bhok Hwesio memang hebat. Hawa sinkang di dalam tubuhnya menjadi berlipat kuatnya setelah dia bertapa selama dua puluh tahun, berlatih setiap hari dengan tekun. Memang dasar latihan samadhi dan peraturan bernapas dari Siauw-lim-pai amatlah kuatnya, berasal daripada sumber yang bersih dan diperuntukkan para pendeta Buddha untuk menguatkan batin dan mencapai kesempurnaan. Dan agaknya dalam hal ini, Bhok Hwesio sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, sungguhpun setelah sampai pada batas yang tinggi, ilmunya menjadi menyeleweng daripada garis kesempurnaan karena dikotori oleh rasa dendam dan sakit hati sehingga tak dapat menembus rintangan yang dibentuk oleh nafsunya sendiri. Andaikata Bhok Hwesio tidak dikotori oleh dendam dan nafsu, kiranya dia akan dapat mecapai tingkat yang lebih tinggi daripada yang pernah dicapai oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai karena memang pada dirinya terdapat bakat yang amat besar.

Thian Ti Losu baru sadar akan kehebatan bekas suhengnya ini setelah bertanding selama lima puluh jurus. la terdesak hebat dan sinar tongkatnya selalu terbentur membalik oleh hawa pukulan lawan yang kuat sekali. Namun, bagi tokoh Siauw-lim-pai ini, membela kebenaran merupakan tugas hidup dan merupakan pegangan sehingga dia tidak gentar menghadapi apa pun. Mati dalam membela kebenaran adalah mati bahagia. la mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya lebih cepat, berusaha sekuatnya untuk menghancurkan benteng hawa pukulan yang menghimpitnya itu. Dengan gerakan melingkar, tongkatnya melepaskan diri daripada tekanan ujung lengan baju, lalu dari samping dia mengirim tusukan ke arah lambung. Gerakan ini boleh dikatakan nekat karena dalam menyerang, dia membiarkan dirinya tak terlindung. Jika lawannya membarengi dengan serangan balasan, biar tongkatnya akan mencapai sasaran dia sendiri tentu akan celaka.

Bhok Hwesio mengeluarkan dengus mengejek. la tidak mempergunakan kesempatan itu untuk balas menyerang, melainkan cepat sekali kedua ujung lengan baju dia hentakkan ke samping dan di lain saat tongkat itu telah terlibat oleh ujung lengan baju ke dua menotok ke arah lehernya.

Thian Ti Losu kaget sekali, mengerahkan tenaga untuk merenggut lepas tongkatnya. Namun hasilnya sia-sia, tongkatnya seperti telah berakar dan tak dapat dicabut kembali. Sementara itu, ujung lengan baju kiri Bhok Hwesio seperti seekor ular hidup sudah meluncur dekat. Terpaksa sekali, untuk menyelamatkan dirinya, Thian Ti Losu melepaskan tongkatnya dan melempar tubuh ke belakang sambil bergulingan. la selamat daripada totokan maut, akan tetapi tongkatnya telah dirampas lawan. Bhok Hwesio tertawa pendek, tangannya bergerak dan….. tongkat itu amblas ke dalam tanah sampai tidak kelihatan lagi!

“Thian Ti Losu, terang kau bukan lawanku. Sekali lagi, kau pergilah dan jangan menggangguku lagi, aku maafkan kekurangajaranmu untuk terakhir kali mengingat bahwa kau hanya menjalankan perintah. Nah, pergilah!”

Akan tetapi, mana Thian Ti Losu sudi mendengarkan kata-kata ini? Melarikan diri daripada tugas hanya karena takut kalah atau mati adalah perbuatan pengecut dari akan mencemarkan nama baiknya dan terutama sekali, nama besar Siauw-lim-pai. Mati dalam menunaikan tugas jauh lebih mulia daripada hidup sebagai pengecut yang mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai. Dan Bhok Hwesio bekas suhengnya, menganjurkan dia menjadi pengkhianat dan pengecut! Thian Ti Hwesio menengadahkan mukanya ke atas, tertawa bergelak lalu mengerahkan seluruh Iweekangnya dan di lain saat dia telah menerjang maju dengan kepala yang mengepulkan uap di depan, menubruk Bhok Hwesio. Inilah jurus mematikan yang berbahaya bagi lawan dan diri sendiri! Karena jurus seperti ini, yang menggunakan kepala untuk menghantam tubuh lawan, merupakan tantangan untuk mengadu tenaga lerakhir untuk menentukan siapa harus mati dan siapa akan menang. Kalau dielakkan, hal ini akan menunjukkan kelemahan yang diserang, tanda bahwa dia tidak berani menerima tantangan adu nyawa, dan bagi seorang jagoan, apalagi seorang tokoh besar seperti Bhok Hwesio, tentu saja merupakan hal yang akan memalukan sekali.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: