Jaka Lola ~ Jilid 18

Kong Bu melompat bangun dengan napas terengah-engah, dadanya serasa sesak dan kepalanya pening. la tidak terluka, nannun nanar dan maklumlah dia bahwa melanjutkan dengan nekat hanya akan menghadapi kekalahan yang memalukan.

“Kun Hong, kau lebih pandai daripada aku. Akan tetapi kalau aku tidak dapat membunuh anakmu yang biadab, aku tak akan mau berhenti berusaha. Tidak ada tempat bagi aku dan dia di kolong langit!”

“Kong Bu, tunggu…..!” teriak Kun Hong, akan tetapi jago Min-san-pai itu sudah melompat pergi dan lari cepat meninggalkan puncak itu.

“Biarkanlah dia pergi. Orang berhati kerdil dan mau menang sendiri itu,” kata Hui Kauw sambil memegang lengan suaminya.

Kun Hong menarik napas panjang. “Hui Kauw, kau lekas bebenah, bawa bekal yang kita perlukan di perjalanan. Kita berangkat sekarang juga mencari Swan Bu dan menyelidiki ke Kong-goan. Ingin sekali aku tahu apa sih yang terjadi di kuil tua di kota Kong-goan itu?”

Demikianlah, suami isteri pendekar sakti ini berangkat pada malam itu juga meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan ini pulalah sebabnya mengapa ketika Yo Wan dan Lee Si tiba di puncak Liong-thouw-san tempat ini sunyi tidak tampak seorang pun manusia.

* * *

Swan Bu terhuyung-huyung, baru beberapa puluh langkah pandang matanya gelap, dia berusaha menahan diri akan tetapi kepalanya terlalu pening dan akhirnya dia jatuh terguling dan merasa tubuhnya panas sekali, kepalanya berputaran, maka dia meramkan kedua matanya.

“Siu Bi….. ah, Siu Bi….. hemmm, apakah aku sudah gila? Kenapa Siu Bi saja yang teringat dan terbayang?” Swan Bu bangkit dan duduk, beberapa kali dia menampar kepalanya sendiri dan bibirnya berbisik-bisik, “Siu Bi….. gadis iblis itu, aku harus benci padanya….. harus!” Akan tetapi rasa panas membakar kepalanya dan dia roboh lagi, kini pingsan.

Tak jauh dari tempat itu, Siu Bi ber-diri terisak-isak. Dari jauh ia melihat Swan Bu jatuh bangun ini, melihat pe-muda itu terhuyung-huyung dan roboh, melihat pemuda itu menggerak-gerakkan bibir akan tetapi tidak dapat mendengar kata-katanya, melihat pemuda itu memukul kepalanya sendiri lalu terguling, tak bergerak-gerak.

“Swan Bu…..!” Siu Bi menjerit kecil, hatinya serasa ditusuk-tusuk dan ia lalu lari menghampiri, menubruk dan berlutut di dekat tubuh yang tak bergerak, air matanya bercucuran membasahi muka Swan Bu yang kini menjadi merah sekali dan panas. Ketika tangan Siu Bi menyentuh leher pemuda itu, gadis ini terkejut dan menarik tangannya.

“Panas sekali! Ah, kau terserang demam…..” Sebagai puteri angkat The Sun dan cucu murid Hek Lojin, dan biasa hidup di puncak gunung yang sunyi sehingga sudah biasa menghadapi penyakit, Siu Bi maklum bahwa demam panas ini adalah akibat daripada luka di lengannya. Tanpa ragu-ragu lagi Siu Bi lalu memondong tubuh Swan Bu yang pingsan itu, lalu dibawa lari dengan niat mencari tempat peristirahatan yang baik agar ia dapat merawatnya. Entah bagaimana, setelah ia berhasil membuntungi lengan kiri putera Pendekar Buta ini, semua rasa benci lenyap dan timbullah rasa cinta kasih yang memang telah bersemi di dalam hatinya. Siu Bi malah merasa bersalah dan untuk menebus kesalahannya terhadap Swan Bu, ia hendak merawatnya, kalau mungkin, untuk selamanya! Malah ia bersedia menghabiskan permusuhannya dengan orang tua pemuda ini, asal Swan Bu mau memaafkannya dan mau ia “rawat” selamanya.

Mendadak telinganya mendengar suara gerakan dan alangkah kagetnya ketika ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang gadis cantik jelita yang ia kenal sebagai Cui Sian! Hanya satu kali Siu Bi bertemu dengan puteri Raja Pedang ini, yaitu di Ching-coa-to, akan tetapi pertemuan yang sekali itu cukup baginya untuk mengetahui bahwa puteri Raja Pedang itu amat tinggi kepandaiannya.

Di lain fihak, Cui Sian juga tercengang melihat Siu Bi. Tadinya dari belakang ia melihat seorang wanita mempergunakan ilmu lari cepat yang tinggi berlari mendukung seorang pria. la menjadi curiga dan mengejar, menyusul lalu menghadang untuk melihat siapa mereka dan apa yang terjadi. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia mengenal Siu Bi, gadis liar yang bersumpah hendak membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya, gadis liar yang menimbulkan cemburunya karena sikapnya terhadap Yo Wan, akan tetapi gadis ini pula yang telah menyelamatkan nyawanya ketika ia dikeroyok di Ching-coa-to!

“Kau…..?” Saking heran dan kagetnya Cui Sian menegur.

“Hemmm, puteri Raja Pedang. Mau apa kau menghadangku?” balas Siu Bi ketus.

Pandang mata Cui Sian menyelidiki laki-laki yang dipondong Siu Bi, terkejut melihat lengan kiri yang buntung sebatas siku, ujungnya dibungkus dan masih ter-dapat tanda darah dari luka yang baru.

“Eh, siapa dia??” tanyanya, penuh kecurigaan.

“Dia siapa peduli apakah engkau? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu…..”

“Aahhh…..!” Cui Sian melangkah maju selangkah, wajahnya pucat dan matanya terbelalak lebar. “Dia….. dia….. Swan Bu…..! Bukankah dia Swan Bu…..?” Sudah kerap kali ia bertemu dengan Swan Bu, akan tetapi yang terakhir kali adalah pada waktu Swan Bu berusia empat lima belas tahun. Kalau sekarang tidak melihat pemuda itu buntung lengan kirinya dan dipondong Siu Bi, agaknya ia akan pangling juga. Karena lengannya buntung, sedangkan Siu Bi pernah menyatakan hendak membuntungi lengan Pendekar Buta sekeluarga, dan pemuda yang buntung lengannya ini wajahnya seperti Swan Bu, maka mudah baginya untuk menduga dan hal ini membuat ia kaget dan ngeri.

Kebetulan sekali pada saat itu Swan Bu sadar, mengerang dan mengeluh, membuka matanya dan tepat dia memandang Cui Sian. Agaknya dia mengenal pula, karena bibirnya berbisik perlahan, “….. Bibi Guru…..”

Kini tidak ragu lagilah hati Cui Sian. Memang dahulu Swan Bu disuruh menyebut “sukouw” (bibi guru) kepadanya karena Pendekar Buta tetap menganggap ayahnya sebagai guru. Dengan suara lantang ia membentak, “Dia benar Swan Bu! Siapa membuntungi lengannya?” la tidak dapat bertanya kepada Swan Bu karena pemuda itu sudah pingsan lagi.

Siu Bi mendongkol sekali. Ia seorang gadis yang berwatak aneh luar biasa. Hatinya yang keras seperti baja mentah itu agaknya hanya dapat cair oleh kehalusan. Menghadapi kekerasan, ia akan menjadi makin keras. Suara Swan Bu menyebut “bibi guru” dan perhatian Cui Sian terhadap pemuda itu, mendatangkan kemendongkolan hatinya.

“Kau mau membelanya? Nah, terimalah keponakanmu ini!” teriaknya sambil melempar tubuh Swan Bu ke arah Cui Sian. Gadis Thai-san-pai ini cepat me-nerima tubuh itu dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan betapa tubuh itu panas sekali. Cepat ia menurunkan tubuh Swan Bu dengan hati-hati ke bawah pohon yang teduh, kemudian memeriksa. Keadaan Swan Bu tidak berbahaya, kecuali kalau darahnya keracunan oleh luka lengan buntung itu. Maka ia lalu menotok beberapa jalan darah sambil mengerahkan sinkang dengan tangan kiri yang ia tempelkan di1 punggungnya. Kemudian ia berdiri, meloncat ke depan Siu Bi yang masih ber-diri tegak dengan muka marah.

“Siu Bi, siapa yang membuntungi lengannya?”

Siu Bi mengedikkan kepala, membusungkan dada. “Aku! Dia anak Pendekar Buta musuh besarku!” Biarpun mulutnya hanya berkata demikian, akan tetapi pandang matanya menantang, “Kau mau apa?”

Cui San menenangkan hatinya yang menggelora, lalu bertanya, “Kau sudah membuntungi lengannya, mengapa dia kaudukung? Hendak kaubawa kemanakah dia?”

Tiba-tiba Siu Bi menjadi merah sekali, “….. dia….. dia demam, aku harus merawatnya….. eh, kau cerewet amat, mau apa sih?”

Kemarahan Cui Sian tak dapat ditahannya lagi. Sekali tangannya bergerak ia telah mencabut Liong-cu-kiam. Pedang itu berkeredepan saking tajamnya dan diam-diam Siu Bi bergidik. la cukup maklum akan kelihaian puteri Raja Pedang ini dan tahu pula bahwa ia takkan mampu menang melawannya, akan tetapi untuk menjadi takut, nanti dulu! Dengan hati penuh kemarahan ia juga siap bertempur mati-matian.

“Siu Bi, kau bocah iblis! Aku tahu bahwa pada dasarnya kau bukanlah orang jahat, akan tetapi karena kau hidup di lingkungan iblis-iblis kejam, hatimu menjadi kejam dan ganas. Manusia macam engkau ini perlu diberi hajaran!”

“Cerewet kau!” bentak Siu Bi dan pedangnya menyambar-nyambar, merupakan sinar hitam, disusul pukulan tangan kirinya yang ampuh, yaitu pukulan Hek-in-kang.

Cui Sian cepat mengelak dari pukulan dan menangkis pedang lawan, kemudian dengan sama hebatnya ia balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh Siu Bi. Sebentar saja kedua orang dara per-kasa ini sudah bertanding dengan seru. Siu Bi bertempur dengan nekat, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya sehingga mau tak mau membuat Cui Sian menjadi kewalahan. Kalau puteri Raja Pedang ini menghendaki, dengan jurus-jurus mematikan dari ilmu pedangnya yang hebat, agaknya ia akan dapat merobohkan lawannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi Cui Sian adalah seorang gadis yang ingat budi. la pernah ditolong oleh Siu Bi ketika terjadi pengeroyokan di Ching-coa-to, maka tiada niat di hatinya untuk membunuh gadis liar itu. la hanya marah melihat Swan Bu dibuntungi lengannya dan berusaha hendak menangkap gadis ini kemudian menyerahkan keputusan hukumannya kepada Swan Bu sendiri. Inilah yang membuat agak sukar ia menangkan Siu Bi, sama sukarnya dengan menangkap seekor harimau hidup-hidup, tentu lebih mudah membunuhnya.

Betapapun juga, Ilmu Pedang Im-yang sin-kiam masih tetap merupakan raja di antara sekalian ilmu pedang, sedangkan pedang di tangan Cui Sian juga merupakan pedang pusaka yang amat ampuh karena Liong-cu-kiam adalah pedang kuno yang hebat. Liong-cu-kiam ada sepasang maka disebut Liong-cu-siang-kiam (Sepasang Pedang Mustika Naga) dan menjadi senjata suami isteri ketua Thai-san-pai yang panjang dipegang Raja Pedang, yang pendek dipegang isterinya. Akan tetapi sekarang yang pendek berada di tangan puteri mereka, Cui Sian. Dengan pedang ampuh ini di tangan sambil memainkan Ilmu Pedang Im-yang-sin-kiam, lewat lima puluh jurus, Siu Bi menjadi pening dan kabur pandang matanya. Apalagi, sebetulnya ia masih belum sembuh benar daripada luka di dalam dadanya. Yang membuat ia amat penasaran adalah cara Cui Sian bertempur. Puteri Raja Pedang itu seakan-akan mempermainkannya, buktinya setiap kali pedang berkeredepan itu sudah hampir mengenai tubuhnya, ditarik atau diselewengkan sehingga tidak mengenai dirinya. la sama sekali tidak menduga bahwa Cui Sian melakukan itu dengan sengaja karena tidak hendak membunuhnya, malah mengira bahwa gadis Thai-san-pai itu memandang rendah dan mempermainkannya. Hal ini membuatnya mendongkol dan marah sekali. la sampai lupa akan luka di dalam dadanya dan mengerahkan Hek-in-kang sekuatnya untuk menyerang. Sambil berteriak nyaring, tangan kirinya memukul dan uap hitam menyambar.

Cui Sian kaget. Hebat sekali pukulan ini. Akan tetapi ia tidak mau kalah. Cepat ia menggeser kaki ke kanan dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kiri Siu Bi itu ia gempur dengan tangan kiri terbuka sarnbil mengerahkan sinkangnya.

“Dukkk!!” Siu Bi mengeluarkan pekik dan tubuhnya terlempar ke belakang, rbboh, pedangnya juga terlepas dari tangan kanan. la tnerintih-rintih. Adapun Cui Sian berseru kaget karena ia merasa seakan-akan tangannya dimasuki hawa yang mengandung api dan ia sendiri ter-huyung-huyung ke belakang. la terlampau memandang rendah Hek-in-kang dan kalau saja sinkang di tubuhnya belum kuat benar, tentu ia pun akan terluka hebat. Cepat gadis kosen ini menahan napas dan menyalurkan sinkang untuk memulihkan tenaga dan melindungi isi dadanya. Kemudian ia menghampiri Siu Bi dan menotok jalan darah yang membuat Siu Bi lemas.

“Wanita sial!” Siu Bi yang sudah tak dapat menggerakkan kaki tangan itu memaki, matanya memandang dengan melotot. “Kaubunuh aku, aku tidak takut mampus. Hayo, kalau kau gagah, bunuh aku!”

“Cih, perempuan iblis. Sudah sepatutnya kau dibunuh atas perbuatan kejimu terhadap Swan Bu. Akan tetapi, aku berhutang nyawa kepadamu, terpaksa sekarang kuampuni kau…..”

“Keparat, siapa memberi hutang padamu? Siapa sudi menerinna ampunmu? Hayo, gunakan pedangmu itu membunuhku, jangan banyak cerewet'”

“Kau yang cerewet!”

“Kau cerewet, kau bawel, kau nenek-nenek bawel!” Siu Bi memaki-maki.

Akan tetapi Cui Sian tidak mau pedulikan gadis galak itu lagi karena ia sudah sibuk menghampiri dan memeriksa keadaan Swan Bu. Lega hatinya bahwa pemuda itu tidak menderita luka-luka lain yang berbahaya kecuali lengannya yang buntung. Hatinya ngeri juga ketika ia membuka lengan buntung yang dibalut itu dan melihat lengan buntung sebatas siku. Darahnya sudah mulai kering, akan tetapi ujung yang buntung itu agak membengkak. Ini berbahaya, pikirnya dan cepat ia mengeluarkan sebungkus obat dari saku baju sebelah dalam. la meng-gunakan obat itu pada luka dan membalut luka dengan sehelai saputangan bersih.

“….. jangan bunuh dia…… Sukouw…..”

Hati Cui Sian tertegun. Apa maksud Swan Bu? Tidak boleh bunuh Siu Bi? Gadis itu sudah membuntungi lengannya dan pemuda ini masih minta supaya dia jangan dibunuh? Atau mungkin bukan Siu Bi yang dimaksudkan? Swan Bu sedang terserang demam panas dan biasanya dalam keadaan begini, orang suka mengingau.

“Swan Bu, siapa yang kaumaksudkan? Jangan bunuh siapa?”

“Siu Bi….. di mana kau…, ah, Siu Bi, sudah puaskah hatimu sekarang? Alangkah cantik engkau….. cantik, liar dan ganas…..”

Cui Sian merasa jantungnya tertusuk.

Ah, tidak salah lagi, ada terselip sesuatu antara dua orang muda ini, pikirnya. Celaka, Siu Bi gadis liar dari Go-bi-san itu tidak hanya menimbulkan bencana karena kekejiannya, akan tetapi juga karena kecantikannya. Teringat ia akan Yo Wan, dan hatinya menjadi panas. la tahu bahwa Swan Bu dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi saking panasnya hati, ia menjawab,

“Jangan pedulikan dia lagi, Swan Bu.”

Akan tetapi Swan Bu tentu saja tidak mendengar karena ia kembali mengigau perlahan, tubuhnya panas sekali.

“Sian-moi…..!”
Panggilan ini mengagetkan Cui Sian dan cepat ia melompat sambil membalikkan tubuhnya. Seketika wajahnya menjadi merah dan jantung di dadanya berdebar tidak karuan ketika matanya mendapat kenyataan bahwa ia tadi tidak keliru mengenal suara itu, suara Yo Wan!

Akan tetapi kegembiraan hatinya itu ternoda kekecewaan ketika dilihatnya kedatangan pemuda itu bersama seorang dara remaja yang cantik jelita.

“Yo-twako, kebetulan kau datang….” katanya halus.

Akan tetapi Yo Wan sudah melompat ke dekat Swan Bu, memandang dengan mata terbelalak. “Dia ini….. bukankah dia sute Kwa Swan Bu?”

Cui Sian mengangguk dan Yo Wan sudah berlutut di dekat tubuh Swan Bu, memandang lengannya yang buntung. Adapun Lee Si begitu melihat lengan Swan Bu yang kiri buntung, hampir saja ia terguling pingsan. Matanya serasa kabur, kepalanya nanar, bumi yang dipijaknya serasa berputaran. Cepat ia menahan pekik yang hendak meluncur dari mulutnya sehingga hanya terdengar seperti orang mengeluh dan ia pun ber-lutut di dekat Yo Wan.

“Oh…… ahhh…..” hanya inilah yang keluar dari mulutnya, sedangkan Yo Wan cepat memeriksa tubuh Swan Bu. Seperti juga Cui Sian tadi, dia merasa lega bahwa Swan Bu tidak menderita luka lain yang bcrbahaya.

“Sian-moi, siapa yang membuntungi ?” Ia menahan kata-katanya dan jantungnya serasa berhenti berdetak ketika Yo Wan teringat akan Siu Bi. Siapa lagi kalau bukan Siu Bi?

“Itulah orangnya!” kata Cui Sian me-nuding ke arah Siu Bi yang rebah miring tak jauh dari situ. Dua orang muda yang baru datang ini tadi tidak melihat Siu Bi dan sekarang mereka menoleh. Lee Si sudah meloncat sambil mengeluarkan seruan marah. Sedangkan Yo Wan hanya memandang dengan muka berubah agak pucat.

Dengan kemarahan meluap-luap Lee Si menyambar tubuh Siu Bi, dijambak rambutnya dan ditariknya berdiri. “Plak-plak!” Dua kali tangan kirinya menampar, dan tanda jari-jari merah menghias kedua pipi Siu Bi yang tersenyum-senyum mengejek.
“Hi-hi-hik, perempuan tak tahu malu. Berani kalau aku sudah tak berdaya. Hayo bebaskan totokan dan lawan aku secara orang gagah!”

Akan tetapi Lee Si tidak mempedulikan omongannya, malah ia menarik lepas rambut kepala Siu Bi dan menggantungkan Siu Bi pada cabang pohon, mengikatkan rambutnya yang panjang pada cabang pohon itu. Cabang itu rendah saja sehingga kedua kaki Siu Bi tergantung hanya belasan senti meter dari tanah.

“Siapakah gadis itu?” Cui Sian bertanya kepada Yo Wan yang masih memandang dengan mata terbelalak dan muka agak pucat.

“Dia Lee Si, puteri kakakmu Tan Kong Bu…..” jawab Yo Wan, suaranya menggetar dan lemah. Karena keadaan tegang, Cui Sian tidak memperhatikan hal ini dan ia pun memandang. Kiranya gadis remaja itu adalah keponakannya sendiri!

“Iblis betina jahat! Hayo kauceritakan tentang fitnah keji yang kalian rencana-kan, tipu muslihat rendah yang kalian jalankan untuk merusak nama baik Swan Bu dan aku!”

“Tipu muslihat apa? Berlaku galak terhadap aku setelah aku berada dalam keadaan tertotok, barulah disebut tipu muslihat! Aku tidak biasa melakukan fitnah dan tipu musiihat!” jawab Siu Bi seenaknya, sepasang matanya yang bening itu memandang penuh ejekap kepada Lee Si.

“Plak! Plak!” kembali tangan Lee Si menampar kedua pipi Siu Bi.

“Kalau kau tidak mengaku, akan kusiksa sampai mampus!” Lee Si melompat dan mematahkan sebatang ranting pohon. “Hayo mengakulah bahwa Ang-hwa-pai telah mengatur siasat untuk mengelabui mata ayahku agar ayahku mengira Swan Bu dan aku melakukan perbuatan hina!”

“Hi-hi-hik, kaulah yang ingin melakukan perbuatan hina. Swan Bu mana mau? Hi-hi-hik, tak tahu malu!” kembali Siu Bi mengejek, diam-diam hatinya panas dan penuh cemburu. la mencinta Swan Bu, mencinta dengan seluruh jiwa raganya, hal ini amat terasa olehnya setelah ia membuntungi lengan pemuda itu, maka teringat bahwa gadis ini pernah berdekatan dengan Swan Bu, hatinya penuh cemburu dan benar Lee Si makin marah. Ranting pohon di tangannya menyambar dan mencambuki muka, leher dan tubuh Siu Bi yang tetap
tersenyum-senyum dan memaki-maki. Biarpun dalam keadaan marah, Lee Si masih teringat untuk menahan diri sehingga pukulan-pukulannya dengan ranting pohon itu tidak akan menewaskan Siu Bi.

“Apakah yang dia maksudkan?” kembali terdengar Cui Sian bertanya kepada Yo Wan. Yo Wan menarik napas panjang. Hatinya tidak karuan rasanya melihat keadaan Siu Bi demikian itu. Akan tetapi kalau teringat betapa lengan Swan Bu dibuntungi, dia sendiri pun menjadi sakit hati dan marah maka biarpun di lubuk hatinya dia merasa tidak tega melihat Siu Bi dicambuki seperti itu, namun dia tidak mau mencegah Lee Si. la pun maklum akan keadaan perasaan hati Lee Si yang penuh dendam karena merasa pernah dihina dan dipermainkan oleh Ang-hwa-pai di mana Siu Bi juga menjadi anak buah atau kawan.

“Lee Si dan Swan Bu pernah tertawan oleh Ang-hwa-pai yang menotok mereka dan menggunakan mereka untuk mengadu domba.” Dengan singkat dia menuturkan apa yang dia dengar dari Lee Si dan muka Cui Sian menjadi merah sekali.

“Hemmm, keji sekali. Gadis liar ini memang patut dihajar. Kalau saja aku tidak ingat dia dahulu pernah menolongku, tadi pun aku sudah membunuhnya. Sekarang Lee Si yang memuaskan dendamnya, biarlah.”

Mereka berhenti bicara dan kembali memperhatikan Lee Si yang masih memaksa Siu Bi mengakui tipu muslihat keji dari Ang-hwa-pai. Muka dan leher Siu Bi sudah penuh jalur-jalur. merah bekas sabetan, bajunya sudah robek sana-sini dan kulit tubuhnya matang biru.

“Kau masih tidak mau mengaku? keparat, apakah kau ingin mampus?” Lee Si membanting ranting pohon yang sudah setengah hancur, lalu menginjak-injak ranting ini. Sebagai puteri ayah bunda yang keras hati, tentu saja Lee Si memiki dasar watak berangasan dan keras pula, sungguhpun gemblengan ayah bundanya membuat ia jarang sekali melepaskan kekerasannya dan menutupinya dengan sikap tenang, sabar dan halus budi.

Tiba-tiba Siu Bi tertawa, suara ketawanya nyaring dan bening, mengejutkan dan mengherankan hati Cui Sian dan Yo Wan. Dua orang ini diam-diam harus mengagumi ketabahan gadis liar itu, yang dalam keadaan tertawan dan tersiksa masih tertawa seperti itu, tanda dari hati yang benar-benar tabah dan tidak kenal takut.

“Hi-hi-hik, Lee Si, kau sungguh lucu! Kau tahu bukan aku orangnya yang melakukan segala tipu muslihat curang, akan tetapi kau memaksa-maksa aku mengaku. Apa kaukira aku tidak me-ngerti isi hatimu yang tak tahu malu? Hi-hi-hik, kau marah-marah dan benci kepadaku karena aku membuntungi lengan Swan Bu, betul tidak? Ihhh, tak usah kau pura-pura membelanya, kau bisa dekat dengannya hanya karena diusahakan orang. Tetapi dia cinta padaku, dengarkah kau? Dia cinta padaku, ahhh….. dan aku cinta padanya…..” Suara ketawa tadi kini terganti isak tertahan!

Wajah Lee Si sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan membentak, “Perempuan rendah, perempuan hina, kau memang harus mampus” Pedangnya diangkat dan dibacokkan ke arah leher Siu Bi.

“Tranggg…..!” Lee Si menjerit dan cepat meloncat ke kiri karena pedangnya telah tertangkis dan hampir saja terlepas dari tangannya. la memandang heran kepada Yo Wan dan sempat melihat pemuda itu menyimpan pedang dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, hampir tidak tampak.

“Yo-twako….. kenapa kau….”

“Adik Lee Si, sabarlah. Tidak baik membunuh lawan dengan darah dingin secara begitu, apalagi dia sudah tertawan dan sudah kaulepaskan amarahmu kepadanya tadi. Siu Bi, kau tutuplah lulutmu, jangan menghina orang.”

“Hi-hi-hik, kau Jaka Lola, Yo Wan yang berhati lemah. Alangkah lucunya! Setiap bertemu gadis cantik kau menjadi pelindung, laki-laki macam apa kau? Hayo kau bunuh aku kalau memang jantan!”

Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya. “Sayang kau terjerumus begini dalam, Siu Bi, sungguh sayang…..! Aku tidak akan membunuhmu, kau boleh pergi dan jangan mengganggu kami lagi…..” la melangkah maju, tangannya meraih hendak mernbebaskan Siu Bi daripada cabang pohon.

“Yo-twako, tahan dulu…..!” Tiba-tiba Cui Sian melangkah mendekat. “Apakah kau hendak membebaskannya begitu saja? Itu tidak adil namanya!”

Yo Wan menoleh dan alangkah herannya melihat sinar mata gadis cantik ini luar biasa tajam menentangnya, seakan-akan sinar mata itu mengandung hawa amarah kepadanya! la benar-benar tidak mengerti, dengan pandang matanya dia berusaha menyelidik isi hati Cui Sian dan tiba-tiba wajah Yo Wan berseri. Mungkinkah ini? Mungkinkah Cui Sian merasa cemburu kepada Siu Bi? Ah, sukar dipercaya. Tak mungkin matahari terbit dari barat, tak mungkin puteri Raja Pedang….. cemburu dan marah melihat dia membebaskan Siu Bi yang dapat dijadikan tanda cinta kasih.

Sepasang pipi halus itu tiba menjadi merah dan Cui Slan nampak gugup ketika melanjutkan kata-katanya setelah beradu pandang tadi. “Dia….. dia telah membuntungi lengan tangan Swan Bu! Sebaiknya kita serahkan kepada Swan Bu sendiri bagaimana keputusannya terhadap gadis liar itu. Bukankah kaupikir begitu seadilnya, Twako?”

Yo Wan mengangguk-angguk, mengerutkan alisnya yang hitam. “Betapapun juga, kalau sute kehilangan lengannya dalam sebuah pertempuran, aku akan menasehatinya agar jangan dia membalas secara begini. Bukan perbuatan gagah.”

Terdengar Swan Bu mengerang dan mereka bertiga cepat menghampiri pemuda itu. Girang hati mereka karena kini tubuh Swan Bu tidak begitu panas lagi dan pemuda itu sudah siuman, menyeringai kesakitan ketika menggunakan lengan kiri untuk menunjang tubuh. “Auhhh….. hemmm bibi Cui Sian, dan…..” wajahnya menjadi merah sekali. “….. dan kau, Lee Si Moi-moi…..” la tertegun menatap wajah Yo Wan yang berdiri dan tersenyum kepadanya. Sampai lama mereka berpandangan, kemudian Swan Bu melompat berdiri.

“Kau….. kau…..?”

Yo Wan mengangguk-angguk dan tersenyum, hatinya terharu. “Sute…..”

“Kau Yo Wan….. eh, Yo suheng” Dan keduanya berangkulan.

Pada saat mereka berangkulan itu, Swan Bu langsung melihat ke arah Siu Bi yang tergantung di cabang pohon, yang kebetulan berada di sebelah belakang Yo Wan.

“Eh….. dia….. dia kenapa…..?” berkata gagap sambil merenggut diri dari rangkulan Yo Wan.

“Aku telah menangkapnya, Swan Bu, dan kami menanti keputusanmu. Setelah ia membuntungi lenganmu dan dia sekarang sudah tertawan, apa yang akan kita lakukan kepadanya?” kata Cui Sian.

Swan Bu melangkah maju tiga tindak seperti gerakan orang linglung, matanya menatap tajam kepada Siu Bi. Tanpa bertanya dia maklum apa yang telah terjadi, melihat muka dan leher gadis itu penuh jalur-jalur merah, rambutnya terlepas dan diikatkan pada cabang pohon, pakaiannya robek-robek bekas cambukan. Hatinya terenyuh, ingin dia lari memeluknya, cinta kasihnya tercurah penuh kepada gadis itu. Akan tetapi dia teringat akan kehadiran Lee Si, Cui Sian, dan juga Yo Wan. Suatu ketidakmungkinan besar kalau dia memperlihatkan cinta kasih kepada gadis musuh besar yang baru saja membuntungi lengannya! Tak mungkin!

“Swan Bu,” kata Cui Sian melihat sikap pemuda itu seperti orang linglung yang ia kira tentu karena demam, “katakan, apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Lenganmu ia bikin buntung secara bagaimana? Kalau dia berlaku curang, sepatutnya ia dihukum dan…..”

“Tidak, Bibi, bebaskan dia! Aku terbuntung dalam pertempuran. Bebaskan dia, aku tidak ingin melihatnya lebih lama lagi!”

Yo Wan yang memang mengharapkan Siu Bi dibebaskan, segera bergerak dan dalam waktu beberapa detik saja, rambut itu sudah terlepas dari cabang, dan jalan darah Siu Bi sudah normal kembali. Siu
Bi membiarkan rambutnya terurai, dan berdiri seperti patung, menatap wajah Swan Bu. Air matanya menitik turun berbutir-butir, tapi bibirnya tersenyum,

“Swan Bu, selamanya aku akan menantimu…..” Setelah berkata demikian, gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, tidak lupa menyambar pedang Cui-beng-kiam yang menggeletak di situ.

“Ahhh…..!” Swan Bu mengeluh dan dia tentu akan terguling kalau saja Cui Sian tidak cepat menangkapnya. Ternyata Swan Bu sudah pingsan kembali! Cui Sian dan Lee Si mengira bahwa keadaan pemuda ini karena demam dan lukanya. Akan tetapi diam-diam Yo Wan mengeluh dalam hatinya. la dapat menduga sedalam-dalamnya. Tak mungkin seorang gadis seperti Siu Bi dapat mengalahkan Swan Bu dalam pertempuran, apalagi membuntungi lengannya. Akan tetapi, Swan Bu sengaja mengaku bahwa lengannya buntung dalam pertempuran! Ini saja sudah membuka rahasia bahwa Swan Bu jatuh cinta kepada Siu Bi.

“Hemmm, seyogyanya gadis liar seperti itu tidak boleh dibebaskan…..” kata Cui Sian sambil menidurkan Swan Bu ke atas tanah.

“Sian-moi, kau dengar sendiri Swan Bu menghendaki demikian dan kurasa sekarang yang terpenting bukan hal itu. Aku dan adik Lee Si sudah naik ke Liong-thouw-san, akan tetapi suhu dan subo ternyata tidak berada di sana, agaknya baru beberapa hari pergi meninggalkan puncak, tidak tahu ke mana mereka itu pergi. Urusan yang menyangkut nama baik adik Lee Si dan sute bukan main-main, kurasa kemarahan Tan Kong Bu Lo-enghiong takkan mudah dipadamkan kalau tidak ada bukti yang membuka rahasia fitnah dan tipu muslihat kaum Ang-hwa-pai. Oleh karena itu, harap Sian-moi suka merawat Swan Bu dan sekarang juga aku akan mengantar adik Lee Si ke Kong-goan, hendak kucoba mencari Ang-hwa Nio-nio dan menundukkannya, memaksanya membuka rahasia itu kalau mungkin di depan Tan-loenghiong sendiri, atau setidaknya di depan orang-orang tua kita.”

Cui Sian mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang melengkung indah, “Aku tahu watak Kong Bu koko amatlah keras. Seperti baja kata ayah. Akan tetapi dia tidak dapat disalahkan kalau sekarang marah-marah karena apa yang dilihatnya memang merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi seorang gagah.”

“Itulah, Bibi, yang amat menggelisahkan hatiku.” kata Lee Si. “Pada waktu itu aku berada dalam keadaan tertotok, tak dapat bergerak, sudah kucoba memanggil ayah, akan tetapi dia terlalu marah dan musuh yang menjalankan tipu muslihat terlalu pandai. Memang nasibku yang buruk…..” Lee Si menangis dan tak seorang pun tahu bahwa tangisnya ini sebagian besar karena menyaksikan sikap Siu Bi tadi dan terutama karena Swan Bu membebaskan dan seakan-akan mengampuni gadis yang telah membuntungi lengannya!

“Sudah, tenanglah, Lee Si. Dengan twako di sampingmu, yang akan mengurus penjernihan persoalan ini, kurasa segalanya akan berhasil baik.”

“Sian-moi, kau lebih mengerti tentang pengobatan daripada aku, kalau tidak demikian agaknya akulah yang seharusnya merawat sute dan kau menemani adik Lee Si. Akan tetapi sungguh aku tidak mengerti bagaimana harus merawatnya sampai sembuh, kalau salah perawatan bisa berbahaya…..”

“Tidak apa, Yo-twako. Sudah sepatutnya aku merawat Swan Bu. Kau berangkatlah.”

Yo Wan sebetulnya merasa berat untuk segera berpisah setelah pertemuan vang tak terduga-duga ini, akan tetapi tugas lebih penting daripada perasaan pribadi, maka dia pun lalu berangkatlah bersama Lee Si. Dengan gadis ini di sampingnya, tentu saja perjalanan tidak dapat dilakukan secepat kalau dia pergi seorang diri. Baiknya Lee Si bukan gadis lemah, dan ilmu lari cepatnya boleh ]uga sehingga tidaklah akan terialu lambat.

Tidak demikian dengan Cui Sian. Setelah Swan Bu siuman kembali, ia mengajak pemuda ini melakukan perjalanan perlahan dan lambat, mencari sebuah dusun atau kota di mana mereka akan dapat beristirahat dan ia dapat mencari-kan ramuan obat untuk pemuda itu. Swan Bu jarang bicara, kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan Cui Sian. Pemuda ini kelihatan termenung, akan tetapi sama sekali tidak memikirkan lengannya yang buntung. Untuk kedua kalinya, Cui Sian mendengar cerita seperti yang ia dengar dari penuturan Yo Wan, yaitu tentang tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-hwa-pai di Kong-goan.

“Kong Bu koko tentu marah sekali. Dia terlalu jujur untuk dapat menduga bahwa semua itu hanya fitnah yang diatur dan direncanakan oleh musuh.” Cui Sian menarik napas panjang. Mereka bercakap-cakap sambil berjalan perlahan keluar dari dalam hutan setelah melaku-kan perjalanan sepekan lamanya. Selama itu, hanya hutan dan gunung yang mereka lalui, tidak pernah melihat dusun. Atas kehendak Swan Bu, biarpun lambat, mereka melakukan perjalanan menuju ke Kong-goan menyusul Yo Wan dan Lee Si.

“Itulah yang menggelisahkan hatiku, Sukouw. Paman Kong Bu pasti akan marah sekali, dan mendengar suaranya ketika itu, aku yakin bahwa dia tidak ragu-ragu untuk melaksanakan ancamannya, yaitu membunuhku. Kalau sampai aku bertemu dengan dia dan paman Kong Bu bersikeras hendak membunuhku, bagaimana aku berani melawannya? Aku cukup maklum betapa pedihnya urusan ini baginya….. dan aku tidak tahu bagaimana harus mengatasinya.”

“Jangan khawatir. Kurasa betul Yo-twako, bahwa jalan satu-satunya hanya memaksa mereka yang melakukan fitnah untuk mengaku di depan Kong Bu koko, dan aku percaya betul Yo-twako akan dapat membereskan hal ini.”

Biarpun keadaannya seperti itu, diam-diam Swan Bu tersenyum dan mengerling ke arah wajah gadis itu di sampingnya. “Sukouw, hebat betulkah kepandaian Yo-suheng? Dulu ketika aku masih kecil, dia sudah amat hebat akan tetapi kalau aku ingat betapa dulu aku pernah memanah-nya, ahhh….. dan sekarang dia mati-mati-an hendak membela namaku, sungguh aku merasa malu!”

“Kau….. memanahnya?”

Swan Bu tersenyum masam. “Aku masih kanak-kanak dan manja, kurasa  tidak ada orang yang dapat melawanku ketika itu.” la lalu menceritakan kejadian di waktu dia masih anak-anak dan dengan orang tuanya berada di puncak Hoa-san. Kemudian datang ketua Sin- tung-kai-pang yang hendak mencari perkara, dan muncullah Yo Wan yang biarpun sudah terpanah pundaknya oleh Swan Bu, namun masih berhasil mengusir semua musuh.

Cui Sian kagum bukan main dan makin besarlah perasaan mesra terhadap Yo Wan bersemi di hatinya. “Hebat dia,” katanya tanpa menyembunyikan perasaannya, “dan dia sama sekali tidak marah ketika itu! Dan sekarang pun dia sama sekali tidak menaruh dendam, malah berusaha untuk membersihkan namamu. Swan Bu, aku percaya, seorang gagah seperti dia pasti akan mampu membereskan urusanmu ini.”

“Mudah-mudahan, Sukouw. Akan tetapi, apakah paman Kong Bu mau menerimanya begitu saja, entahlah. Keadaan adik Lee Si ketika itu memang….. memang….. ah, kasihan dia, tentu saja sebagai seorang gadis terhormat ia merasa amat terhina.”

Cui Sian termenung, lalu tiba-tiba la berkata, “Memang sukar menghapus luka itu, baik dari hati Lee Si maupun dan hati Kong Bu koko, kehormatan mereka tersinggung hebat dan kiranya hanya ada satu jalan untuk menebusnya Swan Bu.”

“Jalan apakah itu, Sukouw?”

“Tiada lain, kau menikah dengan Lee Si!”

Wajah pemuda itu seketika menjadi merah sekali, dan dia kaget bukan main.

“Tidak….. tidak mungkin…..”

Cui Sian sudah berhenti melangkah dan kini mereka berdiri berhadapan, Swan Bu menundukkan mukanya.

“Swan Bu, aku tahu bahwa kau mencinta Siu Bi, bukan?” Suaranya tajam seperti pandang matanya.

Swan Bu mengangkat muka, tak tahan melihat pandang mata tajam penuh selidik itu dan dia menunduk kembali, hatinya risau dan ingin mulutnya membantah, akan tetapi tak dapat dia mengeluarkan kata-kata karena tahu bahwa kalau dia memaksa bicara, suaranya akan sumbang dan gemetar, juga akan bohong, tidak sesuai dengan suara hatinya.

“Swan Bu, aku tidak akan menyalahkan orang mencinta, sungguhpun harus diakui bahwa cintamu tidak mendapatkan sasaran yang benar kalau kau memilih Siu Bi. Dia seorang gadis liar yang rusak oleh pendidikan keliru, dan dia sudah membuntungi lenganmu!”

Dengan suara rata dan lirih Swan Bu berkata, “Dia memenuhi sumpahnya un-tuk membalas dendam kakeknya.”

Cui San menarik napas panjang. “Betapapun juga, dunia kang-ouw akan mentertawakanmu kalau kau memilih Siu Bi, dan hal ini akan berarti merendahkan derajat orang tuamu. Dengan mengawini Lee Si, tidak saja kekeluargaan akan menjadi makin erat, juga kau membersihkan nama Kong Bu koko, orang tuamu tentu bangga, orang tua Lee Si bangga, dan segalanya berjalan baik serta semua orang menjadi puas. Swan Bu, seorang satria sanggup mengorbankan apa saja demi untuk kehormatan keluarga dan demi membahagiakan semua orang. Lee Si adalah seorang dara yang cantik jelita, kiraku tidak kalah oleh Siu Bi, juga dalam ilmu kepandaian, kurasa tidak kalah jauh. Aku bersedia menjadi perantara karena aku adalah bibi dari Lee Si.” Swan Bu terdesak hebat oleh kata-kata Cui Sian yang memang tepat. “Baiklah hal itu kita bicarakan lagi kelak, Sukouw. Kalau memang tiada jalan lain, aku tidak merasa terlalu tinggi untuk menjadi suaminya, apalagi….. apalagi melihat lenganku yang buntung. Apakah adik Lee Si tidak jijik melihat seorang yang cacad seperti aku?”

Sebelum Cui Sian sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi. Suara itu derdengar lapat-lapat dari tempat jauh.

“Ada pertempuran di sana!” Kata Cui Sian. “Biar kulihat!” la segera melesat dengan cepat sekali, berlari ke arah suara tadi. Swan Bu yang sudah agak mendingan, berlari mengejar. Akan tetapi karena dia belum berani mengerahkan ginkang, dia berlari biasa dan tertinggal jauh. Suara melengking tadi sudah tidak terdengar lagi, maka Swan Bu hanya berlari ke arah menghilangnya bayangan Cui Sian yang memasuki sebuah hutan kecil.

Beberapa menit kemudian, dia tiba di sebuah lapangan rumput dan alangkah kagetnya ketika dia melihat Cui Sian berlutut sambil menangisi tubuh seorang laki-laki yang rebah tak bergerak, sebatang pedang terhujam di dadanya sampai tiga perempat bagian. Terang bahwa laki-laki itu sudah tewas, terlentang dan mukanya tertutup tubuh Cui Sian yang berguncang-guncang menangis. Hati Swan Bu berdebar tidak karuan, dia mempercepat larinya mendekati.

“Paman Kong Bu ….!!” Swan Bu berseru keras dan cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat Cui Sian. “Sukouw, apa yang terjadi…..??”

Dengan suara mengandung isak, Cui Sian menjawab, “Aku tidak tahu….. aku datang terlambat, dia sudah menggeletak seperti ini….. tidak tampak orang lain….. ah, koko….. tidak dinyana begini nasibmu…..”

Tiba-tiba Swan Bu menjerit dan melompat bangun. Cui Sian kaget dan cepat memandang. la melihat pemuda itu berdiri dengan muka pucat, mata terbelalak lebar dan tangan kanan menutupi depan mulut, akan tetapi tetap saja mulutnya mengeluarkan kata-kata terputus-putus, “….. tak mungkin ini….. tak mungkin….. pedang….. Kim-seng-kiam…..”

Cui Sian mengerutkan kening dan memandang ke arah pedang yang menancap di dada kakaknya. Pada gagang pedang itu tampak ukiran sebuah bintang emas, agaknya itulah maka namanya Kim-seng-kiam (Pedang Bintang Emas).

“Swan Bu, kau mengenal pedang itu, pedang siapakah?” tanyanya, suaranya keren dan sekarang tangisnya sudah terusir pergi, yang ada hanya kepahitan dan penasaran terbungkus kemarahan.

“Kim-seng-kiam….. pedang ibuku…, tapi tak mungkin ibu…..”

Dagu yang manis runcing itu mengeras, sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar berapi. “Hem, hemm, apanya tidak mungkin? Kakakku menemui ayah bundamu, minta pertanggungan jawab, salah faham dan bercekcok terus bertanding, kakakku mana bisa menangkan ayah bundamu? Hemmm, hemmm betapapun juga, aku adiknya hendak mencoba-coba, mereka tentu belum jauh!” Setelah berkata demikian, Cui Sian lalu berkelebat pergi sambil menghunus pedangnya.

“Sukouw…..'” Akan tetapi Cui Sian tidak menjawab.

“Sukouw, tunggu dulu? Tak mungkin ibu…..” Akan tetapi kini Cui Sian sudah lenyap dari pandang matanya dan Swan Bu sendiri dengan hati berdebar-debar terpaksa harus mengaku bahwa dia sendiri merasa ragu-ragu apakah benar ibunya tidak mungkin melakukan pembunuhan ini? Ibunya penyabar, akan tetapi kalau paman Kong Bu memaki-maki sesuai dengan wataknya yang keras dan kasar, tentu ibunya marah pula, mereka bertempur memperebutkan kebenaran anak masing-masing dan….. ah, mungkin berakibat begini.

“Ah, paman Kong Bu, mengapa begini…..?” la memeluk tubuh yang sudah menjadi mayat itu dan menangis saking bingungnya. Kemudian, sambil menekan kedukaan hatinya, Swan Bu mengerahkan seluruh tenaganya, sedapatnya dia menggali lubang mempergunakan pedang Kim-seng-kiam yang ia cabut dari dada, kemudian setelah bekerja setengah hari dengan susah payah, dia berhasil mengubur jenazah itu yang dia beri tanda tiga buah batu besar di depannya. Kemudian, dengan tubuh lelah dan hati hancur, pemuda ini menyeret kedua kakinya berjalan terhuyung-huyung, pedang Kim-seng-kiam masih di tangannya.

* * *

Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, menuruni Liong-thouw-san dengan hati gelisah. Mereka melakukan perjalanan cepat, akan tetapi karena perjalanan itu amat jauh dan mereka di sepanjang jalan mencari keterangan ten-tang putera mereka, maka lama juga baru mereka sampai di luar kota Kong-goan. Kota itu kira-kira berada dalam jarak lima puluh li lagi saja, dan karena hari amat panas, keduanya beristirahat di dalam hutan pohon liu yang indah dan sejuk hawanya.

Kun Hong bersandar pada sebatang pohon dan hatinya yang risau oleh urusan puteranya itu dia tekan dengan duduk bersiulian menghilangkan segala macam pikiran keruh. Hui Kauw tak pernah dapat  melupakan puteranya semenjak mereka turun gunung, dan pada saat itu ia pun duduk termenung dalam bayangan pohon. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan memandang ke depan. Dari depan ada orang datang, seorang wanita muda yang jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Hui Kauw tertarik sekali dan ia menahan seruannya ketika melihat gadis itu terguling! Cepat Hui Kauw melompat-lompat ke arah gadis itu dan kembali ia menahan seruannya.

Gadis ini masih muda, lagi cantik jelita. Akan tetapi muka dan lehernya penuh jalur-jalur bekas cambukan, pakaiannya banyak yang robek, juga bekas terkena cambuk. Agaknya gadis ini baru saja mengalami siksaan.

“Kasihan…..” Hui Kauw berkata, tanpa ragu-ragu ia lalu memondong tubuh itu dan membawanya kembali ke tempat semula. la dapat menduga bahwa gadis ini bukan orang lemah, terbukti dari sebatang pedang yang tergantung di bela-kang punggungnya.

“Siapakah dia?” Kun Hong bertanya. “Entah, seorang wanita muda, tubuhnya penuh luka bekas cambukan, dia pingsan,” jawab Hui Kauw.

Tanpa diminta Kun Hong menjulurkan tangan meraba dahi, pundak, dan pergelangan tangan.

“Luka-lukanya tidak ada artinya, hanya luka kulit, tapi ia terserang hawa nafsu kemarahan dan kedukaan sehingga mempengaruhi limpa dan hati, membuat hawa Im dan Yang di dalam tubuh tidak berimbang, hawa Im membanjir. Karena itu, kaubantulah dengan Yang-kang pada punggung.”

Hui Kauw sebagai isteri Pendekar Buta tentu saja sedikit banyak sudah tahu akan ilmu pengobatan dan sudah biasa ia membantu suaminya. Mendengar ini, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu nenempelkan telapak tangan kanan di punggung gadis itu dan mengerahkan Yang-kang disalurkan ke dalam tubuh si sakit melalui punggungnya.

Tepat cara pengobatan ini. Tak sampai seperempat jam, gadis itu sudah siuman kembali dan jalan pernapasannya tidak memburu seperti tadi, malah akhirnya ia membuka kedua rnatanya, menggerakkan kepala memandang ke kanan kiri.

“Tenang dan kau berbaring saja, nak. Biar kuobati luka-lukamu,” kata Hui Kauw sambil mengeluarkan sebungkus obat bubuk. Gadis itu meringis kesakitan, akan tetapi membiarkan Hui Kauw mengobatinya.

“Mula-mula memang perih rasanya, akan tetapi sebentar pun akan sembuh,” kata Hui Kauw dan memang ucapannya ini betul karena hanya sebentar gadis itu merintih, kemudian kelihatan tenang.

“Terima kasih, cukuplah. Kau baik sekali, Bibi…..” Gadis itu bangkit duduk dan ketika ia menoleh ke kiri memandang Kun Hong, wajahnya berubah dan ia nampak kaget.

“Siapa dia…..??”

Hui Kauw tersenyum. “Jangan khawatir, dia itu hanya suamiku. Kau kenapakah, tubuhmu bekas dicambuki dan kau kelihatan berduka, marah, dan mudah kaget. Siapakah kau?”

Gadis itu menengok ke kanan kiri seakan-akan ada yang dicari dan ditakuti, kemudian ia berkata, “Aku belum tahu siapakah kalian ini, bagaimana aku berani bicara tentang diriku?”

Kembali Hui Kauw tersenyum, sama sekali tidak marah melihat kecurigaan orang. Agaknya gadis ini telah banyak menderita dan menjadi korban kejahatan sehingga mudah menaruh curiga terhadap orang lain.

“Jangan khawatir, anak manis. Kami bukanlah orang jahat, dia itu suamiku bernama Kwa Kun Hong dan aku isterinya….. he, kenapa kau…..?” Hui Kauw terheran-heran melihat gadis itu melompat dan mukanya pucat.

“Aku….. aku takut kalau….. kalau, mereka mengejar….'”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: