Jaka Lola ~ Jilid 19

“Jangan takut, kalau ada orang jahat mengganggumu, kami akan membantumu,” Kun Hong berkata, suaranya halus, akan tetapi diam-diam hatinya menduga-duga. “Kau siapakah dan siapa pula mereka yang mengancam keselamatanmu?”

Gadis itu duduk kembali, memandang bergantian kepada Kun Hong dari isteri-nya. “Aku Ciu Kim Hoa, dan mereka itu musuh-musuhku.”

“Siapa mereka dan apakah yang terjadi? Mengapa kau bermusuhan dengan mereka?” tanya Hui Kauw.

Gadis itu kelihatan tenang sekarang. la duduk dan menarik napas beberapa kali, kemudian ia bercerita, suaranya perlahan dan agaknya keraguannya le-nyap. “Aku seorang yang yatim piatu, hidup sebatangkara. Keluargaku habis dengan meninggalkan musuh besar, musuh keturunan yang harus kubalas. Aku mencarinya dan bertemu, tapi….. tapi….. aku tidak dapat benci kepadanya, betapapun juga….. aku harus melaksanakan balas dendam. Baru berhasil sebagian, aku lalu dikeroyok….. dan ditawan, dicambuki dan disiksa. Akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan lari sampai di sini.” la menengok lagi ke sana ke mari, tampak ketakutan. “Aku tahu mereka tentu akan mengejarku, dan aku tidak berani pergi seorang diri…..”

Hui Kauw mengerutkan kening. Di dunia ini banyak sekali terjadi permusuhan, banyak terjadi pertandingan dan darah mengalir, semua hanya karena dendam-mendendam yang tiada habisnya.

“Kau perlu menenangkan hati dan memulihkan tenaga, Kim Hoa. Biarlah semalam ini kau bersama kami agar kami dapat mencegah musuh-musuhmu mencelakaimu. Kalau sampai besok tidak ada yang mengejarmu, baru kau melanjutkan perjalanan.”

“Terima kasih, Bibi. Kau baik sekali.” Gadis itu masih kelihatan gelisah, akan tetapi ia tidak banyak bicara. Hanya menjawab kalau ditanya, itu pun singkat saja. la tidak menolak ketika Kun Hong dan Hui Kauw mennberi roti kering dan minum kepadanya, dan juga tidak membantah ketika matahari sudah agak menurun, suami isteri itu mengajaknya melanjutkan perjalanan. Atas pertanyaan, gadis itu menjawab bahwa hendak pergi ke kota raja di mana katanya berdiam seorang pamannya. Karena jalan menuju ke kota raja melewati Kong-goan, maka Hui Kauw mengajak gadis itu melakukan perjalanan bersama. Akan tetapi tentu saja ia tidak menghendaki gadis ini mengetahui urusan apa yang sedang diselidikinya di Kong-goan. Oleh karena itu, pada sore harinya ia dan suaminya mengajak gadis itu berhenti di sebuah gubuk di tengah sawah, di luar kota Kong-goan. Kalau besok pagi tidak terjadi sesuatu, ia akan menyuruh gadis ini melanjutkan perjalanan sendiri.

Malam itu dingin hawanya, jauh berbeda dengan siang tadi. Gubuk atau pondok itu adalah pondok yang didirikan oleh tuan tanah untuk menampung hasil panen tiap tahun, hanya merupakan sebuah pondok bambu yang berlantai batang padi kering. Bagi mereka yang lelah, tempat ini amatlah nyaman untuk beristirahat melewatkan malam yang dingin. Batang-batang padi kering itu hangat dan empuk, dinding bambu biarpun reyot dapat menahan sebagian angin yang bertiup dingin.

Kegelisahan hati, kelelahan, ditambah dinginnya hawa membuat Pendekar Buta dan isterinya tidur nyenyak menjelang tengah malam. Orang yang berhati gelisah atau susah menjadi lelah sekali dan memang sukar tidur, akan tetapi apabila tidur sudah menguasainya, dia akan nyenyak sekali dan agaknya dalam ketiduran inilah segala kegelisahan, segala kelelahan, lenyap tanpa bekas. Suami isteri ini tidur pulas di sudut pondok bambu. Kun Hong telentang, napasnya panjang-panjang berat sedangkan isterinya tidur miring menghadapinya, napasnya halus tidak terdengar.

“Bibi…..!” Hening tiada jawaban.

“Paman…..!” Juga kesunyian mengikuti panggilan ini.

Siu Bi bangkit perlahan. la tadi rebah di sudut lain, tak pernah meramkan matanya. Setelah duduk, kembali ia memanggil suami isteri itu, menyebut mereka paman dan bibi, malah kali ini agak dikeraskan suaranya. Akan tetapi sia-sia, mereka agaknya amat nyenyak tidurnya, tidak mendengar panggilannya. la menahan napas lalu bangkit berdiri, mengerahkan seluruh tenaga ke arah matanya untuk memandang. Bulan di luar pondok bersinar cemerlang, cahayanya yang redup dingin menerobos di antara celah-celah atap dan dinding yang tidak rapat, memberi sedikit penerangan ke dalam pondok. Siu Bi dapat melihat suami isteri itu tidur. Pendekar Buta telentang, isterinya miring menghadapinya. Jantungnya berdebar keras dan tangan kanannya bergerak meraba gagang pedang. Kesempatan baik, pikirnya. Kesempatan baik untuk melaksanakan sumpahnya, melaksanakan dendam kakeknya! Sepasang matanya beringas dan napasnya agak terengah mudah sekali. Satu kali bacok selagi mereka tidur nyenyak dan….. lengan mereka akan buntung! Sungguh suatu hal yang sama sekali tak pernah ia mimpikan bahwa akhirnya ia akan dapat bertemu dengan musuh-musuh ini dalam keadaan sedemikian menguntungkannya. Agaknya arwah kakeknya sendiri yang menuntunnya sehingga ia dapat bertemu dengan mereka, dapat tidur sepondok dan mendapat kesempatan begini baik.

“Singgg!!” Pedang Cui-beng-kiam telah dicabutnya. Siu Bi kaget sendiri mendengar suara ini cepat ia memandang ke sudut itu dan telinganya mendengarkan. Akan tetapi, suami isteri itu tidak bergerak, juga pernapasan mereka masih biasa, tidak berubah.

la berpikir sebentar. Salah, pikirnya dan pedang itu ia masukkan kembali ke sarung pedang. Dia tidak bermaksud membunuh mereka, melainkan membuntungi lengan mereka yang kiri. Akan tetapi ia teringat bahwa biarpun lengan mereka sudah buntung, agaknya kalau mereka sadar, ia tak mungkin dapat menghadapi mereka yang memiliki kesaktian luar biasa. Membuntungi seorang di antara mereka tentu menimbulkan pekik dan mereka terbangun, lalu dialah yang akan celaka di tangan mereka. Tidak, bukan begini caranya! Harus lebih dulu membuat mereka tidak berdaya.

Ada sepuluh menit Siu Bi berdiri termangu-mangu, memeras otak mencari keputusan yang tepat. Tubuhnya agak menggigil tadi karena tegang, akan tetapi sekarang ia sudah berhasil menekan perasaannya dan menjadi tenang. la amat memerlukan ketenangan ini, karena apa, yang akan ia lakukan adalah soal mati hidup. la menghadapi suami isteri yang terkenal sebagai orang-orang sakti di dunia persilatan. Nama Pendekar Buta menggegerkan dunia kang-ouw, bahkan orang-orang sakti seperti Ang-hwa Nio-mo dan kawan-kawannya merasa gentar menghadapi rendekar Buta dan menghimpun banyak tenaga sakti untuk menghadapinya. Dan sekarang sekaligus menghadapi suami isteri itu dalam keadan yang amat menguntungkan!

Siu Bi membiasakan pandang matanya di dalam pondok yang remang-remang itu. Baiknya sinar bulan makin bercahaya , agaknya angkasanya amat cerah, tidak ada awan menghalangi. Perlahan-lahan Siu Bi melangkah menghampiri sudut di mana mereka tidur nyenyak. Dadanya kembali berdebar, terasa amat panas sukar baginya untuk bernapas punggungnya terasa dingin sekali, akan tetapi sekarang kaki tangannya tidak menggigil lagi. la menahan napas yang disedotnya dalam-dalam, lalu melangkah lagi. Matanya tertuju ke arah Hui Kauw. Nyonya itu tidurnya miring sehingga memudahkannya untuk menotok jalan darah di punggung yang akan melumpuhkan kaki tangan. Pendekar Buta tidur terlentang, lebih sukar untuk membuatnya tidak berdaya dengan sekah totokan. Oleh karena inilah maka Siu Bi mengincar punggung Hui Kauw dan maju makin dekat.

Setelah dekat sekali dan matanya dapat memandang dengan jelas, Siu Bi menahan napas mengerahkan tenaga dalam, tangan kanannya bergerak dan dua buah jari tangannya yang kanan menotok punggung Hui Kauw. la merasa betapa ujung jari-jarinya dengan tepat menemui jalan darah di bawah kulit yang halus. Hui Kauw tanpa dapat melawan telah kena ditotok jalan darahnya di punggungnya dan pada detik berikutnya, Siu Bi sudah menotok jalan darah di leher yang membuat nyonya itu menjadi gagu untuk sementara. Hui Kauw mencoba untuk menggerakkan tubuh, sia-sia dan tubuhnya yang miring itu menjadi telentang, matanya terbelalak akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.

Siu Bi yang merasa takut sekali kalau-kalau Pendekar Buta bangun, cepat menggerakkan kedua tangannya menotok kedua jalan darah di pundak kanan kiri, kaget sekali karena ujung jari-jari tangannya bertemu dengan kulit yang amat lunak, lebih lunak daripada kulit punggung Hui Kauw tadi. Pendekar Buta mengeluh dan tubuhnya bergerak miring. Melihat ini, cepat Siu Bi menotoknya pada punggung dan….. tubuh Pendekar Buta yang sakti itu kini tak dapat bergerak lagi kaki tangannya, lumpuh seperti keadaan isterinya! Akan tetapi karena dia tidak tertotok jalan darah di lehernya, dia dapat mengeluarkan suara yang terheran-heran,

“Eh….. eh….. apa-apaan ini? Siapa melakukan ini? Hui Kauw, apa yang terjadi…..?” Akan tetapi Hui Kauw tidak dapat menjawab karena nyonya ini selain lumpuh kaki tangannya, juga tak dapat mengeluarkan suara!

Saking tegangnya, Siu Bi terengah-engah dan jatuh terduduk. Dalam melakukan totokan-totokan tadi, ia telah mengerahkan tenaga dalamnya, ditambah suasana yang menegangkan urat syaraf, maka setelah kini berhasil, ia terengah-engah lemas tubuhnya dan….. ia menangis terisak-isak.

“Eh, anak baik, Kim Hoa….. apa yang terjadi? Kenapa kau menangis, dan Bibimu kenapa?” Kun Hong bertanya.

Siu Bi merasa betapa napasnya sesak dan hawa udara tiba-tiba menjadi panas baginya. la melompat berdiri, kedua tangannya menyambar leher baju dua orang yang sudah lumpuh itu dan diseretnya mereka keluar pondok!

“Eh-eh-eh, kaukah ini, Kim Hoa? Apa yang kau lakukan ini?”

Siu Bi menyeret mereka keluar dan melepaskan mereka di depan pondok. la sendiri berdiri menengadah, menarik napas dalam-dalam. Hawa malam yang dingin, angin yang bersilir dan sinar bulan membuat napasnya menjadi lega. la tidak gelisah lagi.

“Pendekar Buta, ketahuilah, aku yang menotokmu dan menotok isterimu.” la tersenyum dan tangannya bergerak membebaskan totokan pada jalan darah Hui Kauw. Nyonya ini terbatuk, mengeluh perlahan lalu berseru,

“Bocah, kau siapa? Kenapa kau menyerang kami secara membuta?”

Siu Bi tersenyum lagi. “Dengarlah baik-baik. Namaku Siu Bi dan aku melakukan hal ini karena aku ingin membalaskan dendam kakekku, Hek Lojin. Pendekar Buta, ingatkah kau ketika kau membuntungi lengan kakekku? Nah, sekarang aku akan memenuhi sumpahku, membalas kalian dengan rnembuntungi lengan kiri kalian seperti yang kaulakukan terhadap kakek!” Siu Bi mencabut pedangnya. “Singgg!” lalu ia mendongakkan mukanya ke angkasa berseru perlahan,

“Kakek yang baik, kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangku….. sekarang kau tiada lagi….. tapi kesayanganmu tidak sia-sia, kakek….. lihatlah dari sana betapa saat ini cucumu telah melunasi semua hutang, harap kau beristirahat dengan tenang…..”

Setelah berkata demikian dalam keadaan seperti terkena pengaruh gaib atau kemasukan roh jahat yang berkeliaran di malam terang bulan itu, Siu Bi meng-gerakkan pedangnya, dibacokkan ke arah lengan kiri Kun Hong.

“Crakkk!” Sebuah lengan terbabat putus, darah muncrat-muncrat dan Siu Bi menjerit sambil melompat ke belakang. Di depannya, entah dari mana datangnya, telah berdiri seorang laki-laki yang buntung lengan kirinya!

“Kakek…..!” Siu Bi memekik penuh kengerian, mengira bahwa roh kakeknya yang muncul ini. Akan tetapi ia melihat betapa lengan kiri yang buntung itu masih meneteskan darah segar sedangkan atas tanah menggeletak buntungan tangan. Pendekar Buta dan isterinya masih rebah terlentang. Siu Bi cepat mengalihkan pandang matanya yang terbelalak ke arah orang di depannya, wajahnyaa pucat sekali.

“Siu Bi….. anakku.,…” Orang itu berkata, biarpun lengannya sudah buntung dan wajahnya pucat keringatnya memenuhi muka menahan sakit yang hebat, namun mulutnya tersenyum, wajahnya yang setengah tua dan tatapan dibayangi kedukaan hebat.

“Kau….. kau….” Siu Bi berbisik ketika mengenal bahwa orang itu, orang yang datang menangkis pedangnya tadi dengan lengan kiri sehingga bukan lengan Pendekar Buta yang buntung, melainkan lengannya, adalah The Sun ayah tirinya!

“Aku ayahmu, Siu Bi….. lama sekali dan susah payah aku mencarimu…..”

“Bukan, kau bukan ayahku! Pergi…..!”

The Sun menggeleng kepalanya. “Tidak boleh, Siu Bi, anakku. Kau tidak boleh menambah dosa yang sudah bertumpuk-tumpuk, dosa yang diperbuat mendiang kakekmu dan aku…..”

“Kau….. kau membunuh kakek, kau bukan ayahku….. sa….. salahmu sendiri….. ,. kau menangkis pedangku…..”

“Memang sepatutnya lenganku yang buntung, bukan lengan Kun Hong! Biarpun lengan suhu buntung oleh pedang Kun Hong, akan tetapi akulah yang berdosa, dan karenanya sudah sepatutnya aku pula yang menanggung hukumannya. Siu Bi, kau tidak tahu betapa jahatnya kakekmu Hek Lojin, betapa jahatnya pula aku dahulu. Kakekmu dan aku yang dahulu menyerbu dan bermaksud membunuh Pendekar Buta, kami bersekutu dengan orang-orang jahat di dunia kang-ouw. Kami haus akan kemuliaan, akan kedudukan dan harta, karena itu kami memusuhi Pendekar Buta dan Raja Pedang. Akan tetapi kami semua kalah, kakek gurumu juga kalah, baiknya Pendekar Buta masih menaruh kasihan, hanya membuntungi lengan, tidak membunuhnya…..! Aku bertemu dengan ibumu, ibumu yang mengandungmu karena dipermainkan majikan-majikannya, aku membelanya, kami menjadi suami isteri, dan kau….. kau anakku juga, Siu Bi. Aku sudah berusaha menebus dosa, mengasingkan diri di Go-bi-san, siapa kira….. penebusan dosa yang sia-sia, dirusak kakekmu….. dia mendidikmu untuk membalas dendam….. akhirnya dosaku bertambah, dia tewas di tanganku….. dan sekarang, Tuhan menghukum hambaNya kau sendiri membuntungi lenganku. Ah, aku puas….. seharusnya beginilah…..”

Tiba-tiba Siu Bi menjerit dan menutupi mukanya, menangis terisak-isak. la teringat akan Swan Bu yang sudah ia buntung lengannya. Pada saat itu suami isteri yang tadinya rebah lumpuh, bersama melompat bangun,

“The Sun, hukum karma tak dapat dielakkan oleh siapapun juga,” kata Kun Hong.

The Sun tercengang dan membalikkan tubuhnya. Siu Bi menurunkan tangannya dan memandang bengong. “Kau….. kau….. sudah kutotok kalian…..” katanya gagap.

Hui Kauw melangkah maju dan “plak! plak!” dua kali kedua pipi Siu Bi ditamparnya, membuat gadis itu terpelanting dan bergulingan beberapa kali. Ketika ia berhasil melompat bangun, kedua pipinya menjadi bengkak.’

“Bocah yang dididik menjadi binatang liar, dan keji!” kata nyonya ini, senyumnya mengejek. “Kaukira akan dapat membikin lumpuh Pendekar Buta? Kalau dia mau, tadi sudah dengan mudahnya merobohkanmu. Sengaja dia hendak menanti apa yang akan kaulakukan. Pada saat kau membacok tadi, dia sudah siap menangkis dan merobohkanmu. Kiranya The Sun muncul dan mewakilinya dengan berkorban lengan. Benar, Tuhan menghukum hambaNya!”

Siu Bi kaget, malu, menyesal dan segala macam perasaannya bercampur aduk di dalam dadanya. Kembali ia menjerit lalu ia melarikan diri di malam gelap karena bulan sudah menyembunyikan diri di dalam awan.

“Siu Bi….. tunggu…..'” The Sun lari mengejar, terhuyung-huyung dan darah berceceran dari lengannya.

Kun Hong memegang tangan isterinya. Memang betul apa yang dikatakan Hui Kauw tadi. Ketika Siu Bi menotoknya, ia kaget akan tetapi dengan sinkangnya yang luar biasa, dia dapat memunahkan totokan itu dan sengaja dia berpura-pura lumpuh dan diseret keluar menurut saja. Malah ketika Siu Bi mencabut pedang, dia tetap diam saja, hanya siap untuk melakukan serangan balasan merobohkan gadis itu. Ketika The Sun muncul, dengan mudahnya dia membebaskan totokan isterinya.

“Hebat…..” bisiknya.

“Jadi itukah bocah yang dikabarkan mengancam kita? Heran sekali, siapakah sebetulnya yang telah menangkapnya dan menyiksanya…..? Anak itu sebetulnya tidak jahat….. dan syukurlah bahwa The Sun telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan berubah menjadi manusia baik-baik.”

“Hemm, suamiku. Kau selalu mengalah, sabar, dan menilai orang lain dari segi-segi baiknya saja. Gadis demikian kejam dan liar, tidak kenal budi, ditolong malah membalas dengan ancam-an membuntungi lengan, kau bilang sebetulnya tidak jahat? Dan The Sun itu, terang dialah gara-gara semua perkara ini, kau bilang sudah menjadi manusia baik-baik?” Hui Kauw sendiri terkenal seorang yang sabar hatinya, akan tetapi dibandingkan dengan suaminya, ia kadang-kadang merasa bahwa suaminya itu terlalu lemah, dan terlalu sabar.

“Aku tidak mau menilai orang dari kebodohannya, isteriku. Menilai orang harus dari segi-segi baiknya, kalau ia melakukan, itu hanya karena ia lupa dan terseret oleh sesuatu yang membuat ia menyeleweng daripada kebenaran. Gadis itu pada dasarnya baik, hanya ia dimabukkan oleh rasa dendam untuk membalas sakit hati kakeknya. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis yang terdidik ilmu silat di pegunungan yang sunyi? Adapun The Sun, mendengar suaranya, ternyata dia telah mendapatkan kemajuan pesat dalam hatinya. Agaknya kalau kali ini kita menghadapi tentangan-tentangan, tentu bukan dari The Sun datangnya dan….. he, ada orang di pondok!” Cepat bagaikan kilat tubuh Pendekar Buta ini sudah mencelat ke arah pondok, disusul isterinya. Akan tetapi Hui Kauw hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menghilang di balik pondok itu. Ketika mereka memeriksa, ternyata buntalan pakaian mereka masih ada juga tongkat Kun Hong masih ada. Akan tetapi pedang Kim-seng-kiam, pedang Hui Kauw, lenyap dari tempatnya semula, yaitu tadinya disandarkan pada bilik.

“Pedangku hilang! Mari kejar…..!” seru Hui Kauw, akan tetapi Kun Hong memegang lengannya.

“Jangan, percuma saja. Tentu dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Biarlah, kelak tentu kita akan bertemu dengan pencurinya. Bukan tidak ada maksudnya mencuri pedangmu…..?

“Ah, tentu gadis iblis tadi….. atau mungkin The Sun! Memang mereka ja-hat…..!”

Kun Hong menggeleng-geleng kepalanya dan alisnya berkerut. “Bukan mereka….. The Sun terluka parah, lengannya buntung, tak mungkin dia melakukan hal ini, juga puterinya tidak. Mereka takkan senekat itu. Eh, bagaimana kau lihat orang tadi, ataukah kau tidak sempat melihatnya?”

“Hanya bayangan berkelebat cepat, kurasa lebih cepat daripada gerakan Siu Bi, entah laki-laki entah wanita, akan tetapi kalau laki-laki, tentu dia seorang bertubuh kurus kecil. Mungkin wanita.”

“Hemmm, isteriku. Kalau tidak meleset dugaanku, orang yang mencuri pedangmu dan orang yang melakukan fitnah atas diri anak kita sehingga membuat Kong Bu marah, adalah sama. Entah siapa dia, akan tetapi yang jelas dia atau mereka adalah pengecut-pengecut yang tiada berharga, tidak berani menghadapi kita secara langsung melainkan dengan cara mengadu domba dan melakukan fitnah. Kita harus cepat ke Kong-goan dan menyelidiki ke kuil tua. Sekarang juga kita berangkat.

Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan diri Tan Kong Bu, pendekar dari Min-san? Pedang Kim-seng-kiam milik Hui Kauw telah lenyap dicuri orang dari pondok itu, bagaimana tahu-tahu bisa menancap di dada Kong Bu yang mayat-nya ditemukan oleh Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu seperti telah dituturkan di bagian depan?

Untuk mengetahui hal ini, mari kita mengikuti pengalaman mendiang Kong Bu, jago tua yang berhati sekeras baja dan berwatak jujur dan terbuka itu.

Dapat dibayangkan betapa malu, sedih, menyesal yang kesemuanya menimbulkan kemarahan besar di dalam hati Tan Kong Bu ketika dia menyaksikan puteri tunggalnya yang terkasih, mendapat penghinaan dari Kwa Swan Bu. Biarpun Swan Bu putera Pendekar Buta yang dia kagumi dan dia sayang pula, namun perbuatan pemuda itu melebihi segala batas dan jalan satu-satunya hanya memberi hukuman mati kepadanya! Lebih sakit hatinya ketika dia mendaki puncak Liong-thouw-san bertemu dengan Pendekar Buta suami isteri terjadi percekcokan dan dia tak mainpu menandingi suami isteri sakti itu. Hal ini amat menyakitkan hatinya dan dia segera kembali menuju ke Kong-goan untuk mencari jejak Swan Bu lagi dan dia takkan mau berhenti sebelum bertemu dengan pemuda itu dan mengadu nyawa dengannya!

Pada suatu pagi yang naas baginya, dia memasuki sebuah hutan kecil. Di tengah hutan itu, di atas lapangan rumput yang luas, dia melihat tiga orang berdiri memandangnya, seakan-akan mereka sengaja menanti dan mencegat per-jalanannya. Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Kong Bu dapat menduga niat mereka itu, maka dia pun bersiap-siap sambil memandang tajam penuh selidik. Akan tetapi ternyata bahwa dia tidak mengenal orang-orang itu, sungguh-pun dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang di dunia kang-ouw yang berkepandaian tinggi. Seorang di antara mereka adalah nenek tua yang berkulit kehitaman, pakaiannya berkembang merah, di punggungnya tergantung sebatang pedang. Orang ke dua adalah seorang kakek pendek gendut, mukanya seperti seorang dari utara, tidak membawa senjata, sedangkan orang ke tiga adalah seorang kakek yang mulutnya tersenyum-senyum mengejek, juga pakaiannya serba merah sehingga kelihatan lucu sekali dan aneh, seperti seorang gila, tangannya memegang sebatang tongkat panjang. Melihat kakek ke tiga ini, Kong Bu mengerutkan keningnya, serasa pernah dia melihat muka ini, tapi lupa lagi kapan dan di mana.

la hendak berjalan terus, tanpa menoleh, hanya melirik dari sudut matanya. Kalau mereka tidak mengganggunya, dia pun tidak akan mencari perkara selagi perkara sendiri yang cukup gawat belum selesai. Namun dia maklum bahwa ketiga orang itu bukanlah tokoh baik-baik, maka dia bersikap waspada.

“Bukankah dia itu jago Min-san? Kenapa berkeliaran sampai di sini?” tiba-tiba terdengar suara parau dari kakek pendek gendut.

“Aha, apa kau tidak tahu, Sianjin? Anak perempuannya dihina orang, akan tetapi dia tidak berani berkutik karena yang menghina adalah putera Pendekar Buta!” jawab si nenek.

“Aih-aih-aih….. yang begitu mana patut disebut pendekar? Pengecut besar dia…..” kata kakek berpakaian merah. Akan tetapi kakek ini terpaksa menghentikan kata-katanya dan cepat dia melempar diri ke kiri sambil menggerakkan tongkatnya menangkis ketika sesosok sinar cemerlang menyambarnya. Sinar itu adalah sinar pedang di tangan Kong Bu yang sudah menerjangnya dengan kecepatan kilat menyambar.

“Swiiinggg…..!” Sinar pedang menyambar, merupakan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin tajam!

“Hayaaaaa…..!” Kakek berpakaian merah berseru kaget dan cepat membanting tubuh ke kiri, berjungkir balik dan tongkatnya sudah diputar melindungi tubuhnya. Di lain detik Kong Bu sudah berdiri dengan kaki terpentang lebar, pedang melintang di depan dada, mata memandang tiga orang itu dengan sinar bernyala-nyala.

“Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghina orang lewat tanpa sebab?”

Nenek itu tertawa mengejek. “Hi-hi-hik, kau bilang tanpa sebab? Apakah kau hendak menyangkal betapa puterimu di kuil tua di Kong-goan tidur di samping putera Pendekar Buta yang telanjang…..? Hi-hi-hik, dan kau tidak berani…..”

Nenek itu menghentikan tawanya karena Kong Bu sudah melangkah maju setindak, mukanya beringas, pedang di tangannya tergetar. “Bagaimana kau bisa tahu? Ah….. tahulah aku sekarang. Agaknya kalian inilah manusia-manusianya yang sengaja mengatur itu….. ah, betapa bodohku! Dan kau…..” la menuding muka kakek berpakaian merah dengan pedang-nya. “Kau Ang Mo-ko. Ya, ingat aku sekarang, kau bekas pengawal kaisar muda. He, Ang Mo-ko, apa kehendakmu menghadang dan menghinaku? Dan dua orang ini siapa?”

Nenek itu melangkah maju, pedangnya sudah tercabut dan berada di tangannya, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan. “Kau putera Raja Pedang kan? Hi-hi-hik, Raja Pedang dan Pendekar Buta musuh-musuh kami, keluarga mereka pun musuh kami. Memang kami yang mengatur di kuil tua di Kong-goan. Hi-hi-hik, Tan Kong Bu, kau mau mengenal kami? Aku Ang-hwa Nio-nio Kui Ciauw…..”

“Ah, kau sisa dari Ang-hwa Sam-ci-moi? Bagus, kiranya musuh besar!” bentak Kong Bu.

“Dan sahabatku ini adalah Bo Wi Sianjin, sute dari mendiang Ka Chong Hoatsu…..”

“Hemmm, semua adalah musuh-musuh besar ayah. Pantas, pantas….. heee, Ang-hwa Nio-nio, apa yang telah kalian lakukan terhadap anakku? Kalau memang kalian mendendam, mengapa tidak langsung menghadapi ayah atau aku, tua lawan tua. Kenapa mesti mengganggu bocah? Tak tahu malu engkau!”

Ang-hwa Nio-nio tertawa terkekeh. “Kami tawan anakmu dan anak Pendekar Buta, kami menotok mereka dan menjajarkan di dalam kuil, memancing kau masuk. Ihhh, kiranya kau begitu goblok, tidak dapat membunuh putera Pendekar Buta, ataukah….. kau tidak berani?”

“Keparat'” Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi. Pedangnya sudah berkelebat menyambar dengan sebuah tusukan kilat ke arah dada Ang-hwa Nio-nio. Serangan ini hebat sekali, didorong oleh tenaga Yang-kang yang luar biasa, tak mungkin dapat dielakkan lagi saking cepatnya. Kalau bukan Ang-hwa Nio-nio yang diserang, tentu telah tembus dadanya oleh pedang. Akan tetapi wanita tua ini bukan orang lemah dan ia pun maklum bahwa mengelak berarti menghadapi bahaya maut. Maka sambil menjatuhkan diri ke kanan, pedangnya bergerak menangkis, berubah menjadi sinar keemasan.

“Tranggggg…..!” Tangan Kong Bu tergetar dan dia cepat-cepat menarik kembali pedangnya. Diam-diam dia mengakui kelihaian nenek ini, akan tetapi yang membuat dia lebih bingung dan kaget adalah ketika dia melihat pedang bersinar keemasan di tangan si nenek. Ia mengenal pedang ini, serupa benar de-ngan pedang isteri Pendekar Buta yang baru beberapa pekan ini dihadapinya. Ketika bertanding dengan Hui Kauw, nyonya itu pun menggunakan pedang ini. Apakah pedang mereka memang kembar?

“Iblis, pedang siapa kaupakai?” Kong Bu membentak dan melanjutkan serangan-nya. Akan tetapi pedangnya bertemu dengan tongkat panjang dan kiranya Ang Mo-ko sudah maju pula mengeroyok.

“Hi-hi-hik, mau tahu? Pedang nyonya Pendekar Buta ini, dan sebentar lagi pedang ini yang akan mengambil nyawamu!”

Kong Bu seorang yang jujur, akan tetapi dia bukanlah orang bodoh pertemuannya dengan tiga orang ini sudah cukup baginya untuk membuka matanya, untuk memecahkan rahasia itu. Tahulah dia sekarang bahwa peristiwa antara Swan Bu dan Lee Si adalah peristiwa buatan mereka ini, musuh-musuh besar , ayahnya dan musuh-musuh Pendekar Buta pula. Mereka sengaja memancing kemarahannya agar dia bermusuhan dengan Pendekar Buta. Agaknya melihat bahwa ia belum dapat membunuh Swan Bu, mereka tidak sabar dan kini mereka hendak turun tangan sendiri, membunuhnya dan kembali mereka hendak menjalankan siasat mengadu domba, yaitu hendak membunuhnya menggunakan pedang isteri Pendekar Buta yang entah bagaimana bisa terjatuh ke tangan Ang-hwa Nio-nio.

“Jangan kira gampang!!” la membentak dan segera ketua Min-san-pai ini mainkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat yang ampuh. Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan lebar melibat-libat dan melayang-layang seperti seekor naga di angkasa yang mengamuk dan bermain-main dl antara awan putih.

“Kok-kok-kok?” Bo Wi Sianjin si kakek gendut pendek sudah berjongkok dan melancarkan pukulan Katak Saktinya.

Pada saat itu baru saja Kong Bu menangkis pedang Ang-hwa Nio-nio dan melompat ke kanan menghindarkan diri dari tongkat Ang Mo-ko yang menyapu pinggangnya. Kagetlah dia ketika tiba-tiba mendengar suara aneh itu dari belakang dan tiba-tiba menyambar angin pukulan yang annat dahsyat. Melihat sikap dan kedudukan kakek itu aneh sekali, Kong Bu tidak berani menghadapinya dengan kekerasan, melainkan mengelak sambil berjongkok. Angin pukulan menyambar lewat di atas kepalanya dan alangkah kagetnya ketika kain pembungkus kepalanya hancur berkeping-keping. Baru diserempet hawa pukulan itu saja sudah demikian hebat akibatnya, dapat dibayangkan betapa akibatnya kalau pukulan aneh itu tepat mengenai perutnya!

Maklumlah pendekar ini bahwa di antara tiga orang lawannya, kakek pendek yang bertangan kosong inilah yang paling ber-bahaya.

Karena itu, Kong Bu segera mengubah siasat. la sengaja bergerak dan melayang cepat, sengaja  dia menjauhkan diri dari Bo Wi Sianjin, atau dia sengaja mengambil posisi sedemikian rupa agar kakek pendek itu selalu terhalang oleh Ang Mo-ko atau Ang-hwa Nio-nio sehingga tidak berani melancarkan pukulan jarak jauh yang mujijat tadi karena jika demikian, tentu ada bahayanya memukul kawan sendiri.

Setelah dalann pertempuran seperempat jam lamanya belum juga mereka dapat merobohkan Kong Bu, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran sekali. Nenek ini mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya meloneat bagaikan seekor burung walet, pedangnya diputar menerjang Kong Bu dari atas, dan tangan kirinya mengirim pukulan Ang-tok-ciyng yang tak kalah berbahayanya.

“Cring-cring-cring…..!” Tiga kali pedang Kong Bu menangkis serangan beruntun itu. Serangan Ang-hwa Nio-nio memang aneh dan hebat. Begitu pedangnya tertangkis, pedang itu terpental bukan ke belakang, melainkan menyeleweng dan terus menjadi gerak serangan susulan yang makin lama makin hebat. Terpaksa Kong Bu mainkan Yang-sin Kiam-hoat bagian pertahanan setelah melihat betapa tiga kali tangkisannya tidak membuyarkan rangkaian serangan lawan. Kini pedangnya diputar seperti payung dan jangankan baru serangan pedang Ang-hwa Nio-nio, biarpun hujan deras menyiramnya, tak setetes pun air akan dapat mengenai bajunya.

Pukulan Ang-hwa Nio-nio dengan tangan kiri, tak berani Kong Bu menerimanya langsung. la dapat melihat betapa tangan nenek itu menjadi merah, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat. la hanya menggeser kaki miringkan tubuh sambil menangkis dari samping. Sebagai ahli Yang-sin Kiam-hoat, tentu saja Kong Bu memiliki tenaga Yang-kang istimewa kuatnya, maka benturan ini membuat nenek tadi terhuyung-huyung dan serangannya otomatis gagal.

Ang Mo-ko menanti kesempatari baik. Selagi kedua pedang tadi berkelebatan beradu cepat, dia tidak berani sembrono dengan tongkatnya, karena selain hal ini dapat mengacaukan permainan pedang Ang-hwa Nio-nio, juga salah-salah tongkatnya akan kena benturan pedang kawannya. Kini melihat betapa libatan sinar-sinar pedang itu sudah terlepas dan Kong Bu juga terhuyung ke kanan oleh benturan tenaga tadi, cepat laksana kilat tongkatnya menyelonong maju, digetarkan sehingga ujungnya berubah menjadi belasan batang yang kesemuanya menyerang dengan totokan-totokan maut ke arah bagian tubuh yang berbahaya. Hebat memang ilmu tongkat Ang Mo-ko. Bagian tubuh yang berbahaya dimulai dari ubun-ubun kepala terus ke bawah dalam jarak sejengkal tangan, yaitu dari ubun-ubun ke mata, telinga, tenggorokan, pundak, ulu hati, pusar dan seterusnya. Anehnya, ujung tongkat yang hanya satu ini, setelah dia getarkan sedemikian kuatnya, seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan menyerang semua bagian berbahaya itu sambil mengeluarkan suara mendengung-dengung!

Melihat penyerangan yang luar biasa ganasnya ini Kong Bu mengeluarkan suara melengking tinggi dari kerongkongannya. Inilah pengerahan sinkang yang istimewa, disertai suara melengking, sebuah ilmu kesaktian yang dia warisi dari mendiang kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung! Bunyi lengking tinggi inl selain menambah daya pemusatan sinkang, juga mengandung tenaga yang menggetarkan jantung lawan. Sambil melengking-lengking Kong Bu menggerakkan pedangnya yang menerobos di antara bayangan ujung tongkat. Terdengar suara keras ketika tongkat di tangan Ang Mo-ko patah-patah menjadi lima potong dan disusul pekik mengerikan karena tanpa dapat dielakkan lagi oleh Ang Mo-ko, pedang di tangan Kong Bu sudah menan-cap tenggorokannya sampai tembus dan sekali Kong Bu merenggut ke kanan, leher itu hampir putus! Tubuh Ang Mo-ko roboh miring, kepala yang lehernya hampir putus tertindih paha, darah menyembur-nyembur dan kaki tangan berkelojotan, kaku kejang seakan-akan tubuh yang rusak lehernya oleh pedang itu masih tak tega berpisahan dengan nyawa!

“Keparat, terimalah pukulanku!” terdengar bentakan dari belakang Kong Bu disusul suara “kok-kok-kok!” seperti tadi. Kong Bu maklum bahwa kakek pendek itu sekarang mendapat kesempatan melancarkan pukulannya yang aneh dan mujijat. Cepat dia memutar tubuhnya, berusaha mengelak sambil mengerahkan sinkang di kedua lengannya, mendorong ke depan untuk menahan gelombang serangan tenaga yang tidak tampak. Nampak pukulan Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin ini bukan main hebat dan kuatnya. Kong Bu merasa betapa tubuhnya seperti ditembus angin taufan yang tak tertahankan, dorongannya membalik dan tubuhnya melayang seperti layang-layang putus talinya! Pada saat itu, pedang Ang-hwa Nio-nio meluncur dan membabat pinggangnya. Baiknya Kong Bu adalah seorang jagoan yang sudah matang kepandaiannya, maka biarpun tubuhnya melayang di udara, dia cepat dapat menguasai dirinya lagi sehingga melihat sinar pedang berkelebat mengancam pinggang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya sekuat tenaga menangkis.

“Tranggggg…..!!” Tubuh Kong Bu me-lompat sambil berjungkir-balik, membuat salto sampai tiga kali sebelum kedua kakinya menginjak bumi. Akan teiapi kagetlah dia ketika melihat bahwa pe-dangnya telah patah di dekat gagangnya. Dengan hati geram dia membanting gagang pedang, lalu melolos sarung pedang yang dipegang di tangan kanannya, juga melepaskan ikat pinggang yang terbuat daripada sutera kuning. Biarpun tidak sehebat pedangnya yang patah, namun dengan sarung pedang dan ikat pinggang di tangan, Kong Bu masih merupakan lawan yang amat tangguh!

Kembali Ang-hwa Nio-nio menyerang, kali ini nenek itu memperlihatkan gin-kangnya. Sekali kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang seperti terbang ke arah Kong Bu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar bundar, diiringi suara seruannya yang nyaring, Kong Bu maklum akan keampuhan pedang di tangan nenek itu, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan. la maklum pula bahwa kalau dia menangkis dengan sarung pedang, tentu senjatanya ini akan terbabat putus, maka dia lalu membentak keras, ikat pinggangnya di tangan kiri bergerak seperti seekor ular nienyambar, ujungnya menyambut pedang lawan dengan maksud melibat pedang atau lengan yang memegang pe-dang. Namun Ang-hwa Nio-nio juga bukan seorang ahli silat sembarangan. Tak mau ia mengadu pedangnya dengan benda lemas itu. la menarik pedangnya, turun ke atas tanah lalu mengubah serangannya, menusuk dan membabat bertubi-tubi, tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya.

Kong Bu melengking keras ketika dari belakang terdengar suara “kok-kok-kok”, pukulan mujijat dari Bo Wi Sianjin. Terpaksa dia menghindar ke kiri, akan tetapi di sini dia disambut oleh tusukan pedang yang dapat ditangkisnya dari samping dengan sarung pedang. Ikat pinggangnya dikelebatkan ke belakang menyerang kaki Bo Wi Sianjim Serangan ini kelihatannya sepele, akan tetapi kiranya akan celakalah kakek pendek itu kalau kakinya sampai kena terlibat ikat pinggang! Bo Wi Sianjin tertawa mengejek, sambil melompat tinggi, kemudian turuni dan melancarkan pukulan Katak Sakti lagi yang juga dapat dielakkan oleh Kong Bu, walau dengan susah payah.

“Heh-heh-heh, ada apa ini ribut-ribut? terdengar suara yang kaku dan ganjil, suara orang asing. Kong Bu melirik dan melihat seorang kakek asing berkulit hitam, tinggi besar bersorban, telinganya memakai anting-anting, jalan mendatangi bersama seorang hwesio yeng juga tinggi besar akan tetapi sudah tua sekali, hwe-sio yang pakaiannya sederhana dan bajunya dibuka lebar di bagian dada. Mereka itu bukan lain adalah Maharsi dan Bhok Hwesio

“Ji-wi Lo-suhu mengapa baru datang? Ang Mo-ko tewas oleh keparat ini'” teriak Ang-hwa Nio-nio, setengah menyesal akan tetapi juga girang.

“Dia mampus pun salahnya sendiri, karena kepandaiannya masih rendah,” jawab Maharsi seenaknya. “Inikah jago Min-san putera Raja Pedang? Heh-heh-heh, ingin kucuba!”

Kong Bu kaget sekali. la masih sibuk menghadapi desakan pedang Ang-hwa Nio-nio dan pukulan mujijat Bo Wi Sian-jin. Sekarang tiba-tiba pendeta India yang tinggi itu berjalan miring-miring mendekatinya, lengan tangannya bergerak dan lengan itu seperti mulur, tahu-tahu sudah dekat dengan kepalanya, didahului angin pukulan yang tak kalah mujijatnya oleh angin pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin.

Kong Bu cepat menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan. Hanya dengan cara ini dia tadi dapat terbebas daripada bahaya maut. Saking marahnya, Kong Bu mengeluarkan lengking tinggi bersambung-sambung, melompat bangun dan mengamuk. Namun fihak lawan terlalu banyak dan terialu tangguh. Pada  suatu saat dia berhasil menghindar dari pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin, akan tetapi tidak dapat mengelak dari pukulan  Pai-san-jiu dari Maharsi. Punggungnya kena dorongan dahsyat ini, dia terbanting roboh, napasnya sesak dan setengah pingsan. Pada saat itulah Ang-hwa Nio-nio melompat dekat dan menusukkan Kim-seng-kiam ke dadanya. Pedang ini amblas sampai setengahnya lebih, tepat menghujam dada kiri dan menembus jantung sehingga jagoan sakti pendekar Min-san ini tewas di saat itu juga tanpa dapat bersambat lagi!

Dan demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu dari jauh mendengar lengking tinggi dari Kong Bu, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, hanya melihat mayat Tan Kong Bu dengan pedang Kim-seng-kiam menancap di dada hatinya. Melihat pedang ini yang diakui sebagai pedang ibunya oleh Swan Bu, Cui Sian marah bukan main. la dapat menduga bahwa kakaknya yang berdarah panas dan berwatak keras itu tentu tewas di tangan isteri Pendekar Buta. la pun maklum bahwa tentu kakaknya itu marah-marah kepada Pendekar Buta suami isteri, menuduh Swan Bu melakukan perbuatan hina terhadap Lee Si, dan mungkin suami isteri itu pun merasa marah karena puteranya dimaki-maki sehingga timbul percekcokan. Akan tetapi , kalau sampai membunuh kakaknya, ini keterlaluan namanya dan ia tidak akan menerima begitu saja!

Jangankan Cui Sian, sedangkan Swan Bu sendiri diam-diam juga menduga demikian. Mana bisa lain orang yang membunuh Kong Bu kalau pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya, pedang itu tak mungkin terlepas dari tangan ibunya! Swan Bu gelisah sekali, bingung dan berduka. Akan tetapi ada satu kenyataan yang menghibur hatinya, yakni bahwa pedang itu masih tertancap di dada Kong Bu dan ditinggalkan begitu saja. Mungkinkah kalau memang ibunya yang membunuh Kong Bu, ibunya meninggalkan pedang itu tertancap di dada lawannya? Apakah karena mendengar kedatangannya bersama Cui Sian tadi, ibunya lalu tergesa-gesa pergi sehingga tak sempat mencabut pedangnya? Ah, sukar dipercaya kemungkinan ini. Apa sukarnya mencabut pedang apalagi bagi ibunya! Agaknya lebih patut kalau ada orang yang SENGAJA meninggalkan pedang itu di dada Kong Bu. Dan siapapun orangnya, tak mungkin orang itu ibunya! Jadi, tentu ada orang lain yang kembali melakukan fitnah untuk kali ini memburukkan nama ibunya. Akan tetapi bagaimana orang itu dapat menggunakan pedang Kim-seng-kiam?

Swan Bu berjalan terhuyung-huyung, kesehatannya masih belum pulih seluruhnya, kini hatinya terhimpit perasaan yang tidak karuan, jiwanya tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang hebat. la berjalan perlahan memandangi pedang ibunya di tangan.

“Ah, Kim-seng-kiam….. kalau saja kau bisa bicara….. tentu kau akan dapat bercerita banyak…..” keluhnya.

“Swan Bu…..!”

Pemuda itu tersentak kaget. Suara itu! Cepat dia membalikkan tubuh dan sejenak wajahnya yang tampan dan pucat itu berseri. Dilihatnya gadis yang selama ini mengaduk-aduk hatinya, yang mendatangkan derita, bahagia, kecewa dan harapan di hatinya, Siu Bi, berdiri hanya beberapa meter jauhnya di depannya! Gadis itu mukanya pucat, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, sinar matanya sayu dan pipi yang masih berbekas air mata itu kini kembali digenangi air mata yang mengalir turun.
“Siu Bi…..” Swan Bu berbisik, tak sengaja melirik ke arah lengan kirinya yang buntung dan ujungnya dibalut.

Lirikan ke arah lengan buntung inilah yang agaknya memecahkan bendungan yang menahan gelora di hati Siu Bi yang ditahan-tahan. Gadis ini menjerit, lalu lari maju, menjatuhkan diri berlutut di depan Swan Bu, memeluk kedua kaki pemuda itu dan menangis tersedu-sedu.

“Swan Bu….. Swan Bu….. kauampunkan aku…..Swan Bu….. ampunilah aku…'”

Tak kuat hati Swan Bu menahan air matanya yang turun bertitik-titik ketika dia menunduk memandang kepala Siu Bi yang kusut rambutnya. Kedua kakinya terasa lemas dan dia pun berlutut pula.

“Siu Bi, selalu aku memaafkanmu…..”

Mereka berpandangan melalui air mata, kemudian bagaikan besi tertarik semberani, keduanya berangkulan, bertangisan dan berpelukan. Dengan air mata mereka saling membasahi muka masing-masing dalam ciuman-ciuman yang digerakkan oleh hati penuh kasih sayang, penuh iba dan haru.

Setelah gelora hati mereka mereda, Siu Bi menyembunyikan mukanya ke dada Swan Bu dan mereka terhenyak duduk di atas tanah, tak bergerak, seluruh tubuh lemas, tenaga habis oleh letupan gelora hati tadi, terasa nikmat penuh damai di hati. Dengan tangan kanannya Swan Bu membelai dan mengelus-elus rambut hitam yang awut-awutan itu.

“Siu Bi aku selamanya mengampunkan engkau, karena aku cinta kepadamu, Siu Bi, karena aku tahu apa yang mendorongmu melakukan semua itu…..” bisik Swan Bu.

Siu Bi mengangkat mukanya dari atas dada Swan Bu dan memandang. Kedua muka itu berpandangan, dekat sekali, masih basah oleh air mata.

“Swan Bu aku… aku tidak turut dalam tipu muslihat busuk itu ….. aku bukan sekutu Ang-hwa Nio-nio…..”

Swan Bu mendekap muka yang kelihatan begitu pucat dan penuh kekhawatiran itu. “Siu Bi jiwaku….. tidak, aku tidak percaya itu, kau bukanlah jahat seperti mereka…..”

Siu Bi menarik napas panjang, hatinya lega dan ia kembali membaringkan kepalanya di atas dada Swan Bu, sepasang matanya dimeramkan.

“Aku memang jahat, Swan Bu, tapi….. tapi….. untuk menyenangkan hatimu, hati seorang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku, aku….. aku mau belajar baik! Kaubimbinglah aku, Swan Bu, ajarilah aku bagaimana bisa menjadi orang baik…”

Swan Bu tersenyum. “Kau adalah orang baik, Siu Bi…..”

“Tidak, aku tak tahu harus berbuat apa kalau terpisah dari padamu, Swan Bu. Jangan kita berpisah lagi, aku….. aku takut hidup sendiri. Aku ikut denganmu…..” Tiba-tiba ia memegang lengan yang buntung itu, memandangnya dan kembali ia menangis tersedu-sedu, menciumi ujung lengan yang dibalufr. “Ahhh… aku tak dapat mengganti lenganmu, Swan Bu….. biarlah kuganti dengan seluruh tubuhku, dengan nyawaku….. aku….. aku selamanya akan mendampingimu, melayanimu…”

Dengan mesra Swan Bu memeluk dan menciuminya, kemudian pemuda ini teringat akan sesuatu dan menarik napas panjang. “Tak mungkin…..” katanya lirih dengan nada sedih.

Siu Bi tampak kaget, “Apa katamu? Apa yang tak mungkin?”

“Siu Bi, kau tahu bahwa aku mencintamu, dan takkan ada kebahagiaan yang lebih besar daripada selalu berada di sampingmu selama hidupku. Akan tetapi agaknya hal ini hanya lamunan kosong….. karena….. apa pun yang terjadi, apalagi setelah paman Kong Bu tewas…… agaknya jalan satu-satunya bagiku hanya….. mengawini Lee Si.”

“Apa…..?” Siu Bi merenggutkan dirinya dan memandang dengan mata terbelalak.

Swan Bu menunduk sedih, tidak tahan menatap pandang mata yang penuh keperihan hati itu. Menarik napas panjang lagi lalu berkata,

“Siu Bi, kau sendiri mengerti betapa tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-hwa Nio-nio menimbulkan kejadian yang amat hebat. Ayah Lee Si, yaitu paman Kong Bu, marah sekali dan tentu saja marah kepadaku dan kepada orang tuaku. Dan tadi….. aku mendapatkan paman Kong Bu telah tewas, terbunuh orang di dalam hutan. Peristiwa di Kong-goan ini akan merusak nama Lee Si untuk selamanya, kecuali kalau….. kalau aku….. mengawininya. Hanya itu jalan satu-satunya, dan demi menjaga kerukunan kedua keluarga, demi mencuci bersih nama Lee Si yang tidak berdosa, agaknya….. agaknya….. jalan itulah satu-satunya…..'”

“Swan Bu….. tapi kau….. kau cinta padaku kan?”

“Aku cinta padamu, Siu Bi.”

Siu Bi menubruk dan memeluknya lagi. Cukup bagiku. Kau boleh mengawininya, kalau itu kau anggap penting. Bagiku, asal kau cinta padaku, asal aku boleh menebus dosaku kepadamu dengan jiwa ragaku, asal…..” Tiba-tiba Siu Bi bangun, juga Swan Bu bangkit berdiri. Keduanya sudah mencabut pedang dan memandang ke arah seorang pemuda yang jalan mendatangi, pemuda yang bukan lain adalah Ouwyang Lam!

Ouwyang Lam memandang sambil tersenyum kepada Siu Bi, kemudian dia memandang Swan Bu, ke arah lengannya yang buntung, dan tertawalah dia, “Ha-ha-ha, Bi-moi-moi, agaknya kau sudah berhasil dalam usahamu membalas den-dam. Ha-ha-ha, kalau anjing buntung ekornya hanya kelihatan tidak pantas, tapi kalau manusia buntung tangannya, benar-benar canggung sekali! Eh, Kwa Swan Bu, ayahmu buta dan kau anaknya buntung, cocok sekali. Tolong tanya, dengan tangan kirimu buntung, kalau kau ada keperluan di belakang, apakah kau menggunakan tangan kananmu pula? Ha- ha-ha-ha-ha!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: