Jaka Lola ~ Jilid 21

Segera ternyata oleh kedua orang wanita jagoan itu bahwa dalam ilmu gin-kang, nyonya Pendekar Buta dengan gerakan Kim-tiauw-kun lebih unggul sedikit. Akan tetapi keunggulan ini ditutup oleh puteri Raja Pedang dengan kelebihannya dalam tenaga Iweekang yang merupakan penggabungan atau kombinasi dari Im-kang dan Yang-kang dari Im-yang-sin-hoat.

Ketika Hui Kauw melakukan serangan dengan jurus Kim-tiauw-liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air), pedangnya membacok dari atas ke bawah dengan kelebatan dua kali seperti orang menulis huruf Z. Cui Sian yang menjadi silau matanya saking hebatnya serangan ini, cepat menggerakkan pedang Liong-cu-kiam menangkis dilanjutkan dengan serangan menusuk dada. Dalam menangkis ini, Cui Sian menggunakan jurus Yang-sin Kiam-hoat yang disebut Jit-ho-koan-seng (Api Mata-hari Menutup Bintang), pedangnya diputar noenjadi gulungan sinar bundar yang di-gerakkan hawa panas sehingga tangan Hui Kauw yang memegang pedang serasa akan pecah-pecah telapak tangannya. Kemudian, sinar pedang yang bundar seperti bentuk matahari ini tiba-tiba mengeluarkan kilatan meluncur ke depan ketika jurus dari Yang-sin-kiam itu diubah mejadi jurus Im-sin-kiam yang digebut Bi-jin-sia-hwa (Wanita Cantik Memanah Bunga).

“Hui Kauw…… awas…” terdengar Kun Hong berseru kaget. Pendengarannya yang luar biasa tajam itu dapat mengikuti pertandingan ini seakan-akan dia dapat melihat saja. Tanpa seruan ini pun Hui KauW sudah kaget bukan main karena sama sekali tidak disangkanya bahwa pedang lawan yang diputar untuk menangkis itu tahu-tahu dapat diubah menjadi serangan yang mengeluarkan hawa dingin. Pedangnya sendiri dalam detik itu berada di atas karena tangannya terpental oleh tangkisan tadi, maka untuk menangkis tidak ada kesempatan lagi.

Agaknya pedang lawan itu akan menancap di dadanya, dan mungkin ini yang dikehendaki Cui Sian untuk membalas kematian kakaknya dengan serangan yang sama, menikam dada! Akan tetapi Hui Kauw bukanlah seorang wanita sembarangan yang akan putus asa menghadapi terkaman maut. Dengan nekat ia hendak mengadu nyawa. Tubuhnya ia tekuk ke bawah menjadi setehgah berjongkok dan pedangnya membabat miring ke arah kaki lawan. la maklum bahwa ia tidak akan dapat terhindar dari tusukan maut itu, akan tetapi agaknya pedangnya sendiri pun akan mendapat korban dua buah kaki!

“Aiihhh…..!” Cui Sian berseru, kagum dan kaget, tapi ia cepat melompat ke atas sehingga pedang Hui Kauw menyambar lewat di bawah ke dua kakinya, hanya beberapa senti meter saja selisihnya. Akan tetapi karena tubuh Hui Kauw merendah dan ia sendiri terpaksa melompat, pedangnya berubah arahnya dan tidak jadi menancap dada melainkan menyerempet pundak kiri Hui Kauw. Nyonya Pendekar Buta itu mengeluh perlahan, daging pundaknya robek dan darah mengalir banyak. la terhuyung ke belakang, pandang matanya nanar.

“Hui Kauw…..!” Sekali kakinya bergerak, Kun Hong sudah melayang ke dekat isterinya dan merangkulnya. Cepat jari-jari tangannya mencari dan mendapatkan luka di pundak. Hatinya lega, luka itu besar akan tetapi hanya luka daging saja, tidak berbahaya. la menotok dua jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah dan mengurangi rasa nyeri.

“Cui Sian, kau terlalu mendesak kami ….” katanya kemudian sambil menyuruh isterinya duduk beristirahat di pinggir. Pedang Ang-hong-kiam sudah dia masukkan ke dalam tongkatnya lagi.

Cui Sian melangkah maju, Suaranya lantang, ketus dan penuh tantangan,

“Pendekar Buta, untuk membalaskan kematian kakakku yang sama sekali tidak berdosa, pembunuhnya harus kubunuh pula!” Setelah berkata demikian, Cui Sian tiba-tiba melompat cepat sekali dengan maksud supaya orang buta itu tidak sempat menghalanginya. la melompat ke dekat Hui Kauw yang duduk bersila sambil meramkan mata mengumpulkan kembali tenaga dan memulihkan luka. Dengan gerakan cepat ia mengangkat pedangnya, menusuk ke arah dada Hui Kauw.

“Tranggggg…..!”

Cui Sian hampir jatuh jungkir-balik saking kerasnya tangkisan ini yang membuat lengannya kesemutan dan membuat ia cepat melompat ke belakang. Matanya terbelalak marah ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya tadi adalah tongkat di tangan Kun Hong yang entah kapan telah berada, di dekat isterinya.

“Bagus, kau telah membelanya? Awas pedang!” la sudah menerjang maju dan kini dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang sakti.

Hampir saja Cui Sian berdiri melongo saking herannya kalau saja ia tidak didorong oleh kemarahan dan sakit hati. Pendekar Buta itu hanya berdiri tegak dengan tongkat di tangan, kulit di antara kedua mata kerut-merut, mulut setengah tersenyum setengah menangis membayangkan keperihan hati, akan tetapi sama sekali tidak melayani ancaman serangan Cui Sian yang sudah menggerakkan pedang sehingga gulungan sinar putih bergerak-gerak mengurung tubuhnya dari atas ke bawah!

Cui Sian adalah puteri seorang pendekar besar, tentu saja tidak sudi menyerang orang yang tidak melawannya.

“Pendekar Buta, tak perlu menghina orang dengan kepandaiannya! Hayo kau lawan pedangku kalau kau membela isterimu yang membunuh kakakku!” teriak Cui Sian sambil mencylongkan ujung pedangnya di depan dada Kun Hong.

Akan tetapi Pendekar Buta tersenyum pahit dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Aku bukan orang gila, Siauw-moi (Adik Kecil)! Mana bisa aku melawanmu berkelahi? Isteriku tidak membunuh Kong Bu, aku berani sumpah…..”

“Sumpahmu tidak ada harganya!” bentak Cui Sian yang teringat akan mendiang cicinya. “Mungkin kau tidak membunuh Kong Bu koko, akan tetapi isterimu adalah puteri Ching-coa-to, sejak kecil tergolong keluarga penjahat! Aku bunuh dia!” Sambil berkata demikian Cui Sian melompat cepat sekali sambil menyerang Hui Kauw yang masih duduk bersila mengumpulkan tenaga.

“Tranggg!” kembali Cui Sian terhuyung mundur ketika pedangnya tertangkis tongkat di tangan Kun Hong. Namun gadis ini menjadi makin marah dan dengan nekat mengirim serangan bertubi-tubi, dengan jurus-jurus terlihai dari Im-yang-sin-kiam.

Betapapun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, semua sinar pedangnya terpental mundur oleh tangkisan tongkat yang merupakan sinar merah. Sinar merah itu jauh lebih kuat daripada sinar putih dari pedangnya dan agaknya Pendekar Buta hafal betul akan semua gerak-geriknya sehingga ke manapun juga pedangnya berkelebat dalam penyerangannya terhadap Hui Kauw, selalu pedang itu membentur tongkat, seakan-akan tubuh Hui Kauw terkurung benteng baja yang tak tertembuskan!

Karena semua serangannya selalu ter-tangkis, Cui Sian menjadi makin marah dan penasaran. Kalau saja Pendekar Buta melawannya dan ia dikalahkan, hal itu takkan mendatangkan rasa penasaran. Akan tetapi orang buta itu hanya menangkis dan melindungi isterinya, sama sekali tidak membalas sehingga ia merasa dipermainkan, dipandangrendah, dan dianggap anak-anak saja! Apalagi karena telapak tangannya yang memegang pedang tepasa perih dan panas, hampir Cui Sian menangis saking jengkelnya. la pada dasarnya seorang yang berpemandangan luas dan tidak mudah dipengaruhi kemarahan, akan tetapi karena ia memiliki hati yang keras pula, kini ia hampir tak dapat mengendalikan kesabaran. Saking gemasnya, ia lalu mulai mengalihkan serangannya kepada Kun Hong sendiri!

Di lain fihak, diam-diam Kun Hong mulai merasa tak senang. Gadis ini tidak tahu diri, pikirnya. Tidak tahu dia mengalah terus. Tentu saja tak mungkin dia membiarkan isterinya dibunuh! Siapapun juga orangnya yang akan mengganggu isterinya, akan dia lawan mati-matian. la akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela isterinya yang tercinta.

“Sian-moi, kau tak tahu diri!” bentaknya sambil menangkis agak keras sehingga Cui Sian terhuyung dan terpental sampai beberapa meter jauhnya.
“Memang aku tidak tahu diri!” Dalann kemarahannya Cui Sian berteriak-teriak. “Kakakku dibunuh isterimu, seharusnya aku diam saja dan minta ampun kepada isterimu, begitukah? Mengapa aku marah-marah dan hendak menuntut balas? Memang aku tidak tahu diri, nah, gunakanlah tongkatmu untuk melawanku dan membunuhku pula!” Ucapan ini ditutup dengan serangan kilat, serangan dengan jurus yang disebut Pat-sian-lo-hai (Delapan Dewa Kacau Lautan) yang merupakan jurus Yang-sin-kiam-hoat, hebatnya bukan main. Sambaran angin pedang  Liong-cu-kiam menjadi panas seperti mengandung api dan serangannya menyambar datang dari delapan penjuru angin. Inilah jurus yang paling hebat dari ilmu pedang Cui Sian yang sengaja di pergunakan oleh gadis itu secara nekat untuk menghadapi Pendekar Buta yang jauh lebih lihai dari padanya itu.

Kaget sekali hati Kun Hong ketika pendengarannya menangkap desir angin serangan jurus yang ampuh ini. la menyesal sekali dan juga makin tak senang. Jurus ini dikenalnya baik dan dia beranggapan bahwa kalau orang sudah menggunakan jurus macam Pat-sian-lo-hai ini, berarti orang itu hendak mengadu nyawa dan sudah nekat. la mengeluarkan suara melengking keras dan tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah seperti darah. Terderigar bunyi “cring-cring” delapan kali dan….. Cui Sian terlempar sam-pai lima meter lebih jauhnya, terbanting ke atas tanah diikuti pedangnya yang melayang ke atas dan menancap di dekatnya! Seketika gadis itu nanar dan bumi di sekelilingnya serasa berputaran! “Bocah tak tahu diri!” kembali Kun Hong mengomel.

“Sian-ji (anak Sian), kau benar-benar tidak tahu diri, berani melawan Pendekar Buta. Tentu saja kau kalah…..” tiba-tiba terdengar suara halus dan dalam.

“Ayah…!” Cui Sian berseru girang dan mengandung isak. “Ayah… kau balaskan kematian…. kematian….. Kong Bu koko…..” dan gadis ini menangis terisak-isak.

Kakek tua yang secara tiba-tiba berdiri di situ memang bukan lain adalah ayah Cui Sian, Bu-tek-kiam-ong Tan Beng San Si Raja Pedang, ketua dari Thai-san-pai! Seorang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya tinggi tegap, rambutnya sudah banyak yang putih, jenggotnya panjang, sepasang matanya tajam berpengaruh, sikapnya tenang berwibawa.

“Tenanglah, Sian-ji, aku sudah mendengar semua tadi. Aku tidak percaya Kun Hong membunuh Kong Bu, akan tetapi entah kalau isterinya. Betapapun juga, kau tidak boleh terburu nafsu, anakku, sebelum ada bukti.”

Sementara itu, bukan main kagetnya hati Kun Hong ketika mendengar suara Raja Pedang tadi, apalagi ucapan pertama yang keluar dari mulut Raja Pedang tadi sedikit banyak mengandung sindiran terhadap dirinya! Serta merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan Raja Pedang sambil berkata,

“Locianpwe, sekali-kali saya tidak berani menghina adik Cui Sian, akan tetapi dia mendesak terus. Kami berdua tidak merasa membunuh Kong Bu, tentu saja tidak mengaku. Kalau betul isteri saya membunuh Kong Bu, biarlah Lo-cianpwe turun tangan membunuh kami, kami takkan melawan. Harap Locianpwe sudi mempertimbangkan dan memeriksa, karena tuduhan itu hanya fitnah belaka.

“Hemmm, Kun Hong, berdirilah. Kau cukup mengenal watakku yang selamanya tidak akan mudah mendengar keterangan sefihak saja. Betapapun juga, kiranya Cui Sian takkan sudi melakukan fitnah, dan aku pun tahu bahwa kau bukanlah orang yang suka nnenyangkal perbuatan sendiri. Sian-ji, tidak boleh kita menuduh buta tuli tentang pembunuhan atas diri Kong Bu sebelum melihat bukti dan melakukan pemeriksaan. Mari antarkan aku ke tempat kau menemukan jenazah kakakmu. Kun Hong kau dan isterimu ikut agar kita bersama dapat membuktikan sendiri.”

“Ayah, yang menemukan jenazah Kong Bu koko adalah aku dan Swan Bu. Karena marah, aku segera pergi mencari Pendekar Buta dan isterinya, sedangkan Swan Bu berada di sana, tentu jenazah itu sudah dikuburnya.”

“Biarlah kita melihat ke sana.” Mendengar bahwa Swan Bu berada di tempat pembunuhan itu, Kun Hong dan isterinya segera bangun dan tanpa banyak cakap lagi segera mengikuti Cui Sian dan ayahnya. Hati mereka berempat diliputi pelbagai dugaan dan perasaan tegang maka di sepanjang jalan mereka tidak banyak bicara. Ada sesuatu yang merenggangkan mereka dan membuat mereka merasa tidak enak dan tidak suka satu kepada lain.

Karena melakukan perjalanan cepat mempergunakan ilmu mereka, akhirnya me-reka tiba di dalam hutan kecil di mana Cui Sian menemukan jenazah Kong Bu. Mereka berempat berdiri di depan kuburan baru yang ditandai tiga buah batu besar.

“Di sini tempatnya. Tentu ini kuburannya, dibuat oleh Swan Bu,” kata Cui Sian dan air matanya sudah mengucur.

“Mana Swan Bu…..? Mana anakku…..?” terdengar Hui Kauw berkata perlahan.

“Diamlah, baik sekali dia melakukan penguburan ini. Tentu saja dia telah pergi,” kata Kun Hong sambil meraba-raba kuburan.

“Kun Hong, kita sekarang berhadapan dengan kenyataan. Kong Bu terbunuh dan menurut kesaksian Cui Sian, pedang isterimu menancap di dadanya. Akan tetapi hal itu, biarpun sudah merupakan bukti bahwa Kong Bu terbunuh oleh pedang isterimu, masih belum meyakinkan. Sekarang kita harus bongkar kuburan ini, biar aku melihat mayat Kong Bu, mungkin aku akan dapat menemukan pemecahan rahasianya.”

“Ayah….. kasihan Kong Bu koko….. baru beberapa hari dikubur, masa harus dibongkar…..?”

“Diamlah, Sian-ji. Orang yang sudah mati tidak perlu dikasihani lagi, karena sesungguhnya yang masih hidup inilah yang patut dikasihani oleh si mati. Kau bantulah aku!” Setelah berkata demikian, pendekar tua ini menggunakan tangannya membongkar tanah kuburan, dibantu oleh Cui Sian yang bekerja sambil mencucurkan air mata.

Akhirnya terbongkarlah kuburan itu dan tampak mayat yang sudah mulai berbau busuk akan tetapi masih utuh. Utuh? Sama sekali tidak karena kedua matanya bolong dan lehernya putus, kepalanya terpisah daripada tubuh. Terdengar Cui Sian menjerit dan roboh pingsan dalam pelukan ayahnya. Raja Pedang mengeluarkan suara , geraman hebat berkali-kali seperti seekor harimau marah.

“Apa yang terjadi? Ada apa…..?” Kun Hong bertanya-tanya sambil memegang lengan isterinya erat-erat.

Hui Kauw sendiri berdiri memandang ke arah mayat dengan muka berubah pucat sekali. Jelas bahwa mayat itu selain tertusuk pedang dadanya menyebabkan kematian, juga kedua matanya dibikin buta orang dan lehernya dipenggal pedang! Saking kagetnya, nyonya ini hanya tertegun, tak dapat menjawab  pertanyaan suaminya.

Cui Sian siuman kembali dan menangis tersedu-sedu. “Ah, kasihan Kong Bu ko-ko….. mengapa begini? Ayah…… ketika aku menemukannya, kedua matanya tidak rusak dan lehernya tidak putus…… ah, apakah Swan Bu….. dia….. dia…..” Tiba-tiba gadis itu melompat dan mencabut pedangnya, wajahnya beringas ketika ia memandang kepada Pendekar Buta dan isterinya. “Jelas sekarang! Kiranya Pendekar Buta yang selama ini dipuji-puji Ayah, memiliki seorang isteri berhati iblis dan mempunyai anak berwatak siluman! Ayah, ini tentu perbuatan Swan Bu si bocah iblis! Ah, aku tertipu olehnya. Ia bilang kena fitnah, ditawan musuh bersama Lee Si dan dalam keadaan tertotok berdua Lee Si berada sekamar, terlihat oleh Kong Bu koko yang menjadi marah karena Kong Bu koko menyangka bahwa bocah itu berbuat kurang ajar terhadap Lee Si. Kiranya memang demikianlah. Anak Pendekar Buta tak boleh dipercaya! Pantas saja dia dibuntungi lengannya oleh gadis liar itu tidak menjadi sakit hati, kiranya memang segolongan!” Dengan kemarahan yang meluap-luap Cui Sian menceritakan semua itu dengan cepat sehingga sukar bagi tiga orang itu mengikutinya. Akan tetapi wajah Hui Kauw menjadi lebih pucat ketika ia berkata sambil terisak, “Anakku….. anakku….. Swan Bu….. lengannya kenapa…..?”

Memang pada saat itu, Cui Sian sudah seratus prosen menuduh akan kejahatan keluarga Pendekar Buta. Tadinya ia percaya akan kebenaran Swan Bu tentang fitnah itu, akan tetapi sekarang, melihat mayat kakaknya dirusak, dia berpendapat lain. Agaknya memang Swan Bu seorang pemuda berwatak jahat, mempermainkan Lee Si dan merusak mayat Kong Bu. Tadinya ia percaya karena sikap Lee Si yang seakan-akan membenarkan tentang fitnah, seakan-akan membenarkan bahwa Swan Bu dan ia kena fitnah sehingga Lee Si hampir membunuh Siu Bi. Akan tetapi sekarang Cui Sian mengerti bahwa Lee Si melindungi natna baik Swan Bu, dan….. tentu saja nama baik Lee Si sendiri. Hal ini hanya dapat terjadi karena puteri kakaknya itu jatuh cinta kepada Swan Bu yang tampan dan gagah! Sekarang ia mengerti semua dan kemarahannya rnemuncak.

“Wanita iblis, kau memang keturunan Ching-coa-to yang jahat! Setelah kau membunuh Kong Bu koko dan anakmu merusak mayatnya, kau mau bilang apa lagi? Kau harus menebus dosa!” Gadis itu membentak lalu berteriak nyaring dan tubuhnya melayang ke depan dalam serangannya yang hebat kepada Hui Kauw. Nyonya ini masih tercengang dan menangis sedih mendengar puteranya bun-tung lengannya, masih bingung sehingga ia tidak dapat mengelak atau menangkis menghadapi serangan Cui Sian yang dahsyat ini.

“Trang….. plak…..!” Kembali Kun Hong yang turun tangan menangkis dan Cui Sian terlempar dan roboh, kini gadis itu tidak dapat segera bangkit karena pundaknya tadi ditampar Kun Hong sehingga tulang pundaknya terlepas dan lengan kanannya menjadi lumpuh, tak dapat digunakan sementara waktu untuk mainkan pedang lagi! Pedang Liong-cu-kiam menggeletak di sampingnya.

Sementara itu, Raja Pedang Tan Beng San yang menyaksikan puteranya telah menjadi mayat yang mulai berbau busuk dan dirusak sedemikian rupa, berdiri seperti patung setelah mengeluarkan teriakan nyaring tadi. la berdiri seperti patung dan baru bergerak setelah Cui Sian terlempar dan roboh. la melangkah perlahan menghampiri pedang Liong-cu-kiam pendek yang menggeletak di situ, kemudian tanpa mempedulikan Cui Sian yang dilihatnya hanya menderita terlepas tulang yang tidak membahayakan nyawanya, kakek sakti ini membalikkan tubuhnya menghadapi Kun Hong, sikapnya penuh ancaman, tapi wajahnya tenang, hanya pandang matanya dingin seperti salju.

“Kwa Kun Hong, bagus sekali sikapmu. Kau sekarang membela yang salah, biarpun yang salah itu anak isterimu sendiri. Sekarang pilihlah, kau sendiri yang menghukum isterimu ataukah aku yang harus turun tangan? Kun Hong….. betapa hancur hatiku karena kekecewaan. Entah dosa apa yang kauperbuat dalam kehidupanmu dahulu sehingga dalam kehidupan sekarang kau menebus dengan nasib yang amat buruk. Tak patut kau yang memiliki watak mulia, mendapatkan isteri yang curang dan palsu, dan mendapatkan putera yang jahat dan keji. Kun Hong, demi hubungan baik antara kita, kau hukumlah orang yang bersalah, biarpun orang itu isterimu sendiri, agar aku tidak usah menyentuh isterimu.”

Ucapan Raja Pedang Tan Beng San terdengar tenang, tapi penuh dengan penyesalan dan keharuan tercampur duka. Betapapun juga, terasa amat dingin yang menjadi selimut daripada kemarahan besar.

Kun Hong berdiri tegak seperti patung. Kerut-merut di antara kedua matanya yang buta amat dalam, membuat wajahnya yang tampan itu kelihatan tua sekali. Rambut-rambut di pelipisnya seketika berubah menjadi putih. Kiranya saat ini merupakan saat yang paling perih baginya, saat yang paling menusuk di hati, di mana bercampur aduk pelbagai perasaan. la yakin, seyakin-yakinnya, bahwa isterinya tidak membunuh Kong Bu. Dan dia yakin pula bahwa puteranya tidak nanti akan melakukan perbuatan demikian hina, merusak mayat Kong Bu. la maklum bahwa semua ini fitnah belaka, dilakukan oleh orang-orang jahat. Akan tetapi dia pun maklum bahwa Raja Pedang dan Cui Sian yang dipengaruhi duka cita besar menyaksikan mayat Kong Bu yang mulai membusuk, menjadi miring pertimbangannya dan gelap pandangnya, sukar diajak berunding, kecuali kalau ada fakta-fakta yang mutlak sehingga dapat membuka mata hati mereka. Di samping keyakinan akan kebersihan anak isterinya, ada rasa duka yang membuat hatinya merasa ditusuk-tusuk jarum berbisa ketika dia mendengar bahwa lengan puteranya buntung. Semua perasaan ini  ditambah rasa penasaran mengapa Cui Sian begitu mendesak dengan tuduhan-tuduhan membuta, dan mengapa pula Raja Pedang yang selama ini dia anggap sebagai seorang yang paling bijaksana di dunia ini, tak dapat melawan kedukaan hati dan memihak Cui Sian tanpa pikir panjang lagi. Keyakinannya akan kebersihan isterinya, ditambah cinta kasihnya yang mendalam, membuat Kun Hong mengambil keputusan untuk melindungi isterinya dari gangguan siapa pun juga.

Sampai lama dia tidak menjawab ucapan Raja Pedang tadi. Keduanya berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter, sama-sama tegak dan sama-sama tidak bergerak. Cui Sian masih duduk bersila menahan sakit dan memulihkan tenaganya yang seakan-akan habis. Tangkisan Pendekar Buta tadi hebat bukan main. Juga Hui Kauw menjatuhkan diri di atas tanah, duduk sambil menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan. la sedih, marah, dan penasaran, akan tetapi semua itu terkalahkan oleh kepedihan hatinya mendengar lengan anaknya menjadi buntung.

Suasana sunyi sepi, sunyi yang menyeramkan. Udara diracuni bau mayat membusuk. Dua jagoan yang dianggap paling sakti di dunia persilatan, kini saling berhadapan, dengan perasaan saling bertentangan. Keduanya memiliki ilmu tingkat tinggi, yaitu Im-yang-sin-hoat, Tongkat besi Ang-hong-kiam telah gemetar di tangan kanan Kun Hong, sedangkan kedua tangan Raja Pedang telah memegang sepasang Liong-cu-kiam yang berkilauan. Tadi dia mengambil Liong-cu-kiam pendek dari puterinya dan kini tangan kanannya sudah mencabut Liong-cu-kiam panjang. Dengan sepasang Liong-cu-siang-kiam di tangan, Raja Pedang kini merupakan seekor harimau yang diberi sayap!

“Kwa Kun Hong, sekali lagi, kalau kau tidak mau menghukum isterimu, aku akan turun tangan sendiri!” kembali suara Raja Pedang itu menggema di antara pohon-pohon di sekeliling tempat itu.

“Locianpwe, isteri saya tidak berdosa. Harap Locianpwe jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum jelas benar. Tak mungkin saya membolehkan siapa juga mengganggu isteri saya yang tidak bersalah.”

“Hemmm, tidak nyana, bukan hanya matamu yang menjadi buta. Hatimu pun buta terhadap kenyataan dan keadilanmu goyah oleh cinta kasih. Hui Kauw, terimalah hukumanmu!”

Dua sinar putih berkilau bagaikan dua bintang terbang menyambar dibarengi suara bercuit panjang dan angin berdesir menyambar. Tubuh Si Raja Pedang sudah lenyap memanjang seperti dua setera putih.

“Hyiiiaaaaattt!” Pekik nyaring melengking ini keluar dari mulut Kun Hong dan tampaklah sinar merah gemilang menyilaukan mata menggantikan tubuhnya yang lenyap pula digulung sinar pedangnya sendiri. Maklum bahwa Raja Pedang melakukan gerakan maut untuk membunuh isterinya, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga mengeluarkan jurus simpanannya karena hanya dengan jurus inilah dia akan mampu menandingi Raja Pedang.

Hebat sekali penglihatan di saat itu. Cui Sian dan Hui Kauw lupa akan keadaan diri sendiri, masing-masing membelalak memandang ke depan. Memang luar biasa dan indah pula. Dua sinar yang amat terang dan panjang berwarna putih seperti perak, melayang di udara dan dari jurusan yang bertentangan meluncur sinar merah yang amat terang pula. Kemudian sinar-sinar itu beradu di udara, mengeluarkan suara keras seperti ledakan, membuat bumi serasa berguncang dan daun-daun pohon rontok berhamburan.

Cui Sian dan Hui Kauw tak dapat menahan hawa pukulan sakti itu, masing-masing menggigil tubuhnya dan otomatis mereka bertiarap sambil menutup mata. Ketika mereka membuka mata lagi memandang, ternyata Pendekar Buta dan Raja Pedang sudah berdiri lagi di atas tanah, tegak berhadapan dalam jarak tiga meter. Di atas tanah, antara mereka, tiga batang pedang menancap di atas tanah, sepasang Liong-cu-kiam dan se-batang Ang-hong-kiam yang sudah keluar dari tongkat yang hancur berkeping-keping! Kiranya pertemuan sepasang Liong-cu-kiam dan tongkat berisi Ang-hong-kiam tadi sedemikian hebatnya sehingga membuat tongkat yang membungkus Ang-hong-kiam hancur, akan tetapi juga membuat tiga batang pedang itu terlepas dari pegangan kedua orang jago sakti dan menancap di atas tanah, amblas hampir sampai kegagangnya.

“Locianpwe, saya tidak berahi melawan Lociaripwe, akan tetapi jangan Lo-cianpwe mengganggu isteri saya yang tidak berdosa.” Terdengar suara Kun Hong memecah kesunyian, suaranya gemetar bercampur isak tertahan.

Raja Pedang menarik napas panjang. “Hebat kau, Kun Hong. Dengan kepandaianmu seperti ini, seharusnya aku si tua bangka takluk. Akan tetapi, jelas isterimu membunuh Kunt Hong dan anakmu menghina mayatnya sedemikian rupa, orang-orang dunia akan mentertawai aku sebagai berat sebelah kalau tidak memberi hukuman. Kalau kau hendak melindungi isterimu, terserah, itu hakmu, sungguhpun hal itu mengecewakan hatiku karena berarti kau melindungi orang bersalah, Hui Kauw, awas terimalah pukulanku!”

Seluruh tubuh Raja Pedang tergetar, terutama kedua tangannya, ketika dia mengerahkan tenaga Im Yang, kemudian dia melangkah maju tiga kali dan menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Hui Kauw yang masih duduk di atas tanah.

“Jangan…… Locianpwe…..!” Kun Hong melompat dan menghalang di antara isterinya dan Raja Pedang, tentu saja sambil mengerahkan sinkang untuk menahan hantaman hawa pukulan Im Yang yang sedemikian hebatnya itu.

“Werrrrr…..!!” Bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, tubuh Kun Hong terlempar oleh hawa pukulan, menabrak isterinya dan keduanya terguling-guling sampai tiga meter lebih.

Kun Hong melompat bangun, wajahnya berubah merah, akan tetapi ia tidak ter-luka. Adapun Hui Kauw, biar tadi sudah terlindung olehnya dan pukulan itu hampir seluruhnya menimpa dirinya, namun saking hebatnya hawa pukulan, nyonya ini menjadi sesak dadanya dan wajahnya pucat. Cepat-cepat ia duduk bersila mengerahkan sinkang untuk mengusir pengaruh hawa pukulan dahsyat itu.

Kening Raja Pedang berkerut-kerut. Tentu saja dia merasa tidak senang sekali harus melakukan ini, namun demi keadilan untuk menghukum yang bersalah, dia melangkah maju lagi beberapa tindak sambil berkata, “Menyesal sekali, Kun Hong, tapi aku terpaksa harus turun tangan!”

Kembali Raja Pedang menggerakkan kedua tangannya melakukan dorongan dari jarak jauh sambil mengerahkan tenaga Im Yang.

“Locianpwe, jangan terburu nafsu…..?” Kun Hong mencegah, namun Raja Pedang melanjutkan pukulannya ke arah Hui Kauw. Sekali lagi Kun Hong meloncat, kini langsung menghadapi Raja Pedang sehingga dorongan itu sepenuhnya menghantam dadanya. Sekali lagi Pendekar Buta terlempar dan untuk menjaga agar isterinya jangan diserang, terpaksa dia menabrak dan menyeret Hui Kauw sehingga bergulingan di atas tanah.

Kun Hong bangkit berdiri perlahan-lahan, tapi Hui Kauw tidak dapat bangun, nyonya ini dalam keadaan setengah pingsan! Kun Hong sendiri, selain rambutnya kusut, pakaiannya kotor penuh debu, juga dari ujung kiri mulutnya mengalir darah. la tidak terluka dalam, namun pengerahan tenaganya tidak berhasil menahan pukulan maha dahsyat itu sehingga dia terbanting dan mulutnya berdarah. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah ketika dia melangkah maju menghadapi Raja Pedang.

“Locianpwe, benar kata orang bahwa tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang tanpa cacad. Setiap orang mempunyai kelemahan dan kebodohannya sendiri-sendiri. Mungkin saya mempunyai banyak kelemahan dan kebodohah, namun ternyata Locianpwe sendiri pun memiliki cacad ini. Karena sayang putera, karena duka cita, karena sesal dan kecewa, pertimbangan Locianpwe menjadi miring.”

“Aku bukan anak kecil, tak perlu kau memberi kuliah, Kun Hong. Kau minggirlah!” bentak Raja Pedang, sedikit banyak penasaran juga karena dua kali pukulan-nya untuk menghukum Hui Kauw dapat digagalkan oleh Pendekar Buta.

“Aku tidak akan minggir, Loeianpwe, dan kalau kau hendak membunuh isteriku, terpaksa aku akan mencegah!” jawab Pendekar Buta.

Dengan hati geram Raja Pedang tersenyum pahit. “Bagus, sudah kuduga akan begini jadinya. Nah, aku akan memukul isterimu lagi, terserah kau hendak berbuat apa!” Setelah berkata demikian, Raja Pedang menggerakkan kedua lengannya dan kali ini terdengar suara berkerotokan pada kedua lengan itu, Kun Hong kaget bukan main karena maklum bahwa kali ini pendekar sakti itu menggunakan seluruh tenaganya, tenaga Im dan Yang, tenaga yang bertentangan itu hendak digunakan sekaligus mengeluarkan bunyi berkerotokan. Sungguhpun tenaga itu bertentangan, namun kalau dipergunakan bersama, akan menjadi, tenaga mujijat yang sukar dilawan. Isterinya pasti akan binasa oleh pukulan ini, biar hanya terkena sedikit saja.

“Tahan, Locianpwe!” bentak Kun Hong dengan suara keras, tubuhnya merendah ketika dia menekuk kedua lututnya, kedua lengannya dia luruskan ke depan dan dengan pengerahan sinkang dia pun mendorong ke depan, langsung menyambut hawa pukulan dahsyat dari Raja Pedang.

Luar biasa sekali! Keduanya hanya tampak meluruskan kedua lengan mendorong ke depan, jarak di antara mereka masih ada tiga meter. Namun keduanya seperti tertahan, seakan-akan tertumbuk kepada sesuatu yang tak tampak namun yang amat kuatnya. Keduanya menarik kembali kedua lengan, membuat gerakan menyimpang lalu mendorong lagi, hampir berbareng, atau lebih tepat, Raja Pedang yang mendorong dulu karena dia yang menyerang, disusul dorongan lengan Kun Hong yang menyambutnya.

Berkali-kali mereka saling dorong dengan pukulan jarak jauh, makin lama jarak di antara mereka makin dekat.

“Kun Hong, hebat kau….. aku atau kau penentuannya…..” kata Raja Pedang terengah, namun wajahnya berseri gembira, kegembiraan seorang jagoan besar yang menemukan tanding yang seimbang.

“Terserah, Locianpwe…..” kata Kun Hong agak terengah pula, sambil menggeser kedua kaki secara berbareng ke depan dan kini ketika keduanya mengulurkan lengan, kedua pasang tapak tangan itu saling tempel. Kun Hong terkejut sekali karena kalau tadi tenaga dorongan Raja pedang merupakan tenaga yang keluar sehingga tiap kali dia tangkis maka dua tenaga bertentangan saling menendang, adalah kini kedua tapak tangan Raja Pedang itu mengandung tenaga menyedot dan menempel! Terpaksa dia mengerahkan seluruh tenaganya mempertahankan sehingga kedua orang itu kini berdiri setengah jongkok dengan kedua lengan lurus ke depan, tapak tangan mereka saling tempel dan melekat. Dua tenaga raksasa salihg betot dan kadang-kadang saling dorong melalui telapak tangan itu, dan keduanya terkejut karena ternyata tenaga mereka seimbang.

Kun Hong menjadi duka dan bingung sekali ketika mendapat kenyataan bahwa Raja Pedang agaknya sudah dihinggapi penyakit yang selalu menular pada ahli-ahli silat, yaitu kalau menemui lawan seimbang timbul kegembiraannya dan sebelum ada ketentuan siapa lebih unggul, takkan puas. la maklum bahwa Raja Pedang telah menggabungkan tenaga Im Yang, maka dia pun terpaksa melakukan hal yang sama karena tidak ada kekuatan lain dapat menghadapi tenaga gabungan ini selain juga menggabungkan tenaga Im Yang di tubuhnya. Namun dia maklum pula bahwa dengan cara mengadu tenaga seperti ini, mereka takkan dapat mundur lagi. Siapa mundur berarti celaka, karena andaikata dapat menghindarkan tenaga serangan lawan, namun akan terpukul oleh tenaga sendiri dan menderita luka yang dapat membawa maut. Pengerahan tenaga gabungan Im Yang seperti ini hanya dapat disurutkan secara perlahan-lahan, tidak mungkin “ditarik” sekaligus tanpa mendatangkan luka hebat di dalam tubuh sendiri.

Kedua orang jago sakti itu seperti dua buah arca, sama sekali tidak tampak bergerak. Uap putih mengepul dari kedua pasang lengan dan makin lama uap itu makin banyak, terutama kini keluar dan kepala. Ini adalah landa bahwa pengerah-an sinkang mereka sudah memuncak dan keadaan menjadi kritis sekali. Keduanya maklum bahwa seorang di antara mereka pasti akan tewas.

Hui Kauw sudah sadar kembali. Seperti halnya Cui Sian, ia duduk dengan muka pucat. Sebagai orang-orang yang tahu akan ilmu silat tinggi, keduanya maklum apa yang terjadi di depan mata mereka. Baik Cui Sian maupun Hui Kauw maklum bahwa dua orang itu sedang berada di ambang maut dan mereka maklum pula sepenuhnya bahwa mereka tidak dapat membantu, tidak dapat memisah karena tenaga sinkang jauh lebih rendah.

Turun tangan mencampuri “pertandingan” yang aneh ini berarti mengirim nyawa secara sia-sia belaka.

Melihat betapa suaminya setengah berjongkok, kedua matanya yang bolong itu terbelalak, kerut-merut di seluruh mukanya yang penuh keringat dan amat pucat, tiba-tiba Hui Kauw tak dapat menahan hatinya. Suaminya, sedang berjuang dengan maut, dan hal itu dilakukan suaminya untuk menolong dan melindungi dirinya. Tak tertahankan lagi nyonya ini menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan diri di atas tanah. la menangis seperti anak kecil hatinya penuh iba, penuh kegelisahan, dan penuh kasih sayang kepada suaminya. Melihat keadaan Hui Kauw ini, Cui Sian tak dapat menahan pula air matanya yang bercucuran keluar. la pun tahu apa artinya pertandingan ini dan timbullah rasa sesal dalam hatinya. Bagaimana kalau ayahnya kalah dan tewas? Tentu selama hidupnya ia akan memusuhi Pendekar Buta suami isteri dan anak. Sebaliknya bagaimana kalau Pendekar Buta yang tewas dan kemudian ternyata bahwa suami isteri itu tidak berdosa? Cui Sian menjadi bingung dan tangisnya menjadi-jadi.

Keadaan yang amat menyeramkan dan menyedihkan. Di sana menggeletak mayat Kong Bu yang mulai membusuk sehingga mengotori kebersihan hawa udara hutan itu. Dan di sana dua orang jago sakti sedang mati-matian mengadu tenaga dan ilmu. Tak jauh dari mereka, dua opang wanita menangis tersedu-sedu!

Sunyi di hutan itu, kecuali sedu-sedan dua orang wanita dan dari jauh terdengar rintihan burung yang memanggil-manggil pasangannya yang tak kunjung datang dan suara bercicit anak monyet di gendongan induknya minta susu.

Beberapa menit kemudian, suara burung dan monyet tiba-tiba terhenti setelah terdengar kelepak sayap burung-burung terbang dan teriakan monyet-monyet melarikan diri bersembunyi. Inilah tanda bahwa ada sesuatu yang mengejutkah mereka. Hanya kedua orang wanita itu masih menangis penuh kegelisahan sehingga mereka tidak memperhatikan keadaan sekeliling. Maka betapa kaget hati Cui Sian dan Hui Kauw ketika tiba-tiba muncul banyak sekali orang-orang yang mengurung tempat itu. Sedikitnya ada dua puluh lima orang, dipimpin oleh seorang nenek berpakaian serba merah yang memegang sebatang pedang telanjang. Nenek ini bukan lain adalah Ang-hwa Nio-nio yang datang sambil tertawa-tawa gembira dan mulutnya tiada hentinya berkata, “Bagus…… bagus…… dua ekor binatang ini sudah masuk perangkap, tinggal menyembelih saja, hi-hi-hik!”

Di sebelahnya tampak seorang pendeta bertubuh tinggi bersorban, telinganya memakai anting-anting dan kulitnya agak hitam, hidungnya mancung sekali. Itulah dia pendeta Maharsi, pertapa dari barat yang masih terhitung suheng (kakak seperguruan) Ang-hwa Nio-nio. Pendeta barat ini didatangkan oleh Ang-hwa Nio-nio untuk diminta bantuannya membalas dendam atas kematian kedua orang saudaranya.

Juga tampak Bo Wi Sianjin, tokoh dari Mongol yang bertubuh pendek dan gendut, tokoh sakti yang memiliki Ilmu Pukulan Katak Sakti, dan yang turun dari pegunungan di Mongol untuk mencari Raja Pedang untuk membalaskan kematian suhengnya, Ka Chong Hoatsu.

Dan di samping tokoh-tokoh itu semua, dengan sikap yang tenang sekali dan amat dihormati oleh tokoh-tokoh lain, adalah seorang hwesio tinggi besar, tua sekali usianya, kedua matanya selalu meram, mukanya pucat tak berdarah seperti muka mayat dan bajunya terbuka sedikit bagian dada memperlihatkan dada yang bidang dan berbulu di tengahnya, hwesio yang amat sakti karena dia ini bukan lain adalah Bhok Hwesio, itu tokoh dari Siauw-lim-pai yang murtad!

Munculnya orang-orang ini mendatangkan rasa gelisah bukan main di hati Cui Sian dan Hui Kauw. Raja Pedang dan Pendekar Buta sedang bersitegang, tidak dapat dipisah begitu saja, dan orang-orahg yang datang ini jelas merupakan tokoh-tokoh ahli silat tinggi yang agaknya tahu pula akan keadaan dua orang itu. Bagaikan mendengar komando dua orang wanita yang telah terluka ini meloncat, menyambar pedang yang menancap di atas tanah. Hui Kauw mencabut Ang-hong-kiam sedangkan Cui Sian mencabut Liong-cu-kiam pendek, lalu keduanya bersiap membela suami dan ayah masing-masing.

Mata tajam terlatih Ang-hwa Nio-nio dan tiga orang temannya tentu saja dapat melihat bahwa nyonya Pendekar Buta itu telah terluka bahkan puteri Raja Pedang memegang pedang dengan tangan kiri karena tangan kanannya setengah lumpuh. Nenek berpakaian serba merah ini tertawa mengejek sambil berkata mengejek,

“Wah, masih galak betina-betina ini! Kalian lihat betapa kami akan membunuh dan menyiksa dua orang musuh besar kami, kemudian datang giliran kalian berdua. Kong Bu sudah mampus, anak Pendekar Buta cucu Raja Pedang sudah rusak nama dan kehormatannya. Hi-hi-hik, alangkah nikmatnya pembalasanku!”

Tiba-tiba Hui Kauw berseru keras,

“Kau yang mencuri Kim-seng-kiam!”

“Hi-hi-hik, dan kau bersama suamimu yang buta itu tidak tahu…..”

Hui Kauw maklum sekarang siapa yang melakukan semua fitnah itu. Dengan teriakan nyaring ia menerjang maju, tidak mempedulikan betapa kesehatannya belum pulih. Teriakannya ini disusul oleh bentakan Cui Sian yang sekaligus juga dapat menduga apa yang sesungguhnya terjadi. Kiranya semua kejadian itu diatur oleh musuh-musuh yang bekerja , secara curang untuk membalas dendam kepada ayahnya dan kepada Pendekar Buta. Karena itu, saking marahnya, ia melupakan pundaknya yang terlepas sambungan tulangnya dan menyerang dengan pedang di tangan kiri.

“Ho-ho-ho, galaknya!” Pendeta Maharsi menggerakkan tangannya yang panjang dan….. Hui Kauw yang lemah karena terluka itu berseru kaget, tahu-tahu pedangnya dapat dirampas dan ia roboh terguling. Kiranya kakek ini telah memperlihatkan kepandaiannya membantu sumoinya, menggunakan Pai-san-jiu, sekaligus merampas pedang dan merobohkan Hui Kauw. Andaikata Hui Kauw tidak sedang terluka dan gelisah memikirkan suaminya, kiranya pendeta barat itu tidak akan begitu mudah mengalahkannya, sungguhpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi.

Adapun Cui Sian yang menyerang dengan pedang di tangan kiri, dihadapi oleh Ang-hwa Nio-nio yang sudah menghunus Hui-seng-kiam. Ilmu pedang Cui Sian sudah amat tinggi tingkatnya, maka biarpun lengan kanannya tak dapat dipergunakan, dengan tangan kiri dan pedang Liong-cu-kiam di tangan ia masih merupakan lawan yang berat. Namun keadaan tubuhnya yang terluka itu tentu saja amat mengganggu gerakannya dan sebentar saja sinar pedang di tangan Ang-hwa Nio-nio sudah mengurungnya. Dengan sekuat tenaga Cui Sian mempertahankan diri.

Tiba-tiba terdengar suara “kok-kok-kok!” dan Cui Sian terlempar ke belakang sambil mengeluh dan pedangnya terlepas dari tangan. la roboh dan pingsan, terkena pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin yang membantu Ang-hwa Nio-nio.

Kini Ang-hwa Nio-nio dengan sikap beringas seperti harimau betina kelaparan, menghampiri Pendekar Buta dari belakang, dengan pedang di tangan. Di lain fihak, Bo Wi Sianjin yang hendak membalas dendam atas kematian suhengnya, Ka Chong Hoatsu, menghampiri Raja Pedang. Keduanya melihat kesempatan yang baik sekali, selagi dua orang musuh besar itu saling libat dengan tenaga sin-kang yang sukar dilepas begitu saja, untuk melakukan balas dendam mereka.

“Tan Beng San, mungkin kau tidak mengenalku. Aku adalah Bo Wi Sianjin dari Mongol, sengaja datang mencarimu untuk membalaskan kematian suheng Ka Chong Hoatsu.”

“Tunggu dulu, Sianjin,” kata Ang-hwa Nio-nio sambil tertawa mengejek. “Kita harus bergerak berbareng, biarkan aku bicara dulu kepada musuhku, si buta sombong ini. Heh, Kwa Kun Hong, kau tentu masih ingat akan Ang-hwa Sam-ci-moi, bukan? Nah, aku Kui Ciauw. Saat engkau menyusul arwah kedua orang saudaraku telah tiba'” Setelah berkata demikian, Ang-hwa Nio-nio memberi isyarat kepada Bo Wi Sianjin untuk turun tangan.

“Curang!” Hui Kauw memaksa diri meloncat dan menerjang Ang-hwa Nio-nio dengan pukulannya. Akan tetapi tenaganya telah lemah dan bekas pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi tadi masih setengah melumpuhkan kaki tangannya, maka serangannya ini tidak ada artinya bagi Ang-hwa Nio-io. Dengan mengibaskan tangan kirinya, Ang-hwa Nio-nio berhasil menangkis dan sekaligus menampar, tepat mengenai leher Hui Kauw sehingga nyonya ini terjungkal dan pingsan, tak jauh dari Cui Sian yang masih tak sadarkan diri.

Kembali Ang-hwa Nio-nio memberi isyarat. Betapapun juga, agaknya ia mempunyai rasa malu untuk menyerang Kun Hong dari belakang dengan pedangnya, tahu bahwa Pendekar Buta sedang dalam keadaan tidak berdaya sama sekali. Apalagi Bo Wi Sianjin yang menyerang Raja Pedang juga bertangan kosong, maka ia menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga memukul ke arah jalan darah pusat di punggung Kun Hong. Juga Bo Wi Sianjin mengerahkan tenaga memukul tai-hui-hiat Raja Pedang.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: