Jaka Lola ~ Jilid 20

Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, akan tetapi kemarahannya ini amat merugikan, karena kepalanya menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar karenanya.

“Tutup mulutmu yang kotor!” Siu Bi membentak sambil melompat ke depan menghadapi Ouwyang Lam.

Pemuda Ching-coa-to ini terkejut sekali, memandang dengan mata terbelalak. “Eh, eh, eh, Moi-moi…..”

“Aku bukan moi-moimu! Cih, tak tahu malu! Ouwyang Lam manusia rendah, ketahuilah bahwa dibandingkan dengan , Swan Bu, kau hanya patut menjadi sepatunya! Maka tak boleh kau menghinanya dan lekas pergi dari sini kalau tidak ingin mampus di tanganku!”
Saking heran dan bingungnya, Ouw-yang Lam hanya berdiri melongo. Mukanya yang berkulit putih menjadi merah sekali, mulutnya yang biasanya pandai bicara, sukar mengeluarkan kata-kata saking kaget dan herannya.

“Siu Bi….. apa artinya ini…..?”

“Artinya, tutup mulutmu yang busuk dan lekas enyah kau dari sini!”

Ouwyang Lam mulai marah. la memang tergila-gila kepada gadis cantik ini, tergila-gila akan kecantikannya sesuai dengan wataknya yang mata keranjang, akan tetapi kalau gadis ini mulai menghinanya, tentu saja timbul kebenciannya.

“Tapi….. kenapa kau membelanya?  bukankah kau membuntungi lengan…..”

“Bukan urusanmu! Lekas pergi!”

Ouwyang Lam adalah seorang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tentu saja timbul kemarahannya dan dia mengangkat dadanya yang bidang. Biarpun tubuhnya agak pendek, tapi dadanya bidang dan tegap.

“Siu Bi, aku menantang Swan Bu, jangan turut campur! Ataukah putera Pendekar Buta ini sekarang telah menjadi seorang pengecut nomor satu di dunia sehingga dia menyembunyikan diri di belakang pantat wanita?”

“Ouwyang Lam keparat, kotor mulutmu…..” Siu Bi menggerakkan pedangnya.

“Siu Bi, tunggu dulu!” Suara Swan Bu ini menahan Siu Bi yang menarik pedangnya kembali dan menoleh kepada, kekasihnya itu.

“Siu Bi, aku bukan pengecut dan biarpun tidak kau bantu, aku masih takkan mundur menghadapi tantangan siapapun juga!” la melangkah maju menghadapi Ouwyang Lam lalu tersenyum mengejek. “Ouwyang Lam, setelah melihat keadaanku terluka, kau berani membuka mulut besar, ya? Hmmm, kau benar-benar gagah sekarang. Majulah!”

Ouwyang Lam tertawa mengejek. Pemuda ini memang cerdik sekali Sekilas pandang dia maklum bahwa lengan Swan Bu yang baru saja buntung membuat pemuda itu lemah dan menderita, maka tentu saja dia berani menantang dan se-ngaja dia membangkitkan kemarahan Swan Bu agar lawannya ini melarang Siu Bi membantunya. Sekarang dengan pe-dang terhunus, Ouwyang Lam menyerbu, menggeser kaki dengan langkah-langkah pendek seperti harimau kelaparan, pedangnya dimainkan dengan Ilmu Pedang Hui-seng-kiam yang lihai, mulutnya berseru, “Lihat serangan!”

Swan Bu bersikap tenang sekali bahwa keadaannya sebetulnya tidak membenarkan untuk melayani pertandingan, apalagi menghadapi lawan berat, akan tetapi, sebagai seorang berjiwa pendekar, lebih baik menantang maut dari-pada nnandah dicap pengecut! Melihat gerakan pedang Ouwyang Lam menyambar ganas dan mengeluarkan suara ber-suitan, dia mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya, menanti sampai pedang lawan mendekat, lalu tiba-tiba dia menghantamkan pedang ibunya menangkis dengan harapan akan dapat mematahkan pedang lawan dalam segebrakan.

Ouwyang Lam terkejut, tak sempat menarik kembali pedangnya, terpaksa dia mengerahkan tenaga pula dan membiar-kan pedangnya bertemu dengan pedang Swan Bu yang bersinar keemasan.

“Cringgg…..!” Bunga api memancar ke arah muka kedua orang muda itu sehingga mereka menjadi silau. Ouwyang Lam merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi Swan Bu yang tenaganya lemah karena lukanya, juga terhuyung mundur. Kagetlah dia melihat betapa pedang pendek pemuda tampan itu tidak patah, malah kini Ouwyang Lam sudah menerjang lagi dengan ganas, se-pasang matanya kemerahan, mulutnya yang menyepingai mengeluarkan suara mendesis, wajahnya diliputi bayangan kejam dan buas.

Swan Bu harus berloncatan ke sana-sini sambil memutar pedangnya menangkis, akan tetapi makin lama pandang matanya makin kabur, kepalanya pening dan lengan kirinya yang terluka terasa panas dan nyeri,

“Sraaattttt…..!” Pundak kanan Swan Bu tergores ujung pedang! Baiknya dia masih sempat menggulingkan diri sehingga pedang di tangan Ouwyang Lam tidak membabat buntung pundak kanannya itu. Dengan gerakan terlatih Swan Bu bergulingan, mengelak dari bacokan-bacokan pedang Ouwyarig Lam yang tidak mau memberi kesempatan lagi. Tiga kali bacokan pedangnya mengenai tanah dan sebelum dia sempat menyerang lagi, tubuh yang bergulingan cepat itu telah meloncat berdiri lalu Swan Bu sudah siap dan memutar pedang melindungi tubuhnya. Akan tetapi melihat betapa keningnya berkerut-kerut, keringat membasahi mukanya yang pucat, jelas bahwa pemuda itu menderita sekali, malah matanya beberapa kali dimeramkan.

“Ha-ha-ha, Swan Bu. Lebih baik kau membuang pedangmu dan menyerah kalah, aku sudah puas. Takkan kubunuh engkau asal mengaku kalah, ha-ha-ha!” Memang pandai sekali Ouwyang Lam. Melihat lawannya sudah payah, dia sudah mendahului dengan ejekan ini untuk memancing kemarahan.

“Tidak sudi!” jawab Swan Bu, tepat seperti yang diharapkan Ouwyang Lam. “Lebih baik mati daripada menyerah. Ouwyang Lam manusia sombong, jangan kira kau akan dapat mengalahkan aku. Majulah!”

“Swan Bu…..! Mundurlah dan biarkan aku memberi hajaran kepada anjing busuk ini!” Siu Bi berseru, pedang di tangannya sudah gatal-gatal hendak menerjang Ouwyang Lam. Hatinya sudah gelisah tadi melihat pundak kekasihnya tergores pedang sehingga kini mengucurkan darah membasahi bajunya. Tentu saja ia tidak mau turun tangan sebelum Swan Bu mundur, karena betapapun juga, di lubuk hati Siu Bi tersimpan sifat gagah dan ia merasa malu kalau harus mengeroyok, apalagi ia maklum bahwa tingkat ilmu kepandaian Swan Bu amatlah tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ouwyang Lam atau dia sendiri.

“Tidak, Siu Bi, aku masih kuat menghadapi kesombongannya!” kata Swan Bu. Ucapan Swan Bu ini tidak bohong, juga bukan bual belaka. Sebagai putera tunggal Pendekar Buta yang sakti, tentu saja dia mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Sekarang kepalanya sudah pening, pandang matanya kabur dan tubuhnya lemas seakan-akan tidak bertenaga lagi, akan tetapi kepandaiannya masih ada. Maklum bahwa dia tidak akan dapat menghadapi lawan dengan tenaga, Swan Bu segera mengubah gerakannya, kini tahu-tahu dia telah terhuyung-huyung, jongkok berdiri, berloncatan dan kadang-kadang seperti orang menari, kadang-kadang seperti orang mabuk. Sama sekali dia tidak perlu mempergunakan tenaga dalam ilmu langkah ajaib ini, akan tetapi hasilnya, semua serangan Ouwyang Lam mengenai angin kosong! Makin cepat, Ouwyang Lam yang penasaran dan marah ini menghujankan serangannya, makin aneh gerakan Swan Bu, kadang-kadang ada kalanya dia merebahkan diri sehingga Siu Bi hampir menjerit ketika Ouwyang Lam menubruk tubuh yang rebah itu dengan tikaman maut. Akan tetapi di lain detik tubuh yang rebah itu sudah bergulingan dan berdiri lagi, enak-enakan menari aneh. Andaikata Swan Bu tidak demikian lelah dan lemahnya, satu dua kali balasan serangannya tentu akan merobohkan Ouwyang Lam. Akan tetapi Swan Bu sudah terlalu lemah sehingga dia hanya mampu menghindarkan diri daripada serangan lawan tanpa mampu membalasnya. Karena tenaganya makin lemah, gerakannya mulai kurang gesit dan dia mulai terdesak. Empat penjuru angin telah dikuasai oleh sinar pedang Ouwyang Lam, tidak ada jalan lari lagi bagi Swan Bu kecuali menggunakan ilmu langkah ajaibnya untuk menghindar dari setiap tusukan atau bacokan, akan tetapi serangan hanya serambut saja selisihnya! Siu Bi mulai kecut hatinya, gelisah bukan main dan ia sudah mengambil keputusan untuk nekat menerjarg maju ketika tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang.

“Keparat, mundur kau!” bayangan itu berseru keras.

“Cringgg…..! Crakkk!” Siu Bi menjerit ketika melihat betapa bayangan itu dalam menangkis pedang Ouwyang Lam, telah kalah tenaga, pedangnya terlepas dan pedang Ouwyang Lam membacok dadanya! Siu Bi mengenal orang itu yang bukan lain adalah The Sun!

Dengan jerit tertahan Siu Bi menerjang maju karena Swan Bu juga sudah terhuyung-huyung kelelahan, pedangnya berkelebat mengirim tusukan dibarengi tangan kirinya mengirim pukulan Hek-in-kang!

Bukan main hebatnya serangan Siu Bi yang dilakukan dengan penuh kemarahan ini. la mempergunakan jurus-jurus lihai
dari Cui-beng Kiam-hoat dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kirinya mengeluarkan uap hitam.

Ouwyang Lam yang tertawa-tawa bergelak-gelak karena girangnya dan sombongnya itu mana mampu menghadapi serangan yang tak diduga-duganya ini? la terkejut sekali dan berusaha menangkis, namun terlambat. Pukulan Hek-in-kang telah membuat dadanya serasa meledak dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, pedang Cui-beng-kiam telah dua kali memasuki lambung dan dadanya, membuat dia terkulai dan roboh tak bernyawa lagi.

“Ayah…..!” Siu Bi menubruk The Sun yang terengah-engah, dengan tangan kanannya meraba luka di dadanya yang mengeluarkan banyak darah.

The Sun yang duduk itu tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar, wajahnya yang pucat berserii penuh bahagia. “Ah, anakku….. anakku….. Siu Bi, kau menyebut apa tadi…..?”
.
Dada Siu Bi penuh keharuan. Orang tua ini, yang baru-baru ini amat dibencinya, telah kehilangan lengan untuknya, sekarang menghadapi maut juga untuknya. Orang ini menolong Swan Bu, berarti menolongnya juga. Seketika lenyap semua bencinya, terganti kasih sayang yang dahulu, kasih sayang seorang anak perempuan yang dimanja ayahnya.

“Ayah…..!” Siu Bi merangkul dan menangis.

The Sun berdongak ke atas, pipinya basah air mata. “Terima kasih, atas pengampunMu, bahwa di saat terakhir ini harapan hambaMu masih terkabul. Siu Bi anakku….!” The Sun mendekap kepala gadis itu dan meneium dahinya, rambut-nya, penuh kebahagiaan. “Siu Bi, dengar baik-baik. Orang ini banyak kawannya, mereka tentu akan datang. Kau pergilah bersama Swan Bu. Aku tahu, dia putera Pendekar Buta, bukan? Ah, Siu Bi, ha-rapanku terakhir, semoga kau dapat hi-dup bahagia bersama dia. Ya, ya….. sejak kau kecil, kutimang-tirnang engkau agar kelak menjadi isteri seorang pendekar keturunan Raja Pedang atau Pendekar Buta. Ha-ha-ha, pengharapanku terkabul kiranya. Pergilah, bawa dia pergi, dia terluka parah…. biar aku di sini menghadang teman-temannya yang hendak mengejar.”

Setelah berkata demikian, dengan sikap gagah The Sun bangkit berdiri, memungut pedangnya yang tadi terlempar dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.

Siu Bi menengok, melihat Swan Bu dengan napas memburu berdiri bersandar pohon, “Tapi Ayah, kau….. kau terluka hebat…..”

The Sun menggerakkan lengannya yang buntung, menyayat hati Siu Bi peng-lihatan ini. “Aku sudah tua, aku penuh dosa, jangan renggut kenikmatan pengorbanan dan penebusan dosa ini, anakku. Kau berhak hidup bahagia, berhak hidup bersih daripada dosa-dosaku. Penjahat-penjahat itu dahulu bekas teman-temanku, biarlah sekarang kutebus dengan darahku, melawan mereka untuk membersihkan engkau daripada kekotoran ini. Kau pergilah, jaga baik-baik ibumu, dan…. dan….. jangan lepaskan Swan Bu… itu harapanku…..” Ucapan terakhir ini dilakukan dengan suara terisak.

“Ayah…… selamat tinggal…..” kata Siu Bi karena tidak melihat jalan lain. la maklum juga bahwa kedatangan Ouwyang Lam tentu disusul yang lain. Kalau Ang-hwa Nio-nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, apalagi Bhok Hwesio sampai muncul di situ, tentu dia, Swan Bu, dan ayahnya akan tewas semua secara konyol. la dapat menduga pula bahwa luka ayahnya amat berat, maka ayahnya menjadi nekat, berkorban untuknya. Dengan air mata bercucuran ia menghampiri Swan Bu, digandengnya lengan kanan pemuda itu dan ditariknya. “Mari kita berangkat, Swan Bu.”

“Sebentar, anakku…..” The Sun dengan langkah lebar menghampiri mereka, rnemandang dengan penuh keharuan, tiba-tiba merangkul Swan Bu dan mencium dahi pemuda itu, merangkul Siu Bi dan mencium dahi gadis ini, lalu melepaskan mereka. “Pergilah, lekas….. pergilah, selamat berbahagia!”

la masih berdiri dengan air mata bercucuran memandang ke arah lenyapnya dua orang muda itu ketika muncul Ang-hwa Nio-nio yang berlari-lari ke tempat itu. Terdengarlah nenek itu menjerit lalu menubruk jenazah Ouwyang Lam dan menangis tersedu-sedu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena ia segera meloncat bangun dan berdiri menghadapi The Sun yang sudah membalikkan tubuh karena sadar daripada lamunan sedih oleh tangis dan jerit tadi.

Ang-hwa Nio-nio hampir gila oleh marah dan sedihnya melihat murid atau kekasihnya telah tewas. Dengan mata mendelik ia memandang kepada Siu Bi dan berteriak penuh kemarahan,

“Katakan, siapa yang membunuhnya? Dan kau ini siapa?”

The Sun yang sudah dapat menguasai keharuan hatinya, kini tersenyum duka. “Kui-toanio (nyonya Kui), agaknya kau lupa lagi kepadaku. Dua puluh tahun yang lalu, aku dan guruku Hek Lojin bukankah menjadi kawan seperjuangan dengan Ang-hwa Sam-ci-moi?”

Nenek itu memandang heran ke arah lengan yang buntung, akan tetapi ia teringat sekarang. “Aaahhhhh, kau The Sun….. eh, gadis itu, Siu Bi….. dia puterimu?” Sebelum The Sun menjawab, nenek itu yang teringat lagi akan mayat pemuda kekasihnya, cepat bertanya, suaranya berubah tidak semanis tadi, “The Sun, siapakah yang membunuh Ouwyang Lam? Siapa”

Setelah sekarang Siu Bi dan Swan Bu pergi, baru The Sun merasa betapa dadanya sakit bukan main, juga lengannya yang buntung. Rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum dan ke jantung, membuat matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan tubuhnya meng-gigil. Akan tetapi dia menggigit bibirnya, mengerahkan seluruh daya tahan yang ada di tubuhnya untuk melawan rasa nyeri ini agar dia dapat menghadapi Ang-hwa Nio-nio.

“Dia ini hendak mengganggu anakku dan….. mantuku, karena itu aku turun tangan membunuhnya!”

Ang-hwa Nio-nio kelihatan kaget dan heran, akan tetapi kemarahannya memuncak mengalahkan perasaan-perasaan lain. la mundur tiga langkah, mengeluarkan jerit aneh setengah menangis setengah tertawa, kemudian menubruk ke depan melakukan penyerangan dansyat, pedangnya menubruk perut, tangan kirinya melancarkan pukulan Ang-tok-ciang!

The Sun dalah seorang jago kawakan yang tentu saja sudah maklum betapa lihainya nenek ini. Apalagi dia dalam keadaan terluka hebat, lengan buntung dan dada tergores pedang. Andaikata dia dalam keadaan sehat dan segar bugar sekalipun, dia maklum bahwa nenek ini bukanlah lawannya yang seimbang. Mendiang gurunya, Hek Lojin, kiranya baru merupakan lawan setanding. Maka dia bukan tidak tahu bahwa pertempuran ini akan diakhiri dengan kekalahannya. Namun dia tidak takut, tidak gentar. Apalagi karena sudah tercapai apa yang dia idam-idamkan, yaitu menarik Siu Bi kem-bali kepadanya, sebagai anaknya. la terlalu cinta. kepada anak itu yang semenjak kecil dia anggap anak sendiri. Ketika Siu Bi pergi, dia sudah mengalami penderitaan batin yang lebih hebat daripada penderitaan apa pun juga, lebih hebat daripada kennatian. Bahkan sebelum dia bertemu dengan Siu Bi, hanya tubuhnya yang masih hidup untuk menghadapi segala kepalsuan hidup, sedangkan batinnya sudah hampir mati. Baru setelah Siu Bi menyebutnya ayah, mengaku ayah ke-padanya, jiwanya segar kembali dan The Sun merasai kebahagian dan kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia. la puas, dia lega, dan dia bahagia sehingga menghadapi bahaya maut di tahgan Ang-hwa Nio-nio disambutnya dengan senyum!

Betapapun juga, darah jagoan tidak membiarkan dia mati konyol begitu saja. la seorang ahli silat yang berkepandaian  tinggi, biarpun tingkatnya tidak setinggi tingkat Ang-hwa Nio-nio, namun dia harus memperlihatkan bahwa selama puluhan tahun belajar ilmu silat tidaklah sia-sia. la harus melawan mati-matian. Tangan kanannya yang memegang pedang ber-gerak melindungi tubuh dan dia meng-geser kakinya ke belakang terus ke kiri, membabatkan pedangnya ke tengah-tengah gulungan sinar pedang di tangan Ang-hwa Nio-nio.

“Trang-trang-tranggg…..'”

Mereka berdua terpental mundur, ma-sing-masing tiga langkah. Hal ini aneh. Se-betulnya dalam hal kepandaian maupun tenaga dalam, The Sun kalah jauh oleh Ang-hwa Nio-nio. Apalagi dia dalam keadaan terluka dan tubuhnya sudah le-mah sekali. Akan tetapi, mengapa tiga kali pedangnya dapat menangkis pedang lawan dan dia dapat mengimbangi tenaga Ang-hwa Nio-nio? Bukan lain karena rasa bahagia dan ketabahan yang luar biasa, yang membuat The Sun tidak peduli lagi akan mati atau hidup, perasaan ini men-datangkan tenaga mujijat kepadanya. Memang, di dalam tubuh manusia ini tersimpan tenaga mujijat yang rahasianya tak diketahui oleh si mnusia sendiri. Kadang-kadang saja, di luar kesadaran-nya, teriaga ini menonjolkan diri, rnembuat orang dapat melakukan hal yang takkan mungkin dilakukannya dalairi keadaan normal. Rasa takut yang berlebih-lebihan, rasa marah yang melewati batas, rasa duka maupun gembira yang mendalam, kadang-kadang dapat menarik tenaga mujijat dalam diri ini sehingga timbul dan memungkinkan orang melakukan hal yang luar biasa, di atas kemam-puannya yang normal.

Demikian pula agaknya dengan The Sun pada saat itu. Secara aneh sekali, perasaan bahagia yang amat mendalam mennbuat dia tidak gentar menghadapi apa pun juga, mati atau hidup baginya sama saja, pokoknya dia sudah diterima sebagai ayah oleh Siu Bi dan inilah idam-idaman hatinya. Perasaan inilah yang membangkitkan tenaga mujijat sehingga dia mampu menangkis sambaran pedang Ang-hwa Nio-nio sambil mengelak dari pukulan Ang-tok-ciang. Akan tetapi, ka-rena memang kalah tingkat dan pula ta-ngan kirinya tak dapat dia pergunakan lagi sehingga keseimbangan tubuhnya dalam bersilat juga terganggu, maka ketika Ang-hwa Nio-nio terus mendesaknya dengan kemarahan meluap-luap, The Sun hanya mampu mempertahankan dirinya saja.

“Singgg!!” Pedang Ang-hwa Nio-nio menyambar, hampir saja mengenai kepala The Sun kalau saja dia tidak cepat-cepat membanting dirinya ke belakang dan terhuyung. Pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio sudah menyusulkan pukulan Ang-tok-ciang. Dalam keadaan terhuyung-huyung ini, tentu saja The Sun tidak mampu lagi. mengelak.

“Uhhh…..!” Dadanya serasa ditumbuk palu godam, tergetar seluruh isi dadanya dan tubuhnya terlempar sampai tiga meter lebih. The Sun roboh dan muntahkana darah segar dari mulutnya. Pada saat itu Ang-hwa Nio-nio sambil terkekeh-kekeh mengerikan sudah melompat datang dengan pedang terangkat.

Namun The Sun sama sekali tidak gentar, juga tidak mau menyerah. Dalam keadaan setengah rebah ini, dia masih mampu mengangkat pedangnya menangkis bacokan pedang lawan.

“Trangg…..!” Pedang di tangan The Sun patah menjadi dua, ujungnya menancap di dadanya sendiri dan gagangnya mencelat entah kemana. The Sun meng-gulingkan tubuhnya ke depan dan tangan kanannya dikepal melancarkan pukulan sambil menendang. Hebat serangan ini, dan tidak terduga-duga lagi. Siapa bisa menduga orang yang sudah terluka se-perti itu masih dapat melakukan serangan begini dahsyat?

“Ihhh…..!” Ang-hwa Nio-nio berteriak kaget dan marah karena biarpun ia dapat menghindar, namun ujung kaki The Sun menyambar pipinya, dekat hidung. la meneium bau sepatu yang ainat tidak enak dan ini dianggap merupakan penghinaan yang melewati takaran.

“Keparat, mampus kau!” bentaknya, pedangnya membacok lagi sekuat tenaga.

“Crakkk!” Lengan kanan The Sun yang menangkis bacokan ini seketika terbabat buntung!

Darah muncrat seperti air pancuran. Akan tetapi The Sun masih melompat bangun, kedua kakinya bergerak seperti kitiran angin melakukan tendangan berantai.

“Wah, gila…..!” Ang-hwaNio-nio merasa serem juga. The Sun sudah penuh darah, juga pakaiannya ternoda darah yang mancur dari lengannya, akan tetapi tendangannya masih amat berbahaya.

Dengan marah dan penasaran Ang-hwa Nio-nio mengayun pedangnya me-mapaki kaki yang menendang. “Crokkk!” kaki kanan The Sun putus sebatas lutut dan tubuhnya terguling. Namun hebatnya, tidak satu kali pun jagoan ini mengeluar-kan suara keluhan. la rebah dengan ma-ta melotot memandang Ang-hwa Nio-a nio, mulutnya tersenyum penuh ejekan.

“Setan kau!” Ang-hwa Nio-nio menubruk maju dan pedangnya dikerjakan seperti seorang penebang pohon mainkan kapaknya. Terdengar suara crak-crok-crak-crok dan dalam waktu beberapa detik saja tubuh The Sun tercacah hancur! Mengerikan sekali!

Ang-hwa Nio-nio mengangkat mayat Ouwyang Lam dan dibawanya lari pergi. Terdengar lengking tangisnya sepanjang jalan. Mayat The Sun yang sudah tidak karuan lagi bentuknya itu menggeletak di atas tanah di dalam hutan. Sunyi sekali di situ. Tidak ada suara apa-apa kecuali suara burung hutan yang bersembunyi mengintai di atas pohon. Yang bergerak hanya binatang-binatang hutan yang ber-sembunyi di dalam gerumbulan, menanti saat untuk menikmati hidangan daging dan darah yang disia-siakan itu. Kematian seorang manusia yang amat mengeri-kan, juga menyedihkan. Patut dikasihani manusia seperti The Sun itu, sungguhpun kematiannya itu tidaklah mengherankan apabila kita mengingat dan menilai perbuatan-perbuatannya di waktu dia masih muda. Telah ditumpuknya dosa, dan sekarang agaknya dia harus menebusnya. Sayang, amat terlambat dia insyaf. Di Waktu muda dahulu, kedudukan, kekuasaan, kekuatan, dan harta benda membuat dia tekebur. Membuanya sewenang-wenang, seakan-akan tidak ada kekuasaan di dunia ini yang dapat melawannya, yang dapat mengadili perbuatan-perbuatannya. la lupa pada waktu itu bahwa di atas segala kekuasaan yang tampak di dunia ini, masih ADA kekuasan tertinggi, kekuasaan Tuhan yang tak terlawan, yang maha adil dan yang takkan membiarkan kejahatan lewat tanpa hukuman. Setiap perbuatan merupakan sebab dan setiap sebab mempunyai akibat. Nasib di tangan Tuhan? Betul, karena Tuhanlah yang mengatur lancarnya akibat-akibat ini seadil-adilnya maka Maha Adilkah DIA. Nasib di tangan manusia sendiri? Juga betul, karena sesungguhnya, si manusia itu sendirilah yang menjadi sebab daripada akibat yang disebut kemudian sebagai nasib! Perbuatan baik tentu berakibat baik, sebaliknya perbuatan busuk pasti berakibat buruk, maka baik buruknya akibat atau nasib sesungguhnya adalah di tangan si manusia itu sendiri. Jangan terlalu keras ketawa gembira mereka yang berbuat kejahatan tapi belum menerima hukuman dari Tuhan, karena yakinlah, bahwa akibat per-buatanmu pasti tiba! Tuhan Maha Adil!
* * *

Kuil tua di kota Kong-goan makin sunyi keadaannya. Semenjak kuil tua itu dijadikan semacam markas oleh Ang-hwa Nio-nio dan sekutunya, penduduk menganggap tempat itu sebagai tempat terlarang, tempat yang seram dan ber-bahaya sehingga kuil ini seakan-akan ter-asing. Apalagi di waktu malam, tidak ada orang berani lewat dekat kuit ini. Malah banyak penduduk Kong-goan yang menganggap kuil itu sebagai tempat yang angker, sebagai rumah setan! Hal ini tidaklah aneh kalau mereka pernah melihat berkelebatnya bayangan yang dapat “menghilang” dan kadang-kadang dapat “terbang” ke atas genteng, sering pula melihat cahaya berkelebatan di atas kuil.

Akan tetapi pada malam hari itu, dua sosok bayangan orang dengan langkah perlahan dan tenang menghampiri kuil tua ini, tanpa ragu-ragu memasuki pekarangan kuil yang gelap. Mereka ini bukan lain adalah suami isteri sakti dari Liong-thouw-san, Pendekar Buta dan isterinya!

“Sunyi sekali, agaknya kosong,” kata Hui Kauw setelah meneliti keadaan sekeliling jtempat itu dengan pandang matanya.

“Memang kosong,” kata Kun Hong yang juga meneliti keadaan dengan pendengarannya, “Akan tetapi mungkin nanti atau besok mereka akan kembali. Tempat ini belum lama ditinggalkan orang, hawa manusia masih bergantung tebal di ruangan ini.”

Setelah melakukah pemeriksaan dan yakin bahwa kuil tua itu tidak ada peng-huninya, Kun Hong dan Hui Kauw lalu duduk bersila di ruangan belakang yang lantainya bersih. Mereka melewatkan malam di tempat itu, sambil menanti dan bersikap waspada. Di tempat inilah Kong Bu melihat putera mereka yang didakwa melakukan perbuatan jahat terhadap Lee Si, puteri pendekar Min-san itu. Dengan demikian berarti bahwa pu-tera mereka itu kena fitnah di tempat ini, dan dengan hati penuh kekhawatiran mereka menduga-duga apakah yang telah terjadi di sini dan siapa gerangan yang melakukan perbuatan curang mengadu domba itu.

Akan tetapi malam itu tidak terjadi apa-apa. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali terdengar langkah-langkah kaki di luar kuil tua. Kun Hong dan isterinya tentu saja mendengar suara ini dan mereka sudah siap sedia mengnadapi segala kemungkinan. Mereka bangkit berdiri dan tanpa kata-kata keduanya seperti sudah bermufakat, berjalan perlahan keluar menuju ke ruangan depan untuk menyambut datangnya musuh.

Setelah mereka tiba di luar, Hui Kauw melihat seorang gadis cantik dan gagah berdiri dengan tegak dan pandang mata marah.

“Siapakah dia?” bisik Kun Hong ke-pada isterinya.

Hui Kauw memandang penuh selidik, mengingat-ingat di mana dan bilamana ia pernah melihat wajah cantik yang serasa amat dikenalnya ini. Gadis itu balas memandang kepadanya, penuh selidik pula. Dua orang wanita ini saling pan-dang, agaknya masing-masing menanti ditegur terlebih dulu. Melihat betapa sikap gadis itu seakan-akan menahan kemarahan besar, Hui Kauw mengalah dan menegur lebih dulu,

“Nona, siapa kau dan siapa yang kau-cari di tempat ini?” Hui Kauw bertanya hati-hati karena ia belum tahu apakah gadis ini termasuk sekutu fihak lawan ataukah bukan.

“Kalian ini bukanlah Pendekar Buta dan isterinya?” Gadis itu balas bertanya. Hui Kauw dapat menduga bahwa gadis ini pada dasarnya memiliki suara yang halus dan sopan, akan tetapi karena sedang marah maka terdengar ketus.

“Kalau betul demikian, kenapa?” balas bertanya, sabar dan tersenyum.

“Sudah kuduga,” Gadis itu berkata perlahan seperti diri sendiri, “Sepasang suami isteri yang sakti, berilmu tinggi dan menganggap di dunia ini mereka yang paling pandai…..”

“Eh, kau siapakah dan apa sebabnya bicara begitu?” Kun Hong bertanya, keningnya berkerut karena pendengarannya tadi menangkap keperihan hati yang sakit dan penuh dendam.

Namun gadis itu tidak menjawab, melainkan bertanya lagi kepada Hui Kauw sambil memandang tajam, “Bibi yang gagah perkasa, bolehkah aku bertanya di mana kau menyimpan pedangmu Kim-seng-kiam?”

Berubah wajah Hui Kauw dan Kun Hong mendengar ini. Bangkit kemarahan di hati Hui Kauw. Pedangnya lenyap dicuri orang, pencurinya hanya tampak bayangannya saja yang bertubuh ramping dan tak seorang pun tahu akan kejadian itu. Gadis ini bertubuh ramping dan tahu akan pedangnya yang hilang. Tentu gadis ini yang mencurinya, atau setidaknya tahu akan pencurian pedang itu. Mudah saja menduganya, seperti dua kali dua empat!

“Eh, bocah nakal! Kiranya kau yang mencuri pedangku? Hayo katakan, di mana sekarang kausembunyikan pedangku itu dan apa sebabnya kau mencurinya?” la metangkah maju dua tindak menghadapl gadis itu. Kun Hong tetap berdiri, telinganya mengitari segala gerakan dan suara.

“Hemmm, tidak kukira, isteri Pendekar Buta yang sakti itu pandai pula berpura-pura. Siapa berani dan dapat mencuri pedang dari tangan isteri Pendekar Buta? Lebih baik berterus terang, pedang itu tertinggal di atas dada ketua Min-san-pai. Kalian mengandalkan kepandaian sendiri membunuh Tan Kong Bu dengan pedang Kim-seng-kiam, apakah sekarang masih berpura-pura lagi?”

Kun Hong menahan seruannya, kerut-merut di antara kedua matanya yang buta menjadi makln dalam. “Kong Bu terbunuh dengan Kim-seng-kiam? Ah….. kau siapakah, Nona? Dan apakah yang kau kehendaki setelah kau menceritakan itu kepada kami?”

“Lebih dulu kalian mengakulah bahwa kalian yang membunuh Tan Kong Bu. Orang yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya barulah orang gagah, dan hanya kepada orang gagah aku mau memperkenalkan diri. Kalau kalian menyangkal padahal pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya, berarti kalian biarpun terkenal sakti ternyata hanyalah pengecut dan aku tidak sudi banyak bicara lagi, karena pedangku yang akan mewakili aku bicara!”

Hui Kauw tidak dapat menahan sabarnya lagi. la melangkah maju lagi beberapa tindak sehingga kini ia berhadapan dengan gadis itu. Sepasang matanya yang bening memandang tajam seakan-akan berkilat, alisnya saling berdekatan, urat lehernya menegang. “Bocah lancang! Besar mulutmu! Kami tidak pernah mengagulkan diri sebagai orang-orang sakti dan gagah, akan tetapi kami juga tidak sudi dimaki pengecut! Pedang Kim-seng-kiam memang pedangku, mau tahu namaku ataukah sudah mengenalku? Aku Kwee Hui Kauw. Pedangku itu beberapa hari yang lalu lenyap dicuri orang. Hal ini tidak ada yang tahu, kecuali aku, suamiku, dan si pencuri. Sekarang kau muncul dan bicara tentang ini, siapa lagi orangnya kalau bukan kau yang mencuri pedangku? Dan sekarang setelah kau menggunakan pedang itu untuk membunuh Kong Bu, kau datang ke sini menuduh kami? Keparat, kiranya kau ini biang keladi semua urusan!” Setelah berkata demikian Hui Kauw menerjang ke depan, menyerang gadis itu.

Gadis itu bukan lain adalah Tan Cui Sian. Melihat datangnya serangan, ia cepat mengelak dan meloncat ke kiri. “Singgg!!” Pedang Liong-cu-kiam telah dicabutnya. Pedang ini mengeluarkan sinar berkilat yang menyilaukan mata sehingga Hui Kauw yang dapat mengenal pedang pusaka yang ampuh, ragu-ragu untuk menyerang lagi dengan tangan kosong, apalagi tadi ia melihat betapa gerakan gadis itu amat ringan dan gesit.

“Huh, ganas!” bentak Cui Sian. “Tak kusangka Pendekar Buta dan isterinya hanya begini! Mengandalkan diri dan kepandaian sendiri untuk menjagoi dan membunuh orang. Aku tahu, tentu Tan Kong Bu ketika bertemu dengan kalian telah menuduh bahwa putera kalian menghina puterinya sehingga terjadi percekcokan dan pertempuran. Akan tetapi kalau kalian membunuhnya, hal ini keterlaluan sekali dan aku tidak akan mendiamkannya begitu saja. Hayo, Pendekar Buta, majulah! Kwee Hui Kauw, karena pedangmu sudah kau tinggalkan menancap di dada Tan Kong Bu, kau boleh mencari lain senjata menghadapiku!” Bukan main heran dan kagetnya hati Pendekar Buta dan isterinya mendengar ucapan ini. Bagaimana gadis ini tahu akan urusan Kwa Swan Bu dan Lee Si?

Dan tahu pula bahwa Kong Bu telah bentrok dengan mereka berdua? Siapakah gadis ini?

Perlu diketahui bahwa Hui Kauw belum pernah bertemu dengan Cui Sian, dan Kun Hong pun tak pernah bertemu semenjak Cui Sian berusia lima tahun. Ketika Swan Bu dalam usia belasan tahun pergi ke Thai-san, dia ditemani kakeknya, Kwa Tin Siong.

“Kau….. kau anak Kong Bu?” Hui Kauw bertanya.

Cui Sian tersenyum mengejek. Gadis ini tidak mau memperkenalkan namanya, karena kalau ia melakukan hal ini, agaknya akan sukar baginya untuk bersikap seperti ini. Untuk dapat membalas kematian kakaknya, ia harus bersikap kasar dan bermusuhan. Melihat betapa tadi Hui Kauw telah menyerangnya, ia makin merasa yakin bahwa Kong Bu tentu tewas di tangan nyonya ini, dan agaknya dibantu oleh Pendekar Buta karena ia menaksir bahwa kepandaian kakaknya itu tidak kalah oleh kepandaian Kwee Hui Kauw.

“Tidak peduli aku siapa, kematian Tan Kong Bu tak boleh kudiamkan saja. Pendekar Buta, kau terkenal sebagai seorang pendekar yang sakti. Awas, pedangku menyerangmu!” Dengan gerakan kilat Cui Sian menerjang Pendekar Buta dengan pedang Liong-cu-kiam!

Gadis ini semenjak kecil tak pernah lagi bertemu dengan Pendekar Buta akan tetapi ia sudah mendengar banyak sekali tentang Kun Hong. Mendengar betapa ayahnya memuji-muji kepandaiannya dan mendengar pula dari ibunya betapa Kwa Kun Hong menjadi buta karena urusan cinta kasih dengan mendiang encinya yang bernama Tan Cui Bi dan yang tak pernah ia lihat (baca Rajawali Emas). Mendengar cerita tentang kematian enci-nya yang membunuh diri, diam-diam Cui Sian sudah mempunyai rasa tak senang kepada Pendekar Buta, karena ia menganggap bahwa kematian encinya itu adalah gara-gara Kwa Kun Hong. Apalagi setelah mendengar bahwa Kwa Kun Hong tidak setia kepada encinya yang sudah mengorbankan nyawa demi cinta kasihnya, yaitu bahwa Kun Hong telah menikah, maka diam-diam ia pun merasa cemburu demi encinya, kepada Kwee Hui Kauw. Puji-pujian ayahnya tentang kelihaian Pendekar Buta telah membangkitkan juga penasaran di hatinya dan ia dahulu sering kali melamunkan untuk meng-adu kepandaian dengan Pendekar Buta yang telah menyebabkan encinya membunuh diri dan yang dipuji-puji setinggi langit oleh ayahnya.

“Singgg…..!” Pedang Liong-cu-kiam mengeluarkan suara mendesing ketika digerakkan oleh tangan kanan Cui Sian yang terlatih dan yang gerakannya mengandung tenaga sinkang murni, ketika berubah menjadi seberkas sinar kilat meluncur cepat ke arah leher Pendekar Buta!

Biarpun kedua matanya buta, namun sebagai pengganti kekurangan ini, telinga Pendekar Buta amatlah tajam pendengarannya, sehingga dengan pendengarannya dia dapat mengikuti gerakan Cui Sian dengan pedangnya. Alangkah heran dan kaget hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan yang jelas sekali dari Im-yang-sin-kiam murni! Siapa yang dapat mainkan Im-yang-sin-kiam begini indah dan murni kecuali dia sendiri, dan tentu saja, Raja Pedang Tan Beng San? la mendiamkan saja tusukan pedang ke arah lehernya ini, tidak ditangkis tidak dielakkannya. la tahu bahwa gadis ini menusuknya dengari jurus Sian-li-cui-siauw (Dewi Meniup Suling), sebuah jurus yang tergolong Im-sin-kiam mempunyai sebutan yang sifatnya “Im” sedangkan sian-li atau dewi termasuk wanita maka banyak dipakai untuk jurus-jurus Irn-sin-kiam. Sebaliknya, dalam Yang-sin-kiam banyak dipergunakan sebutan yang sifatnya “Yang”. Kun Hong yang telah mewarisi ilmu pedang sakti ini dari Raja Pedang, tentu saja tahu akan perubahan-perubahannya dan dia tahu pula bahwa tusukan ke arah leher ini, biarpun ujung pedangnya sudah menyentuh kulit leher lawan, dapat saja dibelokkan kalau memang si penyerang tidak ingin membunuh lawannya. Oleh karena ini maka dia sengaja tidak, mengeiak atau menangkis, tentu saja siap untuk menghancurkan lawan kalau serangan ini diteruskan.

Dugaannya tepat. Ketika Cui Sian melihat betapa orang buta itu sama sekali tidak menangkis maupun mengelak sehingga pedangnya meluncur terus mengarah leher, ia menjerit tertahan dan cepat ia menggerakkan pergelangan tangannya mengubah arah pedang. Namun karena ia sedang marah, gerakan serangannya tadi hebat sekali, apalagi ia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga. Inilah yang membuat ia kurang cepat mengubah arah pedang sehingga ujung pedangnya masih menyambar pundak kiri Kun Hong sehingga robeklah baju di pundak berikut kulit dan sedikit daging sehingga darah bercucuran dari luka di pundak.

“Kau….. Cui Sian…..” Kun Hong seakan-akan tidak merasai perihnya luka di pundak.

“Oohhh….. kau bocah kurang ajar!” bentak Hui Kauw setelah mendengar seruan suaminya. Kemarahannya bangkit. Kalau anak ini Cui Sian, berarti ia adik tiri Tan Kong Bu dan sungguhpun wajar kalau ia marah atas kematian Kong Bu, akan tetapi tidak seharusnya berlaku begitu nekat dan menuduh mereka tanpa penyelidikan lagi. Apalagi sekarang berani menyerang dan melukai suaminya yang nyata-nyata tidak melawan!

Di lain fihak, Cui Sian yang sudah dikenal, lalu berdiri dengan pedang melintang di depan dada, tangan kiri bertolak pinggang. la seorang gadis yang berpengetahuan dan berpemandangan luas, akan tetapi biarpun demikian, ia tetap seorang wanita yang berperasaan halus, mudah tersinggung sehingga ia bersikap seperti itu karena teringat akan mendiang encinya yang membunuh diri karena Kun Hong ditambah pula kematian kakaknya yang tewas tertikam pedang milik isteri Pendekar Buta.

“Betul, aku Tan Cui Sian! Pendekar Buta dahulu sebelum aku lahir, kau sudah menggoda enciku Cui Bi dengan ketampanan wajahmu, tapi kemudian kau tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan enciku tewas membunuh diri. Sekarang, pedang isterimu membuat kakakku Kong Bu tewas pula, akan tetapi kembali kalian tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Apakah ini perbuatan orang gagah?  Hayo lawan aku, untuk membereskan perhitungan lama dan baru!”

“Ihhh, sungguh lancang mulutmu!” Hui Kauw berteriak marah sekali.

“Ssttt, sabarlah isteriku, dia masih anak-anak,” kata Kun Hong untuk menyabarkan hati isterinya. Akan tetapi bagi Cui Sian, ucapannya itu merupakan bensin menyiram api di dadanya. la disebut anak-anak! Akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut menyatakan ke-marahannya, Pendekar Buta telah mendahuluinya berkata,

“Cui Sian, alangkah sedih hatiku menghadapi kau seperti ini. Teringat aku betapa dahulu, ketika kau masih kecil, berusia lima enam tahun…..”

“Cukup! Tak perlu menggali-gali urusan lama!”

Kun Hong tersenyum, “Kau yang mulai menggali tadi, anak baik. Kau ketahuilah, apa yang dikatakan isteriku tadi tidak bohong. Pedangnya memang dicuri orang dan kami berdua tidak tahu-menahu tentang kematian kakakmu Kong Bu. Tentu saja berita ini amat mengagetkan dan menyedihkan…..”

“Sudahlah, siapa bisa percaya omongan seorang yang sudah biasa melanggar sumpah sendiri?”

“Apa maksudmu?” Kun Hong membentak, suaranya keren.

“Enciku membunuh diri demi cinta kasih, memperlihatkan kesetiaannya kepadamu, lebih baik mati daripada dijodohkan orang lain. Akan tetapi, belum juga dingin jenazah enciku, kau….. kau sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah aku sekarang harus percaya omonganmu?”

“Bocah kurang ajar! Jangan kau menghina dia!” Hui Kauw berseru marah sekali dan tahu-tahu ia sudah merenggut tongkat suaminya, meloloskan pedang dari dalam tongkat itu, pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang Ang-hong-kiam!”

“Hui Kauw, jangan….”. Kun Hong mencegah, akan tetapi Hui Kauw dengan pedang Ang-ho-kiam di tangan sudah melompat maju menghadapi Cui Sian. Kemarahan hebat membuat sepasang pipinya merah sekali. Pedangnya ber-kelebat dan dengan cepat ia telah mengirim serangan hebat kepada gadis itu.

“Tranggg!” Liong-cu-kiam bertemu dengan Ang-ho-kiam, digerakkan oleh dua buah lengan wanita yang memiliki tenaga sakti. Bunyi nyaring itu diikuti bunga api yang muncrat seperti kembang api.

“Bagus!” kata Cui Sian. “Memang Kim-seng-kiam yang menancap di dada kakakku adalah pedangmu, maka sudah sepatutnya kau mempertanggungjawabkan keganasanmu. Ini bukan berarti aku takut kalau kau mengandalkan suaminu Si Pendekar Buta….”

“Tutup mulut! Lihat pedang!” Hui Kauw membentak lagi sambil memutar pedang dan segulung sinar merah berkelebatan di udara, membentuk lingkaran-lingkaran lebar bergelombang lalu bagaikan seekor naga berwarna merah gulungan sinar pedang itu menyambar ke arah kepala Cui Sian. Cepat bukan main sambaran sinar pedang ini, cepat dan anginnya begitu tajam mendesing sehingga ketika Cui Sian menggerakkan kaki menekuk pinggang ke bawah, sinar pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya, meninggalkan bunyi “Singgggg.,…!” yang menyeramkan.

Namun Cui Sian sendiri adalah seorang ahli pedang yang sudah tergembleng matang di puncak Thai-san. Tidak percuma kiranya ia menjadi puteri seorang pendekar sakti yang berjuluk Raja Pedang. Ibunya pun seorang ahli pedang, malah puteri tunggal Raja Pedang Tua Cia Hui Gan, pewaris Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang tiada taranya sebelum muncul Tan Beng San dengan Ilmu Pedang Im-yang-sin-kiam yang sebetulnya sesumber dengan Sian-li Kiam-sut. Dengan latar belakang keturunan seperti ini, tentu saja Cui Sian adalah seorang ahli pedang yang sakti, biarpun ia hanya seorang gadis yang berusia dua puluh empat tahun.

Begitu sinar merah yang berdesing itu lewat di atas kepalanya, Cui Sian tidak menanti sampai lawannya menyerangnya kembali. la maklum bahwa menghadapi seorang lawan tangguh seperti isteri Pendekar Buta, tidak boleh sekali-kali berlaku sungkan atau menghemat serangan, harus dapat membalas serangan demi serangan, malah sedapat mungkin memperbanyak serangan daripada pertahanan. Pedangnya digerakkan cepat dan sesosok sinar putih menyilaukan mata, seperti kilatan halilintar, menyelonong dari bawah masuk ke arah dada Hui Kauw. Pedangnya tidak hanya berhenti sampai di sini karena ujungnya tergetar dan hal ini menyatakan bahwa setiap saat pedangnya ditangkis atau dielakkan lawan, ujung pedang akan dapat melanjutkan serangan dengan jurus lain. Tangan kiri gadis itu ditarik ke belakang, lurus dan telapak tangannya dibalik menghadapi ke atas. Indah sekali gerakannya, dengan ujung kaki kanan menotol tanah, tumit diangkat, lutut agak ditekuk ke depan. Inilah gerakan indah seperti gerak tari yang bernama jurus Sian-li-hoan-eng (Sang Dewi Menukar Bayangan), sebuah jurus dari Sian-li Kiam-sut yang mengandung tenaga Im-yang-sin-hoat, maka hebatnya bukan kepalang!

Ketika tadi menyerangkan pedangnya ke arah kepala lawan dan dapat dielakkan, otonnatis dada Hui Kauw terbuka. Sebagai isteri Pendekar Buta, tentu saja ia maklum akan kedudukan yang lemah ini. Memang setiap penyerang berarti membuka suatu bagian yang tidak terlindung. Akan tetapi kalau sudah menguasai kelemahannya sendiri, tentu saja dapat menjaga diri. Hui Kauw pernah mewarisi ilmu silat tinggi dari sebuah kitab kuno yang ia temukan, kemudian oleh suaminya, ia dibimbing dan mewarisi beberapa jurus Kim-tiauw-kun yang amat hebat, yang ia gabung dengan ilmu silatnya sendiri sehingga kini memiliki ilmu pedang gabungan yang amat kuat dan dahsyat. Seperti yang ia telah duga, kekosongan yang terbuka dalam posisinya dipergunakan lawan. Melihat sinar pedang putih mengancam dada, pedang ia balikkan ke bawah lengan dan dengan pengerahan tenaga sinkang ia menarik lengan yang ditamengi pedang ini ke bawah.

“Cring…..!” Kembali sepasang pedang bertemu di udara. Sinar pedang putih yang amat lincah itu begitu kena ditangkis, membalik dan tahu-tahu sudah berubah menjadi sabetan ke arah kaki! Inilah kelihaian Sian-li-hoan-eng tadi. Begitu ditangkis dan ditindas dari atas oleh lengan Hui Kauw yang dilindungi pedang dibalik, pedang Liong-cu-kiam terpukul ke bawah, namun pukulan ini malah merupakan landasan tenaga untuk membabat kaki dengan kecepatan kilat!

“Aiiiiihhh…..” Nyonya Pendekar Buta menjerit lirih dan tahu-tahu kakinya menjejak bumi dan tubuhnya mumbul ke atas seperti dilontarkan. Demikian hebat ginkangnya sehingga lebih cepat lompatannya daripada sambaran pedang. Sinar putih itu hanya beberapa senti meter saja lewat di bawah kakinya, nyaris sepasang kaki nyonya ini terbabat buntung!

“Bagus…..!” Cui San memuji saking kagumnya menyaksikan gerakan yang indah dan cepat ini. Itulah gerakan dari Kim-tiauw-kun yang disebut jurus Sin-tiauw-coan-hong (Rajawali Sakti Terjang Angin). Jurus ini tidak hanya dapat dipergunakan untuk menyelamatkan serangan di tubuh bagian bawah dengan cara melompat lurus ke atas dengan jalan menotolkan ujung kaki ke tanah, melambung ke atas sambil mengembangkan kedua lengan seperti sayap rajawali sakti, namun lebih dari itu, jurus ini dapat dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara yang dilakukan seekor rajawali. Dan hal ini pun dilakukan oleh Hui Kauw karena tiba-tiba tubuhnya dari atas telah berjungkir-balik dua kali sehingga tubuh itu mencelat makin tinggi, kemudian turunnya tepat melayang ke arah lawan, pedangnya menusuk dada, tangan kiri mencengkeram muka, dan kedua kakinya masih melakukan tendangan udara. Benar-benar seperti rajawali yang menyerang dengan sepasang sayap dan sepasang cakarnya!

Kagetlah Cui Sian melihat perubahan Ini. la tadinya agak terpesona oleh keindahan gerakan lawan, tidak tahu bahwa di dalam keindahan itu tersembunyi bahaya maut yang kini mengancamnya! la sadar akan kehebatan penyerangan ini setelah lawan tiba dekat sekali, bahkan angin pedang yang bersinar rnerah itu sudah lebih dahulu meniup.

“Hayaaaaah!” Cui Sian berseru, pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih melingkar di depan dada menangkis sinar pedang merah, kemudian menggunakan tenaga benturan ini dia membanting tubuhnya ke belakang. Orang lain tentu akan celaka kalau melakukan gerakan ini. Sedikitnya, kepala akan terbanting kepada tanah atau batu di belakangnya. Akan tetapi tidak demikian dengan Cui Sian. Gerakan inilah yang disebut jurus Sian-li-loh-be (Gerakan Mem-balik Seorang Dewi) yang selain menegangkan, juga amat indah karena digerakkan oleh tubuh yang ramping, manis dan lemah-gemulai. Biarpun tadinya kepala yang berambut hitam panjang halus harum itu seperti terbanting ke belakang dan ke bawah, namun bukan menghantam tanah di belakang, melainkan terayun terus ke bawah seiring dengan terangkatnya kedua kaki ke depan dan ke atas, terus tubuh itu membuat salto sampai tiga kali ke belakang! Membuat salto ke depan adalah mudah dan agaknya dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau melatihnya. Akan tetapi membuat salto ke belakang berturut-turut tiga kali tanpa ancang-ancang dan dalam keadaan terjepit seperti itu, kiranya hanya dapat dilakukan oleh akrobat-akrobat tingkat tinggi saja!

Diam-diam Hui Kauw kaget dan kagum. Serangannya tadi dengan jurus Sin-tiauw-coan-hong tadi amatlah hebat dan jarang sekali tak membawa hasil baik karena serangan itu selain tidak terduga-duga datangnya, juga amat sukar ditangkis atau dielakkan karena sekaligus kedua tangan dan kedua kakinya menyerang. Akan tetapi ketika gadis itu tubuhnya berputar-putar seperti kitiran angin ke belakang menjauhinya, otomatis serangannya gagal mutlak, karena tubuhnya yang melayang dari atas tak mungkin dapat “terbang” mengikuti gerakan lawan. Terpaksa ia turun kembali ke atas tanah dan pada saat kedua kakinya menginjak tanah, lawannya yang muda belia itu sudah berdiri pula dengan tegak.

Kini mereka berdiri agak berjauhan karena gerakan salto Cui Sian tadi. Jarak di antara mereka ada lima meter. Masing-masing berdiri dengan pedang di tangan, melintang depan dada. Kedua kaki agak terpentang, tangan kiri di atas pinggul kiri, bibir agak terbuka dan napas sedikit memburu karena pengerahan tenaga sinkang tadi dicampur ketegangan, sepasang mata menyinarkan api berkilat-kilat, sepasang pipi merah jambu. Bagaikan dua ekor singa betina mereka saling pandang, seakan-akan hendak menaksir kekuatan lawan sambil mengasah otak untuk mengeluarkan jurus-jurus pilihan agar dapat segera merobohkan lawan yang tangguh.

Sejak tadi, kerut-merut di antara kedua mata Kun Hong tampak nyata, napasnya agak terengah dan beberapa kali dia membanting kaki kiri ke atas tanah. Bingung sekali dia. la maklum bahwa di antara mereka terjadi kesalah-fahaman yang amat besar dan amat berbahaya, akan tetapi bagaimana ia dapat mencegah mereka bertanding? Keduanya telah tersinggung perasaan dan kehor-matan, masing-masing membela kebenaran sendiri dan satu-satunya jalan untuk menghentikan salah faham ini hanya mengemukakan fakta-fakta. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tak mungkin dia dapat memperlihatkan bukti untuk membuka tabir rahasia ini. Kong Bu terbunuh orang, pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Tentu saja adiknya aa, ini, Cui Sian, menjadi marah dan menuduh mereka berdua yang melakukan pembunuhan itu.

“Hui Kauw…… Cui Sian….. hentikanlah pertempuran yang tiada gunanya ini…… dengarkan aku…..”

Akan tetapi dia melanjutkan kata-katanya dengan elahan napas panjang karena pada saat itu kedua orang singa betina itu sudah saling terjang lagi dengan lebih hebat daripada tadi. Kini rnereka saling menguji lawan dengan gerakan cepat, atau jelasnya, masing-masing hendak mengandalkan kecepatan untuk mencapai kemenangan. Gerakan mereka seperti sepasang burung walet, sukar sekali diikuti pandangan mata biasa. Pedang mereka lenyap bentuknya, berubah dua gulung sinar merah dan putih yang berkelebatan ke sana ke mari, saling belit, saling tekan, saling dorong dan saling kurung sehingga menimbulkan pemandangan yang ajaib, indah, namun penuh ketegangan karena di antara semua keindahan itu mengintai maut!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: