Jaka Lola ~ Jilid 23

Bhok Hwesio makin penasaran, menahan napas dan mengerahkan seluruh tenaganya, menarik. Tubuhnya seakan-akan membesar, otot-otot di lehernya mengejang dan menonjol ke luar.

“Krekkkkk!!” Cambuk itu putus di tengah-tengah! Yo Wan terbanting ke belakang, terus bergulingan seperti bola, ada lima meter jauhnya. Tanpa disengaja, dia terguling ke dekat Cui Sian dan agaknya akan menabrak gadis itu kalau saja Cui Sian tidak mengulurkan tangan dan menahannya sehingga mereka seperti berpelukan! Cepat-cepat Cui Sian menjauhkan diri dan mukanya menjadi merah sekali!

“Ah….. eh…… maaf, Sian-moi…..” kata Yo Wan, juga merah mukanya.

Akan tetapi Cui Sian segera dapat mengatasi hatinya. “Waspadalah, Yo-twako, dia lihai bukan main. Kauusap peluhmu itu…..” Sambil berkata demikian, Cui Sian menyerahkan sehelai saputangan sutera. Yo Wan menerimanya, teringat akan lawannya dan cepat dia melompat bangun dan berdiri sambil mengusapi peluh di mukanya. Bau sedap dari saputangan itu menyegarkan semangatnya sehingga dia lupa akan cambuknya yang amat disayangnya, cambuk yang kini sudah putus menjadi dua. la melihat kakek itu juga berdiri tegak, sepasang matanya yang biasanya meram itu kini terbelalak, merah menakutkan. Jelas sekali kakek itu tidak dapat menahan napasnya yang terengah-engah.

“Hwesio tua, kalau kau mau mengaso, mengasolah dulu. Napasmu perlu diatur, jangan-jangan putus nanti seperti cambukku…..” Yo Wan sengaja mengejek, karena dia khawatir kalau kakek itu mengaso dan mendapatkan kembali tenaga dan napasnya, tentu akan lebih berbahaya.

“Iblis cilik, sekarang pinceng akan menghancurkan kepalamu!” Sambil ber-kata demikian, Bhok Hwesio menerjang maju lagi. Yo Wan meloncat dan menghindar, kini tangan kirinya sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan putih sebagai pengganti cambuknya yang putus. Itulah pedang Pek-giok-kiam pem-berian Hui Kauw dahulu.

“Tidak mudah, Hwesio, kalau kepandaian yang kaubawa dari Siauw-lim-pai hanya seperti ini…..”

Terdengar teriakan ngeri ketika Bhok Hwesio melompat maju seperti harimau menerkam. Teriakan ini keluar dari mulut Cui Sian saking kaget dan gelisahnya. Terkaman itu hebat bukan main. Tubuh Bhok Hwesio seperti terbang di angkasa dan tampaknya kedua kakinya ikut pula menyerang, persis seperti seekor harimau yang menerjang.

Yo Wan melompat lagi menghindar, akan tetapi tubuh Bhok Hwesio itu mengikutinya, seperti seekor kelelawar besar, mengancam dari atas. Melihat jari-jari tangan yang gemetar dan mengeluarkan bunyi berkerotokan itu, Yo Wan menjadi pucat. Sekali kena dicengkeram, akan hancurlah dia. Jangankan kena dicengkeram, kena sentuh jari-jari itu saja cukup untuk membuat orang roboh!

Melihat betapa tubuh di atas itu seperti terbang dapat mengikutinya, Yo Wan menjadi nekat. Sekuat tenaga dia menggerakkan kedua pedangnya, pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) di tangan kanan dan pedang Pek-giok-kiam (Pedang Kumala Putih), menyerang dengan tusukan-tusukan maut ke arah tenggorokan dan bawah pusar!

Tapi kakek yang melayang Itu meng-gerakkan kedua tangannya, langsung me-nerima pedang-pedang itu dengan ceng-keramannya. Terdengar bunyi “krakkk-krekkk!” dan pedang kayu Siang-bhok-kiam hancur berkeping-keping sedangkan pedang Pek-giok-kiam patah-patah menjadi tiga potong! Akan tetapi terjangan ini membuat tubuh hwesio itu terpaksa turun kembali dan ternyata tangan kanannya yang mencengkeram Pek-giok-kiam tadi mengeluarkan darah karena terluka!

Bhok Hwesio mengeluarkan suara gerengan keras, lalu tiba-tiba berlari menerjang Yo Wan dengan kepala di depan. Gerakan ini luar biasa sekali, aneh dan lucu, seperti seekor kerbau gila mengamuk. Seekor kerbau tentu saja mengandalkan tanduknya yang kuat dan runcing, akan tetapi hwesio tua itu kepalanya gundul licin, masa hendak dipergunakan sebagai andalan serangan? Karena Yo Wan memang kurang pengalaman, dia melihat gerakan hwesio ini dengan hati geli. Biarpun dia telah kehilangan cambuknya, kehilangan Siang-bhok-kiam dan Pek-giok-kiam, namun dia tidak menjadi gentar karena mengandalkah Si-cap-it Sin-po dan ilmu silat-ilmu silatnya yang tinggi, dia masih mampu mempertahankan dirinya sampai hwesio tua ini kehabisan napasnya.

“Yo Wan, awaaasss…..!!” Seruan ini hampir berbareng keluar dan mulut Raja Pedang dan Pendekar Buta.

Kagetlah hati Yo Wan. Tadinya dia menganggap gerakan Bhok Hwesio itu gerakan nekat yang pada hakekatnya hanya gerakan bunuh diri karena dengan kepala menyeruduk macam itu, alangkah mudah baginya untuk mengirim pukulan maut ke arah ubun-ubun kepala hwesio itu. Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar seruan dua orang sakti itu. Cepat dia menggerakkan kaki mengatur langkah cepat karena tadinya tidak menganggap serangan itu berbahaya. la hanya merasa tekanan hawa yang luar biasa, panas dan membawa getaran aneh, lalu tubuhnya terjengkang. Kepala maupun tubuh hwesio itu sama sekali tidak menyentuhnya, serangan kepala itu boleh dibilang tidak mengenai dirinya, karena tubuh Bhok Hwesio menyambar lewat, namun hawa pukulannya, demikian hebat sehingga Yo Wan terjengkang, terbanting dan merasa betapa dadanya sesak! Cepat dia menekan perasaan ini dengan mengerahkan sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia tidak dapat mencegah tubuhnya terbanting dan bergulingan. Pada saat itu, Bhok Hwesio sudah mengejar maju, dan bertubi-tubi mengirim pukulan dengan kedua tangannya, pukulan jarak jauh yang tidak kalah ampuhnya oleh pukulan toya baja yang beratnya ratusan kati!

Raja Pedang memandang cemas, demikian pula Pendekar Buta mengepal tangan, hatinya tegang, kepatanya agak miring untuk dapat mengkuti semua gerakan itu dengan baik melalui pendengarannya. Yo Wan melihat bahaya maut datang, cepat dia bergulingan lagi sehingga pukulan-pukulan jarak jauh itu hanya mengenai tanah, membuat debu beterbangan dan batu-batu terpukul hancur. Dengan gemas Bhok Hwesio menyambar pedang Pek-giok-kiam yang tadi patah dan menggeletak di atas tanah, dilontarkannya pedang buntung itu ke arah dada Yo Wan yang masih bergulingan di atas tanah. Yo Wan mendengar bersiutnya angin, cepat dia menekankan kedua tangan di atas tanah, tubuhnya melejit ke atas dan “syyyuuuttt!” pedang buntung itu lewat di pinggir tubuhnya, merobek baju kemudian menancap sampai amblas di dalam tanah!

Yo Wan sudah berhasil melompat bangun, agak terhuyung-huyung dia karena pengaruh angin pukulan sakti tadi masih membuat dia sesak dadanya. Keadaannya berbahaya sekali karena setelah sekarang bertangan kosong dan terluka di sebelah dalam, biarpun tidak parah namun cukup akan mengurangi kelincahannya, agaknya dia akan roboh oleh kakek hwesio yang luar biasa tangguhnya itu. Adapun Bhok Hwesio sudah menggereng lagi dan kepalanya menunduk, tubuhnya merendah, siap menerjang seperti tadi, terjangan dengan kepala seperti seekor kerbau mengamuk.

“Omitohud, Bhok-sute, banyak jalan utama, mengapa memilih jalan sesat? Selagi masih ada kesempatan, mengapa tidak mencuci noda lama dan kembali ke jalan benar?”

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus dan tenang penuh kasih sayang ini mengagetkan semua orang, terutama sekali Bhok Hwesio. la cepat mengangkat muka yang tadi ditundukkan itu memandang dan alis matanya yang sudah putih itu bergerak-gerak, keningnya berkerut-kerut. Kiranya di depannya telah berdiri seorang hwesio tua yang tinggi kurus, usianya sudah sangat tua, kepalanya gundul mengkilap, alis, jenggot dan kumisnya yang jarang sudah putih semua, jubahnya kuning bersih dan tangannya memegang sebatang tongkat hwesio.

Melihat hwesio tua ini, Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut. Juga Pendekar Buta miringkan kepalanya. Hanya Cui Sian dan Lee Si yang tidak mengenal siapa adanya kakek itu, juga Yo Wan tidak mengenalnya. Tentu saja Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut karena mengenal kakek itu sebagai Thian Seng Losu, ketua Siauw-lim-pai. Kalau kakek ini datang dan membantu Bhok Hwesio yang terhitung sutenya sendiri, celakalah mereka semua. Menghadapi Bhok Hwesio seorang saja sudah repot, apalagi ditambah suhengnya yang tentu saja sebagai ketua Siauw-lim-pai memiliki ilmu yang hebat. Mana Yo Wan akan sanggup menahan?

“Suheng, harap jangan ikut-ikut, ini urusanku sendiri!” Bhok Hwesio mendengus marah ketika melihat ketua Siauw-lim-pai itu.

“Bhok-sute, insyaf dan sadarlah. Bukan saatnya bagi orang-orang yang mencari penerangan seperti kita ini melibatkan diri pada karma yang tiada berkesudahan. Mengapa sudah baik-baik kau bertapa, diam-diam kau pergi, Sute? Kalau kau masih ingin terikat karma, bukan begitu caranya. Lebih baik kau melakukan bakti terhadap negara. Pinceng mendengar bahwa kaisar sekarang kembali memimpin sendiri pasukan ke utara, dan kabarnya di luar tembok besar, Orang-orang Mongol mengganas dan memiliki banyak orang-orang sakti dari barat. Kalau memang hatimu belum puas dan ingin terikat pada dunia, kenapa kau tidak menyusul ke utara dan membantu kaisar?”

“Suheng, sekali lagi, jangan ikut-ikut. Raja Pedang adalah musuh besarku, dia harus menebus!”

“Otnitohud! Pinceng lihat Bu-tek-kiam-ong ketua Thai-san-pai yang terhormat sudah terluka parah dan tidak melawanmu. Mengapa kau sekarang main-main dengan anak muda?”

“Bocah ini mewakili Raja Pedang, terpaksa aku harus membunuhnya, Suheng, kemudian aku akan membikin musuh besarku tapadaksa, baru aku akan ikut dengan Suheng kembali ke kelenteng dan bertapa mencari jalan terang.”

“Ah….. ah…… menumpuk dosa dulu baru bertobat? Mengganas dalam kegelapan untuk mencari jalan terang. Mana bisa, Sute. Kau tersesat jauh sekali. Marilah kau ikut dengan pincengi dengan damai…..”

“Nanti sesudah kurobohkan bocah ini!” Setelah berkata demikian, kembali Bhok Hwesio merendahkan tubuhnya, menundukkan muka dan siap untuk menerjang Yo Wan dengan ilmunya yang dahsyat.

“Jangan, Sute…..” Tiba-tiba tubuh kakek tua itu melayang bagaikan sehelai daun kering dia tiba di depan Yo Wan, menghadang di antara pemuda itu dan Bhok Hwesio. “San-jin-pai-hud (Kakek Gunung Menyembah Buddha) bukanlah ilmu untuk membunuh manusia…..!”
“Suheng, minggir!” bentak Bhok Hwe-sio.

“Jangan, Sute. Pinceng tidak membolehkan kau melakukan pembunuhan, sayang akan pengorbananmu selama puluhan tahun menderita dalam hidup. Apakah kau ingin mengulanginya lagi dalam keadaan yang lebih sengsara? Insyaflah.”

“Suheng, sekali lagi. Minggirlah!” Bhok Hwesio membentak marah sekali.

“Tidak, Sute…..”

“Kalau begitu terpaksa aku akan mem-bunuhmu lebih dahulu!”

“Omitohud, semoga kau diampuni…..”

Bhok Hwesio mengeluarkan segera menggereng keras dan tubuhnya segera menerjang maju, kepalanya mengeluarkan uap kekuningan dan bagaikan sebuah pelor baja kepala gundul itu menubruk ke arah perut Thian Seng Losu yang kurus. Ketua Siauw-lim-pai ini hanya berdiri diam, tidak mengelak, juga tidak menangkis.

“Desssss!!!” Kepala gundul itu bertemu dengan perut dan tubuh.Thian Seng Losu terpental dan tak bergerak lagi! Sedangkan Bhok Hwesio berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, lalu maju terhuyung-huyung.

Yo Wan melompat marah. “Hwesio jahat! Iblis kau, telah membunuh suheng sendiri!” Yo Wan hendak menerjang Bhok Hwesio dengan penuh amarah, akan tetapi terdengar Kun Hong berseru.

“Yo Wan, mundur…..!”

“Yo Wan, tak perlu lagi, pertempuran sudah habis…..” kata Raja Pedang pula.

Yo Wan terkejut dan alangkah herannya ketika dia melihat tubuh Bhok Hwesio menggigil keras, lalu roboh miring.

Ketika dia mendekat, ternyata hwesio tinggi besar ini telah tewas, kepalanya retak-retak! Dan pada saat dia menengok, dia terbelalak memandang Thian Seng Losu sudah bangkit perlahan, wajahnya pucat dan matanya sayu memandang ke arah Bhok Hwesio. Kemudian dia menghampiri jenazah sutenya, perlahan dia mengangkat jenazah itu, dipanggulnya, dan sambil menarik napas panjang dia menoleh ke arah Yo Wan.

“Orang muda, kepandaianmu hebat. Tapi apa gunanya memiliki kepandaian hebat kalau hanya untuk saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri? Di pantai timur bajak laut dan penjahat merajalela, di utara orang-orang liar mengganas, di dalam negeri sendiri, para pembesar menyalahgunakan wewenangnya, para menteri durna berlumba mencari muka sambil menggerogoti kekayaan negara. Kasihan kaisar yang bijaksana, pendiri kota raja baru, sampai di hari tuanya bersusah payah menghadapi musuh demi keamanan negara. Kalau orang-orang muda berkepandaian seperti kau ini hanya berkeliaran di gunung-gunung, saling serang dan saling bunuh dengan bangsa sendiri, bukankah itu sia-sia dan mengecewakan sekali?” Kembali kakek itu menarik napas panjang dan melangkah hendak pergi dari tempat itu.

“Thian Seng Losuhu, harap maafkan bahwa saya tidak dapat menyambut kedatangan Losuhu. Menyesal sekali urusan pribadi antara kami dan Bhok Hwesio membuat Losuhu terpaksa bertindak dan mengakibatkan tewasnya sute dari Lo-suhu,” kata Raja Pedang dengan suara menyesal dan mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil duduk bersila.

Kakek itu menengok kepadanya, memandang sejenak, lalu memutar pandang matanya ke arah mayat bertumpuk-tumpuk di tempat itu. Kembali dia menarik napas panjang lalu berkata, “Bunuh-membunuh, dendam-mendendam, apakah hanya untuk ini orang hidup di dunia mempela-jari bermacam-macam kepandaian? Bu-tek Kiam-ong, sayang kau yang memiliki kepandaian tinggi memihak kepada sifat merusak, alangkah baiknya kalau kau memihak kepada sifat membangun”

Setelah berkata demikian, kakek itu melanjutkan langkahnya, dibantu tongkat, dan mayat Bhok Hwesio tersampir di pundaknya. Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara orang memanggilnya.

“Losuhu!”

Thian Seng Losu menengok dan memandang kepada Kun Hong yang memanggilnya tadi. Pendekar Buta ini melanjutkan kata-katanya, “Losuhu, perbuatan yang sifatnya merusak amatlah perlu di dunia ini, bahkan amat dipentingkan karena tanpa ada sifat merusak, maka tidak akan sempurnalah sifat membangun. Merusak bukanlah selalu jahat, asal pandai orang memilih, apa yang harus dirusak, apa yang harus dibasmi, kemudian apa yang harus dibangun dan dipelihara. Petani yang bijaksana takkan ragu-ragu mencabuti dan membasmi se-mua rumput liar yang akan mengganggu kesuburan padi. Seorang gagah yang bi-jaksana takkan ragu-ragu pula untuk membasmi penjahat-penjahat yang akan mengganggu ketenteraman hidup rakyat. Semua baik-baik saja dan sudah tepat kalau masing-masing mengetahui kewajibannya, melaksanakannya tanpa pamrih dan kehendak demi keuntungan pribadi. Tentang membunuh dan dibunuh….. ah, Losuhu yang mulia dan waspada tentu lebih maklum bahwa hal itu sudah ada yang mengatur-Nya dan kita semua hanyalah alat belaka…..”

Wajah kakek tua yang tadinya muram itu kini berseri-seri, bahkan mulutnya yang ompong membentuk senyum lebar. “Omitohud…… ucapan-ucapan peringatan sama nilainya dengan air jernih dingin bagi seorang yang kehausan! Bukankah Sicu ini pendekar Liong-thouw-san yang terkenal dijuluki Pendekar Buta? Hebat….. kau gagah sekali, Sicu, gagah lahir batin! Betul kata-katamu, kita semua hanyalah alat yang tidak berkuasa menentukan sesuatu, akan tetapi….. sama-sama alat, bukankah lebih menyenangkan menjadi alat yang baik dan berguna? Dan kita berhak untuk berusaha ke arah pilihan yang baik, Sicu. Ha-ha-ha, sungguh pertemuan yang menyenangkan. Pinceng akan merasa bahagia sekali kalau Cu-wi (Tuan-tuan sekalian) sewaktu-waktu sudi mengunjungi Siauw-lim-si untuk melanjutkan obrolan ini. Nah, selamat tinggal!”

Bagaikan segulungan awan, kakek itu bergerak dan seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak bumi. Demikian hebat ginkang dan ilmu lari cepatnya. Biar Raja Pedang sendiri sampai menjadi kagum dan menarik napas panjang. Tidak kelirulah kalau orang-orang kang-ouw menganggap bahwa Siauw-lim-pai adalah gudangnya orang-orang sakti yang menjadi murid-murid Buddha.

Sunyi di tempat itu setelah ketua Siauw-lim-pai pergi. Masing-masing merenung dan baru terasa betapa hebat akibat daripada pertempuran itu. Raja Pedang masih duduk bersila, berulang kali menarik napas panjang. Pendekar Buta juga duduk bersila, berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kesehatan secepat mungkin, Hui Kauw dan Cui Sian saling pandang dengan sinar mata terharu karena mereka telah menjadi korban fitnah dan hampir saja saling bunuh. Yo Wan masih berdiri seperti patung, merasai betapa hebatnya kakek Siauw-lim yang tadi menjadi lawannya. Hanya Lee Si yang kini terisak kembali.

Isak tangis ini menyadarkan mereka. Raja Pedang Tan Beng San berkata kepada Lee Si, “Lee Si, hentikan tangismu. Ayahmu tewas sebagai seorang laki-laki gagah, tak perlu disedihkan. Lebih baik sekarang kita urus jenazahnya.”

Kun Hong yang juga sudah sadar dari keadaan termenung dan merasa perlu segera bertindak, segera berkata kepada Yo Wan, “Wan-ji (anak Wan), hanya kau yang tidak terluka. Jangan takut lelah, kau galilah lubang untuk semua mayat ini dan kuburkan mereka baik-baik.”

Yo Wan menyanggupi dan pemuda ini segera menggunakan patahan pedang Pek-giok-kiam untuk menggali lubang yang besar. Melihat pemuda ini mengerahkan tenaga bekerja, tanpa diminta lagi Lee Si bangkit dan membantunya, juga Cui Sian dan Hui Kauw, biarpun terluka, segera membantu sedapatnya. Pertama-tama mereka mengubur jenazahnya Tan Kong Bu dengan sikap hormat akan tetapi sederhana tanpa upacara, hanya diiringi tangis Lee Si yang sampai tiga kali jatuh pingsan saking sedihnya, dihibur oleh Cui Sian dan Hui Kauw yang juga menangis. Kemudian mereka menggali lubang besar untuk mengubur semua jenazah itu sekaligus, jenazah Ang-hwa Nio-nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, dan anak buah Ang-hwa Nio-nio.

Setelah lebih setengah hari mereka bekerja, selesailah penguburan itu. Pada waktu itu, Kun Hong yang mengerti akan ilmu pengobatan sudah berhasil menyembuhkan lukanya sendiri, bahkan dia membantu penyembuhan luka yang diderita Raja Pedang. la bersila di belakang Raja Pedang dan menempelkan tangan kiri pada punggung ketua Thai-san-pai itu sambil mengurut jalan darah di pundak dengan jari-jari tangan kanannya.

“Cukuplah, Kun Hong. Tidak berbahaya lagi sekarang.” Akhirnya Raja Pedang berkata dan mereka berdua bangkit berdiri. Tiba-tiba Lee Si berlari menghampiri Raja Pedang dan berlutut di depan kakinya sambil menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah, Lee Si.” Tan Beng San mengangkat bangun cucunya. “Kehendak Thian tak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Aku hanya bingung memikirkan bagaimana kita harus menyampaikan berita ini kepada ibumu…..”

Mendengar ini, Lee Si makin keras tangisnya.

“Betapapun juga, pembunuh ayahmu telah kita ketahui, dan dia sudah tewas pula.”

Akan tetapi Lee Si masih menangis dan Raja Pedang berkali-kali menghela napas karena dia dapat menduga bahwa kali ini Lee Si menangis karena mengingat keadaannya sendiri. Betapapun juga, gadis ini telah mengalami hinaan dan fitnah yang merusakkan namanya. Maka dia membiarkan cucunya menangis.

Adapun Hui Kauw yang mendekati Cui Sian, dengan wajah pucat bertanya, “Sian-moi, kau tadi bilang tentang Swan Bu…… bagaimanakah dia? Siapa yang membuntungi lengannya?” Terang nyonya ini mengeraskan hati dan menggigit bibir untuk menahan tangisnya. Hatinya ngeri dan cemas membayangkan puteranya itu menjadi buntung lengannya.

Cui Sian memeluk Hui Kauw. “Maafkan aku, Cici. Kau….. kau telah mengalami tekanan batin berkali-kali, difitnah, dituduh, dan sekarang puteramu menjadi korban lagi. Akan tetapi, hal yang sudah terjadi tak perlu melemahkan hati dan semangat kita, bukan? Swan Bu telah dibuntungi lengannya oleh gadis liar yang bernama Siu Bi…..”

“Ahhh…..!” Hui Kauw menahan seruannya, sedangkan Pendekar Buta yang juga mendengarkan penuturan ini, juga mengerutkan kening. Diam-diam dia merasa menyesal sekali bahwa dahulu dia telah menanam bibit permusuhan yang tiada berkesudahan. Terbayanglah dia akan musuh lamanya, The Sun, yang agaknya sekarang menimbulkan bencana hebat, bukan langsung olehnya sendlrl, melainkan oleh keturunannya.

“Aku sudah menangkapnya, menghajarnya, bahkan Lee Si hampir membunuhnya. Akan tetapi….. Swan Bu sendiri yang dibuntungi lengannya oleh iblis betina itu mencegah, malah minta supaya Siu Bi dibebaskan.”

Berdebar jantung Hui Kauw. Aneh sekali! Adakah suatu rahasia di balik itu, ataukah Swan Bu menjadi seorang pemuda yang berwatak aneh dan kadang-kadang lemah penuh welas asih seperti ayahnya. Orang telah membuntungi lengannya, dan orang itu hendak memusuhi ayah bundanya, akan tetapi dia membebaskannya! Teringat dia akan wajah Siu Bi. Gadis yang cantik jelita berwatak iblis, hampir saja berhasil membunuh ia dan suaminya. Tiba-tiba dia merasa khawatir. Jangan-jangan kecantikan gadis itu telah melemahkan hati puteranya.

“D! mana dia sekarang, Sian-moi?”

“Aku tidak tahu, Cici. Ketika dia dan aku menemukan jenazah Kong Bu koko aku lalu meninggalkan dia di sini. Agaknya dia yang menguburkan jenazah Kong Bu koko, yang kemudian, tentu saja dibongkar kembali oleh penjahat-penjahat itu untuk dirusak dalam usaha mereka mengadu domba antara kita. Adapun Swan Bu sendiri, entah ke mana dia pergi.”

Tak dapat ditahan lagi Hui Kauw menangis karena ia membayangkan puteranya dalam keadaan buntung lengannya itu masih bersusah payah mengubur jenazah Kong Bu! Pendekar Buta menghampiri isterinya dan menghiburnya.

“Tahan air matamu. Swan Bu tidak apa-apa. la tentu akan pulang ke Liong-thouw-san. Sedikit banyak dia mengerti tentang ilmu pengobatan, luka di lengannya pasti akan sembuh.”

Hui Kauw bangkit amarahnya mendengar sikap suaminya yang begitu dingin, seakan-akan soal buntungnya lengan Swan Bu “bukan apa-apa” bagi suaminya. la hendak membentak, menyatakan marahnya dan menyatakan kehendaknya untuk mencari Siu Bi untuk dibuntungi kedua lengan berikut kakinya! Akan tetapi begitu mengangkat muka dan melihat sepasang mata suaminya, hatinya menjadi tertusuk dan kekerasan amarahnya mencair seketika. la sampai lupa saking marahnya, lupa bahwa suaminya sendiri adalah seorang yang cacad, seorang yang buta kedua matanya, namun tetap menjadi pendekar yang tak terkalahkan, menjadi Pendekar Buta yang terkenal. Apakah artinya buntung lengan kirinya kalau dibandingkan dengan buta kedua matanya? Masih ringan, hanya cacad yang kecil tak berarti. Itulah sebabnya Pendekar Buta tadi mengatakan “tidak apa-apa dan akan sembuh”.

“Tapi….. tapi….. dia terlunta-lunta melakukan perjalanan dalam keadaan terluka, tidak ada yang merawatnya…..” Yo Wan yang mendengar percakapan ini segera menghampiri mereka, dan berkata, “Suhu dan Subo harap tenangkan hati. Biarlah teecu yang akan pergi mencari Swan Bu dan menemaninya pulang ke Liong-thouw-san.”

Girang hati Pendekar Buta mendengar ini. Memang tidak ada orang yang lebih dapat dia percaya untuk ini kecuali Yo Wan. la melangkah maju dan tangan kanannya merangkul pundak pemuda itu. “Yo Wan, kau anak baik. Kau tahu betapa besar rasa syukur di hati kami terhadapmu. Wan-ji, kaucarilah Swan Bu dan ajaklah dia pulang bersama.” Suara Kun Hong terdengar menggetar penuh keharuan sehingga tak terasa lagi dua titik air mata membasahi bulu mata Yo Wan. Cepat dia mengusapnya, memberi hormat kepada suhu dan subonya.

“Teecu berangkat sekarang juga,” katanya. Kemudian dia memberi hormat kepada Raja Pedang yang memandangnya dengan sinar mata kagum. Sungguh di luar sangkaannya sama sekali bahwa murid tunggal Pendekar Buta ternyata begini hebat, kuat menghadapi seorang tokoh besar seperti Bhbk Hwesio yang kepandaiannya amat luar biasa sehingga dia sendiri pun belum tentu akan dapat mengalahkannya. Diam-diam dia tertarik dan kagum, dan makin gembiralah di dalam hati kakek perkasa ini ketika Yo Wan menjura kepada Cui Sian dan berkata halus,

“Adik Cui Sian, selamat berpisah, semoga kita dapat saling bertemu kembali.”

Wajah gadis itu menjadi merah, kerling matanya jelas membayangkan hati yang gugup dan jengah ketika ia balas menghormat. “Yo-twako, semoga kau lekas dapat menemukan Swan Bu.”

Yo Wan lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata yang mengandung bermacam perasaan. “Kun Hong, muridmu itu….. hemmm, ajaklah dia ke Thai-san sekali waktu. Aku perlu sekali bicara denganmu tentang dia.” Ucapan Raja Pedang Tan Beng San ini terdengar jelas dan artinya pun mudah ditangkap sehingga Cui Sian makin merah mukanya sehingga ia menundukkan mukanya itu untuk menyembunyikan debar jantungnya.

Kwa Kun Hong mengangguk-angguk karena dia pun tentu saja mengerti bahwa pendekar tua itu bermaksud menjajaki kemungkinan terikatnya jodoh antara Cui Sian dengan Yo Wan. Akan tetapi sebagai seorang yang berperasaan halus, dia tidak berkata apa-apa agar jangan membuat Cui Sian menjadi malu.

“Kong-kong (Kakek), saya tidak berani pulang sendiri, tidak berani menyampaikan kematian ayah kepada ibu. Harap Kong-kong suka memperkenankan bibi Cui Sian menemani saja ke Min-san,” kata Lee Si.

“Tidak hanya Cui Sian yang menemanimu, aku sendiri pun akan ke sana untuk menghibur ibumu. Malah kalau kalian tidak keberatan, Kun Hong dan isterimu, lebih baik kita semua pergi ke Min-san. Selain tempat itu paling dekat dari sini sehingga kita dapat beristirahat dan memulihkan kesehatan di sana, juga dengan hadirnya kalian berdua, kurasa akan mengurangi kedukaan ibunya Lee Si.”

“Bukan itu saja, kuharap Suheng dan Cici ikut ke Min-san untuk membicarakan hal yang amat penting.”

“Hal penting apakah?” tanya Pendekar Buta dan Raja Pedang hampir berbareng.

“Aku sudah ceritakan hal itu kepada cici Hui Kauw yang telah menyetujui pula. Marilah kita berangkat, nanti di dalam perjalanan aku akan ceritakan hal itu kepada Ayah, biar cici Hui Kauw menceritakannya kepada Kwa-suheng.” jawab Cui Sian dan kali ini Lee Si yang menundukkan mukanya karena gadis ini sudah dapat menduga apa yang akan dikemukakan oleh Cui Sian itu. Diam-diam ia amat berterima kasih kepada Cui Sian, karena ia pun tadi, biarpun kurang jelas, mendengar percakapan antara Cui Sian dan Hui Kauw. Dan ia pun maklum sedalam-dalamnya bahwa satu-satunya jalan untuk mencuci bersih namanya, dan untuk melenyapkan kesalahfahaman antara mereka, untuk mencuci habis peristiwa yang hampir merusak hubungan di antara mereka, hanya satu itulah yaitu ikatan jodoh antara dia dan Swan Bu! Dan ia sudah setuju seratus prosen di dalam hatinya yang telah tercuri oleh Swan Bu yang gagah dan tampan, biarpun ada satu hal yang merupakan ganjalan dan merupakan duri dalam daging, yaitu Siu Bi!

Sesungguhnya tidaklah terlalu Sukar mencari keterangan tentang Swan Bu. Tidak banyak terdapat seorang pemuda tampan dengan tangan kiri buntung. Akan tetapi karena tidak tahu ke jurusan mana pemuda itu pergi, Yo Wan harus menjelajahi semua dusun di sekitar tempat itu, dan setelah dia berkeliling sampai sehari lamanya, barulah di sebuah dusun kecil dia mendengar keterangan tentang Swan Bu. Di dusun ini orang melihat pemuda tampan berlengan kiri buntung yang berjalan menuju ke utara.

Yo Wan segera mengejar ke utara dan terpaksa dia bermalam di sebuah dusun karena terhalang malam. Pada keesokan harinya, dia melanjutkan pengejarannya sambil bertanya-tanya. Keterangan yang dia dapatkan kemudian benar-benar membuat dia mengerutkan alisnya. Orang melihat Swan Bu melakukan perjalanan bersama seorang wanita cantik jelita yang merawat luka pemuda itu. Dari keterangan yang didapat, dia dapat menduga bahwa gadis itu adalah Siu Bi! Swan Bu agaknya bertemu dengan Siu Bi dati melakukan perjaianan bersama! Hatinya amat gelisah. Tak salah dugaannya, Swan Bu saling mencinta dengan gadis itu, gadis yang telah membuntungi lengannya. la sudah menduga akan perasaan Swan Bu ini ketika dahulu Swan Bu minta supaya Siu Bi yang membuntungi lengannya dibebaskan. Akan tetapi tadinya dia tidak tahu bahwa Siu Bi pun membalas cinta kasih itu. Baru sekarang, mendengar gadis itu mengawani Swan Bu dan merawat lukanya dalam perjalanan yang mereka lakukan berdua, dia dapat menduga akan hal itu. Akan tetapi, mengapa Siu Bi membuntungi lengan Swan Bu?

Yo Wan benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi dia cukup mengenal watak Siu Bi yang aneh dan liar dan tentu saja gadis seperti itu dapat melakukan hal yang aneh-aneh dan tak masuk akal, seperti misalnya membuntungi lengan orang yang dicintanya. Yang membuat Yo Wan mengerutkan keningnya adalah karena dia merasa tidak senang kalau benar-benar mereka berdua saling mencinta. Menurut pendapatnya, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si. Gadis yang malang itu selain kehilangan ayahnya, juga telah difitnah dan dicemarkan nama baiknya. Swan Bu harus mengambilnya sebagai isteri, karena jalan inilah satu-satunya untuk mencuci noda pada nama baik Lee Si. Kalau Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, hal ini akan menimbulkan banyak akibat yang tidak baik dan tentu saja orang tua pemuda itu akan menentangnya.

Di dunia ini memang terjadi hal aneh-aneh. Cinta memang aneh, seperti anehnya sikap Cui Sian tadi! Terang bahwa hatinya telah bertekuk lutut dan mencinta puteri Raja Pedang itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani nekat. la mengenal diri sendiri, seorang yatim piatu yang bodoh dan miskin, dan dia cukup mengenal pula siapa Cui Sian. Puteri tunggal Raja Pedang, ketua Thai-san-pai! Betapapun juga, dia tidak dapat menahan gelora di hatinya dan tak dapat menghapuskan harapan hampa di hatinya bahwa gadis itu akan membalas cintanya, harapan bahwa kelak gadis itu akan menjadi jodohnya. Betapapun gila harapan-harapan itu! Akan tetapi sikap Cui Sian tadi ah, siapa tahu, cinta memang aneh. Ataukah orang-orang yang terjerat cinta lalu menjadi sinting dan melakukan hal-hal aneh?

Di dalam perjalanannya mencari Swan Bu ini Yo Wan mendengar banyak hal yang selama ini tidak pernah menjadi perhatiannya. Hal-hal mengenai keadaan

Agaknya ucapan ketua Siauw-lim-pai telah mengukir kesan mendalam di hatinya, membuat dia sadar bahwa selama ini hidupnya hampa, tidak ada isinya, karena dia telah lalai akan kewajibannya sebagai seorang anak bangsa. Kesan inilah yang membuat dia menaruh perhatian akan berita yang di-dengarnya di sepanjang jalan.

Semenjak Kaisar Yung Lo, pendiri dan kota raja utara (Peking), memegang tampuk pemerintahan, keadaan dalam negara boleh dikata menjadi tenteram. Kaisar yang semenjak mudanya menjadi panglima perang ini memerintah dengan tangan besi. Sayangnya bahwa pada waktu itu, kerajaannya masih mengalami banyak gangguan dari luar, terutama sekali dari bangsa Mongol dan suku bangsa lain di utara, yang berusaha keras menebus kekalahan bangsanya setengah abad yang lalu. Selain ini, juga para bajak laut di pantai timur yang terdiri dari bangsa Jepang, merupakan gangguan. Namun tentu saja gangguan para bajak laut ini tidaklah sebesar gangguan dari utara. Oleh karena inilah Kaisar Yung Lo mencurahkan perhatiannya ke arah utara. Tembok besar yang melintang di utara itu dia betulkan dengan mengerahkan ratusan ribu tenaga. manusia. Tadinya tembok besar ini boleh dibilang sudah runtuh, atau sengaja diruntuhkan dijaman Kerajaan Mongol berkuasa, karena tentu saja bagi Kerajaan Mongol, tidak perlu adanya tembok besar yang memisahkan negara jajahan dengan negara asal mereka. Setelah Kerajaan Mongol jatuh dan Kerajaan Beng-tiauw berdiri, tembok besar yang seakan-akan merupakan tanggul pencegah banjirnya serbuan lawan dari utara itu dibangun kembali. Dan ketika Yung Lo menjadi kaisar, pembangunan ini dipergiat, juga Kota Raja Peking dibangun dengan hebatnya. Namun, semua pembangunan ini oleh kaisar diserahkan kepada para pembantunya, karena kaisar sendiri, sebagai seorang bekas panglima perang yang berpengalaman, sibuk memimpin pasukan-pasukan menyerbu ke utara untuk memerangi bangsa Mongol yang selalu merupakan ancaman itu.

Agaknya karena terlalu sering kaisar meninggalkan istana untuk memimpin barisannya berperang itulah yang menimbulkan merajalelanya kaum koruptor, para pembesar yang menyalahgunakan kedudukan dan wewenangnya, terjadi pertentangan dalam perebutan kekuasaan antara para penjilat dan para penentang, antara pangeran yang mencalonkan diri menjadi pengganti kelak apabila kaisar meninggal dunia. Terjadilah perpecahan menjadi beberapa golongan yang berdiri di belakang pangeran yang menjadi calon atau jago aduan masing-masing, dengan mereka sebagai “botoh-botohnya”.

Yo Wan mendengar betapa banyak orang gagah pergi ke utara dan menjadi barisan suka rela membantu kaisar memerangi orang-orang Mongol. Ternyata bahwa musuh dari utara itu tidak boleh dipandang ringan. Sungguhpun mereka tidak pernah berhasil menyerbu ke selatan melalui tembok besar, namun perlawanan yang mereka lakukan di utara cukup sengit sehingga di fihak tentara kerajaan banyak jatuh korban. Orang-orang Mongol mempunyai panglima-panglima yang pandai, malah kabarnya dibantu oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Bantuan dari orang-orang sakti inilah yang menarik banyak orang kang-ouw menjadi sukarelawan, karena sudah menjadi semacam penyakit pada ahli-ahli silat kelas tinggi untuk mencoba-coba ilmu mereka apabila mereka mendengar tentang musuh yang berilmu tinggi pula. Demikian pula, penyakit macam ini terdapat pula dalam diri Yo Wan. Ketika pada suatu hari dia mendengar dongeng seorang bekas sukarelawan akan adanya seorang, jagoan Mongol yang sekaligus menewaskan enam orang jagoan kerajaan dalam sebuah per-tempuran, dia menjadi penasaran sekali. Kemudian mendengar akan kegagahan kaisar yang memimpin setiap perang tanding besar-besaran dengan gagah per-kasa, ikut pula mengayun pedang memutar tombak sebagai panglima yang tidak hanya mengomando dari belakang dan dari tempat yang aman saja, hati Yo Wan ikut bergelora penuh seinangat dan tertarik. Alangkah senangnya ikut berjuang di bawah pimpinan seorang kaisar segagah itu, pikirnya, dan ucapan dari ketua Siauw-lim-pai makin jelas berdengung di telinganya.

“Apa gunanya memiliki kepandaian kalau hanya untuk saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri?” demikian ucapan ketua Siauw-lim-pai yang berdengung di telinganya.

Diam-diam Yo Wan merasa heran ketika jejak Swan Bu menuju terus ke utara, malah agaknya ke kota raja. la telah mengeluarkan kepandaiannya untuk menyusul, akan tetapi ternyata selalu dia tertinggal di belakang. Soalnya adalah karena kedua orang itu agaknya melakukan perjalanan secara sembunyi sehingga , kadang-kadang mereka lenyap, tak dapat dia mendengar keterangan. Kalau akhirnya dia mendapatkan lagi keterangan tentang Swan Bu dan Siu Bi, ternyata mereka itu telah mengambil jalan memutar secara diam-diam, seakan-akan mereka memang sengaja menghilangkan Jejak agar jangan mudah disusul orang. Inilah yang membuat Yo Wan kewalahan dan sampai sekian lamanya belum ]uga dia dapat menyusul. Akan tetapi, hatinya lega selama dia masih bisa mendengar berita tentang Swan Bu. Ke manapun juga dia akan mengejar sampai dapat bertemu.

Pada suatu hari sampailah dia ke kota Leng-si-bun, sebuah kota kecil di sebelah timur Cin-an, di lembah Sungaij Huang-ho. Kota raja baru berada di sebelah utara daerah ini, tidak begitu jauh lagi, paling jauh dua ratus li. Laut timur, yaitu Lautan Po-hai, tidak jauh pula dari tempat ini, hanya, terpisah seratus li kurang lebih. Ramai di kota Leng-si-bun ini, karena tempat ini merupakan pelabuhan bagi perahu-perahu yang mengangkut barang hasil bumi yang hendak dilayarkan ke laut timur. Yo Wan memasuki kota Leng-si-bun karena dua hari yang lalu dia mendengar keterangan bahwa pemuda lengan buntung dan gadis cantik yang dicarinya menuju ke kota ini.

Hari telah siang ketika dia memasuki kota itu. Dimasukinya sebuah rumah makan yang cukup besar, yang berada di tengah-tengah kota. la merasa lelah dan kecewa juga karena di kota ini pun dia tidak melihat Swan Bu, biarpun dia tadi sudah berputar-putar di sepanjang jalan yang panas berdebu. Rumah makan itu mempunyai sepuluh buah meja, meja-meja bundar lebar dikelilingi delapan buah bangku tiap meja. Akan tetapi pada saat itu hanya ada tiga buah meja saja yang dihadapi tamu. Sebuah meja di sudut luar dikelilingi enam orang laki-laki yang minum arak sambil makan mie dan bersendau-gurau dengan suara parau.

Agaknya mereka itu adalah juragan-juragan perahu bersama pedagang pedagang.

Yo Wan mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan dengan suara keras itu, karena percakapan ini kotor dan cabul. Mereka membicarakan pengalaman mereka dengan perempuan-perempuan lacur di kota itu dan percakapan mereka diseling tertawa terkekeh-kekeh. Tentu saja Yo Wan tidak akan mempedulikan mereka kalau saja dia tidak mengerling ke arah meja ke dua yang dihadapi tamu. Dia meja sebelah dalam, duduk dua orang muda, seorang gadis dan seorang laki-laki muda. Tadi ketika dia lewat di depan restoran ini, hatinya berdebar tegang karena  mengira bahwa mereka adalah Swan Bu dan Siu Bi. Akan tetapi setelah dia masuk, dia mendapat kenyataan bahwa sepasang orang muda itu bukanlah orang-orang yang dia cari. Si pemuda mengenakan jubah biru muda dengan ikat pinggang dan ikat kepala warna kuning. Wajah pemuda itu tampan dan gagah, sikap-nya tenang dan usianya paling banyak dua puluh dua tahun. Si gadis berpakaian serba merah muda, cantik jelit antara dua puluh tahun usianya, di punggungnya tampak menonjol gagang pedang. Gadis ini kelihatan keren dan angkuh. Keduanya sedang makan mie dan masakan daging sambil minum arak, sama sekali tidak bicara maupun memperhatikan keadaan sekelilingnya. Akan tetapi karena Yo Wan duduk menghadap ke arah gadis yang kebetulan juga duduknya menghadap ke arahnya, dia dapat mencuri pandang dan melihat betapa sepasang mata gadis itu menyambar-nyambar dari sudut mata, mengerling dengan ketajaman bagaikan gunting. Namun sikapnya tenang sekali. Dengan hadirnya seorang gadis di situlah yang membuat Yo Wan merasa mendongkol dan tidak senang hatinya mendengar kelakar enam orang laki-laki kasar itu, yang sama sekali tidak tahu sopan, bicara kotor dan cabul di dekat seorang wanita muda.

Makin mendongkol hati Yo Won ketika melihat betapa orang-orang kasar itu kadang-kadang menengok ke arah si gadis baju merah sambil menyeringai memperlihatkan gigi kuning. Akan tetapi diam-diam dia kagum melihat betapa gadis itu tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, juga si pemuda tetap makan dengan tenang-tenang saja.

Seorang di antara mereka, yang bermuka lonjong dan pipinya cacad sebelah kiri, agaknya sudah setengah mabuk. Dengan kepala bergoyang-goyang dia berkata kepada laki-laki pendek muka kuning yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu, “Heh-heh-heh, Pui-twako, yang kaudapatkan hanya kembang-kembang mawar kota yang sudah layu, yang tiada durinya sama sekali. Itu sih membosankan! Lain lagi kalau bisa mendapatkan mawar hutan yang liar, yang harumnya semerbak aseli, yang berduri runcing, yang segar…..”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: