Jaka Lola ~ Jilid 14

“Huh, kau keras kepala!” ejek Bhok ‘Hwesio sambil berdiri tegak, perutnya yang gendut besar ditonjolkan ke depan. Bagaikan seekor lembu mengamuk, Thian Ti Losu menyeruduk ke depan, kepalanya diarahkan perut bekas suhengnya.

“Cappp!” Kepala hwesio itu bertemu dengan perut suhengnya dan menancap atau lebih tepat amblas ke dalam ketika perut itu mempergunakan tenaga menyedot. Hebatnya, tubuh Thian Ti Losu lurus seperti sebatang kayu balok. Kedua tangannya bergerak hendak memukul atau mencengkeram, namun Bhok Hwesio yang sudah siap mendahuluinya, mengetuk kedua pundaknya. Terdengar suara tulang patah dan kedua lengan Thian Ti Losu menjadi lemas seketika, tergantung di kedua pundak yang telah patah sambungan tulangnya. Bhok Hwesio meneruskan gerakan tangannya. Tiga kali dia menge-tuk punggung Thian Ti Losu dan tubuh yang tegak lurus itu menjadi lemas, tan-da bahwa tenaganya lenyap. Adapun kepala tokoh Siauw-lim-pai itu masih menancap di “dalam” perut Bhok Hwesio.

“Nah, pergilah!” seru Bhok Hwesio. Perutnya yang tadinya menyedot itu dikembungkan dan….. tubuh Thian Tl Losu yang sudah lemas itu terlempar ke belakang sampai lima meter lebih jauhnya, roboh di atas tanah dalam keadaan setengah duduk. la maklum apa yang telah menimpa dirinya. Bhok Hwesio sudah melakukan tindakan yang amat kejam, bukan membunuhnya melainkan mematahkan tulang kedua pundak, tulang punggung dan menghancurkan saluran hawa sakti di punggung sehingga mulai saat itu dia tidak akan mungkin lagi mempergunakan Iweekang atau sinkang dan menjadi seorang tapadaksa selama hidupnya!

“Manusia keji…..” katanya terengah-engah menahan nyeri akan tetapi matanya masih memandang tajam, “Bunuhlah sekalian…..”

“Huh-hu-huh, Thian Ti Losu. Kau benar-benar seorang yang tak kenal budi. Aku sengaja tidak membunuhmu agar kau dapat kembali ke Siauw-lim-pai dan membuktikan bahwa kau seorang yang setia dan dapat menunaikan tugas sampai batas kemampuan terakhir. Dan kau masih mengomel?”

“Lempar saja dia ke jurang!” kata Bo Wi Sianjin yang masih merasa penasaran dan marah karena tadi dia terbanting masuk ke dalam tanah oleh tokoh Siauw-lim-pai itu.

“Heeeiii…..! Mana dia…..??”

Seruan Maharsi itu membuat Bhok Hwesio dan Bo Wi Sianjin menengok. Baru sekarang mereka teringat akan diri gadis cucu Raja Pedang ketua Thai-san-pai itu.

“Wah, dia melarikan diri. Hayo kejar, dia penting sekali harus kita tawan!” seru Bhok Hwesio dan ketiga orang kakek ini segera meloncat dan lenyap dari tempat itu mengejar Lee Si, meninggalkan Thian Ti Losu yang hanya dapat memandang dengan hati mendongkol. la ditinggal dalam keadaan cacad, bersama mayat dua orang temannya. Sung Bi Tosu Itokoh Kun-lun-pai dan Leng Ek Cu tokoh Kong-thong-pai.

Ke manakah perginya Lee Si? Mengapa betul dugaan Bhok Hwesio tadi. Ketika gadis ini melihat bahwa di antara para kakek sakti itu timbul pertengkaran, ia maklum bahwa kehadirannya disitu amat berbahaya dan bahwa saat itulah merupakan kesempatan baik sekali baginya. Diam-diam ia menyelinap pergi pada saat pertandingan pertama terjadi. Setelah menyelinap di antara pepohonan dia lalu berlari cepat sekali, sengaja mengambil jalan melalui hutan-hutan lebat.

Sepuluh hari kemudian, Lee Si yang kali ini berlari menuju ke timur tanpa disengaja, tiba di sebuah kota. Di tempat ini barulah ia mendapat kenyataan dari keterangan yang ia dapat bahwa selama ini ia telah salah jalan dan tersesat amat jauh. Kota ini adalah Kong-goan, sebuah kota di Propinsi Secuan sebelah utara, cukup besar dan ramai, di lembah Sungai Cia-ling. Karena ketika tiba di kota ini hari sudah menjelang senja, setelah mendapatkan keterangan itu Lee Si lalu menyewa sebuah kamar di rumah penginapan yang kecil tapi cukup bersih. Sehabis makan, ia berjalan keluar dari kamarnya, terus ke depan rumah penginapan dengan maksud hendak keliling kota.

Tiba-tiba ia mengangkat muka dan hatinya berdebar. Entah apa sebabnya, bertemu pandang dengan seorang pemuda yang kebetulan lewat di depannya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Lee Si bingung dan heran sendiri. Pemuda itu tampan sekali, mukanya putih dan halus seperti muka wanita, alisnya hitam tebal, pakaiannya sederhana saja akan tetapi tidak menyembunyikan tubuhnya yang kuat dan tegap, gerak-geriknya jelas membayangkan “isi”, yaitu bahwa orang muda ini tentu menuliki kepandaian berarti. Agaknya yang kemasukan aliran “stroom” aneh bukan hanya Lee Si karena pemuda itu yang tadinya berjalan dengan kepala menunduk, tiba-tiba mengangkat muka memandang Lee Si, malah setelah lewat, beberapa kali dia menengok sehingga dua pasang mata bertemu dan sinarnya seakan-akan menembus jantung!

Sejenak Lee Si berdiri termenung, memeras otak untuk mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan pemuda tadi dan mengapa ia menjadi tertarik seperti ini. Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat ingat di mana dan bila mana ia pernah melihat wajah itu, wajah yang seakan-akan tidak asing baginya dan yang membuat darah di tubuhnya berdenyut lebih cepat daripada biasanya. Akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu beberapa kali menengok memandangnya timbul kemarahan di hati Lee Si. Betapapun juga, pemuda itu kurang ajar, berani memandanginya seperti itu. Selain kurang ajar juga mencurigakan.

Lee Si cepat memasuki kembali kamarnya, mengambil pedangnya dan tak lama kemudian tubuhnya sudah berkelebat di atas genteng yang mulai gelap dan langsung mengejar ke arah perginya pemuda tadi. Gerakannya cepat dan gesit sekali dan sebentar saja ia melihat pemuda itu berjalan perlahan melalui jalan kecil yang gelap, kemudian terus keluar kota sebelah timur.

Siapakah pemuda tampan itu? Bukan pemuda biasa. Pemuda itu adalah Kwa Swan Bu, putera tunggal Pendekar Buta Kwa Kun Hong! Telah lama sekali kita meninggalkan Pendekar Buta dan anak isterinya. Setelah suami isteri dan putera mereka ini pindah kembali ke tempat lama, yaitu di Liong-thouw-san, Swan Bu tidak begitu dimanja lagi seperti ketika dia berada di Hoa-san. la amat tekun berlatih lilmu kepandaian di bawah bim-bingan ayah bundanya, terutama ayahnya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali seperti biasa, Swan Bu turun dari puncak Liong-thouw-san dan pergi ke lereng sebelah kanan di mana terdapat jembatan tambang yang menghubungkan Liong-thouw-san dengan dunia luar. la duduk di atas batu besar dan memandang ke timur. Sudah menjadi kesukaan Swan Bu untuk menanti munculnya matahari yang merah dan besar. Kadang-kadang dia memandang dengan hati penuh rindu, bukan rindu kepada matahari melainkan kepada dunia ramai. Bagi seorang pemuda seperti dia, tentu saja tinggal di puncak Liong-thouw-san hanya dengan ayah bundanya, merupakan keadaan yang kadang-kadang menyiksanya, tersiksa oleh kesunyian dan rindu akan keramaian dunia. Tentu saja Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, maklum dan dapat merasakan kesunyian hidup putera mereka, dan maklum betapa besar hasrat hati Swan Bu untuk meninggalkan puncak dan merantau di dunia ramai. Akan tetapi, mereka selalu melarangnya dengan dalih bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh daripada cukup untuk dijadikan bekal merantau di dunia ramai karena di sana terdapat banyak sekali penjahat-penjahat yang berilmu tinggi.

Selagi Swan Bu duduk termenung sambil menikmati bola merah besar yang mulai tampak muncul dari balik puncak sebelah timur, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sesosok bayangan manusia yang ber-gerak cepat meloncat ke sana ke mari. Jelas bahwa orang itu datang mendaki puncak itu yang memang tidak mudah dilalui. Swan Bu tetap duduk tak ber-gerak, memandang penuh perhatian. Dari jarak sejauh itu, dan dengan cuaca pagi yang masih remang-remang, dia tidak dapat mengenal siapa adanya orang yang datang ini. Terang bukanlah penduduk di sekitar Pegunungan Liong-thouw-san, karena tidak ada penduduk gunung yang dapat bergerak secepat itu. Timbul ke-gembiraan di hati Swan Bu. Tentu seorang di antara anak murid Hoa-aan-pai! Siapa lagi kalau bukan orang Hoa-san-pai yang datang berkunjung? Hatinya gembira karena semua anak murid Hoa-san-pai telah dia kenal baik.

Swan Bu melihat betapa orang itu meloncat ke atas jembatan tambang. Sebetulnya bukanlah jembatan, melainkan sehelai tambang yang direntang dari seberang jurang dan untuk melalui “jembatan” ini, orang harus memiliki kepandaian dan ginkang. Sekali saja terpeleset, mulut jurang yang menganga lebar mengerikan telah menanti di bawah untuk menelan lenyap tubuh si penyeberang yang jatuh! Swan Bu dapat melihat betapa tambang itu bergoyang sedikit ketika orang tadi meloncat di atasnya dan kini berlari melalui tambang. Bergoyangnya tambang ini saja sudah cukup dijadikan ukuran oleh Swan Bu bahwa si pendatang ini belumlah begitu sempurna ginkangpya. Teringat dia betapa ibunya melatih ginkang dan tambang inilah yang dijadikan ukuran. Selama dia belum dapat berlari-lari di atas tambang tanpa menggoyangkan tambang itu sedikit pun juga, dia diharuskan terus berlatih! Tentu saja sekarang dia dapat berlari-lari di atas tambang itu tanpa menggoyangkan tambang sama sekali.

Setelah orang itu datang dekat, Swan Bu terheran-heran. Orang itu adalah seorang pemuda, sebaya dengannya. Seorang pemuda yang tampan, pakaiannya indah, pedang yang bersarung pedang indah tergantung di pinggang, kepalanya ditutup sebuah topi lebar yang dihias sehelai bulu merak, membuat wajahnya tampak makin tampan. Yang membuat Swan Bu terheran-heran adalah bahwa dia sama sekali tidak mengenal orang ini. Orang ini bukanlah anak murid Hoa-san-pai! la cepat berdiri dan menghadang di situ.

Pemuda itu setelah melompat ke seberang setelah melalui jembatai tambang, melihat Swan Bu dan cepat dia menghampiri. Wajahnya yang tampan itu berseri dan mulutnya tersenyum. Cepat dia mengangkat kedua tangan memberi salam sambil berkata,

“Kalau tidak salah dugaanku, saudara ini adalah Kwa Swan Bu, putera dari paman Kwa Kun Hong, bukan?”

Kening Swan Bu berkerut dan dia menjadi makin curiga, akan tetapi dengan hati tabah dia menjawab, “Dugaanmu betul. Siapakah kau dan apa maksudmu mendaki puncak Liong-thouw-san?”

Pemuda itu tersenyum, tidak marah oleh sikap Swan Bu yang tidak manis. “Aku Bun Hui dari Tai-goan, ayahku adalah sahabat baik ayuhmu.”
“Ayahmu siapakah? She Bun…..? Apakah ada hubungannya dengan Bun Lo sianjin ketua Kun-lun-pai?”

“Beliau adalah kakekku!” seru Bun Hui gembira. “Ayahku adalah Jenderal Bun Wan yang bertugas di Tai-goan, dengan ayahmu terhitung sahabat baik.”

Swan Bu mengangguk-angguk. Tahulah dia sekarang siapa adanya pemuda tam-pan berpakaian indah dan mewah akan tetapi sikapnya ramah sederhana ini. Tentu saja dia sudah banyak mendengar tentang tokoh-tokoh di dunia kang-ouw dari ayah bundanya, baik tokoh-tokoh yang tergolong kawan maupun yang tergolong lawan. Sudah sering kali ayah bundanya menyebut-nyebut nama keluarga Bun dari Kun-lun-pai, malah dia pun tahu bahwa ibu dari pemuda ini masih terhitung bibinya karena ibu pemuda ini adalah adik angkat ibunya sendiri. Jadi mereka berdua masih dapat disebut saudara misan. la segera menjura dan berkata,

“Maafkan penyambutanku yang kaku karena aku tidak tahu sebelumnya. Kiranya saudara adalah putera paman Bun Wan. Benar dugaanmu, aku adalah Kwa Swan Bu. Bolehkah aku mendengar urusan penting apa gerangan yang mendorong saudara datang ke sini jauh-jauh dari Tai-goan? Kuharap saja tidak terjadi sesuatu yang buruk atas diri paman berdua di Tai-goan.”

Bun Hui tersenyum, girang hatinya mendapat kenyataan bahwa Swan Bu tidaklah sesombong tampaknya tadi. “Girang sekali, hatiku dapat bertemu muka denganmu, adik Swan Bu. Sudah lama aku mendengar akan dirimu dari ayah bundaku, dan aku tahu bahwa usia kita sebaya, hanya aku lebih tua beberapa bulan saja dari padamu. Jangan kau khawatir, ayah bundaku dalam keadaan selamat. Kedatanganku ini diutus oleh ayah, selain untuk menyampaikan hormat kepada ayah bundamu, juga untuk memberi peringatan bahwa kini mulai bermunculan musuh-musuh besar yang berusaha membalas dendam.”

Berubah wajah Swan Bu yang tampan. Alisnya yang tebal hitam itu berkerut, matanya memancarkan sinar kemarahan. “Hemmm, kakak Bun Hui, berilah tahu kepadaku, siapa gerahgan musuh-musuh yang berusaha untuk membalas dendam kepada ayah?”

“Ayahku lebih mengetahui akan hal itu dan agaknya ayah telah mencatat secara lengkap dalam suratnya yang kubawa untuk ayahmu. Sepanjang pengetahuanku, agaknya penghuni Ching-coa-to yang mengumpulkan kekuatan untuk memusuhi ayahmu. Juga….. ada….. orang dari Go-bi-san…..”

Melihat keraguan Bun Hui, Swan Bu makin tertarik. “Siapakah dia, Twako? Juga musuh besar ayah?”

Bun Hui menelan ludah dan mengangguk. Beratlah hatinya untuk menyebut nama Siu Bi. Tidak ingin dia melihat Siu Bi bermusuhan dengan Liong-thouw-san, dan lebih lagi tidak ingin dia melihat Siu Bi menjadi korban karena sudah pasti gadis itu akan menemui bencana kalau berani memusuhi Pendekar Buta.

“Dia datang dari Go-bi-san di mana terdapat dua orang bekas musuh besar ayahmu, yaitu Hek Lojin dan muridnya, The Sun. Mereka ini memiliki kepandaian hebat dan agaknya takkan mau sudah sebelum dapat membalas kekalahan mereka belasan tahun yang lalu.”

“Hemmm, dan penghuni Ching-coa- to itu, siapakah?”

“Sepanjang pengetahuanku, kini di situ menjadi sarang Ang-hwa-pai yang dipimpin oleh ketua mereka yang berjuluk Ang-hwa Nio-nio. Juga ada bekas jagoan di istana selatan berjuluk Ang Mo-ko, juga amat lihai biarpun tidak sehebat Ang-hwa Nio-nio kepandaiannya. Masih banyak lagi teman-teman mereka yang tidak kuketahui.”

“Twako, di manakah letaknya Ching-coa-to? Di mana tempat tinggal Ang Mo-ko dan apakah orang-orang Go-bi-san itu sudah turun gunung? Mereka berkumpul di mana sekarang?”

Bun Hui memandang curiga. “Adikku yang gagah, agaknya bernafsu sekali kau ingin mengetahui tempat mereka. Mau apakah kau?”

“Tidak apa-apa, twako. Bukankah lebih baik mengetahui kedudukan dan keadaan lawan?”

Bun Hui lalu memberi tahu di mana letak Ching-coa-to. “Mungkin Ang Mo-ko yang tak tentu tempat tinggalnya itu pun sudah berada di Ching-coa-to. Ten-tang….orang-orang Go-bi-san, aku sen-diri tidak tahu pasti di mana mereka berada. Hanya….. kabarnya sudah turun gunung.” Benar-benar berat hati Bun Hui untuk bicara tentang Siu Bi, dan ini pula yang menggelisahkan hatinya di dalam perjalanan itu karena dia merasa kha-watir kalau-kalau ayahnya memberi tahu perihal Siu Bi di dalam suratnya kepada Pendekar Buta.

“Twako, silakan kau naik ke puncak menghadap ayah dan ibu. Kalau mereka bertanya tentang aku, katakan bahwa aku hendak turun gunung mencegah kutu-kutu busuk itu mengganggu ketenteraman Liong-thouw-san!”

“Eh, adik Swan Bu….. jangan begitu…… tak boleh tergesa-gesa dan berlaku sembrono…..!” Bun Hui berseru gugup.

Namun Swan Bu tersenyum dan dagunya mengeras membayangkan kekerasan “Mengapa jangan? Bukankah lebih baik mendahului lawan agar jangan memberi kesempatan kepada mereka untuk ber-gerak? Apakah artinya aku menjadi putera tunggal ayah ibu kalau aku tidak becus membasnni musuh-musuh ayah ibu sehingga bangsat-bangsat itu tidak akan berani mengganggu orang tuaku? Selamat berpisah, Twako dan terima kasih atas pemberitahuanmu. Kalau selesai tugasku, aku pasti akan mampir di Tai-goan untuk menghaturkan terima kasih kepada ayah bundamu.”

Bun Hui menyesal bukan main mengapa dia tadi banyak bicara kepada pemuda yang berwatak keras itu. Cepat-cepat dia mendaki ke atas puncak agar dapat memberi tahu kepada paman dan bibinya sehingga mereka akan dapat mencegah Swan Bu turun gunung. la maklum bahwa Swan Bu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi mana bisa pemuda ini menghadapi musuh-musuh tangguh itu seorang diri? Baru Siu Bi, gadis remaja itu saja sudah demikian hebat kepandaiannya! Apalagi musuh-musuh lain yang lebih tua usianya. Ia juga sudah mendengar betapa Ang-hwa Nio-nio memiliki ilmu yang annat tinggi.

Tergesa-gesa dia mendaki puncak melalui tangga tambang. Ketika dia tiba di depan pondok, dia melihat seorang laki-laki berusia sebaya ayahnya, duduk di atas bangku menjemur diri di bawah sinar matahari pagi. Di sebelahnya duduk seorang wanita sebaya ibunya, lebih tua sedikit, cantik sekali, keduanya bercakap-cakap dengan sikap tenang. Biarpun seringkali dia mendengar ayahnya menyajung-nyanjung dan memuji-muji Pendekar Buta, namun Bun Hui belum pernah bertemu muka dengan pendekar itu atau pun isterinya. Akan tetapi, melihat kesederhanaan mereka yang sekarang duduk di depan pondok, dia dapat menduga bahwa mereka tentulah paman dan bibinya. Apalagi sekarang jelas kelihatan betapa sepasang mata laki-laki setengah tua itu tidak pernah berkedip dan ketika dia berjalan mendekat, tampak olehnya betapa sepasang mata itu kosong tidak berbiji! Sebatang tongkat kayu yang bersandar pada bangku laki-laki buta itu menarik perhatiannya dan diam-diam tengkuknya meremang karena dia sering mendengar dari ayahnya tentang keampuhan tongkat itu yang telah merobohkan banyak tokoh besar dunia kang-ouw.

Kini mereka berhenti bercakap-cakap dan menengok ke arahnya. Terkejut hati Bun Hui ketika bertemu pandang dengan sepasang mata nyonya itu. Alangkah tajam, penuh wibawa dan seakan-akan menembus langsung ke dalam dadanya! Seakan-akan mata nyonya itu mewakili pula mata suaminya yang buta sehingga kekuatan pandangannya seperti pandang mata dua orang digabung menjadi satu. Cepat dia maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka tanpa mempedulikan tanah yang agak basah oleh embun pagi dan mengotori celana pakaiannya yang indah.

“Bangunlah, Hui-ji (anak Hui), tak perlu kau terlalu sungkan. Lihat, pakaianmu kotor oleh tanah basah!” Wanita itu, Kwee Hui Kauw, menegur Bun Hui.

Bun Hui tercengang. Bagaimana nyonya itu mengetahui bahwa dia adalah Bun Hui? Selamanya baru kali ini dia bertemu muka dengan suami isteri pendekar ini!

“Betul kata isteriku, orang muda. Kau bangkit dan duduklah, mari kita bicara yang enak.”

“Paman….. Bibi….. mohon ampun sebesarnya….. saya telah bicara dengan adik Swan Bu dan…..”

Pendekar Buta Kwa Kun Hong tersenyum, menggerakkan tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kata-katanya. “Dan dia pergi turun gunung? Tidak apa, anakku. Memang sudah waktunya dia turun gunung menambah pengalaman. Lebih baik kauserahkan surat ayahmu kepadaku.”

Untuk kedua kalinya Bun Hui tercengang. Bagaimana suami isteri itu dapat mengetahui semuanya? Dapat tahu bahwa dia datang membawa surat ayahnya, tahu pula tentang perginya Swan Bu turun gunung dan tahu bahwa dia itu Bun Hui padahal baru kali ini berteinu muka. Satu-satunya jawaban yang menerangkan keanehan ini hanya bahwa suami isteri ini tentu telah melihat kedatangannya dan mendengar percakapannya dengan Swan Bu tadi, tanpa dia sendiri mengetahui kehadiran mereka! Ini saja sudah membuktikan kelihaian mereka!

la segera mengambil surat ayahnya dan menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong. Tak enak hatinya, karena bagaimana dia dapat menyerahkan surat kepada seorang yang buta kedua matanya? Untuk memberi tahu bahwa surat sudah tiia keluarkan, bibirnya bergerak hendak bicara agar paman yang buta itu dapat mengetahui, akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Kun Hong sudah menggerakkan tangannya menerima surat itu dengan gerakan sewajarnya seperti seorang yang tidak buta. Seakan-akan dia melihat surat itu dan menerimanya tanpa ragu-ragu lagi. Tentu saja Bun Hui kaget setengah mati dan mulailah dia meragukan kebutaan Kwa Kun Hong. Akan tetapi keraguannya lenyap ketika Kun Hong menyerahkan surat kepada isterinya untuk dibaca. Dengan suaranya yang halus dan merdu Kwee Hui Kauw membaca surat itu yang isinya hampir sama dengan apa yang telah diceritakan Bun Hui kepada Swan Bu tadi, hanya bedanya bahwa di dalam surat itu disebut nama Siu Bi sebagai seorang musuh besar yang mengancam hendak membuntungi tangan Pendekar Buta dan anak isterinya!

Kwa Kun Hong tersenyum pahit dan berkata lirih setelah isterinya selesai membaca, “Hemmm, benci-membenci, dendam-mendendam, permusuhan, bunuh-membunuh, apa senangnya hidup kalau dunia penuh dengan amukan nafsu ini? Isteriku, aku sudah bosan dengan segala urusan itu. Mudah-mudahan saja Swan Bu akan dapat mengingat semua nasihatku dan tidak suka menanam bibit permusuhan dengan siapapun juga di dunia ini…..”

“Tak perlu digelisahkan semua itu,” jawab isterinya dengan suara tetap te-nang, halus dan merdu, “Orang lain boleh meracuni hati sendiri dengan menanam kebencian, orang lain boleh mengikat diri dengan dendam dan permusuhan, akan tetapi kita yang sadar akan penyelewengan hidup itu tidak akan menuruti bujukan nafsu dan setan. Orang membenci kita, orang memusuhi kita, asalkan kita tidak menribenci dan tidak memusuhi mereka, kitalah yang menang. Bukanlah begitu kata-katamu sendiri! Nah, kalau ada yang hendak memusuhi kita, biarkan mereka datang. Kalau boleh, kita peringatkan mereka, kita sadarkan mereka, kaleu tidak, apa boleh buat, kita hidup dan kita wajib membela diri. Kalau kita yang dibeci anugerah hidup tidak mau melakukan kewajiban membela dan menjaga diri, berarti kita kurang terima dan tidak menghargai anugerah itu. Bukankah begitu apa yang sering kaukatakan, suamiku?”

Kwa Kun Hong menarik napas panjang dan mengangguk-angguk. Bun Hui berdiri bengong, hatinya terharu sekali dan tak kuat dia menentang wajah dua orang itu, membuatnya tunduk lahir batin. Baru kali ini selama hidupnya dia menyaksikan keadaan penuh damai, penuh cinta kasih, penuh pengertian dan penuh kata-kata yang mempunyai arti begitu dalam pada sepasang suami isteri. la menunduk dan sikap serta kata-kata suami isteri itu saja sudah lebih daripada cukup untuk membuat hati anak muda ini menjadi kagum dan tunduk.

“Hui-ji, kami sangat berterima kasih kepada ayahmu yang penuh perhatian dan juga kepadamu yang sudah melakukan perjalanan sejauh ini. Kuharap saja kau suka beristirahat di sini barang sepekan, agar kita dapat bercakap-cakap dan kami dapat mendengar ceritainu tentang keadaan orang tuamu dan juga keadaan dunia ramai,” kata Kwa Kun Hong.

“Saya akan mentaati perintah Paman dan sementara itu, saya yang muda dan bodoh banyak mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Paman dan Bibi.” Senang hati suami isteri itu melihat sikap dan mendengar kata-kata yang amat baik dari Bun Hui. Demikianlah, pemuda ini tinggal sampai sepuluh hari di puncak Liong-thouw-san dan selama itu, selain menceritakan segala hal tentang keadaan di kota raja dan lain-lain yang ditanyakan kedua orang tua itu, juga dia menerima banyak petunjuk-petunjuk yang amat penting uhtuk menyempurnakan kepandaian ilmu silathya, terutama ilmu pedangnya Kun-lun Kiam-sut banyak mendapat kemajuan oleh petunjuk Kwa Kun Hong.

Sementara itu, Kwa Swan Bu sudah berlari cepat sekali turun dari puncak. la merasa agak bersalah karena tidak berpamit kepada ayah bundanya, akan tetapi dia sengaja meninggalkan pesan saja kepada Bun Hui karena dia dapat menduga bahwa biarpun ayahnya tidak akan melarangnya, namun ibunya tentu akan menyatakan keberatan. Sudah sering kali dia menyatakan ingin turun gunung dan selalu dicegah ibunya yang berkata bahwa kepandaiannya kurang cukup untuk dipakai menjaga diri daripada gangguan orang-orang jahat yang banyak terdapat di dunia kang-ouw.

Sekarang Swan Bu tidak ragu-ragu lagi. Tadinya, memang dia meragu dan membenarkan ibunya, maka dia menunda keinginan hatinya untuk turun gunung. Akan tetapi begitu melihat Bun Hui, keraguannya lenyap. Dari gerakan Bun Hui ketika menyeberangi jembatan tambang, jelas tampak olehnya bahwa tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh tingkat yang dimiliki Bun Hui. Kalau Bun Hui sudah diperbolehkan ayahnya melakukan perjalanan jauh seorang diri, mengapa dia tidak boleh? Pendapat ini diperkuat lagi oleh dorongan hatinya yang menjadi panas mendengar betapa orang tuanya diancam oleh banyak bekas musuh lama.

Pada suatu hari sampailah dia di kota Kong-goan di tepi Sungai Cia-ling. la bermaksud untuk melanjutkan perjalanan melalui Sungai Cia-ling ke selatan sampai di Sungai Yang-ce-kiang kemudian melanjutkan perjalanan ke timur melalui sungai besar itu. Akan tetapi ketika dia tiba di tepi sungai, hendak menyewa perahu yang suka mengantarnya sampai ke Sungai Yang-ce-kiang, dia melihat dua orang pengemis menggotong seorang pengemis lain yang agaknya sakit keras, wajahnya pucat, tubuhnya lemah dan dari mulutnya keluar darah. Tadinya Swan Bu tidak mau mencampuri urusan orang lain sungguhpun sekilas pandang tahulah dia bahwa kakek pengemis yang digotong itu terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya. Akan tetapi perhatiannya tertarik ketika dia melihat pakaian para pengemis penuh tambalan itu. Pakaian penuh tambalan itu berwarna-warni dan berkembang-kembang. Teringat dia akan penuturan ayahnya bahwa perkumpulan pengemis Hwa-i-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) adalah perkumpulan pengemis yang patriotik dan ayahnya sendiri menjadi ketua kehormatan!

“Lopek, berhenti dulu! Biarkan aku mencoba untuk menolong orang tua yang menderita luka pukulan Ang-see-ciang ini!”

Dua orang pengemis yang menggotong si sakit memandang curiga, akan tetapi kakek pengemis yang terluka itu membuka mata, memandang heran, lalu berkata dengan napas terengah-engah “Turunkan aku…… biarkan Kongcu ini memeriksaku…..”

Dua orang pengemis itu terheran, akan tetapi mereka tidak berani membantah. Tubuh kakek itu tidak jadi dimasukkan ke dalam perahu, melainkan diletakkan di atas tanah pasir. Swan Bu tidak membuang banyak waktu lagi. Jalur-jalur merah pada leher itu jelas tampak, tanda korban pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah). la menghampiri, berlutut dan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kanannya untuk menotok dua kali pada pundak kanan kiri, kemudian sekali dia menekan punggung dan mengurutnya ke bawah sambil mengerahkan tenaga, kakek itu terbatuk dan muntahkan segumpal darah merah yang sudah mengental, sebesar kepala ayam!

Dua orang pengemis yang menggotong tadi kaget sekali dan mereka melompat maju, malah sudah mengepal tinju siap untuk menerjang Swan Bu, “Kau….. kau membunuh Susiok (Paman Guru)…..!” bentak seorang di antara mereka sambil menubruk maju dan memukul. Swan Bu yang maklum bahwa orang ini salah duga, tidak mempedulikannya, tubuhnya yang masih berjongkok itu bergerak sedikit dan….. penyerangnya terlempar ke depan, melalui atas pundaknya dan langsung terbanting ke air sungai sehingga air muncrat tinggi dan orang itu gelagapan sambil berenang ke pinggir. Kawannya hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba kakek yang sakit tadi membentak,

“Goblok! Apa mata kalian sudah buta.”

Si pengemis ke dua tidak jadi menyerang, dan pengemis pertama yang sudah berhasil berenang ke pinggir, kini memandang dengan heran, juga girang. Kiranya kakek pengemis yang tadinya sudah empas-empis napasnya, sekarang sudah bangkit duduk, malah dengan perlahan lalu bangun berdiri dan menjura ke depan Swan Bu!

“Orang muda yang gagah perkasa, kau telah menolong nyawa seorang pengemis tua bangka yang tiada gunanya. Sicu, bolehkah aku mengetahui namamu?”

“Lopek, tak usah banyak sungkan. Bukankah Lopek bertiga ini orang-orang Hwa-i-kai-pang?”

Pertanyaan Swan Bu ini disambut biasa saja oleh tiga orang kakek itu karena memang Hwa-i-kai-pang bukan perkumpulan yang tidak terkerial, apalagl mudah saja diketahui dari pakaian mereka. Kakek itu mengangguk dan menjawab,

“Tidak keliru dugaanmu, Sicu. Aku adalah kakek Toan-kiam Lo-kai (Pengemis Tua Pedang Pendek), sebuah julukan yang kosong melompong, dan dua orang ini adalah murid-murid keponakanku. Sicu masih begini muda sudah luas pandangannya, sekali pandang tahu akan bekas pukulan Ang-see-ciang, siapakah nama Sicu yang mulia dan dari perguruan mana?.

“Lopek, mari kita bicara di tempat yang enak,” kata Swan Bu sambil mengerling ke arah orang-orang yang banyak berkumpul karena tertarik oleh kejadian ini. Toan-kiam Lo-kai dapat menangkap isyarat ini, dia lalu meng-gerakkan kedua lengannya ke arah orang-orang di situ sambil berkata, “Saudara-saudara harap sudi meninggalkan kami agar kami dapat bicara leluasa.”

Heran, orang-orang itu segera pergi tanpa banyak membantah lagi. Hal ini membuktikan kepada Swan Bu bahwa daerah ini agaknya Hwa-i-kai-pang bukan tidak mempunyai pengaruh. Setelah semua orang pergi, Swan Bu berkata,

“Lopek, ketahuilah bahwa aku she Kwa bernama Swan Bu, dari Liong-thouw-san …”.

Serta merta kakek itu bersama dua orang murid keponakannya lalu rnenjatuhkan diri berlutut di depan Swan Bu! “Ah, kiranya Siauw-hiap (Pendekar Muda) yang telah menolong saya! Ah, sungguh suatu kebetulan yang membesarkan hati. Bagaimana kabarnya dengan Taihiap berdua di Liong-thouw-san?”

“Ayah dan ibuku baik-baik saja, terima kasih.”

“Kiranya putera ketua kehormatan kita!” Kakek itu hampir bersorak kegirangan. “Kalau begitu tidak heran kalau sekali pandang saja sudah tahu akan luka pukulan Ang-see-ciang! Wah, Siauwhiap tentu telah mewarisi ilmu kepandaian yang sakti dari Taihiap, ilmu silat dan ilmu pengobatan!”

“Ah, aku yang muda dan hijau mana mampu mewarisi semua kepandaian ayah. Sudahlah, tidak ada gunanya segala puji-memuji ini. Lopek, lebih baik sekarang kauceritakan kepadaku, mengapa kau sampai terluka hebat oleh pukulan Ang-see-ciang dan siapakah pemukulmu, apa pula sebab-sebabnya?”

Toan-kiam Lo-kai menarik napas panjang. “Siauwhiap, perubahan besar telah terjadi pada Hwa-i-kai-pang semenjak suhu Hwa-i Lo-kai meninggal dunia. Apa-lagi setelah Kwa-taihiap diketahui tak pernah turun dari puncak Liong-thouw-san. Hwa-i-kai-pang tidak dipandang ma-ta lagi orang-orang kang-ouw. Tentu kau telah mendengar dari ayahmu bahwa sudah sejak dahulu, perkumpulan Hwa-i-kai-pang bukan perkumpulan pengemis biasa saja. Di samping itu para anggautanya memiliki tugas untuk menolong kaum lemah yang tertindas, bahkan ikut pula menjaga keamanan kota daripada gangguan para penjahat. Akan tetapi, dengan datangnya pembesar dari kota raja yang bertugas mengumpulkan tenaga suka rela untuk membangun terusan dan tembok besar atas perintah kaisar, banyak anak buah Hwa-i-kai-pang ditangkapi dan dipaksa menjadi sukarelawan. Orang-orang biasa, terutama yang kaya, dibebaskan asal bisa membayar uang tebusan. Bukankah ini menggemaskan?”

“Hemmm, pembesar macam itu sepatutnya diberi hajaran!” kata Swan Bu.

“Itulah! Kami sudah berusaha memberi peringatan kepada Lo-ciangkun (komandan Lo) yang memimpin pengerahan bantuan itu, akan tetapi kami malah dianggap memberontak terhadap perintah kaisar! Karena percekcokan ini, terjadilah keributan dan pertengkaran yang berekor pertempuran.”

“Ah, kalau begitu keliru juga, Lopek. Tak baik melawan dengan kekerasan, hal itu bisa menimbulkan kesan Hwa-i-kai-pang memberontak.”

Kakek itu mengangguk-angguk, “Memang betul, akan tetapi kami pun harus membela anak buah kami yang sudah ditahan dan dipaksa, membebaskan pula orang-orang muda miskin yang tidak mampu membayar uang tebusan dan ditahan juga. Mereka itu, untuk memberi makan keluarga sudah setengah mati setelah mereka ditangkap dan dibawa pergi untuk kerja paksa yang disebut suka rela itu, keluarganya tentu akan mati kelaparan!”

“Akan tetapi kita bisa mengambil cara lain, misalnya menemui komandan itu secara langsung.”

“Sudah kulakukan dan hasilnya aku terluka parah inilah, Siauwhiap. Komandan itu dibantu oleh seorang iblis wanita yang lihai sekali, seorang pendatang baru dari barat. Kabarnya karena munculnya wanita itu maka para pembesar di daerah ini amat berubah, berani berlaku sewenang-wenang. Orang-orang gagah yang mencoba menantangnya, semua tewas atau roboh oleh Ang-jiu Toa-nio, iblis wanita itu. Karena ingin menyingkirkan biang keladi penyalahgunaan kekuasaan mengandalkan orang kuat itu, aku sengaja mendatangi Ang-jiu Toa-nio dan kesudahannya aku terluka…..”

Sudah bergolak darah Swan Bu mendengar ini, akan tetapi dia pun terheran mengapa seorang wanita tua, seorang tokoh kang-ouw, membantu pembesar she Lo itu. “Lopek, mari antarkan aku pergi menemui Lo-ciangkun itu. Biarkai aku bicara dengannya, kalau dia masih bertindak sewenang-wenang dan hendak mengandalkan Ang-jiu Toa-nio, biar aku akan coba-coba menghadapinya.”

Girang hati kakek itu. “Akan tetapi, harap kau suka berhati-hati, Siauwhiap. Ketahuilah, Ang-jiu Toa-nio benar benar luar biasa sekali. Tinggalnya di kuil rusak di sebelah selatan kota, keadaannya penuh rahasia, seperti iblis saja. Tidak ada orang pernah dapat memasuki kuil, semua orang gagah, termasuk aku sendiri, roboh di halaman kuil oleh pukulan-pukulan Ang-see-ciang yang luar biasa.”

“Biar aku akan mencobanya, Lopek, Mari!”

Toan-kiam Lo-kai dengan hati besar lalu mengiringkan Swan Bu menuju ke rumah gedung tempat tinggal Lo-ciangkun. Gedung besar itu dijaga beberapa orang pengawal yang bersenjata tombak dan golok. Begitu para penjaga itu melihat Toan-kiam Lo-kai, mereka terkejut dan panik. Baru kemarin pengemis tua itu telah membikin onar dan mereka yang tidak melihat sendiri mendengar bahwa pengemis itu sudah dirobohkan oleh Ang-jiu Toa-nio, bagaimana sekarang berani muncul di gedung ini lagi?

“He, berhenti! Kalian siapa dan mau apa?” bentak mereka dan berbarislah belasan orang pengawal menjaga di depan pintu, sebagian lagi lari ke dalam untuk melapor kepada Lo-ciangkun.

“Aku hendak bicara dengan Lo-ciang-kun. Kalian ini para penjaga harap jangan bikin ribut, aku tidak ada urusan dengan kalian. Lebih baik lekas melaporkan kepada Lo-ciangkun bahwa aku Swan Bu minta bicara dengannya'” kata Swan Bu dengan tenang, kemudian dia melangkah terus maju melalui pintu gerbang menuju ke ruangan depan. Para pengawal itu hanya mengurung tapi tidak berani menghalangi, terutama sekali mereka takut kepada Toan-kiam Lo-kai yang diam saja, hanya melirik ke kanan kiri dengan matanya yang sipit.

“Orang muda, berhenti, tidak boleh masuk! Apakah kami harus menggunakan kekerasan?” Komandan jaga membentak dan mengacung-acungkan tombaknya.

“Kalau Lo-ciangkun tidak mau keluar menemuiku, aku akan terus maju mencarinya ke dalam rumah sampai ketemu, soal kekerasan, terserah kalau hendak menggunakannya!” jawab Swan Bu, masih tetap tenang dan kakinya masih bergerak maju. Pengemis tua itu diam-diam rnerasa khawatir dan mengikuti dari belakang. la anggap perbuatan Swan Bu itu biarpun gagah berani, akan tetapi sembrono sekali. Bagaimana boleh memasuki mulut harimau secara begini sembrono? Tentu saja terhadap para penjaga itu, dia tidak takut sama sekali, akan tetapi dia maklum bahwa selain Lo-ciangkun sendiri seorang pandai, juga di situ terdapat banyak jago yang tangguh. Siapa tahu kalau-kalau wanita iblis itu berada disitu pula!

Para penjaga itu sudah mengurung dan siap menerjang dengan senjata mereka yang berkilauan tajam. Tiba-tiba mata mereka silau oleh gulungan sinar putih yang panjang berkelebatan, disusul suara nyaring. Sinar itu segera lenyap dan hanya tampak tangan pemuda itu ber-gerak mengembalikan pedang ke belakang punggung dan….. belasan batang tombak di tangan para pengawal itu tinggal gagangnya saja! Dalam waktu yang sukar diikuti mata cepatnya, dan dengan cara yang amat luar biasa. Pemuda itu sudah mencabut pedang dan membuntungi belasan batang tombak tanpa mereka ketahui, malah cara pemuda itu mencabut pedang, menggerakkan, kemudian me-nyimpannya kembali, tak seorang pun di antara mereka dapat melihat jelas! Seperti sulapan saja. Toan-kiam Lo-kai sen-diri mengangguk-angguk dan bukan main kagum hatinya. Itulah gerakan ilmu pedang yang luar biasa, kesaktian yang hanya mungkin dimiliki putera Pendekar Buta.

“Kalian lihai, aku tidak berniat buruk, buktinya leher kalian tidak putus. Aku hanya ingin bicara dengan Lo-ciangkun!” kata pula Swan Bu, suaranya tetap tenang.

Panlklah para penjaga itu. untuk mundur mereka takut meninggalkan tugas, maju pun jerih menghadapi pemuda yang luar biasa itu. Mereka hanya berdiri mengurung di ruangan depan itu, muka pucat dan badan gemetar, Swan Bu dan pengemis tua itu duduk di atas bangku yang banyak terdapat di ruangan itu.

“Lekas laporkan kepada Lo-ciangkun!” tiba-tiba pengemis itu membentak, suara galak.

“Sudah lapor…… sudah lapor…. ” seorang penjaga menjawab ketakutan.

Tiba-tiba pintu sebelah dalam terbuka lebar dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian, perwira ini di dampingi oleh empat orang yang tinggi tegap, berpakaian ringkas dengan sikap seperti jagoan-jagoan.

“Ada apakah ribut-ribut di sini…..” Eh, kau berani datang lagi? Benar-benar kau hendak memberontak,” bentak perwira tinggi kurus itu sambil melotot ke arah Toan-kiam Lo-kai.
Swan Bu cepat bangun berdiri, tegak dan gagah. “Kaukah yang disebut Lo-ciangkun?” tanyanya, suaranya nyaring.

Komandan itu memandang marah. “Betul, aku Lo-ciangkun. Orang muda, kau tampan dan gagah, jangan kau ikut-ikut jembel pemberontak ini…..”

“Lo-ciangkun, Lopek ini hanya mengantar aku ke sini. Aku sengaja ingin bicara denganmu tentang perbuatan sewenang-wenang yang kaulakukan di kota ini dan daerahnya. Kau memaksa orang-orang yang tidak mampu memberi uang tebusan untuk kerja paksa mengerjakan tembok besar dan terusan, dengan dalih itu perintah kaisar. Orang-orang miskin, pengemis-pengemis, kau paksa dan kau tahan akan tetapi mereka yang mampu membayar uang tebusan, yang mampu menyogok kau bebaskan. Benarkah ada perbuatan sewenang-wenang macam ini?” Swan Bu biarpun semenjak kecil tinggal di gunung-gunung, pertama di Hoa-san kemudian pindah ke Liong-thouw-san, namun dia banyak mendengar dari ayah bundanya tentang keadaan kota raja dan sejarahnya.

Wajah perwira itu menjadi merah saking marahnya. “Keparat, kau ini mempunyai kedudukan apa berani bicara macam itu kepadaku? Anak kecil masih ingusan belum tahu apa-apa, sikapmu yang kurang ajar ini akan mencelakakan kau sendiri. Mengingat akan usiamu yang muda, biarlah kuampuni. Hayo pergi dan jangan banyak rewel lagi!”

Diam-diam Swan Bu berpikir. Melihat sikap ini, Lo-ciangkun bukanlah seorang yang amat kejam dan menggunakan kedudukannya bertindak sewenang-wenang. Buktinya masih memperlihatkan kesabaran terhadap seorang pemuda seperti dia, padahal menurut pendapat umum, sikapnya itu sudah tentu merupakan pelanggaran yang tak boleh diampuni lagi terhadap seorang pembesar pemerintah.

“Lo-ciangkun, para lopek dari Hwa-i-kai-pang sudah herusaha memberi, peringatan kepadamu bahwa sepak terjangmu ini melanggar keadilan, akan tetapi kau malah mempergunakan kedudukanmu untuk menindas mereka dengan dalih memberontak. Insyaflah dan ubahlah peraturan yang tidak adil itu sebelum terlambat!”.

“Orang muda sombong!” teriak seorang di antara empat jagoan tinggi besar itu dan tanpa komando lagi, empat orang itu sudah menerjang maju dengan golok besar di tangan. Jelas bahwa mereka ini hendak membunuh Swan Bu dan si pengemis tua.

“Lopek, jangan ikut-ikut!” kata Swan Bu. Mendengar ini, Toan-kiam Lo-kai enak-enak duduk saja menonton dan tubuh Swan Bu berkelebat cepat ke depan didahului gulungan sinar perak dan…..  empat orang itu roboh malang-melintang, golok mereka terbabat buntung dan lengan mereka tergurat pedang sampai berdarah sedangkan dada mereka masing-masing telah tercium ujung sepatu Swan Bu.

“Anjing-anjing tukang siksa orang” kata Toan-kiam Lo-kai sambil tertawa. “Tidak lekas mengempit ekor dan lari mau tunggu digebuk lagi?”

Empat orang itu belum kehilangan kagetnya, mereka terbelalak memandang ke arah Swan Bu, kemudian lari ke luar tunggang-langgang!

“Lo-ciangkun, kau saksikan sendiri betapa aku bertekad untuk membela pendirianku, kalau perlu dengan pertumpahan darah, karena yang kulakukan ini adalah demi nasib ribuan orang yang tak berdosa,” kata Swan Bu, berdiri tegak dan gagah. Para pengawal yang berdiri di dekat dinding mengurung tempat itu, hanya terbelalak dan tidak berani berkutik, menanti komando komandan mereka.

Akan tetapi Lo-ciangkun tidak memberi komando itu, malah menarik napas panjang, lalu menggerakkan tangan berkata, “Mereka sudah pergi, sekarang boleh kita bicara. Orang muda, kau ini siapakah dan hak apakah yang kau miliki untuk mencampuri tugasku?”

“Aku Kwa Swan Bu, hanya rakyat biasa. Kau seorang pembesar yang digaji dengan uang hasil keringat rakyat, karena itu setiap orang berhak untuk menilai dan mencela tugasmu jika kau menyeleweng, ketahuilah bahwa puluhan tahun yang lalu, nenek moyang dan ayahku berjuang mati-matian membela negara dan rakyat, bahkan ayahku ikut pula membantu perjuangan kaisar sekarang, namun tidak murka akan kedudukan. Pamanku seorang pejuang yang besar jasanya, sekarang menjadi Jenderal Bun yang terkenal jujur dan berwibawa sebagai jaksa agung di Tai-goan. Kau ini, mungkin tak pernah ikut berjuang, setelah sekarang menemukan pangkat sedikit saja lalu kau pergunakan untuk memeras rakyat jelata, berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu. Hemmm, mana bisa aku mendiamkan saja kau membunuhi rakyat tidak berdosa?”

Pucat wajah Lo-ciangkun. Tentu saja dia mengenal siapa adanya Bun-goanswe di Tai-goan. Kiranya pemuda perkasa ini adalah keponakan jenderal itu! Dengan tubuh lemas dia menjatuhkan diri duduk di atas bangkunya.

“Siapa membunuh ? Mereka itu disuruh bekerja, dijamin…..”

“Omong kosong!” Kini Toan-kiam Lo-kai yang bicara. “Mereka meninggalkan anak isteri yang harus makan setiap hari. Kalau mereka dibawa pergi, anak isterinya harus makan apa? Pula, ditempat mereka hampir tidak diberi makan”.

“Sudahlah….. sudahlah….. semua itu terjadi karena terpaksa…..” akhirnya Lo-ciangkun berkata dengan muka pucat, “Bukan salahku….. bukan salahku…..” la menutupi mukanya seperti orang ketakutan.

“Lo-ciangkun, tidak perlu main sandiwara lagi, apa artinya semua ini?” Swan Bu berkata, keningnya berkerut.

“Kau lihat empat orang tadi….. mereka bukanlah orangku, mereka adalah orang-orang….. dia…..”

“Dia siapa?” Swan Bu mendesak, terheran-heran melihat pembesar itu begitu ketakutan.

“Peraturan dari kota raja sudah cukup adil. Memang yang dapat menyumbangkan harta, boleh bebas dari kerja suka rela, dan uang itu diperlukan untuk menjamin para sukarelawan dan menjamin keluarga mereka yang ditinggalkan selama tiga bulan sebelum diganti dengan rombongan lain. Semua sudah diatur yang sakit tidak akan dipaksa, hanya yang sehat dan tidak mempunyai pekerjaan penting….. tapi….. tapi….. di daerah ini….. dikuasai dia…. kami terpaksa menyerahkan uang tebusan, kalau tidak….. ahhhhh!” Pembesar itu tiba-tiba roboh terguling.

Swan Bu cepat melompat ke luar melalui sebuah jendela sambil menendang daun jendela, pedangnya merupakan gulungan sinar putih menerjang keluar dan terdengar jeritan di luar jendela. Seorang bermuka kuning yang kecil pendek roboh mandi darah.

“Siapakah kau? Mengapa menyerang Lo-ciangkun dengan jarum beracun?” Swan Bu membentak,

“Aku….. aku….. atas perintah….. Toa-nio…..!” Orang itu, berhenti bicara dan napasnya putus. Kiranya terjangan Swan Bu tadi tidak saja melukai lehernya, akan tetapi juga beberapa batang jarum beracun yang sudah meluncur masuk, kena ditangkis pedang membalik dan melukai si penyambit sendiri.

Geger di ruangan itu. Lo-Ciangkun rebah dengan muka biru dan napas putus! Toan-kiam Lo-kai berkata lirih, “Nah, agaknya Ang-jiu Toa-nio dan orang-orangnya yang tadi turun tangan. Siauw-hiap, terang bahwa para pembesar itu diperas dan dipaksa oleh Ang-jiu Toa-nio. Sekarang, apa yang hendak kaulakukan?”

“Lopek, agaknya wanita yang bernama Ang-jiu Toa-nio itu mempunyai banyak kaki tangan. Yang menyambit jarum itu tentu kaki tangannya yang tidak menghendaki Lo-ciangkun membuka rahasia. Lopek, harap kau suka kumpulkan teman-temanmu Hwa-i-kai-pang dan kita menyerbu ke kuil itu. Biarkan menghadapi Ang-jiu Toa-nio dan kalau anak buahnya bergerak, kau dan teman-teman membasmi mereka.”

Gembira wajah kakek itu. “Baik, Siauw-hiap. Sedikitnya ada tujuh orang temanku di sini, cukup untuk membasmi setan-setan itu.”

Demikianlah, pada petang hari itu Swan Bu melakukan perjalanan ke kuil di sebelah selalan kota setelah siang tadi dia menyelidiki tempat itu. Dan secara kebetulan dia bertemu dengan Lee Si yang bermalam di kamar hotel. Swan Bu terkejut sekali dan merasa heran mengapa hatinya menjadi tidak karuan ketika sepasang matanya bentrok dengan sepasang mata yang seperti mata burung hong itu. Beberapa kali dia menengok, kemudian dia merasa malu kepada diri sendiri dan mempercepat langkahnya meninggalkan nona cantik jelita yang berdiri di depan pintu rumah penginapan itu. Ia dapat menduga dari gerak-gerik si nona bahwa gadis itu tentulah bukan orang sembarangan. Mungkin seorang tamu rumah penginapan, dan melihat kebebasannya, tentu seorang wanita kang-ouw. Akan tetapi karena dia menghadapi urusan besar, Swan Bu mengusir bayangan nona itu dari ingatannya dan dia langsung menuju ke kuil tua yang berdiri sunyi di pinggir kota.
Setelah tiba di depan kuil yang sunyi itu, dia berhenti. la maklum bahwa di kanan kiri kuil, bersembunyi di balik pohon-pohon, terdapat Toan-kiam Lo-kai yang berjaga dan menyembunyikan diri. Hati Swan Bu meragu. Kuil itu sudah tua, kotor dan agaknya kosong.

Jangan-jangan Ang-jiu Toa-nio yang menjadi biang keladi daripada penindasan di kota Kong-goan, sudah melarikan diri. Tak mungkin, pikirnya. Wanita itu tentu memiliki kepandaian tinggi, sebelum bertanding melawannya mana mungkin mau lari? Tempat itu menyeramkan, sunyi seperti kuburan akan tetapi tidak gelap karena berada di tempat terbuka sehingga matahari yang sudah hampir menyelam itu masih menerangi halaman depan. Halaman kuil tadinya tertutup pagar tembok yang tinggi, akan tetapi karena pagar tembok itu banyak yang runtuh, sekarang menjadi terbuka dan di sana-sini tampak pintu yang terjadi daripada tembok runtuh berlubang. Rumah tua yang menyeramkan, kotor dan sunyi, patutnya menjadi tempat tinggal siluman-siluman.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: